Anda di halaman 1dari 6

Usaha Meningkatkan Keterampilan ....

(Valestien Aiva Rahma) 1

USAHA MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SISWA KELAS VIII


MELALUI METODE EKSPERIMEN DI SMP NEGERI 2 BERBAH
THE EFFORT TO IMPROVE PROCESS SKILLS USING EXPERIMENT METHOD
Oleh: 1)Valestien Aiva Rahma, 2)Bambang Ruwanto, M.Si,
FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta
valestien.aiva@gmail.com

3)

Yuni Wibowo, M.Pd

Abstrak
Tujuan dari penelitian yang dilakukan yaitu untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran IPA dengan
metode eksperimen untuk meningkatkan keterampilan proses siswa kelas VIII B di SMP Negeri 2 Berbah. Jenis
penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII B di SMP
Negeri 2 Berbah pada tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 30 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
penerapan metode eksperimen dapat meningkatkan keterampilan proses siswa. Keterampilan proses yang
ditingkatkan dalam penelitian ini meliputi keterampilan menyusun hipotesis, melakukan observasi, membuat tabel
data, mengkomunikasikan, dan menarik kesimpulan. Tahapan metode eksperimen yang dilakukan sehingga dapat
meningkatkan keterampilan proses, yaitu 1) menyusun hipotesis, 2) melaksanakan eksperimen sembari
mengumpulkan data. 3) menganalisis data dengan menjawab pertanyaan pada LKS, dan 4) menarik kesimpulan.
Rerata keterampilan proses siswa meningkat dari 70,70% pada Siklus 1 menjadi 89,31% pada Siklus 2 dan
meningkat menjadi 92,36% pada Siklus 3.
Kata kunci: metode eksperimen, keterampilan proses
Abstract
The purpose of the research conducted was to determine the implementation of an integrated science
learning with experiment methods to improve the process skills of the class VIII B students of SMP Negeri 2
Berbah. The type of this research was Classroom Action Research (CAR). The subjects were students of class VIII
B in SMP Negeri 2 Berbah academic year 2013/2014 that consist of 30 students. The results showed that the
implementation of the experiment method increased the process skills of the students. Process skills enhanced in
this research include hypothesizing skill, observing skill, making a tabel skill, communicating skill, and making
conclusion skill. The phases of experiment method that have been held were 1) formulate hypotheses, 2) doing the
experiment and collecting data, 3) analyzing the data with answered the questions on the activity sheet, and 4)
draw conclusions. The average of the students's process skills increased from 70,70% in Cycle 1 to 89,31% in
Cycle 2 and to 92,36% in Cycle 3.
Keywords: experiment mehod, process skills

PENDAHULUAN
Pembelajaran IPA yang dilaksanakan di
SMP N 2 Berbah belum dilaksanakan secara
terpadu. Menurut Pusat Kurikulum (2006:1),
implementasi KTSP bertujuan untuk mencapai
efektivitas
dan
efisiensi
dalam
proses
pembelajaran yaitu dengan diterapkan model
pembelajaran terpadu. Berdasarkan data yang
diperoleh, hasil belajar kognitif produk siswa
SMP N 2 Berbah kelas VIII B tergolong rendah.
Hal ini tampak dari nilai UTS (Ujian Tengah
Semester) mata pelajaran biologi dengan KKM

76, hanya 12,5% siswa saja tergolong tuntas.


Pada mata pelajaran fisika dengan KKM 75,
hanya 25% siswa yang masuk dalam kriteria
tuntas.
Hasil belajar yang rendah dapat
disebabkan oleh rendahnya motivasi belajar
siswa. Hal tersebut tampak dengan siswa yang
cenderung kurang memperhatikan pelajaran,
mengantuk, dan mengobrol dengan temannya
selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Akibat dari rendahnya motivasi belajar, siswa
menjadi kurang aktif dalam kegiatan belajar
mengajar IPA.

2 Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains Edisi ... Tahun ..ke.. 20...

