Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum janin dapat hidup di
dunia,tanpa mempersoalkan penyebabnya, dimana kandungan seorang
perempuan hamil dengan spontan gugur. Jadi perlu dibedakan antara abortus
yang disengaja dan abortus spontan. Abortus Spontan adalah abortus yang
terjadi dengan tidak didahului factor-faktor mekanis ataupun medialis, sematamata disebabkan oleh factor-faktor alamiah.Sedangkan abortus yang disengaja
adalah terjadi secara disengaja baik dengan obat-obatan maupun alat.
Penyebab kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan (30%), infeksi
(12%), eklampsi (25%), abortus (5%), partus lama (5%), emboli obstetri (3%),
komplikasi masa nifas (8%) dan penyebab lainnya (12%). Menurut survei
Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012.
Abortus disebabkan oleh banyak faktor, baik abortus spontan maupun
disengaja. Abortus spontan disebabkan oleh

faktor-faktor alamiah tanpa

dilakukan campur tangan untuk mengeluarkannya. Abortus yang disengaja


dilakukan sebagai tindakan medis apabila jika tanpa dilakukan tindakan
abortus akan mengancam nyawa baik dari ibu maupun bayi, maka dilakukan
abortus yang disengaja demi kebaikan ibu dan bayi dilakukan dengan obatobatan dan alat. Namun saat ini banyak disalahgunakan tindakan abortus
dilakukan untuk kriminal guna menutupi aib atau kehamilan diluar nikah dan
juga anak yang tidak diharapkan. Semua tindakan abortus akan berdampak
buruk apabila dilakukan dengan cara yang salah yang nantinya akan
menimbulkan komplikasi dan masalah yang lain.
Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk
menetapkan, merencanakan dan melaksanakan pelayanan keperawatan dalam
rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya
seoptimal mungkin. Ketepatan dalam diagnosa serta asuhan keperawatan pada
abortus dapat memperkecil angka kematian ibu, dan menekan komplikasi
yang terjadi. Oleh karena itu, kami menyusun makalah Asuhan Keperawatan
Abortus.
1.2 Rumusan Masalah
1

1. Apa yang dimaksud dengan abortus?


2. Bagaimana klasifikasi abortus?
3. Bagaimana manifestasi klinik abortus?
4. Bagaimana etiologi abortus?
5. Bagaimana patofisiologi abortus?
6. Bagaimana Pemeriksaan penunjang abortus?
7. Bagaimana Penanganan medis abortus?
8. Bagaimana penatalaksanaan abortus?
9. Bagaimana Prognosis abortus ?
10. Bagaimana konsep asuhan keperawatan abortus?
1.3 Tujuan
Tujuan Umum
Adapun tujuan umum penyusunan makalah ini adalah mendukung kegiatan
pembelajaran keparawatan System Reproduksi I khususnya tentang asuhan
keperawatan pada klien dengan abortus serta melatih mahasiswa untuk
berpikir kritis.
Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui konsep abortus
2. Untuk mengetahui klasifikasi abortus
3. Untuk mengetahui manifestasi klinik
4. Untuk mengetahui patofisiologi abortus
5. Untuk mengetahui prognosis abortus
6. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang abortus
7. Untuk mengetahui penanganan medis
8. Untuk mengetahui penatalaksanaan abortus
9. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan abortus

1.4 Manfaat
Bagi Penulis
Agar penulis mampu melakukan perawatan dan menerapkan asuhan
keperawatan yang tepat pada pasien dengan abortus saat di rumah sakit.
Bagi Mahasiswa
Agar mahasiswa mampu memahami konsep abortus dan mampu melakukan
penatalaksanaan saat menemui kasus abortus.

BAB II
KONSEP TEORI
2.1 Definisi
Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas. Dimana
masa gestasi belum mencapai usia 22 minggu dan beratnya kurang dari 500g
(Derek liewollyn&Jones, 2002).
Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi dari uterus sebelum janin
viabel. Abortus merupakan penghentian dini suatu penyakit (Dorland, 1998)
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum
janin dapat hidup diluar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang
20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram (sarwono, 2009).
Keguguran atau abortus adalah dikeluarkannya hasil konsepsi sebelum
mampu hidup diluar kandungan dengan berat badan kurang dari 1000 gram
atau usia kehamilan kurang dari 28 minggu (Manuaba,2010)
2.2 Etiologi
a. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi, biasa menyebabkan abortus pada
kehamilan sebelum usia 8 minggu. Faktor yang menyebabkan kelainan ini
adalah :
1. Kelainan kromosom, terutama trisomi autosom dan monosomi X
2. Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna
3. Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat-obatan, tembakau atau
alkohol.

b. Kelainan pada plasenta, misalnya endarteritis vili korialis karena


hipertensi menahun.
c. Faktor maternal, seperti pneumonia, tifus, anemia berat, keracunan dan
toksoplasmosis.
d. Kelainan traktus genetalia
1. Anomali congenital (hipoplasia uteri,uterus bikornis dan lain-lain).
2. Kelainan letak dari uterus seperti retrofleksi uteri fiksata.
3. Tidak sempurnanya persiapan uterus dalam menanti nidasi dari ovum
yang

sudah

dibuahi,

seperti

kurangnya

progesterone

atau

astrogen,endometritis,mioma sub mukosa.


4. Uterus terlalu cepat meregang (kehamilan ganda,mola).
5. Distosia uterus missal karena terdorong oleh tumor pelvis.
e. Kelainan Ovum
Abortus spontan yang disebabkan oleh karena kelainan dari ovum
berkurang kemungkinannya kalau kehamilan sudah lebih dari satu
bulan,artinya makin muda kehamilan saat terjadinya abortus makin besar
kemungkinan disebabkan oleh kelainan ovum.
f. Gangguan Sirkulasi Plasenta
Dijumpai pada ibu yang menderita penyakit nefrisis,hipertensi,toksemia
gravidarum,anomaly plasenta.
2.3 Klasifikasi
Abortus dapat dibagi atas 2 golongan ( Rustam Mocthar 1998 )
a.

