Anda di halaman 1dari 51

FAKTOR DAYA

I.

DASAR TEORI

1. Daya
Secara umum, pengertian daya adalah energi yang dikeluarkan untuk melakukan usaha.
Dalam sistem tenaga listrik, daya merupakan jumlah energi listrik yang digunakan untuk melakukan
usaha. Daya listrik biasanya dinyatakan dalam satuan Watt.
P = VI
Terdapat tiga macam daya yaitu :
1. Daya aktif (P)
Daya aktif adalah daya yang terpakai untuk melakukan usaha atau energi sebenarnya.
Satuan daya aktif adalah watt.
P1 = V I cos
2. Daya reaktif (Q)
Daya Reaktif (reactive power) adalah daya yang di suplai oleh komponen reaktif. Satuan daya
reaktif adalah VAR.
Q1 = V I sin
3. Daya semu (S)
Daya semu (apparent power) adalah daya yang dihasilkan oleh perkalian antara tegangan rms
(Vrms) dan arus rms (Irms) dalam suatu jaringan atau daya yang merupakan hasil penjumlahan
trigonometri antara daya aktif dan daya reaktif. Satuan daya nyata adalah VA.

2. Faktor Daya

Faktor daya yang dinotasikan sebagai cos didefinisikan sebagai perbandingan antara arus
yang dapat menghasilkan kerja didalam suatu rangkaian terhadap arus total yang masuk kedalam
rangkaian atau dapat dikatakan sebagai perbandingan daya aktif (kW) dan daya semu (kVA). Daya
reaktif yang tinggi akan meningkatkan sudut ini dan sebagai hasilnya faktor daya akan menjadi lebih
rendah. Faktor daya selalu lebih kecil atau sama dengan satu.

Dalam sistem tenaga listrik dikenal 3 jenis faktor daya yaitu faktor daya unity, faktor daya
terbelakang (lagging) dan faktor daya terdahulu (leading) yang ditentukan oleh jenis beban yang ada
pada sistem.
1. Faktor Daya Unity
Faktor daya unity adalah keadaan saat nilai cos adalah satu dan tegangan sephasa dengan
arus. Faktor daya Unity akan terjadi bila jenis beban adalah resistif murni

Gambar 1 Arus Sephasa Dengan Tegangan


Pada Gambar terlihat nilai cos sama dengan 1, yang menyebabkan jumlah daya nyata yang
dikonsumsi beban sama dengan daya semu.
2.

Faktor Daya Terbelakang (Lagging)


Faktor daya terbelakang (lagging) adalah keadaan faktor daya saat memiliki kondisi-kondisi sebagai
berikut :
1. Beban/ peralatan listrik memerlukan daya reaktif dari sistem atau beban bersifat induktif.
2. Arus (I ) terbelakang dari tegangan (V), V mendahului I dengan sudut

Gambar 2 Arus tertinggal dari tegangan sebesar sudut

Dari Gambar terlihat bahwa arus tertinggal dari tegangan maka daya reaktif mendahului daya
semu, berarti beban membutuhkan atau menerima daya reaktif dari sistem.
3.

Faktor Daya Mendahului (Leading)


Faktor daya mendahului (leading) adalah keadaan faktor daya saat memiliki kondisi-kondisi sebagai
berikut :
1. Beban/ peralatan listrik memberikan daya reaktif dari sistem atau beban bersifat kapasitif.
2. Arus mendahului tegangan, V terbelakang dari I dengan sudut

Gambar 3 Arus Mendahului Tegangan Sebesar Sudut


Dari Gambar terlihat bahwa arus mendahului tegangan maka daya reaktif tertinggal dari daya
semu, berarti beban memberikan daya reaktif kepada sistem.

3. Penyebab Faktor Daya Rendah

Hal-hal yang menyebabkan faktor daya bernilai rendah, diantaranya penggunaan beban induktif
berupa :
1. Transformator,
2. Motor induksi,
3. Generator Iiduksi, dan
4. Lampu TL.

4. Alasan Faktor Daya Diperbaiki

Beberapa alasan mengapa besarnya faktor daya harus diperbaiki, diantaranya :


1. Mengurangi biaya pengoperasian peralatan listrik,
2. Meningkatkan kapasitas sistem dan mengurangi rugi-rugi pada sistem yang dioperasikan, dan
3. Mengurangi besarnya tegangan jatuh yang biasa disebabkan pada saat transmisi daya.

5. Kapasitor Bank

Kapasitor merupakan komponen yang hanya dapat menyimpan dan memberikan energi yang
terbatas sesuai dengan kapsitasnya. Pada dasarnya kapasitor tersusun oleh dua keping sejajar yang

disebut electrodes yang dipisahkan oleh suatu ruangan yang disebut dielectric yang pada saat diberi
tegangan akan menyimpan energi.
Dalam sistem tenaga listrik kapasitor sering digunakan untuk memperbaiki tegangan jaringan
dan untuk menyuplai daya reaktif ke beban yang berfungsi untuk memperbaiki nilai faktor daya dari
sistem. Dalam perbaikan faktor daya kapasitor-kapasitor dirangkai dalam suatu panel yang
disebut capacitor bank. Selain itu kapasitor bankdapat juga digunakan untuk aplikasi lain yaitu filter
harmonisa, proteksi terhadap petir, untuk transformer testing, generator impuls, voltage divider
kapasitor.

5. Metoda Pemasangan Instalasi Kapasitor Bank


Metode pemasangan kapasitor tergantung dari fungsi yang diinginkan. Cara pemasangan
instalasi kapasitor dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu : global compensation, individual
compensation, group compensation.

Gambar 4 Metode Pemasangan Instalasi Kapasitor Bank


1. Global Compensation
Dengan metode ini kapasitor dipasang di induk panel (MDP). Arus yang turun dari
pemasangan model ini hanya di penghantar antara panel MDP dan transformator. Sedangkan arus
yang lewat setelah MDP tidak turun dengan demikian rugi akibat disipasi panas pada penghantar
setelah MDP tidak terpengaruh. Terlebih instalasi tenaga dengan penghantar yang cukup panjang
Delta Voltagenya masih cukup besar.
Kelebihan :

Pemanfaatan kompensasi daya reaktifnya lebih baik karena semua motor tidak bekerja pada waktu
yang sama.

Biaya pemeliharaan rendah.


Kekurangan :

Switching peralatan pengaman bisa menimbulkan ledakan.

Transient yang disebabkan oleh energizing grup kapasitor dalam jumlah besar.

Hanya memberikan kompensasi pada sisi atasnya (upstream).

Kebutuhan ruang.

2.

3.

Group Compensation
Dengan metoda ini kapasitor yang terdiri dari beberapa panel kapasitor dipasang dipanel SDP.
Cara ini cocok diterapkan pada industri dengan kapasitas beban terpasang besar sampai ribuan kva
dan terlebih jarak antara panel MDP dan SDP cukup berjauhan.
Kelebihan :
Biaya pemasangan rendah.
Kapasitansi pemasangan bisa dimanfaatkan sepenuhnya.
Biaya pemilaharaan rendah.
Kekurangan :
Perlu dipasang kapasitor bank pada setiap SDP atau MV/LV bus.
Hanya memberikan kompensasi pada sisi atas.
Kebutuhan ruangan
Individual Compensation
Dengan metoda ini kapasitor langsung dipasang pada masing masing beban khususnya yang
mempunyai daya yang besar. Cara ini sebenarnya lebih efektif dan lebih baik dari segi teknisnya.
Namun ada kekurangan nya yaitu harus menyediakan ruang atau tempat khusus untuk meletakkan
kapasitor tersebut sehingga mengurangi nilai estetika. Disamping itu jika mesin yang dipasang
sampai ratusan buah berarti total cost yang di perlukan lebih besar dari metode diatas.
Kelebihan :
Meningkatkan kapasitas saluran suplai.
Memperbaiki tegangan secara langsung.
Kapasitor dan beban ON/OFF secara bersamaan.
Pemeliharaan dan pemasangan unit kapasitor mudah.
Kekurangan :
Biaya pemasangan tinggi.
Membutuhkan perhitungan yang banyak
Kapasitas terpasang tidak dimanfaatkan sepenuhnya
Terjadi fenomena transient yang besar akibat sering dilakukan switching ON/OFF.
Waktu kapasitor OFF lebih banyak dibanding waktu kapasitor ON

6. Contoh Panel dan Macam-macam Kapasitor Bank


1. Panel Capasitor Bank
(Panel Kapasitor Bank) 20KVAR 1 Unit 1,962.50
2. Panel Capasitor Bank
(Panel Kapasitor Bank) 425KVAR 1 Unit 15,755.00
3. Panel Capasitor Bank
(Panel Kapasitor Bank) 350KVAR 1 Unit 12,929.30
4. Panel Capasitor Bank
(Panel Kapasitor Bank) 50KVAR 1 Unit 2,467.50
5. Panel Capasitor Bank

(Panel Kapasitor Bank) 7.5KVAR 1 Unit 1,457.00

6. Panel Capasitor Bank


(Panel Kapasitor Bank) 100KVAR 1 Unit 4,084.00
7. Panel Capasitor Bank
(Panel Kapasitor Bank) 30KVAR 1 Unit 1,916.00
8. Panel Capasitor Bank
(Panel Kapasitor Bank) 25KVAR 1 Unit 1,694.80
Daftar Harga Kapasitor Bank Merek ' SCHNEIDER'
I. Type VarplusCan Standard Duty
1. 10.4 KVAR 400V = Rp. 1.105.000, 2. 12.5 KVAR 400V = Rp. 1.301.000, 3. 15 KVAR 400V = Rp. 1.496.000, 4. 20 KVAR 400V = Rp. 1.754.000, 5. 25 KVAR 400V = Rp. 1.978.000, 6. 50 KVAR 400V = Rp. 3.956.000, 7. 100 KVAR 400V = Rp. 7.912.000, II. Type VarplusCan Heavy Duty
1. 10.4 KVAR 400V = Rp. 1.382.000, 2. 12.5 KVAR 400V = Rp. 1.626.000, 3. 15 KVAR 400V = Rp. 1.870.000, 4. 20 KVAR 400V = Rp. 2.192.000, 5. 25 KVAR 400V = Rp. 2.473.000, 6. 50 KVAR 400V = Rp. 4.946.000, 7. 100 KVAR 400V = Rp. 9.892.000, III. Type VarplusCan Heavy Duty
1. 20 KVAR 525V = Rp. 2.056.000, 2. 40 KVAR 525V = Rp. 3.526.000, 3. 80 KVAR 525V = Rp. 7.054.000, 4. 160 KVAR 525V = Rp. 14.109.000, IV. Type VarplusBox Heavy Duty
1. 10.4 KVAR 400V = Rp. 1.454.000, -

