Anda di halaman 1dari 18

Case Report Session Rotasi II

HORDEOLUM

Oleh:
Nidia Purwadianti

(0910311015)

Preseptor:
dr. Sylvia Dewi Anwar

KEPANITERAAN KLINIK ROTASI II


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PUSKESMAS LUBUK BEGALUNG
PADANG
2015

TINJAUAN PUSTAKA

I.

ANATOMI PALPEBRA
Palpebra superior dan inferior adalah modifikasi lipatan kulit yang dapat

menutup dan melindungi bola mata bagian anterior. Mekanisme berkedip


melindungi kornea dan konjungtiva dari dehidrasi. Palpebra superior berakhir
pada alis mata, palpebra inferior menyatu dengan pipi. 1,2
Palpebra terdiri atas lima bidang jaringan utama. Dari superfisial ke dalam
terdapat lapis kulit, lapis otot rangka (orbikularis okuli), jaringan areolar, jaringan
fibrosa (tarsus), dan lapis membran mukosa (konjungtiva pelpebrae).
1. Kulit
Kulit pada palpebra berbeda dari kulit bagian lain tubuh karena tipis,
longgar, dan elastis, dengan sedikit folikel rambut, tanpa lemak subkutan.
2. Musculus orbikularis okuli
Fungsi otot ini adalah untuk munutup palpebra. Serat ototnya
mengelilingi fissura palpebra secara konsentris dan meluas sedikit
melewati tepian orbita. Sebagian serat berjalan ke pipi dan dahi. Bagian
otot yang terdapat di dalam palpebra dikenal sebagai bagian pratarsal
bagian diatas septum orbitae adalah bagian praseptal. Segmen luar
palpebra disebut bagian orbita. Orbikularis okuli dipersarafi oleh nervus
facialis.
3. Jaringan areolar
Terdapat di bawah muskulus orbikularis okuli, berhubungan dengan
lapisan subaponeurotik dari kulit kepala.
4. Jaringan fibrosa (tarsus)
Struktur penyokong utama dari palpebra adalah lapis jaringan fibrosa
padat yang disebut tarsus superior dan inferior. Tarsus terdiri atas jaringan
penyokong kelopak mata dengan kelenjar Meibom (40 buah di kelopak
atas dan 20 buah di kelopak bawah).
5. Konjungtiva palpebrae

Bagian posterior palpebrae dilapisi selapis membran mukosa, konjungtiva


palpebra, yang melekat erat pada tarsus.

Gambar 1. Anatomi Palpebra


Tepian palpebra dipisahkan oleh garis kelabu (batas mukokutan) menjadi
tepian anterior dan posterior. Tepian anterior terdiri dari bulu mata, glandula Zeiss
dan Moll. Glandula Zeiss adalah modifikasi kelenjar sebasea kecil yang bermuara
dalam folikel rambut pada dasar bulu mata. Glandula Moll adalah modifikasi
kelenjar keringat yang bermuara ke dalam satu baris dekat bulu mata. Tepian
posterior berkontak dengan bola mata, dan sepanjang tepian ini terdapat muaramuara kecil dari kelenjar sebasea yang telah dimodifikasi (glandula Meibom atau
tarsal).

Punktum lakrimalis terletak pada ujung medial dari tepian posterior


palpebra. Punktum ini berfungsi menghantarkan air mata ke bawah melalui
kanalikulus terkait ke sakus lakrimalis.
Fisura palpebrae adalah ruang elips di antara kedua palpebra yang dibuka.
Fisura ini berakhir di kanthus medialis dan lateralis. Kanthus lateralis kira-kira 0,5
cm dari tepian lateral orbita dan membentuk sudut tajam. Septum orbitale adalah
fascia di belakang bagian muskularis orbikularis yang terletak di antara tepian
orbita dan tarsus dan berfungsi sebagai sawar antara palpebra orbita.
Septum orbitale superius menyatu dengan tendo dari levator palpebra
superior dan tarsus superior; septum orbitale inferius menyatu dengan tarsus
inferior.
Retraktor palpebrae berfungsi membuka palpebra. Di palpebra superior,
bagian otot rangka adalah levator palpebra superioris, yang berasal dari apeks
orbita dan berjalan ke depan dan bercabang menjadi sebuah aponeurosis dan
bagian yang lebih dalam yang mengandung serat-serat otot polos dari muskulus
Muller (tarsalis superior). Di palpebra inferior, retraktor utama adalah muskulus
rektus inferior, yang menjulurkan jaringan fibrosa untuk membungkus meuskulus
obliqus inferior dan berinsersio ke dalam batas bawah tarsus inferior dan
orbikularis okuli. Otot polos dari retraktor palpebrae disarafi oleh nervus simpatis.
Levator dan muskulus rektus inferior dipasok oleh nervus okulomotoris.
Pembuluh darah yang memperdarahi palpebrae adalah a. Palpebra.
Persarafan sensorik kelopak mata atas didapatkan dari ramus frontal nervus V
(Trigeminus), sedang kelopak mata bawah oleh cabang kedua nervus V
(Trogeminus).1,2
II.