Abortus Spontan
Adalah abortus yang terjadi dengan tidak didahului factor-faktor mekanis
ataupun medialis, semata-mata disebabkan oleh factor-faktor alamiah.
Macam-macam abortus spontan:
1. Abortus Kompletus (Keguguran lengkap) Adalah seluruh hasil konsepsi
dikeluarkan (desidua dan fetus) sehingga rongga rahim kosong.
2. Abortus Incompletus (Keguguran bersisa) Adalah hanya sebagian dari
hasil konsepsi dikeluarkan, yang tertinggal adalah desidua dan placenta.
3. Abortus Insipien (Keguguran sedang berlangsung) Adalah abortus
sedang berlangsung dengan ostium eksternum dan internum sudah
terbuka dan ketuban yang teraba. Kehamilan tidak dapat dipertahankan
lagi.
4. Abortus Iminens (Keguguran membakat) Adalah abortus membakat dan
akan terjadi. Dalam hal ini keluarnya fetus masih dapat dicegah dengan
memberikan obat-obatan.

5. Missed Abortion Adalah keadaan dimana janin sudah mati, tetapi tetap
berada dalam rahim yang tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih.
6. Abortus Habitualis (Keguguran berulang) Adalah keadaan dimana
penderita mengalami keguguran berturut-turut 3 kali atau lebih.
7. Abortus Infektiosus dan Abortus Septik Adalah keguguran yang disertai
infeksi genital. Abortus septic adalah keguguran disertai infeksi berat
dengan penyebaran kuman atau toxinnya kedalam peredaran darah atau
peritoneum.
b. Abortus Provokatus
Adalah abortus yang disengaja, baik dengan memakai obat-obatan maupun
alat. Abortus ini dibagi dua :
1. Abortus Medialis
Adalah abortus dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan akan
membahayakan jiwa ibu ( berdasarkan indikasi medis ).
2. Abortus Kriminalis
Adalah abortus yang terjadi oleh karena tindakan yang tidak legal atau
tidak berdasarkan indikasi medis
2.4 Manifestasi klinis
1. Terlambat haid atau amenore kurang dari 20 minggu.
2. Pada pemeriksaan fisik : Keadaan umum tampak lemah atau kesadaran
menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau
cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat.
3. Perdarahan pervagina, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi
4. Rasa mulas atau keram perut di daerah atas simfisis, sering disertai nyeri
pinggang akibat kontraksi uterus
5. Pemeriksaan ginekologi :
a.

Inspeksi vulva : perdarahan pervaginam ada / tidak jaringan hasil

b.

konsepsi, tercium/tidak bau busuk dari vulva


Inspekulo : perdarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau
sudah tertutup, ada/tidak jaringan keluar dari ostium, ada/tidak cairan

c.

atau jaringan berbau busuk dario ostium.


Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau
tidak jaringan dalam kavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil
dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio dogoyang, tidak nyeri
pada perabaan adneksa, kavum Douglasi, tidak menonjol dan tidak
nyeri.

2.5 Patofisiologi
Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti dengan
nekrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan
dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk
mengeluarkan benda asing tersebut.
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, villi korialis belum menembus
desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada
kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga
plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan.
Pada kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu
daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong
amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blighted ovum), janin
lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau
fetus papiraseus.

WOC ABORTUS

Kelainan kromosom

Pengaruh Tetranogen:
radiasi. Obat, virus,
alkohol

Penyakit infeksi
akut

Kelainan traktus
genetalia

Toksin, bakteri, virus


6
Perubahan
Gangguan
Kotraksi
struktur
sel
nyeri
Perdarahan
Hasil
Nekrosis
konsepsi
dalam
Jaringan
lepas(
desidua
sekitar
aborsi
basalis
)
pertumbuhan
uterus
janin

Masuk ke plasenta
Syok
Kekurangan
volume
Lepas seluruhnya
Perdarahan
Hipovolemik
cairan

Ansietas

Lepas sebagian

Tindakan curatase

Resiko infeksi

Intoleransi
aktivitas

2.6 Faktor Resiko


1. Usia ibu yang lanjut
2. Riwayat obstetri / ginekologi yang kurang baik
3. Riwayat infertilitas
4. Adanya kelainan / penyakit yang menyertai kehamilan (misalnya diabetes,
penyakit Imunologi sistemik dsb).
5. Berbagai macam infeksi (variola, CMV, toxoplasma, dsb)

6. Paparan dengan berbagai macam zat kimia (rokok, obat2an, alkohol,


radiasi, dsb).
7. Trauma abdomen/pelvis pada trimester pertama
8. Kelainan kromosom (trisomi / monosomi)Dari aspek biologi molekular,
kelainan kromosom ternyata paling sering dan paling jelas berhubungan
dengan terjadinya abortus.
2.7 Pemeriksaan Penunjang
a. Tes kehamilan : positif bila janin masih hidup, bahkan 2 3 minggu
setelah abortus.
b. Pemeriksaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih
hidup.
c. Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion. Pemeriksaan
ginekologi :
1. Inspeksi vulva : perdarahan pervaginam ada / tidak jaringan hasil
konsepsi, tercium/tidak bau busuk dari vulva.
2. Inspekulo : perdarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau
sudah tertutup, ada/tidak jaringan keluar dari ostium, ada/tidak cairan
atau jaringan berbau busuk dario ostium.
3. Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau
tidak jaringan dalam kavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil
dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio dogoyang, tidak nyeri pada
perabaan adneksa, kavum Douglasi, tidak menonjol dan tidak nyeri.

2.8 Komplikasi
1. Perdarahan (hemmorage)
Dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan
jika perlu pemberian transfusi darah, kematian karena perdarahan dapat
terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.
2. Porferasi uterus
Dapat terjadi perforasi uterus pada kerokan terutama pada uterus dalam
posisi hiperetrofleksi. Jika terjadi perforasi harus segera dilakukan
laparatomi. Perforasi sering terjadi sewaktu dilatasi dan kuretase yang
dilakukan oleh tenaga yang tidak ahli seperti bidan dan dukun.

