Anda di halaman 1dari 57

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air yang cukup secara kuantitas, kualitas, dan kontinuitas sangat penting untuk
kelangsungan hidup manusia. Untuk itu diperlukan suatu instalasi pengolahan air (IPA)
guna menunjang kelancaran distribusi air pada masyarakat. Pemilihan unit operasi dan
proses pada IPA harus disesuaikan dengan kondisi air baku yang digunakan (Nur., 2007).
Air baku sendiri adalah air yang belum mengalami proses pengolahan, air ini sendiri
memiliki kualitas yang sudah mendekati air bersih. Namun masih diatas nilai ambang batas
sehingga diperlukan pengolahan terlebih dahulu sebelum dimanfaatkan sebagai air bersih.
Air bersih merupakan air yang harus bebas dari mikroorganisme penyebab penyakit dan
bahan-bahan kimia yang dapat merugikan kesehatan manusia maupun makhluk hidup
lainnya. Air merupakan zat kehidupan, di mana tidak ada satupun makhluk hidup di bumi
ini yang tidak membutuhkan air.

Sampai saat ini, penyediaan air bersih untuk masyarakat di Indonesia masih dihadapkan
pada beberapa permasalahan yang cukup kompleks dan sampai saat ini belum dapat diatasi
sepenuhnya. Salah satu masalah yang masih dihadapi sampai saat ini yakni masih
rendahnya tingkat pelayanan air bersih untuk masyarakat. Meningkatnya jumlah penduduk
di suatu wilayah akan mengakibatkan meningkatnya kebutuhan akan air bersih di wilayah
tersebut, sehingga dibutuhkan pelayanan yang memadai pula untuk mencukupi kebutuhan
masyarakat. Oleh karena itu, perlu mengetahui sistem pengolahan air yang baik dan benar
agar didapat hasil air bersih yang sesuai dengan persyaratan baku mutu dan mencukupi
kebutuhan masyarakat.

Perencanaan bangunan penyediaan air minum atau air bersih harus sesuai dengan kriteria
dan standar yang telah ditetapkan agar mampu menunjang kebutuhan air selama periode
yang direncanakan. Sumber baku air sebelum didistribusikan perlu diperhatikan
kebersihannya terutama agar terbebas dari kuman penyakit, sehingga tidak mengakibatkan

terjadinya penyakit bawaan air. Oleh karena itu dilakukan perencanaan Instalasi
Pengolahan Air (IPA) pada Kelurahan Karang Mumus, Kota Samarinda dengan periode
perencanaan selama 10 tahun yang akan datang dimulai dari tahun 2012 sampai dengan
tahun 2021.

1.2 Tujuan
1. Mengetahui jumlah kebutuhan air bersih masyarakat Kelurahan Karang Mumus, Kota
Samarinda pada tahun 2021.
2. Merencanakan instalasi pengolahan air (IPA) pada Kelurahan Karang Mumus, Kota
Samarinda sesuai dengan kriteria desain yang tepat sesuai dengan kualitas air baku.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2. 2.1 Air Minum


Air minum harus steril, yang artinya tidak mengandung hama penyakit apapun. Sumbersumber air minum pada umumnya dan di daerah pedesaan khususnya tidak terlindung
sehingga air tersebut tidak atau kurang memenuhi persyaratan kesehatan. Untuk itu perlu
pengolahan terlebih dahulu.
Agar air minum tidak menyebabkan penyakit, maka air tersebut hendaknya diusahakan
memenuhi

persyaratan-persyaratan

kesehatan,

setidaknya

diusahakan

mendekati

persyaratan tersebut. Air yang sehat harus mempunyai persyaratan sebagai berikut.
1. Syarat fisik
Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening (tak berwarna), tidak berasa,
suhu dibawah suhu udara di luarnya sehingga dalam kehidupan sehari-hari. Cara mengenal
air yang memenuhi persyaratan fisik ini tidak sukar.
2. Syarat bakteriologis
Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas dari segala bakteri, terutama bakteri
patogen. Cara untuk mengetahui apakah air minum terkontaminasi oleh bakteri patogen
adalah dengan memeriksa sampel (contoh) air tersebut. Dan bila dari pemeriksaan 100 ml
air terdapat 0 bakteri E. coli maka air tersebut sudah memenuhi syarat kesehatan.
3. Syarat kimia
Air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu di dalam jumlah yang tertentu
pula. Kekurangan atau kelebihan salah satu zat kimia didalam air akan menyebabkan
gangguan fisiologis pada manusia. Sesuai dengan prinsip teknologi tepat guna di pedesaan
maka air minum yang berasal dari mata air dan sumur dalam adalah dapat diterima sebagai

air yang sehat dan memenuhi ketiga persyaratan tersebut diatas asalkan tidak tercemar oleh
kotoran-kotoran terutama kotoran manusia dan binatang. Oleh karena itu mata air atau
sumur yang ada di pedesaan harus mendapatkan pengawasan dan perlindungan agar tidak
dicemari oleh penduduk yang menggunakan air tersebut.

2.2 Sumber Air Minum


Pada prinsipnya semua air dapat diproses menjadi air minum. Sumber-sumber air ini,
sebagai berikut:
1. Air hujan
Air hujan dapat ditampung kemudian dijadikan air minum, tetapi air hujan ini tidak
mengandung kalsium. Oleh karena itu, agar dapat dijadikan air minum yang sehat perlu
ditambahkan kalsium di dalamnya.
2. Air sungai dan danau
Air sungai dan danau berdasarkan asalnya juga berasal dari air hujan yang mengalir
melalui saluran-saluran ke dalam sungai atau danau. Kedua sumber air ini sering juga
disebut air permukaan. Oleh karena air sungai dan danau ini sudah terkontaminasi atau
tercemar oleh berbagai macam kotoran, maka bila akan dijadikan air minum harus diolah
terlebih dahulu.
3. Mata air
Air yang keluar dari mata air ini berasal dari air tanah yang muncul secara alamiah. Oleh
karena itu, air dari mata air ini bila belum tercemar oleh kotoran sudah dapat dijadikan air
minum langsung. Tetapi karena kita belum yakin apakah betul belum tercemar maka
alangkah baiknya air tersebut direbus dahulu sebelum diminum.
4. Air sumur
Air sumur dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu air sumur dangkal dan air sumur dalam. Air
sumur dangkal adalah air yang keluar dari dalam tanah, sehingga disebut sebagai air tanah.
Air berasal dari lapisan air di dalam tanah yang dangkal. Dalamnya lapisan air ini dari
permukaan tanah dari tempat yang satu ke yang lain berbeda-beda. Biasanya berkisar
antara 5 sampai dengan 15 meter dari permukaan tanah. Air sumur pompa dangkal ini

belum begitu sehat karena kontaminasi kotoran dari permukaan tanah masih ada. Oleh
karena itu perlu direbus dahulu sebelum diminum. Air sumur dalam yaitu air yang berasal
dari lapisan air kedua di dalam tanah. Dalamnya dari permukaan tanah biasanya lebih dari
15 meter. Oleh karena itu, sebagaian besar air sumur dalam ini sudah cukup sehat untuk
dijadikan air minum yang langsung (tanpa melalui proses pengolahan).

2.3 Instalasi Pengolahan Air Minum


2.3.1 Pengolahan Fisika
2.3.1.1 Sedimentasi
Sedimentasi adalah pemisahan partikel dari air dengan memanfaatkan gaya gravitasi.
Proses ini terutama bertujuan untuk memperoleh air buangan yang jernih dan
mempermudah proses penanganan lumpur. Dalam proses sedimentasi hanya partikelpartikel yang lebih berat dari air yang dapat terpisah. Misalnya kerikil dan pasir, padatan
pada tangki pengendapan primer, biofloc pada tangki pengendapan sekunder, floc hasil
pengolahan secara kimia dan lumpur (pada pengendapan lumpur) (Sakti, 2009).
Pada perencanaan unit sedimentasi terdapat beberapa komponen yang penting untuk diatur
pengelolaannya, yaitu kecepatan pengendapan yang berpengaruh terhadap fraksi
kekeruhan. Kecepatan pengendapan dipengaruhi oleh ukuran partikel padatan, densitas
cairan, viskositas cairan dan temperatur.
Klasifikasi sedimentasi didasarkan pada konsentrasi partikel dan kemampuan partikel
untuk berinteraksi. Klasifikasi ini dapat dibagi ke dalam empat tipe, yaitu:
a. Settling tipe I, Pengendapan partikel diskrit, partikel mengendap secara individual dan
tidak ada interaksi antar partikel.
b. Settling tipe II, pengendapan partikel flokulen, terjadi interaksi antar partikel sehingga
ukuran meningkat dan kecepatan pengendapan bertambah.
c. Settling tipe III, Pengendapan pada lumpur biologis, dimana gaya antar partikel saling
menahan partikel lainnya untuk mengendap.
d. Settling tipe IV, terjadi pemampatan partikel yang telah mengendap yang terjadi karena
berat partikel.