Rendahnya motivasi dan aktivitas belajar


siswa dapat disebabkan karena metode
pembelajaran yang digunakan lebih dominan
metode ceramah atau konvensional, terkadang
menggunakan metode demonstrasi dan juga
media powerpoint atau program microsoft word
yang ditampilkan melalui proyektor. Siswa di
SMP N 2 Berbah belum pernah melakukan
kegiatan eksperimen sehingga keterampilan
proses dan keterampilan psikomotornya belum
terasah dengan baik. Guru juga belum pernah
melakukan penilaian yang berkaitan dengan
aspek keterampilan proses dan kinerja siswa.
Komunikasi merupakan salah satu aspek
dari keterampilan proses. Ketika dilaksanakan
kegiatan diskusi dalam pembelajaran IPA di SMP
N 2 Berbah, baik secara berpasangan maupun
kelompok, siswa tampak kurang aktif dalam
berkomunikasi mengenai materi dan terkadang
cenderung ramai. Penyampaian hasil diskusi
berupa presentasi di depan kelas juga dilakukan
kurang baik oleh siswa. Siswa hanya membaca
saja tanpa menatap atau memperhatikan teman
yang lain saat sedang menyampaikan hasil
diskusi.
Keterampilan proses lain yang kurang
baik yaitu dalam mengobservasi dan merumuskan
hipotesis. Siswa hanya menggunakan indera
penglihatan saja ketika melakukan observasi.
Siswa juga kurang teliti dalam melakukan
observasi. Ketika guru menampilkan suatu
fenomena, siswa tidak bisa menyusun hipotesis
mengenai hal yang mungkin terjadi (variabel
terikat) dari suatu perlakuan.
Keterampilan siswa dalam membuat tabel
data dan menarik kesimpulan belum terasah
dengan baik. Ketika diminta mengerjakan soal
dengan membuat tabel, siswa tidak dapat
melaksanakan. Siswa menjawab soal tersebut
dengan uraian padahal pada materi sudah diberi
contoh berupa tabel. Pada akhir pelajaran, guru
meminta siswa untuk memberikan kesimpulan
dari pembelajaran. Siswa hanya diam saja dan
tidak membuat kesimpulan. Siswa hanya
menunggu guru memberikan kesimpulan.
Pada kegiatan belajar mengajar, metode
eksperimen sangat baik untuk diterapkan karena

siswa akan belajar sambil bekerja atau melakukan


aktivitas. Menurut Conny Semiawan (1992:11),
wawasan atau hal yang diperoleh anak melalui
kegiatan bekerja, mencari dan menemukan
sendiri tidak akan mudah dilupakan. Pelaksanaan
metode eksperimen yang dilakukan siswa secara
berkelompok juga melatih siswa untuk bekerja
sama dan bersosialisasi dengan teman sebayanya
sebagai suatu proses pembentukan kepribadian
atau karakter anak.
Menurut Carin dan Sund (1989:4), IPA
merupakan pengetahuan yang sistematis dan
teratur, berlaku universal, dan berupa kumpulan
data hasil eksperimen. Pembelajaran IPA penting
dilaksanakan dengan metode eksperimen karena
konsep dan fakta yang ditemukan oleh para
ilmuwan juga diperoleh melalui serangkaian
eksperimen. Siswa juga harus dilatih untuk
melakukan eksperimen agar dapat menemukan
sendiri fakta dan konsep dan memberikan
kebermaknaan
dalam
pembelajaran
IPA.
Pelaksanaan metode eksperimen membiasakan
siswa untuk melaksanakan langkah-langkah
ilmiah sehingga diharapkan dapat meningkatkan
keterampilan proses.
Berdasarkan uraian di atas, kegiatan
pembelajaran IPA di SMP N 2 Berbah khususnya
kelas VIII perlu dilakukan perbaikan. Solusi yang
diajukan untuk mengatasi permasalahan yang
muncul adalah dengan melakukan Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan
metode eksperimen dalam pembelajaran IPA
terpadu. Sejalan dengan hal tersebut, Nana
Sudjana (2004:83) mendefinisikan metode
eksperimen sebagai metode yang efektif untuk
pembelajaran. Dengan metode eksperimen siswa
dapat meningkatkan keterampilan proses dan
lebih memahami materi.
Materi yang dipilih untuk pembelajaran
IPA yaitu pengawetan makanan. Materi tersebut
dapat ditinjau dari aspek kimia, fisika dan biologi.
Materi pengawetan makanan menunjang untuk
dilaksanakannya metode eksperimen yang dapat
meningkatkan keterampilan proses siswa. Siswa
dapat menyusun hipotesis mengenai pengaruh
makanan yang diberikan bahan pengawet.
Kemudian, siswa dapat melakukan observasi

