Anda di halaman 1dari 18

BAB 2

LANDASAN TEORI DAN KERANGKA KONSEPTUAL


2.1 Konsep Teori Diabetes Mellitus
2.1.1 Konsep Dasar Diabetes Mellitus
2.1.1.1

Definisi

Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit kronik yang disebabkan


oleh adanya peningkatan kadar glukosa dalam darah atau yang
disebut hiperglikernia. Glukosa secara normal bersirkulasi dalam
jumlah tertentu dalam darah yang dibentuk dari hati melalui
makanan yang dikonsumsi.Pada produksi dan penyimpanannya
glukosa diatur oleh suatu hormon yang diproduksi oleh pankreas
yang disebut insulin. Insulin berfungsi untuk mengendalikan
kadar glukosa dalam darah. Peningkatan kadar gala darah pada
penderita DM mengakibatkan tubuh tidak bisa memproduksi
hormon insulin secara baik atau bahkan sampai tidak bisa sama
sekali. Jika kondisi ini terns berlanjut maka prows metabolisms di
dalam tubuh akan mengalami gangguan (Sudarmoko, 2010 )
Diabetes mellitus adalah suatu kelompok penyakit metabolik
dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan
sekresi insulin, gangguan kerja insulin atau keduanya, yang
menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf
dan pembuluh darah. (Hastuti. 2008 )
Pengertian DM yang dimaksudkan dalam hal ini adalah suatu
penyakit dimana kadar glukosa di dalam darah tinggi karena
tubuh tidak dapat melepaskan / menggunakan insulin secara
cukup.

Menurut

kriteria

diagnostik

PERKENI

(Perkumpulan

Penyakit Endokrin Nasional Indonesia) seseorang bisa dikatakan


menderita DM jika memiliki kadar gala darah puasa > 126 mg/dl
dan pada tes sewaktu > 200 mg/dl. Kadar gula darah sepanjang
hari bisa bervariasi dimana akan meningkat setelah makan dan
kembali normal dalam waktu 2 jam, kadar guula darah yang

normal adalah pada pagi hari setelah makan sebelumnya


berpuasa yaitu 70 - 110 mg/dl darah.
Dari beberapa definisi tersebut, disimpulkan bahwa diabetes
mellitus adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan kadar
glukosa darah yang melebihi normal.

2.1.1.2 Klasifikasi dan Diagnosis Diabetes mellitus


Klasifikasi DM yang dianjurkan oleh PERKENI adalah yang sesuai
dengan anjuran klasifikasi DM American Diabetes Association
(ADA) 2007.
Klasifikasi etiologi Diabetes mellitus, menurut ADA 2007 ada 4
macam klasifikasi diabetes mellitus adalah :
2.1.1.1.1Diabetes
umumnya

tipe

disebabkan

menjurus

ke

destruksi

defisiensi

sel

insulin

beta,
absolut

(autoimun dan idiopatik ).


2.1.1.1.2Diabetes

tipe

(bervariasi

mulai

yang

terutama

dominan resistensi insulin disertai defesiensi insulin


relatif sampai yang terutama defek sekresi insulin
disertai resistensi insulin).
2.1.1.1.3Diabetes tipe lain dapat disebabkan karena defek
genetik fungsi sel beta ,

defek genetik kerja insulin,

penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati,

karena

obat/ zat kimia, infeksi, sebab imunologi yang jarang,


sindrom

genetik

lain

yang

berkaitan

dengan

DM

( Sindrom Down, Sindrom Klinefelter, Sindrom Turner


dan lain-lain).
2.1.1.2.4 Diabetes mellitus Gestasional (DMG) Diagnosis DM
ditegakkan dengan mengadakan pemeriksaan kadar
glukosa

darah.

Untuk

penentuan

Diagnosis

DM,

pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah


pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan
darah plasma vena. (Hastuti. 2008 )
2.1.1.3

Gejala dan Tanda-Tanda Diabetes mellitus

Gejala dan tanda-tanda DM dapat digolongkan menjadi 2 yaitu :


2.1.1.3.1 Gejala akut :
1) Banyak makan (poliphagia).
2) Banyak minum (polidipsia).

3) Banyak kencing (poliuria).


