Anda di halaman 1dari 9

PEMBAHASAN

1. Definisi
Leukimia adalah penyakit keganasan pada jaringan hematopoietik yang
ditandai dengan penggantian elemen sumsum tulang belakang normal oleh sel darah
abnormal atau sel leukemik. Salah satu manifestasi klinis dari leukemia adalah
perdarahan yang disebabkan oleh berbagai kelainan hemostasis (zelly,2013).
Leukimia ada yang bersifat akut dan kronis. Leukimia akut ditandai dengan suatu
perjalanan penyakit yang sangat cepat, mematikan dan memburuk. Sedangkan
Leukimia kronis memiliki perjalanan penyakit yang tidak begitu cepat sehingga
memiliki harapan hidup yang lebih lama, hingga lebih dari 1 tahun. Berdasarkan jenis
sel yang terlibat leukemia dibagi menjadi leukemia lymphoblastic dan leukima
mielositik. Leukimia Lymphoblastic sendiri merupakan salah satu bentuk leukemia
yang menyerang sel limpoid. Acute lymphoblastic leukemia terjadi ketika tubuh kita
menghasilkan sejumlah besar sel darah putih yang immature yang disebut limfosit.
2. Etiologi
Penyebabnya sampai saat ini belum diketahui secara pasti namun terdapat beberapa
fator yang diduga mempengaruhi kejadiannya seperti radiasi, zat-zat yang bersifat
toxin seperti benzene, obat-obat kemoterapi dan factor herediter.
3. Factor resiko
1) Radiasi dosis tinggi, radiasi dengan dosis tinggi seperti bom atom di Jepang
menyebabkan peningkatan penyakit ini
2) Kemoterapi, misalnya kemoterapi jenis alkylacting agents. Namun pemberian
kemoterapi jenis tersebut tetap boleh diberikan dengan pertimbangan rasio
manfaat- resikonya.
3) Sindrom Down dan berbagai kelainan genetic lainnya yang disebabkan oleh
kromosom dapat meningkatkan resiko kanker
4) Humn T-cell leukemia virus-1 (HTLV-1) virus tersebut menyebabkan
leukemia T-cell yang jarang ditemukan jenis virus lain yang dapat
menyebabkan adalah retrovirus dan virus leukemia feline
5) Merokok meningkatkan resiko ALL pada usia >60 tahun
6) Factor endogen seperti Ras

4. Epidemiologi
Acute Lymphoblastic Leukimia lebih sering terjadi pada anak-anak
dibandingkan dengan oraang dewasa. Puncak insidennya terjadi pada usia 3-5 tahun
dan jarang pada anak berusia lenih dari 15 tahun. ALL merupakan kanker yang paling
banyak dijumpai pada anak yaitu sekitar 25-30% dari seluruh jenis kanker pada anak.
Laki-laki lebih banyak mengalami daripada perempuan. Di Amerika Serikat kira-kira
2400 anak dan remaja menderita ALL setiap tahun. Insiden ALL terjadi jauh lebih
tinggi pada anak-anak kulit putih daripada kulit hitam.
5. Patofisiologi

6. Tanda dan gejala

a) Anemia
Penderita akan tampak cepat lelah, pucat dan bernafas cepat. Hal ini
disebabkan karena jumlah sel darah merah berkurang, akibatnya oksigen
dalam tubuh juga berkurang.
b) Perdarahan
Misalnya perdarahan pada gusi, hidung dan kulit. Hal ini terjadi karena
produksi platelet berkurang akibat dominasi produksi sel darah putih
c) Mudah terserang infeksi
Pada penderita Leukimia, sel darah putih yang terbentuk bersifat abnormal
sehingga tidak dapat berfungsi dengan semestinya. Akibatnya tubuh si
penderita rentan terkena infeksi virus atau bakteri, bahkan dengan sendirinya
akan menampakkan keluhan adanya demam, keluar cairan dari hidung dan
batuk.
d) Nyeri tulang dan persendian
Hal ini terjadi karena sumsum tulang terdesak padat oleh sel darah putih.
e) Nyeri perut
Nyeri perut juga merupakan salah satu indikasi gejala leukemia, dimana sel
leukemia dapat berkumpul pada organ ginjal, hati dan empedu yang
menyebabkan pembesaran pada organ-organ tubuh ini dan timbulah nyeri.
Nyeri perut ini dapat berdampak hilangnya nafsu makan penderita leukemia.
f) Pembengkakan kelenjar limpa
Penderita kemungkinan besar mengalami pembengkakan pada kelenjar
limpa, baik yang diibawah lengan, dada, dan lainnya. Kelenjar limpa
bertugas menyaring darah , sel leukemia dapat terkumpul disin dan
menyebakan pembengkakan.
7. Pemeriksaan diagnostic
1.
a.

