Anda di halaman 1dari 36

STUDI KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN NYERI AKUT PADA NY. S


DENGAN POST OPERASI GANGLION POPLITEA
DEXTRA DI RUANG DAHLIA
RS PANTI WALUYO
SURAKARTA

DISUSUN OLEH :

RINI ANJARSARI
NIM. P.09096

PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2012



STUDI KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN NYERI AKUT PADA NY. S
DENGAN POST OPERASI GANGLION POPLITEA
DEXTRA DI RUANG DAHLIA
RS PANTI WALUYO
SURAKARTA
Karya Tulis Ilmiah
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Dalam Menyelesaikan Program Diploma III Keperawatan

DISUSUN OLEH :

RINI ANJARSARI
NIM. P.09096

PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2012


SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertandatangan di bawah ini :


Nama

: Rini Anjarsari

Nim

: P. 09096

Proram Studi

: D III Keperawatan

Judul Karya Tulis Ilmiah : ASUHAN KEPERAWATAN NYERI AKUT PADA


NY. S DENGAN POST OPERASI GANGLION
POPLITEA DEXTRA DI RUANG DAHLIA RS
PANTI WALUYO SURAKARTA
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Tugas Akhir yang saya tulis ini
benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan
atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri.
Apabila dikemudian hari dapat dibuktikan bahwa Tugas Akhir ini adalah
hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut sesuai
dengan ketentuan akademik yang berlaku.

Surakarta, April 2012

RINI ANJARSARI
NIM P.09096




LEMBAR PERSETUJUAN

Karya Tulis Ilmiah ini diajukan oleh :


Nama

: Rini Anjarsari

NIM

: P. 09096

Program Studi : D III Keperawatan


Judul

: ASUHAN KEPERAWATAN NYERI AKUT PADA NY. S


DENGAN

POST

OPERASI

GANGLION

POPLITEA

DEXTRA DI RUANG DAHLIA RS PANTI WALUYO


SURAKARTA

Telah disetujui untuk diujikan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah
Prodi D III Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta

Ditetapkan di

: Surakarta

Hari/Tanggal

: Jumat/ 27 April 2012

Pembimbing : Joko Kismanto, S.Kep.,Ns


NIK. 200670020

(.....................................)




HALAMAN PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah ini diajukan oleh :


Nama

: Rini Anjarsari

NIM

: P. 09096

Program Studi : D III Keperawatan


Judul

: ASUHAN KEPERAWATAN NYERI AKUT PADA NY. S


DENGAN

POST

OPERASI

GANGLION

POPLITEA

DEXTRA DI RUANG DAHLIA RS PANTI WALUYO


SURAKARTA

Telah diujikan dan dipertahankan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah
Prodi D III Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta
Ditetapkan di

: Surakarta

Hari/Tanggal

: Rabu/ 02 Mei 2012


DEWAN PENGUJI

Penguji I : Joko Kismanto, S.Kep.,Ns


NIK. 200670020

(.....................................)

Penguji II : Erlina Windyastuti, S.Kep.,Ns


NIK. 201187065

(.....................................)

Penguji III : Fakhrudin Nasrul S, S.Kep.,Ns


NIK. 201185071

(.....................................)

Mengetahui,
Ketua Program Studi D III Keperawatan
STIKes Kusuma Husada Surakarta

Setiyawan, S.Kep.,Ns
NIK. 201084050




KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha
Kuasa yang telah melimpahkan rahmat serta hidayat-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan laporan studi kasus dengan judul ASUHAN KEPERAWATAN
NYERI AKUT PADA NY. S DENGAN POST OPERASI GANGLION
POPLITEA

DEXTRA

DI

RUANG

DAHLIA

RS

PANTI

WALUYO

SURAKARTA.
Penyusunan studi kasus ini merupakan tugas akhir sebagai syarat dalam
menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III Keperawatan di STIKes Kusuma
Husada Surakarta.
Selama menyusun studi kasus ini, penulis banyak menemui kesulitan dan
hambatan, namun berkat bantuan, bimbingan dan kerjasama dari berbagai pihak,
akhirnya semua bisa berjalan lancar dan laporan studi ini dapat terselesaikan
sesuai dengan waktunya. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih
kepada yang terhormat :
1.

Setiyawan, S.Kep.,Ns selaku Ketua Program Studi D III Keperawatan


Kusuma Husada yang selalu memberikan dorongan dan semangat di STIKes
Kusuma Husada Surakarta.




2.

Erlina Windyastuti, S.Kep.,Ns selaku Sekretaris Ketua Program Studi D III


Keperawatan sekaligus sebagai penguji yang telah memberikan motivasi dan
semangat dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

3.

Joko Kismanto, S.Kep.,Ns selaku dosen pembimbing sekaligus sebagai


penguji yang telah membimbing dengan cermat, memberikan masukanmasukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi
demi kesempurnaanya studi kasus ini.

4.

Fakhrudin Nasrul Sani, S.Kep.,Ns selaku dosen penguji yang telah


membimbing dengan cermat, memberikan masukan-masukan, inspirasi,
perasaan nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya
studi kasus ini.

5.

Semua dosen Program Studi D III Keperawatan STIKes Kusuma Husada


Surakarta yang telah memberikan bimbingan dengan sabar dan wawasannya
serta ilmu yang bermanfaat.

6. Kedua orangtuaku, yang selalu menjadi inspirasi dan memberikan semangat


untuk menyelesaikan pendidikan.
7. Teman-teman Mahasiswa Program Studi D III Keperawatan STIKes Kusuma
Husada Surakarta dan berbagai pihak yang tidak disebutkan satu-persatu, yang
telah memberikan dukungan moril dan spiritual.
Dalam laporan ini, penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan studi kasus
ini masih banyak kekurangan dan kelemahannya. Oleh karena itu, kritik dan saran
yang bersifat membangun penulis harapkan untuk memperbaiki laporan studi



kasus ini. Harapan dari penulis adalah laporan studi kasus ini dapat memberikan
manfaat bagi penulis dan pembaca semuanya.

