Anda di halaman 1dari 17

VARIKOKEL

Pembimbing :
dr. Tri Budiyanto, Sp. U

Disusun oleh :
Febrilia M.S .

G4A014022

Keyko L. M. S

G4A014024

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
SMF ILMU BEDAH
RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO
2015

BAB I
PENDAHULUAN

Varikokel merupakan dilatasi abnormal pleksus pampiniformis, terjadi


kira-kira 15% pria. Beberapa pasien mengalami nyeri skrotal dan pembengkakan,
dan menjadi suatu penyebab potensial infertilitas pada pria. Pada varikokel
didapatkan kelainan dilatasi vena dalam spermatic cord dan yang diklasifikasi
menjadi klinis dan subklinis. Varikokel klinis didiagnosis melalui pemeriksaan
fisik dan digolongkan berdasarkan temuan fisik. Varikokel subklinis pada
pemeriksaan fisik tidak teraba dan memerlukan pencitraan radiologi

untuk

diagnosis. Selain itu, varikokel terbagi atas varikokel ekstratestikuler dan


varikokel intratestikuler (Purnomo, 2000).
Varikokel

lebih

sering

terdeteksi

pada

populasi

pria

infertil

dibandingkan dengan pria fertil. Adanya varikokel telah dikaitkan dengan


kegagalan fungsi testis,sering menyebabkan kelainan pada parameter semen.
Varikokel umum dijumpai pada anak remaja dan pria dewasa, terdiagnosis pada
20-40% pasien infertil. Penegakan diagnosis cepat dan tepat dari kelainan ini
sangat penting karena pada sebagian besar kasus, penatalaksanaan tepat waktu,
biasanya dilakukan percutaneous sclerotherapy, bisa menghasilkan peningkatan
kualitas semen (Purnomo, 2000).
Pemeriksaan Utrasonografi merupakan pilihan pertama, non invasif,
relatif mudah dan akurat dalam mendeteksi varikokel. Pemeriksaan ultrasonografi
Color Doppler (CDUS) telah menjadi modalitas yang telah diterima secara luas
dan sering digunakan untuk mengevaluasi varikokel.
Alasan penulisan referat ini adalah karena pentingnya pemahaman
tehnik dan memahami gambaran ultrasonografi varikokel sehingga dapat
menyingkirkan diagnosis bandingnya, dan juga pentingnya modalitas ini dalam
penegakkan diagnosis kelainan pada skrotum, khususnya varikokel dimana
pada

saat

ini merupakan

pemeriksaan

baku

emas varikokel. Dengan

penulisan referat ini diharapkan kita dapat menambah

pengetahuan serta

memahami gambaran ultrasonografi varikokel, sehingga dapat diterapkan dalam


membantu penegakkan diagnosis guna mendapatkan diagnosis dan tatalaksana
yang cepat, tepat untuk pasien.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Varikokel merupakan suatu dilatasi abnormal dan tortuous dari vena pada
pleksus pampiniformis dengan ukuran diameter melebihi 2 mm. Dilatasi
abnormal vena-vena dari spermatic cord biasanya disebabkan oleh
ketidakmampuan katup pada vena spermatik internal (Rajeev dan Rupin,
2005).
B. Anatomi
Pada pria dewasa, masing-masing testis merupakan suatu organ berbentuk
oval yang terletak didalam skrotum. Beratnya masing-masing kira-kira 10-12
gram, dan menunjukkan ukuran panjang rata-rata 4 sentimeter (cm), lebar 2
cm, dan ukuran anteroposterior 2,5 cm. Testis memproduksi sperma dan
androgen (hormon seks pria) (Martini, 2004).
Tiap testis pada bagian anterior dan lateral diliputi oleh membran
serosa, tunika vaginalis. Membran ini berasal dari peritoneum cavum
abdominal. Pada tunika vaginalis terdapat lapisan parietal (bagian luar) dan
lapisan visceral (bagian dalam) yang dipisahkan oleh cairan serosa. Kapsul
fibrosa yang tebal, keputihan disebut dengan tunika albuginea yang
membungkus testis dan terletak pada sebelah dalam lapisan visceral dari
tunika vaginalis. Pada batas posterior testis, tunika albuginea menebal dan
berlanjut ke dalam organ sebagai mediastinum testis (Martini, 2004).
Tunika albuginea berlanjut ke dalam testis dan membentuk
septum jaringan konektif halus, yang membagi kavum internal menjadi 250
lobulus terpisah. Tiap-tiap lobulus mengandung sampai empat tubulus
seminiferus yang sangat rumit, tipis dan elongasi. Tubulus seminiferus
mengandung dua tipe sel: (1) kelompok nondividing support cells disebut

