Anda di halaman 1dari 12

Tugas Metabolisme Kimia

Membuat Narasi dari slide Metabolisme Karbohidrat


Nama: Elfira Rosa Pane
Nim: 20505008

Slide 1. Overview: Hubungan Katabolisme dan Anabolisme


Struktur polimer untuk proses katabolisme tidak sama dengan anabolisme. Dalam reaksi
katabolisme dan anabolisme merupakan reaksi yang berlawanan dan hasil reaksinya sama
namun melalui jalan reaksi yang berbeda.
Hans Krebs mendeskripsikan tiga tingkatan dalam mendapatkan energi dari oksidasi
bahan makanan.
Pada Stage I. Molekul besar dalam makanan dipecahkan menjadi unit yang lebih kecil.
Protein dihidrolisis menjadi 20 jenis asam amino konstituennya. Polisakarida dihidrolisis
menjadi gula sederhana seperti glukosa dan lemak dihidrolisis menjadi gliserol dan asam
lemak. Tidak ada energi yang dapat digunakan dalam pase ini.
Pada stage II. Semua molekul kecil ini didegradasi menjadi unit sederhana yang berperan
penting dalam metabolisme. Bahkan, kebanyakan gula, asam lemak, gliserol dan asam
amino diubah menjadi unit acetl dari acetil Co-A. Beberapa ATP didapatkan pada stage
ini, tetapi jumlahnya kecil bila dibandingkan dengan yang didapat dari oksidasi lengkap
unit asetil dari asetil Co-A.
Pada Stage III. Tediri dari siklus asam sitrat dan posforilasi, yang merupakan reaksi akhir
dalam oksidasi molekul bahan bakar. Asetil Co-A membawa unit asetil kedalam siklus
ini, dimana semuanya dioksidasi menjadi karbondioksida. Empat pasangan electron
ditransfer (3NAD+ dan 1 FAD+). Untuk tiap grup asetil yang dioksidasi. Lalu ATP didapat
sebagai electron yang mengalir dari bentuk reduksi pembawa ke oksigen dalam proses
yang disebut posporilasi oksidatif. Lebih dari 90% ATP didpat dari degradasi bahan
makanan yang dibentuk pada stage ke 3 ini.

Slide 2. Hubungan metabolisme karbohidrat, lipid protein dan asam nukleat.


Beberapa pathway terlihat merupakan kebalikan dari reaksi lainnya. Polisakarida
dibentuk menjadi monosakarida, membentuk glukosa, G3P, piruvat, asetil Co-A, dst. Dari
monosakarida dapat diubah menjadi nukleotida, asam amino, protein, dst. Dari lipid
dapat diubah menjadi gliserol dan asam lemak. Gliserol dapat diubah menjadi
gliseraldehid, dst. Slide ini menunjukkan bahwa semua bahan makanan yang berupa
karbohidrat, lipid, dan protein saling berhubungan satu sama lain. Mereka dapat saling
menggantikan apabila zat yang dibutuhkan tidak terdapat didalam tubuh, walaupun
dengan jalan reaksi yang berbeda-beda.
Slide 3. 2.Karbohidrat.
Karbohidrat merupakan senyawa karbon, hydrogen dan oksigen yang terdapat dalam
alam. Karbohidrat sangat beraneka ragam sifatnya. Misalnya sukrosa dan kapas keduanya
adalah karbohidrat. Salah satu perbedaan utama antara pelbagai tipe karbohidrat adalah
ukuran molekulnya.
Monosakarida (sering disebut gula sederhana) adalah satuan karbohidrat yang
tersederhana; mereka tidak dapat dihidrolisis menjadi molekul karbohidrat yang lebih
kecil. Glukosa, monosakarida yang terpenting. Kadang-kadang disebut gula darah, gula
anggur, atau dekstrosa. Mamalia dapat mengubah sukrosa, laktosa, maltosa dan pati
menjadi glukosa yang kemudian dapat digunakan sebagai energi oleh organisme itu atau
disimpan sebagai glikogen. Bila organisme itu memerlukan energi, glikogen diubah lagi
menjadi glukosa.
Glukosa dapat dioksidasi melalui glikolisis menjadi piruvat untuk mendapatkan ATP.
Glukosa juga dapat dioksidasi melalui pentose pospat pathway menjadi Ribose-5-pospat
yang digunakan dalam sinstesi RNA, DNA dan koenzim nukleotida.
Slide 4. 2.1. Metabolisme Karbohidrat.
Beberapa Istilah:
Glikolisis: adalah sederetan reaksi yang mengubah glukosa menjadi piruvat dan
menghasilkan sejumlah ATP.
Glukoneogenesis: adalah sintesis glukosa dari precursor non karbohidrat.