2. 12.5 KVAR 400V = Rp. 1.711.000, 3. 15 KVAR 400V = Rp. 1.969.000, 4. 20 KVAR 400V = Rp. 2.307.000, 5. 25 KVAR 400V = Rp. 2.602.000, 6. 50 KVAR 400V = Rp. 4.374.000, 7. 75 KVAR 400V = Rp. 6.446.000, 8. 100 KVAR 400V = Rp. 8.746.000, V. Type VarplusBox Heavy Duty
1. 20 KVAR 525V = Rp. 2.164.000, 2. 40 KVAR 525V = Rp. 3.712.000, 3. 80 KVAR 525V = Rp. 7.197.000, 4. 160 KVAR 525V = Rp. 14.396.000, -

II.PEMBAHASAN DAN KASUS


1. Kasus sederhana
Sebuah lampu 20Watt terhubung pada tegangan listrik 220V, (dengan faktor daya=0.766, kalau
dihitung pakai kalkulator ketemu 40 derajat, dan sin =0.643) maka:
Pnyata = V * I * cos
Sehingga I = Pnyata / (V * cos )
= 20 / (220 * 0.766)
= 0.119 Ampere
Nilai inilah yang ditunjuk oleh ampere meter!
Psemu = V * I
= 220 * 0.119
= 26,11 VA
Pbuta = V * I * sin
= 220 * 0.119 * 0.643
= 16.83 VAR
Kemudian dipasangkan kapasitor (yang ternyata disebut-sebut sebagai alat penghemat listrik itu),
sehingga faktor dayanya naik menjadi 0.940, (kalau dihitung dengan kalkulator ketemu 20 derajat
dengan sin = 0.342), maka kalau digambarkan lagi menjadi:
Pnyata = V * I * cos
Sehingga I = Pnyata / (V * cos )
= 20 / (220 * 0.940)
= 0.097 Ampere
Nilai inilah yang ditunjuk oleh ampere meter!
Psemu = V * I
= 220 * 0.097
= 21.27 VA
Pbuta = V * I * sin
= 220 * 0.097 * 0.342
= 7.30 VAR
Terus berapa nilai kapasitor yang ditambahkan oleh alat penghemat tadi, yaitu: 16.83 VAR-7.30 VAR
= 9.53 VAR.

2. Kasus Diindustri (PT. ASIAN PROFILE INDOSTEEL)

Pabrik memasang sebuah trafo 1500 kVA. Kebutuhan parik pada mulanya 1160 kVA dengan faktor
daya 0,70. Persentase pembebanan trafo sekitar 78 persen (1160/1500 = 77.3 persen).
Untuk memperbaiki faktor daya dan untuk mencegah denda oleh pemasok listrik, pabrik
menambahkan sekitar 425 kVAr pada beban motor. Hal ini meningkatkan faktor daya hingga 0,9,
dan mengurangi kVA yang diperlukan menjadi 902 kVA, yang merupakan penjumlahan vektor kW

dankVAr. Trafo 1500 kVA kemudian hanya berbeban 60 persen dari kapasitasnya. Sehingga pabrik
akan dapat menambah beban pada trafonya dimasa mendatang.
P(aktif) = V * I * cos
= 1160 * 0.70
= 812 KW
P(aktif) = V * I * cos
Sehingga I = P(aktif) / (V * cos )
= 812 / (220 * 0.70)
= 5.27272 KA
Nilai inilah yang ditunjuk oleh ampere meter.
P(semu) = V * I
= 220 * 5.27272
= 1160 KVA
P(reaktif) = V * I * sin
= 220 * 5.27272* 0.71
= 828 KVAR
P(aktif) = V * I * cos
812= 220 * I * 0.90
I = 4.10 KA
P(semu) = V * I
= 220 * 4.10
= 902 KVA
P(reaktif) = V * I * sin
= 220 * 4.10 * 0.48
= 437,29 KVAR
Maka capasitor yang dibutuhkan sebesar 828 KVAR-437,29 KVAR =390.71 KVAR
Yang akan dipasang diIndustri ini adalah (Panel Kapasitor Bank) 425KVAR 1 Unit 15,755.00

Diposkan 6th April 2012 oleh muhammadrizal22


Label: Tugas
7

Lihat komentar
1.
Irwan29 Maret 2013 19.14

Just
correction
mas:
Pada sytem 3 fasa seperti contoh diatas, persamaan yang harusnya digunakan adalah persamaan untuk
listrik
3
fasa,
yaitu:
P
=
1.732*380*I*cos
phi
contoh
pada
perhitungan
kasus
2:
P
aktif=812
KW
P=1.732*Vp-p*I*cosphi
I=812/(1.732*380*0.7)
I=1.762
A
Dst.
Semoga bermanfaat
Balas
2.
Asep S6 Agustus 2013 23.44
Gan mau tanya, apakah sudah ada/dibuat pabrik alat pemutus aliran listrik ketika tegangan listrik di
rumah tiba-tiba naik/berlebih kalo ada apa nama alatnya dan di mana bisa pesan.
Mohon

info

ke

asepsp@gmail.com

Terima

kasih,

ttd.
Asep S.
Balas
Balasan

1.
Unknown6 Oktober 2013 10.17
Pak
asep,
MCB yang terpasang di KWH metering kan fungsinya jg buat pemutus arus listrik kalau terjadi over
current.
2.
Romi Hidayat5 April 2014 22.00
knapa ga pake under/over aja itu bagus buat memutuskan ketika listrik kita voltage nya naik/turun. uper
voltage/under voltage bisa di setting tergatung kebutuhan....

Balas

Fikri Ramadhani7 Maret 2014 22.11


gan, ini proses terjadinya lagging dan leading gimana? mohon bantuannya gan
Balas
Balasan

3.
muhammadrizal222 April 2014 11.43
tergantung beban yang ada, kalau induktif lagging dan kalau bebannya kapasitif akan leading

4.
Pristian Firzatama20 Mei 2014 09.05
Gan ketika mengukur daya dengan beban yang semakin besar. Apakah faktor daya nya akan semakin
besar
juga
atau
semakin
kecil?
Adakah hubungan antara faktor daya dengan beban yg diukur?

Karakteristik Beban Pada Sistem Arus Listrik BolakBalik (AC)


Karakteristik Beban AC
Dalam sistem listrik arus bolak-balik, jenis beban dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam, yaitu :
1.
2.
3.

Beban resistif (R)


Beban induktif (L)
Beban kapasitif (C)

1. Beban Resistif (R)


Beban resistif (R) yaitu beban yang terdiri dari komponen tahanan ohm saja (resistance), seperti elemen
pemanas (heating element) dan lampu pijar. Beban jenis ini hanya mengkonsumsi beban aktif saja dan

mempunyai faktor daya sama dengan satu. Tegangan dan arus sefasa. Persamaan daya sebagai
berikut :
P = VI
Dengan :
P = daya aktif yang diserap beban (watt)
V = tegangan yang mencatu beban (volt)
I = arus yang mengalir pada beban (A)

Gambar 1 Rangkaian Resistif Gelombang AC

Gambar 2 Grafik Arus dan Tegangan Pada Beban Resistif


2. Beban Induktif (L)
Beban induktif (L) yaitu beban yang terdiri dari kumparat kawat yang dililitkan pada suatu inti, seperti coil,
transformator, dan solenoida. Beban ini dapat mengakibatkan pergeseran fasa (phase shift) pada arus
sehingga bersifat lagging. Hal ini disebabkan oleh energi yang tersimpan berupa medan magnetis akan
mengakibatkan fasa arus bergeser menjadi tertinggal terhadap tegangan. Beban jenis ini menyerap daya
aktif dan daya reaktif. Persamaan daya aktif untuk beban induktif adalah sebagai berikut :
P = VI cos
Dengan :
P = daya aktif yang diserap beban (watt)

V = tegangan yang mencatu beban (volt)


I = arus yang mengalir pada beban (A)
= sudut antara arus dan tegangan

Gambar 3 Rangkaian Induktif Gelombang AC

Gambar 4 Grafik Arus dan Tegangan Pada Beban Induktif


Untuk menghitung besarnya rektansi induktif (XL), dapat digunakan rumus :

Dengan :
XL = reaktansi induktif
F = frekuensi (Hz)
L = induktansi (Henry)
3. Beban Kapasitif (C)

Beban kapasitif (C) yaitu beban yang memiliki kemampuan kapasitansi atau kemampuan untuk
menyimpan energi yang berasal dari pengisian elektrik (electrical discharge) pada suatu sirkuit.
Komponen ini dapat menyebabkan arus leading terhadap tegangan. Beban jenis ini menyerap daya aktif
dan mengeluarkan daya reaktif. Persamaan daya aktif untuk beban induktif adalah sebagai berikut :
P = VI cos
Dengan :
P = daya aktif yang diserap beban (watt)
V= tegangan yang mencatu beban (volt)
I = arus yang mengalir pada beban (A)
= sudut antara arus dan tegangan

Gambar 5 Rangkaian Kapasitif Gelombang AC

Gambar 6 Grafik Arus dan Tegangan Pada Beban Kapasitif


Untuk menghitung besarnya rektansi kapasitif (XC), dapat digunakan rumus :

Dengan :

XL = reaktansi kapasitif
f = frekuensi
C = kapasitansi (Farad)

Pengertian Faktor Daya


Apa yang dimaksud Faktor Daya (power factor)?

Faktor Daya merupakan

karakteristik dari arus bolak balik (AC : Alternating Current) yanga dapat di difinisi
kansebagai rasio dari daya kerja terhadap total daya.

Beberapa hal yang

berhubungan dengan arus bolak balik (AC) adalah sebagai berikut:


1.

Real Power yaitu power yang menghasilkan kerja (kW)

2.

Available Power yaitu total daya yang digunakan (kVA)

3.

Reactive Power yaitu daya yang dibutuhkan untuk menghasilkan medan magnet
yang di butuhkan untuk mengoperasikan peralatan listrik induktif (kVAR)
Hubungan antara faktor daya (power factor), real factor, available power danreactive
power adalah sebagai berikut:
Power factor = Real Factor / Available Factor = kW / kVA
Power factor biasanya ditulis sebagai persentase (%) dan bisa juga dalam decimal
(x,xx). Factor daya yang penuh/sempurna, bisa di anggap factor daya 100% atau 1.0.

Apa yang di maksud koreksi factor daya ( Power


Factor Correction)?

Sebuah beban dengan faktor daya tertulis 1,0 adalah beban yang

paling efisien dari total daya yang tersedia sementara beban untuk faktor daya yang
tertulis 0,6 adalah beban yang memiliki kerugian tinggi. Hal ini berpengaruh kepada
nilai tagihan listrik dari pemasok daya. Karena hal hal tersebut maka di perlukan
modifikasi pada sistem distribusi daya sehingga bisa memperoleh nilai kerugian yang
mengecil dan itulah yang di maksud koreksi faktor daya.

