Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG.
Jika kita berbicara tentang hukum, yang terlintas dalam pikiran kita adalah
peraturan-peraturan atau seperangkat norma yang mengatur tingkah laku manusia
dalam suatu masyarakat, yang dibuat dan ditegakkan oleh penguasa atau manusia
itu sendiri seperti : hukum adat, hukum pidana, dan sebagainya.
Berbeda dengan sistem hukum yang lain, hukum islam tidak hanya merupakan
hasil pemikiran yang dipengaruhi oleh kebudayaan manusia di suatu tempat pada
suatu massa tetapi dasarnya ditetapkan oleh Allah melalui wahyunya yang
terdapat dalam Al-Quran dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad sebagai rasulnya
melalui sunnah beliau yang terhimpun dalam kitab hadits. Dasar inilah yang
membedakan hukum Islam secara fundamental dengan hukum yang lain.
Adapun konsepsi hukum Islam, dasar dan kerangka hukumnya ditetapkan oleh
Allah. Hukum tersebut tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan manusia
lain dan benda dalam masyarakat, tetapi juga hubungan manusia dengan Tuhan,
hubungan manusia dengan dirinya sendiri, hubungan manusia dengan manusia
lain dalam bermasyarakat, dan hubungan manusia dengan benda serta alam
sekitarnya.
Dengan demikian untuk memberikan gambaran yang jelas tentang
permasalahan di atas, perlu adanya pengkajian lebih lanjut terutama menyangkut :
Hukum Hak Asasi Manusia dan Demokrasi dalam Islam .

B. RUMUSAN MASALAH

Adapun yang menjadi fokus permasalahan yang akan dibahas dalam makalah
ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.

Bagaimana ruang lingkup hukum Islam sebagai bagian dari Agama Islam di

Indonesia ?
2.

Bagaimana hak-hak asasi manusia menurut pandangan dalam Islam dan

pandangan Barat ?
3.

Bagaimana pelaksanaan demokrasi dalam Islam ?

C. TUJUAN DAN MANFAAT


Tujuan dan Manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.

Untuk mengetahui ruang lingkup hukum Islam sebagai bagian dari Agama
Islam di Indonesia

2.

Untuk memahami hak-hak asasi manusia menurut pandangan dalam


Islam dan pandangan Barat

3.

Untuk mengetahui pelaksanaan demokrasi dalam Islam

BAB 2
HAM DAN DEMOKRASI DALAM ISLAM
A. KONSEP HAM
Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan salah satu nilai dasar demokrasi dan
sekaligus merupakan indikator daripada supremasi hukum. Berdasarkan Undang-

Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia pasal 1 dijabarkan
bahwa Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan
keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan
anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara
hukum, pemerintahan, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan
harkat dan martabat manusia.
Ciri pokok dari hakikat hak asasi manusia antara lain:
1. Hak asasi manusia tidak perlu diberikan, dibeli ataupun diwarisi. Hak asasi
manusia adalah bagian dari manusia secara otomatis
2. Hak asasi manusia berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis
kelamin, asal usul, ras, agama, etnik, dan pandangan politik.
3. Hak asasi manusia tidak boleh dilanggar. Tidak seorang pun mempunyai
hak untuk membatasi atau melanggar hak orang lain. Orang tetap memiliki
hak asasi manusia meskipun sebuah negara membuat hukum yang tidak
melindungi bahkan melanggar hak asasi manusia.
1. Konsep HAM dalam Islam
Kedudukan manusia dalam Islam adalah sama antara satu dengan
lainnya walaupun berbeda akan keturunan, kekayaan, jabatan atau jenis
kelaminnya, melainkan yang membedakan antara manusia satu dengan
lainnya adalah dalam ketaqwaannya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam
QS. Al-Hujarat: 13 sebagai berikut:

Artinya:
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki
dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersukusuku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia
di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Selanjutnya

dalam

sebuah

Hadist

riwayat

Ahmad

dalam

salafiyunpad.files.wordpress.com/2011/04/ham_dalam_pandangan_islam.pdfmem
aparkan sebagai berikut:
Ketakwaan menjadi standar manusia mulia disisi Allah. Islam telah
menghancurkan pilih kasih dalam hukum dan menganggap bangsa arab dengan
bangsa lainnya sama. Lihat sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang
disampaikan ketika haji wada:

Tidak ada kelebihan Arab dari non arab dan tidak juga non arab dengan arab.
Tidak juga yang merah lebih baik dari yang hitam dan yang hitam dari yang
merah kecuali ketakwaan.(HR Ahmad).
Berdasarkan firman Allah SWT dan hadits riwayat Al-Quran di atas, dapat
disimpulkan bahwa Islam telah menerangkan bahwa semua manusia sama tidak
ada bedanya, kecuali ketaqwaannya karena manusia dilahirkan dari tubuh laki-laki
dan perempuan yang berarti perlindungan akan Hak Asasi Manusia (HAM).
Dalam Islam, nilai-nilai yang terkandung mengenai Hak Asasi Manusia
disasarkan pada norma-norma hukum Allah SWT, yakni dalam Al-Quran dan
hadits. Berdasarkan pandangan Islam tegak dan terpeliharanya HAM adalah untuk
kebaikan umat manusia rahmatan li allamin secara keseluruhan.
Karakteristik HAM dalam Islam berdasarkan Kholid Syamhudi, antara lain:

1. Rabbaniyyah. Semua hak telah di jelaskan dalam al-Qur`an dan


sunnah. Sumbernya berasal langsung dari Allah. Oleh karena ia
lepas dan bebas dari kezhaliman dan kesesatan.
2. Tsabat (tidak berubah-rubah). Walaupun banyak usaha penyesatan
dan perancuan kebenaran islam dengan kebatilan namun tetap
hujjah kebenaran kuat dan tidak goyah.
3. Al-Hiyaad, sehingga jauh dari rasisme dan mengikuti hawa nafsu.
4. Asy-Syumul (universal). Karena mencakup seluruh kepentingan
dan kemaslahatan manusia sekarang dan masa depan
5. Alamiyah (bersifat mendunia), karena cocok untuk segala waktu
dan tempat, karena mampu memenuhi kebutuhan manusia dan bisa
menjadi solusi terbaik semua masalah mereka.
Selanjutnya dalam situs yang sama Kholid Syamhudi memaparkan tujuan
HAM atau dalam hal ini disebut Maqaashid HAM dalam Islam, antara lain:
1. Mewujudkan kesempurnaan ibadah kepada Allah
2. Menjaga kehidupan manusia dalam semua marhalahnya.
3. Menyebarkan ajaran Islam keseluruh dunia melalui pembinaan dan
pendidikan manusia. Juga memberikan solusi atas perbedaan yang
ada dengan cara yang efektif dan efesien.
4. Mewujudkan keadilan sosial dengan menyebarkan keadilan dimuka
bumi dan menghilangkan kasta sosial yang ada.
5. Menjaga kepentingan dan kemashlahatan manusia dengan menjaga
lima dharuraat.
6. Memuliakan manusia.
2. Perbandingan antara HAM dalam Dunia dengan HAM dalam Islam
Dalam hal ini terdapat beberapa perbandingan antara konsep Hak
Asasi Manusia (HAM) dalam Islam dengan konsep Hak Asasi Manusia
(HAM) dalam pandangan dunia. Perbandingan dalam hal ini mengacu pada
kelebihan yang ditampilkan Islam dalam membahas mengenai Hak Asasi
Manusia (HAM), berikut perbandingannya.
a) Dari Segi Sumber Pengambilan Hukum
Perbandingan antara HAM dalam Islam dengan HAM dalam pandangan
dunia adalah bahwa HAM dalam Islam bersumber dari Al-Quran dan
hadist sedangkan HAM dalam pandangan dunia berasal dari manusia;

