Anda di halaman 1dari 6

Dampak Keberadaan Pedagang Kaki Lima Terhadap Kegiatan

Perekonomian di Kawasan Perkotaan


I.

Pendahuluan
Pertumbuhan kota-kota di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari kehadiran
sektor informal, yang secara integral telah merasuk dalam setiap kegiatan kehidupan
perkotaan. Keberadaan sektor informal tidak dapat dilepaskan dari proses
pembangunan, dimana ketidakseimbangan pembangunan desa dan kota, menarik arus
urbanisasi ke kota. Hal ini meyebabkan pertumbuhan jumlah angkatan kerja yang
tidak sejalan dengan ketersediaan lapangan kerja. Dalam situasi inilah para pencari
kerja lari ke sektor informal dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah satu usaha
sektor informal adalah pedagang kaki lima (PKL).
Pedagang kaki lima menurut Soedjana (1981) adalah sekelompok orang yang
menawarkan barang atau jasa di atas trotoar atau di pinggir jalan di sekitar pusat
perbelanjaan atau pertokoan, pasar, pusat rekreasi atau hiburan, pusat perkantoran dan
pendidikan, baik secara menetap maupun setengah menetap dan berstatus tidak resmi
atau setengah resmi serta dilakukan baik pagi, siang, sore maupun malam hari.
Dalam perkembangannya PKL menghadapkan pemerintah pada kondisi yang
dilematis, disatu sisi keberadaannya dapat menciptakan lapangan kerja, sedangkan
dilain pihak keberadaan PKL yang tidak diperhitungkan dalam perencanaan tata
ruang telah menjadi beban bagi kota. PKL beraktivitas pada ruang-ruang publik kota
tanpa mengindahkan kepentingan umum, sehingga terjadinya distorsi fungsi dari
ruang tersebut. Pada akhirnya kesesuaian tatanan fisik masa dan ruang kota dalam
menciptakan keserasian lingkungan kota sering kali tidak sejalan dengan apa yang
telah direncanakan. PKL telah memberikan dampak negatif terhadap tatanan kota,

sedangkan terhadap masyarakat keberadaan PKL selain memberikan dampak negatif


juga memberikan manfaat/dampak positif terhadap masyarakat.
Keberadaan PKL mengundang dilematis. Disatu sisi, PKL dibutuhkan karena
memiliki potensi ekonomi antara lain berupa : menciptakan kesempatan kerja,
meningkatkan

kesejahteraan

masyarakat,

meningkatkan

ouput

sektor

riil,

mengembangkan jiwa kewirausahaan dan sektor pariwisata. Bahkan jika PKL


dikelola dengan baik dan bijak dapat menjadi sumber bagi Pendapatan Asli Daerah
(PAD) daerah perkotaan. Menurut Alisjahbana, PKL juga memiliki manfaat antara
lain meningkatkan kemandirian perekonomian rakyat, menyerap tenaga kerja dalam
jumlah tidak terbatas, mendukung industri secara makro, serta meningkatkan PAD
(Alisjahbana, 2005).
Sedangkan sisi yang lain, PKL merusak estetika kota dengan kesemrawutan dan
kekumuhannya. PKL menghambat lalu lintas dan merampas hak pejalan kaki.
Keberadaannya dinilai sudah mengganggu kenyamanan dan keindahan kota, meski
disatu sisi eksistensinya tetap dibutuhkan sebagai roda penggerak perekonomian
masyarakat kecil. Selama ini PKL identik dengan penyakit kota (biang kekumuhan
dan kesemrawutan kota), menempati wilayah yang secara hukum dilarang;
mengganggu kenyamanan pengguna jalan, dan terkesan tidak peduli dengan
ketertiban lingkungan sekitar. Dalam menghadapi kondisi tersebut, terkesan
keberpihakan pemerintah selama ini hanya memperhatikan, memprioritaskan dan
mengutamakan sektor formal, ketimbang sektor informal (Budihardjo, 2003).
Perencanaan kota atau penentu kebijakan jarang menetapkan sejak awal
rencana lokasi-lokasi kegiatan sektor informal dalam rencana kota yang dibuat.
Akibatnya, para PKL, pedagang asongan, dorong-dorongan, lesehan, dan lain-lain
menempati ruang-ruang kota yang tersisa (left-over urban space) yang menimbulkan
rasa tidak aman dalam bekerja karena harus siap digusur sewaktu-waktu (Budihardjo,
2003). Permasalahan PKL juga muncul karena belum adanya ruang/tempat yang
2

mewadahi secara layak para PKL di dekat pusat-pusat kegiatan yang juga
membutuhkan keberadaan mereka (Sulistyarso, 2004).
Begitu pula penyelesaian yang bersifat represif seperti yang banyak terjadi saat
ini, hanya merugikan satu pihak dengan tidak mempertimbangkan dampak
selanjutnya. Kecenderungan penataan ruang kota di berbagai kota besar di Indonesia
saat ini terkesan bersifat represif atau lazim disebut negative planning. Lebih
banyak berwujud larangan dan aturan-aturan yang keras dan kaku, ketimbang
pembinaan dan pewadahan yang luwes dan kenyal. Karena PKL tidak lepas dari
perannya sebagai penunjang aktivitas kota, dan sifatnya yang mempengaruhi kualitas
kota maka pendekatan untuk menyelesaikan PKL adalah dengan penataan yang
mengakomodasi kebutuhan ruang PKL. Hal tersebut dirasa perlu mengingat salah
satu kegagalan pemerintah dalam melaksanakan kebijakan sektor informal adalah
sektor penataan lokasi (Alisjahbana, 2004). Dalam hal penataan lokasi, baru sekitar
30% yang telah mendapatkan lokasi usaha permanen dan sisanya sebanyak 70%
masih belum ditata, baik karena alasan keberatan dengan lokasi usaha yang ditunjuk
ataupun karena biaya sewa kios/lokasi yang dianggap masih relatif mahal.

II.

Tinjauan Pustaka

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sejarah Provinsi DKI Jakarta


Dengan nilai investasi yang akan digelontorkan Sarinah sebesar Rp1,2 triliun
untuk menjadikan Sarinah Square tempat nongkrong dan berbelanja remaja. Dari
anggaran tersebut Sarinah Square rencananya akan dibangun 40 lantai.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1

Kesimpulan

3.2

Saran

BAB IV
KESIMPULAN