Glikogenolisis: degradasi glikogen menjadi glukosa


Glikogenolisis: sintesis glikogen dengan mekanisme yang sangat berbeda dengan
degradasinya.
Jalur anaplerotik: jalur yang menyediakan senyawa antara pada proses glikolisis
HMP:
Slide 5. Jalur Katabolisme Karbohidrat.
Glukosa di glikolisis dengan 10 reaksi berturut-turut menghasilkan 2 piruvat. 2 piruvat
dalam kondisi anaerob dapat terbentuk 2 mekanisme. Yang pertama adalah pembentukan
2 laktat. Fermentasi menjadi laktat yang banyak pada saat otot berkontraksi, eritrosit, selsel lainnya dan dalam mikroorganisme.
Yang kedua dalam kondisi anaerob, 2 piruvat dapat diubah menjadi 2 etanol dan 2
karbondioksida, fermentasinya menjadi alcohol dalam yeast.
Dalam kondisi aerob, pada hewan, tanaman dan sel microbial lainnya, 2 piruvat diubah
menjadi 2 asetil ko-A dengan melepaskan alcohol. 2 asetil ko-A diubah menjadi 4
karbondioksida dan 4 molekul air pada siklus asam sitrat.
Slide 6. 2.1.1. Katabolisme Karbohidrat
Pada katabolisme karbohidrat terjadi glikolisis, dalam glikolisis terdapat tahapan yang
memerlukan energi dan menghasilkan energi. Selain itu ada substrat lain selain glukosa.
Hasil glikolisis dioleh secara berbeda antara sel yang anaerob ( pada fermentasi asam
laktat) dan sel aerob.
Dalam katabolisme karbohidrat juga terdapat fermentasi alcohol.
Slide 7. Glikolisis
Dalam glikolisis, terdapat dua fase , yang pertama fase preparatory, yaitu posporilasi
glukosa dan mengubahnya menjadi gliseraldehid 3-pospat. Fase ini memerlukan energi.
Fase yang kedua adalah pay off fase, yaitu konversi oksidatif dari gliseralehid 3 pospat
menjadi piruvat dan pembentukan pasangan ATP dan NADH, fase ini menghasilkan
energi.

Slide 8. Tahap diperlukan energi pada glikolisis


Glucose diubah menjadi glukosa-6-pospat yang merupakan reaksi penting pertama.
Reaksi ini membutuhkan energi sehingga terjadi perubahan ATP menjadi ADP.
Glukosa-6-pospat diubah menjadi fruktosa 6-pospat. Reaksi ini merupakan konversi
aldosa menjadi ketosa.
Fruktosa 6-pospat diposporilasi oleh ATP menjadi fruktosa bispospat. Reaksi yang
membutuhkan energi dan reaksi penting kedua.
Fruktosa 1,6 bispospat dipecah menjadi dua 3-carbon gula pospat membentuk
gliseraldehid-3-pospat dan dihidroksi aseton pospat.
Slide 9. Tahap dihasilkan energi pada glikolisis
Gliseraldehid 3 pospat dioksidasi dan diposporilasi menjadi 1,3-bispospogliserat,
bersama reaksi ini 2NAD+ dan 2Pi direduksi menjadi 2NADH + H.
Reaksi pengubahan 1,3-bispospogliserat menjadi 3 pospogliserat merupakan reaksi
pembentukan ATP yang pertama ( posporilasi pada level substrat) terjadi reaksi ADP
menjadi ATP.
3 pospogliserat diubah menjadi 2 pospogliserat.
2 pospogliserat diubah menjadi pospoenol piruvat dengan melepaskan 2 molekul air.
Pospoenol piruvat diubah menjadi piruvat. Reaksi ini merupakan reaksi pembentukan
ATP.
Slide 10. Fosforelasi I
Glukosa memasuki sel melalui transpor protein yang khusus dan diposporilasi oleh ATP
untuk membentuk glukosa 6 pospat. Transfer grup posporil dari ATP ke grup hidroksil
pada C6 glukosa dikatalis oleh hexokinase.
Transfer pospor adalah reaksi dasar. Dalam biokimia. Kinase adalah enzim yang
mengkatalisis transfer grup pospor ATP ke beberapa gula karbon 6 (heksosa) seperti
glucose dan mannosa. Hezokinase membutuhkan Mg2+ (ataupun ion logam divalent
lainnya seperti Mn2+) untuk aktivitasnya. Ion logam divalent membentuk komplek dengan
ATP. Reaksi ini menghasilkan energi sebesar G = -16,7 kJ/mol.

