Anda di halaman 1dari 16

MODUL KONSERVASI ENERGI

PENCAHAYAAN
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah Konservasi Energi

Disusun oleh:
Fahrul Dwi Nugraha

( 121711043 )

Intan Nursanti Oktavia

( 121711048 )

Leza Afridranestia

( 121711013 )

Sigit Lestiadi

( 121711058 )
Kelas : 3A

D3 TEKNIK KONVERSI ENERGI

DEPARTEMEN TEKNIK KONVERSI ENERGI


POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2015

PRAKTIKUM KONSERVASI ENERGI


KONSERVASI PENCAHAYAAN
1. LATAR BELAKANG
Konservasi energi sistem pencahayaan pada bangunan gedung di Indonesia dimulai
sejak tahun 1985 dengan diperkenalkannya program konservasi sistem pencahayaan oleh
DOE (Departemen of Energy, USA) dan di Indonesia dilakukan oleh Departemen Pekerjaan
Umum. Sistem pencahayaan digunakan ketika penerangan alami tidak dapat memenuhi
persyaratan penerangan ruang dalam bangunan. Kondisi pencahayaan pada suatu ruangan ratarata memiliki sistem pencahayaan yang kurang efisien dalam segi penggunaan daya listrik.
Contohnya pada waktu siang hari cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan sudah cukup
memadai namun lampu tetap menyala sehingga energi yang digunakan banyak terbuang.
Optimasi sistem pencahayaan perlu dilakukan agar penghematan energi listrik dan biaya
operasionalnya tidak terlalu besar. Perbedaan jenis lampu sangat mempengaruhi terhadap
energi listrik yang dibutuhkan, oleh karena itu perlu dilakukannya konservasi sistem
pencahayaan supaya cahaya yang dihasilkan oleh lampu sesuai dengan standar namun tetap
hemat dalam penggunaan energi listrik maupun biayanya. Untuk dapat memenuhi persyaratan
tersebut standar yang digunakan dalam sistem pencahayaan di Indonesia adalah SNI 03-61972000. Standar ini memuat ketentuan pedoman pencahayaan pada bangunan gedung untuk
memperoleh

sistem

pencahayaan

dengan

pengoperasian

yang

optimal

sehingga

penggunaan energi dapat efisien tanpa harus mengurangi dan atau mengubah fungsi
bangunan, kenyamanan dan produktivitas kerja penghuni serta mempertimbangkan aspek
biaya.
2. TUJUAN
Adapun tujuan dari praktikum konservasi pencahayaan, yaitu :
a. Dapat memahami rangkaian praktikum konservasi pencahayaan
b. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi sistem pencahayaan
c. Mengetahui perbedaan antara lampu Neon, LED dan LHE
d. Mengoptimalkan penggunaan energi listrik pada sistem pencahayaan
e. Dapat melakukan konservasi pada sistem pencahayaan dengan beberapa metode

3. DASAR TEORI
Sistem penerangan adalah sistem yang mengatur pencahayaan sesuai dengan kebutuhan
visual yang dibutuhkan. Sistem penerangan harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat
memanfaatkan cahaya matahari sebagai cahaya sumber alami secara maksimal. Hal ini
dimaksudkan agar pemakaian energi listrik untuk pencahayaan bisa seminimal mungkin.
Persyaratan pencahayaan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a

Sistem pencahayaan buatan yang dirancang


- Tingkat pencahayaan minimalnya sesuai yang direkomendasikan.
- Daya listrik untuk pencahayaan sesuai maksimum yang diijinkan.
- Memenuhi tingkat kenyamanan visual.

Sistem

pencahayaan

alami

yang

dirancang

memanfaatkan

semaksimal

mungkin

pencahayaan siang hari.

