Anda di halaman 1dari 23

ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN

MAKALAH STUDI KELAYAKAN BISNIS

Disusun oleh:
Desiana simbolon

(201212328)

Kumsianah

(201212334)

Selfi

(201212343)

Welly Hanin Hardiyanto

(201212335)

Fakultas Ekonomi
Universitas Esa Unggul
2015

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena atas berkat, rahmat dan ridhonya serta didorong oleh kewajiban dan rasa
tanggung jawab diri yang besar sebagai mahasiswa fakultas ekonomi, sehingga
makalah Studi Kelayakan Bisnis ini dapat diselesaikan. Makalah ini merupakan
salah satu tugas mata kuliah Studi Kelayakan Bisnis di program studi Akuntansi
pada Universitas Esa Unggul, Makalah ini dapat dijadikan pembelajaran dan teks
referensi. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pengajar mata
kuliah Studi Kelayakan Bisnis, Bapak Sapto Jumono yang telah memberikan
tanggung jawab serta kontribusinya dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat.

Jakarta, April 2015

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar...................................................................................................

ii

Daftar Isi..............................................................................................................

iii

Bab 1 Pendahuluan............................................................................................

A. Latar Belakang Masalah.....................................................................

B. Identifikasi Masalah.............................................................................

C. Maksud dan Tujuan.............................................................................

Bab 2 Pembahasan..............................................................................................

A. Pengertian Analisis Dampak Lingkungan..............................................

B. Peranan Analisis Dampak Lingkungan..................................................

C. Hubungan Studi Kelayakan Bisnis dan Lingkungan Hidup.................... 6


D. Manfaat AMDAL.................................................................................... 10
E. Prosedur AMDAL................................................................................... 12
Bab 3 Kesimpulan.................................................................................................. 16
Daftar Pustaka

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Studi kelayakan adalah suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam
tentang suatu usaha yang akan dijalankan dalam rangka menentukan layak atau
tidaknya usaha tersebut dijalankan. Untuk menentukan layak atau tidaknya suatu
usaha dapat dilihat dari berbagai aspek. Aspek-aspek yang dinilai dalam studi
kelayakan bisnis meliputi aspek hukum, aspek pasar dan pemasaran, aspek
teknis atau oprasional, aspek manajemen dan organisasi, aspek ekonomi, aspek
sosial dan tidak kalah penting yaitu aspek dampak lingkungan. Aspek dampak
lingkunan untuk menilai dampak lingkungan yang ditimbulkan nantinya apabila
usaha tersebut dijalankan serta cara penanggulangannya.
AMDAL merupakan salah satu aspek yang sangat penting ditelaah sebelum suatu
investasi atau usaha dijalankan. Sudah tentu telaah yang dilakukan untuk
mengetahui dampak yang di timbulkan jika suatu investasi jadi dilakukan, baik
dampak negatif maupun yang berdampak positif.
Pengutamaan telaah AMDAL secara khusus adalah meliputi dampak lingkungan
disekitarnya, baik di dalam usaha atau proyek maupun diluar suatu proyek yang
dijalankan.

B. Identifikasi Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan analisis dampak lingkungan dalam studi
kelayakan?
2. Bagaimana peranan analisis dampak lingkungan dalam studi kelayakan bisnis?
3. Apakah hubungan studi kelayakan bisnis dengan lingkungan hidup?
4. Apakah Manfaat AMDAL bagi masing-masing pemangku kepentingan?
5. Bagaimana prosedur AMDAL?

C. Maksud dan Tujuan


1. Mengetahui pengertian dari analisis dampak lingkungan pada studi kelayakan
bisnis.
2. Mengetahui peranan analisis dampak lingkungan dalam studi kelayakan
bisnis.
3. Mengetahui hubungan studi kelayakan bisnis dengan lingkungan hidup.
4. Mengetahui manfaat AMDAL bagi masing-masing pemangku kepentingan.
5. Mengetahui Prosedur AMDAL.

