Anda di halaman 1dari 43

PEREKONOMIAN INDONESIA

BAB 3
PERTUMBUHAN DAN PERUBAHAN
STRUKTUR EKONOMI
Kelompok 3:
1. Cipta Ajeng Pratiwi 1211011034
2. Dewi Lestari 1211011042
3. Dwi Risma Dewi 1211011048
4. Lusyana Dewi 1211011084
5. Novita Liana Sari 1211011118
6. Rama Agustina 1211011128
7. Ummi Restu Suci Nyai Putri 1211011152
8. Zefri Septiabe 12110111

PERTUMBUHAN DAN PERUBAHAN


STRUKTUR EKONOMI

Dalam GBHN, tujuan


pembangunan adalah untuk
meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Indikator untuk
mengukur kesejahteraan adalah
National Income.

PERTUMBUHAN DAN PERUBAHAN


STRUKTUR EKONOMI
Proses pembangunan ekonomi merubah
struktur ekonomi secara mendasar:
Sisi permintaan agregat, pendalaman
struktur ekonomi didorong oleh peningkatan
national income yang berpengaruh terhadap
selera masyarakat yang terefleksi dalam
pola konsumsinya.
Sisi penawaran agregat, faktor pendorong
utamanya adalah perubahaczn teknologi,
peningkatan SDM, dan penemuan material
baru untuk produksi.

A. Pertumbuhan Ekonomi
a.1. Arti Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi
merupakan penambahan GDP,
sehingga terjadi peningkatan
national income.

A. Pertumbuhan Ekonomi
a.2. Konsep Pendapatan Nasional
Dalam arti luas, National income
dapat merujuk pada GDP, GNP atau
NNP (Net national Product).
Pendekatan pengukuran GDP:
a) Pendekatan sisi penawaran agregat
yang mencakup: Pendekatan
produksi & Pendekatan pendapatan
b)Pendekatan sisi permintaan agregat
yakni pendekatan pengeluaran

A. Pertumbuhan Ekonomi
a.3. Sumber-Sumber
Pertumbuhan
Pertumbuhan ekonomi bisa
bersumber dari pertumbuhan
pada sisi permintaan agregat
(AD) dan/atau sisi penawaran
agregat (AS).

A. Pertumbuhan Ekonomi
a.3.1. Sisi Permintaan Agregat
(AD)

A. Pertumbuhan Ekonomi
a.3.1. Sisi Permintaan Agregat (AD)
Kurva

AD bergeser kekanan berarti peningkatan


permintaan C, I, G (X-M).
PDB=C + I + G + X - M
C = cY + Ca
I = -ir + Ia
G = Ga, Pengeluaran pemerintah berifat otonom,
besar kecilnya tidak ditentukan oleh factor dalam
model, tapi oleh factor lain spt politik.
X = Xa, pertumbuhan ekspor ditentukan oleh factor
eksternal
M = mY +Ma

A. Pertumbuhan Ekonomi
a.3.2. Sisi Penawaran Agregat (AS)

Pertumbuhan

output disebabkan oleh peningkatan volume FP


(Tenaga kerja, Kapital, Tanah) sebagai akibat dari peningkatan
produktivitas.
Q = f (X1, X2, .. Xn), dimana X = FP

A. Pertumbuhan Ekonomi
a.4. Teori-Teori dan ModelModel Pertumbuhan
Teori Klasik
Teori Neo Keynes
Teori Neo-Klasik
Teori Modern

B. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia


Sejak Orde Baru Hingga Era SBY
Pada tahun 1968 PN per kapita masih sangat rendah,
hanya sekitar US$60. Tingkat ini jauh lebih rendah
dibandingkan PN dari NSB lain pada saat itu, seperti
misalnya India, Sri Lanka, dan Pakistan. Tetapi, sejak
Pelita 1 dimulai PN per kapita Indonesia mengalami
peningkatan yang relatif tinggi setiap tahun, dan pada
tahun 1980-an telah mendekati US$500.