Slide 11. Isomerasi


Langkah berikutnya dalam glikolisis adalah isomerasi glukosa 6 pospat menjadi fruktosa
6 pospat. 6 anggota cincin piranosa pada glukosa 6 pospat diubah menjadi 5 anggota
cincin furanosa pada fruktosa 6 pospat.
Bentuk cincin yang terbuka pada glukosa memiliki gugus aldehid pada C1 dimana cincin
yang terbuka pada fruktosa memiliki gugugs keto pada C2. Aldehid pada C1 bereaksi
dengan grup hidroksil pada C5 untuk membentuk cincin piranosa dimana gugus keto
pada C2 bereaksi dengan C5 hidroksil untuk membentuk cincin furanose. Isomerasi
glukosa 6 pospat adalah pengubahan aldose menjadi ketose, dikatalisis oleh pospohexose
isomerase.
Slide 12.Fosforelasi II
Fruktose 6 pospat diposporilasi oleh ATP menjadi fructose 1,6 bispospat. Reaksi ini
dikatalis oleh pospofruktokinase sebagai enzim alosterik. Tiap langkah glikolisis
tergantung pada tingkat aktivitas enzim ini, yang secara alosterik dikontrol oleh ATP dan
metabolit lainnya. Reaksi ini menghasilkan energi sebesar G= -14,2 kJ/mol.
Slide 13. Pemecahan Fruktosa 1,6-bisfosfat
Stage kedua glikolisis terdiri dari 4 langkah. Dimulai dengan pemecahan fruktosa 1,6bispospat menjadi gliseraldehid 3 pospat dan dyhidroxyacetone pospat. Reaksi ini
dikatalis oleh aldolase. Enzim ini mengubah reaksi alaminya menjadi reaksi kebalikan,
kondensasi aldol. Gliseraldehid 3 pospat adalah reaksi langsung glikolisis. Tapi
dihdroksiaseton pospat bukan reaksi langsung, namun dapat segera diubah menjadi
gliseraldehid 3-pospat. Senyawa ini adalah isomer. Energi yang dibutuhkan pada
pemecahan fruktosa 1,6-bisfosfat ini sebesar G=23,8 kJ/mol.
Slide 14. Isomerasi
Senyawa ini adalah isomer: dyhidroxyacetone pospat adalah ketose sementara
gliseraldehid 3 pospat adalah aldose.isomerisasi tiga-karbon posporilasi gula ini dikatalis
oleh triose pospat isomerase. Reaksi ini berlangsung cepat dan reversible, serta
membutuhkan energi sebesar G=7.5 kJ/mol. Pada kesetimbangan, 96% triose pospat

adalah dyhidroxyacetonephosphat. Walaupun begitu, reaksi berlangsung cepat dari


dyhidroxyacetonephosphat

menjadi

gliseraldehid

3-phosphat

karena

efisiensi

perpindahan produk ini oleh reaksi yang berurut.