Kriteria perencanaan unit sedimentasi (pengendapan) untuk kesesuaian dengan kapasitas


air baku dan kebutuhan air masyarakat.
Tabel 2.1 Kriteria Unit Sedimentasi

Kriteria Umum
Beban permukaan (m3/m2/jam)
Kedalaman (m)
Waktu retensi (jam)
Lebar / panjang
Beban pelimpah
(m3/m/jam)
BilanganReynold
Kecepatan pada pelat/tabung
pengendap (m/menit)
Bilangan Froude
Kecepatan vertikal (cm/menit)
Sirkulasi Lumpur
Kemiringan dasar bak (tanpa scrapper)
Periode antar pengurasan lumpur (jam)
Kemiringan tube/plate

Bak Persegi (aliran


horizontal)
0.8 2.5
36
1.5 3
>1/5
<11
<2000
>10-5
45o 60o
12 24
30o / 60o

Sumber: Revisi SNI 19-6774-2002

2.3.1.2 Filtrasi
Filtrasi adalah suatu proses pemisahan zat padat dari fluida (cair maupun gas) yang
membawanya menggunakan suatu medium berpori untuk menghilangkan sebanyak
mungkin zat padat halus yang tersuspensi dan stabil (koloid). Pada pengolahan air minum,
Filtrasi digunakan untuk menyaring air hasil dari proses koagulasi flokulasi
sedimentasi sehingga dihasilkan air minum dengan kualitas tinggi. Di samping mereduksi
kandungan zat padat, filtrasi dapat pula mereduksi kandungan bakteri, menghilangkan
warna, rasa, bau, besi dan mangan.
Kriteria perencanaan untuk unit filtrasi (saringan cepat) dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut.
Tabel 2.2 Kriteria Unit Filtrasi (Saringan Cepat)

Jenis Saringan
N
o

Unit

Jumlah bak saringan

Saringan Biasa
(Gravitasi)

Saringan dengan
Pencucian Antar
Saringan

Saringan
Bertekanan

N = 12 Q0.5*)

minimum 5 bak

Kecepatan Penyaringan
(m/jam)

Pencucian:

Sistem pencucian

Kecepatan (m/jam)
Lama pencucian
(menit)
Periode antara dua
pencucian (jam)
Ekspansi (%)

6 11

12 33

Tanpa/dengan
blower & atau
surface wash

Tanpa/dengan
blower & atau
surface wash

Tanpa/dengan
blower & atau
surface wash

36 50

36 50

72 198

10 15

10 15

18-24

18 24

30 50

30 50

30 50

300 700

300 700

300 700

600 700

600 700

600 700

300 600

300 600

300 600

0.3 0.7

0.3 0.7

1.2 1.4

1.2 1.4

1.2 1.4

2.5 2.65

2.5 2.65

2.5 2.65

0.4

0.4

0.4

>95%

>95%

>95%

400 500

400 500

400 500

1.2 1.8

1.2 1.8

1.2 1.8

1.5

1.5

1.5

1.35

1.35

1.35

Media pasir:

6 11

Tebal (mm)
Single media
Media ganda
Ukuran efektif, ES
(mm)
Koefisien
keseragaman , UC
Berat jenis (kg/dm3)
Porositas
Kadar SiO2

Media antrasit:

Tebal (mm)
ES (mm)
UC
Berat jenis (kg/dm3)
Porositas

>95%

>95%

>95%

80 100

80 100

25

25

80 100

80 100

5 10

5 10

80 100

80 100

10 15

10 15

80 150

80 150

15 30

15 30

<0.5

<0.5

<0.5

>4%

>4%

>4%

Filter bottom/dasar
saringan:
1) Lapisan penyangga
dari atas ke bawah

Kedalaman (mm)
Ukuran Butir (mm)
Kedalaman (mm)

Ukuran Butir (mm)


Kedalaman (mm)
Ukuran Butir (mm)
Kedalaman (mm)
Ukuran Butir (mm)

2) Filter Nozel

Lebar slot nozel (mm)


Prosentase luas slot
nozel terhadap luas
filter (%)

Catatan: *) untuk saringan dengan jenis kecepatan menurun


**) untuk saringan dengan jenis kecepatan konstan (contant filtration rate), harus
dilengkapi dengan pengatur aliran (flow controller) otomatis.
Sumber: Revisi SNI 19-6774-2002

2.3.2 Pengolahan Kimia


2.3.2.1 Netralisasi
Netralisasi adalah reaksi antara asam dan basa menghasilkan air dan garam. Dalam
pengolahan air, pH diatur antara 6,0 - 9,5. Di luar kisaran pH tersebut, air akan bersifat
racun bagi kehidupan air, termasuk bakteri. Proses netralisasi yang digunakan adalah

netralisasi antara air asam dan air basa, penambahan bahan-bahan kimia yang diperlukan
dan filtrasi melalui zat-zat untuk netralisasi, misalnya CaCO3.
Jenis bahan kimia yang ditambahakan tergantung pada jenis dan jumlah air serta kondisi
lingkungan setempat. Netralisasi air yang bersifat adam dapat dilakukan dengan
penambahan Ca(OH)2 (slaked lime) atau NaOH (natrium hidroksida), sedangkan netralisasi
air yang bersifat basa dapt dilakukan dengan penambahan H 2SO4 (asam sulfat), HCl (Asam
klorida), HNO3 (Asam nitrat), H3PO4 (asam fosforat) atau CO2 yang bersumber dari flue
gas.
Kriteria desain unit desinfeksi berdasarkan SNI 19-6774-2002 dilampirkan beberapa
syarat, yaitu:
1. Bak dapat menampung larutan selama 8 sampai dengan 24 jam.
2. Diperlukan 2 buah bak, yaitu 1 buah bak pengaduk manual atau mekanis dan 1 buah
bak pembubuh.
3. Bak harus dilindungi dari pengaruh luar dan tahan terhadap beban alkalin.
2.3.2.2 Koagulasi dan Flokulasi
Partikel tersuspensi sangat sulit untuk mengendap langsung secara alami. Hal ini karena
adanya stabilitas suspensi koloid akibat gaya yang bekerja antar partikel.
a. Gaya van der Waals merupakan gaya tarik-menarik antara dua massa, yang besarnya
tergantung pada jarak antar keduanya.
b. Gaya Elektrostatik adalah gaya utama yang menjaga suspensi koloid pada keadaan
yang stabil. Sebagian besar koloid mempunyai muatan listrik. Oksida metalik
umumnya bermuatan positif, sedangkan oksida nonmetalik dan sulfida metalik
umumnya bermuatan negatif. Kestabilan koloid terjadi karena adanya gaya tolak antar
koloid yang mempunyai muatan yang sama. Gaya ini dikenal sebagai zeta potensial.
c. Gerak Brown adalah gerak acak dari suatu partikel koloid yang disebabkan oleh
kecilnya massa partikel.
Koagulasi-flokulasi merupakan dua proses yang terangkai menjadi kesatuan proses tak
terpisahkan. Pada proses koagulasi terjadi destabilisasi koloid dan partikel dalam air
sebagai akibat dari pengadukan cepat dan pembubuhan bahan kimia (disebut koagulan).

Akibat pengadukan cepat, koloid dan partikel yang stabil berubah menjadi tidak stabil
karena terurai menjadi partikel yang bermuatan positif dan negatif. Pembentukan ion
positif dan negatif juga dihasilkan dari proses penguraian koagulan. Proses ini berlanjut
dengan pembentukan ikatan antara ion positif dari koagulan (misal Al3+) dengan ion negatif
dari partikel (misal OH-) dan antara ion positif dari partikel (misal Ca2+) dengan ion negatif
dari koagulan (misal SO42-) yang menyebabkan pembentukan inti flok (presipitat).
Beberapa syarat yang harus dipenuhi perencanaan unit koagulasi dapat dilihat pada tabel
2.3 berikut.
Tabel 2.3 Kriteria Unit Koagulasi (Pengadukan Cepat)

Unit

Kriteria

Pengaduk cepat

Hidrolis :

Tipe

- Terjunan
- Saluran bersekat
- Dalam pipa bersekat
- Perubahan phasa engaliran
Mekanis

Waktu pengadukan
(detik)
Nilai G/detik

Bilah (Blade), Pedal (Padle) kipas


Flotasi
30 120

>750
Sumber: revisi SNI 19-6774-2002

Selanjutnya air masuk ke unit flokulasi, yaitu penggabungan inti flok menjadi flok
berukuran lebih besar yang memungkinkan partikel dapat mengendap. Penggabungan flok
kecil menjadi flok besar terjadi karena adanya tumbukan antar flok. Tumbukan ini terjadi
akibat adanya pengadukan lambat.
Berdasarkan

metodenya,

pengadukan

dibedakan

menjadi

pengadukan

mekanis,

pengadukan hidrolis, dan pengadukan pneumatis.


a.

Pengadukan mekanis adalah metoda pengadukan menggunakan alat pengaduk berupa


impeller yang digerakkan dengan motor bertenaga listrik. Umumnya pengadukan
mekanis terdiri dari motor, poros pengaduk, dan gayung pengaduk (impeller).

b.

Pengadukan hidrolis adalah pengadukan yang memanfaatkan gerakan air sebagai


tenaga pengadukan. Sistem pengadukan ini menggunakan energi hidrolik yang
dihasilkan dari suatu aliran hidrolik. Energi hidrolik dapat berupa energi gesek, energi
potensial (jatuhan) atau adanya lompatan hidrolik dalam suatu aliran. Beberapa contoh
pengadukan hidrolis adalah terjunan, loncatan hidrolis, parshall flume, baffle basin
(baffle channel), perforated wall, gravel bed dan sebagainya.

c.