Cara penerapan koreksi faktor daya


Koreksi faktor daya juga di sebut koreksi statis hal ini bisa di lakukan dengan
penambahan kapasitor yang di pasang secara paralel dengan rangkaian distribusi daya .
Pada prinsipnya cara ini adalah pembatalan arus induktif yang mengalir dari suplai/
pemasok daya. Pada artikel Kapasitor Bank dijelaskan hitungan detail dari hal ini.
Kapasitor dapat diterapkan pada starter atau panel switchboard distribusi utama .
Namun koreksi ini tidak berlaku untuk peralatan peralatan yang menggunakan variable
speed driver terutama pada motor.

Dengan pemakaian rangkaian kapasitor bank

dapat di pantau dengan pengontrol otomatis untuk mempertahankan faktor daya sesuai
pengaturan yang ditetapkan. Kontrol di dalam panel kapasitor bank akan mendeteksi
nilai dari faktor daya pada seluruh distribusi kemudian menyimpulkan dalam keputusan
ON/OFF koneksi kapasitor bank dengan rangkaian distribusi daya utama.

Apa yang di maksud beban induktif?


Beban induktif adalah peralatan listrik yang memberikan beban induktif misalnya
lampu, pemanas listrik, mesin las, trafo dan motor listrik (tanpa variable speed driver).

Apa manfaat dari lain dari koreksi factor daya?

Selain untuk menghemat daya listrik yang berpengaruh pada tagihan dari pemasok
listrik, koreksi faktor daya juga mem-backup kondisi tegangan, maksudnya adalah pada
saat tegangan pasokan daya menurun maka dapat membantu men-stabilkan kembali
pada tegangan yang yang di butuhkan, dan sebaliknya koreksi faktor daya dapat
meredam hentakan tegangan yang tiba tiba naik.

Kecuali itu koreksi faktor daya

menjadi pertimbangan nilai secara ekonomis dalam desain distribusi daya, pengurangan
ukuran transformator , switch-gear dan diameter kabel.

Diskusi#070314 Penggunaan Kapasitor Bank di Rumah


Published March 7, 2014 | By ILR
Rangkuman diskusi kali ini adalah mengenai kapasitor bank. Sumber diskusi ada di sini.
Pertanyaan :
Ada teman yg menawarkan penggunaan kapasitor bank untuk dipasang di instalasi rumah,
katanya sih bayar listriknya bisa lebih murahapa benar seperti itu dan bagaimana sih cara
kerja kapasitor bank?
**

Respon#1 gk.elektrikal :
Kapasitor bank berfungsi untuk mengurangi beban induktif dari peralatan-peralatan rumah
tangga yang memakai kumparan/lilitan, contohnya lampu neon, pompa air, motor listrik,
mesin cuci dan lain sebagainya.
Respon#2 gk.elektrikal :

Proses Kerja Kapasitor


Kapasitor dipasang paralel dengan rangkaian beban. Bila rangkaian itu diberi tegangan
maka elektron akan mengalir masuk ke kapasitor. Pada saat kapasitor penuh dengan
muatan elektron maka tegangan akan berubah. Kemudian elektron akan ke luar dari
kapasitor dan mengalir ke dalam rangkaian yang memerlukannya, dengan demikian pada
saat itu kapasitor membangkitkan daya reaktif. Bila tegangan yang berubah itu kembali
normal maka kapasitor akan menyimpan kembali elektron. Pada saat kapasitor
mengeluarkan elektron berarti sama juga kapasitor menyuplai daya reaktif ke beban.
Karena beban bersifat induktif/+ sedangkan daya reaktif bersifat kapasitif/- , akibatnya
daya reaktif yang berlaku menjadi kecil. Intinya kapasitor dapat mengurangi
lonjakan/hentakan daya listrik, karena kapasitor dapat menyimpan suatu daya listrik.
Semoga Bermanfaat
Respon#3 ur.urief :
wah, masuk juga nih, berarti sama dg penggunaan tandon dalam instalasi air bersih
Respon#4 gk.elektrikal :
Betul mas tapi penggunaan kapasitor bank sama dengan penggunaan ELCB, yaitu saat ini
harganya relatif masih mahal. Karena rangkaian kapasitor bank membutuhkan komponen
seperti main switch, capasitor breaker,contactor, capasitor bank dan reactive power
regulator. Walaupun tidak perlu selengkap itu. Semoga bermanfaat.
Respon#5 frizal :
Sebetulnya nggak pengaruh dengan bayar listrik. Karena yang dibayar adalah kWh, yaitu
daya aktif dalam watt.
Sedangkan kapasitor memperbaiki faktor daya yg berpengaruh pada daya reaktif (VAR) dan
daya semu (VA).
Misalnya satu rumah menggunakan daya 1000 watt, dengan faktor daya 0.5 maka daya
semu terpakai 1000/0.5 = 2000VA.
Dgn kapasitor, faktor daya diperbaiki menjadi 0.8 maka daya semu menjadi 1250VA.
Tapi kWh meter tetap menghitung yang 1000 Watt tadi.

Respon#6 gk.elektrikal :
Bukan berarti dengan penggunaan kapasitor bank tidak berpengaruh sama sekali mas,
contohnya ketika beban kumparan/lilitan tidak diberi kapasitor, akan terjadi lonjakan yg
sangat signifikan mas. Hanya saja memang pengaruhnya tidak begitu banyak, tidak
sebanding dengan harga pemasangan dan perawatan jika digunakan di perumahan.
Semoga Bermanfaat
Respon#7 ur.urief :
emmm, pantesan jarang sekali kita temui instalasi listrik rumah menggunakan kapasitor
bank, kalo melihat fungsinya alat ini banyak digunakan di dunia industri,,,
Respon#8 gk.elektrikal :
Betul mas. Kapasitor bank banyak digunakan di pabrik-pabrik yang menggunakan motor 3
phase atau 1 phase. Jadi fungsi kapasitor ketika terjadi angkatan/lonjakan, saat motor di
ON kan, arus motor dapat di stabilkan oleh kapasitor bank, sehingga sedikit meringankan
pengunaan listrik. Semoga bermanfaat
Respon#9 frizal :
GK Elektrikal : thanks ralatnya masiya memang ada pengaruhnya walau tidak signifikan.
Salah satunya mengurangi losses daya pada penghantar dan mengurangi arus total yang
melewati MCB.
=========================================================
=====================
**
Catatan ILR :
Kapasitor bank berfungsi sebagai penyuplai daya reaktif (VAR) untuk beban-beban induktif
seperti motor listrik (pompa air, mesin cuci, AC), ballast lampu dan trafo, yaitu peralatan
listrik yang memiliki kumparan. Daya reaktif ini diperlukan untuk pemagnetan di dalam
kumparan/lilitan. Sedangkan daya listrik yang dikonversikan menjadi tenaga disebut dengan

daya aktif (Watt). Untuk lebih jelasnya, bisa lihat artikel Daya Listrik PLN : 1300Watt atau
1300VA?.
Penggunaan kapasitor sebetulnya untuk memperbaiki faktor daya listrik, karena kapasitor
mengurangi daya reaktif yang mengalir dari PLN. Sekaligus juga mengurangi lonjakan daya
listrik saat start motor listrik.
Pada pelanggan listrik perumahan, penggunaan kapasitor bank ini tidak terlalu berpengaruh
pada biaya pemakaian listrik. Hal ini karena PLN tidak menerapkan denda/penalty atas
kelebihan pemakaian daya reaktif (VAR : Volt Ampere Reactive). Pemakaian daya reaktif
diukur dengan menggunakan kVARh-meter, dimana di perumahan hanya terpasang kWhmeter sebagai pengukur daya aktif. Jadi, dibandingkan dengan biaya pemasangan dan
perawatan, kapasitor bank ini tidak terlalu ekonomis untuk dipakai di perumahan.
Pengaruh yang cukup signifikan atas penggunaan kapasitor bank ini bisa dirasakan pada
pelanggan listrik industri/pabrik, oleh karena ada denda/penalty yang diterapkan oleh PLN
untuk kelebihan daya reaktif (VAR) berdasarkan pengukuran oleh kVARh-meter. Karena
kapasitor bank berfungsi menyuplai daya reaktif ke jaringan pelanggan sehingga
mengurangi pemakaian daya reaktif dari PLN dan bisa terhindar dari penalty.
**
Semoga rangkuman diskusi kali ini bisa bermanfaat untuk anda.
Salam,
ILR Team
**
Konten diskusi sangat mungkin untuk dikembangkan lagi. Anda bisa memberikan masukan
melalui bagian komentar atau dengan bergabung di grup diskusi ILR.
Untuk bergabung di grup diskusi ILR silahkan klik disini
Share this:

Email

inShare

Print

Posted in Grup Diskusi & Berbagi ILR | Tagged alat listrik, bayar listrik, biaya listrik, daya
aktif, daya listrik,hemat listrik, kapasitor, kapasitor bank, listrik, listrik naik, listrik
rumah, listrik rumah tangga, peralatan listrik,tarif listrik

7 Responses to Diskusi#070314 Penggunaan Kapasitor Bank di Rumah

Widiarto:
August 14, 2014 at 3:11 pm
Salam kenal, kalo motor listrik 20A 220V satu fase berapa ukuran kapasitor yang harus
dipakai
dengan
daya
listrik
4400VA
Terima kasih
Reply

Didik Wiryawan Adhi:


September 1, 2014 at 10:25 am
Salam
jumpa
dan
perkenalan
untuk
saudara
saudara
di
forum
ini.
Tentang capacitor bank, Contoh yang saya lakukan di bawah ini, selanjutnya silakan
disimpulkan
:
- Kondisi 1 : tegangan 215V,tanpa kapasitor 30uF/450VAC, terbaca arus 5,17A (beban
hanya AC dan kulkas)
- Kondisi 2 : tegangan 215Vdengan kapasitor 30uF terpasang di bersama di colokan beban
(kulkas),
arus
terbaca : 4,67A juga tampak putaran piringan pada meteran sedikit melambat.
Lepas dari teori yang dibayar adalah KWH-nya tanpa memperhatikan beban semu, namun
kenyataan arus lebih rendah dan putaran pringan meter melambat, apakah artinya itu juag
membuat
irit
pembayaran
rekening
PLN
?
Just
my
2
cents.
Terima kasih. Salam, Didik Wiryawan
Reply

