Anda di halaman 1dari 10

PENGEMBANGAN PROGRAM BIMBINGAN BELAJAR BERDASARKAN

MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK SMA


(Studi Deskriptif terhadap Peserta Didik Kelas XI SMAN 1 Cimalaka Tahun
Ajaran 2012-2013)
Ari Barkah (0800876)
aribarkah.abuy@gmail.com
Pembimbing: Prof. Dr. A. Juntika N., M.Pd., Dra. S.A. Lily Nurillah, M.Pd.
ABSTRAK. Peserta didik yang memiliki motivasi rendah dalam proses belajarnya
menimbulkan perilaku-perilaku maladapted yang akan menyebabkan stagnasi
belajar yang berujung pada kejenuhan, hilangnya kreatifitas, semangat juang
rendah, bahkan terjadinya penurunan prestasi belajar. Pendekatan
menggunakan metode studi deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan alat ukur berupa kuesioner. Hasil penelitian yang dilakukan
terhadap peserta didik kelas XI SMAN 1 Cimalaka menunjukan bahwa sebagian
besar peserta didik memiliki motivasi belajar yang tinggi sebanyak 116 orang
(84,7%), 19 peserta didik (13,9%) memiliki motivasi belajar dalam kategori
sedang dan 2 orang (1,46%) peserta didik memiliki motivasi belajar yang sangat
tinggi.
Kata Kunci : Motivasi Belajar, Program Bimbingan Belajar
ABSTRACT. The students who have low motivation in the learning process
raises maladapted behaviors that will cause stagnation of learning that leads to
saturation, loss of creativity, low fighting spirit, and even a decline in learning
achievement. Research approaches using descriptive study. The data was
collected using a questionnaire measuring instruments. Results of a study of
class XI students of SMAN 1 Cimalaka show that most learners have a high
learning motivation as much as 116 students (84.7%), 19 students (13.9%) had
the motivation to learn in the categories of being and 2 students (1.46%) learners
have a very high motivation.
Keywords: Learning Motivation; Guidance of Learning Program
Pendahuluan
Belajar merupakan kebutuhan dasar setiap peserta didik untuk
mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang berharga dalam hidupnya
sebagai learning experiences agar dapat mencapai perkembangan yang optimal.
Peserta didik yang dapat mengelola diri untuk selalu menjaga motivasi belajar
agar dapat memenuhi seluruh hierarki kebutuhan yang dimilikinya akan selalu
terus berusaha untuk memenuhi setiap hierarki kebutuhan sebagai tujuan dari
proses belajar yang dilakukannya. Berbeda dengan peserta didik yang hanya
memiliki salah satu motivasi antara motivasi instrinsik atau ekstrinsik saja.
Semangat juang untuk proses belajar yang dilakukannya akan cenderung lebih
rendah dibandingkan dengan peserta didik yang memiliki kedua sumber motivasi
dalam dirinya. Hal tersebut disebabkan beberapa faktor penyebab yang telah
dikemukakan di atas sehingga akan memberikan situasi yang kurang nyaman
kepada konseli. Rasa kurang nyaman tersebut akan menurunkan motivasi