3. Infeksi
Infeksi dalam uterus atau sekitarnya dapat terjadi pada tiap abortus. Lebih
sering ditemukan pada abortus incompletes dan abortus buatan yang tanpa
memperhatikan aseptic dan antiseptic.
4. Syok
Keadaan syok dapat ditimbulkan oleh bermacam-macam sebab. Yang
terbanyak adalah syok hipovolemik, yaitu adanya kekurangan volume
darah yang beredar akibat perdarahan atau dehidrasi. (Sarwono, 2008 :
331)
5. Pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi
kelainan pembekuan darah.
2.9 Prognosis
Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti nekrosis
jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap
benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan
benda asing tersebut.
Pada kehamilan kurang dari 6 minggu, villi kotaris belum menembus
desidua secara dalam, jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada
kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga
plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan.
Pada kehamilan lebih dari 14 minggu, janin dikeluarkan lebih dahulu daripada
plasenta. Hasil konsepsi keluar dalam berbagai bentuk, seperti kantong kosong
amnion atau benda kecil yang tak jelas bentuknya (lighted ovum) janin lahir
mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus
papiraseus.
2.10 Penatalaksanaan Aborsi
a. Abortus Iminens
Penatalaksanaan
1. Istirahat baring agar aliran darah ke uterus bertambah dan rangsang
mekanik berkurang.
2. Periksa denyut nadi dan suhu badan dua kali sehari bila pasien tidak
panas dan tiap empat jam bila pasien panas
9

3. Tes kehamilan dapat dilakuka. Bila hasil negatif mungkin janin


sudah mati. Pemeriksaan USG untuk menentukan apakah janin
masih hidup.
4. Berikan obat penenang, biasanya fenobarbiotal 3 x 30 mg, Berikan
preparat hematinik misalnya sulfas ferosus 600 1.000 mg
5. Diet tinggi protein dan tambahan vitamin C
6. Bersihkan vulva minimal dua kali sehari dengan cairan antiseptik
untuk mencegah infeksi terutama saat masih mengeluarkan cairan
coklat.
b. Abortus Insipiens
Penatalaksanaan :
1. Bila perdarahan tidak banyak, tunggu terjadinya abortus spontan
tanpa pertolongan selama 36 jam dengan diberikan morfin
2. Pada kehamilan kurang dari 12 minggu, yang biasanya disertai
perdarahan, tangani dengan pengosongan uterus memakai kuret
vakum atau cunam abortus, disusul dengan kerokan memakai kuret
tajam. Suntikkan ergometrin 0,5 mg intramuskular.
3. Pada kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan infus oksitosin 10 IU
dalam deksrtose 5% 500 ml dimulai 8 tetes per menit dan naikkan
sesuai kontraksi uterus sampai terjadi abortus komplit.
c. Abortus Inkomplit
Penatalaksanaan :
1. Bila disertai syok karena perdarahan, berikan infus cairan NaCl
fisiologis atau ringer laktat dan selekas mungkin ditransfusi darah
2. Setelah syok diatasi, lakukan kerokan dengan kuret tajam lalu
suntikkan ergometrin 0,2 mg intramuscular
3. Bila janin sudah keluar, tetapi plasenta masih tertinggal, lakukan
pengeluaran plasenta secara manual.
4. Berikan antibiotik untuk mencegah infeks
d. Abortus Komplit
Penatalaksanaan :
1. Bila kondisi pasien baik, berikan ergometrin 3 x 1 tablet selama 3 5
hari
2. Bila pasien anemia, berikan hematinik seperti sulfas ferosus atau
transfusi darah

10

3. Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi


4. Anjurkan pasien diet tinggi protein, vitamin dan mineral.
e. AbortusAbortion
Penatalaksaan :
1. Bila kadar fibrinogen normal, segera keluarkan jaringan konsepsi
dengan cunam ovum lalu dengan kuret tajam
2. Bila kadar finrinogen rendah, berikan fibrinogen kering atau segar
sesaat sebelum atau ketika mengeluarkan konsepsi
3. Pada kehamilan kurang dari 12 minggu, lakukan pembukaan serviks
dengan gagang laminaria selama 12 jam lalu dilakukan dilatasi
serviks dengan dalatator Hegar kemudian hasil konsepsi diambil
dengan cunam ovum lalu dengan kuret tajam.
4. Pada kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan dietilstilbestrol 3 x 5
mg lalu infus oksitosin 10 IU dalam dektrose 5% sebanyak 500 ml
mulai 20 tetes per menit dan naikkan dosis sampai ada kontraksi
uterus. Oksitosin dapat diberikan sampai 100 IU dalam 8 jam. Bila
tidak berhasil, ulang infus oksitosin setelah pasien istirahat satu hari.
5. Bila fundus uteri sampai 2 jari bawah pusat, keluarkan hasil konsepsi
dengan menyuntik larutan garam 20% dalam kavum uteri melalui
dinding perut.
f. Abortus Septik
1. Penanggulangan infeksi :
a. Obat pilihn pertama : penisilin prokain 800.000 IU intramuskular
tiap 12 jam ditambah kloramfenikol 1 gr peroral selanjutnya 500
mg peroral tiap 6 jam
b. Obat pilihan kedua : ampisilin 1 g peroral selanjutnya 500 g tiap
4 jam ditambah metronidazol 5000 mg tiap 6 jam
c. Obat pilihan lainnya : ampisilin dan kloramfenikol, penisilin, dan
metronidazol,

ampisilin

dan

gentamisin,

penisilin

dan

gentamisin.
d. Tingkatkan asupan cairan
e. Bila perdarahan banyak , lakukan transfusi darah
f. Dalam 24 jam sampai 48 jam setelah perlindungan antibiotik atau
lebih cepat lagi bila terjadi perdarahan, sisa konsepsi harus
dikeluarkan dari uterus.
Pada pasien yang menolak dirujuk beri pengobatan sama dengan
yang diberikan pada pasien yang hendak dirujuk, selama 10 hari :