BAB 2
PEMBAHASAN

A. Pengertian Analisis Dampak Lingkungan


Lingkungan hidup merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk
ditelaah sebelum suatu investasi suatu usaha dijalankan. Dampak yang timbul
ada yang langsung mempengaruhi pada saat kegiatan usaha atau proyek
dilakukan sekarang atau baru terlihat beberapa waktu kemudian di masa yang
akan datang.
Dampak lingkungan hidup yang terjadi adalah berubahnya suatu lingkungan dari
bentuk aslinya seperti perubahan fisik kimia, biologi, atau sosial. Perubahan
lingkungan ini jika tidak diantisipasi dari awal akan merusak tatanan yang sudah
ada, baik terhadap fauna, flora, maupun manusia sendiri. Oleh karena itu,
sebelum suatu usaha atau proyek dijalankan maka sebaiknya dilakukan terlebih
dahulu studi tentang dampak lingkungan yang bakal timbul, baik dampak
sekarang maupun yang akan datang. Masyarakat semakin sadar akan pentingnya
lingkungan yang sehat, baik terhadap manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan.
Jika aspek lingkungan dinyatakan tidak layak untuk dijalankan, maka sebaiknya
dibatalkan karena akan memperoleh kerugian lebih besar dari manfaatnya.
Pengertian Analisis Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) menurut PP No. 27
Tahun 1999 Pasal 1 adalah telaah secara cermat dan mendalam tentang dampak
besar dan penting suatu rencana usaha dan kegiatan. Arti lain analisis dampak
lingkungan adalah teknik untuk menganalisis apakah proyek yang akan dijalankan
akan mencemarkan lingkungan atau tidak dan jika ya, maka akan diberikan jalan
alternatif pencegahannya.
Analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) adalah suatu analisis mengenai
dampak lingkungan dari suatu proyek yang meliputi pekerjaan evaluasi dan
pendugaan dampak proyek dari bangunannya, proses maupun sistem dari proyek
terhadap lingkungan yang berlanjut ke lingkungan hidup manusia yang meliputi
penyusunan Penyajian Informasi Lingkungan (PIL), Term of Refference Andal,

Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL), dan Rencana Pemantauan Lingkungan


(RPL). (Buku Ajar Studi Kelayakan Bisnis Peternakan, 2010)

B. Peranan Analisis Dampak Lingkungan


Peranan Analisis Dampak Lingkungan diantaranya yaitu :
1. Peran AMDAL dalam pengelolaan lingkungan. Aktivitas pengelola lingkungan
baru dapat dilakukan apabila rencana pengelolaan lingkungan telah disusun
berdasarkan perkiraan dampak lingkungan yang akan timbul akibat dari proyek
yang akan dibangun. Dalam kenyataan nanti, apabila dampak lingkungan yang
telah diperkirakan jauh berbeda dengan kenyataan, ini dapat saja terjadi karena
kesalahan-kesalahan dalam menyusun AMDAL atau pemilik proyek tidak
menjalankan proyeknya sesuai AMDAL. Agar dapat dihindari kegagalan ini maka
pemantauan

haruslah

dilakukan

sedini

mungkin,sejak

awal

pembangunan,secara terus menerus dan teratur.


2. Peran AMDAL dalam pengelolaan proyek. AMDAL merupakan salah satu studi
kelayakan lingkungan yang diisyaratkan untuk mendapatkan perizinan selain
aspek-aspek studi kelayakan yang lain seperti aspek teknis dan ekonomis.
Seharusnya AMDAL dilakukan bersama-sama, di mana masing-masing aspek
dapat memberikan masukan

untuk aspek-aspek lainnya sehingga penilaian

yang optimal terhadap proyek dapat diperoleh. Kenyataan yang biasa terjadi
adalah bahwa hasil studi kelayakan untuk aspek lingkungan tidak dapat
menghasilkan kesesuaian di dalam studi kelayakan untuk aspek lainnya. Bagian
dari Amdal yang dapat diharapkan oleh aspek teknis dan ekonomis biasanya
adalah sejauh mana keadaan lingkungan dapat menunjang perwujudan proyek,
terutama

sumber

daya

yang

diperlukan

proyek

tersebut

seperti

air,energi,manusia,dan ancaman alam sekitar.


3. AMDAL sebagai dokumen penting. Laporan AMDAL merupakan dokumen
penting sumber informasi yang detail mengenai keadaan lingkungan pada waktu
penelitian proyek dan gambaran keadaan lingkungan di masa setelah proyek
dibangun. Dokumen ini juga penting untuk evaluasi,untuk membangun proyek
yang lokasinya berdekatan dan dapat digunakan sebagai alat legalitas
AMDAL bukan suatu proses yang berdiri sendiri melainkan bagian dari proses
AMDAL yang lebih besar dan penting,menyeluruh dan utuh dari perusahaan dan
lingkungannya,sehingga AMDAL dapat dipakai untuk mengelola dan memantau
proyek dan lingkungannya dengan menggunakan dokumen yang benar.

