Anda di halaman 1dari 2

BAB 6 – MEKANISME PASAR MODAL MENURUT SYARIAH

A. MEKANISME BURSA EFEK

Salah satu pilar dari bentuk pasar modal ideal adalah adanya infrastruktur informasi bursa efek
yang transparan, tepat waktu dan merata di publik ditunjang oleh mekanisme pasar yang wajar.
Mekanisme Bursa Efek yang wajar juga menyangkut kewajaran permintaan dan penawaran serta
menyangkut niat Investor dalam melakukan transaksi. Secara umum mekanisme Bursa Efek
yang wajar menurut Syariah meliputi aspek-aspek sebagai berikut:

1. Kewajaran Penawaran – menjual Efek yang Belum Dimiliki.


Prinsip Syariah melarang suatu pihak untuk menjual barang (Efek) yang belum dimiliki. Akibatnya
short selling dengan menjual Efek yang belum dimiliki untuk kemudian (berusaha) membeli Efek
yang sama pada hari yang sama untuk memenuhi kewajiban yang terbentuk pada saat menjual
Efek, menjadi dilarang. Demikian juga short-selling dengan share lending, hal ini dilarang karena
Efek yang menjadi obyek penjualan tidak benar benar dimiliki oleh Investor penjual. Yang ada
hanyalah jaminan dari pihak lain untuk meminjamkan Efek yang sama bila Investor tersebut tidak
bisa mendapatkannya di pasar. Namun hal ini dibolehkan bila pihak ketiga tersebut menjual
dahulu Efek yang dimaksud sebelum Investor tersebut menjualnya, dan pihak ketiga tersebut
berjanji untuk membelinya kembali pada harga tertentu dan hari yang sama bila Investor tersebut
dapat membeli Efek yang diperlukan melalui mekanisme pasar.
2. Kewajaran Penawaran – mengganggu Jumlah Efek yang Beredar.
Prinsip Syariah melarang gangguan pada penawaran yang dicontohkan dengan praktek
menimbun barang dan praktek membeli hasil pertanian dari petani sebelum petani tersebut
sampai di pasar. Dalam hal mekanisme bursa efek, kondisi penawaran dalam pasar adalah
fungsi dari jumlah Efek yang beredar (free float), distribusi kepemilikan, jumlah Investor dan
likuiditas perdagangan. Oleh karena itu praktek yang mengganggu penawaran, misalnya
kepemilikan oleh pihak terafiliasi yang terselubung danpraktek cornering, tentunya dilarang.
3. Kewajaran Permintaan – adanya Permintaan Palsu
Prinsip Syariah melarang suatu pihak membeli atau mengajukan permintaan untuk membeli
tanpa memiliki kebutuhan dan daya beli. Karena itu transaksi marjin dilarang karena Investor
pembeli sebenarnya tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli Efek tersebut. Memang ada
pihak ketiga yang berjanji memberikan pembiayaan untuk melunasi kewajiban (dengan
menimbulkan kewajiban baru), sehingga berarti Investor mengambil resiko yang berlebihan.
Karena takdir yang terjadi atas harga Efek berada di tangan Tuhan YME. Apalagi kalau atas
pinjaman tersebut dikenakan beban yang tidak sesuai dengan manfaat yang timbul, misalnya
dikenakan bunga. Demikian juga halnya dengan short buying, karena pada saat membeli
kemungkinan besar Investor tidak memiliki dana yang cukup untuk melakukan pembelian. Atau
karena tujuan (niat) melakukan pembelian adalah bukan untuk melakukan investasi yang wajar
dan berhati-hati. Prinsip Syariah juga melarang gangguan pada permintaan, misalnya dengan
menempatkan permintaan beli pada suatu harga tertentu namun kemudian segera menarik
4. Kewajaran Kekuatan Pasar – Likuiditas Perdagangan
Pasar yang wajar akan menghasilkan harga transaksi yang wajar sehingga disebut sebagai
harga pasar wajar. Oleh karena itu prinsip Syariah menginginkan adanya kegiatan pasar yang
wajar, termasuk dalam hal likuiditas perdagangan. Sehingga harga yang terbentuk dalam
transaksi di Bursa Efek merefleksikan kekuatan tawar menawar pasar yang sebenarnya. Karena
itu harga pasar yang diakui sebagai acuan harus memenuhi persyaratan likuditas tertentu.
Syariah tidak melarang untuk memperoleh capital gain, karena hal itu adalah konsekwensi yang
wajar atas suatu investasi. Namun ‘day trading’ harus dihindari. Sebelum melakukan investasi,
investor dianjurkan untuk melakukan analisa dan menentukan batas harga jual dan batas harga
beli atas efek yang menjadi obyek investasi. Karena itu membeli efek untuk dijual kembali pada
hari yang sama dianggap sebagai tindakan spekulasi yang tidak sesuai dengan niat investasi.
Tetapi bila investor telah memiliki suatu efek dan harga di bursa telah melampaui batas harga
jual, maka investor dapat saja menjual efek yang telah dimilikinya itu. Kemudian bila pada hari
yang sama harga saham ternyata jatuh sehingga berada di bawah batas harga beli, sementara
investor tidak merasa adanya perubahan fundamental dari sisi emiten. Maka investor dapat saja
membeli kembali efek tersebut pada hari yang sama.

