Anda di halaman 1dari 110

KRONOLOGIS

PENGADAAN KENDARAAN DINAS


BUPATI PASAMAN BARAT
TOYOTA LANDCRUISER PRADO TX LIMITED
TAHUN 2010

DIAGRAM PERHITUNGAN KERUGIAN NEGARA MADE IN


BPKP PERWAKILAN PROP. SUMATERA BARAT
VITARMAN, B.Ac
(Direktur PT. Baladewa
Indonesia, Padang)

Drs. H. HENDRI, MM
(KPA Bagian Umum Setda
Pasbar 2010)

Nilai Kontrak
PPn dan PPh
Biaya leges

Rp. 1.072.000.000
Rp. 112.072.727
Rp.
8.040.000

Penerimaan Bersih PT. Baladewa Indonesia =


Nilai kontrak - PPn dan PPh- Biaya leges =
Rp. 951.887.273

Importir
r

Dealer
PT. Intercom Mobilindo, Padang
Rp. 860.000.000

PT. Multi Sentra Adikarya, Jakarta


Rp. 506.000.000

PT. Baladewa Indonesia, Padang


Rp. 951. 887.273

PT. DK Jaya Motor, Jakarta


Rp. 675.000.000

Penyedia barang
barang

Distributor
Kerugian negara versi BPKP
Rp. 951. 887.273 - Rp. 675.000.000

=Rp. 276.887.273
Di dalam SE Dirjen Pajak No. SE-21/PJ.51/2000 tanggal 21 Juli 2000 tentang PPN dan PPn BM
Dalam Tata Niaga Kendaraan Bermotor disebutkan bahwa mata rantai distribusi kendaraan bermotor
harus melewati lini-lini sebagai berikut :
Lini 1 Importir Umum/ATPM/Industri Perakitan,
Lini 2 Distributor,
Lini 3 Dealer, dan
Lini 4 Sub Dealer/Showroom.
Penyedia barang

Hasil Audit BPKP (B-64)

Surat Kepala Kejaksaan Negeri Simpang Empat Nomor B-1421/N.3.23/DEK.3/08/2012 tanggal 15 Agustus
2012 perihal Permintaan Audit Investigasi kepada BPKP Perwakilan Propinsi Sumatera barat atas Pengadaan
Kendaraan Dinas Bupatidan Wakil Bupati Pasaman Barat dari Dana APBD-P TA 2010 pada Sekretariat Daerah
Pasaman Barat.

Surat Tugas Kepala BPKP Perwakilan Prop. Sumatera Barat No........ tanggal 3 Oktober 2012 untuk melakukan
audit investigasi berdasarkan surat permintaan Kepala Kejaksaan Negeri Simpang Empat Kepada:

AFRIZAL (Ketua Tim)


REZA PUTRA CANDRA NOVIANTO (Anggota)

Kendaraan Mobil Dinas Bupati Pasaman Barat yang dimaksud dalam kasus ini adalah Toyota Land Chruiser
Prado TX Limited, yang diadakan oleh PT. Baladewa Indonesia.
Ketua Tim Audit Investigasi dari BPKP Perwakilan Propinsi Sumatera Barat, Sdr. Afrizal melalui data yang ada
pada kejaksaan Simpang Empat, menelusuri dari mana asal Kendaraan Toyota Land Chruiser Prado TX Limited,
yang diadakan oleh PT. Baladewa Indonesia tersebut dan di dapat data bahwa kendaraan tersebut berasal dari
Importir Umum, PT. Multi Sentra Adikarya di Jakarta. Selanjutnya diperoleh data bahwa :
PT. Multi Sentra Adikarya, menjual Mobil Toyota Land Chruiser Prado kepada PT. DK Jaya Motor seharga Rp.
675.000.000,- (belum termasuk PPn), kemudian Dari PT. DK Jaya Motor dijual kepada PT. Kencana Utama Sakti
dengan harga Rp. 680.000.000,- (off the road) pada tanggal 18 Agustus 2010
Berdasarkan data tersebut diatas, Sdr. Afrizal selaku ketua Tim Audit BPKP Perwakilan Propinsi
Sumatera Barat dalam kasus kendaraan dinas Bupati Pasaman Barat ini menyimpulkan :
Nilai Kontrak
PPN
PPh Ps.22
Leges Daerah

Rp. 1.072.000.000,Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

951.887.273,675.000.000,276.887.273,-

97.454.545,14.618.182,8.040.000,120.112.727,-

(netto kepada rekanan)


(harga kendaraan sebenarnya) ----Menurut BPKP
(kerugian keuangan negara)---Menurut BPKP

Hasil perhitungan tersebut diatas disampaikan oleh Kepala BPKP Perwakilan Propinsi Sumatera Barat No.
SR-1422/PW03/5/2013 tanggal 3 Juni 2013 kepada Kejaksaan Negeri Simpang Empat yang kemudian dijadikan
bukti bahwasanya dalam kasus ini telah terjadi kerugian negara sebesar Rp. 276.887.273,BPKP Perwakilan Prop. Sumatera Barat dalam hal ini menghitung kerugian negara berdasarkan : netto uang yang
masuk kepada rekanan dikurangi dengan harga kendaraan Mobil Toyota Land Chruiser Prado yang pernah dijual
oleh PT. Multi Sentra Adikarya kepada PT. DK Jaya Motor seharga Rp. 675.000.000,- (belum termasuk PPn), yang
mana PT. DK Jaya Motor dalam hal ini tidak termasuk dalam rantai pengadaan kendaraan dinas Bupati Pasaman
Barat. Jika PT. Multi Sentra Adikarya menjual dengan harga Rp. 875.000.000,- kepada perusahaan lain, sehingga
selisih dengan netto kepada rekanan adalah Rp. 76.887.273,- yang manakah yang akan dijadikan dasar kerugian
negara? Rp. 276.887.273,- kah? Atau Rp. 76.887.273,-?? Apakah perhitungan kerugian negara dalam hal ini
berdasarkan harga yang pernah dijual kepada orang lain?? Dimana letak kerugian negara yang nyata dan pasti sesuai
dengan pengertian kerugian negara dalam Pasal 1 butir 22, Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara yang berbunyi : Kerugian Negara/Daerah adalah kekurangan uang, surat berharga dan
barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. Dan
juga dikemanakan aturan dalam Pasal 13 ayat (1) Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang
dan Jasa, yang mengatur bahwa untuk pengadaan barang/jasa harus menetapkan mengenai HPS.

DAFTAR ISI
KODE

URAIAN

HAL

A A. KRONOLOGIS PENGANGGARAN KENDARAAN DINAS OPERASIONAL


BUPATI DAN WAKIL BUPATI
B B. KRONOLOGIS PROSES PENGADAAN BARANG DAN JASA
C C. KRONOLOGIS PROSES PENUNJUKAN LANGSUNG (PL) TERHADAP PT.
BALADEWA INDONESIA
D D. KRONOLOGIS PROSES KONTRAK/ PELAKSANAAN
E E. KRONOLOGIS PROSES PEMERIKSAAN BARANG (KENDARAAN)
F F. KRONOLOGIS PROSES SERAH TERIMA BARANG (KENDARAAN)
G G. KRONOLOGIS PROSES PENCAIRAN DANA

10
11
12
13

H H. DOKUMENTASI ANALISA HPS TOYOTA LAND CRUISER PRADO TX LIMITED

14

I I.

ANALISA KAJIAN TENTANG DUGAAN KERUGIAN NEGARA

18

J J.

ANALISIS TANGGAPAN MENURUT TEORI PENGADAAN OLEH NANDANG


SUTISNA KASI ADVOKASI DAN PENYELESAIAN SANGGAH DI DEPUTI
BIDANG HUKUM DAN PENYELESAIAN SANGGAH PADA DIREKTORAT
ADVOKASI DAN PENYELESAIAN SANGGAH LEMBAGA KEBIJAKAN
PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH RI TERHADAP PENGADAAN
KENDARAAN DINAS BUPATI PASAMAN BARAT

24

K K. ANALISIS KAJIAN MENURUT TEORI PENGADAAN OLEH TRAINERS


PENGADAAN BARANG DAN JASA LKPP RI, Drs. BUDI HERMAWAN, M.Si.
TERHADAP PENGADAAN KENDARAAN DINAS BUPATI PASAMAN BARAT

25

L L. ANALISA UNSUR-UNSUR TINDAK PIDANA KORUPSI

27

M M. ANALISA DUGAAN TINDAK PIDANA KORUPSI YANG DISANGKAKAN


TERHADAP TERSANGKA Drs. H. HENDRI, MM.

34

N N. KRONOLOGIS PROSES PEMERIKSAAN OLEH BPK RI

39

O O. KRONOLOGIS PERMASALAHAN PENGADAAN KENDARAAN DINAS BUPATI


PASAMAN BARAT TAHUN 2010

40

P P. KRONOLOGIS PENANGKAPAN, PENAHANAN DAN PEMERIKSAAN

48

Q Q. KRONOLOGIS PRA PERADILAN 05 -24 NOVEMBER 2014

51

R R. REFERENSI MENGENAI KEUNTUNGAN

54

S S. PENGHENTIAN SEMENTARA (SKORSING) PENUNTUTAN

56

ANALISIS TERHADAP PENERAPAN PASAL 2 AYAT (1) UNDANG-UNDANG


NO. 31 TAHUN 1999 TENTANG TINDAK PIDANA KORUPSI (STUDI KASUS
PUTUSAN MAKAMAH AGUNG RI NO. 152/PK/PIDSUS/2010)

57

T. PERATURAN-PERATURAN TERKAIT KASUS PENGADAAN KENDARAAN


DINAS OPERASIONAL BUPATI PASAMAN BARAT TAHUN 2010

59

3
8

1 U. UU No. 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)

60

2 V. UU No. 11 Tahun 1994 tentang Perubahan Atas UU No. 8 Tahun 1983 tentang Pajak
Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan PPn BM

65

66

4
5
6
7

UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (perubahannya


UU No. 20 Tahun 2001).
UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan
UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara
UU No. 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan

70
70
72
72

8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

22
23

Keppres No. 31 Tahun 1983 tentang Pembentukan BPKP


Keppres No. 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi dan Kewenangan,
Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen
Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksaaan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah
Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah
PP No. 58 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Kewenangan Tugas
dan Tanggung Jawab Perawatan Tahanan
PP No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
PP No. 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah
Permendagri No. 7 Tahun 2006 tentang Standarisasi Sarana dan Prasarana Kerja
Pemerintahan Daerah
Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah
Permendagri No. 17 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah
Peraturan Jaksa Agung RI No. PER-001/A/JA/01/2008 tentang Ketentuan Pemberitaan
Melalui Media Masa
SE Dirjen Pajak No. SE-21/PJ.51/2000 tentang PPn dan PPn BM Dalam Tata Niaga
Kendaraan Bermotor
Putusan MK No. 31/PUU-X/2012 tanggal 23 Oktober 2012
Yurisprudensi Makamah Agung terkait dengan kewenangan Pejabat Administrasi
Negara dalam Putusan Mahkamah Agung tanggal 8 Januari 1966 No.42/K/66 dan
Putusan Mahkamah Agung tanggal 30 Maret 1973 No.81/K/73
Nota Kesepahaman Antara Kejaksaan, Kepolisian dan BPKP
RINGKASAN ADMINISTRASI

73
73
74
78
79
79
79
80
81
81
82
82
82
83

83
84

K R O NO LO GI S
PROSES PENGADAAN KENDARAAN DINAS BUPATI PASAMAN BARAT
TOYOTA LAND CRUISER PRADO TX-LIMITED
TAHUN ANGGARAN 2010

Dasar
: DPPA Sekretariat Daerah Tahun 2010
Nomor
: 1.20.03.01.02.05.5.2
Pagu Anggaran
: Rp. 1.400.000.000,00
KPA
: Drs. H. HENDRI, MM. (Kabag. Umum Tahun 2010)
PPTK
: H. ERIZAL M, A.Md. (Kasubag Perlengkapan Bagian Umum Tahun 2010)
Pelaksana
: PT. Baladewa Indonesia, Direktur. Vitarman B.Ac.
Kepala ULP
: Agusmar, ST.
Panitia Pengadaan Barang/ Jasa, Panitia I ULP yang terdiri dari :
1. Bendri, S. Kom.
: Ketua
2. Drs. Inderayani
: Sekretaris
3. Imter Pedri, S.Pd.
: Anggota
4. Tona Amanda, SE.
: Anggota
5. Winardi Lubis, A.Md.
: Anggota
Panitia Pemeriksa Barang
:
1. Amrianto, SH.
: Ketua
2. Bobi P. Riza AP, M.Si. : Sekretaris
3. Setia Bakti, SH.
: Anggota
4. Drs. Sakirman
: Anggota
5. Roni HEP, S.Hut.
: Anggota
Kuasa BUD
: Hj. Celly Devilia Putri, SE. Akt.
Pengguna Anggaran
: Hermanto, SH.
Bendahara Pengeluaran
: Harisantoni
Bendahara Pembantu
: Fima Al Amin
PPKD selaku BUD
: Hj. Evita Murni, SE.
Pejabat Penatausahaan Keuangan (PPK) : Zetrineldi
Asisten III
: Ir. Zalmi N.
Kabag. Administrasi Pemb.
: Aliman Afni, SH.
Pemeriksa kelengkapan Adm : Asril , SE.
untuk pencairan dana
Kuasa Hukum
: 1. Risman Siranggi, SH.

A. KRONOLOGIS PENGANGGARAN KENDARAAN DINAS OPERASIONAL BUPATI DAN


WAKIL BUPATI
1.

Pada tanggal 29 Agustus 2010, Bupati dan Wakil Bupati Pasaman Barat terpilih perionde 2010-2015
dilantik oleh Gubernur Propinsi Sumatera Barat.

2.

Setelah pelantikan Bupati dan Wakil Bupati tersebut, berdasarkan Pasal 14 ayat (1) Permendagri No. 7
Tahun 2006 tentang Standarisasi Sarana dan Prasarana Kerja Pemerintahan Daerah, maka untuk pejabat
negara disediakan kendaraan perorangan dinas untuk menjalankan dan menunjang tugas-tugasnya selaku
pejabat negara. Pada saat itu, kendaraan dinas yang ada (kendaraan dinas pada masa Bupati/ Wakil Bupati
periode sebelumnya) dalam kondisi yang sudah berumur 5 tahun dan sudah sepantasnya dilakukan
penggantian dengan mengganggarkan kembali kendaraan dinas yang baru. Didalam Permendagri tersebut,
diatur kendaraan dinas untuk Bupati, memiliki kapasitas/isi silinder maksimalnya adalah 1 (satu) unit
sedan ukuran 2500 cc dan 1 (satu) unit jeep ukuran 3200 cc, sedangkan untuk wakil bupati kapasitas/ isi
silinder maksimalnya adalah 1 (satu) unit sedan ukuran 2200 cc dan 1 (satu) unit jeep ukuran 2500 cc.

3.

Kepala Bagian Umum Sekretariat Daerah selaku penanggung jawab kegiatan operasional rumah tangga
Sekretariat Daerah yang termasuk di dalamnya adalah Bupati dan Wakil Bupati, menganggarkan
Pengadaan Kendaraan Dinas Operasional Bupati/ Wakil Bupati yang baru dengan menuangkannya
kedalam Rencana Kegiatan Anggaran Perubahan (RKA-P) Bagian Umum Sekretariat Daerah senilai Rp.
1.400.000.000 (satu milyar empat ratus juta rupiah). Dana ini merupakan dana pengalihan dari rencana
pada APBD TA 2010 yang semula direncanakan untuk pengadaan 7 (tujuh) unit minibus dengan pagu
dana 1.400.000.000 (satu milyar empat ratus juta rupiah) yang diperuntukkan untuk para kepala bagian di
Sekretariat Daerah Kab. Pasaman Barat. Penganggaran ini dilakukan oleh sdr. Afrizal Azhar yang pada
saat itu menjabat sebagai Kabag. Umum Sekretariat Daerah. Baru pada tanggal 29 September 2010 saya
diangkat dan dilantik menjadi Kabag. Umum Sekretariat Daerah Kab. Pasaman Barat menggantikan sdr.
Afrizal Azhar, berdasarkan SK Bupati Pasaman Barat No. 821/42/BUP-PASBAR/2010 tanggal 29
September 2010.

4.

Pada bulan September hingga minggu pertama Oktober 2010 dilakukan Pembahasan Anggaran Perubahan
dimana penganggaran Pengadaan Kendaraan Dinas Operasional Bupati/ Wakil Bupati tersebut disetujui
oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dan Badan Anggaran (anggar) DPRD Kab. Pasaman
Barat dan disahkan melalui Rapat Paripurna DPRD Pasaman Barat tentang Penetapan APBD Perubahan
Kab. Pasaman Barat Tahun Anggaran 2010.
Setelah Sidang Paripurna DPRD tersebut, APBD Perubahan Kab. Pasaman Barat TA 2010 tersebut
dilakukan verifikasi oleh Gubernur Sumatera Barat sampai akhirnya baru diundangkan dalam Lembaran
Daerah Kab. Pasaman Barat pada tanggal 4 November 2010. Untuk itu, yang menjadi dasar pelaksanaan
kegiatan Pengadaan Kendaraan Dinas Operasional Bupati/Wakil Bupati Pasaman Barat adalah
DPPA (Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran) Sekretariat Daerah Kab. Pasaman Barat
Nomor 1.20.03.01.02.05.5.2 tanggal 4 Nopember 2010.

B. KRONOLOGIS PROSES PENGADAAN BARANG DAN JASA


1.

Pada tanggal 6 Oktober 2010, saya di angkat menjadi Kuasa Pengguna Anggaran Bagian Umum Sekretariat
Daerah Kab. Pasaman Barat berdasarkan SK Bupati Pasaman Barat No. 188.45/489/Bup.Pasbar/2010
tanggal 6 Oktober 2010 Tentang Perobahan Penunjukan Pengelola Anggaran Satuan Kerja Sekretariat
Daerah Kabupaten Pasaman Barat TA 2010 (KPA).

2.

Berdasarkan SK tersebut, saya mulai melaksanakan tugas dan wewenang saya selaku KPA yang ex officio
melekat sebagai pengguna barang/jasa. Pada Tahun 2010 tersebut, aturan yang berlaku untuk pengadaan
barang/jasa pemerintah adalah Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
dimana dalam Pasal 3 diatur Pengadaan Barang / Jasa menerapkan prinsip-prinsip sebagai berikut
a) efesien;
b) efektif;
c) terbuka dan bersaing;
d) transparan;
e) adil/tidak diskriminatif;
f) akuntabel.
Tugas dan wewenang saya selaku KPA yang ex officio melekat sebagai pengguna barang/jasa sebagaimana
tercantum dalam Pasal 9 ayat (3) Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah, adalah sebagai berikut :
a) menyusun perencanaan pengadaan barang/jasa;
b) mengangkat panitia/pejabat pengadaan barang/jasa;
c) menetapkan paket-paket pekerjaan disertai ketentuan mengenai peningkatan penggunaan produksi
dalam negeri dan peningkatan pemberian kesempatan bagi usaha kecil termasuk koperasi kecil, serta
kelompok masyarakat;
d) menetapkan dan mengesahkan harga perkiraan sendiri (HPS), jadwal, tata cara pelaksanaan
dan lokasi pengadaan yang disusun panitia pengadaan;
e) menetapkan dan
kewenangannya;

mengesahkan

hasil

pengadaan

panitia/pejabat

pengadaan

sesuai

f) menetapkan besaran uang muka yang menjadi hak penyedia barang/jasa sesuai ketentuan yang berlaku;
g) menyiapkan dan melaksanakan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedia barang/jasa;
h) melaporkan pelaksanaan/penyelesaian pengadaan barang/jasa kepada pimpinan instansinya;
i) mengendalikan pelaksanaan perjanjian/kontrak;
j) menyerahkan aset hasil pengadaan barang/ jasa dan aset lainnya kepada Menteri/ Panglima TNI /Kepala
Polri/ Pemimpin Lembaga/ Gubernur/ Bupati/ Walikota/Direksi BI/ Pemimpin BUMN/ Direksi BUMN/
BUMD dengan berita acara penyerahan;
k) menandatangani pakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa dimulai.
Dalam rangka menjalankan tugas saya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (4) poin a) menyusun
perencanaan pengadaan barang/jasa, maka pada tanggal 1316 Oktober 2010, Bupati Pasaman Barat
memerintahkan KPA (Drs. Hendri, MM.) dan staf bagian umum (Hendri Fiterson, A.Md.) untuk melakukan
survey harga kendaraan ke Jakarta dalam rangka mengetahui harga pasar dan spesifikasi kendaraan yang
dimaksud dengan Surat Perintah Tugas Nomor. 090/4721/SPT/BUP-PASBAR-2010 tanggal 12 Oktober
2010. Survey harga juga dilaksanakan pada showroom-showroom kendaraan yang berada di kota Padang.
3.

Sepulang dari melakukan survey harga, saya Drs. Hendri, MM. selaku Kabag Umum (KPA) menyerahkan
Spesifikasi kendaraan dinas Bupati dan Wakil Bupati kepada Panitia I Pengadaan Barang ULP untuk
selanjutnya dilakukan proses pelelangan melalui surat Nomor : 027/8010/Umum/2010, tertanggal 15
Oktober 2010.

4.

Panitia I ULP yang diketuai oleh Bendri, S. Kom. menyusun HPS. Dimana berdasarkan Keppres No. 80
Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, diatur tentang
Mekanisme Penyusunan HPS yakni :
3

Pada Penjelasan Pasal 13 ayat (1) bahwasanya data yang digunakan sebagai dasar penyusunan HPS
antara lain adalah :
a. Harga pasar setempat menjelang dilaksanakannya pengadaan;
b. Informasi biaya satuan yang dipublikasikan secara resmi oleh Badan Pusat Statistik (BPS), asosiasi
terkait dan sumber data lain yang dapat dipertanggungjawabkan;
c. Daftar biaya/tarif barang/jasa yang dikeluarkan oleh agen tunggal/ pabrikan;
d. Biaya kontrak sebelumnya yang sedang berjalan dengan mempertimbangkan faktor perubahan
biaya, apabila terjadi perubahan biaya;
e. Daftar biaya standar yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang.
Pada Pasal 13 ayat (3) diatur bahwa HPS digunakan sebagai alat untuk menilai kewajaran harga
penawaran termasuk rinciannya dan untuk menetapkan besaran tambahan nilai jaminan pelaksanaan
bagi penawaran yang dinilai terlalu rendah, tetapi tidak dapat dijadikan dasar untuk menggugurkan
penawaran.
Harga harus dihitung dengan membandingkan harga dalam kontrak terhadap harga pasar yang akurat
untuk barang/jasa yang sama dengan waktu dan tempat yang sama (apple to apple).
Lampiran I Bab I Huruf E angka 2 diatur bahwa HPS telah memperhitungkan :
a. PPN
b. Biaya Umum dan Keuntungan (Overheadcost and Profit) yang wajar bagi penyedia barang/jasa.
Survey harga pada Intercom, dengan hasil sebagai berikut :

Penawaran

Type Prado TX
875.000.000
On The Road Padang

Type Fortuner V 4x4


Keterangan
445.000.000
Tidak sesuai dengan spek yang diminta karena Prado
Type TX Limited tidak ada stok, maka dilakukan survey
harga di tempat lain

Kemudian HPS yang disusun oleh Panitia I ULP yang diketuai oleh Bendri, S.Kom. ditetapkan oleh KPA
sesuai dengan tugas pokoknya menurut Pasal 9 ayat (4) Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, kemudian menetapkan dan mengesahkan usulan HPS
dari Panitia tersebut pada tanggal 29 Oktober 2010.
Toyota Prado TX Limited
Toyota Fortuner V Matic 4x4 Bensin
Total

: Rp. 923.000.000,00
: Rp. 471.600.000,00
: Rp. 1.394.600.000,00

5.

Pada tanggal 1 November 2010, Panitia I ULP mengumumkan Pelelangan Umum Pada Portal Nasional
LKPP, Koran Tempo Nomor : 15/PL/ULP-PASBAR/2010 paket kegiatan pengadaan kendaraan dinas
Bupati dan Wakil Bupati Pasaman Barat dengan pagu anggaran Rp. 1.400.000.000, dimana waktu
pendaftaran mulai dari 1 s.d 9 November 2010.

6.

Pada tanggal 10 November 2010, Ketua Panitia I ULP memberikan laporannya kepada KPA melalui
suratnya Nomor : 14.4/ULP.B1/LHP/1/PASBAR-2010 tanggal 10 November 2010 yang isinya bahwa
sampai pada batas akhir pendaftaran, tanggal 9 November 2010 tidak ada satupun penyedia barang/jasa
yang melakukan pendaftaran sehingga pelelangan dinyatakan gagal.

7.

Berdasarkan surat laporan Ketua Panitia I ULP tersebut di atas, saya melaporkan langsung secara lisan hal
ini kepada Asisten Administrasi. Pada saat itu juga Asisten Administrasi langsung mengajukan Telahaan
Staf Kepada Bupati tertanggal 10 November 2010 perihal Tindak Lanjut Pengadaan Rannas KDH TA 2010
yang berisikan :
Tender I yang dilaksanakan sampai pada batas akhir pendaftaran, tanggal 9 November 2010 tidak ada
satupun penyedia barang/jasa yang memasukkan penawaran sehingga pelelangan dinyatakan gagal.
Hasil Evaluasi Tim Panitia I ULP dengan KPA menemukan penyebab tidak adanya penyedia
barang/jasa yang mendaftar adalah karena harga Toyota Prado TX Limited dan Toyota Fortuner Type V
Matic 4x4 Bensin, tidak mencukupi dengan pagu dana yang tersedia.

Tim Panitia I ULP akan mengumumkan tender untuk kedua kalinya dengan perubahan spesifikasi Prado
Type TX Limited menjadi Prado Type TX dan Fortuner Type V Matic 4x4 Bensin menjadi Type G
Luxury 4x2 Bensin
Disposisi Sekda tgl. 10/11/10 : Mohon persetujuan Bapak sesuai saran.
Disposisi Wabup tgl. 10 Nop 2010 : Berhubung dana kita belum cukup dan medan kita wilayah
bergunung perlu kendaraan 4x4, cukup kendaraan Bupati saja dulu. Wabup tahun 2011 kita
anggarkan lagi.
Disposisi Bupati tgl. 10 Nop 2011 : SEKDA, SETUJU SARAN WABUP.
Kemudian tgl 11 Nop 2011, Bupati menambahkan "Limited" pada saran Prado Type TX yang diajukan
pada TS.
8.

Berdasarkan Telaahan Staf Asisten III tersebut di atas, kemudian KPA melalui surat Nomor :
027/216/KPA-Umum/2010 tanggal
November 2010 kepada Panitia I ULP, menetapkan pelelangan
gagal terhadap pengadaan kendaraan dinas operasional Bupati dan Wakil Bupati Pasaman Barat dan
meminta Panitia I ULP untuk melakukan pelelangan ulang sesuai disposisi Bupati dan Wakil Bupati yang
tertera pada Telaahan Staf Asisten Bidang Administrasi tanggal 10 November 2010. Hal ini sesuai dengan
Keppres No. 80 Tahun 2003 Lampiran I Bab II huruf A angka 1 huruf m angka 2) huruf a) diatur bahwa
pelelangan gagal karena penyedia barang/jasa yang tercantum dalam daftar calon peserta lelang kurang
dari 3 (tiga); dan atau penawaran yang masuk kurang dari 3 (tiga), dan/atau sanggahan dari peserta lelang
atas kesalahan prosedur yang tercantum dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa ternyata benar,
dilakukan pelelangan ulang, dengan cara mengumumkan kembali dan mengundang calon peserta lelang
yang telah masuk dalam daftar calon peserta lelang.

9.

Panitia I ULP menyusun Harga Perkiraan Sendiri (HPS) untuk kendaraan dinas operasional Bupati
Pasaman Barat 1 unit dengan harga :
Survey harga pada Intercom, dengan hasil sebagai berikut :

Penawaran

Type Prado TX
875.000.000
On The Road Padang

Type Fortuner V 4x4


Keterangan
445.000.000
Tidak sesuai dengan spek yang diminta karena Prado
Type TX Limited tidak ada stok, maka dilakukan survey
harga di tempat lain

survey harga dilanjutkan pada Makna Motor, Terminal Motor dan Suchi Motor dengan hasil sebagai
berikut :

Penawaran

Makna Motor
925.000.000
On The Road Padang

Terminal Motor
920.000.000
On The Road DKI

Suchi Motor
980.000.000
On The Road DKI

Keterangan
Sesuai
dengan spek

Harga rata-rata merupakan harga rata- rata dari ketiga tawaran tersebut di atas. Harga rata-rata dijadikan
harga pasar yang merupakan harga satuan dalam perhitungan HPS.
Harga rata-rata
: 941.600.000,Overhead cost & profit = 3,78%
: 35.620.000,- (perkiraan 3,78 %)
: 977.220.000,PPN 10 %
: 97.722.000,Jumlah
: 1.074.942.000,Dibulatkan
: 1.074.900.000,HPS didapat
: 1.074.900.000,KPA sesuai dengan tugas pokoknya menurut Pasal 9 ayat (4) Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang
Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah, kemudian menetapkan dan mengesahkan
usulan HPS dari Panitia tersebut pada tanggal 10 November 2010 sebesar Rp. 1.074.900.000 (satu
milyar tujuh puluh empat juta sembilan ratus ribu rupiah).
10. Pada tanggal 11 November 2010, Panitia I ULP mengumumkan Pelelangan Umum Ulang pada Portal
Nasional LKPP Koran Tempo Nomor : 19/PL/ULP-PASBAR/2010, paket kegiatan pengadaan kendaraan
dinas Bupati dan Wakil Bupati Pasaman Barat dengan waktu pendaftaran mulai dari 11 s.d 22 November
2010.
11. Pada tanggal 23 November 2010, Ketua Panitia I ULP memberikan laporannya kepada KPA melalui
5

suratnya Nomor : 14U.4/ULP.B1/LHPU/1/PASBAR-2010, tanggal 23 November 2010 yang isinya bahwa


sampai pada batas akhir pendaftaran, tanggal 22 November 2010 kembali tidak ada satupun penyedia
barang/jasa yang melakukan pendaftaran, sehingga pelelangan ulang ini dinyatakan gagal.
12. KPA melalui surat Nomor : 027/217/KPA-Umum/2010 tanggal 23 November 2010 kepada Panitia I ULP,
menetapkan pelelangan ulang gagal terhadap pengadaan kendaraan dinas operasional Bupati dan Wakil
Bupati Pasaman Barat.
13. Berdasarkan surat laporan Ketua Panitia I ULP Nomor : 14U.4/ULP.B1/LHPU/1/PASBAR-2010 tanggal
23 November 2010 tersebut pada poin 11, saya melaporkan langsung secara lisan hal ini kepada Asisten
Administrasi. Pada saat itu juga Asisten Administrasi langsung mengajukan Telahaan Staf Kepada Bupati
tertanggal 24 November 2010 perihal Tindak Lanjut Pengadaan Kendaraan Dinas Bupati dan Wakil Bupati
TA 2010 yang berisikan :
Proses lelang ulang Rannas Bupati dan Wabup gagal karena tidak ada penyedia jasa yang melakukan
pendaftaran meskipun jumlah rannas yang diadakan hanya 1 (satu) unit untuk Bupati saja sesuai
disposisi Wabup dan persetujuan Bupati pada Telaahan Staf tanggal 10 Nopember 2010.
Pengadaan Rannas Bupati dan Wabup dilaksanakan tetap hanya untuk Bupati saja dengan type Prado
TX Limited.
Proses pengadaan kendaraan dinas bupati sebagaimana dimaksud di atas tetap akan dilakukan sesuai
dengan Keppres No. 80 Tahun 2003.
Disposisi Bupati tgl. 24 Nopember 2010 : SETUJU DILAKSANAKAN.
14. Pada tanggal 24 Nopember 2010, Kabag Umum selaku KPA, menyurati Ketua Panitia I ULP, melalui surat
Nomor : 027/ /KPA/Umum/2010 Perihal Proses Lanjutan Pengadaan Rannas untuk :
Agar melakukan proses lanjutan paket pekerjaan pengadaan rannas Bupati dan Wabup pada kegiatan
Pengadaan Rannas/Operasional.
Kiranya dapat memproses lanjutan pengadaan dimaksud dengan berpedoman pada Keppres No. 80
Tahun 2003 serta perubahannya.
15. HPS untuk satu unit kendaraan dinas operasional Bupati yaitu Rp. 1.074.900.000,00 (termasuk pajak)
serta penunjukan langsung selanjutnya diproses oleh Panitia I Pengadaan Barang ULP terhadap PT.
Baladewa Indonesia. PL kepada PT. Baladewa ini pun setelah Panitia 1 ULP dan KPA menghubungi
beberapa rekanan Penyedia Barang/Jasa kendaraan bermotor yang ada di Padang dan semuanya menolak
karena melihat margin keuntungan yang sangat tipis. Hanya satu perusahaan CV. Makna Motor yang
bersedia, tapi CV. Makna Motor malah GUGUR pada waktu Panitia melakukan Evaluasi Pascakualifikasi,
karena perizinan yang dimiliki oleh CV. Makna Motor berkualifikasi KECIL.
Pada awal Bulan Desember 2010, di saat-saat terakhir Tahun Anggaran akan berakhir, barulah kami
mendapat informasi dari CV. Makna Motor, bahwa PT. Baladewa Indonesia bersedia untuk ikut proses
PL Pengadaan Kendaraan Dinas Bupati Pasaman Barat ini. Dan ternyata setelah dilakukan verifikasi
Evaluasi Pascakualifikasi oleh Panitia I Pengadaan ULP, PT. Baladewa Indonesia memenuhi syarat untuk
mengikuti proses PL pengadaan kendaraan dinas tersebut. Hal ini membuktikan bahwa tidak benar proses
pengadaan kendaraan ini hanyalah rekayasa dan hanya untuk memenuhi persyaratan formalitas saja.
Pelelangan secara umum pada media koran nasional tidak mungkin untuk ditutup-tutupi. Seandainya
memang margin keuntungan dari HPS yang diberikan, seperti yang menjadi temuan dalam kerugian
negara yang dinyatakan oleh BPKP dan disampaikan oleh Kajari Simpang Empat melalui media massa
adalah sebesar Rp. 276.887.273,- tentu perusahaan-perusahaan yang bergerak dibidang penyediaan
barang/jasa pengadaan kendaraan bermotor, baik nasional maupun lokal, akan berduyun-duyun datang
memenuhi undangan ULP Kab. Pasaman Barat tersebut. Tetapi kenyataannya adalah terbalik dari logika
adanya penggelembungan HPS tersebut.
Bahkan setelah proses pengadaan ini dipermudah untuk menyeimbangkan antara tingkat kebutuhan kita si
pengguna barang akan adanya kendaraan dinas Bupati Pasaman Barat dengan fasilitas dan kemudahan
bagi Penyedia Jasa dalam proses pengadaan, yang gunanya adalah untuk meningkatkan dan menarik
minat dan kemauan penyedia jasa, dengan cara Panitia mengadakan proses Penunjukan Langsung, tetap
saja penyedia jasa yang kami hubungi keberatan dan menolak dengan tawaran yang diajukan.
16. Dalam kondisi yang sudah sangat mepet dengan waktu tersebutpun, karena sudah berada pada minggu
pertama bulan Desember yang berakhirnya siklus Tahun Anggaran, satu-satunya perusahaan yang
bersedia, yaitu CV. Makna Motor, itupun digugurkan oleh Panitia I Pengadaan Barang ULP karena tidak
memenuhi persyaratan kualifikasi perusahaan. Artinya, sampai saat kondisi yang sudah sangat genting
tersebut, Panitia I Pengadaan Barang ULP tetap konsisten dan eksis memproses pengadaan kendaraan ini
6

menurut aturan dan ketentuan yang diatur dalam Keppres No. 80 Tahun 2003. Dan inipun tidak bisa
dibantah ataupun dipaksakan oleh kami selaku KPA untuk mengintervensi keputusan Panitia tersebut.
Artinya, Panitia I Pengadaan Barang ULP yang berjumlah 5 (lima) orang, bekerja dengan profesional dan
lepas dari intervensi dan tekanan dari pihak manapun, apakah itu KPA (Kabag Umum), PA (Sekretaris
Daerah) apalagi Bupati.

C. KRONOLOGIS PROSES PENUNJUKAN LANGSUNG (PL) TERHADAP PT.


BALADEWA INDONESIA
1.

Setelah melalui pelelangan umum dua kali lelang tapi tetap gagal maka proses selanjutnya dilakukan
dengan mekanisme Penunjukan Langsung. Dimana hal ini juga di atur dalam Keppres No. 80 Tahun 2003
tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah :
a.

b.

2.

Lampiran I bab II huruf A angka 1 huruf m angka 2) huruf e) diatur bahwa apabila dalam
pelelangan ulang pesertanya kurang dari 3 (tiga) maka : (1) Dalam hal peserta lelang yang memenuhi
syarat hanya 2 (dua), maka proses pemilihan dilanjutkan seperti pada proses pemilihan langsung; (2)
Dalam hal peserta lelang yang memenuhi syarat hanya 1 (satu), maka proses pemilihan dilanjutkan
seperti pada proses penunjukan langsung.
Pasal 17 ayat (5) diatur bahwa dalam keadaan tertentu dan keadaan khusus, pemilihan penyedia
barang/jasa dapat dilakukan dengan cara penunjukan langsung terhadap 1 (satu) penyedia barang/jasa
dengan cara melakukan negoisasi baik teknis maupun biaya sehingga diperoleh harga yang wajar dan
secara teknis dapat dipertanggungjawabkan. Walau ini dilanggar tetapi sejauh tidak merugikan
keuangan Negara maka tidak termasuk dalam tindakan pidana korupsi.

Panitia mengundang PT. Baladewa Indonesia untuk mengikuti proses Pascakualifikasi paket kegiatan
pengadaan kendaraan dinas operasional Bupati Pasaman Barat sesuai surat Nomor :
14PL.2/ULP.B1/Und/1/PASBAR-2010 tanggal 1 Desember 2010.
Pada tanggal 2 Desember 2010 PT. Baladewa Indonesia melakukan Pendaftaran dan pengambilan dokumen
pascakualifikasi PBJ Metode PL.

3.

Panitia melakukan evaluasi dan hasilnya disampaikan kepada KPA melalui Surat Usulan Penetapan Calon
Penyedia Barang Lulus Pascakualifikasi Nomor : 14PL.4/ULP.B1/UPCPLP/1/PASBAR-2010 tanggal 3
Desember 2010, berdasarkan Berita Acara Hasil Evaluasi Pascakualifikasi dan Lampirannya Nomor:
14PL.3/ULP.B1/BAHEP/I/PASBAR-2010 tanggal 3 Desember 2010 yang ditandatangani oleh lima orang
Panitia I ULP.

4.

Berdasarkan surat Panitia I ULP pada poin 4 tersebut di atas, KPA kemudian menetapkan calon penyedia
barang yang lulus pascakualifikasi melalui Surat Penetapan Calon Penyedia Barang Lulus Pascakualifikasi
Nomor : 027/218/KPA-Umum/2010 tanggal 3 Desember 2010.

5.

Panitia I ULP mengundang PT. Baladewa Indonesia untuk melakukan aanwijzing pada tanggal 6
Desember 2010 melalui surat undangan Nomor : 14PL.5/ULP.B1/UA/1/PASBAR-2010 tanggal 3
Desember 2010.

6.

Aanwijzing berlangsung pada tanggal 6 Desember 2010 yang hasil/ kesimpulannya tertuang dalam Berita
Acara Aanwijzing Nomor : 14PL.6/ULP.B1/BAPPA/1/PASBAR-2010 tanggal 6 Desember 2010 yang
ditandatangai bersama, PT. Baladewa Indonesia dengan Panitia I ULP, KPA dan PPTK.

7.

Pada tanggal 8 Desember 2010, PT. Baladewa Indonesia memasukkan dokumen penawarannya dan pada
hari itu langsung dilakukan pembukaan penawaran dimana harga tawaran dari PT. Baladewa Indonesia
adalah Rp. 1.072.500.000 dan hal ini dituangkan dalam Berita Acara Pembukaan Penawaran Nomor :
14PL.7/ULP.B1/BAPP/1/PASBAR-2010 tanggal 8 Desember 2010 yang ditandatangani bersama, PT.
Baladewa Indonesia dengan Panitia I ULP, KPA dan PPTK.

8.

Kemudian Panitia I ULP melakukan koreksi aritmatik dan evaluasi terhadap dokumen penawaran PT.
Baladewa Indonesia dengan hasil evaluasi tertuang dalam Berita Acara Hasil Evaluasi Nomor :
14PL.8/ULP.B1/BAHE/1/PASBAR-2010 tanggal 9 Desember 2010.

9.

Pada tanggal 10 November 2010 dilakukan Negosiasi Teknis dan Harga dengan PT. Baladewa Indonesia
sehingga nilai menjadi Rp. 1.072.000.000 yang dituangkan dalam Berita Acara Negosiasi dan Harga
Nomor : 14PL.9/ULP.B1/BANTH/1/PASBAR-2010 tanggal 10 Desember 2010.

10. Panitia I ULP mengajukan Usulan Penetapan Pemenang PL kepada KPA dengan surat Nomor :
14PL.10/ULP.B1/UPPPL/1/PASBAR-2010 tanggal 10 Desember 2010.
11. KPA menetapkan pemenang PL atas nama PT. Baladewa Indonesia dengan Harga Negosiasi Rp. 1.
072.000.000, melalui surat Nomor : 027/219/KPA-Umum/2010 tanggal 10 Desember 2010.
12. KPA mengeluarkan Surat Penunjukan Penyedia Barang dan Jasa (SPPBJ) terhadap PT. Baladewa
Indonesia dengan Nomor : 027/176/SP/2010 tanggal 13 Desember 2010.
13. Pada tanggal yang sama, 13 Desember 2010, KPA juga mengeluarkan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK)
8

kepada PT. Baladewa Indonesia dengan Nomor : 027/170/SPMK/KPA-Umum/2010 tanggal 13 Desember


2010.
14. Dalam hal telah dilakukan pelelangan dan dua kali pelelangan gagal, berdasar pasal 84 ayat (5) Perpres
No. 54 Tahun 2010, PA dapat memerintahkan dilakukan penunjukan ke dealer dengan klarifikasi dan
negosiasi kewajaran harga. Hal inilah yang terjadi pada pengadaan kendaraan dinas Bupati Pasaman Barat
Tahun 2010. Untuk diketahui bahwasanya kendaraan Prado TX Limited 2700 cc tidak ada dalam catalog
harga GSO (Government Sales Operation) Kendaraan pada ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merk)
Toyota.

D. KRONOLOGIS PROSES KONTRAK/ PELAKSANAAN


1.

Pada hari senin tanggal 13 Desember 2010, bertempat di Sekretariat Daerah Kab. Pasaman Barat, telah
dilakukan sebuah kesepakatan perjanjian (kontrak) antara Drs. Hendri, MM. selaku Kuasa Pengguna
Anggaran Bagian Umum Setda Pasaman Barat sebagai Pihak I dengan Vitarman, B.Ac. selaku Direktur PT.
Baladewa Indonesia sebagai Pihak II untuk melaksanakan pekerjaan Pengadaan Kendaraan Dinas Bupati
dan Wakil Bupati Tahun 2010 sebagai berikut :
Pelaksana
: PT. Baladewa Indonesia
Alamat
: Jl. Parak Pisang No. 15 Kel. Gantiang Parak Gadang Kec. Padang Timur
No. Kontrak
: 027/480/Kontrak-Peng/Umum 2010
Tanggal
: 13 Desember 2010
Nilai Kontrak : Rp. 1.072.000.000,00
Waktu
: 10 (sepuluh hari) kalender
Spesifikasi
: Toyota Prado 2.7L TX-L (spesifikasi berikut ini)
1. Type Mesin
: 2.7L 2TR-FE DOHC
2. Isi silinder
: 2693 cc
3. Torsi Maksimum
: 246 Nm/ 3.800 rpm
4. Daya maksimum
: 120 kW (163 PS)/ 5.200 rpm
5. Fuel Consumtion
: 8.8 km/ L
6. Panjang
: 4.820 mm
7. Lebar
: 1.880 mm
8. Tinggi
: 1.890 mm
9. 265/60R 17 inch alloy wheel
10. Torque sensor type LSD (Limited Slip Def) with transfer level
11. Spare tire under the floor
12. Opitiron meter with bright control
13. 8 seater
14. Jok Kulit
15. Electric Seat pada kursi sopir interior black
16. 1 TV + 1 Camera (pasangan)
17. Reclining Seat
18. 8 Speaker
19. Sunroof
20. Xenon Lamp
21. Engine Start Botton
22. ABS
23. Automatic Seat
24. Roof Real
25. Foot Step
26. Sent Lamp+Electric Mirror
27. Styling Package
28. Kaca Film Perfection/ 3M
29. Karpet
30. Air Bag
31. Parking Sensor
32. Central Lock
33. Tool Set
34. VR 17

2.

Setelah dilakukan penandatanganan kontrak pada tanggal 13 Desember 2010, selanjutnya PT. Baladewa
Indonesia melaksanakan tugasnya sesuai dengan yang telah disepakati di dalam kontrak untuk pengadaan
kendaraan dinas operasional Bupati Pasaman Barat berupa Toyota Prado 2.7L TX-L sampai batas akhir
kontrak pada tanggal 23 Desember 2010.

3.

Di dalam pelaksanaan pekerjaannya, tanpa sepengetahuan dan diluar tanggung jawab saya selaku Kuasa
Pengguna Anggaran, ternyata PT. Baladewa Indonesia bekerja sama dengan Sdr. Arifin A, Direktur CV.
Makna Motor yang beralamat di Jl. A.R. Hakim No. 63 Padang untuk pengadaan Toyota Prado 2.7L TX-L
(kendaraan dinas operasioanl dinas Bupati Pasaman Barat).
Kerja sama mereka ini baru saya ketahui pada pertengahan tahun 2011, ketika adanya pemeriksaan oleh
Kejaksaan Negeri Simpang Empat terkait kasus Pengadaan Kendaraan Dinas Bupati Pasaman Barat Tahun
2010.
10

E. KRONOLOGIS PROSES PEMERIKSAAN BARANG (KENDARAAN)


1.

Pada tanggal 20 Desember 2010, Kendaraan Toyota Prado 2.7L TX-L untuk Kendaraan Dinas Operasional
Bupati Pasaman Barat sampai di Simpang Ampek.

2.

Pada saat itu juga tanggal 20 Desember 2010 langsung dilakukan pemeriksaan kendaraan oleh Panitia
Pemeriksa Barang yang diangkat berdasarkan Surat Keputusan Bupati Pasaman Barat Nomor
188.45/248/BUP-PASBAR/2010 tanggal 14 April 2010 yang terdiri dari :
1) Amrianto, SH. (Ketua),
2) Bobi P. Riza AP, M.Si. (Sekretaris),
3) Setia Bakti, SH. (Anggota),
4) Drs. Sakirman (Anggota),
5) Roni HEP, S.Hut. (Anggota)

3.

Hasil pemeriksaan oleh panita pemeriksa barang tersebut dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan
Barang Nomor 027/267/BAPB/SETDA/2010 tanggal 20 Desember 2010 yang ditandatangani oleh seluruh
Panitia Pemeriksa Barang (5 orang) dan Direktur PT. Baladewa Indonesia dengan kesimpulan bahwa
Panitia Pemeriksa Barang telah memeriksa dengan teliti hasil pekerjaan Pengadaan Kendaraan Dinas
Bupati dan Wakil Bupati sebanyak 1 (satu) unit yang dilaksanakan oleh PT Baladewa Indonesia, alamat Jl.
Parak Pisang No. 15 Kel. Gantiang Parak Gadang Kec. Padang Timur dengan kualitas pekerjaan baik,
baru dan sesuai dengan Spesifikasi pada Surat Perjanjian Kerja (kontrak) Nomor :
027/480/Kontrak-Peng/Umum 2010 tanggal 13 Desember 2010.
Keterangan

: Dalam proses pemeriksaan barang inipun kami selaku KPA tidak ikut serta melakukan
pemeriksaan karena bukan bagian dari tugas kami selaku KPA. Namun demikian, kami juga
ikut hadir beberapa saat karena mendampingi petugas BPK RI yang melihat secara
langsung pada waktu pemeriksaan dilakukan. Pemeriksaan dilakukan dengan cermat, teliti
dan tidak ada unsur rekayasa ataupun pesanan, intimidasi atau ancaman dan perintah
kepada Panitia Pemeriksa dari pihak manapun. Apalagi pada waktu proses pemeriksaan
tersebut, juga disaksikan dan diikuti oleh pejabat dari BPK RI yang saat itu tengah
melakukan pemeriksaan di Sekretariat Daerah. Dan hasil pemeriksaan oleh Panitia
Pemeriksa tersebut kemudian dibuatkan BAP nya dan ditandatangani oleh seluruh Panitia
Pemeriksa sebagaimana BAP yang disebutkan diatas.

11

F. KRONOLOGIS PROSES SERAH TERIMA BARANG (KENDARAAN)


1.

Setelah dilakukan pemeriksaan barang terhadap kendaraan dinas operasional Bupati Pasaman Barat oleh
Pantia Pemeriksa Barang sebagaimana Berita Acara Pemeriksaan Barang Nomor :
027/267/BAPB/SETDA/2010 tanggal 20 Desember 2010, pada hari itu juga, tanggal 20 Desember 2010,
langsung dilakukan serah terima barang (kendaraan).