Slide 15. C6

2C3

Pemecahan fructose 1,6-bisphosphat dengan reaksi aldolase menjadi dihydroxyacetone


phosphat dan gliseraldehyde 3-phosphat. Isomerisasi produk oleh triose phosphate
isomerase. Dihydroxyacetone phosphat, atom C nya berasal dari carbon glucose 1,2,3,
dan gliseraldehyde 3-phosphat berasal dari carbon glucose 4, 5, dan 6.
Slide 16. Fosforelasi .
Reaksi ini menghasilkan energi yang terkandung didalam gliseraldehyde 3-phosphat.
Reaksi awal pada deretan reaski ini adalah pengubahan gliseraldehyde 3-phosphat
menjadi 1,3-bisphosphogliserat (1,3-BPG), reaksi ini dikatalis oleh gliseraldehyde 3phosphat dehydogenase. Gugus aldehid pada C-1 diubah menjadi acyl phosphate, yang
digabung dengan anhydride asam phosphoric dan carboxylic acid. Energi untuk
pembentukan anhydride ini, yang memiliki potensi mentransfer gugus phosphoryl,
didapat dari oksidasi gugus aldehyde. C-1 dalam 1,3-BPG pada tingkat oksidasi asam
karboksilat. NAD+ adalah electron penerima dalam oksidasi ini. Reaksi ini membutuhkan
energi sebesar G=6.3 kJ/mol.
Slide 17
Pengubahan aldehid menjadi asil phosphat memiliki reaksi oksidasi dan phosphorilasi.
Oksidasi membutuhkan perpindahan ion hydrida (:H -), yang merupakan inti hydrogen
dan dua electron. Perpindahan 1 ion hydrida dari aldehyde membutuhkan energi karena
karakter dipolar gugus karbonil:atom karbon gugus karbonil memiliki muatan positif
parsial. Perpindahan ion hidrida dilakukan dengan cara membuat muatan atom karbon
kurang positif, dengan penambahan nukleofi ion hidrida segera meninggalkan molekul
yang penuh, karena atom karbon tidak lagi bermuatan positif. Beberapa energi bebas
oksidasi didapat dalam senyawa antara asil. Penambahan orthophosphate pada senyawa
antara asil menghasilkan asil phosphate, yang memiliki gugus pindah yang potensial.

Gugus sulfhydryl (SH) dari residu sistein pada sisi aktiv. Substrat aldehid bereaksi
dengan bentuk yang terionisasi oleh gugus SH untuk membentuk hemithioasetal.
Langkah selanjutnya adalah transfer ion hidrida ke molekul NAD+ yang terikat kuat pada
enzyme. Produk reaksi ini adalah koenzim yang tereduksi NADH dan thioester. Thioester
ini adalah senyawa antara yang berenergi tinggi. NADH disosiasi dari enzim dan NAD +
terikat pada sisi aktif. Orthophosphate lalu menyerang thioester untuk membentuk 1,3BPG, donor phosphor. Aspek penting pada pembentukan 1,3-BPG dari gliseraldehid 3phosphate adalah secara termodinamika tidak disukai, pembentukan asil phosphate dari
karboksilat, oksidasi aldehid, secara termodinamika reaksi yang disukai.
Slide 18. Untuk menonaktifkan kompleks enzim substrat yang telah terbentuk maka akan
bereaksi dengan iodoasetat sehingga terbentuk enzim yang tidak aktiv.
Slide 19 . langkah selanjutnya, potensi transfer phosphor yang tinggi pada 1,3-BPG
digunakan untuk menghasilkan ATP. Ini adalah ATP pertama yang didapatkan dalam
reaksi glikolisis. Phosphoglycerate kinase mengkatalis transfer gugus phosphor dari asil
phosphat 1,3-BPG ke ADP. ATP dan 3 phosphogliserat adalah produknya.
Hasil reaksi yang dikatalis oleh gliseraldehid 3 phosphate dehydrogenase dan
phosphogliserat kinase adalah:
o Gliseraldehid 3-phosphate, suatu aldehid diosidasi menjadi glyseraldehid 3phosphate, sebuah asam karboksilat.
o NAD+ secara bersamaan direduksi menjadi NADH.
o ATP dibentuk dari Pi dan ADP.
Menghasilkan energi sebesar G= -18,5 kJ/mol
Slide 20. Pemindahan gugus phosphat
Pada stage terakhir glikolisis, 3-phosphogliserat diubah menjadi pyruvate dan
pembentukan molekul ATP yang kedua.
Reaksi pertama adalah pengaturan ulang. Posisi gugus posporil naik dalam pengubahan
3-phosphoglyserat menjadi 2-phosphogliserat, mutase adalah enzim yang mengkatalis

