Anda di halaman 1dari 7

Leptospirosis

April 21, 2012


by Medicinesia
Artikel ini sudah dibaca 15394 kali!

Oleh Herliani Dwi Putri Halim


Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh mikroorganisme
spirochaeta, genus leptospira. Secara sederhana, genus leptospira terdiri atas dua spesies
yaitu Leptospira interrogans yang patogen dan Leptospira biflexa yang non-patogen atau
saprofit. Namun, dalam klinis dan epidemiologi, L.interrogans dibagi menjadi beberapa
serogrup berdasarkan perbedaan serologis. Berdasarkan beberapa penelitian,
L.icterohaemorrhagica, L.canicola, dan L.pomona merupakan serovar L.interrogans
tersering yang menginfeksi manusia. Leptospirosis tersebar di seluruh dunia ,kecuali benua
Antartika, dengan kejadian terbanyak di daerah tropis. Daerah tropis mendukung
pertumbuhan leptospira dengan memberikan lingkungan optimal berupa suhu hangat dan
lembab, serta pH tanah dan air yang netral. Menurut International Leptospirosis Society,
Indonesia menduduki peringkat ketiga di dunia untuk mortalitas. Leptospirosis dapat
dijumpai di Lampung, Riau, Bengkulu, Sumatera Utara, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa
Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, NTB, Bali, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara,
Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur.1
Etiologi

Gb 1: Leptospira
Leptospira merupakan gram negatif dengan bentuk berbelit, tipis, fleksibel dengan panjang
515 m, dengan salah satu ujung spiral membengkok membentuk kait (hook). Meskipun
tidak memiliki flagella eskternal, leptospira sangat motil karena memiliki sepasang flagela
aksial dan tampak sebagai kokus kecil-kecil melalui mikroskop lapang gelap. Bakteri ini

bersifat aerob obligat dan butuh media khusus seperti medium Fletcher (media semisolid
terbuat dari serum) serta waktu berminggu-minggu untuk tumbuh dengan suhu 2830 C.
Leptospira dapat bertahan hidup berminggu-minggu di air. 2
Manusia dapat terinfeksi leptospira melalui kontak dengan air, tanah, dan lumpur yang telah
terkontaminasi urin binatang reservoir seperti tikus, anjing, sapi, babi, lembu, kuda, kucing,
marmot, dan binatang lainnya.1 Selain itu, dapat pula melalui kontak langsung dengan urin
binatang terinfeksi (atau cairan tubuh lainnya, kecuali saliva), meminum air terkontaminasi
leptospira, inhalasi aerosol cairan tubuh, dan transplasental.3,4 Transmisi dari manusia ke
manusia jarang terjadi. 3Tikus merupakan vektor (reservoir) utama L. icterohaemorrhagica
yang menginfeksi manusia. Dalam tubuh tikus, leptospira berkoloni dan berkembang biak di
dalam epitel tubulus ginjal tikus dan mengalir di dalam filtrat urin. Pada musim hujan,
terdapat genangan air yang terkontaminasi urin. Kulit utuh yang terekspos dengan genangan
air tersebut dalam waktu lama atau kulit yang luka, serta gigitan binatang infeksius dapat
menyebabkan leptospirosis.1 Selain kulit, leptospira juga dapat menembus membran mukosa
mata, hidung, dan mulut. Orang yang berisiko tinggi terhadap leptospirosis adalah petani,
penambang, pekerja di rumah potong hewan, nelayan, peternak, dokter hewan, dan anggota
militer yang bertugas di hutan. 1,3
Patogenesis dan Patofisiologi
Leptospira masuk dan beredar ke dalam pembuluh limfatik dan darah dalam hitungan menit.4
Setelah leptospira masuk ke dalam tubuh, terjadi respons imun baik seluler maupun humoral
(membentuk antibodi spesifik) yang bertujuan menghilangkan leptospira.1 Terdapat tujuh
antigen leptospira yaitu p32, p37, p41, p45, p48, p62, p78, yang memicu respons humoral. Di
antara semuanya, p32 merupakan antigen yang paling poten dalam menimbulkan respons
humoral, sedangkan p37 tidak selalu diekspresikan oleh strain leptospira. IgM merupakan
respons humoral utama terhadap lipopolisakarida dalam fase akut dan konvalesen.
Sedangkan, IgG bersifat spesifik terhadap protein leptospira.5 Pertumbuhan leptospira yang
lambat menyebabkan periode inkubasi berlangsung 2-26 hari (2-4 minggu) dan biasanya 314 hari.1,3,4
Fase leptospiremia berlangsung 4-7 hari dan selanjutnya leptospira hanya ditemukan di
ginjal, otak, dan bilik anterior mata.1,6 Leptospira dapat dijumpai di dalam urin mulai dari
hitungan hari sampai bertahun-tahun kemudian. Adapun leptospira yang dijumpai di urin
adalah mikroorganisme yang terisolasi dari sistem imun dan mencapai convoluted tubules.
Fase ini disebut fase leptospiruria yang berlangsung 1-4 minggu.1
Selama leptospiremia, leptospira mengeluarkan toksin yang dapat merusak endotel kapiler
menyebabkan vaskulitis. Kemudian, terdapat pula perbedaan antara derajat kerusakan
histologis dengan derajat disfungsi organ. Sebagai contoh, leptospirosis ringan menyebabkan
lesi histologis ringan di ginjal dan hati dengan kerusakan fungsional organ yang nyata. Hal
ini menunjukkan bahwa kerusakan bukan terjadi pada struktur organ, melainkan akibat
kerusakan kapiler.1 Dalam kasus yang ringan (sekitar 90%), infeksi terjadi unifasik yaitu
gejala muncul dan berkurang dalam 3-7 hari dengan pemberian antibiotik atau tanpa
intervensi sama sekali. Sedangkan dalam kasus yang sedang hingga berat, infeksi terjadi
bifasik dimana sebelum penyembuhan sebenarnya terdapat remisi transien. Pada fase kedua,
muncul gejala ikterik.4 Biasanya, tanpa intervensi, infeksi ini dapat menyebabkan kematian
pasien dalam waktu 10 hari. Angka mortalitas akibat leptospirosis sekitar 5-40% dengan
risiko tertinggi pada orang berusia tua dan imunodefisiensi.6

