Anda di halaman 1dari 17

Kinetika Reaksi Heterogen

Reaksi kimia dikelompokkan berdasarkan beberapa kriteria sebagai berikut:


1. Pemakaian katalis:

a. Reaksi katalitik

b. Reaksi non-katalitik

2. Fase bereaksi

a. Reaksi homogen (1 fasa)

b. Reaksi heterogen (>1)

3. Mekanisme

a. Reaksi seri
b. Reaksi paralel
c. Reaksi seri-paralel

d. Reaksi bolak-balik
e. Reaksi searah

Reaksi heterogen katalitik adalah reaksi yang terjadi antara zat-zat yang berada pada
lebih dari satu fasa, di mana salah satu fasanya adalah katalis (padat).
Tabel 1. Contoh Reaksi Katalitik dalam Industri [Hill]

MEKANISME REAKSI KATALITIK HETEROGEN


Reaksi katalitik berlangsung melalui 7 tahap [Fogler], meliputi:
1. Difusi eksternal molekul reaktan dari fasa ruah (bulk) reaktan ke permukaan luar
katalis.
2. Difusi internal molekul reaktan dari permukaan luar katalis masuk ke dalam pori-pori.
3. Adsorpsi kimia molekul reaktan pada permukaan dalam katalis, yaitu dengan
membentuk ikatan non-kovalen lemah/sementara dengan pusat aktif.
4. Reaksi permukaan, yaitu konversi molekul reaktan menjadi molekul produk di
permukaan dalam katalis.

ernal
te

Gambar 1. Mekanisme Reaksi Katalitik Heterogen [Fogler]


5. Desorpsi kimia molekul produk dari pusat aktif (pemutusan ikatan non-kovalen).
6. Difusi internal molekul produksepanjang pori-pori menuju permukaan luar katalis.
7. Difusi eksternal molekul produk dari permukaan luar katalis ke fasa ruah produk.

TRK2

Tahap 3 5 dikenal dengan mekanisme LHHW: Langmuir-Hinshelwood-Hougen-Watson,


sesuai nama-nama ilmuwan yang menemukannya. Dari ketiga tahap inilah disusun
persamaan laju reaksi katalitik. Adapun keempat tahap lainnya merupakan peristiwa
transfer massa.

Gambar 2. Ilustrasi Mekanisme Reaksi Dehidrogenasi Etilena dan Skema Adsorpsi Kimia
Etilidin pada Pusat Aktif Platinum [Fogler]
KATALIS
Katalis adalah bahan yang digunakan dalam reaksi dalam jumlah kecil, tetapi bukan
reaktan maupun produk, dengan tujuan untuk meminimalkan waktu dan energi aktivasi
reaksi, serta memaksimalkan keluaran produk utamanya.
Secara umum ada 2 jenis katalis [Levenspiel]:
1. Katalis alamiah / biologis yang bekerja pada suhu ruang dalam sistem biokimia
makhluk hidup, yang lazim disebut enzim.
Enzim adalah molekul-molekul protein ukuran koloid yang berada di antara ranah
homogen molekuler dan heterogen makroskopik. Biasanya enzim merupakan katalis
yang sangat efisien dan selektif. Contohnya reaksi dekomposisi H 2O2 yang dikatalisa
enzim catalase lebih cepat 109 kali daripada katalis anorganik [Istadi].
2. Katalis buatan umumnya bekerja pada suhu tinggi atau untuk sintesa kimia, yang
dikenal dengan nama katalis. Berdasarkan fasa dari sistem yang bereaksi, katalis
dapat dibedakan menjadi katalis homogen dan katalis heterogen (umumnya padat).