Gambar 1 Unit of Measurements


3. 1

Penggunaan Energi Untuk Pencahayaan Buatan


Pencahayaan energi untuk pencahayaan buatan dapat diperkecil dengan mengurangi daya

terpasang, melalui pemilihan lampu dengan efikasi tinggi serta ballast dan armatur yang efisien.
Pada bangunan publik atau lainya, cahaya dapat diperoleh dari sumber alami (matahari) maupun
sumber buatan (lampu). Lampu elektrik yang dipergunakan untuk bangunan gedung antara lain
jenis bulb dan fluorescent/TL. Lampu bulb menghasilkan cahaya melalui kawat filamen yang
dilalui arus listrik. Cahaya tersebut melepaskan panas secara radiasi dalam daerah tampak dari
spektrum radiasi yang dihasilkan.
3. 2

Tingkat Pencahayaan

Tingkat pencahayaan merupakan besarnya cahaya yang dibutuhkan untuk menerangi suatu
ruangan. Parameter ini dinyatakan dengan satuan lux. Satu lux setara dengan satu lumen per
meter persegi. Alat untuk mengukur tingkat pencahayaan adalah luxmeter. Tingkat pencahayaan
memiliki standar minimal yang direkomendasikan, dan ditentukan berdasarkan fungsi dari setiap
ruangan serta disesuaikan dengan tempat. Tingkat pencahayaan tidak boleh kurang dari tingkat
pencahayaan standar yang ditentukan. Acuan tingkat pencahayaan di Indonesia yang
direkomendaikan yaitu SNI 6197:2011.
E = /A (lux) ... (2.1)
Dimana:
E = Iluminasi, (lumen/ m2 = lux)
= Fluks cahaya (lumen)
A = Luas bangunan (m2)
3. 3

Daya Pencahayaan
Daya pencahayaan adalah daya listrik yang digunakan untuk pencahayaan dibagi dengan

luas ruangan. Perhitungan daya pencahayaan dipengaruhi oleh beberapa fakor yaitu; fungsi ruang
(untuk menentukan terang lampu), jenis lampu (berpengaruh terhadap kuantitas cahaya yang
dipancarkan), jumlah titik lampu (agar distribusi lampu merata dan sesuai kebutuhan). Daya
pencahayaan memiliki standar daya pencahayaan, acuan standar di Indonesia yaitu SNI
6197:2011. Daya listrik yang terpasang tidak boleh melebihi angka maksimum yang ditentukan
pada setiap ruangan. Metode perhitungan daya pencahayaan terdapat di persamaan 2.2.
Pc =

Pt
A ...............................................................................................................

(2.2)
Keterangan :
Pc = Daya pencahayaan (W/m2)
Pt = Daya listrik yang dikonsumsi lampu (W)
A = Luas ruangan (m2)

3. 4

Parameter Kualitas Warna Cahaya


Kualitas warna cahaya dibedakan menjadi :
1

Warna cahaya lampu ( Cotrrelated Colour Temperature = CCT )


Warnanya sendiri tidak merupakan indikasi tentang efeknya terhadap warna objek,
tetapi lebih kepada memveri suasana. Dua lampu yang saling mirip warna cahayanya
dapat berbeda komposisi distribusi spektralnya sehingga akan berbeda juga efeknya
kepada warna obyek yang diterangi. Warna cahaya lampu dibedakan menjadi :

Warna putih kekuning-kuningan ( warm-white ), Kelompok 1 ( <3300 K )

Warna putih netral ( cool white ), Kelompok 2 ( 3300 K 5300 K )

Warna putih ( daylight ), Kelompok 3 ( > 5300 K )

Warna cool daylight, Kelompok 4 ( 6200 K )


Pemilihan warna lampu bergantung pada tingkat iluminasi yang diperlukan agar

diperoleh pencahayaan yang nyaman. Makin tinggi tingkat iluminasi yang diperlukan,
maka warna lampu yang digunakan adalah jenis lampu dengan CCT sekitar > 5000 K (
daylight ) sehingga tercipta pencahayaan yang nyaman.
Sedangkan untuk kebutuhan tingkat iluminasi yang tidak terlalu tinggi, maka warna
lampu yang digunakan < 3300 K ( warm white ).
2

Renderansi Warna
Disamping warna cahaya lampu, perlu diketahui efek suatu lampu kepada warna
obyek, untuk itu dipergunakan suatu indeks yang menyatakan apakah warna objek
tampak ilmiah apabila diberi cahaya lampu tersebut.
Lampu-lampu diklarifikasikan dalam kelompok renderansi warna yang dinyatakan
dengan Ra, sebagai berikut :

Efek warna kelompok 1 : Ra indeks 80-100 %.

