Anda di halaman 1dari 23

Polimer Campuran Poly(asamlaktat)/polikaprolakton

Compatibilized dengan Kopolimer Blok

Hairunisa
140204016

PENDAHULUAN
Dalam beberapa tahun terakhir, pencemaran lingkungan telah
menjadi perhatian besar karena dampak tinggi sampah plastik
yang digunakan sehari-hari. Salah satu solusi yang mungkin
untuk masalah ini adalah untuk menggantikan komoditas
polimer

sintetik

dengan

polimer

ramah

lingkungan

(biodegradable) yang mudah diuraikan oleh mikroba. Dari


sekian banyak polimer bahan alam (biobased) dan ramah
lingkungan (biodegradable), polylactic acyd (PLA) telah menarik
banyak

perhatian

karena

sifat

mekaniknya

menyerupai

komoditas plastic yang banyak digunakan sehari-hari seperti PE,


PP dan PS.

Bioplastik (Plastik Biodegradable)

Bioplastik atau plastik organik adalah salah satu jenis


plastik yang terbuat dari sumber biomassa terbarukan,
seperti minyak nabati, pati jagung, pati kacang polong dan
mikrobiota, jika dibandingkan dengan plastik konvensional
yang terbuat dari bahan baku petroleum.

Plastik biodegradable adalah plastik yang dapat digunakan


layaknya seperti plastik konvensional, namun akan hancur
terurai oleh aktivitas mikroorganisme menjadi hasil akhir air
dan gas karbondioksida setelah habis terpakai dan dibuang
ke lingkungan. Karena sifatnya yang dapat kembali ke alam,
plastik biodegradable merupakan bahan plastik yang ramah
terhadap lingkungan

Plastik biodegradable telah berkembang lebih dari 10 tahun


lalu, dan perkembangan kearah plastik komersial sangat
lambat. Hal ini disebabkan umumnya karena harga mahal
dan sifat agak lain dari plastik konvensional. Namun

Klasifikasi polimer biodegradable

Polylactic acyd (PLA)

Salah satu jenis biodegradable polyester adalah Poli


asam laktat (polylactic acid). Poli asam laktat atau
Poli
laktida
(PLA)
dengan
rumus
kimia
(CH3CHOHCOOH)n adalah sejenis polimer atau
plastik yang bersifat biodegradable, thermoplastic
dan merupakan poliester alifatik yang terbuat dari
bahan-bahan terbarukan seperti pati jagung atau
tanaman tebu.
Poli asam laktat mempunyai potensi yang sangat
besar dikembangkan sebagai pengganti plastik
konvensional. Poli asam laktat bersifat termoplastik,
memiliki kekuatan tarik dan modulus polimer yang
tinggi, bobot molekul dapat mencapai 100.000
hingga 500.000, dan titik leleh antara 175-200C.

Kekurangan PLA
Densitas dan harganya lebih tinggi (1.25 G/cc dan 2.6 USD/kg )
dibanding PP (0.9 g/cc dan 0.7 USD/kg) dan PS (1.05 g/cc dan 1
USD/kg).
Mempunyai polaritas lebih tinggi sehingga sulit direkatkan
dengan PE dan PP yang non polar dalam system film multi lapis.
PLA juga mempunyai ketahanan panas, moisture dan gas barier
kurang bagus dibanding dengan PET.
Sifat barier terhadap uap air, oksigen dan CO 2 lebih rendah
disbanding PET, PP atau PVC.
Perbaikan sifat barier dapat dilakukan dengan system laminasi
dengan jenis film lain seperti PE, PVOH, Alufoil, Nanopartikel dan
lainnya

Saat ini, PLA sudah digunakan


untuk beragam aplikasi, diantaranya
dibidang medis, kemasan dan tekstil.
Dibidang medis, PLA sudah lama
digunakan sebagai benang jahit pada
saat
operasi
serta
bahan
pembungkus kapsul. Selain itu pada
dasawarsa
terakhir
PLA
juga
dikembangkan
dalam
upaya
perbaikan jaringan tubuh manusia. Di
Jepang,
PLA
bahkan
sudah
dikembangkan sebagai bahan dasar
pembuatan compact disc (CD) oleh

Polycaprolakton (PCL)

Polikaprolakton adalah plastik biodegradabel


yang bersifat termoplastik yang disintesis dari
turunan minyak mentah dan diikuti oleh proses
polimerisasi pembukaan cincin.
PCL memiliki sifat :
tahan terhadap air, minyak, dan pelarut klorin,
mempunyai kekentalan rendah,
mudah diproses secara termal,
mempunyai titik leleh yang rendah
memiliki sifat mekanik yang cukup baik.
Untuk memperoleh hasil mekanik yang bagus
PCL
biasanya
dicampur
(blending)
atau
dikopolimerisasi dengan polimer lain.

Poly(-caprolactone) (PCL) adalah suatu polimer


biodegradable yang berbentuk semikristalin yang
memiliki temperatue transisi gelas yang rendah (-60
0C).
karena kristanilitas dan hidroposibilitasnya maka
degradasi PCL sangat lambat sehingga lebih cocok
untuk penghantaran jangka panjang untuk periode
lebih dari satu tahun.
PCL memiliki kemampuan untuk membentuk
campuran yang kompatibel dengan polimer lain,
yang
mana
memberikan
kesempatan
untuk
memanipulasi laju pelepasan obat dari mikropartikel.
Karena ketahanannya terhadap air dan mudah
dibentuk
poliester ini sering dibuat menjadi
lembaran, botol, dan perlengkapan plastik lainnya.