HORDEOLUM
Definisi
Hordeolum adalah infeksi satu atau lebih kelenjar pada palpebra. Bila
kelenjar Meibom yang terkena, timbul pembengkakan yang disebut

hordeolum internum. Sedangkan hordeolum eksternum yang lebih


superfisial adalah infeksi kelenjar Zeiss atau Moll.1
Klasifikasi
Terdapat 2 bentuk hordeolum, yaitu hordeolum eksternum dan
hordeolum internum.1,2
a) Hordeolum eksternum
Hordeolum eksternum merupakan infeksi pada kelenjar Zeiss atau
Moll dengan penonjolan terutama ke daerah kulit kelopak mata.
Pada hordeolum eksternum, nanah dapat keluar dari pangkal
rambut. Tonjolannya ke arah kulit, mengikuti pergerakkan kulit
dan mengalami supurasi serta dapat pecah dengan sendirinya.

Gambar 2. Hordeolum Eksternum


b) Hordeolum internum
Hordeolum internum merupakan infeksi kelenjar Meibom yang
terletak di dalam tarsus dengan penonjolan terutama ke daerah
konjungtiva tarsal. Hordeolum internum biasanya berukuran lebih
besar dibandingkan hordeolum eksternum. Pada hordeolum
internum, benjolan menonjol ke arah konjungtiva dan tidak ikut
bergerak dengan pergerakan kulit, serta jarang mengalami supurasi
dan tidak pecah dengan sendirinya.

Gambar 3. Hordeolum Internum

Epidemiologi
Data epidemiologi internasional menyebutkan bahwa hordeolum
merupakan jenis penyakit infeksi kelopak mata yang paling sering
ditemukan pada praktik kedokteran. Prevalensi hordeolum tidak diketahui
karena pada kebanyakan kasus tidak dilaporkan. Insidensi tidak tergantung
pada ras dan jenis kelamin. Hordeolum lebih sering terjadi pada orang
dewasa dibandingkan pada anak-anak, kemungkinan karena tingkat hormon
androgenik yang lebih tinggi (dan peningkatan viskositas sebum). Namun,
hordeolum dapat terjadi pada anak-anak. Pada kebanyakan kasus,
hordeolum dapat sembuh dengan sendirinya.3,4
Etiologi
Etiologi dari hordeolum adalah infeksi oleh bakteri Staphylococcus
aureus pada 90-95% kasus hordeolum. Selain itu bisa juga disebabkan oleh
Staphylococcus epidermidis.5
Faktor Risiko
Faktor risiko hordeolum adalah sebagai berikut:
-

Riwayat hordeolum sebelumnya

Higiene dan lingkungan yang tidak bersih


Pemakaian lensa kontak dan make-up
Kesehatan atau daya tahan tubuh yang buruk
Peradangan kelopak mata kronik, seperti blefaritis
Diabetes mellitus
Hiperkolesterolemia
Kelainan kulit seperti dermatitis seboroik

Patogenesis
Patogenesis

terjadinya

hordeolum

eksternum

diawali

dengan

pembentukan pus dalam lumen kelenjar oleh infeksi Staphylococcus aureus.


Biasanya mengenai kelenjar Zeis dan Moll. Selanjutnya terjadi pengecilan
lumen dan statis hasil sekresi kelenjar. Statis ini akan mencetuskan infeksi
sekunder oleh Staphylococcus aureus. Terjadi pembentukan nanah dalam
lumen kelenjar.
Secara histologis akan tampak gambaran abses, dengan ditemukannya
sel-sel polimorfonuklear dan debris nekrotik. Hordeolum interna terjadi
akibat adanya infeksi sekunder kelenjar Meibom di lempeng tarsal.