Bila keadaan tersebut tidak segera diobati, akan timbul gejala
seperti :
4) Banyak minum.
5) Banyak kencing.
6) Nafsu makan mulai berkurang/ berat badan turun dengan
cepat (turun 5 10 kg dalam waktu 2 4 minggu)
7) Mudah lelah.
Bila tidak lekas diobati akan timbul gejala :
8) Rasa mual.
9) Koma diabetik.
2.1.1.3.2 Gejala kronik seperti :
1) Kesemutan.
2) Kulit terasa panas, atau seperti tertusuk-tusuk jarum.
3) Rasa tebal di kulit.
4) Kram.
5) Capek.
6) Mudah mengantuk.
7) Mata kabur biasanya sering ganti kacamata.
8) Gatal di sekitar kemaluan terutama wanita.
9) Gigi mudah goyah dan mudah lepas.
10) Kemampuan seksual menurun bahkan impotensi.
11) Para ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian
janin dalam kandungan, atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4
kg. (Hastuti. 2008 )
2.1.1.4. Patogenesis Diabetes mellitus
Diabetes mellitus merupakan penyakit yang disebabkan oleh
adanyakekurangan

insulin

secara

relatif

maupun

absolut.

Defisiensi insulin dapat terjadi melalui 3 jalan, yaitu rusaknya selsel pankreas karena pengaruh dari luar (virus, zat kimia
tertentu, dll), desensitasi atau penurunan reseptor glukosa pada

kelenjar pankreas, desensitas/kerusakan reseptor insulin (down


regulation) di jaringan perifer.
Apabila di dalam tubuh terjadi kekurangan insulin, maka dapat
mengakibatkan menurunnya transport glukosa melalui membram
sel, keadaan ini mengakibatkan sel-sel kekurangan makanan
sehingga

meningkatkan

metabolisme

lemak

dalam

tubuh.

Manifestasi yang muncul adalah penderita Diabetes mellitus


selalu merasa lapar atau nafsu makan meningkat poliphagia.
Menurunnya glikogenesis, dimana pembentukan glikogen dalam
hati dan otot terganggu. Meningkatnya pembentukan glikolisis
dan glukoneogenesis, karena proses ini disertai nafsu makan
meningkat

atau

poliphagia

sehingga

dapat

mengakibatkan

terjadinya hiperglikemi. Kadar gula darah tinggi mengakibatkan


ginjal tidak mampu lagi mengabsorpsi dan glukosa keluar
bersama urin, keadaan ini yang disebut glukosuria. Manifestasi
yang muncul yaitu penderita sering berkemih atau poliuria dan
selalu merasa haus atau polidipsia. (Hastuti. 2008 )
2.1.1.5. Faktor Risiko Diabetes Mellitus
Faktor-faktor risiko terjadinya Diabetes mellitus tipe 2 menurut
ADA dengan modifikasi terdiri dari :
2.1.1.5.1 Faktor risiko mayor
1) Riwayat keluarga DM.
2) Obesitas.
3) Kurang aktivitas fisik.
4) Ras/etnik.
5) Sebelumnya teridentifikasi sebagai IFG
6) Hipertensi.
7) Tidak terkontrol kolesterol dan HDL.
8) Riwayat DM pada Kehamilan.
9) Sindroma polikistik ovarium.

2.1.1.5.2 Faktor risiko lainnya :


1) Faktor nutrisi.
2) Konsumsi alkohol.
3) Kebiasaan mendengkur.
4) Faktor stress.
5) Kebiasaan merokok.
6) Jenis kelamin.
7) Lama tidur.
8) Intake zat besi.
9) Konsumsi kopi dan kafein
10) Paritas.
11) Intake zat besi. ( Hastuti. 2008 )
2.1.1.6. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus
2.1.1.6.1 Tujuan pengelolaan Diabetes mellitus ada 2 yaitu :
2.1.1.6.1.1 Tujuan jangka pendek yaitu menghilangkan gejala
atau keluhan dan

mempertahankan rasa nyaman

dan tercapainya target pengendalian darah.


