Anda di halaman 1dari 6

KARENA KITA CINTA

Cerpen Karangan: Fahrial Jauvan Tajwardhani


Tak masalah bila akhirnya kita terpisah, tapi jika rindu datanglah seperti biasa, seperti
yang sering kita lakukan, teruslah memejamkan mata sampai di mimpi-mu aku menjadi nyata,
pesan singkat Mutya. Mutya menjadi salah satu korban kecelakaan beruntun. Kepalanya
mengalami benturan hebat sampai-sampai kaca mobilnya retak. Beruntung seseorang dengan
cepat menyelamatkan nyawanya. Tubuh-nya tetap pada wujud yang utuh, hanya bagian kepalanya yang bermasalah. Lupa ingatan menjadi harga mati untuk seorang yang mengalami benturan
keras.
Hatiku selalu menghawatirkannya, setiap malam tidurku tak nyenyak karenanya, makan
pun jadi enggan. Di dunia ini aku tak bisa melihat apa-apa lagi selain penderitaan dan kesedihan,
perempuan manis itu tersungkur lemah tak berdaya, di balik jendela aku menangis menyapa-nya
manja. Namanya selalu ku sebut di dalam doa berharap Tuhan memberi-nya daya untuk bangkit
dan memelukku mesra, seperti yang sering dilakukannya saat bangun tidur di pagi buta.
Mutya seperti jasad tak bernyawa tapi berada di dekatnya sepanjang hari membuatku
merasa nyaman, meski kami hanya diam. Untuk kesetiaan ini ku beri nama cinta. Dan untuk
kesedihan ini ku beri nama rindu. Agar kelak saat orang lain bertanya padaku tentang cinta dan
rindu, aku bisa menjawab dengan lantang, Bahwa cinta itu, ketika kita kehilangan tetap setia
menjaganya, bukan pada fisik tapi menjaga pada hati agar tak pergi meninggalkan. Dan rindu itu,
ketika kita berpisah tetap dengan rasa yang sama, air mata jatuh tak wajar karenanya.
Sekarang, jika umur Mutya tersisa 24 jam. Maka tak cukup bagiku menceritakan kembali
tentang indahnya hidup berdampingan dengannya selama 24 tahun. Kaki kecilku menjadi kuat
berjalan semua karena-nya, yang selalu ada menggenggam erat tanganku, dengan penuh sabar
mengajariku cara berjalan, hingga kini kaki kecil itu tumbuh menjadi besar, dan siap berjalan
jauh menuntunnya bepergian. Tubuh kecilku, pengetahuan sempitku, semua berubah karenanya,
benar-benar karena Mutya. Karena ia menyayangiku, karena ia merawatku, karena ia
mengorbankan hidupnya untuk menghidupiku, karena ia selalu memberikan yang terbaik
untukku.
Lama sudah tak mendengar suaranya, rindu menari nakal mengganggu pikiran. Airmata
tak terhitung jumlahnya, yang jatuh ke pipi atau ke tanah semua keluar tanpa rasa sadar.
Akhirnya, Mutya menyerah pada penderitaan-nya, ia berhenti bernafas, dan tubuh-nya menjadi
ringan. Aku hanya tersandar, gila, tanpa airmata lagi. Dunia ini tak memberiku tempat sembunyi
untuk menghilangkan kegundahan hati. senyum manisnya, tawa manjanya, tingkah lucunya,
semua ada di pikiran ku. Aku menjadi nakal dan mulai durhaka padanya, aku berusaha
menghapus semua yang mengganggu pikiranku tentangnya. Dimana keburukannya selama hidup
denganku? Aku bertanya pada hatiku, semua tak ada yang bersuara, hanya bayangnya semakin
kuat menyiksa batinku yang renta.
Namanya terukir indah di benakku, kasih sayangnya tertanam subur dalam hatiku. Meski aku
bisa membeli dunia, tak akan ada bahagia tanpa Mutya di sisiku.