sel-sel sustentacular dan kelompok dividing germ cells yang terus menerus
memproduksi sperma pada awal pubertas (Martini, 2004).
Cavum
kavum

yang

intersisial. Dalam

intersisial

(sel

intersisial

untuk

mengelilingi
cavum

tubulus

intersisial

leydig). Luteinizing hormone


memproduksi

hormon

seminiferus
ini

disebut

terdapat

sel-sel

menstimulasi

sel-sel

disebut androgen. Terdapat

beberapa tipe androgen, yang paling umum ialah testosteron. Meskipun


korteks adrenal mensekresi sejumlah kecil androgen, sebagian besar androgen
dilepaskan melalui sel-sel intersisial di testis, dimulai pada masa pubertas
(Martini, 2004).
Duktus dalam testis; rete testis merupakan suatu jaringan
berkelok-kelok saling

terhubung di mediastinum testis yang menerima

sperma dari tubulus seminiferus. Saluran-saluran rete testis bergabung


membentuk ductulus eferen. Kira-kira 12-15 ductulus eferen menghubungkan
rete testis dengan epididimis. Epididimis merupakan suatu struktur
berbentuk
eksternal

koma

terdiri

melingkupi

dari

suatu

jaringan konektif.

duktus

internal

dan duktus

Head epididimis terletak pada

permukaan superior testis, dimana body dan tail epididimis pada permukaan
posterior testis. Pada bagian dalam epididimis berisi duktus epididimis
panjang, berkelok yang panjangnya kira-kira 4 sampai 5 meter dan dilapisi
oleh epitel berlapis silindris yang memuat stereocilia (microvilli panjang)
(Martini, 2004).
Duktus deferens juga disebut vas deferens, saluran ini meluas dari
tail epididimis melewati skrotum, kanalis inguinalis dan pelvis bergabung
dengan duktus dari vesica seminalis membentuk duktus ejakulatorius pada
glandula prostat (Martini, 2004).
Testis diperdarahi oleh arteri testicular, arteri
dari

yang

bercabang

aorta setinggi arteri renal. Banyak pembuluh vena dari testis pada

mediastinum dengan suatu

kompleks

pleksus vena disebut pleksus vena

pampiniformis, yang terletak superior. Epididimis dan skrotum diperdarahi

oleh pleksus vena kremaster. Kedua pleksus beranastomose dan berjalan


superior, berjalan dengan vas deverens pada spermatic cord. Spermatic cord
dan epididimis diperdarahi oleh cabang arteri vesical inferior dan arteri
epigastrik inferior (arteri kremaster). Skrotum diperdarahi cabang dari arteri
pudendal internal (arteri scrotal posterior), arteri pudendal eksternal cabang
dari arteri femoral, dan cabang dari arteri epigastrik inferior (kremaster).
Aliran vena testis melalui pleksus vena pampiniformis, terbentuk pada bagian
atas epididimis dan berlanjut

ke

vena

testikularis

melalui

cincin

inguinal. Vena testikularis kanan bermuara ke vena kava inferior dengan


suatu acute angle, dimana vena testikularis sinistra mengalir ke vena renalis
sinistra dengan suatu right angle (Martini, 2004).
C. Epidemiologi
Varikokel terdeteksi lebih sering pada populasi pria infertil dibanding pada
pria fertil. Sebagian besar varikokel terdeteksi setelah pubertas dan prevalensi
pada pria dewasa sekitar 10-15%. Pada 80-90% kasus, varikokel hanya
terdapat

pada sebelah kiri; varikokel bisa bilateral hingga 20% kasus,

meskipun dilatasi sebelah kanan biasanya lebih kecil. Varikokel unilateral


sebelah kanan sangat jarang terjadi.
Varikokel pada remaja pria pernah dilaporkan sekitar 15% kasus. Varikokel
biasanya terdiagnosis pada 20-40% pria infertil. Insidensi varikokel
yang

teraba diperkirakan 15% pada populasi umum pria dan 21-39% pria

subfertil. Meskipun varikokel


remaja,

varikokel

jarang

pernah

dilaporkan

pada

pria

sebelum

pada kelompok usia ini. Pada suatu penelitian

oleh Oster (1971) pada 1072 anak sekolah laki laki di Denmark, tidak ditemui
adanya varikokel pada 188 anak laki-laki yang berusia antara 6 sampai 9
tahun. Insidensi varikokel pada anak yang lebih tua (usia 10-25 tahun),
bervariasi antara 9% sampai 25,8% dengan suatu rerata 16,3%.
Varikokel ekstratestikular merupakan kelainan yang diketahui umum
terjadi, dimana terdapat pada 15% sampai 20% pria. Varikokel intratestikular
sebaliknya suatu kelainan yang jarang dan sesuatu yang relatif baru dimana
dilaporkan kurang dari 2% pada pria yang menjalani sonografi testis dengan
gejala.