Surakarta, April 2012

Penulis




DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...............................................................................

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ................................................

ii

LEMBAR PERSETUJUAN .....................................................................

iii

LEMBAR PENGESAHAN.....................................................................

iv

KATA PENGANTAR .............................................................................

DAFTAR ISI ...........................................................................................

viii

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................

B. Tujuan Penulisan ..............................................................

C. Manfaat Penulisan ............................................................

LAPORAN KASUS
A. Identitas Klien ..................................................................

B. Pengkajian ........................................................................

C. Perumusan Masalah Keperawatan .....................................

12

D. Perencanaan Keperawatan ................................................

12

E. Implementasi Keperawatan ...............................................

13

F. Evaluasi Keperawatan.......................................................

14




BAB III

PEMBAHASAN DAN SIMPULAN


A. Pembahasan ......................................................................

16

B. Simpulan dan Saran ..........................................................

22

Daftar Pustaka
Lampiran
Daftar Riwayat Hidup




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagian besar masyarakat memiliki anggapan yang kurang tepat
bahwa semua nyeri sendi diakibatkan oleh penyakit reumatik atau asam urat.
Anggapan yang salah akan menyebabkan salah diagnosis dan salah
pengobatan. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila cukup banyak nyeri
sendi yang tidak sembuh meskipun telah memperoleh pengobatan dari dokter,
karena didasarkan pada diagnosis dan pengobatan yang salah. Pendapat
bahwa nyeri sendi berarti penyakit reumatik dan asam urat mulai di
tinggalkan. Ada banyak penyakit lain yang dapat menyebabkan nyeri, salah
satunya adalah kista ganglion (Sadiman. M. Ridwan, 2009).
Kista ganglion atau biasa disebut ganglion merupakan kista yang
terbentuk dari kapsul suatu sendi atau sarung suatu tendon. Kista ini berisi
cairan kental jernih yang mirip dengan jelly yang kaya protein. Ganglion
merupakan tumor jaringan lunak yang paling sering didapatkan pada tangan.
Ganglion biasanya melekat pada sarung tendon pada tangan atau pergelangan
tangan atau melekat pada suatu sendi, namun ada juga yang tidak memiliki
hubungan dengan struktur apapun. Ganglion ini juga dapat ditemukan di kaki.
Ukurannya bervariasi, dapat bertambah besar atau mengecil sesuai dengan
perkembangannya. Selain itu kadang dapat mengalami inflamasi jika



teriritasi. Konsistensi dapat lunak hingga keras seperti batu akibat tekanan
tinggi cairan yang mengisi ganglion sehingga kadang didiagnosis sebagai
tonjolan tulang (Sadiman. M. Ridwan, 2009).
Ahli bedah tangan yang berpengalaman juga dapat mengenali ganglion.
Nyeri terjadi dengan gerakan pergelangan tangan yang ekstrim. Sebagian
pasien mengeluhkan benjolan di bawah kulit yang sebagian besar terletak
pada bagian belakang pergelangan tangan, atau pada sendi terdekat ke ujung
jari. Ganglion merupakan benjolan yang tidak bergejala namun kadang di
temukan nyeri serta riwayat penggunaan lengan yang berlebihan. Jika
ganglion menimbulkan gejala dan ketidaknyamanan ataupun masalah
mekanis, terdapat dua pilihan penatalaksanaan yaitu aspirasi (mengeluarkan
isi cairan di dalam ganglion dengan menggunkan jarum) dan pengangkatan
ganglion secara bedah. Aspirasi melibatkan pemasukan jarum kedalam
ganglion dan mengeluarkan isinya setelah mematirasakan daerah sekitar
ganglion dengan anestesi lokal.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa menggunakan substansi lain
seperti hialuronidase bersama dengan steroid setelah aspirasi meningkatkan
angka kesembuhan dari 57% (aspirasi dan steroid) menjadi 89% dengan
substansi tambahan. Jika kista tersebut rusak, akan menimbulkan nyeri,
masalah mekanis dan komplikasi saraf (hilangnya fungsi motorik dan
sensorik akibat tekanan ganglion pada saraf) atau timbul kembali setelah
aspirasi, maka eksisi bedah dianjurkan. Eksisi ganglion ini biasanya
merupakan prosedur minor, tetapi dapat menjadi rumit tergantung pada lokasi



ganglion dan yang kemudian dapat menimbulkan nyeri. Data survei pasca
operasi di Indonesia , menunjukan nyeri terus menerus dialami 16,6% pasien.
Derajat nyeri berat dirasakan 16,67% pasien, nyeri sedang 41,7% dan sisanya
nyeri ringan (Sadiman. M. Ridwan, 2009).
Nyeri itu sendiri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak
menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang bersifat subjektif.
(Muttaqin. A, 2009 : 71). Menurut International Association for Study of
Pain (IASP), nyeri adalah suatu pengalaman sensorik dan emosional yang
tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan, baik aktual maupun
potensial, atau yang digambarkan dalam bentuk kerusakan tersebut (Sadiman.
M. Ridwan, 2009).
Skala intensitas nyeri berdasarkan angka adalah dimulai dari angka 010, pembagian tingkatan nyeri yaitu, angka 0 : tidak nyeri, angka 1-3 : nyeri
ringan, secara objektif klien dapat berkomunikasi dengan baik, angka 4-6 :
nyeri sedang, secara objektif klien mendesis, dapat menunjukkan lokasi nyeri,
dapat mendeskrepsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik, angka 7-9
: nyeri berat, secara objektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah
tetapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukan lokasi nyeri , tidak
dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas
panjang dan distraksi, angka 10 : nyeri sangat berat, pasien sudah tidak
mampu lagi berkomunikasi (Brunner & Suddarth, 2002 : 218).
Nyeri dibagi menjadi dua yaitu nyeri akut, nyeri yang terjadi segera
setelah cedera akut, penyakit, atau intervensi bedah dan memiliki awitan yang



