Anda di halaman 1dari 4

Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan di Pertanian

Oleh : Shinta Widyaningrum ( TK. III Kesling )


Pertanian adalah salah satu sektor dimana didalamnya terdapat penggunaan sumberdaya
hayati untuk memproduksi suatu bahan pangan,bahan baku industri dan sumber energi seperti
budidaya tanaman atau bercocok tanam. Selain itu, sektor pertanian adalah salah satu sektor
yang dalam melakukan proses kerjanya terdapat dampak positif dan negatif. Dampak negatif
dikarenakan tenaga kerja selalu berinteraksi dengan pekerjaannya dan lingkungan kerja yang
banyak mengandung hazard. Sebagian besar di sektor pertanian masih banyak yang belum
memperhatikan pengendalian risiko, risiko yang ada diabaikan dan tidak dikendalikan secara
optimal. Pengendalian risiko yang tidak dilakukan di sektor pertanian akan mengakibatkan
tingkat kecelakaan kerja semakin meningkat. Akibat lainnya adalah penyakit yang
ditimbulkan akibat bekerja juga semakin meningkat sehingga dapat menimbulkan kerugian
bagi pekerja.
Dalam melakukan pekerjaannya banyak petani yang masih kurang dalam pengendalian risiko
bahaya, seperti mencangkul dan membuat parit dengan posisi terus membungkuk dalam
waktu yang lama, menggunakan peralatan yang tajam dan tidak memakai alas kaki. Selain
itu, getaran pada tangan dan suara bising yang dihasilkan dari mesin pembajak traktor,
menggunakan pupuk kimia secara berlebihan serta penggunaan pestisida yang kontak
langsung dengan zat kimia. Petani juga dalam melakukan aktivitasnya menerima panas dan
terpapar sinar UV terus menerus.
Dari aktivitas pertanian tersebut dapat dianalisis risiko gangguan terhadap kesehatan, salah
satunya adalah penyakit akibat kerja (PAK). Ketika petani melakukan aktivitas mencangkul
dengan posisi yang terus membungkuk akan meningkatkan risiko nyeri pada punggung atau
long back pain (LBP) yang disebabkan oleh desain pegangan cangkul yang tidak sesuai atau
ergonomis. Karena jika desain peralatan kerja yang tidak sesuai akan mengakibatkan
gangguan musculoskeletal dan merupakan bahaya ergonomi. Risiko lainnya adalah ketika
menggunakan peralatan yang tajam menyebabkan kaki akan terluka atau tertusuk dan tangan
mudah tergores.
Penyakit akibat kerja yang di sebabkan faktor biologi banyak yan bersumber dari. pekerjaan
pertanian, dimana pada sektor pertanian ini para petani kontak langsung dengan vektor atau
penyebab penyakit yaitu tanah yang didalamnya terdapat sumber penyakit yaitu parasit atau
bahkan vektor yang lain. Lingkungan pertanian yang cenderung berupa tanah membuat
pekerja dapat terinfeksi oleh mikroorganisme seperti : Tetanus, Leptospirosis, cacing
tambang, Asma bronkhiale atau keracunan Mycotoxins yang merupakan hasil metabolisme
jamur. Binatang sawah seperti nyamuk atau tomcat juga merupakan vektor yang dapat
membawa bibit penyakit seperti DBD, malaria, cikungunya dan melepuh pada bagian kulit.
Selain itu juga, air parit kotor yang mengandung kuman atau bakteri meningkatkan risiko
terkena kutu air, gatal, dan iritasi kulit pada petani.
Sebagian besar bahaya faktor kimia adalah bersumber pada zat kimia yang ada dalam
pestisida yang digunakan dan penggunaan pupuk kimia. Penggunaan pupuk kimia berdampak

