Anda di halaman 1dari 6

EVALUASI PENDIDIKAN

(AKBC 361)

Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Evaluasi Pendidikan Kimia

Dosen Pengasuh:
Drs. Maya Istyadji, M.Pd

Oleh:
M. Wahyu Noviani (A1C309048)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
MARET 2013

Nama Ortu

: - Ayah
- Ibu

: H. Mahyuni
: Hj. Rabiatul Adawiah

Alamat Ortu : Jl. Pematang panjang km. 6 Rt.2 Kec. Sei Tabuk Kab. Banjar
Pekerjaan

: - Ayah

: PNS

- Ibu

: PNS

1. Bagaimana anda tahu bahwa anda ingin menjadi seorang guru ?


2. Selama anda menjadi siswa, tolong jelaskan kepada bapak peristiwa yang menarik
di dalam pelajaran sehingga pengalaman itu menjadikan anda tertarik menjadi
guru ?
3. Ceritakan kepada bapak peristiwa yang kurang menyenangkan dalam pengajaran
kemudian anda berkeinginan untuk memperbaikinya, bagaimana cara anda
memperbaiki itu ?
4. Selama fase persiapan anda menjadi guru/ latihan anda, bagaimana anda
menangani perasaan ketika anda mulai mengajar ?
Jawaban :
1. Sebelum masuk dalam pelatihan seorang guru pemula (perkuliahan), saya hanya
sebagai seorang siswa dan pada saat saya berada dalam proses belajar di dalam
kelas, saya banyak memahami bagaimana perasaan menjadi seorang guru, dari
ingkah laku beberapa orang pengajar yang berbeda, ada berbagai macam perilaku
seorang guru/pengajar. Walaupun berbeda-beda, saya melihat dari sudut pandang
yang sama bahwa perilaku berbeda tersebut memang dikarenakan individu
masing-masing, akan tetapi apabila seorang guru melihat dalam proses
pengajarannya terdapat banyak siswa yang dapat menyerap ilmu yang
diberikannya, maka guru terlihat merasa senang, di saat itulah saya tahu bahwa
diwaktu yang akan datang saya ingin menjadi seorang guru, hal ini karena
pekerjaan seorang guru adalah pekerjaan yang mungkin bisa di anggap sulit, akan
tetapi dalam prosesnya seorang guru menjadi senang dalam melakukan tugasnya

menjadi seorang pengajar karena ilmu/pengetahuan yang diberikan dapat diserap


dengan baik oleh siswa.
2. Waktu itu saya berada di kelas XII, satu bulan sebelum kelulusan, setelah
melakukan UAN, kami berada pada hari dimana kegiatan UAS di sekolah, pada
saat itu mata pelajaran bahasa inggris, pada pelajaran bahasa inggris guru kami
menyuruh tugas untuk kegiatan agar mengarang bebas cerita dalam bahasa inggris
di rumah, saya pun merasa sangat susah untuk mengerjakannya karena saya sangat
tidak menguasai yang namanya bahasa inggris, apalagi nantinya setelah di
kumpulkan di suruh untuk menceritakannya dalam bahasa inggris di depan kelas.
Beberapa hari sebelum tugas tersebut di kumpulkan, saya mulai membuat cerita
dalam bahasa inggris dan meminta bantuan kepada teman saya agar dapat
menyelesaikannya, akan tetapi di malam terakhir sebelum tugas di kumpulkan
saya baru bisa menyelesaikannya.
Kemudian pada hari di kumpulkannya tugas tersebut,saya tidak hafal
sedikitpun cerita yang telah saya buat, semua siswa di suruh untuk keluar kelas
dan nantinya akan dipanggil satu demi satu untuk masuk kedalam kelas dan
menceritakan ceriata yang telah dibuat kepada guru, saya pun semakin frustasi
karena saya tidak hafal sedikitpun cerita yang saya buat, guru mata pelajaran
bahasa inggris pun mulai memanggil satu demi satu teman-teman saya dengan
acak, dan di waktu itu saya baru mulai menghafal cerita yang saya buat dan
berharap giliran saya untuk di panggil masih lama, kemudian setelah saya mulai
hafal dengan cerita yang saya buat, berbarengan dengan saya di panggil untuk
menceritakan isi dari cerita yang saya buat, saya mendapatkan giliran dua dari
terakhir, saya menganggap bahwa itu sebuah keberuntungan yang saya dapatkan
karena tidak dipanggil di awal, dengan sedikit demi sedikit saya pun berhasil
menceritakan cerita tersebut kepada guru saya. Perjuangan untuk menghafal cerita
tersebut tidak akan saya lupakan karena kesalahan saya sendiri yang membuat
saya tidak hafal dengan cerita tersebut. Hal tersebut membuat saya berfikir, bahwa
ketika saya belajar dengan sungguh-sungguh nantinya saya akan dapat menjadi
siswa yang selalu di ingat oleh guru meskipun sudah lulus nantinya. Kemudian