Organ-organ yang sering mengalami kerusakan adalah:

Ginjal. Nefrotoksin, reaksi imunologis, iskemia ginjal, hemolisis, dan invasi langsung
mikroorganisme menimbulkan kerusakan ginjal berupa interstitial nefritis dengan
infiltrasi sel mononuklear. Pada kasus yang lebih berat, terjadi gagal ginjal akibat
nekrosis akut.

Hati. Leptospira biasanya dijumpai di antara sel parenkim hati dengan manifestasi
berupa nekrosis sentilobuler fokal dengan infiltrasi sel limfosit, proliferasi Kupfer,
dan kolestasis.

Jantung. Semua lapisan otot jantung dapat terlibat. Khusus miokardium, kelainan
bersifat fokal atau difus berupa interstitial edema dengan infiltrasi sel mononuklear
dan plasma. Perdarahan fokal di miokardium dan endokarditis dapat ditemukan.
Selain itu, nekrosis berhubungan dengan infiltrasi netrofil.

Otot rangka. Mialgia disebabkan oleh invasi langsung pada leptospira dengan
perubahan berupa lokal nekrotis, vakuolisasi, dan kehilangan striata.

Mata. Terjadi uveitis akibat invasi leptospira ke bilik anterior mata dan mampu
bertahan beberapa bulan meski kadar antibodi cukup tinggi.

Susunan saraf pusat. Diduga respons antibodi memperantarai terjadinya meningitis,


khususnya meningitis aseptik, yang paling sering disebabkan oleh L.canicola dengan
reservoir anjing.

Pembuluh darah. Terjadi perdarahan intradermal (pteki) pada mukosa, permukaan


serosa, dan organ visceral akibat vaskulitis.