D. Etiologi
Terdapat beberapa etiologi varikokel ekstratestikular seperti refluks
renospermatik,

insufisiensi

katup

vena

spermatika

interna,

refluks

ileospermatik, neoplastik, atau penyakit retroperitoneal lainnya, sindrom


malposisi visceral, dan pembedahan sebelumnya pada regio inguinal dan
skrotum. Varikokel intratestikular sering dihubungkan dengan atrofi testikular
ipsilateral terkait kelainan parenkhimal, tetapi apakah varikokel intratestikular
merupakan suatu penyebab atau akibat dari atrofi testikular tetap belum jelas.
Varikokel intratestikular biasanya, tetapi tak selalu, terjadi berkaitan dengan
suatu varikokel ekstratestikular ipsilateral (Sharlip et al., 2001).

E. Patofisiologi
Varikokel terjadi akibat peningkatan tekanan vena dan ketidakmampuan
vena spermatika interna. Aliran retrograde vena spermatika interna
merupakan

mekanisme

pada

perkembangan

varikokel.

Varikokel

ekstratestikular merupakan suatu kelainan yang umum terjadi. Sebagian besar


kasus asimptomatik atau berhubungan dengan riwayat orchitis, infertilitas,
pembengkakan skrotum dengan nyeri. Varikokel intratestikular merupakan
suatu keadaan yang jarang, ditandai oleh dilatasi vena intratestikular (Rajeev
dan Rupin, 2005).
Varikokel lebih sering ditemukan pada sebelah kiri karena beberapa
alasan berikut ini: (a) vena testikular kiri lebih panjang; (b) vena
testikular

sinistra memasuki vena renal sinistra pada suatu right angle; (c)

arteri testikular sinistra pada beberapa pria melengkung diatas vena renal
sinistra, dan menekan vena renal sinistra; dan (d) distensi colon descendens
karena feses dapat mengkompresi vena testikular sinistra (Rajeev dan Rupin,
2005).
F. Manifestasi Klinis

Beberapa pasien dengan varikokel dapat mengalami nyeri skrotal


dan

pembengkakan,

namun

yang

dipertimbangkan menjadi suatu


Hubungan varikokel
dilaporkan

dengan

lebih

penyebab

penting,
potensial

fertilitas menjadi

peningkatan

suatu

varikokel

infertilitas

pria.

kontroversi, namun telah

fertilitas

dan

kualitas

sperma setelah terapi, termasuk terapi oklusif pada varikokel.

Varikokel

pada remaja biasanya asimptomatik dan untuk itu diagnosis khususnya


diperoleh saat pemeriksaan fisik rutin. Kadang kadang pasien akan datang
karena adanya massa skrotum atau rasa tak nyaman di skrotum, seperti berat
atau rasa nyeri setelah berdiri sepanjang hari (Werner, 2014).
Varikokel

ekstratestikular

secara

klinis

berupa

teraba

benjolan

asimptomatik, dengan nyeri skrotal atau hanya menyebabkan infertilitas


dengan perjalanan subklinis. Secara klinis varikokel intratestikular kebanyakan
hadir dengan gejala seperti varikokel

ekstratestikuler,

meskipun

sering

varikokel intratestikuler tidak berhubungan dengan varikokel ekstratestikuler


ipsilateral. Manifestasi klinis paling umum pada varikokel

intratestikular

adalah nyeri testikular (30%) dan pembengkakan (26%). Nyeri testis


diperkirakan berhubungan dengan peregangan tunika albuginea. Manifestasi
klinis lain yang telah dilaporkan mencakup infertilitas (22%) dan
epididimorchitis (20 %) (Werner, 2014).
G. Diagnosis
Diagnosis varikokel ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan
fisik,