Pengaruh Resesi Dunia Terhadap


Pertumbuhan Ekonomi Indonesia : Suatu
Ilustrasi Teoritis

Pertumbuhan PDB Indonesia: 1998-2005 (%)

10

5.1

5
3.3

3.66

5.6

4.1

0.8
0
1998

-5

-10

-13.1
-15

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

Column2

B. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia


Sejak Orde Baru hingga Era SBY
Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia yang
semakin membaik setelah 1998 tercerminkan
pada peningkatan PDB perkapita atas dasar
harga berlaku tercatat sekitar 4,8 juta rupiah.
Tahun 1999 naik menjadi 5,4 juta rupiah dan
berlangsung sehingga mencapai sekitar 10,6
juta rupiah tahun 2004.

B. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia


Sejak Orde Baru hingga Era SBY
o

Pada masa krisis ekonomi tahun 1998 dari sisi AD,


Industri manufaktur dan sektor konstruksi mengalami
penurunan produksi yang signifikan sedangkan sektorsektor yang mengalami pertumbuhan positif yaitu sektor
pertanian dengan 1.31%, listrik, gas dan air bersih
3.11%, dan pengangktan dan komunikasi 16.23%.
Dalam nilai riil (harga kosntan) semua sektor mengalami
pertumbuhan negatif kecuali listrik, gas dan air minum
dengan 2.6%.
Pada tahun 2000 semua sktor kembali tumbuh positif
kecuali sektor pertambangan yang mengalami
pertumbuhan negatif sejak tahun 2003

Tabel 3.4
Pertumbuhan PDB menurut sector di Indonesia, 2001-2005 (Semester 1)
Sektor

Pertanian, Peternakan,
Kehutanan Dan Perikanan
Pertambangan Dan
Penggalian
Industru Manufaktur
Listrik, Gas Dan Air Bersih
Bangunan
Perdagangan, Hotel Dan
Restoran
Transporatsi Dan
Komunikasi
Keuangan, Sewa Dan
Perusahaan Jasa
Jasa-Jasa Lainnya
Pdb
PDB Tanpa Minyak Dan
Gas

Periode
Semester I 2005
Terhadap
200
Terhadap
Semester II
4
Semseter 2004
2004

200
1

200
2

200
3

3.1

3.2

4.3

4.1

0.3

5.1

0.3
3.3
7.9
4.6

1
5.3
8.9
5.5

-0.9
5.3
5.9
6.7

-4.6
6.2
5.9
8.2

-0.9
6.8
7.7
7.4

-5.5
2.7
3.6
0.7

4.4

3.9

5.3

5.8

9.7

8.1

8.4 11.6 12.7

13.5

4.7

6.6
3.2
3.8

6.4
3.8
4.4

7
3.9
4.9

7.7
4.9
5.1

8.2
4.6
5.9

4
2.5
2.4

5.1

5.1

5.8

6.2

3.1

B. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia


Sejak Orde Baru hingga Era SBY
o

o
o

Dari sisi AD, selama krisis 1998, semua komponen


pengeluaran mengalami penurunan terkecuali
komponen ekspor (X) .
Komponen AD yang paling besar pengeluarannya
adalah komponen I yang merosot sekitar 33.01%.
Secara total dalam periode 2000-20004 semua
komponen AD mengalami pertumbuhan dengan laju
meningkat walaupun tahun tertentu di dalam jangka
waktu tersebut beberapa komponen seperti komponen
investasi (I) mengalami kelesuan.

Tabel 3.5
PDB nominal menurut komponen AD atas harga berlaku di Indonesia
(Rp triliun)
Kompone
n

periode
2000

2001

2002

2003

2004

Jan - Juni
2005

C
G
I

856.8
90.8
275.9

1,039.7
113.4
323.9

1,232
132.2
354.2

1,372
163.7
386.2

1,532.1
187.8
484.4

842.6
88.5
279.1

Stok
X
Minus M

20.1
569.5
423.3

71.2
642.6
506.4

30.4
595.5
400.8

-32.2
627.1
471

7.8
711.8
620.1

28.7
421.4
380.5

2,045.9

2,303

1,297

PDB

1,398.8 1863.3

1863

C. Faktor-Faktor Penentu Prospek


Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Didalam teori-teori konvensional, pertumbuhan ekonomi
sangat ditentukan oleh ketersedian dan kualitas dari inputinput produksi seperti tenaga kerja, modal, teknologi,
bahan baku, kewirausahaan, dan energy. Tetapi, factorfaktor ini lebih krusial dalam menentukan prospek
pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Sedangkan
pertanyaan apakah ekonomi Indonesia 2006 dan
seterusnya akan tumbuh lebih baik, lebih buruk, atau
relative sama dengan pertumbuhan 2005, adalah bicara
soal prospek pertumbuhan ekonomi jangka pendek, yang
berarti lebih dipengaruhi oleh factor-faktor jangka pendek.