2.

Penyedia jasa, PT. Baladewa Indonesia, Vitarman B.Ac. telah menyerahkan kepada KPA Bagian Umum
yang dalam hal ini adalah Drs. Hendri, MM. berupa 1 unit kendaraan dinas operasional Bupati Pasaman
Barat, Toyota Prado 2.7L TX-L dalam kodisi baik. Serah terima ini dicantumkan dalam Berita Acara Serah
Terima Nomor : 027/268/BASB/SETDA/2010 tanggal 20 Desember 2010.

3.

Setelah diperiksa dan diterima, pada hari itu juga kendaraan dinas tersebut langsung diserahkan kepada
Bupati Pasaman Barat untuk dipergunakan sebagai kendaraan dinas operasional Bupati Pasaman Barat dan
tetap dipakai dan dimanfaatkan sampai saat ini.

12

G. KRONOLOGIS PROSES PENCAIRAN DANA


1.

Sehubungan dengan telah selesainya pelaksanaan kegiatan Pengadaan Kendaraan Dinas Operasional
Bupati Pasaman Barat tersebut, maka pada hari itu juga tanggal 20 Desember 2010, PT. Baladewa
Indonesia mengajukan Permohonan Pembayaran kepada KPA dengan surat Nomor :
20/BLD-Termyn/XII-2010 tanggal 20 Desember 2010.

2. Pada tanggal yang sama, 20 Desember 2010 ditandatangani Berita Acara Pembayaran antara Pengguna
Jasa yang dalam hal ini KPA dengan penyedia jasa yaitu PT. Baladewa Indonesia dengan Berita Acara
Nomor : 027/269/BAPB/SETDA/2010 tanggal 20 Desember 2010.
3. Selanjutnya PPTK kegiatan ini mengajukan Surat Permintaan Pembayaran LS yang ditandatangani oleh
Erizal M, A.Md. dan Bendahara Pengeluaran Arisantoni kepada Pengguna Anggaran, Hermanto, SH.
dimana sebelumnya telah diteliti terlebih dahulu kelengkapan dokumen SPP oleh Peneliti Dokumen yakni
Zefrineldi yang tertuang dalam lembaran Penelitian Kelengkapan Dokumen Nomor
0102/SPP-LS-PENG/UMUM/2010 tanggal 17 Desember 2010.
4. Berdasarkan SPP-LS beserta kelengkapannya, Pengguna Anggaran mengeluarkan Surat Perintah
Membayar Nomor. 0102/SPM-LS-PENG/UMUM/2010 yang ditandatangani oleh PA Sdr. Hermanto, SH.
yang sewaktu itu menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kab. Pasaman Barat. Barulah setelah itu Kwitansi
Pembayaran ditandatangani oleh KPA, PPTK (Erizal M, A.Md.), Bendahara Pembantu (Fima Al Amin)
dan Direktur PT. Baladewa Indonesia.
5. Proses berikutnya adalah pemeriksaan administrasi yang dilakukan oleh petugas pemeriksa pada Bagian
Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah, yakni Asril, SE. dan hasil pemeriksaan tersebut
dituangkan dalam Daftar Pemeriksaan Administrasi untuk Pencairan Dana yang ditandatangani oleh
Kepala Bagian Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah, Aliman Afni, SH. Pada waktu
pemeriksaan administrasi untuk pencairan dana ini, rekanan dikenakan retribusi leges daerah sebesar
0,75 % dari nilai kontrak Rp. 1.072.000.000,- (satu milyar tujuh puluh dua juta rupiah) yakni Rp.
8.040.000,- (delapan juta empat puluh ribu rupiah), dimana leges tersebut ditempelkan dihalaman
kontrak.
6. Pada tanggal 27 Desember, BUD mengeluarkan SP2D (Surat Perintah Pencairan Dana) melalui kuasanya
yaitu Hj. Celly Decilia Putri, SE, Akt. dengan SP2D Nomor : 0064/SP2D/LS/2010 tanggal 27 Desember
2010 untuk mencairkan/ memindahbukukan dari rekening Kas Daerah Kab. Pasaman Barat kepada PT.
Baladewa Indonesia/ Vitarman, B.Ac., Bank Nagari Cabang Utama Padang dengan nomor rekening
2100.01013.01299-8, senilai :
Jumlah yang dimintakan
: Rp. 1.072.000.000,00
Potongan Pajak PPh Ps 22 dan PPN : Rp. 1 112.072.727,00
Jumlah yang dibayarkan
: Rp. 959.927.273,00
7. Pada tanggal 28 Desember 2010, BPD Cabang Simpang Empat telah memproses SP2D tersebut dan uang
sejumlah Rp. 959.927.273,00 telah masuk Rekening PT. Baladewa Indonesia dengan nomor rekening
2100.01013.01299-8 pada Bank Nagari Cabang Utama Padang.
Pembayaran selesai dilaksanakan dengan masuknya dana yang dibayarkan sejumlah Rp. 959.927.273 ke
rekening PT. Baladewa Indonesia. Sementara sisa kontrak dari pagu dana yang tersedia yaitu sebesar Rp
1.400.000.000,- - Rp. 1.072.000.000,- = Rp. 328.000.000,- tetap tinggal dalam rekening kas daerah dan
menjadi silva anggaran untuk Tahun Anggaran berikutnya. Pekerjaan selesai, tugas KPA selesai.

13

H. DOKUMENTASI ANALISA HPS TOYOTA LAND CRUISER PRADO TX LIMITED


Berdasarkan Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, diatur
tentang Mekanisme Penyusunan HPS yakni :
Pada Penjelasan Pasal 13 ayat (1) bahwasanya data yang digunakan sebagai dasar penyusunan HPS antara
lain adalah :
a. Harga pasar setempat menjelang dilaksanakannya pengadaan;
b. Informasi biaya satuan yang dipublikasikan secara resmi oleh Badan Pusat Statistik (BPS), asosiasi
terkait dan sumber data lain yang dapat dipertanggungjawabkan;
c. Daftar biaya/tarif barang/jasa yang dikeluarkan oleh agen tunggal/ pabrikan;
d. Biaya kontrak sebelumnya yang sedang berjalan dengan mempertimbangkan faktor perubahan biaya,
apabila terjadi perubahan biaya;
e. Daftar biaya standar yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang.
Pada Pasal 13 ayat (3) diatur bahwa HPS digunakan sebagai alat untuk menilai kewajaran harga
penawaran termasuk rinciannya dan untuk menetapkan besaran tambahan nilai jaminan pelaksanaan bagi
penawaran yang dinilai terlalu rendah, tetapi tidak dapat dijadikan dasar untuk menggugurkan penawaran.
Harga harus dihitung dengan membandingkan harga dalam kontrak terhadap harga pasar yang akurat
untuk barang/jasa yang sama dengan waktu dan tempat yang sama (apple to apple).
Lampiran I Bab I Huruf E angka 2 diatur bahwa HPS telah memperhitungkan :
a. PPN
b. Biaya Umum dan Keuntungan (Overheadcost and Profit) yang wajar bagi penyedia barang/jasa.
a. Survey Harga :
1. Survey harga pada Intercom, dengan hasil sebagai berikut :
Type Prado TX
Type Fortuner V 4x4
Keterangan
Penawaran
875.000.000
445.000.000
On The Road Padang
Tidak sesuai dengan spek yang diminta karena Prado
Type TX Limited tidak ada stok, maka dilakukan
survey harga di tempat lain
2. Survey harga pada Makna Motor, Terminal Motor dan Suchi Motor dengan hasil sebagai berikut :
Makna Motor
Terminal Motor
Suchi Motor
Keterangan
Penawaran
925.000.000
920.000.000
980.000.000 Sesuai dengan
On The Road
On The Road DKI On The Road DKI spek
Padang
b. Perhitungan HPS :
Harga Nego
Penerimaan
Penawaran
Keuntungan

Makna Motor
Terminal Motor
1.072.000.000
1.072.000.000
951.887.273
951.887.273
925.000.000
920.000.000
26.887.273
31.887.273
On The Road
On The Road DKI
Padang

Suchi Motor
1.072.000.000
951.887.273
980.000.000
(28.112.727)
On The Road
DKI

Harga rata-rata

941.666.667
(Dibulatkan)
941.600.000

Harga rata-rata merupakan harga rata- rata dari ketiga tawaran tersebut di atas. Harga rata-rata dijadikan harga
pasar yang merupakan harga satuan dalam perhitungan HPS.
Harga rata-rata
: 941.600.000,Overhead cost & profit = 3,78%
: 35.620.000,: 977.220.000,PPN 10 %
: 97.722.000,Jumlah
: 1.074.942.000,Dibulatkan
: 1.074.900.000,HPS didapat
: 1.074.900.000,-

14

c. Penawaran PT. Baladewa Indonesia


DPP (Harga Pokok Sebelum Pajak) untuk 1 unit
PPN 10 %
Nilai Tawaran

: 975.000.000,: 97.500.000,: 1.072.500.000,-

d. Kontrak

Harga 1 unit
PPN
Jumlah
dibulatkan

HPS
977.220.000
97.722.000
1.074.942.000
1.074.900.000

Tawaran
975.000.000
97.500.000
1.072.500.000
1.072.500.000

Negosiasi
974.545.455
97.454.545
1.072.000.000
1.072.000.000

e. Perkiraan Analisa Keuntungan PT. Baladewa Indonesia :


DPP (Harga Pokok Sebelum Pajak)/ harga nego
PPN
Nilai Kontrak
PPN
Pajak Penghasilan Ps 22 : (1,5% dari DPP)

Saldo (Yang dibayarkan BUD ke rekening Penyedia Jasa)

Kontrak
974.545.455
97.454.545
1.072.000.000
1.072.000.000

: 974.545.455
: 97.454.545
: 1.072.000.000-----(a)
: 97.454.545
: 14.618.182
: 112.072.727-----(b)
: 959.927.273-----(c)= (a)- (b)

Pengeluaran lain Penyedia Jasa (Leges Daerah = Nilai Kontrak x 0,75%) : 8.040.000----(d)
Penerimaan bersih oleh Penyedia Jasa

: 951.887.273-----(e)= (c)-(d)

Daftar Harga Pasar 1 unit kendaraan :


Makna Motor
Penawaran

925.000.000
On The Road
Padang

Terminal
Motor
920.000.000
On The Road
DKI

Suchi Motor
980.000.000
On The Road
DKI

PT. Baladewa
975.000.000
On The Road
Padang

Harga
rata-rata
950.000.000

Dari Penerimaan oleh Penyedia Jasa, maka kita dapat memperkirakan nilai Overhead cost & profit
Penyedia Jasa tersebut berdasarkan tujuh sudut pandang sebagai berikut :
a. Dari rata-rata harga pasar yang ada :
Jumlah Penerimaan dari BUD - Leges Daerah
Rata2 harga pasar yang dijadikan harga satuan perhitungan HPS
Overhead cost & profit

: 951.887.273
: 941.600.000
: 10.287.273

---1,09%

b. Dari Harga pasar terendah (Penawaran Terminal Motor) :


Jumlah Penerimaan dari BUD - Leges Daerah
Surat Penawaran harga CV. Terminal Motor
Overhead cost & profit

: 951.887.273
: 920.000.000
: 31.887.273

---3,47%

c. Dari Harga pasar tertinggi (Penawaran Suchi Motor) :


Jumlah Penerimaan dari BUD - Leges Daerah
Surat Penawaran harga CV. Suchi Motor
Overhead cost & profit

: 951.887.273
: 980.000.000
:(28.112.727)

---2,87%

d. Dari Harga Penawaran Makna Motor :


Jumlah Penerimaan dari BUD - Leges Daerah
Surat Penawaran harga CV. Suchi Motor
Overhead cost & profit

: 951.887.273
: 925.000.000
: 26.887.273

---2,91%

e. Dari Bukti Kuitansi Pembelian PT. Baladewa Indonesia kepada PT. Intercom :
Jumlah Penerimaan dari BUD - Leges Daerah
: 951.887.273
Kuitansi pembelian dari PT. Intercom
: 860.000.000
Overhead cost & profit
: 91.887.273

---10,68%
15

f. Dari Penawaran dalam kontrak pada Koreksi Aritmatik :


Jumlah Penerimaan dari BUD - Leges Daerah
Dari penawaran dalam kontrak
Overhead cost & profit

: 951.887.273
: 975.000.000
: (23.112.727)

g. Berdasarkan SE Dirjen Pajak No. SE-21/PJ.51/2000 tanggal 21 Juli 2000 :


Jumlah Penerimaan dari BUD - Leges Daerah
: 951.887.273
Perhitungan PPN dan PPn BM
: 923.200.000
Overhead cost & profit
: 28.687.273

---2,37%

---3,01%

Inipun masih kita abaikan dengan tidak memasukkan Jaminan Penawaran yang dibayarkan Penyedia Jasa
kepada Bank sebesar Rp. 53.600.000,- yang seharusnya juga dimasukkan sebagai pengeluaran Penyedia Jasa.
Hal ini tidak kita masukkan karena Garansi Bank bisa dicairkan Penyedia Jasa lagi setelah proses Kontrak
selesai dilaksanakan.
*) keuntungan apabila di hitung dari selisih BUD PT. Baladewa Indonesia dengan penawaran / harga
Pasar :
Makna Motor
Terminal Motor
Suchi Motor
Harga rata2/ HPS
BUD Baladewa
951.887.273
951.887.273
951.887.273
951.887.273
Penawaran
925.000.000
920.000.000
980.000.000
941.600.000
Keuntungan
26.887.273
31.887.273
(28.112.727)
10.287.273
%
2,91
3,47
(2,87)
1,09
On The Road Padang

On The Road DKI

On The Road DKI

*) keuntungan apabila di hitung dari selisih tawaran / harga 1 unit dari PT. Baladewa Indonesia dengan
penawaran / harga Pasar :

Harga 1 unit dari


Baladewa
Penawaran
Keuntungan
%

Makna Motor
975.000.000

Terminal Motor
975.000.000

Suchi Motor
975.000.000

Harga rata2/ HPS


975.000.000

925.000.000
50.000.000
5,41

920.000.000
55.000.000
5,98

980.000.000
(5.000.000)
(0,51)

941.600.000
33.400.000
3,55

On The Road DKI

On The Road DKI

On The Road
Padang

Harga Pasar Setempat pada waktu dilaksanakannya pengadaan, dapat kami buktikan dari brosur-brosur yang
kami peroleh dari showroom-showroom kendaraan Toyota di Padang dan Jakarta sebagaimana terlampir. Dan
hal inipun masih bisa kita buktikan dan temukan sampai saat ini pada beberapa iklan yang ada di internet untuk
harga kendaraan yang diadakan pada tahun 2010 tersebut.
Adapun beberapa situs yang sampai saat ini masih bisa kita temukan melalui searching di google mengenai harga
kendaraan Toyota Prado pada tahun 2010 tersebut antara lain :
1. http://www.otopedia.com/mobil-baru/7818-Toyota-Prado.html
2. http://www.otopedia.com/mobil-baru/8072-Toyota-Prado.html
3. http://mobil.kapanlagi.com/harga/toyota/land_cruiser/2010/prado_tx/
4. http://mobil.kapanlagi.com/toyota_land_cruiser_prado_tx_in-56947.html
5. http://www.olx.co.id/q/prado/c-378
Kuitansi pembelian kendaraan oleh Penyedia Jasa sebesar Rp.860.000.000,- tersebut, bukanlah HARGA
PASAR SETEMPAT. Tidak ada satu showroompun dan iklan melalui internet yang kami dapati selaku KPA
yang menyediakan kendaraan Toyota Prado dengan spesifikasi yang diminta, yang menawarkan harga seperti itu.
Kalaupun Penyedia Jasa kita mendapatkan harga seperti itu, itu adalah karena faktor keahlian mereka dalam
dunia dagang yang bukan merupakan keahlian kami selaku KPA. Dan yang pasti, itu bukanlah HARGA PASAR
SETEMPAT seperti yang diamanatkan oleh Keppres No. 80 Tahun 2003. Pertanyaan sederhananya adalah,
seandainya ada showroom kendaraan yang mampu menjual dengan harga 800 juta, 700 juta, apalagi sampai
dengan harga 600 juta dan 500 an juta, kenapa tidak ada satupun dari perusahaan tersebut yang berani untuk ikut
menawar dari iklan yang kami tayangkan melalui media nasional Koran Tempo ? Bukankah keuntungan mereka
bisa mencapai 400 an juta ?
Dan akan lebih konyol lagi, apabila kerugian negara dihitung dengan metode dan formula khusus BPKP
Perwakilan Propinsi Sumatera Barat yang bekerjasama dengan Kejaksaan Negeri Simpang Empat. Kejaksaan
Negeri dengan kewenangan Undang-undang yang ada pada mereka, tentu dapat memanggil Importir Umum
16

kendaraan Toyota Prado di Jakarta ke Simpang Ampek, yang memasukkan kendaraan ini dari Jepang ke
Indonesia. Nama perusahaan Importir Umum inipun didapatkan dari Faktur Kendaraan yang dilampirkan dalam
BPKB Toyota Prado. Hal yang tentu saja tidak akan bisa didapatkan oleh siapa saja pelaku pengadaan barang dan
jasa di seluruh Indonesia pada waktu proses pengadaan kendaraan dinas tersebut dilaksanakan. Karena BPKB
kendaraan selalu diserahkan kepada Pengguna Barang beberapa bulan setelah proses Pengadaan Barang dan Jasa
selesai dilaksanakan.
Dari informasi yang diberikan oleh Importir Umum, PT. Multisentra Adikarya, mereka mendapat penjelasan
bahwa setelah kendaraan ini diimport dari Jepang ke Indonesia, maka mereka pertama menjual kendaraan ini
kepada PT. DK Jaya Motor seharga Rp. 675.000.000,- (belum termasuk PPn). Kemudian PT. DK Jaya Motor
menjual lagi kendaraan ini kepada PT. Kencana Utama Sakti dengan harga Rp. 680.000.000,- (Off the Road).
Dari data yang didapat oleh Kejaksaan Negeri Simpang Empat ini, dengan mentah-mentah umpan ini ditelan
oleh BPKP Perwakilan Provinsi Sumatera Barat melalui Ketua Tim nya, Sdr. Afrizal, membuat kesimpulan,
bahwa mestinya Pemda Pasaman Barat HARUS membeli langsung pula kendaraan ini kepada PT. Multisentra
Adikarya Jakarta, bukan melalui rantai-rantai perdagangan yang akhirnya sampai di PT. Intercom Mobilindo
Padang, dan rekanan Penyedia Barang/Jasa, PT. Baladewa Indonesia. Maka Pemda Pasaman Barat hanya akan
membeli kendaraan ini dengan harga Rp. 675.000.000,-. Maka terdapat selisih dari nilai bersih kontrak PT.
Baladewa Indonesia dikurangi nilai jual PT. Multisentra Adikarya, Rp. 951.887.273,- - Rp. 675.000.000,- = Rp.
276.887.273,-. Inilah yang menjadi angka dari KERUGIAN NEGARA.
Pertanyaannya :
1. Apakah Kejaksaan dan BPKP, bisa mengetahui tentang keberadaan PT. Multisentra Adikarya Jakarta ini, tanpa
adanya BPKB kendaraan yang didalamnya baru ada terdapat Faktur Kendaraan dari Importir Umum? Sama
halnya dengan Panitia, KPA, Penyedia Barang dan bahkan dealer resmi Mobil Toyota di Sumatera Barat, tidak
akan bisa mengetahui apa nama perusahaan yang mengimport kendaraan ini dari Jepang. Karena itu baru
tercantum di Faktur Kendaraan didalam BPKB. Dan ini baru keluar apabila kendaraan ini sudah berada di tangan
konsumen, itupun beberapa bulan setelah proses pembayaran (Proses PBJ) selesai dilaksanakan.
2. Dikemanakan aturan-aturan mengenai Pengadaan Barang dan Jasa ? Yaitu Keppres No. 80 Tahun 2003, Pasal
13 ayat (1), ayat (3) dan Lampiran I Bab I huruf E angka 2 yang menyatakan bahwa penyusunan HPS didasarkan
pada data Harga Pasar Setempat, yang diperoleh berdasarkan hasil survei MENJELANG dilaksanakannya
pengadaan, dengan mempertimbangkan beberapa informasi dan HPS disusun dengan memperhitungkan
keuntungan dan biaya overhead yang wajar bagi penyedia barang dan jasa.
Kesimpulannya, dalam pelelangan yang sesuai aturan, penyedia boleh untung berapapun, sedangkan untuk
membuat HPS bila belum ada keuntungan, dapat diberikan 10% atau 15% kalau ada overhead. Persentase
keuntungan hanya diatur pada waktu kita menyusun HPS.

17

I. ANALISA KAJIAN TENTANG DUGAAN KERUGIAN NEGARA


Mengenai kerugian negara yang disebutkan pada media masa pada pengadaan kendaraan dinas operasional
Bupati Pasaman Barat Tahun 2010 sebesar Rp. 276.887.273 (dua ratus tujuh puluh enam juta delapan ratus
delapan puluh tujuh ribu dua ratus tujuh puluh tiga rupiah) yang tidak saya ketahui sumber perhitungannya dari
mana, namun dari informasi yang saya dapat bahwa nilai tersebut diperoleh dari perbedaan harga kendaraan
pada kontrak PT. Baladewa Indonesia dengan harga kendaraan yang tertera pada faktur penjualan importir
umum PT. Multisentra Adikarya. Dimana seharusnya menurut penyidik, KPA dan Panitia harus membeli
langsung kepada PT. Multisentra Adikarya sehingga rantai perdagangan yang sangat panjang tersebut dapat
dipangkas dan akan dapat membeli dengan harga yang lebih murah, yang menurut perhitungan penyidik
selisihnya adalah sebesar Rp. 276.887.273 (dua ratus tujuh puluh enam juta delapan ratus delapan puluh tujuh
ribu dua ratus tujuh puluh tiga rupiah). Mengenai hal tersebut, dapat saya jelaskan sebagai berikut :
1. Untuk Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah, ada aturan yang mengatur dimana dalam hal ini aturan dasar
Proses Pengadaan Barang/Jasa untuk Pengadaan Kendaraan Dinas Bupati Pasaman Barat Tahun 2010
adalah Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah. Pemerintah tidak bisa
membeli kendaraan langsung pada importir umum dan distributor tapi harus melalui dealer/ sub dealer/
showroom.
Penjelasan :
Di dalam Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah pasal 17 ayat (1) Dalam
pemilihan penyedia barang/ jasa pemborong/ jasa lainnya pada prinsipnya dilakukan melalui metoda
pelelangan umum. Ayat (2) Pelelangan Umum adalah metoda pemilihan penyedia barang/ jasa yang
dilakukan secara terbuka dengan pengumuman secara luas melalui media massa dan papan pengumuman
resmi untuk penerangan umum sehingga masyarakat luas dunia usaha yang berminat dan memenuhi
kualifikasi dapat mengikutinya.
Artinya, dalam hal ini sesuai dengan Keppres No. 80 Tahun 2003, pengadaan kendaraan tidak dapat
dilakukan dengan cara pembelian langsung kepada Importir Umum/ ATPM/ Industri Perakitan, Distributor,
Dealer, ataupun Sub Dealer/Showroom melainkan harus melalui mekanisme pelelangan dengan
menggunakan metoda pelelangan umum. Penyedia yang berminat akan mengikuti pelelangan sesuai dengan
persyaratan penyedia yang telah diatur juga di dalam pasal 11 Keppres No. 80 Tahun 2003.
Untuk Pengadaan Kendaraan Dinas Bupati Pasaman Barat Tahun 2010 telah dilaksanakan proses
pengadaannya melalui metoda pelelangan umum sesuai dengan Keppres No. 80 Tahun 2003. Pengumuman
dilakukan di media nasional Koran Tempo dan setelah melalui proses akhirnya penyedia barang terpilih
adalah PT. Baladewa Indonesia.
2. Dalam aturan Tata Niaga Kendaraan Bermotor, ada aturan yang mengatur yakni SE Dirjen Pajak No.
SE-21/PJ.51/2000 tanggal 21 Juli 2000 tentang PPN dan PPn BM Dalam Tata Niaga Kendaraan Bermotor,
sebelum ke konsumen, perdagangan kendaraan bermotor harus melewati lini-lini. Konsumen tidak bisa
langsung membeli kendaraan pada Distributor / Importir Umum. Aturan lainnya adalah Undang-Undang RI
Nomor 11 Tahun 1994 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak
Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah dan Peraturan Pemerintah
Nomor 59 Tahun 1999 Tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 1994 tentang
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 Tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan
Pajak Penjualan Atas Barang Mewah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun
1994
Penjelasan :
Di dalam SE Dirjen Pajak No. SE-21/PJ.51/2000 tanggal 21 Juli 2000 tentang PPN dan PPn BM Dalam
Tata Niaga Kendaraan Bermotor disebutkan bahwa mata rantai distribusi kendaraan bermotor harus
melewati lini-lini sebagai berikut :
1. Importir Umum/ATPM/Industri Perakitan,
2. Distributor,
3. Dealer, dan
4. Sub Dealer/Showroom.
Dimana setiap pengusaha pada setiap lini dalam distribusi kendaraan bermotor adalah sebagai Pengusaha
Kena Pajak (PKP) yang dikenakan PPn dan PPn BM atas Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) disamping
jasa yang dilakukan.
18

PPN dikenakan sejumlah 10 % dan untuk PPn BM minimal 10% dan maksimal 50% tergantung kategori
barang mewahnya.
PT. Multisentra Adikarya berada pada lini ke-1 sebagai Importir Umum dan PT. Baladewa Indonesia
malahan berada diluar lini ke-4 sub dealer/ showroom. PT. Baladewa Indonesia adalah Perusahaan sebagai
penyedia barang/jasa dimana keberadaannya adalah karena metoda PL setelah Dealer resmi Toyota PT.
Intercom Mobilindo dan showroom kendaraan seperti CV. Makna Motor tidak memenuhi syarat untuk
mengkuti proses pengadaan kendaraan dinas Bupati Pasaman Barat ini sesuai dengan persyaratan yang
diatur dalam Keppres No. 80 Tahun 2003.
Dengan demikian Kerugian negara tidak dapat didasarkan pada perbedaan harga kontrak pada PT. Baladewa
Indonesia di Padang (Level Penyedia Barang/Jasa setelah level showroom) dengan harga pada PT.
Multisentra Adikarya di Jakarta (level Importir Umum).
Penyedia satu level itu bagaimana ?
Level Importir Umum dengan Importir Umum
Level distributor dengan distributor
Level dealer dengan dealer
Level Sub Dealer/Showroom dengan Sub Dealer/Showroom.
Artinya dalam hal ini, pada setiap lini dikenakan PPn dan PPn BM, otomatis harga pada sub dealer/
showroom jelas lebih tinggi dari harga pada Importir Umum. Adanya perbedaan tingkatan harga pada
Importir Umum dengan Sub Dealer/Showroom tidak dapat dijadikan dasar dari kerugian negara akibat
kemahalan harga. Apalagi dengan membandingkan harga jual antara Importir Umum (PT. Multisentra
Adikarya) di Jakarta dengan harga jual pada rekanan PT. Baladewa Indonesia di Padang. Hal ini tentu saja
mencederai amanat Keppres No. 80 Tahun 2003 yang mengamanahkan agar penetapan harga harus
berdasarkan pada survey harga pasar yang akurat untuk barang/jasa yang sama dengan waktu dan tempat
yang sama (apple to apple).
Contoh, yang menang adalah PT. Baladewa Indonesia dengan nilai kontrak Rp. 1.072.000.000,- dan nilai
bersih setelah potong pajak Rp. 951.887.273,-. Apakah harga ini sudah sesuai dengan kewajaran harga pasar.
KEWAJARAN dilihat dari kontrak PT. Baladewa Indonesia dalam transaksi lainnya. Atau dilihat dari harga
pada penyedia yang satu level dengan PT. Baladewa Indonesia. Harga wajar adalah ketika penyedia dalam
level yang sama menjual berapa ke instansi pemerintah. Ini bisa kita lihat pada beberapa brosur penawaran
yang diberikan kepada KPA pada waktu survey harga langsung ke showroom-showroom maupun survey
harga melalui internet.
Bila masih dalam range (Rp 980 juta - 925 juta) penyedia yang satu level, ya tidak masalah. Bila melebihi
range maka perlu dicermati ada perbedaan di aspek pekerjaan/barang apa. Jangan dilihat cara mencari
adanya kerugian negara dilihat dari bagaimana harga yang didapat oleh PT. Baladewa Indonesia dari
pemasoknya.
Suatu kesalahan menghitung kerugian Negara bila menghitung PT. Baladewa Indonesia menjual Rp.
951.887.273,- sedangan harga perolehannya dari pemasok adalah Rp. 860 juta sehingga Rp. 951.887.273,-
Rp. 860.000.000,- negara rugi Rp. 91.887.273,-. (Disini keuntungan 9,65%).
Atau malahan kalau dibandingkan dengan harga jual dari Importir Umum PT. Multisentra Adikarya Jakarta
kepada dealer PT. DK Jaya Motor Jakarta, itu yang dijadikan harga pasar, yaitu Rp. 675.000.000,Dikurangi dari penerimaan PT. Baladewa Indonesia : Rp. 951.887.273,- - Rp. 675.000.000,- = negara rugi
Rp. 276.887.273,-. (Disini keuntungan 28,84%). Angka inilah yang dipublikasikan oleh Kajari Simpang
Empat sebagai angka kerugian negara.
Andaikata Saudara Auditor atau Penyidik sebagai pemain baru, bisa jadi hanya memperoleh pada harga Rp.
900.000.000,-. Akankah dinilai kerugian Negara sebesar Rp. 951.887.273,- - Rp. 900.000.000,- = negara
rugi Rp. 51.887.273,-. Keuntungan sekitar 5%, lalu dimana sifat PASTINYA kerugian Negara itu
berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004?
Berdasarkan SE Dirjen Pajak No. SE-21/PJ.51/2000 tanggal 21 Juli 2000 tentang PPN dan PPn BM Dalam
Tata Niaga Kendaraan Bermotor, maka perhitungan harga Kendaraan Prado Land Chruiser Prado TX
Limited berdasarkan harga DPP yang terdapat dalam faktur yang dikeluarkan oleh PT. MULTISENTRA
ADIKARYA JAKARTA Rp.506.000.000,- adalah sebagai berikut :
19

Contoh Aplikatif Dari Mekanisme Pemungutan PPN dan PPn BM Berdasarkan


SE Dirjend Pajak No. SE-21/PJ.51/2000 Tanggal 31 Juli 2000 Untuk kendaraan import dalam keadaan
CBU Toyota Land Cruiser Prado 2.7 A/T Dengan Harga Faktur No. 239/MSA/XII/2010 Tanggal 14
Januari 2011 sebesar : Rp. 506.000.000,- (DPP)
Lini

Uraian

Jumlah

1 Importir Umum/Industri Perakitan/ATPM :


- Nilai Impor (DPP)
a. Impor :
- PPN (10%)
- PPn BM (40%)

b. Penyerahan :

460,000,000
46,000,000
184,000,000

Ket. (Pembulatan 1.000.000)

(Pajak Masukan)

Harga Impor

690,000,000

- Harga Jual (DPP)


- PPN (10%)
- PPn BM (40%)

506,000,000
50,600,000
184,000,000

Harga Penjualan

740,600,000

- Harga Beli (DPP)


- PPN (10%)
- PPn BM (40%)

506,000,000
50,600,000
184,000,000

Harga Pembelian

740,600,000

- Harga Jual (DPP)


- PPN (10%)
- PPn BM (40%)

556,000,000
55,600,000
184,000,000

Harga Penjualan

795,600,000

- Harga Beli (DPP)


- PPN (10%)
- PPn BM (40%)

556,000,000
55,600,000
184,000,000

Harga Pembelian

795,600,000

- Harga Jual (DPP)


- PPN (10%)
- PPn BM (40%)

611,000,000
61,100,000
184,000,000

Harga Penjualan

856,100,000

- Harga Beli (DPP)


- PPN (10%)
- PPn BM (40%)

611,000,000
61,100,000
184,000,000

Harga Pembelian

856,100,000

- Harga Jual (DPP)


- PPN (10%)
- PPn BM (40%)

672,000,000
67,200,000
184,000,000

(672.000.000 + 67.000.000)
(Pajak Keluaran)
(Butir 1.a)

Harga Penjualan

923,200,000

(Yang dibayar Konsumen)

(Pajak Keluaran)
(Butir 1.a)

2 Distributor :
a. Pembelian :

b. Penyerahan :

(Pajak Masukan)
(Butir 1.a)

(556.000.000 + 55.000.000)
(Pajak Keluaran)
(Butir 1.a)

3 Dealer :
a. Pembelian :

b. Penyerahan :

(Pajak Masukan)
(Butir 1.a)

(611.000.000 + 61.000.000)
(Pajak Keluaran)
(Butir 1.a)

Sub Dealer /
4 Showroom :
a. Pembelian :

b. Penyerahan :

(Pajak Masukan)
(Butir 1.a)

Perhitungan Penerimaan Negara Dari Pajak :


A. Harga konsumen

923,200,000
20

Nilai Impor

460,000,000

Jumlah PPN+PPn BM

463,200,000

B. Kontrak

1,072,000,000

PPN

97,454,545

PPh Ps 22

14,618,182

Leges Daerah

8,040,000

Diterima Perusahaan

951,887,273

Jumlah Pajak

120,112,727

Maka dari kontrak pengadaan Kendaraan Dinas Toyota Landcruiser Prado, sebesar Rp.
1.072.000.000,- Penerimaan Negara Dari Pajak adalah sebesar :
A+B

583,312,727

Sehingga harga yang mestinya dibayar oleh konsumen, tanpa dimasukkan keuntungan perusahaan
Adalah :

923,200,000.00

Evaluasi yang dilakukan oleh KPA dan Pokja ULP/Panitia Pengadaan, yang dinilai salah dengan
ditetapkannya PT. Baladewa Indonesia, bisa terjadi karena kurangnya kemampuan evaluasi atau
kurangnya kompetensi KPA dan Pokja ULP/Panitia Pengadaan. Kesalahan yang dilakukan oleh Pokja bila
terjadi, adalah kesalahan yang bersifat sanksi administrasi, sepanjang kesalahan tersebut bukan
kesengajaan, pangaturan atau menerima sesuatu dari penyedia tersebut untuk dimenangkan. Kesalahan
bukan kesengajaan maka sanksinya misal tidak boleh sebagai Pokja ULP lagi. Bila bukan kesengajaan
apakah hal tersebut dapat dinilai sebagai perbuatan menguntungkan pihak lain ?
Penyedia menawarkan penawaran tentunya ada harapan profit atau keuntungan yang menarik yang
didapatnya. Tugas pemerintah adalah menumbuh kembangkan usaha swasta untuk berkembang dan
memperoleh keuntungan dari transaksi kepada pemerintah sesuai kompetisi yang fair dan prestasi yang
diberikan. Jadi sah-sah saja penyedia memperoleh keuntungan dari setiap traksaksi dengan pemerintah,
atas kompetisi yang fair dan prestasi yang diberikan.
Apakah penyedia PT. Baladewa Indonesia dapat diminta untuk menyetorkan selisih kerugian negara
tersebut ? Selisih tersebut bukan sebagai kerugian negara, hanya sebagai potensi kerugian negara.
Penyedia ketika menawar tentu karena ada harga yang menarik bagi penyedia untuk menyampaikan
penawaran di suatu paket pelelangan. Ketika penawaran masih dalam batasan HPS yang dibuat dengan
benar maka penawaran tersebut yang disampaikan bukan sebagai kerugian negara, dan prestasi yang
diberikan juga sudah sesuai.
Keuntungan yang diperoleh suatu penyedia, akan dibagikan kepada pemilik modal, insentif untuk
karyawan, bahkan untuk membayar pajak.
Bila penyedia dipaksa untuk membayar selisih tersebut, maka sangat bertentangan dengan logika dan
bisnis yang sehat. Penyedia akan dihadapkan kepada ketidakpastian transaksi dengan pemerintah, dalam
bisnis setiap ketidakpastian akan menciptakan biaya yang lebih besar. Sepanjang tidak ada pengaturan,
atau persengkokolan dari penyedia maka penyedia tidak dapat dibebankan untuk membayar selisih
penawaran karena kesalahan evaluasi dari pokja ULP.
Disimpulkan bahwa kesalahan evaluasi dari pokja ULP yang tidak disengaja dan penawaran penyedia
masih dalam batasan HPS yang dibuat secara benar, penyedia bersaing secara kompetisi dan prestasi yang
diberikan sudah sesuai maka selisih yang terjadi antara penawaran penyedia adalah bukan kerugian
negara.
Berdasarkan pemaparan data dan analisa yang telah diuraikan di atas maka sebenarnya ini telah
memberikan kepada kita semua gambaran yang jelas dan terang bahwa arah penyedilikan dan penyidikan
yang dilakukan selama ini oleh aparat penyidik telah salah arah, apakah hal tersebut disebabkan oleh
kemauan ataupun kemampuan aparat penyidik itu sendiri, sehingga muara dari proses penyidikan yang
21

dilakukan akhirnya sampai pada kesimpulan seperti yang dimaksud dalam Pasal 32 UU No. 31 Tahun
1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi :
(1) Dalam hal penyidik menemukan dan berpendapat bahwa satu atau lebih unsur tindak pidana korupsi
tidak terdapat cukup bukti, sedangkan secara nyata telah ada kerugian keuangan negara, maka
penyidik segera menyerahkan berkas perkara hasil penyidikan tersebut kepada Jaksa Pengacara
Negara untuk dilakukan gugatan perdata atau diserahkan kepada instansi yang dirugikan untuk
mengajukan gugatan.
(2) Putusan bebas dalam perkara tindak pidana korupsi tidak menghapuskan hak untuk menuntut kerugian
terhadap keuangan negara.
Penjelasan Pasal 32
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan secara nyata telah ada kerugian keuangan negara adalah kerugian yang sudah
dapat dihitung jumlahnya berdasarkan hasil temuan instansi yang berwenang atau akuntan publik yang
ditunjuk.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan putusan bebas adalah putusan pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
191 ayat (1) dan ayat (2) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana
Dari rumusan Pasal 1365 KUH Perdata bisa dirumuskan unsur-unsur dari Perbuatan Melawan Hukum
adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Adanya suatu perbuatan;


Perbuatan tersebut melawan hukum;
Adanya kesalahan dari pihak pelaku;
Adanya kerugian bagi korban;

Adanya hubungan kausal antara perbuatan dengan kerugian.


Sebelum melakukan proses pelelangan terlebih dahulu disusun Harga Perkiraan Sendiri (HPS)
sebagaimana yang diatus dalam Pasal 13 Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pengadaan Barang/ Jasa
Pemerintah :
(1) Pengguna barang/jasa wajib memiliki Harga Perkiraan Sendiri (HPS) yang dikalkulasikan secara
keahlian dan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
(2) HPS disusun oleh panitia/pejabat pengadaan dan ditetapkan oleh pengguna barang/jasa.
(3) HPS digunakan sebagai alat untuk menilai kewajaran harga penawaran termasuk rinciannya dan
untuk menetapkan besaran tambahan nilai jaminan pelaksanaan bagi penawaran yang dinilai
terlalu rendah, tetapi tidak dapat dijadikan dasar untuk menggugurkan penawaran.
Pada Penjelasan Pasal 13 tersebut di atas, data yang digunakan sebagai dasar penyusunan HPS antara lain
harga pasar setempat menjelang dilaksanakannya pengadaan, informasi biaya satuan yang dipublikasikan
secara resmi oleh Badan Pusat Statistik (BPS), asosiasi terkait dan sumber data lain yang dapat
dipertanggungjawabkan dan dalam menetapkan HPS maka harus memperhitungkan semua komponen
biaya, keuntungan penyedia, termasuk biaya overhead.
Penjelasan :
Sebelum pelaksanaan proses pengadaan kendaraan dinas Bupati Pasaman Barat ini terlebih dahulu telah
dilakukan survey harga untuk menentukan HPS sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 13 Keppres
No. 80 Tahun 2003. Pada saat itu, tahun 2010 KPA telah mengadakan survey harga kendaraan Toyota
Prado TX L pada beberapa tempat di Jakarta dan di Padang dan beberapa literatur/ referensi harga dari
sumber yang dapat dipercaya antara lain :
a. Terminal Motor

: Rp. 920.000.000 (on the road Jakarta)

b. Suchi Motor

: Rp. 980.000.000 (on the road Jakarta)

c. Makna Motor

: Rp. 925.000.000 (on the road Padang)

d. Anton Carz

: Rp. 830.000.000 (off the road Jakarta)

e. http://www.otopedia.com/mobil-baru/7818-Toyota-Prado.html
f. http://www.otopedia.com/mobil-baru/8072-Toyota-Prado.html
22

g. http://www.mobil.kapanlagi.com/harga/toyota/land_cruiser/2010/-prado_tx
h. http://www.mobil.kapanlagi.com/toyota_land_cruiser_prado_tx_in-56947.html
i. http://www.olx.co.id/q/prado/c-378
Harga-harga tersebut diatas belum termasuk PPN, PPh, biaya-biaya lain seperti biaya leges daerah
termasuk overhead. Harga pasar ini ditambah PPN, PPh, biaya-biaya lain seperti biaya leges daerah
termasuk overhead, dijadikan acuan untuk menentukan HPS yang nantinya digunakan untuk menilai
kewajaran harga yang disampaikan oleh calon penyedia barang. Untuk HPS kendaraan dinas Bupati
Pasaman Barat Tahun 2010 adalah Rp. 1.074.900.000 (termasuk PPN, PPh, biaya-biaya lain seperti biaya
leges daerah termasuk overhead. Kontrak dengan PT. Baladewa Indonesia nilainya adalah :
Harga Pokok Sebelum Pajak

Rp.

959.927.273,00

Pajak Penghasilan Ps 22 (PPh)

Rp.

14.618.182,00

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Rp.

97.454.545,00

Kontrak
Rp. 1.072.000.000,00
Artinya, harga yang dibayarkan pemerintah pada PT. Baladewa Indonesia adalah Rp. 959.927.273,00
itupun belum termasuk leges daerah yang mesti di stornya pada daerah sejumlah 0,75 % dari nilai kontrak,
yaitu Rp. 8.040.000,00.
Kerugian negara tidak dapat dihitung dengan perbedaan antara nilai kontrak dengan harga survey dan
harga-harga yang disampaikan melalui internet karena harga tersebut belum termasuk PPN, PPh, biaya
lainnya dan overhead sebagaimana diamanatkan dalam Keppres No. 80 Tahun 2003 dan Undang-Undang
RI Nomor 11 Tahun 1994 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak
Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah.
Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah RI pun angkat bicara menanggapi masalah ini
dengan surat mereka No. B-726/LKPP/D-IV.3/02/2013 tanggal 14 Februari 2013. Dalam bedah kasus yang
dilaksanakan di LKPP dengan seluruh dokumen pengadaan yang dibawa kesana, LKPP malah menyatakan
bahwa sebenarnya negara malah diuntungkan dalam pengadaan ini karena margin keuntungan yang
diberikan dalam HPS, sangat kecil sekali yaitu sebesar 3,78%. Sebenarnya dengan pagu dana yang tersedia,
HPS bisa menyediakan keuntungan bagi penyedia jasa sebesar 10%-15%.
Keuntungan yang lebih besar yang didapat oleh penyedia jasa, hanyalah karena mereka memang bergerak
dibidang jual beli kendaraan bermotor, didalam komunitas yang sama, sehingga bisa mendapatkan harga
yang lebih murah daripada harga pasaran seperti yang didapatkan pada waktu saya melakukan survey
harga pasar. Dan berapapun keuntungan yang didapat oleh penyedia barang, itu tidak ada aturan yang
mengaturnya, karena yang diatur hanyalah keuntungan dalam kita menetapkan HPS.
Identik misalnya dengan kalau kita membeli kendaraan ke suatu showroom mobil dengan pemilik yang
kita kenal. Pasti kita akan mendapatkan diskon yang lebih besar. Bandingkan kalau kita tidak kenal dengan
pemiliknya. Tetapi senyatanya, itu bukanlah HARGA PASAR, seperti yang diamanahkan oleh Pasal 13
ayat (1) Keppres No. 80 Tahun 2003.
Penyedia bisa memperoleh harga Rp. 860 juta banyak sebab, antara lain :
1. Telah langganan dengan pemasoknya
2. Menggunakan harga yang lama
3. Pemasok ingin stoknya habis
4. Pemasok ingin barangnya menguasai pasar
5. Memelihara jaringan distribusi
6. kepandaian penyedia menemukan harga pasokan yang murah

23

J.

ANALISIS TANGGAPAN MENURUT TEORI PENGADAAN OLEH NANDANG


SUTISNA KASI ADVOKASI DAN PENYELESAIAN SANGGAH DI DEPUTI BIDANG
HUKUM DAN PENYELESAIAN SANGGAH PADA DIREKTORAT ADVOKASI DAN
PENYELESAIAN
SANGGAH
LEMBAGA
KEBIJAKAN
PENGADAAN
BARANG/JASA PEMERINTAH RI TERHADAP PENGADAAN KENDARAAN DINAS
BUPATI PASAMAN BARAT :
Nandang Sutisna, Kasi Advokasi dan Penyelesaian Sanggah di Deputi Bidang Hukum dan
Penyelesaian Sanggah pada Direktorat Advokasi dan Penyelesaian Sanggah Lembaga Kebijakan
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah RI pun memberikan tanggapannya terhadap permasalahan
pengadaan kendaraan dinas Bupati Pasaman Barat ini sebagai berikut : Pelaksanaan Penunjukan
Langsung kendaraan dinas yang dilakukan memang tidak sesuai dengan Keppres No. 80 Tahun 2003,
karena kriteria yang digunakan yaitu lelang gagal dua kali tidak sesuai dengan kriteria yang diatur oleh
Keppres No. 80 Tahun 2003 pasal 17 ayat (5). Namun demikian, karena berdasarkan HPS yang telah
ditentukan, pelanggaran tersebut tidak merugikan keuangan negara, kepentingan umum terlayani dan
Bapak tidak mendapatkan keuntungan, maka perbuatan itu tadi bukan termasuk tindakan korupsi.
Pada Pasal 10 huruf c PP No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dinyatakan bahwa
PA/KPA memiliki kewenangan untuk melakukan tindakan yang menyebabkan terjadi pengeluaran atas
beban anggaran. Ketentuan tersebut menjelaskan kepada kita bahwa pengadaan kendaraan dinas
tersebut merupakan kewenangan PA/KPA. Dengan demikian, pelaksanaan pengadaaan tersebut
merupakan bagian dari pelaksanaan kewenangan. Walaupun ada ketentuan Keppres No. 80 Tahun
2003 pasal 17 ayat (5) yang dilanggar, tetapi sejauh tidak merugikan keuangan negara sebagaimana
dijelaskan diatas, maka itu tidak termasuk tindak pidana korupsi. Sehingga dengan demikian tidak ada
pelanggaran kewenangan yang bapak lakukan.
Berdasarkan pada ketentuan diatas, maka dimungkinkan saja PA/KPA melaksanakan proses pengadaan
yang tidak sesuai dengan prosedur karena alasan krusial tertentu. Tetapi tetap sejauh tidak ada unsur
merugikan keuangan negara maka tidak dapat dinyatakan sebagai tindak pidana korupsi. Namun
demikian, kesalahan tersebut tetap merupakan pelanggaran namun sanksi yang diberikan bukan sanksi
pidana, tetapi sanksi yang bersifat administratif .
Bahkan terhadap kasus yang sama yang pernah terjadi di Kemendikbud, LKPP telah mengeluarkan
surat rekomendasinya sebagai berikut :
1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
pasal 66 ayat (7) dan ayat (8) dinyatakan bahwa Penyusunan HPS didasarkan pada data harga pasar
setempat, yang diperoleh berdasarkan hasil survei menjelang dilaksanakannya Pengadaan, dengan
mempertimbangkan beberapa informasi dan HPS disusun dengan memperhitungkan keuntungan dan
biaya overhead yang dianggap wajar;
2. Mengacu kepada ketentuan pada butir (1) diatas, pelaksanaan penyusunan HPS yang dilakukan
dengan melakukan survey pasar, penambahan keuntungan, PPN dan biaya overhead telah sesuai
dengan ketentuan sebagaimana dijelaskan pasal 66 diatas. Pada prinsipnya HPS disusun untuk
mendapatkan harga pasar setempat menjelang proses pelelangan dilakukan. Nilai HPS tidak dapat
digunakan sebagai perhitungan kerugian negara (pasal 66 ayat (6));
3. Penyusunan HPS yang dilakukan dengan mengacu kepada brosur-brosur dan daftar harga dari
beberapa Penyedia untuk mengetahui harga pasar pada waktu dan tempat yang sesuai dengan
pelaksanaan pelelangan, maka mekanisme tersebut telah sesuai dengan ketentuan sebagaimana
dinyatakan pada butir (1) dan (2) diatas;
4. Bilamana ditemukan ada indikasi kerugian negara yaitu selisih harga antara harga kontrak dan harga
pasar, maka diperiksa proses pengadaannya. Bilamana proses pengadaan tersebut sesuai dengan
ketentuan yang berlaku dan tidak terbukti adanya tindakan kolusi, korupsi dan nepotisme, maka
selisih harga tersebut tidak dapat dinyatakan sebagai kerugian negara.
Catatan : Kerugian negara dihitung dari selisih kontrak dan harga pasar sebagaimana dijelaskan surat
diatas, bukan selisih kontrak dengan harga yang didapat Penyedia dari pabrikan. Hal ini disebabkan
harga Penyedia adalah harga pabrikan yang sudah ditambah keuntungan, PPN dan biaya overhead.
Dengan demikian, sudah barang tentu harga pabrikan lebih murah dari harga pasar atau harga kontrak.

