Anda di halaman 1dari 7

Ruslan Dalimunthe: Pengaruh Kecepaatan Potong Terhadap Umur Pahat HSS Pada Proses

Pembubutan AISI 4340

139

PENGARUH KECEPATAN POTONG TERHADAP UMUR PAHAT HSS


PADA PROSES PEMBUBUTAN AISI 4340
Ruslan Dalimunthe
Dosen Fakultas Teknik Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai
ABSTRAK
Operasi pemotongan logam merupakan salah satu aktifitas yang sering dilakukan dalam industri manufaktur, khususnya
untuk memproduksi bagian-bagian pemesanan. Untuk menghasilkan produk yang baik dalam pemesinan digunakan pahat
potong sebagai alat bantu, pahat HSS merupakan pahat yang sering digunakan dalam penelitian serta industri. Pahat tidak
dapat digunakan terus menerus maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kecepatan potong terhadap
umur pahat HSS pada proses pembubutan AISI 4340, mengetahui laju keausan pada proses pembubutan AISI 4340, dan
menentukan kecepatan (optimal) untuk proses pembubutan AISI 4340 oleh pahat HSS. Dalam penelitian ini proses
pemotongan dilakukan pada meterial baja karbon medium yang memiliki kekerasan 95,9 HRB dengan empat variasi
kecepatan potong yaitu v1= 18,01 m/min, v2 = 15,68 m/min, v3 = 24,55 m/min, v4 = 20,28 m/min. Hasil yang diperoleh dari
penelitian menunjukkan bahwa besarnya kedalaman potong membuat pabat semakin cepat aus dan pada penggunaan
kecepatan yang cukup tinggi resiko kegagalan pada pahat relatif besar. Tingginya kecepatan potong (v) menurunkari fungsi
umur pahat, hal ini dapat dilihat pada penelitian ini bahwa umur pahat tertinggi berada pada kecepatan potong 15,68
m/min. Dari tingginya umur pahat yang didapat pada kecepatan 15,68 m/min maka kecepatan potong (v) dikatakan optimal
untuk pembubutan AISI 4340 menggunakan pahat High Speed Steel (HSS), dengan diameter benda kerja (d) 27 mm,
putaran spindel (n) 185 rpm dan kedalaman potong (a) sebesar 2 mm

________________________

Keywords: Kecepatan Potong,Pahat HSS

PENDAHULUAN
Operasi
pemotongan
logam
merupakan salah satu aktifitas yang
sering
dilakukan
dalam
industri
manufaktur,
khususnya
untuk
memproduksi bagian-bagian permesinan.
Proses pemotongan logam merupakan
suatu proses yang digunakan untuk
mengubah
logam
dasar
menjadi
komponen mesin dengan menggunakan
pahat sebagai komponen utamanya.
HSS (High Speed Steel) merupakan
jenis material yang banyak digunakan
sebagai pahat potong. HSS pertama kali
ditemukan pada tahun 1898 merupakan
baja paduan tinggi dengan unsur paduan
chrom (Cr) dan TungstenlWolfram (W).
Melalui
proses
penuangan
(molten
metallurgy) kemudian diikuti pengerolan
ataupun penempaan baja ini dibentuk
menjadi batang atau silinder. Pada
kondisi lunak (annealed) bahan tersebut
dapat diproses secara pemesinan menjadi
berbagai bentuk pahat potong. Setelah
proses
laku
panas
dilaksanakan,
kekerasannya cukup tinggi sehingga
Jurnal Sains dan Inovasi 5 (2) 139-145(2009)

dapat digunakan pada kecepatan potong


yang cukup tinggi sampai dengan 3 kali
kecepatan potong pahat Carbon Tolls Steel
(CTS) yang dikenal pada saat itu sekitar
10 m/min, sehingga dinamakan dengan
"Baja Kecepatan Tinggi". Bila telah aus
pahat HSS dapat diasah sehingga mata
potongnya tajam kembali. Karena sifat
keuletan yang relatif baik maka sampai
saat ini berbagai jenis HSS masih tetap
digunakan .
Beberapa
penelitian
yang
menggunakan pahat HSS telah dilakukan,
salah satunya mengenai keausan dan
umur pahat pada proses pembubutan baja
karbon rendah dengan menggunakan
pahat
HSS.
Keausan
pahat
berdasarkanpada nilai keausan tepi vs
kritis yaitu 0,3 mm. Penelitian tersebut
dilakukan dengan gerak makan (f)= 0,125
mm/rev dan kedalaman potong (a) = 1
mm (konstan) dengan variasi kecepatan
potong, menunjukkan bahwa umur pahat
tertinggi pada kecepatan potong 6,93
m/min sebesar 4187,65 detik dan umur