Pengadukan pneumatis adalah pengadukan yang menggunakan udara (gas) berbentuk


gelembung yang dimasukkan ke dalam air sehingga menimbulkan gerakan pengadukan
pada air. Injeksi udara bertekanan ke dalam suatu badan air akan menimbulkan
turbulensi, akibat lepasnya gelembung udara ke permukaan air. Makin besar tekanan
udara, kecepatan gelembung udara yang dihasilkan makin besar dan diperoleh
turbulensi yang makin besar pula.
Tabel 2.4 Kriteria Unit Flokulasi (Pengadukan Lambat)

Flokulator Mekanis
Flokulator

Sumbu

Sumbu

Flokulator

Hidrolis

Horizontal

Vertikal

Clarifier

dengan Pedal

dengan Bilah

60 (menurun)

60 (menurun)

70 (menurun)

10

10

Waktu kontak (menit)

30 45

30 40

20 -40

20 100

Tahap flokulasi (buah)

6 10

36

24

Bukaan

Kecepatan

Kecepatan

Kecepatan

pintu/sekat

putaran

putaran

aliran air

0.9

0.9

1.8 2.7

1.5 0.5

5 20

0.1 0.2

15

8 25

Kriteria Umum

G (gradien kecepatan) 1/detik

Pengendali energi
Kecepatan aliran max.(m/det)
Luas bilah/pedal
dibandingkan luas bak (%)
Kecepatan perputaran sumbu
(rpm)
Tinggi (m)

Keterangan: * termasuk ruang sludge blanket

100 10

2 4*

Sumber: revisi SNI 19-6774-2002

2.3.2.3 Desinfeksi
Desinfeksi air minum bertujuan membunuh bakteri patogen yang ada dalam air.
Desinfektan air dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu dengan pembubuhan copper
dan silver, asam atau basa, senyawa-senyawa kimia, dan klorinasi. Adapun desinfeksi yang
dilakukan secara fisik yaitu pemanasan, penyinaran antara lain dengan sinar UV, Thermal,
dan gelombang mikro (Didik, 2011).
Proses desinfeksi dengan klorinasi diawali dengan penyiapan larutan desinfektan misalnya
kaporit dengan konsentrasi tertentu serta penetapan dosis klor yang tepat. Dosis klor
ditentukan berdasarkan DPC yaitu jumlah klir yang dikonsumsi air besarnya tergantung
dari kualitas air bersih yang diproduksi serta ditentukan dari sisa klor di instalasi (0.25
0.35) mg/l. Metode pembubuhan dengan kaporit yang dapat diterapkan sederhana dan tidak
membutuhkan tenaga listrik tetapi cukup tepat pembubuhannya secara kontinu adalah
metode gravitasi dan metode dosing proporsional (Didik, 2011).

BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat
3.1.1 Alat Sedimentasi 1
1. Settling coloum type I
2. Turbidity meter
3. Stopwacth
4. Jerigen 25 liter
5. Alat tulis
6. Kalkulator
7. Gelas sampel 6 buah
8. Kamera (dokumentasi)
9. Batang pengaduk
1.1.2

Alat Koagulasi-Flokulasi

1. Jar Test
2. Kerucut Imhoff
3. pH meter
4. Turbidity meter
5. Batang pengaduk
6. Beaker glass 100 ml
7. Beaker glass 200 ml
8. Beaker glass 1000 ml
9. Timbangan digital
10. Kamera
11. Pipet
12. Alat tulis
13. Stopwatch
14. Kalkulator
15. Jerigen
16. Bulp

3.1.3 Alat Sedimentasi 2


1. Settling coloum type II
2. Turbidity meter
3. Stopwacth
4. Kamera
5. Jerigen 25 liter (5 buah)
6. Gelas sampel (31 buah)
7. Batang pengaduk
8. Beaker glass 1000 mL (3 buah)
9. Timbangan digital
10. Alat tulis
11. Drum kecil (2 buah)
12. Pipa tambahan
13. Botol semprot
14. Corong
15. Gelas corong 100 mL
16. Spatula
17. Ember
18. pH meter

3.2 Bahan
3.2.1 Bahan Sedimentasi 1
1. Air sampel (air kolam Lembuswana)
2. Aquadest
3. Tissu
4. Kertas label
5. Tali rafia
3.2.2 Bahan Koagulasi-Flokulasi
1. Tawas
2. Air sampel (air kolam Lembuswana)
3. Aquadest
4. Tissu

5. Kertas label
6. Aluminium foil
3.2.3 Bahan Sedimentasi 2
1. Tawas 35 gram
2. Air sampel (air kolam Lembuswana) 100 liter
3. Tissu
4. Kertas label
5. Aquadest
6. Tali raffia
7. Aluminium foil

3.3 Cara Kerja


3.3.1 Cara Kerja Sedimentasi 1
1. Diambil air sampel dari kolam Lembuswana dengan menggunakan jerigen
2. Dimasukan air yang telah dihomogenkan ke dalam settling coloum type I hingga batas
tertinggi pada alat yaitu 180 cm.
3. Dimasukan air yang ada di dalam jerigen ke dalam wadah gelas sebagai sampel awal.
4. Dimasukan air dalam settling coloum type I dan setiap interval waktu 5 menit, 10
menit, 15 menit, 20 menit dan 25 menit.
5. Diambil air sampel dengan menggunakan kran yang terdapat pad alat settling coloum
type I.
6. Dimasukan air sampel ke dalam wadah gelas yang telah diberi label.
7. Diuji kekeruhan air sampel menggunakan alat turbidity meter yang telah dikalibrasi.
8. Dimasukan air sampel ke dalam botol sampel bersih yang telah dilap dengan tissue.
9. Dinyalakan alat turbidity meter dengan cara tekan tombol on.
10. Dimasukan botol sampel ke alat turbidity meter hingga lalu tekan tombol Rd dan alat
akan langsung membaca tingkat kekeruhan air sampel dalam satuan NTU.
11. Di ukur masing-masing 3x pengukuran dalam setiap interval waktu.
12. Di catat hasil pada tabel pengamatan.
13. Di hitung rata-rata kekeruhan, kecepatan dan fraksi.

3.3.2 Cara Kerja Koagulasi-Flokulasi


1. Ditimbang tawas seberat 2 gram, larutkan dengan aquadest 200 ml.
2. Diukur pH dan kekeruhan awal dari air sampel.
3. Dituangkan air sampel sebanyak 1000 ml pada masing-masing beaker glass sebanyak 4
buah.
4. Dipipet larutan tawas sebanyak 30 ml pada beaker glass 1, 35 ml pada beaker glass 2,
40 ml pada beaker glass 3, 45 ml pada beaker glass 4.
5. Diletakkan keempat beaker glass di atas portable jar test.
6. Dihidupkan jar test dan diatur kecepatan alatnya.
7. Diaduk cepat 100 rpm selama 1 menit.
8. Diaduk sedang 40 rpm selama 8 menit.
9. Diaduk lambat 20 rpm selama 1 menit.
10. Dituangkan air sampel pada masing-masing beaker glass ke dalam masing-masing
kerucut imhoff dengan cara mengenakan pada dinding kerucut imhoff secara
bersamaan.
11. Dinyalakan stopwatch selama proses pengendapan flok (15 menit).
12. Daukur pH, kekeruhan dan tinggi endapan yang terbentuk pada masing-masing kerucut
imhoff.
13. Dicatat hasil pengukuran pada table pengamatan.
3.3.3 Cara Kerja Sedimentasi 2
1. Diambil air sampel pada kolam Lembuswana dengan menggunakan jerigen.
2. Disiapkan alat dan bahan.
3. Di timbang tawas dengan timbangan digital seberat 35 gram.
4. Dilarutkan tawas dengan aquadest sebanyak 350 ml.
5. Diukur kekeruhan awal air sampel dengan alat turbidity meter.
6. Dihomogenkan koagulan dengan air sampel yang takarannya disesuaikan dengan
tempat air sampel (drum kecil).
7. Dimasukan air yang sudah dihomogenkan pada settling coloum type II sampai batas
tertinggi pada alat.
8. Didiamkan air dalam settling coloum type II dan setiap interval waktu 10 menit, 20
menit, 30 menit 40 menit, 50 menit dan 60 menit kemudian diambil air sampel melalui
5 kran yang terdapat pada alat.

9. Diukur kekeruhan dari masing-masing air sampel dari setiap kran pada interval waktu
tersebut dengan alat turbidity meter yang telah di kalibrasi.
10. Dinyalakan alat turbidity meter lalu tekan tombol Rd tunggu hingga terbaca hasilnya.
11. Di catat hasil kekeruhan pada tabel.
12. Dihitung nilai kecepatan dan fraksi.

3.4 Desain Alat Praktikum


3.4.1 Desain Alat Praktikum Sedimentasi 1
3.4.2 Desain Alat Praktikum Koagulasi-Flokulasi
3.4.3 Desain Alat Praktikum Sedimentasi 2

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Perhitungan Jumlah Penduduk dan Kebutuhan Air


4.1.1 Perhitungan Jumlah Penduduk
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kota Samarinda diperoleh data jumlah
penduduk untuk Kelurahan Karang Mumus pada tahun 2007 -

2011 adalah sebagai

berikut:
Tabel 4.1 Data Jumlah Penduduk Kelurahan Karang Mumus Tahun 2007-2011

Tahun
2007
2008
2009
2010
2011

Jumlah Penduduk (Jiwa)


6054
6019
5647
5841
6888

Sumber: BPS Samarinda

4.1.1.1 Metode Aritmatik


Proyeksi penduduk Kelurahan Karang Mumus Kecamatan Samarinda Ilir Kota Samarinda
menggunakan metode aritmatik dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut.
Tabel 4.2 Proyeksi Penduduk Kelurahan Karang Mumus Metode Aritmatik

Tahun
2007
2008
2009
2010
2011
Rata-

Jumlah Penduduk

Kenaikan

Proyeksi

(Jiwa) (P)

Penduduk (Pn)

6.054
6.019
5.647
5.841
6.888
6.096

- 35
- 372
224
1.017
169

6.054
6.263
6.472
6.681
6.890
Total

rata
Jumlah proyeksi penduduk diperoleh berdasarkan rumus:
Pn = Po + Ka (Ta To)
Ka =
PaP 1
T 2T 1

(Pn-Pr)2

(Pn-P)2

1.747
27.956
141.526
342.459
630.753
11.444.422

0
59.536
680.625
656.100
4
1.396.261

Keterangan:
Pn = Jumlah Penduduk pada tahun ke n
Po = Jumlah Penduduk Pada tahun Dasar
Tn = Tahun ke n
To = Tahun dasar
Ka = Konstanta Aritmatik
P1 = Jumlah Penduduk Yang diketahui pada tahun ke I
P2 = Jumlah Penduduk yang diketahui pada tahun terakhir
T1 = Tahun ke I yang diketahui
T2 = Tahun ke II yang diketahui
Data dari perhitungan menggunakan metode aritmatik dapat diperoleh:
a. Kenaikan rata-rata = 169
b. Rata-rata jumlah penduduk = 6.096 jiwa
c. Proyeksi Penduduk (Pn)
Ka =
=