TRK2

Gambar 3. Skema Mekanisme Reaksi Heterogen Katalitik [Hill]


a. Katalis Homogen [Istadi]
Fasa katalis homogen sama dengan fasa reaktan dan produk. Mekanisme
katalisanya adalah: senyawa berubah menjadi kompleks melalui perubahan
susunan molekul dan ligan katalis. Operasi reaksi katalisa fasa cair terbatas suhu
dan tekanan, sehingga reaktor lebih rumit.Katalis setelah reaksi harus dipisahkan
dari produk sehingga menambah kesulitan, karenanya hanya ditemukan dalam
industri tertentu (bahan kimia, obat-obatan, petrokimia, dan makanan).

TRK2

b. Katalis Heterogen[Istadi]
Fasa katalis berbeda dengan fasa reaktan dan produk. Reaksi berlangsung melalui
mekanisme yang sangat kompleks. Laju reaksi dikendalikan oleh laju dan energi
adsorpsi, absorpsi, dan desorpsi, struktur permukaan aktif, dan sifat-sifat
terbentuknya produk antara. Katalis heterogen yang umumnya padatan paling
banyak digunakan di industri karena mudah dibuat dengan konstruksi yang
sederhana dan mudah ditempatkan dalam reaktor.
KEUNTUNGAN PENGGUNAAN KATALIS

Laju reaksi lebih tinggi untuk kondisi operasi yang sama; atau

Yield yang lebih tinggi atau reaktor yang lebih kecil untuk laju reaksi yang ekivalen;
atau

Suhu dan tekanan reaktor lebih rendah untuk laju reaksi yang ekivalen, dengan yield
kesetimbangan lebih tinggi, operasi lebih mudah, deaktivasi menurun, selektivitas lebih
baik.

CARA KERJA DAN SIFAT KATALIS HETEROGEN


1. Katalis menurunkan energi aktivasi reaksi (Ea)
Sesuai mekanisme reaksi katalitik, katalis membagi reaksi menjadi beberapa tahap
mekanisme reaksi katalitik, dengan jumlah Ea yang lebih rendah daripada reaksi satu
tahap tanpa katalis (lihat Gambar 4). Oleh karena itu katalis dapat mempercepat /
meningkatkan laju reaksi. Menurut persamaan Arhennius:
k = A.e-Ea/(RT)
di mana:

k = tetapan laju reaksi


R = tetapan gas

{1}
A = faktor tumbukan reaktan
T = suhu

Laju reaksi -r sebanding dengan k, sehingga penurunan Ea akan meningkatkan k dan


r.
Katalis negatif bekerja sebaliknya,yaitu memperlambat reaksi (menurunkan laju
reaksi). Inhibitor adalah katalis yang mencegah terjadinya reaksi.
2. Katalis bersifat selektif terhadap reaksi tertentu
Katalis memiliki selektivitas, yaitu kecenderungan memilih reaktan / mekanisme /
produk tertentu dalam suatu reaksi. Katalis yang dipilih untuk suatu reaksi adalah yang
selektif terhadap reaktan / produk utama yang diinginkan atau mekanisme dengan Ea
paling rendah. Selektivitas katalis bersifat unik, artinya suatu pusat aktif hanya akan
mengadsorpsi reaktan tertentu dan / atau penyangga mendesorpsi produk tertentu
(lihat Gambar 5).
3. Katalis tidak mengubah kesetimbangan reaksi bolak-balik
Tetapan kesetimbangan reaksi bolak-balik tidak dipengaruhi oleh keberadaan katalis.
4. Aktivitas kimiawi katalis tidak selamanya stabil
Katalis memiliki batas kestabilan aktivitas. Setelah penggunaan dalam waktu tertentu,
aktivitas kimiawi katalis akan menurun. Penurunan aktivitas katalisa dari pusat aktif ini
disebut deaktivasi.Deaktivasi dapat berlangsung merata di seluruh permukaan katalis,
atau secara selektif hanya pada pusat aktif yang lebih aktif daripada yang lain, yaitu
yang memberikan aktivitas katalisa tertinggi, yang paling rentan diserang zat racun
dan terdeaktivasi [Davis].
TRK2