24

K. ANALISIS KAJIAN MENURUT TEORI PENGADAAN OLEH TRAINERS PENGADAAN


BARANG DAN JASA LKPP RI, Drs. BUDI HERMAWAN, M.Si. TERHADAP PENGADAAN
KENDARAAN DINAS BUPATI PASAMAN BARAT :
Berdasarkan Pasal 21 Perpres No. 106 Tahun 2007 tentang LKPP bahwa salah satu tugas LKPP adalah
memberikan saran, pendapat, rekomendasi dalam penyelesaian sanggah dan permasalahan hukum lainnya
dibidang pengadaan barang/jasa pemerintah.

Drs. BUDI HERMAWAN, M.Si. Memberikan kajian sebagai berikut:


Dalam teori pengadaan, ada dua SUDUT PANDANG mengenai jenis barang yang akan diadakan :
1. Sudut Pandang Pengguna Barang. Secara teori, ditinjau dari sisi perbandingan antara harga barang
terhadap dampak atau resiko terhadap pengguna barang, posisi jenis barang/jasa dapat dibagi menjadi :
a. Kuadran Routine, yaitu jenis barang yang harganya/kuantitas harganya rendah dan memiliki dampak
atau resiko yang rendah terhadap pengguna.
b. Kuadran Leverage; yaitu jenis barang yang harganya/kuantitas harganya tinggi dan memiliki
dampak atau resiko yang rendah terhadap pengguna.
c. Kuadran Bottleneck; yaitu jenis barang yang harganya/kuantitas harganya rendah dan memiliki
dampak atau resiko yang tinggi terhadap pengguna.
d. Kuadran Critical; yaitu jenis barang yang harganya/kuantitas harganya tinggi dan memiliki dampak
atau resiko yang tinggi terhadap pengguna.
2.

Sudut Pandang Penyedia Barang. Secara teori, ditinjau dari perbandingan antara nilai bisnis terhadap
daya tarik barang dimata penyedia, posisi jenis barang/jasa dapat dibagi menjadi :
a. Kuadran Marginal, dimana barang memiliki nilai bisnis rendah dan daya tarik yang juga rendah.
b. Kuadran Exploitation, dimana barang memiliki nilai bisnis tinggi tapi daya tarik yang rendah.
c. Kuadran Development, dimana barang memiliki nilai bisnis rendah tapi daya tarik yang tinggi.
d. Kuadran Core, dimana barang memiliki nilai bisnis tinggi dan daya tarik yang tinggi.

Pelelangan dinyatakan gagal karena tidak ada penyedia yang berminat. Ketidakminatan penyedia
sangat besar dimungkinkan karena jenis item barang dan biaya yang diperlukan serta prosedur pengadaannya
tidak menarik penyedia.
Secara teori, dari sudut pandang pengguna, maka keperluan terhadap kendaraan dinas merupakan
kebutuhan yang memiliki dampak tinggi karena berkaitan dengan mobilitas Bupati, dan harga yang
dikeluarkan juga relatif tinggi, sehingga bisa dikategorikan sebagai barang yang Critical.
Namun dari sisi penyedia, ternyata dari hasil pelelangan, dapat ditarik kesimpulan, bahwa barang yang
diadakan tidak menarik minat mereka, karena nilai bisnisnya dianggap kecil, hal ini terbukti dengan terjadinya
gagal lelang hingga dua kali, walaupun telah diumumkan di koran nasional juga portal resmi LKPP. Jadi
menurut sudut pandang penyedia, barang ini dapat dikategorikan Marginal atau Exploitation. Artinya nilai
bisnisnya rendah dan tidak memiliki daya tarik.
Secara teori, bila pengguna melihat jenis barang ini Critical, sementara dari penyedia melihat jenis
barang ini adalah Marginal atau Exploitation, maka posisi pengguna adalah lebih tidak menguntungkan. Dalam
artian, harus dilakukan tindakan-tindakan untuk meningkatkan daya tarik barang dimata penyedia, sehingga
penyedia menjadi lebih tertarik untuk mau melakukan bisnis.
Pada permasalahan pengadaan kendaraan dinas, setelah membaca kronologis, secara prosedur, ada
beberapa pertimbangan :
1. Telah dilakukan pelelangan sebanyak 2 kali, namun mengalami kegagalan.
2. Menurut aturan yang berlaku, maka terhadap pekerjaan yang tidak diminati oleh penyedia, opsi yang
dapat dilakukan adalah dengan swakelola.
3. Namun untuk pengadaan kendaraan dinas ini, opsi swakelola bukanlah pilihan yang dapat dilakukan
karena pengadaan kendaraan dinas tidak bisa dilakukan dengan cara swakelola.
4. Ditinjau dari sisi waktu, maka dapat dilihat bahwa waktu telah memasuki akhir semester semenjak gagal
lelang yang kedua.
5. Terhadap kondisi dan waktu ini, maka untuk tetap melakukan proses sehingga kendaraan dinas tetap bisa
diadakan, yaitu melakukan pelelangan ulang yang ketiga atau melakukan penunjukan langsung.
6. Melakukan Pelelangan ulang ketiga kalinya tetap memiliki resiko gagal lelang lagi dan berdampak tidak
terlaksananya kegiatan pengadaan kendaraan dinas Bupati.

25

7.

Melakukan Penunjukan langsung, tidak memiliki dasar aturan prosedural, namun dapat menjadi solusi
terhadap terlaksananya kegiatan pengadaan kendaraan Dinas Bupati, selama berdasar pada
PRINSIP-PRINSIP PENGADAAN TERUTAMA PRINSIP EFEKTIF DAN EFISIEN.
8. Ditinjau dari Sisi Prinsip-prinsip pengadaan, JIKA DILAKUKAN PELELANGAN ULANG ketiga
kalinya, maka ada potensi tidak terjadinya prinsip efisien dan efektif, dimana kemungkinan terjadinya
ketidak tercapaian sasaran dan tidak diperoleh manfaat, yaitu kemungkinan gagal lelang kembali,
sedangkan dana dan upaya telah keluar untuk melaksanakan hal tersebut.
9. Ditinjau dari Sisi Prinsip-prinsip pengadaan, JIKA DILAKUKAN PENUNJUKAN LANGSUNG,
maka terutama prinsip efisien dan efektif dapat dicapai (selama harga barang tidak mark up), sedangkan
prinsip lainnya, yaitu transparan, terbuka, bersaing, adil/tidak diskriminatif dan akuntabel telah dilakukan
dengan kedua pelelangan yang gagal.
10. Ditinjau dari sisi teori pengadaan, maka proses penunjukan langsung ini BISA DITERIMA, mengingat
posisi pengguna berada dalam posisi yang lebih lemah dibanding penyedia, dan penunjukan langsung bisa
menyederhanakan proses sehingga bisa menjadi salah satu cara untuk meningkatkan daya tarik maupun
nilai bisnis di mata penyedia untuk mau melakukan pengadaan.
11. Mengenai proses ikutnya proses bisnis antara PT Baladewa Indonesia dengan CV. Makna Motor, selama
hal tersebut memang tanpa sepengetahuan dan sepersetujuan PA/KPA/PPK, tentu saja hal tersebut diluar
kemampuan PA/KPA/PPK dalam melakukan pengawasan.

26

L. ANALISA UNSUR-UNSUR TINDAK

PIDANA KORUPSI

sesungguhnya perbuatan adil itu lebih mendekati ketaqwaan


Proses pelelangan/seleksi sampai dengan penetapan pemenang adalah wilayah Hukum Administrasi
Negara. Proses pelaksanaan kontrak sampai dengan serah terima pekerjaan adalah wilayah Hukum
Perdata. Proses pelelangan atau proses kontrak, selama tidak ada pemalsuan, mark up, fiktif dan kerugian
negara maka bukanlah terkena sanksi pidana Dimana wilayah hukum pidana ?
Wilayah hukum pidana dapat terjadi sejak proses pelelangan/seleksi sampai dengan kontrak selesai dikerjakan
BILA ada tindakan pidana. Apa itu tindakan pidana dalam pengadaan ?
Tindakan pidana dalam pengadaan bila ada unsur TPS :
T

yaitu tipuan

yaitu paksaan

yaitu suap

TIPUAN, seperti ada pemalsuan dokumen, pekerjaan fiktif, berita acara serah terima yang ternyata fiktif, mark
up, melakukan kecurangan dalam pekerjaan, dan memalsu laporan.
PAKSAAN yaitu kita memaksa/ mengancam sehingga terjadi pemaksaan penetapan pemenang, tanda tangan
kontrak di bawah ancaman. Bukti paksaan dapat berupa instruksi tertulis, rekaman lisan, dsb.
SUAP seperti meminta atau menerima komisi/hadiah.
Bila tidak ada tiga hal tersebut maka bukan perbuatan pidana, hanya mal administrasi, kesalahan admistrasi
saja sehingga pegawai hanya dikenakan sanksi administrasi. Sedangkan penyedia antara lain dapat dikenakan
sanksi administrasi, perdata atau denda.
Kesalahan menggunakan penunjukan langsung yang semestinya pelelangan atau kesalahan mengunakan
swakelola yang semestinya pelelangan adalah kesalahan administrasi bukan kesalahan pidana. Terhadap
kesalahan tersebut sepanjang tidak ada mark up (sudah sesuai dengan harga pasar), sepanjang tidak fiktif,
terima komisi, pemalsuan dokumen maka kesalahan tersebut bukan tindakan pidana.
Apakah sebenarnya yang menjadi unsur-unsur dari Tindak Pidana Korupsi (TPK), pada Undang-Undang No.
31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi Pasal 2 ayat 1 disebutkan bahwa Setiap orang secara melawan
hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat
merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana penjara dengan penjara seumur hidup atau
pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit
Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).
Kemudian pada Pasal 3 disebutkan : Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang
lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena
jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan
pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling sedikit 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh)
tahun dan atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.
1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah). Pasal 3 kata dapat dalam ketentuan ini diartikan sama dengan
penjelasan pasal 2.
Berdasarkan pasal tersebut, terdapat 4 (empat) unsur yang harus dipenuhi dalam tindak pidana korupsi yang
apabila salah satu unsurnya tidak terdapat cukup bukti, maka pasal ini menjadi gugur, yaitu:
Pasal 2:
1. Setiap Orang
2. Secara Melawan Hukum
3. Melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi
4. Merugikan keuangan negara atau perekonomian negara
Pasal 3 ayat 1:
1. Setiap Orang
2. Dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi
3. Menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau
kedudukan
4. Dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara
27

Sehingga dapat diambil kesimpulan mengenai unsur-unsur tindak pidana korupsi adalah sebagai berikut:
1. Melawan Hukum
2. Memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi
3. Merugikan keuangan negara atau perekonomian negara
4. Menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau
kedudukan
Berikut dapat kita bahas satu persatu.
1. MELAWAN HUKUM
Penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang No. 31 Tahun 1999:
Yang dimaksud dengan secara melawan hukum dalam pasal ini mencakup perbuatan melawan hukum
dalam arti formil maupun dalam arti materil, yakni meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam
peraturan perundang-undangan, namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai
dengan rasa keadilan atau norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat, maka perbuatan tersebut dapat
dipidana. Dalam ketentuan ini, kata dapat sebelum frasa merugikan keuangan atau perekonomian
negara menunjukkan bahwa tindak pidana korupsi merupakan delik formil, yaitu adanya tindak pidana
korupsi cukup dengan dipenuhinya unsur-unsur perbuatan yang sudah dirumuskan bukan dengan timbulnya
akibat.
Suatu perbuatan masuk dalam ruang lingkup hukum pidana, perdata atau administrasi negara ditentukan
oleh sumber pengaturan dan sanksinya. Jika diatur dalam hukum pidana dan disertai ancaman pidana, maka
perbuatan tersebut masuk dalam ruang lingkup hukum pidana, dan itulah tindak pidana. Jika perbuatan itu
ditentukan dalam hukum administrasi beserta sanksi administrasi, maka perbuatan itu masuk ruang lingkup
hukum administrasi. Jika sumber pengaturannya dan sanksinya bersifat perdata, maka perbuatan itu masuk
ruang lingkup hukum perdata.
Dalam hubungannya dengan hukum pidana korupsi, khususnya Pasal 2 UUPTK, pelanggaran administrasi
dapat merupakan tempat/ letak atau penyebab timbulnya sifat melawan hukum perbuatan, apabila terdapat
unsur sengaja (kehendak dan keinsyafan) untuk menguntungkan diri dengan menyalahgunakan kekuasaan
jabatan, yang karena itu merugikan keuangan atau perekonomian negara. Perbuatan administrasi yang
memenuhi syarat-syarat yang demikian itu membentuk pertanggungjawaban pidana. Apabila unsur-unsur
tersebut tidak ada, terutama unsur merugikan keuangan/ perekonomian negara, maka yang terjadi adalah
kesalahan prosedur/ administrasi, dan tidak ada sifat melawan hukum korupsi dalam hal semata-mata salah
prosedur. Perbuatan itu sekedar membentuk pertanggungjawaban hukum administrasi saja.
Dari rumusan Pasal 1365 KUH Perdata bisa dirumuskan unsur-unsur dari Perbuatan Melawan Hukum
adalah sebagai berikut :
1. Adanya suatu perbuatan;
2. Perbuatan tersebut melawan hukum;
3. Adanya kesalahan dari pihak pelaku;
4. Adanya kerugian bagi korban;
Bentuk pertanggungjawaban tindak pidana, administrasi atau perdata ditentukan oleh sifat pelanggaran
(melawan hukumnya perbuatan) dan akibat hukumnya. Bentuk pertanggungjawaban pidana selalu bersanksi
pidana. Pertanggungjawaban administrasi selalu bersanksi administrasi, dan pertanggungjawaban perdata
ditujukan pada pengembalian kerugian keperdataaan, akibat dari wanprestasi atau onrechtsmatige daad.
Pada dasarnya setiap bentuk pelanggaran selalu mengandung sifat melawan hukum dalam perbuatan itu.
Dalam hal sifat melawan hukum tindak pidana, selalu membentuk pertanggungjawaban pidana sesuai tindak
pidana tertentu yang dilanggarnya. Sementara sifat melawan hukum administrasi dan perdata, sekedar
membentuk pertanggungjawaban administrasi dan perdata saja sesuai dengan perbuatan yang dilakukan.
Pada dasarnya kesalahan administrasi tidak dapat dipertanggungjawabkan secara pidana. Namun apabila
kesalahan administrasi tersebut disengaja dan disadari merugikan keuangan negara, dan dilakukan dengan
memperkaya diri atau dengan menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana jabatan, maka
kesalahan administrasi seperti itu merupakan tempat melekatnya/ letak atau penyebab sifat melawan
hukumnya korupsi, dan karenanya membentuk pertanggungjawaban pidana dan dapat dipidana berdasarkan
Pasal 2. Pelanggaran administrasi bukan merupakan letak/ tempat tindak pidana korupsinya, melainkan
tempat/ letak sifat melawan hukumnya korupsi. Karena tidak mungkin terjadi korupsi pada perbuatan yang
28

sifatnya semata-mata pelanggaran administrasi maupun semata-mata bersifat pelanggaran hubungan


keperdataan saja.
Pelanggaran hukum perdata, seperti wanprestasi dari suatu kontrak/ perjanjian atau perbuatan melawan
hukum meskipun akibatnya negara dirugikan, tidak bisa serta merta membentuk pertanggungjawaban
pidana. Dalam hal negara dirugikan oleh wanprestasi atau perbuatan melawan hukum, pemulihan kerugian
dilakukan dengan mengajukan gugatan perdata, bukan melalui penuntutan pidana di peradilan pidana.
Dalam hal badan publik melakukan perbuatan perdata, maka prosedur, syarat-syarat yang ditentukan dalam
hukum perdata harus diikuti. Badan publik tersebut harus tunduk pada hukum perdata. Namun apabila
terdapat aturan lain ( accessoir ) bersifat administrasi dalam hal prosedur untuk keabsyahan perbuatan
hukum perdata tersebut, mengingat untuk kepentingan publik, maka apabila pengaturan administrasi
tersebut dilanggar, dapat merupakan letak sifat melawan hukum korupsi, apabila memenuhi unsur
kesengajaan yang disadari merugikan keuangan/ perekonomian negara yang dilakukan dengan perbuatan
memperkaya atau dilakukan dengan menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana jabatan.
Dalam hal melakukan perbuatan-perbuatan seseorang yang mewakili badan publik, misalnya suatu
Pemerintah Daerah dalam hal melakukan perbuatan perdata/ kontrak dengan pihak swasta dengan melalui
prosedur administrasi negara. Sepanjang prosedur administrasinya diikuti, maka tidak ada sifat melawan
hukum korupsi didalamnya. Andaikata ada segi-segi prosedur administrasi yang tidak diikuti dalam
melakukan perbuatan perdata dari suatu badan publik (misalnya kontrak dengan pihak swasta), asalkan
tidak dilakukan dengan memperkaya diri atau menyalahgunakan kewenangan, sarana atau kesempatan
jabatan dan tidak menimbulkan kerugian keuangan negara, maka pelanggaran administrasi tersebut
merupakan letak dan sifat melawan hukumnya perbuatan korupsi, pelanggaran administrasi
dipertanggungjawabkan secara administrasi saja. Sifat melawan hukum korupsi hanya bisa terjadi pada
pelanggaran prosedur administrasi yang disengaja dengan kesadaran merugikan negara yang dilakukan
dengan perbuatan memperkaya diri atau dengan menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana
jabatan. Tiga unsur, ialah pelanggaran prosedur yang disengaja, merugikan keuangan negara dan dilakukan
dengan menyalahgunakan kewenangan, sarana atau kesempatan jabatan, sifatnya kumulatif, sebagai syarat
terbentuknya pertanggungjawaban pidana korupsi.
Untuk menentukan kerugian negara dalam perkara korupsi, bisa meminta bantuan audit invistigasi, namun
bukan keharusan. Menentukan kerugian negara dalam perkara korupsi, hasil audit BPKP tidak mengikat
hakim. Hakim bebas menentukan perhitungannya sendiri berdasarkan alat-alat bukti di dalam sidang dengan
menggunakan akal dan logika hukum serta kepatutan.

2. MEMPERKAYA DIRI ATAU KORPORASI


Perbuatan memperkaya diri dalam Pasal 2 UUTPK bentuknya abstrak, yang terdiri dari banyak
wujud-wujud konkret. Wujud konkret itulah yang harus dibuktikan. Untuk membuktikan wujud
memperkaya selain membuktikan bentuknya, misalnya wujud mencantumkan kegiatan fiktif perlu juga
membuktikan ciri- cirinya, yaitu : Pertama, dari perbuatan itu yang bersangkutan memperoleh suatu
kekayaan. Kedua, jika dihubungkan dengan sumber pendapatannya, kekayaannya tidak seimbang dengan
sumber yang menghasilkan kekayaan tersebut. Ketiga, jika dihubungkan dengan wujudnya, perbuatan
tersebut bersifat melawan hukum. Keempat jika dihubungkan dengan akibat, ada pihak lain yang dirugikan
dalam hal ini merugikan keuangan negara.
Kalau orang korupsi atau menerima uang, jelas dapat dihukum, bagaimana kalau tidak menerima apapun
tetapi melakukan kesalahan prosedural aturan. Berarti dia hanya melanggar hukum administrasi negara.
Dalam UU Tipikor ada kata yang menarik yaitu dengan tujuan. Jadi dengan tujuan memperkaya diri,
yang niat dengan tujuan memperkaya diri dalam kewenangan penggunaan dana negara dapat dihukum.
Perlu pembuktian adanya yang dengan tujuan yaitu telah menerima. Dibanyak negara melanggar prosedural
aturan adalah dikenakan hukum administrasi. Pendapat ini, berbeda dengan pendapat disebagian praktisi
hukum di Indonesia yang menganggap melanggar aturan adalah Pidana bila ada kerugian negara, baik
disengaja maupun tidak.
Dalam hal bukan kesengajaan atau bukan dengan tujuan memperkaya diri, maka kesalahan administrasi
yang ada kerugian negara pun perlu ditinjau kembali bahwa hal tersebut bukan tindakan korupsi. Kalau ada
ketidak patutan harga akibat proses yang bukan dengan tujuan, diminta setor saja ke kas negara/ kas
daerah.
29

3. MERUGIKAN KEUANGAN NEGARA


Karena negara kita adalah negara hukum, maka suatu tindakan dinyatakan benar atau salah haruslah
disandarkan kepada hukum yang berlaku. Kata seharusnya harus bisa merujuk kepada pasal (ayat) aturan
yang berlaku. Demikian juga penerapan pasalnya, harus relevan. Berikut ini beberapa pendapat yang
menyatakan tentang kerugian negara :
1. Defenisi kerugian negara disandarkan kepada UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
Pasal 1 angka 22 jelas mendefenisikan kerugian negara adalah kekurangan uang, surat berharga dan
barang yang NYATA dan PASTI jumlahnya sebagai akibat PERBUATAN MELAWAN HUKUM
baik SENGAJA maupun lalai.
2. Dengan demikian, suatu perbuatan yang tidak melanggar hukum tidak bisa dianggap kerugian negara.
3. Pernyataan 1 dan 2 menimbulkan suatu simpulan, kerugian negara adalah akibat dari perbuatan
melawan hukum, bukan kondisi atau bukan temuan dalam istilah audit.
4. HPS sudah disusun dengan benar, perpres dan perka tidak menyebut secara khusus tentang diskon tapi
harga pasar. Disini tidak bisa digeneralisir harus atau tidak harus hitung diskon. Contohnya Ramayana
yang jelas tiap hari diskon...misal 20 %. Berapa harga pasar sebenarnya ? (pasar bukan satu titik waktu
tapi kontinum kesinambungan waktu dilokasi tertentu). Sudah jelas 80 % karena strategi pasarnya
seperti itu. (alat kesehatan konon seperti Ramayana....tapi gelap % nya...afgan or sadis
kadang-kadang). Yang kedua, Matahari Dept store ulang tahun dan kasih diskon spesial 20 % selama 4
hari, setelah itu normal. Berapa harga pasar? Untuk pengadaan langsung yang 1 hari bisa kelar, HPS ya
80 %. Tapi bila lelang...jelas 100 % (hari ke 5 harga sudah normal). Bagaimana bila discount terkait
volume ?... ini perlu dijawab dengan rumus or gambar demand supply di ekonomi, maka supply yang
menunjukan market adalah sesudah diskon volume.
5. Kerugian negara tidak dapat dihitung dengan perbedaan antara nilai kontrak dengan harga survey dan
harga-harga yang disampaikan melalui internet karena harga tersebut belum termasuk PPN, PPh, biaya
lainnya dan overhead sebagaimana diamanatkan dalam Keppres No. 80 Tahun 2003 dan
Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 1994 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun
1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah.
6. Masalah berapa keuntungan penyedia maksimal ? Silahkan cari di UU, Perpres, Perka, Peraturan
Menteri, hingga RT. Saya yakin tidak ada yang mengatur, lantas yang 15 % ? itu di Perpres PBJ dan
itu jelas untuk HPS, bukan mengatur penjual.
Merujuk definisi Kerugian Negara/ Daerah dalam Pasal 1 angka 22 UU Perbendaharaan Negara, jelas
bahwa setelah berlakunya UU ini tanggal 14 Januari 2004, pengertian kerugian keuangan negara/daerah
tidak dapat ditafsirkan lain selain apa yang telah ditegaskan dalam ketentuan tersebut. Tafsir hukum
kerugian yang akan timbul atau potensi kerugian negara, tidak dapat dibenarkan lagi. Sejalan dengan asas
Lex Posteriori derogate lege priori, hukum yang lama dibatalkan/tidak berlaku setelah ada hukum yang
baru, maka tafsir kerugian negara/daerah yang sah adalah berdasarkan UU Perbendaharaan Negara, bukan
yang tercantum dalam ketentuan Pasal 2 dan Pasal 3 UU RI No. 31 Tahun 1999 yang telah diubah UU RI
No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Asas penafsiran hukum yang
menyatakan bahwa hukum yang terbaru (posterior) mengesampingkan hukum yang lama (prior). Asas ini
biasanya digunakan baik dalam hukum Nasional maupun Internasional.
Kerugian negara di dunia internasional dan dalam UU Tipikor
Dalam United Nations Convention Against Corruption ( UNCAC ) yang sudah diratifikasi dengan UU No. 7
Tahun 2006 tidak lagi memasukkan kerugian negara sebagai salah satu unsur tindak pidana korupsi.
Yang dilihat adalah adanya suap, gratifikasi dan adanya ketidakpatutan aliran dana. Ini masih berbeda
dengan dengan UU Tipikor. Bagaimana hakim memutus seseorang melakukan tindak pidana korupsi ?
Caranya adalah memastikan apakah perbuatan orang tersebut memenuhi tiga unsur yang terdapat dalam UU
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor). Tiga unsur itu adalah melawan hukum, memperkaya
diri sendiri atau orang lain, dan adanya kerugian keuangan negara.
Yurisprudensi :
- Keputusan MA No. 42 /K / 66 Tanggal 8 Januari 1966
- Keputusan MA No. 81 / K / 73 Tanggal 30 Maret 1973
Walaupun ada perbuatan melawan hukum dan menyalahgunakan kewenangan sepanjang negara tidak
dirugikan, kepentingan umum terlayani dan terdakwa tidak mendapatkan keuntungan, Pebuatan tersebut
bukan TIPIKOR

30

Pada Pasal 1365 KUHPerdata dengan jelas dinyatakan bahwa :


Tiap perbuatan yang melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain mewajibkan
orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut
Menghitung Kerugian Negara Dari Nilai Perolehannya
Jangan dilihat cara mencari adanya kerugian negara dilihat dari bagaimana harga yang didapat oleh PT
ABC dari pemasoknya. Suatu kesalahan menghitung kerugian negara bila menghitung PT ABC menjual
Rp. 980 juta sedangkan harga perolehannya dari pemasok adalah Rp. 680 juta sehingga 980-680 negara
rugi 300 juta. (disini keuntungan lebih dari 10 %). Andaikata Saudara pembaca sebagai pemain baru, bisa
jadi hanya memperoleh pada harga 930 juta akankah dinilai kerugian negara sebesar Rp. 980 - 930 = 50
JUTA. Keuntungan sekitar 5 %, lalu dimana sifat pastinya kerugian negara itu. Kesimpulannya, dalam
pelelangan yang sesuai aturan, penyedia boleh untung berapapun. Sedangkan untuk membuat HPS bila
belum ada keuntungan dapat diberikan 10 % atau 15 %.
Kesimpulannya untuk mencari kewajaran harga pasar, yang tidak ditemukan informasi harga dari penyedia
lain dalam satu level maka digunakan harga perolehan.
Kenapa metode harga perolehan tidak layak digunakan bila penyedianya banyak. Jawabannya bisnis adalah
bertandingnya banyak keunggulan (competitive advantage) dan motivasi penyedia. Kalau semua diminta
seragam keuntungannya 10 %, ya jangan lelang dong !
Lantas yang disebut Penyedia satu level itu bagaimana ? Yang dimakasud dengan penyedia satu level
adalah :
Level pabrikan dengan pabrikan
Level distributor dengan dengan distributor
Level agen dengan agen
Level pengencer dengan pengencer.
Menghitung Kerugian Negara dari penetapan kebutuhan yang berlebihan
Pengadaan dimulai dari perencanaan kebutuhan (need) yang tepat, bukan alasan keinginan (want) untuk
daerah-daerah yang jalan akses nya memerlukan mobil kendaraan dengan spesifikasi yang lebih maka
pelayanan kepada masyarakat akan lebih efektif dengan mobil yang tidak biasa.
Untuk daerah yang tidak sulit jalannya, bisa terjadi pengadaan dengan mobil spesifikasi seperti itu akan
dinilai berlebihan.
Apakah pengadaan yang terjadi dengan barang/ jasa yang berlebihan dinilai sebagai kerugian negara ?
Hal ini hanya sebagai potensi pemborosan anggaran saja, yang penting nilai kontrak barang dan jasa adalah
wajar dengan harga pasarnya.
4. MENYALAHGUNAKAN KEWENANGAN
Perbuatan menyalahgunakan kewenangan dalam Pasal 3 UUPTK adalah menggunakan wewenang yang
melekat pada jabatan/ kedudukan secara menyimpang dari tatalaksana yang semestinya, sebgaimana yang
diatur dalam peraturan, petunjuk tata kerja, instruksi dinas, dan lain-lain, yang bertentangan dengan maksud
dan tujuan dari kedudukan jabatan tersebut.
PP No. 58 tahun 2005 Pasal 10 Huruf c tentang Pengelolaan Keuangan Daerah yang dijabarkan dengan
Permendagri No 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, dinyatakan bahwa :
PA/KPA memiliki kewenangan untuk melakukan tindakan yang menyebabkan terhadap pengeluaran atas
beban anggaran
Di dalam Undang-Undang No. 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan pada Pasal 21 :
(1) Pengadilan berwenang menerima, memeriksa, dan memutuskan ada atau tidak ada unsur
Penyalahgunaan Wewenang yang dilakukan oleh Pejabat Pemerintahan.
(2) Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan untuk menilai
ada atau tidak ada unsur Penyalahgunaan Wewenang dalam Keputusan dan/atau Tindakan.
(3) Pengadilan wajib memutus permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling lama 21 (dua puluh
satu) hari kerja sejak permohonan diajukan.
31

(4) Terhadap putusan Pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diajukan banding ke
Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara.
(5) Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara wajib memutus permohonan banding sebagaimana dimaksud pada
ayat (4) paling lama 21 (dua puluh satu) hari kerja sejak permohonan banding diajukan.
(6) Putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (5) bersifat final dan
mengikat
Selanjutnya sejalan dengan hal tersebut diatas, maka dengan keluarnya UU No. 30 Tahun 2014 tentang
Administrasi Pemerintahan, maka semua tuduhan penyalahgunaan kewenangan terhadap Aparatur Sipil
Negara, terlebih dahulu harus dibuktikan dan diuji di depan persidangan pengadilan sampai mempunyai
kekuatan hukum yang tetap. Pengadilan yang dimaksudkan oleh UU ini adalah Pengadilan Tata Usaha
Negara. Bukan Pengadilan Tipikor sebagaimana selama ini dilakukan oleh aparat penyidik untuk meng A
FAIT A COMMPLY pengadilan, dengan jargon saktinya : Buktikan saja nanti di pengadilan. Yang
penting sekarang dengan kewenangan UU yang ada pada kami, saudara kami tahan dulu. Hal ini tidak
sesuai dengan azas yang dianut yaitu azas praduga tak bersalah.
Asas Praduga tak bersalah ( Presumption Of Innocence ) :
- Asas dimana seseorang dinyatakan tidak bersalah hingga pengadilan menyatakan bersalah. Asas ini
sangat penting pada Demokrasi Modern dangan banyak Negara memasukkannya ke dalam
konstitusinya.
- Asas yang menyatakan bahwa setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut atau diperiksa
pada sidang pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan hakim yang berkekuatan
hukum yang menyatakan bahwa tersangka atau tertuduh bersalah.
Dalam Penafsiran Undang-Undang No. 30 Tahun 2014 terdapat perbedaan antara kami dengan penyidik,
pada hal di dalam Perundangan dikenal ada Asas Penafsiran Perundangan yaitu :
1. Asas Lex Specialist Derogate Legi Generali.
Dalam Hukum terdapat suatu Asas penting yang dikenal dengan Specialist Derogate Legi Generali .
Secara sederhana hal ini berarti aturan yang bersifat khusus (Specialist ) mengesampingkan aturan yang
bersifat umum ( Generali ), maka aturan yang bersifat umum itu tidak lagi sebagai hukum ketika telah
ada aturan yang lebih khusus. Dengan kata lain, aturan yang khusus itulah sebagai hukum yang valid,
dan mempunyai kekuatan mengikat untuk diterapkan terhadap peristiwa-peristiwa konkrit.
2. Asas Lex Posterior Legi Priori :
Yaitu : pada peraturan yang sederajat, peraturan yang paling baru melumpuhkan peraturan yang lama.
Jadi peraturan yang telah diganti dengan peraturan yang baru, secara otomatis dengan asas ini peraturan
yang lama tidak berlaku lagi. Biasanya dalam peraturan Per Undang-undangan ditegaskan secara
Ekspilit yang mencerminkan asas ini.
3. Asas Lex Superior Derogate Legi Interior
Yaitu : Peraturan yang lebih tinggi akan melumpuhkan peraturan yang lebih rendah. Jadi jika ada suatu
peraturan yang lebih rendah bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi, maka yang digunakan
adalah peraturan yang lebih tinggi tersebut. Bagi peraturan Per Undang-undangan yang bertentangan
dengan peraturan yang lebih tinggi, maka dapat dilakukan Judicial Review ( Uji Material ) yang
diajukan melalui gugatan dan keberatan kepada MK dan MA
4. Asas legalitas
Tiada suatu peristiwa dapat pidana selain dari kekuatan ketentuan Undang-undang pidana yang
mendahuluinya. Asas legalitas mendukung 3 pengertian , yaitu :
a. Tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan Pidana kalau hal itu tidak terlebih dahulu
dinyatakan dalam suatu aturan Undangundang.
b. Untuk menentukan adanya perbuatan pidana tidak boleh digunakan Analogi ( Qiyas )
c. Aturan-aturan Hukum Pidana tidak berlaku surut.
Perbedaan penafsiran penyalahgunaan wewenang ini mengulang kembali perdebatan lama diantara para
ahli hukum tentang adanya keterkaitan antara hukum administrasi negara dengan hukum pidana yang
dalam hal ini khususnya mengenai tindak pidana korupsi. Keterkaitan tersebut menimbulkan kesulitan
dalam membedakan kapan seorang aparatur negara itu melakukan perbuatan melawan hukum yang
masuk dalam ruang lingkup hukum pidana dan kapan dapat dikatakan melakukan penyalahgunaan
wewenang yang masuk dalam ruang lingkup hukum administrasi negara.
Penyalahgunaan kewenangan mempunyai karakter atau ciri:
- Menyimpang dari tujuan atau maksud dari suatu pemberian kewenangan
- Menyimpang dari tujuan atau maksud dalam kaitannya dengan azas legalitas
32

- Menyimpang dari tujuan atau maksud dalam kaitannya dengan azas-azas umum pemerintahan
yang baik
Secara substansial, asas spesialitas (specialialiteit beginsel) mengandung makna bahwa setiap
kewenangan memiliki tujuan tertentu. Penyimpangan terhadap azas ini akan melahirkan penyalahgunaan
kewenangan (detournement de pouvoir). Parameter peraturan perundang-undangan maupun azas-azas
umum pemerintahan yang baik digunakan untuk membuktikan instrumen atau modus penyalahgunaan
kewenangan (penyalahgunaan kewenangan dalam pasal 3 UU TPK), sedangkan penyalahgunaan
kewenangan baru dapat diklasifikasikan sebagai tindak pidana apabila berimplikasi terhadap kerugian
negara atau perekonomian negara (kecuali untuk tindak pidana korupsi suap, fratifikasi dan pemerasan),
terdakwa mendapat keuntungan, masyarakat tidak terlayani dan perbuatan tersebut merupakan tindakan
tindakan tercela.
Dengan demikian, lahirnya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 adalah jawaban dari ketidakpastian
penyalahgunaan wewenang yang selama ini jadi ancaman oleh Jaksa Penyidik dan Penuntut Umum untuk
memvonis seseorang melakukan tindak pidana korupsi.
Atas dasar keadilan demi hukum, apabila Kejaksaan menuduhkan kepada saya adanya tindakan saya yang
melakukan penyalah gunaan wewenang, maka saudara penyidik harus membuktikan tuduhan ini terlebih
dahulu di Pengadilan, yang dalam hal ini menurut UU No. 30 Tahun 2014 adalah Pengadilan Tata Usaha
Negara (PTUN).
Tanpa adanya pengujian di PTUN, maka kepada Pejabat Pemerintahan tidak bisa begitu saja dengan
mudahnya dituduh melakukan penyalah gunaan kekuasaan/wewenang, sebagaimana praktek yang buruk
dan sewenang-wenang yang selama ini dilakukan oleh aparat penegak hukum sebelum UU ini ada.
Dan hal ini, sejiwa dengan proses eksaminasi yang dilakukan oleh Jaksa Agung Muda Bidang Pidana
Khusus (Jampidsus) Hendarman Supandji sebagaimana pernyataannya, karena memang diduga, ada
beberapa Jaksa yang melakukan kebohongan dan tidak profesional didalam melaksanakan ketentuan
peraturan perundang-undangan penegakan hukum. Misalnya, menetapkan seseorang sebagai tersangka
sebelum dilakukan penyelidikan atau mengurangi atau menambah jumlah tersangka dari jumlah
yang sebenarnya Eksaminasi tersebut dilakukan dalam upaya pembenahan perilaku dan sistem
pengawasan di kejaksaan.
Selain mengantisipasi pelanggaran ketentuan penegakan hukum di atas, juga harus diwaspadai perilaku
jaksa atau penyidik lainnya di dalam melaksanakan tugas penegakan hukum yang dengan mudahnya
memproses hukum terhadap seseorang yang diduga melakukan tindak pidana, tanpa bukti yang cukup dan
kemudian membiarkan pengadilan yang membuktikan kebersalahan orang tersebut, dengan kalimat
saktinya, BUKTIKAN SAJA NANTI DI PENGADILAN.
Penyidik memang memiliki kewenangan penyidikan berdasarkan undang-undang, tetapi penyidik juga
dibebani tanggung jawab untuk menjalankan kewenangan tersebut secara benar dan bertanggung jawab.
Saya sebagai korban ataupun masyarakat lainnya secara hukum dapat meminta pertanggungjawaban
aparat penyidik baik sebagai lembaga maupun sebagai pribadi pejabat, bila bapak-bapak melakukan
penyimpangan dalam proses penyidikan dan bertindak sewenang-wenang, yang melanggar hak-hak asasi
warga negara dan hak azazi manusia.
Dengan demikian, pernyataan penyidik yang menyatakan bahwa masalah penyalahgunaan wewenang
adalah masih merupakan debatable antara para ahli hukum pidana dengan ahli hukum administrasi negara
sebagaimana yang dinyatakan jaksa dalam jawabannya terhadap gugatan pra peradilan kasus ini, adalah
pernyataan yang sangat naif dari seorang aparat hukum karena mengingkari azas hukum itu sendiri yaitu
suatu peraturan apabila telah diundangkan, maka semua orang dianggap telah mengetahuinya (Eidereen
Wordt Geacht De Wette Kennen)
Sementara mereka, aparat penyidik ini malah tidak mengetahui bahwa telah ada Undang-undang baru
yang mengakhiri debatable tersebut.

33

M. ANALISA DUGAAN TINDAK PIDANA KORUPSI


TERHADAP TERSANGKA Drs. H. HENDRI, MM.

YANG DISANGKAKAN

Pada Kasus Pengadaan Kendaraan Dinas Bupati Pasaman Barat Tahun 2010 yang terhadap saya didugakan
melakukan tindak pidana korupsi sewaktu saya menjabat KPA Bagian Umum Sekretariat Daerah Kab.
Pasaman Barat Tahun 2010 sehingga saya ditetapkan sebagai tersangka, ada beberapa tuduhan yang
dituduhkan kepada saya yaitu:
bahwa dalam pelaksanaan kegiatan dimaksud saya disangkakan tidak melaksanakan sesuai dengan
Keppres No. 80 Tahun 2003 sehingga mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp. 276.887.273 yang mana
dengan perbuatan tersebut saya dinyatakan melanggar pasal 2 ayat (1) jo pasal 3 jo pasal 18
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31
Tahun 1999. (Sumber Surat Perpanjangan Penahanan Nomor B-1803/N.3.23/Fd.1/11/2014)
Berikut saya bahas mengenai sangkaan yang diberikan kepada saya:
1. Pelaksanaan Pengadaan Kendaraan Dinas Bupati Pasaman Barat Tahun 2010 tidak sesuai aturan Keppres
No. 80 Tahun 2003, dalam hal ini yang dimaksud adalah tidak sesuai prosedur.
2. Kendaraan yang dilaksanakan pengadaannya tidak sesuai dengan speksifikasi yang telah ditetapkan pada
kontrak.
3. Terdapat kerugian negara
Berikut diuraikan analisa tersebut :
1.

PELAKSANAAN PENGADAAN KENDARAAN TIDAK SESUAI PROSEDUR


Bahwa pengadaan Kendaraan Dinas Operasional Bupati Pasaman Barat tahun 2010 dilakukan dengan
dasar Keppres No. 80 Tahun 2003 dan aturan-aturan perubahannya. Setelah dilakukan dua kali
pelelangan umum, yang diumumkan melalui media nasional koran tempo, tidak satupun ada calon
penyedia barang yang memasukkan penawaran sehingga pelelangan mengalami dua kali gagal.
Kemudian selanjutnya dilakukan Penunjukan Langsung terhadap satu penyedia barang yaitu PT.
Baladewa Indonesia, hal inilah yang berkemungkinan dikatakan tidak sesuai dengan Keppres No. 80
Tahun 2003 dan dianggap menyalahgunakan wewenang.
Namun, pada Pasal 10 huruf c PP No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dinyatakan
bahwa PA/ KPA memiliki kewenangan untuk melakukan tindakan yang menyebabkan terjadi
pengeluaran atas beban anggaran. Ketentuan tersebut menjelaskan kepada kita bahwa pengadaan
kendaraan dinas tersebut merupakan kewenangan PA/ KPA. Dengan demikian, pelaksanaan pengadaaan
tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan kewenangan. Sehingga dengan demikian tidak ada
pelanggaran kewenangan yang dilakukan. Walaupun penunjukan langsung untuk pengadaan kendaraan
dinas bupati Pasaman Barat tidak memenuhi kriteria yang di atur dalam pasal 17 ayat (5) Keppres No.
80 Tahun 2003, tetapi mengingat prinsip-prinsip pengadaan yang di atur dalam Pasal 3 Keppres No. 80
Tahun 2003, yaitu prinsip efisien dan efektif, jika dilakukan pelelangan ulang ketiga kalinya, maka
ada potensi tidak terjadinya prinsip efisien dan efektif, dimana kemungkinan terjadinya ketidak
tercapaian sasaran dan tidak diperoleh manfaat, yaitu kemungkinan gagal lelang kembali, sedangkan
dana dan upaya telah keluar untuk melaksanakan hal tersebut. Jika dilakukan penunjukan langsung,
maka terutama prinsip efisien dan efektif dapat dicapai (selama harga barang tidak mark up), sedangkan
prinsip lainnya, yaitu transparan, terbuka, bersaing, adil/ tidak diskriminatif dan akuntabel telah
dilakukan dengan kedua pelelangan yang gagal.
Jangan sampai kesejahteraan negeri dan pembangunan menjadi terhambat dan tidak terwujud karena
semua orang tidak mau membelanjakan anggaran Negara/Daerah karena ketika salah prosedural akan
dipidanakan. Padahal Proses Pengadaan Barang dan Jasa adalah wilayahnya Hukum Administrasi
Negara, Hukum Perdata dan Hukum Persaingan Usaha.
Proses pengadaaan (pelelangan/seleksi) sampai dengan penetapan pemenang lelang/seleksi adalah
proses Hukum Administrasi Negara. Dalam prakteknya adalah suatu ironi bahwa proses tersebut adalah
wilayah Administrasi Negara, namun dibawa ke masalah pidana.
Dalam proses pelelangan/seleksi ini bila ada ketidakpuasan bisa disampaikan di penjelasan lelang,
sanggah, sanggahan banding, pengaduan ke APIP (Aparat Pengawasan Intern Pemerintah) dan paling
34

tinggi ke Pengadilan Tata Usaha Negara. Jadi dalam proses pelelangan/seleksi sampai penetapan
pemenang belum ada kerugian Negara, maka wilayah hukumnya adalah kewenangan APIP (Aparat
Pengawasan Intern Pemerintah) atau PTUN. Pengaduan dalam proses pelelangan seharusnya
disampaikan dan ditangani oleh APIP.
Dengan demikian sepanjang tidak ada tindakan kerugian Negara atau tindakan pidana, proses
pelelangan/seleksi tidak perlu dibawa ke ranah pidana. Seperti misal ada kesalahan prosedur yang
seharusnya lelang tetapi dilakukan dengan penunjukan langsung, kesalahan pembuatan dokumen
pengadaan, kesalahan evaluasi, kesalahan pengetikan nomor, tanggal surat, footnote, dan kop surat,
kesalahan penetapan pemenang, sepanjang tidak ada kerugian Negara, sepanjang tidak ada terima
komisi, mark up, fiktif, pemalsuan dokumen maka hanya merupakan tindakan kesalahan dalam Hukum
Administrasi Negara.
Hukum Administrasi Negara adalah himpunan peraturan hukum yang mengatur dan mengikat alat-alat
administrasi negara dalam menjalankan tugas, fungsi dan wewenang alat-alat administrasi negara dalam
melayani warga negara agar senantiasa memperhatikan kepentingan masyarakat.
Subyek Hukum Administrasi Negara antara lain Pegawai Negeri. Sanksi dalam Hukum Administrasi
yaitu alat kekuasaan yang bersifat hukum publik yang dapat digunakan oleh pemerintah sebagai reaksi
atas ketidakpatuhan terhadap kewajiban yang terdapat dalam norma Hukum Administrasi Negara.
Sanksi administrasi dapat dilakukan secara langsung oleh pemerintah tanpa melalui proses peradilan.
Bentuk sanksi seperti keputusan mencabut kewenangan pegawai/pejabat, mutasi, penurunan pangkat,
penurunan tunjangan dsb. Pegawai yang tidak puas dengan sanksi dapat mengajukan keberatan atau
menyampaikan ke PTUN.
Bahkan sesungguhnya, Pejabat administrasi negara didalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya
tidak lepas dari peraturan perundangan yang mengaturnya, namun demikian di dalam masyarakat
banyak permasalahan-permasalahan yang timbul, dimana permasalahan-permasalahan tersebut belum
terakomodasi atau diatur kedalam peraturan perundangan-undangan yang ada, di lain pihak
permasalahan tersebut harus segera diatasi oleh pejabat administrasi negara, karena kalau tidak diatasi
akibat yang ditimbulkan akan semakin lebih parah. Dalam rangka mengisi kekosongan hukum, maka
pejabat administrasi negara diberikan keleluasaan oleh hukum administrasi untuk mengeluarkan suatu
kebijakan atau lebih dikenal dengan istilah freies ermessen/pouvoir discretionnaire.
Istilah freies ermessen berasal dari bahasa Jerman dan terdiri dari dua kata frei dan ermessen. frei
artinya bebas, lepas, tidak terikat dan merdeka, jadi freies artinya orang yang bebas, tidak terikat dan
merdeka. Sedangkan ermessen artinya mempertimbangkan sesuatu. Istilah freies ermessen juga sepadan
dengan kata discretionnaire, yang artinya kebijaksanaan.
Pejabat administrasi negara walaupun diberikan keluasaan atau kebebasan di dalam melaksanakan
tugasnya sedang peraturan perundang-undangannya belum ada, tetapi tidak boleh sewenang-wenang
atau tanpa batas, karena freies ermessen itu sendiri harus dapat dipertanggung jawabkan baik secara
moral maupun secara hukum.
Tolak ukur dipergunakan freies ermessen oleh pejabat administrasi negara adalah :
1.
2.
3.

Adanya kebebasan atau keleluasaan administrasi negara untuk bertindak atas inisiatif sendiri;
Untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang mendesak yang belum ada aturannya untuk itu;
Harus dapat dipertanggung jawabkan .

Freies ermessen ini muncul sebagai alternatif untuk mengisi kekurangan atau kelemahan didalam
penerapan asas legalitas (wetmatidheid van bestuur). Namun demikian didalam pelaksanaan freies
ermessen juga merupakan suatu kebijakan dari pejabat administrasi negara oleh karena itu tidak boleh
dibuat secara sewenang-wenang atau sembarangan, sehingga tidak menjadi sengketa tata usaha negara.
Bahkan Mahkamah Agung pun telah mengeluarkan Yurisprudensinya terkait dengan kewenangan
Pejabat Administrasi Negara ini dalam Putusan Mahkamah Agung tanggal 8 Januari 1966 No.42/K/66
dan Putusan Mahkamah Agung tanggal 30 Maret 1973 No.81/K/73 sebagai berikut :
Walaupun ada perbuatan melawan hukum dan penyalahgunaan kewenangan, sepanjang :
a. Negara tidak dirugikan;
b. Kepentingan umum terlayani;
c. Terdakwa tidak mendapatkan keuntungan.
maka perbuatan tersebut bukan tindak pidana korupsi.
35

Kesalahan Prosedural Pengadaan Menjadi Pidana ?