Efek warna kelompok 2 : Ra indeks 60-80 %.

Efek warna kelompok 3 : Ra indeks 40-60 %.

Efek warna kelompok 4 : Ra indeks < 40 %.

3. 5

Teknologi Sistem Penerangan


Prinsip kerja lampu listrik adalah dengan cara menghubung singkat listrik pada filamen

carbon (C) sehingga terjadi arus hubung singkat yang mengakibatkan timbulnya panas. Panas
yang terjadi dibuat hingga suhu tertentu sampai mengeluarkan cahaya, dan cahaya yang didapat
pada waktu itu baru mencapai 3 Lumen/W (Lumen = satuan arus cahaya).
Sistem penerangan saat ini yang banyak digunakan oleh masyarakat pada umumnya
adalah jenis lampu fluorescent ( lampu TL ), lampu CFL yang dikenal sebagai lampu hemat
energi (LHE), lampu LED, lampu halogen, lampu HID ( High Intensity Discharge ) dan lain-lain
serta banyak menggunakan ballast konvensional dan ballast elektronik.
1

Lampu Flourescent ( Lampu TL )


Belakangan ini, penggunaan jenis lampu ini lebih populer
daripada lampu pijar. Lampu ini memiliki efisiensi yang tinggi
dan ketahanan yang lebih lama, hampir 20.000 jam. Sayangnya,
lampu ini membutuhkan alat ballast yang memakan banyak daya.
Efisiensi dapat ditingkatkan dengan menggunakan ballast

Gambar 2 Lampu TL.

elektronik.
2

Lampu CFL (Compaq Flourescent Lamp )


Lampu ini adalah lampu yang paling efisien yang
tersedia di pasaran, dengan efikasi tinggi sekitar 50-60
lumen per watt dengan usia sampai 12000 jam.
Gambar 3 Lampu CFL.

Lampu LED (Light Emitting Diode)


Lampu LED merupakan lampu terbaru yang merupakan
sumber cahaya yang efisien energinya. Lampu ini
bertahan dari 40.000-100.000 jam, tergantung pada warna.
Berbagai perkiraan potensi penghematan energi berkisar
dari 82-93%.
Gambar 4 Lampu LED.

Lampu Halogen/Flood Light


Lampu tipe ini serupa dengan lampu pijar, namun ketahanan
yang lebih lama sampai 3000 jam. Lampu ini menghasilkan
warna khusus dan umumnya digunakan di tempat-tempat
dimana aktivitas membutuhkan pencahayaan yang lebih
Gambar 5 Lampu
Halogen.

terang dan warna khusus.


5

Lampu HID ( High Intensity Discharge )


Tipe lampu ini digunakan untuk kebutuhan luar ruangan, seperti area parkir, jalanan, gudang
dan lain-lain. Ketahananya berkisar anatara 10000 hingga 25000 jam.

Gambar 6 Lampu HID.


6

Lampu Sodium Tekanan Tinggi ( HPS )


Lampu HPS banyak digunakan untuk penerapan di
luar ruangan dan industri. Efikasinya yang tinggi
membuatnya menjadi pilihan yang lebih baik
daripada metal halide, terutama bila perubahan
warna yang baik bukan menjadi prioritas. Lampu
HPS ini memiliki efikasi 50-90 lumen per watt

Gambar 7 Lampu HPS.

