Anda di halaman 1dari 17

6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Diabetes Mellitus
1. Definisi Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh
adanya peningkatan kadar glukosa dalam darah atau yang disebut
hiperglikemia. Glukosa secara normal bersirkulasi dalam jumlah tertentu
dalam darah yang dibentuk dari hati melalui makanan yang dikonsumsi.
Pada produksi dan penyimpanannya glukosa diatur oleh suatu hormon yang
diproduksi oleh pankreas yang disebut insulin. Insulin berfungsi untuk
mengendalikan kadar glukosa dalam darah (Smeltzer & Bare, 2001).
Peningkatan kadar gula darah pada penderita DM mengakibatkan tubuh
tidak bisa memproduksi hormon insulin secara baik atau bahkan sampai
tidak bisa sama sekali. Jika kondisi ini terus berlanjut maka proses
metabolisme di dalam tubuh akan mengalami gangguan (Sudarmoko, 2010).

Pengertian DM yang dimaksudkan dalam hal ini adalah suatu penyakit


dimana kadar glukosa di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat
melepaskan / menggunakan insulin secara cukup. Menurut kriteria
diagnostik PERKENI (Perkumpulan Penyakit Endokrin Nasional Indonesia)
seseorang bisa dikatakan menderita DM jika memiliki kadar gula darah
puasa > 126 mg/dl dan pada tes sewaktu > 200 mg/dl. Kadar gula darah
sepanjang hari bisa bervariasi dimana akan meningkat setelah makan dan
kembali normal dalam waktu 2 jam, kadar gula darah yang normal adalah
pada pagi hari setelah malan sebelumnya berpuasa yaitu 70 110 mg/dl
darah.

2. Penyebab Diabetes Mellitus


Menurut Smeltzer & Bare (2001) Penyakit diabetes mellitus biasanya
disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah :
a. Kelainan genetik
Faktor keturunan sangat memungkinkan seseorang menderita diabetes
mellitus karena jika ada riwayat keluarga yang ada salah satu anggotanya
menderita diabetes mellitus dimungkinkan akan menurunkan kepada
anaknya.
b. Usia
Faktor usia memungkinkan pada orang dewasa yang berusia 45 tahun ke
atas atau orang orang yang berusia dibawah 45 tahun tetapi mengalami
kegemukan
c. Stres
Stres kronis cenderung membuat seseorang makan makanan yang
manis- manis untuk meningkatkan kadar lemak serotonin otak. Serotonin
ini mempunyai efek penenang sementara untuk meredakan stresnya .
Tetapi gula dan lemak berbahaya bagi mereka yang beresiko mengidap
penyakit diabetes mellitus
d. Pola makan yang salah
Pola makan yang cenderung mengkonsumsi makanan yang mengandung
gula dan bersifat manis akan cepat meningkatkan kadar gula darah
seseorang sehingga pola makan yang salah harus dikendalikan dengan
cara mengendalikan mengkonsumsi makanan yang bersifat manis

3. Tanda dan Gejala Diabetes Mellitus


Gejala dan tanda dari diabetes mellitus bisa dibedakan menjadi gejala akut
dan gejala kronis. Pada gejala akut akan ditandai dengan banyak makan,
banyak minum dan banyak kencing. Namun lama kelamaan akan timbul
penurunan daya kerja insulin yang membuat seseorang kehilangan nafsu
makan, mudah capek dan penurunan berat badan secara cepat.