Pengajar Hukum Anggaran Negara dan Keuangan Publik Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI),
Dian Puji Simatupang mengatakan seorang pengambil kebijakan sebagai produk administrasi negara tidak
dapat dipidana meskipun kebijakan tersebut salah.
Tidak dapat dipidana, tutur Dian Puji Simatupang dalam seminar Pengambilan Kebijakan Publik
Patutkah Dipidana? di Jakarta, Jumat (7/3)
Dian beralasan seorang pengambil kebijakan dilekati dengan wewenang atributif. Wewenang yang
diberikan oleh suatu peraturan kepada seorang pengambil kebijakan untuk mengambil kebijakan. Dalam
mengambil kebijakan, seorang pengambil kebijakan harus mempertimbangkan manfaat atau tidaknya
kebijakan tersebut demi kepentingan umum yang dilindunginya. intinya, kebijakan yang diambil adalah
pilihan terbaik pada situasi dan kondisi saat itu demi menjaga kepentingan umum.
Landasan hukum yang memperkuat pendapat Dian adalah Yurisprudensi Mahkamah Agung Repuplik
Indonesia Tahun 1986. Yurisprudensi ini menghapus pidana yang muncul dari tindakan kebijakan asalkan
memenuhi tiga syarat, yaitu negara tidak dirugikan, seseorang atau badan hukum tidak diuntungkan secara
melawan hukum, dan untuk pelayanan publik atau melindungi kepentingan umum.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Dian, sebanyak 70 persen kasus hukum yang terjadi yang
menyangkut tentang kebijakan publik justru bersifat dwaling, salah kira. Hanya 30 persen saja yang murni
mengandung unsur pidana. Dwaling tersebut dapat berupa salah kira atas maksud pembuat peraturan (
zelfsfandingheid der zaak ), salah kira atas hak orang atau badan hukum lain ( dwaling in een subjectieve
recht ). Salah kira atas makna suatu ketentuan ( in het een objectieve recht ), dan salah kira atas wewenang
sendiri ( dwaling in eigen bevoegheid ).
Terhadap persoalan dwaling ini, Dian mengatakan penyelesaiannya bukan melalui sanksi pidana. Akan
tetapi, harus melalui hukum administrasi. Dian pun mengingatkan tentang prinsip hukum pidana, yaitu
premium remedium. Kalau mereka salah, diberi peringatan hingga sampai pemberhentian dengan tidak
hormat. Bukan dipidana, ucapnya kepada hukumonline.
Kendati demikian, Dian mengatakan tidak semua pengambil kebijakan tidak dapat dipidana atas kebijakan
yang diambilnya. Pengambil kebijakan tetap dapat dipidana apabila ketika mengambil kebijakan
mengandung unsur suap, ancaman, dan tipuan. Selama unsur tersebut dapat dibuktikan saat proses
pengambil keputusan, pengambil kebijakan dapat dipidana.
Tergantung motivasinya. Jika ada unsur suap dalam prosesnya itu, ya bisa dipidana, lanjutnya.
Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana juga memaparkan hal yang
serupa. Menurutnya, kebijakan yang dianggap salah tidak bisa ujug-ujug diberikan sanksi pidana. Tidak
semua kesalahan langsung dipidana. Kesalahan di ranah hukum administrasi negara harus dibedakan
dengan hukum pidana.
Hikmahanto menyebutkan hukum administrasi negara tidak mengenal sanksi pidana. Sanksi yang dikenal
antara lain teguran lisan dan tertulis, penurunan pangkat, demosi, hingga pemecatan dengan tidak hormat.
Meskipun hukum administrasi negara tidak mengenal sanksi pidana, kebijakan yang salah tetap dapat
dipidana. Kebijakan yang salah tersebut dikelompokkan setidak-tidaknya ada tiga macam, yaitu kebijakan
serta keputusan dari pejabat yang melanggar Hak Asasi Manusia ( HAM ) berat, seperti kejahatan
kemanusiaan, genosida, kejahatan perang, dan perang agresi, kesalahan dalam pengambil kebijakan yang
jelas-jelas telah dilarang dan diatur sanksi pidananya sebagaimana diatur dalam Pasal 165 UU
Pertambangan Mineral dan Batubara, dan kebijakan yang bersifat koruptif.
Terkait dengan kebijakan yang bersifat koruptif ini. Hikmahanto sangat menekankan bahwa yang perlu
diperhatikan bukanlah kebijakannya yang salah dan merugikan, tetapi niat jahat dari pengambil kebijakan
ketika membuat kebijakan. Ia pun mencontohkan kasus Bank Century. Untuk kasus Bank Century,
seharusnya para pengambil kebijakan tidak dapat dipidana selama unsur niat jahat dari pengambil kejahatan
tidak terbukti.
Harus dibuktikan dulu mens rea- nya ( niat jahat, red ), Ada motif memperkaya diri sendiri atau orang lain
nggak ? pungkasnya.
36

Pengadaan itu adalah seni atas pilihan-pilhan efisien dan efektif


Pengadaan itu adalah pilihan-pilihan atas batasan dana, waktu, sumber daya manusia, barang/ jasa dan
termasuk penyedianya juga.
Pelaksanaan pengadaan tidak selalu dapat menggunakan satu cara prosedural aturan. Atau bahkan sering
aturan tertinggal dengan dinamika yang berkembang.
Kita akan semakin yakin dengan pendapat ini bila membaca literatur strategi pengadaan, yang tujuan
pengadaan adalah value for money, nilai keekonomisan mana yang terbaik untuk dituju.
Sehingga pilihan-pilihan yang diambil di saat perencanaan anggaran, pelaksanaan pengadaan, pelaksanaan
kontrak, serah terima pekerjaan dan pembayarannya tidak dapat dinilai serta merta tidak sesuai aturan
sebagai perbuatan melawan hukum dan atau menjadi bermasalah hukum pidana.
Sepanjang tidak ada pemalsuan data, suap/ gratifikasi, fiktif dan aliran ketidakpatutan aliran dana maka
pilihan tindakan bukan masalah pidana.
Secara nyata UU Tipikor memang menyebut suatu tindakan dan dikaitkan dengan kerugian negara. Atau
setiap pilihan tindakan yang tidak sesuai aturan dan hasil tindakan itu diukur dihitung ada tidak kerugian
negara, yang kerugian negara itu harus bersifat Nyata dan Pasti.
Penunjukan Langsung menjadi Pidana?
Kalau kontrak berdasarkan kewajaran harga pasar yang sebenarnya dan tidak ada suap/ gratifikasi dan
sebagainya maka hanya menjadi masalah kesalahan administrasi negara.
Penunjukan langsung dapat dilakukan bila :
a. Memenuhi syarat khusus dan tertentu
Sebagaimana disebut dalam pasal 17 ayat (5) Keppres no.80 tahun 2003.
b. Setelah pelelangan ulang/ seleksi/ pemilihan langsung ulang yang lulus prakualifikasi atau
memasukkan penawaran hanya satu. Sebagaimana dimaksud dalam lampiran I BAB II Huruf A.
Angka 1 huruf m Angka 2) Huruf e) Keppres No. 80 Tahun 2003
Bagaimana bila tidak memenuhi kriteria tersebut, karena tidak kompeten pelaksana pengadaan ? atau
karena mendesak waktu ?
Apakah perbuatan tersebut sebagai perbuatan melawan hukum ?
Pengadaan adalah suatu seni untuk mencari jalan terbaik dalam mendapatkan barang/ jasa, aturan hanya
untuk menuntun dalam kondisi normal, untuk kondisi-kondisi yang lain diperlukan keputusan-keputusan
terbaik secara manajerial. Ketika suatu tindakan penunjukan langsung secara manajerial menjadi relatif,
akankah dinilai sebagai pelanggaran ?
Kita mengukurnya dari :
1. Harga kontrak yang terjadi yang diwujudkan dengan penyerahan barang dan jasa, apakah telah
dibayar dengan nilai kewajaran harga pasar yang sebenarnya dan spesifikasi yang diberikan ? Bila ya,
maka hal tersebut merupakan kesalahan administrasi.
2. Adakah aliran gratifikasi ? aliran gratifikasi atau penyuapan yang terima oleh para pelaksana
pengadaan ( PA/KPA/PPK/Pokja ULP/PPIP ) atau orang-orang yang terkait seperti menteri/ kepala
daerah/ istri/ suami/ saudara dan sebagainya.
Kesalahan Pilihan Pengadaan Adalah Pidana?
Apakah kesalahan pilihan pengadaan akan serta merta menjadi pidana ? ketika tidak ada niat/ kehendak
jahat dan ketika tidak ada tindakan suap/ gratifikasi.
Jadi saya pikir kadang-kadang penyidik tidak memahami hukum administrasi negara. Penyidik hanya
menggunakan kaca mata kuda, hanya hukum pidana, ucap Yusril Ihza Mahendra selaku pengacara Menteri
Kesehatan Republik Indonesia, Siti Fadilah Supari, dalam kasus banjir bandang di Kota Cane Aceh
Tenggara, pada tahun 2005.
Kesimpulannya, pengadaan barang/ jasa adalah pilihan- pilihan prosedural. Kesalahan prosedur tidaklah
merupakan suatu tindak pidana apalagi tindak pidana korupsi.
2. KENDARAAN TIDAK SESUAI SPESIFIKASI
Dalam serah terima ada kesalahan ketidaksesuaian spesifikasi. Spesifikasi yang diberikan lebih rendah,
namun pembayaran dilakukan 100 %. Terdapat kesalahan spesifikasi dan barang telah beredar serta telah
37

digunakan, maka agar tidak dihitung sebagai total lost, tetapi sebagai kerugian yang harus dinilai terhadap
barang yang telah diberikan oleh penyedia, dengan demikian agar dinilai kembali atas barang yang dapat
dimanfaatkan. Selanjutnya penyedia diwajibkan menyetor ke kas daerah/ negara atas kelebihan bayar.
Terhadap kesalahan tersebut, peran pejabat/ penerima pekerjaan sangatlah penting. Ketika pekerjaan
diterima dan diperiksa dengan baik, dan dibayar sesuai dengan prestasinya, maka permasalahan yang ada
hanya akan menjadi masalah hukum administrasi dan atau perdata saja.

3. MERUGIKAN NEGARA SEJUMLAH Rp. 276.887.273,Analisis kerugian ini dari mana?


Analisa Kerugian Negara dari auditor, atas kerugian Negara dari pelaksana pengadaan
Bila sulit menemukan perhitungan maka dapat dibuat analisa biaya perolehan yaitu Rp. Harga beli +
keuntungan + PPN 10 %
Kerugian negara = Realisasi pembayaran harga wajar
Analisis harus dilengkapi dengan bedah 1. Terminologi kerugian negara dan korupsi 2. Apple to apple
nya perbedaan harga. FEEDBACK 1, poin PERSAMAAN dari kedua terminologi itu adalah melawan
hukum. Terminologi melawan hukum pun harus dibedah secara umum, pelanggaran prosedur merupakan
bagian dari melawan hukum. Berarti kasus diatas sudah memiliki sebagian komponennya. Poin
PERBEDAANnya adalah (antara lain) dalam KORUPSI ada bukti aliran dana ke orang/perusahaan
(memperkaya). 2 Harga yang diperoleh auditor harus harga yang beredar atau dapat dibeli oleh konsumen
(BUKAN harus ke instansi pemerintah) karena mayoritas komponen HPS sudah terakomodir, dikuatkan
lagi adanya mekanisme pengkreditan pajak (PPN) masukan dan pajak (PPN) keluaran di sepanjang jalur
distribusi dan berhenti di konsumen.
Untuk itulah perlu dibuat HPS dalam level pabrikan, karena penyedianya banyak maka dilelangkan. Dalam
hal tidak ada penyedia yang ikut, maka dapat ditunjuk pabrikan tersebut sebagai penyedia.
Selanjutnya dalam banyak kejadian, pabrikan tidak bersedia menjadi penyedia untuk pemerintah dengan
alasan banyak dokumen yang harus dipenuhi atau dokumen asli yang harus dibawa untuk ditunjukan dalam
kualifikasi serta nanti pembayarannya lama.
Bila pabrikan tidak bersedia menjadi pemasok untuk instansi pemerintah, maka dapat dilelangkan dalam
level distributor/ agen/ pengecer, yang berarti harus ada keuntungan pada level ini, sehingga tambahan
harga bukan sebagai kerugian negara.
Namun dapat terjadi ketidakcermatan dalam penempatan level, ini fakta lapangan bahwa pe-level-an
penyedia masih banyak yang belum dipahami. Kejadiannya misal untuk nilai s.d, Rp. 2,5 miliar sering
diartikan untuk usaha kecil. Ketika suatu pengadaan ada salah dalam menempatkan level penyedia yang
berakibat kepada kesalahan posisi harga, sepanjang tidak ada korupsi maka penyedia dibayar biaya
perolehan sampai barang dapat digunakan. Berikutnya bila ada selisih agar disetorkan saja. Perlu juga
diperhatikan biaya overhead yang terjadi.
Tentang kerugian negara pada kasus ini dapat dibaca hal 18 dan 30

38

N. KRONOLOGIS PROSES PEMERIKSAAN OLEH BPK RI :


Audit Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) pada Tahun 2010 dan 2011 secara tegas
menyatakan bahwa kegiatan Pengadaan Kendaraan Dinas Bupati/Wakil Bupati Pasaman Barat pada Tahun
Anggaran 2010 tidak ada menjadi temuan, yang dibuktikan dengan tidak ada dicantumkannya dalam Laporan
Pemeriksaan BPK RI sebagai berikut :
a) LHP BPK RI Perwakilan Propinsi Sumatera Barat Atas Belanja Daerah Pemerintah Kab. Pasaman Barat
Tahun Anggaran 2009 dan 2010 di Simpang Empat Nomor : 53/S/XVII.pdg/01/2011 tanggal 20 Januari
2011
b) LHP BPK RI Perwakilan Propinsi Sumatera Barat Atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kab.
Pasaman Barat Tahun 2011 Nomor : 01.B/LHP/XVII.pdg/03/2012 tanggal 29 Maret 2012 (Laporan Hasil
Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern)
c) LHP BPK RI Perwakilan Propinsi Sumatera Barat Atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kab.
Pasaman Barat Tahun 2011 Nomor : 01.C/LHP/XVII.pdg/03/2012 tanggal 29 Maret 2012 (Laporan Hasil
Pemeriksaan Atas Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan)
d) Hasil Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Atas Belanja Daerah TA. 2009 dan 2010 Per 27
Agustus 2013 Periode Pemeriksaan Semester II TA 2010 oleh Kepala Sub Auditorat Sumbar II BPK RI
Perwakilan Propinsi Sumatera Barat.
e) Hasil Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Atas Pemeriksaan LKPD TA. 2010 Per 27 Agustus
2013 Periode Pemeriksaan Semester II TA 2011 oleh Kepala Sub Auditorat Sumbar II BPK RI Perwakilan
Propinsi Sumatera Barat.
f) Hasil Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Atas Pemeriksaan LKPD TA. 2011 Per 27 Agustus
2013 Periode Pemeriksaan Semester I TA 2012 oleh Kepala Sub Auditorat Sumbar II BPK RI Perwakilan
Propinsi Sumatera Barat.
Pada waktu proses pengadaan kendaraan ini dilaksanakan, BPK RI sedang melaksanakan pemeriksaan di
Sekretariat Daerah. Terhadap pengadaan kendaraan dinas ini, semua kontrak dan proses yang dilaksanakan
oleh Panitia ULP, juga langsung diperiksa oleh petugas BPK yang ada. Bahkan pada saat tersebut, BPK juga
ikut memeriksa kendaraan yang baru datang tersebut bersama-sama dengan Panitia Pemeriksa Barang. Dan
pada LHP yang kemudian dikeluarkannya, mengenai pengadaan kendaraan dinas seperti tersebut diatas, tidak
ada masalah dan tidak ada menjadi temuan dalam rekomendasi LHP BPK RI. Artinya untuk semua proses
pengadaan kendaraan dinas tersebut, tidak ada ditemukan kesalahan apalagi kerugian negara yang bisa
dimasukkan dan diproses kedalam ranah wilayah hukum pidana. Apalagi hukum pidana TIPIKOR.

39

O. KRONOLOGIS PERMASALAHAN
PASAMAN BARAT TAHUN 2010

PENGADAAN

KENDARAAN

DINAS

BUPATI

1. Pengadaan Kendaraan Operasional Bupati Pasaman Barat tahun 2010 dengan kontrak senilai Rp.
1.072.000.000,00 dilaksanakan oleh PT. Baladewa Indonesia beralamat di Jl. Parak Pisang No. 15 Kel.
Gantiang Parak Gadang Kec. Padang Timur
2. Kasus ini bermula pada Tahun 2011 dengan adanya pengaduan dari 2 orang oknum anggota DPRD Kab.
Pasaman Barat yang menjadi lawan politik Bupati Pasaman Barat yang mengatas namakan sebagai
masyarakat yaitu Sudirman S dan Yulisman, dimana diantara tuduhannya adalah merekayasa proses
pengadaan kendaraan dinas tersebut sehingga pelaksanaan kegiatan akhirnya dilaksanakan secara
Penunjukan Langsung dan diarahkan kepada salah satu perusahaan dan perusahaan tersebut dinyatakan
melakukan pengadaan ini dengan memakai bendera perusahaan lain yang menyebabkan negara dirugikan.
Pada waktu itu Kejaksaan Negeri Simpang Empat memanggil beberapa orang terkait untuk dimintai
keterangannya yang salah satunya adalah saya sendiri.
Fakta Hukum :
Merekayasa proses pengadaan barang dan jasa apa lagi berupa pengadaan kendaraan dinas seperti dalam
kasus pengadaan kendaraan dinas operasional Bupati Pasaman Barat ini merupakan suatu keniscayaan
apalagi dilakukan oleh seorang pelaku tunggal. Hal ini tentu saja tidak mungkin saya lakukan, untuk
pengadaan kendaraan dinas dengan nilai yang sangat besar, yaitu Rp. 1.400.000.000 (satu milyar empat
ratus juta rupiah). Untuk pengadaan kendaraan dinas Bupati/ Wakil Bupati Pasaman Barat Tahun
Anggaran 2010, dilakukan dengan metode pelelangan umum yang diumumkan melalui media massa
nasional Koran Tempo pada tanggal 1 Nopember 2010 sebagai media resmi untuk pengumuman
pengadaan barang dan jasa pemerintah. Dan ini dilakukan sebanyak 2 (dua) kali, karena pada
pengumuman pertama, tidak satupun penyedia barang dan jasa yang mendaftar sehingga ditetapkan
pelelangan gagal dan dilakukan pelelangan ulang dengan mengumumkan kembali di Koran Tempo
pada tanggal 11 Nopember 2010. Artinya pelelangan ini dilakukan secara luas dan terbuka untuk seluruh
penyedia barang dan jasa di Indonesia dan hal ini membuktikan tidak adanya unsur rekayasa dalam proses
pengadaan kendaraan dinas Bupati Pasaman Barat.
3.

Pada tahun 2011, saat wawancara pertama saya dengan Kasi Intel Kejaksaan Negeri Simpang Empat
ketika itu Sdr. Edi Hermansyah, SH. menyatakan kepada saya bahwa proses ini hanyalah sebagai media
untuk menjembatani silaturahmi antar pimpinan Kejaksaan Negeri Simpang Empat yang baru pindah
dengan Bupati Pasaman Barat yang sangat sibuk, sehingga belum sempat bersilaturahmi dengan Kepala
Kejaksaan Negeri Simpang Empat yang baru. Kalau silaturahmi ini telah berjalan kembali dengan baik,
otomatis masalah inipun akan hilang karena memang tidak ada permasalahan dalam pengadaan kendaraan
dinas ini, demikian pernyataan Kasi Intel Kejaksaan Negeri Simpang Empat pada waktu itu.
Fakta Hukum :
Pernyataan-pernyataan Sdr. Edi Hermansyah, SH. tersebut di atas, membuktikan bahwa semenjak awal
kasus ini muncul sudah terdapat kejanggalan dan rekayasa yaitu untuk menjembatani hubungan
silahturahmi antar Muspida yang dalam hal ini antara Kepala Kejaksaan Negeri Simpang Empat dengan
Bupati Pasaman Barat. Membuka hubungan silaturahmi tidak semestinya dilakukan dengan cara-cara
yang tidak pantas dan elegan yaitu dengan cara mengintimidasi seseorang / mengkaitkan seseorang
dengan suatu kasus atau permasalahan. Cara-cara seperti ini hanya akan menciptakan hubungan
silaturahmi yang semu karena dilandasi oleh tekanan dan ancaman. Permasalahan yang sebenarnya tidak
ada malah diada-adakan, yang dibuktikan dengan pernyataan Kasi Intel Kejaksaan Negeri Simpang
Empat Kalau silaturahmi ini telah berjalan kembali dengan baik, otomatis masalah inipun akan hilang
karena memang sebenarnya tidak ada permasalahan dalam pengadaan kendaraan dinas ini.

4. Pada tanggal 21 April 2011, saya selaku Kabag Umum diundang oleh DPRD Kabupaten Pasaman Barat
untuk mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi C DPRD dengan surat No. 005/718/DPRD/Pasbar-2011
tanggal 18 April 2011. Dalam kesempatan tersebut, Komisi C mempertanyakan tentang kegiatan
pengadaan kendaraan dinas Bupati. Dan kenapa kendaraan dinas Wabup tidak jadi dibeli padahal sudah
dianggarkan. Kalau memang tidak jadi dibeli, kita anggarkan saja kendaraan Wabup tersebut dalam
APBD Perubahan kita tahun ini, kata Ketua Sidang Syamsul Bahri, SH.
Dalam kesempatan tersebut, saya menjelaskan kepada Komisi C tentang prosedur pelelangan umum
kendaraan Bupati tersebut, dan kronologisnya kenapa hanya kendaraan dinas Bupati saja yang bisa dibeli,
40

yang diuraikan dalam penjelasan kronologis pengadaan barang dan jasa pada poin B hal 3 di atas.
Mendengar penjelasan dari saya, sidang komisi C baru mengerti dan tahu kenapa hanya mobil dinas
Bupati saja yang bisa dibeli.
Menjawab pertanyaan, kenapa untuk perubahan dari 2 kendaraan menjadi 1 kendaraan saja, tidak ada
meminta persetujuan dari DPRD terlebih dahulu, saya menjelaskan bahwa mekanisme anggaran seperti
yang diatur dalam Pasal 160 Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah menyatakan bahwa pergeseran antar rincian objek belanja dalam objek belanja berkenaan dapat
dilakukan atas persetujuan PPKD. Tapi kalau pergeserannya antar unit organisasi, antar kegiatan, dan
antar jenis belanja, baru dengan melalui persetujuan DPRD karena itu berarti merubah Perda tentang
APBD.
Dan untuk kendaraan dinas Wakil Bupati, DPRD saat ini tidak perlu lagi menganggarkannya dalam
APBD Perubahan 2011 yang akan datang Pak, karena kendaraan dinas Wakil Bupati tersebut telah kita
beli melalui APBD 2011 yang saat ini sedang berjalan. Bukankah Bapak-bapak adalah anggota DPRD
yang terhormat yang membahas dan menetapkan APBD 2011, tidak mungkin Bapak-bapak lupa atau
malahan tidak tahu kalau anggaran untuk kendaraan dinas Wakil Bupati telah disediakan didalam APBD
2011 tersebut, jawab saya. Dan itu membuat Bapak-bapak anggota DPRD senyum-senyum malu
mendengarnya.
Hearing akhirnya ditutup dengan pemahaman yang sama terhadap permasalah pengadaan kendaraan dinas
Bupati tersebut. Sayangnya dalam kesempatan tersebut, anggota DPRD yang terhormat, yang melaporkan
kepada Kejaksaan Negeri Simpang Empat atas nama masyarakat seperti yang disampaikan oleh Kasi Intel
Kejaksaan Negeri Simpang Empat, bahwa ada penyelewengan dalam kegiatan pengadaan kendaraan
dinas Bupati Pasaman Barat, malah tidak hadir. Ini menegaskan posisinya aktor intelektual lapangan yang
berdiri dibalik layar atas kasus ini.
Fakta Hukum :
Perubahan volume dalam DPA dari 2 kendaraan menjadi 1 kendaraan adalah merupakan perubahan pada
rincian objek belanja dalam satu rekening dan satu kegiatan (rincian objek belanja dalam objek belanja
berkenaan). Di dalam mekanisme anggaran seperti yang diatur dalam Pasal 160 Permendagri No. 13
Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah menyatakan bahwa pergeseran antar rincian
objek belanja dalam objek belanja berkenaan dapat dilakukan atas persetujuan PPKD. Tapi kalau
pergeserannya antar unit organisasi, antar kegiatan, dan antar jenis belanja, baru dengan melalui
persetujuan DPRD karena perubahan ini berarti merubah Peraturan Daerah Tentang APBD.
Untuk perubahan volume ini malahan didasari oleh saran dari Wakil Bupati kepada Bupati yang
kemudian disetujui oleh Bupati Pasaman Barat pada Telaahan Staf Asisten Administrasi Umum kepada
Bupati tanggal 10 Nopember 2010 perihal Tindak Lanjut Pengadaan Kendaraan Dinas Kepala Daerah TA
2010. Isi dari TS tersebut antara lain :

Tender I yang dilaksanakan pembukaan penawarannya tgl. 28 Okt.-07 Nop. 2010, tidak ada satu pun
Penyedia Jasa yang memasukkan penawaran.
Hasil Evaluasi Tim Panitia I ULP dengan KPA menemukan penyebabnya karena harga Toyota Prado
TX Limited dan Toyota Fortuner Type V Matic 4x4 Bensin, tidak mencukupi dengan pagu dana yang
tersedia.
Tim Panitia I ULP akan mengumumkan tender untuk kedua kalinya dengan perubahan spesifikasi
Prado Type TX Limited menjadi Type TX dan Fortuner Type V Matic 4x4 Bensin menjadi Type G
Luxury 4x2 Bensin
Disposisi Sekda Tgl. 10 Nop 2010 : Mohon persetujuan Bapak sesuai saran.
Disposisi Wabup Tgl. 10 Nop 2010 : Berhubung dana kita belum cukup dan medan kita wilayah
bergunung perlu kendaraan 4x4, cukup kendaraan Bupati saja dulu. Wabup tahun 2011 kita anggarkan
lagi.
Disposisi Bupati Tgl. 10 Nop 2011 : Sekda, setuju saran Wabup.

5. Pada tahun 2012, saya dipanggil Kejaksaan Negeri Simpang Empat satu kali lagi sebagai saksi. Hari itu
bertepatan dengan hari pelepasan saya sebagai calon Jamaah Haji secara resmi oleh Pemerintah
Kabupaten Pasaman Barat.untuk menunaikan Ibadah Haji. Pertanyaan masih seputar proses pengadaan,
riwayat hidup dan riwayat pekerjaan saya. Bahkan kami shalat Dzuhur berjamaah di Mushalla Kejaksaan
dengan Jaksa Ilham Wahdini yang menanyai saya dan saya sebagai imamnya.
Fakta Hukum :

41

Dalam pemeriksaan yang dilaksanakan pada hari itu, jaksa pemeriksa Ilham Wahdini hanya
mempertanyakan kenapa dalam surat yang ditandatangani oleh Kabag Umum, terdapat fotenote ULP
Pasaman Barat, ada juga yang memakai kop surat ULP Pasaman Barat, tanggal-tanggal surat yang
kosong, tanggal surat yang tidak tepat, proses pelaksanaan pelelangan sampai kepada proses penunjukan
langsung kegiatan tersebut.
Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya dalam proses penyelidikan yang dilakukan, jaksa telah
memaksakan kehendaknya dengan mempermasalahkan hal-hal yang tidak substansial dan terlalu
memaksakan hal yang mengada-ada tersebut. Kesalahan pengetikan atau kesalahan dan kelupaan dalam
pembuatan tanggal surat, itu hanyalah masalah administrasi negara yang bahkan untuk tingkat Inspektorat
Kabupaten saja bukanlah sesuatu yang dipersoalkan. Ketika hal ini kami pertanyakan dan ajukan
keberatan, dengan ringannya jaksa pemeriksa menjawab, ini nanti bapak ajukan dan buktikan saja di
Pengadilan.
6. Pada tahun 2012, BPKP Perwakilan Propinsi Sumatera Barat atas permintaan Kejaksaan Negeri Simpang
Empat melakukan audit ulang atas hasil audit yang telah dilakukan oleh BPK RI untuk menghitung
potensi kerugian negara atas kegiatan pengadaan tersebut dengan hanya mempedomani data-data yang
diberikan oleh Kejaksaan Negeri Simpang Empat.
Fakta Hukum :
Audit/ pemeriksaan keuangan negara yang dilakukan oleh BPKP terhadap kasus ini tidak memiliki
landasan hukum yang sah karena tugas BPKP adalah melaksanakan tugas pemerintahan di bidang
pengawasan keuangan dan pembangunan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Di
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Th 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, pasal 47,
48, 49 dan pasal 50 ayat (2) dan ayat (3) dengan tegas dinyatakan BPKP adalah aparat pengawasan intern
Pemerintah yang tidak berwenang melakukan audit atas pengelolaan keuangan negara sebaliknya institusi
yang bertugas dan berwenang memeriksa pengelolaan dan pertanggung jawaban keuangan negara serta
memberikan penilaian terhadap kerugian negara adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
7. Adanya informasi dari Bapak Afrizal selaku pemeriksa dari BPKP Perwakilan Provinsi Sumatera Barat
yang diminta oleh Kajari Simpang Empat untuk melakukan pemeriksaan dalam menentukan kerugian
negara, mengatakan bahwa Kajari secara langsung dan tegas telah meminta kepadanya selaku Auditor
BPKP Perwakilan Sumatera Barat, harus menemukan angka kerugian negara di atas Rp. 100.000.000.(seratus juta rupiah).
Fakta Hukum :
Audit Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) pada Tahun 2010 dan 2011 secara
tegas menyatakan bahwa kegiatan Pengadaan Kendaraan Dinas Bupati/Wakil Bupati Pasaman Barat pada
Tahun Anggaran 2010 tidak ada menjadi temuan, yang dibuktikan dengan tidak ada dicantumkannya
dalam Laporan Pemeriksaan BPK RI. Pada waktu proses pengadaan kendaraan ini dilaksanakan, BPK RI
sedang melaksanakan pemeriksaan di Sekretariat Daerah. Terhadap pengadaan kendaraan dinas ini,
semua kontrak dan proses yang dilaksanakan oleh Panitia ULP, juga langsung diperiksa oleh petugas BPK
yang ada. Bahkan pada saat tersebut, BPK juga ikut memeriksa kendaraan yang baru datang tersebut
bersama-sama dengan Panitia Pemeriksa Barang. Dan pada LHP yang kemudian dikeluarkannya,
mengenai pengadaan kendaraan dinas tersebut, tidak ada masalah dan tidak ada menjadi temuan dalam
rekomendasi LHP BPK RI. Artinya untuk semua proses pengadaan kendaraan dinas tersebut, tidak ada
ditemukan kesalahan apalagi kerugian negara.
Hal ini juga menimbulkan tanda tanya terhadap pelaksanaan audit ulang terhadap obrik yang sama yang
dilakukan oleh BPKP Perwakilan Propinsi Sumatera Barat dan bahkan hasilnya sangat bertentangan
dengan analisa dan audit yang dilaksanakan oleh BPK RI sebagai lembaga tertinggi di Negara Republik
Indonesia yang memiliki kewenangan untuk mengungkap indikasi adanya kerugian negara, seperti yang
diamanahkan dalam UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara, dalam Pasal 2 ayat (2).
Pemberitahuan secara resmi bahwa akan ada pemeriksaan oleh BPKP Perwakilan Provinsi Sumatera
Barat terhadap kegiatan pengadaan kendaraan dinas inipun tidak pernah saya terima. Baik dari BPKP itu
sendiri maupun dari Kejaksaan. Bahwa pemeriksaanpun dilakukan dengan tanpa menghadirkan kami
selaku KPA, PPTK, Panitia Pengadaan Barang/ Jasa, Panitia Pemeriksa dan Penyedia Barang.
Pemeriksaanpun dilakukan dengan tanpa membuat BAP antara pemeriksa dengan yang diperiksa.
Pemeriksaan hanya dilakukan dengan berdasarkan kepada semua data-data yang disajikan oleh Kejaksaan
Negeri Simpang Empat. Dan diolah dengan segala keterbatasan dan kemampuan auditor BPKP terhadap
42

aturan-aturan dan prinsip-prinsip pengadaan barang dan jasa berdasarkan Keppres No. 80 Tahun 2003 dan
aturann perubahannya. Inikah yang dinamakan dengan pemeriksaan investigatif made in BPKP
Perwakilan Propinsi Sumatera Barat ??
Sesuai keterangan petugas BPKP yang ditugaskan dalam pemeriksaan yang diminta oleh pihak Kejaksaan,
yaitu Sdr. Afrizal, mengatakan kepada saya dan menyampaikan dugaannya bahwa ada sesuatu yang tidak
beres dengan pemeriksaan yang sedang dilakukan oleh BPKP atas permintaan Kejaksaan Negeri Simpang
Empat.
Bahwa petugas BPKP mengatakan bahwa Kajari secara langsung dan tegas telah meminta kepada auditor
BPKP agar dalam penghitungan angka kerugian negara supaya membuat temuan kerugian negara ini
harus diatas angka seratus juta rupiah. Sdr Afrizal mencium ada sesuatu yang tidak harmonis dalam
hubungan antara Kajari dengan Bupati Pasaman Barat, dan adanya aktor intelektual yang mempunyai
ambisi politik dan memiliki dana yang besar dibelakang semua ini. Bagaimana jalannya pemeriksaan,
kami sendiri tidak mengetahuinya, hanya melalui media koran harian haluan tanggal 23 Juli 2013
diumumkan hasil temuan BPKP dalam pengadaan kendaraan dinas Bupati ini berjumlah Rp.
276.887.000,- (dua ratus tujuh puluh enam juta delapan ratus delapan puluh tujuh ribu rupiah), dengan
tersangkanya adalah HT (Hendri Tanjung). Dan ini sesuai dengan keinginan Kajari Simpang Empat.
(http://harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/25091-kejaksaan-tetapkan-9-tersangka-korupsi )
Dari keterangan dan informasi yang saya peroleh dari petugas BPKP tersebut, saya berkesimpulan
bahwa : HUBUNGAN YANG TIDAK HARMONIS ANTARA BUPATI PASAMAN BARAT
DENGAN KAJARI SIMPANG EMPAT MENYEBABKAN KAJARI SIMPANG EMPAT
MEMPUNYAI AMBISI UNTUK MENJATUHKAN KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN
BUPATI PASAMAN BARAT MELALUI CARA-CARA MENGORBANKAN APARAT-APARAT
PEMERINTAH DAERAH PASAMAN BARAT.
Pemeriksaan yang mengangkangi perundang-undangan di negara Republik Indonesia yang mengatur
tentang keuangan negara yaitu : Pasal 35 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara, Pasal 1 butir 22 dan Pasal 59-67 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara dan butir 3 Pasal 1, Pasal 13, Pasal 22 dan Pasal 23 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004
tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Lembaga BPKP memang
pernah memiliki kewenangan menghitung kerugian negara dengan landasan hukum Keppres No. 31
Tahun 1983 tentang Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, yaitu Pasal 3 huruf J, L, N dan O
dan khususnya Pasal 22 sampai 24. Namun peraturan tersebut tidak berlaku lagi sejak 27 Maret 2001
dengan keluarnya Keppres No. 42 Tahun 2001 Tentang : Perubahan Atas Keputusan Presiden No. 166
Tahun 2000 Tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi Dan Tata Kerja
Lembaga Pemerintah Non Departemen Sebagaimana Telah Beberapa Kali Diubah Terakhir Dengan
Keputusan Presiden No. 103 Tahun 2001.
Dan sampai saat ini, saya tidak menemukan adanya peraturan perundang-undangan yang memberikan
kewenangan kepada BPKP untuk melakukan pemeriksaan kerugian negara. BPKP yang keberadaannya
dibentuk HANYA berdasarkan Keppres No. 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi dan
Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departeman, dimana
kewenangan BPKP sebagai pemeriksa sudah tidak ada lagi dan dipertegas lagi dengan PP No. 60 Tahun
2008 tentang Sistem Pengendali Intern Pemerintah Pasal 47, 48,49, dan 50 ayat (2) dan (3) tidak ada yang
menyatakan bahwa BPKP adalah aparat pengawasan Intern Pemerintah yang BERWENANG untuk
melakukan audit atas Pengelolaan Keuangan Negara.
Kerjasama antara Kejaksaan, Kepolisian dan BPKP hanyalah berdasarkan Nota Kesepahaman antara
Kejaksaan RI, Kepolisian Negara RI dan BPKP Nomor: KEP/109/A/JA//2007 No. POL,
B12718/1X12007, Nomor. KEP-1093/K1D6/2007 tanggal 28 September 2007 tentang Kerja Sama Dalam
Penanganan Kasus Penyimpangan Pengelolaan Keuangan Negara Yang Berindikasi TIPIKOR termasuk
Dana Non Budgeter pada Bab X Ketentuan Penutup Pasal 10 ayat (2) dalam hal nota kesepahaman ini
terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan maka yang berlaku adalah
ketentuang perundang-undangan yang ada.
Maka teranglah bagi kita semua bahwa apa yang dilakukan oleh aparat hukum Kejaksaan Negeri
Simpang Empat adalah suatu perbuatan yang menyalahi aturan hukum yang ada di negara Republik
Indonesia. Bukan saja karena dasar audit yang dilakukan menyalahi undang-undang yang berlaku, dasar
peraturan pembentukan lembaga BPKP pun hanyalah Keputusan Presiden yang posisi urutannya dibawah
Undang-Undang yang tentu saja dengan azas Lex Superior Derogate Legi Interior, peraturan yang lebih
43

tinggi akan melumpuhkan peraturan yang lebih rendah. Apalagi telah dikuatkan lagi dengan putusan
judicial review (uji materi) oleh Makamah Konstitusi, konon lagi kalau hanya berdasarkan MoU antara
Kejaksaan, Kepolisian dan BPKP yang tidak masuk kedalam tata perundang-undangan di negara kita
Republik Indonesia ini. Maka kesimpulannya, apa yang telah dilakukan oleh penyidik Kejaksaan Negari
Simpang Empat dengan lembaga combatnya BPKP, adalah perbuatan untuk memenuhi ambisi pribadi
Kepala Kejaksaan Negeri Simpang Empat pada waktu itu terhadap kekuasaan yang dilakukan dengan
segala intrik dan cara-cara kotor bahkan dengan mengangkangi peraturan perundang-undangan yang
berlaku dan tentu saja hasilnya adalah produk cacat hukum maka seharusnyalah penyidikan ini haruslah
batal demi hukum.
8. Pada Tahun 2013, tepatnya pada tanggal 22 Juli 2013 saya ditetapkan sebagai tersangka yang diumumkan
melalui media massa. Surat Penetapan sebagai tersangka tidak pernah saya lihat apalagi terima. Dan
sepanjang tahun 2013 tersebut, saya tidak pernah dipanggil sekalipun oleh Kejaksaan Negeri Simpang
Empat.
Proses penetapan saya sebagai tersangka tidak didasarkan pada bukti dan fakta hukum yang kuat. Dimana
selama saya diperiksa sebanyak 2 (dua) kali tidak pernah sekalipun ada pemberkasan dan penjelasan
kepada saya sebagai tersangka dengan bukti-bukti yang ada. Pemanggilan saya ke Kejaksaan Negeri
Simpang Empat hanya dilakukan satu kali untuk wawancara pada tahun 2011 dan satu kali pada tahun
2012, dan itupun hanya pemanggilan sebagai saksi atas adanya pengaduan dari lawan politik Bupati
Pasaman Barat yang mengatasnamakan sebagai masyarakat, yang salah satu tuduhannya adalah
merekayasa proses pengadaan kendaraan dinas tersebut yang menyebabkan potensi kerugian negara.
Bagaimana jalannya pemeriksaan, saya sendiri tidak mengetahuinya, hanya melalui media massa
diumumkan hasil temuan BPKP dalam pengadaan kendaraan dinas Bupati ini berjumlah Rp.
276.887.237,- (dua ratus tujuh puluh enam juta delapan ratus delapan puluh tujuh ribu dua ratus tujuh
puluh tiga rupiah).
Fakta Hukum :
Sebagai mana di atur pada KUHAP pasal 51 ayat a. tersangka berhak untuk diberitahukan dengan jelas
dalam bahasa yang dimengerti olehnya tentang apa yang disangkakan kepadanya pada waktu
pemeriksaan dimulai. Pemberitaan yang dilakukan dengan media massa melalui wartawan-wartawan
yang dibayar oleh Kepala Kejaksaan Negeri Simpang Empat untuk itu, seperti yang diakui oleh
Wartawan Haluan, M. Junir, pada waktu itu, bahwa dia dibayar oleh Kajari sebesar Rp. 1.500.000,- (satu
juta lima ratus ribu rupiah) untuk mengekspos berita tersebut, bahkan dengan jelas mencantumkan nama
saya dengan lengkap tanpa inisial sebagaimana mestinya. Ini tentu saja merupakan suatu bentuk
pelanggaran hukum yang dilakukan oleh aparat hukum itu sendiri, yang bahkan selaku pucuk pimpinan
dari penegakan supremasi hukum di Kabupaten Pasaman Barat. Pencederaan atas Prinsip Asas Praduga
Tidak Bersalah, pembocoran Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) dan pencemaran nama baik saya,
dilakukan oleh Kajari Simpang Empat dengan seenaknya. Karena merasa, dialah penguasa hukum di
Pasaman Barat itu dan kemudian dijabarkan oleh aparat bawahannya dengan lebih extrim bahwa
merekalah Tuhan di Pasaman Barat. Karena mereka bisa melakukan apa saja terhadap orang. Apakah
akan menjadikan seseorang sebagai saksi, tersangka, ditahan dan mau divonis berapa tahun. Sekecil
apapun kesalahan aparat pemerintah daerah, apabila tidak mau tau dan bersahabat dengan kami akan kami
cari dan kami jebloskan kalian ke dalam penjar. Dan kita sama-sama mengetahui apa makna dari tidak
mau tau dan tidak bersahabat dengan mereka tersebut. Ujung-ujungnya adalah seperti mendekatkan buah
durian dan buah semangka.
9. Kerugian negara sebesar Rp. 276.887.273 (dua ratus tujuh puluh enam juta delapan ratus delapan puluh
tujuh ribu dua ratus tujuh puluh tiga rupiah) sebagaimana yang diberitakan di media cenderung
dipaksakan karena dihitung berdasarkan bukti yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Penghitungan nilai kerugian negara dilakukan hanya dengan cara membandingkan selisih harga pada
kontrak pengadaan dengan harga jual oleh importir umum yang didapatkan dari faktur pembelian
kendaraan yang ada pada BPKB yang belum dikenakan PPN dan PPn BM, biaya on the road (STNK),
BPKP, PKP, keuntungan perusahaan dan biaya-biaya lainnya.
Didapat informasi bahwa Kajari memanggil perusahaan Importir Umum kendaraan ini dari Jakarta dan
membandingkan harga yang tercantum dalam Faktur pembelian kendaraan yang ada pada BPKB
kendaraan dengan harga kontrak pembelian. Faktur pembelian, yang belum dikenakan PPn dan PPn BM,
44

biaya on the road (STNK), keuntungan perusahaan, dan biaya-biaya lainnya. Serta aturan tata niaga
kendaraan bermotor yang harus melewati lini-lini : 1. Importir umum/ ATPM/ Industri Perakitan/ 2.
Distributor 3. Dealer dan 4. Sub Dealer/showroom. Dimana setiap pengusaha pada setiap lini dalam
distribusi kendaraan bermotor adalah sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang dikenakan PPn dan PPn
BM atas Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) disamping jasa yang dilakukan
Fakta Hukum :
Dalam aturan Tata Niaga kendaraan bermotor sebagaimana yang tertuang dalam SE Dirjen Pajak No.
SE-21/PJ.51/2000 tanggal 21 Juli 2000 tentang PPN dan PPn BM Dalam Tata Niaga Kendaraan Bermotor,
perdagangan kendaraan bermotor harus melewati lini-lini :
1. Importir umum/ATPM/Industri Perakitan,
2. Distributor,
3. Dealer, dan
4. Sub Dealer/showroom.
Dimana setiap pengusaha pada setiap lini dalam distribusi kendaraan bermotor adalah sebagai Pengusaha
Kena Pajak (PKP) yang dikenakan PPn dan PPn BM atas Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP)
disamping jasa yang dilakukan.
Adanya perbedaan tingkatan harga pada Importir Umum dengan Sub Dealer/Showroom yang dijadikan
dasar dari kerugian negara akibat kemahalan harga, tentu saja mencederai amanat Keppres No. 80 Tahun
2003 yang mengamanahkan agar penetapan HPS harus berdasarkan pada survey harga pasar yang akurat
untuk barang/jasa yang sama dengan waktu dan tempat yang sama (apple to apple). Sementara BPKP dan
Kejaksaan Negeri Simpang Empat membandingkan harga antara Importir Umum di Jakarta dengan harga
di Showroom di Padang. Itupun masih dalam kondisi faktur kosong belum ditambahkan PPN dan PPn
BM. Masya allah...betapa zalimnya umatMu akiba kebodohan dan nafsunya sendiri. Ya Allah....
Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah RI pun angkat bicara menanggapi masalah ini
dengan surat mereka No. B-726/LKPP/D-IV.3/02/2013 tanggal 14 Februari 2013. Dalam bedah kasus
yang dilaksanakan di LKPP dengan seluruh dokumen pengadaan yang dibawa kesana, LKPP malah
menyatakan bahwa sebenarnya negara malah diuntungkan dalam pengadaan ini karena margin
keuntungan yang diberikan dalam HPS, sangat kecil sekali yaitu sebesar 3,78%. Sebenarnya dengan pagu
dana yang tersedia, HPS bisa menyediakan keuntungan bagi penyedia jasa sebesar 10%-15%.
Keuntungan yang lebih besar yang didapat oleh penyedia jasa, hanyalah karena mereka memang bergerak
dibidang jual beli kendaraan bermotor, didalam komunitas yang sama, sehingga bisa mendapatkan harga
yang lebih murah daripada harga pasaran seperti yang didapatkan pada waktu saya melakukan survey
harga pasar.
Identik misalnya dengan kalau kita membeli kendaraan ke suatu showroom mobil dengan pemilik yang
kita kenal. Pasti kita akan mendapatkan diskon yang lebih besar. Bandingkan kalau kita tidak kenal
dengan pemiliknya. Tetapi senyatanya, itu bukanlah HARGA PASAR, seperti yang diamanahkan oleh
Pasal 13 ayat (1) Keppres No. 80 Tahun 2003.
10. Sejauh ini saya merupakan tersangka tunggal dalam kasus ini, sementara pihak penyedia barang yang
dalam hal ini PT. Baladewa Indonesia dan pihak lainnya tidak ada yang ditetapkan sebagai tersangka
sampai saat saya dilakukan tindakan penahanan.
Fakta Hukum :
Kewenangan dalam seluruh proses pengadaan kendaraan dinas ini melibatkan beberapa pihak secara
langsung, yaitu Panita I Pengadaan Barang/Jasa ULP Kabupaten Pasaman Barat, PT. Baladewa Indonesia
selaku kontraktor penyedia barang, Panita Pemeriksa Barang, PPTK dan Pengguna Anggaran selaku
atasan langsung saya. Tetapi karena posisi saya yang diisukan orang sebagai orang yang terdekat dan
dipercaya oleh Bupati Pasaman Barat, menyebabkan semua proses pemeriksaan yang dilakukan hanya
diarahkan untuk menjerat saya. Praanggapan para jaksa pemeriksa adalah, dengan terjeratnya saya dalam
proses pengadaan ini, selanjutnya juga akan menyeret Bupati Pasaman Barat selaku pimpinan saya.
Upaya kriminalisasi hukum yang dilakukan oleh aparat penegak hukum seperti ini, bahkan senyatanya
adalah kegiatan pendzaliman yang mencederai semangat untuk menegakkan supremasi hukum itu sendiri.
Dan sangat konyolnya, itu dilakukan oleh aparat Hukum di Kejaksaan Negeri Simpang Empat itu sendiri
yang mestinya beridir di garda paling depan untuk penegakan supremasi hukum.
45

11. Berdasarkan informasi yang diperoleh bahwasanya terdapat perbedaan spesifikasi kendaraan antara yang
tertera dalam kontrak, dengan kendaraan yang diserahterimakan kepada Panitia Pemeriksa Barang.
Perbedaan itu terdapat pada jenis kursi sopir, yaitu antara electric seat dengan manual seat. Juga tuduhan
bahwa merk kendaraan yang ada pada bagian belakang kendaraan, yaitu Prado TX-Limited, hanyalah
merk yang ditempelkan, bukan aslinya.
Fakta Hukum :
Berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan Barang Nomor 027/267/BAPB/SETDA/2010 tanggal 20
Desember 2010 yang ditanda tangani oleh 5 orang Panitia Pemeriksa Barang dengan kesimpulan bahwa
kualitas pekerjaan dan kendaraan dinas yang diterima dan diperiksa adalah dalam keadaan baik, baru dan
sesuai dengan spesifikasi pada SPK (Kontrak) Kegiatan : Pengadaan Kendaraan Dinas/Operasional
Nomor 027/480/Kontrak-Peng/Umum/2010 tanggal 13 Desember 2010. Sementara pemeriksaan barang
yang dilakukan oleh Kejaksaan Negeri Simpang Empat dilakukan pada tahun 2013 atas pengadaan
kendaraan yang dilakukan pada tahun 2010. Pemeriksaan inipun dilakukan tanpa menghadirkan saya
selaku KPA, Panitia Pengadan I ULP, Panitia Pemeriksa dan Penyedia Jasa/Barang itu sendiri. Dan pihak
yang dihadirkan untuk melakukan pemeriksaan itupun tidak jelas entah apa dan bagaimana kualifikasi
serta sertifikasi keahliannya dalam type dan jenis kendaraan built up import Toyota Land Cruiser Prado
TX-Limited. Ketika hal ini saya coba untuk konfirmasikan kepada pihak kejaksaan, lagi-lagi jawaban
mereka adalah, kita buktikan saja nanti di Pengadilan. Suatu tindakan yang nyata-nyata meng a fait a
comply pengadilan untuk melegalkan praktek kriminalisasi hukum mereka.
12. Saya disebutkan menerima sejumah uang dari rekanan terkait pengadaan kendaraan dinas ini yaitu
sebesar Rp. 7.000.000 (tujuh juta rupiah) sebagaimana pengakuan Bapak Arifin, Direktur CV. Makna
Motor kepada Jaksa Ilham Wahdini, SH di Kejaksaan Negeri.
Fakta Hukum :
Saya menyangkal pernyataan ini, karena saya tidak ada menerima sesuatu apapun apakah dalam bentuk
uang ataupun barang dari proses pengadaan ini. Pengakuan Sdr. Arifin ini pun kemudian dicabut oleh
yang bersangkutan dengan Surat Pernyataannya karena setelah pemeriksaan di Kejaksaan, barulah
diketahuinya bahwa uang yang semula dimaksudkan untuk diberikan kepada KPA dan Panitia tersebut
melalui salah seorang anggotanya yang bernama Ferry, ternyata uang tersebut menurut pengakuan Ferry
tidak jadi diserahkan kepada KPA karenakan uang tersebut telah dipergunakan oleh Ferry untuk
keperluan operasional pribadinya. Hal ini dibuktikan dan diperkuat dengan Pernyataan sdr. Arifin A dan
Sdr. Ferry, yang kemudian menurut Sdr. Fery, dia telah mencabut pernyataannya tentang uang Rp.
7.000.000 yang diserahkan pada KPA pada waktu dia diperiksa oleh jaksa di Kejaksaan Negeri Simpang
Empat. Hal ini dituliskan dalam BAP sdr. Fery tersebut.
13. Pada 22 Juli 2014, kembali diumumkan status tersangka saya melalui media massa dalam acara jumpa
pers hari ulang tahun kejaksaan sementara saya sendiri tidak pernah tau kapan saya ditetapkan sebagai
tersangka apa lagi menerima surat penetapan saya sebagai tersangka. Saya baru mengetahui bahwa saya
dinyatakan tersangka setelah menerima Surat Panggilan Tersangka (panggilan ke-1) oleh Kejaksaan
Negeri Simpang Empat Nomor: SP-68/N.3.23/Fd.1/10/2014 tanggal 23 Oktober 2014 yang mana pada
surat panggilan tersebut dinyatakan bahwa saya dipanggil dengan status tersangka.
Proses penetapan saya sebagai tersangka tidak didasarkan pada bukti dan fakta hukum yang kuat. Dimana
sejak penetapan saya sebagai tersangka yang diumumkan melalui jumpa pers oleh Kepala Kejaksaan
Negeri Simpang Empat pada hari ulang tahun Kejaksaan tanggal 22 Juli 2013 dan di dimuat di media
masa hingga saat ini 30 November 2014 saya belum pernah diperiksa sekalipun bahkan sejak kasus
pengadaan kendaraan dinas ini muncul saya hanya satu kali diperiksa oleh Jaksa di Kejaksaan Negeri
Simpang Empat.
Fakta Hukum :
Sebagai mana di atur pada KUHAP pasal 51 ayat a. tersangka berhak untuk diberitahukan dengan jelas
dalam bahasa yang dimengerti olehnya tentang apa yang disangkakan kepadanya pada waktu
pemeriksaan dimulai. Namun ini tidak terjadi pada saya bahkan hanya melalui satu kali pemeriksaan
sebagai saksi di tahun 2012 lantas ditetapkan sebagai tersangka. Pemberitaan yang dilakukan dengan
media massa sejak diumumkannya penetapan saya sebagai tersangka oleh Kejaksaan Negeri Simpang
Empat jelas tidak berdasar, karena surat penetapan saya sebagai tersangka baru ditetapkan oleh Kejaksaan
Negeri Simpang Empat dengan surat No.B-562/N.3.23/Fd.1/04/2014 tanggal 04 April 2014 sebagaimana
46

yang dituliskan oleh termohon yang dalam hal ini adalah Kejaksaan Negeri Simpang Empat dalam
jawaban gugatan pra peradilan yang saya ajukan. Ini artinya, Kajari Simpang Empat yang pada waktu itu
adalah Idianto, SH, menetapkan saya sebagai tersangka pada tanggal 22 Juli 2013 adalah pembohongan
publik dan pencemaran nama baik.
Hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh Kajari Simpang Empat sekarang, melalui Kasi Tindak
Pidana Khusus, M. Ihsan, SH, MH memberikan jumpa pers pada media saat hari ulang tahun Kejaksaan
22 Juli 2014. Dalam hal ini Sdr. M. Ihsan, SH, MH telah melakukan penyalahgunaan wewenang dimana
untuk ketentuan pemberitaan di media masa di lingkungan Kejaksaan Negeri ada aturannya yang
mengatur yakninya Peraturan Jaksa Agung RI No : Per 001/ A/ JA/ 01/ 2000 tentang Ketentuan
Pemberitaan Melalui Media Massa di lingkungan Kejaksaan RI. Di dalam Pasal 2 poin c. Peraturan Jaksa
Agung RI No : Per 001/ A/ JA/ 01/ 2000 Pejabat yang berwewenang melakukan pemberitaan melalui
media masa di lingkungan Kejaksaan Negeri adalah Kepala Kejaksaan Negeri. Pada Pasal 6 ayat (2)
Jaksa Penuntut Umum atau Jaksa Pengacara Negara dapat melakukan pemberitaan melalui media massa
hanya dalam bentuk kegiatan wawancara pers (press interview) dan wawancara mendadak (door stop
interview) menyangkut materi fakta persidangan dan hal ikwal yang terungkap di persidangan. Apa yang
dilakukan oleh Sdr. M. Ihsan SH, MH telah melanggar ketentuan yang berlaku yang jelas-jelas pada pasal
tersebut di atas dinyatakan bahwa Jaksa Penuntut Umum dapat melakukan pemberitaan hanya
menyangkut materi fakta persidangan dan pemberitaan yang dilakukan terhadap saya belum pada tahap
persidangan.