B. INFORMASI PEMBENTUK HARGA

Infrastruktur informasi Bursa Efek yang transparan, tepat waktu dan merata di publik menurut
Syariah adalah juga mencakup kewajaran dari informasi. Kewajaran informasi ini akan ikut
menentukan proses pembentukan harga dan pada akhirnya akan menentukan kewajaran dari
harga yang terjadi.

1. Kewajaran Informasi Pembentuk Harga – Valuasi Efek


Pasar yang wajar menurut prinsip Syariah harus didukung oleh informasi yang wajar. Investor
harus mempunyai kemampuan untuk memahami peluang hasil dan kemungkinan resiko
sehingga tidak mengambil resiko yang berlebihan. Untuk itu Bursa Efek harus memastikan agar
Investor secara wajar dapat memperoleh informasi yang diperlukan. Sedangkan Emiten
bertanggung jawab sepenuhnya atas informasi yang dipublikasikan. Dalam kelaziman prinsip
Syariah, suatu pihak dapat membatalkan transaksi dalam waktu tiga hari. Dengan mengambil
kesamaan, bila Emiten mengetahui adanya atau menerbitkan informasi yang salah atau
menyesatkan maka Emiten hanya mempunyai waktu tiga hari untuk memperbaikinya. Bila dalam
waktu tiga hari tidak ada koreksi informasi tersebut dianggap valid dimana emiten sepenuhnya
bertanggung jawab dan tidak bila menyatakan kesalahan sebagai keteledoran. Di lain pihak, bila
setelah menerbitkan suatu informasi yang benar ternyata telah terjadi kejadian berikutnya yang
berakibat besar, maka emiten wajib menerbitkan laporan keuangan baru dengan segera dan
menyatakan dengan spesifik kejadian tersebut serta dampaknya pada laporan keuangan.
2. Kewajaran Informasi Kekuatan Pasar – Acuan Harga Transaksi
Secara umum Investor akan memakai informasi harga harian untuk mengetahui kondisi Efek
yang menjadi sasaran investasinya. Prinsip Syariah menginginkan agar harga tersebut
menunjukkan kekuatan pasar yang sebenarnya. Disini terdapat perbedaan yang cukup
mendasar, dalam penerapan prinsip Syariah, yaitu harga yang dicatatkan sebagai indikasi harga
pada suatu hari perdagangan adalah bukan harga penutupan, melainkan harga rata-rata
tertimbang. Sehingga transaksi dalam nilai yang relatif kecil pada detik-detik terakhir dari hari
perdagangan tidak akan dapat mempengaruhi nilai rata-rata tertimbang. Pasar hanya akan
mendapat informasi mengenai kekuatan tawar-menawar pasar yang sesungguhnya.

3. Kewajaran Harga yang Terjadi – Acuan Harga Pasar Wajar


Prinsip Syariah menginginkan agar terdapat harga pasar yang wajar. Mengingat bahwa Investor
sebaiknya memiliki analisa valuasi harga Efek sehingga dapat menetapkan batas harga beli dan
jual yang wajar. Maka sebagai pihak yang memfasilitasi perdagangan sebaiknya Bursa Efek juga
harus memberi informasi mengenai valuasi atas suatu efek sehingga investor dapat memperoleh
pandangan yang fair. Bursa Efek dapat menentukan beberapa analis untuk setiap Efek yang
dicatatkan sebagai Efek Syariah, konsensus dari para analis tersebut dapat dipublikasikan.
Kemudian bila terjadi transaksi pada harga diluar konsensus tersebut, Bursa Efek dapat meminta
analis untuk melihat apakah ada informasi yang mendukung justifikasi harga yang terbentuk.
Sebagai konsekwensinya maka dalam Bursa yang memperdagangkan Efek Syariah, maka batas
kisaran harga yang diperbolehkan untuk Efek Syariah bisa berbeda-beda. Sehingga batas
suspensi untuk Efek Syariah tersebut bisa berbeda dengan batas suspensi untuk efek lainnya.

C. INDEKS HARGA SYARIAH

Investasi dalam pasar modal, khususnya dalam saham, memiliki profil resiko dan hasil yang
berbeda dengan investasi keuangan lainnya. Karena itu setiap investor