Ruslan Dalimunthe: Pengaruh Kecepaatan Potong Terhadap Umur Pahat HSS Pada Proses
Pembubutan AISI 4340

pahat terendah pada kecepatan potong


47,1 m/min sebesar 1471,488 detik.
Dan penelitian yang dilakukan pada
proses pembubutan dengan masingmasing variasi kecepatan potong, variasi
laju pemakanan dan variasi tebal potong
menunjukkan umur pahat bubut HSS
yang dilapisi Titanium Nitrida relatif lebih
tahan
lama
(meningkat)
bila
dibandingkan dengan pahat yang tidak
dilapisi. Penyebab lain dari keausan pahat
HSS ini adalah tingginya kecepatan
potong menyebabkan pahat makin cepat
panas .
Seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya pahat HSS merupakan pahat
yang paling sering digunakan dalam
penelitian-penelitian
dilaboratorium.
Dalam prakteknya pahat memiliki umur
dan tidak dapat digunakan terus menerus.
Faktor-faktor yang menentukan umur
pahat adalah geometri pahat, jenis
material benda kerja dan pahat, kondisi
pemotongan
(kecepatan
potong,
kedalaman potong dan gerak makan),
cairan pendingin dan jenis proses
pemesinan [6]. Untuk menentukan
keausan pada pahat potongnya operator
mesin melakukan secara visual atau
meraba pada bagian ujung mata pahat,
cara ini yang sering dilakukan di industri
dikarenakan keterbatasan alat dan
efisiensi
waktu
untuk
memenuhi
keinginan konsumen.
Tabel 1. Beberapa unsur yang membentuk HSS .
No
1.

Unsur
Tungsten
/wolfram (W)

2.

Chromium
(Cr)

3.

Vanadium
(V)

4.

Molybdenum
(Mo)

5.

Cobalt (Co)

Keterangan
Dapat membentuk karbida yaitu paduan yang
sangat keras (Fe4W2C) yang menyebabkan
kenaikan temperatur untuk proses hardening dan
tempering.
Dengan
demikian
hot
hardness
dipertinggi.
Menaikkan hardanability dan hot harness. Chorm
merupakan elemen pembentukan karbida, akan
tetapi Cr menaikkan sensitivity terhadap overheating.
Mempunyai efek yang sama seperti W aka tetapi
lebih terasa (2% W dapat digantikan oleh 1% Mo).
Dengan menambah 0,4% sampai 0,9% Mo dalam
HSS dengan paduan-paduan utama W (W-HSS)
dapat dihasilkan HSS yang mampu menahan beban
kejut. Keruhiannya adalah lebih sensitif terhadap
overheating (hangusnya ujung-ujung yang runcing)
sewaktu dilakukan proses heatreatment.
Menurunkan sensitivity terhadap overheating serta
menghaluskan besar butir. Vanadium juga
menipakan elemen pembentukan karbida.
Bukan elemen pembentuk karbida. Ditambahkan
dalam HSS untuk menaikkan hot hardness dan
tahanan keausan. Besar butir menjadi lebih halus
sehingga ujung-ujung yang runcing tetap
terpelihara selama heat treatment pada temperatur
tinggi.

Jurnal Sains dan Inovasi 5 (2) 139-145(2009)

140

Sudut-sudut Pahat Bubut


Ada beberapa sudut-sudut yang
memegang peranan penting dalam proses
pemesinan
sehingga
menghasilkan
produk yang diinginkan.

