Anda di halaman 1dari 10

SEKAR ALIT

I. PENDAHULUAN
Bali memilki sejuta budaya, di masing-masing daerah yang ada di Bali. Dan karena itulah
Bali menjadi pusat tujuan wisata internasional.
Dan dengan perkembangan kepariwisataan di
Bali akan

mempengaruhi budaya Bali. Pada

zaman modern ini banyak orang yang mulai


meninggalkan budaya Bali. Contonya para
orang tua lebih banyak mengajarkan anaknya
menggunakan bahasa Indonesia tidak lagi
menggunakan Bahasa Daerah Bali. Kalau semua
orang tua seperti itu maka lambat laun bahasa Bali akan hilang, karena kita saja sebagai orang
Bali tidak mau melestarikan budaya Bali, dan siapa lagi yang kita suruh untuk melestarikannya
kalau bukan kita semua. Untuk itulah kita sebagai orang Bali setidaknnya untuk belajar tentang
Kesusastraan Bali. Karena Kesusastraan Bali sangat banyak dan luas. Contonya lagu-lagu dari
anak-anak sampai orang tua berbeda-beda jenis nyanyiannya. Dan pada saat mengiringi upacara
keagamaan juga berbeda-beda. Itu semua merupakan Budaya Bali yang perlu kita lestarikan.
Zaman sekarang ini semuanya serba canggih dan merosotnya moralitas. Pengetahuan dan
Pendidikan adalah

teman yang sejati atau teman yang pada zaman sekarang ini untuk

menghidari dampak negatif dari IPTEK. Maka dari itu dalam makalah kami ini mengambil tema
Pendidikan, karena merosotnya moral kita sebagai manusia. Karena dengan memilki
pengetahuan yang baik kita akan dapat mengikuti perkembangan IPTEK dengan baik, bukan
sebaliknya

kita di perbudak oleh IPTEK tersebut. Dan dengan mendapatkan pendidikan kita

akan mengatahui mana perbuatan yang baik dan yang salah. Dan dengan melalui pendidikan kita
bangkitkan semangat untuk melestarikan Budaya Bali khususnya kesusastraan Bali. Dan untuk
menghargai para Kawia yang cendikiawan zaman dulu yang sudah banyak membuat karya-karya
sastra yang bagus dan terkenal. Sudah menjadi kewajiban kita untuk melestarikan warisan para
Kawia itu, dengan mempelajari dan menerapkan dalam kehidupan sehari hari.
Sekar alit juga disebut macapat. Macapat dalam bahasa Jawa berarti suatu sistem untuk
membaca syair tembang atas empat-empat suku kata. Di Bali tembang macapat sering disebut
dengan pupuh yang berarti rangkaian tembang (Budiyasa dan Purnawan, 1998: 8). Pupuh di Bali

dikenal sepuluh buah sebagai macapat asli, seperti Pupuh Sinom, Pupuh Semarandana, Pupuh
Pangkur, Pupuh

Pucung,

Pupuh

Ginada,

Pupuh

Ginanti,

Pupuh

Durma,

Pupuh

Maskumambang, Pupuh Dandanggula, dan Pupuh Mijil. Pupuh yang dirangkai dalam sebuah
cerita disebutgeguritan.Akan tetapi, selanjutnya muncul beberapa pupuh baru yang berasal dari
kidung, seperti Jurudemung (Demung), Gambuh, Magatruh, Tikus Kapanting, dan Adri.
Belakangan muncul beberapa geguritan yang memiliki beberapa tema, yaitu Geguritan Tamtam,
Geguritan Basur, Geguritan Ni Sumala, Geguritan Pakang Raras, Geguritan Durma, Geguritan
Sucita, dan sebagainya. Pupuh juga memiliki beberapa variasi yang beranekaragam, sesuai
dengan alur cerita dalam geguritan, misalnya pupuh Sinom memiliki beberapa variasi
yaitu pupuh Sinom Uug Payangan(ditembangkan dalam Geguritan Uug Payangan); pupuh
Ginada memiliki variasi pupuh Ginada Basur (ditembangkan dalam Geguritan Basur); pupuh
Ginada