Usaha Meningkatkan Keterampilan ....(Valestien Aiva Rahma) 3

terhadap makanan yang diawetkan serta


mengumpulkan dan mengorganisasikan data.
Dengan demikian, siswa dapat menarik
kesimpulan dari hal-hal yang dipelajari pada
materi pengawetan makanan.
Berdasarkan latar belakang masalah,
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pelaksanaan pembelajaran IPA dengan metode
eksperimen sehingga mampu meningkatkan
keterampilan proses siswa kelas VIII B di SMP
Negeri 2 Berbah.

Teknik Analisis Data


Keterlaksanaan RPP dengan metode
eksperimen dianalisis dengan rumus berikut
(Ngalim Purwanto, 2006:102).
aspek terlaksana
Nilai persen =
100
total aspek
Nilai dari keterampilan proses tiap aspek
dianalisis dengan rumus berikut (Ngalim
Purwanto, 2006:102).
skor yang dicapai
Nilai persen =
100
skor maksimum

METODE PENELITIAN

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Jenis Penelitian
Penelitian yang dilaksanakan merupakan
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang
menggunakan model Kemmis dan McTaggart.
Setiap siklus terdiri dari 3 tahap yaitu
perencanaan, tindakan dan observasi, serta
refleksi.

Berdasarkan hasil observasi pelaksanaan


pembelajaran, penerapan metode eksperimen
dapat meningkatkan keterampilan proses siswa
kelas VIII B. Tahapan metode eksperimen yang
dilakukan meliputi penyusunan hipotesis,
pelaksanaan eksperimen dan pengumpulan data,
analisis data, dan penarikan kesimpulan.
Penerapan
metode
eksperimen
dalam
pembelajaran berjalan lancar. Mulai dari Siklus 1
hingga Siklus 3, guru dapat melaksanakan semua
tahapan
metode
eksperimen
walaupun
kualitasnya berbeda. Tahapan metode eksperimen
Siklus 1 telah dilaksanakan oleh guru namun
masih perlu diperbaiki pada Siklus 2, demikian
pula dengan Siklus 3.
Aspek
keterampilan
proses
yang
ditingkatkan pada penelitian ini meliputi
merumuskan hipotesis, melakukan observasi,
membuat tabel data untuk merekam data,
mengkomunikasikan, dan menarik kesimpulan.
Pada aspek mengkomunikasikan dibagi menjadi 2
yaitu mendiskusikan dan menyampaikan hasil.
Keterampilan proses siswa tersebut meningkat
setiap siklusnya walaupun sedikit. Peningkatan
keterampilan proses siswa mulai dari Siklus 1
sampai Siklus 3 disajikan pada Tabel 1.

Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada bulan
Februari-Mei 2014 di SMP N 2 Berbah.
Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas
VIII B SMP N 2 Berbah tahun ajaran 2013/2014
yang berjumlah 30 siswa.
Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data
Pada
penelitian
ini,
instrumen
pengumpulan data yang digunakan yaitu silabus,
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),
Lembar Kegiatan Siswa (LKS), Lembar
Keterlaksanaan RPP, dan Lembar observasi
keterampilan proses.
Lembar keterlaksanaan RPP digunakan
dengan cara memberi skor 1 atau 0 pada aspek
kegiatan guru. Lembar observasi keterampilan
proses disusun dengan mempertimbangkan
indikator dari aspek keterampilan proses. Pada
lembar observasi terdapat aspek keterampilan
proses yang akan dinilai, rubrik penilaian, dan
nomor siswa. Pengamat membubuhkan skor
keterampilan proses pada kolom nomor siswa..

4 Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains Edisi ... Tahun ..ke.. 20...

