Anda di halaman 1dari 13

Vertical Market versus Horizontal Market

Pemahaman
tentang
bentuk

pasar

dari

sudut

pandang vertical atau horizontal secara sederhana dapat digambarkan sebagai


berikut. Pasar Vertikal adalah pasar heterogen yang kepadanya ditawarkan sebuah
produk generik dengan keterlibatan pembeli yang minimal atas bentuk dan fitur dari
pasar tersebut. Contoh pasar vertikal di dunia maya adalah versi awal
kemunculanweb-commerce dimana penjual menyediakan barang dagangannya
berdasarkan ketersediaan inventory dan/atau dari suppliernya. Pada masa itu
penjual akan menjalankan seluruh aktivitas penjualan, packaging, dan
pengirimannya sendiri (atau bekerjasama dengan partner). Pembeli pada masa itu
akan terbiasa dengan istilah pemesanan
berhubungan dengan 1 pihak penjual.

tunggu, out

of

stock,

dan

hanya

Pasar Horisontal adalah pasar (yang diperlakukan secara) homogen, dalam arti
posisi penjual dan pembeli adalah sejajar, dengan keduanya memiliki posisi
keterlibatan yang sama-sama besar atas bentuk dan fitur dari pasar tersebut.
Contoh pasar horizontal di dunia maya adalah kondisi terkini dimana situs webcommerce yang ada adalah situs jual-beli yang melibatkan multi-penjual dan multipembeli. Pada pasar ini kebebasan kesepakatan jual-beli dan cara berinteraksi
sangat luas, pilihan sangat beragam dan posisi tawar masing-masing menjadi kuat.
Atas setiap pasar tersebut, vertical atau horizontal, dapat diterapkan strategi produk
dan pemasaran yang sesuai. Pada pasar vertikal produk yang sesuai adalah produk
yang unik atau merek utama yang tidak tergantikan, sehingga pembeli akan rela
untuk antre, menunggu, dan bahkan membayar lebih untuk mendapatkan produk
impian tersebut. Sedangkan pada pasar horizontal produk uang sesuai adalah lebih
pada produk yang memiliki barang pengganti yang beragam jika kondisi yang
dihadapi adalah demand yang besar, atau produk pada ceruk pasar (niche).
Saat ini praktis semakin sedikit produk yang tidak memiliki alternatif produk
pengganti di pasar. Teknologi yang sudah berkembang demikian pesat membuat
tidak banyak lagi product leaderyang bertahan di posisi tertinggi dalam kurun waktu
lama tanpa ada upaya pengembangan berkelanjutan. Inilah yang menjadi salah satu
faktor pendorong makin berkembangnya pasar horizontal.
Dalam bukunya CROWD, Yuswohady menyajikan beberapa kondisi horizontal
beats vertical sebagaimana gambar 1. berikut ini.
McCain vertical; Obama horizontal
MTV vertical; MySpace horizontal
Britannica vertical; Wikipedia horizontal
Windows vertical; Linux horizontal
Internet Explorer vertical; Firefox horizontal
CNN vertical; Blogger.com horizontal
monster.com vertical; Craiglist horizontal
Getty Images vertical; Flickr horizontal
Mainstream media vertical; Citizen journalism
horizontal
Mainstream vertical; Long tail horizontal
Websites vertical; blog horizontal

Mass media vertical, Social media horizontal


Salesman vertical; Evangelist horizontal
One-to-many vertical; many-to-many
horizontal
Obama beats McCain
MySpace beats MTV
Wikipedia beats Britannica
Linux beats Windows
Firefox beats Internet Explorer
Blogger.com beats CNN
Craiglist beats monster.com
Flickr beats Getty Images
Long tail beats mainstream
Blog beats websites
Social media beats mass media
Evangelist beats salesman
Citizen journalism beats mainstream
media
Many-to-many beats one-to-many
horizontal