PaP 1
T 2T 1
68886054
20112007

= 209
P2011 = P2007 + Ka (T2011 T2007)
= 6054 + 209 (2011 2007)
= 6890

d. Relasi (r) =

( PnPr )2 ni=1 ( PnP )2


i=1

n (
2
PnPr )
i= 1
( 11.444 .422 )2 (1.396 .261)2
( 11.444 .422 )2

= 0,982
e. Standar Deviasi (SD) =

( PnPr )2
i=1

n
2

( 11.444 .422 )
5

= 1.512

8000
7000
6000
5000
Jumlah Penduduk

4000

Column1

3000
2000
1000
0
2007

2008

2009

2010

2011

Gambar 4.1 Grafik Proyeksi Jumlah Penduduk dengan Metode Aritmatik

4.1.1.2 Metode Geometrik


Proyeksi penduduk Kelurahan Karang Mumus Kecamatan Samarinda Ilir Kota Samarinda
menggunakan metode geometrik dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut.
Tabel 4.3 Proyeksi Penduduk Kelurahan Karang Mumus Metode Geometrik

Tahun

Jumlah Penduduk

Rasio

(Jiwa) (P)
2007
2008
2009
2010
2011
Rata-

6.054
6.019
5.647
5.841
6.888
6.096

Proyeksi

(Pn-Pr)2

(Pn-P)2

9.286
40.429
2.839
108.758
2.607.908
2.769.220

19.089
77.211
156.438
307.565
676.838
1.237.142

Penduduk (Pn)
0
- - 0,01
- - 0,07
0,04
0,15
0,02

6.192
6.297
6.043
6.426
7.711
Total

rata
Jumlah proyeksi penduduk diperoleh berdasarkan rumus:
Pn = Po ( 1 + r )n
Keterangan:
Pn = Jumlah Penduduk pada tahun ke n
Po = Jumlah Penduduk pada tahun dasar
r = Laju pertumbuhan penduduk
n = Jumlah Interval tahun
Data dari perhitungan menggunakan metode geometrik dapat diperoleh:
a. Laju pertumbuhan penduduk = 0,02

b. Rata-rata jumlah penduduk = 6.096 jiwa


c. Proyeksi Penduduk (Pn)
P2011 = P2007 ( 1 + 0,02 )2011-2007
= 6054 ( 1 + 0,02 )4
= 7711

d. Relasi (r) =

( PnPr )2 ni=1 ( PnP )2


i=1

n (
2
PnPr )
i= 1
( 2.769 .220 )2(1.237.142)2
( 2.769.220 )2

= 0,743
e. Standar Deviasi (SD) =

( PnPr )2
i=1

( 2.769 .220 )
5

= 744
9000
8000
7000
6000
5000

Jumlah Penduduk

4000

Column1

3000
2000
1000
0
2007

2008

2009

2010

2011

Gambar 4.2 Grafik Proyeksi Jumlah Penduduk dengan Metode Geometrik

4.1.1.3 Metode Least Square


Proyeksi penduduk Kelurahan Karang Mumus Kecamatan Samarinda Ilir Kota Samarinda
menggunakan metode least square dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut.

Tabel 4.4 Proyeksi Penduduk Kelurahan Karang Mumus Metode Least Square

Tahun

2007
2008
2009
2010
2011
10.045

X2

Jumlah

XY

(Pn-Pr)2

(Pn-P)2

5.792
5.944
6.096
6.248
6.400

92.416
23.104
0
23.104
92.416

68.749
5.655
201.421
141.978
238.339

30.479

2.310.400

656.143

Proyeksi

Pendudu

Pendudu

(Jiwa)

(Pn)

(Y)
6.054
6.019 5.647
5.841 6.888

4.028.049
4.032.064
4.036.081
4.040.100
4.044.121

30.479

20.180.415

12.150.378
12.086.378
11.344.829
11.800.710
13.851.768
Total
61.233.831

Jumlah proyeksi penduduk diperoleh berdasarkan rumus:


= a + bX
Keterangan:
= Nilai variable berdasarkan garis regresi
X = Variabel Independen
a = Konstanta
b = Koefesien arah regresi linear
Adapun Persamaan a dan b adalah sebagai berikut:
X
X2
Bila koefisien b telah dihitung terlebih dahulu,
maka konstanta a dapat ditentukan dengan
2 2

x
persamaan lain, yaitu:

2
n .x

2
Dimana Y dan X masing-masing adalah
rata-rata
untuk variable Y dan X.
Y
.
x
bX
a

= Y
X . Y
a= metoden .geometrik
Data dari perhitungan menggunakan
dapat diperoleh:

n
.
X
.
Y

X
. Y

a. Koefisien persamaan
b=

x
n .
Y . x 2 X . Y
a=

10.045

5. ( 20.180.415 )
( 30.479 ) ( 20.180 .415 )( 10.045 ) ( 30.479 )

299.272
x

2
x 2
n .
n . X . Y X . Y
b=

10.045

5. ( 20.180.415 )
5 ( 10.045 ) ( 30.479 )( 10.045 ) ( 30.479 )

152

b. Rata-rata jumlah penduduk = 6.096 jiwa


c. Proyeksi Penduduk (Pn)
Y

= a + bx

P2011 = - 299.272 + (152) (2011)


= 6400

d. Relasi (r) =

( PnPr )2 ni=1 ( PnP )2


i=1

n (
2
PnPr )
i=1

( 2.310 .400 )2 (656.143)2


( 2.310 .400 )2

= 0,846
e. Standar Deviasi (SD) =

( PnPr )2
i=1

( 2.310 .400 )
5

= 679

8000
7000
6000
5000
Jumlah Penduduk

4000

Column1

3000
2000
1000
0
2007

2008

2009

2010

2011

Gambar 4.3 Grafik Proyeksi Jumlah Penduduk dengan Metode Least Square

4.1.1.4 Pemilihan Metode Proyeksi


Tabel 4.5 Hasil Perbandingan Metode yang Digunakan

Tahun
2007
2008
2009
2010
2011
r
SD

Metode
Aritmatik
6.054
6.263
6.472
6.681
6.890
0,082
1.512

Metode
Geometrik
6.192
6.297
6.043
6.426
7.711
0,743
744

Metode Least
Square
5.792
5.944
6.096
6.248
6.400
0,846
679

Tabel diatas menunjukkan nilai korelasi dan standar deviasi yang berbeda antara ketiga
metode proyeksi yang digunakan. Metode proyeksinya yang paling tepat digunakan untuk
memperkirakan jumlah penduduk pada yang akan datang adalah metode Least Square
karena metode ini memiliki nilai faktor korelasi positif dan nilai standar deviasi paling
kecil. Oleh karena itu metode Least Square dianggap metode yang paling menggambarkan

kondisi penduduk 10 tahun yang akan datang yang akan digunakan untuk memprediksi
jumlah penduduk pada periode perencanaan.
Tabel 4.6 Proyeksi Penduduk 10 Tahun Mendatang dengan Metode Least Square

Tahun

Proyeksi Penduduk (Pn)

2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
2021

6.552
6.704
6.856
7.008
7.160
7.312
7.464
7.616
7.768
7.920

Berdasarkan hasil proyeksi penduduk dengan menggunakan metode least square,


diadapatkan jumlah penduduk daerah perencanaan yang berkisar antara 6.552 jiwa s/d
7.920 jiwa.
Tabel 4.7 Pembagian Status Kota

Kategori

Status Kota

Jumlah Penduduk

Metropolitan

< 1.000.000 jiwa

II

Besar

500.000 - 1.000.000 jiwa

III

Menengah

100.000 - 500.000 jiwa

IV

Kecil

20.000 - 100.000 jiwa

Desa

< 20.000 jiwa

Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Cipta Karya

Berdasarkan data tabel 4.7 diatas, maka daerah perencanaan dengan jumlah penduduk
antara 6.552 jiwa s/d 7.920 jiwa, termasuk kedalam status kota kategori V (desa) dengan
Cakupan pelayanan 70% (SR : HU = 70 : 30).
4.1.2 Perhitungan Kebutuhan Air
4.1.2.1 Kebutuhan Air Domestik
Asumsi:
Kebutuhan air bersih per orang per hari

= 100 L/org/hari

Jumlah orang per KK

= 5 orang

Cakupan penduduk yang dapat dilayani

= 70%

Tabel 4.8 Jumlah Penduduk Terlayani oleh Sambungan Rumah (SR) dan Hidran Umum (HU)

Penduduk Total
Dilayani SR
Dilayani Hidran Umum

Tahun 2012

Tahun 2016

Tahun 2021

100
70
30

6.552
4.568
1.966

7.164
5.012
2.148

7.920
5.544
2.376

Berdasarkan asumsi kebutuhan air domestik masyarakat Kelurahan Karang Mumus yang
terlayani oleh Sambungan Rumah (SR) dan Hidran Umum (HU) diperoleh kebutuhan total
domestik pada tabel 4.9 berikut.
Tabel 4.9 Kebutuhan Air Domestik
Jenis

Stdr. Keb.

Sambungan

Air minum

SR
HU
Total

(L/org/hr)

Tahun 2012
Pendudu
Keb. Air
(L/hari)
k (Jiwa)

Tahun 2016
Pendudu
Keb. Air
(L/hari)
k (Jiwa)

Tahun 2021
Penduduk Keb. Air
(L/hari)
(Jiwa)

70
30
(L/hari)
(L/det)

4.586
321.020
1.966
58.980
380.000
4,39

5.012
350.840
8317
64.440
415.280
4,80

5.544
388.080
2.376
71.280
459.360
5,31

4.1.2.2 Kebutuhan Non Domestik


Kebutuhan air non domestik merupakan jumlah air yang dibutuhkan oleh berbagai fasilitas
sosial dan fasilitas umum yang terdapat di wilayah perencanaan. Proyeksi fasilitas
diperoleh berdasarkan standar populasi dari masing-masing fasilitas yang diperoleh dari
BPS Kota Samarinda.
1. Fasilitas Pendidikan
Asumsi:
- TK
= total murid 40
SD
= perkelas 40 murid x 6 kelas = 240 murid
SMP = perkelas 40 murid x 6 kelas = 240 murid
SMA = perkelas 40 murid x 6 kelas = 240 murid
Tabel 4.10 Perhitungan Kebutuhan Air untuk Fasilitas Pendidikan

Fasilitas
Pend.