11

Di rumah sakit :
a. Rawat pasien di ruangan khusus untuk kasus infeksi
b. Berikan antibiotik intravena, penisilin 10-20 juta IU dan
streptomisin 2 g
c. Infus cairan NaCl fisiologis atau ringer laktat disesuaikan
kebutuhan cairan
d. Pantau ketat keadaan umum, tekanan darah , denyut nadi dan
suhu badan
e. Oksigenasi bila diperlukan, kecepatan 6 8 liter per menit
f. Pasang kateter Folley untuk memantau produksi urin
g. Pemeriksaan laboratorium : darah lengkap, hematokrit, golongan
darah serta reaksi silang, analisi gas darah, kultur darah, dan tes
resistensi.
h. Apabila kondisi pasien sudah membaik dan stabil, segera lakukan
pengangkatan sumber infeksi
i. Abortus septik dapat mengalami komplikasi menjadi syok septik
yang tanda-tandanya ialah panas tinggi atau hipotermi,
bradikardi, ikterus, kesadaran menurun, tekanan darah menurun
dan sesak nafas.
2.11 Resiko Aborsi
Faktor resiko aborsi sangat rentan terhadap infeksi akut dan
pendarahan, kerusakan organ dalam seperti rahim, saluran vagina dan
saluran kencing. Selain itu membahayakan jiwa karena proses pelaksanaan
aborsi, luka yang mengakibatkan kemandulan, penyakit radang sekitar
panggul.
Ada pula banyak risiko emosi dan akibatnya seperti, perasaan
bersalah, kesedihan, duka yang mendalam, keinginan untuk bunuh diri, hal
yang tidak biasa bagi para perempuan dewasa dan bahkan lebih tua untuk
menanggung perasaan bersalah karena menggugurkan selama sisa hidupnya
2.12 Penatalaksanaan Pasca Abortus
Pemeriksaan lanjut untuk mencari penyebab abortus. Perhatikan juga
involusi uterus dan kadar B-hCG 1-2 bulan kemudian. Pasien dianjurkan
jangan hamil dulu selama 3 bulan kemudian (jika perlu, anjurkan pemakaian
kontrasepsi kondom atau pil.

12

2.13 Diagnosa
1. Resiko kekurangan volume cairan b/d perdarahan.
2. Intoleransi aktivitas b/d respon tubuh terhadap aktivitas : peradarahan,
keletihan
3. Nyeri Akut b/d Kerusakan jaringan intrauteri
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Skenario Kasus
Ny.S berumur 30 tahun, datang ke UGD Rumah Sakit Nahdatul Ulama
Jombang dengan muka menyeringai kesakitan terlihat darah mengalir hingga
bagian kaki, pasien mengatakan, kenceng-kenceng, mulas-mulas pada perut
dan nyeri menetap.Sejak pukul 12.00WIB keluar darah cair dan mengumpal.
Nampak Konjungtiva pasien mengalami anemis, wajah pucat dan pasien
lemah. Pasien adalah pasangan yang baru saja menikah. Pasien mengatakan
tidak mendapatkan menstruasi sejak 2 bulan yang lalu, dan dinyatakan hamil
oleh bidan. Hasil USG pasien menunjukan adanya kelainan perkembangan
hasil konsepsi.
3.2 Pengkajian
a. Data Pasien
Nama

: Ny. S

Umur

: 30 tahun

Status perkawinan

: kawin

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Pendidikan

: SLTA

Nama suami

: Tn. SM

Umur

: 35 tahun

Alamat

: Kaluwungu, Jombang

Pekerjaan

: Swasta

Tanggal MRS

: 11 Oktober 20014 jam 00.15

13

b. Keluhan utama
Klien mengeluh keluar darah lewat vagina, terasa nyeri pada perut dan
pinggang, kenceng-kenceng.
c. Riwayat Penyakit
1. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengatakan sudah 2 bulan lalu tidak mengalami menstruasi dan
dinyatakan hamil, sering mual, muntah, dan penurunan nafsu makan.
Adanya nyeri di daerah abdomen bagian bawah dan juga pada dada, serta
terjadi perdarahan hebat melalui vagina sehingga klien dibawa ke RS.
2. Riwayat Penyakit dahulu
Pasien baru pertama kali mengalami keluhan tersebut.
3. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada penyakit keluarga yang diturunkan.
d. Pengkajian Nyeri
Menggunakan Tehknik PQRTS
Provokatif : Nyeri jika bergerak
Quality : Nyeri seperti ditusuk benda tajam, berulang
Region
: Nyeri berada didaerah abdomen bagian bawah dan menyebar
hingga di dada.
Skala
: Nyeri yang dirasakan pasien skala 7 dari 1- 10
Time
: Nyeri terjadi pukul 12.00 berlangsung 5 menit
e. Riwayat obstetric
1. Menarche usia : 12 tahun
2. Menstruasi
: teratur setiap bulan selama 8 hari
3. Karakteristik : nyeri pada hari pertama menstruasi
4. Banyaknya
: 2 x ganti pembalut
f. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum
: compos mentis
2. BB
: 60 kg
3. TB
: 158 cm
4. Tanda vital
: TD = 100/70 mmHg
RR
N

= 92 X/menit

= 24X/menit
= 36 C

5. Kepala

: simetris

6. Leher

: tidak ada peningkatan JVP, tidak ada pembesaran


kelenjar tiroid

7. Telinga

: simetris kiri dan kanan, tidak ada serumen, bersih


dan tidak bau

8. Hidung

: simetris, jalan nafas lancar

9. Tenggorokan

: tidak ada gangguan menelan


14

10.Dada

: payudara tidak mengeluarkan ASI

11.Abdomen

: tidak ada pembesaran vena abdomen, nyeri tekan


pada abdomen

12. Genetalia

: keluar lendir darah, warna merah, tidak ada


hemoroid.