2.1.1.6.1.2

Tujuan jangka panjang yaitu mencegah komplikasi,

mikroangiopati dan
makroangiopati dengan tujuan menurunkan mortalitas
dan morbiditas.
(Hastuti. 2008 )
2.1.1.7. Komplikasi Diabetes Mellitus
Komplikasi - komplikasi pada Diabetes mellitus dapat dibagi
menjadi dua yaitu :
2.1.1.7.1 Komplikasi Metabolik Akut Komplikasi akut terdiri dari :
1) Hipoglikemia yaitu apabila kadar gula darah lebih rendah dari
60 mg % dangejala yang muncul yaitu palpitasi, takhicardi,
mual muntah, lemah, lapar dan dapat terjadi penurunan
kesadaran sampai koma.
2) Hiperglikemia yaitu apabila kadar gula darah lebih dari 250 mg

10

% dan gejala yang muncul yaitu poliuri, polidipsi pernafasan


kussmaul, mual muntah, penurunan kesadaran sampai koma.
2.1.1.7.2 Komplikasi Metabolik Kronik
Komplikasi kronik DM yang sering terjadi adalah sebagai
berikut :(Hastuti. 2008 )
1) Mikrovaskuler :
(1) Ginjal.
(2) Mata.
2) Makrovaskuler :
(1) Penyakit jantung koroner. (KAD)
(2) Pembuluh darah kaki. (Neuropatidiabetic)
(3) Pembuluh darah otak.
(4) Neuropati.
(5) Mudah timbul ulkus atau infeksi. (gangren diabetic)

11

2.1.1.8 Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Stres pada


Diabetes Mellitus
Stres

fisiologik

menimbulkan

seperti

infeksi

hiperglikemia

dan

dan
dapat

pembedahan
memicu

turut

diabetes

ketoasidosis. Stres emosional dapat memberi dampak yang


negatif terhadap pengendalian diabetes (National Safety Council,
2003) yang meliputi :
a. Tingginya kadar gula darah
b. Dukungan keluarga terhadap anggota keluarga yang
mengalami diabetes mellitus
c. Motivasi seorang penderita diabetes mellitus terhadap
perawatan komplikasi yang mungkin terjadi
d. Spiritualitas dalam diri seseorang

12

2.1.1.9. Skema Diagnostik Diabetes Mellitus (Hastuti, 2008)

DIAGNOSA
DIABETES MELLITUS

GEJALA KLASIK (-)

GEJALA KLASIK (+)

GDA 200 mg/dl

GDA < 200 mg/dl

GDA 140-199 mg/dl

DM
TTGO

GDA < 140 mg/dl

NORMAL

GDA < 140 mg/dl

GDA 200 mg/dl


GDA 140-199 mg/dl

BUKAN DM

DM
BELUM PASTI DM

13

2.1.1.10. Pemeriksaan Penunjang Diabetes Mellitus


Penentuan diagnosa Diabetes Mellitus adalah dengan
pemeriksaan gula darah, menurut Sujono dan Sukarmin (2008),
antara lain :
2.1.1.10.1. Gula Darah Puasa (GDO)
70-110 mg/dl. Kriteria diagnostik untuk DM > 140 mg/dl paling
sedikit dalam 2 kali pemeriksaan. Atau > 140 mg/dl disertai
gejala klasik hiperglikemia atau IGT 115-140 mg/dl.
2.1.1.10.2. Gula Darah 2 jam post prondial <140 mg/dl
digunakan untuk skrining atau evaluasi pengobatan bukan
diagnostik.
2.1.1.10.3. Gula Darah sewaktu < 140 mg/dl digunakan untuk
skrining bukan diagnostik.
2.1.1.10.4. Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO).
GD < 115 mg/dl jam , 1 jam, 1 jam < 200 mg/dl, 2 jam <
140 mg/dl
2.1.1.10.5. Tes Toleransi Glukosa Intravena (TTGI)
Dilakukan jika TTGO merupakan kontraindikasi atau terdapat
kelainan gastrointestinal yang mempengaruhi absorbsi glukosa.
2.1.1.10.6. Tes Toleransi Kortison Glukosa, digunakan jika TTGO
tidak bermakna. Kortison menyebabkan peningkatan kadar
glukosa abnormal dan menurunkan penggunaan gula darah
perifer pada orang yang berdisposisi menjadi DM kadar glukosa
darah 140 mg/dl pada akhir 2 jam dianggap sebagai hasil positif.
2.1.1.10.7. Glycosetat hemoglobin, memantau glukosa darah
selama lebih dari 3 bulan.
2.1.1.10.8. C- Pepticle 1-2 mg/dl (puasa) 5-6 kali meningkat
setelah pemberian glukosa.
2.1.1.10.9. Insulin serum puasa: 2-20 mu/ml post glukosa sampai
120 mu/ml, dapat digunakan dalam diagnosa banding
hipoglikemia atau dalam penelitian diabetes.