Gambar : Nama-nama permukaan dan


sudut-sudut pahat bubut (11)
Keterangan :
A
= Bidang Pembuangan Geram

= Sudut Bebas Ujung


A
= Bidang Bebas

= Sudut Baji
A
= Bidang Bebas Ujung
o
= Sudut Geram Orthogonal
S
= Sisi Potong

= Sudut Potong
S
= Sisi Potong Ujung
o
= Sudut Bebas Othogonal
METODE PENELITIAN
Adapun
benda
kerja
yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
poros AISI 4340 dengan panjang 580 mm
dan berdiameter 33 mm. dengan
spesifikasi diperlihatkan pada tabel 1.
Tabel 2. Spesifikasi benda kerja
No
1
2
3
4

Spesifikasi
Jenis Material
Komposisi
Kekuatan
tarik
Kekerasan

Keterangan
AISI4340
0,37 0,43 % C; 0,7 0,9 % Cr; 96 % Fe;
0,7 % Mn; 0,2 0,3 Mo; 1,83 Ni; 0,23 %
Si; Maks 0,035 % P; Maks 0,04 % S. [15]
900 110 N/mm2
95,9 HRB

Tabel 3. Spesifikasi pahat HSS


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Spesifikasi
Jenis Material Pahat
Tipe
Dimensi
Kekerasan
Sudut Bebas Orthogonal (oo)
Sudut Geram Orthogonal (yo)
Sudut Bebas (a)
Sudut potong Utama (Kr)
Sudut Potong Bantu (K/)

Keterangan
HSS (High Speed Steel)
Bohler MO
5/8 in x 6 in
60HRC
12o
12o
8o
90o
7o

Ruslan Dalimunthe: Pengaruh Kecepaatan Potong Terhadap Umur Pahat HSS Pada Proses
Pembubutan AISI 4340

Peralatan dan Instrument Pengujian


Dalam penelitian ini diperlukan
beberapa alat yang digunakan, mesin
bubut yang dapat mewakili untuk
penelitian ini diperlihatkan pada Tabel.
Tabel 4. Mesin Bubut
No
1
2
3
4
5
6

Spesifikasi
Jenis Material Pahat
Tipe
Putaran Spindel
Maks Turning Diameter
Tool Size
Daya mesin

141

di depan lensa kondensor dari profil


proyektor, maka sudut dari dua tepi
bayangan yang akan ditentukan besarnya
dapat ditentukan.

Keterangan
Mesin Bubut Konvensional
Pinocho S-90 / 200
40 2200 rpm
0 200 mm
25 x 25 mm
4 kW

Gambar 2. Profil proyektor


Prosedur Penelitian

Gambar 4. Mesin bubut Pinochio tipe S-90/200

Mesin Gerinda
Mesin gerinda merupakan mesin
untuk
mengasah
dan
digunakan
membentuk sudut-sudut pahat sesuai
dengan heometri yang digunakan oleh
Balai Latihan Kerja.
Alat Uji Kekerasan
Alat uji kekerasan adalah alat yang
diginakan
untuk
megetahui
nilai
kekerasan HSS dan benda kerja pada
penelitian ini.
Pada pengukuran kekerasan menurut
Rockwell, sebuah benda pendesak ditekan
dalam dua tingkat benda kerja yang
dikerjakan
licin.
Maka
kedalaman
pendesakan yang tetap merupakan
ukuran untuk kekerasan, yang sekaligus
dapat dibaca pada jam ukur.
Sudut antara dua permukaan objek ukur
dapat diukur melalui bayangan yang
terbentuk pada kaca buram dari profil
proyektor (Gambar. 2). Setelah bayangan
difokuskan (diperjelas garis tepinya)
dengan cara mengatur letak benda ukur
Jurnal Sains dan Inovasi 5 (2) 139-145(2009)

Metode yang digunakan untuk penelitian


ini adalah metode eksperimental, terbagi
dalam beberapa tahapan berikut:
Penyiapan Pahat dan Benda Kerja
Penelitian
ini
menggunakan
material pahat HSS Bohler MO yang
geometri sudutnya telah dibentuk,
disesuaikan dengan spesifikasi yang
digunakan oleh BLK sedangkan benda
kerjanya adalah AISI 4340 dengan
tegangan tarik yang telah diketahui. Dari
tegangan tarik benda kerja yang telah
diketahui dikonversikan dengan Tabel 1,
diperoleh sudut geram orthogonal (o).
Sudut bebas orthogonal (o) dipilih 12,
berdasarkan pada besarnya gerak makan.