47

P. KRONOLOGIS PENANGKAPAN, PENAHANAN DAN PEMERIKSAAN


1.

Pada tanggal 26 Oktober 2014 saya menerima surat panggilan dari Kejaksaan Negeri Simpang Empat
Nomor SP-68/N.3.23/Fd.1/10/2014 tanggal 23 Oktober 2014 yang dikirimkan melalui staf saya di kantor
Bappeda Pasaman Barat yang mana surat tersebut berisikan bahwa saya diminta hadir tanggal 28 Oktober
2014 untuk diperiksa sebagai tersangka terkait kasus dugaan Tindak Pidana Korupsi Pengadaan
Kendaraan Dinas Bupati dari dana APBD-P Tahun 2010 pada Sekretariat Daerah Kab. Pasaman Barat
dengan didampingi Penasehat Hukum. Untuk penetapan status saya sebagai tersangka tidak jelas fakta
dan dasar hukumnya apa. Dari pertama kasus ini muncul hingga pemanggilan saya sebagai tersangka baru
satu kali pemeriksaan yang dilakukan terhadap saya itupun pada tahun 2012.

2.

Pada tanggal 28 Oktober 2014 saya dalam keadaan sakit yang dibuktikan dengan surat keterangan doker
RSUD Kab. Pasaman Barat Nomor 305 GMR-PU/RSUD/X/2014 dan saya tidak bisa hadir sesuai dengan
surat panggilan dari Kejaksaan Negeri tersebut.

3.

Pada tanggal 29 Oktober 2014 saya menerima surat panggilan kedua dari Kejaksaan Negeri Simpang
Empat Nomor SP-69/N.3.23/Fd.1/10/2014 tanggal 28 Oktober 2014 yang dikirimkan melalui staf saya di
kantor Bappeda Pasaman Barat yang mana surat tersebut berisikan bahwa saya diminta hadir tanggal 04
November 2014 untuk diperiksa sebagai tersangka terkait kasus dugaan Tindak Pinadana Korupsi
Pengadaan Kendaraan Dinas Bupati dari dana APBD-P Tahun 2010 pada Sekretariat Daerah Kab.
Pasaman Barat dengan didampingi Penasehat Hukum.

4.

Pada hari Selasa tanggal 4 November 2014, saya bersama dengan Penasehat Hukum R. Saddrosn, SH dan
Rinarti Abas, SH, MH pada pukul 11.00 WIB datang memenuhi panggilan Kejaksaan Negeri Simpang
Empat walaupun dalam kondisi sakit dan tidak sehat (demam tinggi).
Lebih kurang 1 jam menunggu, baru pukul 12.15 wib masuk ke ruangan pemeriksaan/ ruang jaksa
fungsional dan ketika akan dimulai, azan zuhur berkumandang dan jaksa Akhiruddin, SH memutuskan
untuk terlebih dahulu sholat dan makan siang. Saya tidak dibenarkan untuk sholat dan makan siang
dirumah. Saya pun sholat di Mushalla Kejaksaan Negeri Simpang Empat dan makan siang bersama
dengan pengacara dengan nasi bungkus di ruangan pemeriksaan.
Setelah makan siang, jaksa Akhiruddin membuka laptopnya dan mengatakan pemeriksaan dimulai,
kemudian Penasehat Hukum saya R. Saddrosn, SH mengatakan pada jaksa bahwasanya kliennya sedang
dalam keadaan sakit.
Jaksa tidak percaya begitu saja, lantas menanyakan pada saya apakah saya bersedia untuk dibuktikan dan
diperiksa ulang kesehatan saya dan sayapun menjawab bersedia. Pukul 16.00 wib datang dua orang dokter
utusan Kepala Dinas Kesehatan Pasaman Barat yang diminta datang oleh Jaksa Penyidik yakni dr. Affan
Talami dan dr. Tania. Pada saat diperiksa pertama oleh dr. Tania tensi saya adalah 170/110 dan kemudian
diperiksa kembali oleh dr. Affan Talami dengan tensi 160/100. Dr. Affan Talami mengatakan bahwa tensi
dengan ukuran ini termasuk kategori tinggi dan masuk dalam ke dalam stadium 2, apabila masuk stadium
3 maka berdampak pada stroke dan selanjutnya dr. Talami merekomendasikan untuk tidak dilanjutkannya
pemeriksaan. Dr Talami menambahkan keterangannya, bahwa pemeriksaan tensi ini dilakukan dalam
kondisi pasien sedang duduk, kalau dalam keadaan berbaring, tensi pasti akan lebih tinggi karena
dipengaruhi oleh gaya gravitasi bumi. Selain itu kondisi pasien sedang berada dalam kondisi demam
panas yang tinggi.
Setelah mendengarkan hasil pemeriksaan dokter tersebut akhirnya pemeriksaanpun ditutup dengan
mengeluarkan Berita Acara Pemeriksaan yang didalamnya dituangkan bahwa pemeriksaan terhadap
tersangka Drs. H. Hendri, MM tidak dapat dilakukan dan dilanjutkan dikarenakan kondisi kesehatan yang
tidak sehat, BAP di tandatangani bersama-sama dengan Jaksa Akhiruddin, SH, Penasehat Hukum saya
dan saya sendri. BAP di foto copy untuk bukti bagi saya dan penasehat hukum saya.
Selang beberapa waktu kemudian, 17.30 wib, beberapa orang staf / jaksa pada Kejaksaan Negeri Simpang
Empat memasuki ruangan pemeriksaan dan mengambil dokumentasi dengan memoto saya yang saya
tidak mengerti apa maksudnya. Sesaat kemudian jaksa Akhirudin, SH datang mengatakan bahwa mereka
telah rapat dan kesimpulannya saya di tahan dengan Surat Perintah Penahanan terhadap saya Nomor
Print-929/N.3.23/Fd.1/11/2014 tanggal 4 November 2014 yang ditandatangani oleh Yudi Indra Gunawan,
SH, MH selama 20 hari dari tanggal 04 s.d 23 November 2014. Sementara alasan yang diberikan oleh jaksa
Akhiruddin, SH ketika menjelaskan hasil rapat mereka tentang tindakan penahanan mereka adalah karena
mereka telah memiliki jadwal dan waktu yang sangat sempit untuk memproses kasus pengadaan kendaran
dinas ini.
Kemudian saya di bawa ke RS Yarsi Ibnu Sina Simpang Empat dan disana diperiksa oleh hanya seorang
48

perawat. Yang diperiksa hanyalah tensi dan dikatakan bahwa tensi saya normal, tapi tidak tahu berapa
tensinya. Saya lansung di bawa menuju Rutan Cabang Lubuk Sikaping di Talu.
5.

Pada hari Senin, 10 November 2014 beberapa orang staf kantor Bappeda Kabupaten Pasaman Barat datang
ke kantor Kejaksaan Negeri Simpang Empat untuk meminta izin berkunjung ke Talu menemui saya.
Namun izin tidak diberikan oleh Kejaksaan Negeri Simpang Empat dengan tanpa alasan yang jelas. Begitu
juga kerabat lainnya yang meminta izin kunjungan tetap tidak diberikan, bahkan diintimidasi dan
ditakut-takuti. Pada beberapa orang lainnya yang meminta izin disebutkan oleh M. Ihsan, SH, MH bahwa
tidak diberikannya izin untuk mengunjungi adalah karena kebijakan pimpinan, pimpinan yang
dimaksudnya adalah Kajari Simpang Empat. Alasan yang lain yang pernah disebutkan bahwa larangan ini
berdasarkan surat edaran Jaksa Agung. Hal ini sangat bertentangan sekali dengan:
1) Pasal 37 Ayat (1) PP No. 58 Tahun 1999 tentang Syarat-syarat dan Tata Cara Pelaksanaan
Wewenang, Tugas dan Tanggung Jawab Perawatan Tahanan yaitu Setiap Tahanan berhak menerima
kunjungan dari :
a. Keluarga dan atau sahabat
b. dokter Pribadi
c. Rohaniawan
d. PH
e. Guru, dan
f. Pengurus & anggota organisasi sosial kemasyarakatan.
2)

KUHAP Bab VI Tersangka dan Terdakwa 60 yang mengatur tentang hak-hak tersangka yaitu:
a. Pasal 57 ayat (1) Tersangka atau terdakwa yang dikenakan penahanan berhak menghubungi
penasihat hukumnya sesuai dengan ketentuan undang-undang ini
b. Pasal 60 Tersangka atau terdakw berhak menghubungi dan menerima kunjungan dari pihak
yang mempunyai hubungn kekeluargaan atau lainnya dengan tersangka atau terdakwa guna
mendapatkan jaminan bagi penangguhan penahanan ataupun untuk usaha mendapatkan bantuan
hukum
c. Pasal 61 Tersangka atau terdakwa berhak secara Iangsung atau dengan perantaraan penasihat
hukumnya menghubungi dan menerima kunjungan sanak keluarganya dalam hal yang tidak ada
hubungannya dengan perkara tersangka atau terdakwa untuk kepentingan pekerjaan atau untuk
kepentingan kekeluargaan

6.

Pada hari Rabu tanggal 19 November 2014 saya menerima Surat Perpanjangan Penahanan
B-1803/N.3.23/Fd.1/11/2014 tanggal 18 November 2014 yang ditandatangani oleh Yudi Indra Gunawan,
SH, MH selaku Kepala Kejaksaan Negeri Simpang Empat, yang memperpanjang penahanan untuk paling
lama 40 (empat puluh) hari terhitung mulai tanggal 24 November 2014 sampai dengan tanggal 02 Januari
2015 pada Rutan Cabang Lubuk Sikaping di Talu.
Sampai tanggal 1 Desember 2014 sudah 28 hari saya di tahan di Rutan Cabang Lubuk Sikaping di Talu,
belum pernah diperiksa sama sekali, ini menandakan bahwa belum siapnya para penyidik untuk
melakukan pemeriksaan perkara Pengadaan Kendaraan Dinas Bupati Pasaman Barat Tahun 2010
meskipun pada hakekatnya penyidik memiliki kewenangan untuk memperpanjang penahanan sampai 60
hari namun saya juga mempunya hak yang diatur dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Kitab
Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) pada Pasal 50 :
(1) Tersangka berhak segera mendapat pemeriksaan oleh penyidik dan selanjutnya dapat diajukan
kepada penuntut umum.
(2) Tersangka berhak perkaranya segera dimajukan ke pengadilan oleh penuntut umum.
(3) Terdakwa berhak segera diadili oleh pengadilan.
Inilah perilaku jaksa atau penyidik lainnya di dalam melaksanakan tugas penegakan hukum yang dengan
mudahnya memproses hukum terhadap seseorang yang diduga melakukan tindak pidana, tanpa bukti
yang cukup dan kemudian membiarkan pengadilan yang membuktikan kebersalahan orang tersebut,
dengan kalimat saktinya, BUKTIKAN SAJA NANTI DI PENGADILAN. Inilah salah satu bentuk
detournement of de pouvoir Aparat Kejaksaan Negeri Simpang Empat.

7.

Pada hari Senin tanggal 24 November 2014 saya menerima Surat Panggilan tersangka
SP-83/N.3.23/Fd.1/11/2014 tanggal 24 November 2014 yang ditandatangani oleh Kepala Seksi Tindak
Pidana Khusus, Ihsan, SH, MH untuk diminta kedatangannya pada hari Selasa tanggal 02 Desember 2014
bertempat di kantor Kejaksaan Negeri Simpang Empat menghadap Kozar Kertyasa, SH dkk.
49

Ini membuktikan bahwa selama penyidikan berlangsung, saya baru diperiksa pada hari selasa tanggal 02
Desember 2014 namun penyidik telah melakukan penahanan terhadap saya dengan dalih dalam perkara a
quo subjektifitas penyidik Kejaksaan Negeri Simpang Empat dalam memberikan bobot pada keadaan yang
mengkhawatirkan pada pemohon selaku tersangka didasarkan pada hal-hal berikut:
Bahwa pada panggilan pertama secara resmi untuk dimintai keterangan sebagai tersangka, pemohon
tidak datang namun alih-alih memberikan keterangan bahwa yang bersangkutan sedang sakit
melalui keterangan sebuah surat yang belum meyakinkan bagi penyidik bahwa pemohon
benar-benar dalam keadaan sakit sehingga menghalangi untuk datang ke Kantor Kejaksaan Negeri
Simpang Empat.
Fakta :
Pada hal penyidik telah langsung pada hari itu juga melakukan pengecekan kepada dokter yang
mengeluarkan surat keterangan sakit tersebut ke RSUD di Jambak setelah surat keterngan sakit
tersebut saya berikan, dan dokter tersebut membenarkan bahwa kondisi saya sedang tidak sehat.
Bahwa masih ada barang bukti yang kemungkinan ada di kantor pemohon ataupun ditempat-tempat
yang bisa diakses oleh pemohon yang dikhawatirkan akan dihilangkan atau disembunyikan oleh
pemohon.
Fakta :
Pada hal barang bukti utama adalah Mobil/ kendaraan dinas Bupati dan kelengkapan administrasi
seluruhnya telah diminta kepada saya dan saksi-saksi lainnya oleh penyidik selama proses
wawancara, penyidikan dan penyelidikan yang dimulai semenjak tahun 2011. Bahkan jika mereka
mau, mereka bisa menggunakan haknya yang tertuang dalam KUHAP Pasal 42 ayat (1) tanpa harus
melakukan penahanan. Pasal 42 ayat (1)Penyidik berwenang memerintahkan kepada orang yang
menguasai benda yang dapat disita, menyerahkan benda tersebut kepadanya untuk kepentingan
pemeriksaan dan kepada yang menyerahkan benda itu harus diberikan surat tanda penerimaan.
Bahwa pemohon secara faktual masih aktif dan menjabat di kantornya dan tidak menutup
kemungkinan dapat kembali mengulangi tindak pidana.
Fakta :
Pernyataan ini memberikan penjelasan bahwa saya sudah divonis melakukan tindak pidana dan ini
sangat bertentangan dengan azas hukum Asas Praduga tak bersalah ( Presumption Of Innocence ).
Asas dimana seseorang dinyatakan tidak bersalah hingga pengadilan menyatakan bersalah. Asas ini
sangat penting pada Demokrasi Modern dangan banyak Negara memasukkannya ke dalam
konstitusinya. Asas yang menyatakan bahwa setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan,
dituntut atau diperiksa pada sidang pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya
putusan hakim yang berkekuatan hukum yang menyatakan bahwa tersangka atau tertuduh bersalah.
Sementara secara faktual semenjak tahun 2011 sampai dengan tahun 2014 saya juga telah
melakukan pengadaan kendaraan dinas sebanyak 5 (lima) unit. Sebagaimana halnya puluhan
kendaraan dinas lainnya yang telah pernah saya adakan dan kesemuanya tidak pernah menyalahi
aturan bahkan sampai merugikan keuangan negara.
8.

Pada tanggal 2 Desember 2014 saya diperiksa di Kejaksaan Negeri Simpang Empat sebagaimana Berita
Acara Pemeriksaan yang dirpint dalam pada kertas HVS putih dan ditandatangani bersama oleh saya,
Penasehata Hukum saya dan Jaksa penyidi Kohar Kertyasa, SH. Semenjak ditetapkan sebagai tersangka
sampai saat ini, 12 Desember 2014 saya baru diperiksa satu kali yaitu pada tanggal 2 Desember 2014
tersebut.

50

Q. KRONOLOGIS PRA PERADILAN 05 -24 NOVEMBER 2014


1.

Merasa proses penahanan yang dilakukan penyidik terhadap saya merupakan tindakan yang salah, saya
melalui kuasa hukum saya mengajukan gugatan pra peradilan kepada Pengadilan Negeri Simpang Empat
pada tanggal 05 November 2014 dan tercatat di Kepaniteraan PN Simpang Empat
Nomor.01/Pid.Pra/2014/PN.Psb tanggal 05 November 2014 setelah sebelumnya mendaftarkan Surat Kuasa
Khusus Penasehat Hukum Pemohon Legalisasi No. 389/L/2014 tanggal 01 November 2014 terdaftar di
Kepaniteraan PN Pasaman Barat Nomor 04/Pid.Sk/2014/PN.PSB tanggal 05 November 2014 yaitu H.R.
Saddrosn, SH dan Riniarti Abas, SH, MH.

2.

Pada hari Senin tanggal 10 November 2014, kuasa hukum saya mengetahui adanya Surat Penetapan Ketua
Pengadilan Negeri Pasaman Barat tentang Penunjukan Hakim Tunggal 01/XI/Pen.Pid/2014/PN.Psb
tanggal 05 November 2014 untuk mengadili Permohonan Kuasa Hukum Pemohon yakni Hakim Dony
Dortmund, SH, MH. Kemudian juga menerima Surat Penetapan Hakim Pengadilan Negeri Pasaman Barat
tentang Penetapan Hari Sidang untuk mengadili Permohonan Kuasa Hukum Pemohon
01/XI/Pen.Pra/2014/PN.Psb tanggal 05 November 2014 yang menyatakan sidang dimulai pada hari Senin
tanggal 17 November 2014.

3.

Sidang pada Hari Senin tanggal 17 November 2014 dimulai pada pukul 11.35 WIB yang mana saya selaku
pemohon diwakili kuasa hukum yakni H.R. Saddrosn, SH dan Riniarti Abas, SH, MH. dan termohopun
diwakili kuasa hukumnya yaitu Ihsan, SH, MH, Korzar Kertyasa, SH dan Akhiruddin, SH. Gugatan Pra
Peradilan dibacakan oleh Kuasa Hukum Pemohon di PN Pasaman Barat dan pada hari itu juga jawaban dari
termohon dibacakan. Setelah pembacaan jawaban termomohon, Hakim menunda persidangan sampai hari
Selasa tanggal 18 November 2014 untuk pembacaan Replik oleh Pemohon.
GUGATAN PEMOHON
a. Bahwa dengan adanya perbedaan type mesin dari barang yang diserahkan oleh PT. Baladewa
Indonesia dengan faktur yang diberikan oleh PT. Multisentra Adikarya Jakarta, telah membuktikan
Pemda Kab. Pasaman Barat telah di TIPU oleh PT. Baladewa Indonesia yang bekerjasama dengan PT.
Intercom selaku dealer resmi toyota dimana keaslian barang/ kendaraan telah dijamin oleh Intercom
melalui surat pernyataan keaslian dan ketersediaan barang yang disampaikan pada saat proses
pengadaan barang.
b. Bahwa tindakan termohon yang telah menyatakan pemohon telah melakukan perbuatan
penyalahgunaan wewenang dan mengakibatkan negara dirugikan sebesar Rp. 276.887.273 adalah
melanggar Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan Pasal 21 ayat
(1), Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 292. Termohon tidak mempunyai
kapasitas lagi untuk menentukan pemohon apakah benar atau tidak pemohon telah melakukan
penyalahgunaan wewenang sebelum diproses perkaranya, diadili dan diputuskan perkaranya oleh
Peradilan Tata Usaha Negara yang telah mempunyai kekuatan hukum pasti.
c. Bahwa tindakan termohon yang telah melakukan penahanan terhadap pemohon di Rumah Tanahan
Negara Cabang Lubuk Sikaping di Talu sebagaimana dibuktikan dalam Surat Perintah Penahanan
terhadap saya Nomor Print-929/N.3.23/Fd.1/11/2014 tanggal 4 November 2014 yang ditandatangani
oleh Yudi Indra Gunawan, SH, MH selama 20 hari dari tanggal 04 s.d 23 November 2014 merupakan
pelanggaran hak azazi manusia apalagi pemohon dalam keadaan sakit demam tinggi dan tensi tinggi
yang telah dibuktikan dengan pemeriksaan dua orang dokter yang didatangkan sendiri oleh termohon
keruang pemeriksaan/ ruang jaksa fungsional di kantor Kejaksaan Negeri Simpang Empat sehingga
perkaranya tidak dapat diproses pada hari Selasa tanggal 04 November 2014
JAWABAN TERMOHON
Termohon menolak secara tegas dalil-dalil pemohon pra peradilan yang diajukan oleh pemohon
a. Bahwa termohon telah keliru menetapkan pemohon sebagai tersangka perkara a quo sebagai syarat
dilakukannya upaya paksa penahanan.
Hal ini karena didalam pasal 1 angka 14 KUHAP dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan tersangka
adalah sesorang yang karena perbuatannya atau keadaannya berdasarkan bukti permulaan patut
diduga sebagai pelaku tindak pidana. Dan dalam perkara a quo penetapan tersangka atas nama
pemohon telah di dahului oleh rangkaian tindakan penyidik yang melaksanakan tugasnya berdasarkan
Surat Perintah Penyidikan Nomor PRINT-99/N.3.23/Fd.1/o1/2014 tanggal 30 Januari 2013 kemudian
termohon telah mengumpulkan bukti permulaan sebagai berikut :
1)

Laporan terjadinya tindak pidana tertanggal 4 April 2013


51

2)

Alat bukti berupa keterangan saksi-saksi

3)

Alat bukti berupa surat-surat

4)

Alat bukti berupa keterangan ahli

Selanjutnya berdasarkan bukti permulaan termohon menetapkan tersangka yang termuat dalam Surat
Ketetapan Tersangka Nomor B-562/N.3.23/Fd.1/04/2014 tanggal 1 April 2014
b. Bahwa termohon tidak mempunyai kapasitas dan dan kualitas lagi untuk menentukan apakah benar
atau tidak pemohon telah melakukan penyalahgunaan wewenang berdasarkan pasal 21 ayat (1) UU RI
No. 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan sebagai syarat dilakukannya upaya paksa
penahanan.
Menurut termohon, pendapat pemohon hanya mengulang kembali perdebatan lama diantara para ahli
hukum tentang adanya keterkaitan antara hukum administrasi negara dengan hukum pidana yang
dalam hal ini khususnya mengenai tindak pidana korupsi. Keterkaitan tersebut menimbulkan kesulitan
dalam membedakan kapan seorang aparatur negara itu melakukan perbuatan melawan hukum yang
masuk dalam ruang lingkup hukum pidana dan kapan dapat dikatakan melakukan penyalahgunaan
wewenang yang masuk dalam ruang lingkup hukum administrasi negara.
Terlepas dari itu notabene terhadap pemohon tidak hanya disangkakan pasal 3 UU RI No. 31 Tahun
1999 yang memang mengandung unsur menyalahgunakan wewenang yang masih debatable namun
juga disangkakan Pasal 2 ayat (1) yang tidak mengandung unsur menyalahgunakan wewenang
untuk itu penyidik tetap memiliki kapasitas dan kualitas berupa kewenangan penyidikan dalam tindak
pidana korupsi.
c. Bahwa tindakan termohon yang telah melakukan penahanan terhadap pemohon adalah merupakan
pelanggaran Hak Azazi Manusia.
Hal ini ditolak karena penahanan yang dilakukan sudah cukup beralasan dengan berlandaskan Pasal
21 ayat (1) dan ayat (4) KUHAP yang pada intinya penahanan dapat dilakukan terhadap tersangka
yang diduga keras sebagai pelaku tindak pidana. Bahwasanya pemohon sudah diperiksa kembali
kesehatannya di RS Yarsi Ibnu Sina Simpang Ampek dan pada saat itu hasil pemeriksaan menyatakan
pemohon dalam keadaan sehat.
4.

Sidang pada hari kedua Selasa tanggal 18 November 2014 dimulai dengan pembacaan Replik oleh kuasa
hukum pemohon dan selanjutnya untuk pembacaan Duplik, termohon minta waktu 1 hari sehingga Hakim
memutuskan sidang kembali ditunda untuk pembacaan Duplik hari Rabu tanggal 19 November 2014.
REPLIK :
a. Bahwa Pemohon tetap dengan permohonan pemohon
b. Bahwa jawaban termohon pada tanggal 17 November 2014 haruslah ditolak karena tidak mempunyai
nilai yuridis yang dapat melumpuhkan alasan hukum pemohon dan malah termohon telah
menghidupkan kembali HIR (catatan : Undang-Undang produk Kolonial Belanda yang Khusus
Hukum Acara Pidana yang ada termuat di dalam Het Herziene Inlandsch Reglement) Staatsblat Tahun
1941 yang hanya diberlakukan untuk pulau Jawa dan Madura yang telah tidak dibelakukan lagi/
dicabut dengan diundangkannya Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana,
Lembaran Negara RI Tahun 1981 Nomor 76.
c. Bahwa sangat keliru sekali termohon menyatakan pemohon sebagai tersangka dan malahan telah
melakukan penahanan terhadap pemohon karena disangkakan telah merugikan negara sebesar Rp.
276.887.273,- (dua ratus tujuh puluh enam juta delapan ratus delapan puluh tujuh ribu dua ratus tujuh
puluh tiga rupiah). Sehingga pemohon harus dijebloskan dalam penjara.
d. Bahwa atas permintaan termohon telah mengundang PT. Multisentra Adikarya Jakarta untuk datang
ke Kejaksaan Negeri Simpang Empat guna mengecek kebenaran 1 unit kendaraan Toyota Landcruiser
Prado TX-L yang telah diserah terimakan oleh PT. Baladewa Indonesia kepada Pemda Kab. Pasaman
Barat dan telah menyarahkan Faktur Penjualan yang dialamat pada Sekretariat Daerah Kab. Pasaman
Barat
e. Bahwa harga Rp. 506.000.000,- yang tercantum di dalam faktur tersebut di atas bukanlah harga jual
kepada konsumen melainkan karga kosong (o) belum dikenakan Pajak PPN 10 % dan PPn BM
(Barang Mewah) sebagaimana tertuang dalam SE Dirjen Pajak No. SE-21/PJ.51/2000 tanggal 31 Juli
2000
f. Bahwa tindakan termohon yang telah menyatakan pemohon telah melakukan perbuatan
52

penyalahgunaan wewenang dan mengakibatkan negara dirugikan sebesar Rp. 276.887.273 adalah
melanggar Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan Pasal 21 ayat
(1), Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 292. Termohon tidak mempunyai
kapasitas lagi untuk menentukan pemohon apakah benar atau tidak pemohon telah melakukan
penyalahgunaan wewenang sebelum diproses perkaranya, diadili dan diputuskan perkaranya oleh
Peradilan Tata Usaha Negara yang telah mempunyai kekuatan hukum pasti.
g. Bahwa termohon dalam jawabannya pada hari Senin tanggal 17 November 2014 pada halaman 6
alinea ke-2 juga telah mengakui jelas dan pasti pemohon tidak ada melakukan perbuatan
penyalahgunaan wewenang dan sangkaan terhadap pemohon yang telah menyangkakan telah
melakukan perbuatan yang merugikan negara adalah merupakan rekayasa termohon sendiri.
5.

Sidang pada hari ketiga Rabu tanggal 19 November 2014 dimulai dengan pembacaan Duplik oleh kuasa
hukum termohon, M. Ihsan, SH, MH dan Akhiruddin, SH. Pada pembacaan duplik termohon tetap
menyangkal dengan mengemukakan alasan-alasannya. Kemudian untuk membuktikan masing-masing
dalil yang dikemukakan antara pemohon dan termohon, Hakim memberikan kesempatan untuk sidang
hari keempat dengan agenda pengajuan bukti dan saksi.
DUPLIK
a. Dalam perkara a quo penetapan tersangka atas nama pemohon telah di dahului oleh rangkaian
tindakan penyidik yang melaksanakan tugasnya berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Nomor
PRINT-99/N.3.23/Fd.1/o1/2014 tanggal 30 Januari 2013.
b. Kemudian termohon telah mengumpulkan bukti permulaan sebagai berikut :
1)

Laporan terjadinya tindak pidana tertanggal 4 April 2013

2)

Alat bukti berupa keterangan saksi-saksi

3)

Alat bukti berupa surat-surat

4)

Alat bukti berupa keterangan ahli

c. Selanjutnya berdasarkan bukti permulaan termohon menetapkan tersangka yang termuat dalam Surat
Ketetapan Tersangka Nomor B-562/N.3.23/Fd.1/04/2014 tanggal 1 April 2014
d. Bahwa pada hari selasa 4 November 2014 pemohon telah datang ke kantor Kejaksaan Negeri
Simpang Empat bersama dengan kuasa hukumnya dan pada waktu itu dalam kondisi sakit yang telah
diperiksa oleh dua orang dokter yang didatangkan oleh penyidik. Pada saat itu dokter pemeriksa
mengatakan pemohon dalam keadaan sakit. Bahwa selanjutnya masih pada hari yang sama termohon
menerbitkan Surat Perintah Nomor Print-929/N.3.23/Fd.1/11/2014 tanggal 4 November 2014 dan
kemudian dilakukan penahanan terhadap pemohon dengan terlebih dahulu diperiksa kembali kondisi
kesehatannya di RS Yarsi Ibnu Sina Simpang Empat dan pada saat itu hasil pemeriksaan menyatakan
bahwa pemohon dalam keadaan sehat.
6.

Sidang pada hari keempat Kamis tanggal 20 November 2014 kuasa hukum pemohon mengajukan bukti
dengan menyerahkan 21 bukti yang diberi kode P-1 sampai dengan P-19 dan sudah diberi materai
secukupnya, stempel pos dan telah dilegalisir oleh Panitera Pengadilan Negeri Pasaman Barat dan
menghadirkan satu orang saksi dr. Affan Akbar Talami. Pada hari yang sama termohonpun melalui kuasa
hukumnya mengajukan bukti dengan menyerahkan 9 bukti yang diberi kode T-1 sampai dengan T-9 dan
sudah diberi materai secukupnya, stempel pos dan telah dilegalisir oleh Panitera Pengadilan Negeri
Pasaman Barat

7.

Sidang pada hari kelima Jumat tanggal 21 November 2014, Pemohon melalui kuasa hukumnya dan
termohon melalui kuasa hukumnya masing-masing menyerahkan kesimpulan dalam perkara pra peradilan
kepada Hakim Tunggal Pra Peradilan Perkara Nomor 01/Pid.Pra/2014/PN.Psb yang dalam hal ini adalah
Dony Dortmunt, SH.

8.

Pada hari Senin tanggal 24 November 2014, sidang dilanjutkan dengan pembacaan putusan oleh Hakim.
Pembacaan Putusan Hakim Tunggal Pra Peradilan Perkara Nomor 01/Pid.Pra/2014/PN.Psb yaitu :
- Menolak Permohonan Pemohon Pra Peradilan untuk seluruhnya
- Menyatakan penahanan yang dilakukan oleh Termohon adalah sah menurut hukum
- Membebankan kepada Pemohon untuk membayar biaya perkara yang timbul dalam perkara Ini
sebesar Rp. 2.000,- (dua ribu rupiah)

53

R. REFERENSI MENGENAI KEUNTUNGAN ADALAH SEBAGAI BERIKUT :


1. Keuntungan dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah
2. Keuntungan penyedia dalam pelelangan
3. Keuntungan dalam penunjukan langsung
4. Keuntungan dalam hal kesalahan proses prosedur pengadaan
5. Keuntungan penyedia dalam hal ada pengaturan lelang/perbuatan melawan hukum
6. Keuntungan 15 %
1. KEUNTUNGAN DALAM PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMERINTAH
Keuntungan adalah selisih antara harga penjualan dengan biaya produksi atau biaya pembelian.
Keuntungan dipengaruhi oleh banyak hal, seperti skala/volume yang akan dibeli, masa kedaluwarsa
barang, level penyedia dan sebagainya.
Level penyedia sebagai berikut : pabrikan, distributor, agen, dan pengencer.
Dalam membuat HPS bila informasi harga pada level penyedia yang akan ikut lelang sudah merupakan
harga jual tidak perlu ditambahkan keuntungan. Contoh kita menemukan harga untuk kertas satu rim di
agen/pengecer adalah Rp. 35.000 (harga ini adalah harga jual) maka dalam membuat HPS tidak perlu
ditambahkan keuntungan karena harga jual sudah merupakan harga untung.
Kemudian penyedia untung darimana bila tidak diberi keuntungan ? tentunya Penyedia yang akan
menjadi Penyedia kita, tidak akan beli dari agen/pengecer. Penyedia tentunya lebih paham atau lebih tahu
jalur pasokan barang.
Namun dalam hal yang ikut pelelangan adalah pada level agen dan informasi harga didapatkan pada level
atasnya yaitu distributor, maka dengan demikian dalam membuat HPS bisa diberikan keuntungan 10 %
atau dalam hal ada overhead bisa sampai dengan 15 %.
Dalam lampiran I BAB I huruf E angka 2 Keppres No. 80 Tahun 2003 diatur :
HPS disusun dengan memperhitungkan keuntungan dan biaya overhead yang dianggap wajar.
Penjelasan : contoh keuntungan dan biaya overhead yang wajar untuk pekerjaan kontruksi maksimal 15
% (lima belas persen).
Jadi dalam membuat HPS :
- Bila informasi harga sudah merupakan harga jual untuk level penyedia setara yang akan ikut lelang
maka tidak ditambahkan keuntungan.
- Bila informasi harga bukan merupakan harga jual (belum ada keuntungan) atau informasi harga dari
penyedia yang diatas yang akan ikut lelang maka ditambahkan keuntungan sebesar 10 % atau s.d 15
% bila ada overhead.
2. KEUNTUNGAN PENYEDIA DALAM PELELANGAN
Keuntungan penyedia dalam pengadaan tidak dapat dibatasi dengan 10 % - 15 %. Penyedia boleh untung
berapapun. Batasan 10-15 % adalah dalam membuat HPS, sedangkan penyedia yang kontrak dengan kita
boleh dapat untung berapapun.
Contoh kita menghitung harga pasar tanah timbun adalah Rp. 50 ribu per kubik. Kemudian penyedia X
ditunjuk sebagai pemenang lelang dengan harga satuan adalah Rp. 45 ribu per kubik. Selanjutnya bila
ditelusuri harga perolehannya adalah Rp. 15 ribu, karena penyedia punya pasokan tanah timbun dari
proyek dia yang lain, yang berarti penyedia X untung sebesar 200 %.
Banyak faktor penyedia untungnya bisa melebih 10-15 % antara lain :
Skala barang yang dimiliki besar, lokasi, skema kontrak, efisiensi jalur pasokan, metode produksi efektif,
potongan harga dari pemasok dan sebagainya.
3. KEUNTUNGAN DALAM PENUNJUKAN LANGSUNG
Dalam penunjukan langsung kita akan berusaha kepada penyedia utamanya seperti pabrikan atau
distributor, untuk menjadi penyedia kita. Bila tidak tersedia akan dicari pada level penyedia dibawahnya.
Jadi harga diusahkan sesuai dengan penyedia yang diutamakan atau pada level pabrikan/distributor.
Dalam hal bukan level pabrikan/distributor maka diusahakan pada level harga yang wajar dari penyedia
yang ditunjuk.
Dalam pengadaan langsung/penunjukan langsung karena tidak ada persaingan maka dilakukan negosiasi
54

untuk menuju kewajaran harga.


4. KEUNTUNGAN DALAM HAL KESALAHAN PROSES PROSEDUR PENGADAAN
Bagaimana suatu pelelangan yang ternyata ada kesalahan prosedur lelang, apakah penyedia berhak
memperoleh keuntungan ?
Keuntungan dalam hal terjadi kesalahan proses prosedur lelang, apakah penyedia berhak memperolah
keuntungan ?
Keuntungan dalam hal terjadi kesalahan proses prosedur pengadaan, misalnya tidak membuat HPS,
kesalahan dalam evaluasi dan sebagainya dan penyedia tidak terlibat dalam pengaturan, yaitu mengingat
penyedia telah memberikan prestasi pekerjaan maka hal yang wajar, penyedia dapat memperoleh
keuntungan, sepanjang penyedia tidak terlibat dalam tindakan tercela atau pengaturan lelang. Penyedia
berhak memperoleh keuntungan, dengan kewajaran harga, dinilai dari kewajaran harga pasar pada level
penyedia yang setara, bukan dari selisih harga pembayaran dari harga perolehan yang ada diskonnya.
Sebagai contoh :
Instansi Z membeli kertas 500 rim dengan harga Rp. 20.000 sedangkan harga pasar adalah Rp. 35.000
Instansi Z membeli 500 rim dari penyedia X dengan harga Rp. 35.000
Disini terlihat penyedia untung atas 500 rim sebesar 75 %. Banyak kemungkinan kenapa penyedia ini
dapat untung sebesar itu, misalnya salah satu faktor adalah volume yang dibeli sebelumnya adalah besar
sebanyak 5000 rim, pembayarannya kepada pemasok cepat dan sebagainya. Sedang harga pasar kalau
kita beli 10 rim sampai 1000 rim adalah Rp. 35.000
5. KEUNTUNGAN PENYEDIA DALAM HAL ADA PENGATURAN LELANG/PERBUATAN
MELAWAN HUKUM
Penyedia yang terlibat dalam perbuatan melawan hukum/pengaturan akan dikenakan sanksi dan tidak
berhak mendapatkan keuntungan. Perhitungan untuk hal demikian, dicari dari selisih harga pembayaran
kontrak dengan harga perolehannya (pembeliannya).
6. KEUNTUNGAN 15 %
Dalam prakteknya banyak jenis-jenis pekerjaan yang memberikan keuntungan yang besar dan bahkan
ada yang luar biasa, seperti keuntungan dalam industri kreatif dalam pembuatan animasi dan karya seni.
Pembuatan HPS sebesar s.d 15 % dapat mengakibatkan pelelangan gagal, karena dalam prakteknya
keuntungan 15 % bisa dinilai kecil ketika banyak faktor yang menjadi beban usaha. Kita lihat saja beban
bunga pinjaman sebesar 7 %. Dalam hal kita membuat HPS melebihi 10-15 % tentunya ada fakta yang
kuat atau agar dimintakan pertimbangan tertulis dari inspektorat.

55

S. PENGHENTIAN SEMENTARA (SKORSING) PENUNTUTAN


Perselisihan pra yudicial dalam hubungannya dengan penghentian sementara (skorsing) penuntutan, dalam
doktrin hukum ada 2 (dua) macam :
Pertama, disebut dengan quistion prejudicielle a faction. Merupakan perselisihan pra judicial dimana hakim
mempunyai kewajiban untuk menskorsing penuntutan. Dalam hal ini apabila dalam UU disebutkan secara
tegas, bahwa apabila terjadi perselisihan pra judicial maka hakim wajib menskorsing penuntutan. Contohnya
dalam Pasal 314 Ayat (3) KUHP. Yang mewajibkan pada hakim untuk menghentikan sementara penuntutan
bagi terdakwa fitnah. Apabila orang yang difitnah telah diajukan penuntutan ke pengadilan sampai perbuatan
yang dituduhkan pada orang yang difitnah telah diajukan penuntutan ke pengadilan, sampai perbuatan yang
dituduhkan pada orang yang difitnah tersebut mendapatkan putusan yang bersifat tetap.
Kedua, disebut quistion prajudicielle au jugement. Merupakan perselisihan pra judicial yang dimaksud pasal
81 KUHP, yang apabila terjadi maka menjadi hak hakim untuk melakukan skorsing penuntutan. Karena
merupakan hak, maka sifatnya fakultatif. Hakim boleh tidak menggunakan haknya. Namun akibatnya nanti
putusan perkara lain yang berhubungan dan menentukan bisa bertentangan dengan putusan perkara pidana.
Dari sudut kepastian hukum dan keseragaman putusan pengadilan, keadaan yang demikian tidak dapat
dibenarkan.
Perbuatan memperkaya diri dalam Pasal 2 UUTPK bentuknya abstrak, yang terdiri dari banyak wujud-wujud
konkret. Wujud konkret itulah yang harus dibuktikan. Untuk membuktikan wujud memperkaya selain
membuktikan bentuknya, misalnya wujud mencantumkan kegiatan fiktif perlu juga membuktikan ciricirinya, yaitu : Pertama, dari perbuatan itu yang bersangkutan memperoleh suatu kekayaan. Kedua, jika
dihubungkan dengan sumber pendapatnya, kekayaannya tidak seimbang dengan sumber yang menghasilkan
kekayaan tersebut, Ketiga, jika dihubungkan dengan wujudnya, perbuatan tersebut bersifat melawan hukum.
Keempat jika dihubungkan dengan akibat, ada pihak lain yang dirugikan dalam hal ini merugikan keuangan
negara.
Perbuatan menyalahgunakan kewenangan dalam Pasal 3 UUPTK adalah menggunakan wewenang yang
melekat pada jabatan/ kedudukan secara menyimpang dari tatalaksana yang semestinya, sebgaimana yang
diatur dalam peraturan, petunjuk tata kerja, instruksi dinas, dan lain-lain, yang bertentangan dengan maksud
dan tujuan dari kedudukan jabatan tersebut.
Apabila dalam surat dakwaan di junto-kan Pasal 55 Ayat (1) KUHP tentang bentuk pembuat peserta
(medepleger). Maka keterlibatan terdakwa wajib dibuktikan sebagai medepleger. Pertama harus dibuktikan
lebih dahulu bahwa peristiwa yang didakwakan ini adalah sebagai tindak pidana. Barulah membuktikan
tentang terdapatnya syarat medepleger. Dari sudut subjektif kesengajaan (kehendak) terdakwa sebagai
medepleger harus sama dengan kesengajaan pembuat pelaksana (pleger). dalam hal mewujudkan tindak
pidana. Dari sudut objektif, meskipun wujud perbuatan medepleger tidak perlu sama dengan wujud pleger,
namun harus dibuktikan ada kerjasama yang diinsyafi. Kerjasama yang diinsyafi adalah keinsyafan bahwa
meskipun antara mereka melakukan perbuatan sendiri-sendiri yang berbeda, namun disadari kesemuanya
ditujukan untuk menyelesaikan tindak pidana yang sama-sama dikendaki.
H. Adami Chazawi
http://adamichazawi.blogspot.com/2011/06/sifat-melawan-hukum-tindak-pidana.html
Catatan: Tulisan tersebut di atas merupakan bagian (inti) pendapat/ keterangan ahli di suatu sidang pengadilan
korupsi.