Tabel 1. Peningkatan Keterampilan Proses Tiap


Siklus
Persentase
Keterampilan
Proses
Aspek
(%)
Keterampilan
Siklus
keProses
1
2
3
Menyusun hipotesis
67,50 85,00 92,50
Melakukan observasi 71,67 95,00 95,83
Membuat tabel data
61,67 88,33 91,67
Mengkomunikasikan
Menyampaikan hasil 73,33 90,83 96,67
Mendiskusikan
80,83 92,50 92,50
Menarik kesimpulan
69,17 84,17 85,00
70,69 89,31 92,36
Skor total
Sangat Sangat
Predikat
Baik
baik
baik
Peningkatan keterampilan proses tersebut
dapat terjadi karena metode eksperimen yang
diterapkan pada pembelajaran sudah sesuai
dengan langkah-langkah yang direncanakan.
Peningkatan keterampilan menyusun
hipotesis dapat terjadi karena metode eksperimen
memberikan kesempatan pada siswa untuk
mengajukan hipotesis pada tahap pertama metode
eksperimen. Pada tahap penyusunan hipotesis
Siklus 1, guru telah memberikan penjelasan pada
siswa mengenai hipotesis yaitu dugaan sementara
terkait hubungan variabel bebas dan variabel
terikat. Namun keterampilan menyusun hipotesis
siswa masih rendah. Sebagian besar hipotesis
yang disusun siswa tidak mengandung variabel
bebas maupun variabel terikat. Hal tersebut
dikarenakan siswa belum mengerti tentang
variabel bebas dan terikat serta cara menyusun
hipotesis.
Pada tahap pelaksanaan eksperimen dan
pengumpulan data, guru telah menjelaskan bahwa
observasi dilakukan dengan seluruh alat indera
namun kebanyakan siswa hanya menggunakan
indera penglihatan. Hal tersebut disebabkan
karena siswa masih menganggap bahwa observasi
hanya menggunakan indera penglihatan saja.
Data
yang
dikumpulkan
kemudian
diorganisasikan ke dalam bentuk tabel.
Penjelasan pembuatan tabel data yang dilakukan
oleh guru secara klasikal masih kurang baik

sehingga kebanyakan siswa belum dapat


membuat tabel data. Tabel yang dibuat siswa
tidak ada label atau keterangan kolom, hanya
berupa garis. Selain itu, data yang dicantumkan
juga kurang lengkap dan kurang jelas. Beberapa
siswa masih menuliskan data dalam bentuk
uraian.
Tahapan selanjutnya yaitu analisis data
telah terlaksana namun masih berjalan kurang
baik. Siswa diminta untuk mengerjakan
pertanyaan yang ada pada LKS berdasarkan data
yang telah diperoleh. Siswa dapat menyampaikan
hasil eksperimen dan menjawab pertanyaan
namun kurang lengkap dan jelas. Hal tersebut
disebabkan karena keterbatasan waktu sehingga
pengerjaan LKS menjadi terburu-buru. Pada
Siklus 1, siswa masih tampak pasif dan enggan
berdiskusi dengan temannya. Ketika melakukan
diskusi, sebagian siswa mengobrol di luar
konteks materi.
Pada tahap penarikan kesimpulan, guru
telah memberikan petunjuk mengenai cara
menarik kesimpulan. Namun, belum dilakukan
bimbingan baik secara klasikal maupun kelompok
mengenai cara menarik kesimpulan. Hal tersebut
menyebabkan keterampilan menarik kesimpulan
siswa belum baik. Kesimpulan yang dibuat siswa
tidak sesuai dengan tujuan dan data eksperimen.
Penerapan metode eksperimen pada
Siklus 2 dilakukan perbaikan agar dapat
meningkatkan keterampilan proses siswa. Pada
tahap penyusunan hipotesis, siswa dijelaskan
kembali mengenai definisi hipotesis dengan
disertai contoh yang mudah dipahami oleh siswa.
Dengan hal tersebut, hipotesis yang dibuat siswa
sudah lebih baik dari siklus sebelumnya.
Sebagian besar hipotesis yang dibuat siswa sudah
mengandung variabel bebas dan variabel terikat.
Pada tahap pelaksanaan eksperimen dan
pengumpulan data Siklus 2, bimbingan dilakukan
lebih intensif. Setiap kelompok diberikan arahan
untuk melakukan observasi dengan seluruh alat
indera yang memungkinkan dan aman. Guru
mengawasi siswa selama pengumpulan data
melalui kegiatan observasi. Perbaikan dilakukan
pada LKS yang digunakan siswa dengan
mencantumkan alat indera yang memungkinkan