Gambar 1. horizontal beats vertical


Item-item yang disajikan sebagai contoh horizontal beats vertical pada gambar 1
telah menggambarkan penjelasannya masing-masing. Dan hal itu membuktikan
bahwa 10 trenflatteners benar-benar telah terjadi dan mempengaruhi preferensi atas
pemenuhan kebutuhan manusia.
Horizontal Marketing adalah Pemasaran Komunitas
Dapat menciptakan komunitas pengguna yang benar-benar loyal dan sekaligus
menjadi malaikat penjaga adalah cita-cita semua pemilik merek. Berbagai macam
strategi membangun hubungan dengan penguna (atau pelanggan) dilakukan oleh
pemilik merek, hanya saja tidak semua pemilik merek melakukan hal tersebut secara
konsisten dan terus menerus.
Saat ini masyarakat lebih mudah mengenal bagaimana hubungan penjual dan
pembeli/pelanggan/ pengguna yang dibangun dari sisi pengguna. Sebagai contoh
adalah betapa populernya Harley Davidson Owners Group. Harley Davidson Motor
Company (HDMC) adalah perusahaan motor besar yang berbasis di Amerika Serikat
yang telah memiliki posisi merek yang kuat di pasar motor dunia. Ikatan yang unik

baik antara pelanggan dengan merek maupun antara sesama pelanggannya terbukti
dari eksistensi komunitas mereknya yang disebut Harley Davidson Owners Group
(HOG) ini. Eksistensi komunitas yang sangat tampak dari atribut-atribut dan ritualritual komunitas merek tersebut secara tidak sadar membantu tertanamnya merek
HD di benak pengguna dan calon pengguna potensial, dimana hal ini berarti HDMC
memiliki pemasar produktif bukan dari sumber daya internalnya.
Disamping HOG terdapat komunitas-komunitas bentukan pengguna di Indonesia
yang patut diambil sebagai contoh bagaimana pemilik merek sangat diuntungkan
atas keberadaan komunitas tersebut. Misalnya komunitas id-mac (diperuntukkan
sebagai wadah pertukaran informasi / pertanyaan yang berhubungan dengan Apple
Macintosh, teknologi terkini, isu dan berita terkini, dan semacamnya yang terkait
dengan Apple / Macintosh) dan id-BlackBerry (wadah pertukaran informasi /
pertanyaan yang berhubungan dengan layanan dan produk BlackBerry) yang pada
awalnya adalah komunitas yang terbentuk dari mailing-list para pengguna merek
tersebut tetapi pada perjalanannya menjadi tempat rujukan utama bagi pengguna
dan calon pengguna potensial apabila ingin mencari informasi mengenai produk dari
merek tersebut. Harus diakui pula bahwa popularitas BlackBerry di Indonesia sangat
terbantu oleh komunitas penggunanya, bahkan pada awal kemunculannya (sekitar
tahun 2005-2006) sang pemilik merek tidak terlihat mengembangkan strategi
promosi khusus untuk memperkenalkan produk ini secara langsung ke masyarakat.
Kecenderungan yang terjadi saat ini, pemilik merek berlomba-lomba membangun
komunitas atau mendekati komunitas untuk memasarkan produknya. Memiliki
komunitas yang loyal adalah impian dari pemilik merek dan pemasar. Inisiasi
membangun komunitas sangat sering terdengar, tapi tidak banyak yang benar-benar
dapat menjadikan komunitas tersebut menjadi bagian penting merek untuk semakin
banyak merebut pangsa pasar.
Membangun komunitas adalah bak menghasilkan sebuah karya seni, sebagian besar
komunitas yang sukses dan disegani saat ini justru dibangun secara tidak sengaja.
Tapi bukan hal yang tidak mungkin, bahwa sejak awal sebuah komunitas dibangun
demi kepentingan tertentu, misalnya kepentingan membangun kumpulan guardian
angels of the brand.
Dalam kaitannya dengan strategi pemasaran dalam membangun komunitas
sebagai guardian angels of the brand, perlu disamakan persepsi bahwa komunitas
yang dimaksud adalah sebuah kumpulan pengguna (atau calon pengguna potensial)
yang merasa terikat dengan merek tertentu, dan loyal pada komunitasnya.
Komunitas disini bukan sekedar sejumlah akun yang membubuhkan tanda likes
Facebook, atau jumlah follower Twitter, atau jumlah anggota forum/milis, tapi harus
ada ikatan emosional antar anggota dan antar anggotanya dengan komunitas. Ikatan
emosional itulah yang membawa komunitas pengguna menjadi malaikat penjaga
yang selain setia menjaga tetapi juga menjadi pengguna loyal. Adalah
tepat quoteberikut ini sebagai hasil akhir dari adanya kounitas pengguna yang loyal,
yaitu Janganlah Anda bekerja keras untuk (mendapatkan) pelanggan, PELANGGANlah yang harus bekerja keras untuk Anda.