14

2.2 Manajemen Stress


2.2.1 Pengertian Stress
Stres merupakan istilah dari bahasa Latin Stingere yang berarti
"keras" (stricus).Istilah ini mengalami perubahan seiring dengan
perkembangan penelaahan yang berlanjut dari waktu ke waktu
dari straise, strest, stresce, dan stress.Stres merupakan suatu
keadaan

dimana

seseorang

mnegalamiketegangan

karena

adanya kondisi - kondisi yang mempengaruhi dirinya.Stres juga


merupakan respons yang datang dari diri seseorang terhadap
tantangan fisik maupun mental yang datang dari dalam ataupun
dari luar dirinya.Oleh karena itu, selama kehidupan berlangsung
tidak mungkin manusia terhindar dari stres (Nasrudin, 2010).
Stres dapat didefinisikan sebagai semua jenis perubahan yang
menyebabkan fisik, emosi atau tekanan psikologis.Stres adalah
respons

mental

seseorang

dalam

menghadapi

berbagai

persoalan kehidupan. Stres adalah segala masalah atau tuntutan


penyesuaian diri dan karena itu sesuatu yang mengganggu kita
(Hawari,2010 ).
Stres adalah beban rohani yang melebihi kemampuan maksimum
rohani itu sendiri, sehingga perbuatan kurang terkontrol secara
sehat. Stres dapat dimaknai dengan suatu kondisi yang dinamis
saat seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan atau
sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh
individu itu dan hasilnya di pandang tidak pasti dan penting
(Khairani, 2013).
Kondisi tertentu stres dapat berdampak positif dan produktif.Bagi
orang yang berfikir positif dan dalam kondisi tertentu stres dapat
menghasilkan suatu dinamika perilaku sehingga menjadi lebih
produktif dan sukses.Sementara itu, pada orang yang berfikir

15

negatif dan dalam kondisi tertentu, stres dapat menimbulkan


hambatan dan gangguan baik fisik maupun mental.Stres yang
bersifat positif disebut eustres, sedangkan stres yang bersifat
negatif disebut distress (Hawari,2010).
Stres

emosional

memberikan

dampak

negatif

terhadap

pengendalian diabetes karena peningkatan hormon "stres" akan


meningkatkan kadar glukosa darah, khususnya bila asupan
makanan dan pemberian insulin yang tidak terkontrol. Disamping
itu, pada saat terjadi stres emosional, penderita diabetes dapat
mengubah pola makan, latihan dan penggunaan obat yang
biasanya dipatuhi menjadi diabaikan oleh penderita. Keadaan ini
akan menimbulkan hiperglikernia atau bahkan hipoglikernia
(Smeltzer &Bare,2001).
Penderita diabetes harus menyadari kemungkinan kemunduran
pengendalian diabetes yang menyertai stres emosional.Bagi
mereka diperlukan motivasi agar sedapat mungkin mematuhi
rencana terapi diabetes pada saat - saat stres.Demikian pula
untuk strategi pembelajaran yang dapat memperkecil pengaruh
stres dan mengatasinya ketika hal ini tejadi karena merupakan
satu hal penting dalam pendidikan diabetes (Srneltzer & Bare,
2001).
Manajemen stres adalah tindakan dalam pada tahap pencegahan
dan terapi memerlukan suatu metode pendekatan yang bersifat
holistik,

yaitu

yang

mencakup

fisik

(somatik),

psikologik/psikiatrik, psikososial dan psikoreligius. Di bidang


pencegahan agar seseorang tidak jatuh dalam keadaan stres,
maka sebaiknya kekebalan yang bersangkut perlu ditingkatkan
agare mampu menanggulangi stresor psikososial yang muncul
dengan cara hidup yang teratur, serasi, selaras dan seimbang
antara

dirinya dengan Tuhan (vertikal), sedangkan secara

horizontal

antara

dirinya

dengan

sesama

lingkungan alam sekitarnya.(Hawari, 2006)

orang

lain

dan

16

2.2.2 Sumber-Sumber Stres


Sumber-sumber stres yang menimbulkan stres disebut dengan
stresor, yang terdapat didalam diri atau diluar dirinya. Stresor
psikososial

adalah

setiap

keadaan

atau

peristiwa

yang

menyebabkan perubahan dalam kehidupan sesorang, sehingga


orang itu terpaksa mengadakan adaptasi atau penyesuaian diri
untuk

menanggulanginya.