Scanning Electron Microscopy (SEM)

Scanning Electron Microscopy (SEM) adalah suatu


instrumen yang menghasilkan seberkas elektron pada
permukaaan spesimen target dan mengumpulkan serta
menampilkan sinyal-sinyal yang diberikan oleh material
target. Penggunaan alat Scaning Electron Microscopy
dalam morfologi kopolimer telah dikembangkan secara
luas.
Prinsip analisis SEM adalah dengan menggunakan alat
sinyal elektron sekunder. Teknik SEM pada hakekatnya
merupakan pemeriksaan dan analisis permukaan. Data
yang diperoleh merupakan data dari permukaan atau
lapisan yang tebalnya sekitar 20 m dari permukaan.
Gambar permukaan yang diperoleh merupakan topografi
dengan segala tonjolan, lekukan dan lubang pada
permukaan. Gambar topografi diperoleh dengan
penangkapan elektron sekunder yang dipancarkan oleh
specimen.

Differential Scanning Calorimetry (DSC)

Differential Scanning Calorimetry(DSC) merupakan salah satu metode


analisis termal yang dapat digunakan untuk menentukan kapasitas panas
dan entalpi dari suatu sampel. Teknik DSC merupakan teknik analisa
untuk mengukur perbedaan kalor yang masuk ke dalam sampel dan
pembanding sebagai fungsi temperatur.
Data yang diperoleh dari analisis DSC dapat digunakan untuk
mempelajari kalor reaksi, kinetika, kapasitas kalor, transisi fase, kestabilan
termal, kemurnian, komposisi sampel, titik kritis, dan diagram fase.
Termogram hasil analisis DSC dari suatu bahan polimer akan memberikan
informasi titik transisi kaca (Tg), yaitu suhu pada saat polimer berubah
dari bersifat kaca menjadi seperti karet, titik kristalisasi (Tc), yaitu pada
saat polimer berbentuk kristal, titik leleh (Tm), yaitu saat polimer
berwujud cair dan titik dekomposisi (Td), yaitu saat polimer mulai rusak.

METODOLOGI
Bahan :
Poli (asam laktat)
Polikaprolakton (70,000-90,000 g / mol)
blok kopolimer poli (etilena glikol) dan poli
(propilen glikol) (PEG-PPG) (2.500 g / mol )
Instrumen :
Scanning Electron Microscopy (SEM)
Differential Scanning Calorimetry (DSC)

Persiapan Bahan Dan Campuran

Sebelum Pencampuran
Pelet

Proses Pencampuran
PLA+PCL
80:20

PLA+PCL+
(PEG-PPG)
2,5

PLA+PCL+
(PEG-PPG)
5,0

PLA+PCL+
(PEG-PPG)
7,5

PLA+PCL+
(PEG-PPG)
10

Campuran dibuat dengan pencampuran


lelehan menggunakan internal mixer
Barbender di 180C dan 50 rpm selama 6
menit.

Karakterisasi
Scanning Electron Microscopy (SEM)
Campuran PLA dan PCL
Campuran PLA+PCL+(PEG-PPG)
Campuran PLA+PCL+(PEG-PPG) setelah uji tarikan
Differential scanning kalorimetrik (DSC)
Dilakukan menggunakan NETZSCH DSC 204 F1 untuk mengevaluasi miscibility
dari campuran dan pengaruh konsentrasi compatibilized pada jumlah panas,
Seperti Transisi Gelas (Tg), Peleburan (Tm), Suhu Kristalisasi (Tc), dan Derajat
Kristalinitas.
Kristalinitas PLA fase dalam campuran ditentukan dengan menggunakan
persamaan berikut :

Dimana HC,PLA adalah entalpi kristalisasi PLA, Hm adalah entalpi fusi PLA.
kristal memiliki ketebalan kristal tak terbatas (93 J/g), dan WPLA adalah fraksi
berat PLA.

Sampel dipanaskan dari 30 C sampai 200 C

kedua dipanaskan 200 C dengan


laju pemanasan yang sama di bawah
atmosfer nitrogen.

Uji Mekanik
Pengukuran tarik (mesin uji universal, instron
sampel campuran
3366).

Uji dilakukan dengan kecepatan


crosshead dari 3 mm/menit. Minimal
lima sampel berulang kali diuji dan
dirata-rata.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil SEM

(a) PLA/PCL murni


7,5

(b) PLA/PCL/PEG-PPG

(c) PLA/PCL murni

(d) PLA/PCL/PEG-PPG 7,5

Gambar SEM setelah pengujian tarik

Sifat Mekanik
Tabel 1. tekanan maksimum, regangan pada keretakan, dan
modulus PLA dan campuran PLA/PCL yang mengandung
berbagai isi PEG-PPG

Hasil DSC

Gambar.2. Termogram DSC PLA dan PLA/PCL


bercampur dengan berbagai konsentrasi
PEG-PPG.

Sifat Termal
Tabel 2. Sifat Thermal PLA dan campuran PLA / PCL
mengandung berbagai isi PEG-PPG (pemanasan kedua)

KESIMPULAN
Campuran PLA/PCL compatibilized dengan
kopolimer blok (PEG-PPG) diselidiki. Mikrograf
SEM mengungkapkan bahwa fase PCL itu lebih
baik didistribusikan dan lebih larut dalam
matriks PLA. Peningkatan konsentrasi PEG-PPG
dalam campuran menghasilkan peningkatan
drastis dalam ketegangan saat putus, di mana
optimal diperoleh pada 7,5 phr, mencapai 74%
regangan. Hadirnya kompatibiliser mengurangi
suhu kristalisasi dan meningkatnya derajat
kristalinitas campuran .