dengan umur lampu 24000 jam, pemanasan 10


menit, pencapaian panas dalam waktu 60 detik. Gas pengisinya adalah Xenon.
7

Ballast Elektronik
Ballast jenis ini mempunyai keunikan khusus, yaitu sistem bekerjanya tidak lagi
menggunakan gulungan (kumparan) pada suatu inti besi, berbeda sekali dengan ballast
konvensional yang masih menggunakan gulungan (kumparan) pada inti besi. Ballast
elektronik menggunakan suatu sistem rangkaian elektronik sehingga besarnya rugi-rugi

pada inti besi, pada kumparan menjadi tidak adalagi, dan hanya sedikit rugi saja karena
rangkaian/sirkit. Inilah yang paling menguntungkan dalam penghematan energi listrik yang
diserapnya.
Keuntungan lain yang didapat adalah dapat diatur konsumsi arus listriknya dengan tetap
mempertahankan besar tegangan yang diinginkan, sehingga ballast elektronik dapat
digunakan untuk sistem pengaturan energi listrik sesuai yang dibutuhkan pada suatu
ruangan. Dengan sistem sirkit elektronik maka ballast menjadi lebih ringan dan lebih kecil
dibandingkan dengan ballast konvensional (sistem gulungan kawat).
8

Ballast Resistor
Merupakan balast yang tidak ekonomis karena menyebabkan kerugian daya yang besar dan
energi listrik didesipasikan menjadi panas. Agasr balast resistor stabil, harus disuplai dengan
tegangan yang bisa mencapai 2x tegangan normal.

Ballast Kapasitor
Disebut juga lampu stabilisasi karena bentuknya memang seperti lampu pijar. Balast ini
hampir tanpa kerugian. Balast kapasitor digunakan pada pemakaian frekuensi tinggi.

10 Ballast Induktor
Ballast ini paling lazim digunakan untuk lampu tabung. Kerugian daya yang ditimbulkan
lebih kecil daripada balast resistor. Balast ini dipadukan dengan starter dapat menimbulkan
tegangan induksi yang tinggi.
1) GAMBAR RANGKAIAN & PROSEDUR PERCOBAAN

Gambar Rangkaian :

Keterangan :
1

= Saklar 1 (Starter lampu TL ballast elektronik).

= Saklar 2 (Starter lampu TL ballast konvensional).

= Saklar 3 (Starter lampu LHE).

= Saklar 4 (Starter lampu LED).

= saklar 5 (saklar tukar dengan atau tanpa ballast elektronik).

= saklar 6 (saklar tukar dengan atau tanpa ballast konvensional).

= Saklar 7 (Starter kapasitor pada lampu TL ballast elektronik).

= Saklar 8 (Starter kapasitor pada lampu TL ballast konvensional).

Prosedur percobaan :
1.
2.
3.
4.
5.

Siapkan meja praktikum dan alat ukur yang akan digunakan.


Pastikan semua saklar pada keadaan OFF.
Sambungkan rangkaian dengan sumber arus listrik 220 V 1 fasa.
ON-kan MCB.
ON-kan saklar 1 (tanpa ballast), saklar lainnya OFF. Ambil data ke-1 hasil pengukuran

kemudian masukkan pada table percobaan.


6. ON-kan saklar 2 (tanpa ballast), saklar lainnya OFF. Ambil data ke-2 hasil pengukuran
kemudian masukkan pada table percobaan.
7. ON-kan saklar 3, saklar lainnya OFF. Ambil data ke-3 hasil pengukuran kemudian masukkan
pada table percobaan.
8. ON-kan saklar 4, saklar lainnya OFF. Ambil data ke-4 hasil pengukuran kemudian masukkan
pada table percobaan.
9. ON-kan saklar 1 (dengan ballast), saklar lainnya OFF. Ambil data ke-5 hasil pengukuran
kemudian masukkan pada table percobaan.
10. ON-kan saklar 2 (dengan ballast), saklar lainnya OFF. Ambil data ke-6 hasil pengukuran
kemudian masukkan pada table percobaan.
11. ON-kan saklar 1 dan saklar 5 (tanpa ballast), saklar lainnya OFF. Ambil data ke-7 hasil
pengukuran kemudian masukkan pada table percobaan.
12. ON-kan saklar 2 dan saklar 6 (tanpa ballast), saklar lainnya OFF. Ambil data ke-8 hasil
pengukuran kemudian masukkan pada table percobaan.
13. ON-kan saklar 1 dan saklar 5 (dengan ballast), saklar lainnya OFF. Ambil data ke-9 hasil
pengukuran kemudian masukkan pada table percobaan.
14. ON-kan saklar 2 dan saklar 6 (dengan ballast), saklar lainnya OFF. Ambil data ke-10 hasil
pengukuran kemudian masukkan pada table percobaan.
15. Setelah selesai melakukan pengambilan data selanjutnya OFF-kan semua saklar.
16. OFF-kan MCB.
17. Lepaskan rangkaian dengan sumber arus listrik.