Pemeriksaan Laboratorium
Hitung darah lengkap (Complete Blood Count) dan Apus Darah Tepi

Jumlah leukosit dapat normal, meningkat, atau rendah pada saat diagnosis.
Jumlah leukosit biasanya berbanding langsung dengan jumlah blas. Jumlah
leukosit neutrofil seringkali rendah

Hiperleukositosis (> 100.000/mm3) terjadi pada kira-kira 15% pasien dan


dapat melebih 200.000/mm3.

Pada umumnya terjadi anemia dan trombositopenia

Proporsi sel blast pada hitung leukosit bervariasi dari 0-100%

Hitung trombosit kurang dari 25.000/mm3

Kadar hemoglobin rendah

b.

Aspirasi dan Biopsi sumsum tulang


Apus sumsum tulang tampak hiperselular dengan limpoblast yang
sangat banyak lebih dari 90% sel berinti pada ALL dewasa. Jika sumsum
tulang seluruhnya digantikan oleh sel-sel leukemia, maka aspirasi sumsum
tulang dapat tidak berhasil, sehingga touch imprintdari jaringan biopsy
penting untuk evaluasi gambaran sitologi.
Dari pemeriksaan sumsum tulang akan ditemukan gambaran monoton,
yaitu hanya terdiri dari sel limfopoetik patologis sedangkan sistem lain
terdesak (aplasia sekunder).

c.

Sitokimia
Pada ALL, pewarnaan Sudan Black dan mieloperoksidase akan
memberikan hasil yang negative. Mieloperoksidase adalah enzim sitoplasmik
yang ditemukan pada granula primer dari precursor granulositik yang dapat
dideteksi pada sel blast AML.
Sitokimia berguna untuk membedakan precursor B dan B-ALL dari TALL. Pewarnaan fosfatase asam akan positif pada limfosit T yang gans,
sedangkan

sel

dapat

memberikan

hasil

yang

positif

pada

pewarnaan periodic acid Schiff (PAS). TdT yang diekspresikan oleh


limpoblast dapat dideteksi dengan pewarnaan imunoperoksidase atau flow
cytometry
d.

Imunofenotif (dengan sitometri arus/ Flow cytometry)


Reagen yang dipakai untuk diagnosis dan identifikasi subtype imunologi
adalah antibody terhadap:

1. Untuk

sel

precursor

B:

CD

10

(common

CD19,CD79A,CD22, cytoplasnic m-heavy chain, dan TdT


2. Untuk sel T: CD1a,CD2,CD3,CD4,CD5 ,CD7,CD8 dan TdT
3. Untuk sel B: kappa atau lambda CD19,CD20, dan CD22

ALL

antigen),

e.

Sitogenetik
Analisi sitogenetik sangat berguna karena beberapa kelainan
sitogenetik berhubungan dengan subtype ALL tertentu, dan dapat memberikan
informasi prognostik. Translokasi t(8;14), t(2;8), dan t (8;22) hanya ditemukan
pada ALL sel B, dan kelainan kromosom ini menyebabkan disregulasi dan
ekspresi yang berlebihan dari gen c-myc pada kromosom 8.

f.

Biopsi limpa
Pemeriksaan ini memeperlihatkan poriferasi sel leukemia dan sel yang
berasal dari jaringan limpa yang terdesak, seperti limposit normal, RES,
granulosit, dan pulp cell.