Pada gejala kronis terkadang seseorang tidak ada gejala akut dan
menunjukan gejala setelah beberapa bulan bahkan beberapa tahun setelah
mengidapnya. Gejala gejala tersebut diantaranya adalah :
a. Muncul perasaan haus terus menerus dan sering buang air kecil dalam
jumlah banyak
b. Mudah merasa capek tanpa ada penyebab yang pasti
c. Cepat merasa lapar dan mudah mengantuk
d. Badan terasa gatal dan adanya peradangan kulit menahun
e. Sering kesemutan
f. Pengelihatan kabur sehingga sering mengganti kacamata
g. Gatal didaerah sekitar kemaluan
h. Gigi mudah goyah dan mudah lepas

4. Faktor faktor yang mempengaruhi Stres pada Diabetes Mellitus


Stres fisiologik seperti infeksi dan pembedahan turut menimbulkan
hiperglikemia dan dapat memicu diabetes ketoasidosis. Stres emosional
dapat memberi dampak yang negatif terhadap pengendalian diabetes yang
meliputi :
a. Tingginya kadar gula darah
b. Dukungan keluarga terhadap anggota keluarga yang mengalami
diabetes mellitus
c. Motivasi seorang penderita diabetes mellitus terhadap perawatan
komplikasi yang mungkin terjadi
d. Spiritualitas dalam diri seseorang

5. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus


Penatalaksanaan

utama

terapi

diabetes

mellitus

adalah

mencoba

menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk
mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler serta neuropatik. Tujuannya
adalah mencapai kadar glukosa darah normal (euglikemia) tanpa terjadi

hipoglikemia dan gangguan serius pada pola aktivitas pasien (Smeltzer &
Bare,2002)
a. Diet
Penatalaksanaan nutrisi pada penderita diabetes diarahkan untuk
mencapai tujuan berikut ini:
1) Memberikan semua unsur makanan esensial (misalnya vitamin,
mineral)
2) Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai
3) Memenuhi kebutuhan energi
4) Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan
mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui
cara-cara yang aman dan praktis
5) Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat
Bagi

semua

penderita

diabetes,

perencanaan

makan

harus

mempertimbangkan pula kegemaran pasien terhadap makanan


tertentu, gaya hidup, jam-jam makan yang biasa diikutinya dan latar
belakang etnik serta budayanya. Bagi pasien yang mendapatkan terapi
insulin intensif, penentuan jam makan dan banyaknya makanan
mungkin lebih fleksibel dengan cara mengatur perubahan kebiasaan
makan serta latihan.
b. Latihan
Latihan sangat penting dalam penatalaksanaan diabetes karena efeknya
dapat menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi faktor risiko
kardiovaskuler. Latihan akan menurunkan kadar glukosa darah dengan
meningkatkan pongambilan glukosa oleh otot dan memperbaiki
pemakaian insulin.
Sirkulasi darah dan tonus otot juga diperbaiki dengan berolahraga.
Latihan dengan cara melawan tahanan (resistance training) dapat
meningkatkan lean body mass dan dengan demikian menambah laju
metabolisme laju istirahat (resting metabolic rate). Semua efek ini

10

sangat bermanfaat pada diabetes karena dapat menurunkan berat


badan, mengurangi rasa stres dan mempertahankan kesegaran tubuh.
Latihan juga akan mengubah kadar lemak darah yaitu meningkatkan
kadar HDL-kolesterol dan menurunkan kadar kolesterol total dan
trigliserida. Semua manfaat ini sangat penting bagi penyandang
diabetes mengingat adanya peningkatan risiko untuk terkena penyakit
kardiovaskuler pada diabetes. Meskipun demikian, penderita diabetes
dengan kadar glukosa darah lebih dari 250mg/dl (14mmol/L) dan
menunjukkan adanya keton dalam urin tidak boleh melakukan latihan
sebelum pemeriksaan keton urin memperlihatkan hasil negatif dan
kadar glukosa darah telah mendekati normal.
Latihan dengan kadar glukosa darah tinggi akan meningkatkan sekresi
glukagon, growth hormone dan katekolamin. Peningkatan hormon ini
membuat hati melepas lebih banyak glukosa sehingga terjadi kenaikan
kadar glukosa darah.
c. Pemantauan
Dengan melakukan pemantauan kadar glukosa darah secara mandiri
(SMBG: self-monitoring of blood glucose), penderita diabetes kini
dapat mengatur terapinya untuk mengendalikan kadar glukosa darah
secara optimal. Cara ini memungkinkan deteksi dan pencegahan
hipoglikemia serta hiperglikemia, dan berperan dalam menentukan
kadar glukosa darah normal yang memungkinkan akan mengurangi
komplikasi diabetes jangka panjang. Berbagai metode kini tersedia
untuk melakukan pemantauan mandiri kadar glukosa darah.
d. Terapi Insulin dan Obat Hiperglikemia.
Pada

