Anda di halaman 1dari 7

PERBANDINGAN PEMBERIAN TERAPI LANTUS DENGAN ACTRAPID

DENGAN PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PASIEN


DIABETES MILITUS TIPE 2 DI RSUD Dr.RADEN SOEDJONO SELONG
TAHUN 2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Insulin adalah hormon utama yang mengendalikan glukosa dari darah ke
dalam sebagian besar sel (terutama sel otot dan lemak, tetapi tidak pada sel
sistem saraf pusat). Oleh karena itu, kekurangan insulin atau kekurangpekaan
reseptor-reseptor memainkan peran sentral dalam segala bentuk diabetes
mellitus.
Sebagian besar karbohidrat dalam makanan akan diubah dalam waktu
beberapa jam ke dalam bentuk gula monosakarida yang merupakan
karbohidrat utama yang ditemukan dalam darah dan digunakan oleh tubuh
sebagai bahan bakar. Insulin dilepaskan ke dalam darah oleh sel beta (-sel)
yang berada di pankreas, sebagai respons atas kenaikan tingkat gula darah,
biasanya setelah makan. Insulin digunakan oleh sekitar dua pertiga dari sel-sel
tubuh yang menyerap glukosa dari darah untuk digunakan sel-sel sebagai
bahan bakar, untuk konversi ke molekul lain yang diperlukan, atau untuk
penyimpanan.

Insulin juga merupakan sinyal kontrol utama untuk konversi dari


glukosa ke glycogen untuk penyimpanan internal dalam hati dan sel otot.
Tingkatan insulin yang lebih tinggi menaikkan anabolic (rangkaian jalur
metabolisme untuk membangun molekul dari unit yang lebih kecil), seperti
proses pertumbuhan sel dan duplikasi, sintesa protein, lemak dan
penyimpanan. Insulin adalah sinyal utama dalam mengkonversi banyak
bidirectional proses metabolisme dari catabolic (rangkaian jalur metabolisme
untuk membongkar molekul-molekul ke dalam bentuk unit yang lebih kecil
dan melepaskan energi) ke anabolic, dan sebaliknya. Secara khusus, tingkatan
insulin yang lebih rendah berguna sebagai pemicu masuk keluarnya ketosis
(fase metabolik pembakaran lemak). Jika jumlah insulin yang tersedia tidak
cukup, jika sel buruk untuk merespon efek dari insulin (kekurangpekaan atau
khusus tugas perlawanan terhadap insulin), atau jika insulin cacat/defective,
maka gula tidak akan diserap dengan baik oleh orang-orang sel-sel tubuh yang
memerlukannya dan tidak akan disimpan dengan baik di hati dan otot. Efek
selanjutnya adalah tingkat gula darah yang tetap tinggi, miskin sintesis
protein, dan lainnya kekacauan metabolisme lainnya, seperti acidosis yaitu
meningkatnya keasaman (konsentrasi ion hidrogen) dalam darah. Insulin telah
digunakan sebagai terapi pada manusia sejak awal tahun 1990. Tetapi tahukah
Anda jika insulin memiliki beberapa jenis yang diklasifikasikan berdasar pada
durasi kerjanya? Yang dimaksud dengan durasi kerja insulin adalah lamanya
waktu yang diperlukan oleh insulin untuk mencapai aliran darah dan mulai
menurunkan kadar gula dalam darah sejak ia dimasukkan ke dalam tubuh

penderita. Berdasar waktu yang diperlukan dalam bekerja, insulin terbagi


dalam 4 jenis insulin yaitu reaksi pendek, reaksi panjang, reaksi menengah
dan reaksi cepat. Insulin reaksi pendek disebut juga sebagai clear insulin, ia
adalah jenis obat insulin yang memiliki sifat transparan dan mulai bekerja
dalam tubuh dalam waktu 30 menit sejak ia dimasukkan ke dalam tubuh. Obat
insulin ini bekerja secara maksimal selama 1 sampai 3 jam dalam aliran darah
penderita, dan segera menghilang setalah 6-8 jam kemudian. Maka penderita
diabetes harus mengulang beberapa kali dalam sehari jika menggunakan
insulin jenis ini. Insulin reaksi panjang merupakan jenis insulin yang mulai
bekerja 1 hingga 2 jam setelah ia disuntikkan ke dalam tubuh seseorang.
Tetapi obat insulin ini tidak memiliki masa reaksi puncak, sehingga ia bekerja
secara stabil dalam waktu yang lama yaitu 24 sampai 36 jam di dalam tubuh
penderita diabetes. Karena pengaruhnya dapat bertahan dalam waktu yang
lama, maka penderita dapat tetap mimiliki energi meskipun ia tidak
mengkonsumsi makanan. Obat insulin yang termasuk jenis ini adalah Levemir
dan Lantus. Sebuah studi yang dilakukan oleh Russel Jones pada tahun 2007
mengungkapkan bahwa Levemir lebih mampu ditoleransi oleh tubuh manusia
dengan baik karena menimbulkan efek penambahan berat badan yang
minimal.
Jenis insulin reaksi menengah adalah insulin yang mulai efektif bekerja
menurunkan gula darah sejak 1 sampai 2 jam setelah disuntikkan ke dalam
tubuh. Obat ini bereaksi secara maksimal selama 6-10 jam, dan berakhir
setelah 10-16 jam setelahnya, contohnya Humulin m3, Hypurin, dan Insuman.