Sebagaimana telah dievaluasi oleh banyak pihak, proses AMDAL di Indonesia


memiliki banyak kelemahan, yaitu :
1. AMDAL belum sepenuhnya terintegrasi dalam proses perijinan satu rencana
kegiatan pembangunan, sehingga tidak terdapat kejelasan apakah AMDAL
dapat dipakai untuk menolak atau menyetujui satu rencana kegiatan
pembangunan.
2. Proses partisipasi masyarakat belum sepenuhnya optimal. Selama ini LSM telah
dilibatkan dalam sidang-sidang komisi AMDAL, akan tetapi suaranya belum
sepenuhnya diterima di dalam proses pengambilan keputusan.
3. Terdapatnya berbagai kelemahan di dalam penerapan studi -studi AMDAL.
Dengan kata lain, tidak ada jaminan bahwa berbagai rekomendasi yang muncul
dalam studi AMDAL serta UKL dan UPL akan dilaksanakan oleh pihak
pemrakarsa. Masih lemahnya metode-metode penyusunan AMDAL, khususnya
aspek sosial - budaya, sehingga kegiatan-kegiatan pembangunan yang
implikasi sosialbudayanya penting, kurang mendapat kajian yang seksama.
Hal-hal yang harus dilakukan dalam rangka mencapai tujuan studi AMDAL adalah
sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi

semua

rencana

usaha

dan/atau

kegiatan

yang

akan

dilaksanakan terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap


lingkungan hidup.
2. Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan hidup yang akan terkena
dampak besar dan penting.
3. Memprakirakan dan mengevaluasi rencana usaha dan/atau kegiatan usaha
yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.
4. Merumuskan RKL dan RPL
Sedangkan kegunaan dilaksanakannya studi AMDAL adalah:
1. Sebagai bahan bagi perencana dan pengelola usaha dan pembangunan
wilayah.

2. Membantu proses pengembalian keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup


dari rencana usaha dan/atau kegiatan.
3. Memberi masukan untuk penyusunan desain rinci teknis dari rencana usaha
dan/atau kegiatan.
4. Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan.
5. Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu
rencana usaha dan/atau kegiatan.

C. Hubungan Studi Kelayakan Bisnis dengan Lingkungan Hidup


Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan
dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya, yang
mempengaruhi kelangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manusia serta
makhluk hidup lainnya (UU. No. 23/1997). Lingkungan hidup dalam pengertian
ekologi tidaklah mengenal batas wilayah baik wilayah negara maupun wilayah
administratif, akan tetapi jika lingkungan hidup dikaitkan dengan pengelolaannya
maka harus jelas batas wilayah wewenang pengelolaan tersebut. Lingkungan
hidup Indonesia sebagai suatu sistem yang terdiri dari lingkungan sosial
(sociosystem),

lingkungan

buatan

(technosystem)

dan

lingkungan

alam

(ecosystem) dimana ke tiga sub sistem ini saling berinteraksi (saling


mempengaruhi). Ketahanan masing-masing subsistem ini akan meningkatkan
kondisi seimbang dan ketahanan lingkungan hidup, dimana kondisi ini akan
memberikan jaminan suatu yang berkelanjutan yang tentunya akan memberikan
peningkatan kualitas hidup setiap makhluk hidup di dalamnya. Masalah
lingkungan hidup pada dasarnya timbul karena:
1. Dinamika penduduk
2. Pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya yang kurang bijaksana.
3. Kurang terkendalinya pemanfaatan akan ilmu pengetahuan dan teknologi maju
4. Dampak negatif yang sering timbul dan kemajuan ekonomi yang seharusnya
positif
7

