Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

Lebih kurang 60% berat badan orang dewasa pada umumnya terdiri dari cairan (air danelektrolit).
Faktor yang mempengaruhi jumlah cairan tubuh adalah umur, jenis kelamin,dan kandungan lemak dalam
tubuh. Secara umum orang yang lebih muda mempunyai persentase cairan tubuh yang lebihtinggi dibanding
dengan orang yang lebih tua, dan pria secara proporsional mempunyailebih banyak cairan tubuh dibanding
dengan wanita. Orang yang lebih gemukmempunyai jumlah cairan yang lebih sedikit dibandingkan dengan
orang yang lebi kurus, karena sel lemak mengandung sedikit air . Cairan tubuh terdiri dari dua kompartemen
cairan, yaitu: ruang intra seluler (cairandalam sel) dan ruang ekstra seluler (cairan luar sel). Kurang lebih 2/3
cairan tubuh berada dalam kompartemen cairan intra sel, dan kebanyakan terdapat pada massa otot skeletal.
Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu:volume cairan
ekstrasel dan osmolaritas cairan ektrasel. Ginjal mengontrol volumecairan ekstrasel dengan mempertahankan
keseimbangan garam dan mengontrolosmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan
cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan urine
sesuaikebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam
tersebut. Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa denganmengatur
keluaran ion hidrogen dan ion karbonat dalam urine sesuai kebutuhan. Selain ginjal, yang turut berperan
dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengekskresikan ion hidrogen dan CO2, dan
sistem dapar (buffer ) kimiawi dalam cairantubuh.
Total air dalam tubuh dibagi menjadi 2 bagian : ekstraseluler danintraseluler. Cairan
ekstraseluler menyusun 1/3 dari total air dalamtubuh dan 2/3 sisanya merupakan cairan
intraseluler. Cairan ekstraselulermenyusun 20% dari berat badan total yang terdiri dari
plasma ( 5% dariberat badan ) dan cairan interstitial ( 15 % dari berat badan ). Jumlahcairan
intraseluler dihitung dengan cara mengurangi total

air dalam tubuhdengan cairan

ekstraseluler. Cairan intraseluler terdiri dari 40% beratbadan total pada masing masing
individu dengan proporsi terbesarterdapat pada otot rangka.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. ANATOMI
Manusia sebagai organisme multiseluler dikelilingi oleh lingkungan luar (milieu exterior ) dan
sel-selnya pun hidup dalam milieu interior yang berupa darah dan cairan tubuhlainnya. Cairan dalam
tubuh, termasuk darah, meliputi lebih kurang 60% dari total beratbadan laki-laki dewasa. Dalam cairan tubuh
terlarut zat-zat makanan dan ion-ion yangdiperlukan oleh sel untuk hidup, berkembang dan menjalankan
tugasnya. Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik sangat dipengaruhi oleh lingkungan
disekitarnya. Semua pengaturan fisiologis untuk mempertahankan keadaan normal disebut homeostasis.
Homeostatis ini bergantung pada kemampuan tubuh mempertahankan keseimbangan antara substansisubstansi yang ada di milieu interior.
Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu:volume cairan
ekstrasel dan osmolaritas cairan ektrasel. Ginjal mengontrol volumecairan ekstrasel dengan mempertahankan
keseimbangan garam dan mengontrolosmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan
cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan urine
sesuaikebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam
tersebut. Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa denganmengatur
keluaran ion hidrogen dan ion karbonat dalam urine sesuai kebutuhan. Selain ginjal, yang turut berperan
dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengekskresikan ion hidrogen dan CO2, dan
sistem dapar (buffer ) kimiawi dalam cairantubuh.
KOMPOSISI CAIRAN TUBUH
Cairan dalam tubuh meliputi lebihkurang 60% total berat badan laki-laki dewasa. Prosentase cairan
tubuh ini bervariasi antara individu, sesuai dengan jenis kelamin dan umur individu tersebut. Pada wanita
dewasa, cairan tubuh meliputi 50% dari total berat badan. Pada bayi dan anak-anak,prosentase ini relatif
lebih besar dibandingkan orang dewasa dan lansia. Cairan tubuh menempati kompartmen intrasel dan
ekstrasel. 2/3 bagian dari cairantubuh berada di dalam sel (cairan intrasel/CIS) dan 1/3 bagian berada di
luar sel (cairanekstrasel/CES). CES dibagi cairan intravaskuler atau plasma darah yang meliputi 20% CES
atau 15% dari total berat badan; dan cairan intersisial yang mencapai 80% CES atau 5% dari total berat

badan. Selain kedua kompatmen tersebut, ada kompartmenlain yang ditempati oleh cairan tubuh, yaitu cairan
transel. Namun volumenya diabaikankarena kecil, yaitu cairan sendi, cairan otak, cairan perikard, liur
pencernaan, dll. Ion Na+ dan Cl- terutama terdapat pada cairan ektrasel, sedangkan ion K+ di cairan
intrasel.
Anion protein tidak tampak dalam cairan intersisial karena jumlahnya paling sedikitdibandingkan
dengan intrasel dan plasma. Perbedaan komposisi cairan tubuh berbagai kompartmen terjadi karena adanya
barier yang memisahkan mereka. Membran sel memisahkan cairan intrasel dengan cairanintersisial,
sedangkan dinding kapiler memisahkan cairan intersisial dengan plasma. Dalam keadaan normal, terjadi
keseimbangan susunan dan volume cairan antar kompartmen. Bila terjadi perubahan konsentrasi atau
tekanan di salah satukompartmen, maka akan terjadi perpindahan cairan atau ion antar kompartemensehingga
terjadi keseimbangan kembali.
PERPINDAHAN SUSBTANSI ANTAR KOMPARTMEN
Setiap kompartmen dipisahkan oleh barier atau membran yang membatasi mereka. Setiap zat yang
akan pindah harus dapat menembus barier atau membran tersebut. Bila substansi zat tersebut dapat melalui
membran, maka membran tersebut permeabelterhadap zat tersebut. Jika tidak dapat menembusnya, maka
membran tersebut tidakpermeabel untuk substansi tersebut. Membran disebut semipermeable
(permeabelselektif)

bila

beberapa

partikel

dapat

melaluinya

tetapi

partikel

lain

tidak

dapatmenembusnya. Perpindahan substansi melalui membran ada yang secara aktif atau pasif.
Transportaktif membutuhkan energi, sedangkan transport pasif tidak membutuhkan energi.
1. Difusi
Partikel (ion atau molekul) suatu substansi yang terlarut selalu bergerak dan cenderung menyebar
dari daerah yang konsentrasinya tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah sehingga konsentrasi substansi
partikel tersebut merata. Perpindahan partikel sepertiini disebut difusi. Beberapa faktor yang
mempengaruhi laju difusi ditentukan sesuaidengan hukum Fick (Ficks law of diffusion). Faktor-faktor
tersebut adalah, peningkatan perbedaan konsentrasi substrat, peningkatan permeabilitas,
peningkatan luas permukaan diffusi, berat molekul substrat, jarak yang ditempuh untuk
diffuse.
2. Osmosis