Irwan:
September 27, 2014 at 6:02 am
Tambahan
untuk
Penggunaan
kapasitor:
1. Untuk pemakaian di rumah, kapasitor sebaiknya dicangkok pada beban artinya
kapasitor hanya akan ON jika beban ON. Beban yang perlu dipasang kapasitor hanya beban
induktif (misal motor jet pump) dan ukurannya pun harus sesuai dengan spesifikasi beban
tersebut. Kapasitor yang terlalu besar akan mengakibatkan arus yang mengalir menjadi
lebih besar bukan malah mengurangi arus.
2.
Untuk
contoh
dari
Pak
Didik:
Pada saat kompresor AC dan Kulkas bekerja, dengan pemasangan kapasitor memang arus
akan menjadi lebih kecil. Namun ketika suhu tercapai dan kompresor nya idle dengan
kondisi kapasitor tetap ON maka arus listrik yang mengalir akan menjadi lebih besar
dibandingkan ketika tanpa kapasitor.
3. Jika menggunakan KWH meter digital, akan dapat dengan jelas dilihat bahwa KWH
terukur akan sama nilainya untuk beban yang memakai Kapasitor ataupun tidak
4. Untuk Pemakaian di Industri, kapasitor lebih difungsikan untuk menghilangkan penalty
atau denda KVARH dari PLN. untuk fungsi lain tidak terlalu signifikan, misalnya:
a. Mengurangi arus start > di Industri, fungsi ini tidak bisa dilakukan oleh kapasitor bank.
Hal ini dikarenakan panel Automatic capacitor bank membutuhkan waktu 10 detik (settable)
untuk meng ON kan kapasitor sesuai kebutuhan, sedangkan arus start hanya berlangsung
pada beberapa mili second pertama. Untuk Arus start ini diatasi dengan rangkaian START
DELTA,
soft
starter
atau
Inverter
b. Mengurangi Losses > Umumnya Panel Kapasitor Bank dipasang di LVMDP yang jaraknya
tidak terlalu jauh dari Trafo. Artinya pengurangan Losses penghantar juga tidak terlalu
signifikan. Pengurangan arus karena kapasitor hanya sepanjang kabel dari LVMDP ke Trafo
(meter PLN) sedangkan arus dari LVMDP ke Beban tetap besar.
Semoga dapat menjadi tambahan pengetahuan..
Reply

suprayogi:
October 2, 2014 at 8:08 am
Sangat membantu infonya

Reply

iwan:
November 7, 2014 at 11:19 pm
salam kenal, di workshop saya dipasang kapasitorbank, yg banyak di jual di pasaran, ini
menurut saya sangt mnguntungkan, karna pemakaian kami lebih banyak pemakaian pada
mesin las, dan motor listrik,dengan di pakainya kapasitorbank, trip yg selalu pada mcb tak
terjadi lagi
Reply

Nurul Dini:
December 1, 2014 at 12:21 pm
Terimakasih atas informasi diatas, sangat bermanfaat. Kunjungi balik yaa di Pusat
Elektronika
Reply

sutarno:
January 9, 2015 at 2:49 pm
mau naya capasitor ABB 80048 kalo buat power bank untuk rumahan sekemaya gmn?

Peranan Kapasitor dalam Penggunaan Energi Listrik


Home
Halaman Muka

Sajian Utama
Komunikasi
Komputer
Baterai Nuklir:
Sumber Arus Searah
yang Perlu
Dikembangkan

Kehidupan modern salah satu cirinya adalah pemakaian energi


listrik yang besar. Besarnya energi atau beban listrik yang
dipakai ditentukan oleh reaktansi (R), induktansi (L) dan
capasitansi (C). Besarnya pemakaian energi listrik itu
disebabkan karena banyak dan beraneka ragam peralatan
(beban) listrik yang digunakan. Sedangkan beban listrik yang
digunakan umumnya bersifat induktif dan kapasitif. Di mana
beban induktif (positif) membutuhkan daya reaktif seperti trafo
pada rectifier, motor induksi (AC) dan lampu TL, sedang beban
kapasitif (negatif) mengeluarkan daya reaktif. Daya reaktif itu
merupakan daya tidak berguna sehingga tidak dapat dirubah
menjadi tenaga akan tetapi diperlukan untuk proses transmisi
energi listrik pada beban. Jadi yang menyebabkan pemborosan
energi listrik adalah banyaknya peralatan yang bersifat induktif.
Berarti dalam menggunakan energi listrik ternyata pelanggan
tidak hanya dibebani oleh daya aktif (kW) saja tetapi juga daya
reaktif (kVAR). Penjumlahan kedua daya itu akan menghasilkan
daya nyata yang merupakan daya yang disuplai oleh PLN. Jika
nilai daya itu diperbesar yang biasanya dilakukan oleh
pelanggan industri maka rugi-rugi daya menjadi besar sedang
daya aktif (kW) dan tegangan yang sampai ke konsumen
berkurang. Dengan demikian produksi pada industri itu akan
menurun hal ini tentunya tidak boleh terjadi untuk itu suplai
daya dari PLN harus ditambah berarti penambahan biaya.
Karena daya itu P = V.I, maka dengan bertambah besarnya daya
berarti terjadi penurunan harga V dan naiknya harga I. Dengan
demikian daya aktif, daya reaktif dan daya nyata merupakan
suatu kesatuan yang kalau digambarkan seperti segi tiga sikusiku pada Gambar 1.

Dari Gambar 1 tersebut diperoleh bahwa perbandingan daya aktif (kW)


dengan daya nyata (kVA) dapat didefinisikan sebagai faktor daya (pf) atau
cos r.
cos r = pf = P (kW) / S (kVA) ........(1) P (kW) = S (kVA) . cos r................
(2)
Seperti kita ketahui bahwa harga cos r adalah mulai dari 0 s/d 1. Berarti
kondisi terbaik yaitu pada saat harga P (kW) maksimum [ P (kW)=S
(kVA) ] atau harga cos r = 1 dan ini disebut juga dengan cos r yang
terbaik. Namun dalam kenyataannya harga cos r yang ditentukan oleh

PLN sebagai pihak yang mensuplai daya adalah sebesar 0,8. Jadi untuk
harga cos r < 0,8 berarti pf dikatakan jelek. Jika pf pelanggan jelek
(rendah) maka kapasitas daya aktif (kW) yang dapat digunakan pelanggan
akan berkurang. Kapasitas itu akan terus menurun seiring dengan semakin
menurunnya pf sistem kelistrikan pelanggan. Akibat menurunnya pf itu
maka akan muncul beberapa persoalan sbb:
a. Membesarnya penggunaan daya listrik kWH karena rugi-rugi.
b. Membesarnya penggunaan daya listrik kVAR.
c. Mutu listrik menjadi rendah karena jatuh tegangan.
Secara teoritis sistem dengan pf yang rendah tentunya akan
menyebabkan arus yang dibutuhkan dari pensuplai menjadi
besar. Hal ini akan menyebabkan rugi-rugi daya (daya reaktif)
dan jatuh tegangan menjadi besar. Dengan demikian denda
harus dibayar sebabpemakaian daya reaktif meningkat menjadi
besar. Denda atau biaya kelebihan daya reaktif dikenakan
apabila jumlah pemakaian kVARH yang tercata dalam sebulan
lebih tinggi dari 0,62 jumlah kWH pada bulan yang
bersangkutan sehingga pf rata-rata kurang dari 0,85.
Sedangkan perhitungan kelebihan pemakaian kVARH dalam
rupiah menggunakan rumus sbb:

[ B - 0,62 ( A1 + A2 ) ] Hk
Dimana : B = pemakaian k VARH
A1 = pemakaian kWH WPB
A2 = pemakaian kWH LWBP
Hk = harga kelebihan pemakaian kVARH
Untuk memperbesar harga cos r (pf) yang rendah hal yang mudah
dilakukan adalah memperkecil sudut r sehingga menjadi r1 berarti r>r1.
Sedang untuk memperkecil sudut r itu hal yang mungkin dilakukan adalah
memperkecil komponen daya reaktif (kVAR). Berarti komponen daya
reaktif yang ada bersifat induktif harus dikurangi dan pengurangan itu
bisa dilakukan dengan menambah suatu sumber daya reaktif yaitu berupa
kapasitor.
Proses pengurangan itu bisa terjadi karena kedua beban (induktor dan
kapasitor) arahnya berlawanan akibatnya daya reaktif menjadi kecil. Bila

daya reaktif menjadi kecil sementara daya aktif tetap maka harga pf
menjadi besar akibatnya daya nyata (kVA) menjadi kecil sehingga
rekening listrik menjadi berkurang. Sedangkan keuntungan lain dengan
mengecilnya daya reaktif adalah :
Mengurangi rugi-rugi daya pada sistem.
Adanya peningkatan tegangan karena daya meningkat.
Proses Kerja Kapasitor
Kapasitor yang akan digunakan untuk meperbesar pf dipasang
paralel dengan rangkaian beban. Bila rangkaian itu diberi
tegangan maka elektron akan mengalir masuk ke kapasitor.
Pada saat kapasitor penuh dengan muatan elektron maka
tegangan akan berubah. Kemudian elektron akan ke luar dari
kapasitor dan mengalir ke dalam rangkaian yang
memerlukannya dengan demikian pada saaat itu kapasitor
membangkitkan daya reaktif. Bila tegangan yang berubah itu
kembali normal (tetap) maka kapasitor akan menyimpan
kembali elektron. Pada saat kapasitor mengeluarkan elektron
(Ic) berarti sama juga kapasitor menyuplai daya treaktif ke
beban. Keran beban bersifat induktif (+) sedangkan daya reaktif
bersifat kapasitor (-) akibatnya daya reaktif yang berlaku
menjadi kecil.

Rugi-rugi daya sebelum dipasang kapasitor :


Rugi daya aktif = I2 R Watt .............(5)
Rugi daya reaktif = I2 x VAR.........(6)
Rugi-rugi daya sesudah dipasang kapasitor :
Rugi daya aktif = (I2 - Ic2) R Watt ...(7)
Rugi daya reaktif = (I2 - Ic2) x VAR (8)
Pemasangan Kapasitor
Kapasitor yang akan digunakan untuk memperkecil atau
memperbaiki pf penempatannya ada dua cara :

1. Terpusat kapasitor ditempatkan pada:


a. Sisi primer dan sekunder transformator

b. Pada bus pusat pengontrol

2. Cara terbatas kapasitor ditempatkan


a. Feeder kecil
b. Pada rangkaian cabang
c. Langsung pada beban
Perawatan Kapasitor

Kapasitor yang digunakan untuk memperbaiki pf supaya tahan lama


tentunya harus dirawat secara teratur. Dalam perawatan itu perhatian
harus dilakukan pada tempat yang lembab yang tidak terlindungi dari
debu dan kotoran. Sebelum melakukan pemeriksaan pastikan bahwa
kapasitor tidak terhubung lagi dengan sumber. Kemudian karena kapasitor
ini masih mengandung muatan berarti masih ada arus/tegangan listrik
maka kapasitor itu harus dihubung singkatkan supaya muatannya hilang.
Adapun jenis pemeriksaan yang harus dilakukan meliputi :
Pemeriksaan kebocoran
Pemeriksaan kabel dan penyangga kapasitor
Pemeriksaan isolator
Sistem Mikroprosesor

Selain komponen induktor pemborosan pemakaian listrik bisa juga terjadi


karena:
Tegangan tidak stabil
Ketidak stabilan tegangan bisa menyebabkan terjadinya pemborosan
energi listrik. Ketidakstabilan itu dapat diartikan tegangan pada suatu fase
lebih besar, lebih kecil atau berfluktuasi terhadap teganga standar.
Sedangkan akibat pembrosan energi listrik itu maka timbul panas
sehingga bisa menyebabkan pertama kerusakan isolator peralatan yang
dipakai. Ke dua memperpendek daya isolasi pada lilitan. Sementara itu
dengan ketidakseimbangan sebesar 3% saja dapat memperbesar suhu
motor yang sedang beroperasi sebesar 18% dari keadaan semula. Hal ini
tentunya akan menimbulkan suara bising pada motor dengan kecepatan
tinggi.