2) PARAMETER PENGUKURAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Durasi waktu;
Jenis lampu;
Daya beban terpasang;
Intensitas cahaya;
Arus;
Tegangan.

3) ALAT UKUR
1.
Luxmeter
2.
Amperemeter
3.
Wattmeter
4.
Multimeter
4) DATA SPESIFIKASI
No

Jenis lampu

Merk / Type

Watt

Lumen

LHE

Philips / cool day light

18

Spotlight

Osram / Concentra Germany

60

LED

Philips

TL

Philips / cool day light

1100

10.5

1055

58

4000

5) TABEL HASIL PENGUKURAN


Spesifikasi
Jenis Lampu

Terukur

Perhitungan

Day
a

Lume
n

Tegangan

Day
a

Arus

(W)

(Lm)

(V)

(W)

(I)

cos phi

(Lm/m2)

18

1100

223,70

18

0,13

0,639

326

225,20

19

0,13

0,637

314

224,45

19

0,13

0,638

320

LHE

Rata-rata

Spotlight

60

310

Rata-rata
TL Balast
Elesktronik
(BE)

58

58

224,20

54

0,24

0,996

1168

225,90

54

0,24

0,997

1178

225,05

54

0,24

0,997

1173

224,60

45

0,21

0,967

1073

226,30

50

0,23

0,971

1172

225,45

48

0,22

0,969

1123

224,60

41

0,33

0,544

975

226,00

40

0,37

0,487

968

4000

Rata-rata
TL Ballast
Konvensiona

Lux

4000

Daya

Efikasi

(W)

(Lm/watt
)

18,62

17,19

53,82

21,79

48,06

23,36

41,17

24,73

l
(BK)
Rata-rata
TL Ballast
Konvensiona
l Kapasitor
(BKC)

58

4000

Rata-rata
LED

10,5

1055

Rata-rata

224,70

41

0,33

0,555

1100

223,90

42

0,34

0,553

1030

224,80

41

0,34

0,535

1018

225,10

41

0,34

0,536

983

226,30

40

0,33

0,545

996

224,20

41

0,33

0,548

1120

222,30

39

0,34

0,515

1130

224,48

40

0,34

0,536

1057

224,40

10

0,08

0,568

805

226,20

10

0,08

0,570

803

225,30

10

0,08

0,569

804

6) PERHITUNGAN
1. Efikasi
Data yang digunakan merupakan Lampu LHE :
Diketahui
V
= 224,45 V
I
= 0,13A
Cos phi
= 0,638
Lux
= 320 Lm/m2
A
= 1 m2 (diasumsikan)
Jawab :
P

= V x I x Cos phi
= 224,45 x 0,13 x 0,638
= 18,62 W
Dengan menggunakan persamaan 2.1
320
E (lux)
(Lumen) =
=
= 320 Lm
1
A