pemeriksaan radiologi dan analisis semen. Pemeriksaan fisik harus

dilakukan dalam posisi berdiri. Refluks vena dapat dievaluasi dengan


cara

manuver

valsava. Pemeriksaan radiologi yang dapat digunakan yaitu

pemeriksaan ultrasonografi, CT scan, MRI dan angiografi. Pemeriksaan


Utrasonografi merupakan pilihan pertama dalam mendeteksi varikokel.
Pemeriksaan ultrasonografi dan terutama Color Doppler menjadi
pemeriksaan

paling

terpecaya

dan

berguna

dalam

metode

mendiagnosis

varikokel subklinis. Gambaran varikokel pada ultrasonografi tampak sebagai

stuktur serpiginosa predominan echo free (Struktur tubular anekoik/ lingkaran


cacing yang multiple) dengan ukuran diameter lebih dari 2 mm.
Pada CT scan dapat menunjukkan gambaran vena vena serpiginosa
berdilatasi menyangat yaitu gambaran struktur yang menyebar dari
mediastinum testis ke parenkim testikular. Pada MRI varikokel tampak sebagai
suatu massa dari dilatasi, serpiginosa pembuluh darah, biasanya berdekatan
dengan caput epididimis. Spermatic canal melebar, dan intrascrotal spermatic
cord

atau pleksus pampiniformis prominen.

intensitas signal heterogen.


dengan

intensitas

Spermatic cord

signal

Spermatic cord memiliki


memuat struktur serpiginosa

tinggi. Peranan

MRI

dalam

diagnosis

varikokel belum terbukti karena tidak cukupnya jumlah pasien yang telah
diperiksa dengan MRI. Venografi

dapat

testikular,

aliran retrograde bahan kontras ke arah

dapat

menunjukkan

menunjukkan

dilatasi

vena

skrotum (Sharlip, 2001).


Sebagian

besar

varikokel

digambarkan

sebagai

primer

atau

idiopatik dan diperkirakan terjadi karena kelainan perkembangan katup dan /


atau vena. Varikokel primer
dimana

setidaknya

jauh

dijumpai

lebih

mungkin

pada

sebelah

kiri,

95%. Sebagian kecil terjadi akibat tidak

langsung dari suatu lesi yang mengkompresi atau mengoklusi vena testikular.
Varikokel sekunder akibat dari peningkatan tekanan pada vena spermatik yang
ditimbulkan oleh proses penyakit seperti hidronefrosis, sirosis, atau tumor
abdominal (Sharlip, 2001).
Varikokel

klinis

didefinisikan

sebagai

pembesaran

pleksus

pampiniformis yang dapat diraba, dimana dapat dibagi menjadi derajat 1, 2, 3


menurut klasifikasi Dubin and Amelar. Varikokel subklinis didefinisikan
sebagai refluks melalui vena spermatika interna, tanpa distensi yang dapat
teraba dari pleksus pampiniformis (Rajeev dan Rupin, 2005).
Dubin and Amelar menemukan suatu sistem penilaian yang berguna
untuk varikokel yang dapat teraba. derajat 1: varikokel dapat diraba hanya pada
waktu manuver valsava; derajat 2: varikokel dapat diraba tanpa manuver

valsava; derajat 3: varikokel tampak pada pemeriksaan sebelum palpasi


(Rajeev dan Rupin, 2005).
Kelainan analisis semen berupa oligozoospermia, asthenozoospermia
dapat disebabkan

oleh

varikokel. Mac

Leod (1965)

mengemukakan

trias oligospermia, penurunan motilitas sperma, dan

peningkatan persentase sel-sel sperma immatur


semen

yang

varikokel
penelitian

khas

sering

pada

pria

menghasilkan

menghubungkan

merupakan

infertil

kualitas

dengan

kali

karakteristik

dengan varikokel.

peningkatan

ukuran

pertama

Koreksi

semen, beberapa

efektivitas

tatalaksana

pembedahan varikokel.

H. Diagnosis Banding
Beberapa

kelainan

yang

pada

pemeriksaan

ultrasonografi

memberikan gambaran mirip dengan gambaran varikokel dan menjadi


diagnosis banding yaitu spermatokel dan ektasia tubular.
Spermatokel

merupakan

sperma. Spermatokel

umunya

suatu

lesi

kistik

ditemukan

pada

jinak
kaput

yang

berisi

epididimis.