kenaikan intramolekul gugus kimia, seperti gugus phosphoril. Reaksi ini membutuhkan
energi sebesar G= 4.4 kJ/mol.
Slide 21. Enzyme dengan residu Histidin yang tidak terphosporelasi, terjadi reaksi awal
phosphorilasi enzim dengan mengambil gugus Phosphat dari 2,3-Bisphosphogliserat dan
mengubahnya

menjadi

3-Phosphogliserat.

Terbentuk

phosphoenzyme

dengan

phosphogliserat mutase yang mengkatalis 3-Phosphogliserat menjadi 2,3-Phosphogliserat


ataupun mengubah 2,3-Phosphogliserat menjadi 2-Phosphogliserat.
Slide 22. pada reaksi kedua, enol dibentuk oleh dehydrasi 2-Phosphogliserat. Enolase
mengkatalis pembentukan phosphoenolpiruvate. Reaksi dehidrasi ini meningkatkan
potensi transfer gugus phosphor. Reaksi ini membutuhkan energi sebesar G= 7.5
kJ/mol.
Slide 23. Pelepasan ATP
Pada reaksi terakhir ini, terbentuk piruvat dan ATP didapatkan secara bersamaan. Transfer
ireversibel gugus phosphor dari phosphoenolpiruvate ke ADP dikatalis oleh pyruvate
kinase. Reaksi ini menghasilkan energi sebesar G=-31.4 kJ/mol.
Slide 24. Tautomerisasi
Terjadi tautomerisasi piruvat dari bentuk enol menjadi bentuk keto. Tautomerisasi
menunjukkan kestabilan suatu senyawa.
Slide 25. Perubahan piruvat menjadi asam laktat
Laktat biasanya dibentukoleh piruvat dalam beberapa mikroorganisme. Reaksi ini juga
terjadi dalam sel organisme yang lebih tinggi saat jumlah oksigen terbatas, seperti
didalam otot selama beraktivitas yang berat. Reduksi piruvat oleh NADH untuk
membentuk laktat dikatalis oleh laktat dehidrogenase.

Slide 26. Fermentasi alcohol


Etanol dibentuk dari piruvat dalam yeast dan oleh beberapa mikroorganisme. Reaksi
dekarboksilasi piruvat yang pertama dikatalis oleh pyruvat dekarboksilase menghasilkan
asetaldehid. Thiamin pyrophosphate sebagai koenzim juga membantu dalam reaksi yang
dikatalis oleh dekarboksilasi dan enzim lainnya.
Langkah yang kedua adalah reduksi asetaldehid menjadi etanol oleh NADH, dalam reaksi
yang dikatalis oleh alcohol dehidrogenase. Sisi aktiv alcohol dehidrogenase mengandung
ion zinc yang terkoordinasi pada atom sulfur dari dua residu cystein dan satu atom
nitrogen histidin. Seperti dalam karboxypeptidase A, Zn2+ mengkutubkan gugus karbonil
pada substrat untuk menstabilisasikan keadaan transisi. Pengubahan glukosa menjadi
etanol disebut fermentasi alcohol. NAD+ yang didapatkan dalam reduksi asetaldehid
menjadi etanol digunakan dalam oksidasi gliseraldehid 3-phosphate.
Slide 27. Struktur Hydroxyethyl thiamne pyrophosphate, dengan aldehid sebagai sisi
aktifnya..
Slide 28. Peranan koenzim thiamin pirophosphate dalam reaksi yang dikatalisis oleh
dekarboksilase. Thiamin pirophosphate karbanion bereaksi dengan piruvate; terjadi
protonasi dan lepasnya karbondioksida. Terjadi stabilisasi resonansi pada senyawa
intermediate. Dengan adanya protonasi, terbentuk hidroksiethyl TPP, senyawa asetaldehid
dilepaskan dan terbentuk kembali TPP karbanion.
Slide 29. Reaksi-reaksi yang memerlukan TPP. Beberapa reaksi bergantung pada TPP
sebagai koenzimnya. Seperti enzim pyruvate dekarboksilase , transketolase, dll
membutuhkan TPP sebagai koenzim.
Slide 30. Beberapa enzim kunci pada Glikolisis
Hexokinase, enzim yang mengkatalis step pertama glikolisis, ia di inhibisi oleh glucose6-phosphate.

