Anda di halaman 1dari 12

TUGAS PERILAKU ORGANISASI

Rangkuman Bab 9 : Dasar-Dasar Perilaku


Kelompok
Sumber : Organizational Behavior, Stephen P Robbins & Timothy A. Judge 15th edition

Kelas O Kelompok 2, Disusun Oleh :


Danny Putra Pratama
Setia Nurul M
Apnia Yoskiana
Rodhiyatus Solihah
Anis Lathifah
Iga Yunita

041411331207
041411331222
041411331241
041411331242
041411331250
041411333080

S1 Akuntansi
Fakultas Ekonomi Bisnis
Universitas Airlangga

2015
1. DEFINING AND CLASSIFYING GROUP
kelompok

sebagai

dua

atau

lebih

individu,

berinteraksi

dan

saling

tergantung, yang datang bersama-sama untuk mencapai tujuan tertentu.


Kelompok dibagi menjadi 2, yaitu kelompok formal dan kelompok informal.
kelompok formal didefinisikan oleh struktur organisasi, dengan tugas kerja
yang ditunjuk membangun tugas. Sebaliknya, kelompok informal yang tidak
resmi struktural terstruktur maupun organisatoris ditentukan.
1.1

Why do people form groups?

Teori identitas sosial dalam suatu kelompok mengusulkan bahwa orang


memiliki reaksi emosional terhadap kegagalan atau keberhasilan
kelompok mereka karena harga diri mereka akan terikat ke kinerja
kelompok, sehingga :

Identitas

tentang siapa mereka dan apa yang harus mereka lakukan


identitas sosial membantu kita memahami siapa kita dan dimana

sosial

membantu

orang

mengurangi

ketidakpastian

kita cocok dengan orang lain, tetapi mereka dapat memiliki sisi
negatif juga
Kapan orang mengembangkan identitas sosial? Beberapa karakteristik
membuat identitas sosial penting untuk seseorang:
1. Kesamaan. Tidak mengherankan, orang-orang yang memiliki nilai
yang sama atau karakteristik sebagai anggota lain dari organisasi
mereka memiliki tingkat yang lebih tinggi dari identifikasi kelompok.
2. kekhususan. Orang lebih cenderung untuk melihat identitas yang
menunjukkan bagaimana mereka berbeda dari kelompok lain.
3. Status. Karena orang menggunakan identitas untuk mendefinisikan
diri mereka sendiri dan meningkatkan harga diri, masuk akal bahwa
mereka paling tertarik dalam menghubungkan diri ke kelompokstatus yang tinggi.

4.

pengurangan Ketidakpastian. Keanggotaan dalam kelompok


juga membantu beberapa orang memahami siapa mereka dan
bagaimana mereka masuk ke dunia

2. TAHAP-TAHAP DALAM PENGEMBANGAN KELOMPOK


2.1
Model Lima Tahap
Lima tahap pengembangan kelompok mencirikan kelompok yang
berjalan

melalui

tahapan

yang

unik,

yaitu

membentuk,

mempeributkan, menyusun norma, bekerja, dan membubarkan.

Tahap membentuk (forming stage)


Digolongkan sebagai sejumlah besar ketidakpastian mengenai tujuan,
struktur, dan kepemimpinan kelompok.
Tahap mempeributkan (storming stage)
Tahap ini merupakan salah satu konflik intrakelompok.
Tahap menyusun norma (norming stage)
Tahap ini merupakan tahap ketiga dalam pengembangan kelompok,

dicirikan dengan hubungan yang dekat dan kekompakan.


Tahap mengerjakan (performing stage)
Tahap keempat dalam pengembangan kelompok, yang mana kelompok

sepenuhnya fungsional.
Tahap membubarkan (adjourning stage)
Tahap ini merupakan tahap terakhir dalam pengembangan kelompok
untuk kelompok sementara, yang dicirikan dengan memusatkan
perhatian pada mengakhiri kegiatan dan bukannya kinerja tugas.

2.2 suatu

model

alternative

bagi

kelompok

yang

bersifat

sementara dengan tenggat waktu


Kelompok yang bersifat sementara dengan tenggat waktu yang
nampaknya tidak mengikuti model lima tahap yang biasa , mereka memiliki
urutan tindakan yang unik sendiri yang disebut model kesetimbangan
berselang

(punctuated-equilibrium

model).