b) Dari Segi Konsekuensi Hukuman


Dalam Islam, HAM bersifat abadi, pasti, dan memiliki konsekuensi hukum
serta tidak memungkinkan adanya perubahan ataupun penghapusan.
Sedangkan HAM dalam pandangan dunia hanyalah sekedar konsep dan
harapan yang berasal dari PBB yang konsekuensinya tersebut tidak jelas;
c) Dari Segi Perlindungan HAM dan Jaminannya
Dalam pandangan Islam, HAM merupakan anugerah Allah SWT untuk
manusia sebagai perlindungan dan penjamin kehidupan manusia karena
dalam hal ini HAM dalam Islam menjamin kewibawaan dan permuliaan
manusia. Sedangkan HAM dalam pandangan dunia perlindungan HAM
serta jaminannya belum jelas dalam arti hanya sekedar himbauan etika
dalam sebuah kertas;
d) Dari Segi Asalnya
HAM dalam Islam berasal sejak masuknya Islam di dunia, sedangkan Ham
dalam pandangan dunia pertama kali ada pada tahun 1215 M atau di abad
ke-13 Masehi; dan
e) Dari Segi Universal
Perbandingan HAM dalam Islam dan HAM dalam pandangan dunia dari
segi universal, bahwa HAM dalam Islam memiliki keuniversalan yang
lebih dibandingkan dengan HAM dalam pandangan dunia. Berikut
beberapa peraturan HAM dalam Islam yang lebih lengkap dibanding
aturan HAM dunia, antara lain:
(a) Hak anak yatim
Dalam piagam HAM internasional untuk pengaturan hak anak yatim
hanya berupa isyarat pemeliharaan anak yatim saja. Sedangkan dalam
Islam hak anak yatim ini memiliki perhatian khusus dengan penjagaan
hak-haknya dan anjuran berbuat baik pada mereka dengan seluruh
jenis kebaikan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. an-Nisa:
2:

Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta


mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan
jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya
tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang
besar. (QS. an-Nisa:2)
(b) Hak Orang yang Lemah Akalnya
HAM dalam Islam memberikan perhatian untuk menjaga hak-hak
orang yang lemah akalnya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam
QS. an-Nisa:5:

D
Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum
sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang
dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan
pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata
yang baik. (an-Nisa:5)
(c) Hak Waris
HAM dalam Islam memberikan perhatian lebih terhadap hak waris.
HAM dalam Islam memberikan perhatian yang besar atasnya hingga
menjelaskan semua tata cara pembagiannya dengan lengkap dalam AlQuran. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. an-Nisa:7:

Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa
dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari
harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak
menurut bahagian yang telah ditetapkan.(an-Nisa` :7).
(d) Hak Membela Diri
HAM dalam Islam mengatur mengenai hak membela diri.
Sebagaimana dalam firman Allah SWT QS. al-Baqarah:194:

Bulan Haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut
dihormati berlaku hukum qishaash. Oleh sebab itu Barangsiapa yang
menyerang kamu, Maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya
terhadapmu. bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah
beserta orang-orang yang bertakwa. (al-Baqarah:194)

B. KONSEP DEMOKRASI
Istilah demokrasi diperkenalkan kali pertama oleh Aristoteles sebagai
suatu bentuk pemerintahan, yaitu suatu pemerintahan yang menggariskan
bahwa kekuasaan berada di tangan banyak orang (rakyat). Dalam
perkembangannya, demokrasi menjadi suatu tatanan yang diterima dan
dipakai oleh hampir seluruh negara di dunia. Ciri-ciri suatu pemerintahan
demokrasi adalah sebagai berikut:
a) Adanya keterlibatan warga negara (rakyat) dalam pengambilan keputusan
politik, baik langsung maupun tidak langsung (perwakilan).
b) Adanya persamaan hak bagi seluruh warga negara dalam segala bidang.
c) Adanya kebebasan dan kemerdekaan bagi seluruh warga negara.

d) Adanya pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat yang duduk di


lembaga perwakilan rakyat.
Menurut International Commission of Jurist menyatakan bahwa,
...demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan di mana hak untuk
membuat keputusan-keputusan politik diselenggarakan oleh warga
negara melalui wakil-wakil yang dipilih oleh mereka dan yang
bertanggungjawab kepada mereka melalui suatu proses pemilihan
yang bebas...
Selain itu, disini terdapat juga definisi demokrasi menurut C.F. Strong,
bahwa
...demokrasi adalah suatu sistem pemerintahan di mana mayoritas
anggota dewan dari masyarakat ikut serta dalam politik atas dasar
sistem