Gambar 4. Perbandingan Ea dalam dekomposisi ozon antara mekanisme: (a) reaksi


langsung tanpa katalis dan (b) reaksi katalitik dengan katalis Cl [Davis]

Gambar 5. Struktur Katalis Zeolit-Faujasit dan Skema Reaksi Katalitik yang Selektif
terhadap Produk p-Xilena (Non-Selektif terhadap Produk o- dan m-Xilena) [Fogler]

TRK2

Sebab-sebab deaktivasi katalis [Levenspiel, Hill, Missen, Fogler]:


1. Pengendapan molekul racunyang menutupi pusat aktif (poisoning) berupa:
a. Molekul yang tidak terdesorpsi dan mempengaruhi secara langsung sifat
elektronik dan kimia permukaan katalis atau pusat aktif sehingga menghalangi
adsorbsi reaktan untuk reaksi utama berikutnya sehingga menurunkan aktivitas
intrinsik per satuan luas permukaan. Racun aktivitas intrinsik(intrinsic activity
poison) umumnya terdiri dari unsur Grup Vb dan VIb (N, P, As, Sb, O, S, Se, Te)
di permukaan katalis logam. Deaktivasi jenis ini disebut deaktivasi
paralel(paralel deactivation) bila molekul racun merupakan produk samping
dari reaksi samping yang berlangsung paralel dengan reaksi utama, dan
disebut deaktivasi seri(serial deactivation) jika molekul racun merupakan
produk reaksi seri lanjutan dari reaksi utama yang tidak terdesorpsi. Molekul
reaktan yang tidak terkonversi dan tidak terdesorpsi dapat pula menjadi racun
aktivitas intrinsik.
b. Molekul pengotor dalam umpan yang teradsorpsi di permukaan katalis dan
mengkatalisa reaksi samping (menurunkan selektivitas terhadap reaksi utama).
Racun selektivitas (selectivity poison) umumnya adalah logam berat seperti Ni,
Cu, V, Fe yang tidak terdesorpsi. Deaktivasi jenis ini disebut deaktivasi seiring
(side-by-side deactivation)

Gambar 6. Ilustrasi deaktivasi katalis poisoning oleh molekul racun P [Fogler]


2. Pengotoran (fouling) permukaan aktif katalis oleh molekul racun difusi
(diffusion poison) berupa debu atau bahan yang dapat bereaksi di permukaan
katalis, misalnya promotor, yang menghasilkan residu padat yang menutupi
lubang pori-pori katalis (fouling) sehingga mengurangi adsorpsi pada
permukaan dalam katalis.

Gambar 7. Ilustrasi deaktivasi katalis melalui fouling/coking [Fogler]


TRK2

Contoh fouling yang banyak dijumpai adalah coking, yaitu deposisi produk
samping karbon (coke) dalam reaksi perengkahan hidrokarbon.
3. Penurunan aktivitas katalis per satuan berat katalis karena penurunan luas
permukaan aktif pusat aktif atau penyangganya (aging) akibat rekristalisasi
(penggumpalan/pertumbuhan kristal pusat aktif) atau proses modifikasi struktur
lainnya seperti pelelehan setempatdan sintering (menyatunya suatu permukaan
dengan permukaan di sekitarnya karena telah mencapai titik leburnya), terutama
pada kondisi reaksi yang ekstrim seperti suhu tinggi> 40% titik lebur bahan katalis.
Deaktivasi jenis ini disebutdeaktivasi independen(independent deactivation) karena
tidak dipengaruhi oleh bahan yang bereaksi. Kukus (steam) adalah contoh racun
stabilitas(stability poison) bagi katalis gel silika-alumina.
(a)

(b)

