Anda di halaman 1dari 3

ETIOLOGI KEJANG

Kejang adalah perubahan fungsi otak mendadak dan sementara sebagai akibat dari aktifitas
neuronal yang abnormal dan sebagai pelepasan listrik serebral yang berlebihan. Aktivitas
ini bersifat dapat parsial atau vokal, berasal dari daerah spesifik korteks serebri, atau
umum,melibatkan kedua hemisfer otak. Manifestasi jenis ini bervariasi, tergantung bagian otak
yang terkena
Penyebab kejang mencakup factor-faktor perinatal, malformasi otak congenital,
factor genetic, penyakit infeksi (ensefalitis, meningitis), penyakit demam, gangguan
metabolisme,trauma, neoplasma, toksin, gangguan sirkulasi, dan penyakit degeneratif susunan
saraf.Kejang disebut idiopatik bila tidak dapat ditemukan penyebabnya.
1. System metabolic
a. Hiponatremia yang terjadi bila :
Jumlah asupan cairan melebihi kemampuan ekskresi
Ketidakmampuan menekan sekresi ADH
Ketidakmampuan sekresi ADH (mis: pada kehilangan cairan melalui saluran
cerna atau gagal jantung atau sirosis hati).Hiponatremia dengan gejala berat
(misal: penurunan kesadaran dan kejang) yang terjadi akibat adanya edema sel
otak karena air dari ekstrasel masuk ke intrasel yang osmolalitasnya lebih tinggi
digolongkan sebagai hiponatremia akut (hiponatremia simptomatik). Sebaliknya
bila gejalanya hanya ringan saja (misal : lemas dan mengantuk ) maka ini masuk
dalam kategori kronik. (hiponatremia asimptomatik). Penatalaksaan mencari
sebab hiponatremi. Kemudianj koreksi Na berdasarkan kategori hiponatreminya.
b. Hipernatremia terjadi saat kekurangan air yang tidak diatasi dengan baik, misalnya
pada orang dengan usia lanjut atau penderita diabetes insipidus. Oleh karena air
keluar maka volume otak mengecil dan menimbulkan robekan pada vena
menyebabkan perdarahan local dan subarachnoid. Setelah etiologi ditetapkan, maka
langkah penatalaksanaan berikutnya ialah mencoba menurunkan kadar Na dalam
plasma ke arah normal. Pada diabetes insipidus, sasaran pengobatan adalah
mengurangi volume urin. Bila penyebabnya adalah asupan Na berlebihan maka
pemberian Na dihentikan
2. Intoksikasi dan efek obat
Penegakan diagnose pasti penyebab keracunan cukup sulit karena diperlukan sarana
laboratorium toksikologi sehingga dibutuhkan autoanamnesa dan aloanamnesis yang
cukup cermat serta bukti bukti yang diperoleh ditempat kejadian. Selanjutnya pada
pemeriksaan fisik harus ditemukan dugaan tempat masuknya racun. Penemuan klinis
seperti ukuran pupil mata, frekuensi nafas dan denyut jantung mungkin dapat membantu
penegakan diagnosis pada pasien dengan penurunan kesadaran. Pemeriksaan penunjang
berupa analisa toksikologi harus dilakukan sedini mungkindengan sampel berupa 50 ml

3.

4.

5.

6.

urin, 10 ml serum, bahan muntahan, feses. Pemeriksaanlain seperti radiologis,


laboratorium klinik, dan EKG juga perlu dilakukan. Adapun standar penatalaksanaan dari
intoksikasi yaitu stabilisasi, dekontaminasi, eliminasi,dan pemberian antidotum
Beberapa obat dapat menimbulkan serangan seperti penggunaan obat-obat depresan
trisiklik, obat tidur (sedatif) atau fenotiasin. Menghentikan obat-obatan penenang atau
sedative secara mendadak seperti barbiturat dan valium juga dapat mencetuskan kejang.
Tumor
Kira-kira 10% dari semua proses neoplasmatik di seluruh tubuh ditemukan pada susunan
saraf dan selaputnya, 8% di antaranya berlokasi di ruang intrakranial dan 2%sisanya di
ruang kanalis spinalis. Dengan kata lain 3-7 dari 100.000 orang penduduk mempunyai neoplasma
saraf primer. Urutan frekuensi neoplasma intrakranial yaitu :Glioma (41%), Meningioma
(17%), Adenoma hipofisis (13%), Neurilemoma /neurofibroma (12%), Neoplasma
metastatik dan neoplasma pembuluh darah serebral.Pembagian tumor dalam kelompok
benigna dan maligna tidak berpengaruh secara mutlak bagi tumor intrakranial oleh karena
tumor benigna secara histologik dapat menduduki tempat yang vital, sehingga
menimbulkan kematian dalam waktu singkat
Simptomatologi tumor intracranial:
a. Gangguan kesadaran akibat tekanan intracranial yang meninggi
b. Gejala-gejala umum akibat tekanan intracranial yang meninggi
Sakit kepala
Muntah
Kejang : Kejang fokal dapat merupakan manifestasi pertama tumor intrakranial pada
15% penderita. Meningioma pada konveksitas otak sering menimbulkan kejang fokal
sebagai gejala dini. Kejang umum dapat timbulsebagai manifestasi tekanan
intrakranial yang melonjak secara cepat, terutama sebagai menifestasi glioblastoma
multiforme. Kejang tonik yang sesuai dengan serangan rigiditas deserebrasi biasanya
timbul pada tumor di fossa kranii posterior dan secara tidak tepat dinamakan oleh
para ahli neurologi dahulu sebagaicerebellar fits
Gangguan mental
Infeksi
Infeksi pada susunan saraf dapat berupa meningitis atau abses dalam bentuk empyema
epidural, subdural atau abses otak. Infeksi biasanya disertai dengan demam. Klasifikasi
lain membahas menurut jenis kuman yang mencakup sekaligus diagnosa kausal 1) Infeksi
viral 2) Infeksi bacterial 3) Infeksi spiroketal 4) Infeksi fungal 5) Infeksi protozoal 6)
Infeksi metazoal
Penyakit serebrovaskuler
Penyakit serebrovaskuler dan serangan otak sering digunakan secara sinonim untuk
stroke konvulsi umum atau fokal dapat bangkit baik pada stroke hemoragik maupun
stroke non hemoragik.
Epilepsi
Epilepsy ialah manifestasi gangguan otak dengan berbagai etiologi namun dengan gejala
tunggal yang khas, yaitu serangan kejang berkala yang disebabkan oleh lepas muatan

listrik neuron kortikal secara berlebihan kronik otak dengan ciri timbulnnya gejala-gejala
yang dating dalam serangan serangan berulang ulang yang disebabkan lepas muatan
listrik abnormal sel- sel saraf otak yang bersifat reversible.
7. Trauma
Kejang dapat terjadi setelah cedera kepala dan harus segera diatasi karena akan
menyebabkan hipoksia otak dan kenaikan tekanan intrakranial serta memperberat edem
otak. Mula-mula berikan diazepam 10 mg intravena perlahan-lahan dan dapatdiulangi
sampai 3 kali bila masih kejang. Bila tidak berhasil dapat diberikan fenitoin15 mg/kgBB
secara intravena perlahan-lahan dengan kecepatan tidak melebihi 50mg/menit