Tak masalah jika akhirnya harus terpisah, pernah hidup dan ditakdirkan menjadi anak Mutya itu
sangat membuatku bahagia, ujarku lirih. Ibu, aku mencintaimu.

PATRIOT KECIL
Cerpen Karangan: Angela Purba S
Rima melihat adiknya yang termenung di dekat jendela. Mengentikkan jarinya dari tadi.
Sinar matahari yang sudah mulai kelihatan menyinari kepalanya. Muka sang adik tampak sedih.
Rima segan bertanya kepada adiknya apa yang terjadi, karena pasti itu hanya membuat adiknya
tambah badmood. Tapi, Rima tetap penasaran kenapa adiknya dari tadi hanya disitu. Rima tetap
mengurungkan niatnya. Rima melangkah 4 kali. Jaraknya sama adiknya masih terlalu jauh.
Untuk di senggol pun tidak sampai. Rima maju 4 langkah. Sekarang, jaraknya sama adiknya
sudah bisa dibilang dekat. Rima menundukkan kepala melihat sang adik duduk manis di depan
jendela.
Roni, kamu ngapain? Kok dari tadi diam saja? Ada masalah ya di sekolah? tanya Rima
langsung.
Nggak sih jawab Roni. Suaranya masih terdengar halus.
Terus? tanya Rima lagi.
Roni memandang Rima, kakaknya. Dari wajah Roni keliahatan bahwa Roni sangat jenuh
sekarang.
Kak, aku ingin jadi Patriot.
Rima tersenyum. Dia melihat adiknya yang polos situ. Walaupun masih umur 6 tahun, sudah
punya impian seperti ini, luar biasa! Batin Rima dalam hati. Dia mengelus kepala adiknya. Rima
memandang adiknya penuh.
Jadi? Apa yang harus dilakukan sama Patriot kecil kayak kamu?
Roni berpikir sejenak. Perang?
Jawaban yang didapat Rima membuat Rima tertawa. Kepolosan sang adik memang tiada duanya.
Rima mengambil 1 kursi yang terletak di pojok dan menaruhnya di samping Roni. Rima
merangkul adiknya yang masih memandang pemandangan di luar.
Perang itu nggak wajib, Ron. Jawab Rima. Yang kamu perlu lakukann hanya membuat
Negara mu bangga.
Roni bertanya lagi. Gimana caranya? Merekamereka aja nggak kenal sama aku, kak.
Rima menjawabnya dengan senyuman. Nah, buat mereka kenal sama kamu. Tau kamu. Jangan
buat orang bertanya siapa kamu. Tapi buat orang menjawab itu kamu. Semua karya tuh butuh
perjuangan. Jawab Rima panjang lebar.
Roni menatap sang kakak. Terus, Roni harus apa?
Roni harus tunjukkan kalau kamu bukan hanya anak biasa dari desa kecil. Tapi anak luar biasa
berasal dari desa kecil.
Roni tetap nggak ngerti. Roni melihat kakaknya yang juga sedang menatapnya.
Roni artinya harus bekerja keras demi membuat Negara kita bangga. Mungkin sekarang emang
belum banyak yang tau kamu. Tapi kalau kamu punya niat membuat orang kenal sama kamu,
semua itu akan terjadi kok. Lakukan hal positif dan terhormat, itu yang membuat kamu menjadi
patriot kecil. Sekarang, ngerti?
Roni mengangguk paham. Ia tersenyum lebar. Berdiri dari tempat duduknya.

OKE!! teriak Roni semangat.


Roni berlari keluar rumah. Membentangkan tangannya yang lebar berasa sedang terbang.
Menutup matanya dan berkata dalam hatinya
aku lah si Patriot Kecil.