Gambar 8. Ilustrasi deaktivasi katalis melalui proses sintering:(a)


penyempitan/penutupan pori; dan (b) penggumpalan pusat aktif [Fogler]
Deaktivasi dapat diatasi dengan melakukan regenerasi katalis.Regenerasi/ reaktivasi
adalah pengaktifan kembali katalis yang terdeaktivasi yang dapat dilakukan dengan
penggantian katalis bekas pakai (spent catalyst) dengan katalis yang baru, atau
pengolahan kimia (chemical treatment)antara lain: pemanasan dengan kukus (steam)
atau gas-gas tertentu (gasifikasi), pembakaran/oksidasi, dan pengeringan.
STRUKTUR KATALIS [Richardson]
1. Pusat/ Komponen Aktif (active site / component), yaitu bagian katalis yang
bertanggungjawab dan menjadi tempat terjadinya reaksi utama, baik pada permukaan
luar maupun permukaan di dalam pori-pori katalis. Pemilihan komponen aktif adalah
tahap pertama dalam mendisain katalis. Pemilihan tersebut dilakukan secara ilmiah
berdasarkan mekanisme katalitik reaksinya, meskipun kadang-kadang dapat bersifat
empirik. Pusat aktif berperan penting dalam reaksi, yaitu:
TRK2

Gambar 9. Bagan struktur katalis [diterjemahkan dari Richardson oleh Istadi]


a. memberikan aktivitas kimiawi terhadap reaksi, yaitu secara aktif mengadsorpsi
molekul reaktan dan memfasilitasi konversinya menjadi molekul produk. Pusat aktif
juga mendesorpsi molekul produk, sehingga kosong (vacant) dan siap menjalani
siklus reaksi berikutnya;
b. menentukan selektivitas katalis, yaitu secara unik hanya mengadsorpsi molekul
reaktan dan memilih mekanisme reaksi tertentu saja (lihat Tabel 2). Klasifikasi
konduktivitas berdasarkan mekanisme katalitiknya;
c. turut menentukan stabilitas katalis. Pusat aktif yang terdeaktivasi harus
diregenerasi. Semakin cepat pusat aktif terdeaktivasi, semakin sering katalis harus
diregenerasi, maka semakin cepat pula permukaan dan strukturpenyangga
mengalami kerusakan sehingga akhirnya partikel katalis tersebut tidak layak
digunakan lagi.
2. Penyangga (support), yaitu bagian katalis dengan luas permukaan terbesar sebagai
tempat terdispersinya pusat aktif. Umumnya struktur bahan penyangga berpori-pori
untuk memperluas permukaan. Penyangga harus tahan terhadap perubahan suhu,
sehingga titik lelehnya harus lebih tinggi daripada komponen aktif. Tingkat dispersi
komponen aktif pada penyangga dipengaruhi secara signifikan oleh konsentrasinya
(loading). Bentuk penyangga bermacam-macam: pelet, butiran, dsb. (Gambar 10).
TRK2

Tabel 2. Klasifikasi Komponen Aktif [Richardson]


Konduktivitas

Jenis Bahan

Jenis Reaksi

Contoh

Konduktor

Logam

Hidrogenasi

Fe, Ni, Pt

Hidrogenolisis

Pd, Cu, Ag

Redox

Oksidasi
Semikonduktor

Oksida

Hidrogenasi selektif

NiO, ZnO, CuO

Redox

dan Sulfida

Hidrogenolisis

Cr2O3, MoS2

Oksidasi
Insulator

Oksida

Polimerisasi

Al2O3, SiO2, MgO

Ion Karbonium

(asam)

Isomerisasi

SiO2-Al2O3

Perengkahan (cracking)
Dehidrasi

Zeolit

Gambar 10. Berbagai bentuk penyanggakatalis


Peran penyangga dalam reaksi:
a. mendukung aktivitas katalis dengan cara:
i. menyediakan permukaan kontak dengan reaktan yang sangat luas, terutama di
dalam pori-porinya (luas permukaan 1 cc katalis dapat mencapai 1x lapangan
sepak bola, atau sekitar 2.000 m2);
ii. beberapa penyangga memiliki dwifungsi (dual functional activity), yaitu selain
sebagai penyangga dapat langsung berfungsi sebagai pusat aktif (tidak
memerlukan impregnasi pusat aktif lain);
iii. memodifikasi struktur komponen aktif ketika terikat pada permukaannya,
sehingga memodifikasi aktivitas kimiawi dari pusat aktif tersebut;