Manifestasi klinis
Gejala-gejala yang terdapat pada hordeolum diantaranya adalah:
-

Pembengkakan pada kelopak mata

Rasa nyeri dan gatal pada kelopak mata

Perasaan tidak nyaman dan sensasi terbakar pada kelopak mata

Berdasarkan pemeriksaan, pada hordeolum didapatkan:


-

Eritema dan oedema pada kelopak mata atas ataupun bawah

Nyeri tekan di dekat pangkal bulu mata

Seperti gambaran abses kecil pada kelopak mata

Diagnosis
Diagnosis hordeolum ditegakkan berdasarkan anamnesis dari gejalagejala

dan

manifestasi

klinis

yang

ditemukan

pada

pemeriksaan

oftalmologis.

Diagnosis banding
Diagnosis banding hordeolum diantaranya adalah:
1) Kalazion
Merupakan peradangan kronik, fokal, dan steril dari kelenjar
Meibom yang tersumbat. Gejalanya terdapat peradangan ringan,
terdapat benjolan yang tidak hiperemis dan tidak nyeri.6

Gambar 4. Kalazion
2) Selulitis preseptal
Selulitis preseptal adalah infeksi pada kelopak mata dan jaringan
lunak periorbital yang ditandai dengan eritema kelopak mata akut
dan edema. Dapat disertai dengan konjungtivitis dan penurunan
visus. Infeksi bakteri ini biasanya terjadi akibat penyebaran lokal
dari sinusitis atau dakriosistitis, dari infeksi okular eksternal, atau
trauma pada kelopak mata.7

Gambar 5. Selulitis Preseptal


3) Dakriosistitis
Merupakan infeksi akut atau kronik pada saccus lakrimalis.
Pasien mengalami gejala nyeri, bengkak, dan kemerahan pada
kantus medialis. Dapat disertai demam, diplopia, konjungtivitis,
serta leukositosis.8

Gambar 6. Dakriosistitis

Penatalaksanaan
Biasanya hordeolum dapat sembuh sendiri dalam waktu 5-7 hari.3
Terapi hordeolum meliputi terapi non farmakologi, farmakologi, dan terapi
pembedahan.
a) Non farmakologi
-

Kompres hangat 4-6 kali sehari selama 15 menit tiap kalinya


untuk membantu drainase. Lakukan dengan mata tertutup.

Bersihkan kelopak mata dengan air bersih atau pun dengan


sabun atau sampo yang tidak menimbulkan iritasi, seperti
sabun bayi. Hal ini dapat mempercepat proses penyembuhan.
Lakukan dengan mata tertutup.

Jangan menekan atau menusuk hordeolum, hal ini dapat


menimbulkan infeksi yang lebih serius.

Hindari pemakaian make-up pada mata, karena kemungkinan


hal itu menjadi penyebab infeksi.

Jangan memakai lensa kontak karena dapat menyebarkan


infeksi ke kornea.

b) Farmakologi
Antibiotik diindikasikan bila dengan kompres hangat selama 24
jam tidak ada perbaikan dan bila proses peradangan menyebar ke
sekitar daerah hordeolum.
1) Antibiotik topical
Bacitracin atau tobramicin salep mata diberikan setiap 4 jam
selama 7-10 hari. Dapat juga diberikan eritromisin salep mata
untuk kasus hordeolum eksterna dan hordeolum interna yang
ringan.
2) Antibiotik sistemik
Diberikan bila terdapat tanda-tanda bakterimia atau terdapat
tanda pembesaran kelenjar limfe di preauricular. Pada kasus
hordeolum internum dengan kasus yang sedang sampai berat.
Dapat diberikan cephalexin atau dicloxacilin 500 mg per oral 4
kali sehari selama 7 hari. Bila alergi penisilin atau
cephalosporin dapat diberikan clindamycin 300 mg oral 4 kali
sehari selama 7 hari atau klaritromycin 500 mg 2 kali sehari
selama 7 hari.

c) Pembedahan
Bila dengan pengobatan tidak berespon dengan baik, maka
prosedur pembedahan mungkin diperlukan untuk membuat
drainase pada hordeolum.
Pada insisi hordeolum terlebih dahulu diberikan anestesi topikal
dengan pantokain tetes mata. Dilakukan anestesi infiltrasi dengan
prokain atau lidokain di daerah hordeolum dan dilakukan insisi
yang bila:
-

Hordeolum internum dibuat insisi pada daerah fluktuasi


pus, tegak lurus pada margo palpebra.

Hordeolum eksternum dibuat insisi sejajar dengan margo


palpebra.