NASIHAT NENEK
Cerpen Karangan: Mega Suri Risanda
Nenekku adalah orang yang pintar memasak dan merajut, ia tinggal di desa yang cukup
terpencil, suatu hari aku pergi ke desa tempat tinggal nenek. Oh, ya namaku Emi. Sesampai aku
di rumah nenek. Nenek langsung bertanya kamu kesini sendiri? Aku hanya mengangguk nenek
menjawab kenapa kamu ngak sama ibumu? Nenek menatapku dan aku hanya menundukan
kepala nenek bertanya lagi kenapa kamu ngak kesini bersama bapakmu? Aku masih
menundukan kepalaku.
Nenek pun mempersilahkan aku duduk dan mengambilkan aku teh. Aku langsung duduk
dan meminum teh buatan nenek. Nenek berkata padaku nenek tau kamu ada masalah dengan
ibu dan bapakmu aku yang sadang meminum teh langsung diam dan meletakan teh itu di meja.
Nenek duduk di sampingku dan berkata jelaskan mengapa kamu bisa kabur dari rumahmu aku
memeluk nenek sambil berkata nenek mengapa nenek bisa tau nenek melepaskan pelukanku
dan menjawab sewaktu ibumu seusiamu ibumu selalu pergi ke rumah neneknya apabila sedang
ngambek dengan orangtuanya.
Nenek tau buah jatuh tak jauh dari pohonnya aku tersenyum dan berkata ibu dan
bapakku itu tidak memperhatikanku mereka lebih memperhatikan kak Tiwi mereka selalu
mengunggulkan kakak mereka hanya memperhatikan kakak. Mungkin karena kakak pintar dan
juara 1 di kelas. Aku ngak disayang nek nenek hanya tersenyum dan tertawa ibumu sayang
padamu setiap hari ibumu menelfonku untuk menanyakan kabarku dan untuk bercerita tentang
Tiwi dan Emi. Ibumu bercerita kamu adalah anak yang rajin dan Tiwi adalah anak yang pintar
aku menatap nenek sambil berkata ibu dan bapak ngak peduli kalau aku mau ngomongin nilai
ibu hanya bilang kamu jangan pernah puas dengan nilaimu kakakmu saja selalu juara kelas
namun ia tidak pernah berpuas diri bahkan kakakmu sering mendapat juara olimpiade namun
kakakmu tidak pernah berpuas diri.
Sedangkan bapak hanya berkata tingkatkan nilaimu dan jadilah anak yang pandai kamu
sudah membanggakan kami tapi kakak lebih memebanggakan kalau kamu mau memenanggakan
kami melebihi kakakmu maka rajinlah belajar. Mereka bangga sama kakak nek nenek
menatapku sambil tertawa hahahaha. Kamu tau mereka terus membanggakanmu ketika kamu
juara 1 lomba membaca Al-quran sekabupaten mereka tak ingin kamu puas begitu saja dan
mereka ingin kamu mencontoh kakakmu yang mendapat juara kelas mereka tak bermaksud
merendahkanmu hanya ingin kamu menjadi lebih baik aku tersenyum puas mendengarkan kata
nenek.
Nenek berkata kalau kamu kabur kamu tidak akan menyelesaikan masalah namun akan
menambah rumit suatu masalah. Nenek ingin kamu tau sebenarnya kamu hampir saja membuat
dirimu celaka karena kamu masih kecil dan nekat pergi sendiri nenek tak bangga sama
perbuatanmu tiba-tiba telefon rumah nenek bedering ternyata itu ibu. Nenek mengangkat
telefon dan langsung berkata anakmu di rumahku kamu besok kemari jemput dia biarkan dia
menginap 1 malam disini nenek langsung menutup telefon dan menyuruh aku mandi lalu sholat.

Nenek memang orang yang taat ibadah seperti orangtuaku. Setelah sholat nenek
menyuruhku makan dan memberikan aku 2 buah selimut rajutannya buatmu dan kakakmu aku
berterimakasih dan mencium nenek. Saat itu aku belajar untuk tidak mengambil keputusan
begitu saja.