Bila suatu substansi larut dalam air, konsentrasi air dalam larutan tersebut lebih rendah dibandingkan
konsentrasi air dalam larutan air murni dengan volume yang sama. Hal inikarena tempat molekul air telah
ditempati oleh molekul substansi tersebut. Jadi bilakonsentrasi zat yang terlarut meningkatkan, konsentrasi air
akan menurun. Bila suatu larutan dipisahkan oleh suatu membran yang semipermeabel dengan larutan
yang volumenya sama namun berbeda konsentrasi zat terlarut, maka terjadi perpindahan air/zat pelarut dari
larutan dengan konsentrasi zat terlarut lebih tinggi. Perpindahanseperti ini disebut dengan osmosis.
3. Filtrasi
Filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara dua ruang yang dibatasi oleh membran.
Cairan akan keluar dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Jumlah cairan yang
keluar sebanding dengan besar perbedaan tekanan, luas permukaan membran dan permeabilitas membran.
Tekanan yang mempengaruhi filtrasiini disebut tekanan hidrostatik.
4. Transpor aktif
Transport aktif diperlukan untuk mengembalikan partikel yang telah berdifusi secarapasif dari daerah
yang konsentrasinya rendah ke daerah yang konsentrasinya lebih tinggi. Perpindahan seperti ini
membutuhkan energi (ATP) untuk melawan perbedaankonsentrasi. Contoh: Pompa Na-K.
B. KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT
Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu volume cairan
ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Ginjal mengontrol volumecairan ekstrasel dengan
mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrolosmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan
keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air
dalamurine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dariair dan garam
tersebut.
1. Pengaturan volume cairan ekstrasel.
Penurunan volume cairan ekstrasel menyebabkan penurunan tekanan darah arteridengan
menurunkan volume plasma. Sebaliknya, peningkatan volume cairan ekstraseldapat menyebabkan
peningkatan tekanan darah arteri dengan memperbanyak volume plasma. Pengontrolan volume cairan
ekstrasel penting untuk pengaturan tekanan darah jangka panjang.
Mempertahankan keseimbangan asupan dan keluaran (intake dan output) air. Untuk
mempertahankan volume cairan tubuh kurang lebih tetap, maka harus adakeseimbangan antara air

yang ke luar dan yang masuk ke dalam tubuh. Hal ini terjadi karena adanya pertukaran cairan antar
kompartmen dan antara tubuh dengan lingkungan luarnya. Water turnover dibagi dalam:
eksternal fluid exchange, pertukaran antara tubuh dengan lingkungan luar; dan internal
fluid exchange, pertukaran cairan antar pelbagai kompartmen, seperti proses filtrasidan reabsorpsi
di kapiler ginjal.
Memperhatikan keseimbangan garam. Seperti halnya keseimbangan air,keseimbangan garam juga
perlu dipertahankan sehingga asupan garam sama dengan keluarannya. Permasalahannya adalah
seseorang hampir tidak pernahmemeprthatikan jumlah garam yang ia konsumsi sehingga sesuai
dengankebutuhannya. Tetapi, seseorang mengkonsumsi garam sesuai denganseleranya dan
cenderung lebih dari kebutuhan. Kelebihan garam yangdikonsumsi harus diekskresikan dalam urine
untuk mempertahankankeseimbangan garam.
Ginjal mengontrol jumlah garam yang dieksresi dengan cara : mengontrol jumlah garam (natrium)
yang difiltrasi dengan pengaturan lajuFiltrasi Glomerulus (LFG)/ Glomerulus Filtration Rate (GFR).
Mengontrol jumlah yang direabsorbsi di tubulus ginjalJumlah Na+ yang direasorbsi juga bergantung pada
sistem yang berperan mengontrol tekanan darah. Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron mengatur reabsorbsi
Na+ dan retensi Na+ di tubulus distal dan collecting. Retensi Na+ meningkatkan retensi
air sehingga meningkatkan volume plasma dan menyebabkan peningkatan tekanan daraharteri. Selain sistem
Renin-Angiotensin-Aldosteron, Atrial Natriuretic Peptide (ANP) atau hormon atriopeptin menurunkan
reabsorbsi natrium dan air . Hormon ini disekresi leh selatrium jantung jika mengalami distensi peningkatan
volume plasma. Penurunanreabsorbsi natrium dan air di tubulus ginjal meningkatkan eksresi urine
sehinggamengembalikan volume darah kembali normal.
2. Pengaturan osmolaritas cairan ekstra sel
Osmolaritas cairan adalah ukuran konsentrasi partikel solut (zat terlarut) dalam suatu larutan.
Semakin tinggi osmolaritas, semakin tinggi konsentrasi solute atau semakinrendah konsentrasi solutnya lebih
rendah (konsentrasi air lebih tinggi) ke area yangkonsentrasi solutnya lebih tinggi (konsentrasi air lebih
rendah). Osmosis hanya terjadi jika terjadi perbedaan konsentrasi solut yang tidak dapatmenmbus membran
plasma di intrasel dan ekstrasel. Ion natrium menrupakan solutyang banyak ditemukan di cairan ekstrasel,
dan ion utama yang berperan pentingdalam menentukan aktivitas osmotik cairan ekstrasel. Sedangkan di
dalam cairanintrasel, ion kalium bertanggung jawab dalam menentukan aktivitas osmotik cairanintrasel.