Gambar 3. Alat uji kekerasan permukaan

Ruslan Dalimunthe: Pengaruh Kecepaatan Potong Terhadap Umur Pahat HSS Pada Proses
Pembubutan AISI 4340

Pengukuran dapat dilakukan dengan


bentuk sebuah kerucut intan dengan
sudut puncak 120 dan ujungnya yang
dibulatkan sebagai benda desak. Maka ini
disebut rockwell-C (dari bahasa Inggris
yaitu Cone), dinyatakan dengan HRC.
Biasanya metode ini dipakai untuk bahanbahan yang keras. Pengukuran dapat juga
dilakukan dengan sebuah peluru baja
kecil yang keras dengan diameter 1/16"
(1,59 mm) sebagai benda pendesak maka
ini disebut Rockwell-B (B dari bahasa
Inggris yaitu Ball), dinyatakan dengan
HRB. Rockwell-B terutama dipakai untuk
bahan-bahan
yang
lunak
seperti
almunium, tembaga dan baja lunak. Pada
HRB di ukur lagi pendesakan yang tetap
dari peluru setelah dibebani 100 kgf (=981
N).
Profil Proyektor
Profil Proyektor digunakan untuk melihat
berapa besar keausan tepi vB yang terjadi
akibat proses pemesinan yang dialami
oleh pahat HSS dengan menggunakan
pembesaran 50X.
Karena gerak makan pada penelitian ini
sebesar 0.05 mm/rev. Dan pemilihan
sudut K,' sebesar 7 karena diasumsi
pemotongan kaku dan ' sebesar 8.
Pemilihan
Variabel
Permesinan,
Kecepatan Potong (v) dan Kedalaman
potong ()
Kecepatan potong yang digunakan
pada penelitian ini adalah:
1. V1 = 18,01 m/min
2. V2 = 15,68 m/min
3. V3 = 24,55 m/min
4. V4 = 20,28 m/min
untuk memperoleh kecepatan potong (v)
yang telah ditentukan di atas, dengan
menggunakan rumus (1) dan (2)
dilakukan pemilihan dua kecepatan
spindle yaitu 185 dan 340 rpm dan
penyesuaian diameter benda kerja.
Kedalaman potong yang digunakan

Jurnal Sains dan Inovasi 5 (2) 139-145(2009)

142

konstan yaitu 2 mm, disesuaikan dengan


pekerjaan yang dilakukan.
Harga batas keausan tepi untuk material
pahat HSS dan benda kerja baja antara 0,3
mm hingga 0,8 mm. Maka dalam
penelitian ini ditetapkan harga batas
keausan tepi (VB) sebesar 0,3 mm.
Proses pembubutan
keausan tepi

dan

pengujian

Proses pengambilan data keausari tepi vB


diambil pada setiap panjang pemesinan
(lt) adalah 100 mm pada masing-masing
kecepatan potong (v). Kemudian keausan
mata pahat dilihat dengan menggunakan
profil proyektor dengan pembesaran 50X.
Umur pahat (T) pada masing-masing
kecepatan potong didapatkan dengan cara
regresi linier.
Prosedur Pengambilan Data
Adapun data-data yang akan diperoleh
dari penelitian ini adalah :
Tabel 6.
No
1
2
3
4

Data Keausan tepi (VB) pada variasi


kecepatan potong

Sampel
v1 = 18,01 m/min
v2 = 15,68 m/min
v3 = 24,55 m/min
v4 = 20,28 m/min

1
VB1
VB6
VB11
VB16

Tabel 7: Umur Pahat


Kecepatan potong
(v, m/min)
Sampel pada Vbmax
(0,3 mm)
Waktu pemotongan
(tc, dtk)
Umur pahat (T, dtk)

2
VB2
VB7
VB12
VB17

3
VB3
VB8
VB13
VB18

4
VB4
VB9
VB14
VB19

5
VB5
VB10
VB15
VB20

18,01
m/min
Sv1

15,68
m/min
Sv2

24,55
m/min
Sv3

20,28
m/min
Sv4

tv1

tv2

tv3

tv4

Tv1

Tv2

Tv3

Tv4

HASIL DAN PEMBAHASAN


Uji Kekerasan Benda Kerja dan Pahat
Dengan menggunakan uji kekerasan
Rockwell-B dengan pembebanan 100 kgf,
didapat data nilai kekerasan benda kerja
pada 5 titik, seperti Tabel 7.