Horizontal Market adalah Kolaborasi dan Media Sosial


Faktor perkembangan teknologi informasi, khususnya teknologi internet dengan Web
2.0-nya, juga sangat berperan dalam mendorong makin berkembangnya horizontal
market. Web 2.0 bukannya membawa konsumen menjadi robot-robot budak
teknologi, tapi justru sebaliknya, menjadi manusia utuh seutuh-utuhnya. Utuh
bersama emosinya, aspirasinya, perasaannya, dan bersama cintanya, Web 2.0
adalah generasi baru internet yang memungkinkan pemakai berkomunikasi,
berpartisipasi, berinteraksi, berbagi, berkomunitas, atau berkolaborasi satu sama
lain.
Pemilik merek harus peka terhadap kebutuhan tersebut. Komunitas pengguna, baik
yang dibentuk secara formal maupun yang bebasis social media seperti facebook,
twitter dan lain-lain, harus diperlakukan selayaknya teman bicara yang baik.
Seringkali memang kicauan-kicauan yang dilakukan bernada negatif, yaitu berupa
komplain dan permintaan-permintaan unik yang bahkan belum pernah terpikir oleh
pemilik merek. Tetapi seiring dengan interaksi yang aktif dilakukan oleh pemilik
merek dalam menanggapi kicauan-kicauan tersebut, lambat laun sang pengicau
akan merasa dekat dan dihargai. Selanjutnya kicauan-kicauan positif pun akan mulai
sering dilagukan. Dan sebagaimana disampaikan Yuswoady dalam CROWD, inilah
kata kuncinya FIRST, connect your customers,... THEN connect them to your brand.

Selamat Datang Era Horizontal


Dunia tanpa batas, media sosial yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat,
informasi yang bergerak cepat dan kolaborasi luas adalah suatu keniscayaan yang
harus dihadapi. Pemilik merek yang jeli justru akan masuk dalam ranah kebebasan
ini dengan percaya diri dibanding melarikan diri untuk teguh bertahan dengan pola
lama.
Pemilik merek yang jeli tersebut akan segera mengalihkan sebagian besar anggaran
pemasaran dan promosinya kepada pasar horizontal berikut dengan komunitaskomunitasnya. Produk-produk baru akan dikembangkan dengan mempertimbangkan
kicauan-kicauan pengguna (dan calon pengguna) di social media. Organisasi
dalam perusahaan pemilik merek pun ikut berubah dengan munculnya posisi-posisi
dan jabatan baru seperti: Head of Social Media, Director of Consumer Generated
Media, Head of Online Brand Equity, Consumer Insights Manager, Director of Social
Media, Director of Social Media Analysis, Voice of the Customer, Director of Social
Networking, Head of Interactive Content, Director of Online Customer Relations,
Chief Networking Officer, Director of Social Marketing, dan lain-lain yang sebelumnya
nyaris tidak pernah diperkirakan.
Inilah era baru, era pemasaran horizontal yang agresif, dinamis, dan sekaligus
kolaboratif. Sebuah era yang membuktikan kembali bahwa horizontal telah datang
dan memukul telak era vertical. Bersiap dan beradaptasilah, siapkan perusahaan
Anda untuk menjadi bagian produktif dari era horizontal ini.

Manfaat Strategi Vertikal:


1. Meningkatkan koordinasi rantai persediaan.
2. Sediakan lebih banyak kesempatan untuk membedakan dengan cara mengendalikan
peningkatan input.
3. Capture hulu atau hilir margin keuntungan.
4. Meningkatkan hambatan masuk ke pesaing potensial
5. Mendapatkan akses ke saluran distribusi hilir yang sebaliknya akan dapat diakses.
6. Memfasilitasi investasi dalam aset yang sangat khusus di mana pemain hulu hilir atau
mungkin enggan untuk berinvestasi.
7. Mengakibatkan perluasan kompetensi inti.
Strategi perkembangan bisnis horisontal lebih menitik beratkan pada upaya diVersifikasi.
Utamanya untuk mengantisipasi resiko bila kita berbisnis di keranjang yang sama. Perlu
upaya keras dan kompetensi lebih dalam membuka bisnis diluar core competensi yang ada
selama ini. Pastinya resiko akan menjadi lebih besar demikian juga dengan modal yang
diperlukan. Bisa saja core competensi saya ada di bidang percetakan namun saya tak
menutup kemungkinan untuk bisnis properti atau restoran. Pun ketika saya berinvestasi pada
saham atau reksadana. Karena dengan mengetahui karakter masing-masing bisnis kita bisa
memperkirakan sumber konstan yang bisa kita dapatkan guna mengantisipasi fluktuasi satu
bidang bisnis.
Manfaat strategi horisontal:
1. Survival (mempertahankan hidup).
2. Mendorong pertumbuhan prospek.
3. Memperluas ke pasar yang baru.
4. Mempererat genggaman pada pasar.
Kelemahan Strategi Diversifikasi:
1. Memang diversifikasi dapat meletakkan anda pada jalan yang cepat untuk
pertumbuhan, namun sebaliknya bila gagal
2. Dengan memperluas rentang produk anda dan bahkan perputaran produk anda
meningkat, maka biaya-biayanya juga meningkat dan hal ini dapat pula berakibat
menurunkan profit anda.
3. Dengan memperluas ke pasar yang baru, maka bahaya yang muncul pada target
pelanggan yang baru belum tentu anda ketahui. Untuk itu diperlukan suatu riset
sebelum melakukan diversifikasi.

4. Untuk melakukan diversifikasi diperlukan orang yang benar-benar menguasai


karakteristik bisnis tiap-tiap produk anda.

Ada 4 jenis rasio aktivitas, yaitu :


Rasio Perputaran Persediaan (Inventory Turn Over)
Rasio perputaran persediaan = Persedian rata-rata/harga pokok produksi
Misalnya Inventory Turn Over : 6 x, artinya persediaan rata-rata besarnya 1/6 kali harga
pokok produksinya. Dengan kata lain, persediaan rata-rata cukup untuk 6 kali produksi
dalam 1 periode (biasanya 1 tahun).
Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa jauh efisiensi perusahaan dalam mengelola
dan menjual persediaannya (dalam bentuk produk jadi). Rasio ini juga menggambarkan
kecepatan perputaran persediaan, semakin besar rasio semakin baik.
Rasio Hari Persediaan (Inventory Period)
Rasio hari persediaan = (Persediaan rata-rata/harga pokok produksi) x 360 hari
Misalnya : Inventory Period : 72 hari, artinya : persediaan rata-rata sama dengan 72 hari
produksi, atau kurang lebih lima kali produksi dalam satu tahun. Angka rasio ini semakin
kecil semakin baik.
Rasio Perputaran Piutang
Rasio perputaran piutang = penjualan kredit (setahun)/piutang rata-rata
Misalnya : Perputaran Piutang 2,5 kali. Artinya : penjualan kredit dalam setahun besarnya
2,5 kali piutang rata-ratanya. Dengan kata lain, besarnya piutang rata-rata adalah 40% dari
nilai penjualan kreditnya. Berarti : piutang yang dapat ditagih hanya 60% dari seluruh barang
dagangan yang dikreditkan. Apabila angka piutang rata-rata sama dengana nol, berarti
perusahaan sudah tidak memiliki piutang lagi atau dengan kata lain semua piutang sudah
dapat tertagih.
Periode Pengumpulan Piutang (Average Collection Period)
Rumus = (Piutang rata-rata/penjualan kredit 30 hari (sebulan)) x 360 hari = hari
Misalnya : Average Collection Period : 90 hari. Artinya waktu rata-rata yang digunakan
untuk menagih piutang adalah 90 hari.
Rasio ini menggambarkan kemampuan rata-rata perusahaan dalam menagih piutang yang
dihitung dalam hari . Semakin tinggi rasio ini berarti semakin lama waktu yang diperlukan
untuk menagih piutangnya. Dengan kata lain kemampuan penagihannya menjadi semakin
kecil. Berarti jumlah dana yang terikat pada piutang menjadi semakin besar, sehingga
kebutuhan modal kerja pun meningkat.