Usaha Meningkatkan Keterampilan ....(Valestien Aiva Rahma) 5

untuk mengobservasi pada langkah kerja. Hal


tersebut menyebabkan keterampilan observasi
siswa pada Siklus 2 mengalami peningkatan.
Sebagian besar siswa sudah menggunakan
seluruh alat indera yang memungkinkan dalam
melakukan observasi. Pada Siklus 2, keterampilan
membuat tabel data siswa telah meningkat.
Sebagian siswa sudah mulai dapat membuat tabel
data. Hal tersebut dikarenakan guru menampilkan
beberapa contoh tabel secara klasikal sehingga
siswa memiliki gambaran mengenai tabel yang
akan dibuat.
Tahap analisis data dilakukan dengan
mengerjakan pertanyaan yang ada pada LKS.
Sebagian siswa dapat mengerjakan LKS tanpa
mengalami kesulitan. Pada Siklus 2, jawaban
siswa sudah lebih baik dan sesuai dengan data
hasil eksperimen. Hal ini disebabkan karena
pengumpulan data eksperimen sudah lebih baik
daripada siklus sebelumnya. Penjelasan diberikan
guru pada siswa yang belum paham agar dapat
mengerjakan LKS dengan baik. Pada Siklus 2,
diskusi yang dilakukan siswa lebih baik dari
Siklus 1 yaitu sesuai konteks materi dan tidak
ramai.
Pada Siklus 2 dilakukan perbaikan pada
tahap penarikan kesimpulan dengan memberikan
penjelasan kembali pada siswa bahwa kesimpulan
dibuat sesuai dengan tujuan. Guru memantau
ketepatan kesimpulan yang dibuat siswa dengan
cara berkeliling ke setiap kelompok. Pada Siklus
2, sebagian siswa sudah dapat menarik
kesimpulan sesuai dengan tujuan eksperimen. Hal
ini disebabkan karena siswa sudah memahami
cara menarik kesimpulan dari penjelasan guru
dan petunjuk pada LKS sudah cukup jelas.
Pada Siklus 3 dilakukan perbaikan pada
tahap
penyusunan
hipotesis
dengan
menambahkan kata bantu pada LKS untuk siswa
agar lebih mudah dalam merumuskan hipotesis.
Sebelum siswa mulai membuat hipotesis, guru
bertanya pada siswa mengenai makna dari
hipotesis. Siswa juga sudah lebih terbiasa untuk
merumuskan hipotesis. Dengan hal tersebut,
keterampilan menyusun hipotesis meningkat.
Hipotesis yang dibuat siswa sudah mengandung

hubungan antara variabel bebas dan variabel


terikat.
Tahap pelaksanaan eksperimen dan
pengumpulan data pada Siklus 3 dilakukan
dengan menggabungkan 2 kelompok menjadi 1
sehingga siswa menjadi lebih ramai dan
mengobrol sendiri. Pelaksanaan eksperimen
berlangsung dengan bimbingan dari guru. Pada
Siklus 3, siswa sudah lebih terbiasa untuk
melakukan observasi. Namun, siswa cukup
kesulitan dalam melakukan observasi karena
menggunakan sampel makhluk hidup. Hal ini
menyebabkan
peningkatan
keterampilan
observasi yang terjadi sedikit. Guru menampilkan
kembali contoh tabel data untuk mengingatkan
siswa dalam membuat tabel data. Sebagian besar
siswa sudah dapat membuat tabel data dengan
kolom berlabel. Data yang dituliskan pada tabel
juga lengkap dan jelas. Hal ini disebabkan karena
guru membimbing siswa lebih intensif dan
menampilkan kembali beberapa contoh tabel.
Pada tahap analisis data Siklus 3,
sebagian besar siswa tidak mengalami
kebingungan dan kesulitan yang berarti dalam
mengerjakan LKS sehingga bimbingan yang
dilakukan
guru
sedikit.
Siswa
dapat
menyelesaikan pertanyaan yang ada baik secara
individual maupun dengan berdiskusi kelompok.
Pada Siklus 3, jawaban pertanyaan siswa lebih
lengkap dan jelas dibanding siklus sebelumnya.
Hal ini disebabkan karena guru lebih
meningkatkan
bimbingan
ketika
tahap
pelaksanaan eksperimen dan pengumpulan data.
Keterampilan mendiskusikan siswa tidak
mengalami peningkatan disebabkan karena
dilakukan penggabungan kelompok sehingga
beberapa siswa justru mengobrol di luar konteks
dan ramai.
Pada tahap akhir metode eksperimen yaitu
penarikan kesimpulan, guru terlebih dahulu
bertanya tentang cara penarikan kesimpulan pada
siswa. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui
pemahaman siswa. Pada Siklus 3, siswa sudah
memiliki pengalaman dari siklus sebelumnya
sehingga penarikan kesimpulan yang dilakukan
oleh sebagian siswa sudah sesuai dengan tujuan
dan
data
eksperimen.
Bimbingan
dan