Model

kesetimbangan-

berselang merupakan suatu rangkain fase yang mana kelompok yang

bersifat sementara bergerak melaluinya yang melibatkan transisi antara


kelambanan dengan aktivitasnya, antara lain :

Pertemuan pertama mereka menetapkan arah kelompok


Fase pertama aktivitas kelompok adalah salah satu dari inersia
Suatu transisi terjadi tepat ketika kelompok telah terpakai setengah

dari waktu yang telah ditetapkan


Transisi dimana memprakarsai perubahan besar
Fase kedua dari inersia mengikuti transisi
Pertemuan terakhir kelompok dicirikan oleh

aktivitas

yang

diakselerasikan.

3. Properti

Kelompok:

Peranan,

Norma,

Status,

Besaran,

Kekompakan,dan Keragaman
3.1
Properti Kelompok 1: Peran
Peran merupakan suatu rangkaian pola perilaku yang diharapkan
yang dikaitkan dengan seseorang yang menduduki posisi tertentu
dalam unit sosial.
Persepsi peran yakni suatu sudut pandang individu mengenai
bagaimana dia seharusnya bertindak dalam suatu situasi tertentu. Kita
mendapatkan persepsi peranan dari semua stimulus di sekitar kita
seperti teman, buku, film, dan televisi.
Ekspektasi peran yaitu bagaimana yang lainnya meyakini
seseorag akan bertindak dalam suatu situasi tertetu. Di tempat kerja,
kita melihat ekspektasi peran melalui perspektif kontrak psikologis
yakni, sebuah pernyataan yang tidak tertulis yang mengemukakan apa
yang manajemen harapkan dari karyawan dan sebaliknya. Pernyataan
ini mengemukakan ekspektasi timbale-balik: apa yang manajemen
harapkan dari para karyawan dan sebaliknya.
Konflik peran yaitu, suatu situasi yang mana individu dihadapkan
oleh ekspektasi peran yang berbeda-beda. Sebagian besar karyawan
secara bersamaan dalam pekerjaan, kelompok kerja, divisi, dan

kelompok demografis serta identitas yang berbeda ini dapat masuk ke


dalam koflik ketika ekspektasi dari seseorang bertentagan dengan
ekspektasi yang lainnya.selama proses merger dan akuisisi, para
karyawan dapat terbagi antara identitas mereka sebagai para anggota
dari organisasi awal dengan induk perusahaan yang baru.
3.2Group Property 2: Norms
Semua kelompok telah menetapkan norma atau standar berperilaku
yang dapat diterima bersama oleh anggota mereka yang mengekspresikan
apa yang mereka seharusnya dilakukan dan seharusnya tidak dilakukan
dalam keadaan tertentu . Ketika disetujui dan diterima oleh kelompok, norma
mempengaruhi perilaku anggota

dengan minimal kontrol eksternal .

Kelompok yang berbeda , komunitas, dan masyarakat memiliki norma-norma


yang berbeda , tetapi mereka semua pasti memiliki norma .
Norma dapat menutupi hampir semua aspek perilaku kelompok .
Norma lainnya termasuk norma-norma penampilan ( kode pakaian , aturan
tak tertulis tentang kapan terlihat sibuk ) , norma-norma pengaturan sosial
( dengan siapa untuk makan siang , apakah akan membentuk persahabatan
dan mematikan pekerjaan ) , dan norma-norma alokasi sumber daya
( penugasan pekerjaan sulit , distribusi sumber daya seperti gaji atau
peralatan ) .
Conformity
Sebagai anggota kelompok, orang ingin diterima oleh kelompok. Jadi
orang rentan menyesuaikan terhadap norma-norma kelompok. Banyak bukti
yang menunjukkan bahwa kelompok dapat menempatkan tekanan kuat pada
anggota individu untuk mengubah sikap dan perilaku mereka agar sesuai
dengan standar kelompok. Ada banyak alasan yang sesuai dengan penelitian
terbaru menyoroti pentingnya keinginan untuk membentuk persepsi yang
akurat