Jayaprana (ditembangkan

dalam

Geguritan

Jayaprana);

dan

beberapa

variasi pupuh yang lain. Selain itu, pupuh sebagai rangkaian tembang memiliki karakter yang
berbeda-beda. Karakter pupuh tersebut akan tampak ketika dilantunkan dengan ekspresi, berupa
rasa romantis, sedih, senang, berwibawa, dan sebagainya.
Seni pupuh merupakan gabungan seni sastra dan lagu sunda yang saat ini berjumlah 17 jenis
pupuh. menurut informasi dari artikel yang di tulis oleh Heri Herdini salah seorang dosen
Karawitan STSI bandung, bahwa seni pupuh Sunda pada abad 17-18 masehi mendapat pengaruh
dari Mataram. oleh karena itu mataram memiliki otoritas politik di daerah Priangan, terlepas
benar atau salah data tersebut namun pengaruh budaya Mataram telah memberikan warna
terhadap seni budaya Sunda, Khususnya seni pupuh Sunda.
Menurut beberapa informasi sejarah, pada saat itu seni pupuh banyak digunakan di kalangan
tertentu dalam hal ini kaum elit Sunda.pada zaman kolonial seni pupuh digunakan sebagai alat
surat menyurat, pidato para kaum menak namun sesui dengan beriringnya zaman atas para
kreator seniman Sunda seni pupuh dikembangkan ke beberapa jenis kesenian tradisi Sunda.
Misalnya Cianjuran, Cigawiran, Ciawian, Wawacan, Gending Karesmen, dan lain-lain.

II.SEJARAH
Pada waktu Raja Udayana memerintah di Bali sekitar abad X Masehi, masuknya budaya
Hindu ke Bali mulai agak deras sampai pada zaman Majapahit sebagai puncaknya. Pura Bukit
Darma di Kutri, Desa Buruan, Blahbatuh ini sebagai salah satu buktinya. Pura Bukit Darma hasil

budaya Hindu purbakala ini dapat dijadikan salah satu sumber untuk menelusuri proses pengaruh
Hindu dari Jawa ke Bali. Seperti apakah sejarah Pura Bukit Darma di Kutri itu?
Gunapriya Darma Patni yang roh sucinya (Dewa Pitara) distanakan di pura ini berasal dari
Jawa Timur. Permaisuri Raja Udayana ini sangat besar pengaruhnya pada sang Raja sehingga
namanya selalu disebutkan di depan nama Raja Udayana. Pelinggih utama pura ini juga disebut
Gedong Pajenengan, tempat distanakan arca Durga Mahisasura Mardini. Upacara piodalan di
pura ini setiap purnama sasih Kasa bersamaan dengan pujawali di Pura Semeru Agung di
Lumajang, Jawa Timur.
Pura ini letaknya di puncak Bukit Kutri, Desa Buruan. Di areal bawah pura ini terdapat dua
buah pura lagi. Pura yang paling bawah di pinggir jalan menuju kota Gianyar adalah Pura Puseh
Desa Adat Buruan. Di atasnya Pura PeDarman. Naik dari Pura PaDarman inilah letak Pura Bukit
Darma atau Pura Durga Kutri. Yang menarik dari keberadaan pura ini adalah distanakannya
permaisuri Raja sebagai Dewi Durga.
Sejak Raja berpermaisurikan putri dari Jawa Timur ini pengaruh kebudayaan Hindu dari
Jawa sangat kuat masuk ke Bali. Tanpa proses tersebut mungkin kebudayaan Hindu di Bali tidak
semarak dan kaya dengan nilai-nilai kehidupan yang adiluhung seperti sekarang ini. Fakta
sejarah menyatakan bahwa budaya agama Hindu masuk ke Jawa dari India telah berhasil
menjadikan Jawa sebagai Jawa yang ada nilai plusnya.
Dari Jawa budaya agama Hindu masuk ke Bali menyebabkan Bali menjadi Bali yang plus.
Agama Hindu telah berhasil menjiwai budaya setempat. Dengan demikian agama Hindu dapat
menghasilkan kebudayaan Bali yang adiluhung. Hal itu dimulai dari masuknya bahasa Jawa
Kuno ke Bali. Dengan demikian bahasa dan kesusastraan Jawa Kuno sangat kuat pengaruhnya
membentuk kebudayaan Bali seperti sekarang ini.
Ramayana, Mahabharata dan berbagai cerita dan tutur-tutur dalam bahasa Jawa Kuno masuk
dengan kuat dan halus ke Bali. Derasnya bahasa Jawa Kuno masuk ke Bali nampaknya
disebabkan kesusastraan Jawa Kuno itu muatannya adalah ajaran agama Hindu. Di lain pihak
masyarakat Bali saat itu sudah memeluk agama Hindu yang saat itu disebut agama Tirtha atau
agama Siwa Budha. Agama Tirtha tersebut sumber ajarannya adalah kitab suci Weda dan kitabkitab susastranya. Seni budaya Hindu yang berbahasa Jawa Kuno demikian digemari oleh
masyarakat Bali.
Sampai saat ini orang awam akan menganggap kesusastraan Jawa Kuno itu sudah
kesusastraan Bali. Sejak itulah Bali mengenal adanya seni sastra dari Jawa Kuno seperti Sekar
Alit, Sekar Madya dan Sekar Agung. Andaikata Raja Udayana saat itu bersikap kaku tidak