13. Muskuloskeletal

: gerakan normal, tidak ada gangguan, tidak ada


edema, tangan kiri terpasang infus RL 20 tpm.

g. Pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia


1. Persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Bila sakit, klien selalu memeriksakan kesehatannya ke puskesmas, selama
hamil, klien pernah dirawat di RS Nahdatul Ulama Jombang .
2. Nutrisi dan metabolisme
Diet RS habis tiap porsi, pasien minum 5-6 gelas per hari
3. Eliminasi
Pasien BAB satu kali per hari, konsistensi lunak, warna kuning bau khas
feses.
4. Aktivitas dan latihan
Selama hamil pasien melakukan aktivitas mandiri, tetapi setelah
didiagnosa abortus imminent, pasien bedrest selam beberapa hari, tapi
setelah itu pasien aktivitas lagi seperti semula, akhirnya klien masuk
rumah sakit. Selama di rumah sakit pemenuhan ADL pasien dibantu oleh
keluarganya.
5. Istirahat dan tidur
Sebelum masuk rumah sakit, klien tidur 6-7 jam sehari, Setelah masuk
rumah sakit klien tidur 5-6 jam sehari.
6. Persepsi dan kognitif
Pasien pendidikannya SLTA, pertanyaan yang di ajukan oleh perawat
dijawab dengan lancer.
7. Hubungan dan peran
Hubungan klien dengan keluarga baik dan hubungan klien dengan
masyarakat juga baik.
8. Seksual dan reproduksi

15

Selama hamil melakukan hubungan seksual kadang 1-2 minggu sekali,


tetapi setelah didiagnosa abortus imminent, klien tidak melakukan
hubungan seksual lagi karena takut terjadi apa-apa dengan janinnya.
9. Stres dan koping
Jika ada masalah, klien selalu melakukan musyawarah dengan suaminya.
10. Kepercayaan dan nilai
Klien beragama islam dan rajin beribadah.
h. Profil Keluarga
Klien anak kedua dari lima bersaudara, orang tua klien sudah meninggal.
Suaminya adalah anak ketiga dari empat bersaudara, orang tuanya juga sudah
meninggal dunia.
i. Keluarga Berencana
Klien tidak mengunakan KB karena ini adalah program anak pertama.
3.3 Pemeriksaan Penunjang
Hasil pemeriksaan laboratorium
No
1.
2.
3.
4.

Uji
HB
Leukosit
MCH
MCV

Hasil Lab
10, 6gr%
11, 2 9(130/)

Nilai Normnal
11,4 gr%-15, 1 gr%
4,8(130/)-10, 8

24, 9 pg
72 ft

(130/)
26-34 pg
80-100 ft

USG : ditemukan keterlambatan perkembangan konsepsi tidak sesuai dengan


umur janin
3.4 Terapi
Hari/tangga
l
Kamis
11-10-2014
Jumat
12-10-2014

Jenis terapi

Rute

Dosis

Indikasi

Amoxicilin
Asam
mefenamat
Transfusi darah
Amoxicillin
Asam
mefenamat
Transfusi darah

Oral
Oral

3X1
3X500 mg

Antibiotik
Analgetik

3X1
3X500 mg

Penambah darah
Antibiotik
Analgetik

IV
Oral
Oral
IV

Penambah darah

16

3.5 Analisa Data


Data
DS :
Pasien mengatakan kencengkenceng, mulas-mulas dan nyeri
menetap di daerah perut. Berulang
setiap 5 menit.
DO :
Pasien menahan sakit, merintih, dan
menyeringai
DS :
Pasien mengatakan sejak pukul
12.00 WIB keluar darah cair dan
menggumpal
DO :
- konjungtiva anemis
- pasien tampak pucat
- pasien lemah
TD: 100/70 mmHg
N : 92x/menit
RR : 24x/menit
S : 36 c
HB : 10,6 %

Etiologi

Diagnosa

Kontraksi uterus

Nyeri akut

Perdarahan

Syok Hipovolemik

3.6 Diagnosa
1. Resiko kekurangan volume cairan b/d perdarahan
2. Nyeri Akut b/d Kerusakan jaringan intrauteri

3.7 Intervensi

N
o
1.

Diagnosa

Tujuan Dan Kriteria


hasil

Intervensi

Resiko
kekurangan NOC:
NIC :
volume
cairan
b/d Fluid balance
Fluid management
Hydration
perdarahan.
Timbang
Nutritional Status : Food
popok/pembalut
jika
and Fluid Intake
Definisi : Penurunan
diperlukan
Kriteria
Hasil
:
cairan
intravaskuler,
Pertahankan
catatan

17

interstisial,
dan/atau Mempertahankan urine
intrasellular.
Ini
output sesuai dengan usia
mengarah ke dehidrasi,
dan BB, BJ urine normal,
kehilangan cairan dengan
HT normal

Tekanan darah, nadi,


pengeluaran sodium
suhu tubuh dalam batas
Batasan Karakteristik :
normal
Tidak ada tanda tanda
Kelemahan
Haus
dehidrasi,
Elastisitas
Penurunan
turgor
turgor
kulit
baik,
kulit/lidah
membran
mukosa
Membran
lembab, tidak ada rasa
mukosa/kulit kering
haus yang berlebihan
Peningkatan denyut
nadi,
penurunan
tekanan
darah,
penurunan
volume/tekanan nadi
Pengisian
vena
menurun
Perubahan
status
mental
Konsentrasi
urine
meningkat
Temperatur
tubuh
meningkat
Hematokrit
meninggi
Kehilangan
berat
badan
seketika
(kecuali pada third
spacing)
Faktor-faktor yang
berhubungan:
Kehilangan volume
cairan secara aktif
Kegagalan
mekanisme
pengaturan

intake dan output yang


akurat
Monitor status hidrasi (
kelembaban membran
mukosa, nadi adekuat,
tekanan
darah
ortostatik
),
jika
diperlukan
Monitor vital sign
Monitor
masukan
makanan / cairan dan
hitung intake kalori
harian
Kolaborasikan
pemberian
cairan
intravena IV
Monitor status nutrisi
Dorong masukan oral
Berikan
penggantian
nesogatrik
sesuai
output
Dorong keluarga untuk
membantu
pasien
makan
Tawarkan snack ( jus
buah, buah segar )
Kolaborasi dokter jika
tanda cairan berlebih
muncul meburuk
Atur
kemungkinan
tranfusi
Persiapan
untuk
tranfusi

Hypovolemia
Management
Monitor status cairan
termasuk intake dan
ourput cairan
Pelihara IV line
Monitor tingkat Hb dan
hematokrit

18

2.