tentang

realitas

berdasarkan

konsensus

kelompok,

untuk

mengembangkan hubungan sosial yang bermakna dengan orang lain, dan


untuk mempertahankan konsep diri yang menguntungkan. Dampak bahwa

tekanan untuk sesuai dengan perilaku kelompok dapat dimiliki pada


penilaian anggota individu.
Deviant Workplace Behavior
Perilaku menyimpang di tempat kerja (juga disebut perilaku antisosial
atau ketidaksopanan kerja) adalah perilaku sukarela yang melanggar normanorma organisasi yang signifikan dan, dalam melakukannya, mengancam
kesejahteraan organisasi atau anggotanya. Beberapa organisasi akan
mengakui menciptakan atau memaafkan kondisi yang mendorong dan
mempertahankan norma-norma yang menyimpang. Namun ada. Karyawan
melaporkan bahwa ada peningkatan atas kekasaran dan pengabaian
terhadap orang lain oleh bos dan rekan kerja dalam beberapa tahun terakhir.
3.3

Properti Kelompok 3: Status

Status adalah suatu posisi yang didefinisikan secara sosial atau peringkat
yang diberikan kepada kelompok atau para anggota kelompok oleh orang
lain. Hal-hal yang menentukan status antara lain:
1. Kekuasaan seseorang yang dimiliki atas orang lain.
2. Kemampuan seseorang untuk memberikan kontribusi bagi tujuan
kelompok.
3. Karakteristik pribadi individu.
Status dan Norma. Para individu yang memiliki status yang tinggi sering
kali diberikan lebih banyak kebebasan menyimpang dari norma daripada
para anggota kelompok lain. Orang-orang yang memiliki status yang tinggi
juga lebih dapat menolak atas tekanan kepatuhan daripada rekan-rekan
mereka yang memiliki status yang lebih rendah.
Status dan Interaksi Kelompok. Orang-orang yang memiliki status yang
tinggi cenderung menjadi anggota kelompok yang lebih sombong. Tetapi
perbedaan status benar-benar menghambat keragaman dari gagasan dan
kreativitas dalam kelompok karena para anggota yang memiliki status yang

lebih

rendah

cenderung

untuk

berperan

sserta

kurang

aktif

dalam

pembahasan kelompok.
Ketidakadilan Status. Perbedaan status yang besar di dalam kelompok
juga berhubungan dengan kinerja individu yang lebih buruk, kesehatan yang
lebih rendah, dan keinginan yang kuat untuk meninggalkan kelompok.
Status dan Stigmatisasi. Status orang dengan siapa anda berafiliasi juga
dapat memengaruhi pandangan orang lain terhadap anda. Orang-orang yang
distigmatisasi dapat menulari orang lain dengan stigma mereka. Efek stigma
oleh asosiasi ini dapat menghasilkan opini negative dan melakukan evaluasi
orang-orang yang terafiliasi dengan individu yang distigmatisasi, bahkan jika
asosiasi singkat dan terjadi secara kebetulan.
3.4

Properti Kelompok 4: Besaran


Besaran suatu kelompok memengaruhi keseluruhan perilaku kelompok

tetapi pengaruhnya bergantung pada apa variable dependen yang kita


amati. Salah satu dari temuan yang paling penting mengenai besaran
kelompok adalah kemalasan sosial yang merupakan kecenderungan bagi
para individu untuk mengeluarkan sedikit upaya ketika bekerja secara
kolektif daripada ketika bekerja secara individu.
Yang menyebabkan kemalasan sosial mungkin karena adanya suatu
keyakinan bahwa orang lain di dalam kelompok tidak melaksanakan
pembagian mereka secara adil. Penjelasan lainnya mengenai kemalasan
sosial adalah penyebaran tanggung jawab. Oleh karena hasil kelompok tidak
dapat dikaitkan hanya kepada satu orang, maka hubungan antara input
individu dan output kelompok akan tampak tidak jelas. Para individu
kemudian tergoda untuk menjadi seorang penunggang bebas dan melintasi
upaya kelompok.
Ada beberapa cara untuk mencegah kemalasan sosial, yaitu:
1. Menetapkan tujuan kelompok, sehingga kelompok memiliki tujuan
umum untuk berusah maju