Jml.
Murid

TK
SD
SMP
SMA

Standar
Kebutuhan air

40
10 L/murid/hari
240
10 L/murid/hari
240
10 L/murid/hari
240
10 L/murid/hari
Jumlah

Tahun 2012

Tahun 2016

Tahun 2021

Jumlah

Keb. Air

Jumlah

Keb. Air

Jumlah

Keb. Air

Fasilitas
1
3
3
5
12

400
7.200
7.200
12.000
26.800

Fasilitas
2
4
3
5
14

800
9.600
7.200
12.000
29.600

Fasilitas
2
4
4
5
15

800
9.600
9.600
12.000
32.000

2. Fasilitas Peribadatan
Tabel 4.11 Perhitungan Kebutuhan Air untuk Fasilitas Peribadatan
Fasilitas
Peribadatan

Masjid
Mushola
Gereja

Standar
Kebutuhan air

Tahun 2012
Jumlah

3000 L/hari
300 L/hari
300 L/hari
Jumlah

Fasilitas
4
3
2
9

Tahun 2016

Keb. Air

Jumlah

12.000
900
600
13.500

Fasilitas
4
3
2
9

Tahun 2021

Keb. Air

Jumlah

Keb. Air

12.000
900
600
13.500

Fasilitas
5
3
3
11

15.000
900
900
16.800

3. Fasilitas Kesehatan
Asumsi:
Dalam 1 ruangan pada Rumah Sakit terdapat 10 kamar, kapasitas 2 orang
Tabel 4.12 Perhitungan Kebutuhan Air untuk Fasilitas Kesehatan
Fasilitas
Kesehatan

Rumah Sakit
Puskesmas
Apotik

Standar
Kebutuhan air

200 L/bed/hari
1200 L/hari
200 L/hari
Jumlah

Tahun 2012

Tahun 2016

Tahun 2021

Jumlah

Keb. Air

Jumlah

Keb. Air

Jumlah

Keb. Air

Fasilitas
1
2
4
7

4.000
2.400
800
3.600

Fasilitas
1
2
4
7

4.000
2.400
800
3.600

Fasilitas
1
2
5
8

4.000
2.400
1.000
3.800

4. Fasilitas Perdagangan
Asumsi:
Dalam rumah makan terdapat 8 tempat duduk
Tabel 4.13 Perhitungan Kebutuhan Air untuk Fasilitas Kesehatan
Fasilitas

Standar
Kebutuhan air

Tahun 2012

Tahun 2016

Tahun 2021

Perdagangan
Pasar
Rumah Makan

12.000 L/hektar/hari
100 L/tempat

Jumlah

Keb. Air

Jumlah

Keb. Air

Jumlah

Keb. Air

Fasilitas
2
3

24.000
2.400

Fasilitas
2
4

24.000
3.200

Fasilitas
2
5

24.000
4.000

26.400

27.200

28.000

duduk/hari
Jumlah

5. Fasilitas Umum
Asumsi:
-

Kantor

= 1 kantor memiliki 20 pegawai

Hotel

= 1 hotel memiliki 8 kamar kapasitas 1 orang

Terminal

= Jam kerja optimal 12 jam

Tabel 4.14 Perhitungan Kebutuhan Air untuk Fasilitas Umum


Fasilitas
Umum

Kantor
Hotel
Terminal
Industri

Standar
Kebutuhan air

10 L/pegawai/hari
150 L/bed/hari
10 L/detik
0,8 L/detik/hektar
Jumlah

Tahun 2012

Tahun 2016

Tahun 2021

Jumlah

Keb. Air

Jumlah

Keb. Air

Jumlah

Keb. Air

Fasilitas
5
3
1
2
11

1.000
3.600
43.200
184.320
232.120

Fasilitas
6
3
1
2
12

1.200
3.600
43.200
184.320
232.320

Fasilitas
7
4
1
2
14

1.400
4.800
43.200
184.320
233.720

Tabel 4.15 Rekapitulasi Kebutuhan Air Non Domestik


Jenis Fasilitas

Pendidikan
Peribadatan
Kesehatan
Perdagangan
Umum
Jumlah

Tahun 2012

Tahun 2016

Tahun 2021

Jumlah

Keb. Air

Jumlah

Keb. Air

Jumlah

Keb. Air

Fasilitas
12
9
7
5
11
44

26.800
13.500
3.600
26.400
232.120
302.420

Fasilitas
14
9
7
6
12
48

29.600
13.500
3.600
27.200
232.320
306.220

Fasilitas
15
11
8
7
14
55

32.000
16.800
3.800
28.000
233.720
314.320

4.1.2.3 Kebutuhan Air Total


Tabel 4.16 Kebutuhan Air Total pada Tahun 2021

Jenis

Kebutuhan

Kebutuhan

(L/hari)

(L/detik)

Domestik
Non Domestik
Jam puncak
Asumsi Kebocoran
TOTAL

459.360
649.840
1.109.200
1.663.800
332.760
1.996.560

5,31
7,52
12,83
19,26
3,85
23,10

4.2 Perencanaan IPA dan Intake-Reservoir


4.2.1 Unit Intake
Kapasitas pengolahan (Q) = 23,10 L/detik
= 0,00231 m3/detik
Vpipa (V minimum agar tidak terjadi pengendapan): 1,5 m/detik

Maka luas penampang pipa (A):


Q
V
0,00231 m3 /detik

1,5 m/detik
0,00154 m2
A=

Diameter pipa (d) :


A x4

0,00154 m2 x 4

=0,00655 m
3.14
d=0,08 m
d 2=

V saringan = 0,2 m/detik


Q
V
0,00154 m3 /detik

0,2 m/detik
0,0077 m 2
A=

Luas kotor = 2 x A
= 2 x 0,0077 m2
= 0,00154 m2

4.2.2 Unit Sedimentasi I


4.2.2.1 Hasil Pengamatan
Tinggi Settling Tinggi kran = 1,8 m 0,3 m
= 1,5 m
Tabel 4.17 Nilai Kekeruhan Sedimentasi tipe I

Waktu Pengambilan

Kekeruhan

Sampel (menit)

(NTU)

0
5
10
15
20
25

243
269
258
236
210
170

4.2.2.2 Perhitungan
A. Fraksi
Fraksi =

Kekeruhan t
Kekeruhan awal

1. F5

269 NTU
243 NTU

= 1,10
2. F10 =

258 NTU
243 NTU
= 1,06

3. F15 =

236 NTU
243 NTU
= 0,97

4. F20 =

210 NTU
243 NTU
= 0,87

5. F25 =

170 NTU
243 NTU

= 0,70
B. Kecepatan Pengendapan (Vo)
Kecepatan Pengendapan (Vo)
1. Vo (5) =

Tinggi settling Tinggi kran


Waktu pengambilan sampel

1 ,5 m
300 detik
= 0,005 m/s

2. Vo (10) =

1,5 m
600 detik
= 0,0025 m/s

3. Vo (15) =

1,5 m
900 detik
= 0,00167 m/s

4. Vo (20) =

1,5 m
1200 detik
= 0,00125 m/s

5. Vo (25) =

1,8 m
3000 detik
= 0,001 m/s
Tabel 4.18 Nilai Fraksi dan Kecepatan Pengendapan (Vo)

Waktu Pengambilan Sampel

Kecepatan Pengendapan Vo

(menit)
5
10
15
20
25

(m/s)
0,005
0,0025
0,00167
0,00125
0,001

C. Total Removal
Fo
1
R = (1 Fo) +
V df
Vo 0
Keterangan:
R = besarnya fraksi pengendapan partikel total
Fo= fraksi partikel tersisa pada kecepatan Vo
Vo= kecepatan pengendapan (m/detik)
dF= selisih partikel tersisa

Fraksi
1,10
1,06
0,97
0,87
0,70

1.20
1.00
0.80
Fraksi tersisa

0.60
0.40
0.20
0.00
0.0000 0.0010 0.0020 0.0030 0.0040 0.0050 0.0060
Kecepatan Pengendapan (m/detik)

Gambar 4.4 Kurva Hasil Sedimentasi

Dari kurva di atas diketahui:


Vo = 0.0030 m/detik
Fo = 1,08
Dari data yang ada kemudian dicari luas daerah di atas kurva. Kurva dibagi menjadi
beberapa segmen:
1.20
1.00
0.80
Fraksi tersisa

0.60
0.40
0.20
0.00
0.0000 0.0010 0.0020 0.0030 0.0040 0.0050 0.0060
Kecepatan Pengendapan (m/detik)

Gambar 4.5 Luas Daerah Di Atas Kurva

Tabel 4.19 Perhitungan Luas Segmen


dF
V
0.08
0.0026
0.08
0.0018
0.12
0.0012
Luas segitiga

V.dF
0.000208
0.000144
0.000144
0.00035

Total

0.000846

Fo

1
V dF
Vo 0
1
0,000846
= (1 1,08) +
0,0030
= 0,202 20,2 %

R = (1 Fo) +

Percobaan laboratorium dimaksudkan untuk mendapatkan nilai parameter over flow rate
(Vo) dan waktu detensi (td) agar didapatkan persen pengendapan dengan nilai tertentu.
Untuk mendapatkan nilai dari parameter-parameter ini, maka dicari lagi persen
pengendapan dengan menggunakan nilai Vo yang berbeda, sehingga diperoleh R yang
berbeda pula.