56

T. ANALISIS TERHADAP PENERAPAN PASAL 2 AYAT (1) UNDANG-UNDANG NO. 31


TAHUN 1999 TENTANG TINDAK PIDANA KORUPSI (STUDI KASUS PUTUSAN
MAKAMAH AGUNG RI NO. 152/PK/PIDSUS/2010)
Dalam pengadaan barang dan jasa hubungan hukum para pihak diatur dalam sebuah kontrak. Sehingga
pelanggaran terhadap kewajiban-kewajiban yang ditentukan dalam kontrak, murni menjadi urusan-urusan
pihak-pihak yang berkontrak.
Rumusan perbuatan yang menurut pertimbangan Majelis Hakim telah memenuhi unsur melawan hukum adalah
mengulur-ulur waktu pelaksanaan proyek. Bahwa secara umum arti melawan hukum adalah tanpa
kewenangan yang melekat padanya ataupun tanpa dia berhak melakukan demikian. Berkenaan dengan
kewenangan, maka jika ada kewenangan yang memberikan izin pada Terdakwa untuk menunda pekerjaannya,
terdakwa dapat dikatakan mempunyai hak untuk melakukan penundaan tersebut.
Dalam hukum pidana, izin tidak secara langsung dapat menghilangkan sifat melawan hukum, melainkan harus
diselidiki terlebih dahulu ruang lingkup dan keabsahan dari pemberian izin tersebut. Jika dilihat dalam kasus
ini, ruang lingkup pemberian izin dan tindakan Terdakwa seharusnya adalah dalam lingkup hukum perdata.
Seperti dalam Yurisprudensi Nomor : 531 K/Pd/1984, dimana daalm pertimbangannya Majelis Hakim
berpendapat bahwa perbuatan I Nyoman Rupa dan N Nyoman Ayu bukan merupakan tindak pidana
penggelapan, Majelis Hakim pada akhirnya memutuskan bahwa karena terdapat perjanjian mengenai kontrak
saksi dan terdakwa, maka jika terdapat kerugian dapat diselesaikan melalui hukum perdata.
Seperti dalam kasus ini, Terdakwa berada dalam hubungan kontrak dengan Kuasa Pengguna Anggaran Bandar
Udara Panggung yang bertindak sebagai wakil negara. Tindakan Terdakwa tidak melaksanakan tugas diketahui
oleh Kuasa Pengguna Anggaran melalui surat yang menjelaskan alasan para Terdakwa dalam mengajukan
permohonan perpanjangan waktu, dan pihak Kuasa Anggaran menanggapinya dengan mengizinkan untuk
memberikan perpanjangan waktu. Dan hal tersebut adalah kesepakatan kedua belah pihak yang terikat dalam
kontrak (perjanjian), sehingga tanggungjawab terdakwa adalah berkaitan dengan kewajibannya terhadap kuasa
Pengguna Anggaran sebagai pihak yang mengikat perjanjian dengan Terdakwa, maka hal tersebut bersifat
privat.
Perbuatan melawan hukum selanjutnya adalah tidak melaksanakan proyek pelapisan Tahap 1 landas pacu
Bandar Udara Panggung /Cakrabuana Cirebon. Perbuatan Terdakwa yang telah tidak menyelesaikan tugas
sampai waktu yang diperjanjikan habis, seharusnya perbuatan tersebut termasuk kedalam salah satu bentuk
cidera janji yang harus dimuat di dalam kontrak kerja kontruksi, hal tersebut dengan jelas diatur dalam Pasal 22
ayat (2) huruf g Undang-undang Nomor 16 Tahun 1999 dan Pasal 23 ayat (1) g Peraturan Pemerintah R I
Nomor 29 Tahun 2000 tentang penyelenggaraan jasa kontruksi. Pasal 22 ayat (2) huruf g Undang-undang
Nomor 18 Tahun 1999 tentang jasa kontruksi menyebutkan bahwa kontrak kerja kontruksi harus mengatur hal
terjadinya cidera janji yang memuat ketentuan mengenai tanggungjawab dalam hal salah satu pihak tidak
melaksanakan kewajiban sebagaimana diperjanjikan. Dalam penjelasannya dijelaskan bahwa cidera janji
adalah suatu keadaan apabila salah satu pihak dalam kontrak kerja kontruksi :
(1) Tidak melaksanakan apa yang diperjanjikan, dan/atau
(2) Melaksanakan apa yang diperjanjikan, tetapi tidak sesuai dengan yang diperjanjikan, dan/atau
(3) Melakukan apa yang diperjanjikan, tetapi terlambat, dan/atau
(4) Melakukan sesuatu yang menuruit perjanjian tidak boleh dilakuknnya.
Ketentuan cidera janji juga diatur dalam Pasal 35 Kerpres Nomor 80 Tahun 2003 yang telah diubah dengan
Pasal 93 Perpres Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa yaitu pada ayat (2).
Dengan demikian perbuatan terdawkwa tidak bersifat wederrechelyk baik material maupun foprmal kecuali
terbukti tedapat kesewenang-wenangan dalam pemberian addendum oleh Kuasa Pengguna Anggaran.
Perbuatan Terdakwa yang tidak menyelesaikan tugas adalah bentuk dari wanprestasi yang seharusnya bersifat
privat antara Terdakwa dan Pejabat Pengikat Komitmen yang sudah diatur penyelesaiannya didalam perjanjian.
Oleh karena perbuatan tidak selesainya pekerjaan proyek dalam kontrak kerja kontruksi, tidak bersifat
melawan hukum seacra hukum pidana (wederrechelyk) tetapi dapat merupakan perbuatan melawan hukum
dalam hukim perdata (onrechtmatige daad) karena kesalahan terdakwa telah menyebabkan kerugian, maka
kerugian dapat dituntut melalui jalur perdata.
Kerugian negara yang terjadi adalah akibat dari uang muka yang telah dikeluarkan untuk melaksanakan proyek
ini, agar bandara panggung tetap dapat meningkatkan sarana dan prasarananya, maka kerugian negara tersebut
harus dikembalikan pada keadaan semula. Jaksa Penuntut Umum tetap dapat menuntut pengembalian kerugian
tersebut melalui jalur hukum perdata, seperti dijelaskan dalam bab sebelumnya perbuatan terdakwa dapat
teremasuk pada perbuatan melawan hukum menurut pasal 1365 KUH Perdata, hal tersebut dijamin dalam
ketentuan pasal 32 ayat (1) UUPTK.
Dalam kasus ini terdakwa dinyatakan bersalah cenderung karena telah merugikan keuangan negara dari pada
telah memperkaya diri sendiri atau orang lain. Dalam pertimbangan Majelis Hakim disebutkan jumlah kerugian
57

sebesar Rp. 145.273.000 yaitu sejumlah uang muka yang belum digunakan oleh terdakwa. Sedangkan jika
mengikuti perjanjian dalam kontrak, terdakwa diwajibkan untuk mengembalikan uang kepada negara sesuai
nilai jaminan uang muka dan jaminan pelaksanaan sebesar Rp. 365.875.000 melalui penjamin, dalam
pembahasan sebelumnya telah disebutkan bahwa kerugian yang menyangkut uang muka seharusnya
merupakan tanggung jawab bersama antara dan PT Asuransi Anugrah Bersama yang bertindak sebagai
penjamin. Bhawa akibat perbuatan melawan hukum terdakwa dan PT Asuransi Anugrah Bersama yang tidak
mencairkan jaminan uang muka tersebut, telah menyebabkan ketugian terhadap keuangan negara yang telah
digunakan untuk biaya uang muka pengerjaan biaya proyek ini.
Maka seharusnya tanggung jawab tersebut menjadi tanggung jawab bersama terdakwa PT Asuransi Anugrah
Bersama. Kerugian nyata yang lain akibat Perbuatan Melawan Hukum terdakwa diantaranya adalah kerugian
yang terjadi selama tertundanya proyek yang seharusnya selesai pada Bulan Oktobder tetapi harus tertunda
hingga Maret. Kerugian yang dapat terjadi misalnya kenaikan suku bunga mata uang akibat perpanjangan
waktu tersebut, namun hal tersebut seharusnya bukan hanya tanggung jawab dari Terdakwa melainkan juga
Kuasa Pengguna Anggaran yang telah memberikan izin penundaan pekerjaan proyek ini.
Maka perbuatan Terdakwa jika tidak terbukti melawan hukum (wederrechelyk) secara hukum pidana dapat
dituntut keranah hukum perdata, jika dalam hal hubungan privat telah diatur cara penyelesaian masalah yang
sejak awal telah diseopakati kedua belah pihak seharusnya hal tersebut dapat diselesaikan sesuai dengan
perjanjian ikut sertanya pemerintah sehingga dapat menjatuhkan pidana dalam hubungan kontrak ini,
mengacaukan kedudukan para pihak yang seharusnya adalah sederajat dan bukan berat sebelah.
KESIMPULAN
1. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa pertimbangan Majelis Hakim yang menggunakan
ketentuan dalam Pasal 2 Ayat (1) UUPTK terhadap perbuatan terdakwa Welly Sutanto dan kawan-kawan
adalah kurang tepat karena perbuatan Terdakwa merupakan bentuk tanggung jawab dalam hubungan
yang privat (mengenai suatu perjanjian) yaitu menyangkut kesepakatan diantara kedua pihak dan juga
terdapat keterlibatan pihak ketiga. Maka akan lebih tepat jika diselesaikan melalui ranah hukum perdata
yaitu dengan menggunakan Pasal 1365 KUHP Perdata.
2. Pasal 32 UUPTK dapat digunakan untuk menuntut kerugian yang terjadi pada keuangan negara dengan
menggunakan jalur hukum perdata yaitu dengan menggunakan dasar hukum Pasal 1365 KUHP Perdata
apabila satu atau lebih unsur dari tindak pidana korupsi tidak terdapat cukup bukti.

58

PERATURAN-PERATURAN TERKAIT KASUS PENGADAAN KENDARAAN DINAS


OPERASIONAL BUPATI PASAMAN BARAT TAHUN 2010

NO

PERATURAN

UU No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP

UU No. 11 Tahun 1994 tentang Perubahan Atas UU No. 8


Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa
dan PPn BM

UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana


Korupsi (perubahannya UU No. 20 Tahun 2001).
UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara
UU N. 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan

Keppres No. 31 Tahun 1983 tentang Pembentukan BPKP

Keppres No. 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas,


Fungsi dan Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja
Lembaga Pemerintah Non Departemen
Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan
Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah

4
5
6

10

11
12

13
14
15

16
17
18
19
20
21

Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jaa


Pemerintah
PP No. 58 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara
Pelaksanaan Kewenangan Tugas dan Tanggung Jawab
Perawatan Tahanan
PP No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
PP No. 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern
Pemerintah
Permendagri No. 7 Tahun 2006 tentang Standarisasi Sarana
dan Prasarana Kerja Pemerintah Daerah

Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman


Pengelolaan Keuangan Daerah
Permendagri No. 17 Tahun 2007 tentang Pengeloaan Barang
Milik Daerah
Peraturan Jaksa Agung RI No. PER-001/A/JA/01/2000 tentang
Ketentuan Pemberitaan Melalui Media Masa
SE Dirjen Pajak No. SE-21/PJ.51/2000 tentang PPn dan PPn
BM Dalam Tata Niaga Kendaraan Bermotor
Putusan MK No. 31/PUU-X/2012 tanggal 23 Oktober 2012

22

Yurisprudensi Makamah Agung terkait dengan kewenangan


Pejabat Administrasi Negara dalam Putusan Mahkamah Agung
tanggal 8 Januari 1966 No.42/K/66 dan Putusan Mahkamah
Agung tanggal 30 Maret 1973 No.81/K/73
Nota Kesepahaman Antara Kejaksaan, Kepolisian dan BPKP

23

Prosedur Audit Investigatif

KETERANGAN
Pasal
14,
20-29,
31-33,
38,39,42,44,50,52,57-67,75
Pasal 1 huruf d butir (1) Ayat (a),
(b), (d),(f), hurf e, f, g, Pasal 4
ayat (a) dan (d), Pasal 5 ayat (1),
Pasal 8 ayat (1)
Pasal, 2,3,4,18,19,25, 26, 28-38
Pasal 35
Pasal 1 Butir 22, Pasal 59-67
Pasal 1 butir 3, Pasal 2, Pasal 13,
Pasal 22 dan Pasal 33
Pasal 1 butir 18, Pasal 21 ayat (1)
s/d (5)
Pasal 3 huruf J,L,N dan O dan
Pasal 30-32
Pasal 52,53,54

Pasal 3, Pasal 9 ayat (3), Pasal 11


ayat (1), Pasal 10, Pasal 13, Pasal
17 Ayat (1), (2), (5), Pasal 28 ayat
(1), (4) s/d (8), Pasal 36 ayat (1)
s/d (3), Lampiran I Bab I huruf
C angka 1, Lampiran I Bab I
huruf E no. 1 dan 2, Lampiran I
Bab II huruf A No. 1 huruf m
Pasal 66 ayat (5) s/d (8), Pasal 85
ayat (5), Pasal 96 ayat (1) s/d (4)
Pasal 37 ayat (1)

Pasal 10 huruf c
Pasal 47,48,49 dan 50 ayat (2) dan
(3)
Pasal 1 huruf g, Pasal 5 huruf d,
Pasal 13, Pasal 14 ayat (1)
Lampiran IV Poin A. Kendaraan
Dinas.
Pasal 154 ayat (1) huruf b, Pasal
160
Pasal 14, 17 dan 18
Pasal 6 ayat (2)

Bab II Kedudukan Hukum Nomor


1 Butir 16 hal 9

BAB X Ketentuan Penutup Pasal


10 ayat (2)
59

1. UU No. 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)
Pasal
Pasal 14

Bunyi Pasal/ Ayat


Penuntut umum mempunyai wewenang :
a. Menerima dan memeriksa berkas perkara penyidikan dari penyidik atau penyidik
pembantu;
b. Mengadakan pra penuntutan apabila ada kekurangan pada penyidikan dengan
memperhatikan ketentuan Pasal 110 ayat (3) dan ayat (4), dengan memberi petunjuk
dalam rangka penyempurnaan penyidikan dari penyidik;
c. Memberikan perpanjangan penahanan, melakukan penahanan atau penahanan
lanjutan dan atau mengubah status tahanan setelah perkaranya dilimpahkan oleh
penyidik;
d. Membuat surat dakwaan;
e. Melimpahkan perkara ke pengadilan;
f. Menyampaikan pemberitahuan kepada terdakwa tentang ketentuan hari dan waktu
perkara disidangkan yang disertai surat panggilan, baik kepada terdakwa maupun
kepada saksi, untuk datang pada sidang yang telah ditentukan;
g. Melakukan penuntutan;
h. Menutup perkara demi kepentingan hukum;
i. Mengadakan tindakan lain dalam Iingkup tugas dan tanggung jawab sebagai penuntut
umum menurut ketentuan undang-undang ini;
j. Melaksanakan penetapan hakim.

BAB V
PENAHANAN, PENGGELEDAHAN BADAN, PEMASUKAN RUMAH, PENYITAAN DAN
PEMERIKSAAN SURAT
Bagian Kedua
Penahanan
Pasal 20
(1) Untuk kepentingan penyidikan, penyidik atau penyidik pembantu atas perintah
penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 berwenang melakukan penahanan.
(2) Untuk kepentingan penuntutan, penuntut umum berwenang melakukan penahanan
atau penahanan lanjutan.
(3) Untuk kepentingan pemeriksaan hakim di sidang pengadilan dengan penetapannya
berwenang melakukan penahanan.
Pasal 21

Pasal 22

(1)

Perintah penahanan atau penahanan lanjutan dilakukan terhadap seorang tersangka


atau terdakwa yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti yang
cukup, dalam hal adanya keadaan yang menimbulkan kekhawatiran bahwa
tersangka atau terdakwa akan melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang
bukti dan atau mengulangi tindak pidana.
(2) Penahanan atau penahanan lanjutan dilakukan oleh penyidik atau penuntut umum
terhadap tersangka atau terdakwa dengan memberikan surat perintah penahanan
atau penetapan hakim yang mencantumkan identitas tersangka atau terdakwa dan
menyebutkan alasan penahanan serta uraian singkat perkara kejahatan yang
dipersangkakan atau didakwakan serta tempat ia ditahan.
(3) Tembusan surat perintah penahanan atau penahanan lanjutan atau penetapan hakim
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) harus diberikan kepada keluarganya.
(4) Penahanan tersebut hanya dapat dikenakan terhadap tersangka atau terdakwa yang
melakukan tindak pidana dan atau percobaan maupun pembenian bantuan dalam
tindak pidana tersebut dalam hal:
a.tindak pidana itu diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih;
(1) Jenis penahanan dapat berupa :
a.penahanan rumah tahanan negara;
b.penahanan rumah;
c.penahanan kota.
(2) Penahanan rumah dilaksanakan di rumah tempat tinggal atau rumah kediaman
tersangka atau terdakwa dengan mengadakan pengawasan terhadapnya untuk
menghindarkan segala sesuatu yang dapat menimbulkan kesulitan dalam penyidikan,
penuntutan atau pemeriksaan di sidang pengadilan.
(3) Penahanan kota dilaksanakan di kota tempat tinggal atau tempat kediaman tersangka
60

atau terdakwa, dengan kewajiban bagi tersangka atau terdakwa melapor diri pada
waktu yang ditentukan.
(4) Masa penangkapan dan atau penahanan dikurangkan seluruhnya dari pidana yang
dijatuhkan.
(5) Untuk penahanan kota pengurangan tersebut seperlima dari jumlah lamanya waktu
penahanan sedangkan untuk penahanan rumah sepertiga dari jumlah lamanya waktu
penahanan.
Pasal 23

(1) Penyidik atau penuntut umum atau hakim berwenang untuk mengalihkan jenis
penahanan yang satu kepada jenis penahanan yang lain sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 22.
(2) Pengalihan jenis penahanan dinyatakan secara tersendiri dengan surat perintah dari
penyidik atau penuntut umum atau penetapan hakim yang tembusannya diberikan
kepada tersangka atau terdakwa serta keluarganya dan kepada instansi yang
berkepentingan.

Pasal 24
(1) Perintah penahanan yang diberikan oleh penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal
Penyidik+PU
20, hanya berlaku paling lama dua puluh hari.
20 + 40 =60 (2) Jangka waktu sebagaimana tersebut pada ayat (1) apabila diperIukan guna
kepentingan pemeriksaan yang belum selesai, dapat diperpanjang oleh penuntut
umum yang berwenang untuk paling lama empat puluh hari.
(3) Ketentuan sebagaimana tersebut pada ayat (1) dan ayat (2) tidak menutup
kemungkinan dikeluarkannya tersangka dan tahanan sebelum berakhir waktu
penahanan tersebut, jika kepentingan pemeriksaan sudah terpenuhi.
(4) Setelah waktu enam puluh hari tersebut, penyidik harus sudah mengeluarkan
tersangka dan tahanan demi hukum
Pasal 25
JPU+PN
20+30=50

(1) Perintah penahanan yang diberikan oleh penuntut umum sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 20, hanya berlaku paling lama dua puluh hari.
(2) Jangka waktu sebagaimana tersebut pada ayat (1) apabila diperlukan guna
kepentingan pemeriksaan yang belum selesai, dapat diperpanjang oleh ketua
pengadilan negeri yang berwenang untuk paling lama tiga puluh hari.
(3) Ketentuan sebagaimana tersebut pada ayat (1) dan ayat (2) tidak menutup
kemungkinan dikeluarkannya tersangka dan tahanan sebelum berakhir waktu
penahanan tersebut, jika kepentingan pemeriksaan sudah terpenuhi.
(4) Setelah waktu lima puluh hari tersebut, penuntut umum harus sudah mengeluarkan
tersangka dari tahanan demi hukum.

Pasal 26
PN
30+60=90

(1) Hakim pengadilan negeri yang mengadili perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal
84, guna kepentingan pemeriksaan berwenang mengeluarkan surat perintah
penahanan untuk paling lama tiga puluh hari.
(2) Jangka waktu sebagaimana tersebut pada ayat (1) apabila diperlukan guna
kepentingan pemeriksaan yang belum selesai, dapat diperpanjang oleh ketua
pengadilan negeri yang bersangkutan untuk paling lama enam puluh hari.
(3) Ketentuan sebagaimana tersebut pada ayat (1) dan ayat (2) tidak menutup
kemungkinan dikeluarkannya terdakwa dari tahanan sebelum berakhir waktu
penahanan tersebut, jika kepentingan pemeriksaan sudah terpenuhi.
(4) Setelah waktu sembilan puluh hari walaupun perkara tersebut belum diputus,
terdakwa harus sudah dikeluarkan dari tahanan demi hukum.

Pasal 27
PT
30+60=90

(1) Hakim pengadilan tinggi yang mengadili perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal
87, guna kepentingan pemeriksaan banding berwenang mengeluarkan surat perintah
penahanan untuk paling lama tiga puluh hari.
(2) Jangka waktu sebagaimana tersebut pada ayat (1) apabila diperlukan guna
kepentingan pemeriksaan yang belum selesai, dapat diperpanjang oleh ketua
pengadilan tinggi yang bersangkutan untuk paling lama enam puluh hari.
(3) Ketentuan sebagaimana tersebut pada ayat (1) dan ayat (2) tidak menutup
kemungkinan dikeluarkannya terdakwa dan tahanan sebelum berakhir waktu
penahanan tersebut jika kepentingan pemeriksaan sudah terpenuhi.
(4) Setelah waktu sembilan puluh hari walaupun perkara tersebut belum diputus,
61

terdakwa harus sudah dikeluarkan dari tahanan demi hukum.


Pasal 28
MA
30+60=90

(1) Hakim Mahkamah Agung yang mengadili perkara sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 88, guna kepentingan pemeriksaan kasasi berwenang mengeluarkan surat
perintah penahanan untuk paling lama lima puluh hari.
(2) Jangka waktu sebagaimana tersebut pada ayat (1) apabila diperlukan guna
kepentingan pemeriksaan yang belum selesai, dapat diperpanjang oleh Ketua
Mahkamah Agung untuk paling lama enam puluh hari.
(3) Ketentuan sebagaimana tersebut pada ayat (1) dan ayat (2) tidak menutup
kemungkinan dikeluarkannya terdakwa dari tahanan sebelum berakhir waktu
penahanan tersebut, jika kepentingan pemeriksaan sudah terpenuhi.
(4) Setelah waktu seratus sepuluh hari walaupun perkara tersebut belum diputus,
terdakwa harus sudah dikeluarkan dari tahanan demi hukum

Pasal 29
30+30=60

(1) Dikecualikan dan jangka waktu penahanan sebagaimana tersebut pada Pasal 24, Pasal
25, Pasal 26, Pasal 27 dan Pasal 28, guna kepentingan pemeriksaan, penahanan
terhadap tersangka atau terdakwa dapat diperpanjang berdasar alasan yang patut dan
tidak dapat dihindarkan karena :
a. tersangka atau terdakwa menderita gangguan fisik atau mental yang berat, yang
dibuktikan dengan surat keterangan dokter, atau
b. perkara yang sedang diperiksa diancam dengan pidana penjara sembilan tahun
atau lebih.
(2) Perpanjangan tersebut pada ayat (l) diberikan untuk paling lama tiga puluh hari dan
dalam hal penahanan tersebut masih diperlukan, dapat diperpanjang lagi untuk paling
lama tiga puluh hari.
(3) Perpanjangan penahanan tersebut atas dasar permintaan dan laporan pemeriksaan
dalam tingkat :
a. penyidikan dan penuntutan diberikan oleh ketua pengadilan negeri;
b. pemeriksaan di pengadilan negeri diberikan oleh ketua pengadilan tinggi;
c. pemeriksaan banding diberikan oleh Mahkamah Agung;
d. pemeriksaan kasasi diberikan oleh Ketua Mahkamah Agung.
(4) Penggunaan kewenangan perpanjangan penahanan oleh pejabat tersebut pada ayat (3)
dibakukan secara bertahap dan dengan penuh tanggung jawab.
(5) Ketentuan sebagaimana tersebut pada ayat (2) tidak menutup kemungkinan
dikeluarkannya tersangka atau terdakwa dari tahanan sebelum berakhir waktu
penahanan tersebut, jika kepentingan pemeriksaan sudah dipenuhi.
(6) Setelah waktu enam puluh hari, walaupun perkara tersebut belum selesai diperiksa
atau belum diputus, tersangka atau terdakwa harus sudah dikeluarkan dari tahanan
demi hukum.
(7) terhadap perpanjangan penahanan tersebut pada ayat (2) tersangka atau terdakwa
dapat mengajukan keberatan dalam tingkat :
a. Penyidikan dan penuntutan kepada Ketua Pengadilan Tinggi
b. pemeriksaan pengadilan negeri dan pengadilan banding kepada Ketua Mahkamah
Agung.

Pasal 31

(1) Atas permintaan tersangka atau terdakwa, penyidik atau penuntut umum atau hakim,
sesuai dengan kewenangan masing-masing, dapat mengadakan penangguhan
penahanan dengan atau tanpa jaminan uang atau jaminan orang, berdasarkan syarat
yang ditentukan.
(2) Karena jabatannya penyidik atau penuntut umum atau hakim sewaktu-waktu dapat
mencabut penangguhan penahanan dalam hal tersangka atau terdakwa melanggar
syarat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

BAB V
PENANGKAPAN, PENAHANAN, PENGGELEDAHAN BADAN, PEMASUKKAN RUMAH,
PENYITAAN DAN PEMERIKSAAN SURAT
Bagian Ketiga Penggeledahan
Pasal 32
Untuk kepentingan penyidikan, penyidik dapat melakukan penggeledahan rumah atau
penggeledahan pakaian atau penggeledahan badan menurut tata cara yang ditentukan
dalam undang-undang ini.
Pasal 33
(1) Dengan surat izin ketua pengadilan negeri setempat penyidik dalam melakukan
62

penyidikan dapat mengadakan penggeledahan rumah yang diperlukan.


(2) Dalam hal yang diperlukan atas perintah tertulis dari penyidik, petugas kepolisian
negara Republik Indonesia dapat memasuki rumah.
(3) Setiap kali memasuki rumah harus disaksikan oleh dua orang saksi dalam hal
tersangka atau penghuni menyetujuinya.
(4) Setiap kali memasuki rumah harus disaksikan oleh kepala desa atau ketua lingkungan
dengan dua orang saksi, dalam hal tersangka atau penghuni menolak atau tidak hadir.
(5) Dalam waktu dua hari setelah memasuki dan atau menggeledah rumah, harus dibuat
suatu berita acara dati turunannya disampaikan kepada pemilik atau penghuni rumah
yang bersangkutan.
BAB V
PENANGKAPAN, PENAHANAN, PENGGELEDAHAN BADAN, PEMASUKKAN RUMAH,
PENYITAAN DAN PEMERIKSAAN SURAT
Bagian Keempat Penyitaan
Pasal 38
(1) Penyitaan hanya dapat dilakukan oleh penyidik dengan surat izin ketua pengadilan
negeri setempat.
(2) Dalam keadaan yang sangat perlu dan mendesak bilamana penyidik harus segera
bertindak dan tidak mungkin untuk mendapatkan surat izin terlebih dahulu, tanpa
mengurangi ketentuan ayat (1) penyidik dapat melakukan penyitaan hanya atas benda
bergerak dan untuk itu wajib segera
Pasal 39

(1) Yang dapat dikenakan penyitaan adalah :


a. Benda atau tagihan tersangka atau terdakwa yang seluruh atau sebagian diduga
diperoleh dan tindak pidana atau sebagai hasil dan tindak pidana;
b. Benda yang telah dipergunakan secara Iangsung untuk melakukan tindak
pidana atau untuk mempersiapkannya;
c. Benda yang dipergunakan untuk menghalang-halangi penyidikan tindak
pidana;
d. Benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan tindak pidana;
e. Benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana yang
dilakukan.
(2) Benda yang berada dalam sitaan karena perkara perdata atau karena pailit dapat juga
disita untuk kepentingan penyidikan,

Pasal 42

(1) Penyidik berwenang memerintahkan kepada orang yang menguasai benda yang dapat
disita, menyerahkan benda tersebut kepadanya untuk kepentingan pemeriksaan dan
kepada yang menyerahkan benda itu harus diberikan surat tanda penerimaan.
(2) Surat atau tulisan lain hanya dapat diperintahkan untuk diserahkan kepada penyidik
jika surat atau tulisan itu berasal dan tersangka atau terdakwa atau ditujukan
kepadanya atau kepunyaannya atau diperuntukkan baginya atau jikalau benda
tersebut merupakah alat untuk melakukan tindak pidana.

Pasal 44

(1) Benda sitaan disimpan dalam rumah penyimpanan benda sitaan negara.
(2) Penyimpanan benda sitaan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan tanggung jawab
atasnya ada pada pejabat yang berwenang sesuai dengan tingkat pemeriksaan dalam
proses peradilan dan benda tersebut dilarang untuk dipergunakan oleh siapapun juga.

BAB VI TERSANGKA DAN TERDAKWA


Pasal 50
(1) Tersangka berhak segera mendapat pemeriksaan oleh penyidik dan selanjutnya dapat
diajukan kepada penuntut umum.
(2) Tersangka berhak perkaranya segera dimajukan ke pengadilan oleh penuntut umum.
(3) Terdakwa berhak segera diadili oleh pengadilan.
Pasal 51

Pasal 52

Untuk mempersiapkan pembelaan :


a. Tersangka berhak untuk diberitahukan dengan jelas dalam bahasa yang dimengerti
olehnya tentang apa yang disangkakan kepadanya pada waktu pemeriksaan dimulai,
b. Terdakwa berhak untuk diberitahukan dengan jelas dalam bahasa yang dimengerti
olehnya tentang apa yang didakwakan kepadanya
Dalam pemeriksaan pada tingkat penyidikan dan pengadilan, tersangka atau terdakwa
63

berhak memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik atau hakim.


Pasal 57

(1) Tersangka atau terdakwa yang dikenakan penahanan berhak menghubungi penasihat
hukumnya sesuai dengan ketentuan undang-undang ini.
(2) Tersangka atau terdakwa yang berkebangsaan asing yang dikenakan penahanan
berhak menghubungi dan berbicara dengan perwakilan negaranya dalam menghadapi
proses perkaranya.

Pasal 58

Tersangka atau terdakwa yang dikenakan penahanan berhak menghubungi dan menerima
kunjungan dokter pribadinya untuk kepentingan kesehatan baik yang ada hubungannya
dengan proses perkara maupun tidak.

Pasal 59

Tersangka atau terdakwa yang dikenakan penahanan berhak diberitahukan tentang


penahanan atas dirinya oleh pejabat yang berwenang pada semua tingkat pemeriksaan
dalam proses peradilan, kepada keluarganya atau orang lain yang serumah dengan
tersangka atau terdakwa ataupun orang lain yang bantuannya dibutuhkan oleh tersangka
atau terdakwa untuk mendapatkan bantuan hukum atau jaminan bagi penangguhannya.

Pasal 60

Tersangka atau terdakw berhak menghubungi dan menerima kunjungan dari pihak yang
mempunyai hubungn kekeluargaan atau lainnya dengan tersangka atau terdakwa guna
mendapatkan jaminan bagi penangguhan penahanan ataupun untuk usaha mendapatkan
bantuan hukum.

Pasal 61

Tersangka atau terdakwa berhak secara Iangsung atau dengan perantaraan penasihat
hukumnya menghubungi dan menerima kunjungan sanak keluarganya dalam hal yang
tidak ada hubungannya dengan perkara tersangka atau terdakwa untuk kepentingan
pekerjaan atau untuk kepentingan kekeluargaan.

Pasal 62

(1) Tersangka atau terdakwa berhak mengirim surat kepada penasihat hukumnya, dan
menerima surat dari penasihat hukumnya dan sanak keluarga setiap kali yang
diperlukan olehnya, untuk keperluan itu bagi tersangka atau terdakwa disediakan alat
tulis menulis.
(2) Surat menyurat antara tersangka atau terdakwa dengan penasihat hukumnya atau
sanak keluarganya tidak diperiksa oleh penyidik, penuntut umum, hakim atau pejabat
rumah tahanan negara kecuali jika terdapat cukup alasan untuk diduga bahwa surat
menyurat itu disalahgunakan.
(3) Dalam hal surat untuk tersangka atau terdakwa ditilik atau diperiksa oleh penyidik,
penuntut umum, hakim atau pejabat rumah tahanan negara, hal itu diberitahukan
kepada tersangka atau terdakwa dan surat tersebut dikirim kembali kepada
pengirimnya setelah dibubuhi cap yang berbunyi "telah ditilik".

Pasal 63

Tersangka atau terdakwa berhak menghubungi dan menerima kunjungan dari rohaniwan.

Pasal 64

Terdakwa berhak untuk diadili di sidang pengadilan yang terbuka untuk umum.

Pasal 65

Tersangka atau terdakwa berhak untuk mengusahakan diri mengajukan saksi dan atau
seseorang yang memiliki keahlian khusus guna memberikan keterangan yang
menguntungkan bagi dirinya.

Pasal 66

Tersangka atau terdakwa tidak dibebani kewajiban pembuktian

Pasal 67

Terdakwa atau penuntut umum berhak untuk minta banding terhadap putusan pengadilan
tingkat pertama kecuali terhadap putusan bebas, lepas dari segala tuntutan hukum yang
menyangkut masalah kurang tepatnya penerapan hukum dan putusan pengadilan dalam
acara cepat
BAB VIII BERITA ACARA
Pasal 75
(1) Berita acara dibuat untuk setiap tindakan tentang :
a.pemeriksaan tersangka;
b.penangkapan;
64

c.penahanan;
d.penggeledahan;
e.pemasukan rumah;
f.penyitaan benda;
g.pemeriksaan surat;
h.pemeriksaan saksi;
l.pemeriksaan di tempat kejadian;
j.pelaksanaan penetapan dan putusan pengadilan;
k.pelaksanaan tindakan lain sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang ini.
(2) Berita acara dibuat oleh pejabat yang bersangkutan dalam melakukan tindakan
tersebut pada ayat (1) dan dibuat atas kekuatan sumpah jabatan.
(3) Berita acara tersebut selain ditandatangani oleh pejabat tersebut pada ayat (2)
ditandatangani pula oleh semua pihak yang terlibat dalam tindakan tersebut pada ayat
(1).
2. UU No. 11 Tahun 1994 tentang Perubahan Atas UU No. 8 Tahun 1983 tentang Pajak
Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan PPn BM
Pasal
Bunyi Pasal/ Ayat
Pasal 1
d. Penyerahan Barang Kena Pajak :
1) Yang termasuk dalam pengertian penyerahan Barang Kena Pajak adalah:
a) penyerahan hak atas Barang Kena Pajak karena suatu perjanjian ;
b) pengalihan Barang Kena Pajak oleh karena suatu perjanjian sewa beli dan
perjanjian leasing;
d) pemakaian sendiri dan pemberian cuma-cuma;
f) penyerahan Barang Kena Pajak dari Pusat ke Cabang atau sebaliknya dan
penyerahan Barang Kena Pajak antar Cabang;
e. Jasa adalah setiap kegiatan pelayanan berdasarkan suatu perikatan atau perbuatan
hukum yang menyebabkan suatu barang atau fasilitas atau kemudahan atau hak
tersedia untuk dipakai, termasuk jasa yang dilakukan untuk menghasilkan barang
karena pesanan atau permintaan dengan bahan dan atas petunjuk dari pemesan;
f. Jasa Kena Pajak adalah jasa sebagaimana dimaksud pada huruf e yang dikenakan pajak
berdasarkan Undang-undang ini;
g. Penyerahan Jasa Kena Pajak adalah setiap kegiatan pemberian Jasa Kena Pajak
sebagaimana dimaksud pada huruf f, termasuk Jasa Kena Pajak yang digunakan untuk
kepentingan sendiri atau Jasa Kena Pajak
Pasal 4

Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas :


a. penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh
Pengusaha;
b. impor Barang Kena Pajak;
c. penyerahan Jasa Kena Pajak yang dilakukan di dalam Daerah Pabean oleh
Pengusaha;
d. pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam
Daerah Pabean;
e. pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean;
f. ekspor Barang Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak."

Pasal 5

(1)

Disamping pengenaan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, dikenakan juga


Pajak Penjualan Atas Barang Mewah terhadap :
a. penyerahan Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah yang dilakukan oleh
Pengusaha yang menghasilkan Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah
tersebut di dalam Daerah Pabean dalam lingkungan perusahaan atau
pekerjaannya;
b. impor Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah.

Pasal 8

(2)

Tarif Pajak Penjualan Atas Barang Mewah adalah serendah-rendahnya 10%


(sepuluh persen) dan setinggi-tingginya 50% (lima puluh persen).

65

3. UU NO 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor, sebagaimana diubah dengan UU No.


20 Tahun 2001
Pasal
Bunyi Pasal/ Ayat
Pasal 2

(1) Setiap orang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri
sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara
atau perekonomian negara, dipidana penjara dengan penjara seumur hidup atau
pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh)
tahun dan denda paling sedikit Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan
paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).
Penjelasan Pasal 2 :
(1) yang dimaksud dengan secara melawan hukum dalam pasal ini mencakup
perbuatan melawan hukum dalam arti formil maupun dalam arti materil, yakni
meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan,
namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa
keadilan atau norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat, maka perbuatan
tersebut dapat dipidana. Dalam ketentuan ini, kata dapat sebelum frasa
merugikan keuangan atau perekonomian negara menunjukkan bahwa tindak
pidana korupsi merupakan delik formil, yaitu adanya tindak pidana korupsi cukup
dengan dipenuhinya unsur-unsur perbuatan yang sudah dirumuskan bukan dengan
timbulnya akibat.

Pasal 3

Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu
korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya
karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau
perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara
paling sedikit 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan atau denda paling
sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.
1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).
Penjelasan Pasal 3 kata dapat dalam ketentuan ini diartikan sama dengan penjelasan
pasal 2.

Pasal 4

Pengembalian kerugian keuangan negara atau perekonomian negara tidak


menghapuskan dipidananya pelaku tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
dan Pasal 3.
Penjelasan Pasal 4:
Dalam hal pelaku tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan
Pasal 3 telah memenuhi unsur-unsur pasal dimaksud, maka pengembalian kerugian
keuangan negara atau perekonomian negara, tidak menghapuskan pidana terhadap
pelaku tindak pidana tersebut. Pengembalian kerugian keuangan negara atau
perekonomian negara hanya merupakan salah satu faktor yang meringankan.

Pasal 18

(1) Selain pidana tambahan sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-Undang


Hukum Pidana, sebagai pidana tambahan adalah :
a. perampasan barang bergerak yang berwujud atau yang tidak berwujud atau
barang tidak bergerak yang digunakan untuk atau yang diperoleh dari tindak
pidana korupsi, termasuk perusahaan milik terpidana di mana tindak pidana
korupsi dilakukan, begitu pula dari barang yang menggantikan barang-barang
tersebut;
b. pembayaran uang pengganti yang jumlahnya sebanyak-banyaknya sama dengan
harta benda yang diperoleh dari tindak pidana korupsi;
c. penutupan seluruh atau sebagian perusahaan untuk waktu paling lama 1 (satu)
tahun;
d. pencabutan seluruh atau sebagian hak-hak tertentu atau penghapusan seluruh
atau sebagian keuntungan tertentu, yang telah atau dapat diberikan oleh
Pemerintah kepada terpidana.
(2) Jika terpidana tidak membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat
66

(1) huruf b paling lama dalam waktu 1 (satu) bulan sesudah putusan pengadilan
yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita
oleh jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut.
(3) Dalam hal terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk
membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, maka
dipidana dengan pidana penjara yang lamanya tidak melebihi ancaman maksimum
dari pidana pokoknya sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang ini dan
lamanya pidana tersebut sudah ditentukan dalam putusan pengadilan.
Pasal 19

(1) Putusan pengadilan mengenai perampasan barang-barang bukan kepunyaan


terdakwa tidak dijatuhkan, apabila hak-hak pihak ketiga yang beritikad baik akan
dirugikan.
(2) Dalam hal putusan pengadilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) termasuk
juga barang pihak ketiga yang mempunyai itikad baik, maka pihak ketiga tersebut
dapat mengajukan surat keberatan kepada pengadilan yang bersangkutan, dalam
waktu paling lambat 2 (dua) bulan setelah putusan pengadilan diucapkan di sidang
terbuka untuk umum.
(3) Pengajuan surat keberatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak
menangguhkan atau menghentikan pelaksanaan putusan pengadilan.
(4) Dalam keadaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), hakim meminta keterangan
penuntut umum dan pihak yang berkepentingan.
(5) Penetapan hakim atas surat keberatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat
dimintakan kasasi ke Mahkaman Agung oleh pemohon atau penuntut umum.

BAB IV
PENYIDIKAN, PENUNTUTAN DAN PEMERIKSAAN DI SIDANG PENGADILAN
Pasal 25
Penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan dalam perkara tindak
pidana korupsi harus didahulukan dari perkara lain guna penyelesaian secepatnya.
Pasal 26

Penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tindak pidana


korupsi, dilakukan berdasarkan hukum acara pidana yang berlaku, kecuali ditentukan
lain dalam Undang-undang ini

Pasal 26 A

Alat bukti yang sah dalam bentuk petunjuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 188 ayat
(2) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, khusus untuk
tindak pidana korupsi juga dapat diperoleh dari :
a. Alat bukti lain yang berupa informasi yang diucapkan, dikirim, diterima, atau
disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; dan
b. Dokumen, yakni setiap rekaman data atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan
atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik
yang tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas, maupun yang terekam
secara elektronik, yang berupa tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf,
tanda, angka, atau perforasi yang memiliki makna.

Pasal 28

Untuk kepentingan penyidikan, tersangka wajib memberikan keterangan tentang seluruh


harta bendanya dan harta benda istri atau suami, anak, dan harta benda setiap orang atau
korporasi yang diketahui dan atau yang diduga mempunyai hubungan dengan tindak
pidana korupsi yang dilakukan tersangka.

Pasal 29

(1) Untuk kepentingan penyidikan, penuntutan, atau pemeriksaan di sidang pengadilan,


penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang meminta keterangan kepada
bank tentang keadaan keuangan tersangka atau terdakwa.
(2) Permintaan keterangan kepada bank sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
diajukan kepada Gubernur Bank Indonesia sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang Berlaku.
(3) Gubernur Bank Indonesia berkewajiban untuk memenuhi permintaan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2) dalam waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kerja,
terhitung sejak dokumen permintaan diterima secara lengkap.
(4) Penyidik, penuntut umum, atau hakim dapat meminta kepada bank untuk
memblokir rekening simpanan milik tersangka atau terdakwa yang diduga hasil
dari korupsi.
67

(5) Dalam hal hasil pemeriksaan terhadap tersangka atau terdakwa tidak diperoleh
bukti yang cukup, atas permintaan penyidik, penuntut umum, atau hakim, bank
pada hari itu juga mencabut pemblokiran.
Pasal 30

Penyidik berhak membuka, memeriksa, dan menyita surat dan kiriman melalui pos,
telekomunikasi atau alat lainnya yang dicurigai mempunyai hubungan dengan perkara
tindak pidana korupsi yang sedang diperiksa.

Pasal 31

(1) Dalam penyidikan dan pemeriksaan di sidang pengadilan, saksi dan orang lain yang
bersangkutan dengan tindak pidana korupsi dilarang menyebut nama atau alamat
pelapor, atau hal-hal lain yang memberikan kemungkinan dapat diketahuinya
identitas pelapor.
(2) Sebelum pemeriksaan dilakukan, larangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
diberitahukan kepada saksi dan orang lain tersebut.

Pasal 32

(1) Dalam hal penyidik menemukan dan berpendapat bahwa satu atau lebih unsur
tindak pidana korupsi tidak terdapat cukup bukti, sedangkan secara nyata telah ada
kerugian keuangan negara, maka penyidik segera menyerahkan berkas perkara
hasil penyidikan tersebut kepada Jaksa Pengacara Negara untuk dilakukan gugatan
perdata atau diserahkan kepada instansi yang dirugikan untuk mengajukan gugatan.
(2) Putusan bebas dalam perkara tindak pidana korupsi tidak menghapuskan hak untuk
menuntut kerugian terhadap keuangan negara.
Penjelasan Pasal 32:
Ayat (1) : Yang dimaksud dengan secara nyata telah ada kerugian keuangan negara
adalah kerugian yang sudah dapat dihitung jumlahnya berdasarkan hasil
temuan instansi yang berwenang atau akuntan publik yang ditunjuk.
Ayat (2) :Yang dimaksud dengan putusan bebas adalah putusan pengadilan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 191 ayat (1) dan ayat (2) Undang-undang
Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

Pasal 33

Dalam hal tersangka meninggal dunia pada saat dilakukan penyidikan, sedangkan secara
nyata telah ada kerugian keuangan negara, maka penyidik segera menyerahkan berkas
perkara hasil penyidikan tersebut kepada Jaksa Pengacara Negara atau diserahkan
kepada instansi yang dirugikan untuk dilakukan kepada gugatan perdata terhadap ahli
warisnya.

Pasal 34

Dalam hal terdakwa meninggal dunia pada saat dilakukan pemeriksaan di sidang
pengadilan. Sedangkan secara nyata telah ada kerugian keuangan negara, maka penuntut
umum segera menyerahkan salinan berkas berita acara sidang tersebut kepada Jaksa
Pengacara Negara atau diserahkan kepada instansi yang dirugikan untuk dilakukan
gugatan perdata terhadap ahli warisnya.

Pasal 35

(1) Setiap orang wajib memberi keterangan sebagai saksi atau ahli, kecuali ayah, ibu,
kakek, nenek, saudara kandung, istri atau suami, anak, dan cucu dari terdakwa.
(2) Orang yang dibebaskan sebagai saksi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dapat
diperiksa sebagai saksi apabila mereka menghendaki dan disetujui secara tegas
oleh terdakwa.
(3) Tanpa persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), mereka dapat
memberikan keterangan sebagai saksi tanpa disumpah.

Pasal 36

Kewajiban memberikan kesaksian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 berlaku juga


terhadap mereka yang menurut pekerjaan, harkat dan martabat atau jabatannya
diwajibkan menyimpan rahasia, kecuali petugas agama yang menurut keyakinannya
harus menyimpan rahasia.

Pasal 37

(1) Terdakwa mempunyai hak untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak
pidana korupsi.
(2) Dalam hal terdakwa dapat membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana
korupsi, maka pembuktian tersebut dipergunakan oleh pengadilan sebagai dasar
untuk menyatakan bahwa dakwaan tidak terbukti.
68

Pasal 37 A

(1) Terdakwa wajib memberikan keterangan tentang seluruh harta bendanya dan harta
benda istri atau suami, anak, dan harta benda setiap orang atau korporasi yang
diduga mempunyai hubungan dengan perkara yang didakwakan.
(2) Dalam hal terdakwa tidak dapat membuktikan tentang kekayaan yang tidak
seimbang dengan penghasilannya atau sumber penambahan kekayaannya, maka
keterangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digunakan untuk memperkuat
alat bukti yang sudah ada bahwa terdakwa telah melakukan tindak pidana korupsi.
(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) merupakan tindak
pidana atau perkara pokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4,
Pasal 13, Pasal 14, Pasal 15, dan Pasal 16 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Pasal 5 sampai dengan Pasal 12
Undang-undang ini, sehingga penuntut umum tetap berkewajiban untuk
membuktikan dakwaannya.

Pasal 38

(1) Dalam hal terdakwa telah dipanggil secara sah, dan tidak hadir di sidang
pengadilan tanpa alasan yang sah, maka perkara dapat diperiksa dan diputus tanpa
kehadirannya.
(2) Dalam hal terdakwa hadir pada sidang berikutnya sebelum putusan dijatuhkan,
maka terdakwa wajib diperiksa, dan segala keterangan saksi dan surat-surat yang
dibacakan dalam sidang sebelumnya dianggap sebagai diucapkan dalam sidang
yang sekarang.
(3) Putusan yang dijatuhkan tanpa kehadiran terdakwa diumumkan oleh penuntut
umum pada papan pengumuman pengadilan, kantor Pemerintah Daerah, atau
diberitahukan kepada kuasanya.
(4) Terdakwa atau kuasanya dapat mengajukan banding atas putusan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1).
(5) Dalam hal terdakwa meninggal dunia sebelum putusan dijatuhkan dan terdapat
bukti yang cukup kuat bahwa yang bersangkutan telah melakukan tindak pidana
korupsi, maka hakim atas tuntutan penuntut umum menetapkan perampasan
barang-barang yang telah disita.
(6) Penetapan perampasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) tidak dapat
dimohonkan upaya banding.

Pasal 38 A

Pembuktian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 B ayat (1) dilakukan pada saat
pemeriksaan di sidang pengadilan.

Pasal 38 B

(1) Setiap orang yang didakwa melakukan salah satu tindak pidana korupsi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 13, Pasal 14, Pasal
15, dan Pasal 16 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi dan Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 Undang-undang ini,
wajib membuktikan sebaliknya terhadap harta benda miliknya yang belum
didakwakan, tetapi juga diduga berasal dari tindak pidana korupsi.
(2) Dalam hal terdakwa tidak dapat membuktikan bahwa harta benda sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) diperoleh bukan karena tindak pidana korupsi, harta
benda tersebut dianggap diperoleh juga dari tindak pidana korupsi dan hakim
berwenang memutuskan seluruh atau sebagian harta benda tersebut dirampas untuk
negara.
(3) Tuntutan perampasan harta benda sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diajukan
oleh penuntut umum pada saat membacakan tuntutannya pada perkara pokok.
(4) Pembuktian bahwa harta benda sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bukan
berasal dari tindak pidana korupsi diajukan oleh terdakwa pada saat membacakan
pembelaannya dalam perkara pokok dan dapat diulangi pada memori banding dan
memori kasasi.
(5) Hakim wajib membuka persidangan yang khusus untuk memeriksa pembuktian
yang diajukan terdakwa sebagaimana dimaksud dalam ayat (4).
(6) Apabila terdakwa dibebaskan atau dinyatakan lepas dari segala tuntutan hukum
dari perkara pokok, maka tuntutan perampasan harta benda sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) dan ayat (2) harus ditolak oleh hakim.