2. Meningkatkan kompetisi intrakelompok, yang mana menitikberatkan


pada hasil yang dibagikan
3. Terlibat dalam evaluasi rekan, sehingga masing-masing orang akan
saling mengevaluasi kontribusi satu sama lain
4. Memilih para anggota yang memiliki motivasi yang tinggi dan lebih
memilih untuk bekerja dalam kelompok
5. Jika memungkinkan, mendasari imbalan kelompok sebagai bagian atas
kontribusi yang unik dari masing-masing anggota
3.5

Properti Kelompok 5: Kekompakan


Kekompakkan merupakan keadaan yang mana para anggota kelompok

tertarik satu sama lain dan termotivasi untuk tetap bertahan dalam
kelompok. Kelompok-kelompok memiliki kekompakkan yang berbeda.
Hubungan antara kekompakkan dengan produktivitas bergantung pada
norma yang terkait dengan kinerja kelompok. Jika norma kualitas, output,
dan kerja sama dengaan para pihak luar tinggi, suatu kelompok yang
kompak akan menjadi lebih produktif daripada kelompok yang kurang
kompak. Tetapi jika kekompakan tinggi dan norma kinerja rendah, maka
produktivitas akan menjadi rendah, jika kekompakan rensah dan norma
kinerja tinggi, maka produktivitas akan meningkat, tetapi lebih rendah
dibandingkan dengan kelompok dengan norma kinerja dan kekompakan
yang tinggi. Jika kekompakan dan norma kinerja keduanya rendah, maka
produktivitas akan cenderung turun dalam kisaran paling rendaah hingga
sedang.
Untuk mendorong kekompakan kelompok, hal-hal yang dapat dilakukan
antara lain:
1. Buatlah kelompok yang lebih kecil
2. Mendorong perjanjian dengan tujuan kelompok
3. Meningkatkan waktu yang dihabiskan oleh para anggota bersamasama
4. Meningkatkan

status

kelompok

dan

anggapan

memperoleh keanggotaan
5. Menstimulasi kompetisi dengan kelompok lain

kesulitan

dalam

6. Memberikan imbalan pada kelompok dan bukannya pada para individu


7. Mengisolasi kelompok secara fisik
3.6

Properti Kelompok 6: Keragaman


Keragaman diartikan sebagai sejauh mana para anggota dari suatu

kelompok memiliki kesamaan, atau berbeda dari, satu sama lain. Keragaman
terlihat untuk meningkatkan konflik kelompok, terutama dalam tahap awal
masa jabatan kelompok, yang mana sering kali menurukan moral kelompok
dan meningkatkan tingkat berhentinya anggota.
Salah satu efek yang timbul dari keragaman adalah lini kesalahan. Lini
kesalahan atau faultlines adalah divisi yang dipandang yang membagi
kelompok menjadi dua atau lebih subkelompok yang idasarkan pada
perbedaan individu, misalnya jenis kelamin, ras, umur, pengalaman kerja,
dan pendidikan.
Lini kesalahan yang didasarkan pada perbedaan dalam keterampilan,
pengetahuan, dan keahlian dapat memberikan manfaat ketika kelompokkelompok dalam budaya organisasi yang menekankan kuat pada hasil. Hal
ini karena budaya yang didorong oleh hasil akan memusatkan orang-orang
pada apa yang penting bagi perusahaan dan bukannya pada permasalahan
yang timbul dari subkelompok.
Meskipun riset mengenai lini kesalahan menyarankan bahwa keragaman
dalam

kelompok

merupakan

pedang

bermata

dua,

riset

terbaru

mengindikasikan bahwa mereka dapat secata strategis dipekerjakan untuk


meningkatkan kinerja.
3.7

Relationship

Between

Group

Cohesiveness,

Performance

Norms and Productivity

Tingkat kohesivitas yang tinggi, performa tinggi, maka produktivitas tinggi.


Contoh dapat dilihat pada perusahaaan yang memiliki latar belakang
yang sama, maka pegawai akan merasa lebih nyaman.

Tingkat kohesivitas tinggi, performa rendah, maka produktivitas rendah. .