Distribusi yang tidak merata dari ion natrium dan kalium ini menyebabkanperubahan kadar kedua ion ini
bertanggung jawab dalam menetukan aktivitas osmotikdi kedua kompartmen ini. Pengaturan osmolaritas
cairan ekstrasel oleh tubuh dilakukan dilakukan melalui:
Perubahan osmolaritas di nefron
Di sepanjang tubulus yang membentuk nefron ginjal, terjadi perubahan osmolaritasyang pada
akhirnya akan membentuk urine yang sesuai dengan keadaan cairan tubuhsecara keseluruhan di dukstus
koligen. Glomerulus menghasilkan cairan yang isosmotikdi tubulus proksimal (300 mOsm). Dinding
tubulus ansa Henle pars decending sangatpermeable terhadap air, sehingga di bagian ini terjadi reabsorbsi
cairan ke kapiler peritubular atau vasa recta. Hal ini menyebabkan cairan di dalam lumen tubulusmenjadi
hiperosmotik. Dinding tubulus ansa henle pars acenden tidak permeable terhadap air dan secara
aktif memindahkan NaCl keluar tubulus. Hal ini menyebabkan reabsobsi garam tanpaosmosis air.
Sehingga cairan yang sampai ke tubulus distal dan duktus koligen menjadihipoosmotik. Permeabilitas
dinding tubulus distal dan duktus koligen bervariasibergantung pada ada tidaknya vasopresin (ADH).
Sehingga urine yang dibentuk diduktus koligen dan akhirnya di keluarkan ke pelvis ginjal dan ureter juga
bergantungpada ada tidaknya vasopresis (ADH).
Mekanisme haus dan peranan vasopresin (antidiuretic hormone/ADH)
Peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel (>280 mOsm) akan merangsang osmoreseptor di
hypotalamus. Rangsangan ini akan dihantarkan ke neuronhypotalamus yang mensintesis vasopresin.
Vasopresin akan dilepaskan oleh hipofisisposterior ke dalam darah dan akan berikatan dengan reseptornya di
duktus koligen. ikatan vasopresin dengan reseptornya di duktus koligen memicu terbentuknyaaquaporin,
yaitu kanal air di membrane bagian apeks duktus koligen. Pembentukkan aquaporin ini memungkinkan
terjadinya reabsorbsi cairan ke vasa recta. Hal inimenyebabkan urine yang terbentuk di duktus koligen
menjadi sedikit dan hiperosmotikatau pekat, sehingga cairan di dalam tubuh tetap dipertahankan. selain itu,
rangsangan pada osmoreseptor di hypotalamus akibat peningkatanosmolaritas cairan ekstrasel juga akan
dihantarkan ke pusat haus di hypothalamus sehingga terbentuk perilaku untuk membatasi haus, dan cairan di
dalam tubuh kembalinormal.
Sebagai kesimpulan, pengaturan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolitdiperankan oleh
system saraf dan sistem endokrin. Sistem saraf mendapat informasiadanya perubahan keseimbangan cairan

dan elektrolit melalui baroreseptor di arkusaorta dan sinus karotikus, osmoreseptor di hypotalamus, dan
volume reseptor ataureseptor regang di atrium. Sedangkan dalam sistem endokrin, hormon-hormon
yangberperan saat tubuh mengalami kekurangan cairan adalah Angiotensin II, Aldosteron,dan
Vasopresin/ADH dengan meningkatkan reabsorbsi natrium dan air . Sementara, jikaterjadi peningkatan
volume cairan tubuh, maka hormone atriopeptin (ANP) akan meningkatkan eksresi volume natrium dan air
perubahan volume dan osmolaritas cairan dapat terjadi pada beberapa keadaan. Faktor lain yang
mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit di antaranya ialah umur,suhu lingkungan, diet, stres, dan
penyakit.
C. GANGGUAN KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT
Fisiologis
Konsumsi air rata-rata pada orang normal kurang lebih 2000 ml, 75%dari
pemasukan oral dan sisanya dari ekstraksi dari makanan padat.Kehilangan air perhari terdiri
dari 1 L melalui urin, 250 ml melalui feses dan 600 ml melalui Insensible loss. Insensible
loss dapat terjadi melalui kulit 75% dan paru 25% berupa air murni. Insensible loss
dapat meningkat. pada banyak faktor seperti demam, hipermetabolisme dan hiperventilasi.
Berkeringat, pada sisi lain merupakan proses aktif dan meliputi kehilangan elektrolit
(hipotonik) dan air. Untuk membersihkan sisa produk metabolisme ginjal harus mengeksresi
minimal 500-800 ml urin perharitanpa memperhatikan jumlah masukan peroral.Individu
normal juga mengkonsumsi 3 5 gr garam perhari, dan diseimbangkan oleh ginjal pada
hiponatremia, eksresi Na dapat diturunkan sedikitnya sedikitnya 1 Meq/d atau maksimal
sampai 500 Meq/d untuk mencapai keseimbangan sebagai pengganti dari garam yang
dieksresi oleh ginjal.
Patologis
Defisit volume ekstraseluler adalah gangguan yang sering terjadi pada pasien bedah
dan dapat terjadi secara akut dan kronik. Defisit volume akut berhubungan dengan
kardiovaskuler dan tanda-tanda SSP, ketika terlihat tanda-tanda defisit kronik jaringan
seperti penurunan turgor kronik dan mata yang cekung, sebagai tanda kelainan
sistem kardiovaskuler dan SSP. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan peningkatan N urea
darah jika terjadi defisit berat sehingga menurunkan filtrasi glomerolus dan hemokonsentrasi.

Osmolaritas urin biasanya lebih tinggi dari pada osmolaritas serum, dan urin Na dapat
menjadi rendah, bisa kurang dari 20Meq/l. Konsentrasi Na tidak menunjukkan jumlah
volume, dan oleh karena itu dapat tinggi, normal atau rendah ketika terjadi defisit volume.
Etiologi yang paling sering dari defisit volume pada pasien bedah adalah kehilangan cairan
dari gastrointestinal yang berasal dari Nasogastricsuction, muntah, diare atau fistula. Sebagai
tambahan, kerusakan sukunder pada cedera jaringan lunak, luka bakar, dan proses
intraabdominal seperti peritonitis, obstruksi, tindakan pembedahan yang lama juga dapat
memicu terjadinya defisit volume. Kelebihan volume ekstraseluler dapat terjadi
secara iatrogenik atausekunder melalui disfungsi renal, congestif heart failure, atau sirosis.
Baik volume plasma dan volume interstitial meningkat. Gejalanya secara jelas terlihat pada
pulmonal dan kardiovaskuler.
Tabel 1. Tanda dan gejala dari ketidakseimbangan volume :
Sistem
Secara umum
Jantung
Ginjal
Gastrointestinal

Defisit Volume
Kehilangan berat badan
Takikardi
Penurunan turgor kulit
Ortostatis atau hipotensi

Kelebihan Volume
Kenaikan berat badan
Peningkatan cardiac output
Edema perifer
Peningkatan tekanan vena