Rasio perasediaan
Rasio perputaran persediaan mengukur efisiensi pengelolaan persediaan barang dagang.
Rasio ini merupakan indikasi yang cukup popular untuk menilai efisiensi operasional,
yang memperlihatkan seberapa baiknya manajemen mengontrol modal yang ada pada
persediaan.
Ada dua masalah yang timbul dalam perhitungan dan analisis rasio perputaranpersediaa
n. Pertama, penjualan dinilai menurut harga pasar ( market price),persediaan dinilai men
urut harga pokok penjualan ( at Cost ), maka sebenarnyarasio perputaran persediaan ( a
t cost ) digunakan untuk mengukur perputaran fisikpersediaan. Sedangkan rasio yang di
hitung dengan membagi penjualan denganpersediaan mengukur perputaran persediaan
dalam kas (Sawir, 2003:15).
Namun banyak lembaga penelitian rasio keuangan yang menggunakan rasio perputaran
persediaan ( at mark et) sehingga bila ingin dibandingkan dengan rasio industri rasio
perputaran persediaan ( at market) sebaiknya di gunakan. Kedua, penjualan terjadi
sepanjang tahun sedangkan angka persediaan adalah gambaran keadaan sesaat. Oleh
karena itu, lebih baik menggunakan rata-rata persediaan yaitu persediaan awal ditambah
persediaan akhir dibagi dua.
Rasio perputaran persediaan dapat dihitung dengan rumus:
Perputaran persediaan (at cost) = harga pokok penjualan / rata rata persediaan
Perputaran persediaan (at market) =penjualan / persediaan
Sekian mengenai cara menghitung inventory turnover ( perputaran persediaan) . Semog
a bermanfaat :)

6 Rasio Keuangan
Terpenting Di Saat Krisis
(Bag-1)
oleh Mr. JAK
2 Komentar

Ditulis oleh Mr. JAK

19
2
0
0

Untuk perusahaan yang sedang mengalami krisis, ada beberapa rasio keuangan
yang super-penting untuk diawasi dengan ketat. Tak peduli itu krisis lokalan
yang hanya dialami oleh perusahaan itu saja atau krisis global, rasio keuangan
ini selalu menjadi alat pengukur utama untuk dapat membawa perusahaan
keluar dari krisis keuangan. Rasio apa saja itu, bagaimana cara
menggunakannya? Mungkin ada yang bertanya.
Diantara banyaknya item di dalam kelompok aktiva (assets) dari sebuah laporan
keuangan, kas adalah item yang paling sensitif, bahkan terhadap krisis paling
kecil sekalipun. Jika perusahaan dianalogikan dengan tubuh manusia, maka kas
adalah darahnya perusahaan.

Terlebih-lebih ntuk perusahaan bersekala menengah dan besar, tanpa kas


perusahaan akan lumpuh total, yang artinya juga mati alias bangkrut.
Kekurangan kas saja, sudah cukup membuat operasional sebuah perusahaan
menjadi tersendat-sendat. Tidak lancar. Dalam jangka panjang, jika hal itu sering
terjadi maka bisa dipastikan kian-lama-keadaan akan kiat sulit. Untuk itu,
memastikan perusahaan selalu memiliki cukup kas untuk beroperasi adalah
super-penting bagi setiap orang di dalam perusahaan, terlebih-lebih bagi anda
yang berada di bagian akuntansi dan keuangan.
Ya. Menyimpan cadangan kas memang ide yang selalu baik, dalam kondisi
apapun perusahaan memang harus menyimpan cadangan kas untuk mengatasi
kebutuhan-kebutuhan mendesak dan mendadak. Akan tetapi, dalam kondisi
krisis perusahaan sudah pasti tidak memiliki cadangan kasjika punya tentu
tidak disebut krisis, bukan?
Lupakan cadangan kas. Dalam kondisi krisis, sebisa mungkin perusahaan harus
tetap bisa beroperasi dengan lancar. Untuk memastikan hal itu, mau tidak mau
anda harus selalu melakukan pengawalan ketat, agar perusahaan jangan sampai
lebih banyak mengeluarkan dibandingkan menerima kas. Tidak ada cara selain
mengawasi tingkat pengembalian kas ke dalam perusahaanseberapa cepat
kas keluar berputar dan kembali masuk ke dalam perusahaan (tentunya dengan
silisih lebih/untung). Semakin cepat semakin bagus.
Teorinya, untuk memastikan tingkat perputaran kas selalu cepat, segala potensi
masalah yang dapat menghalangi tujuan itu harus dicegah sedini mungkin,
setiap kelambatan harus dikejar. Tetapi dalam prakteknya, melakukan itu
bukanlah pekerjaan mudah. Terlebih-lebih jika perusahaan memeiliki banyak
jenis komoditi, banyak pelanggan dengan termin pembayaran yang berbedabeda. Bagaimana caranya agar perusahaan (khususnya anda yang di bagian
akuntansi dan keuangan) dapat mendeteksi potensi masalah itu?
Disinilah rasio-rasio tersebut menunjukan keampuhannya. Untuk dapat
maksud tersebut, anda bisa menggunakan beberapa rasio keuangan
sebagai alat ukur. Apakah anda ingin menggunakan rasio-rasio likuiditas?
Jangan!