belajar yang dimiliki peserta didik. Bila peserta didik mengalami penurunan
motivasi dalam proses belajarnya, maka akan muncul perilaku-perilaku
maladapted dari peserta didik yang akan menyebabkan stagnasi dalam proses
belajar yang berujung pada kejenuhan, hilangnya kreatifitas, memiliki semangat
juang yang rendah, bahkan sampai terjadinya penurunan prestasi belajar. Hasil
studi pendahuluan yang dilakukan di SMAN 1 Cimalaka dengan menggunakan
instrumen yang sama dengan yang digunakan oleh Uray Herlina (2010) namun
disesuikan dengan jenjang pendidikan menunjukkan bahwa peserta didik masih
rendah dalam pencapaian indikator adanya dorongan untuk berusaha belajar
lebih baik, tidak mudah putus asa dalam belajar, dan usaha keingintahuan dalam
belajar. Para peserta didik lebih memilih untuk bermain bersama temantemannya daripada belajar baik mandiri maupun berkelompok bersama temanteman, sehingga diperlukan layanan bimbingan yang mampu dan efektif untuk
meningkatkan motivasi belajar tersebut melalui bimbingan belajar.
Berdasarkan masalah yang sudah dipaparkan, dipandang perlu dilakukan
penelitian mengenai motivasi belajar yang merujuk kepada teori jenjang
kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow, sebagai dasar
pengembangan program bimbingan dan belajar untuk meningkatkan motivasi
belajar peserta didik Sekolah Menengah Atas (SMA).
Metodologi Penelitian
Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif. Peneliti
menggunakan metode penelitian deskriptif yang akan mendeskripsikan motivasi
belajar yang dimiliki oleh peserta didik SMA khususnya peserta didik SMAN 1
Cimalaka sebagai dasar untuk pengembangan program bimbingan belajar untuk
meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Teknik pengumpulan data yang
digunakan adalah penyebaran instrumen untuk mendapatkan gambaran
karakteristik motivasi belajar yang dimiliki oleh peserta didik kelas XI SMAN 1
Cimalaka Tahun Ajaran 2012-2013. Kisi-kisi instrumen berdasarkan indikator
yang memuat aspek pemenuhan kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman,
kebutuhan pengakuan dan kasih sayang, kebutuhan penghargaan, kebutuhan
kognitif, kebutuhan estetika dan kebutuhan aktualisasi diri. Perumusan kisi-kisi
instrumen disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 1
Kisi-Kisi Instrumen Motivasi Belajar

No
.
1

Aspek
Kebutuhan
Fisiologis

Kebutuhan
Rasa Aman

Indikator
a. Dapat belajar dengan baik
pada saat kebutuhan fisik
terpenuhi.
b. Adanya dorongan dan
kebutuhan dalam belajar
c. Tidak mudah putus asa
dalam belajar
a. Memiliki usaha untuk
menyelesaikan masalah
dengan kemampuan sendiri

Pernyataan
+
1

3, 4,
5, 7
8,9,
10
13,
15,

11,12

14, 16

Kebutuhan
pengakuan
dan kasih
sayang

Kebutuhan
Penghargaan

Kebutuhan
Kognitif

Kebutuhan
Estetika

Kebutuhan
Aktualisasi
diri

b. Memiliki dorongan belajar


yang lebih baik dari
sebelumnya
a. Dorongan untuk diterima
oleh orang lain di kelas
dalam belajar.

17,
21,
22

b. Kemampuan peserta didik


untuk mengelola emosi
dalam proses belajar
dengan menerima hasil
belajar.
a. Kemampuan menghargai
diri sendiri dalam proses
dan hasil belajar
b. Kemampuan untuk bersaing
dalam belajar dengan orang
lain
c. Adanya penghargaan
dalam belajar
a. Peserta didik aktif bertanya
pada proses pembelajaran

23,
24

25,
26

27,
28,
29
30,
31,
33,
34,
35
36

b. Memiliki minat yang tinggi


dalam belajar
c. Memiliki konsentrasi pada
saat belajar
d. Keinginan menambah
pengetahuan
a. Menyukai keindahan dan
kerapihan dalam proses
belajar
b. Menciptakan kegiatan yang
menarik dalam belajar
c. Mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler secara aktif
sesuai dengan minat dan
bakat.
a. Adanya hasrat dan
keinginan untuk berhasil
b. Adanya harapan dan citacita masa depan
c. Mampu menunjukkan
prestasi yang terbaik

18, 19,
20,

32

3
3

37, 38,

41

43,44

45,
46,
47
50,

48, 49

51

52,
53

54, 55,
56,

57,
58,
60,
61
62,
63,
64

59

39,
40,
42

2
1

Jumlah Item

42

22

64

Uji validitas dilakukan dengan menggunakan Microsoft Office Excel 2007.