cepat, dengan intensitas bervariasi dari berat sampai ringan. Fungsi nyeri ini
adalah memberi peringatan akan adanya cedera atau penyakit yang akan
datang. Nyeri akut secara serius mengancam proses penyembuhan klien,
untuk itu harus menjadi prioritas perawatan. Nyeri kronik adalah nyeri
konstan atau intermiten yang menetap sepanjang suatu periode tertentu,
berlangsung lama, intensitas bervariasi, dan biasanya berlangsung lebih dari
enam bulan (Brunner & Suddarth, 2002 : 213).
Klien yang mengalami nyeri kronik akan mengalami periode remisi,
yaitu gejala hilang sebagian atau keseluruhan dan periode eksaserbasi, yaitu
keparahan meningkat. Nyeri ini biasanya tidak memberikan respon terhadap
pengobatan yang diarahkan pada penyebabnya. Nyeri ini merupakan
penyebab utama ketidakmampuan fisik dan psikologis. (Potter. Patricia A,
2006 : 1510)
Berdasarkan data di atas, penulis tertarik untuk melakukan studi kasus
tentang ganglion, serta cara penatalaksanaannya. Dengan adanya berbagai
data, maka penulis melaporkan studi kasus Asuhan Keperawatan Nyeri Akut
pada Ny. S dengan Post Operasi Ganglion Poplitea Dextra di Ruang Dahlia
Rumah Sakit Panti Waluyo Surakarta.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Melaporkan kasus nyeri pada Ny. S dengan post operasi ganglion di ruang
Dahlia Rumah Sakit Panti Waluyo Surakarta.



2. Tujuan Khusus
a. Penulis mampu melakukan pengkajian pada Ny. S dengan nyeri post
operasi ganglion.
b. Penulis mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada Ny. S dengan
nyeri post operasi ganglion.
c. Penulis mampu menyusun rencana Asuhan Keperawatan pada Ny. S
dengan nyeri post operasi ganglion.
d. Penulis mampu melakukan implementasi pada Ny. S dengan nyeri post
operasi ganglion.
e. Penulis mampu melakukan evaluasi pada Ny. S dengan nyeri post
operasi ganglion.
f. Penulis mampu menganalisa kondisi nyeri yang terjadi pada Ny. S
dengan post operasi ganglion.

C. Manfaat Penulisan
1. Bagi Penulis
Asuhan Keperawatan akan memberikan wawasan yang luas
mengenai masalah keperawatan klien dengan nyeri akut post operasi
ganglion.




2. Bagi instansi
a. Pendidikan
Asuhan Keperawatan sebagai bahan masukan dalam kegiatan
belajar mengajar tentang masalah keperawatan mengenai klien dengan
nyeri akut post operasi ganglion.
b. Rumah sakit
Asuhan Keperawatan sebagai bahan masukan dan evaluasi yang
diperlukan

dalam

pelaksanaan

praktik

pelayanan

keperawatan

khususnya pada klien dengan nyeri akut post operasi ganglion.


3. Bagi Profesi Keperawatan
Hasil penulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran
dan informasi dibidang Keperawatan tentang asuhan keperawatan nyeri
akut pada klien post operasi ganglion.




BAB II
LAPORAN KASUS

Dalam bab ini menjelaskan tentang Asuhan Keperawatan yang dilakukan


pada Ny. S. dengan diagnosa medis Ganglion Poplitea Dextra. Asuhan
Keperawatan dimulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi,
implementasi, dan evaluasi.

A. Identitas Klien
Pengkajian pada tanggal 3 April 2012 jam 08.00 WIB, pada pengkajian
ini menggunakan metode Auto Anamnesa dan Allo Anamnesa, pengamatan,
menelaah catatan medis, dan catatan perawat. Metode Auto Anamnesa yaitu
metode wawancana dengan klien langsung, sedangkan Allo Anamnesa yaitu
wawancara dengan keluarga atau orang terdekat.
Dari data pengkajian tersebut didapat hasil identitas pasien, pasien
bernama Ny. S, alamat : Trosobo Rt 02 Rw 01, Sambi, Boyolali, umur 58
tahun, pekerjaan : petani, tingkat pendidikan : SMP, dirawat di bangsal Dahlia
Rumah Sakit Panti Waluyo Surakarta, pasien dirawat mulai tanggal 2 April
2012 dengan diagnosa medis Ganglion Poplitea Dextra. Yang bertanggung
jawab pada Ny. S adalah Tn. K, yang merupakan kakak dari Ny. S.