5. Benturan tata ruang. Kebijakan pemerintah dalam pengelolaan lingkungan hidup


didasarkan atas Atur dan Awasi (ADA) atau Command-and-Control (CAC).
Pemerintah bersama DPR/DPRD membuat undang-undang (UU) yang diikuti
oleh peraturan pemerintah (PP), keputusan presiden (keppres), dan keputusan
menteri (kepmen), serta di daerah oleh peraturan daerah (perda). Dalam
pendekatan ADA.
Penyusunan peraturan perundang-undangan masih didominasi pemerintah,
sementara peran DPR masih sekunder. Memang pemerintah dan DPR melakukan
dengar pendapat dan seminar dengan pihak berkepentingan dari masyarakat
umum, kaum akademik, dan profesional serta dunia usaha. Namun, yang sering
terjadi ialah masukan dari pihak berkepentingan tidak banyak pengaruhnya pada
konsep yang telah disusun pemerintah. Sebuah contoh ialah larangan
pembuangan limbah padat ke sungai (UU Nomor 82 Tahun 2001). Meski ada
masukan dari pihak berkepentingan, larangan itu terkandung juga dalam undang
-undang. Contoh lain ialah pembubaran Bapedal dan peleburan ke Lingkungan
Hidup (Keppres Nomor 2 dan Nomor 4 Tahun 2002) yang mengejutkan (surprise)
banyak pihak. Akibatnya, terjadi banyak protes dan kehebohan. Tampaklah
penyusunan peraturan perundang-undangan masih belum bersifat demokratis.
Peraturan perundang-undangan bersifat terinci. Misalnya, limbah tidak saja
ditentukan baku mutunya, tetapi juga bagaimana mengelola limbah itu.
Contohnya, limbah cair. Misalnya, baku mutu untuk BOD ditentukan 50 ppm. Lalu
ada peraturan, untuk memenuhi syarat baku mutu itu, pabrik harus membuat
instalasi pengelolaan air limbah (IPAL). Jadi, yang ditentukan tidak hanya baku
mutu, tetapi teknologi untuk memenuhi baku mutu itu. Pada limbah gas pun
dilakukan hal serupa. Dalam praktik, para petugas pertama-tama memeriksa
apakah pada pabrik dibangun IPAL, sementara limbahnya sendiri sering tidak
diperiksa. Jika ada IPAL -nya, pabrik dinyatakan oke. Apakah limbahnya
memenuhi baku mutu, petugas percaya saja pada laporan pabrik. Tetapi jika
pabrik tak mempunyai IPAL, pabrik itu ditegur, meski limbahnya memenuhi baku
mutu.
AMDAL merupakan kajian dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup,
dibuat pada tahap perencanaan, dan digunakan untuk pengambilan keputusan.
Hal hal yang dikaji dalam proses AMDAL: aspek fisik-kimia, ekologi, sosial8

ekonomi, sosial budaya, dan kesehatan masyarakat sebagai pelengkap studi


kelayakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Analisis mengenai dampak
lingkungan hidup di satu sisi merupakan bagian studi kelayakan untuk
melaksanakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan, di sisi lain merupakan
syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau
kegiatan. Berdasarkan analisis ini dapat diketahui secara lebih jelas dampak
besar dan penting terhadap lingkungan hidup, baik dampak negatif maupun
dampak positif yang akan timbul dari usaha dan/atau kegiatan sehingga dapat
dipersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan
dampak positif.
Untuk mengukur atau menentukan dampak besar dan penting tersebut di
antaranya digunakan kriteria mengenai:
1. besarnya jumlah manusia yang akan terkena dampak rencana usaha dan/atau
kegiatan;
2. luas wilayah penyebaran dampak;
3. intensitas dan lamanya dampak berlangsung;
4. banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena dampak;
5. sifat kumulatif dampak;
6. berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak.
Tujuan secara umum AMDAL adalah menjaga dan meningkatkan kualitas
lingkungan serta menekan pencemaran sehingga dampak negatifnya menjadi
serendah

mungkin.

Dengan

demikian

AMDAL

diperlukan

bagi

proses

pengambilan keputusan tentang pelaksanaan rencana kegiatan yang mempunyai


dampak terhadap lingkungan .hidup
Analisis Dampak Lingkungan sudah dikembangkan oleh beberapa negara maju
sejak

tahun

1970

dengan

nama

Environmental

impact

analysis

atau

environmental impact Assesment yang keduanya disingkat EIA. AMDAL


diperlukan untuk melakukan suatu studi kelayakan dengan dua alasan pokok,
yaitu:

1. Karena undang-undang dan peraturan pemerintah menghendaki demikian.


Jawaban ini cukup efektif untuk memaksa para pemilik proyek yang kurang
memperhatikan kualitas lingkungan dan

hanya

memikirkan keuntungan

proyeknya sebesar mungkin tanpa menghilangkan dampak samping yang


timbul.
2. AMDAL harus dilakukan agar kualitas lingkungan tidak rusak dengan
beroperasinya proyek-proyek produksi. Manusia dalam usahanya untuk
memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan melakukan aktivitas
yang makin lama makin mengubah lingkungannya. Pada awalnya perubahan
lingkungan itu belum menjadi masalah, tapi setelah perubahan itu menjadi di
luar ambang batas,maka manusia tidak dapat mentolerir lagi perubahan yang
merugikan itu.
Pemrakarsa proyek harus membuat AMDAL dengan konsekuensi ia harus
mengeluarkan biaya. Tanggung jawab penyelenggara Amdal ini bukan berarti
harus

diemban

pemrakarsa

proyek

itu

sendiri.

Ia

dapat

menyerahkan

penyelenggaraan ini kepada konsultan swasta atau pihak lain atas dasar saran
dari

pemerintah.

Namun,pemrakarsa

proyek

tetap

sebagai

pihak

yang

bertanggung jawab,bukan pihak konsultan swasta pembuat AMDAL tersebut.