membolehkan budaya luar masuk Bali, keadaan Bali dapat dibayangkan. Mungkin orang Bali
tidak kenal geguritan, kidung maupun kekawin.
Geguritan memang berbahasa Bali pada umumnya, tetapi tembang-tembang seperti
Semarandhana, Dhurma, Sinom, Ginanti, Megatruh dll. itu semuanya berasal dari kesusastraan
Jawa Kuno atau sering disebut bahasa Kawi. Apalagi kekawin sepenuhnya adalah berbahasa
Jawa Kuno. Lewat seni sastra Jawa Kuno inilah menjadi media untuk menanamkan ajaran agama
Hindu melalui seni budaya. Dengan seni budaya itu umat Hindu di Bali dapat menyerap ajaran
agama Hindu secara halus.
Derasnya pengaruh Hindu Jawa ke Bali sangat menonjol sejak zaman Raja Udayana
memerintah Bali sampai zaman Kerajaan Majapahit berkuasa di Jawa sampai ke Bali.
Keberadaan Gunapriya Darma Patni itu dinyatakan dalam Prasasti Bebetin sbb: Aji Anak
Wungsu nira kalih Bhatari lumahing Burwan Bhatara lumahing banyu weka.
Yang dimaksud Bhatari Lumahing Burwan tiada lain adalah ibunya Anak Wungsu yaitu
Gunapriya Darma Patni yang wafat dan distanakan roh sucinya di Burwan yaitu di Bukit Kutri,
Desa Buruan. Prasasti ini berbahasa Jawa Kuno diperkirakan berada pada abad X Masehi.
Seandainya Raja saat itu tidak berpikir luas dan melakukan proteksi pada kebudayaan asli Bali
yang berlaku pada saat itu, mungkin di Bali kita tidak mengenal adanya Pesantian yang demikian
marak sampai pada saat ini.

III.

JENIS ATAU CONTOH


Terdapat 17 jenis pupuh, masing-masing memiliki sifat tersendiri dan digunakan untuk tema

cerita yang berbeda. Contohnya seperti pupuh Ginada, Ginanti, Sinom, Pucung, Semarandana,
Dandang Gula, dan lain sebagainya. Pupuh diikat oleh aturan Padadan Lingsa
a. Pada artinya banyaknya suku kata dalam suatu kalimat.
b. Lingsa artinya perubahan suara pada kalimat terakhir.
Rumus Pupuh Sinom
: 8a, 8i, 8a, 8i, 8i, 8u, 8a, 8i, 4u, 8a.
Rumus Pupuh Ginada
: 8a, 8i, 8a, 8u, 8a, 4i, 8a.
Rumus Pupuh Ginanti
: 8u, 8i, 8a, 8i, 4u, 8a, 8i.
Rumus Pupuh Adri : 10u, 6e, 8i, 8u, 8u,8a, 8u,8a, 8a.
Contoh Pupuh :
Sekar Macepat :
Sekar Macepat kalau di Bali merupakan gending (lagu) yang sangat popular.Selain di
pergunakan sebagai alat komunikasi atau ekspresi, juga untuk membentuk suatu geguritan (karya