TRK2

10

Tabel 3. Jenis-Jenis Penyangga [Istadi]

b. dapat menentukan selektivitas katalis dengan memilih ukuran dan bentuk tertentu
dari molekul reaktan maupun produk yang dapat berdifusi masuk atau keluar katalis
melalui lubang pada pori-porinya (lihat contoh pada Gambar 5);
c. menentukan stabilitas katalis dengan sifat mekanik dari struktur dan
permukaannya yang kuat bertahan terhadap tumbukan dengan dinding reaktor atau
bilah pengaduk, gesekan dengan pertikel-partikel bulk reaktan/produk, serta kondisi
operasi reaktor pada suhu/tekanan tinggi dan pH bervariasi. Penyangga yang baik
mampu diregenerasi berulang-ulang tanpa mengurangi luas permukaan dan
kekuatan strukturnya secara signifikan
Penyangga dengan luas permukaan yang besar adalah jenis asam, diatomaceous
clay, dan karbon aktif.
3. Promotor(promoters), yaitu bagian katalis yang berfungsi ganda mengatur kinerja
pusat aktif dan aktivitas penyangga. Promotor ditambahkan pada tahap akhir dari
proses produksi katalis. Fungsi promotor dalam reaksi:
a. terhadap penyangga:
i. mendorong atau menghambat aktivitas kimiawi penyangga yang juga
berfungsi sebagai pusat aktif. Bila pusat aktif suatu katalis selektif terhadap
reaksi utama tetapi penyangganya dapat mengkatalisa reaksi samping, maka
diperlukan promotor (inhibitor) yang dapat menghambat aktivitas kimiawi
penyangga.
TRK2

11

ii. mempengaruhi stabilitas struktur penyangga, yaitu dengan menyediakan


suasana pH, kesetimbangan elektron / polaritas, dsb. yang sesuai.
b. terhadap pusat aktif:
i. mempengaruhi sifat elektronik pusat aktif sehingga turut menentukan
selektivitas dan aktivitas kimiawinya.
ii. promotor juga dapat meracuni pusat aktif, baik sementara ataupun permanen,
sehingga mengalami deaktivasi. Fungsi peracunan promotor diperlukan antara
lain untuk mengatur tingkat aktivitas pusat aktif agar produk dapat sesuai
dengan yield dan kemurnian yang diinginkan, yaitu dengan menghambat
katalisa reaksi samping yang tidak diinginkan, misalnya pembentukan karbon
(coking);
iii. promotor juga mengatur sifat morfologipusat aktif (struktur, kontur, dll. terkait
bentuknya) sehingga mempengaruhi selektivitasnya terhadap molekul reaktan.
Tabel 4. Jenis-Jenis Promoter [Istadi]

PROSES PEMBUATAN (PREPARASI) KATALIS[Fithriyah]


Desain dan formulasi katalis yang benar adalah yang memberikan kesesuaian antara
aliran fluida, aktivitas dan stabilitasnya. Ketiga hal tersebut ditentukan oleh faktor reaksi,
desain reaktor, kondisi proses, dan keekonomian (Gambar 11).
Untuk mendapatkan keselarasan karakter-karakter katalis yang diinginkan, pembuatan
katalis melalui tahap-tahap sebagai berikut:
1. Persiapan
a. Pemilihan Bahan (material selection)
TRK2

12

Pemilihan bahan didasarkan pada banyak faktor, antara lain: kelarutan, pengotor,
ketersediaan, biaya dan kendala yang mungkin timbul. Pertimbangan terpenting
dalam pemilihan bahan adalah kemungkinan bahaya yang akan ditimbulkannya
terhadap reaksi. Bahan yang disiapkan adalah: media pelarut (misalnya air atau
ammonia), komponen aktif (misalnya Ni), dan penyangga (misalnya alumina Al 2O3).
Katalis yang terbentuk diberi nama [komponen aktif]/[penyangga] (misalnya
Ni/Al2O3).
b. Perlakuan Awal (pretreatment)
Biasanya beberapa bahan pembuatan larutan didapatkan dalam bentuk pekat atau
padat, sehingga harus diencerkan atau dilarutkan dahulu.