perwakilan

yang

mempertanggungjawabkan

menjamin

pemerintah

tindakan-tindakannya

pada

akhirnya
mayoritas

tersebut...
Dengan

demikian,

penulis

menyimpulkan

bahwa

demokrasi

merupakan suatu sistem pemerintahan yang kekuasaan tingginya dipegang


oleh rakyat. Masyarakat ikut serta dalam pembuatan keputusan mengenai
hak-haknya melalui dewan perwakilan rakyat yang menjamin pemerintah
yang nantinya akan mempertanggungjawabkan tindakan-tindakannya.
Untuk lebih lanjut untuk mengetahui konsep dari demokrasi bahwa
bentuk dari demokrasi dalam pemerintahan negara terdapat dua bentuk, yaitu:
a) Pemerintahan Monarki yaitu pemerintahan yang dipimpin oleh seorang
penguasa seperti sistem pemerintahan kerajaan.
b) Pemerintahan Republik yaitu pemerintahan yang dijalankan oleh dan
untuk kepentingan orang banyak.
Demokrasi juga mengenal mengenai sistem kepartaian yang dikenal
adanya tiga sistem kepartaian, yaitu sistem multi partai (poliparty system),
sistem dua partai (biparty system), dan sistem 1 partai (monoparty system).

Menurut Menurut Robert A. Dahl, bahwa sebuah demokrasi yang ideal harus
memiliki:
1) Persamaan hak pilih dalam menentukan keputusan kolektif yang
mengikat,
2) Partisipasi efektif, yaitu kesempatan yang sama bagi semua warga
negara dalam proses pembuatan keputusan secara kolektif,
3) Pembeberan kebenaran, yaitu adanya peluang yang sama bagi
setiap orang untuk memberikan penilaian terhadap jalannya proses
politik dan pemerintahan secara logis,
4) Kontrol terakhir terhadap agenda, yaitu adanya kekuasaan eksklusif
bagi masyarakat untuk menentukan agenda mana yang harus dan
tidak harus diputuskan melalui proses pemerintahan, termasuk
mendelegasikan kekuasaan itu pada orang lain atau lembaga yang
mewakili masyakat, dan
5) Pencakupan, yaitu terliputnya masyarakat yang tercakup semua
orang dewasa dalam kaitannya dengan hukum.
Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan mengenai ciri-ciri dari
demokrasi modern antara lain:
1) Kedaulatan yang berada di tangan rakyat. ( Winarno, 2009: 106)
2) Pembuatan peraturan adalah badan legislatif. ( Winarno, 2009: 211)
3) Keputusan ditentukan melalui musyawarah, suara terbanyak. ( Drs.
Abdul Aziz Thaba, M.A., 1996:43)
4) Merupakan hasil pemikiran manusia. ( Drs. Abdul Aziz Thaba,
M.A., 1996:43)
5) Bersifat relatif. ( Drs. Abdul Aziz Thaba, M.A., 1996:43)
6) Terdapat badan legislatif sebagai penampung aspirasi rakyat.
7) Masih terdapat revilige (hak khusus).
1. Konsep Demokrasi dalam Islam
Islam dan demokrasi adalah dua hal yang berbeda. Dimana Islam
adalah sistem politik yang self-sufficient dan merupakan agama yang
sempurna yang tidak saja mengatur persoalan teologi dan ibadah melainkan
mengatur segala aspek kehidupan. Karena sesungguhnya kedaulatan mutlak
dan Keesaan Tuhan yang terkandung dalam konsep tauhid dan peranan
manusia yang terkandung dalam konsep khilafah memberikan kerangka

dimana para cendekiawan belakangan ini mengembangkan teori politik


tertentu yang dapat dianggap demokratis. Yang didalamnya tercakup definisi
khusus dan pengakuan terhadap kadaulatan rakyat, tekanan pada kesamaan
derajat manusia, dan kewajiban rakyat sebagai pengemban pemerintah.
Penjelasan mengenai demokrasi dalam kerangka konseptual Islam,
banyak memberikan perhatian pada beberapa aspek khusus dari ranah social
dan politik. Demokrasi Islam dianggap sebagai sistem yang mengukuhkan
konsep-konsep Islami yang sudah lama berurat berakar yaitu musyawarah
(syura), persetujuan (ijma) dan penilaian interpretative yang mandiri
(ijtihad).
Demokrasi itu sendiri bisa bisa lahir dan ada dari masarakat yang
memiliki tiga keadaan yaitu keadilan, persamaan, dan kebebasan. Menurut
Elie Khudourie dalam Tim ICCE UIN ( 2005:143) bahwa,
...gagasan demokrasi masih cukup asing dalam mind-set Islam, yang
kemudian dihubungkan dengan pemahaman doktrinal yang ada. Yang
mana kebanyakan kaum muslim cenderung memahami demokrasi
sebagai sesuatu yang bertentangan dengan Islam...
Namun, terdapat pendapat juga dari tokoh lain yang diantaranya
seperti Fahmi Huwaidi, al-Aqqad, M Husain Haekal, Zakaria Abdul Munim
Ibrahim, Robert N. Bellah, Nurcholish madjid, Amien Rais, Munawir
Syadzali, A. Syafii Maarif, Abdurrahman Wahid dll bahwa :
...demokrasi sudah menjadi bagian integral sistem pemerintahan
Indonesia dan negara-negara muslim lainnya. Karena dalam hal ini,
Islam menurut mereka ialah sistem nilai yang membenarkan dan
mendukung sistem politik demokrasi seperti yang dipraktekkan
negara-negara maju...
Penulis juga setuju mengenai pendapat yang dikemukakan diatas
mengenai Islam membenarkan dan mendukung sistem politik demokrasi.
Namun, harus tetap berpegangan pada prinsip-prinsip demokrasi dalam Islam.
Demokrasi dianggap sebagai sistem yang mengukuhkan prinsip dasar
demokrasi Islam yang telah mengakar sejak dulu. Sehingga, disini penulis
akan menjelaskan prinsip-prinsip dari demokrasi dalam Islam, antara lain:

a) Musyawarah
Menurut Dr. M. Dhiauddin Rais (2001: 273) bahwa,
...musyawarah berasal dari perkataan syartu-al-asala-asyuurahu
yang berarti mengambil madu lebah dari tempatnya dan
mengeluarkannya. Makna ini kemudian berkembang, sehingga
mencakup segala sesuatu yang dapat diambil atau dikeluarkan dari
yang lain, termasuk pendapat. Musyawarah dapat juga berarti
mengatakan atau mengajukan sesuatu. Kata musyawarah pada
dasarnya hanya digunakan untuk hal-hal yang baik, sejalan dengan
makna dasarnya...
Masalah musyawarah ini dengan jelas disebutkan dalam Al Quran surat
Ali Imran (3) ayat 159.

Artinya : Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.


Berdasarkan ayat di atas dijelaskan bahwa perintah kepada para pemimpin
dalam kedudukan apa pun untuk menyelesaikan urusan mereka yang
dipimpinnya dengan cara bermusyawarah. Dengan demikian, tidak akan
terjadi kesewenang-wenangan dari seorang pemimpin terhadap rakyat
yang dipimpinnya. Oleh karena itu, wakil rakyat dalam sebuah negara
Islam tercermin terutama dalam doktrin musyawarah (syura). Dalam
bidang politik, umat Islam mendelegasikan kekuasaan mereka kepada
penguasa dan pendapat mereka harus diperhatikan dalam menangani
masalah negara.

b) Ijma
Ijma merupakan kesepakatan seluruh mujtahid di antara umat Islam pada
suatu ketika tentang hukum syariat Islam.
Demokrasi dalam perspektif Islam berbeda dengan demokrasi
secara umum yang terdapat, antara lain:
1) Kedaulatan tertinggi di tangan Allah SWT. ( Khalid Ibrahim
Jindan,1994: 66)
2) Pembuat peraturan hanya Allah SWT. ( Khalid Ibrahim
Jindan,1994: 66)
3) Keputusan diambil dari ijtihad, dan pada akhirnya keputusan
khalifah sebagai ulul amri.
4) Bersumber pada kitab suci Al Quran. ( Drs. Abdul Aziz Thaba,
M.A., 1996:43)
5) Bersifat mutlak. ( Drs. Abdul Aziz Thaba, M.A., 1996:43)
6) Terdapat majelis syura sebagai badan musyawarah dalam
memecahkan persoalan.
7) Tidak mengakui ada pandangan hak istimewa bagi golongan
tertentu.
2. Contoh Pelanggaran HAM di Negara Demokrasi
Dewasa ini, sebagian besar media massa Barat, baik cetak maupun
elektronik, berusaha untuk menampilkan wajah Islam secara tidak benar.
Masalah hak asasi manusia dalam Islam merupakan salah satu serangan
media massa Barat. Apalagi sebagian media massa di Barat seperti Perancis,
Jerman, dan Inggris, umumnya berada dalam genggaman para kapitalis
Yahudi yang menyimpan dendam mendalam terhadap islam yang berakar
sejak mulai munculnya Islam yang berabad-abad lampau. Jika kita melihat
secara teliti, akan tampak bahwa negara-negara yang secara zahir mengumbar
isu hak asasi manusia dan demokrasi, justru yang pertama-tama melecehkan
kehormatan bangsa-bangsa lain dan melanjutkan kezaliman dan diskriminasi
terhadap yang lain.
Salah satu contoh dari adanya pelanggaran HAM di negara demokrasi
yaitu sentimen anti hijab yang terjadi di negara Eropa. Dengan melihat
kepada beberapa pasal dari Piagam Hak Asasi Manusia, kita akan melihat
bahwa sesungguhnya sentimen anti hijab yang terjadi di negara-negara Eropa

adalah sebuah pelanggaran hak asasi manusia. Pasal ketiga Piagam Hak Asasi
Manusia menyebutkan, Setiap orang mendapat hak kebebasan individu dan
keamanan.Sedangkan dalam pasal kelima disebutkan: Tidak ada siapapun
yang boleh disiksa atau dianiaya secara tidak manusiawi, atau menjadi
sasaran penghinaan. Pasal 18 dan 19 dari piagam itu mengungkapkan: Setiap
orang mempunyai hak kebabasan agama, berpendapat, berkeyakinan, dan
kebebasan bersuara. Selain piagam HAM, perjanjian lain seperti Perjanjian
Hak Asasi Manusia Eropa turut mendukung hal itu.
Masalah hijab di beberapa negara Eropa boleh disebut sebagai contoh
dari pelanggaran hak asasi manusia yang disebutkan dalam undang-undang
dasar negara-negara tersebut. Di Perancis, krisis serius pertama yang
berhubungan dengan hijab bermula pada tahun 1989 saat massa media
meliput berita dikeluarkannya tiga orang pelajar yang mengenakan pakaian
Islami dari sekolah mereka. Pada tahun 1990, di pinggiran kota Paris, lima
orang pelajar berhijab diberhentikan dengan alasan melanggar ketentuan
sekolah. Peristiwa ini terus berlanjut pada tahun-tahun seterusnya hingga saat
ini. Dan belum ada keputusan apapun di Prancis yang memihak kepada
pelajar muslimah berhijab.
3. Solusi Pelanggaran HAM di Negara Demokrasi
Peradilan dinilai tidak akan mampu menyelesaikan berbagai
aksi kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia
(HAM) yang terjadi di negara demokrasi. Solusi efektif penyelesaian
masalah

tersebut

adalah

melalui

jalan

rekonsiliasi

atau

membangun kembali hubungan antara kedua belah pihak yang


berkonflik. Penyelesaian lewat pengadilan itu tidak realistis karena
bukan tidak bisa tapi terbentur oleh transformasi politik yang abuabu dimana dari sistem otoritarian ke demokrasi dan pertentangan
antara kelompok lama dan baru yang ingin melakukan perubahan.
Pelanggaran HAM terjadi dapat diselesaikan dengan
berbagai cara, terdapat dua bentuk penyelesaian pelanggaran HAM
yaitu:

a. Ligitasi
Penyelesaian hukum secara litigasi adalah penyelesaian hukum
melalui jalur pengadilan baik itu pengadilan negeri, pengadilan
agama, pengadilan tata usaha Negara, dan pengadilan militer
tergantung perkara apa yang diaujukan oleh pihak yang
bersengketa. Secara litigasi tahap pertama dilakukan penyidikan
di kepolisian, penuntutan di kejaksaan, dan sampai putusan di
pengadilan.
b. Non ligitasi
Non litigasi merupakan proses penyelesaian perkara atau kasus
diluar pengadilan. Penyelesaiannya bisa terjadi melalui cara
mediasi, konsiliasi dan bisa juga terjadi dengan kesepakatan
bersama untuk mengakhiri persengketaan antar kedua belah
pihak. Ciri utama dalam penyelesaian melalui jalur non litigasi
adalah kesepakatan pihak-pihak yang berperkara, apabila kedua
belah pihak sudah sepakat maka perkara tersebut selesai.
Penyelesaian dalam bentuk non ligitasi yaitu dengan cara
rekonsiliasi, negosiasi, musyawarah dan perdamaian atas dasar
persetujuan kedua belah pihak.