Phosphofruktokinase adalah element pengontrol yang paling penting dalam proses


glikolitik mamalia. Enzyme dari liver ini diinhibisi oleh jumlah ATP yang tinggi,
sehingga merendahkan afinitasnya terhadap fructose 6-phosphate.
Pyruvate kinase, adalah enzim yang mengkatalisis step ketiga yang ireversibel dalam
glikolisis. Bila phosphofruktokinase tidak active, konsentrasi fructose 6-phosphate
meningkat. Sebaliknya level glucose 6-phosphate meningkat karena kesetimbangan
dengan fructose 6-phosphate. Karena itu, inhibisi phosphofruktokinase berakibat terjadi
juga inhibisi pada heksokinase.
Slide 31. Daur asam trikarboksilat.
Dalam daur asam trikarboksilat, piruvat hasil glikolisis dalam keadaan aerob akan diubah
menjadi asetil-KoA. Asetil-KoA ini kemudian akan masuk ke dalam daur asam
trikarboksilat, tempat dihasilkannya NADH, FADH 2 , dan GTP, diawali dengan
bereaksinya oksaloasetat membentuk sitrat.
Daur asam trikarboksilat ini memiliki rantai respirasi atau fosforelasi oksidatif.
Fosforelasi oksidatif adalah proses dimana ATP dibentuk sebagai hasil transfer electron
dari NADH atau FADH2 menjadi O2 oleh deretan electron pembawa.
Terdapat empat langkah dalam pengubahan piruvat menjadi asetil Co-A. pertama, piruvat
didekarboksilasi setelah bereaksi dengan TPP. Reaksi ini dikatalis oleh komponen piruvat
dehidrogenase merupakan kompleks multienzim. Struktur kunci TPP, gugus prostetic
komponen piruvate dehidrogenase, adalah atom karbon antara nitrogen dan atom sulfur
dalam cincin thiazole yang lebih asam dibandingkan gugus =CH - . Ia terionisasi untuk
membentuk sebuah karbanion, yang telah ditambahkan kedalam gugus karbonil piruvat.
Muatan posistif cincin nitrogen TPP bertindak sebagai electron yang bereaksi untuk
menstabilkan pembentukan muatan negatif, yang penting untuk dekarboksilasi. Protonasi
membentuk hidroksietil tiamin pirophosphat. Yang kedua, gugus hidroksietil yang terikat
ke TPP teroksidasi untuk membentuk satu gugus asetil dan secara bersamaan ditransfer
ke lipoamida.

Slide 32. TCA


Satu senyawa dengan empat atom karbon (oksaloasetat) terkondensasi menjadi gugus
asetil dua karbon untuk menghasilkan asam trikarboksilat enam karbon (citrate). Satu
isomer sitrat di dekarboksilasi oksidative. Hasilnya adalah senyawa lima karbon (ketoglutarate) di dekarboksilasi oksidative untuk mendapatkan senyawa empat karbon
(suksinat). Oksaloasetat didapatkan dari turunan suksinat. Dua atom karbon memasuki
siklus sebagai sebuah unit asetil dan dua atom karbon meninggalkan siklus dalam bentuk
dua molekul CO2, dan maka reaksi oksidasi reduksi harus terjadi dalam siklus asam sitrat.
Terdapat empat reaksi yang seperti itu. Tiga ion hidryda ditransfer menjadi tiga molekul
NAD+, dimana satu pasang atom hydrogen ditransfer ke molekul flavin adenine
dinucleotide (FAD). Electron-elektron pembawa ini menghasilkan sembilan molekul ATP
bila dioksidasi oleh O2 dalam siklus perpindahan electron. Sebagai tambahan, satu ikatan
phosphate berenergi tinggi dibentuk dalam tiap putaran siklus asam sitrat itu sndiri.