Gambar 11. Berbagai karakter yang harus diselaraskan dalam pembuatan katalis
[diterjemahkan dari Richardson oleh Istadi]
2. Preparasi Katalis
a. Preparasi Penyangga
Penyangga dilarutkan sehingga membentuk gel, kemudian dikalsinasi sehingga
membentuk struktur kristal yang paling stabil (misalnya heksagonal pada suhu
pembakaran 1200C).
b. Preparasi Katalis
i.
ii.

TRK2

Pembuatan larutan komponen aktif (garam logam) disertai pengaturan pH


Penambahan penyangga untuk penempatan komponen aktif dengan berbagai
metode:
Deposisi : presipitasi (supersaturasi nukleasi pertumbuhan)
impregnasi pertukaran ion (anionik/kationik) adsorpsi
Ekstraksi
Lain-lain : Fusi
13

iii.
iv.
v.
vi.
vii.
viii.
ix.
x.

Aglomerasi dan pembentukan gel, membentukhydrogel, aerogel, xerogel, atau


cryogel. Pada skala pabrik digunakan udara panas dalam spray drying.
Penambahan promotor
Pemurnian:
- pencucian : dekantasi atau sentrifugasi
- penyaringan menggunakan belt filter
Pengeringan/ pemekatan menggunakan rotary drier
Penghalusan
Pembentukan
Kalsinasi (Pembakaran)
Aktivasi dengan cara reduksi atau nukleasi

3. Karakterisasi (uji sifat fisik/mekanik)


4. Uji Katalitik (uji aktivitas kimiawi)
Kategori katalis yang umum digunakan dapat dilihat dalam Tabel 5.
Tabel 5. Kategori Katalis
Kategori

Jenis

Contoh

Komponen aktif
tunggal dan
penyangga

oksida tunggal
oksida ganda

Al2O3, SiO2, Cr2O3, V2O5


SiO2-Al2O3, CuCr2O4,
CuO-Al2O3, zeolit

Komponen aktif
hasil deposisi

oksida terdispersi
logam terdispersi, kadar rendah
logam terdispersi, kadar sedang

NiO-Al2O3, MoO3/Al2O3
0,3% Pt/Al2O3
40% Ni/Al2O3

Komponen aktif
hasil ekstraksi

logam terdispersi, kadar tinggi


logam berpori
oksida paduan

70% Ni/Al2O3
Ni-Raney
Fe3O4-Al2O3-K2O

Jenis khusus

oksida campuran
oksida semen
logam ruah

ZnO, ZnCr2O4
NiO-CaAl2O4
Pt, Pd, Aggauze

KARAKTERISASI KATALIS
Karakterisasi katalis diperlukan unuk mendapatkan dan memastikan bahwa katalis yang
diproduksi telah memenuhi spesifikasi industri (lihat Gambar 8). Salah satu karakter katalis
yang penting untuk diperhitungkan adalah luas permukaannya. Permukaan katalis yang
luas menyediakan probabilitas kontak yang tinggi antara pusat aktif dan molekul reaktan.
Perhitungan luas permukaan katalis menggunakan metode BET: Brunauer-Emmett-Teller
yang memanfaatkan teori isoterm adsorpsi Langmuir di mana pada adsorpsi kimia
diasumsikan ketiga ilmuwan tersebut berdasarkan hasil penelitiannya menyimpulkan
langkah-langkah dan persamaan-persamaan sebagai berikut [Smith]:

TRK2

14

Gambar 12. Karakter katalis yang diperlukan dalam industri [Hill]


1. Menentukan kurva yang sesuai dengan jenis dan berat katalis serta molekul gas yang
diadsorpsi. Contoh kurva adsorpsi beberapa gas pada permukaan katalis Silica Gel
seberat 0,606 g dapat dilihat pada Gambar 13.