Pulmonary

Kolaps vena leher

central
Pembengkakan vena leher

Oliguria

Murmur

Azotemia

Bowel edema

Ileus

Pulmonary edema

PENGATURAN VOLUME
Perubahan volume terjadi baik secara dengan osmoreseptor danbaroreseptor.
Osmoreseptor dalah sensor khusus yang mendeteksiperubahan kecil pada osmolalitas cairan

melalui osmoreseptor yangterlihat pada rasa haus dan diuresis melalui ginjal. Sebagai
contoh,osmolalitas plasma meningkat, rasa haus timbul dan konsumsi airmeningkat. Sebagai
tambahan, hipotalamus terstimulasi untuk mensekresi. vasopresin, yang meningkatkan
reabsorbsi air pada ginjal.
Secara bersamaan, dua mekanisme ini mengembalikan osmolalitas plasma menjadi
normal. Baroreseptor juga mengatur volume sebagai respon pada perubahan tekanan dan
sirkulasi volume melalui tekanan sensor yang khusus yang terletak pada lengkung aorta dan
sinus karotis. Respon baroreseptor baik neural, melalui simpatis dan parasimpatis, dan
hormonal

termasuk

renin-angiotensin,

aldosteron,

atrial-natriureticpeptide,dan

renal

prostaglandin. Hasil bersih dari perubahan jumlah Naginjal dan reabsorbsi air sebagai respon
untuk memperbaiki volume menjadi normal
PERUBAHAN KONSENTRASI
Hipovolemiaa.
Adalah kekurangan volume cairan yang terjadi jika air dan elektrolit hilang pada proporsiyang sama
ketika mereka berada pada cairan tubuh normal sehingga rasio elektrolit serum terhadap air tetap sama.
Hipovolemia ini terjadi dapat disebabkan karena : Penurunan masukan, Kehilangan cairan yang abnormal
melalui kulit, GIT, ginjal abnormal, Pendarahan.
Kekurangan volume cairan terjadi ketika tubuh kehilangan cairan dan elektrolit ekstraseluler dalam
jumlah yang proporsional (isotonik). Kondisi seperti ini disebut hipovolemia. Umumnya,gangguan ini
diawali dengan kehilangan cairan intravaskuler, lalu diikuti dengan perpindahan cairan interseleluler menuju
intravaskuler sehingga menyebabkan penurunan cairan ekstravaskuler. Untuk untuk mengkompensasi
kondisi ini, tubuh melakukan pemindahan cairan intraseluler.Secara umum, defisit volume cairan disebabkan
oleh beberapa hal, yaitu kehilangancairan abnormal melalui kulit, penurunan asupan cairan, perdarahan dan
pergerakancairan ke lokasi ketiga (lokasi tempat cairan berpindah dan tidak mudah untuk mengembalikanya
ke lokasi semula dalam kondisi cairan ekstraseluler istirahat).Cairan dapat berpindah dari lokasi intravaskuler
menuju lokasi potensial sepertipleura, peritonium, perikardium, atau rongga sendi. Selain itu, kondisi tertentu
seperti terperangkapnya cairan dalam saluran pencernaan, dapat terjadi akibat obstruksi saluran pencernaan.
Manifestasi Klinik yang mungkin didapatkan pada klien dengan hipovolemia antara lain : pusing,
kelemahan, keletihan, sinkope, anoreksia, mual, muntah, haus, kekacauan mental, konstipasi, oliguria.
Tergantung pada jenis kehilangan cairan hipovolemia dapat disertai dengan ketidak seimbangan asam basa,

osmolar atau elektrolit. Penipisan (CES) berat dapat menimbulkan syok hipovolemik. Mekanis
mekompensasi tubuh pada kondisi hipolemia adalah dapat berupa peningkatan rangsang sistem syaraf
simpatis (peningkatan frekwensi jantung, inotropik (kontraksi jantung) dan tahanan vaskuler), rasa haus,
pelepasan hormone antideuritik (ADH), dan pelepasan aldosteron. Kondisi hipovolemia yang lama dapat
menimbulkan gagal ginjal akut. Komplikasi Akibat lanjut dari kekurangan volume cairan dapat
mengakibatkan : dehidrasi, renjatan hipovolemik, kejang pada dehidrasi hipertonik.
1. Dehidrasi
Berdasarkan klasifikasi dehidrasi WHO, maka dehidrasi dibagi tiga menjadi dehidrasiringan, sedang,
atau berat.
a. Dehidrasi Ringan (jika penurunan cairan tubuh 5 persen dari berat badan)
Gejala :
Muka memerah
Rasa sangat haus
Kulit kering dan pecah-pecah
Volume urine berkurang dengan warna lebih gelap dari biasanya
Pusing dan lemah
Kram otot terutama pada kaki dan tangan
Kelenjar air mata berkurang kelembaban
Mulut dan lidah kering dan air liur berkurang
b. Dehidrasi Sedang (jika penurunan cairan tubuh antara 5-10 persen dari berat badan)
Gejala:
Gelisah, cengeng
Kehausan
Mata cekung
Kulit keriput, misalnya kita cubit kulit dinding perut, kulit tidak segera kembali keposisi semula.
Tekanan darah menurun
Pingsan
Kontraksi kuat pada otot lengan, kaki, perut, dan punggung
Kejang
Perut kembung
Gagal jantung
Ubun-ubun cekung
Denyut nadi cepat dan lemah
c. Dehidrasi berat (jika penurunan cairan tubuh lebih dari 10 persen dari berat badan)
Gejala:

Berak cair terus-menerus


Muntah terus-menerus

Kesadaran menurun, lemas luar biasa dan terus mengantuk


Tidak bisa minum, tidak mau makan
Mata cekung, bibir kering dan biru
Cubitan kulit baru kembali setelah lebih dari 2 detik
Kesadaran berkurang
Tidak buang air kecil
Tangan dan kaki menjadi dingin dan lembab
Denyut nadi semakin cepat dan lemah hingga tidak teraba
Tekanan darah menurun drastis hingga tidak dapat diukur
Ujung kuku, mulut, dan lidah berwarna kebiruan
Tidak kencing 6 jam atau lebih/frekuensi buang air kecil berkurang/kurang dari 6 popok/hari.
Kadang-kadang dengan kejang dan panas tinggi

2. Syok
Syok merupakan keadaan darurat yang disebabkan oleh kegagalan perfusi
darah ke jarinagn, sehingga mengakibatkan gangguan metabolisme sel. Kematian karena
syok terjadi bila keadaan ini menyebabkan gangguan nutrisi dan metabolisme sel. Terapi
syok bertujuan memperbaiki gangguan fisiologik dan menghilangkan faktor penyebab. Syok
didefinisikan juga sebagai volume darah sirkulasi tidak adekuat yang mengurangi perfusi,
pertama pada jaringannon vital (kulit, jaringan ikat, tulang, otot) dan kemudian ke organ vital
(otak, jantung, paru- paru, dan ginjal). Syok atau renjatan merupakan suatu keadaan
patofisiologis dinamik yang mengakibatkan hipoksia jaringan dan sel.
Syok secara umum dapat diklasifikasikan menjadi:
a. Syok Hipovolemik Syok yang disebabkan karena tubuh :
Kehilangan darah/syok hemoragik
o Hemoragik eksternal : trauma, perdarahan gastrointestinal
o Hemoragik internal : hematoma, hematotoraks
Kehilangan plasma : luka bakar
Kehilangan cairan dan elektrolit
o Eksternal : muntah, diare, keringat yang berlebih
o Internal : asites, obstruksi usus2.
b. Syok Kardiogenik
Kegaglan kerja jantungnya sendiri. Gangguan perfusi jaringan yang disebabkan
karena disfungsi jantung misalnya : aritmia, AMI (Infark Miokard Akut).
c. Syok Distributif (berkurangnya tahanan pembuluh darah perifer)