diabetes

tipe

I,

tubuh

kehilangan

kemampuan

untuk

memproduksi insulin. Dengan demikian, insulin harus diberikan dalam


jumlah tak terbatas. Pada diabetes tipe II, insulin mungkin diperlukan
sebagai terapi jangka panjang untuk mengendalikan kadar glukosa
darah

jika

diet

dan

obat

hipoglikemia

oral

tidak

berhasil

11

mengontrolnya. Di samping itu, sebagian pasien diabetes tipe II yang


biasanya mengendalikan kadar glukosa darah dengan diet atau obat
oral kadang membutuhkan insulin secara temporer selama mengalami
sakit, infeksi, kehamilan, pembedahan atau beberapa kejadian stress
lainnya.
e. Manajemen stres
Diabetes melitus merupakan sakit kronis yang memerlukan perilaku
penanganan mandiri yang khusus seumur hidup. Karena diet, aktivitas
fisik dan stres fisik serta emosional dapat mempengaruhi pengendalian
diabetes, maka pasien harus belajar untuk mengatur keseimbangan diri
untuk berpikir positif agar tidak stres. Penting bagi penderita diabetes
untuk tahu bagaimana caranya menjaga tingkat stresnya. Salah satunya
adalah dengan melakukan olahraga secara teratur.
Olahraga teratur bagi penderita diabetes tidak hanya untuk mengontrol
kadar glukosa, tapi juga membuat seseorang memiliki waktu untuk
dirinya sendiri. Hal ini termasuk salah satu cara untuk mencegah dan
mengatasi stres. Beberapa hal juga bisa efektif mengatasi dan
mencegah stres yaitu istirahat yang cukup, mengonsumsi makanan
yang seimbang, serta memiliki sikap hidup yang positif seperti
meluangkan waktu untuk diri sendiri dan belajar memahami dirinya
sendiri.
Sebenarnya dalam kadar tertentu stres diperlukan untuk menyiapkan
individu menghadapi sebuah ancaman. Tapi jika stres terjadi secara
berkepanjangan, maka bisa merugikan diri sendiri dan menimbulkan
penderitaan.

Kondisi

stres

ini

bisa

menyebabkan

penurunan

kemampuan serta mulai timbul keluhan dan mengakibatkan kenaikan


kadar gula darah.

12

B. Pengetahuan
1. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui panca indra manusia yakni indra pengelihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh
melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam


membentuk tindakan seseorang. Pengetahuan yang mencangkup dalam
domain kognitif mempunyai enam tingkatan, yaitu:
a. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya termasuk dalam pengetahuan tingkat tingkat ini adalah
mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima, contohnya menyebutkan
cara untuk menjalankan terapi stres pada penderita diabetes mellitus
b. Memahami (Comperhension)
Memahami diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara
benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan
materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau
materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan terhadap objek yang
dipelajari, contohnya dapat menjelaskan mengapa harus mengendalikan
kadar gula darah dan menjalankan menajemen stres pada penderita
diabetes mellitus
c. Aplikasi (aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang nyata. Aplikasi ini dapat
diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum hukum, rumus,
metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi lain.

13

d. Analisis (Analisys)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
objek kedalam komponen komponen, tetapi masih dalam satu struktur
organisasi dan masih ada kaitanya satu sama lain.
e. Sintesis
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakan atau
menghubungkan bagian bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru, dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun
formulasi yang ada.
f. Evaluasi
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi
atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian penilaian ini
didasarkan

pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau

menggunakan kriteria kriteria yang telah ada.