Contohnya adalah perusahaan yang pegawainya memiliki latar belakang


yang sama tetapi tidak punya motivasi bekerja.

Tingkat kohesivitas rendah, performa rendah, maka produktivitas rendah. .


Contohnya adalah ketika perusahaan memiliki karyawan yang sangat
beragam dan tidak memiliki motivasi kerja.

4. Group Decisions Making


Pengambilan keputusan dengan group besar dapat memberikan keuntungan
berupa : informasi yang banyak, terdapat banyak pandangan yang berbeda,
dan banyak alternatif. Tetapi juga mempunyai kelemahan pengambilan
keputusan yang lama dan sulitnya para anggota group untuk sepakat pada
satu keputusan
Sedangkan dengan group kecil akan lebih cepat dalam mengambil
keputusan dan dapat lebih mudah untuk sepakat pada satu keputusan.
4.1

Group Decision-Making Techniques


Dalam

pengambilan

keputusan

secara

groups,

terdapat

beberapa teknik yang dapat digunakan untuk memfasilitasi terjadinya


pengambilan keputusan. Pemilihan teknik yang akan digunakan harus
memperhatikan keeefektifan dan juga karakter individu-individu yang
akan menjadi sebuah group.
Teknik yang dapat digunakan adalah :

Interacting Groups adalah kelompok yang khusus dimana


setiap anggotanya berinteraksi satu sama lain face to face.

Nominal Groups Technique adalah teknik yang digunakan


dalam pengambilan keputusan secara group dimana anggota
group bertemu tatap muka.

Brainstorming adalah sebuah proses mencari ide sebanyakbanyaknya dari setiap individu anggota group.

Electronic

meeting

adalah

penggunaan

media

elektronik

sebagai media interaksi antar anggota group sehingga anggota


group tidak perlu bertemu secara fisik.
4.2

Perbandingan

kinerja:
Keputusan

antara

kelompok

lebih

kelompok
akurat

dan

daripada

individu

dalam

keputusan

suatu

individu
Dalam hal kecepatan , individu lebih unggul.
Dalam kreativitas, kelompok cenderung menjadi lebih efektif.

Dalam penambilan keputusan menggunakan kelompok, para manajer


harus menilai apakah peningkatan dalam efektivitas jauh lebih banyak
dari cukup untuk mengimbangi penurunan dalam efesiensi.
Kelompok versus Individu
Kelompok merupakan kendaraan yang sempurna
mengerjakan

beberapa

langkah

dalam

proses

pengambilan

keputusan .
1. kekuatan pengambilan keputusan kelompok

Informasi dan pengetahuan yang lebih lengkap


Keragaman pandangan yang lebih luas
Penerimaan suatu solusi.
2. kelemahan pengambilan keputusan kelompok

Memerlukan lebih banyak waktu untuk mencapai suatu solusi


Terdapat kepatuhan tekanan
Didominasi oleh salah satu atau beberapa anggota
Tanggung jawab yang ambigu.
3. Efektivitas dan Efesiensi

5. PEMIKIRAN KELOMPOK DAN PERGESERAN KELOMPOK

untuk

Dua efek samping dari pengambilan keputusan kelompok kedua


fenomena ini mempunyai potensi memengaruhi kemampuan kelompok
untuk menilai alternatif-alternatif secara positif dan menghasilkan solusi
keputusan yang berkualitas.
Fenomena yang pertama, yang disebut pikiran kelompok (groupthink),
dikatakan dengan norma-norma

fenomena ini menggambarkan situasi

ketika tekanan kelompok untuk kesesuaian menghalangi kelompok untuk


menghargai

secara

biasa,minoritas,atau
menyerang

bayak

tak

kritis

pandangan-pandangan

popular.pikiran

kelompok

dan

kelompok

dapat

secara

jadi

yang
penyakit

dramatis

tak
yang

merintangi

kinerjanya. Fenomena kedua yang kami tinjau ulang disebut pergeseran


kelompok

(groupshift).

Fenomena

ini

mengindikasikan

bahwa

dalam

membahas seperangkat alternatif dan mencapai pemecahan tertentu, para


anggota kelompok cenderung membesar-besarkan posisi (pendirian) awal
yang mereka anut.