Harmonik
Harmonik itu bisa menimbulkan panas, hal ini terjadi karena adanya
energi listrik yang berlebihan. Harmonik itu bisa muncul karena peralatan
seperti komputer, kontrol motor dll. Harmonik merupakan suatu keadaan
timbulnya tegangan yang periodenya berbeda dengan periode tegangan
standar. Periode itu bisa 180 Hz (harmonik ke-3), 300 Hz (harmonik ke-5)
dan seterusnya. Harmonik pada transformator lebih berbahaya, hal ini
karena adanya sisrkulasi arus akibat panas yang berlebih. Sehingga hal ini
bisa mengurangi kemampuan peralatan proteksi yang
menggunakan power line carrier sebagai detektor kondisi normal.
Untuk mengoptimalkan pemakaian energi listrik bisa digunakan bebanbeban tiruan berupa LC yang dilengkapi dengan teknologi mikroprosesor.
Sehingga ketepatan dan keandalan dalam mendeteksi kualitas daya listrik
bisa diperoleh. Mikroprosesor itu berfungsi untuk mengolah komponenkomponen yang menentukan kualitas tenaga listrik. Seperti keseimbangan
beban antar fasa, harmonik dan surja. Apabila terdapat ketidakseimbangan
antara fasa satu dengan fasa yang lainnya, maka mikroprosesor akan
memerintahkan beban-beban LC untuk membuka atau menutup agar arus
disuplai ke fasa satu sehingga selisih arus antara fasa satu dengan fasa
yang lainnya tidak ada. Banyaknya L atau C yang dibuka atau ditutup
tergantung dari kondisi ketidakseimbangan beban yang terdeteksi oleh
mikroprosesor. Kondisi harmonik yang terdeteksi bisa dihilangkan dengan
menggunakan filter LC.
Keuntungan alat ini adalah :
Mampu mereduksi daya sampai 30%.
Meningkatkan pf antara 95-100%
Dapat mengeliminasi terjadinya harmonik.
Dengan demikian pemakaian energi listrik bisa dihemat yaitu
dengan cara mengoptimalkan konsumsi energi masing-masing
peralatan yang digunakan, memperkecil gejala harmonik dan
menstabilkan tegangan. Sehingga energi tersisa bisa
dimanfaatkan untuk sektor lain yang lebih membutuhkan.
Sedang dampak negatif dari pemborosan energi listrik itu
pertama menciptakan ketidakseimbangan beban fasa-fasa
listrik yang pada gilirannya akan mempengaruhi over
heatingpada motor dan penurunan life isolator. Ke dua bagi PLN

sebagai penyuplai energi listrik tentunya harus menyediakan


energi listrik yang lebih besar lagi.
Daftar Pustaka
1. Daya dan Energi Listrik, Deni Almanda, disampaikan pada
penataran dosesn teknik elektro di Teknik Elektro UGM,
Pebruari 1997, Yogyakarta.
2. Peranan energi dalam menunjang pembangunan
berkelanjutan, Publikasi Ilmiah, BPPT, Jakarta, Mei 1995.
Ir. Deni Almanda adalah dosen Teknik Elektro & Kepala
Perpustakaan FT UMJ, alumni FT UGM dan aktif menulis masalah
kelistrikan di berbagai media.

Artikel lain:
Baterai Nuklir: Sumber Arus Searah yang Perlu Dikembangkan
ANALISIS FASOR, FAKTOR DAYA, DAN PERHITUNGAN TIGA FASA
FASOR GELOMBANG SINUSOID
Fasor menyatakan transformasi dari fungsi waktu ke dalam bidang kompleks yang
mengandung informasi tentang amplitude dan sudut fasa. Analisis vector yang
berputar pada selang waktu tertentu inilah yang disebut analisis fasor. Analisis fasor
yang dikaitkan dengan bentuk gelombang sinus akan memungkinkan
penggambaran fasor sinusoid yang sangat penting dalam membahas persoalan
bidang elektroteknik.
Tiga hal yang menyebabkan mengapa bentuk gelombang sinus dipandang sangat
penting adalah:
1. Terdapat banyak sekali gejala dialam ini yang dapat digambarkan sebagai
gelombang berbentuk sinus.
2. Karena mudah pembangkitannya, maka arus dan tegangan dalam pembangkitan
tenaga listrik berbentuk sinus.

3. Sesuai uraian deret Fourier, semua gelombang periodic yang lain, dengan syarat
tertentu dapat diuraikan ke dalam penjumlahan dari gelombang-gelombang
sinus bengan frekuensi yang bermacam-macam.
Arus dan tegangan sesaat dari suatu bentuk sinusoid dalam suatu periode waktu
dapat dijelaskan dengan persamaan:
i(t) = Im cos (t + )
v(t) = Vm cos (t)
dimana:
Im = arus maksimum dalam ampere
= 2 = kecepatan sudut dalam radial/detik
= sudut fasa dalam radial
Vm = tegangan maksimum dalam volt
IMPEDANSI
Didalam suatu rangkaian linear yang terdiri atas tahanan (R), inductor (L), dan
kapasitor (C), apabila suatu arus/tegangan listrik adalah sinusoid, maka semua arus
dan tegangan yang lain juga berbentuk sinusoid dengan frekuensi yang sama.
Melalui penerapan Hukum Kirchoff terdapat tiga cara untuk melakukan penjumlahan
dan pengurangan bentuk-bentuk sinusoid:
1. Cara grafis, yaitu dengan menggambarkan gelombang demi gelombang dan
dijumlahkan setiap saat. Cara ini memakan waktu dan tidak teliti.
2. Cara trigonometri, yaitu dengan menggunakan dalil-dalil trigonometri untuk
menjumlahkan dan mengurangkan dua sinusoid. Cara ini sukar dan memakan
waktu
3. Cara aljabar kompleks dan anlisis fasor seperti diuraikan terdahulu. Cara ini
paling mudah diantara ketiga cara lainnya, karena itu akan digunakan dalam
pembahasan berikut.
Hubungan antara tegangan dan arus yang berubah-ubah terhadap waktu yang
melalui kapasitor, inductor, dan tahana dapat dijelaskan sebagai

i(t) = C.dv(t)/dt
v(t) = L.di(t)/dt
v(t) = i(t)r
i(t) pada persamaan diatas adalah sinusoid dan mempunyai harga
i(t) = Im sin (t + )
persamaan v(t) menjadi
v(t) = r.Im sin (t + ) = Vm sin (t + )
dimana harga Vm sama dengan rIm
persamaan v(t) dapat ditulis
V = rI
DAYA RATA-RATA
Daya rata-rata sesaat didefenisikan sebagai hasil perkalian tegangan dan arus
sesaat, dan ditulis sebagai
p = vi
jika arus dan tegangan merupakanfungsi siklus, maka daya rata-rata (P) untuk
suatu periode siklus tersebut dapat ditentukan besarnya dengan rumus
P = 1/T T0 p(t) dt
Dimana:
P = daya rata-rata dalam watt
T = periode dari siklus dalam detik
Tegangan dan arus fungsi sinus dinyatakan sebagai
v(t) = Vm cos t
i(t) = Im cos (t )
maka persamaaan daya menjadi
p(t) = VmIm cos t cos (t )

p(t) = VmIm [cos (t t + ) + cos (t + t )]


= VmIm cos + Vm.Im cos (2t )
Maka bentuk yang ada:
P = VmIm cos
= VI cos
FAKTOR DAYA DAN DAYA KOMPLEKS
Jika arus dan tegangan dari persamaan sefasa dan = 0; maka persamaan daya
menjadi
P = VI cos = VI[W]
Untuk:
= 60 P = VI cos (60) = 0,3 VI[watt]
= 90 P = VI cos (90) = 0
Arus yang mengalir pada sebuah tahanan, akan menimbulkan tegangan pada
tahanan tersebut sebesar
Vr = Ir.r
Sehingga
P = VrIm cos
Karena tidak adanya beda fasa antara arus dan tegangan pada tahanan, maka
sudut = 0
Sehingga
P = VI
Tegangan dikalikan dengan arus disebut daya semu. Daya rata-rata dibagi daya
nyata disebut factor daya. Untuk arus dan tegangan sinusoid, factor daya dapat
dihitung dengan rumus
Factor daya = P/VI = VI cos /VI = cos
dinamakan sudut factor daya; sudut ini menentukan kondisi terdahulu atau
tertinggal tegangan terhadap arus.

Bila sebuah beban diberi tegangan, impedensi dari beban tersebut akan
menentukan besar arus dan sudut fasa yang mengalir pada beban tersebut. Factor
daya yang merupakan petunjuk yang menyatakan sifat suatu beban.

PERHITUNGAN TIGA FASA


Pada sebuah rangkaian sederhan dan diagram fasor sebuah system seimbang.
Tegangan antara masing-masing kawat (saluran) dapat dihitung sebagai berikut:
Vab = Van + Vnb = Van Vbn
Vbc = Vbn Vcn
Vca = Vcn Van
Penulisan secara matematis untuk urutan fasa abc dapat dijelaskan sebagai berikut:
Vab = Van 3 30
Vbc = Vbn 3 30
Vca = Vcn 3 30
Masing-masing tegangan kawat-kawat terdahulu 30 dan 3 kali besar terhadap
tegangan kawat netral. Untuk urutan fasa abc persamaan diatas akan menjadi:
Vab = Van 3 -30
Vbc = Vbn 3 -30
Vca = Vcn 3 -30
Untuk urutan fasa abc, arus kawat 3 kali arus fasa dan tertinggal 30 arus fasa.
Ia = Iab 3 +30
Ib = Ibc 3 +30
Ic = Ica 3 +30
(Zuhal.1993.Dasar Teknik Tenaga Listrik dan Elektronika Daya. Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta)
Diposkan oleh Gizhadi 05.09

KENAPA HARUS ADA TANDA CONJUGATE PADA


RUMUS DAYA KOMPLEKS
Salah satu formula yang telah saya pakai selama bertahun-tahun, tepatnya semenjak mulai
menginjak bangku kuliah, adalah rumus daya kompleks (apparent power). Dimana kita
menemukan daya kompleks? Kalau bicara definisi, tentu tanyakan saja pada Wikipedia.
Tapi dalam real life, daya kompleks bisa ditemukan pada besarnya daya listrik yang
dilanggan konsumen ke PLN, misal 900 VA, 1300 VA, 2200 VA dst. Jadi harus dimengerti,
kita tidak berlangganan dalam Watt tapi VA. Rumusnya sendiri sederhana,

S = VI*
dimana S adalah daya kompleks dalam satuan VA (volt ampere), V adalah tegangan dalam
V (volt) dan I adalah arus dalam A (ampere). Hubungan antara S (daya kompleks), P (daya
nyata) dan Q (daya reaktif) sering digambarkan dalam segitiga phytagoras ini.