sastra yang berwujud ceritra serta berbentuk puisi).Pada geguritan tersebut, terdiri dari
bermacam-macam pupuh yang dengan sendirinya mengandung aneka ragam sifat.
Beberapa contoh pupuh dengan sifat-sifatnya :
1. Pupuh Mijil
Untuk melahirkan perasaan.Kata Mijil berarti lahir.Maka cocoklah bila dipergunakan
untuk melahirkan suatu perasaan. Lain dari pada itu, juga untuk menguraikan suatu nasehat, serta
dapat pula diubah atau digubah untuk melukiskan seseorang dimabuk asmara.
2. Pupuh pucung :
Untuk menguraikan suatu ceritera dongeng (mytologi).Maka cocoklah untuk menyampaikan
suatu kisah (ceritra) yang mengandung falsaah agama. Karena sifat serta wataknya kendur, maka
tidaklah cocok untuk dipakai melukiskan hal-hal atau perasaan yang bersifat semangat. Contoh
pupuh pucung adalah :
Eda ngapus
Mapi-mapi pradang masuk
Subane di jalan
Ngelingkungmengkeb nyelibsib
Singit kauh
Mulih bareng ajak timpal

3. PupuhMaskumambang :
Kumambang juga lazim disebut Maskumambang. Wataknya sedih, merana.Patut untuk
melukiskan rasa sedih serta hati yang merana.Kumambang kata dasarnya (lingga basa)
kambang yang berarti menerawang.
Contoh pupuh maskumambang adalah :
Mangkin kocapIda Sang Sarosapati
Prabu ring Erlanggya
Putran Sri Erlanggya Aji

Ring wengine manyumpena

4. Pupuh Ginada
Melukiskan hati kecewa. Ginada asal katanya (lingga basa) gada mendapat inpix in
menjadi ginada yang berarti terpukul dan akhirnya tertimpa oleh kekecewaan yang dalam.
Contoh pupuh ginada adalah :
Titiang melajah ngae tipat
Ngantos titiang ngulangunin
Kewehe mekudang-kudang
Besik dua nganti telu
Meme bapa ketakonang
Keweh gati
Ento patut kaplajahang.

5. Pupuh Ginanti :
Wataknya mencerminkan rasa kasih saying atau rasa cinta. Bermanfaat juga untuk
menguraikan suatu filsafat, atau ceritra yang bernuansa asmara, atau situasi di mabuk cinta.
Contoh pupuh ginanti adalah :
Saking tuhu manah guru
Mituturin cening jani
Kaweruhe luir senjata
Ne dadi prabotan sai
Ka anggen ngaruruh merta
Seenun ceninge urip

6. Pupuh Semarandana :
Semarandana ada pula orang menyebutkan Semaradahana atau Asmaradahana (api asmara)
atau Semaranala. Maka sangat cocok untuk melukiskan hati dalam keadaan mabuk asmara.

Contoh pupuh Semarandana :


Magantung ban bok akatih
angkihane yan umpama
kadi manyuhun gedahe
matatakan batu lumbang
yana pelih magunjitan
tan urungan pacang labuh
dekdek buyar tan tuptupang
7. Pupuh Sinom :
Wataknya ramah tamah, sedap atau nyaman. Kata Sinom adalah singkatan dari Sinuam
yang artinya pucuk (Bahasa Bali = ke dapan ) yakni daun yang masih sangat muda tumbuhtumbuhan, yang sedap dipandang mata, serta enak bila dinikmati setelah dijadikan sayur. Pupuh
ini cocok bila dipakai menyampaikan suatu amanat, nasihat atau percakapan secara bersahabat
atau bersifat kekeluargaan.
Contoh dari pupuh sinom diantaranya sebagai berikut :
Warna-warna lauk empang (8-a)
Aya nu sami jeung pingping (8-i)
Pagulung patumpang-tumpang (8-a)
Ratna Rengganis ninggali (8-i)
Warnaning lauk cai (7-i)
Lalawak pating suruwuk (8-u)
Sepat pating karocepat (7-a)
Julung-julung ngajalingjing (8-i)
Sisi balong balingbing, sisi balungbang (12-a)