Insulin reaksi cepat akan langsung bekerja 5-15 menit setelah masuk ke dalam
tubuh penderita. Ia memiliki tingkat reaksi maksimal selama 30-90 menit, dan
pengaruhnya akan segera menghilang setelah 3-5 jam kemudian. Contoh obat
insulin ini berupa Lispro, Actrapid, Novorapid, dan Velosulin. Masa reaksi
obat insulin juga dipengaruhi oleh kemampuan tubuh seseorang dalam
merespon obat ini. Maka diproduksi pual jenis insulin campuran, yang
merupakan kombinasi dari dua jenis-jenis insulin di atas. Selain itu
penggunaanya harus dibawah pengawasan dokter untuk menentukan dosis
yang sesuai dengan kebutuhan setiap penderita.

1.2 Rumusan Masalah.


Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah diatas, peneliti ingin
mengetahui: Adakah perbandingan pemberian terapi lantus dengan actrapid
dengan penurunan kadar glukosa darah pada pasien diabetes militus tipe 2 di
rawat inap RSUD dr.raden soedjono selong tahun 2014

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan umum.
Mengetahui perbandingan pemberian terapi lantus dengan actrapid
dengan penurunan kadar glukosa darah pada pasien diabetes militus tipe 2
1.3.2

Tujuan khusus.
1.3.2.1 Mengidentifikasi terapi lantus dengan actrapid di RSUD dr.raden
soedjono selong tahun 2014
1.3.2.2 Mengidentifikasi pasien diabetes militus tipe 2 di RSUD dr.raden

soedjono selong tahun 2014

1.3.2.3 Menganalisis perbandingan pemberian terapi lantus dengan actrapid

dengan penurunan kadar glukosa darah pada pasien diabetes militus


tipe 2 di rawat inap RSUD dr.raden soedjono selong tahun 2014
1.4

Manfaat Penelitian.
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca. Yaitu
pihak yang nantinya dapat mengembangkan dan apabila perlu ditindak lanjuti
dalam dunia kesehatan. Adapun manfaat yang dapat diambil adalah sebagai
berikut :
1.4.1

Institusi pendidikan Unizar


Hasil peneliitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan referensi, dan
dapat pula dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan
materi yang akan diberikan.

1.4.2

Responden
Responden mengerti akan pentingnya perbandingan pemberian terapi
lantus dengan actrapid dengan penurunan kadar glukosa darah pada
pasien diabetes militus tipe 2 di rawat inap RSUD dr.raden soedjono
selong tahun 2014

1.4.3

Peneliti
Peneliti mendapat pengetahuan dan pengalaman dalam
melakukakn

penelitian

serta

dapat

mengetahui

perbandingan

pemberian terapi lantus dengan actrapid dengan penurunan kadar


glukosa darah pada pasien diabetes militus tipe 2
1.4.4

Peneliti lain

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan rujukan atau acuan
untuk pengembangan penelitian selanjutnya.
1.5 Hipotesis Penelitian
Ha/H1

: Ada perbandingan pemberian terapi lantus dengan actrapid

dengan penurunan kadar glukosa darah pada pasien diabetes militus tipe 2 di
rawat inap RSUD dr.raden soedjono selong tahun 2014
H0

: Tidak Ada perbandingan pemberian terapi lantus dengan actrapid

dengan penurunan kadar glukosa darah pada pasien diabetes militus tipe 2 di
rawat inap RSUD dr.raden soedjono selong tahun 2014

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah studi an analitik
korelasional, yaitu mengkaji hubungan antara variabel dependent dan
independent secara cross sectional yaitu melakukan observasi data variabel

independen dan dependen hanya satu kali, pada satu saat dan tidak ada follow
up .

3.2 Tempat dan waktu


Penelitian ini akan dilaksanakan di rawat inap RSUD dr.raden soedjono selong
tahun 2014 dengan subyek penelitian adalah penderita gastritis yang
mengalami hematemesis melena.
3.3 Variabel
3.3.1 Identifikasi variabel
3.3.1.1 Variabel independent : lantus dan actrapid
3.3.1.2 Variabel dependent : diabetes mellitus tipe 2