6 Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains Edisi ... Tahun ..ke.. 20...

pendampingan dilakukan guru agar kesimpulan


yang dibuat sesuai dengan tujuan dan data
eksperimen. Namun kondisi siswa yang ramai
dan
kurang
fokus
dikarenakan
terjadi
penggabungan kelompok membuat bimbingan
yang diberikan guru tidak berjalan optimal. Hal
tersebut menyebabkan peningkatan keterampilan
menarik kesimpulan tidak besar.
Berdasarkan penelitian tindakan kelas
yang telah dilakukan, telah terbukti bahwa
keterampilan proses siswa meningkat mulai dari
Siklus 1 hingga Siklus 3 dengan diterapkannya
metode eksperimen pada pembelajaran IPA. Hal
tersebut sesuai dengan pendapat Soetardjo yang
dikutip oleh Patta Bundu (2006:30) bahwa
pelaksanaan eksperimen melibatkan seluruh atau
beberapa keterampilan proses. Setiap tahapan dari
metode eksperimen berpotensi untuk melatihkan
keterampilan proses pada siswa. Pada tahap awal
eksperimen, siswa merumuskan hipotesis tentang
penyelidikan yang akan dilakukan. Ketika siswa
melaksanakan prosedur eksperimen, siswa
melakukan observasi terhadap gejala yang
muncul sekaligus mengumpulkan data. Pada saat
pengumpulan data, keterampilan membuat tabel
pun
juga
muncul.
Keterampilan
mengkomunikasikan dapat terlihat selama
pelaksanaan metode ekperimen karena kegiatan
dilakukan secara berkelompok. Tahap akhir dari
metode eksperimen melatihkan keterampilan
menarik kesimpulan.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan diperoleh simpulan bahwa metode
eksperimen dapat meningkatkan keterampilan
proses siswa melalui tahapan yang dilakukan
pada pembelajaran yaitu meliputi penyusunan
hipotesis,
pelaksanaan
ekperimen
dan
pengumpulan data melalui observasi, analisis data

dengan menjawab pertanyaan yang terdapat pada


LKS, dan penarikan kesimpulan. Skor
keterampilan
proses
siswa
mengalami
peningkatan dari 70,70% pada Siklus 1 menjadi
89,31 pada Siklus 2 dan sebesar 92,36% pada
Siklus 3.
Saran
Bagi Guru
Metode eksperimen perlu diterapkan pada
pembelajaran bagi siswa dengan keterampilan
proses rendah. Metode eksperimen dapat
dijadikan
salah
satu
alternatif
untuk
meningkatkan keterampilan proses siswa.
Bagi Peneliti
Peneliti
selanjutnya
sebaiknya
melaksanakan eskperimen dengan kelompok
kecil yang beranggotakan 3 orang. Hal ini
membuat pembelajaran lebih kondusif. Selain itu,
peneliti selanjutnya hendaknya mempersiapkan
alat dan bahan yang akan digunakan agar tidak
mengganggu rencana pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA
Carin, Arthur A and Sund, Robert B. (1989).
Teaching Science Through Discovery. Ohio:
Merril Publishing Company
Conny Semiawan, dkk. (1992). Pendekatan
Keterampilan Proses. Jakarta: Grasindo
Nana Sudjana. (2004). Dasar-Dasar Proses
Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Algesindo.
Ngalim Purwanto. (2006). Prinsip-Prinsip dan
Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Pusat Kurikulum. (2006). Panduan
Pengembangan Pembelajaran IPA Terpadu.
Jakarta: Balitbang, Depdiknas