2. Tingkatan Pengetahuan
Pengukuran tingkat pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara
langsung atau dengan angket yang menanyakan tentang isi materi yang
ingin diukur dari responden atau subjek penelitian. Kedalaman pengetahuan
responden yang ingin diukur atau diketahui, dapat disesuaikan dengan
tingkat pengetahuan dari responden (Notoadmodjo, 2003)

Tingkat pengetahuan dibagi menjadi 3 kategori menurut Pratomo (2001),


yaitu :
a. Baik, apabila skor jawaban responden > 75% dari nilai tertinggi.
b. Sedang, apabila skor jawaban responden 40%-75% dari nilai tertinggi
c. Kurang, apabila skor jawaban responden < 40% dari nilai tertinggi.

3. Faktor faktor yang mempengaruhi Tingkat Pengetahuan


Menurut Nasution dalam Notoatmodjo (2003), pengetahuan dalam
masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor :

14

a. Tingkat Pendidikan
Semakin tinggi pendidikan maka akan lebih mudah menerima hal hal
baru dan mudah menyesuaikan dengan hal- hal baru tersebut
b. Informasi
Seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih banyak akan
memberikan pengetahuan yang lebih jelas.
c. Budaya
Budaya sangat berpengaruh terhadap tingkatan pengetahuan seseorang
karena informasi informasi baru akan disaring kira - kira sesuai atau
tidak dengan budaya yang dianut
d. Pengalaman
Pengalaman disini berkaitan dengan umur dan pendidikan individu,
maksudnya pendidikan yang lebih tinggi pengalamanya akan lebih luas
dan umur yang semakin banyak pengalamanya juga akan semakin
mengetahui bagaimana manajemen stres yang baik.
e. Sosial ekonomi
Tingkat seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan bersosialisasi

4. Pengetahuan tentang Manajemen Stres pada Diabetes Mellitus


Dalam hal ini seseorang yang menderita diabetes mellitus akan mengalami
stres, gelisah dan cemas yang berpengaruh pada peningkatan gula darah
sehingga mereka harus mampu mengendalikan stres agar tidak terjadi
peningkatan gula darah yang terus menerus.

C. Manajemen Stres
1. Pengertian Stres
Stres merupakan istilah dari bahasa latin Stingere yang berarti keras
(stricus). Istilah ini mengalami perubahan seiring dengan perkembangan
penelaahan yang berlanjut dari waktu ke waktu dari straise, strest, stresce,
dan stress. Stres merupakan suatu keadaan dimana seseorang mnegalami

15

ketegangan karena adanya kondisi kondisi yang mempengaruhi dirinya.


Stres juga merupakan respons yang datang dari diri seseorang terhadap
tantangan fisik maupun mental yang datang dari dalam ataupun dari luar
dirinya. Oleh karena itu, selama kehidupan berlangsung tidak mungkin
manusia terhindar dari stres (Nasrudin, 2010).

Stres dapat didefinisikan sebagai semua jenis perubahan yang menyebabkan


fisik, emosi atau tekanan psikologis. Stres adalah respons mental seseorang
dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Stres adalah segala
masalah atau tuntutan penyesuaian diri dan karena itu sesuatu yang
mengganggu kita (Hawari 2010) .

Stres adalah suatu kekuatan yang mendesak atau mencekam yang


menimbulkan ketegangan dalam diri seseorang. Hal ini merupakan kondisi
mental yang secara subyektif tidak menyenangkan pada manusia. Stres
bersumber dari internal dan eksternal. Stres menyebabkan kemampuan
seseorang menghadapi masalah menurun dan menimbulkan berbagai
keluhan psikis (mental emosional) maupun fisik. Stres menyebabkan
hambatan dalam kehidupan psikososial

seperti pergaulan, pekerjaan,

penggunaan waktu senggang (Perry & Potter,1999).