Syok Septik , Syok yang terjadi karena penyebaran atau invasi kuman dan toksinnya

didalam tubuhyang berakibat vasodilatasi


Syok Anafilaktif, Gangguan perfusi jaringan akibat adanya reaksi antigen antibodi
yang

mengeluarkan

histamine dengan akibat

peningkatan permeabilitas

membran kapiler dan terjadi dilatasiarteriola sehingga venous return menurun.

Misalnya : reaksi tranfusi, sengatan serangga, gigitan ular berbisa


Syok Neurogenik, pada syok neurogenik terjadi gangguan perfusi jaringa yang
disebabkan karena disfungsi saraf simpatis sehingga terjadi vasodilatasi. Misalnya :

trauma pada tulang belakang, spinal syok.


d. Syok Obtruktif (gangguan kontraksi jantung akibat di luar jantung
Ketidakmampuan ventrikel untuk mengisi diastole sehingga secara nyatamenurunkan
volume sekuncup dan rendahnya curah jantung. Misalnya : tamponade kordis, koarktasio
aorta, emboli paru, hipertensi pulmoner primer.
Tabel 2. Klasifikasi syok
Tipe syok
Tekanan darah
Tekanan nadi
Denyut nadi
Isi nadi
Vasokonstiksi perifer
Suhu kulit
Warna
Tekanan vena sentral
Diuersis
EKG
Foto paru

Septik
N/-/-N/+/++
+/++
Besar
Hangat
Merah
N/rendah
-/-N
Udem infiltrat

Hipovolemik
-/--/-+/++
Kecil
+
Dingin
Pucat
N/rendah
N
N

Anafilaksis
-/--/-+/++
N/kecil
+
Dingin
N/pucat
N/rendah
N
N

Kardiogenik
-/--/-+
N/kecil
+(-)
Dingin
N/pucat
tinggi
-/-Abnormal
Udem

Derajat syok :
a. Syok ringan, kehilangan volume darah dibwah 20 % dari volume total. Hipoperfusi hanya
terjadipada organnonvital seperti kulit, jaringan lemak, otot rangka dan tulang. Gambaran
klinik perasaan dingin, hipotensi postural, takikardi, pucat, kulit lembab, kolaps venavena leher, dan urin yang pekat. Kesadaran masih normal, diuersis mungkin berkurang
sedikit dan belum terjadi asidosis metabolic.
b. Syok sedang, kehilangan 20% sampai 40% dari volume darah total. Hipoperfusi
merambat ke organ non vital seperti hati, usus, ginjal, kecuali otak dan jantung.

Gambaran klinik haus, hipotensi telentang, takikardi, Liguria atau anuria, dan asidosis
metabolic. Kesadaran relative normal.
c. Syok berat, kehilangan lebih dari 40% dari volume darah total. Hipoperfusi terjasi juga
pada jantung atau otak. Gambaran klinik penurunan kesadaran (agitasi atau delirium),
hipotensi, takikardi, nafas cepat dan dalam, oligutia, asidosis metabolic.

Hipervolemiaa.
Keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami kelebihancairan intraseluler
atau interstisial. Kelebihan volume cairan mengacu pada perluasan isotonok dari CES yang disebabkan oleh
retensi air dannatrium yang abnormal dalam proporsi yang kurang lebih sama dimana merekasecara normal
berada dalam CES. Hal ini selalu terjadi sesudah ada peningkatankandungan natrium tubuh total, yang pada
akhirnya menyebabkan peningkatan airtubuh total. Hipervolemiaa ini dapat terjadi jika terdapat : Stimulus
kronis pada ginjal untuk menahan natrium dan air, Fungsi ginjal abnormal, dengan penurunan ekskresi
natrium dan air, Kelebihan pemberian cairan intravena, Perpindahan cairan interstitial ke plasma.
Kelebihan volume cairan terjadi apabila tubuh menyimpan cairan dan elektrolit dalamkompartemen
ekstraseluler dalam proporsi yang seimbang. Karena adanya retensicairan isotonik, konsentrasi natrium dalam
serum masih normal. Kelebihan cairantubuh hampir selalu disebabkan oleh peningkatan jumlah natrium
dalam serum.Kelebihan cairan terjadi akibat overload cairan / adanya gangguan mekanismehomeostatis
pada proses regulasi keseimbangan cairan. Manifestasi Klinik yang mungkin didapatkan pada klien dengan
hipervolemiaantara lain : sesak nafas, ortopnea. Mekanisme kompensasi tubuh pada kondisihiperlemia adalah
berupa pelepasan Peptida Natriuretik Atrium (PNA), menimbulkanpeningkatan filtrasi dan ekskresi natrium
dan air oleh ginjal dan penurunan pelepasan aldosteron dan ADH. Abnormalitas pada homeostatisis elektrolit,
keseimbanganasam-basa dan osmolalitas sering menyertai hipervolemia. Hipervolemia dapatmenimbulkan
gagal jantung dan edema pulmuner, khususnya pada pasien dengan disfungsi kardiovaskuler.
KomplikasiAkibat lanjut dari kelebihan volume cairan adalah :

Gagal ginjal akut atau kronik


Infark miokard
Gagal jantung kongestif
Penyakit katup
Takikardi atau aritmia
Penyakit hepar
Penyakit vaskuler perifer