Vo = 0,002 m/detik; dan Fo = 0,88


Tabel 4.20 Perhitungan Luas Segmen

dF
0.08

V
0.002

0.08

0.0011

Luas segitiga
Total

V.dF
0.00016
0.00008
8
0.00038
0.00062
8

Fo

1
= (1 Fo) +
V dF
Vo 0
1
0,000628
= (1 0,88) +
0, 00 20
= 0,289 28,9%

Vo = 0,001 m/detik; dan Fo = 0,76


Tabel 4.21 Perhitungan Luas Segmen

dF

Luas segitiga
Total
Fo

1
= (1 Fo) +
V dF
Vo 0

V.dF
0.0003
8
0.0003
8

= (1 0,76) +

1
0,00038
0,00 10

= 0,207 20,7%

Vo = 0,004 m/detik; dan Fo = 0,96


Tabel 4.22 Perhitungan Luas Segmen

dF
0.08
0.08

V
0.004
0.002

0.08

0.0011

V.dF
0.00032
0.00016
0.00008
8
0.00038
0.00094

Luas segitiga
Total

Fo

1
= (1 Fo) +
V dF
Vo 0
1
0,000948
= (1 0.96) +
0,00 4 0
= 0,396 39,6%

Selanjutnya dicari hubungan antara Vo dan R (dalam bentuk grafik) pada berbagai nilai
yang berbeda tersebut. Grafik ini dapat dipakai untuk mencari nilai Vo pada R tertentu.
45
40
f(x) = 437.3 x^0.44

35
Removal (%)

30
25
20
0

Kecepatan (Vo)

Gambar 4.6 Grafik Hubungan Antara Vo dan Removal

Sesuai dengan kriteria desain, over flow rate yang digunakan adalah sebesar

2,5

m3/m2/jam atau sebesar 0,00069 m3/m2/detik. Waktu detensi selama 1,5 jam, maka
kedalaman bak dapat dihitung dengan menggunakan rumus H = td x Vo
H = td x Vo
= 5.400 detik x 0,00069 m3/m2/detik
= 3,726 m
B. Perhitungan Dimensi Bak Prasedimentasi
Diketahui :
Debit (Q) = 0,00513 m3/detik
Td
= 1,5 jam = 5.400 detik
Volume bak = td x Q
= 5.400 detik x 0,00513 m3/detik
= 27,7 m3
Dimensi bak, p : l = 2 : 1
H = 2,7 m, dengan freeboard 1 m, sehingga H = 1,7 m
A = V/H
= 27,1 m3 / 2,7 m
= 10,3 m2
A= p x l
10,3 m2 = 2l x l
l = (10,3/2)0.5
l = 2,26 m
p = 4,53 m
Jadi, dimensi bak prasedimentasi adalah:
Panjang bak
= 4,53 m
Lebar bak
= 2,26 m
Kedalaman bak = 2,70 m

#Cek
Luas bak

= Q/Vo

10,3 = 0,00513/Vo
Vo = 2,007 x 10-4 m3/m2-detik
= 0,721 m3/m2-jam
4.2.3 Unit Koagulasi
Berdasarkan kriteria desain unit koagulasi pada revisi SNI 19-6774-2002 ditentukan dimensi
dan kriteria lainnya seperti pada tabel 4.23 berikut.
Tabel 4.23 Kriteria Desain Unit Koagulasi

Unit

Kriteria

Pengaduk cepat
Tipe

Hidrolis :
- Terjunan
- Saluran bersekat
- Dalam pipa bersekat
- Perubahan phasa pengaliran
Mekanis
Bilah (Blade), Pedal (Padle) kipas

Waktu pengadukan

(detik)
Nilai G/detik

Flotasi
30 120
>750

Sumber: (revisi SNI 19-6774-2002)

Data perencanaan untuk perhitungan unit koagulasi adalah sebagai berikut:


Jumlah unit,
n=1
Gradien kecepatan, G = 1000 /detik
Waktu detensi,
td = 40 detik
Percepatan gravitasi, g = 9.81 m/s2
Massa jenis air,
= 997.7 kg/m3
Viskositas absolut,
= 8.949 x 10-4 kg/m.detik
Debit,
Q = 5,13 L/detik = 0,00513 m3/detik
Konstanta pengaduk KT = 5.31 (Turbine, 4 flat blades, vaned disc)
Kecepatan putar,
n = 60 rpm = 1 rps
A. Volume Unit Koagulasi
V

= Q td
= 0,00513 m3/detik 40 detik
= 0,2052 m3

B. Dimensi Unit Koagulasi


Desain bak dibuat persegi dengan tinggi = 1.25 x lebar; panjang = lebar
= p l t = s3

0,2052 = l x l x 1.25 l
l3

= 0,2052

3
= 0,2052 m
= 0,59 m

Jadi dimensi unit koagulasi adalah:


Lebar

= 0,59 m

Panjang

= 0,59 m

Kedalaman = 0,59 m x 1.25

= 0,73 m
Freeboard = 0,5 m
Tinggi bak = 0,73 m + 0,5 m
= 1,23 m
C. Tenaga yang dibutuhkan pengaduk
P

= G2 V
= (1000 detik)2 8,949 x 10-4 kg/m.detik 0,2052 m3
= 0,184 Nm/det

D. Diameter Impeller
Digunakan vane-disc impeller 4 flat blades tanpa baffle tegak, sehingga tenaga yang
dibutuhkan adalah 75% dari tenaga untuk tangki bersekat.
Jadi KT = 0,75 x 0,81 = 0,61
P
Di

= KT n3 Di5
0,184 Nm/detik
= 5
0,61 (1 rps) 2 997,7 kg/ m 3
= 0,19 m

E. Nilai Reynolds
2

NRe

Di n
=

(0,19) 2 (1 rps) 997,7 kg/ m 3


=
8 , 949 x 10 -4 kg/m.d e t i k
= 40.246 Turbulen

Berdasarkan percobaan jar test yang dilakukan di laboratorium diperoleh hasil pengamatan
seperti pada tabel 4.24 berikut
Tabel 4.24 Hasil Jar Test Penentuan Dosis Koagulan

No
1
2
3
4

Dosis Koagulan (ml)


30
35
40
45

Kekeruhan Akhir (NTU)


16,96
16,85
19,25
18,92

pH
4,5
4,45
4,39
4,34

Endapan (ml)
40
40
36
38

Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui dosis optimum koagulan adalah 35 ml. Hal ini
dikarenakan pada penambahan koagulan dengan volume 35 ml kedalam air sampel telah

mengahsilkan nilai kekeruhan terkecil bila dibandingkan dengan hasil penambahan dari
ketiga dosis koagulan lainnya.
Dosis optimum = 35 ml Al2SO4 per 1000 ml air baku

Dosis koagulan =

dosis optimum
volume sampel x Q

35 ml
x 10 m3/s
l 000 ml
86.400 s 1.000.000 ml
x
= 0,35 m3/s x
l hari
l m3
= 3,024 x 1010 ml/hari
=

Kebutuhan koagulan padat = kebutuhan koagulan per hari x mol pengencer koagulan
= 3,024 x 1010 ml/hari x

2 gr
2 00 ml

= 302.400.000 gr/hari
= 302.400 kg/hari
Kebutuhuhan air pengencer =

kebutuhan koagulan padat


kebutuhan pengencer mol koagulan

302.400 kg /hari
(2 x10 -3 kg) / (200 ml)

302.400 kg /hari
10 -5 kg/ml

= 3,024 x 1010 ml/hari


Direncanakan digunakan 4 bak pembubuh koagulan
Vtotal
V =
n
3
0,2052 m
=
4
= 0,0513 m3
Dimensi tiap bak pembubuh koagulan, t = 1,5 m

V =
D2t
4
4V
D =
t
4 0,0513 m 3
=
(22/7) 1,5 m
= 0,208 m

4.2.4 Unit Flokulasi


Berdasarkan SNI 19-6774-2002 kriteria desain unit flokulasi seperti pada tabel 4.25.
Tabel 4.25 Kriteria Unit Flokulasi (Pengadukan Lambat)

Kriteria Umum

G (gradien
kecepatan) 1/detik
Waktu kontak (menit)
Tahap flokulasi
(buah)
Pengendali energi
Kecepatan aliran
max.(m/det)
Luas bilah/pedal
dibandingkan luas
bak (%)
Kecepatan perputaran
sumbu (rpm)
Tinggi (m)

Flokulator
Hidrolis
60

Flokulator Mekanis
Sumbu
Sumbu Vertikal
Horizontal
dengan Bilah
dengan Pedal

V = Q td

Clarifier

60 (menurun)

70 (menurun)

5
30 45

10

10

30 40

20 -40

20 100

6 10

36

24

Bukaan

Kecepatan

Kecepatan

Kecepatan

pintu/sekat

putaran

putaran

aliran air

0.9

0.9

1.8 2.7

1.5 0.5

5 20

0.1 0.2

15

8 25

(menurun)

Data perencanaan unit flokulasi (digunakan 3 kompartemen):


Debit
Q = 0,00513 m3/detik
Waktu detensi
td = 1080 detik
Gradien 1,
G = 40/detik
Gradien 2,
G = 16/detik (40% dari G1)
Gradien 3,
G = 10/detik
Percepatan gravitasi, g = 9.81 m/s2
Massa jenis air,
= 997.7 kg/m3
Viskositas absolut, = 8.949 x 10-4 kg/m.detik
Faktor friksi,
f = 0.3
Kedalaman bak
H=1m
Panjang bak
L=3m
A. Volume Unit Flokulasi

Flokulator

100 10

2 4*

= 0,00513 m3/detik 1080 detik


= 5,54 m3
B. Total Lebar Unit Flokulasi
W = V/(LxH)
= 5,54/ (3 x 1)
= 1,84 m 2 m
C. Lebar Tiap Seksi
W = Wtotal/3
= 2/3
= 0,67 m
D. Jumlah dan Jarak Antar Sekat Pada Flokulator