Setelah dilakukan insisi, dilakukan ekskohleasi atau kuretase


seluruh isi jaringan meradang di dalam kantongnya dan kemudian
diberikan salep antibiotik.
Komplikasi
Komplikasi hordeolum diantaranya:
1) Kalazion
2) Selulitis preseptal
3) Selulitis orbital
4) Konjungtivitis
Prognosis
Prognosis umumnya baik, karena proses peradangan pada hordeolum
bisa mengalami penyembuhan dengan sendirinya. Namun pada banyak
kasus, hordeolum dapat terjadi berulang. Oleh karena itu, kebersihan daerah
mata harus tetap dijaga dan dilakukan kompres hangat pada mata yang sakit
serta terapi yang sesuai.

UNIVERSITAS ANDALAS
FAKULTAS KEDOKTERAN
KEPANITERAAN KLINIK ROTASI TAHAP II
STATUS PASIEN
1. Identitas Pasien
a. Nama/Kelamin/Umur : An. CR / Perempuan / 10 tahun
b. MR
: 4059
c. Pekerjaan/Pendidikan : Siswa sekolah dasar
d. Alamat
: Parak Laweh
2. Latar belakang sosial ekonomi demografi lingkungan keluarga :
Status perkawinan
: Belum menikah
Jumlah saudara
: 1 orang
Status ekonomi keluarga : Mampu
Kondisi rumah
:

Rumah permanen, pekarangan cukup luas, ventilasi dan pencahayaan


cukup.

Terdapat 2 buah kamar

Listrik ada

Sumber air : air PDAM

Jamban ada, di dalam rumah

Sampah dibuang ke tempat pembuangan sampah

Jumlah penghuni rumah 4 orang


Kesan : higiene dan sanitasi cukup

Kondisi lingkungan keluarga :

Pasien tinggal bersama ayah, ibu dan adik

Pasien tinggal di lingkungan yang cukup padat penduduk

Aspek psikologis di keluarga


:
Stressor dalam keluarga tidak ada
Hubungan dengan keluarga dan lingkungan sekitar baik

3. Keluhan utama : Benjolan di kelopak mata kanan sejak dua hari yang lalu.
4. Riwayat penyakit sekarang:

Bengkak di kelopak mata kanan sejak dua hari yang lalu.

Bengkak pertama kali muncul di bagian bawah mata kanan satu minggu yang
lalu, bengkak lalu mengecil dan kemudian muncul pembengkakan di kelopak
mata kanan pada dua hari yang lalu. Pasien belum memberikan obat pada
bagian mata yang sakit.

Gatal pada kelopak mata kanan.

Nyeri pada kelopak mata kanan terutama bila ditekan.

Mata kanan berair dan menjadi merah.

Demam sejak dua hari yang lalu, demam terus-menerus dan tidak tinggi.

Tidak disertai keluarnya kotoran dan tidak terdapat penglihatan kabur.

Riwayat trauma pada mata tidak ada.

5. Riwayat penyakit dahulu:

Pasien tidak pernah menderita keluhan peradangan pada kelopak mata


sebelumnya.

Pasien tidak memiliki riwayat dermatitis seboroik sebelumnya.

6. Riwayat penyakit keluarga/ atopi/ alergi :

Tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan yang sama dengan pasien.

Pasien dan keluarga tidak memiliki riwayat alergi.

7. Riwayat Makanan dan Minuman:


Makanan : 3 kali sehari, porsi sedang
Kesan

: Kualitas dan kuantitas makanan dan minuman cukup.

8. Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: CMC

Nadi

: 88x/ menit

Nafas

: 22x/menit

Suhu

: 37,50C

BB

: kg

TB

: cm

BMI

:%

Status Gizi

: Gizi cukup

Mata

:
Status Oftalmologikus

Status Oftalmikus
Visus tanpa koreksi
Visus dengan koreksi
Reflek fundus
Silia/ Supersilia

OD
Tidak dilakukan
-

OS
Tidak dilakukan
-

Madarosis (-), Trikiasis (-)

Madarosis (-), Trikiasis

Aparat lakrimalis
Konjungtiva tarsalis

Udem (-), Hiperemis (+)


Udem (-), Hiperemis (-)
Hordeolum (+)
Khalazion (-)
Sedikit hiperlakrimasi
Hiperemis (+), Papil (-),

(-)
Udem (-), Hiperemis (-)
Udem (-), Hiperemis (-)
Hordeolum (-)
Khalazion (-)
Lakrimasi normal
Hiperemis (-), Papil (-),