Hiponatremia
Yang disebut salin adalah air beserta natrium dalam proposal normal atau isotonic (145-150
mEq/liter). Cairan ini berada di IVF dan ISF. Pada kekurangan salindisebut juga ECF deficit. Jika kadar
natrium < 120 mg/L maka akan timbul gejala disorientasi, gangguan mental,letargi, iritabilitas, lemah dan
henti pernafasan, sedangkan jika kadar < 110 mg/L makaakan timbul gejala kejang, koma. Hiponatremia ini
dapat disebabkan oleh euvolemia (SIADH, polidipsi psikogenik), hipovolemia (disfungsi tubuli ginjal, diare,
muntah, third space losses, diuretika), hipervolemia (sirosis, nefrosis).
Hipovolemia intravascular dapat segera diatasi sampai kondisi perfusi perifer, nadi, tekanan darah,
mendekati nilai normal. Dengan demikian diharapkan perfusi organ vital seperti otak dan jantung dapat
dipertahankan. Selain itu, perfusi organ sekunder terutama organ diperut dapat kembali mendekati normal.
Hipovolemia intersisial lebih perlahan teratasinya karena harus menunggu cairan intervena (IVF) merembes
ke intersisial. Kembalinya turgor kulit, tegangan fontanel, basahnya mukosa lidah, dan berkurangnya haus
pulih seiring dengan meningkatnya produksi urin.
Keadaan ini dapat diterapi dengan restriksi cairan (Na+ 125 mg/L) atau NaCl 3%
sebanyak (140-X) x BB x 0,6 mg dan untuk pediatrik 1,5-2,5 mg/kg. cairan pengganti yang sesuai dan mirip
IVF adalah ringer laktat, ringer asetat, Nacl 0,9%. Oleh karena ISF dan IVF tergabung dalam ECF maka
cairan replacement untuk ISF adalah ringer laktat, ringer asetat dan Nacl 0,9%. Koreksi hiponatremia yang
sudah berlangsung lama dilakukan secara perlahan lahan sedangkan untuk hiponatremia akut lebih agresif.
Hipernatremia
Dapat terjadi baik dari kehilangan air bebas atau kelebihan Na. Seperti hiponatermia,
hipernatremia dapat berhubungan dengan peningkatan, normal, atau penurunan volume
ekstraseluler. Hipernatremia hipervolemi biasanya disebabkan oleh masuknya iatrogenic
dari cairanyang mengandung Na (termasuk Na bikarbonat) atau mineralokortikoid atau
kelebihan mineralokortikoid yang dapat terlihat pada hiperaldosteronism, cushing sindrom,
dan hyperplasia adrenal congenital.Na urin biasanya lebih dari 20 mEq/L dan osmolalitas
urin biasanya lebih dari 300 mOsm/L. Hipernatremia normovolemik dapat berhubungan
dengan ginjal (diabetes insipidus, diuretic, penyakit ginjal) atau bukan ginjal (gastrointestinal
atau kulit) yang dapat menyebabkan kehilangan air.
Hipernatremia hipovolemik dapat terjadi baik karena kehilangan air baik renal
maupun non renal. Yang disebabkan oleh ginjal termasukdiabetes insipidus, diuretic osmotic,

gagal ginjal, dan penyakit tubulusginjal. Konsentrasi Na urin kurang dari 20 mEq/L dan
osmolalitas urinkurang dari 300-400 mOsm/L. Kehilangan air non renal dapat terjadisecara
sekunder karena kehilangan cairan gastrointestinal seperti diare,atau kehilangan cairan dari
kulit seperti demam atau trakeostomi. Sebagaitambahan tirotoksikosis dapat menyebabkan
kehilangan air seperti padapenggunaan cairan glukosa hipertonik untuk dialysis peritoneal.
Padakehilangan air non renal Konsentrasi Na urin kurang dari 15 mEq/L dan osmolalitas urin
lebih dari 300-400 mOsm/L.Hipernatremia simptomatik biasanya hanya terjadi pada pasien
dengangangguan rasa haus atau masukan cairan yang terbatas, rasa haus dapatterlihat pada
intake air.
Gejala-gejala jarang terlihat sampai konsntrasi Na serum melebihi 160 mEq/L tetapi,
sekali terjadi, berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Gejala-gejala
yangberhubungan dengan hiperosmolaritas, efek terhadap system saraf pusatmenonjol. Air
berpindah dari ruang intraseluler ke ruang ekstraselulersebagai respon terhadap hiperosmolar
ruang ekstraseluler, yang dapatterlihat pada dehidrasi seluler. Hal ini dapat menyebabkan
pembuluhdarah serebral tertarik dan menyebabkan perdarahan subarakhnoid.Gejala-gejala
pada Sistem saraf pusat dapat terlihat gelisah dan kejang,koma dan kematian. Gejala klasik
pada hipernatremia hipovolemik(takikardi, ortostatik, dan hipotensi) dapat terjadi.
Tabel 3. Perbandingan hiponatremia dan hipernatremia
Sistem Tubuh
Sistem saraf pusat

Hiponatremia
Confusion, hipoaktif refleks tendon

Hipernatremia
Letargi, ataksia, spasme

Muskuloskeletal

dalam, kejang, koma


Weakness, fatique, muscle

tonik, kejang, koma


Weakness

Gastrointestinal
Cardiovascular
Ginjal

cramps/twitching
Anoreksia, nausea, vomiting
Hipertensi dan bradikardi
oliguria

Anoreksia, nausea, vomiting


Takikardi, hipotensi, sinkop
oliguria

Hipokalemia
Jika kadar kalium < 3 mEq/L. Dapat terjadi akibat dari redistribusi akut kalium daricairan
ekstraselular ke intraselular atau dari pengurangan kronis kadar total kalium tubuh.Tanda dan gejala
hipokalemia dapat berupa disritmik jantung, perubahan EKG (QRSsegmen melebar, ST segmen depresi,
hipotensi postural, kelemahan otot skeletal,poliuria, intoleransi glukosa. Terapi hipokalemia dapat berupa

koreksi faktor presipitasi (alkalosis, hipomagnesemia, obat-obatan), infus potasium klorida sampai 10
mEq/jam(untuk mild hipokalemia ;>2 mEq/L) atau infus potasium klorida sampai 40 mEq/jam dengan
monitoring oleh EKG (untuk hipokalemia berat; <2mEq/L disertai perubahan EKG, kelemahan otot yang
hebat). KCl tidak boleh disuntikkan intravena langsung., tetapi harus diberikan lewat infuse intravena
perlahan. Satu ml larutan KCl 7,5 % berisi 1 mEq/ml. Dosis maksimumnya adalah 20 mEq per jam atau 100
mEq/hari. Larutan dengan kadar KCl >40 mEq/L sering menyebabkan flebitis vena. Jika diberikan per oral,
KCl sangat mengiritasi lambung sehingga harus dipilih sediaan tablet salut lepas lambat.
Hiperkalemia
Kalium yang tinggi di intravascular ini sangat berbahaya bagi jantung dan jiwa
pasien. Hiperkalemia dapat disebabkan oleh ekskresi yang terhambat pada gagal ginjal atau
destruksi sel berlebihan. Kadar kalium > 5,0 mEq/L harus segera diturunkan karena pada
kadar kalium 6 mEq/L mudah terjadi fibrilasi ventrikel yang dapat menyebabkan henti
jantung. Terapi yang dapat diberikan kalsium glukonas intravena. Obat ini bekerja sangat
cepat, tetapi juga berlangsung pendek (10-15 menit saja). Natrium bikarbonat untuk
mengurangi keasaman plasma. Onsetnya agak lambat, tetapi masa kerjanya lebih panjang (12 jam). Hemodialisa atau peritoneal dialysis jika kalium persisten >6,0 mEq/L.
Tabel 4. Perbandingan hiperkalemia dan hipokalemia
Bahaya
Hiperkalemia (K>4,5)