8. Pupuh Durma

Wataknya keras, beringas, sadis, marah atau berang.Patutlah bila dipakai melukiskan
perasaan keras, beringas, kejam atau sadis.Pupuh Durma pada umumnya dipakai melukiskan
situasi peperangan atau kekacauan.
Contoh pupuh durma yaitu :
Ikigaeg lara nira sang a jagra
ingete ring raga jati
jati nikang dharma
dharma ne mawak sunya
nyunyari telenging hati
hati kasrah
panyerahe puput nampi
9. Pupuh Pangkur
Wataknya perasaan hati memuncak.Cocok untuk melukiskan cerita yang mengandung
maksud kesungguhan.Jika itu berupa petuah atau nasihat, isinya bersungguh-sungguh. Apabila
seseorang terkena asmara, lukisan hatinya memuncak. Contoh Pupuh Pangkur yaitu :
Sujati ning sadu dharma
nyadia ngungsi rahayune mangda punggih
duluraning karma patut
idep teleb ring kadharman
rawos dabdab mupuhang kadang manyulur
anggen titi manyinahang
iwang patut mangda uning
10. Pupuh Dandang Gula :
Wataknya halus, luwes atau lemas.Oleh karena itu biasa dilukiskan untuk berkasih-kasihan,
atau dipakai menyudahi atau menutup suatu cerita. Contoh pupuh Dandang Gula :
Buin pidan manyi padi kuning
manyidayang
kadi makunyit di alas
katemu lamun idepe
sarin tanah tiang ibuk
blahan payuk bas bebeki
beruk tanah sarat pisan

dakin karna uling ilu


daluang bisa ngumbara
mangulayang
kayun ira tumas manik
jeron dewa ampurayang
IV.

ATURAN YANG MENGIKAT


Pupuh kaepah dados 10 luir ipun: sinom, semarandana, mijil, maskumambang, pucung,

pangkur, ginada, ginanti, durma lan dangdang gula.


Uger-uger Guru sajeroning Pupuh:
a. Pada Lingsa : kecap wanda (suku kata) miwah wangun suara ring panguntat sajeroning
acarik (baris) lan akeh carik sajeroning apada.
b. Guru wilang: uger-uger kecap wanda sajeroning acarik (jumlah suku kata dalam setiap
baris).
c. Guru dingdong: uger-uger wangun suara ring panguntat sajeroning acarik (banyaknya suara
vocal dalam satu baris).
d. Guru gatra: uger-uger ketah carik sajeroning apada (banyaknya baris dalam satu bait)
a.
b.
c.
d.
e.

Dalam penilaian lomba sekar alit terdapat 5 aspek yang dinilai yaitu :
Tikas : tata berbusanan
Onek-onekan :
Reng suara : suara yang sesuai dengan isi yang disampaikan
Guru dingdong :kesesuaian suara pada akhir kata
Raras : ekspresi/ penjiwaan

Ban
No.

Nama Pupuh

yak

Padalingsa
Baris ke

baris

6
8

Pucung

4u

8u

6a

8i

4u

Mijil

4u

6i

6o

10e

10i

6i

Maskumambang

12i

6a

8i

8a

8 9

10 11

12

- -

- -

- -

6
u
-

12

8u

8a

4i

8a

8i

8a

8i

8i

8i

8u

10i

4a

6a

8e

8u

8i

8a

8e

8a

8a

12a

7i

6a

7a

8i

Pangkur

8a

11i

8u

7a

Ginada

8a

8i

8a

Ginanti

8u

8i

Sinom

10

8a

Dangdang

12

Semarandana

10

Durma

8i - -

- -

- 4 8

4a

8i

8a

- -

7i - -

a
8i 8
8i
a
8
8i
a
8 8
u
5
a

u a
8 8
u a

V. KESIMPULAN

VI.

DAFTAR PUSTAKA
http://pyuliyastuti.blogspot.com/2011/12/kesusastraan-tembang-sekar-rare-alit.html
http://purnamiap.blogspot.com/2013/09/pengertian-pupuh-sekar-alit.html

Anda mungkin juga menyukai