Slide 33. Energi bebas hasil reaksi TCA


Dalam siklus reaksi TCA terdapat reaksi-reaksi yang membutuhkan energi dan
melepaskan energi, namun secara keseluruhan reaksi TCA menghasilkan energi bebas
sebesar 57,3 kJ/mol
Slide 34. Siklus Glioksilat
Banyak bakteri dan tumbuhan dapat tumbuh pada asetat atau senyawa lainnya yang
menghasilkan asetil CoA. Mereka menggunakan jalan reaksi metabolic yang mengubah
unit asetil dua karbon menjadi unit empat karbon(suksinat) untuk menghasilkan energi
dan biosintesis. Deretan reaksi ini disebut siklus glioksilat, dengan melewati dua langkah
dekarboksilasi siklus asam sitrat. Perbedaan utama lainnya adalah dua molekul asetil
CoA masuk perputaran siklus glioksilat, bila dalam siklus asam sitrat hanya satu molekul.
Siklus glioksilat seperti siklus asam sitrat, dimuali dengan kondensasi asetil CoA dan
oksaloasetat untuk membentuk sitrat, yang nantinya diisomerisasi menjadi isositrat.
Namun tidak di dekarboksilasi seperti dalam siklus asam sitrat, isositrat di pecah oleh
isositrat liase menjadi suksinat dan glioksilat. Langkah berikutnya adalah proses

mendapatkan oxaloasetat dari glyoxylate. Asetil CoA dikondensasi dengan glyoxylate


untuk membentuk malate, dalam reaksi yang dikatalis oleh malate sintase, yang mirip
dengan sintase sitrat. Finally, malate dioksidasi menjadi oxaloasetat. Seperti dalam siklus
asam sitrat. Bakteri dan tanaman dapat mensintesis asetil CoA dari asetat dan CoA
dengan reaksi yang butuh ATP, dikatalis oleh asetil CoA synthetase. Pyrophosphatase
dihidrolisis menjadi orthophosphatase, dan 2~P dikonsumsi dalam aktivasi asetat.
Slide 35. Sistem Transport Elektron dan Fosforelasi Oksidatif
Dalam phosporilasi oksidatif, sintesis ATP selalu bersama dengan aliran electron dari
NADH atau FADH2 menjadi O2 oleh gradien proton melewati membran dalam
mitokondria. Electron mengalir melalui tiga transmembran asymetrik kompleks yang
dihasilkan dalam memompa proton keluar dari matrix mitokondria dan menghasilkan
membran potensial. ATP disintesis saat proton mengalir kembali ke matrix melalui chanel
dalam kompleks sintesis ATP, disebut ATP sintase. Phosporylasi oksidatif dapat dilihat
dalam bioenergetik: transmisi energi bebas oleh gradient proton.
Elektron pembawa dalam pernapasan pada membran dalam mitokondria adalah flavins,
kompleks sulfur-besi, quinon, grup heme sitokrom dan ion tembaga. Electron dari NADH
ditransfer ke FMN melalui gugus prostetik NADH-Q reduktase. Reduktase ini juga
mengandung Fe-S pusat. Electron bergabung dalam QH2, bentuk reduksi dari ubiquinon
(Q). kompleks pembawa hidrophobik yang selalu bergerak ini mentransfer elektronnya ke
sitokrom reduktase, kompleks yang mengandung sitokrom b dan c 1 dan sebuah pusat FeS. kompleks kedua ini meeduksi sitokrom c, membran protein yang larut dalam air.
Sitokrom c, seperti Q adalah pembawa elekron yang selalu bergerak, yang mentransfer ke
sitokrom oksidase.