B. Pengkajian
Pengkajian mengenai

riwayat keperawatan yaitu meliputi keluhan

utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat kesehatan


keluarga, dan riwayat kesehatan lingkungan. Penjelasannya sebagai berikut :
Keluhan utama yang dirasakan pasien adalah pasien mengatakan nyeri
pada luka operasi yaitu pada lipat kaki belakang lutut kanan. Riwayat penyakit
sekarang Ny. S mengatakan 3 bulan yang lalu dibagian lutut kanan terasa
cekot-cekot dan kemeng. Pasien juga tidak mengetahui penyebabnya,
kemudian oleh keluarga pasien dibawa ke Rumah Sakit Simo untuk melakukan
terapi, sudah dilakukan 6 kali terapi, tetapi tidak ada perubahan yang
dirasakan pasien. Kemudian pihak keluarga memutuskan untuk membawa
pasien ke Rumah Sakit Panti Waluyo Surakarta, dan pada tanggal 2 April 2012
pukul 19.00 WIB pasien menjalani operasi pengambilan ganglion pada lipat
kaki belakang lutut kanan. Saat pengkajian didapatkan data, pasien merasakan
nyeri pada luka operasi yaitu dilipat kaki belakang lutut kanan, dengan skala
nyeri 6.
Pada pengkajian riwayat penyakit dahulu, pasien mengatakan 10 tahun
yang lalu pasien pernah melakukan operasi di RSUD Dr. Moewardi Surakarta
dengan kasus yang sama, yaitu di lipat kaki belakang lutut sebelah kiri.
Riwayat kesehatan keluarga, Ny. S mengatakan dalam keluarganya tidak ada
yang mempunyai sakit yang sama seperti yang sedang dideritanya. Pada
pengkajian riwayat kesehatan lingkungan, pasien mengatakan keadaan
lingkungan sekitar rumah bersih dan tidak ada pembuangan limbah industri,



pasien juga mempunyai hubungan baik dengan keluarga maupun masyarakat


sekitar.
Pada pengkajian pola kesehatan fungsional meliputi pola persepsi dan
pemeliharaan kesehatan, pola nutrisi dan metabolisme, pola eliminasi, pola
aktivitas dan latihan, pola istirahat tidur, pola kognitif perseptual, pola persepsi
konsep diri, pola hubungan peran, pola seksualitas dan reproduksi, pola
mekanisme koping, pola nilai dan keyakinan. Dari kesebelas pola diatas, yang
mengalami gangguan yaitu pada pola kognitif perseptual, pola aktivitas dan
latihan.
Pola kognitif perseptual, sebelum sakit Ny. S mengatakan tidak ada
gangguan pada penglihatan, pendengaran, pengecapan, dan penciuman, selama
sakit Ny. S mengatakan tidak ada gangguan pada penglihatan, pendengaran,
pengecapan, dan penciuman, pasien merasakan nyeri pada luka operasi yaitu di
lipat kaki belakang lutut kanan, nyeri seperti ditekan-tekan, skala nyeri 6, nyeri
terasa bila kakinya digerakkan.
Pola aktivitas dan latihan, sebelum sakit pasien mengatakan dalam
kesehariannya bekerja sebagai seorang petani, dan melakukan semua
aktivitasnya sendiri, selama sakit pasien mengatakan aktivitasnya dibantu
keluarga (toileting, berpakaian, mobilisasi di tempat tidur).
Pada pengkajian pemeriksaan fisik, keadaan umum pasien adalah lemah,
kesadaran composmentis. Untuk pemeriksaan tanda-tanda vital diperoleh hasil,
tekanan darah 140/80 mmHg, nadi 84 kali per menit, pernafasan 20 kali per
menit dan suhu 36,7oC. Pada pemeriksaan kepala didapatkan hasil bentuk



kepala mesocepal, kulit kepala sedikit kotor, rambut hitam dengan sedikit
uban, kekuatan rambut baik. Pemeriksaan mata, hasilnya konjungtiva tidak
anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor, mata simetris antara kanan dan kiri.
Pemeriksaan hidung, hasilnya penciuman baik, tidak ada polip, sedikit sekret.
Pemeriksaan mulut, hasilnya mukosa bibir lembab, tidak ada stomatitis.
Pemeriksaan telinga, hasilnya pendengaran baik, sedikit serumen, simetris
antara telinga kanan dan kiri. Pemeriksaan leher, hasilnya tidak ada
pembesaran kelenjar tyroid.
Pemeriksaan paru-paru, inspeksi : simetris antara kanan dan kiri, bentuk
dada datar, palpasi : vocal vremitus sama antara kanan dan kiri, perkusi : bunyi
sonor, auskultasi : suara nafas vesikuler. Pemeriksaan jantung, inspeksi : ictus
cordis tidak nampak, palpasi : ictus cordis teraba di ICS ke 5 mid clavikula,
perkusi : bunyi pekak, auskultasi : bunyi jantung 1 bunyi jantung 2 reguler.
Pemeriksaan abdomen, inspeksi : perut datar, tidak ada bekas luka, auskultasi :
peristaltik usus 4 kali per menit, perkusi : bunyi hipertimpani, palpasi : tidak
ada pembesaran hati dan limpa, tidak ada nyeri tekan. Pemeriksaan genetalia :
pasien tidak terpasang DC. Pemeriksaan ekstermitas atas : akral hangat,
capillary refile kurang dari 2 detik, tidak ada perubahan bentuk tulang,
kekuatan otot 5, tangan kiri terpasang infus, ekstermitas bawah : akral hangat,
capillary refile kurang dari 2 detik, kekuatan otot kaki kiri 5, kekuatan otot kaki
kanan 4, kaki kiri bebas untuk digerakan, kaki kanan tepatnya dilipat kaki
belakang lutut terasa nyeri bila digerakan, nyeri seperti ditekan-tekan, skala
nyeri 6.