Konjungtiva forniks
Konjungtiva bulbi

Folikel (-)
Khemosis (-)
Hiperemis (+), Injeksi

Folikel (-)
Khemosis (-)
Hiperemis (-), Injeksi

Konjungtiva (+), Injeksi

Konjungtiva (-), Injeksi

Palpebra superior
Palpebra inferior
Margo palpebral

Sclera

Siliaris (-), Sekret (+)


Kemerahan

Siliaris (-), Sekret (-)


Putih

Kornea
Kamera okuli anterior
Iris
Pupil
Lensa
Korpus vitreum
Fundus
Papil optikus
Retina
Macula
Aa/Vv retina
Tekanan bulbus okuli
Gerakan bulbus okuli

Bening
Tidak diperiksa
Rugae (+), coklat
Bulat, diameter 3 mm,

Bening
Tidak diperiksa
Rugae (+), Coklat
Bulat, diameter 3 mm,

reflex (+)
Tidak diperiksa
Tidak diperiksa
Tidak diperiksa

reflek (+)
Tidak diperiksa
Tidak diperiksa
Tidak diperiksa

Normal palpasi
Bebas kesegala arah

Normal palpasi
Bebas kesegala arah

Telinga

: normotia, sekret -/-, serumen -/-

Hidung

: Septum deviasi (-), sekret -/-, konka hiperemis -/-

Mulut

: tonsil T1-T1 tenang, faring hiperemis (-)

Leher

: KGB tidak teraba membesar

Dada

: jantung dan paru dalam batas normal

Abdomen

: dalam batas normal

Anggota gerak

: akral hangat

9. Laboratorium Anjuran : 10. Diagnosis Kerja

: Hordeolum eksterna OD

11. Diagnosis Banding : Kalazion, selulitis preseptal


12. Manajemen
a. Non farmakologis
-

Kelopak mata dibersihkan dengan air bersih atau pun dengan sabun atau
sampo yang tidak menimbulkan iritasi, seperti sabun bayi.

Hindari paparan debu dan kotoran terutama saat mengendarai motor.

Hindari kebiasaan menggosok mata dengan tangan.

Bila benjolan timbul kembali, kompres dengan air hangat 4-6 kali sehari
selama 15 menit tiap kalinya untuk mencegah kekambuhan.

b. Farmakologis
-

Sistemik : Amoxicilline tablet 500 mg ( 3 x tab)

Topikal : Gentamycin eye drop ( 2 x gtt II )

Dinas Kesehatan Kodya Padang


Puskesmas Lubuk Begalung

13. Prognosis : Bonam


Dokter

: Nidia Purwadianti

Tanggal: 28 Mei 2015

R/ Amoxicilline tab 500 mg


3 dd tab

R/ Gentamycin eye drop fls


2 dd gtt II OD

Pro

: Chiwel Riandani

Umur : 10 tahun
Alamat : Parak Laweh

No. VIII

No. I

DAFTAR PUSTAKA
1. Vaughan DG, Asbury T, Riordan-Eva P. Lids and Lacrimal Apparatus. In:
General Ophthalmology. 18th ed. 2013. p.67-8.
2. Ilyas Sidarta, Yulianti Sri Rahayu. Ilmu Penyakit Mata. 4 th ed. Jakarta : Badan
Penerbit FKUI ; 2013.
3. Lindsley K, Nichols JJ, Dickersin K. Interventions for acute internal
hordeolum. Cochrane Database of Systematic Reviews 2013.
4. American Academy of Ophthalmology. Infectious diseases of the external
eye: clinical aspects. In:External Disease and Cornea. 8. San Francisco, CA:
LEO; 2006-2007.
5. Destafeno JJ, Kodsi SR, Primack JD. Recurrent Staphylococcus aureus
chalazia in hyperimmunoglobulinemia E (Job's) syndrome. Am J Ophthalmol.
Dec 2004;138(6):1057-8.
6. Lederman C, Miller M. Hordeola and chalazia. Pediatr Rev. Aug
1999;20(8):283-4.
7. Babar TF, Zaman M, Khan MN, Khan MD. Risk factors of preseptal and
orbital cellulitis. J Coll Physicians Surg Pak. Jan 2009;19(1):39-42.

8. Pinar-Sueiro S, Sota M, Lerchundi TX, Gibelalde A, Berasategui B, Vilar B,


et al. Dacryocystitis: Systematic Approach to Diagnosis and Therapy. Curr
Infect Dis Rep. Jan 29 2012.