Spermatokel

banyak ditemukan

ultrasonografi

pada

pasien

secara

kebetulan

pada

Sebagian

besar

skrining

usia pertengahan sampai usia tua. Ukuran

spermatokel dapat bervariasi dari beberapa millimeter


sentimeter.

saat

spermatokel

sampai

beberapa

tidak menyebabkan gejala, dan

pasien bisa datang dengan teraba massa lunak pada bagian dalam skrotum.
Pada beberapa kasus, dapat juga terdapat rasa tak nyaman karena efek massa.
Etiologi spermatokel masih belum jelas. Sebagian besar penulis mengarahkan
bahwa suatu obstruksi duktus eferen merupakan asal mula dari kelainan ini.
Ektasia tubular juga dikenal sebagai transformasi kistik rete testis
merupakan dilatasi rete testis sebagai suatu akibat obliterasi parsial atau
komplit duktus eferen. Ektasia
sering

tubular

sering

bilateral

dan

asimetris,

berhubungan dengan spermatokel. Rerata usia pada diagnosis ialah

60 tahun dan secara umum pasien berusia lebih dari 45 tahun.


I. Komplikasi
Beberapa komplikasi dari varikokel diantaranya kenaikan temperatur testis,
jumlah sperma rendah dan infertilitas pria. Hambatan aliran darah, suatu
varikokel dapat membuat temperatur lokal terlalu tinggi, mempengaruhi
pembentukan dan motilitas sperma. Terdapat

bukti

yang

baik

dimana

lamanya varikokel menyebabkan efek merugikan yang progresif pada testis.


Chehval dan Porcell (1992) melakukan analisis semen pada 13 pria dengan
varikokel dan kemudian mengevaluasi kembali semen pria tersebut 9 sampai
96 bulan kemudian. Hasilnya menunjukkan suatu kemerosotan pada follow up
analisis semen mereka.Potensi komplikasi dari tatalaksana varikokel jarang
terjadi dan komplikasi biasanya ringan. Semua pendekatan pembedahan
varikokel berkaitan dengan suatu resiko kecil seperti infeksi luka, hidrokel,
varikokel berulang dan jarang terjadi yaitu atrofi testis. Potensi komplikasi
dari

insisi

inguinal

karena

skrotal dan nyeri berkepanjangan.


J. Penatalaksanaan

tatalaksana

varikokel mencakup mati rasa

Terdapat

beberapa

pedoman

dimana

dikoreksi karena: 1) pembedahan berpotensi

suatu

varikokel

mengubah

suatu

sebaiknya
keadaan

patologis; 2) pembedahan meningkatkan sebagian besar parameter semen; 3)


pembedahan memungkinkan

meningkatnya fertilitas; 4) resiko terapi kecil.

Suatu varikokel sebaiknya dikoreksi ketika: 1) Varikokel secara klinis teraba;


2) pasangan dengan infertilitas; 3) istri fertil atau telah dikoreksi
infertilitasnya; 4) paling tidak satu parameter semen abnormal.
Ada 2 pendekatan yang dapat dilakukan dalam perbaikan varikokel: metode
pembedahan dan embolisasi perkutaneus. Pembedahan varikokel dapat
dilaksanaan melalui beberapa cara, termasuk di dalamnya metode pembedahan
terbuka baik melalui retroperitoneal, inguinal maupun subinguinal ataupun
metode laparoskop. Tatalaksana dengan metode embolisasi dilakukan dengan
embolisasi perkutaneus pada vena spermatika interna yang menonjol. Belum
ada penelitian yang menunjukkan terapi yang lebih unggul diantara seluruh
metode yang ada.
Keputusan penatalaksanaan sebaiknya terutama berdasarkan pada apakah
varikokel simptomatik atau berhubungan dengan subfertilitas, dan pilihan yaitu
antara terapi pembedahan dan terapi radiologi. Dimana tersedia seorang ahli
radiologi terlatih, embolisasi perkutaneus harus menjadi penatalaksanaan lini
pertama, dengan pembedahan dilakukan pada sebagian kecil pasien yang gagal
dengan kateterisasi.
Pembedahan
Beberapa metode pembedahan yang dapat dilakukan yaitu: ligasi tinggi
vena spermatika interna secara Palomo melalui operasi terbuka atau bedah
laparoskopi maupun varikokelektomi cara Ivanisevich.
Teknik pembedahan dilakukan dalam anestesi umum. Insisi dibuat
kemudian dicari vena skrotalis interna maupun cabangnya dan diligasi untuk
mengalihkan aliran vena ke pembuluh vena normal lainnya pada area pelvis.
Insisi dapat dilakukan retroperitoneal (ligasi tinggi), inguinal, maupun sub
inguinal. Ligasi laparoskopi tidak sering dilakukan. Seluruh cabang dari vena

spermatika interna harus sepenuhnya terligasi untuk mencegah rekurensi


maupun varikokel yang persisten. Setelah itu dilakukan penutupan kembali
sesuai laposan abdomen (Sharlip et al., 2001).