pada lingkungan, penggunaan yang terlalu banyak akan mengakibatkan eutrofikasi. Pupuk
mengandung zat seperti nitrat dan fosfat. Zat ini menjadi racun untuk kehidupan akuatik.
Dengan demikian meningkatkan pertumbuhan yang berlebihan dari ganggang di air dan
menurunkan kadar oksigen. Hal ini menyebabkan lingkungan yang beracun dan
menyebabkan kematian fauna di perairan. Pupuk kimia juga terdiri dari zat dan bahan kimia
seperti metana, karbon dioksida, amonia, dan nitrogen. Hal ini pada saatnya akan
menyebabkan pemanasan global dan perubahan cuaca. Bahkan, nitrous oxide, yang
merupakan produk sampingan dari nitrogen, adalah gas rumah kaca ketiga yang paling
signifikan, setelah karbon dioksida dan metana.
Penggunaan pestisida juga sangat berdampak terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.
Setiap hari ribuan petani dan para pekerja di pertanian diracuni oleh pestisida dan setiap
tahun diperkirakan jutaan orang yang terlibat dipertanian menderita keracunan akibat
penggunaan pestisida. Dalam beberapa kasus keracunan pestisida langsung, petani dan para
pekerja di pertanian lainnya terpapar (kontaminasi) pestisida pada proses mencampur dan
menyemprotkan pestisida. Pestisida dalam bentuk gas merupakan pestisida yang paling
berbahaya bagi pernafasan, sedangkan yang berbentuk cairan sangat berbahaya bagi kulit,
karena dapat masuk ke dalam jaringan tubuh melalui ruang pori kulit. Di samping itu
masyarakat sekitar lokasi pertanian sangat beresiko terpapar pestisida melalui udara, tanah
dan air yang ikut tercemar, bahkan konsumen melalui produk pertanian yang menggunakan
pertisida juga beresiko terkontaminasi pestisida.
Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan
untuk mengendalikan berbagai hama. Yang dimaksud hama di sini adalah sangat luas, yaitu
serangga, tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi
(jamur), bakteria dan virus, kemudian nematoda (bentuknya seperti cacing dengan ukuran
mikroskopis), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan. Pestisida tidak
hanya berperan dalam mengendalikan jasad-jasad pengganggu dalam bidang pertanian saja,
namun juga diperlukan dalam bidang kehutanan terutama untuk pengawetan kayu dan hasil
hutan yang lainnya, dalam bidang kesehatan dan rumah tangga untuk mengendalikan vektor
(penular) penyakit manusia dan binatang pengganggu kenyamanan lingkungan, dalam bidang
perumahan terutama untuk pengendalian rayap atau gangguan serangga yang lain.
Kecelakaan akibat pestisida pada manusia sering terjadi, terutama dialami oleh orang yang
langsung melaksanakan penyemprotan. Mereka dapat mengalami pusing-pusing ketika
sedang menyemprot maupun sesudahnya, atau muntah-muntah, mulas, mata berair, kulit
terasa gatal-gatal dan menjadi luka, kejang-kejang, pingsan, dan tidak sedikit kasus berakhir
dengan kematian. Secara tidak sengaja, pestisida dapat meracuni manusia atau hewan ternak
melalui mulut, kulit, dan pernafasan. Sering tanpa disadari bahan kimia beracun tersebut
masuk ke dalam tubuh seseorang tanpa menimbulkan rasa sakit yang mendadak dan
mengakibatkan keracunan kronis. Seseorang yang menderita keracunan kronis, ketahuan
setelah selang waktu yang lama, setelah berbulan atau bertahun-tahun. Keracunan kronis
akibat pestisida saat ini paling ditakuti, karena efek racun dapat bersifat
karsiogenik (pembentukan jaringan kanker pada tubuh), mutagenik (kerusakan genetik untuk
generasi yang akan datang), dan teratogenic (kelahiran anak cacat dari ibu yang keracunan).