Monitor tanda vital


Monitor responpasien
terhadap penambahan
cairan
Monitor berat badan
Dorong pasien untuk
menambah intake oral
Pemberian cairan Iv
monitor adanya tanda
dan
gejala
kelebihanvolume cairan
Monitor adanya tanda
gagal ginjal

Resiko infeksi b/d adanya NOC:


jalan masuk organisme Status imun
Penyembuhan luka
kedalam tubuh.

NIC:
Pengendalian infeksi
Cuci tangan setiap
sebelum dan sesudah
Kriteria Evaluasi:
melakukan
tindakan
klien bebas dari tanda
keperawtan.
dan gejala infeksi
Instruksikan
pada
leukosit dalam batas
pengunjung
untuk
normal
mencuci
tangan
Memperlihatkan higene
sebelum dan sesudah
personal yang adekuat
berkunjung
pada
pasien.
Tingkatkan
intake nutirsi.
Berikan antibiotic bila
perlu.
Perlindungan terhadap
infeksi
Observasi tanda dan
gejala infeksi.
Monitor nilai leukosit.
Berikan
perawatan
pada area luka.
Ajarkan klien dan
keluarga
cara
menghindar infeksi.

3.

Kecemasan b/d masalah NOC

NIC

19

kesehatan : abortus.

Anxiety self-control
Anxiety
Reduction
Anxiety level
(penurunan kecemasan)

Coping
Definisi : Perasaan tidak
Gunakan
nyaman
atau
pendekatan
yang
Kriteria
hasil
:
kekhawatiran yang samar
menenangkan
mampu
disertai respon autonom ( Klien
Nyatakan dengan
sumber sering kali tidak
mengidentifikasi
dan
jelas
harapan
spesifik
atau
tidak
mengungkapkan gejala
terhadap perilaku
diketahui oleh individu);
cemas
pasien
perasaan takut yang Mengidentifikasi,
Jelaskan
semua
mengungkapkan
dan
disebabkan
oleh
prosedur dan apa
menunjukkan
tehnik
antisipasi
terhadap
yang
dirasakan
untuk mengontrol cemas
bahaya.
Hal
ini
selama prosedur
merupakan
isyarat Vital sign dalam batas
Pahami perspektif
normal Postur tubuh,
kewaspadaan
yang
pasien
terhadap
ekspresi wajah, bahasa
memperingati
individu
situasi stress
tubuh
dan
tingkat
akan adanya bahaya dan
Temani
pasien
aktifitas
menunjukkan
memampukan individu
untuk memberikan
berkurangnya kecemasan
untuk
bertindak
keamanan
dan
menghadapi ancaman.
mengurangi takut
Dorong
keluarga
Batasan karakteristik
untuk
menemani
Perilaku :
pasien
Penurunan
Lakukan back/neck
produktivitas
rub
Gerakan
yang
Dengarkan dengan
ireleven
penuh perhatian
Gelisah
Identifikasi tingkat
Melihat sepintas
kecemasan
Insomnia
Bantu pasien untuk
Kontak mata yang
mengenal
situasi
buruk
yang menimbulkan
Mengekspresikan
kecemasan
kekawatiran
Dorong
pasien
karena perubahan
untuk
dalam peristiwa
mengungkapkan
hidup
perasaan,
Agitasi
ketakutan, persepsi.
Mengintai
Instruksi
pasien
Tampak waspada
menggunakan
Afektif :
tehnik relaksasi
Gelisah,distress
Berikan obat untuk
Kesedihan yang
20

mendalam
Ketakutan
Perasaan
yang
tidak adekuat
Berfokus pada diri
sendiri
Peningkatan
kewaspadaan
Iritabilitas
Gugup
senang
berlebihan
Rasa nyeri yang
meningkatkan
ketidak berdayaan
Peningkatan rasa
ketidak berdayaan
yang persisten
Bingung,
menyesal
Ragu/tidak
percaya diri
Khawatir
Fisiologis :
Wajah
tegang,
tremor tangan
Peningkatan
keringat
Peningkatan
ketegangan
Gemetar, tremor
Suara bergetar
Simpatik :
Anoreksia
Eksitasi
kardiovaskuler
Diare,
mulut
kering
Wajah merah
Jantung berdebardebar
Peningkatan
tekanan darah
Peningkatan

mengurangi
kecemasan

21

denyut nadi
Peningkatan
reflek
Peningkatan
frekwensi
pernafasan, pupil
melebar
Kesulitan
bernafas
Vasokontriksi
superfisial
Lemah, kedutan
pada otot
Parasimpatik
Nyeri abdomen
Penurunan tekanan
darah
Penurunan denyut
nadi
Diare,
mual,
vertigo
Letih, Gangguan
tidur
Kesemutan pada
ekstremitas
Sering berkemih
Anyang-anyangen
Dorongan segera
berkemih
Kognitif
Menyadari gejala
fisiologis
Bloking
fikiran,
konfusi
Penurunan lapang
persepsi
Kesulitan
berkonsentrasi
Penurunan
kemampuan untuk
belajar
Penurunan
kemampuan untuk

22

memecahkan
masalah
Ketakutan
terhadap
konsekuensi yang
tidak spesifik
Lupa, gangguan
perhatian
Khawatir,
melamun
Cenderung
menyalahkan
orang lain
Faktor
Yang
Berhubungan
Stress,
ancaman
kematian
Kebutuhan
yang
tidak dipenuhi

4.