Terapi embolisasi perkutaneus


Cara ini dilakukan dengan sedasi intra vena dan anestesi lokal. Kateter
angiografi dimasukkan ke dalam sistem vena (bisa melalui vena femoralis
dextra, vena jugularis dextra maupun vena basilika). memasukkan bahan
sklerotik ke dalam vena spermatika interna. Terapi ini dikaitkan dengan rasa
nyeri yang lebih minimal dibandingkan dengan tindak pembedahan terbuka.
Tapi pada metode ini dibutuhkan ketersediaan dokter dengan pengalaman
dalam tekhnik akses radiologi intervensi. Karena dalam beberapa kasus
kurangnya pengalaman dan pengetahuan menyulitkan dalam penemuan vena
spermatika interna (Smith dan White, 2012).

BAB. III
KESIMPULAN

Varikokel
tortuous dari

vena

merupakan

suatu

kelainan

dilatasi

dan

pada pleksus pampiniformis. Varikokel dipertimbangkan

menjadi suatu penyebab potensial infertilitas pria. Varikokel ekstratestikular


merupakan kelainan yang umum terjadi, sebaliknya varikokel intratestikular
merupakan kelainan yang jarang.
Diagnosis varikokel ditegakkan berdasarkan klinis, pemeriksaan
fisik

dan pemeriksaan

analisis

penunjang

berupa

pemeriksaan

radiologi

dan

semen. Ultrasonografi dan terutama sekali Color Doppler tampil

menjadi metode paling terpercaya dan praktis untuk mendiagnosis varikokel.


Diagnosis varikokel secara tepat dan cepat sangat penting, dimana pada sebagian
besar kasus dengan diagnosis dan tatalaksana yang tepat dapat menghasilkan
peningkatan kualitas semen.
Gambaran ultrasonografi varikokel terdiri dari struktur tubular,
anekhoik (lingkaran

cacing),

multipel, ukuran

diameter

lebih

dari

mm yang biasanya paling baik tampak pada superior dan / lateral testis,
manuver

valsava positif. Gambaran sonografi varikokel intratestikuler yaitu

struktur yang menyebar dari

mediastinum

testis

ke

parenkhim

testikuler.

Bila dilakukan pemeriksaan MRI akan tampak gambaran massa dari dilatasi,
serpiginosa pembuluh darah yang biasanya berdekatan dengan caput epididimis.
Namun peran MRI untuk diagnosis belum dapat dibuktikan karena masih belum
cukupnya jumlah pasien yang terdiagnosis dengan MRI.
Terdapat beberapa pedoman dimana suatu varikokel sebaiknya
dikoreksi karena: 1) pembedahan berpotensi
patologis;

2) pembedahan

pembedahan memungkinkan

mengubah

suatu

keadaan

meningkatkan sebagian besar parameter semen; 3)


meningkatnya fertilitas; 4) resiko terapi kecil.

Suatu varikokel sebaiknya dikoreksi ketika: 1) Varikokel secara klinis teraba; 2)

pasangan dengan infertilitas; 3) istri fertil atau telah dikoreksi infertilitasnya; 4)


paling tidak satu parameter semen abnormal. Ada 2 pendekatan yang dapat
dilakukan dalam perbaikan varikokel: metode pembedahan dan embolisasi
perkutaneus.

DAFTAR PUSTAKA
Martini, Frederick H. 2004. Fundamentals of Anatomy & Phsyology. 6th edition.
San Fransisco: Pearson Education, Inc.
Purnomo, B. B. 2000. Dasar-dasar Urologi. Jakarta : CV Sagung Seto.
Rajeev, K., Rupin, S. Varicocele and Male Infertility: current status. The Journal
of Obstetrics and Gynecology of India. 2005. Vol. 55: 505-516.
Sharlip, I. D., et al. 2001. Infertility: Report on Varicocele and Infertility.
American Urology Association.
Smith, S. J. Dan White Jr., R. I. 2012. Nonsurgical Treatment of Varicocele.
Interventional Radiology, Adventist La Grange Memorial Hospital.
Werner, M. A. 2014. Varicoceles. Private Practice Limited to Male Infertility and
Sexual Dysfunction.