Enam Factor Utama Penyebab Rendahnya


Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Kebijkan Pemerintah Tidak Terlalu Mendukung. Hal ini dapat terlihat dari
tidak adanya kebijakan industry nasional yang komprehensif yang menetapkan
prioritas terhadap industry yang akan diunggulkan dengan langkah yang jelas,
dalam jangka panjang dan jangka pendek yang harus dilakukan untuk
meningkatkan pertumbuhan industry yang telah ditetapkan sebagai industry kecil;
Kebijkan pemerintah tidak terlalu mendukung usaha peningkatan pertumbuhan
ekonomi selama ini tercerminkan dari departemen industry dan departemen
perdagangan yang sifatnya ad holic, tidak konsisten dan sering bertentangan
dengan kebijkan sebelumnya atau kebijakn dari sector lain seperti sector
pertanian.

Infrastruktur Terbatas. Hal ini terutama akibat tidak adanya kebijakan


pemerintah yang membuat pembangunan fasilitas infrastruktur sebagai salah satu
prioritas penting demi meningkatkan daya saing dan pertumbuhan ekonoimi
nasional.

Biaya Produksi Terus Meningkat. Yang disebabkan terutama oleh semakin


banyaknya pungutan yang sifatnya resmi maupun tidak resmi. Banyaknya
pungutan tersebut erat kaitannya dengan masih besarnya birokrasi dan banyaknya
perda didaerah ynag bermunculan sejak penerapan otonomi daerah.

Tingkat Produktivitas Rendah. Ada tiga penyebab utama yakni kualitas


SDM yang rendah ( pendidikan rendah dan IPM yang buruk); kapasitas
produksi yang masih rendah yang membatasi kemampuan dari banyak
industry didalam negeri untuk meningkatkan volume produksi (kecilnya
aliran kredit perbankan dan rendahnya investasi dari luar negeri dan dalam
negeri); dan masih lemahnya pengembangan atau penguasaaan teknologi
(lemahnya SDM dan kuranfgnya dukyngan dari pemerintah).
Tingkat Kewirausahaan Nasional Masih Rendah. Dilihat dari rendahnya
inivasi yang dilakukan oleh pengusaha nasional baik dalam produk yang
dihasilkan, proses produksi yang diterapkan, dan kegiatan promosi dan
pemasaran yang dilakukan.
Pertumbuhan Invesatsi Termasuk PMA Masi Rendah. Erat kaitanyya
dengan lingkungan berusaha , keamanan, dan kepastian hukum didalam
negeri yang belum kondusif dan masalah mendasar seperti buruknya
infrastruktur, biaya produksi yang belum meningkat, kebujakan ekonomi
yang tidak konsisten, dan kondisi perburuan yang semakin meningkat.

Gambar 3.9
Enam Factor Utama Penyebab Rendahnya
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Kebijakan Pemerintah Yang
Kurang Mendukung

Infrastruktur Terbatas

Pertumbuhan
Lambat

Investasi Rendah

Rasa Ketidakpastian Untuk


Melakukan Bisis Di
Indonesia

Produktifitas
Rendah

Biaya Produksi
Meningkat
Kualitas SDM
Rendah

Pungutan Bertambah Terus

Birokrasi

Tingkat Kewirausahaan/
Inovasi Yang Rendah

Kapasitas Produksi
Rendah

Teknologi
Rendah

Kurang
Dukungan
Dari
Pemerintah

UMR Naik
Terus

Banyaknya Perda

Otonomi Daerah

Kredit Bank

Bank Nasional Belum


Sepenuhnya Pulih

Kurang
Dukungan
Dari Swasta/
Universitas

Pertumbuhan ekonomi atau PDB adalah pertumbuhan output total dari


semua sector ekonomi, dan pertumbuhan output di suatu sector adalah
pertumbuhan output total dari semua perusahaan yang ada di sector
tersebut. Berdasarkan pendekatan ini, maka dapat dikatakan bahwa
lambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak krisis tidak lepas dari
lambatnya pertumbuhan kegiatan bisnis didalam negeri, khususnya swasta
sebagai pelaku ekonomi utama. Oleh karena itu, kinerja dari suatu
perusahaan sangat dipengaruhi oleh oleh lingkungan. Lingkungan diman
bisnis beroperasi dapat dibagi dalam dua macam, yakni lingkungan
langsung dan lingkungan luas (Gambar 3.10).