8. Penatalaksanaan
Tahapan terapi ALL
1. Terapi induksi remisi, tujuan eradikasi sel leukemia yang dapat dideteksi secara
morfologi dalam darah dan sumsum tulang dan kembalinya hematopoiesis normal,
biasanya terapi terdiri dai prednisone, vinkristin dan antrasiklin
2. Terapi intensifikasi atau konsolidasi, tujuan eliminasi sel leukemia residual untuuk
mencegah relaps dan juga timbulnya sel yang resisten obat
3. Profilaksis SSP, sangat penting pada pasien ALL. Sekitar 50-75% pasien ALL yang
tidak mendapat terapi ini akan mengalami relaps pada SSP. Terdiri dari kombinasi
kemoterapi intrarektal, radiasi kranial, dan pemberian sistemik obat mempunyai
bioavalibilitas SSP yang tinggi seperti metotreksat dosis tinggi dan sitarabin dosis
tinggi.
4. Pemeliharaan jangka panjang
Terapi ini terdiri dari 6-mekaptopurin dan metotreksat seminggu selama 2-3 tahun.
Protocol pengobatan menurut IDAI ada 2 macam yaitu : protocol half metothrexate
(Jakarta 1994), protocol wijaya kusuma (WK ALL 2000)
9. Pencegahan
Leukemia lymphoblastic akut tidak dapat dicegah karena kita tidak tahu
penyebabnya. Namun demikian, akan terlihat bijaksana jika ibu hamil untuk
mengkonsumsi asam folat dalam jumlah yang cukup dan juga suplemen zat besi yang
diperlukan untuk menghindari anemia. Ibu hamil juga harus hati-hati menghindari
obat yang tidak mutlak diperlukan, terutama alkohol, tembakau, ganja, narkoba, dan

stimulan seperti amfetamin. Diagnostik X-ray selama kehamilan harus dibatasi


kecuali jika benar-benar diperlukan. Meskipun banyak faktor ini tidak pasti
berhubungan dengan peningkatan kejadian leukemia pada masa kanak-kanak namun
itu semua dapat menyebabkan masalah lain pada janin. Pengetahuan pada infeksi
awal dan risiko yang menunjukkan mengenai paparan awal patogen lingkungan bisa
bermanfaat dalam mengurangi beberapa penyakit.
10. Komplikasi
Baughman, 2000 menjelaskan bahwa komplikasi yang didapatkan pada
leukimia limfoblastik akut terdiri dari:
1

Perdarahan dan infeksi merupakan penyebab utama kematian.

Pembentukan batu ginjal, anemia, dan masalah gastrointestinal.

Perdarahan beruhubungan dengan tingkat trombositopenia: terjadi dengan


petekie, ekimosis, dan hemoragi mayor jika jumlah trombosit dibawah
20.000mm3. demam atau infeksi meningkatkan perdarahan
Dan Betz dan Sowden, 2009 juga menyebutkan komplikasi lain yang dapat

ditemukan, yaitu:
1

Gagal sunsum tulang. Dalam Corwin, 2009 menjelaskan bahwa regimen terapi,
termasuk transplantasi sunusm tulang tomporer, dan peningkatan risiko
perkembangan

Infeksi. Dalam Corwin, 2009 menjelaskan bahwa peningkatan infeksi berat dapat
menyebabkan kematian.

Hepatomegali (pembesaran hati).

Splenomegali (pembesaran limpa).

Limfadenopati
pembengkakan).

(penyakit

pada

kelenjar

limfe,

biasanyaditandai

dengan

DAFTAR PUSTAKA

Bakta, I Made. 2007. Hematologi Klinis Ringkasan. Jakarta: EGC


Betz, C. L. Dan Sowden, L. A. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri, Meilya E.
(Trans). Jakarta; EGC
Corwin, E.J. 2009. Patofisiologi: Buku Saku, Subekti, N. B. (Trans). Jakarta: EGC.
Mehta, A, Hoffbrand, V. At a Glance Hematologi. Edisi II. Jakarta: EMS.2008.
Satiro, P. 2011. Leukemia Limfoblastik Akut. Universitas Diponegoro. Jurnal Artikel
Penelitian: Karakteristik Leukemia Limfoblastik Akut pada Anak di Rumah
Sakit Kanker Dharmais 2000-2008
Belson, M. (2007). Risk Faktor for Acute Leukimia in Children. A Revew,
Environment Health Perspectives, Vol. 115 (No. 1), Hal 138-143.

Permono, B., Ugrasena, IDG, Ratwita, M. (2006). Leukemia Limfoblastik Akut. Bag/
SMF Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya, diakses
dari www.pediatrik.com, didownload tanggal 19 September 2014.