Kondisi tertentu stres dapat berdampak positif dan produktif. Bagi orang
yang berfikir positif dan dalam kondisi tertentu stres dapat menghasilkan
suatu dinamika perilaku sehingga menjadi lebih produktif dan sukses.
Sementara itu, pada orang yang berfikir negatif dan dalam kondisi tertentu,
stres dapat menimbulkan hambatan dan gangguan baik fisik maupun mental.
Stres yang bersifat positif disebut eustres, sedangkan stres yang bersifat
negatif disebut distress (Hawari,2010).

16

Stres emosional memberikan dampak negatif terhadap pengendalian


diabetes karena peningkatan hormon stres akan meningkatkan kadar
glukosa darah, khususnya bila asupan makanan dan pemberian insulin yang
tidak terkontrol. Disamping itu, pada saat terjadi stres emosional, penderita
diabetes dapat mengubah pola makan, latihan dan penggunaan obat yang
biasanya dipatuhi menjadi diabaikan oleh penderita. Keadaan ini akan
menimbulkan hiperglikemia atau bahkan hipoglikemia (Smeltzer &
Bare,2001).

Penderita diabetes harus menyadari kemungkinan kemunduran pengendalian


diabetes yang menyertai stres emosional. Bagi mereka diperlukan motivasi
agar sedapat mungkin mematuhi rencana terapi diabetes pada saat saat
stres. Demikian pula untuk strategi pembelajaran yang dapat memperkecil
pengaruh stres dan mengatasinya ketika hal ini terjadi karena merupakan
satu hal penting dalam pendidikan diabetes (Smeltzer & Bare, 2001).

Manajemen stres adalah suatu tindakan dalam mengatur diri pribadi untuk
merelaksasikan pikiran dengan berbagai kegiatan seperti halnya setiap
individu diharuskan mempunyai waktu rileks harian, menyadari sumber
stres, melakukan olah raga meditasi dan relaksasi otot sebelum tidur,
memanfaatkan

waktu

tidur

sebagai

waktu

yang

menyenangkan,

mengekspresikan perasaan dan menggunakan metode pengendalian stres


(Perry & Potter,1999).

2. Sumber sumber Stres


Sumber sumber yang menimbulkan stres disebut dengan stresor, yang
terdapat didalam diri atau diluar dirinya. Menurut Smeltzer & Bare dalam
garis besarnya, faktor faktor yang menimbulkan stres dapat dikelompokan
menjadi tiga yaitu :

17

a. Stresor harian atau yang disebut frustasi


Meliputi kejadian yang terjadi sehari hari misalnya saja pada saat
terjebak kemacetan, kerusakan komputer, bertengkar dengan pasangan
hidup atau teman sekamar. Ternyata jika kondisi ini terus berlangsung
dalam jangka waktu yang lama bisa mengakibatkan adanya gangguan
dan terjadinya frustasi
b. Bencana besar yang melibatkan kelompok besar
Kejadian ini bisa digambarkan pada adanya permasalahan terorisme
disuatu negara sehingga banyak terjadi ancaman dan peperangan
sehingga dapat mengakibatkan stres pada masyarakat
c. Stres diri pribadi
Adanya gangguan pada diri baik dari segi fisik maupun mental, seperti
pada kondisi terdiagnosa suatu penyakit, mengalami kecelakaan dan
gangguan kesehatan lainya.

