Anda di halaman 1dari 3

(Paradoks ) Mutiara Dalam Kerang

FIKSI | 23 April 2011 | 21:07182 20


Pada suatu hari ada seorang anak yang mengeluh pada Ibunya , ia merasa
dirinya bukanlah apa-apa saat ini. Bahkan bisa jadi lebih dari itu, ia
membenci dirinya sendiri, sebagai manusia tak berguna, makhluk sia-sia.
Begitu banyak kekurangan, begitu banyak kesalahan dan keburukan. Apalagi
ketika ia melihat orang lain yang nampak begitu sempurna dan memiliki
begitu banyak kelebihan, rasanya ia makin ingin tenggelam. Mengapa orang
lain memiliki begitu banyak kelebihan sedangkan ia tak memiliki apa-apa
kecuali kekurangan-kekurangan saja yang ia miliki . Mengapa ia buruk sedang
orang lain cakep ? Mengapa orang lain berhasil dan ia selalu gagal ? Mengapa
orang lain kaya dan ia miskin ? Serta beribu mengapa lainnya yang akan
membuat dirinya kecewa dan terluka, serta terpaku pada kekurangankekurangan yang ia miliki.

Lalu dengan bijak Ibunya berucap . Anakku , harusnya kau percaya dan
yakin, bahwa Tuhan tidak mungkin menciptakan makhlukNya hanya dengan
kekurangan saja atau kelebihan saja. Hanya dengan keburukan saja tanpa
manfaat atau sebaliknya. Karena kita semua manusia, pastilah memiliki
keduanya dalam porsi yang imbang. Dia yang maha kuasa membekali kita
hambaNya dengan segala kelebihan, menjadikan setiap insan memiliki
keistimewaan. Hanya saja proses kehidupan yang Engkau alami mungkin
telah membuatmu hanya menjadi potensi terpendam, tak muncul ke
permukaan, bahkan mungkin, sekalipun pernah muncul di masa kecilmu,
kemudian terkubur oleh segala tekanan dan rintangan.

Kau lihat ini ? . kata Ibunya sambil memperlihatkan kalung mutiara


berwarna putih yang indah yang sedang di pakai olehnya . Ibarat mutiara,
kita tak dapat menjadi berharga begitu saja. Kita butuh waktu untuk
membentuknya. Kita butuh proses panjang untuk mendapatkan
keindahannya. Dan proses ini, butuh ketelatenan dan kesabaran.

Ya ,sesungguhnya setiap kita adalah mutiara yang memiliki pancaran


keindahan diri kita masing-masing, seperti apapun adanya kita pada
awalnya. Kita hanya harus menyepuhnya untuk membuatnya menjadi
berharga. Dan proses menyepuh ini, banyak cara dan jalannya. Rintangan,
hambatan, pengalaman, pembelajaran, baik oleh diri sendiri maupun oleh

orang lain, tidak akan menjadi masalah. Karena pada dasarnya kita adalah
mutiara. Kita hanya harus berusaha semaksimal kita, membuka mata, buka
telinga dan buka hati.

Dan ,tahukah Engkau bahwa mutiara yang Ibu pakai ini berasal dari seekor
anak kerang yang tabah dan kuat . Lalu Ibunya bercerita , Pada suatu hari
seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengaduh pada ibunya sebab
sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.

Anakku, kata sang ibu sambil bercucuran air mata,Tuhan tidak


memberikan pada kita bangsa kerang sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak
bisa menolongmu. Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai
takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan
semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu
dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat, kata ibunya
dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa
sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan
nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi
tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin
lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama
mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar. Akhirnya
sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap,dan berharga
mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi
mutiara, air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai
hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang
cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan


adalah lorong transendental untuk menjadikan kerang biasa menjadi
kerang luar biasa. Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan
penderitaan dapat mengubah orang biasa menjadi orang luar biasa. Kata
Ibu si anak itu sambil mengakhiri ceritanya .

Sejak saat itu si anak mulai berubah, pikirnya anak kerang yang lembek saja
mampu ngatasi penderitaan dan rasa sakitnya ,kenapa ia seorang anak

manusia yang di beri dua tangan, dua kaki,dua penglihatan yang sempurna
dan pikiran yang normal bukankah itu semua sebagai anugrah dari Tuhan
untuk bekal dia dalam menjalani hidupnya , ternyata hanya bisa mengeluh
saja tanpa mau berusaha . Dan seiring waktu yang terus berputar begitu pula
perjalanan hidup anak itu , ia mulai tumbuh dewasa menjadi anak yang
mandiri serta berbakti pada orang tua juga peduli pada sesamanya . Ia tak
lagi melihat segala kekurangan dalam dirinya ,dirinya begitu terinspirasi oleh
cerita Ibunya tentang penderitaan si anak kerang yang telah menjadi sebutir
mutiara yang indah serta berharga mahal .