Kompartmen 1
n=

{[
{[

2 1
3

][ ] }

2t
HLG
(1,44+f) Q

2 8 , 949 10 -4 kg/m.d e t i k 360 detik


=
997,7 kg/ m 3 (1 , 44+0,3)
= 13 buah
Jarak antar sekat = L/n
= 3/13
= 0,23 m

Kompartmen 2
Dengan perhitungan yang sama, diperoleh:
G = 16/detik
n = 7 buah
Jarak antar sekat = 0,43 m

Kompartmen 3
Dengan perhitungan yang sama, diperoleh:
G = 10/detik
n = 5 buah
Jarak antar sekat = 0,6 m

][

(1 m) (3 m) 40/detik
0,0513 m 3 /detik

2 1
3

]}

E. Headloss Pada Unit Flokulasi

Kompartmen 1
t
G2
g
8 , 949 10 -4 kg/m.d e t i k 360 detik
=
3
2
997,7 kg/ m 9,81 m/ detik

h =

(40/detik)2

= 0,053 m

Kompartmen 2
Dengan perhitungan yang sama, diperoleh:
G = 16/detik
h = 0,008 m

Kompartmen 3
Dengan perhitungan yang sama, diperoleh:
G = 10/detik
h = 0,003 m

Total Headloss = 0,053 + 0,008 + 0,003


= 0,064 m

4.2.5 Unit Sedimentasi II


4.2.5.1 Hasil Pengamatan
Air sampel yang diambil langsung dari sumber dilakukan pengukuran dengan interval
waktu setiap 10 menit dengan menggunakan turbidity meter dan diperoleh nilai seperti
pada tabel 4.28 berikut.
Tabel 4.26 Nilai Kekeruhan

Kedalama
n (cm)
15
65
115
165
215
265

Waktu (menit)
10
160,5
155
146,5
132
116,5
~

20
111
96,25
82,05
71,1
68,35
~

30
62,05
60,45
59,9
54,9
50,7
~

40
48,4
46,3
46,2
44,45
36,7
~

50
44,15
41,9
41,85
38,85
36,6
~

Keterangan: ~ pada kedalaman 265 cm, terjadi akumulasi lumpur

60
38,65
38,25
38,05
37
29,6
~

Kekeruhan awal sebesar 219 NTU

Nilai kekeruhan yang diperoleh digunakan dalam perhitungan total removal dengan rumus,
Total Removal = 100% - [( Kekeruhan t /Kekeruhan awal ) 100%], sehingga diperoleh
nilai seperti pada tabel 4.27 berikut.
Tabel 4.27 Prosentase Total Removal (%)

Kedalama

Waktu (menit)

n (cm)
10
20
30
40
50
15
27
50
72
78
80
65
30
56
73
79
81
115
32
63
73
79
81
165
40
68
75
80
83
215
47
69
83
83
84
~
~
~
~
~
265
Nilai pada tabel di atas diplot sehingga membentuk grafik isoremoval

60
83
83
83
84
86
~

Grafik Isoremoval
15

30

30

30

30

30

30

80

80

80

80

80

80

130

130

130

130

130

130

180

180

180

180

180

180

230

230

230

230
230

65
Kedalaman
(cm)
11
5
16
5
050%

21

10
75%

80%
20

83%
30

40

86%
50

230

60

70

Waktu (menit)

Gambar 4.7 Grafik Isoremoval


4.4.5.2 Perhitungan
RT = R B +

H1
H

1. R16 = 50 +

(RC RB) +

H2
H

(RD RC) +

H3
H

(RE RD)

200
150
100
50
(75 50) +
(80 75) +
(83 80) +
(86 83)
250
250
250
250

= 80,8%

2. R26 = 75+

1 45
95
45
(80 75) +
(83 80) +
(86 83)
250
250
250

= 85,38%

3. R29 = 80+

90
40
(83 80) +
(86 83)
250
250

= 86,51 %

4. R39 = 83+

35
(86 83)
250

= 87,2 %
90
80
70
60
50
% RT 40
30
20
10
0
10

15

20

25

30

35

40

45

Waktu (menit)

Gambar 4.8 Grafik Plot Hubungan % RT dan Waktu


Untuk mendapatkan 65% pengendapan diperlukan waktu 25 menit (lihat kurva di
atas).Perhitungan surface loading, SL = H/t, dengan H adalah tingi kolom dan t adalah
waktu yang dipilih, sehingga diperoleh data seperti tabel 4.28 berikut.
Tabel 4.28 Nilai Surface Loading dan %RT
Waktu
(menit)
16
26
29
39

Rt %
80,80
85,38
86,51
87,20

Surface Loading
(m3/hari-m2)
200,84
152,64
131,59
113,68

90
80
70
60
50
% RT 40
30
20
10
0
0

50

100

150

200

250

Surface Loading (m3/m2-hari)

Gambar 4.9 Grafik Plot Hubungan % RT dan Surface Loading


Surface loading yang diperlukan untuk menghasilkan pengendapan 85% adalah 138 m3/m2hari. Berdasarkan pengolahan data dari hasil percobaan diperoleh:

td = 28 menit

Vo = 138 m3/m2-hari

Untuk desain, nilai hasil percobaan dikalikan dengan faktor scale up.

td = 28 menit 1,75 = 49 menit

Vo = 138 m3/m2-hari 0,65 = 89,7 m3/m2-hari

Berdasarkan nilai kecepatan pengendapan (Vo) yang diperoleh, maka dapat ditentukan luas
permukaan bak.
As = Q/Vo
= (443,2 m3/hari)/89,7 m3/m2-hari
= 4,9 m2
Bak berbentuk persegi, maka panjang sisi-sisinya adalah 2,2 m
Kedalaman bak = V/A
= td.Q/A
= (49 menit 1 hari/1440 menit 443,2 m3/hari)/4,9 m2
= 3,07 m
4.2.6 Unit Filtrasi
Tabel 4.29 Kriteria Desain Unit Filtrasi

Uraian

Nilai

Satuan

Kecepatan Filtrasi (Vf)


Tebal media pasir (Lp)
Tebal media kerikil (Lk)
Waktu backwash (tbw)
Tinggi air diatas media (ha)
Diameter media (m)
Ekspansi backwash
A orifice (Aor):A
A lateral (Al):Aor
A manifold (Am):Al
Jarak orifice (Wor)
Porositas
Diameter orifice (o)
Kecepatan backwash (Vbw)
Surface Loading

8-12
60-80
10-30
5-15
0,9-1,2
0,6-1,2
30-50
(0,00150,005):1
(2-4):1
(1,5-3):1
6-20
0,36-0,45
0,6-2
15-25
7-12

m/jam
cm
cm
menit
m
mm
%
Cm
Cm
m/jam
m/jam

Desain Perancangan:
1. Kriteria Perencanaan
a. Q = 0,00513 m3/detik
b. Kecepatan filtrasi V f = 10 m/ jam = 2 ,77 10 -3 m/det ik
c. Diameter pasir Dp = 0,45 mm
d. Faktor bentuk pasir = 0,82
e. Porositas media pasir = 0,45
f. Densitas = 0 ,9977 gr /cm3 = 9 97,7 kg /m 3
g. Viskositas dinamis = 0 , 8 949 10 -3 kg /m.det ik
h. Laju filtrasi secara umum = 1,35 L/detik per m2 6,77 L/detik per m2
i. Unit Filter Run Volume (UFRV) = 203225,8 L/m2 4064516,13 L/m2
j. Tinggi media filter total = 60 cm
k. Kecepatan backwash, Vbw = 15 m/jam
2. Jumlah bak saringan (n)
n = 10 . (Q)0,5
= 10 x (0,00513)0,5
= 2 buah, ditambah 1 bak cadangan menjadi 3 buah

3. Debit pada filter


1
Qf = . Q
n
1
Qf = . 0,0 0 513 m 3 /det
4
3
3
Qf = 0,012825 m /det = 46,17 m / jam /filter
4. Luas permukaan filter (A)
Q
A =
Vf
46,17 m 3 / jam
A =
10 m / jam
A = 4,617 m 2
5. Dimensi Filter
A

=p xl

4,617 m2

= 2l x l

= 1,51 m

= 3,02 m

4,617 m 2
2

6. Headloss
Nilai headloss dicari dengan menggunakan persamaan Carman-Kozeny
2
L 1 V a
h L=f '
d 3 g

( )
f =150
+ 1,75
( 1
N )
'

N =

d V a

NRe = (0,82 x 997,7 x 0,045 x 2,77 x 10-3) /(0,008949)


= 1,14
f'

= 150 [(1 045)/1,14] + 1,75


= 73,94

3 2
1,51
10,45 (2,77 x 10 )
h L=73,94
0,82 x 0,045 0,453
9,8

= 2,78
7. Media Pasir
Jumlah media pasir yang dibutuhkan pada unit filtrasi:
V=pxlxt
= 3,02 x 1,51 x 0,6
= 2,73 m3
Kebutuhan pasir silika, (berat jenis = 2.600 kg/m3):
Kebutuhan pasir silika

= 2,73 m3 2.600 kg/m3


= 7.114 kg

Jumlah kebutuhan pasir silika total = 7.114 kg 3


= 21.342 kg
8. Laju Filtrasi
Laju Filtrasi =
=

Laju Aliran
Luas permukaan filter
14,667 L/detik
2
4,617 m

= 3,18 L/detik per m2

9.