Memang ini ada hubungannya dengan tingkat lukuiditas, akan tetapi secara
keseluruhan rasio-rasio liquiditas samasekali tidak dapat memberikan
gambaran yang jelas mengenai tingkat likuiditas perusahaanhanya cocok
untuk situasi normal, tidak untuk masa krisis. Untuk masa krisis, anda harus
menelisik lebih ke dalam lagitepatnya adalah dengan melakukan pegukuran
aktivitas dan likuiditas akun-akun di kelompok aktiva lancar (current assets). Apa
saja itu? Mari kita lihat satu persatu.

1. Rasio-rasio Piutang
(Accounts Receivable Ratios)
Rasio Piutang (accounts receivable ratios) terdiri dari: rasio perputaran piutang
(accounts receivable turnover ratio) dan waktu rata-rata penagihan (average
collection period).
Tingkat perputaran piutang, memberikan gambaran mengenai berapa kali akun
piutang bisa ditagih untuk tahun yang dikukur. Angka itu diperoleh dengan cara
membagi nilai bersih penjualan kredit (atau total penjualan saja) dengan angka
rata-rata piutang. Sedangkan rata-rata piutang diperoleh dengan cara
menjumlahkan saldo awal dengan saldo akhir piutang kemudian dibagi dua.
Dalam sistuasi normal, rata-rata nilai putang mungkin dihitung untuk periode
tertentutahunan, kuartalan atau bulanan. Tetapi untuk masa krisis, saya
menyarankan agar pengukuran dilakukan paling lama seminggu sekali. Hal ini
penting agar potensi masalah bisa diketahui lebih awal, dan akhirnya tindakalanjut (follow up) bisa dilakukan dengan segera apabila masalah itu tetap terjadi.
Secara umum, semakin tinggi nilai tingkat perputaran piutang, semakin bagus
artinya perusahaan bisa segera menerima kembali uang yang sempat keluar
dari perusahaan.

(Catatan Penting: Pada masa normal, rasio perputaran piutang yang terlalu tinggi
merupakan pertanda burukmungkin perusahaan menetapkan termin
pembayaran yang terlalu ketat, sehingga sangat mungkin akan membuat penjualan
menurun karena banyaknya pelanggan yang tidak sanggup memenuhi termin
tersebut). Sebelum persahaan berpikir untuk mengubah kebijakan penujualan
kredit, ada baiknya perusahaan mempertimbangkan hilangnya peluang perusahaan
untk menjaring pelanggan-pelanggan kecil)
Namun demikian, pada masa krisis tentunya pertimbangan dalam catatan di
atas menjadi perioritas kedua, setelah tingkat pengembalian kas yang tinggi.
Berikut adalah formula Rasio Perputaran Putang:
Nilai penjualan bersih / Nilai rata-rata Piutang
Katakanlah, nilai rata-rata piutang JAK di tahun 2010 adalah (15 juta + 20 juta) / 2
= 17.5 juta. Dan, tingkat perputaran putang untuk tahun 2011 adalah 80 juta /
17.5 juta = 4.57 kali. Jika rasio perputaran piutang JAK ditahun 2010 adalah 8.16
kali. Itu artinya rasio perputaran piutang JAK di tahun 2011 menurun drastis. Itu
artinya ada masalah besar dalam proses penagihan di tahun 2011. JAK perlu
mencari tahu lebih lanjut, mesalah apa itu persisnya untuk kemudian diatasi:
apakah perlu mengevaluasi kebijakan kredit yang mungkin terlalu longgar, atau
ada masalah pada pegawai bagian penagihan, jangan-jangan ada
penyelewengan (fraud), dan seterusnya.
Waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk menagih pembayaran piutang dalam
satuan hari (days sales in receivables) disebut Waktu Penagihan Rata-rata
(Average Collection Period), yang dinyatakan dalam formula sebagai berikut:
Waktu Penagihan Rata-rata = 365 / Rasio Perputaran Piutang
Jika menggunakan contoh kasus yang sama, maka Waktu Penagihan Rata-rata
JAK untuk tahun 2011 adalah 365 / 4.57 = 79.9 hari.
Apa ini artinya? JAK butuh waktu rata-rata 80 hari untuk mengubah penjualan
menjadi kas. Jika di tahun 2010 waktu penagihan rata-rata JAK hanya 44.7 hari
(anggak 45 hari), artinya tingkat perubahan penjualan menjadi kas molor hingga
35 hari jika dibandingkan dengan tahun lalu. Dengan perubahan drastis ini,
hampir bisa dipastikan ada beberapa pelanggan yang mengalami gangguan
untuk memebayar, dan perusahaan harus segera menemukan, siapa pelanggan