saya mulai merasakan bahwa sangatlah nyaman jika saya belajar dengan sungguhsungguh dan kelak nantinya dapat menjadi seorang guru yang baik.
3. Ketika itu saya kelas XI SMA. Guru saya, salah satu pengasuh mata pelajaran
masuk kelas, bertanya jawab sebentar dan kemudian meminta ketua kelas kami
menulis materi pelajaran di papan tulis untuk kami. Kemudian guru tersebut
meninggalkan ruang kelas. Kami menulis materi pelajaran sebagaimana yang
ditulis oleh ketua kelas di papan tulis. Ketika waktu untuk pelajaran tersebut
tersisa 10 menit lagi, guru kembali ke kelas dan berkata , Anak-anak pelajaran
kita hari ini kita akhiri sampai di sini, pelajari baik-baik materi yang baru kalian
catat. Materi ini adalah materi penting. Kemudian beliau mengucapkan salam
dan bergegas meninggalkan ruang kelas untuk mengajar di kelas yang lain.
Selama dua semester, saya masih ingat bahwa guru mata pelajaran tersebut
hanya beberapa kali menjelaskan materi pelajaran kepada kami. Selebihnya, kami
hanya mencatat materi yang dituliskan oleh ketua kelas di papan tulis. Namun,
tidak pernah sedikit pun terlintas dalam pikiran kami untuk protes terhadap model
pembelajaran yang demikian. Pada saat itu, saya, mungkin juga teman-teman
saya, berpikir bahwa cara seperti itu adalah salah satu cara mengajar. Oh begitu
mudah menjadi guru begitu saya pernah berpikir.
Pada suatu hari, Saya menyadari bahwa adalah suatu kekeliruan jika
seorang guru hanya bisa meminta ketua kelas menulis materi pelajaran di papan
tulis atau mendiktekan materi pelajaran kepada siswa hingga jam pelajaran
berakhir. Kiranya, untuk menjadi seorang guru dibutuhkan kompetensikompetensi tertentu seperti kompetensi akademik, kompetensi pedagogik,
kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian. Saya menanamkan sebuah tekad
di dalam hati, andai nanti saya menjadi guru, saya tidak akan mengulangi
kekeliruan seperti mendiktekan materi pelajaran, menulis materi di papan tulis
tanpa penjelasan apa-apa, mengabaikan pertanyaan siswa, kurang menghargai
jawaban siswa, dan hal-hal lainnya yang merupakan kekeliruan dalam sebuah
pembelajaran. Saya akan menunjukkan bahwa menjadi guru tidaklah segampang

yang pernah dibayangkan orang. begitulah pangalaman yang pernah saya rasakan
ketika masih menjadi seorang siswa.
4. Selama fase persiapan menjadi guru, pada semester sebelumnya saya sudah
mengambil mata kuliah PPL 1 dan PPL 2, pada mata kuliah PPL 1, saya mengakui
bahwa pada saat saya dilatih menjadi seorang pengajar, potensi saya untuk
menjadi seorang pengajar sangatlah kurang. Kemudian pada saat saya melakukan
kegiatan pengalaman praktek lapangan (PPL 2), yaitu menjadi seorang guru
pemula dan menghadapi siswa-siswa tingkat menengah. Pada saat itu saya belum
pernah mengalami menjadi seorang pengajar yang berada di depan kelas, saya
merasakan bahwa terdapat beban yang begitu berat yang harus saya hadapi
sendiri. Pada suatu hari, pada saat itu saya menjadi petugas piket harian di ruang
tamu dan berbicara dengan beberapa guru mata pelajaran, guru tersebut berkata
kepada saya bahwa untuk menjadi seorang guru kamu perlu beranggapan bahwa
semua siswa di dalam kelas tidak lebih pintar dari kamu, anggap saja kamulah
orang yang paling pintar di dalam kelas. Perkataan guru tersebut sangatlah
melekat di dalam ingatan saya, saya pun beranggapan bahwa untuk menjadi orang
yang paling pintar di dalam kelas saya harus banyak belajar.
Ketika hari dimana saya pertama kali melakukan praktek mengajar di dalam
kelas, saya telah siap untuk mengatasi apapun pertanyaan yang akan di lontarkan
oleh para siswa karena telah menguasai materi yang akan disampaikan. Meskipun
begitu, hal pertama yang saya rasakan adalah gugup, bagaimana saya bisa
mengajar dengan baik dalam 2 jam pelajaran ?, bagaimana jika pelajaran yang
akan saya sampaikan telah habis sebelum berakhir jam pelajaran untuk mata
pelajaran saya, apa yang harus saya lakukan ?, untuk itu saya memulai pelajaran
dengan santai karena apabila terlalu cepat maka nanti siswa akan sulit memahami
pelajaran yang akan saya sampaikan, karena telah menguasai pelajaran yang akan
saya sampaikan hari ini, rasa gugup itu pun mulai menghilang beriringan dengan
waktu saya mengajar di dalam kelas. Kemudian setelah habis mata pelajaran dan
saya pun keluar dari ruang kelas saya kembali teringat perkataan guru
sebelumnya, yaitu saya haruslah menjadi orang yang lebih pintar di dalam kelas.

Adapun kendala lain yang saya hadapi ialah bagaimana agar siswa menjadi
termotivasi dan memperhatikan pelajaran yang saya sampaikan, setiap sub
pembahasan yang telah saya sampaikan, saya akan menyuruh siswa untuk
bertanya apakah materi itu dapat dimengerti atau ada bagian-bagian yang kurang
dipahami, selain itu saya juga memberikan beberapa selingan yang nantinya akan
membuat siswa tidak bosan pada saat di dalam kelas, dan kendala yang terakhir
berupa menangani siswa yang memang tidak memiliki niat untuk belajar, mungkin
ini merupakan kendala yang sangat besar, karena siswa yang tidak memiliki niat
untuk belajar akan mengganggu siswa di sekitar tempat duduknya untuk
bermainmain dan lepas dari pembelajaran. Hal pertama yang saya lakukan untuk
menangani siswa tersebut ialah pada saat awal masuk di dalam kelas, saya
mencoba siswa untuk mengingat pelajaran yang telah saya sampaikan di
pertemuan sebelumnya dengan beberapa pertanyaan dan saya pun menunjuk siswa
yang menurut saya niatnya untuk belajar itu kurang. Kemudian di tengah-tengah
pelajaran, saya pun juga meminta siswa tersebut untuk meenjawab pertnyaan dari
saya. Dengan begitu, siswa yang awalnya tidak memiliki niat untuk belajar dapat
di tangani.