Anda di halaman 1dari 4

Faktor apa saja yang mempengaruhi penyembuhan luka?

Faktor lokal yang mempengaruhi penyembuhan luka (Hess,2002).


1. Tekanan
Luka atau area sekitar luka yang mendapat tekanan secara terus
menerus akan menghambat aliran kapiler sehingga suplai darah ke area
luka terganggu.
2. Lingkungan
Lingkungan yang kering akan menyebabkan dehidrasi sel pada area luka
dan dapat terjadi kematian sel. Hal ini menyebabkan terbentuknya
krustae pada permukaan luka yang dapat menghambat pertumbuhan
jaringan. Sedang lingkungan yang moist 3 sampai 5 kali meningkatkan
penyembuhan jaringan dan menurunkan nyeri saat penggantian balutan,
pada lingkungan moist membantu migrasi sel epidermis dan
meningkatkan epitelisasi. Lingkungan luka sangat dipengaruhi oleh jenis
balutan yang digunakan, adanya space antara balutan dan permukaan
luka akan menyebabkan kondisi anaerob dan lingkungan yang kering,
alginate atau jenis balutan hidrofobik dapat mengisi space antara luka
dan menyebabkan luka tetap dalam keadaan moist (Black, 2002). Balutan
oklusif atau semi oklusif dalam 48 jam setelah injuri dapat
mempertahankan kelembaban jaringan dan mengoptimalkan epitelisasi.
3. Infeksi
Infeksi baik lokal maupun sistemik dapat menghalangi proses
penyembuhan luka. Tanda-tanda seperti adanya drainase, exudat,
indurasi, demam merupakan indikasi dilakukannya kultur pada luka.
Selulitis pada jaringan lunak akan memperpanjang fase inflamasi dengan
menyebabkan protease jaringan mendegradasi granulasi yang baru dan
faktor pertumbuhan jaringan juga dengan menunda deposisi kolagen.
Cairan eksudat pada luka kronis meningkatkan aktivitas protease,
menurunkan aktivitas faktor pertumbuhan dan meningkatkan level
sitokine. Oleh karena itu proses penyembuhan luka terganggu dari fase

inflamasi sampai dengan maturasi (Chronic wound, 2007,


http://en.wikipedia.org, diakses tanggal 29 Januari 2008)
4. Nekrosis
Dua jenis nekrosis yang terdapat pada luka yaitu slough dan escar,
slough adalah jaringan nekrosis basah dan mudah lepas berwarna
kuning, sedang escar adalah jaringan nekrosis yang mengalami
dehidrasi, tipis, menempel pada luka, biasanya berwarna coklat sampai
hitam. Untuk membantu penyembuhan luka jaringan nekrosis harus
diangkat (Chronic wound, 2007, http://en.wikipedia.org, diakses tanggal
29 Januari 2008).
Faktor sistemik dan instrinsik yang mempengaruhi penyembuhan luka (Hess,
2002)
1. Usia
Usia anak sampai dewasa memiliki masa penyembuhan lebih cepat dari
pada orang tua. Orang tua mengalami penurunan fungsi multiorgan,
sehingga menyebabkan proses penyembuhan luka menjadi lebih panjang
atau tertunda.
2. Bentuk Tubuh
Obesitas dapat menghambat penyembuhan luka, ini terjadi karena
jaringan adiposa dapat menghambat suplai darah pada luka, kondisi
tersebut juga meningkatkan waktu penyembuhan dan risiko infeksi pada
luka karena sulpai darah tidak adekuat
3. Nutrisi
Proses penyembuhan luka membutuhkan nutrisi yang tinggi. Pasien
memerlukan diet tinggi protein, karbohidrat, lemak, vitamin A dan C,
mineral. Pasien yang mengalami kekurangan nutrisi akan memerlukan
waktu yang lebih lama untuk meningkatkan status kesehatan dan proses
penyembuhan luka.
4. Sirkulasi dan Oksigenasi

Pada orang yang menderita gangguan pembuluh darah perifer, hipertensi


atau diabetes melitus akan menurunkan perfusi perifer.
5. Insufisiensi vaskular
Luka yang disebabkan gangguan suplai darah seperti luka diabetes, vena
atau arteri trombosis, luka dekubitus memerlukan waktu yang lebih
panjang dalam proses penyembuhan luka. Penurunan tekanan oksigen
pada luka menunda proses penyembuhan dan memperlambat produksi
kolagen. Pembentukan kolagen akan gagal bila tekanan O2 dibawah 40
mmHg karena O2 dibutuhkan dalam hidroksilasi proline dan lisin untuk
mensintesa kolagen yang matur. Luka yang mengalami hipoksia juga
menyebabkan infeksi karena aktifitas bakterisidal leukosit tidak dapat
berlangsung bila oksigen dibawah level normal.
6. Obat
Obat anti inflamasi seperti steroid, heparin dan anti neoplasmik
mempengaruhi penyembuhan luka. Penggunaan antibiotik yang lama
dapat membuat seseorang rentan terhadap infeksi luka.
7. Imunosupresi dan terapi radiasi
Supresi sistem imun karena penyakit atau obat dapat mengganggu
penyembuhan luka. Radiasi dapat mengganggu integritas kulit dan
menimbulkan luka pada jangka lama.
8. Penyakit Kronik
Penyakit kronis akan memperlambat penyembuhan seperti pada DM. DM
menyebabkan pasien mengalami kesulitan dalam proses penyembuhan
karena gangguan sintesa kolagen, angiogenesis dan fagositosis. Kondisi
hiperglikemi mengganggu transport asam askorbit ke dalam sel-sel
termasuk fibroblast dan leukosit. Hiperglikemi dapat menurunkan
leukositosis, kemotaksis dan meningkatkan aterosklerosis khususnya
pada pembuluh darah kecil. Neuropathy diabetes merupakan komplikasi
penyakit DM lanjut yang mengenai neuron.

9. Lama Mengalami Luka


Lama pasien menderita luka dapat mempengaruhi proses penyembuhan
luka, semakin lama luka kronik tidak tertangani maka suplai oksigen dan
nutrisi kejaringan semakin turun sehingga semakin banyak jaringan
nekrotik yang terbentuk. Jaringan nekrotik dapat menghambat kerja
faktor-faktor pertumbuhan, sehingga proses penyembuhan jaringan
menjadi tertunda. (Hardings, GK & Morris, HL., Healings Chronic Wound,
9, http://www.healwound.org).

Mengapa bisa timbul jaringan neurotik?


Semakin lama luka kronik tidak tertangani maka suplai oksigen dan nutrisi ke
jaringan semakin turun sehingga semakin banyak jaringan nekrotik yang
terbentuk. (Hardings, GK & Morris, HL., Healings Chronic Wound, 9,
http://www.healwound.org).