Rumus ini sebenarnya adalah generalisasi dari rumus daya nyata listrik (real power), P =
V.I, yang telah kita kenal sejak SMP. Bedanya adalah ketika SMP kita menghitungnya
sebagai besaran skalar, besaran yang hanya mempunyai besar (magnitude), sedangkan V
dan I pada S = VI* merupakan besaran vektor, besaran yang mempunyai magnitude dan
arah, walaupun ketika V dan I arahnya 0 derajat maka nilainya sama dengan jika kita
menganggap V dan I sebagai besaran skalar. Untuk membedakannya, ilmuwan biasanya
menuliskan besaran skalar dengan tanda || di antara besaran tersebut, misal ||V|| berarti
besar V, sedangkan jika ingin menulis besaran vektor maka V tadi akan ditulis dengan
huruf italic atau cetak miring, V, atau dengan ditambahi garis di atas atau di bawahnya.

Namun by defaultatau dengan sendirinya, dalam konteks perhitungan phasor, biasanya


semua nilai V dan I akan dianggap sebagai besaran vektor.
Nah, yang menjadi pertanyaan adalah kenapa harus ada tanda conjugate (tanda bintang *
di sisi kanan atas I) dalam rumus ini. Bertahun-tahun rumus ini saya gunakan sebagai
sesuatu yang given, walaupun saya tahu ada pembuktian identitas matematisnya. Dan
bagi yang tahu pembuktian matematis seperti apa, akan mafhum. Pelajar yang pas-pasan
seperti saya, langsung akan merasa berkunang-kunang matanya melihat deretan angka,
huruf,

simbol-simbol

matematis

yang

mempunyai

arti

sendiri-sendiri

dan

saling

berhubungan.
Conjugate sendiri berarti adalah perintah untuk merubah tanda minus menjadi plus atau
sebaliknya, plus menjadi minus pada elemen imajiner dalam bilangan kompleks.
Misalkan saya mempunyai bilangan kompleks I = 3 j4, maka complex conjugatedari I
adalah
maka

I*

j4,

atau

jika

dalam

bentuk

polar

jika

. Sedangkan j atau kadang ditulis sebagai i adalah simbol bilangan

imajiner yang nilainya j = i = -1.


Konsep lain yang perlu diketahui sebelum menjawab pertanyaan ini adalah tentang faktor
daya (power factor atau pf) yang nilainya adalah cosinus beda sudut antara phasor V dan I.
Misalkan kita ingin mengalikan V sudut 1 dengan I sudut 2 untuk mendapatkan nilai daya
kompleks maka hasilnya adalah

, dan hal ini tentunya bertentangan

dengan konsep faktor daya yang menyebutkan dalam cos adalah beda sudut antara V
dan I.
Jadi, seseorang (saya belum baca sejarahnya) yang jenius di bidang ini, menambahkan
tanda conjugate pada nilai I. Apa guna conjugate ini? Tentu saja agar didapatkan nilai S
yang konsisten, sesuai dengan konsep faktor daya tadi.
Mari kita tulis ulang lagi persamaannya,

sehingga sesuai dengan pengertian daya kompleks adalah hasil perkalian dari tegangan
dan arus dengan sudut sebesar selisih beda phasa diantara tegangan dan arus itu. By the
way, konsep ini, yang kelihatannya seperti konsep electrical engineering for idiot, adalah
jawaban

dari

seorang guru

besar

a.k.a.

professorketika

menjawab

pertanyaan

mahasiswanya, yang lumayan geblek juga hehe..


Rekan-rekan, ada tambahan penjelasan tentang artikel ini dari pak Agung Sarwono. Terima
kasih kepada beliau untuk sharingnya.
Yth Bpk Imaduddin,
Perkenankan saya menanggapi masalah mengapa harus pakai conjugate pada vektor arus
pada saat menghitung daya, yaitu S = V I*, jawabnya sederhana dan bertujuan praktis.
Demikian pak, sebagaimana kita ketahui pada umumnya sifat beban pembangkit adalah
induktif yang mempunyai vektor arus arah negatif (lagging pf). Lha dengan diconjugate
beliau akan menjadi positif, sehingga hasil perkalian dengan vektor tegangan akan
menghasilkan nilai positif (S +, P + dan Q +). Hal inilah yang menggambarkan kondisi
penugasan sebenarnya dari suatu pembangkit, yaitu menghasilkan daya semu, nyata dan
reaktif.
Kalau menghasilkan logikanya bertanda positif, P+, S+ dan Q+ dan sebaliknya kalau
menerima (motoring/reverse power) tanda berbalik menjadi negatif, misalnya P-, S-,Q-. Hal
ini juga mendasari mengapa tanda male diberi coret positif di ekornya untuk menandai
daya aktif mengalir keluar pembangkit (P+) dan daya reaktif induktif (Q+) diberi juga coret
positif di tanda female yang artinya pembangkit pada saat itu mengirim atau melayani
daya reaktif induktif (over excited).
Demikian, semoga bermanfaat.
Salam. Agung Sarwono EL ITB 77.

PHASOR

Persamaan gerak selaras sederhana y = r sin (t + ), dengan r dan merupakan


kuantitas yang masing-masing merupakan konstanta, sedangkan waktu dalam t detik
merupakan variabel yang tidak nol. Dapat dikatakan bahwa y mempunyai nilai jika t
tidak negatif. Dengan demikian, y merupakan fungsi dari waktu. Kuantitas yang
merupakan fungsi waktu disebut "phasor". Beberapa fungsi waktu yang merupakan
phasor diantaranya medan magnet dan voltase yang ditimbulkan oleh oleh arus bolakbalik.
Resultan phasor
a = (a1 cos 1 +

a2 cos 2)^2 + (a1 sin 2 + a2 sin 2)^2


Fasanya ialah
cos = a1 cos 1 + a2 cos 2
a
sin = a1 cos 1 + a2 sin 2
a
Untuk menghitung menghitung resultan dua buah phasor, dapat juga menggunkan
rumus:
sin 1 + sin 2 = 2 sin (1 + 2) cos (1 + 2)
2
2
Rangkaian R-L-C seri, sifat rangkaian seri dari sebuah resistor dan sebuah induktor yang dihubungkan
dengan sumber tegangan bolak-balik sinusioda adalah terjadinya pembagian tegangan di (vR), (vL) dan
(vC) secara vektoris. Arus (i) yang mengalir pada hubungan seri adalah sama besar. Arus (i) tertinggal 90
derajad terhadap tegangan induktor (vL). Tidak terjadi perbedaan fasa antara tegangan jatuh pada
resistor (vR) dan arus (i). Gambar dibawah memperlihatkan rangkaian seri R-L-C dan hubungan arus (i),
tegangan resistor (vR), tegangan kapasitor (vC) dan tegangan induktor (vL) secara vektoris. Suatu alat
listrik arus bolak-balik dapat juga memiliki berbagai macam reaktansi, seperti misalnya hubungan seri
yang terdiri dari resistor (R), reaktansi induktif (XL) dan raktansi kapasitif (XC). Dengan demikian
besarnya tegangan total (v) sama dengan jumlah dari tegangan pada resistor (vR), kapasitor (vC) dan
tegangan pada induktor (vL). Dengan banyaknya tegangan dengan bentuk gelombang yang serupa,
sehingga terjadi hubungan yang tidak jelas. Oleh karena itu hubungan tegangan lebih baik dijelaskan
dengan menggunakan diagram fasor. Melalui ketiga resistansi (R), (XL) dan (XC) mengalir arus (i) yang
sama. Oleh sebab itu fasor arus diletakkan pada t = 0. Tegangan (v) pada resistor (R) berada satu fasa
dengan arus (i). Tegangan (vL) pada reaktansi induktif (XL) mendahului sejauh 90o terhadap arus (i),
sedangkan tegangan (vC) pada reaktansi kapasitif (XC) tertinggal sejauh 90o terhadap arus (i). Kedua
tegangan reaktif mempunyai arah saling berlawanan, dimana selisihnya ditunjukkan sebagai tegangan
(vS). Tegangan total (v) merupakan fasor jumlah dari tegangan (vL) dan tegangan (vC) sebagai hasil
diagonal persegi panjang antara tegangan (vL) dan tegangan (vC). Rangkaian R-L-C Seri Bila tegangan
jatuh pada reaktif induktif (vL) lebih besar dari tegangan jatuh pada reaktif kapasitif (vC), maka tegangan
total (v) mendahului arus (i), maka rangkaian seri ini cenderung bersifat induktif. Sebaliknya bila
tegangan jatuh pada reaktif induktif (vL) lebih kecil dari tegangan jatuh pada reaktif kapasitif (vC), maka

tegangan total (v) tertinggal terhadap arus (i), maka rangkaian seri ini cenderung bersifat kapasitif. Untuk
menghitung hubungan seri antara R, XL dan XC pada setiap diagram fasor kita ambil segitiga
tegangan. Dari sini dapat dibangun segitiga resistor, yang terdiri dari resistor (R), reaktif (X) dan
impedansi (Z). Berdasarkan tegangan reaktif (vS) yang merupakan selisih dari tegangan reaktif induktif
(vL) dan tegangan reaktif kapasitif (vC), maka resistor reaktif (X= XLS=XCS) merupakan selisih dari
reaktansi (XL) dan (XC). Sehingga didapatkan hubungan tegangan (v) seperti persamaan vektoris
berikut; Maka untuk resistansi semu (impedansi Z) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan
berikut: dimana
Read more at: http://elektronika-dasar.web.id/teori-elektronika/rangkaian-r-l-c-seri/
Copyright Elektronika Dasar

KUMPULAN SOAL DAN JAWABAN ANALISIS SISTEM


TENAGA LISTRIK (William D. Stevenson, Jr.)(Bab.2)
BAB 2. KONSEP-KONSEP DASAR
2.1
Jika = 141.4 sin (t + 30)V dan I = 11.31 cos (t - 30)A, hitunglah untuk masingmasing (a) nilai maksimum, (b) nilai rms, dan (c) rumus phasor dalam bentuk polar dan
rectangular dengan memilih tegangan sebagai dasar. Apakah rangkaian itu induktif atau
kapasitif ?
Jawab :
a)

Vmax = 141.4 V
I max = 11.31 A

b)

c)

V = 1000 V (phasor) = 100 + j 0 V (polar)


I = 8-60 A (phasor) = 4 j 6.93 A (polar) ==> Induktif, I tertinggal tehadap V.