Efikasi

lumen
Watt

320 Lm
18,62 W

= 17,19 Lm/W

40,37

26,19

10,26

78,40

2. Menentukan Capasitor
Data yang digunakan merupakan Lampu TL ballast Konvensional :
C=

Qc
V 2 f 109
2

Qc = P (Tan 1 Tan 2)
P rata-rata
= 41,17 W
Cos phi rata-rata
= 0,535
Cos phi yang diinginkan
= 0,95
Qc = 041,17 (Tan 57,656 Tan 18,195)
Qc = 41,17 x 2,768
Qc = 113,95 VAR
C=

C=

= 57,656
= 18,195

Qc
V 2 f 109
2

113,95 x 103
2
9
224,8 2 50 10

C=7 F

7) Analisis Data.
Pada praktikum yang telah dilakukan pengambilan data menggunakan alat ukur clamp
on. Dengan mengambil beberapa parameter yang akan digunakan seperti pada tabel hasil
pengukur. Lampu yang digunakan terdapat 4 jenis lampu diantaranya :
a. LHE
b. Spotlight
c. LED
d. TL
Pada Lampu TL terdapat beberapa langkah konservasi seperti menggunakan ballast elektronik
dan ballast konvesional serta kapasitor.

Efikasi
100.00
80.00
60.00
40.00
20.00
0.00
LHE

Spotlight

TL BE

TL BK

TL BKC

LED

Gambar 8 Grafik Efikasi pada setiap Jenis Lampu


1
2
3

Dapat dilihat pada Gambar 8 data existing diperoleh efikasi, yaitu :


LHE
= 17,19 Lm/W
Spotlight
= 21,79 Lm/W
LED
= 78,40 Lm/W
Sehingga, Lampu LED memiliki nilai efikasi yang baik dibandingkan jenis lampu lain

yang digunakan pada praktikum. Lampu LED memiliki fluks cahaya yang yang baik dan
mengkonsumsi daya listrk yang rendah dibandingkan jenis lampu. Konsumsi energi pada setiap
jenis lampu dapat dilihat dari Gambar 9. Pada Lampu Spotlight memiliki fluks cahaya yang baik
tetapi mengkonsumi energi yang palig besar dibandingkan lampu yang lain sehingga memiliki
nilai efikasi yang rendah.
Selain itu, pada praktikum melakukan langkah konservasi dengan menggunakan Lampu
jenis Lampu TL (fluosresen). Pada lampu TL menggunakan ballast Konvensional dan balast
Gambar 9 Grafik Konsumsi daya pada setiap Jenis Lampu
Elektronik. Lampu TL dengan menggunakan ballast Elektronik diharapkan dapat mereduksi
konsumsi listrik pada lampu TL. Dapat dilihat perbandingan Lampu TL dengan menggunakan
ballast yang berbeda pada Tabel berikut :
Tabel A. Hasil Percobaan Lampu TL dengan Ballast Elektronik (BE) dan Konvensional (BK)
Jenis Lampu
TL Ballast
Elektronik

Teganga
n
(V)

Aru
s
(I)

cos
phi

Day
a
(W)

Lux
(Lm/m
2
)

Efikasi
(Lm/wat
t)