3. Manajemen Stres pada Penderita Diabetes Mellitus


Penelitian keperawatan yang dijelaskan dalam Smeltzer & Bare (2001) ada
lima cara dalam mengendalikan stres yang menyebabkan timbulnya
penyakit, yaitu:
a. Mencoba merasa optimis mengenai masa depan
Meskipun sedang mengalami suatu gangguan yang ada didalam diri,
seseorang harus tetap optimis dalam menatap masa depan dan
meneruskan kehidupanya dengan selalu berfikir positf melangkah
kedalam hidup yang sehat.
b. Menggunakan dukungan sosial
Keluarga dan masyarakat sangat mempengaruhi kondisi seseorang
sehingga dukungan sosial sangat penting dalam menjalani suatu strategi
manajemen stres yang baik. Dengan adanya dukungan maka motivasi diri
terhadap seorang penderita untuk selalu bahagia akan bisa tercapai.

18

c. Menggunakan sumber spiritual


Keyakinan terhadap segala suatu yang diyakini bisa mengurangi tingkat
stres seseorang yaitu dengan melakukan kegiatan yang bersifat spiritual
misalnya saja mengikuti kegiatan ibadah, yoga, perana, maupun kegiatan
lain yang bisa merelaksasikan pikiran.
d. Mencoba tetap mengontrol situasi maupun perasaan
Dalam kondisi tertentu seseorang akan mudah marah dan terbawa emosi
sehingga dalam hal ini sangat penting dalam mengendalikan emosi
maupun perasaan
e. Mencoba menerima kenyataan yang ada
Meskipun dalam kondisi sakit tetapi tidak akan menghalangi seserang
untuk melanjutkan hidupnya, penerimaan kondisi diri terhadap penyakit
harus dilakukan secara sadar dan menerima kenyataan yang ada.

4. Faktor faktor yang mempengaruhi Manajemen stres


Secara teori manajemen stres adalah perilaku pengendalian stres. Menurut
Green dalam Notoatmodjo (2005), perilaku ini ditentukan oleh 3 faktor utama
yaitu:
a. Faktor predisposisi (predisposing factors)
Faktor Presisposisi (predisposing factors) adalah factor factor dapat
mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku pada diri
seseorang adalah pengetahuan dan sikap seseorang tersebut terhadap yang
akan dilakukan.
1) Pengetahuan
Pengetahuan pasien tentang diabetes mellitus sangat berhubungan
erat dengan pengetahuan pasien tentang pentingnya manajemen
stres. Pengetahuan pasien yang rendah mengenai penyakit diabetes
mellitus

akan

mempengaruhi

pengendalian kenaikan gula darah.

manajemen

stres

terhadap

19

2) Tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan dan pengetahuan pasien serta pengalaman
sangat berpengaruh dalam hal penatalaksanaan manajemen stress
pada penderita diabetes mellitus . Pendidikan akan memberikan
dampak bagi pola pikir dan pandangan pasien tentang manajemen
stres terhadap penyakitnya
3) Pekerjaan
Status pekerjaan pasien mempunyai pengaruh besar dalam
penatalaksanaan manajemen stres. Pekerjaan pasien yang banyak
menyita waktu akan mempengaruhi seseorang untuk memikirkan
tentang bagaimana mengendalikan stres pada dirinya
4) Tingkat Sosial ekonomi
Tingkat sosial ekonomi akan mempengaruhi manajemen stress
pada pasien diabetes mellitus. Rata-rata masyarakat atau keluarga
dengan tingkat sosial ekonomi yang cukup baik akan lebih bias
memikirkan yang terbaik agar gula darah mereka bias terkontrol
dengan baik
b. Faktor pendukung (factor enabling)
Faktor pendukung (factor enabling) adalah faktor yang memungkinkan
atau yang memberi kesempatan untuk terjadinya sebuah perilaku, yang
terwujud dalam ketersediaan fasilitas, sarana dan prasarana, sumber daya
serta ketrampilan petugas kesehatan.Ketersediaan sarana dan fasilitas
dalam hal ini meliputi :
1) Tempat ibadah
Seseorang yang mengalami berbagai persoalan akan mampu
menenangkan dirinya di tempat tempat yang menurut mereka dapat
memberikan aura positif seperti tempat ibadah masjid, gereja, wihara
dll.
2) Dukungan Keluarga
Keluarga dan orang terdekat sangat diperlukan bagi individu dalam
rangka mengatasi berbagai persoalan, keluarga bisa menjadi tempat