Weil disease. Weil disease merupakan leptospirosis berat dengan frekuensi 1-6% dari
total kasus. Gejala yang tampak berupa perdarahan, anemia, azotemia, gangguan
kesadaran, dan demam kontinyu.1

Tanda dan Gejala


Gejala klinis leptospirosis bersifat tidak spesifik sehingga sulit untuk didiagnosa.
Selain itu, beberapa orang yang terinfeksi bersifat asimptomatik.2 Leptospirosis mempunyai
dua fase yang khas yaitu:

Fase leptospiremia. Pada fase ini, leptospira dapat dijumpai di dalam darah dan
cairan serebrospinal. Gejala awal berupa sakit kepala yang parah biasanya di frontal
dan mialgia pada paha, betis, dan pinggang.1 Kemudian diikuti oleh conjuctival
suffusion bilateral, mata kemerahan sepeti konjungtivitis tanpa eksudat sel
inflamatorik. Conjunctival suffusion dengan ikterus dan injeksi konjungtiva
merupakan tanda patognomonik leptospirosis.6

Selain itu, terdapat demam dengan suhu 390C disertai menggigil, mual dan muntah disertai
mencret, ruam kulit, dan batuk non-produktif dengan hemoptisis minor. Pada 25% kasus,
dijumpai penurunan kesadaran.1,4 Terkadang terdapat perubahan psikologis dimana pasien
merasa depresi, bingung, agresif, dan psikosis.4 Fase ini berlangsung 4-7 hari dan apabila
cepat ditangani, penyembuhan total terjadi 3-6 minggu setelah onset.1
Tabel 1. Gambaran Klinis Leptospirosis1
Sering
Jarang

Demam, menggigil, sakit kepala, meningismus, anoreksia, mialgia, conjunctival


suffusion, mual, muntah, nyeri abdomen, ikterus, hepatomegali, ruam kulit, fotofobi
Pneumonitis, hemaptoe, delirium, perdarahan, diare, edema, splenomegali, artralgia,
gagal ginjal, neuritis periferal, pankeatitis, parotitis,asites, miokarditis, epididimitis,
hematemesis

Fase imun. Biasanya terjadi pada kasus berat dimana demam turun setelah 7 hari
diikuti keadaan bebas demam selama 1-3 hari. Setelah itu, demam terjadi kembali
(bifasik) dengan suhu dapat mencapai 400C disertai menggigil dan kelemahan umum.
Terdapat epsitaksis, mialgia menyeluruh, kerusakan ginjal dan hati, uremia, dan
ikterik. Sekitar 50% kasus menunjukkan gejala meningitis. Fase ini ditandai dengan
peningkatan titer antibodi (IgM) dan leptospira dapat dijumpai di urin.1,2

Gb. 3: Conjunctival Suffusion


Diagnosis
Pada anamnesis, perlu diketahui pekerjaan dan gejala atau keluhan seperti demam yang
muncul mendadak. Kemudian, pada pemeriksaan fisik, apakah dijumpai demam, bradikardi,
nyeri tekan otot, hepatomegali, dan lain-lain. Pemeriksaan ini tergolong sulit karena gejala
yang tidak spesifik sehingga untuk menegakkan diagnosis dibutuhkan pemeriksaan
laboratorium berupa:

Pemeriksaan darah rutin: leukositosis (normal atau sedikit menurun), neutrofilia, dan
laju endap darah meningkat. Trombositopenia terjadi pada 50% kasus.

Pemeriksaan urin: protein urin, leukositoria, dan cast.

Apabila terdapat kerusakan hati dan ginjal, terdapat peningkatan transaminase, BUN,
ureum, dan kreatinin.1

Kultur dapat menggunakan spesimen dari fase leptospiremia (sebelum pemberian antibiotik)
berupa urin, darah, dan cairan serebrospinal ke dalam medium Fletcher atau lainnya. Kultur
disimpan sekurangnya selama 8 minggu. Jika spesimen terkontaminasi, dapat digunakan
inokulasi hewan yang bersifat sensitif. Dalam beberapa hari, spirokaeta akan dijumpai pada
rongga peritoneal hamster atau babi dengan lesi hemoragik, yang dapat berujung pada
kematian hewan 8-14 hari setelah inokulasi.2
Serologi merupakan cara untuk mendeteksi leptospira dengan cepat dengan pemeriksaan
PCR, silver stain, ELISA, dan MAT (Microscopic Agglutination Test). MAT terdiri dari uji
carik celup, uji aglutinasi lateks, tes fiksasi komplemen, dan lain-lain.1