Pengujian validitas alat pengumpul data menggunakan rumus korelasi pearson
product-moment dengan skor mentah. Pengujian validitas butir dilakukan
terhadap 98 butir pernyataan dengan jumlah subjek 30 peserta didik, dari 98 butir
pernyataan diperoleh 64 butir pernyataan yang valid dan 34 butir pernyataan
yang tidak valid dengan korelasi rata-rata 2,06. Derajat konsistensi diperoleh
sebagai proporsi varian skor perolehan subjek dengan memanfaatkan program
Microsoft Office Excel 2007. Adapun rumus yang digunakan dengan metode
metode belah dua (split-half method) dimana jumlah butir pernyataan dibagi dua
menjadi jumlah pernyataan nomor ganjil dan jumlah pernyataan nomor genap
dengan menggunakan rumus Spearmen-Brown Hasil uji reliabilitas menunjukan
nilai reliabilitas instrumen (rll) sebesar 0,960 dengan tingkat kepercayaan 95%.
Artinya tingkat korelasi atau derajat keterandalan tinggi, yang menunjukkan
bahwa instrumen yang digunakan sudah baik dan dapat dipercaya sebagai alat
pengumpul data. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Arikunto (2006, 276)
dalam kategori tingkat reliabel berikut.
0,00 0,199 derajat keterandalan sangat rendah
0,20 0,399 derajat keterandalan rendah
0,40 0,599 derajat keterandalan cukup
0,60 0,799 derajat keterandalan tinggi
0,80 1,00 derajat keterandalan sangat tinggi
Bentuk instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebgai
berikut:
Tabel 2
Pernyataan Instrumen Motivasi Belajar

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Pernyataan
Saya mampu menerima materi pelajaran dengan baik meskipun kondisi
cuaca kurang mendukung.
Saya mampu belajar dengan baik ketika keadaan tubuh sehat.
Saya berusaha untuk tidak bolos sekolah.
Saya mengalokasikan waktu untuk belajar.
Saya belajar secara teratur di rumah agar bisa memahami setiap pelajaran.
Saya belajar pada saat akan menghadapi ulangan saja.
Saya ingin menjadi juara kelas.
Saya berusaha menyelesaikan PR atau tugas yang diberikan oleh guru,
meskipun sulit.
Saya merasa PR atau tugas yang diberikan oleh guru merupakan tantangan
yang harus saya selesaikan.
Saya memilih tetap mengerjakan tugas meski hari sudah larut malam.
Saya malas belajar apabila memiliki sarana belajar yang tidak lengkap di
rumah.
Saya malas belajar bila kurang tersedia buku-buku pelajaran yang lengkap.
Saya berusaha dulu belajar memecahkan masalah yang dihadapi sebelum
meminta bantuan pada orang lain.
Saya sering mencontek pada saat mengerjakan tugas yang sulit.

15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43

Saya berusaha mengerjakan sendiri ketika mengerjakan soal ulangan.


Saya merasa kurang mampu dapat memecahkan masalah sendiri, sehingga
sering minta bantuan pada orang lain.
Saya merasa tenang apabila tugas atau PR belum diselesaikan.
Saya berusaha belajar lebih giat karena takut tidak naik kelas.
Saya mengerjakan tugas pada saat akhir-akhir tugas akan dikumpulkan.
Saya lebih memilih untuk bermain daripada mengerjakan tugas.
Saya senang membantu teman yang memerlukan bantuan pada saat
belajar.
Saya sedih bila orang tua marah karena nilai saya tidak sesuai dengan
harapan.
Saya bersikap tenang jika terlibat perselisihan dengan teman.
Saya memilih diam daripada marah-marah kepada teman apabila teman
melakukan kesalahan.
Saya lebih senang mengerjakan tugas atau PR sendiri walaupun teman
memberi contekan.
Saya semakin rajin belajar jika hasil ulangan saya
mendapat nilai yang memuaskan.
Saya semakin rajin belajar jika ada teman yang berusaha lebih baik daripada
saya.
Saya merasa malu kalau dalam menyelesaikan tugas dibantu oleh orang lain
padahal saya mampu menyelesaikannya.
Saya belajar dengan giat agar dapat bersaing dengan teman-teman di kelas.
Saya merasa senang bila diberi pertanyaan oleh guru dan mampu
menjawabnya dengan baik.
Orang tua bangga bila nilai ulangan saya baik.
Saya akan marah bila orang tua tidak memberikan hadiah padahal saya
sudah belajar dengan giat.
Saya bertanya kepada guru bila ada materi pelajaran yang kurang dipahami.
Saya memperhatikan penjelasan guru pada saat menjelaskan materi
pelajaran.
Saya merasa ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan dari guru.
Saya berusaha mencari informasi belajar melalui internet.
Saya merasa cukup belajar dengan satu buku wajib.
Setiap guru menjelaskan materi pelajaran, saya asyik sendiri dengan tugas
lain.
Saya dapat langsung menerima materi pelajaran yang djelaskan oleh guru di
kelas.
Saya dapat menjawab dengan benar ketika guru bertanya mengenai materi
pelajaran yang dijelakan sebelumnya.
Saya sulit menerima materi pelajaran ketika guru menjelaskan di depan
kelas.
Saya sering menanyakan hal-hal yang baru saya temukan kepada orang
lain.
Saya hanya mempelajari mata pelajaran yang saya sukai.