20

untuk mengungkapkan segala permasalahan yang ada sehingga


manajemen stres dapat dilaksanakan.
c. Faktor pendorong (reinforcing factors)
Faktor pendorong (reinforcing factors) adalah konsekuensi dari
determinan perilaku dimana individu menerima feed back dan setelah itu
ada dorongan social. Faktor pendorong meliputi dukungan social,
pengaruh dan informasi serta feed back oleh tenaga kesehatan
1) Sikap dan kebiasaan
Sikap adalah cara seseorang menerima atau menolak sesuatu yang
didasarkan pada cara dia memberikan penilaian terhadap objek
tertentu yang berguna ataupun tidak bagi dirinya (Nuryani, 2008).
Sikap dan kebisaan pasien yang sering emosional apabila ada
permasalah yang membelit akan mempengaruhi dirinya sehingga stres
sulit dikendalikan
2) Pengaruh lingkungan masyarakat
Lingkungan masyarakat mempunyai peranan penting yaitu apabila
lingkungan sekitar mampu meberikan pengaruh yang baik seperti
halnya masyarakat dapat menciptakan suasana yang nyaman dan
tenang maka penatalaksanaan manajemen stres dapat terkondisikan.
Berbeda halnya apa bila lingkungan sekitar berpengaruh buruk maka
pasien akan sulit mengendalikan stres yang berdampak menaikan gula
darah.

D. Keaslian Penelitian
Penelitian yang pernah dilakukan dan berkaitan dengan penelitian ini
adalah :
1. Penelitian yang dilakukan oleh Febriyanti (2007) menyatakan bahwa
terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan sikap
kepatuhan pasien dalam menjalani terapi diet diabetes mellitus.

21

2. Penelitian yang dilakukan oleh Diliyani (2006) menyatakan bahwa terdapat


hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan penderita tentang
penyakit dan komplikasi dengan tindakan mengontrol kadar gula darah.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Haryati (2005) menyatakan ada korelasi
antara dukungan sosial dengan stres pada pasien yang menjalani
hemodialisa di RSUD Dr Moewardi Surakarta.

E. Konsep Teori
Diabetes
Mellitus

Manajemen Stres
a. Optimis
b. Dukungan Sosial
c. Sumber Spiritual
d. Kontrol Emosi
e. Menerima kenyataan

Stres

Faktor yang mempengaruhi manajemen stres


A. Faktor predisposisi (predisposing factors)
1. Pengetahuan
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Tahu (know)
Memahami (comprehension)
Aplikasi (application)
Analisis (analysis)
Sintesis (syntesis)
Evaluasi (evaluation )

2. Tingkat pendidikan
3. Pekerjaan
4. Tingkat social dan ekonomi
B. Faktor pendukung (factor enabling)
1. Banyaknya tempat ibadah
2. Dukungan keluarga
C. Faktor pendorong (reinforcing factors)
1. Sikap dan kebiasaan
2. Faktor lingkungan masyarakat
Skema 2.1 Kerangka Teori

[Sumber; Modifikasi Smeltzer & Bare ( 2001) dan Notoatmodjo (2003)]

22

F. Kerangka Konsep
Variabel Independent

Variabel Dependent

Tingkat Pengetahuan

Manajemen Stres Pada

penderita DM

Penderita DM

Skema 2.2 Kerangka Konsep

G. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel independen dan variabel
dependen
1. Variabel Independen
Variabel independen dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan
penderita diabetes mellitus
2. Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah manajemen stres penderita
diabetes mellitus

G. Hipotesis
Adanya hubungan antara tingkat pengetahuan dengan manajemen stres pada
penderita diabetes mellitus di RSUD Kota Semarang.