2.2
Jika rangkaian pada soal 2.1 terdiri dari suatu elemen resistif murni dan suatu elemen
reaktif murni, hitunglah R dan X (a) Jika elemen-elemen terhubung seri dan (b) Jika elemenelemen terhubung paralel.
Jawab
:
a)

Z = 6.25 + j 10.83 ; ==> R = 6.25 , dan XL = 10.83

b)

Y = 1/Z = 0.08-60 = 0.04 j 0.0693


R = 1/0.04 = 25 , dan XL = 1/0.0693 = 14.43

2.3
Dalam suatu rangkaian berfasa-tunggal Va = 12045 V dan Vb = 100-15 V terhadap
suatu simpul pedoman o. Carilah Vba dalam bentuk polar.
Jawab :
Vba = Vbo Vao = 100 -15 - 120 45
Vba = 96.59 j 25.88 (84.85 + j 84.85) = 96.59 84.85 j 25.88 j 84.85
Vba = 11.74 j 110.73 = 111.35 - 83.95 V
2.4 Suatu tegangan ac berfasa tunggal sebesar 240 V terpasang pada suatu rangkaian seri yang
impedansinya adalah 1060 . Hitunglah R, X, P, Q dan factor daya dari rangkaian.
Jawab :
R = 10 Cos 60 = 5.0 ,

X = 10 Sin 60 = 8.66

I = 240 0/ 10 60 = 24-60 A
P = (24)2 x 5
= 2880 W
2
Q = (24) x 8.66 = 4988 Var
Faktor daya = Cos (arc tg Q/P ) = Cos (arc tg 4988/2880) = 0.50
Atau Cos (arc tg X/R ) = Cos (arc tg 8.66/5 )
= 0.50
2.5 Jika suatu kapasitor dihubungkan paralel dengan rangkaian pada soal 2.4 dan jika
kapasitor ini mencatu 1250 Var, hitunglah P dan Q yang dicatu oleh sumber tegangan 240 V, dan
hitunglah faktor daya yang dihasilkannya.
Jawab :

P = 2880 W ; Q = 4988 1250 = 3738 Var;


Faktor daya = Cos (arc tg 3788/2880 ) = 0.605
2.6
Suatu beban induktif berfasa-tunggal menarik 10 MW dengan faktor daya 0.6 tertinggal.
Gambar lah segitiga daya dan tentukan daya reaktif dari sebuah kapasitor yang harus
dihubungkan paralel dengan beban untuk menaikkan faktor daya menjadi 0.85.
Jawab :

Faktor daya awal = Cos 1 = 0.6 jadi 1 = arc Cos 0.6


sehingga Sin 1 = Sin 53.13 = 0.8
P = VI Cos 1 ; 10 = VI . 0.6 ==> jadi VI = 10/0.6
Q1 = VI Sin 1
Q1 = (10/0.6) x 0.8 = 13.33 Mvar
Faktor daya baru = Cos 2 = 0.85 jadi 2 = arc Cos 0.85
sehingga Sin 2 = Sin 31.79 = 0.53
P = VI Cos 2; 10 = VI 0.85 ==> jadi VI = 10/0.85
Q2 = VI Sin 2
Q2 = (10/0.85) x 0.53 = 6.2 Mvar
Jadi QC = - ( 13.33 6.2) = - 7.13 MVar

53.13

31.79

2.7
Sebuah motor induksi berfasa-tunggal beroperasi dengan beban yang sangat ringan untuk
sebagian besar dari tiap-tiap hari dan menarik 10 A dari saluran. Disarankan penggunaan suatu
alat untuk meningkatkan efisiensi dari motor itu. Dalam suatu peragaan alat tersebut
dihubungkan paralel dengan motor yang tidak dibebani dan arus yang ditarik dari saluran turun
menjadi 8 A. Jika dihubungkan dua buah dari alat tersebut paralel dengan motor, arus yang
ditarik turun lagi menjadi 6 A. Alat sederhana apakah yang menyebabkan penurunan arus ini ?
Sebutkanlah keuntungan-keuntungan dari alat ini. Apakah alat ini juga menaikkan efisiensi dari
motor ? (Ingatlah bahwa suatu motor induksi menarik arus yang tertinggal atau lagging).
Jawab :
Alat itu adalah Kapasitor; sebuah kapasitor akan menyebabkan jatuhnya arus pada saluran karena
komponen yang tertinggal dari arus yang ditarik oleh motor sebagian akan diimbangi oleh arus
yang mendahului yang ditarik oleh kapasitor. Tetapi arus yang ditarik oleh motor tidak akan
berubah jika tegangan terminal tetap konstan. Jadi efisiensi motor akan tetap sama.

Rugi pada saluran yang mencatu motor akan berkurang, karena arus saluran menjadi rendah. Jika
saluran dari bus catu ke motor adalah panjang, jatuh tegangan pada saluran akan berkurang dan
ini mungkin dikehendaki.
2.8
Jika impedansi antara mesin-mesin 1 dan 2 pada Contoh 2.1 adalah Z = 0 j5
tentukanlah (a) apakah maisng-masing mesin membangkitkan atau menyerap daya, (b) apakah
masing-masimg mesin menerima atau mencatu daya reaktor positif dan berapa besarnya, dan (c)
nilai dari P dan Q yang diserap oleh impedansi tersebut.
Jawab :

I = 10 + j 2.68 ==> I = 10.3515 A


E1. I* = (100 + j 0 )( 10 j 2.68) = 1000 j 268
Mesin 1 membangkitkan 1000 W, menerima 268 Var (atau mencatu 268 Var)
E2 . I* = (86.6 + j 50) (10 j 2.68) = 866 j 232.088 + j 500 + 134 = 1000 + j 268
Mesin 2 menyerap 1000 W , menerima 268 Var ( atau mencatu 268 Var)
Daya reaktansi pada saluran mencatu |I |2 X = (10.35)2 x 5 =
(atau menerima - 568 Var)
2.9
Ulangi soal 2.8 di atas jika Z = 5 + j 0
Jawab :

I = 2.68 - j 10 ==> I = 10.35 -75 A


E1. I* = (100 + j 0 )( 2.68 + j 10) = 268 + j 1000
Mesin 1 membangkitkan 268 W, menyerahkan 1000 Var (atau mencatu 268 Var)

568

Var

E2 . I* = (86.6 + j 50) (2.68 + j 10) = 232 + j 866 + j 134 - 500 = - 268 +j 1000
Mesin2 membangkitkan 268 W, menerima 1000 Var (atau mencatu 268 Var)
Daya resistansi pada saluran menyerap |I |2 R = (10.35)2 x 5 = 568 W
Kedua mesin adalah Generator
2.10 Suatu sumber tegangan Ean = - 120210 V dan arus yang mengalir lewat sumber tersebut
adalah Ina = 1060 A. Carilah nilai-nilai dari P dan Q dan jelaskan apakah sumber tersebut
memberikan atau menerimanya.
Jawab :
Ean . Ina* = - 120210 x 10-60 = |-120|.|10| (210-60) = -1200150
= 1200-30 = 1200.Cos -30 + j 1200.Sin -30 = 1039 j 600
P = 1039 W diserahkan; Q = - 600 Var diserahkan
(+ 600 Var diserap oleh sumber, karena I na mendifinisikan arus positif dari n ke a dan
Eanmendifinisikan titk a pada potensial yang lebih tinggi daripada n bila Ean adalah positif).
2.11 Carilah jawaban dari Contoh 2.1 jika E1 = 1000 V dan E2 = 12030 V. Bandingkanlah
hasilnya dengan Contoh 2.1 dan buatlah beberapa kesimpulan tentang pengaruh perubahan
besarnya E2 dalam rangkaian itu.
Jawab :

I = - 12 + j 0.78
E1.I* = (100 + j 0)(-12 - j 0.78) = -1200 j 78
Mesin 1 menyerap 1200 W dan menyerap 78 Var.
E2.I* = (103.92 + j 60)(-12 j 0.78) = 1246.8 j81.42 j 720 + 46.8 = -1200 j 801.42
Mesin 2 menyerahkan 1200 W dan menyerahkan 801Var
yang diserap oleh saluran = 801 78 = 723 Var. Dalam contoh 2.1 saluran menerima 536 Var,
setengah masing-masing sumber. Peningkatan |E2| menyebabkan sedikit kenaikan pada transfer
daya serta kenaikan pada Q yang dicatu ke saluran, tetapi fakta yang penting ialah bahwa
peningkatan |E2| mennyebabkan bahwa sumber tidak hanya mencatu Q yang diserap oleh saluran
tetapi juga 78 Var yang diserahkan ke sumber |E1|.
2.12 Tiga buah impedansi yang identik yaitu 10 -15 dihubungkan Y kepada tegangantegangan saluran tiga-fasa yang seimbang dari 208 V. Tentukanlah semua tegangan-tegangan
saluran, tegangan-tegangan fasa dan arus-arus sebagai phasor dalam bentuk polar dengan
Vca sebagai pedoman dan urutan fasa abc.
Jawab :

Vca = 2080 V
Vbc = 208120 V
Vab = 208240 V

Vcn = 120-30 V
Vbn = 120 90 V
Van = 120210 V

Ic = Vcn/Z = 12-15
Ib =Vbn/Z = 12105
Ia =Van/Z = 12225

2.13 Dalam suatu sistem tiga-fasa yang seimbang, impedansi yang dihubungkan Y adalah 1030 . Jika Vbc = 41690 V, tentukanlah Icn dalam bentuk polar.
Jawab:

Vbc = 41690 V ==> Tegangan fasa = 416/3 = 240 V


Vcn = 240-60 ==> Icn =(240-60 )/( 10- 30) = 24- 90 A
2.14 Terminal-terminal dari suatu sumber tiga-fasa ditandai dengan a, b, dan c. Di antara dua
terminal yang mana pun sebuah voltmeter mengukur 115 V. Sebuah tahanan 100 dan sebuah
kapasitor 100 (pada frekuensi sumber tegangan) dihubungkan seri dari a ke b dengan tahanan
terhubung pada a. Titik hubung antara kedua elemen tersebut ditandai n. Tentukanlah secara
grafik pembacaan voltmeter antara c dan n jika urutan fasa adalah abc dan jika urutan fasa acb.
Jawab :

Urutan fasa abc :