Hipokalemia( K<3,0)

Aritmia ventrikuler

Aritmia supraventrikular

PVC

VT/VF bila K<2,5

VT/VF bila K>6

Kelemahan otot

Diperburuk asidosis

ileus paralitik
Diperburuk alkalosis
Intoksikasi digitalis

Faktor yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit


Usia, Variasi usia berkaitan dengan luas perkembangan tubuh, metabolism yang
diperlukan dan berat badan.
Temperature lingkungan, Panas yang berlebihan menyebabkan berkeringat. Seseorang
dapat kehilangan NaCl melalui keringat sebanyak 15-30 g/hari.
Diet, Pada saat tubuh kekurangan niutrisi, tubuh akan memecah cadangan energi,
proses ini menimblkan pergerakan carian dari interstitial ke intraseluler.
Stres, Stres dapat menimbulkan paningkatan metabolism sel, konsentrasi darah dan
glikolisis otot, mekanisme ini dapat menimbulkan retensi sodium dan air. Proses ini
dapat meningkatkan produksi ADH dan menurunkan produksi urine.
Sakit, Keadaan pembedahan, trauma jaringan, kelainan ginjaldan jantung, gangguan
hormone akan mengganggu keseimbangan cairan
D. KOREKSI CAIRAN
1. Jenis cairan
Terdapat 3 jenis cairan intravena yang dapat digunakan untuk resusitasi cairan, yaitu :
Cairan koloid
Cairan yang mengandung zat dengan berat molekul tinggi (> 8000 Dalton),
misalnya protein. Cairan ini mengandung molekul-molekul besar berfungsi seperti
albumin dalam plasma yang akan tinggal dalam intravaskuler cukup lama. Waktu
paruh koloid intravascular adalah 3-6 jam, sehingga volume yang diberikan adalah
sama dengan volume darah yang hilang. Contoh cairan koloid antara lain, albumin,
blood product (RBC), plasma protein fraction (palsmanat) dan koloid sintetik
(dextran, hetastarch).
Cairan kristaloid
Merupakan cairan yang mengandung zat dengan berat molekul yang rendah
(<8000 Dalton) denga atau tanpa glukosa. Tekanan onkotik yang rendah
menyebabkan ia mudah dan cepat terdistribusi ke seluruh ruang ekstraseluler,
sehingga volume yang diberikan harus lebih banyak (2,5-4 kali) dari volume darah
yang hilang. Cairan ini mempunyai mas aparuh intravaskuler 20-30 menit. Ekspansi
cairan dari ruangan intravascular ke intersisial berlangsung selama 30-60 menit
sesudah infuse dan akan keluar dalam 24-48 jam sebagai urine. Secara umum

kristaloid diunakan untuk meningkatkan volume ekstrasel dengan atau tanpa


peningkatan volume intrasel. Contoh cairan yang tergolong cairan kristaloid adalah
ringer laktat, NaCl 0,9%, dextrose 5% dan 10%.
Cairan khusus
Dipergunakan untuk koreksi atau indikasi khusus. Contohnya Nacl 3%, bicnat, manitol.
Tabel 5. Perbandingan cairan resusitasi
Efek volume intravaskuler

Kristaloid
-

Koloid
Lebih baik (efisien, volume
lebih kecil, menetap lebih

Efek volume intersisial


DO2 sistemik
Sembab paru
Sembab perifer
Aliran urine
Reaksi
Harga

Lebih baik
Potensial
Sering
Lebih besar
Tidak ada
Murah

lama)
Lebih tinggi
Potensial
Jarang
GFR menurun
Jarang
Mahal

2. Perhitungan kebutuhan cairan


Kebutuhan cairan dewasa 40 cc/kgBB/24 jam. Kebutuhan cairan pada anak
berdasarkan berat badan anak. 10 kg pertama x 100 cc/24 jam, 10 kg kedua x 50 cc/24 jam
dan sisa (kg) x 20cc/24 jam.
Dehidrasi
Berdasarkan derajatnya terbagi atas;
Dehidrasi
Anak
Dewasa
Ringan
4-5% (5%)
4%
Sedang
5-10% (8%)
6%
Berat
10-15% (12%)
8%
Pemberian cairan dalam 2 tahap : dalam 6 jam pertama diberikan cairan kebutuhan
dehidrasi + cairan kebutuhan maintenance. Selanjutnya diberikan dalam 18 jam
pertama diberikan cairan kebutuhan dehidrasi + kebutuhan cairan maintenance.
Cara perhitungan :

Cairan Dehidrasi : Persentase dehidrasi x Berat badan x 1000 (konstanta)

Cairan Maintance : kebutuhan cairan/24 jam x Berat badan

Syok
Kelas I

Kelas II

Kelas III

Kelas IV

s/d 15 %

15 - 30

30 40

> 40 %

s/d 750

750 1500 1500 2000

> 2000

Nadi

< 100

> 100

> 120

> 140

Tekanan darah

Turun

Turun

Tek nadi (S D)

N atau naik turun

Turun

Turun

Produksi

> 30

20 30

5 15

Tak berarti

RR

14 20

20 30

30 40

> 35

Status mental

Sdkit cemas Agak cemas Cemas.bingung

Kehilangan darah
(% Volume darah)
Kehilantan
darah(ml)

urin(ml/jam)

Bingung,
lethargy

Penggantian cairan Kristaloid

Kristaloid

Kristaloid + darah Kristaloid +


darah

(hukum 3:1)
Darah hilang
30%=Hb m3

Kebutuhan cairan :

Dewasa : 2000 cc

Anak : 20 cc/kgBB/24 jam

Estimated blood volume :

Neonatus : 85 cc/kgBB

Bayi

: 80 cc/kgBB

Dewasa

: 75 cc/kgBB (pria), 65 cc/kgBB (wanita)

