Anda di halaman 1dari 5

5.

Dischange Planning apa yang perlu diberikan kepada pasien dengan leukimia
Perawatan di rumah :
1. mendukung klien tetap beraktifitas
2. memonitor reaksi klien setelah beraktivitas
3. berikan makanan tinggi asam folat (kacang-kacangan, sayuran berwarna
hijau, daging), vitamin c
4. ijinkan penderita untuk terlibat dalam persiapan dan pemilihan makanan.
5. perbaikan gizi saat selera makan penderita meningkat
Tindakan saat terjadi kekambuhan :
Pada umumnya serangan yang timbul adalah pusing, pucat, dan sesak nafas, halhal yang perlu di perhatikan :

segera ambil posisi nyaman dengan tinggikan kepala di tempat tidur


hindari kerumunan orang
sirkulasi udara cukup

Intervensi keperawatan penderita leukemia anak di rumah pada prinsipnya sama


dengan penatalaksanaan perawatan akut
1. Aspek kesehatan fisik dan mengatasi manifestasi klinis (physical well-being
and symptoms)
A. Memantau respons anak terhadap pengobatan kemoterapi.
a. Diare
Berikan cairan per oral. Lakukan perawatan kulit pada bokong
dan daerah perineum. Pantau efektivitas obat anti diare. Hindari
makanan dan buah-buahan tinggi-selulose. Beri makan sedikit
tapi sering jika mungkin beri makanan yang disukai anak.
Kurangi atau jangan berikan daging.
b. Anoreksia
Observasi adanya tanda-tanda kekurangan cairan (dehidrasi).
Beri makan sedikit tapi sering yang berupa makanan lunak kaya
zat gizi dan kalori. Dianjurkan makan makanan yang disukai
atau dapat diterima walaupun tidak lapar. Hindari minum
sebelum makan. Tekankan pada anak bahwa makan adalah
bagian penting dalam program pengobatan.
c. Mulut kering
Makanan atau minuman diberikan dengan suhu dingin. Bentuk
makanan cair. Kunyah permen karet atau hard candy.

d. Mual dan muntah


Beri makanan kering.

Hindari

makanan

yang

berbau

merangsang. Hindari makanan lemak tinggi. Makan dan minum


perlahan-lahan. Hindari makanan atau minuman terlalu manis.
Batasi cairan pada saat makan. Tidak tiduran setelah makan.
e. Retensi cairan
Pantau asupan dan keluaran cairan. Timbang berat badan
harian. Bila ada anak sesak nafas (gawat pernapasan) segera
dibawa ke rumah sakit. Ubah posisi tidur anak sesering
f.

mungkin.
Hiperuremia
Pantau asupan dan keluaran. Anjurkan anak untuk banyak
minum.

Lakukan

perawatan

berkurang.
g. Demam dan menggigil
Catat frekuensi gejala.

kulit

anak

agar

rasa

Berikan

rasa

nyaman

gatal

dengan

memberinya selimut dan mandi hangat-hangat kuku (tepid


sponge).
h. Sariawan (stomatitis dan ulkus mulut)
Berikan rasa nyaman dengan sering berkumur, memakai cairan
i.

pencuci mulut, dan permen yang keras.


Rambut rontok (alopesia)
Persiapkan anak dan keluarga untuk menghadapi kerontokan
rambut. Yakinkan hati anak dan keluarga bahwa kerontokan
rambut tersebut hanya sementara. Siapkan anak dan keluarga
tentang tumbuhnya rambut baru yang berbeda warna dan
tekstur dari rambutnya semula. Gunakan syal, topi, atau wig
sebelum rambut mulai rontok sebagai usaha untuk mengalihkan
perhatian. Sering keramas untuk mencegah cradle cap. Cegah
penggunaan bahan kimia rambut, seperti larutan pengkriting
rambut yang permanen, ketika rambut tumbuh kembali. Bantu
anak memilih pakaian yang dapat meningkatkan aspek positif

penampilan anak.
B. Mencegah infeksi sekunder serta memantau adanya tanda dan gejala
infeksi
a. Waspadai

bahwa

demam

dan

batuk

adalah

tanda

yang

terpenting dari infeksi. Lebih banyak pasien yang meninggal


karena infeksi daripada karena penyakitnya.

b.

Buatkan kamar protektif yang semi steril mendekati ruangan

isolasi di rumah sakit.


c. Minta anak memakai masker bila keluar rumah atau bersama
orang lain terutama bila sedang menderita neutropenik berat
(leukosit kurang dari 1000/mm3).
d. Cuci tangan dengan alkohol 80%. Gunakan semprotan alkohol
untuk cuci tangan sebelum dan sesudah memegang anak.
e. Kurangi kontak dengan orang lain. Pada saat agranulositosis
f.