Menurut

(Hawari,

2006),

stresor

psikososial tersebut adalah sebagai berikut :


2.2.2.1 Perkawinan
Dalam masyarakat modern dan industri , lembaga perkawinan
menjadi lembaga paling menderita. Salah satu faktor yang
menyebabkan krisis perkawinan adalah tidak di amalkannya
kehidupan religius dalam rumah tangga. Misalnya di Amerika
Serikat disebutkan bahwa dalam 3 dekade terakhir 70% rumah
tangga berakhir dengan perceraian. Salah satu penyebabnya
adalah perselingkuhan.
2.2.2.2 Problem orang tua
Menjadi orang tua pada zaman sekarang ini tidak semudah pada
zaman dahulu. Misalnya pada tahun 60-an hal ini disebabkan
karena kondisi tatanan sosial dan ekonomi sudah jauh berbeda
dengan pada zaman sekarang.
2.2.2.3 Hubungan interpersonal (antar pribadi)
Hubungan antar sesama yang tidak baik dapat merupakan
sumber stres. Misalnya hubungan yang tidak serasi, tidak baik
atau buruk dengan kawan dekat atau kekasih, antara sesama
rekan, antara atasan dan bawahan.
2.2.2.4 Pekerjaan
Misalnya kehilangan pekerjaan (PHK, Pensiun) yang berakibat
pada pengangguran akan berdampak pada gangguan kesehatan
bahkan bisa sampai pada kematian.

17

2.2.2.5 Lingkungan hidup


Kondisi lingkungan hidup yang buruk besar pengaruhnya bagi
kesehatan

seseorang.

Misalnya

masalah

perumahan,

penghijauan dan lain-lain yang merupakan sarana dan prasarana


lingkungan yang memenuhi syarat kesehatan lingkungan.
2.2.2.6 Keuangan
Masalah

keuangan

dalam

kehidupan

sehari-hari

ternyata

merupakan salah satu stresor utama. Misalnya pendapatan lebih


kecil daripada pengeluaran, terlibat hutang, kebangkrutan usaha,
soal warisan dll.
2.2.2.7 Hukum
Keterlibatan seseorang dalam masalah hukum dapat merupakan
sumber stres. Misalnya tuntutan hukum, pengadilan, penjara dll.
2.2.2.8 Perkembangan
Yang dimaksudkan disini adalah tahapan perkembangan baik fisik
maupun mental sesorang (siklus kehidupan). Misalnya masa
remaja, masa dewasa, menopause, usia lanjut yang secara
alamiah akan dialami oleh setiap orang.
2.2.2.9 Trauma
Seseorang

yang

mengalami

bencana

alam,

kecelakaan

transportasi, kebakaran, kerusuhan, peperangan, kekerasan,


penculikan, perampokan, pemerkosaan, kehamilan diluar nikah,
dll. Merupakan pengalaman yang traumatis yang pada gilrannya
yang bersangkutan dapat mengalami stres.
2.2.3

Manajemen

Stres

pada

Penderita

Diabetes

Mellitus(National Safety Council, 2003) :


2.2.3.1 Pandangan terhadap penyakit yang diderita
Pandangan negatif bahwa mereka telah melakukan rutinitas yang

18

sama, seperti melaksanakan diet dan minum obat setiap harinya,


akan tetapi kadar gula dalam darahnya tetap tinggi. Akibatnya
mereka berusaha untuk tidak menaati diet yang dianjurkan,
sedangkan pandangan yang positif tentang penyakitnya dan
mampu menerima dapat menimbulkan koping yang lebih baik.
2.2.3.2 Dukungan sosial
Bertemu dan berkumpul dengan penderita lain sesama diabetes
sangat dibutuhkan oleh penderita diabetes. Hal ini dapat
mengurangi stress yang mereka alami, karena mereka akan
saling berbagi pengalaman dan merasakan bahwa tidak hanya
dirinya yang menderita diabetes. Dukungan keluarga juga besar
pengaruhnya untuk meminimalkan stress yang timbul selama
mereka menjalankan program diet.
2.2.3.3 Strategi koping
Strategi koping yang baik, dapat menghindarkan pikiran untuk
lari dari kenyataan sehingga adaptasi psikologi menjadi lebih
baik, misalnya dengan cara aktivitas fisik, relaksasi, melakukan
kegiatan yang positif dan disenangi, berpikir positif tentang
penyakitnya.
2.2.4

Faktor - faktor yang mempengaruhi Manajemen

stres
Secara teori manajemen stres adalah perilaku pengendalian
stres. Menurut Green dan Notoatmodjo (2005), perilaku ini
ditentukan oleh 3 faktor utama yaitu:
2.2.4.1 Faktor predisposisi (predisposirrg,facters)
Faktor Presisposisi (predisposing factors) adalah factor - factor
dapat mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku
pada diri seseorang adalah pengetahuan dan sikap seseorang
tersebut terhadap yang akan dilakukan.