Pemeriksaan penunjang yang dijalani oleh pasien pada tanggal 2 April


2012 adalah pemeriksaan Thorax PA, hasilnya : Thorax foto dalam batas
normal, pemeriksaan elektrokardiograf ( EKG), hasilnya : sinus rhythm atau
normal, pemeriksaan laboratorium, hasilnya hemoglobin : 13,4 g/dl (nilai
normal 12,1-17,6 g/dl), hematokrit : 38,8 % (nilai normal 35-45 %), eritrosit :
5,03 juta/mm3 (nilai normal 4,5-5,9 juta/mm3), leukosit : 8,500 /mm3 (nilai
normal 4,400-11,300 /mm3), trombosit 381ribu U/L (nilai normal 150ribu450ribu U/L), basofil : 0,2 % (nilai normal 0-2%), eosinofil 6,5 % (nilai normal
0-4%), neutrofil 59,8 % (nilai normal 55-80 %), limfosit 26,1 % (nilai normal
22-44 %), monosit 7,4 % (nilai normal 0-7 %), golongan darah B dengan RH+.
Program terapi yang diperoleh pasien pada tanggal 3 April 2012 adalah
injeksi analgesik yaitu injeksi antrain 1 gram tiap 8 jam fungsinya untuk
meredakan nyeri pasca operasi dan nyeri kolik, injeksi ferzobat 1 gram tiap 8
jam fungsinya untuk mengatasi infeksi kulit, jaringan lunak, profilaksis infeksi
pasca operasi ortopedik dan ginekologi, injeksi kalnex 250 miligram tiap 8 jam
fungsinya untuk mencegah perdarahan abnormal setelah operasi, dan obat oral
yaitu ceptik 200 miligram tiap 8 jam fungsinya untuk infeksi saluran kemih
tanpa komplikasi, otitis media, faringitis bronkitis akut dan kronis dengan
eksaserbasi akut, dan mefinter 500 miligram tiap 8 jam fungsinya untuk
meredakan nyeri otot, nyeri sendi, nyeri post operasi dan nyeri traumatik.
Dari hasil pengkajian dan observasi di atas, penulis melakukan analisa
data kemudian merumuskan diagnosa keperawatan yang utama sesuai dengan




prioritas, menyusun intervensi keperawatan, melakukan implementasi, dan


evaluasi tindakan.

C. Rumusan Masalah
Diagnosa keperawatan yang utama adalah nyeri akut berhubungan
dengan agen cidera fisik (post op ganglion), data subjektif : pasien mengatakan
luka operasi terasa nyeri yaitu pada lipat kaki belakang lutut kanan, data
objektif : lipat kaki belakang lutut kanan ada luka operasi yang tertutup kasa,
pasien meringis kesakitan, skala nyeri 6.

D. Intervensi Keperawatan
Tujuan dari tindakan keperawatan yang dilakukan oleh penulis adalah
setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 kali 24 jam, diharapkan nyeri
pada Ny. S dapat berkurang ataupun hilang dengan kriteria hasil : nyeri hilang,
pasien rilex, skala nyeri menjadi 1-2, pemeriksaan tanda-tanda vital dalam
batas normal (tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 80-100 kali per menit,
pernafasan 16-24 kali per menit, suhu 36,70C-37,50C).
Intervensi keperawatan yang akan dilakukan penulis untuk mencapai
tujuan tindakan keperawatan adalah yang pertama kaji karakteristik nyeri
(PQRST) meliputi P (Provocative), Q (Quality), R (Region), S (Skala), T
(Timing), yang rasionalnya informasi dari pasien membantu mengevaluasi
nyeri dan peredaan nyeri serta mengidentifikasi jenis nyeri, kedua ajarkan
teknik nafas dalam rasionalnya melonggarkan ketegangan emosional dan otot,



ketiga beri posisi nyaman dengan rasional meningkatkan kenyamanan dan


mengurangi rasa nyeri, keempat periksa tanda-tanda vital dengan rasional hasil
tanda-tanda

vital

memberikan

gambaran

lengkap

mengenai

sistem

kardiovaskuler, dan yang kelima kolaborasi dengan tim medis dalam


pemberian analgesik yang rasionalnya analgesik dapat meningkatkan peredaan
nyeri yang optimal.

E. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan pada tanggal 3 April 2012 yang dilakukan
penulis yaitu pukul 08.00 WIB mengkaji karakteristik nyeri (PQRST), respon
subjektif : P (Provocative) : pasien mengatakan nyeri pada luka operasi di lipat
kaki belakang lutut kanan, Q (Quality) : seperti ditekan-tekan, R (Region) :
lipat kaki belakang lutut kanan, S (Skala) : skala nyeri 6, T (Timing) : nyeri
hilang timbul, respon objektif : pasien meringis kesakitan, lipat kaki belakang
lutut kanan ada bekas operasi yang tertutup kasa. Pukul 08.20 WIB
mengajarkan teknik relaksasi atau nafas dalam, respon subjektif : pasien
mengatakan mau diajarkan teknik nafas dalam, respon objektif : pasien bisa
melakukan teknik nafas dalam walaupun belum sempurna. Pukul 09.00 WIB
melaksanakan terapi injeksi analgesik yaitu injeksi antrain 1 gram, hasilnya
obat masuk melalui injeksi intravena dan tidak ada tanda-tanda alergi pada
tubuh pasien. Pukul 09.30 WIB mengukur tanda-tanda vital, dengan hasil
tekanan darah 140/80 mmHg, nadi 84 kali per menit, pernafasan 20 kali per
menit dan suhu 36,7oC. Pukul 10.45 WIB memberikan posisi nyaman, respon



subjektif : pasien mengatakan sudah nyaman dengan posisi supinasi, respon


objektif : pasien nyaman dengan posisi supinasi.
Implementasi keperawatan pada tanggal 4 April 2012, yaitu pukul 08.00
WIB mengkaji ulang karakteristik nyeri (PQRST), respon subjektif : P
(Provocative) : pasien mengatakan nyeri masih terasa di tempat yang sama,
yaitu di lipat kaki belakang lutut sebelah kanan, Q (Quality) : nyeri cekit-cekit,
R (Region) : lipat kaki belakang lutut kanan, S (Skala) : skala nyeri 4, T
(Timing) : nyeri timbul kadang-kadang, respon objektif : pasien lebih rilex,
luka bekas operasi yaitu pada lipat kaki belakang lutut kanan tertutup kasa.
Pada pukul 08.15 WIB menganjurkan pasien untuk nafas dalam, respon
subjektif : pasien mengatakan sudah melakukan, respon objektif : pasien sudah
bisa melakukan. Pukul 09.30 WIB melaksanakan terapi injeksi analgesik ,
yaitu injeksi antrain 1 gram, hasilnya obat masuk melalui injeksi intravena dan
tidak ada tanda-tanda alergi pada tubuh pasien. Pukul 11.00 WIB mengukur
tanda-tanda vital, hasilnya : tekanan darah 140/80 mmHg, nadi 82 kali per
menit, pernafasan 20 kali per menit, dan suhu 36,50C.

F. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi tindakan pada tanggal 3 April 2012 pukul 14.00 WIB yaitu
subjektif : pasien mengatakan nyeri berkurang, dengan skala nyeri 4. Objektif :
pasien sedikit lebih rilex. Assesment : masalah teratasi sebagian. Planning :
intervensi dilanjutkan yaitu kaji ulang karakteristik nyeri (PQRST), anjurkan




untuk nafas dalam, kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi
analgesik.
Evaluasi tindakan pada tanggal 4 April 2012 pukul 12.30 WIB yaitu
subjektif : nyeri berkurang dengan skala nyeri 3. Objektif : pasien rilex.
Asessment : masalah teratasi sebagian. Planning : intervensi dilanjutkan yaitu
anjurkan pada pasien untuk melakukan nafas dalam di rumah bila rasa nyeri
nyeri muncul lagi, anjurkan pada pasien untuk selalu rutin minum obat di
rumah, anjurkan pada pasien untuk datang kontrol.




BAB III
PEMBAHASAN DAN SIMPULAN

A. Pembahasan
Pada bab ini penulis akan membahas tentang kesenjangan teori dan
tindakan proses keperawatan pada Asuhan Keperawatan yang dilakukan pada
tanggal 3-4 April 2012 di ruang Dahlia Rumah Sakit Panti Waluyo Surakarta.
Dalam pembahasan ini menggunakan langkah kerja proses keperawatan yang
terdiri

dari

tahap

pengkajian,

diagnosa

keperawatan,

perencanaan,

implementasi, dan evaluasi (Potter & Perry, 2005 : 140).


Tahap pengkajian itu sendiri merupakan pengumpulan, pengaturan,
validasi dan dokumentasi data atau informasi dari klien yang sistematis dan
berkesinambungan (Kozier, 2011 : 355). Proses pengumpulan data ini
mencakup dua langkah yaitu pengumpulan data dari sumber primer atau
klien, dan sumber sekunder yaitu meliputi keluarga maupun tenaga kesehatan
(Potter & Perry, 2005 : 144).
Dalam pengkajian Asuhan Keperawatan pada Ny. S yang dilakukan
tanggal 3-4 April 2012 pasien mengeluh nyeri, didukung dengan data
subjektif pasien mengatakan luka operasi terasa nyeri yaitu pada lipat kaki
belakang lutut kanan, data objektif lipat kaki belakang lutut kanan ada luka
operasi yang tertutup kasa, pasien meringis kesakitan, dengan skala nyeri 6.
Hal

tersebut

sesuai

dengan

teori,


bahwa

pada

kasus

ganglion

penatalaksanaannya dilakukan dengan pengangkatan ganglion secara bedah


atau operasi, dan masalah yang ditimbulkan pada kasus pascabedah salah
satunya adalah nyeri (Sjamsuhidajat. R, 2005 : 294).
Pada pola kognitif perseptual, penulis mencantumkan sebelum sakit
pasien mengatakan tidak ada gangguan pada penglihatan, pendengaran,
pengecapan, dan penciuman, selama sakit pasien mengatakan tidak ada
gangguan pada penglihatan, pendengaran, pengecapan, dan penciuman. Dan
penulis belum mencantumkan tentang gangguan perabaan, hal tersebut karena
tidak terkaji oleh penulis.
Pada pola aktivitas dan latihan, penulis mencantumkan sebelum sakit
pasien mengatakan dalam melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Selama sakit pasien mengatakan aktivitasnya dibantu keluarga, seperti
toileting, berpakaian, mobilisasi ditempat tidur. Hal tersebut disebabkan
karena adanya nyeri pascabedah (Sjamsuhidajat. R, 2005 : 294).
Pada pemeriksaan fisik bagian ekstremitas, penulis menuliskan
ekstremitas bawah akral hangat, capillary refile kurang dari 2 detik, kekuatan
otot kaki kiri 5, kakuatan otot kaki kanan 4, kaki kiri bebas untuk digerakan,
kaki kanan tepatnya dilipat kaki belakang lutut terasa nyeri bila digerakan,
nyeri seperti ditekan-tekan, skala nyeri 6. Penulis tidak menjelaskan kondisi
lukanya, hal ini dikarenakan pasien post operasi hari pertama dan belum
dilakukan tindakan perawatan luka.
Setelah data didapatkan dari proses pengkajian, tahap selanjutnya
adalah menegakkan diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan merupakan



penilaian yang dibuat setelah pengumpulan data yang sistematis dan


menyeluruh. Diagnosa keperawatan menjadi dasar bagi seleksi intervensi
keperawatan untuk mencapai hasil yang dipertanggungjawabkan oleh perawat
(Kozier, 2011 : 379).
Dalam kasus ini, penulis menegakkan diagnosa utama yaitu gangguan
rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan agen cedera fisik (post op ganglion
poplitea dextra), (Nanda, 2011 : 410). Pengertian dari nyeri itu sendiri adalah
suatu pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat
dari kerusakan jaringan yang bersifat subjektif (Muttaqin. A, 2009 : 71).
Alasan penulis mengangkat diagnosa tersebut menjadi diagnosa aktual
karena saat pengkajian yang paling dikeluhkan oleh pasien adalah nyeri pada
luka operasi. Diagnosa ini didasarkan karena penulis memprioritaskan
masalah yang perlu perawatan tepat, tidak mengancam kehidupan, tetapi
mengancam gangguan kesehatan yang lebih berat. Karena masalah ini bila
tidak segera ditangani akan mengganggu aktivitas pasien sehari-hari. Data
yang mendukung munculnya diagnosa tersebut, yaitu data subjektif : pasien
mengatakan luka operasi terasa nyeri yaitu pada lipat kaki belakang lutut
kanan, nyeri terasa seperti ditekan-tekan, skala nyeri 6, nyeri terasa bila
kakinya digerakkan, data subjektif : ekspresi wajah pasien meringis kesakitan.
Setelah