Agar pelaksanaan AMDAL berjalan efektif dan dapat mencapai sasaran yang
diharapkan, pengawasannya dikaitkan dengan mekanisme perijinan. Peraturan
pemerintah tentang AMDAL secara jelas menegaskan bahwa AMDAL adalah
salah

satu

syarat

perijinan,

dimana

para

pengambil

keputusan

wajib

mempertimbangkan hasil studi AMDAL sebelum memberikan ijin usaha/kegiatan.


AMDAL

digunakan

untuk

mengambil

keputusan

tentang

penyelenggaraan/pemberian ijin usaha dan/atau kegiatan.


Dalam PP 51 Tahun 1993 ditetapkan 4 jenis studi AMDAL, yaitu :
1. AMDAL Proyek, yaitu AMDAL yang berlaku bagi satu kegiatan yang berada
dalam kewenangan satu instansi sektoral. Misalnya rencana kegiatan pabrik
tekstil yang mempunyai kewenangan memberikan ijin dan mengevaluasi studi
AMDAL nya ada pada Departemen Perindustrian.

10

2. AMDAL Terpadu / Multisektoral, adalah AMDAL yang berlaku bagi suatu rencana
kegiatan pembangunan yang bersifat terpadu, yaitu adanya keterkaitan dalam
hal perencanaan, pengelolaan dan proses produksi, serta berada dalam satu
kesatuan ekosistem dan melibatkan kewenangan lebih dari satu instansi.
Sebagai contoh adalah satu kesatuan kegiatan pabrik pulp dan kertas yang
kegiatannya terkait dengan proyek hutan tanaman industri (HTI) untuk
penyediaan bahan bakunya, pembangkit tenaga listrik uap (PLTU) untuk
menyediakan energi, dan pelabuhan untuk distribusi produksinya. Di sini terlihat
adanya keterlibatan lebih dari satu instansi, yaitu Departemen Perindustrian,
Departemen

kehutanan,

Departemen

Pertambangan

dan

Departemen

Perhubungan.
3. AMDAL Kawasan, yaitu AMDAL yang ditujukan pada satu rencana kegiatan
pembangunan yang berlokasi dalam satu kesatuan hamparan ekosistem dan
menyangkut kewenangan satu instansi. Contohnya adalah rencana kegiatan
pembangunan kawasan industri. Dalam kasus ini masing-masing kegiatan di
dalam kawasan tidak perlu lagi membuat AMDAL nya, karena sudah tercakup
dalam AMDAL seluruh kawasan.
4. AMDAL Regional, adalah AMDAL yang diperuntukkan bagi rencana kegiatan
pembangunan yang sifat kegiatannya saling terkait dalam hal perencanaan dan
waktu pelaksanaan kegiatannya. AMDAL ini melibatkan kewenangan lebih dari
satu

instansi,

berada

dalam

satu

kesatuan

ekosistem,

satu

rencana

pengembangan wilayah sesuai Rencana Umum Tata Ruang Daerah. Contoh


AMDAL Regional adalah pembangunan kota-kota baru.

D. Manfaat AMDAL
AMDAL bermanfaat untuk menjamin suatu usaha atau kegiatan pembangunan
agar layak secara lingkungan. Dengan AMDAL, suatu rencana usaha dan/atau
kegiatan pembangunan diharapkan dapat meminimalkan kemungkinan dampak
negatif terhadap lingkungan hidup, dan mengembangkan dampak positif,
sehingga

sumber

daya

alam

dapat

(sustainable).

11

dimanfaatkan

secara

berkelanjutan

1. Pemangku Kepentingan AMDAL


Pihak-pihak yang berkepentingan dalam proses AMDAL adalah Pemerintah,
pemrakarsa dan masyarakat yang berkepentingan.
2. Manfaat AMDAL bagi masing-masing pemangku kepentingan
a. Bagi pemerintah, AMDAL bermanfaat untuk:

Mencegah

terjadinya

pencemaran

dan

kerusakan

lingkungan

serta

pemborosan sumber daya alam secara lebih luas.

Menghindari timbulnya konflik dengan masyarakat dan kegiatan lain di


sekitarnya.

Menjaga agar pelaksanaan pembangunan tetap sesuai dengan prinsip-prinsip


pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Perwujudan tanggung jawab pemerintah dalam pengelolaan lingkungan


hidup.

Bahan bagi rencana pengembangan wilayah dan tata ruang.

b. Bagi pemrakarsa, AMDAL bermanfaat untuk:

Menjamin keberlangsungan usaha dan/atau kegiatan karena adanya proporsi


aspek ekonomis, teknis dan lingkungan.

Menghemat dalam pemanfaatan sumber daya (modal, bahan baku, energi).

Dapat menjadi referensi dalam proses kredit perbankan.

Memberikan panduan untuk menjalin interaksi saling menguntungkan dengan


masyarakat sekitar sehingga terhindar dari konflik sosial yang saling
merugikan.

Sebagai bukti ketaatan hukum, seperti perijinan.

c. Bagi masyarakat, AMDAL bermanfaat untuk:

12

Mengetahui sejak dini dampak positif dan negatif akibat adanya suatu
kegiatan sehingga dapat menghindari terjadinya dampak negatif dan dapat
memperoleh dampak positif dari kegiatan tersebut.

Melaksanakan kontrol terhadap pemanfaatan sumber daya alam dan upaya


pengelolaan lingkungan

yang dilakukan pemrakarsa kegiatan, sehingga

kepentingan kedua belah pihak saling

Masyarakat dihormati dan dilindungi.

Terlibat

dalam

proses

pengambilan

pembangunan yang mempunyai

keputusan

terhadap

rencana

pengaruh terhadap nasib dan kepentingan

mereka.

E. Prosedur AMDAL
Terdapat proses dalam prosedur AMDAL sebagai berikut:
1. Proses penapisan (screening) wajib AMDAL
2. Proses pengumuman
3. Proses pelingkupan (scoping)
4. Penyusunan dan penilaian KA-ANDAL
5. Penyusunan dan penilaian ANDAL, RKL, dan RPL
6. Persetujuan Kelayakan Lingkungan

1. Proses penapisan (screening) wajib AMDAL


Proses penapisan atau kerap juga disebut proses seleksi wajib AMDAL adalah
proses untuk menentukan apakah suatu rencana kegiatan wajib menyusun AMDAL
atau tidak. Di Indonesia, proses penapisan dilakukan dengan sistem penapisan
satu langkah. Ketentuan apakah suatu rencana kegiatan perlu menyusun dokumen
AMDAL atau tidak dapat dilihat pada Keputusan Menteri Negara LH Nomor 17
Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib
13

dilengkapi dengan AMDAL. Yang menjadi pertimbangan dalam penapisan adalah


mengacu pada dasar pertimbangan suatu kegiatan menjadi wajib amdal dalam
kep-menlh no. 17 tahun 2001 yaitu:
a. Kep-BAPEDAL Nomor 056/1994 tentang Pedoman Dampak penting yang
mengulas mengenai ukuran dampak penting suatu kegiatan
b. Referensi internasional mengenai kegiatan wajib AMDAL yang diterapkan oleh
beberapa Negara
c. Ketidakpastian kemampuan teknologi yang tersedia untuk menanggulangi
dampak negatif penting
d. Beberapa studi yang dilakukan oleh perguruan tinggi dalam kaitannya dengan
kegiatan wajib AMDAL
e. Masukan dan usulan dari berbagai sektor teknis terkait
2. Proses pengumuman Setiap rencana kegiatan yang diwajibkan untuk membuat
AMDAL wajib mengumumkan rencana kegiatannya kepada masyarakat sebelum
pemrakarsa melakukan penyusunan AMDAL. Pengumuman dilakukan oleh instansi
yang bertanggung jawab dan pemrakarsa kegiatan. Tata cara dan bentuk
pengumuman serta tata cara penyampaian saran, pendapat dan tanggapan diatur
dalam Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 08/2000 tentang Keterlibatan
Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL.
3. Proses pelingkupan (scoping) Pelingkupan merupakan suatu proses awal (dini)
untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasi dampak penting
(hipotetis) yang terkait dengan rencana kegiatan. Tujuan pelingkupan adalah untuk
menetapkan batas wilayah studi, mengidentifikasi dampak penting terhadap
lingkungan, menetapkan tingkat kedalaman studi, menetapkan lingkup studi,
menelaah kegiatan lain yang terkait dengan rencana kegiatan yang dikaji. Hasil
akhir dari proses pelingkupan adalah dokumen KA-ANDAL. Saran dan masukan
masyarakat harus menjadi bahan pertimbangan dalam proses pelingkupan.
4. Penyusunan dan penilaian KA-ANDAL Setelah KA-ANDAL selesai disusun,
pemrakarsa dapat mengajukan dokumen kepada Komisi Penilai AMDAL untuk
dinilai. Berdasarkan peraturan, lama waktu maksimal penilaian KA-ANDAL adalah

14

75

hari

di

luar

waktu

yang

dibutuhkan

penyusun

untuk

memperbaiki/menyempurnakan kembali dokumennya.


5. Penyusunan dan penilaian ANDAL, RKL, dan RPL Penyusunan ANDAL, RKL,
dan RPL dilakukan dengan mengacu pada KA-ANDAL yang telah disepakati (hasil
penilaian Komisi AMDAL). Setelah selesai disusun, pemrakarsa dapat mengajukan
dokumen kepada Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama
waktu maksimal penilaian ANDAL, RKL dan RPL adalah 75 hari di luar waktu yang
dibutuhkan penyusun untuk memperbaiki/menyempurnakan kembali dokumennya.
6. Persetujuan Kelayakan Lingkungan

1. Penyusunan AMDAL
Dokumen AMDAL harus disusun oleh pemrakarsa suatu rencana usaha
dan/atau kegiatan. Dalam penyusunan studi AMDAL, pemrakarsa dapat
meminta jasa konsultan untuk menyusunkan dokumen AMDAL. Penyusun
dokumen AMDAL harus telah memiliki sertifikat Penyusun AMDAL dan ahli di
bidangnya. Ketentuan standar minimal cakupan materi penyusunan AMDAL
diatur dalam Keputusan Kepala Bapedal Nomor 09/2000 tentang Pedoman
Penyusunan AMDAL.
Waktu yang diperlukan untuk proses AMDAL hingga dikeluarkannya Surat
Keputusan Kelayakan Lingkungan pada umumnya berkisar antara 6 18 bulan.
Tidak ada besaran biaya standar yang diperlukan untuk menyusun suatu
dokumen AMDAL. Biaya tersebut umumnya ditentukan oleh konsultan AMDAL
dan tergantung dari beberapa faktor seperti lingkup studi, kedalaman studi, lama
studi, para ahli pelaksana studi, dsb.

2. Keputusan AMDAL
Pada dasarnya dokumen AMDAL berlaku sepanjang umur usaha atau kegiatan.
Namun demikian, dokumen AMDAL dinyatakan kadaluarsa apabila kegiatan fisik
utama suatu rencana usaha atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka
waktu 3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya keputusan kelayakan lingkungannya.
15

Dalam hal dokumen AMDAL dinyatakan kadaluarsa, maka pemrakarsa dapat


mengajukan dokumen AMDALnya kepada instansi yang bertanggung jawab
(KLH/Bapedalda/Bagian Lingkungan Hidup daerah) untuk dikaji kembali apakah
harus menyusun AMDAL baru atau dipergunakan kembali untuk dipergunakan
dalam rencana kegiatannya.
Keputusan kelayakan lingkungan dinyatakan batal apabila terjadi pemindahan
lokasi atau perubahan desain, proses, kapasitas, bahan baku dan bahan
penolong atau terjadi perubahan lingkungan yang sangat mendasar akibat
peristiwa alam atau sebab lain sebelum usaha atau kegiatan yang bersangkutan
dilaksanakan. Apabila pemrakarsa kegiatan hendak melaksanakan kegiatannya
maka pemrakarsa diwajibkan untuk membuat AMDAL baru.

3. AMDAL dan Perijinan


AMDAL bukan merupakan ijin, tetapi merupakan persyaratan yang harus
dipenuhi untuk mendapatkan ijin dalam melakukan usaha atau kegiatan yang
diterbitkan oleh pejabat yang berwenang. Keputusan kelayakan lingkungan
hidup (AMDAL) wajib dilampirkan pada saat permohonan ijin melakukan usaha
atau kegiatan.
Ijin lokasi bukan merupakan persyaratan untuk proses penyusunan AMDAL,
tetapi dalam mengeluarkan ijin lokasi, Bupati/Walikota harus menjadikan hasil
studi AMDAL sebagai persyaratan dalam menerbitkan ijin lokasi. Hal ini penting
untuk menghindari terjadinya pembenturan kepentingan antara keputusan
Kelayakan Lingkungan dengan penerbitan ijin lokasi.
AMDAL tidak dapat menghilangkan ijin HO, karena AMDAL merupakan bagian
dari suatu perijinan. Kedudukan HO adalah didasarkan pada undang-undang
yang kedudukannya lebih tinggi dari PP 27/1999. Artinya, AMDAL seharusnya
digunakan sebagai dasar untuk dikeluarkannya ijin HO. Secara ilmiah
sebenarnya bahwa dalam AMDAL telah dikaji semua hal-hal yang berkaitan
dengan dampak termasuk gangguan yang mungkin terjadi, namun secara
hukum hal ini tidak secara otomatis menghilangkan ijin HO.

16

SPPL (Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan) yang dikembangkan oleh


Departemen Perindustrian dan Perdagangan merupakan salah satu penjabaran
dari pelaksanaan UKL-UPL. SPPL dikenakan pada industri yang berdampak
kecil dan tidak diwajibkan membuat UKL-UPL yang dilakukan oleh pengusaha
golongan ekonomi lemah. Hal yang terpenting dari pengelolaan lingkungan
hidup adalah pelaksanaan dan pemenuhan standar-standar pengelolaan
lingkungan hidup itu sendiri, bukan pada dokumen-dokumen yang harus
disusun.
Ketentuan yang ada mewajibkan setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang
tidak wajib AMDAL harus melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup dan
upaya pemantauan lingkungan hidup (UKL-UPL), sehingga ijin HO saja tidak
cukup.

4. Tindak lanjut pasca AMDAL


RKL-RPL secara berkala disampaikan kepada instansi yang melakukan
pemantauan lingkungan sesuai dengan tugas pokoknya dan instansi yang
menangani lingkungan hidup di Propinsi dan Kabupaten/Kota.
Pembinaan pelaksanaan AMDAL yang sudah berjalan dilakukan oleh instansi
sektoral dan instansi pengendali dampak lingkungan di pusat dan daerah
(Propinsi, Kabupaten/Kota) melalui pengawasan atas hasil pelaksanaan RKLRPL yang telah dilakukan oleh pemrakarsa kegiatan (laporan pelaksanaan RKLRPL triwulan atau semesteran).

5. Kasus AMDAL
Penanganan untuk kegiatan yang sudah berjalan dan belum memiliki AMDAL,
dikenakan mekanisme pelanggaran hukum dan tidak bisa diputihkan dengan
membuat AMDAL dan UKL-UPL. Sanksi yang diberikan untuk kegiatan yang
belum memiliki AMDAL tetapi sudah berjalan adalah diantaranya Audit
Lingkungan Hidup wajib.

17

Ketentuan peraturan di bidang AMDAL berlaku untuk semua pihak termasuk


pemerintah. Oleh sebab itu proyek-proyek pemerintah yang termasuk kegiatan
wajib AMDAL harus dilengkapi dengan dokumen AMDAL. Dalam perencanaan
pembangunan setiap instansi pemerintah wajib mengalokasikan dana untuk
menyusun dokumen AMDAL. Bagi proyek yang tidak dilengkapi dengan
dokumen AMDAL dapat dikenakan tindakan hukum sesuai peraturan yang
berlaku, termasuk peradilan tata usaha negara terhadap pejabat yang
melakukan pelanggaran tersebut.

18

BAB 3
KESIMPULAN

Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan
dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya, yang
mempengaruhi kelangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manusia serta
makhluk hidup lainnya (UU. No. 23/1997).
Analisis Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) menurut PP No. 27 Tahun 1999
Pasal 1 adalah telaah secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan
penting suatu rencana usaha dan kegiatan.
Analisis Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) berperan untuk menganalisis
apakah proyek yang akan dijalankan akan mencemarkan lingkungan atau tidak
serta

memberikan

alternatif

pencegahannya.

AMDAL

berperan

dalam

pengelolaan lingkungan dan pengelolaan proyek.


Laporan AMDAL merupakan dokumen penting sumber informasi yang detail
mengenai keadaan lingkungan pada waktu penelitian proyek dan gambaran
keadaan lingkungan di masa setelah proyek dibangun. Dokumen ini juga penting
untuk evaluasi,untuk membangun proyek yang lokasinya berdekatan dan dapat
digunakan sebagai alat legalitas.
AMDAL merupakan salah satu studi kelayakan lingkungan yang diisyaratkan
untuk mendapatkan perizinan selain aspek-aspek studi kelayakan yang lain
seperti aspek teknis dan ekonom.
Upaya pengelolaan lingkungan yang di utarakan juga mencakup upaya
pengoperasian unit atau sarana pengendalian dampak (misal unit pengelolaan
limbah),bila unit atau sarana yang dimaksud dinyatakan sebagai aktivitas dari
rencana usaha atau kegiatan.
Dokumen lingkungan yang bersifat sukarela ini sangat bermacam-macam dan
sangat berguna bagi pemrakarsa, termasuk dalam melancarkan hubungan
perdagangan dengan luar negeri.

19

DAFTAR PUSTAKA

miftahuljuaharifahmi.blogspot.com/2012/05/makalah-aspek-ekonomi-dan-sosialdan.html
markdebie.blogspot.com/2011/11/studi-kelayakan-bisnis-aspek-lingkngan.html
untung15011963.blogspot.com/2014/06/aspek-amdal-dalam-skb.html
www.academia.edu/8345278/analisis_ekonomi_dan_dampak_lingkungan