44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64

Saya kurang tertarik kepada hal-hal baru mengenai pengetahuan yang dapat
menunjang pemahaman saya.
Saya berusaha membuat catatan serapih mungkin.
Saya merasa nyaman saat sekolah menggunakan pakaian yang rapih dan
bersih.
Saya memberi tanda pada pokok-pokok materi dengan menggunakan stabilo
atau pulpen berwarna.
Catatan yang saya buat berupa corat-coretan (kurang rapih)
Saya membuat catatan materi pelajaran seenaknya.
Saya semangat saat guru menjelaskan materi pelajaran dengan jelas dan
mudah dimengerti.
Saya merasa malas untuk memperhatikan guru yang sedang menjelaskan
materi pelajaran dengan sangat serius.
Saya senang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan bakat
yang dimiliki.
Saya mengikuti kegiatan latihan ekstrakurikuler sejak mulai hingga latihan
selesai.
Saya memilih pulang daripada mengikuti ekstrakurikuler.
Saya sibuk dengan kegiatan sendiri saat orang lain sedang latihan
ekstrakulikuler.
Saya cukup menonton teman-teman latihan ekstrakurikuler untuk mewakili
kehadiran saya.
Saya semangat dalam belajar agar mampu menjadi
siswa yang berprestasi tinggi.
Saya mempelajari terlebih dahulu materi pelajaran yang akan dijelaskan
esok hari.
Saya merasa cukup dengan menerima pelajaran pada saat di sekolah.
Saya berusaha membuat tugas atau PR labih baik dari sebelumnya agar nilai
yang didapat semakin meningkat.
Saya belajar secara teratur di rumah agar bisa memahami setiap pelajaran.
Saya rajin belajar karena saya mempunyai cita-cita menjadi orang yang
sukses di masa depan.
Saya berusaha belajar lebih rajin agar dapat melanjutkan sampai ke
perguruan tinggi.
Saya berusaha dengan sungguh-sunguh dalam mengerjakan tugas yang
diberikan oleh guru.
Pengukuran instrumen dalam penelitian ini disusun dalam skala ordinal
dengan menggunakan skala Likert. Alternatif jawaban instrumen ini terdiri atas
lima alternatif jawaban seabgaimana yang dipaparkan pada tabel 2.
Tabel 3
Pola skor Alternatif Respons Instrumen
Positive
Negative

SS
5
1

S
4
2

R
3
3

TS
2
4

STS
1
5

Hasil penelitian diklasifikasikan ke dalam lima kategori sebagai berikut.


Tabel 4
Karakteristik Motivasi Belajar
Rentang
64-115
116-167
168-219
220-271
272-323

Karakteristik
Sangat Rendah (SR)
Rendah (R)
Sedang (S)
Tinggi (T)
Sangat Tinggi (ST)