E. KESEIMBANGAN ASAM BASA

Keseimbangan asam-basa terkait dengan pengaturan konsentrasi ion H bebas dalam cairan tubuh.
pH rata-rata darah adalah 7,4 ; pH darah arteri 7,45 dan darah vena 7,35. Jika pH < 7,35 dikatakan
asidosi, dan jika pH darah >7,45 dikatakan alkalosis. Ion Hterutama diperoleh dari aktivitas metabolik
dalam tubuh. Ion H secara normal dankontinyu akan ditambahkan ke cairan tubuh dari 3 sumber, yaitu:
1. Pembentukkan asam karbonat dan sebagian akan berdisosiasi menjadi ion Hdan bikarbonat
2. Katabolisme zat organic
3. Disosiasi asam organik pada metabolisme intermedia, misalnya padametabolisme lemak terbentuk asam
lemak dan asam laktat, sebagian asam iniakan berdisosiasi melepaskan ion H
Fluktuasi konsentrasi ion H dalam tubuh akan mempengaruhi fungsi normal sel, antara lain:
1. Perubahan eksitabilitas saraf dan otot; pada asidosis terjadi depresi susunan saraf pusat, sebaliknya pada
alkalosis terjadi hipereksitabilitas
2. Mempengaruhi enzim-enzim dalam tubuh
3. Mempengaruhi konsentrasi ion K
Bila terjadi perubahan konsentrasi ion H maka tubuh berusaha mempertahankan ion Hseperti nilai semula
dengan cara:
1. Mengaktifkan sistem dapar kimia
2. Mekanisme pengontrolan pH oleh sistem pernafasan
3. Mekasnisme pengontrolan pH oleh sistem perkemihan
Ada 4 sistem dapar :
1. Dapar bikarbonat; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel terutama untukperubahan yang disebabkan
oleh non-bikarbonat
2. Dapar protein; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel dan intrasel
3. Dapar hemoglobin; merupakan sistem dapar di dalam eritrosit untuk perubahanasam karbonat
4. Dapar fosfat; merupakan sistem dapar di sistem perkemihan dan cairan intrasel
Sistem dapat kimia hanya mengatasi ketidakseimbangan asam-basa sementara. Jikadengan dapar
kimia tidak cukup memperbaiki ketidakseimbangan, maka pengontrolanpH akan dilanjutkan oleh paru-paru
yang berespon secara cepat terhadap perubahankadar ion H dalam darah akinat rangsangan pada
kemoreseptor dan pusat pernafasan, kemudian mempertahankan kadarnya sampai ginjal menghilangkan
ketidakseimbangan tersebut. Ginjal mampu meregulasi ketidakseimbangan ion H secara lambat dengan
menskresikan ion H dan menambahkan bikarbonat baru ke dalam darah karena memiliki dapar fosfat dan
amonia.
F. GANGGUAN KESEIMBANGAN ASAM BASA
Ada 4 kategori ketidakseimbangan asam-basa, yaitu:

1. Asidosis respiratori, disebabkan oleh retensi CO2 akibat hipoventilasi. Pembentukkan H2CO3
meningkat, dan disosiasi asam ini akan meningkatkankonsentrasi ion H.
2. Alkalosis metabolik, disebabkan oleh kehilangan CO2 yang berlebihan akibathiperventilasi.
Pembentukan H2CO3 menurun sehingga pembentukkan ion H menurun.
3. Asidosis metabolik, asidosis yang bukan disebabkan oleh gangguan ventilasiparu, diare akut, diabetes
melitus, olahraga yang terlalu berat dan asidosisuremia akibat gagal ginjal akan menyebabkan penurunan
kadar bikarbonatsehingga kadar ion H bebas meningkat
4. Alkalosis metabolik, terjadi penurunan kadar ion H dalam plasma karenadefiensi asam non-karbonat.
Akibatnya konsentrasi bikarbonat meningkat. Hal initerjadi karena kehilangan ion H karena muntahmuntah dan minum obat-obatalkalis. Hilangnya ion H akan menyebabkan berkurangnya kemampuan
untukmenetralisir bikarbonat, sehingga kadar bikarbonat plasma meningkat. untuk mengkompensasi
gangguan keseimbangan asam-basa tersebut, fungsipernapasan dan ginjal sangat penting
.

BAB III
PENUTUP
Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan 2 parameter penting, yaitu:volume cairan
ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Ginjal mengontrol volumecairan ekstrasel dengan
mempertahankan keseimbangan garan dan mengontrolosmolaritas ekstrasel dengan mempertahankan
keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air
dalamurine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dariair dan garam
tersebut. Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankankeseimbangan asam-basa dengan mengatur
keluaran ion hidrogen dan ion bikarbonat dalam urine sesuai kebutuhan. Selain ginjal, yang turut berperan
dalam keseimbanganasam-basa adalah paru-paru dengan mengeksresikan ion hidrogen dan CO2 dan sistem
dapar (buffer) kimia dalam cairan tubuh.

Sistem dapat kimia hanya mengatasi ketidakseimbangan asam-basa sementara. Jikadengan dapar
kimia tidak cukup memperbaiki ketidakseimbangan, maka pengontrolanpH akan dilanjutkan oleh paru-paru
yang berespon secara cepat terhadap perubahankadar ion H dalam darah akinat rangsangan pada
kemoreseptor dan pusat pernafasan, kemudian mempertahankan kadarnya sampai ginjal menghilangkan
ketidakseimbangan tersebut. Ginjal mampu meregulasi ketidakseimbangan ion H secara lambat dengan
menskresikan ion H dan menambahkan bikarbonat baru ke dalam darah karena memiliki dapar fosfat dan
amonia.

DAFTAR PUSTAKA

1. Wim de jong., Sjamsuhidajat.R., (2005). Keseimbangan cairan dan elektrolit. 2th ed.
Jakarta : EGC.
2. Sherwood, Lauralee. (2004). Human Physiology: From cells to system. 5th ed. California:
Brooks/Cole-Thomson Learning, Inc.
3. Silverthorn, D.U. (2004). Human Physiology: An Integrated approach. 3th ed. SanFransisco:
Pearson Education.

4. Yang,

Sutrisno.

(2011).

Cairan

tubuh

dan

elektrolit.

Diunduh

http://www.slideshare.net/Nexazen/cairan-tubuh-elektrolit-dan-mineral

dari

pada tanggal

5Maret 2013.
5. Bedah

Undayana.

(2012).

Terapi

cairan.

Diunduh

dari

http://bedahudayana.wordpress.com/2012/02/23/terpi-cairan/ pada tanggal 6 maret 2013


6. Cheng,

YL.

(2011).

Cairan

tubuh,

elektrolit

dan

mineral.

http://www.pssplab.com/journal/01.pdf pada tanggal 6 maret 2013.

Diunduh

dari