Intoleransi aktivitas b/d


respon tubuh terhadap
aktivitas : peradarahan,
keletihan

NOC
Energy conservaton
Activity tolerance
Self care: ADLs

Definisi:Ketidakcukupan Kriteria Hasil:


dalam
energi psikologis atau Berpartisipasi
aktifitas
fisik
tanpa
fisiologis
untuk
disertai
peningkatan
melanjutkan
atau
tekanan darah, nadi dan
menyelesaikan aktifitas
RR
kehidupan
sehari-hari

Mampu
melakukan
yang harus atau ingin
aktifitas
sehari-hari
dilakukan.
(ADLs) secara mandiri

Tanda tanda vital normal


Batasan karakteristik:
Energy psikomotor
Respon tekanan darah
Level kelemahan
abnormal
terhadap
Mampu
berpindah:
aktifitas
dengan
atau
tanpa
Respon
frekuensi
bantuan alat
jantung
Status kardiopulmonari

NIC
Activity therapy
Kolaborasi
dengan
tenaga
rehabilitasi
medik
dalam
merencanakan progam
terapi yang tepat
Bantu klien untuk
mengidentifikasi
aktivitas yang mampu
dilakukan
Bantu untuk memilih
aktivitas
konsisten
yang sesuai dengan
kemampuan
fisik,
psikologis dan sosial
Bantu
untuk
mengidentifikasi dan
mendapatkan sumber
yang diperlukan untuk

23

abnormalterhadap
adekuat

Sirkulasi status baik


aktifitas
Perubahan EKG yang Status respirasi: pertukaran
gas dan ventilasi adekuat
mencerminkan
aritmia
Perubahan EKG yang
mencerminkan
iskemia
Ketidaknyamanan
setelah beraktifitas
Dipsnea
setelah
beraktifitas
Menyatakan merasa
letih
Menyatakan merasa
lemah
Faktor
yang
berhubungan:
Tirah baring atau
imobilisasi
Kelemahan umum
Ketidak
seimbangan
antara suplai dan
kebutuhan
oksigen
Imobilitas
Gaya
hidup
monoton

5.

aktifitas
yang
diinginkan
Bantu
untuk
mendapatkan
alat
bantuan
aktifitas
seperti: kursi roda, krek
Bantu
untuk
mengidentifikasi
aktifitas yang disukai
Bantu klien untuk
membuat
jadwal
latihan diwaktu luang
Bantu pasien atau
keluarga
untuk
mengidentifikasi
kekurangan
dalam
beraktifitas
Sediakan
penguatan
positif bagi yang aktif
beraktifitas
Bantu pasien untuk
mengembangkan
motivasi
diri
dan
penguatan
Monitor respon fisik,
emoi,
sosial,
dan
spritual.

Nyeri
Akut
b/d NOC
NIC
Kerusakan
jaringan Pain level
Pain management
Pain control
intrauteri
Lakukan
pengkajian
Comfort level
nyeri
secara
komprehensif termasuk
Definisi : Pengalaman Kriteria Hasil:
lokasi,
karakteristik,
sensori
yang
tidak Mampu mengontrol nyeri
(tahu penyebab nyeri,
durasi,
frekuensi,
menyenangkan
yang
mampu
menggunakan
kualitas, dan faktor
muncul akibat kerusakan
tehnik nonfarmakologi
presipitasi
jaringan yang aktual atau

24

potensial
atau
digambarkan dalam hal
kerusakan
sedemikian
rupa
(international
association for the study
of pain):
Awitan yang tiba-tiba
atau
lambat
dari
intensitas ringan hingga
berat dengan akhir yang
dapat diantisipasi atau
diprediksi
dan
berlangsung <6bln.

untuk mengurangi nyeri,


mencari bantuan)
Melaporkan bahwa nyeri
berkurang
dengan
menggunakan
managemen nyeri
Mampu mengenali nyeri
(skala,
intensitas,
frekuensi, dan tanda
nyeri)
Menyatakan rasa nyaman
setelah nyeri berkurang.

Batasan Karakteristik :
Perubahan
selera
makan
Perubahan tekanan
darah
Perubahan frekuensi
jantung
Perubahan frekuensi
pernafasan
Laporan isyarat
Diaforesis
Perilaku
distraksi
(mis
:
berjalan
mondar-mandir
mencari orang lain
dan atau aktifitas
lain, aktivitas yang
berulang)
Mengekspresikan
perilaku
(mis
:
gelisah, merengek,
menangis)
Masker wajah (mis:
mata
kurang
bercahaya, tampak
kacau, gerakan mata
berpancar atau tetap
pada satu fokus

Observasi
reaksi
nonverbal
dari
ketidaknyamanan
Gunakan
tehnik
komunikasi terapeutik
untuk
mengetahui
pengalaman
nyeri
pasien.
Kaji
kultur
yang
mempengarui respon
nyeri
Evaluasi pengalaman
nyeri massa lampau
Evaluasi
bersama
pasien
dan
tim
kesehatan lain tentang
ketidakefektifan
kontrol nyeri masa
lampau
Bantu
pasien
dan
keluarga untuk mencari
dan
menemukan
dukungan
Kontrol
lingkungan
yang
dapat
mempengarui
nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan
dan
kebisingan.
Kurangi
faktor
presipitas nyeri
Pilih
dan
lakukan
penanganan
nyeri
(farmakologi,
non
farmakologi, dan inter
personal)
Kaji tipe dan sumber
nyeri
untuk
menentukan intervensi
Ajarkan tentang tehnik
non farmakologi
Berikan
analgetik