Ruslan Dalimunthe: Pengaruh Kecepaatan Potong Terhadap Umur Pahat HSS Pada Proses
Pembubutan AISI 4340

Tabel 8. Data uji kekerasan Rockwell-B


HRB
Titik
96
1
97.5
2
96
3
95
4
95
5
Rata-rata HRB
95.9
Untuk mengetahui kekerasan pahat,
digunakan uji kekerasan Rockwell-C
dengan pembebanan 150 kgf, didapat data
nilai kekerasan pahat pada 3 titik seperti
pada Tabel 9.
Tabel 9. Data uji kekerasan Rockwell-C
HRC
Titik
76
1
76
2
76
3
Rata-rata HRC
76

143

Kondisi Pemotongan
Kondisi pemotongan yang dilakukan
dengan beberapa kondisi kecepatan
potong (v) diperlihatkan pada tabel 11
berikut :
Tabel 11. Kondisi pemotongan benda kerja
No
1
2
3
4

V (m/min)
18,01
15,68
24,55
20,28

Do(mm)
33
29
25
21

Dm(mm)
29
25
21
19

Panjang (mm)
100
100
100
100

Gambar benda kerja yang belum


dilakukan proses pemotongan diperlihatkan pada Gambar 5 dan benda kerja yang
telah dilakukan proses pemotongan
diperlihatkan pada Gambar 6.

4.2. Bahan dan Geometri Pahat


Pahat yang digunakan adalah pahat HSS
tipe Bhler Mo Rapid 1200. nilai tegangang
tarik (<Tu) sebesar 900-1100 N/mm2,
gerak makan adalah 0,05 mm/rev, dan
kedalaman potong 2 mm maka pahat
dapat dibentuk dengan geometri seperti
tabel 6 dan gambar 4.
Tabel 10. Spesifikasi bahan dan geometri
Pahat
HSS Tipe Bohler Mo Rapid
1200
Lebar x Panjang
5/8 in x 6 in
Sudut Potong Utama (Kr)
90o
Sudut Bebas Orthogonal (ao)
12o
Sudut Bebas (a)
8o
Sudut Potong Bantu (Kr)
7o
Sudut Geram Orthogonal (/,,)
12o

Gambar 5. Benda kerja sebelum dilakukan


proses pemotongan

Gambar 6. Kondisi pemotongan untuk kecepatan


potong 4

Perhitungan Elemen Dasar Proses Bubut :


1. Kedalaman potong, persamaan [4]
a = (do dm)/2 = (33 29)/2 = 2 mm
2. Lebar feram, persamaan [4]
b = a/sinKr
= 2/sm 90
= 2 mm
Hasil Pengujian Keausan Tepi (VB) dan
Analisis

Gambar 4. Pahat potong

Jurnal Sains dan Inovasi 5 (2) 139-145(2009)

Hasil
proses
pembubutan
dan
pengukuran dengan profil proyektor,
digambarkan grafik pada Gambar 7.

Ruslan Dalimunthe: Pengaruh Kecepaatan Potong Terhadap Umur Pahat HSS Pada Proses
Pembubutan AISI 4340

144

Kecepatan potong (m/min)


Gambar 10. Hubungan antara umur pahat dengan kecepatan
potong

Gambar 7. Grafik hubungan keausan tepi VB terhadap


jumlah sampel pada kecepatan potong yang
bervariasi.

Gambar 8. Grafik hubungan waktu potong tc dengan


keausan tepi vb

Kecepatan Potong (m/min)

Gambar 9. Hubungan Sampel dengan kecepatan


potong

Tabel 12. Umur Pahat


Kecepatan potong
(v, m/min)
Sampel
pada
Vbmax (3 mm)
Waktu pemotongan (tc, dtk)
Umur pahat
(T, dtk)

18,01

15,68

24,55

20,28

5,263

5,346

5,01

648,6

648,6

352,8

352,8

3413,58

3467,42

1764

1767,53

Jurnal Sains dan Inovasi 5 (2) 139-145(2009)