menegakkan

diagnosa

keperawatan,

penulis

kemudian

melanjutkan ke tahap perencanaan. Perencanaan atau intervensi keperawatan


itu sendiri merupakan proses keperawatan yang penuh pertimbangan dan
sistematis yang mencakup pembuatan keputusan dan penyelesaian masalah,



yang perawat lakukan untuk meningkatkan hasil pada pasien. Dalam


perencanaan, perawat merujuk pada data pengkajian klien dan pernyataan
diagnosis sebagai petunjuk dalam merumuskan tujuan klien dan merancang
intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencegah, mengurangi, atau
menghilangkan masalah kesehatan klien (Kozier, 2011 : 398). Dalam teori
intervensi atau perencanaan dituliskan sesuai dengan rencana dan kriteria
hasil berdasarkan NIC (Nursing Intervension Clasification) dan NOC
(Nursing Outcome Clasification), dan diselesaikan secara SMART yaitu
Spesifik (jelas atau khusus), Measurable (dapat diukur), Achievable (dapat
diterima), Rasional dan Time (ada kriteria waktu).
Dalam kasus ini penulis mencantumkan tujuan dari diagnosa
keperawatan diatas adalah setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2
kali 24 jam, diharapkan nyeri pasien dapat berkurang ataupun hilang dengan
kriteria hasil : nyeri hilang, ekspresi wajah pasien rilex, skala nyeri menjadi
1-2, dan pemeriksaan tanda-tanda vital dalam batas normal (tekanan darah
120/80 mmHg, nadi 80-100 kali per menit, pernafasan 16-24 kali per menit,
suhu 36,70C-37,50C).
Intervensi yang dilakukan penulis untuk mencapai tujuan tindakan
keperawatan

adalah

kaji

karakteristik

nyeri

(PQRST),

meliputi

(Provocative) yaitu penyebab nyeri, Q (Quality) yaitu kualitas nyeri, R


(Region) yaitu daerah nyeri, S (Severity skala) yaitu tingkat keparahan nyeri,
dengan melihat intensitas skala nyeri, skala 0 : tidak nyeri, skala 1-3 : nyeri
ringan, skala 4-6 : nyeri sedang, skala 7-9 : nyeri berat, skala 10 : nyeri sangat



berat, T (Timing) yaitu waktu terjadinya nyeri (Brunner & Suddarth, 2002),
mendapat informasi dari pasien membantu mengevaluasi nyeri dan peredaan
nyeri serta mengidentifikasi jenis nyeri.
Kemudian ajarkan teknik nafas dalam atau relaksasi, teknik relaksasi
nafas dalam menganjurkan pasien untuk menarik nafas dalam dan mengisi
paru-paru dengan udara, menghembuskannya secara perlahan, melemaskan
otot-otot tangan, kaki, perut dan punggung, serta mengulangi hal yang sama
sambil terus berkonsentasi hingga pasien merasa nyaman, tenang dan rileks
(Uliyah, 2006). Kemudian beri posisi nyaman, posisi nyaman dapat
meningkatkan kenyamanan dan mengurangi rasa nyeri, selanjutnya periksa
tanda-tanda vital, dengan mengetahui hasil tanda-tanda vital dapat
memberikan gambaran lengkap mengenai sistem kardiovaskuler, dan
kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik, pemberian
analgesik dapat menghilangkan nyeri dengan cepat dan menurunkan nyeri
yang mengalami perburukan. Analgesik diberikan untuk mengatasi nyeri,
sedangkan tanda nyeri salah satunya peningkatan tekanan darah, perubahan
autonomik dari tonus otot (Potter & Perry, 2005).
Setelah menyusun rencana keperawatan, kemudian dilanjutkan dengan
melakukan tindakan keperawatan atau implementasi. Dimana pengertian dari
implementasi itu sendiri adalah kategori dari perilaku keperawatan dimana
tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan
dari asuhan keperawatan dilakukan dan diselesaikan (Potter & Perry, 2005 :
203).



Dalam diagnosa gangguan rasa nyaman nyeri, implementasi yang


dilakukan penulis pada tanggal 3 April 2012 yaitu mengkaji karakteristik
nyeri (PQRST), memonitor tanda-tanda vital, memberi posisi nyaman,
memberikan terapi injeksi analgesik yaitu injeksi antrain 1gram, mengajarkan
teknik nafas dalam. Kemudian pada tanggal 4 April 2012, implementasi yang
dilakukan penulis adalah mengkaji ulang karakteristik nyeri (PQRST),
memonitor tanda-tanda vital, memberi terapi injeksi analgesik antrain 1gram.
Semua yang ditulis dalam perencanaan, dapat dilakukan dilakukan oleh
penulis dan penulis tidak mengalami kesulitan.
Kemudian tahap yang terakhir dalam proses keperawatan yaitu evaluasi
tindakan. Dimana evaluasi keperawatan adalah aktivitas yang direncanakan,
berkelanjutan, dan terarah ketika klien dan professional kesehatan
menentukan kemajuan klien menuju pencapaian tujuan atau hasil dan
keefektifan rencana asuhan keperawatan. Evaluasi merupakan aspek penting
proses keperawatan karena kesimpulan yang ditarik dari evaluasi menentukan
apakah intervensi keperawatan harus diakhiri, dilanjutkan, atau diubah
(Kozier, 2011 :432).
Penulis mengevaluasi apakah respon pasien mencerminkan suatu
kemajuan atau kemunduran dalam diagnosa keperawatan. Pada evaluasi,
penulis sudah sesuai teori yang ada yaitu sesuai SOAP (Subjektif, Objektif,
Assessment, dan Planning).
Sesuai teori kriteria hasil pada diagnosa nyeri akut berhubungan dengan
agen cedera fisik (post operasi), yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan



selama 2 kali 24 jam, diharapkan nyeri dapat berkurang dengan kriteria hasil
pasien rilex, skala nyeri menjadi 1-2. Dengan hasil evaluasi dari pasien,
Subjektif: pasien mengatakan nyeri berkurang, skala nyeri 3, objektif: pasien
rileks, assessment: masalah teratasi sebagian. Tetapi kriteria hasil belum
tercapai karena dalam kasus ini post operasi ganglion, dan dilahan
penatalaksanaan nyeri salah satunya dengan pemberian analgesik, sedangkan
analgesik hanya berfungsi beberapa jam jadi setelah analgesik tidak berfungsi
maka rasa nyeri akan muncul kembali.

B. Simpulan dan Saran


1. Simpulan
Berdasarkan data diatas, maka penulis dapat menarik kesimpulan
sebagai berikut :
a. Pengkajian pada kasus diatas diperoleh data subjektif, pasien
mengatakan luka operasi terasa nyeri yaitu pada lipat kaki belakang
lutut kanan, data objektif: lipat kaki belakang lutut kanan ada luka
operasi yang tertutup kasa, pasien meringis kesakitan, skala nyeri 6.
b. Masalah keperawatan yang muncul yaitu nyeri akut berhubungan
dengan agen cedera fisik (post op ganglion).
c. Rencana keperawatan untuk mengatasi masalah nyeri yaitu kaji
karakteristik nyeri (PQRST), ajarkan teknik nafas dalam, beri posisi
nyaman, periksa tanda-tanda vital dan kolaborasi dengan tim medis
dalam pemberian analgesik.



d. Tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mengatasi nyeri yaitu


mengkaji karakteristik nyeri (PQRST), mengajarkan teknik nafas
dalam, memberi posisi nyaman, memonitor tanda-tanda vital,
memberikan terapi injeksi analgesik yaitu injeksi antrain 1gram.
e. Evaluasi tindakan menggunakan metode SOAP (Subjektif, Objektif,
Assessment, dan Planning). Pada diagnosa diatas, nyeri teratasi
sebagian, karena pasien masih merasakan nyeri, dengan skala nyeri 3.
f. Analisa kondisi nyeri akut pada Ny. S dengan post operasi ganglion
poplitea dextra yaitu pasien masih merasakan nyeri pada lipat kaki
belakang lutut kanan, nyeri karena luka operasi, skala nyeri 3.

2. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis memberi saran yang
diharapkan dapat bermanfaat :
a. Bagi Penulis
Diharapkan Asuhan Keperawatan akan memberikan wawasan
yang luas dalam mengatasi masalah keperawatan klien.
b. Bagi Instansi
1) Pendidikan
Asuhan Keperawatan sebagai bahan masukan dalam kegiatan
belajar mengajar tentang masalah keperawatan klien.




2) Rumah Sakit
Asuhan Keperawatan sebagai bahan masukan dan evaluasi yang
diperlukan dalam pelaksanaan praktek pelayanan keperawatan klien.
c. Bagi Profesi Keperawatan
Hasil penulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
pikiran dan informasi di bidang Keperawatan.




DAFTAR PUSTAKA
Anonim, (2010), Informasi Spesialite Obat Indonesia, Vol 45-2010, Penerbit
Ikatan Apoteker Indonesia, Jakarta.
Crowther. Christy L, (2004), Primary Orthopedic Care, Edisi 2, Penerbit Mosby,
hal 111.
Kozier, Berman, Snyder, (2011), Buku Ajar Fundamental Keperawatan ; Konsep,
Proses, dan Praktik, Vol 1, Edisi 7, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta, hal 355-432.
Moeliono, Marina A, (2008), Physical Modalities in the Management of Pain,
http://www.google.co.id/uploads/pain_management.pdf Diakses tanggal
11 April 2012.
Muttaqin, Arif & Sari, Kumala, (2009), Asuhan Keperawatan Perioperatif;
Konsep, Proses, dan Aplikasi, Penerbit Salemba Medika, Jakarta, hal 71.
Nanda Internasional, 2011, Nanda International; Diagnosis Keperawatan;
Definisi dan Klasifikasi 2009-2011, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Potter, Patricia A & Perry, Anne Griffin, (2005), Buku Ajar Fundamental
Keperawatan; Konsep, Proses, dan Praktik, Vol 1, Edisi 4, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta, hal140- 203.
Potter, Patricia A & Perry, Anne Griffin, (2006), Buku Ajar Fundamental
Keperawatan; Konsep, Proses, dan Praktik, Vol 2, Edisi 4, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, hal 1510.
Purba, Jan S, (2009), Nyeri dan Sostem Imun ; Sejauh Mana Keterkaitannya,
Suatu tinjauan biomolekuler, http://www.google.co.id/nyeri_dan_
sistem_imun.pdf Diakses tanggal 11 April 2012.
Sadiman.
M.
Ridwan,
(2009),
Klien
dengan
kista
ganglion,
http://www.google.com/klien-dengan-kista-ganglion.html Diakses tanggal
11 April 2012.
Sjamsuhidajat, R & Wim de jong, (2005), Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, hal 294.
Sjamsuhidajat, R & Wim de jong, (2011), Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, hal 402-403.




Smeltzer, Suzanne C & Bare, Brenda G, (2002), Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah, Vol 1, Edisi 8, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, hal 213.
Wilkinson, M Judith, (2007), Buku Saku Diagnosis Keperawatan ; dengan
Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta.