Anda di halaman 1dari 3

Perang Bubat

Pernahkah kita berpikir kok di Bandung tidak ada jalan Majapahit, Hayam
Wuruk atau Gajah Mada, padahal di Medan aja ada jalan Majapahit (tempat
bika ambon Medan)....
Hal ini terjadi karena ada sejarahnya, yaitu perang bubat.Berikut ceritanya,
mudah2an menambah pengetahuan kita (diambil dari wikipedia).
Rencana pernikahan
Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin
memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon
ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya
lukisan sang putri di Majapahit; yang dilukis secara diam-diam oleh seorang
seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara.[rujukan?]
Namun catatan sejarah Pajajaran yang ditulis Saleh Danasasmita dan Naskah
Perang Bubat yang ditulis Yoseph Iskandar menyebutkan bahwa niat
pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama
putus antara Majapahit dan Sunda. Raden Wijaya yang menjadi pendiri
kerajaan Majapahit, dianggap keturunan Sunda dari Dyah Lembu Tal dan
suaminya yaitu Rakeyan Jayadarma, raja kerajaan Sunda. Hal ini juga
tercatat dalam Pustaka Rajyatajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3.
Dalam Babad Tanah Jawi, Raden Wijaya disebut pula dengan nama Jaka
Susuruh dari Pajajaran. Meskipun demikian, catatan sejarah Pajajaran
tersebut dianggap lemah kebenarannya, terutama karena nama Dyah Lembu
Tal adalah nama laki-laki.
Hayam Wuruk memutuskan untuk memperistri Dyah Pitaloka. Atas restu dari
keluarga kerajaan, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada
Maharaja
Linggabuana
untuk
melamarnya.
Upacara
pernikahan
dilangsungkan di Majapahit. Pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri
sebenarnya keberatan, terutama Mangkubuminya yaitu Hyang Bunisora
Suradipati. Ini karena menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat itu,
tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin
lelaki. Selain itu ada dugaan bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik
Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya, diantaranya
dengan cara menguasai Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara.
Linggabuana memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit, karena rasa
persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua negara tersebut.
Berangkatlah Linggabuana bersama rombongan Sunda ke Majapahit, dan
diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.
Kesalah-pahaman

Melihat Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah
Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit, maka timbul niat lain dari Mahapatih
Gajah Mada yaitu untuk menguasai Kerajaan Sunda, sebab untuk memenuhi
Sumpah Palapa yang dibuatnya tersebut, maka dari seluruh kerajaan di
Nusantara yang sudah ditaklukkan hanya kerajaan sundalah yang belum
dikuasai Majapahit. Dengan makksud tersebut dibuatlah alasan oleh Gajah
Mada yang menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di
Pesanggrahan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada
Majapahit, sesuai dengan Sumpah Palapa yang pernah ia ucapkan pada
masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta. Ia mendesak Hayam Wuruk untuk
menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda
takluk Negeri Sunda dan mengakui superioritas Majapahit atas Sunda di
Nusantara. Hayam Wuruk sendiri menurut Kidung Sundayana disebutkan
bimbang atas permasalah tersebut, karena Gajah Mada adalah Mahapatih
yang diandalkan Majapahit pada saat itu.
Gugurnya rombongan Sunda
Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan
Gajah Mada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada
oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya
untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan
karena undangan sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi
semula.
Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah
mengerahkan pasukannya (Bhayangkara) ke Pesanggrahan Bubat dan
mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi
mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak
tekanan itu. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada
dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan
pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para
pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu
berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri dan pejabat kerajaan
Sunda, serta putri Dyah Pitaloka.
Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan
(darmadyaksa) dari Bali - yang saat itu berada di Majapahit untuk
menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka - untuk
menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora
Suradipati yang menjadi pejabat sementara raja Negeri Sunda, serta
menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda
atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar
diambil hikmahnya.

Akibat peristiwa Bubat ini, dikatakan dalam catatan tersebut bahwa


hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada
sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai wafatnya (1364). Akibat peristiwa
ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan esti
larangan ti kaluaran, yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar
lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh
menikah dengan pihak timur negeri Sunda (Majapahit).
Sumber
http://demsad.multiply.com/journal/item/17/Perang_Bubat