lingkungan yang lebih luas adalah lingkungan yang berpengaruh secara


tidak langsung terhadap suatu kegiatan bisnis, yang terdiri dari komponenkomponen berikut: ekonomi makro, pemerintah dan politik pada tingkat
nasional dan local, jasa yang diberikan oleh pemerintah, pengaruh
eksternal, social dan kultur, dan iklim serta lingkungan alam. Sedangkan,
lingkungan langsung adalah lingkungan berpengaruh secra langsung
terhadap semua kegiatan usaha, yakni pasar, regulasi dan birokrasi, dan
intervensi yang didanai oleh uang public.

Gambar 3.10
Dunia Usaha di Dalam Lingkungan
Langsung dan Lebih Luas
Ekonomi Makro

Pemerintah & Politik

Jasa Pemerintah

Lingkungan Langsung

Pengaruh-pengaruh
Eksternal

Social & Struktur

Iklim & Lingkungan

Iklim usaha yang tidak kondusif merupakan penyebab lambatnya proses


pemulihan ekonomi nasional dari krisis. Secara sederhana, iklim usaha
mencerminkan sejumlah factor yamng berkaitan dengan lokasi tertentu
membentuk kesempatan dan insentof bagi individu/ pengisaha/
perusahaan/ pemilik modal untuk melakukan usaha atau investasi secara
produktf dan berkembang. Lebi konkritnya, iklim usaha yang kondusif
adalah iklim yang mendorong seseorang melakukan bisnis (termasuk
investasi) dengan biaya dan resiko serendah mungkin disatu sisi, dan
keuntungan jangka panjang setinggi mungkin, disisi lain.
Executive Opinion Survey, yakni survey terhadap opini pribadi dari CEO
atau pimpinan/ manajer/ direktur perusahaan dan orang-orang penting
dipemerintahan ( di lembaga-lembaga terkait seperti Departemen Industri
dan Departemen Perdagangan) mengenai berbagai aspek yang terkait
langsung maupun tidak langsung dengan dunia usaha. Salah satu masalah
yang dipertanyakan didalam survey tersebut adalah factor penghambat
utama kegiatan usaha di Indonesia.

Seperti yang terlihat di Gambar 3.11, berdasarkan persentase


responden, tiga factor penghambat bisnis adalah korupsi,
birokrasi, dan kebijakan tidak stabil. Sebagian responden
menganggap korupsi yang paling mengganggu usha mereka.
Sebagian besar lainnya mengangga birokrasi yang bertele-tele
tidak efisien sebagai penghambat utama perkembangan bisnis di
Indonesia ( disebutkan juga dalm World Bank 2005). Kelompok
terbesar ketiga dari pengusaha menganggap kebijakan
khususnya ekonomi makro yang tidak stabil adalah yang paling
merugikan usaha.
Menurut laporan World Bank 2005 mengenai iklim investasi,
mencipakan suatu iklim investasi yang lebih baik
mengharuskan pemerintah untuk menangani tiga hal, yakni
biaya, risiko, dan pembatasan bagi persaingan

Tabel 3.9
Kebijakan dan perilaku pemerintah yang
mempengaruhi keputusan investasi
Tiga hal penting yang mempengaruhi

Factor-faktor yang membentuk kesempatan dan insentif

keputusan investasi

Biaya

untuk melakukan investasi


Pemerintah berpengaruh kuat

Pemerintah kurang berpengaruh

Korupsi, Tarif pajak dan system

Harga bahan yangditentukan oleh

perpajakan, bea masuk & tariff ekspor,

pasar, jarak terhadap pasar input &

subsidi, beban peraturan & birokrasi,

output, skala & bidang ekonomi

infrastruktur, jasa jasa public, kinerja

yang dikaitkan dengan teknologi

sector keunagan, suku bunga, peraturan

tertentu.

pasar tenaga kerja

Risiko

Arah kebijakan yang dapat diantisipasi

Tanggapan konsumen & pesaing,

& kredibilitasnya, stabilitas ekonomi

kejutan eksternal, bencana alam,

makro, hak-hak atas property,

kendalan pemasok.

pemaksaan kepatuhan hak atas property


untuk kepentingan umum

Pembatasan bagi persaingan

Pembatasan peraturan untuk masuk &

Ukuran pasar & jarak terhadap pasar

keluar, hukuman & kebijakan

input & output, skala & bidang

persaingan memfungsikan pasar sector

ekonomi dalam kegiatan-kegiatan

keuangan, infrastruktur.

tertentu.