(jumlah total neutrofil)


Perawatan gigi dan mulut harus dikerjakan setiap hari. Setiap
habis makan dan terutama kalau mau tidur harus dilakukan
sikat gigi (dengan sikat gigi yang harus), kumur betadin dan

g.

kumur antijamur.
Setiap hari diwajibkan memeriksa kulit secara menyeluruh dari
ujung rambut kepala sampai ujung kaki. Daerah kemaluan juga
harus diperhatikan, daerah tersebut sering terabaikan dan justru

di daerah itu pula sering muncul infeksi kulit.


h. Makanan hygienis.
i. Jaga kebersihan diri anak termasuk kuku yang bersih.
C. Pantau adanya tanda dan gejala komplikasi
a. Somnolens radiasi: Dimulai 6 minggu setelah menerima radiasi
kraniospinal, anak menunjukkan keletihan berat dan anoreksia
selama kira-kira 1 sampai 3 minggu. Orang tua sering kali
merasa khawatir tentang terjadinya kambuhan pada saat ini
dan perlu untuk diyakinkan.
b. Gejala SSP: Sakit kepala, penglihatan kabur atau ganda,
muntah.
c.

Gejala-gejala

tersebut

dapat

mengindikasikan

keterlibatan SSP dalam leukemia.


Gejala pernapasan: Batuk dan sesak nafas. Gejala tersebut
mengindikasikan adanya pneumosistitis atau infeksi pernapasan

lainnya.
D. Mencegah cedera yang dapat menyebabkan perdarahan
a. Pantau adanya tanda dan gejala perdarahan.
b. Periksa adanya memar dan kemerahan pada kulit.
c. Periksa adanya mimisan dan gusi berdarah.
d. Jaga agar kuku tetap pendek.
e. Hindari penumpuan beban pada alat gerak yang sakit
f. Hindari kecelakaan dan cedera. Pastikan lingkungan ruangan
termasuk barang-barang yang ada di ruangan agar benar-benar
aman dan tidak berisiko mencederai anak.

g. Anjurkan aktivitas bermain yang tenang.


E. Pemberian nutrisi
a. Tujuan diit
Memberikan makanan yang seimbang sesuai dengan keadaan
penyakit serta daya terima anak. Mencegah atau menghambat
penurunan berat badan secara berlebihan. Mengurangi rasa
mual, muntah, dan diare. Mengupayakan perubahan sikap dan
perilaku sehat terhadap makanan oleh pasien dan keluarganya.
b. Syarat-syarat diet di rumah
Energi tinggi, yaitu 36 kkal/kg BB untuk laki-laki dan 32 kkal/kg
BB untuk perempuan. Apabila pasien berada dalam keadaan gizi
kurang, maka kebutuhan energi menjadi 40 kkal/kg BB untuk
laki-laki dan 36 kkal/kg BB untuk perempuan. Protein tinggi,
yaitu

1-1,5 g/kg

BB.

Lemak

sedang,

yaitu

15-20%

dari

kebutuhan energi total. Karbohidrat cukup, yaitu sisa dari


kebutuhan energi total. Vitamin dan mineral cukup, terutama
vitamin A, B kompleks, C dan E. Bila perlu ditambah dalam
bentuk suplemen. Bila imunitas menurun (leukosit)
c. Jenis makanan atau diet yang diberikan

hendaknya

memperhatikan nafsu makan, perubahan indra kecap, rasa


cepat kenyang, mual, penurunan berat badan, dan akibat
pengobatan.
d. Hindari makanan atau minuman yang merangsang batuk,
misalnya
e.

makanan

berminyak,

makanan

asam,

pewarna

makanan, MSG.
Sesuai dengan keadaan pasien, makanan dapat diberikan
dalam bentuk makanan padat, makanan cair, atau kombinasi.
Untuk

f.

makanan

padat

dapat

berbentuk

makanan

biasa,

makanan lunak, atau makanan lumat.


Apabila terdapat kesulitan mengunyah atau menelan. Minum
dengan

menggunakan

sedotan.

Makanan

atau

minuman

diberikan dengan suhu kamar atau dingin. Bentuk makanan


disaring atau cair. Hindari makanan terlalu asam atau asin.
F. Mengatasi
nyeri
dengan
teknik
penatalaksanaan
nyeri
nonfarmakologik.
Beberapa teknik

penatalaksanaan

nyeri

nonfarmakologik

dikelompokkan menurut umur penderita leukemia, adalah :


a. Toddler (anak di bawah umur tiga tahun)

yang

Teknik penatalaksanaan nyeri nonfarmakologik pada toddler,


antara lain: mainan, buku cerita bergambar, musik, pernafasan
terkontrol meniup air sabun, dan stimulasi kutan: usapan,
pemijatan.
b. Anak usia prasekolah (3-4 tahun)
Teknik penatalaksanaan nyeri nonfarmakologik pada anak usia
prasekolah,

antara

lain:

mainan,

buku

cerita

bergambar,

mencari gambar tersamar, mendengarkan musik atau dongeng


melalui

headset,

menonton

video,

imajinasi

emotif-

menggunakan super-hero favorit anak untuk melawan nyeri,


pernafasan terkontrol, stimulasi kutan, dan latihan perilaku
menjadi akrab dengan prosedur melalui bermain.
c. Anak usia sekolah (5-12 tahun)
Teknik penatalaksanaan nyeri nonfarmakologik pada anak usia
sekolah, antara lain: imajiner, mendengarkan musik atau
dongeng melalui headset, menonton video, bermain play-station
atau video-games, pernafasan terkontrol, stimulasi kutan, dan
latihan perilaku.
G. Mencegah dan mengatasi mukositis
a. Hindari sikat gigi yang berbulu keras.
b. Hindari makanan keras yang harus dikunyah berlebihan
c. Hindari makanan yang asam dan pedas.
d. Hindari makanan yang masih panas