Total volume filter


Unit Filter Run Volume (UFRV) = Luas permukaan filter
=

Q td
A

14,667 L/detik 24 jam 3. 600 detik/jam


2
4,617 m

= 59.447 L/m2
10. Debit Backwash
Qbw = Vbw A
= 15 m/jam 4,617 m2

= 69,255 m3/jam
= 207 L/detik
11. Laju Backwash
Laju Backwash =
=

Debit Backwash
Luas permukaan filter
207 L/detik
4,617 m 2

= 44,83 L/detik per m2


12. Volume Kebutuhan Air Untuk Backwash
Volume air backwash

= Qbw tbw
= 207 L/s 10 menit 60 detik/menit
= 124.200 L

13. Volume unit backwash


Volume unit backwash

Volume air backwash


Luas permukaan filter

124.200 L
2
4,617 m

= 26.900 L/m2
14. Efisiensi Filter
E =
=

Re
Ro
Unit filter Run Volume Volume unit backwash
Unit filter Run Volume
2

240 .000 L/ m 26.900 L/ m


=
240 .000 L/ m 2
= 88,79%
15. Sistem Pengumpul Filtrat
A orifice =
=

1
D2
4
1
( 22/ 7 ) (1,9 cm )2
4

100%

100%

= 2,83 cm2
A orifice total : A media = 0,003 : 1
A orifice = 4,617 m2 0,003
= 0,0139 m2
= 139 cm2

Jumlah orifice, n =
=

A orifice total
A orifice
139 cm2
2,83 cm2

= 49,11 49 buah
A lateral total : A orifice total

=2:1

A lateral total = 2 139 cm2


= 278 cm2

A lateral =
=

1
D2
4
1
2
( 22/7 ) ( 3,175 cm )
4

= 7,9 cm2

Jumlah lateral =

A lateral total
A lateral

278 cm2
=
2,83 cm2
= 98,23 98 buah

Jumlah lateral per sisi manifold =

Jumlah lateral
2

98
= 2
= 49 buah

A manifold : A lateral total = 1,5 : 1


A manifold = 1,5 139 cm2
= 208,5 cm2

A manifold =

1
D2
4

D manifold =

4 A manifold

4 208,5 cm2
(22/7)

= 16,29 cm

Jumlah orifice per lateral =


=

Jumlah orifice
Jumlah lateral
49
98

= 0,5 1 buah

P lateral =

L bak D manifold
2

1 ,51 m 0,1629 m
2

= 0,673 m
Jarak orifice =
P manifold (n lateral per sisi manifold D lateral ) + (2 Wor)
n orifice per lateral
=

3,02 m ( 49 0,03715 m ) + (2 0,2 m )


1

= 0,78 m
Jarak lateral =
P manifold (n lateral per sisi manifold D lateral ) + (2 Wl)
n lateral per sisi manifold

3,02 m (49 0.03175 m ) + (2 0,05 m)


49

= 0,022 m

16. Sistem Inlet


Kecepatan dalam saluran pipa inlet = 0,5 m/detik
3

Debit tiap saluran, Qi =

0,00513 m /detik
4

= 1,28 x 10-3 m3/detik


A

Q
V

1,28 x 10 -3 m 3 /detik
0,5 m/detik

= 2,565x 10-3 m2

1
D2
4

2,565x 10-3 m2 =
D

1
( 22/7 ) D2
4

4 2,565x 10 -3 m 2
( 22/7 )

= 0,057 m
4.2.7 Unit Desinfeksi
Data perencanaan unit desinfeksi:
Debit,

Q = 0,00513 m3/detik

Konsentrasi,

K = 1%/250 ml

Waktu detensi,

td = 3 menit = 1.800 detik

Dosis optimum,

V = 0,9 ml

Sisa khlor,

Sisa = 0,25 mg/l

Kadar khlor,

C = 75%

1. Volume Unit Desinfeksi

= Q td
= 0,00513 m3/detik 1800 detik
= 9,23 m3

2. Dimensi Bak Desinfeksi (Bak Persegi)


V

= p l t = s3

3 V

3 9,23 m3

= 2,09 m
3. DPC
DPC =
=

{[
{[

] }
]

1000
V C D
250

1000
0,975% - 0,25 mg/l
250

= 245 mg/l
4. Dosis Khlor
Rs

= DPC + Sisa Khlor


= 2,45 mg/l + 025 mg/l
= 2,7 mg/l

5. Kecepatan Pembubuhan
d

Q C Rs
K

0,00513 m 3 /detik 75% 2,7 mg/l


10 mg/l

= 1,038 x 10-3 m3/detik


6. Kebutuhan Khlor
W

=Q

1
C

Rs

= 5,13 l/detik

1
0.75

2.7 mg/l

= 18,468 mg/detik
= 1,59 kg/hari
4.2.8 Unit Reservoir
Direncanakan td = 18.000 detik
Panjang : Lebar = 2 : 1
Kedalaman = 2 m
Persentase suplai air per jam = 100%/24 jam = 4.167%/jam
Tabel 4.30 Hasil Analisis Kebutuhan Per Jam

Waktu
( jam )

Suplai ke
Reservoi
r
(%)

Pemakaia
n

(I)

( II )

( III )

0--1
1--2
2--3
3--4
4--5
5--6
6--7
7--8
8--9
9--10
10--11
11--12
12--13
13--14
14--15
15--16
16--17
17--18
18--19
19--20
20--21
21--22
22--23
23--24
Total

4.167
4.167
4.167
4.167
4.167
4.167
4.167
4.167
4.167
4.167
4.167
4.167
4.167
4.167
4.167
4.167
4.167
4.167
4.167
4.167
4.167
4.167
4.167
4.167
100

0.5
0.5
0.5
1
1.25
1.4
1.35
1.25
1.15
1.15
1.15
1.25
1.25
1.25
1.05
1
1.25
1.25
1
1
1
0.5
0.5
0.5

Kebutuhan
(%)
( IV )
( II ) * ( III )
2.084
2.084
2.084
4.167
5.209
5.834
5.625
5.209
4.792
4.792
4.792
5.209
5.209
5.209
4.375
4.167
5.209
5.209
4.167
4.167
4.167
2.084
2.084
2.084
100.000

Selisih

Komulati
f Selisih

( IV ) - ( II )

(V)

-2.084
-2.084
-2.084
0.000
1.042
1.667
1.458
1.042
0.625
0.625
0.625
1.042
1.042
1.042
0.208
0.000
1.042
1.042
0.000
0.000
0.000
-2.084
-2.084
-2.084
0.000

-2.084
-4.167
-6.251
-6.251
-5.209
-3.542
-2.084
-1.042
-0.417
0.208
0.833
1.875
2.917
3.959
4.167
4.167
5.209
6.251
6.251
6.251
6.251
4.167
2.084
0.000

Perhitungan volume reservoir harus memperhitungkan debit yang masuk ke reservoir dan
debit yang keluar dari reservoir. Debit yang masuk ke reservoir adalah konstan, yaitu
sbebesar 4.167% untuk setiap jamnya, sedangkan debit yang keluar dari reservoir
bervariasi tergantung pemakaian air minum kota.
Kapasitas reservoir = surplus max defisit min
= 6,25% - (-6,25%)
= 12,5%
Vreservoir = kapasitas x debit x td
= 12,5% x 0,00513 x 18.000
= 11,54 m3 12 m3
Dimensi Reservoir
V = 12 m3
H= 2m
L= 2m
P=3m
4.2.9 Pompa distribusi
Diketahui :
Q = 0,00513 m3 / detik = 443,232 m3 / hari
v asumsi = 2 m / detik
A=

Q
0,00513
=
=0,002565 m 2
v asumsi 2

D=

4xA
=

4 x 0,002565
=0,057 m 57 mm

Berikut ini perhitungan headloss:


Panjang pipa suction = 5 m
Head statis = 0,3 m
Minor Loses :

Head akibat 1 belokan 90 ( k = 0,5 )


hf = 1

[ ] [
k. v
2g

=1

0,5 . 2
= 0,1 m
2 .9,81

Head akibat 1 gate valve ( k = 0,13 )


hf = 1

[ ] [
k. v
2g

=1

0,13 . 2
= 0,03 m
2 .9,81

Head akibat 1 basket strainer ( k = 0,95 )

[ ] [

k . v2
0,95 . 22
hf = 1
=1
= 0,19 m
2g
2 .9,81

Headloss kecepatan :
v 2 22
hv =
=
= 0,2 m
2g 2 . 9,81
Jika panjang pipa discharge diasumsikan 5 km dengan diameter sama dengan pipa suction
yaitu 200 mm
Mayor Loses :
hf =

Q
2,63
0,00155 x C x D

1,85

x L=

5,13
2,63
0,00155 x 120 x 57

1,85

x 5000= 6 ,62 m

Sehingga headloss total


= headstatis + hf suction + minor loses + headloss kecepatan + hf discharge
= 0,3 + 0,06 + 0,32 + 0,2 + 6,62 = 7,5 m

4.3 Desain Rangkaian IPA

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Berdasarkan analisis kebutuhan air bersih masyarakat Kelurahan Karang Mumus Kota
Samarinda kebutuhan domestik diperoleh sebesar 5,31 L/detik; kebutuhan non
domestik 7,52 L/detik; dan asumsi kebocoran pada jaringan sebesar 3,85 L/detik. Jadi
kebutuhan air bersih total adalah 5,13 L/detik.
2. Sistem Pengolahan Air yang direncanakan untuk kebutuhan air bersih masyarakat
Kelurahan Karang Mumus Kota Samarinda adalah sistem pengolahan lengkap yang
terdiri dari bangunan intake, sedimentasi I, koagulasi, flokulasi, sedimentasi II, filtrasi,
dan desinfeksi yang didesain sesuai kriteria perencanaan pada Revisi SNI 19-67742002.

5.2 Saran
Sebaiknya dalam perhitungan perancangan menggunakan data yang valid dan dalam
melakukan asumsi pada menggunakan angka yang sesuai dengan range yang wajar
sehingga tidak membingungkan pada hasil yang didapat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Efendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius: Yogyakarta


2. Mangku Satepu. 1997. Air Untuk Kehidupan. Grasindo: Jakarta
3. Reynold & Richards. 1995. Unit Operations and Processes in Environmental
Engineering Second Editions. ITP: USA
4. Whardana. 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan. Andi: Yogyakarta