Kegiatan bisnis termasuk investasi dipengaruhi oleh dua macam


lingkungan yakni :
1.lingkungan langsung;
2.lingkungan yang lebih luas.
1. Lingkungan yang lebih luas adalah lingkungan yang berpengaruh
secara tidak langsung terhadap suatu kegiatan bisnis,
yang terdiri dari komponen-komponen berikut: ekonomi makro
(seperti kebijakan perdagangan, kebijakan industri, kebijakan
sektor keuangan, dan kebijakan moneter dan fiskal), pemerintah
dan politik pada tingkat nasional dan lokal (misalnya legislatif dan
proses pembuatan kebijakan, judisiari, dan keamanan dan
stabilitas), jasa-jasa yang diberikan oleh pemerintah (seperti
pelayanan kesehatan dan pendidikan, infrastruktur, utilitas dan
jasa keamanan), pengaruh-pengaruh eksternal (seperti
perdagangan global, bantuan luar negeri, tren dan selera
masyarakat dunia, teknologi, dan informasi), sosial dan kultur
(seperti demografi, selera konsumer, dan sikap terhadap bisnis),
dan iklim serta lingkungan alam (misalnya sumber daya alam,
cuaca, dan siklus pertanian).

Sedangkan, yang dimaksud lingkungan


langsung adalah lingkungan berpengaruh
secara langsung terhadap semua kegiatan
usaha, yakni pasar (misalnya consumen,
tenaga kerja, keterampilan dan teknologi,
material dan alat-alat produksi, lokasi,
infrastruktur, modal, dan jaringan-jaringan
kerja), regulasi dan birokrasi (seperti undangundang, peraturan-peraturan, tarif pajak dan
sistem perpajakan, lisensi dan perijinan,
standar produk dan proses, dan perlindungan
konsumer dan lingkungan), dan intervensiintervensi yang didanai oleh uang publik
(seperti jasa keuangan untuk bisnis).

Tabel 3.10
Kinerja infrastruktur di ASEAN
Indikator

Indonesia

Peringkat dalam

(2000)

ASEAN

53 penduduk)

11 dari 12

Jaringan telepon tetap (%)

negara

Jumlah pemohon mobile phone (%)

21 dari 12

Akses ke sanitasi yang baik (%)

55

negara

Akses ke air bersih (%)

78

9 dari 12 negara

Jaringan jalan raya (km per 1000

1,7

7 dari 11 negara

Tingkat elektrifikasi (%)

penduduk)

7 dari 11 negara
8 dari 12 negara

Tabel 3.11
Posisi Relatif Indonesia untuk Kualitas Infrastruktur dalam
the Global competitiveness report 2004-2005
Indikator

Peringkat (total 104 negara)

Kualitas keseluruhan

44

Pembangunan jalan raya

28

Kualitas pelabuhan

40

Kualitas transpor udara

61

Suplai listrik

68

Efisiensi kantor pos

57

Kualitas telepon/fax

85

Jaringan telepon per 1000 penduduk (data, 2003)

86

Sumber: WEF (2005)

Laporan kedua adalah dari WEF (2005). Seperti


telah dijelaskan sebelumnya (lihat gambar 3.11),
survey tahunan yan g dilakukan oleh WEF ini adalah
mengenai opini pribadi dari pimpinan perusahaan
dan pejabat-pejabat penting di departmentdepartmen yang terkait dengan peningkatan daya
saing negara. Hasil survey mengenai kualitas
infrastruktur untuk kasus Indonesia dapat dilihat di
table 3.11. untuk kasus Indonesia dapat dilihat di
table 3.11. untuk infrastruktur secara keseluruhan,
Indonesia berada pada peringkat ke 44 dari Negara
104 negara yang masuk di dalam sampel. Untuk
kualitas infrastruktur menurut jenisnya, kondisi
Indonesia juga buruk.

Posisi Relative Indonesia untuk Pengembangan Pendidikan dan Teknologi dalam


the Global Competitiveness

Tabel 3.12
Posisi Relative Indonesia untuk Pengembangan Pendidikan dan
Teknologi dalam the Global Competitiveness
Indikator

Peringkat (total
104 negara)

Kualitas system pendidikan

35

Kualiotas sekolah-sekolah negeri

48

Kualitas pendidikan matematik dan sains

57

Penyebaran dalam pelayanan kesehatan berkualitas

36

Tingkat (berdasarkan data sekunder 2001, atau tahun tahun terakhir yang ada)
-primary enrollment

23

- secondary enrollment

81

- teriary enrollment

74

Kesiapan teknologi

57

Dalam teknologi, yakni pertanyaan apakah


tingkat kesiapan teknologi dari suatu Negara
jauh di bawah Negara Negara laion, atau
termasuk salah satu pemimpin dunia, posisi
Indonesia juga Rendah, yang mencerminkan
pembangunan teknologi hingga sekarang ini di
Indonesiamasih relative buruk. Kondisi ini
seperti halnya dengan kondisi pendidikan
yang masih buruk tidak lepas dari kondisi
lingkungan kelembagaan dan kebijakan yang
selama ini belum optimal mendukung
pengembangan pendidikan dan teknologi dio
Indonesia.

Tabel 3.13
Posisi Relative Indonesia untuk Lingkungan Ekonomi
makro dalam
the Global Competitiveness Report 2004-2005
Indikator

Peringkat (total 104 negara)

Kecanggihan pasar keuangan

40

Kondisi perbankan

83

Ketersediaan modal ventura

20

Akses ke kredit

64

Akses ke pasar saham local

65

Peraturan perdagangan sekuritas

70

Efektifitas dari undang-undang kebangkrutan

53

Rintangan-rintangan perdagangan terselubung

65

Biaya impor perlatan/mesin dari luar negeri

52

Dampak bisnis dari rintangan-rintangan perdagangan domestic

69

Dampak bisnis dari rintangan-rintangan perdagangan luar negeri

20

Dampak bisnis dari prosedur-prosedur pabean

51

Dampak bisnis dari peraturan-peraturan mengenai PMA

86

Beban pajak

Efisiensi dari prosedur-prosedur pabean

37

Keterbukaan dari regim pabean

44

Usaha-usaha terorganisasi untuk memperbaiki daya saing

27

Table 3.13 menunjukkan


peringkat yang sangat krusial
bagi pertumbuhan
bisnis/investasi, seperti
pembangunan sector keuangan,
kelayakan bisnis dari perbankan,
akses ke kredit, ketersediaan
modal ventura, dan seterusnya.

Tabel 3.14
Posisi Relatif Indonesia untuk Kelembagaan Publik dalam the global
competitiveness report 2004-2005
Indikator

Peringkat (total 104 negara)

Kemandirian Judisial

58

Efisiensi dari kerangka kerja legal

51

Hak Properti

67

Perlindungan kekayaan intelektual

47

Pemborosan dalam pengeluaran pemerintah

25

Beban dari regulasi pemerintah pusat

15

Beban dari regulasi pemerintah daerah

29

Tingkat birokrasi

85

Tingkat dan efek dari perpajakan

27

Pembayaran tidak regular/ilegal dalam ekspor dan impor

75

Pembayaran tidak reguker.ilegal dalam pemakaian utilitas publik

70

Pembayaran tidak regular/ilegal dalam pembayaran pajak

76

Pembayaran tidak regular.ilegal dalam kontrak public

46

Pembayaran tidak regular.ilegal dalam aplikasi kredit

80

Pembayaran tidak regular/ilegal dalam keputusan judisial

69

Biaya- biaya bisnis dari pembayaran-pembayaran non regular illegal

81

Selanjutnya, masih berdasarkan laporan


WEF (2004), table 3.14 menyajikan posisi
relative dari Indonesia dalam beberapa
indicator dari kelembagaan public yang
sangat relevan bagi kegiatan usaha atau
investasi. Seperti yang dapat dilihat,
dalam kemandirian judicial dari pengaruh
politik dari pengaruh politik dari anggotaanggota pemerintah (misalnya menteri
dan presiden), politikus dan masyarakat,
dan perusahaan, Indonesia berada pada
peringkat ke 58.

Bagian rama

Bagian ute

Bagian abe

Terima kasih