Peran perempuan di pertanian yang begitu besar membuat perempuan juga dominan dan
paling beresiko terhadap dampak pestisida terhadap sistem reproduksi. Pada umumnya adalah
gangguan terhadap sistem reproduksi perempuan, seperti kanker rahim dan kanker payudara.
Ditemukan juga fakta anak-anak yang dilahirkan mengalami cacat fisik, keterlambatan
mental, serta kekebalan tubuh rendah. Selain gangguan terhadap kesehatan, tidak kurang
kerusakan yang terjadi pada lingkungan yang berhasil dicatat adalah ditemukan ikan, lebah
madu, kodok, dan ternak unggas ayam yang mati.
Selain itu juga, terdapat bahaya fisik seperti getaran, arah angin, panas, radiasi dan sisa
pestisida serta terdapat bahaya ergonomi juga yaitu beban tangki gendong yang berlebihan.
Getaran dapat mengakibatkan kelainan saraf dan pembuluh darah pada tangan yang
dihasilkan dari mesin pembajak traktor serta suara bising yang dihasilkan akan menganggu
komunikasi. Penyemprotan pestisida yang berlawanan dengan arah angina akan memudahkan
pestisida masuk ke dalam tubuh. Panas juga menyebakan petani mudah dehidrasi dan cepat
lelah. Petani yang sehari-hari bekerja di lahan persawahan pasti akan secara langsung terkena
dengan sinar matahari terus menerus dan berisiko terkena radiasi UV. Radiasi UV, baik dari
cahaya matahari atau sumber buatan yang lain dapat membahayakan mata, mempengaruhi
jaringan permukaan serta struktur dalam mata seperti lensa mata dan juga kornea. Pemaparan
dalam jangka waktu lama terhadap radiasi UV memicu katarak, kanker kulit sekitar bulu
mata dan kelainan mata yang lain.
Dari analisis risiko kesehatan lingkungan tersebut penting perlu adanya manajemen resiko
dan komunikasi resiko, antara lain:
1. Lebih memperhatikan keselamatan kerja dengan menggunakan APD yang sesuai.
2. Sanitasi dan hygiene perorangan lebih ditingkatkan.
3. Mengurangi pemakaian pupuk kimia dan beralih ke pupuk organik.
4. Dalam pembelian pestisida hendaknya selalu dalam kemasan yang asli, masih utuh
dan ada label petunjuknya. Perlakuan sisa kemasan, Bekas kemasan sebaiknya
dikubur atau dibakar yang jauh dari sumber mata air untuk mengindai pencemaran ke
badan air dan juga jangan sekali-kali bekas kemasan pestisida untuk tempat makanan
dan minuman.
5. Setelah menggunakan pestisida apabila berlebih hendaknya di simpan yang aman
seperti jauh dari jangkauan anak-anak, tidak bercampur dengan bahan makanan dan
sediakan tempat khusus yang terkunci dan terhindar dari sinar matahari langsung.
6. Pada pelaksanaan penyemprotan ini banyak menyebabkan keracunan dan penyakit
lainnya oleh sebab itu petani di wajibkan memakai alat pelindung diri yang lengkap
setiap melakukan penyemprotan, tidak melawan arah angin atau tidak melakukan
penyemprotan sewaktu angin kencang, hindari kebiasaan makan-minum serta
merokok di waktu sedang menyemprot, setiap selesai menyemprot dianjurkan untuk
mandi pakai sabun dan berganti pakaian serta pemakain alat semprot yang baik akan
menghindari terjadinya penyakit.

7. Menggunakan topi pelindung yang memiliki pinggiran, sebagai tambahan terhadap


radiasi ultraviolet sebaiknya menggunakan kacamata pelindung dari cahaya matahari.
8. Menggunakan sarung tangan ketika menjalankan mesin traktor.
9. Menyediakan air minum agar tidak mudah dehidrasi saat panas.
Untuk komunikasi resiko, yang perlu dilakukan adalah memberi tahu atau menyampaikan
hasil manajemen resiko kepada petani agar dapat mengurangi pajanananya yang masuk ke
dalam tubuh.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2012. Akibat Pupuk dan Pestisida Kimia. [http://carabudidaya.com]
Anonim.2013.Mengenal Beragam Pestisida dan Bahan Aktifnya. [http://pupukpestisida.com.]
Roy. 2013. Bahaya Pestisida Kimia Bagi Manusia dan Lingkungan.
[http://www.caramenanam.com.]
http://journal.unair.ac.id/filerPDF/k34d391eea72full.pdf. [ Diakses pada tanggal 13 April
2015]