Gambar13. Kurva perhitungan luas permukaan katalis Silica Gel [Smith]


TRK2

15

2. Menghitung slope (s) dan intercept (I) kurva tersebut dalam satuan 10-3 cm-3. Khusus
kurva 7 perlu diperhatikan nilai absis yang berbeda dan satuan ordinatnya 10 -2 cm-3.
3. Menghitung volum satu lapisan (monolayer) dari molekul yang teradsorpsi:

vm = [ ( s + I ) . ( berat katalis ) ]-1 ( cm3 / g katalis )

{2}

4. Menghitung luas proyeksi satu molekul:

= 1,09 . ( M / N0 . )2/3
di mana M: berat molekul (g/mol);

( cm2 / molekul )

{3}

N0: bilangan Avogadro (6,02 x 1023);

:densitas (g/cm3)
5. Menghitung luas permukaan katalis:

Sg = ([vm . N0] / v) .

( cm2 / g katalis )

{4}

di mana V = volum 1 mol gas ideal pada kondisi standar (25 C / 1 atm)
= 22.400 cm3 / mol
6. Mengkonversi satuan luas permukaan: Sg (m2/g katalis) = Sg (cm2/g) / 104 (m2/cm2)
Selain luas permukaan, karakter katalis lainnya yang penting adalah turn over number
(TON), yaitu jumlah molekul yang bereaksi / pusat aktif / satuan waktu.

TUGAS 1
TRK2

16

Hitung luas permukaan katalis Silica Gel seberat 0,606 g berdasarkan percobaan adsorpsi
gas-gas berikut ini:
Gas

CO2

O2

CO

N2

n-C4H10

Densitas / g.cm-3

0,94

1,14

1,18

0,808

0,579

Suhu / C

-78

-183

-183

-195

JAWABAN TUGAS 1
Kurva

Gas

CO2

44

O2

32

vm

Sg

m2/g

0,94

0,5x10-3

16,00x10-3

100,01

1,99x10-15

5,34x106

533,71

1,14

0,6x10-3

13,06x10-3

120,84

1,41x10-15

4,59x106

458,59

-3

-3

121,15

1,26x10

-15

411,03

CO

28

1,18

0,2x10

13,42x10

4,11x10

N2

28

0,808

0,2x10-3

12,75x10-3

127,43

1,63x10-15

5,57x106

556,50

n-C4H10

58

0,579

7,x10-3

30,00x10-3

44,60

3,30x10-15

3,95x106

395,25

DISKUSI TUGAS 1
Luas permukaan yang dihitung dari adsorpsi gas-gas berbeda menunjukkan hasil yang
berbeda-beda karena pengaruh parameter-parameter berikut:
a. Suhu adsorpsi yang berbeda-beda mengakibatkan perbedaan jumlah molekul yang
dapat teradsorpsi secara kimia pada suatu permukaan katalis (periksa Gambar 9).
b. Pada suhu adsorpsi yang sama, molekul yang berbeda akan teradsorpsi dalam jumlah
yang berbeda pula karena luas proyeksi () masing-masing juga berbeda. Makin besar
ukuran molekul, makin besar juga luas proyeksinya, tetapi makin berkurang jumlah
molekul yang dapat teradsorpsi pada permukaan katalis yang sama.
c. Metode BET tidak memperhitungkan luas daerah permukaan katalis yang tidak
mengadsorpsi molekul (void), yaitu yang berada pada celah-celah di antara molekulmolekul yang teradsorpsi. Semakin besar ukuran molekul maka akan semakin tinggi
pula luas void.

TRK2

17