69

Pasal 38 C

Apabila setelah putusan pengadilan telah memperoleh kekuatan hukum tetap, diketahui
masih terdapat harta benda milik terpidana yang diduga atau patut diduga juga berasal
dari tindak pidana korupsi yang belum dikenakan perampasan untuk negara sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 38 B ayat (2), maka negara dapat melakukan gugatan perdata
terhadap terpidana dan atau ahli warisnya.

4. UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara


Pasal
Pasal 35

Bunyi Pasal/ Ayat


(1) Setiap pejabat negara dan pegawai negeri bukan bendahara yang melanggar hukum
atau melalaikan kewajibannya baik atau tidak langsung yang merugikan keuangan
negara diwajibkan mengganti kerugian dimaksud.
(2) Setiap orang yang diberi tugas menerima, menyimpan, membayar, dan/atau
menyerahkan uang atau surat berharga atau barang-barang negara adalah bendahara
yang wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Badan Pemeriksa
Keuangan.
(3) Setiap bendahara sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) bertanggung jawab secara
pribadi atas kerugian keuangan negara yang berada dalam pengurusannya.
(4) Ketentuan mengenai penyelesaian keruguan negara diatur di dalam undang-undang
mengenai perbendaharaan negara.

5. UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara


Pasal
Pasal 1
butir 22

Bunyi Pasal/ Ayat


Kerugian negara/ daerah adalah kekurangan uang, surat berharga dan barang, yang nyata
dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.

Bab XI
Penyelesaian Kerugian Negara/ Daerah
Pasal 59 (1) Setiap kerugian negara/ daerah yang disebabkan oleh tindakan melanggar hukum atau
kelalaian seseorang harus segera diselesaikan sesuai dengan ketentuan perundang
undangan yang berlaku.
(2) Bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau pejabat lain yang karena
perbuatannya melanggar hukum atau melalaikan kewajiban yang dibebankan
kepadanya secara langsung merugikan keuangan negara, wajib mengganti kerugian
tersebut.
(3) Setiap pimpinan kementrian negara/ lembaga/ kepala satuan kerja perangkat daerah
dapat segera melakukan tuntutan ganti rugi. Setelah mengetahui bahwa dalam
kementrian negara/ lembaga/ satuan kerja perangkat daerah yang bersangkutan terjadi
kerugian akibat perbuatan dari pihak manapun.
Pasal 60

(1) Setiap kerugian negara wajib dilaporkan oleh atasan langsung atau kepala kantor
kepada menteri/pimpinan lembaga dan diberitahukan keapada Badan Pemeriksa
Keuangan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah kerugian negara itu
diketahui.
(2) Segera setelah kerugian negara tersebut diketahui, kepada bendahara, pegawai negeri
bukan bendahara, atau pejabat lain yang nyata-nyata melanggar hukum atau
melalaikan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (2) segera
dimintakan surat pernyataan kesanggupan dan/atau pengakuan bahwa kerugian
tersebut menjadi tanggung jawabnya dan bersedia mengganti kerugian negara
dimaksud.
(3) Jika surat keterangan tanggung jawab mutlak tidak mungkin diperoleh atau tidak
dapat menjamin pengembalian kerugian negara, menteri/pimpinan lembaga yang
bersangkutan segera mengeluarkan surat keputusan pembebanan penggantian
kerugian sementara kepada yang bersangkutan.

Pasal 61

(1) Setiap kerugian daerah wajib dilaporkan oleh atasan langsung atau kepala satuan
kerja perangkat daerah kepada gubernur/ bupati/ walikota dan diberitahukan kepada
Badan Pemeriksa Keuangan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah kerugian
70

daerah itu diketahui.


(2) Segera setelah kerugian daerah tersebut diketahui, kepada bendahara, pegawai negeri
bukan bendahara, atau peajabat lain yang nyata-nyata melanggar hukum atau
melalaikan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (2) segera
dimintakan surat pernyataan kesanggupan dan/atau pengakuan bahwa kerugian
tersebut menjadi tanggung jawabnya dan bersedia mengganti kerugian daerah
dimaksud.
(3) Jika surat keterangan tanggung jawab mutlak tidak mungkin diperoleh atau tidak
dapat menjamin pengembalian kerugian daerah, gubernur/bupati/walikota yang
bersangkutan segera mengeluarkan surat keputusan pembebanan penggantian
kerugian sementara kepada yang bersangkutan.
Pasal 62

Pasal 63

(1) Pengenaan ganti kerugian negara/daerah terhadap bendahara ditetapkan oleh Badan
Pemeriksaan Keuangan.
(2) Apabila dalam pemeriksaan kerugian negara/daerah sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) ditemukan unsur pidana, Badan Pemeriksa Keuangan menindaklanjutinya sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(3) Ketentuan lebih lanjut tentang pengenaan ganti kerugian negara terhadap bendahara
diatur dalam undang-undang mengenai pemeriksaan pengelolaan dan tanggungjawab
keuangan negara.
(4)
Pengenaan ganti kerugian negara/daerah terhadap pegawai negeri bukan bendahara
ditetapkan oleh menteri/pimpinan lembaga/gubernur/bupati/walikota. Tata cara tuntutan
ganti kerugian negara/daerah diatur dengan peraturan pemerintah.

Pasal 64

Bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, dan pejabat lain yang telah ditetapkan untuk
mengganti kerugian negara/daerah dapat dikenai sanksi administratif dan/atau sanksi
pidana. Putusan pidana tidak membebaskan dari tuntutan ganti rugi.

Pasal 65

Kewajiban bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau pejabat lain untuk membayar
ganti rugi, menjadi kedaluwarsa jika dalam waktu 5 (lima) tahun sejak diketahuinya
kerugian tersebut atau dalam waktu 8 (delapan) tahun sejak terjadinya kerugian tidak
dilakukan penuntutan ganti rugi terhadap yang bersangkutan.

Pasal 66

(1) Dalam hal bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau pejabat lain yang
dikenai tuntutan ganti kerugian negara/daerah berada dalam pengampuan, melarikan
diri, atau meninggal dunia, penuntutan dan penagihan terhadapnya beralih kepada
pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris, terbatas pada kekayaan yang dikelola
atau diperolehnya, yang berasal dari bendahara, pegawai negeri bukan bendahara,
atau pejabat lain yang bersangkutan.
(2) Tanggung jawab pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris untuk membayar ganti
kerugian negara/daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi hapus apabila
dalam waktu 3 (tiga) tahun sejak keputusan pengadilan yang menetapkan
pengampuan kepada bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau pejabat lain
yang bersangkutan, atau sejak bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau
pejabat lain yang bersangkutan diketahui melarikan diri atau meninggal dunia,
pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris tidak diberi tahu oleh pejabat yang
berwenang mengenai adanya kerugian negara/daerah.

Pasal 67

(1) Ketentuan penyelesaian kerugian negara/daerah sebagaimana diatur dalam


Undang-undang ini berlaku pula untuk uang dan/atau barang bukan milik
negara/daerah, yang berada dalam penguasaan bendahara, pegawai negeri bukan
bendahara, atau pejabat lain yang digunakan dalam penyelenggaraan tugas
pemerintahan.
(2) Ketentuan penyelesaian kerugian negara/daerah dalam Undang-undang ini berlaku
pula untuk pengelola perusahaan negara/daerah dan badan-badan lain yang
menyelenggarakan pengelolaan keuangan negara, sepanjang tidak diatur dalam
undang-undang tersendiri.

71

6. UU No. 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan
Negara
Pasal
Pasal 1

Bunyi Pasal/ Ayat


Butir 3 :
Pemeriksa adalah orang yang melaksanakan tugas pemeriksaan pengelolaan dan tanggung
jawab keuangan negara untuk dan atas nama BPK.

Pasal 2

Yang memiliki kewenangan untuk mengungkap indikasi kerugian negara adalah BPK.

Pasal 13

Pemeriksa dapat melaksanakan pemeriksaan investigatif guna mengungkap adanya indikasi


kerugian negara/daerah dan/atau unsur pidana.

BAB V
PENGENAAN GANTI KERUGIAN NEGARA
Pasal 22 (1) BPK menerbitkan surat keputusan penetapan batas waktu pertanggungjawaban
bendahara atas kekurangan kas/barang yang terjadi, setelah mengetahui ada
kekurangan kas/barang dalam persediaan yang merugikan keuangan negara/daerah.
(2) Bendahara dapat mengajukan keberatan atau pembelaan diri kepada BPK dalam waktu
14 (empat belas) hari kerja setelah menerima surat keputusan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1).
(3) Apabila bendahara tidak mengajukan keberatan atau pembelaan dirinya ditolak, BPK
menetapkan surat keputusan pembebanan penggantian kerugian negara/daerah kepada
bendahara bersangkutan.
(4) Tata cara penyelesaian ganti kerugian negara/daerah terhadap bendahara ditetapkan
oleh BPK setelah berkonsultasi dengan pemerintah.
(5) Tata cara penyelesaian ganti kerugian sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berlaku
pula bagi pengelola perusahaan umum dan perusahaan perseroan yang seluruh atau
paling sedikit 51% (lima puluh satu persen) sahamnya dimiliki oleh Negara Republik
Indonesia, sepanjang tidak diatur dalam undang-undang tersendiri.
Penjelasan Pasal 22
Ayat (1) Surat keputusan dimaksud pada ayat ini diterbitkan apabila belum ada
penyelesaian yang dilakukan sesuai dengan tata cara penyelesaian ganti kerugian
negara/daerah yang ditetapkan oleh BPK.
Ayat (3) Pembelaan diri ditolak oleh BPK apabila bendahara tidak dapat membuktikan
bahwa dirinya bebas dari kesalahan, kelalaian, atau kealpaan.
Pasal 23

(1) Menteri/pimpinan lembaga/gubernur/bupati/walikota/direksi perusahaan negara dan


badanbadan lain yang mengelola keuangan negara melaporkan penyelesaian kerugian
negara/daerah kepada BPK selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari setelah
diketahui terjadinya kerugian negara/daerah dimaksud.
(2) BPK memantau penyelesaian pengenaan ganti kerugian negara/daerah terhadap
pegawai negeri bukan bendahara dan/atau pejabat lain pada kementerian negara/
lembaga/ pemerintah daerah.

7. UU No. 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan


Pasal
Pasal 1

Bunyi Pasal/ Ayat


18. Pengadilan adalah Pengadilan Tata Usaha Negara.

Pasal
21

(1) Pengadilan berwenang menerima, memeriksa, dan memutuskan ada atau tidak ada unsur
penyalahgunaan Wewenang yang dilakukan oleh Pejabat Pemerintahan.
(2) Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan
untuk menilai ada atau tidak ada unsur penyalahgunaan Wewenang dalam Keputusan
dan/atau Tindakan.
(3) Pengadilan wajib memutus permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling
lama 21 (dua puluh satu) hari kerja sejak permohonan diajukan.
(4) Terhadap putusan Pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diajukan
banding ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara.
72

(5) Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara wajib memutus permohonan banding sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) paling lama 21 (dua puluh satu) hari kerja sejak permohonan
banding diajukan.
(6) Putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (5)
bersifat final dan mengikat
8. Keppres No. 31 Tahun 1983 tentang Pembentukan BPKP
Pasal
Pasal 3

Bunyi Pasal/ Ayat


Huruf :
J. ..melakukan pengawasan terhadap semua Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha
Milik Daerah dan badan-badan usaha lainnya yang seluruh atau sebagian kekayaannya
dimiliki Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah;
L. .melakukan pengawasan terhadap sistem administrasi pelaksanaan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Badan Usaha Milik
Negara, Badan Usaha Milik Daerah, termasuk pembukuan rekening-rekening
Pemerintah pada bank;
N. melakukan pemeriksaan khusus terhadap kasus-kasus tidak lancarnya pelaksanaan
pembangunan dan kasus-kasus yang diperkirakan mengandung unsur penyimpangan
yang merugikan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara dan
Badan Usaha Milik Daerah;
O. melakukan pemeriksaan akuntan untuk memberikan pernyataan pendapat akuntan
terhadap Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah dan badan-badan
lainnya yang dianggap perlu;

Pasal 30

Deputi Bidang Pengawasan Khusus adalah unsur pelaksanaan sebagian tugas dan fungsi
BPKP yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala.

Pasal 31

Deputi Bidang Pengawasan Khusus mempunyai tugas melaksanakan pemeriksaan khusus


atas kasus penyimpangan-penyimpangan dan melakukan pengawasan atas kelancaran
pelaksanaan pembangunan.

Pasal 32

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31, Deputi Bidang
Pengawasan Khusus melakukan fungsi :
a. melakukan pemeriksaan terhadap penyimpangan-penyimpangan di bidang Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara/Anggaran Pendapatan Belanja Daerah/Badan Usaha
Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah dan badan-badan lainnya;
b. melakukan pengawasan atas kelancaran pelaksanaan pembangunan.

9. Keppres No. 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi dan Kewenangan, Susunan
Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen
Pasal
Pasal 52

Bunyi Pasal/ Ayat


BPKP mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan
keuangan dan pembangunan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

Pasal 53

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52, BPKP


menyelenggarakan fungsi :
a. pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang pengawasan keuangan dan
pembangunan;
b. perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengawasan keuangan dan
pembangunan;
c. koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas BPKP;
d. pemantauan, pemberian bimbingan dan pembinaan terhadap kegiatan pengawasan
keuangan dan pembangunan;
e. penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang perencanaan
umum, ketatausahaan, organisasi dan tatalaksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan,
hukum, persandian, perlengkapan dan rumah tangga.
73

Pasal 54

Dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53, BPKP


mempunyai kewenangan :
a. penyusunan rencana nasional secara makro di bidangnya;
b. perumusan kebijakan di bidangnya untuk mendukung pembangunan secara makro;
c. penetapan sistem informasi di bidangnya;
d. pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan otonomi daerah yang meliputi
pemberian pedoman, bimbingan, pelatihan, arahan, dan supervisi di bidangnya;
e. penetapan persyaratan akreditasi lembaga pendidikan dan sertifikasi tenaga
profesional/ahli serta persyaratan jabatan di bidangnya;
f.
kewenangan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku, yaitu :
1) memasuki semua kantor, bengkel, gudang, bangunan, tempat-tempat penimbunan,
dan sebagainya;
2) meneliti semua catatan, data elektronik, dokumen, buku perhitungan, surat-surat
bukti, notulen rapat
3) panitia dan sejenisnya, hasil survei laporan-laporan pengelolaan, dan surat-surat
lainnya yang diperlukan dalam pengawasan;
4) pengawasan kas, surat-surat berharga, gudang persediaan dan lain-lain;
5) meminta keterangan tentang tindak lanjut hasil pengawasan, baik hasil
pengawasan BPKP sendiri maupun hasil pengawasan Badan Pemeriksa Keuangan,
dan lembaga pengawasan lainnya.

10. Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksaaan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah
Pasal
Pasal 3

Bunyi Pasal/ Ayat


Pengadaan barang/jasa wajib menerapkan prinsip-prinsip :
a. efisien, berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana
dan daya yang terbatas untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam waktu
sesingkat-singkatnya dan dapat dipertanggungjawabkan;
b. efektif, berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang telah
ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sesuai dengan
sasaran yang ditetapkan;
c. terbuka dan bersaing, berarti pengadaan barang/jasa harus terbuka bagi penyedia
barang/jasa yang memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui persaingan yang sehat
di antara penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi syarat/kriteria tertentu
berdasarkan ketentuan dan prosedur yang jelas dan transparan;
d. transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa,
termasuk syarat teknis administrasi pengadaan, tata cara evaluasi, hasil evaluasi,
penetapan calon penyedia barang/jasa, sifatnya terbuka bagi peserta penyedia
barang/jasa yang berminat serta bagi masyarakat luas pada umumnya;
e. adil/tidak diskriminatif, berarti memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon
penyedia barang/jasa dan tidak mengarah untuk memberi keuntungan kepada pihak
tertentu, dengan cara dan atau alasan apapun;
f.
akuntabel, berarti harus mencapai sasaran baik fisik, keuangan maupun manfaat bagi
kelancaran pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pelayanan masyarakat sesuai
dengan prinsip-prinsip serta ketentuan yang berlaku dalam pengadaan barang/jasa.

Pasal 9

(3) Tugas pokok pengguna barang/jasa dalam pengadaan barang/jasa adalah :


a.
menyusun perencanaan pengadaan barang/jasa;
b.
mengangkat panitia/pejabat pengadaan barang/jasa;
c.
menetapkan paket-paket pekerjaan disertai ketentuan mengenai peningkatan
penggunaan produksi dalam negeri dan peningkatan pemberian kesempatan bagi
usaha kecil termasuk koperasi kecil, serta kelompok masyarakat;
d.
menetapkan dan mengesahkan harga perkiraan sendiri (HPS), jadual, tata cara
pelaksanaan dan lokasi pengadaan yang disusun panitia pengadaan;
e.
menetapkan dan mengesahkan hasil pengadaan panitia/pejabat pengadaan sesuai
kewenangannya;
f.
menetapkan besaran uang muka yang menjadi hak penyedia barang/jasa sesuai
ketentuan yang berlaku;
74

g.
h.
i.
j.

k.

Pasal 10

menyiapkan dan melaksanakan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedia


barang/jasa;
melaporkan pelaksanaan/penyelesaian pengadaan barang/jasa kepada pimpinan
instansinya;
mengendalikan pelaksanaan perjanjian/kontrak;
menyerahkan aset hasil pengadaan barang/jasa dan aset lainnya kepada
Menteri/Panglima TNI/Kepala Polri/Pemimpin Lembaga/ Gubernur/Bupati/
Walikota/Dewan Gubernur BI/Pemimpin BHMN/Direksi BUMN/BUMD dengan
berita acara penyerahan;
menandatangani pakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa
dimulai.

Paragraf Kedua
Pembentukan, Persyaratan, Tugas Pokok, dan Keanggotaan
Panitia/Pejabat Pengadaan
Pasal 10
Panitia pengadaan wajib dibentuk untuk semua pengadaan dengan nilai di atas Rp
50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).
Untuk pengadaan sampai dengan nilai Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dapat
dilaksanakan oleh panitia atau pejabat pengadaan.
Anggota panitia pengadaan berasal dari pegawai negeri, baik dari instansi sendiri maupun
instansi teknis lainnya.
Panitia/pejabat pengadaan sebagaimana dinyatakan pada ayat (1) dan (2) di atas harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut :
memiliki integritas moral, disiplin dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas;
memahami keseluruhan pekerjaan yang akan diadakan;
memahami jenis pekerjaan tertentu yang menjadi tugas panitia/pejabat pengadaan
yang bersangkutan;
memahami isi dokumen pengadaan/metoda dan prosedur pengadaan berdasarkan
Keputusan Presiden ini;
tidak mempunyai hubungan keluarga dengan pejabat yang mengangkat dan
menetapkannya sebagai panitia/pejabat pengadaan;
memiliki sertifikat keahlian pengadaan barang/jasa pemerintah.
Tugas, wewenang, dan tanggung jawab panitia/pejabat pengadaan meliputi :
a. menyusun jadwal dan menetapkan cara pelaksanaan serta lokasi pengadaan;
b. menyusun dan menyiapkan harga perkiraan sendiri (HPS);
c. menyiapkan dokumen pengadaan;
d. mengumumkan pengadaan barang/jasa melalui media cetak dan papan pengumuman
resmi untuk penerangan umum, dan jika memungkinkan melalui media elektronik;
e. menilai kualifikasi penyedia melalui pascakualifikasi atau prakualifikasi;
f. melakukan evaluasi terhadap penawaran yang masuk;
g. mengusulkan calon pemenang;
h. membuat laporan mengenai proses dan hasil pengadaan kepada pengguna barang/jasa;
i. menandatangani pakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa dimulai.
j. Panitia berjumlah gasal beranggotakan sekurangkurangnya 3 (tiga) orang yang
memahami tata cara pengadaan, substansi pekerjaan/kegiatan yang bersangkutan dan
bidang lain yang diperlukan, baik dari unsur-unsur di dalam maupun dari luar instansi
yang bersangkutan.
k. Pejabat pengadaan hanya 1 (satu) orang yang memahami tata cara pengadaan,
substansi pekerjaan/kegiatan yang bersangkutan dan bidang lain yang diperlukan, baik
dari unsur-unsur di dalam maupun dari luar instansi yang bersangkutan.
l. Dilarang duduk sebagai panitia/pejabat pengadaan:
m. pengguna barang/jasa dan bendaharawan;
n. pegawai pada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)/Inspektorat
Jenderal Departemen/Inspektorat Utama Lembaga Pemerintah Non Departemen/ Badan
Pengawas Daerah Propinsi/Kabupaten/Kota, Pengawasan Internal BI/BHMN/BUMN/
BUMD kecuali menjadi panitia/pejabat pengadaan untuk pengadaan barang/jasa yang
dibutuhkan instansinya.

Pasal 13 (1) Pengguna barang/jasa wajib memiliki harga perkiraan sendiri (HPS) yang dikalkulasikan
75

secara keahlian dan berdasarkan data yang dapat dipertangungjawabkan.


(2) HPS disusun oleh panitia/pejabat pengadaan dan ditetapkan oleh pengguna barang/jasa.
(3) HPS digunakan sebagai alat untuk menilai kewajaran harga penawaran termasuk
rinciannya dan untuk menetapkan besaran tambahan nilai jaminan pelaksanaan bagi
penawaran yang dinilai terlalu rendah, tetapi tidak dapat dijadikan dasar untuk
menggugurkan penawaran.
(4) Nilai total HPS terbuka dan tidak bersifat rahasia.
(5) HPS merupakan salah satu acuan dalam menentukan tambahan nilai jaminan.
Pasal 11

(1) Persyaratan penyedia barang/jasa dalam pelaksanaan pengadaan adalah sebagai berikut :
a. memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan untuk menjalankan
usaha/kegiatan sebagai penyedia barang/jasa;
b. memiliki keahlian, pengalaman, kemampuan teknis dan manajerial untuk
menyediakan barang/jasa;
c. tidak dalam pengawasan pengadilan, tidak pailit, kegiatan usahanya tidak sedang
dihentikan, dan/atau direksi yang bertindak untuk dan atas nama perusahaan tidak
sedang dalam menjalani sanksi pidana;
d. secara hukum mempunyai kapasitas menandatangani kontrak;
e. sebagai wajib pajak sudah memenuhi kewajiban perpajakan tahun terakhir,
dibuktikan dengan melampirkan fotokopi bukti tanda terima penyampaian Surat
Pajak Tahunan (SPT) Pajak Penghasilan (PPh) tahun terakhir, dan fotokopi Surat
Setoran Pajak (SSP) PPh Pasal 29;
f. dalam kurun waktu 4 (empat) tahun terakhir pernah memper-oleh pekerjaan
menyediakan barang/jasa baik di lingkungan pemerintah maupun swasta termasuk
pengalaman subkontrak, kecuali penyedia barang/jasa yang baru berdiri kurang
dari 3 (tiga) tahun;
g. memiliki sumber daya manusia, modal, peralatan, dan fasilitas lain yang
diperlukan dalam pengadaan barang/jasa;
h. tidak masuk dalam daftar hitam;
i. memiliki alamat tetap dan jelas serta dapat dijangkau dengan pos;

Pasal 17

(1) Dalam pemilihan penyedia barang/jasa pemborongan/jasa lainnya, pada prinsipnya


dilakukan melalui metoda pelelangan umum.
(2) Pelelangan umum adalah metoda pemilihan penyedia barang/jasa yang dilakukan secara
terbuka dengan pengumuman secara luas melalui media massa dan papan pengumuman
resmi untuk penerangan umum sehingga masyarakat luas dunia usaha yang berminat
dan memenuhi kualifikasi dapat mengikutinya.
(5) Dalam keadaan tertentu dan keadaan khusus, pemilihan penyedia barang/jasa dapat
dilakukan dengan cara penunjukan langsung terhadap 1 (satu) penyedia barang/jasa
dengan cara melakukan negosiasi baik teknis maupun biaya sehingga diperoleh harga
yang wajar dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan.

Pasal 28

(1) Pelelangan umum dan terbatas dinyatakan gagal oleh panitia/pejabat pengadaan,
apabila:
a. jumlah penyedia barang/jasa yang memasukkan penawaran kurang dari 3 (tiga)
peserta; atau
b. tidak ada penawaran yang memenuhi persyaratan administrasi dan teknis; atau
c. harga penawaran terendah lebih tinggi dari pagu anggaran yang tersedia.
(4) Apabila pelelangan/seleksi dinyatakan gagal, maka panitia/pejabat pengadaan segera
melakukan pelelangan/seleksi ulang.
(5) Apabila dalam pelelangan ulang, jumlah penyedia barang/jasa yang lulus prakualifikasi
hanya 2 (dua) maka dilakukan permintaan penawaran dan negosiasi seperti pada proses
pemilihan langsung.
(6) Apabila dalam pelelangan ulang, jumlah penyedia barang/jasa yang memasukkan
penawaran hanya 2 (dua) maka dilakukan negosiasi seperti pada proses pemilihan
langsung.
(7) Apabila dalam pelelangan ulang, jumlah penyedia barang/jasa yang lulus prakualifikasi
hanya 1 (satu) maka dilakukan permintaan penawaran dan negosiasi seperti pada
proses penunjukan langsung.
(8) Apabila dalam pelelangan ulang, jumlah penyedia barang/jasa yang memasukkan
76

penawaran hanya 1 (satu) maka dilakukan negosiasi seperti pada proses penunjukan
langsung.
Pasal 36

Serah terima pekerjaan


(1) Setelah pekerjaan selesai 100% (seratus persen) sesuai dengan yang tertuang dalam
kontrak, penyedia barang/jasa mengajukan permintaan secara tertulis kepada pengguna
barang/jasa untuk penyerahan pekerjaan.
(2) Pengguna barang/jasa melakukan penilaian terhadap hasil pekerjaan yang telah
diselesaikan, baik secara sebagian atau seluruh pekerjaan, dan menugaskan penyedia
barang/jasa untuk memperbaiki dan/atau melengkapi kekurangan pekerjaan
sebagaimana yang disyaratkan dalam kontrak.
(3) Pengguna barang/jasa menerima penyerahan pekerjaan setelah seluruh hasil pekerjaan
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan kontrak.

Lampira
n I Bab
I

C. Penetapan Sistem Pengadaan Yang Dilaksanakan Penyedia Barang/Jasa


Dengan mempertimbangkan jenis, sifat, dan nilai barang/jasa serta kondisi lokasi,
kepentingan masyarakat dan jumlah penyedia barang/jasa yang ada, pengguna
barang/jasa bersama dengan panitia, terlebih dahulu harus menetapkan metoda pemilihan
penyedia barang/jasa, metoda penyampaian dokumen penawaran, metoda evaluasi
penawaran, dan jenis kontrak yang paling tepat atau cocok dengan barang/jasa yang
bersangkutan.
1. Penetapan Metoda Pemilihan Penyedia Barang/Jasa
a. Metoda Pemilihan Penyedia Barang/Jasa Pemborongan/Jasa Lainnya
1) Semua pemilihan penyedia barang/jasa pemborongan/jasa lainnya pada
prinsipnya dilakukan dengan pelelangan umum.
2) Untuk pekerjaan yang kompleks dan jumlah penyedia barang/jasa yang
mampu melaksanakan diyakini terbatas, maka pemilihan penyedia
barang/jasa dapat dilakukan dengan metoda pelelangan terbatas.
3) Pemilihan langsung dapat dilaksanakan untuk pengadaan yang bernilai
sampai dengan Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)
4) Penunjukan langsung dapat dilaksanakan dalam hal memenuhi kriteria
sebagai berikut :
a) Keadaan tertentu, yaitu:
(1) penanganan darurat untuk pertahanan negara, keamanan dan
keselamatan masyarakat yang pelaksanaan pekerjaannya tidak
dapat ditunda, atau harus dilakukan segera, termasuk penanganan
darurat akibat bencana alam, dan/atau;
(2) pekerjaan yang perlu dirahasiakan yang menyangkut pertahanan
dan keamanan negara yang ditetapkan oleh Presiden, dan/atau;
(3) pekerjaan yang berskala kecil dengan nilai maksimum
Rp.50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dengan ketentuan :
(a) untuk keperluan sendiri; dan/atau
(b) teknologi sederhana; dan/atau
(c) resiko kecil; dan/atau
(d) dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa usaha orang
perseorangan dan/atau badan usaha kecil termasuk koperasi
kecil.
b) Pengadaan barang/jasa khusus yaitu :
(1) pekerjaan berdasarkan tarif resmi yang ditetapkan pemerintah; atau
(2) pekerjaan/barang spesifik yang hanya dapat dilaksanakan oleh satu
penyedia barang/jasa, pabrikan, pemegang hak paten; atau
(3) merupakan hasil produksi usaha kecil atau koperasi kecil atau
pengrajin industri kecil yang telah mempunyai pasar dan harga
yang relatif stabil; atau
(4) pekerjaan yang kompleks yang hanya dapat dilaksanakan dengan
penggunaan teknologi khusus dan atau hanya ada satu penyedia
barang/jasa yang mampu mengaplikasikannya.

Lampira
n I Bab

E. Penyusunan Harga Perhitungan Sendiri (HPS)


1. Perhitungan HPS harus dilakukan dengan cermat, dengan menggunakan data dasar dan
77

mempertimbangkan :
a. analisis harga satuan pekerjaan yang bersangkutan;
b. perkiraan perhitungan biaya oleh konsultan/engineer's estimate (EE);
c. harga pasar setempat pada waktu penyusunan HPS;
d. harga kontrak/Surat Perintah Kerja (SPK) untuk barang/pekerjaan sejenis setempat
yang pernah dilaksanakan;
e. informasi harga satuan yang dipublikasikan secara resmi oleh Badan Pusat Statistik
(BPS), badan/instansi lainnya dan media cetak yang datanya dapat
dipertanggungjawabkan;
f. harga/tarif barang/jasa yang dikeluarkan oleh pabrikan/agen tunggal atau lembaga
independen;
g. daftar harga standar/tarif biaya yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang;
h. informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan.
2. HPS telah memperhitungkan:
a. Pajak Pertambahan Nilai (PPN);
b. biaya umum dan keuntungan (overhead cost and profit) yang wajar bagi penyedia
barang/jasa.

Lampira
n I Bab
II

A. Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemborongan/Jasa Lainnya


1. Pelelangan Umum
m. Pelelangan ulang dan pelelangan gagal
2) Pelelangan Ulang :
Dalam hal pelelangan dinyatakan gagal, pengguna barang/jasa/pejabat yang
berwenang memerintahkan pelelangan ulang dengan prosedur:
a) Pelelangan gagal karena tersebut pada butir 1).a), dan/atau butir 1).b), dan/atau
butir 1).e) dilakukan pelelangan ulang, dengan cara mengumumkan kembali dan
mengundang calon peserta lelang yang baru selain calon peserta lelang yang telah
masuk dalam daftar calon peserta lelang;
e) Apabila dalam pelelangan ulang pesertanya kurang dari 3 (tiga) maka :
(1) Dalam hal peserta lelang yang memenuhi syarat hanya 2 (dua), maka proses
pemilihan dilanjutkan seperti pada proses pemilihan langsung;
(2) Dalam hal peserta lelang yang memenuhi syarat hanya 1 (satu), maka proses
pemilihan dilanjutkan seperti pada proses penunjukan langsung.

11. Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah
Pasal
Pasal 66

Bunyi Pasal/ Ayat


(5) HPS digunakan sebagai :
a. alat untuk menilai kewajaran penawaran termasuk rinciannya;
b. dasar untuk menetapkan batas tertinggi penawaran yang sah untuk Pengadaan
Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya dan Pengadaan Jasa Konsultansi yang
menggunakan metode Pagu Anggaran; dan
c. dasar untuk menetapkan besaran nilai Jaminan Pelaksanaan bagi penawaran yang
nilainya lebih rendah dari 80% (delapan puluh perseratus) nilai total HPS.
(6) HPS bukan sebagai dasar untuk menentukan besaran kerugian negara.
(7) Penyusunan HPS didasarkan pada data harga pasar setempat, yang diperoleh
berdasarkan hasil survei menjelang dilaksanakannya Pengadaan, dengan
mempertimbangkan informasi yang meliputi:
a. informasi biaya satuan yang dipublikasikan secara resmi oleh Badan Pusat
Statistik (BPS);
b. informasi biaya satuan yang dipublikasikan secara resmi oleh asosiasi terkait dan
sumber data lain yang dapat dipertanggungjawabkan;
c. daftar biaya/tarif Barang/Jasa yang dikeluarkan oleh pabrikan/distributor tunggal;
d. biaya Kontrak sebelumnya atau yang sedang berjalan dengan mempertimbangkan
faktor perubahan biaya;
e. inflasi tahun sebelumnya, suku bunga berjalan dan/atau kurs tengah Bank
Indonesia;
78

f. hasil perbandingan dengan Kontrak sejenis, baik yang dilakukan dengan instansi
lain maupun pihak lain;
g. perkiraan perhitungan biaya yang dilakukan oleh konsultan perencana (engineers
estimate);
h. norma indeks; dan/atau
i. informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan.
(8) HPS disusun dengan memperhitungkan keuntungan dan biaya overhead yang dianggap
wajar.
Pasal 84

(5) Dalam hal Pelelangan/Seleksi/Pemilihan Langsung ulang jumlah Penyedia Barang/Jasa


yang memasukkan penawaran hanya 1 (satu) peserta, Pelelangan/Seleksi/Pemilihan
Langsung ulang dilakukan seperti halnya proses Penunjukan Langsung.

Pasal 95

(1) Setelah pekerjaan selesai 100% (seratus perseratus) sesuai dengan ketentuan yang
tertuang dalam Kontrak, Penyedia Barang/Jasa mengajukan permintaan secara tertulis
kepada PA/KPA melalui PPK untuk penyerahan pekerjaan.
(2) PA/KPA menunjuk Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan untuk melakukan
penilaian terhadap hasil pekerjaan yang telah diselesaikan.
(3) Apabila terdapat kekurangan dalam hasil pekerjaaan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2), Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan melalui PPK memerintahkan Penyedia
Barang/Jasa untuk memperbaiki dan/atau melengkapi kekurangan pekerjaan
sebagaimana yang disyaratkan dalam Kontrak.
(4) Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan menerima penyerahan pekerjaan setelah
seluruh hasil pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Kontrak.

12. PP No. 58 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Kewenangan Tugas dan
Tanggung Jawab Perawatan Tahanan
Pasal
Pasal 37

Bunyi Pasal/ Ayat


(1) Setiap tahanan berhak menerima kunjungan dari: a. keluarga dan atau sahabat; b. dokter
pribadi; c. rohaniwan; d. penasihat hukum; e. guru; dan f. pengurus dan atau anggota
organisasi sosial kemasyarakatan.

13. PP No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah


Pasal
Bunyi Pasal/ Ayat
Pasal 10 Huruf c:
Pejabat pengguna anggaran/ pengguna barang daerah mempunyai tugas dan wewenang:
c. Melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja

14. PP No. 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah


Pasal
Pasal 47

Pasal 48

Bunyi Pasal/ Ayat


Menteri/pimpinan lembaga, gubernur, dan bupati/walikota bertanggung jawab atas
efektivitas penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern di lingkungan
masing-masing.
(2) Untuk memperkuat dan menunjang efektivitas Sistem Pengendalian Intern sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan:
a. pengawasan intern atas penyelenggaraan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah
termasuk akuntabilitas keuangan negara; dan
b. pembinaan penyelenggaraan SPIP.
(1)

(1) Pengawasan intern sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 ayat (2) huruf a dilakukan
oleh aparat pengawasan intern pemerintah.
(2) Aparat pengawasan intern pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melakukan
pengawasan intern melalui:
a. audit;
b. review;
79

c. evaluasi;
d. pemantauan; dan
e. kegiatan pengawasan lainnya.
Pasal 49

Pasal 50

(1) Aparat pengawasan intern pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 ayat (1)
terdiri atas:
a. BPKP;
b. Inspektorat Jenderal atau nama lain yang secara fungsional melaksanakan
pengawasan intern;
c. Inspektorat Provinsi; dan
d. Inspektorat Kabupaten/Kota.
(2) BPKP melakukan pengawasan intern terhadap akuntabilitas keuangan negara atas
kegiatan tertentu yang meliputi:
a. kegiatan yang bersifat lintas sektoral;
b. kegiatan kebendaharaan umum negara berdasarkan penetapan oleh Menteri
Keuangan selaku Bendahara Umum Negara; dan
c. kegiatan lain berdasarkan penugasan dari Presiden.
(3) Dalam rangka pelaksanaan pengawasan intern untuk kegiatan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf b, Menteri Keuangan melakukan koordinasi kegiatan yang terkait
dengan Instansi Pemerintah lainnya.
(4) Inspektorat Jenderal atau nama lain yang secara fungsional melaksanakan pengawasan
intern melakukan pengawasan terhadap seluruh kegiatan dalam rangka penyelenggaraan
tugas dan fungsi kementerian negara/lembaga yang didanai dengan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara.
(5) Inspektorat Provinsi melakukan pengawasan terhadap seluruh kegiatan dalam rangka
penyelenggaraan tugas dan fungsi satuan kerja perangkat daerah provinsi yang didanai
dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah provinsi.
(6) Inspektorat Kabupaten/Kota melakukan pengawasan terhadap seluruh kegiatan dalam
rangka penyelenggaraan tugas dan fungsi satuan kerja perangkat daerah kabupaten/kota
yang didanai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten/kota.
(1) Audit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 ayat (2) terdiri atas:
a. audit kinerja; dan
b. audit dengan tujuan tertentu.
(2) Audit kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan audit atas
pengelolaan keuangan negara dan pelaksanaan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah
yang terdiri atas aspek kehematan, efisiensi, dan efektivitas.
(3) Audit dengan tujuan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b mencakup
audit yang tidak termasuk dalam audit kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
Penjelasan ayat (3)
Audit dengan tujuan tertentu antara lain audit investigatif, audit atas penyelenggaraan SPIP,
dan audit atas hal-hal lain di bidang keuangan.

15. Permendagri No. 7 Tahun 2006 tentang Standarisasi Sarana dan Prasarana Kerja
Pemerintahan Daerah
Pasal
Pasal 1

Bunyi Pasal/ Ayat


g. Kendaraan dinas adalah kendaraan milik pemerintah daerah yang dipergunakan hanya
untuk kepentingan dinas, terdiri atas kendaraan perorangan dinas, kendaraan dinas
operasional/ kendaraan dinas jabatan, dan kendaraan dinas khusus/lapangan.

Pasal 5

Standarisasi sarana dan prasarana kerja, meliputi :


a. ruangan kantor;
b. perlengkapan kantor;
c. rumah dinas; dan
d. kendaraan dinas.

Pasal 13

Kendaraan dinas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf d, meliputi :


a. kendaraan perorangan dinas;
80

Pasal 14

Lampira
n IV

b. kendaraan dinas operasional/kendaraan dinas jabatan; dan


c. kendaraan dinas operasional khusus/lapangan.
(1) Kendaraan perorangan dinas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf a,disediakan
dan dipergunakan untuk pejabat negara.
(2) Kendaraan perorangan dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperuntukkan bagi
pemangku jabatan Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati/Walikota dan Wakil Bupati/Wakil
Walikota.
Kendaran Dinas :
Bupati/Walikota 1 (satu) unit kendaraan jenis sedan kapasitas/isi silinder maks. 2.500 cc
dan 1 (satu) unit kendaraan jenis Jeep kapasitas/isi silinder maks. 3.200 cc
Wakil Bupati/Wakil Walikota 1 (satu) unit kendaraan jenis sedan kapasitas/isi silinder maks.
2.200 cc dan 1 (satu) unit kendaraan jenis Jeep kapasitas/isi silinder maks. 2.500 cc

16. Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah
Pasal
Pasal
154

Pasal
160

Bunyi Pasal/ Ayat


(1) Perubahan APBD dapat dilakukan apabila terjadi :
a. perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi KUA;
b. keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unit
organisasi, antar kegiatan, dan antar jenis belanja;
c. keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun sebelumnya harus
digunakan dalam tahun berjalan;
d. keadaan darurat; dan
e. keadaan luar biasa.
(1) Pergeseran anggaran antar unit organisasi, antar kegiatan, dan antar jenis belanja
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 ayat (1) huruf b serta pergeseran antar obyek
belanja dalam jenis belanja dan antar rincian obyek belanja diformulasikan dalam
DPPA-SKPD.
(2) Pergeseran antar rincian obyek belanja dalam obyek belanja berkenaan dapat atas
persetujuan PPKD.
(3) Pergeseran antar obyek belanja dalam jenis belanja berkenaan dilakukan atas
persetujuan sekretaris daerah.
(4) Pergeseran anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dilakukan
dengan cara mengubah peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD sebagai
dasar pelaksanaan, untuk selanjutnya dianggarkan dalam rancangan peraturan daerah
tentang perubahan APBD.
(5) Pergeseran anggaran antar unit organisasi, antar kegiatan, dan antar jenis belanja dapat
dilakukan dengan cara merubah peraturan daerah tentang APBD.
(6) Anggaran yang mengalami perubahan baik berupa penambahan dan/atau pengurangan
akibat pergeseran sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus dijelaskan dalam kolom
keterangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran perubahan APBD.
(7) Tata cara pergeseran sebagaimana dimaksud ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam
peraturan kepala daerah.

17. Permendagri No. 17 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah
Pasal
Pasal 14

Bunyi Pasal/ Ayat


(1) Realisasi pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah daerah sebagaimana dimaksud
dalam pasal 13, dilakukan pemeriksaan oleh Panitia Pemeriksa Barang/ Jasa Pemerintah
Daerah
(2) Panitia Pemeriksa Barang/ Jasa Pemerintah Daerah ditetapkan dengan Keputusan Kepala
Daerah

81

Pasal
Pasal 17

Bunyi Pasal/ Ayat


(1) Hasil Pengadaan Barang Milik Daerah tidak bergerak diterima oleh Kepala SKP,
kemudian melaporkan kepada Kepala Daerah untuk ditetapkan penggunaannya;
(2) Penerimaan Barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan setelah diperiksa
oleh Panitia Pemeriksa Barang Daerah dengan membuat Berita Acara Pemeriksaan.

Pasal 18

(1) Panitia Pemeriksa Baran Daerah sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 ayat (2) bertugas
memeriksa, meneliti dan menyaksikan barang yang diserahkan sesuai dengan persyaratan
yang tertera dalam Surat Perintah Kerja atau kontrak/ perjanjian dan dibuatkan Berita
Acara Pemeriksanaan;
(2) Berita Acara sebagaimana dimaksud ayat (1) dipergunakan salah satu syarat pembayaran

18. Peraturan Jaksa Agung RI No. PER-001/A/JA/01/2008 tentang Ketentuan Pemberitaan


Melalui Media Masa
Pasal
Pasal 6

Bunyi Pasal/ Ayat


(2) Jaksa Penuntut Umum atau Jaksa Pengacara Negara dapat melakukan pemberitaan
melalui media massa hanya dalam bentuk kegiatan wawancara pers (press interview) dan
wawancara .mendadak (door stop interview'[ menyangkut materi fakta persidangan dan
hal ikwal yang terungkap di persidangan.

19. SE Dirjen Pajak No. SE-21/PJ.51/2000 tentang PPn dan PPn BM Dalam Tata Niaga
Kendaraan Bermotor
Pasal
Poin 1

Bunyi Pasal/ Ayat


Dalam tataniaga kendaraan bermotor, mata rantai distribusi kendaraan bermotor pada
umumnya melewati lini-lini sebagai berikut :
a. Lini I
: Importir Umum/ATPM/Industri Perakitan,
b. Lini II : Distributor
c. Lini III : Dealer, dan
d. Lini IV : Sub Dealer/Showroom.

20. Putusan MK No. 31/PUU-X/2012 tanggal 23 Oktober 2012


Pasal
Bab II

Bunyi Pasal/ Ayat


Kedudukan Hukum
16.

Bahwa sesungguhnya kewenangan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan


(BPKP) untuk melakukan penghitungan kerugian negara telah dicabut oleh
Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas,
Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintahan
Non Departemen. Dalam Pasal 52 Keppres tersebut ditegaskan BPKP mempunyai
tugas melaksanakan pemerintahan dibidang pengawasan keuangan dan
pembangunan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku;
Kemudian dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah, Pasal 47, Pasal 48, Pasal 49 dan dalam Pasal 50 ayat
(2) dan ayat (3) dengan tegas dinyatakan BPKP adalah aparat pengawasan intern
pemerintah yang tidak berwenang melakukan audit atas pengelolaan keuangan
negara. Oleh karena itu, pemeriksaan Kerugian Negara yang dilakukan oleh BPKP
tidak memiliki landasan hukum yang sah, sehingga terbitnya keputusan-keputusan,
penetapan, perintah jabatan dan kebijakan yang membawa akibat hukum yang
dikeluarkan oleh KPK akibat kekeliruan menafsirkan dan menerapkan Pasal 6 huruf a
dan Penjelasan Undang- Undang Nomor 30 Tahun 2002 yang multi-tafsir, telah
memberikan ketidakpastian hukum dan menciderai jaminan perlindungan hukum
yang adil terhadap diri Pemohon;
82

21.

Yurisprudensi Makamah Agung terkait dengan kewenangan Pejabat Administrasi Negara


dalam Putusan Mahkamah Agung tanggal 8 Januari 1966 No.42/K/66 dan Putusan
Mahkamah Agung tanggal 30 Maret 1973 No.81/K/73
Walaupun ada perbuatan melawan hukum dan penyalahgunaan kewenangan sepanjang :
a. Negara tidak dirugikan;
b. Kepentingan umum terlayani
c. Terdakwa tidak mendapatkan keuntungan
Perbuatan tersebut bukan tindak pidana korupsi

22. Nota Kesepahaman Antara Kejaksaan, Kepolisian dan BPKP


Pasal
Pasal 10

Bunyi Pasal/ Ayat


BAB X Ketentuan Penutup
(2) Dalam hal Nota Kesepahamanini terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan, maka yang berlaku adalah ketentuan perundang- undangan yang
ada.
(3) Nota Kesepahaman ini dapatditinjau kembali apabila diperlukan.

83

RINGKASAN ADMINISTRASI DAN BUKTI-BUKTI


1

Salinan Surat Keputusan Operation Manager Sumatera Astra International Astra 2000
No.

SK/023/TSO.OPR/IX/2010

Tgl.

Jakarta, 1 September 2010

Tentang

Harga Kendaraan Toyota Wilayah : GSO Padang

Disana dicantumkan Harga Fortuner, tetapi tidak ada Harga Toyota Prado.
2

18 September 2010

TS Kepada Bupati melalui Ass. III dan Sekda dari Kabag Umum
Perihal Persetujuan Proses Pengadaan Rannas dg Memakai
Perpres RI No. 54 Tahun 2010. Rannas yang akan dibeli adalah
Toyota Land Cruiser Prado Type 2,7 A/T Tahun Pembuatan 2010
untuk Bupati dan Toyota Fortuner Type V (4x4) Tahun
Pembuatan 2010 untuk Wabup. Disposisi Ass.III : Yth. Bp.
Sekda. Mohon kiranya persetujuan, tgl disposisi 18 Okt 2010.
Disposisi Bupati : Kabag Umum, Setuju Dilaksanakan. Tgl
disposisi 23 Oktober 2010

B-34

06 Oktober 2010

SK Bupati Tentang Perobahan Penunjukan Pengelola Anggaran


Satuan Kerja Setda Kab Pasbar TA 2010 (KPA) No.
188.45/489/Bup.Pasbar/2010

B-43

11 Oktober 2010

Telahaan Staf dari Asisten Administrasi, Ir. ZALMI kepada


Bupati Pasaman Barat perihal Surey Pengadaan Kendaraan Dinas
Kepala Daerah Tahun 2010

B-51

12 Oktober 2010

SPT Bupati Kepada Hendri dan Hendri Fiterson untuk melakukan


Survey Harga dan Spesifikasi serta hal-hal teknis lainnya
berkenaan Persiapan Pengadaan Rannas Bupati dan Wabup ke
Jakarta pada tanggal 13 - 16 Oktober 2010.

B-50

15 Oktober 2010

Surat Kabag Umum kepada Ketua ULP Perihal Spesifikasi


Pengadaan Rannas Bagian Umum, No. 027/8010/Umum/2010.

B-30

29 Oktober 2010

Surat Kabag Umum kepada Ketua ULP Perihal Spesifikasi dan


RAB Rannas No. 027/846/Umum/2010. Pada Halaman
Lampiran dicantumkan HPS Rannas sebagai Berikut :
Toyota Prado TX Limited
: Rp.
923.000.000,Toyota Fortuner V Matic 4x4 Bensin: Rp.
471.600.000,Jumlah
: Rp.
1.394.600.000,-

B-31

01 Nopember 2010

Pengumuman Pelelangan Umum Pada Portal Nasional LKPP


Koran Tempo Nomor : 15/PL/ULP-PASBAR/2010

04 Nopember 2010

DPA Perubahan Anggaran SKPD disahkan.

10

08 Nopember 2010

SK
Bupati
Tentang
Perobahan
SK
Bupati
No.
188.45/112/Bup-Pasbar/2010 Tentang Penunjukan PPTK Pada
Setda Kab Pasbar TA 2010 No. 188.45/586/Bup.Pasbar.2010

B-45

84

11

12

Surat Laporan Hasil Pelelangan dan dinyatakan GAGAL dari Ketua PPBJ kepada KPA
No.