19

2.2.4.1.1Pengetahuan
Pengetahuan

pasien

berhubungan

erat

tentang
dengan

diabetes

mellitus

sangat

pasien

tentang

pengetahuan

pentingnya manajemen sues. Pengetahuan pasien yang rendah


mengenai

penyakit

diabetes

mellitus

akanmempengaruhi

manajemen sties terhadap pengendalian kenaikan gula darah.


2.2.4.1.2 Tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan dan pengetahuan pasien serta pengalaman
sangat berpengaruh dalam hal penatalaksanaan manajemen
stress

pada

penderita

diabetes

mellitus.Pendidikan

akan

memberikan dampak bagi pola pikir dan pandangan pasien


tentang manajemen stres terhadap penyakitnya.
2.2.4.1.3 Pekerjaan
Status pekerjaan pasien mempunyai pengaruh besar dalam
penatalaksanaan

manajemen

stres.

Pekerjaan

pasien

yang

banyak menyita waktu akan mempengaruhi seseorang untuk


memikirkan tentang bagaimana mengendalikan stres pada
dirinya.
2.2.4.1.4 Tingkat Sosial Ekonomi
Tingkat sosial ekonomi akan mempengaruhi manajemen stress
pada pasien diabetes mellitus. Rata-rata masyarakat atau
keluarga dengan tingkat sosial ekonomi yang cukup balk akan
lebih bisamemikirkan yang terbaik agar gula darah mereka bisa
terkontrol dengan baik.
2.2.4.2 Faktor pendukung (factor enabling)
Faktor

pendukung

(factor

enabling)

adalah

faktor

yang

memungkinkan atau yang memberi kesempatan untuk teijadinya


sebuah perilaku, yang terwujud dalam ketersediaan fasilitas,
sarana dan prasarana, somber daya serta ketrampilan petugas
kesehatan.Ketersediaan

sarana

dan

fasilitas

dalam

hal

ini

20

meliputi :
2.2.4.2.1 Tempat ibadah
Seseorang yang mengalami berbagai persoalan akan mampu
menenangkan dirinya di tempat - tempat yang menurut mereka
dapat memberikan aura positif seperti tempat ibadah masjid,
gereja, wihara dll.
2.2.4.2.2 Dukungan Keluarga
Keluarga dan orang terdekat sangat diperlukan bagi individu
dalam rangka mengatasi berbagai persoalan, keluarga bisa
menjadi tempatuntuk mengungkapkan segala permasalahan
yang ada sehinggamanajemen stres dapat dilaksanakan.
2.2.4.3 Faktor pendorong (reinforcing factors)
Faktor pendorong (reinforcing factors) adalah konsekuensi dari
determinan perilaku dimana individu menerimafeedback dan
setelah itu ada dorongan social. Faktor pendorong meliputi
dukungan social,pengaruh dan informasi serta feed back oleh
tenaga kesehatan
2.2.4.3.1 Sikap dan kebiasaan
Sikap adalah cara seseorang menerima atau menolak sesuatu
yang didasarkan pada cara dia memberikan penilaian terhadap
objek tertentu yang berguna ataupun tidak bagi dirinya (Nuryani,
2008). Sikap dan kebisaan pasien yang sering emosional apabila
ada permasalahan yang membelit akan mempengaruhi dirinya
sehingga stres sulit dikendalikan.
2.2.4.3.2 Pengaruh lingkungan masyarakat
Lingklungan masyarakat mempunyai peranan penting yaitu
apabila lingkungan sekitar mampu meberikan pengaruh yang

21

baik seperti halnya masyarakat dapat menciptakan suasana yang


nyaman dan tenang maka penatalaksanaan manajemen stres
dapat terkondisikan. Berbeda halnya apa bila lingkungan sekitar
berpengaruh buruk maka pasien akan sulit mengendalikan stres
yang berdampak rnenaikan gula darah.