Langkah-langkah yang dilakukan dalam penentuan kriteria karakteristik


motivasi belajar peserta didik secara keseluruhan adalah sebegai berikut.
1. Menentukan nilai tertinggi dan terendah dari skor ideal.
Nilai tertinggi: skor maksimal x jumlah pernyataan = 5 x 64 = 320.
Nilai terendah: nilai minimal x jumlah pernyataan = 1 x 64 = 64.
2. Menentukan besar rentang antar kelas dengan menghitung selisih antara
skor tertinggi dengan skor terendah lalu dibagi 5: (320-64)/5 = 51,2.
Sehingga diambil rentang kelas sebanyak 51.
Hasil
Gambaran umum motivasi belajar peserta didik kelas XI SMAN 1
Cimalaka divisualisakan dalam grafik sebagai berikut.
Grafik 1
Gambaran Motivasi Belajar Peserta Didik Kelas XI SMAN 1 Cimalaka
Kondisi objektif motivasi belajar peserta didik kelas XI SMAN 1 Cimalaka
dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 137 orang peserta didik dengan skor
minimal 64 dan skor maksimal 320 dengan rentang 51. Secara umum, tidak ada
peserta didik yang termasuk dalam motivasi belajar kategori sangat rendah dan
rendah, tidak ada peserta didik yang masih menjadikan belajar sebagai suatu
beban dan sebagai tanggung jawab saja. Peserta didik yang berada pada
kategori sedang terdapat 19 peserta didik (13,9%) yang berarti peserta didik
memiliki motivasi belajar yang cukup untuk melakukan proses belajar sebagai
pemenuhan setiap jenjang kebutuhannya, kategori tinggi sebanyak 116 orang
(84,7%) yang berarti peserta didik memiliki motivasi yang tinggi dalam proses
belajar sebagai pemenuhan setiap jenjang kebutuhan, sedangkan peserta didik
yang termasuk dalam kategori sangat tinggi terdapat 2 orang (1,46%) yang
berarti peserta didik memiliki motivasi yang sangat tinggi dalam proses belajar
sebagai pemenuhan kebutuhan untuk dapat mengaktualisasikan diri dalam
bentuk meraih prestasi belajar yang maksimal. Data pencapaian setiap aspek
motivasi belajar peserta didik divisualisasikan pada grafik 2 berikut.
Grafik 2
Gambaran Motivasi Belajar Berdasarkan Pencapaian Aspek Motivasi
Belajar
Grafik 2 memvisualisasikan gambaran motivasi belajar peserta didik
berdasarkan aspek-aspek hierarki kebutuhan dalam proses belajar yang dimiliki
oleh peserta didik. Aspek kebutuhan penghargaan yang memiliki persentase
tertinggi dalam kategori motivasi belajar sangat tinggi. Hal ini menunjukan bahwa
motivasi belajar yang dimiliki oleh peserta didik untuk memenuhi kebutuhan

penghargaan lebih tinggi dibandingkan dengan pemenuhan kebutuhan yang


lainnya. Sedangkan yang termasuk dalam kategori motivasi belajar yang sangat
tinggi untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri sebanyak 19 peserta didik
(13,9%), hal ini menunjukan bahwa peserta didik sudah dapat menjadikan belajar
sebagai cara agar dapat memenuhi kebutuhan aktualisasi dalam proses belajar.
Pembahasan
Maslow (Syamsu & Juntika, 2008:156) berpendapat bahwa motivasi
manusia diorganisasikan ke dalam sebuah hierarki kebutuhan yaitu suatu
susunan kebutuhan yang sistematis, suatu kebutuhan harus dipenuhi sebelum
kebutuhan lainnya muncul. Kebutuhan ini bersifat instinktif yang mengaktifkan
atau mengarahkan perilaku manusia. Meskipun kebutuhan ini bersifat instinktif,
namun perilaku yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan tersebut sifatnya
dipelajari, sehingga terjadi variasi perilaku dari setiap orang dalam cara
memuaskannya. Penerepan teori kebutuhan (needs) dalam dunia pendidikan
dilakukan dengan cara memenuhi kebutuhan peserta didik agar dapat mencapai
hasil belajar yang maksimal dan sebaik mungkin.
Proses belajar yang dilakukan oleh peserta didik yang kebutuhan
fisiologisnya sudah terpenuhi akan lebih baik dibandingkan dengan peserta didik
yang pemenuhan kebutuhan fisiologisnya masih belum terpenuhi secara
keseluruhan. Hal tersebut dikarenakan kondisi fisik belum mencukup untuk
mendukung perilaku yang harus peserta didik tunjukan untuk dapat belajar
dengan aman. Peserta didik yang sudah dapat memenuhi kebutuhan rasa aman,
akan nyaman belajar untuk dapat memenuhi kebutuhan pengakuan dan kasih
sayang. Pemenuhan kebutuhan rasa aman ini sangat penting untuk menciptakan
suasana pembelajaran yang kondusif sehingga peserta didik tidak merasakan
ada sesuatu yang mengancam dirinya. Pada saat peserta didik dapat belajar
dengan perasaan aman, maka peserta didik akan merasa bahwa dengan belajar
yang baik dia akan mendapatkan pengakuan dan kasih sayang dari orang tua
dan orang lain, dengan kondisi seperti itu, motivasi belajar yang dimiliki oleh
peserta didik dapat lebih meningkat dan peserta didik dapat lebih nyaman untuk
terus belajar dengan baik. Peserta didik yang sudah dapat belajar dengan
memperoleh pengakuan dan kasih sayang dari orang lain, maka muncul
keinginan atau kebutuhan penghargaan atas usaha yang dilakukan oleh peserta
didik dalam belajar. Peserta didik dalam memenuhi kebutuhan penghargaannya
harus berdasarkan pada kemampuan yang dimilikinya sendiri, tidak bergantung
pada orang lain. Syamsu dan Juntika (2008:159) menyebutkan bahwa dengan
memperoleh kepuasan dari kebutuhan penghargaan memungkinkan individu
memliki rasa percaya diri akan kemampuan dan penampilannya; menjadi lebih
kompeten; dan produktif dalam semua aspek kehidupan, sebaliknya apabila
peserta didik mengalami kegagalan dalam memperoleh kepuasan atau
mengalami lack of self-esteem maka dia akan mengalami rendah diri, tidak
berdaya, tidak bersemangat, dan kurang percaya diri akan kemampuannya untuk
mengatasi masalah kehidupan yang dihadapinya. Kebutuhan kognitif atau
kebutuhan memahami dan mengetahui menjadi kebutuhan yang penting bagi
peserta didik, agar peserta didik memiliki pengetahuan dan pemahaman yang
baik dalam hidupnya. Menurut Maslow (Syamsu dan Juntika, 2008:159)
kebutuhan kognitif ini diekspresikan sebagai kebutuhan untuk memahami,
menganalisis, mengevaluasi, menjelaskan, mencari sesuatu atau suasana baru
dan meneliti. Menurut Syamsu dan Juntika (2008:159) pemenuhan kebutuhan ini
ditunjukan dengan bentuk pengajuan pertanyaan tentang berbagai hal, baik diri

maupun lingkungan. Pada proses belajar, pemenuhan kebutuhan kognitif ini


ditunjukan dengan peserta didik dapat mengajukan pertanyaan bila kurang
paham terhadap materi yang dijelaskan oleh guru. Minat yang tinggi dan
konsentrasi yang baik harus dimiliki oleh peserta agar dapat menerima materi
belajar yang disampaikan oleh guru. Kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan
kognitif ini akan menghambat pencapaian perkembangan kepribadian secara
penuh. Kebutuhan estetika (order and beauty) merupakan ciri orang yang sehat
secara mental. Melalui kebutuhan inilah manusia dapat mengembangkan
kreativitasnya dalam kegiatan belajar. Peserta didik yang melakukan belajar
dengan memperhatikan kerapihan, keteraturan, keserasian dan keharmonisan
dalam proses belajarnya bahwa peserta didik tersebut belajar pada kondisi yang
optimal dan sehat mental. Peserta didik yang kurang sehat mentalnya atau
sedang mengalami gangguan emosional dan stress biasanya kurang
memperhatikan kebersihan, dan kurang apresiatif terhadap keteratuan dan
keindahan (Syamsu dan Juntika, 2008:160). Peserta didik yang dapat memenuhi
setiap jenjang kebutuhan dalam proses belajar yang dilakukannya akan
berusaha untuk dapat mengaktualisasi diri sebagai pelajar yang diekspresikan
dengan meraih prestasi belajar yang maksimal sesuai dengan potensi yang
dimiliki oleh peserta didik tersebut dengan menunjukan proses belajar untuk
meraih keberhasilan, berusaha meraih cita-cita yang diinginkan di masa depan,
dan mampu mewujudkan prestasi belajar terbaik. Maslow (Syamsu & Juntika,
2008:160) berpendapat bahwa manusia dimotivasi untuk menjadi segala sesuatu
yang dia mampu untuk menjadi itu, walaupun kebutuhan lainnya terpenuhi,
namun apabila kebutuhan aktualisasi diri tidak terpenuhi tidak mengembangkan
atau tidak menggunakan kemampuan bawaannya secara penuh, maka
seseorang akan mengalami kegelisahan, ketidaksenangan atau frustasi. Menurut
Maslow (Santrock, 2008:512) aktualisasi diri dimungkinkan hanya setelah
kebutuhan yang lebih rendah telah terpenuhi. Oleh karena itu, untuk memenuhi
kebutuhan aktualisasi diri secara baik, peserta didik harus memenuhi kebutuhan
yang mendasar terlebih dahulu dalam proses pembelajaran yang dilakukannya.
Implikasi hasil penelitian pada pengembangan program bimbingan belajar
terletak pada penyusunan layanan bimbingan yang diberikan kepada peserta
didik sesuai dengan masalah prioritas dan kebutuhan peserta didik berdasarkan
pencapaian setiap aspek dan indikator motivasi belajar. Jenis layanan bimbingan
dan konseling yang diberikan dalam program belajar mencakup layanan dasar,
layanan responsif, perencaan individual dan dukungan sistem dengan
menggunakan berbagai teknik penyajian materi seperti tanya jawab, simulasi
permainan, analisis film, modeling, dan kolaborasi antara guru pembimbing
dengan personel sekolah terutama dengan guru mata pelajara, wali kelas dan
orang tua peserta didik. Layanan dasar diberikan untuk meningkatkan
pencapaian indikator tidak mudah putus asa dalam belajar, memiliki usaha
menyelesaikan masalah dengan kemampuan sendiri, memiliki minat yang tingi
dalam belajar, memiliki konsentrasi pada saat belajar, keinginan menambah
pengetahuan, menyukai keindahan dan kerapihan dalam proses belajar, adanya
hasrat dan keinginan untuk berhasil. Layanan responsif diberikan untuk
meningkatkan indikator mengikuti kegiatan ekstrakurikuler secara aktif sesuai
dengan minat dan bakat. Perencanaan individual diberikan untuk meningkatkan
indikator adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, memiliki dorongan
yang belajar yang lebih baik dari sebelumnya, dorongan untuk diterima oleh
orang lain di kelas dalam belajar, kemampuan peserta didik untuk mengelola

emosi dalam proses belajar dengan menerima hasil belajar,


kemampuan menghargai diri sendiri dalam proses dan hasil belajar,
kemampuan untuk bersaing dalam belajar dengan orang lain,
penghargaan dalam belajar, peserta didik aktif bertanya pada
pembelajaran, adanya harapan dan cita-cita masa depan, dan
mewujudkan prestasi yang baik.

memiliki
memiliki
adanya
proses
mampu

Referensi
Arikunto, Suharsimi. (2006). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara.
Djamarah, Syaiful Bahri. (2002). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Nurihsan, Achmad Juntika. (2009). Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling.
Bandung:PT. Refika Aditama.
Nurihsan, Achmad Juntika . (2011). Bimbingan dan Konseling dalam Berbagai
Latar Kehidupan. Bandung: Refika Aditama.
Santrock, John W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Kencana
Pernada Media Group.
Scotia, Nova. (2007). Comprehensive Guidance and Counseling:Student Service
Series. Departement of Education. Student Service.
Sukmadinata, Nana S. (2008). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:
Kerjasama Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia
dengan PT. Remaja Rosdakarya.
Yusuf, Syamsu & Nurihsan, Achmad Juntika. (2008). Teori Kepribadian. Sekolah
Pascasarjana UPI dan Remaja Rosdakarya.