Banyak sampel yang telah dikerjakan


dikalikan dengan waktu pemotongan (tc)
akan didapatkan umur pahat pada
masing-masing kecepatan potong. Dari
Gambar 10 di atas dapat dilihat umur
pahat menurun dengan bertambahnya
waktu pemotongan, kedalaman potong
serta kecepatan potong. Pada saat awal
digunakan pertumbuhan keausan relatif
cepat dengan membentuk pola linier.
Pada kecepatan yang tinggi pahat dapat
mengerjakan dengan waktu relatif cepat
tetapi temperatur pahat meningkat
membuat keausan pahat akan cepat
terjadi. Kedalaman potong yang relatif
besar juga membuat umur pahat menurun
karena beban yang diberikan cukup besar
dan permukaan kontak yang luas
menimbulkan
pahat cepat aus. Dari Gambar 10 di atas
dapat dilihat umur pahat tertinggi pada
penelitian ini pada kecepatan potong
15,68 m/min sebesar 4048,56 detik dan
umur pahat terendah pada kecepatan
potong 24,55 m/min sebesar 1764 detik.
Hal ini menunjukkan dengan kedalaman
potong sebesar 2 mm serta kecepatan
yang tinggi akan menurunkan umur
pahat.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Dari hasil pembahasan dan analisis yang
telah dilakukan dalam penelitian ini maka
dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu:
1. Besarnya
kedalaman
potong
rnembuat pahat semakin cepat aus
dan pada penggunaan kecepatan
yang cukup tinggi resiko kegagalan
pada pahat relatif besar.
2. Tingginya kecepatan potong (v)
menurunkan fungsi umur pahat, hal
ini dapat dilihat pada penelitian ini

Ruslan Dalimunthe: Pengaruh Kecepaatan Potong Terhadap Umur Pahat HSS Pada Proses
Pembubutan AISI 4340

3.

bahwa urnur pahat tertinggi berada


pada kecepatan putong 15,68 m/min.
Dari tingginya umur pahat yang
didapat pada kecepatan 15,68 m/min
maka kecepatan potong (v) dikatakan
optimal untuk pembubutan AISI 4340
menggunakan pahat High Speed Steel
(HSS), dengan diameter benda kerja
(d) 27 mm, putaran spindel (n) 185
rpm dan kedalamam potong (a)
sebesar 2 mm.

Saran
Dari penelitian yang telah dilakukan,
maka saran-saran yang dapat diberikan
untuk
1. Pada pembubutan dengan kombinasi
pahat High Speed Steel (HSS) dengan
benda keija AISI 4340 kecepatan
optimal adalah 15,58 m/min karena
pahat menunjukkan umur yang tinggi
yang memungkinkan pahat dapat
digunakan cukup lama.
2. Penelitian
perlu
dikembangkan
dengan memvariasikan kedalaman
potong dan pemotongan dengan
menggunakan pendingin (coolant).
DAFTAR PUSTAKA
Boothroyd, G., 1975, Fundamentals of
Metals Machinmg and Machine Tools.
Mc Graw Hill, Tokyo, Japan.

Jurnal Sains dan Inovasi 5 (2) 139-145(2009)

145

Cakir, M. C., dan Isik, Y., 2004, Detecting


Tool Breakage In Turning AISI 1050
Steel Using Coated and Unocoated
Cutting Tools, Journal of Material
Processing Technology.
Donaldson, C., LeCain, G.H., dan Goold,
V. C., 1976, Tool Design. McGraw
Hill Publishing Company. Ltd., New
Delhi.
Groove, M.P., 1997 Fundamental of
Modern Manufacturing. Prantice
Hall.
Hamni, S., 2005, Penentuan Pahat Potong
pada
Mesin
CNC
Berdasarkan
Pertumbuhan Keausan Tepi dengan
Metode Linier. Laporan Penelitian
Teknik
Mesin,
Universitas
Lampung, Bandar Lampung.
Ibrahim, G.A., Mudjijana, dan Sujitno, T.,
2004,
Pengaruh Tebal
Potong
Terhadap Laju Keausan Pahat Bubut
HSS Yang Dilapisi TiN Dengan Teknik
Sputtering DC. Seminar Nasional
Perkembangan Riset dan Teknologi
di Bidang Industri, Yogyakarta.
Kalpakjian, S., 1997, Manufacturing
Processes for Enginering Materials.
Addison Wesley Logman, Inc.,
Canada, USA.
Krar, S.F., Rapisarda, M., dan Check, A.F.,
1997,
Machine
Tool
and
Manugacturing Tecchnologi. Dalmar
Publisher, USA.
Rochim, T., 1993, Teori dan Teknologi
Proses Pemesinan. ITB, Bandung.