25

meringis)
Sikap
melindungi
nyeri
Fokus
menyempit
(mis:
gangguan
persepsi
nyeri
hambatan
proses
berfikir, penurunan
interaksi
dengan
orang
dan
lingkungan)
Indikasi nyeri yang
dapat diamati
Perubahan
posisi
untuk menghindari
nyeri
Sikap
tubuh
melindungi
Dilatasi pupil
Melaporkan
nyeri
secara verbal
Gangguan tidur
Faktor
yang
berhubungan:
Agen
cidera
(mis:
biologis, zat kimia, fisik,
psikologis)

untuk
mengurangi
nyeri
Evaluasi
keefektifan
kontrol nyeri
Tingkatkan istirahat
Kolaborasikan dengan
dokter jika ada keluhan
dan tindakan nyeri
tidak berhasil
Monitor
penerimaan
pasien
tentang
manajemen nyeri.
Analgesic administration
Tentukan
lokasi,
karakteristik, kualitas,
dan
derajat
nyeri
sebelum
pemberian
obat.
Cek instruksi dokter
tentang jenis obat,
dosis, dan frekuensi.
Cek riwayat alergi
Pilih analgesik yang
diperlukan
atau
kombinasi
dari
analgesik
ketika
pemberian lebih dari
satu
Tentukan
pilihan
analgesik
tergantung
tpe dan beratnya nyeri
Tentukan
analgesik
pilihan, rute pemberian
dan dosis optimal
Pilih rute pemberian
secara IV, IM, untuk
pengobatan
nyeri
secara teratur
Monitor
vital
signsebelum
dan
sesudah
pemberian
analgesik pertama kali.

26

Berikan analgesik tepat


waktu terutama saat
nyeri hebat
Evaluasi
efektivitas
analgesik, tanda dan
gejala

3.7 Implementasi Dan Evaluasi


No Diagnosa
1. Resiko kekurangan
volume cairan b/d
perdarahan

Implementasi
1. Melakukan
pemeriksaan
tekanan darah, nadi
dan juga suhu
pasien
TD=
100/70
mmHg
RR = 28X/menit
N= 92 X/menit
S= 340 C
2. Memberikan
Cairan intra vena
3. Menghitung
jumlah darah yang
keluar
lewat
pembalut yaitu 600
cc
4. Memonitoring
status hidrasi
5. Kolaborasi dengan
dokter jika tanda
cairan berlebih
muncul memburuk
6. Monitoring respon
penambahan cairan
pasien

Evaluasi
S : pasien mengatakan
perdarahan mulai
berkurang
O:
- TTV normal
TD : 110/80 mmHg
RR : 26x/menit
S : 37 0C
-Jumlah darah dalam
pembalut berkurang yaitu
300cc
-HB : 10,6 % pada
tanggal 11 oktober 2014
A: Intervensi tercapai
sebagian
P : Tindakan dilanjutkan
I : Kolaborasi kembali
dengan dokter untuk
menghentikan perdarahan
E : Perdarahan pada
pasien berkurang
27

2.

Nyeri Akut b/d 1. Memonitoring


Kerusakan jaringan
skala nyeri
2.
Memonitoring
intrauteri
lokasi nyeri
3. Membantu pasien
mengurangi rasa
nyeri dengan
mengalihkan
perhatian melalui
aktivitas
4. Mengajarkan
pasien teknik
relaksasi
5. Kolaborasi dengan
dokter tentang
pemberian obat
antibiotic
6. Menginstruksikan
pasien untuk
istirahat

S : Pasien mengatakan
nyeri berkurang
P : Tidak terlalu nyeri jika
pasien bergerak
Q : nyeri sudah tidak
terlalu terasa
R :berada di daerah
abdomen
S : skala nyeri 4
T : tidak berulang lagi
setiap 5 menit sekali
O : tekanan darah, nadi
normal.
A : intervensi tercapai
sebagian
P : kolaborasi dengan
dokter tentang pemberian
obat analgesik.

28

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berjuta-juta wanita setiap tahunnya mengalami kehamilan yang tidak
diinginkan. Beberapa kehamilan berakhir dengan kelahiran tetapi beberapa
diantaranya diakhiri dengan abortus. Dan kejadian abortus sangat banyak
ditemukan yang merupakan salah satu dari perdarahan dalam masa kehamilan.
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu)
pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan
belum mampu untuk hidup di luar kandungan.

29

Abortus ada 2 macam, baik itu spontan maupun buatan. Dan masingmasing dari abortus ini terbagi lagi. Sehingga ada banyak bentuk-bentuk
abortus yang kita temui.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi abortus dalam kehamilan baik itu
dari faktor ibu, bapak, janin dan faktor-faktor lain yang menjadi penyebab
terjadinya abortus atau kehamilan yang tidak dapat dipertahankan.
4.2 Saran
Adapun saran yang dapat penulis sampaikan adalah:
a. Kepada mahasiswa dapat lebih meningkatkan pengetahuannya mengenai
hal-hal yang patologi dalam kehamilan khususnya abortus dalam
kehamilan.
b. Kepada instansi kesehatan maupun pemerintah dapat meningkatkan
program kesehatan masyarakat, seperti penyuluhan dan upaya deteksi
dini terhadap kehamilan-kehamilan yang beresiko.
Kepada masyarakat luas dapat membantu dan mematuhi program
kesehatan yang telah dicanangkan pemerintah maupun instansi kesehatan
sehingga mau bekerjasama dalam upaya peningkatan tingakat kesehatan
masyarakat, terutama menyangkut kehamilan yang beresiko ini.

DAFTAR PUSTAKA
1. Prawirohardjo,sarwono. 2008 .ilmu kebidanan edisi keempat.jakarta:
PT.bina pustaka
2. Wiknjosastro, hanifa.2005.Ilmu kandungan edisi 2.jakarta: Yayasan bina
pustaka.
3. Mitayani.2009.Asuhan
Keperawatan
Maternitas.Jakarta:Salemba
MedikaWiknjosastro, hanifa, dkk. 2006. Pelayan kesehatan maternal dan
neonatal. Jakarta: Yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo.

30