Pengobatan
Pengobatan suportif dapat dilakukan dengan observasi ketat untuk mendeteksi dan mengatasi
keadaan dehidrasi, hipotensi, perdarahan, dan gagal ginjal seperti menjaga keseimbangan
cairan tubuh.1 Beberapa pasien membutuhkan dialisis (akibat gagal ginjal) dan EKG (akibat
aritmia). Terapi antibiotik diberikan sebaiknya sebelum hari ke-5 sejak gejala muncul karena
terbukti efikasi obat akan menurun drastis. Sampai saat ini, penisilin masih menjadi pilihan
utama. Pasien yang alergi penisilin dapat menggunakan eritromisin.4 Pada 4-6 jam pasca
pemberian penisilin intravena, dapat muncul reaksi Jarisch-Herxherimer, yaitu peningkatan
gejala yang diduga akibat pengeluaran toksin dari mikroorganisme yang mati. Kemudian,
pada kasus yang berat dapat diberikan antibiotik berupa intravena benzil penisilin dan
perawatan di rumah sakit.1,4

Tabel 2. Pengobatan dan kemoprofilaksis leptospirosis1

Indikasi
Leptospirosis ringan

Leptospirosis sedang/berat

Kemoprofilaksis

Regimen
Doksisiklin
Ampisilin
Amoksisiklin
Penisilin G
Ampisilin
Amoksisilin
Doksisiklin

Dosis
2100 mg
4x 500-750 mg
4500 mg
1,5 juta unit/6 jam (IV)
1 gram/ 6 jam (IV)
1 gram/ 6 jam (IV)
200 mg/ minggu

Banyaknya hospes perantara dan jenis serotipe menyulitkan pencegahan leptospirosis.


Namun, bagi yang berisiko tinggi, dapat menggunakan pakaian khusus yang dapat
melindungi dari kontak dari bahan yang terkontaminasi. Dengan kata lain, hindari pajanan air
(khususnya di daerah endemik) dan hewan. Mengurangi pajanan terhadap hewan piaraan
dengan meletakkan kandang di luar serta membersihkan cairan tubuh hewan dengan
disinfeksi. Selain itu, kemoprofilaksis juga bermanfaat dalam mengurangi serangan
leptospirosis. 1,3,4

Daftar Pustaka:
1.

Zein U. Leptospirosis. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5. Jakarta: Interna
Publishing; 2010, hal.2807-11.
2.

Jawetz, Melnick, Adelberg. Spirochetes and other spiral microorganisms. In Jawetz,


Melnick, & Adelbergs Medical Microbiology. 24th ed. USA: The McGraw-Hill Companies;
2007, chapter 25.
3.

Center for Disease Control and Prevention (CDC). Leptospirosis. Diunduh dari
http://www.cdc.gov/ leptospirosis/prevention/index.html. Diakses pada 10 April 2012, pk.
17.45 WIB.
4.

The Leptospirosis Information Center. Leptospirosis. Diunduh dari


http://www.leptospirosis. org/ topic. php?t=37. Diakses pada 10 April 2012, pk. 18.00 WIB.
5.

Gueirreiro H et.al. Leptospiral proteins recognized during the humoral immune response to
leptospirosis in humans. American Society for Microbiology. 2001. 69: 49584968.
6.

Medscape. Leptospirosis. Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/220563overview# showall. Diakses pada 10 April 2012, pk.19.00 WIB.

Sumber Gambar:
Gb.1. http://intanrisna.blogspot.com/2010/04/leptospira.html. 10 April 2012, diakses pada 10
April 2012, pk. 18.30 WIB.
Gb.2.http://4.bp.blogspot.com/-R6lUuJgsGUU/TZZF0PQv1KI/AAAAAAAAALU/RQrxI70zNs/s1600/ Leptospirosis.jpg, diakses pada 10 April 2012, pk.19.00 WIB.
Gb.3. http://www.leptospirosis.org/downloads/conjunctival-suffusion-02.png, diakses pada
10 April 2012, pk.20.00 WIB.
Gb.4. http://www.thailabonline.com/diseasegeneral1/leptos1.jpg, diakses pada 10 April 2012,
pk. 21.00 WIB.