BAB 3
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan salah satu nilai dasar demokrasi dan
sekaligus merupakan indikator daripada supremasi hukum. Menurut pandangan
islam bahwa hak-hak asasi manusia tidak hanya menekankan kepada hak-hak
manusia saja, tetapi hak-hak itu dilandasi oleh kewajiban asasi untuk mengabdi
hanya kepada Allah sebagai penciptanya. Aspek khas dalam konsep HAM Islami
adalah tidak adanya orang lain yang dapat memaafkan pelanggaran hak-hak jika
pelanggaran itu terjadi atas seseorang yang harus dipenuhi haknya. Bahkan suatu
negara Islam pun tidak dapat memaafkan pelanggaran hak-hak yang dimiliki
seseorang. Sedangkan demokrasi menurut pandangan Islam bahwa Demokrasi
Islam dianggap sebagai sistem yang mengukuhkan konsep-konsep Islami yang
sudah lama berurat berakar yaitu musyawarah (syura), persetujuan (ijma) dan
penilaian interpretative yang mandiri (ijtihad). Demokrasi itu sendiri bisa bisa
lahir dan ada dari masarakat yang memiliki tiga keadaan yaitu keadilan,
persamaan, dan kebebasan.

B. SARAN
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka dapat dikemukakan beberapa saran
sebagai berikut :
1.

Sebagai umat Islam hendaknya memahami hukum Islam dengan baik,

karena hukum ini mengatur berbagai kehidupan umat manusia untuk mencapai
kemaslahatan.
2.

Setiap manusia hendaknya menjungjung tinggi Hak Asasi Manusia, karena

hak ini sebagai dasar yang melekat pada diri tiap manusia.
3.

Dalam mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh, baik dibidang hukum,

hak dan kewajiban asasi manusia, serta kehidupan berdemokrasi hendaknya


berdasarkan prinsip-prinsip yang diajarkan Islam.
DAFTAR PUSTAKA

Krisno,M. (2012). Tugas Pancasila (Hukum dan HAM). [Online] tersedia:


http://simbolonmulatiar.blogspot.com/2012/06/tugaspancasila.html. [08 Desember 2012]

Luthfi. (2012). Hukum, HAM, dan Demokrasi dalam Islam. [Online] Tersedia:
http://ueu6448.blog.esaunggul.ac.id/2012/08/04/10/ [15 Desember 2012]

Mansur, N. (2012). Hukum, HAM, dan Demokrasi dalam Islam. [Online]


Tersedia: http://blog.unsri.ac.id/nabilahmansur/makalah-/makalahagama/mrdetail/106837/ [15 Desember 2012]
Permana. (2011). Pengertian Demokrasi Menurut Para Ahli. [Online] Tersedia:
http://permanaz.blogspot.com/2011/11/pengertian-demokrasi-menurut-paraahli_03.html [14 Desember 2012]
Syamhudi, K. (2011). Ham dalam Pandangan Islam. [Online] Tersedia:
salafiyunpad.files.wordpress.com/2011/04/ham_dalam_pandangan_islam.pd
f. [15 Desember 2012]

Sentimen
Anti
Hijab,
Sebuah
Pelanggaran
HAM.
[Online]
Tersedia:http://www2.irib.ir/worldservice/melayuRadio/perempuan/anti_
hijab.htm#PROVINSI BUSHER. [18 Desember 2012]

MAKALAH
HAM DAN DEMOKRASI DALAM ISLAM

Disusun Oleh :
NAMA : RIYAN NASRUL
NIM

: 410014188

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL


(STTNAS)
YOGYAKARTA
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI

2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadiran Allah SWT karena makalah ini dapat
terselesaikan dengan baik, dan diharapkan dapat membantu mahasiswa yang
sedang mengambil makalah agama islam. Pembuatan makalah ini merupakan
rangkuman dari beberapa sumber buku maupun webside. Sehingga makalah ini
masih jauh dengan kata sempurna, karenanya penyusun mengharapkan kritik,
masukan, dan saran, sehingga di masa yang akan datang makalah ini bisa
sempurna.

Yogyakarta, 15 Maret 2015

Riyan nasrul

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..........................................................................I
DAFTAR ISI.......................................................................................II
BAB I . PENDAHULUAN................................................................III
A. Latar Belakang........................................................................................1
B. Rumusan Masalah...................................................................................2
C. Tujuan dan Manfaat.................................................................................2

BAB II. HAM DAN DEMOKRASI DALAM ISLAM ..................IV


BAB III.PENUTUP............................................................................V
A. Kesimpulan..............................................................................................1
B. Saran .......................................................................................................2

DAFTAR PUSTAKA........................................................................VI