225,45

0,2
2

0,969

48,0
6

1123

23,37

TL Ballast
Konvensional

224,80

0,3
4

0,535

41,1
7

1018

24,73

Pada praktikum yang telah dilakukan dapat dilihat hasilnya pada Tabel A. Penggunaan
Ballast Elektronik menggantikan penggunaan Ballast Konvensional agar efikasi pada lampu TL
yang digunakan semakin baik (meningkat). Dapat dilihat pada Tabel A. arus dengan BK 0,34 A
menjadi 0,22 A dengan BE. Cos phi 0,535 dengan BK menjadi cos phi 0,969 dengan BE.
Perubahan arus dan cos phi menunjukkan bahwa penggunaan ballast elektronik berfungsi sesuai
dengan yang diharapkan. Selain dapat dilihat dari arus dan cos phi, kinerja Ballast Elektronik
juga dapat dilihat dari Lux yang terukur. Pada BK Lux terukur sebesar 1018 lm/m 2 menjadi 1123
lm/m2 dengan BE. Hal tersebut menunjukkan kinerja lampu yang lebih baik setelah
menggunakan BE. Namun peningkatan Lux dengan BE belum membuat efikasi pada lampu TL
dengan BE lebih baik daripada lampu TL dengan BK seperti pada Tabel A. efikasi dengan BE
23,37 Lm/watt lebih rendah daripada efikasi dengan BK 24,73 Lm/watt. Hal tersebut dapat
disebabkan karena kondisi lampu yang penuh dengan pengotor (debu) sehingga lux (Lm/m2)
tidak optimal.
Disamping itu, Lampu TL dengan menggunakan ballast konvensional akan ditambahkan
kapasitor sebagai salah satu langkah konservasi. Pemasangan kapasitor bertujuan untuk
memperbaiki faktor daya yang efektif untuk mengkompensasi penurunan faktor daya akibat
beban induktif. Perbaikan faktor daya berarti menekan daya reaktif, sehingga daya aktif dapat
digunakan dengan maksimal.

Pada praktikum pencahayaan menggunakan kapasitor sebesar 8 F


Adapun perbadingan Lampu TL menggunakan kapasitor dan tanpa kapasitor dapat dilihat pada
tabel berikut :
Tabel B. Hasil Percobaan Lampu TL dengan Ballast Konvensional (BK)
Tanpa Kapasitor dan dengan Kapasitor
Jenis Lampu
TL ballast
Konvensional
TL ballast
Konvensional
dengan Kapasitor

Teganga
n
(V)

Arus
(A)

cos
phi

Daya
(W)

Lux
Efikasi
2
(Lm/m (Lm/watt
)
)

224,80

0,34

0,535

41,17

1018

24,73

224,48

0,34

0,536

40,37

1057

26,19

Pada percobaan lampu TL dengan kapasitor diharapkan lux yang dicapai optimal
dengan daya yang dikonsumsi menjadi lebih rendah sehingga efikasi semakin meningkat
daripada lampu TL tanpa kapasitor. Pada Tabel B dapat dilihat arus yang dikonsumsi pada
lampu TL tanpa kapasitor 0,34 A dan dengan kapasitor 0,34 A tidak ada perubahan akibat terjadi
pemanasan, namun tidak adanya perubahan ini lebih baik daripada ada perubahan yang semakin
besar pada lampu TL yang menggunakan kapasitor. Pada cos phi lampu TL tanpa kapasitor 0,535
dan cos phi dengan kapasitor 0,536 diperoleh perubahan yang tidak signifikan namun cos phi
dengan kapasitor lebih baik daripada tanpa kapasitor. Daya yang dikonsumsi oleh lampu TL
tanpa kapasitor sebesar 41,17 W lebih besar daripada lampu dengan kapasitor sebesar 40,37 W.
Dapat dilihat lux yang dicapai dengan lampu TL yang menggunakan kapasitor sebesar 1057
Lm/m2 lebih baik daripada tanpa kapasitor sebesar 1018 Lm/m2. Sehingga efikasi pada lampu TL
dengan kapasitor sebesar 26,19 Lm/watt lebih besar daripada tanpa kapasitor sebesar 24,73
Lm/watt.
11 KESIMPULAN
Setelah melakukan praktikum pencahayaan dapat disimpulka, yaitu :
1. Lampu Jenis LED memiliki efikasi yang tinggi sebesar 78,4 Lm/W, dibandingkan
dengan jenis lampu yang lain.
2. Lampu TL membutuhkan kapasitor sebesar 7

F pada langkah konservasi

pemasangan kapasitor
3. Pengaruh Kapasitor akan memperbaiki faktor daya pada Lampu TL.
4. Kondisi lingkungan dan lampu mempengaruhi pencahayaan.
12 SARAN
Pada saat sebleum melakukan praktikum pencahyaan dianjurkan untuk:
1. Pastikan Alat ukur yang akan digunakan (calmp on dan luxmeter)
2. Menegtahui spesifikasi pada setiap jenis lampu yag akan digunakan sebagai objek
praktikum.