itu persisnya, menggencarkan usaha penagihan dan menahan penyerahan


barang selanjutnya, hingga semua tagihan tuntas tertagih.

2. Rasio-rasio Persediaan
(Inventory Ratios)
Jika perusahaan memiliki banyak barang persediaan, itu artinya sebagian kas
tertimbun dan mengendap dalam bentuk barang persediaan. Lain daripada itu,
barang persediaan bukan hanya kas yang mengendap dalam bentuk barang.
Barang persediaan perlu dirawat agar tidak mengalami kerusakan, perlu
pengamanan yang cukup agar tidak menguap (kecurian). Semua itu adalah
beban yang akan semakin membengkak seiring dengan pertambahan jumlah
barang persediaan yang disimpan.
Tentu. Perusahaan juga perlu menyadari bahwa menyimpan barang persediaan
terlalu sedikit juga bisa menjadi potensi masalahterutama akan keteteran
ketika menghadapi pesanan yang datang mendadak, memaksakan diri akan
menimbulkan pembengkakan biaya di produksi (upah lembur, listrik, dll).
Namun demikian, dalam kondisi krisisaya selalu menyarankan agar
pertimbangan ini ditempatkan di prioritas kedua.
Rasio Perputaran Persediaan dihitung dengan formula sebagai berikut:
Rasio Perputaran Persediaan = Harga Pokok Penjualan / Persediaan Ratarata
Sementara itu, Persediaan Rata-rata dihitung dengan cara menjumlahkan
saldo awal dengan saldo akhir persediaan, kemudian dibagi dua.
Sebagai ilustrasi, anggaplah Rasio Perputaran Persediaan PT. JAK untuk tahun
2011 adalah Rp 50 juta / 47.5 Juta = 1.05 kali. Jika rasio di tahun sebelumnya
(2010) adalah 1.26 kali, itu artinya tingkat perputaran persediaan JAK menurun.
Penurunan tingkat perputaran ini pertanda bahwa JAK mengalami masalah
dalam penjualan. Untuk itu, JAK perlu melakukan penelusuran lebih jauh untuk

menemukan sumber masalahnyabarang apa persisnya yang sudah dijual?


Mengapa susah dijual? Atau, ada peningkatan jumlah barang cacat yang
kemudian ditimbun di gudang? Cacat apa? Atau ada barang penjualan yang
dikembalikan oleh pelanggan dalam jumlah banyak? Mengapa dikembalikan?
Demikian seterusnya, hingga masalah bisa teratasi.
Bisa jadi penurunan rasio perputaran terjadi akibat adanya produk (komoditi)
baru yang sedang dikembangkan oleh bagian penelitian dan pengembangan.
Untuk masa krisis, saya selalu menyarankan agar perusahaan tidak terlalu
agresif dalam melakukan pengembangan-pengembangan.
Usia Rata-rata Persediaan juga perlu diukur. Rasio Usia Rata-rata persediaan
dapat dihitungn dengan formula sebagai berikut:
Usia Rata-rata Persediaan = 365 / Rasio Perputaran Persediaan

Sehingga, jika melanjutkan contoh kasus di atas, maka usia rata-rata persediaan
JAK untuk tahun 2011 adalah 365 / 1.05 = 347.6 hari. Jika usia rata-rata
persediaan JAK tahun sebelumnya (2010) hanya 289.7 hari, itu juga pertanda
adanya masalah serius di persediaan barang. Untuk itu perusahaan perlu
melakukan investigasi lebih mendalam untuk mengetahui apa masalah yang
sesungguhnya, agar dapat dicarikan jalan keluar dengan segera.