14.4/ULP.B1/LHP/1/PASBAR-2010

Tgl.

10 Nopember 2010

Surat Penetapan Pelelangan Ulang dari KPA kepada Ketua PPBJ


No.
Tgl.

027/216/KPA-Umum/2010
10 Nopember 2010
(Ada footnote ULP Pasbar Tahun 2010)

13

10 Nopember 2010

14

HPS Baru ditetapkan pada tanggal 10 Nopember 2010 oleh Ketua PPBJ dan disetujui
oleh KPA
Harga Satuan
Rp. 977.220.000,-

TS Kepada Bupati dari Ass. III Perihal Tindak Lanjut Pengadaan


Rannas KDH TA 2010.
Tender I yang dilaksanakan pembukaan penawarannya tgl.
28 Okt.-07 Nop. 2010, tidak ada satu pun Penyedia Jasa yang
memasukkan penawaran.
Hasil Evaluasi Tim Panitia I ULP dengan KPA menemukan
penyebabnya karena harga Toyota Prado TX Limited dan
Toyota Fortuner Type V Matic 4x4 Bensin, tidak mencukupi
dengan pagu dana yang tersedia.
Tim Panitia I ULP akan mengumumkan tender untuk kedua
kalinya dg perubahan spesifikasi Prado Type TX Limited
menjadi Type TX dan Fortuner Type V Matic 4x4 Bensin
menjadi Type G Luxury 4x2 Bensin
Disposisi Sekda : Mohon persetujuan Bapak sesuai saran,
tgl. 10/11/10.
Disposisi Wabup : Berhubung dana kita belum cukup dan
medan kita wil bergunung perlu kendaraan 4x4, cukup
kendaraan Bupati saja dulu. Wabup tahun 2011 kita
anggarkan lagi. Tgl. 10 Nop 2010.
Disposisi Bupati : Sekda, setuju saran Wabup. Tgl. 10 Nop
2011.
Kemudian tgl 11 Nop 2011, Bupati menambahkan "Limited"
pada saran Prado Type TX yang diajukan pada TS.

PPN 10%

Rp.

Jumlah

Rp. 1.074.942.000,-

Dibulatkan

Rp. 1.074.900.000,-

15

11 Nopember 2010

Pengumuman Pelelangan Umum Ulang Pada Portal Nas LKPP


Koran Tempo Nomor : 19/PL/ULP-PASBAR/2010

16

Surat Lap. Hasil Pelelangan Ulang & dinyatakan Gagal dari Ketua PPBJ kepada KPA

17

B-21

97.722.000,-

No.

14U.4/ULP.B1/LHPU/1/PASBAR-2010

Tgl.

23 Nopember 2010

B-19

Surat Penetapan Pelelangan Ulang Gagal dari KPA kepada Ketua PPBJ
No.

027/217/KPA-Umum/2010

Tgl.

23 Nopember 2010
(Ada footnote ULP Pasbar Tahun 2010)
85

18

23 Nopember 2010

TS Kepada Bupati dari Ass. III Perihal Tindak Lanjut


Pengadaan Rannas Bupati dan Wakil Bupati Pasbar TA 2010.
Proses lelang ulang Rannas Bupati dan Wabup Gagal karena
tidak ada penyedia jasa yang memasukkan penawaran
meskipun jumlah rannas yang diadakan hanya 1 (satu) unit
untuk Bupati saja sesuai disposisi Wabup dan persetujuan
Bupati pada TS tanggal 10 Nopember 2010.
Pengadaan Rannas Bupati dan Wabup dilaksanakan tetap
hanya untuk Bupati saja dengan type Prado TX Limited.
Disposisi Bupati : Setuju dilaksanakan, tgl. 24 Nopember
2010.

19

24 Nopember 2010

Surat Kabag Umum kepada Ketua Panitia I PPBJ No. 027/


217/KPA/Umum/2010 Perihal Proses Lanjutan Pengadaan
Rannas
Agar melakukan proses lanjutan paket pekerjaan pengadaan
rannas Bupati dan Wabup pada keg Pengadaan
Rannas/Operasional.
Kiranya dapat memproses lanjutan pengadaan dimaksud
dengan berpedoman pada Keppres No. 80 Tahun 2003 serta
perubahannya.

20

Surat Undangan Mengikuti Pascakualifikasi dari Ketua PPBJ kepada PT. Baladewa
No.

14PL.2/ULP.B1/Und/1/PASBAR-2010

Tgl.

01 Desember 2010

21

Pendaftaran dan pengambilan dokumen pascakualifikasi PBJ Metode PL pada tanggal 2


Desember 2010 hanya dihadiri oleh satu pendaftar yaitu PT. Baladewa

22

Surat Penetapan Calon Penyedia Barang Lulus Pascakualifikasi dari Ketua PPBJ kepada
KPA
No.
14PL.4/ULP.B1/UPCPLP/1/PASBAR-2010
Tgl.
03 Desember 2010
Lampiran :
Berita Acara Hasil Evaluasi Pascakualifikasi ditandatangani
oleh 5 orang PPBJ
No.
14PL.3/ULP.B1/BAHEP/1/PASBAR-2010
Tgl.
03 Desember 2010

23

Surat Penetapan Calon Penyedia Barang Lulus Pascakualifikasi dari KPA kepada Ketua
PPBJ
No.
027/218/KPA-Umum/2010
Tgl.

24

25

B-17

03 Desember 2010

Surat Undangan Aanwijzing dari Ketua PPBJ kepada PT. Baladewa Indonesia
No.

14PL.5/ULP.B1/UA/1/PASBAR-2010

Tgl.

03 Desember 2010

Berita Acara Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing)


Ditandatangani oleh KPA, PPTK, 5 orang PPBJ dan PT. Baladewa
No.

14PL.6/ULP.B1/BAPPA/1/PASBAR-2010

Tgl.

06 Desember 2010

86

26

27

28

29

Berita Acara Pembukaan Penawaran


Ditandatangani oleh KPA, PPTK, 5 orang PPBJ dan PT. Baladewa
No.

14PL.7/ULP.B1/BAPP/1/PASBAR-2010

Tgl.

08 Desember 2010

Koreksi Aritmatik
Harga OE (STN)
PPN 10%
Jumlah
Dibulatkan
Harga
Penawar
(STN)
PPN 10%
Jumlah
Dibulatkan

:
:
:
:
:
:
:
:

Berita Acara Hasil Evaluasi, Ditandatangani oleh 5 orang PPBJ


No.

14PL.8/ULP.B1/BAHE/1/PASBAR-2010

Tgl.

09 Desember 2010

Berita Acara Negosiasi Teknis dan Harga


Ditandatangani oleh KPA, PPTK, 5 orang PPBJ dan PT. Baladewa
Harga Negosiasi adalah Rp. Rp. 1.072.000.000,00
No.
14PL.9/ULP.B1/BANTH/1/PASBAR-2010
Tgl.

30

31

32

33

34

977.220.000,00
97.722.000,00
1.074.942.000,00
1.074.900.000,00
975.000.000,00
97.500.000,00
1.072.500.000,00
1.072.500.000,00

10 Desember 2010

Surat Usulan Penetapan Pemenang PL dari Ketua PPBJ kepada KPA


No.

14PL.10/ULP.B1/UPPPL/1/PASBAR-2010

Tgl.

10 Desember 2010

Surat Penetapan Pemenang Penunjukan Langsung dari KPA kepada Ketua PPBJ
No.

027/219/KPA-Umum/2010

Tgl.

10 Desember 2010

Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) dari KPA Kepada PT. Baladewa Indonesia
No.

027/170/SPMK/KPA-Umum/2010

Tgl.

13 Desember 2010

Surat Penunjukan (Gunning) dari KPA Kepada PT. Baladewa Indonesia


No.

027/176/SP/2010

Tgl.

13 Desember 2010

SPK (Kontrak) Kegiatan : Pengadaan Kendaraan Dinas/Operasional


No.

027/480/Kontrak-Peng/Umum/2010

Tgl.

13 Desember 2010

Nilai Kontrak

Rp. 1.072.000.000,-

Pelaksana

PT. Baladewa Indonesia

Waktu Pelaksanaan

10 hari Kalender (sampai tanggal 22 Desember 2010)

B-1

87

35

36

37

38

39

Berita Acara Pemeriksaan Barang


No.

027/267/BAPB/SETDA/2010

Tgl.

20 Desember 2010

Berita Acara Serah Terima Barang antara KPA dengan PT. Baladewa
No.

027/268/BASB/SETDA/2010

Tgl.

20 Desember 2010

41

B-12

Permohonan Pembayaran Biaya kontrak dari PT. Baladewa Indonesai kepada KPA
No.

20/BLD-Termyn/XII-2010

Tgl.

20 Desember 2010

Berita Acara Pembayaran antara KPA dengan PT. Baladewa


No.

027/269/BASB/SETDA/2010

Tgl.

20 Desember 2010

B-13

Pengajuan Surat Permintaan Pembayaran LS dari PPTK kepada Pengguna Anggaran


yang ditandatangani oleh PPTK Erizal M, A.Md dan Bendahara Pengeluaran,
Harisantoni
No.
0102/SPP-LS-PENG/UMUM/2010
Tgl.

40

B-11

17 Desember 2010

Penelitian Kelengkapan Dokumen SPP oleh peneliti Zefrineldi dan dinyatakan lengkap
No.

0102/SPP-LS-PENG/UMUM/2010

Tgl.

17 Desember 2010

Surat Penyedian Dana dari PPKD selaku BUD yang ditandatanani oleh Hj. Evita Murni
dan dinyatakan dana masih tersedia
No.
1200301/08/SPD/2010
Tgl.

4 November 2010

`
42

Surat Pernyataan Pengajuan SPP LS oleh KPA


No.
Tgl.

43

Surat Pertanggungjawaban Pengajuan SPP LS oleh KPA


No.
Tgl.

44

0102/SPP-LS-PENG/UMUM/2010
Desember 2010

0102/SPP-LS-/SETDA/2010
Desember 2010

Pengguna Anggaran mengeluarkan Surat Perintah Membayar (SPM) yang


ditandatangani oleh Hermanto yang menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kab. Pasaman
Barat
No.
0102/SPP-LS-PENG/UMUM/2010
Tgl.

17 Desember 2010

88

45

Penandatanganan Kwitansi Pembayaran oleh Vitraman, BE selaku Direktur PT.


Baladewa Indonesia, KPA Drs. Hendri, MM, PPTK H. Erizal M, A.Md dan Bendara
Pembantu Fima Al Amin. Pada tanggal 20 Desember 2010

46

Rekomendasi dari Bagian Administasi Pembangunan Sekretariat Daerah berupa


Pemeriksaan Administrasi Untuk Pencairan dana yang diperiksa oleh Asril, SE dan
disetujui oleh Aliman Afni, SH selaku Kabag. Administrasi Pembangunan Sekretariat
Daerah Kab. Pasaman Barat pada tanggal 23 Desember 2010 yang seluruh Administrasi
dinyatakan lengkap.

47

Surat Perintah Pencairan Dana dikeluarkan oleh Kuasa BUD yakni Hj. Celly Decilia
Putri, SE, Akt

48

49

50

51

52

53

No.

0064/SP2D/LS/2010

Tgl.

27 Desember 2010

B-35

Surat Perintah Penyidikan oleh Kejaksaan Negeri Simpang Empat yang ditandatangani
oleh Idinto, SH, MH (Kepala Kejaksaan Negeri Simpang Empat)
No.

Print-371/N.3.23/Fd.1/04/2013

Tgl.

05 April 2013

Surat Perintah Penyidikan oleh Kejaksaan Negeri Simpang Empat yang ditandatangani
oleh Yudi Indra Gunawan, SH, MH (Kepala Kejaksaan Negeri Simpang Empat)
No.

Print-99/N.3.23/Fd.1/01/2014

Tgl.

30 Januari 2014

Surat Penetapan Tersangka oleh Kejaksaan Negeri Simpang Empat yang ditandatangani
oleh Yudi Indra Gunawan, SH, MH (Kepala Kejaksaan Negeri Simpang Empat)
No.

B-562/N.3.23/Fd.1/04/2014

Tgl.

01 April 2014

Surat Panggilan Tersangka (panggilan ke-1) oleh Kejaksaan Negeri Simpang Empat
yang ditandatangani oleh Yudi Indra Gunawan, SH,MH (Kepala Kejaksaan Negeri
Simpang Empat)
No.

SP-68/N.3.23/Fd.1/10/2014

Tgl.

23 Oktober 2014

Surat Panggilan Tersangka (panggilan ke-2) oleh Kejaksaan Negeri Simpang Empat
yang ditandatangani oleh Yudi Indra Gunawan, SH,MH (Kepala Kejaksaan Negeri
Simpang Empat)
No.

SP-69/N.3.23/Fd.1/10/2014

Tgl.

28 Oktober 2014

Surat Perintah Penahanan oleh Kejaksaan Negeri Simpang Empat yang ditandatangani
oleh Yudi Indra Gunawan, SH,MH (Kepala Kejaksaan Negeri Simpang Empat)
No.

Print-929/N.3.23/Fd.1/11/2014

Tgl.

04 November 2014

89

54

Surat Keterangan Berbadan Sehat dari RS Ibnu Sina Simpang Empat


No.

35/AV-IJ/SKBS/XI-2014

Tgl.

04 November 2014

55

Tanda Terima Surat Perintah Penahanan No. Print-929/N.3.23/Fd.1/11/2014 tanggal 04


November 2014 untuk Penasehat Hukum Tersangka

56

Tanda Terima Surat Perintah Penahanan No. Print-929/N.3.23/Fd.1/11/2014 tanggal 04


November 2014 untuk keluarga tersangka

57

Surat Permohonan Gugatan Pra Peradilan dari Kuasa Hukum Pemohon kepada PN Simpang
Empat
No.
Tgl.

58

59

60

61

62

05 November 2014

Surat Kuasa Khusus Penasehat Hukum Pemohon Legalisasi No. 389/L/2014 tanggal 01
November 2014 terdaftar di Kepaniteraan PN Pasaman Barat yakni:
1. H.R. Saddrosn, SH
2. Riniarti Abas, SH, MH
No.

04/Pid.Sk/2014/PN.PSB

Tgl.

05 November 2014

Permohonan Gugatan Pra peradilan terdaftar di Kepaniteraan PN Pasaman Barat


No.

01/Pid.Pra/2014/PN.Psb

Tgl.

05 November 2014

Surat Penetapan Ketua Pengadilan Negeri Pasaman Barat tentang Penunjukan Hakim Tunggal
untuk mengadili Permohonan Kuasa Hukum Pemohon
No.

01/XI/Pen.Pid/2014/PN.Psb

Tgl.

05 November 2014

Surat Penetapan Hakim Pengadilan Negeri Pasaman Barat tentang Penetapan Hari Sidang untuk
mengadili Permohonan Kuasa Hukum Pemohon
No.

01/XI/Pen.Pra/2014/PN.Psb

Tgl.

05 November 2014

Surat Perintah Kepala Kejaksaan Negeri Simpang Empat sehubungan dengan permohonan pra
peradilan Drs. Hendri, MM kepada :
1. Ihsan, SH, MH
2. Nazif Firdaus, SH
3. Kozar Kertyasa, SH
4. Akhiruddin, SH
5. Wendri Finisa, SH
No.

948/N.3.23/Fd.1/11/2014

Tgl.

06 November 2014

90

63

64

Kuasa Hukum Termohon terdaftar di Kepaniteraan PN Pasaman Barat yaitu:


1. Ihsan, SH, MH
2. Kozar Kertyasa, SH
3. Akhiruddin, SH
No.

05/Pid.Sk/2014/PN.PSB

Tgl.

17 November 2014

Pembacaan Gugatan Pra Pra Peradilan oleh Kuasa Hukum Pemohon di PN Pasaman Barat
Senin, 17 November 2014
No.

63/AP-RS/SBY/XI/2014

Tgl.

17 November 2014

65

Pembacaan Jawaban termohon atas Permohonan Pra Peradilan Pemohon di PN Pasaman Barat
pada hari Senin tanggal 17 November 2014

66

Pembacaan Replik Pemohon atas Jawaban Termohon di PN Pasaman Barat pada hari Selasa
tanggal 18 November 2014

67

Pembacaan Duplik Termohon atas Replik Pemohon di PN Pasaman Barat pada hari Rabu
tanggal 19 November 2014

68

Pengajuan bukti dari Pemohon dengan menyerahkan 21 bukti yang diberi kode P-1 sampai
dengan P-19 dan sudah diberi materai secukupnya, stempel pos dan telah dilegalisir oleh
Panitera Pengadilan Negeri Pasaman Barat dan menghadirkan satu orang saksi dr. Affan Akbar
Talami bertempat di PN Pasaman Barat pada hari Kamis tanggal 20 November 2014

69

Pengajuan bukti dari Termohon dengan menyerahkan 9 bukti yang diberi kode T-1 sampai
dengan T-9 dan sudah diberi materai secukupnya, stempel pos dan telah dilegalisir oleh Panitera
Pengadilan Negeri Pasaman Barat bertempat di PN Pasaman Barat pada hari Kamis tanggal 20
November 2014

70

Pemohon melalui kuasa hukumnya dan termohon melalui kuasa hukumnya masing-masing
mengajukan dan membacakan kesimpulan bertempat di PN Pasaman Barat pada hari Jumat
tanggal 21 November 2014 dan selanjutnya memohon Putusan

71

Pembacaan Putusan Hakim Tunggal Pra Peradilan Perkara Nomor 01/Pid.Pra/2014/PN.Psb


yakni :
- Menolak Permohonan Pemohon Pra Peradilan untuk seluruhnya
- Menyatakan penahanan yang dilakukan oleh Termohon adalah sah menurut hukum
- Membebankan kepada Pemohon untuk membayar biaya perkara yang timbul dalam perkara
Ini sebesar Rp. 2.000,- (dua ribu rupiah)

72

Surat Perpanjangan Penahanan yang ditandatangani oleh Yudi Indra Gunawan, SH, MH selaku
Kepala Kejaksaan Negeri Simpang Empat, yang memperpanjang penahanan untuk paling lama
40 (empat puluh) hari terhitung mulai tanggal 24 November 2014 sampai dengan tanggal 02
Januari 2015 pada Rutan Cabang Lubuk Sikaping di Talu
No.

B-1803/N.3.23/Fd.1/11/2014

Tgl.

18 November 2014

91

73

74

Surat Panggilan tersangka yang ditandatangani oleh Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus, Ihsan,
SH, MH untuk diminta kedatangannya pada hari Selasa tanggal 02 Desember 2014 bertempat di
kantor Kejaksaan Negeri Simpang Empat menghadap Kozar Kertyasa, SH dkk
No.

SP-83/N.3.23/Fd.1/11/2014

Tgl.

24 November 2014

Berita Acara Pemeriksaan Tersangka (Lanjutan) an. Drs. Hendri, MM


No.

BA-1

Tgl.

2 Desember 2014

BUKTI LAIN YANG ADA PADA KEJAKSAAN NEGERI SIMPANG EMPAT

Tawaran Toyota Prado TX dari Mitra Motor Rp. 780.000.000

B-36

SK Dirjen Hubungan Darat No. SK.4082/N.402/DRHD/2009 tentang Pengesahan dan


Sertifikasi Type Kendaraan Bermotor Merk. Toyota Type Land Cruiser Prado 2.7 (4,4)
A/T sebagai mobil penumpang

B-62

Hasil Audit BPKP (B-64)

B-64

Berdasarkan surat dari Kepala BPKP Perwakilan Propinsi Sumatera Barat No.
SR-1422/PW03/5/2013 tanggal 3 Juni 2013 tentang Laporan Hasil Audit dalam rangka
Penghitungan Kerugian Negara atas Dugaan Tindak Pidana Korupsi Pengadaan
Kendaraan Dinas Bupati dan Wakil Bupati Pasaman Barat dari Dana APBD-P TA 2010
pada Sekretariat Daerah Pasaman Barat.
Surat tersebut merupakan jawaban atas surat Kepala Kejaksaan Negeri Simpang Empat
Nomor B-1421/N.3.23/DEK.3/08/2012 tanggal 15 Agustus 2012 perihal Permintaan
Audit Investigasi atas Pengadaan Kendaraan Dinas Bupatidan Wakil Bupati Pasaman
Barat dari Dana APBD-P TA 2010 pada Sekretariat Daerah Pasaman Barat.
Pada tanggal 29 Agustus 2012 dilaksanakan Ekspose di BPKP Perwakilan Propinsi
Sumatera Barat di Padang, kemudian keluarlah Surat Tugas Kepala BPKP Perwakilan
Propinsi Sumatera Barat No.......tanggal 3 Oktober 2012 kepada Ketua Tim Afrizal,
Anggota Tim Reza Putra Candra Novianto.
Dari Surat Kepala BPKP Perwakilan Propinsi Sumatera Barat No.
SR-1422/PW03/5/2013 tanggal 3 Juni 2013 tersebut, didapat kerugian negara sebagai
berikut:
Dari PT. Multi Sentra Adikarya, Mobil Toyota Land Chruiser Prado tersebut di jual
kepada PT. DK Jaya Motor seharga Rp. 675.000.000,Dari PT. DK Jaya Motor dijual kepada PT. Kencana Utama Sakti dengan harga Rp.
680.000.000,- (off the road) pada tanggal 18 Agustus 2010
Nilai Kontrak Rp. 1.072.000.000
PPN
PPh Ps.22
Leges Daerah

Rp.
97.454.545
Rp.
14.618.182
Rp.
8.040.000
Rp. 120.112.727

Perhitungan kerugian negara:


Rp. 951.887.273 (netto kepada rekanan)
Rp. 675.000.000 (harga kendaraan sebenarnya)
Rp. 276.887.273 (kerugian keuangan negara)
4

Dokumen Impor Toyota Prado oleh PT. Multi Sentra Adikary. Toyota Type Land
Cruiser Prado 2.7 standar condition dinyatakan dalam invoice dari Port Cupid, Co,Ltd
Japan kepada PT. Multi Sentra Adikarya dengan Nomor Chassis dan Engine yang sama

B-67

92

Foto Copy STNK

B-68

Bukti Pembayaran PKB/ BBNKB dan SWPKLLJ sebesar Rp. 2.805.200,-

B-69

SK. Bupati Pasaman Barat No. 188.45/503/BUP-PASBAR/2010 tanggal 15 Oktober


2010 tentang Pembentukan TAPD Tahun 2010

Kontrak Pengadaan 3 unit kendaraan Minibus untuk Wakil Bupati Pasaman Barat
Fortuner dan 2 buah Mobil Innova (Tahun 2011) dengan CV. Srikandi Bakti Prima
dengan Direkturnya Natalisya Mira, SE

93

KESIMPULAN
Pertanyaan kami yang mulia Ibu Hakim Ketua, apakah hanya UU No. 8 Tahun 1981 tentang
KUHAP atau UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan TIPIKOR saja yang berhak menjadi
satu-satunya tuan rumah di negara kita Indonesia ini ? Sehingga hanya dengan memakai kaca mata kuda
kepada UU yang memberi kewenangan kepada penyidik untuk melakukan penahanan, maka berbagai
macam undang-undang dan peraturan lainya yang mengatur tata kehidupan warga negara dan termasuk kita
selaku Aparatur Sipil Negara, demikian saja bisa diabaikan ?
Dan merupakan suatu hal yang aneh, bahwa wilayah Hukum Administrasi Negara yang dinamis,
tersebar dibanyak aturan, tersebar dibanyak institusi pengaturanya, suatu proses dilapangan belum tentu
dapat semua di aplikasikan sesuai perkembangan bisnis, aturan yang bergerak cepat berubah, suatu ketika
tidak tepat dengan prosedur aturan yang ada, akan dicerca sebagai hal melawan hukum yang berdampak
pidana.
Apalagi penerapan hukum yang ambivalence yang dilakukan oleh aparatur penegak hukum itu
sendiri, dimana kami ditetapkan sebagai tersangka dan dilakukan penahanan, adalah karena diduga
melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan prosedur Pengadaan Barang dan Jasa menurut Keppres No.
80 Tahun 2003. Sementara justrus sebaliknya, penghitungan kerugian keuangan negara sebesar Rp.
276.887.273,- yang disangkakan kepada kami, malah ditetapkan dengan tanpa mengindahkan
kaidah-kaidah dan norma-norma yang diatur dalam berbagai peraturan itu sendiri seperti :
1.
Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, khususnya
Pasal 3, Pasal 13 dan Lampiran I Bab I Huruf E angka 2.
2.
UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Pasal 1 Butir 22, Pasal 59-67.
3.
UU No. 11 Tahun 1994 tentang Perubahan Atas UU No. 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan
Nilai Barang dan Jasa dan PPn BM, Pasal 1 huruf d butir (1) Ayat (a), (b), (d),(f), hurf e, f,g, Pasal
4 ayat (a) dan (d), Pasal 5 ayat (1), Pasal 8 ayat (1)
4.
UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (perubahannya UU No. 20
Tahun 2001), Pasal, 2,3,4,18,19,25,26, dan 28-38
5.
UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Pasal 35
6.
UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Pasal 1 Butir 22, dan Pasal 59-67
7.
UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara,
Pasal 1 butir 3, Pasal 2, Pasal 13, Pasal 22 dan Pasal 33
8.
Keppres No. 31 Tahun 1983 tentang Pembentukan BPKP, Pasal 3 huruf j,l,n dan o dan Pasal 30-32
9.
Keppres No. 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi dan Kewenangan, Susunan
Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen, Pasal 52,53, dan 54
10. PP No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Pasal 10 huruf c
11. PP No. 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, Pasal 47,48,49 dan 50 ayat
(2) dan (3)
12. Permendagri No. 7 Tahun 2006 tentang Standarisasi Sarana dan Prasarana Kerja Pemerintah
Daerah, Pasal 1 huruf g, Pasal 5 huruf d, Pasal 13, Pasal 14 ayat (1) Lampiran IV Poin A.
Kendaraan Dinas.
13. Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, Pasal 160
14. SE Dirjen Pajak No. SE-21/PJ.51/2000 tentang PPn dan PPn BM Dalam Tata Niaga Kendaraan
Bermotor
15. Putusan MK No. 31/PUU-X/2012 tanggal 23 Oktober 2012, Bab II Kedudukan Hukum Nomor 1
Butir 16 hal 9
16. Yurisprudensi Makamah Agung terkait dengan kewenangan Pejabat Administrasi Negara dalam
Putusan Mahkamah Agung tanggal 8 Januari 1966 No.42/K/66 dan Putusan Mahkamah Agung
tanggal 30 Maret 1973 No.81/K/73
Pasaman Barat kususnya dan Indonesia pada umumnya, tidak akan maju dan sejahtera dengan
keadaan hukum kita yang seperti ini, kesalahan administrasi dianggap pidana. Kalau kita hitung secara akal
sehat yang masuk akal mengenai kerugian negara, sebenarnya siapa yang merugikan negara? Contoh :
kasus korupsi yang saat ini sedang ditangani aparat penyidik dan penegak hukum, berapa uang negara yang
dikeluarkan untuk biaya mulai dari penyelidikan sampai persidangan? Sedangkan angka kerugian negara
yang ditimbulkan, kalaupun ada, itu tidak seberapa. Tidak sebanding dengan uang negara yang dikeluarkan
untuk penyelesaian kasus tersebut.
94

Hal ini malah sebenarnya telah diantisipasi oleh peraturan perundangan-undangan negara kita, yang
malah berada pada UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), pada
pasal 32 ayat (1). Juga pada UU No. 17 Tahun 2003 dan UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara.
Penyalahgunaan kewenangan yang didakwakan kepada kami, juga dilakukan oleh penyidik dengan
tanpa mengindahkan pada peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang itu seperti :
1. Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, Pasal 3.
2. UU No. 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan, Pasal 1 butir 18 dan Pasal 21 ayat (1) (5).
3. PP No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.
4. Yurisprudensi Mahkamah Agung No. 42/K/66 tanggal 8 Januari 1966 dan Putusan Mahkamah Agung
No. 81/K/73 tanggal 30 Maret 1973.
Sebagai sebuah negara hukum, kita memiliki 3 (tiga) prinsip dasar :
1. Supremasi hukum harus ditegakkan atas kedaulatan, bukan kekuasaan.
2. Prinsip equality before the law, semua orang sama dimata hukum.
3. Due process of law, harus sesuai dengan hukum. Tidak boleh menegakkan hukum dengan melanggar
hukum.
Jangan sampai, hak asasi kita sebagai manusia, yang merupakan hak dasar yang diberikan oleh ALLAH
pencipta kita, dan jangan sampai pembangunan dan kemajuan negeri Pasaman Barat yang kita cintai ini
tersandera oleh penerapan hukum yang tidak tepat. Tidak tepat apakah karena kemauan aparat penyidiknya
ataupun juga karena ketidakmampuan aparat penyidik itu sendiri.
Semoga kita semua yang ada disini, dicatat dalam sisa umur kita, sebagai orang-orang yang bertaqwa, yang
menegakkan sesuatu secara proporsinya atau adil kepada siapa saja. Apapun politiknya, apapun sukunya,
apapun warna bajunya dan bahkan apapun agamanya.

Padang, 15 Januari 2015


KPA PENGADAAN KENDARAAN DINAS BUPATI
TAHUN ANGGARAN 2010

Drs. H. HENDRI, MM.


PEMBINA TK.I NIP. 19710520 199203 1 003

95

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
____________________________________________________________________________________________________
21 Juli 2000
SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 21/PJ.51/2000
TENTANG
PPN DAN PPn BM DALAM TATA NIAGA KENDARAAN BERMOTOR
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,
Sehubungan dengan adanya keragu-raguan dalam pelaksanaan ketentuan PPN di
bidang tata niaga kendaraan bermotor, dengan ini diberikan beberapa penegasan
sebagai berikut :
1. Dalam tataniaga kendaraan bermotor, mata rantai distribusi kendaraan bermotor
pada umumnya melewati lini-lini sebagai berikut :
a.

a. Lini I

Importir Umum/ATPM/Industri Perakitan.

b. b. Lini II

Distributor

c.

c. Lini III

Dealer

d. d. Lini IV

Sub-Dealer/Showroom

2. Dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-43/PJ.51/1989 tanggal 7


Agustus 1989 ditegaskan bahwa dalam rangka pelaksanaan Peraturan Pemerintah
Nomor 28 Tahun 1988, setiap lini dalam distribusi kendaraan bermotor dikukuhkan
sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) kecuali lini IV (Sub-Dealer/Showroom) tidak
dikukuhkan sebagai PKP karena statusnya sebagai Pedagang Pengecer.
3. Sesuai dengan ketentuan Pasal 37 jo. Pasal 38 Peraturan Pemerintah Nomor 50
Tahun 1994 sebagaimana beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 59 Tahun 1999, bahwa mulai tanggal 1 Januari 1995 Peraturan
Pemerintah Nomor 28 Tahun 1988 tentang Pengenaan PPN atas Penyerahan
Barang Kena Pajak (BKP) yang dilakukan oleh Pedagang Besar dan penyerahan Jasa
Kena Pajak (JKP) disamping Jasa yang dilakukan oleh Pemborong, dinyatakan tidak
berlaku.
4. Memperhatikan harga kendaraan bermotor saat ini, maka dalam tata
kendaraan bermotor tidak ada Pengusaha Kecil, karena jumlah peredaran
melebihi Rp. 240.000.000,00 dalam satu tahun buku. Oleh karena itu
Pengusaha pada seluruh lini distribusi kendaraan bermotor tersebut
Pengusaha Kena Pajak, termasuk Sub-dealer/Showroom.

niaga
usaha
setiap
adalah

5. Sebagai Pengusaha Kena Pajak, Pengusaha kendaraan bermotor berkewajiban


untuk melakukan hak dan kewajibannya sebagai PKP, yaitu : memungut, menyetor
96

dan melaporkan PPN dan/atau PPn BM yang terutang atas penyerahan kendaraan
bermotor yang dilakukannya.
6. Diinstruksikan kepada seluruh Kepala Kantor Pelayanan Pajak untuk melakukan
pengawasan kepatuhan dari masing-masing pihak yang terlibat dalam
pendistribusian kendaraan bermotor yang terdaftar di KPP masing-masing.
7. Untuk mempermudah pemahaman mata rantai distribusi kendaraan bermotor ini,
dapat digambarkan sebagai berikut :
________________________________________________________
IMPORTIR UMUM/INDUSTRI PERAKITAN/ATPM
(PKP)
_________________________________________________________
| |
| |
| |
| |
_________________
DISTRIBUTOR
(PKP)
_________________
| |
| |
| |
| |
__________
_______________________________
DEALER
________________
SUB-DEALER/SHOWROOM
(PKP)
(PKP)
__________
_______________________________
| |
| |
| |
______________
KONSUMEN
______________
8. Untuk memperjelas mekanisme pemungutan PPN dan PPn BM, diberikan contoh
penghitungan pada Lampiran I Surat Edaran ini.
9. Harga Jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau
seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan Barang Kena Pajak (kendaraan
bermotor), tidak termasuk pajak yang dipungut menurut UU Nomor 8 Tahun 1983
sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1994 dan
potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak. Berdasarkan ketentuan di
atas, untuk mencegah akibat ganda pengenaan PPn BM, maka dalam menentukan
Dasar Pengenaan Pajak atas penyerahan Barang Kena pajak yang sama pada rantai
berikutnya (sesudah "Pabrikan"/Importir), unsur PPn BM (seperti halnya PPNnya)
harus dikeluarkan dahulu
97

10. Dalam hal pembelian kendaraan bermotor dengan sistim on the road (langsung atas
nama pembeli) maka Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), retribusi
untuk Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (STNK) dan Buku Pemilikan
Kendaraan Bermotor (BPKB) tidak merupakan unsur Harga Jual yang menjadi
Dasar Pengenaan Pajak sepanjang BBNKB serta retribusi untuk STNK dan BPKB
tersebut tidak dicantumkan dalam Faktur Pajak. Diberikan contoh perhitungan pada
lampiran 2 dan 3Surat Edaran ini.
11.
a. PPN terutang pada saat terjadinya penyerahan kendaraan bermotor dari PKP
(Importir Umum/ATPM/Industri Perakitan/Distributor/Dealer/Sub-Dealer/
Showroom). Dalam hal pembayaran diterima sebelum penyerahan kendaraan
bermotor atau pembayaran uang muka, maka PPN terutang pada saat
diterimanya pembayaran tersebut. Jumlah PPN yang terutang pada saat
pembayaran uang muka tersebut dihitung secara proporsional dengan jumlah
pembayarannya dan diperhitungkan dengan PPN yang terutang pada saat
dilakukan penyerahan.
Contoh :
- Harga Jual kendaraan Bermotor Rp 165.000.000,- (termasuk PPN sebesar Rp
15.000.000,- (10%))
- Uang Muka diterima tanggal 10 Agustus 2000 sebesar Rp. 55.000.000,- Kendaraan akan diserahkan tanggal 20 September 2000 dengan kekurangan
bayar sebesar Rp. 110.000.000,PPN terutang dan harus dipungut :
- Pada saat diterima uang muka tanggal 10 Agustus 2000, sebesar 10/110 x
Rp 55.000.000,- = Rp 5.000.000,- dan harus dilaporkan pada SPT Masa PPN
bulan Agustus 2000.
- Pada saat penyerahan kendaraan tanggal 20 September 2000, sebesar
10/110 x Rp 110.000.000,- = Rp 10.000.000,- dan harus dilaporkan pada
SPT Masa PPN bulan September 2000.
b. Apabila atas penyerahan tersebut juga terutang PPn BM karena penyerahan
dilakukan oleh Pemungut PPn BM ("Pabrikan"), maka dalam pembayaran uang
muka yang diterima sebelum penyerahan kendaraan bermotor, terutang PPn BM
disamping terutang PPN.
Contoh :
- Harga Jual kendaraan Bermotor Rp 250.000.000,- (termasuk PPN sebesar Rp
20.000.000,- (10 %) dan PPn BM sebesar Rp 30.000.000,- (15%))
- Uang Muka diterima tanggal 10 Agustus 2000 sebesar Rp. 25.000.000,- Kendaraan akan diserahkan tanggal 20 September 2000 dengan kekurangan
bayar sebesar Rp. 225.000.000,- PPN dan PPn BM terutang dan harus
dipungut :
- Pada saat diterima uang muka tanggal 10 Agustus 2000 :
1) PPN : sebesar 10/125 x Rp 25.000.000,- = Rp 2.000.000,- dan harus
dilaporkan pada SPT Masa PPN bulan Agustus 2000.
98

2) PPn BM : sebesar 15/125 x Rp 25.000.000,- = Rp 3.000.000,- dan harus


dilaporkan pada SPT Masa PPn BM bulan Agustus 2000.
- Pada saat penyerahan kendaraan tanggal 20 September 2000 :
1) PPN : sebesar 10/125 x (Rp. 250.000.000,- - Rp 25.000.000,-) = Rp
18.000.000,- dan harus dilaporkan pada SPT Masa PPN bulan September
2000.
2) PPn BM : sebesar 15/125 x (Rp 250.000.000,- - Rp 25.000.000,-) = Rp
27.000.000,- dan harus dilaporkan pada SPT Masa PPn BM bulan
September 2000.
12. Ketentuan dalam Surat Edaran ini berlaku mulai tanggal 1 Agustus 2000.
13. Dengan berlakunya ketentuan ini, maka ketentuan yang dimaksud dalam Surat-surat
Edaran sebelumnya sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan Surat Edaran
ini, dinyatakan masih tetap berlaku.
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,
ttd
MACHFUD SIDIK

99

Lampiran -1 Surat Edaran Dirjend Pajak


Nomor : SE-21/PJ.51/2000
Tanggal : 21 Juli 2000
Contoh mekanisme pemungutan PPN dan PPn BM
a) Untuk kendaraan impor dalam keadaan CBU :
1) Importir Umum/Industri Perakitan/ATPM :
a) impor :
- Nilai Impor (DPP) : Rp. 200.000.000,- PPN (10%)
: Rp. 20.000.000,- (Pajak Masukan)
- PPn BM (50%)
: Rp. 100.000.000,Harga Impor
: Rp. 320.000.000,b) penyerahan :
- Harga Jual (DPP)
- PPN (10%)
- PPn BM (50%)
Harga Penjualan

: Rp. 220.000.000,: Rp. 22.000.000,- (Pajak Keluaran)


: Rp. 100.000.000,- (butir 1.a)
: Rp. 342.000.000,-

2) Distributor :
a) Pembelian :
- Harga beli (DPP)
- PPN (10%)
- PPn BM (50%)
Harga Pembelian

: Rp. 220.000.000,: Rp. 22.000.000,- (Pajak Masukan)


: Rp. 100.000.000,- (butir 1.a)
: Rp. 342.000.000,-

b) penyerahan :
- Harga Jual (DPP)
- PPN (10%)
- PPn BM (50%)
Harga Penjualan

: Rp. 240.000.000,: Rp.


4.000.000,- (Pajak Keluaran)
: Rp. 100.000.000,- (butir 1.a)
: Rp. 364.000.000,-

3) Dealer :
a) Pembelian :
- Harga beli (DPP)
- PPN (10%)
- PPn BM (50%)
Harga Pembelian

: Rp. 240.000.000,: Rp. 24.000.000,- (Pajak Masukan)


: Rp. 100.000.000,- (butir 1.a)
: Rp. 364.000.000,-

a) penyerahan :
- Harga Jual (DPP)
- PPN (10%)
- PPn BM (50%)
Harga Penjualan

: Rp. 260.000.000,: Rp. 26.000.000,- (Pajak Keluaran)


: Rp. 100.000.000,- (butir 1.a)
: Rp. 386.000.000,-

4) Sub-Dealer/Showroom :
a) Pembelian :
- Harga beli (DPP) : Rp. 260.000.000,- PPN (10%)
: Rp. 26.000.000,- (Pajak Masukan)
100

- PPn BM (50%)
: Rp. 100.000.000,- (butir 1.a)
Harga Pembelian : Rp. 386.000.000,b) penyerahan :
- Harga Jual (DPP)
- PPN (10%)
- PPn BM (50%)
Harga Penjualan

: Rp. 280.000.000,: Rp. 28.000.000,- (Pajak Keluaran)


: Rp. 100.000.000,- (butir 1.a)
: Rp. 408.000.000,- (yang dibayar konsumen)

b. Untuk kendaraan impor dalam keadaan CKD atau produksi dalam negeri :
1) Importir Umum/Industri Perakitan/ATPM :
a) impor :
- Nilai Impor (DPP) : Rp. 150.000.000,- PPN (10%)
: Rp. 15.000.000,- (Pajak Masukan)
- PPn BM (-%)
: Rp.
-,Harga Impor
: Rp. 165.000.000,b) penyerahan :
- Harga Jual (DPP)
- PPN (10%)
- PPn BM (50%)
Harga Penjualan

: Rp. 220.000.000,: Rp. 22.000.000,- (Pajak Keluaran)


: Rp. 110.000.000,: Rp. 352.000.000,-

2) Distributor :
a) Pembelian :
- Harga beli (DPP)
- PPN (10%)
- PPn BM (50%)
Harga Pembelian

: Rp. 220.000.000,: Rp. 22.000.000,- (Pajak Masukan)


: Rp. 110.000.000,- (butir 1.b)
: Rp. 352.000.000,-

b) penyerahan :
- Harga Jual (DPP)
- PPN (10%)
- PPn BM (50%)
Harga Penjualan

: Rp. 240.000.000,: Rp. 24.000.000,- (Pajak Keluaran)


: Rp. 110.000.000,- (butir 1.b)
: Rp. 374.000.000,-

3) Dealer :
a) Pembelian :
- Harga beli (DPP)
- PPN (10%)
- PPn BM (50%)
Harga Pembelian

: Rp. 240.000.000,: Rp. 24.000.000,- (Pajak Masukan)


: Rp. 110.000.000,- (butir 1.b)
: Rp. 374.000.000,-

b) penyerahan :
- Harga Jual (DPP)
- PPN (10%)
- PPn BM (50%)
Harga Penjualan

: Rp. 260.000.000,: Rp. 26.000.000,- (Pajak Keluaran)


: Rp. 110.000.000,- (butir 1.b)
: Rp. 396.000.000,101

4) Sub-Dealer/Showroom :
a) Pembelian :
- Harga beli (DPP) : Rp. 260.000.000,- PPN (10%)
: Rp. 26.000.000,- (Pajak Masukan)
- PPn BM (50%)
: Rp. 110.000.000,- (butir 1.b)
Harga Pembelian : Rp. 396.000.000,b) penyerahan :
- Harga Jual (DPP)
- PPN (10%)
- PPn BM (50%)
Harga Penjualan

: Rp. 280.000.000,: Rp. 28.000.000,- (Pajak Keluaran)


: Rp. 110.000.000,- (butir 1.b)
: Rp. 418.000.000,- (yang dibayar konsumen)

Catatan : Pemungutan PPn BM dilakukan sesuai dengan ketentuan perundangundangan dan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor :
SE-17/PJ.51/1999 tanggal 2 Nopember 1999 dan Surat Edaran Direktur
Jenderal Pajak Nomor : SE-18/PJ.51/2000 tanggal 22 Juni 2000.

102

Lampiran -2 : Surat Edaran Dirjend Pajak


Nomor : SE-21/PJ.51/2000
Tanggal : 21 Juli 2000
CONTOH PENGHITUNGAN PPN KENDARAAN BERMOTOR
(Harga Jual On the Road)
1. Dealer "B" menjual satu unit kendaraan bermotor dengan harga jual kepada pembeli
sebesar Rp 205.000.000 (termasuk PPN, PPn BM dan tidak termasuk Bea Balik Nama) yang
dibeli dari Main Dealer "A".
2. Atas pembelian tersebut, Dealer "B" mendapat potongan harga dari Main Dealer "A".
3. PPn BM sebesar Rp 8.000.000,- sudah dipungut dan dilaporkan oleh Main Dealer "A".
4. Pengurusan balik nama kendaraan bermotor dilakukan oleh Main Dealer "A" dan pembeli
membayar Rp 18.000.000,- kepada Main Dealer "A" melalui Dealer "B".

PENGHITUNGAN DAN PELAPORAN PPN OLEH DEALER "B" ADALAH :


Harga Jual Main Dealer "A" (On The Road)
: Rp 225.000.000,Potongan harga untuk Dealer "B"
: Rp 4.000.000,Harga Tebus
: Rp 221.000.000,Bea Balik Nama (BBN)
: Rp 18.000.000,Harga Beli Dealer "B"
: Rp 203.000.000,Faktur Pajak (Off the Road) :
BELI
: Rp 117.272.727,: Rp 17.727.273,: Rp
8.000.000,: Rp 203.000.000,-

Dasar Pengenaan Pajak (DPP)


PPN (10%)
PPn BM (15%)
JUMLAH

JUAL
Rp 186.363.636,Rp 18.636.364,Rp 8.000.000,Rp 205.000.000,-

Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak :


BELI
100/110 X (Rp 203.000.000,-

Rp 8.000.000,-)

Rp 177.272.727,-

JUAL
100/110 x (Rp 205.000.000,

Rp 8.000.000,-)

Rp 186.363.636,-

Perhitungan PPN Yang Harus Disetor Ke Kas Negara Oleh Dealer :


- PAJAK KELUARAN (10% x Rp 186.363.636,-) = Rp
18.636.364,- PAJAK MASUKAN (10% x Rp 177.272.727,-)
= Rp
17.727.273,PPN yang harus disetor
= Rp
909.091,-

103

Lampiran -3

Surat Edaran Dirjend Pajak


Nomor : SE-21/PJ.51/2000
Tanggal : 21 Juli 2000

CONTOH PENGHITUNGAN PPN DAN PPn BM KENDARAAN BERMOTOR


YANG BERASAL DARI SASIS (DEALER SEBAGAI WAJIB PUNGUT PPn BM)
1. Dealer "B" membeli sasis kendaraan bermotor dari Main Dealer "A" seharga Rp
100.000.000,- dengan potongan harga sebesar Rp 2.000.000,- kemudian menyuruh Karoseri
"C" mengubah sasis tersebut menjadi kendaraan bermotor angkutan orang dan kemudian
menjualnya kepada pembeli dengan harga Rp 126.500.000 (termasuk PPN dan PPn BM).
2. PPn BM sebesar Rp 15.800.000,- dipungut dan dilaporkan oleh Dealer "B", sebagai pihak
yang menyuruh melakukan pengubahan.

PENGHITUNGAN DAN PELAPORAN PPN OLEH DEALER "B" ADALAH :


Harga Jual Sasis Main Dealer "A"
Rp 100.000.000,Potongan harga untuk Dealer "B"
Rp
2.000.000,Harga Tebus/Beli Dealer "B"
Rp 98.000.000,Faktur Pajak (Off The Road) :
Dasar Pengenaan Pajak (DPP)
PPN (10 %)
Dasar Pengenaan Pajak (Karoseri "C")
PPN - Karoseri (10 %)
PPn BM (15 %)
JUMLAH

BELI
89.090.090,8.909.091,10.000.000,1.000.000,-

Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp 109.000.000,-

JUAL
Rp 101.200.000,Rp 10.120.000,-

-,- Rp 15.180.000,Rp 126.500.000,-

Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak :


- Beli Sasis
100/110 X Rp 98.000.000,= Rp 89.090.909,- Jual Kendaraan Bermotor
100/110 x Rp 126.500.000,= Rp 101.200.000,Perhitungan PPN Dan PPn BM Yang Harus Disetor Ke Kas Negara Oleh Dealer :
1) PPN
- PAJAK KELUARAN (10 % x Rp 101.200.000,-)
= Rp 10.120.000,- PAJAK MASUKAN (Rp 8.909.091 + Rp 1.000.000,-) = Rp 9.909.091,PPN yang harus disetor
= Rp
210.909,2) PPn BM
15 % x Rp 101.200.000,-

= Rp 15.180.000,-

Contoh :
- Harga Jual kendaraan Bermotor Rp 250.000.000,- (termasuk PPN sebesar Rp 20.000.000,(10 %) dan PPn BM sebesar Rp 30.000.000,- (15%))
- Uang Muka diterima tanggal 10 Agustus 2000 sebesar Rp. 25.000.000,-

104

- Kendaraan akan diserahkan tanggal 20 September 2000 dengan kekurangan bayar


sebesar Rp. 225.000.000,PPN dan PPn BM terutang dan harus dipungut :
- Pada saat diterima uang muka tanggal 10 Agustus 2000 :
1) PPN : sebesar 10/125 x Rp 25.000.000,- = Rp 2.000.000,- dan harus dilaporkan pada
SPT Masa PPN bulan Agustus 2000.
2) PPn BM : sebesar 15/125 x Rp 25.000.000,- = Rp 3.000.000,- dan harus dilaporkan
pada SPT Masa PPn BM bulan Agustus 2000.
- Pada saat penyerahan kendaraan tanggal 20 September 2000 :
1) PPN : sebesar 10/125 x (Rp. 250.000.000,- Rp 25.000.000,-) = Rp 18.000.000,- dan
harus dilaporkan pada SPT Masa PPN bulan September 2000.
2) PPn BM : sebesar 15/125 x (Rp 250.000.000,- Rp 25.000.000,-) = Rp 27.000.000,- dan
harus dilaporkan pada SPT Masa PPn BM bulan September 2000.

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,


ttd
MACHFUD SIDIK

105