Urutan fasa acb :
Jarak : n k = 115/2 = 57.5 V
Jarak : k c = 99.6 V
Jarak : k c = 115 Sin 60
Jarak : n k = 57.5 V
= 115 x 0.866 = 99.6 V
Jarak : n c = 99.6 57.5 = 42.1 V
Pembacaan meter = 57.5 + 99.6 = 157.1 V
Pembacaan meter = 42.1 V
2.15 Tentukanlah arus yang ditarik dari saluran 440 V tiga-fasa oleh sebuah motor tiga-fasa 15
hp yang beroperasi pada beban penuh, efisiensi 90 % dan faktor daya 80 % tertinggal. Hitunglah
nilai-nilai dari P dan Q yang ditarik dari saluran.
Jawab :

di
di tarik dari saluran

tarik

dari

saluran

2.16 Jika ketiga saluran yang menghubungkan motor pada soal 2.15 ke suatu bus masingmasing mempunyai imepansi 0.3 + j 1.0 , hitunglah tegangan antar saluran pada bus yang
mencatu 440 V pada motor.
Jawab :
I = | I | ( Cos j Sin ) = 20.39 (0.8 j 0.6) = 16.31 j 12.23 A

Bila sebagai pedoman diambil tegangan ke netral dari motor pada terminal di mana I dihitung,
atau =
440/3
= 2540
V
=
(
254
+
j
0)
V,
maka
Vn + (Z

tegangan
bus
catu
ke
x I) = (254 + j 0) + (0.3 + j
= 254 + j 0 + 4.893 j 3.669 + j 16.31 + 12.23
= 271.123 + j 12.641 = 271.42.67

1.0)

netral
(16.31

adalah
j 12.23)

Tegangan antar saluran | V | = 3 [271.123 + j 12.641] = 3 x 271.4= 470 V

2.17 Suatu beban seimbang yang terdiri dari tahanan-tahanan murni sebesar 15 per fasa
dihubungkan paralel dengan suatu beban Y seimbang yang mempunyai impedansi-impedansi
fasa 8 + j 6 . Ketiga saluran yang menghubungkan kombinasi beban-beban tersebut di atas ke
sesuatu sumber tiga fasa 110 V mempunyai impedansi-impedansi identik yaitu masing-masing
2 + j 5 . Hitunglah arus total dan faktor daya resultan.
Jawab :

Ubah ke Y ekivalen yang mempunyai 15/3 = 5 per fasa dan paralel suatu beban seimbang,
sehingga mempunyai impedansi total pada beban:

= 3.49 12.09 = 3.41 + j 0.73


Pada
catu
daya
mempunyai
Z = (2 + j 5) + (3.41 + j 0.73) = 5.41 + j 5.73 = 7.8846.65

impedansi

total

Pada beban V = 8.06 x 3.49 = 28.13 V ke netral.


Tegangan saluran-saluran

2.18 Suatu beban tiga-fasa menarik 250 kW dengan faktor daya 0.707 tertinggal dari saluran
440 V. Paralel dengan beban ini terpasang sebuah kumpulan kapasitor yang menarik 60 kVar.
Hitunglah arus total dan faktor daya resultan.
Jawab :
Faktor daya = Cos = 0.707 ==> = 45
S1 = 250 + j 250
S2 = 0 - j 60
Daya total S = S1 + S2 = 250 + j 190 = 314 37.23 kVA
Arus total | I | = 314000/(3x440)= 412 A ; Faktor daya = Cos 37.23 = 0.796 tertinggal.
2.19 Sebuah motor tiga-fasa menarik 20 kVA dengan faktor daya 0.707 dari sebuah sumber
220 V. Tentukanlah rating kilovoltampere dari kapasitor-kapasitor untuk membuat faktor daya
kombinasi menjadi 0.90 tertinggal, dan tentukanlah juga arus saluran sebelum dan sesudah
penambahan kapasitor.
Jawab :

Rating kapasitor = y y2 = 14.14 6.85 = 7.29 kVar


Sebelum penambahan kapasitor

Sesudah penambahan kapasitor

2.20 Sebuah mesin drag line pada suatu tambang batu bara open-pit mempergunakan
0.92 MVA dengan faktor daya 0.8 tertinggal pada waktu mesin menggali batu bara. Pada waktu
sekop-sekop mesin yang sudah terisi meninggalkan dinding tambang, mesin itu membangkitan
(memberikan kepada sistem listrik), 0.10 MVA dengan faktor daya 0.5 mendahului. Pada akhir
perioda penggalian perubahan besarnya arus dapat menyebabkan bekerjanya rele-rele pengaman
yang terbuat dari rangkaian-rangkaian solid state. Karena itu perubahan besarnya arus perlu
dibuat seminimal mungkin. Pertimbangkanlah penempatan kapasitor-kapasitor pada terminalterminal mesin dan tentukanlah besarnya koreksi kapasitif (dalam kVar) yang diperlukan untuk
menghilangkan perubahan besarnya arus keadaan-tetap. Mesin itu mendapat tenaga dari sumber
36.5 kV tiga-fasa. Mulailah jawaban dengan memisalkan Q sebagai megavars total tiga-fasa dari
kapasitor-kapasitor yang dihubungkan pada terminal-terminal mesin dan tuliskan rumus-rumus
untuk besarnya arus saluran yang ditarik oleh mesin dengan Q sebagai faktor-faktornya baik
untuk operasi penggalian maupun pembangkitan.
Jawab :
Misalkan tegangan antar saluran | V | adalah konstan. Maka besar arus | I | konstan,
berarti | S | konstan, dimana | S | = |V|.|I*| x 10- 6 MVA
Perioda penggalian :
Faktor daya = cos = 0.8 ; ==> sin = 0.6
|S| = | VI (cos + j sin ) j Q|
|S| = | 0.92(0.8 + j 0.6) j Q| = | 0.736 + j 0.552 j Q| = |0.736 + j (0.552-Q)|
|S|2= | 0.736 + j (0.552 Q) |2
|S|2= 0.542 + (0.552-Q)2 = 0.542 + 0.3047 1.104 Q + Q2 = 0.8467 1.104Q + Q2
|S|2= 0.8467 1.104Q + Q2
Perioda pembangkitan :
Faktor daya = cos = 0.6; ==> = cos-1 0.6 = 60
|S| = | - (0.10 -60 ) - j Q| = | - ( 0.05 j 0.0866) j Q| = | - 0.05 + j 0.0866 j Q |
|S|2= | - 0.05 + j (0.0866 Q)|2
|S|2= 0.0025 + (0.0866 Q)2 = 0.0025 + 0.0074995 0.1732Q
|S|2= 0.0099995- 0.1732Q + Q2
|S|2= 0.01 0.1732Q + Q2

Q2

Dengan menyamakan |S|2 untuk perioda-perioda penggalian dan pembangkitan sehingga


diperoleh :
0.8467 1.104Q + Q2 = 0.01 0.1732Q + Q2
0.8367 0.9308Q = 0
Maka Q = 0.8367/0.9308 = 0.8989 0.899 Mvar atau 899 kVar.
2.21 Sebuah generator (yang dapat digambarkan sebagai suatu emf yang terhubung seri
dengan sebuah reaktansi induktif) mempunyai rating 500 MVA, 22 kV. Kumparan-kumparannya
yang terhubung Y mempunyai reaktansi 1.1 per unit. Hitunglah nilai ohm dari reaktansi
kumparan-kumparannya.

Jawab :

2.22 Generator pada soal 2.21 berada dalam suatu rangkaian di mana dasar-dasarnya
ditetapkan sebagai 100 MVA, 20 kV. Bertolak dari nilai per unit yang diberikan dalam soal 2.21,
tentukanlah nilai per unit dari reaktansi kumparan-kumparan dengan dasar yang tersebut di atas.
Jawab :
Reaktansi X = 1.065 pada rating lama 500 MVA, 22 kV
Reaktansi X pada rating baru 100 MVA, 20 kV adalah :
2
X = 1.065 x(100/500) x(22/20) = 0.2577 p.u
2.23 Gambarkanlah rangkaian ekivalen fasa-tunggal untuk motor (suatu emf yang terhubung
seri dengan reaktansi induktif Zm ) dan hubungannya kepada tegangan suplai yang dibicarakan
dalm soal-soal 2.15 dan 2.16. Tunjukkanlah pada diagram nilai-nilai per-unit dari impedansi
saluran dan tegangan pada terminal-terminal motor dengan 20 kVA, 440 V sebagai dasar.
Kemudian dengan mempergunakan nilai-nilai per unit hitunglah tegangan suplai dalam per-unit
dan akhirnya rubahlah nilai per-unit dari tegangan supali ke dalam volt.
Jawab :

Impedansi 0.3 + j 1.0 ( dari soal 2.16)


R =0.3/9.68 = 0.031 p.u
dan X =1.0/9.68 = 0.1033 p.u

20.39

dari

soal

2.15)

I =20.39/26.24 = 0.777 p.u


Dari soal 2.15 faktor daya 80 % tertinggal. ==> Cos = 0.8; Sin = 0.6
V = 1.0 + 0.777 ( 0.8 j 0.6 ) ( 0.031 + j 0.1033)
V = 1.0 + 0.777 ( 0.0248 + j 0.08264 j 0.0186 + 0.061998 )
V = 1.0 + 0.777 ( 0.086798 + j 0.06404 ) = 1.0 + 0.0674 + j 0.0498
V = 1.0674 + j 0.0498
V = 1.0686 2.67 p.u
| V | antar-saluran = 1.0686 x 440 470 V

oomsoo
Diposkan oleh CATENARY Jabodetabek 17.59.00
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

2 komentar:
1.
Jaya TeknikSelasa, 29 Oktober 2013 10.59.00 WIB
TOLONG MAS YANG BAB 10 NYA JUGA DI SERTAKAN :D
Balas
2.
mas broSenin, 02 Desember 2013 13.11.00 WIB
AST saya ga terlalu bagus nilainya, yang ingin saya tanyakan sebenarnya lebih ke umum
daripada
spesific
seperti
didalam
buku
stevenson
ini.
1. apa bentuk nyata (real) dari semua rumus diatas dan gambarannya seperti apa serta
implikasinya.. (saya coba lebih spesifikasi) penggunaan analisa sistim tenaga ini
digunakan di sistim distribusi, sistim transmisi atau pembangkit. dalam kondisi real nya
adalah (misal) sebuah pembangkit (misal:trafo 500KVA) digunakan untuk trafo step up,

untuk saluran transmisi sejauh sekian ratus meter, setelah sampai di gardu induk, maka
digunakan trafo step down (500KVA) kmudian panel-panel digunakan untuk memointor
parameter-parameter trafo, Arus, tegangan, VA, Daya, Cos phi, dll, dll , lalu perhitunganperhitungan analisa sistim tenaga itu apakah sebagai soal nyata ??/reall ?? lalu
bagaimana relasinya, kmudian kenapa harus sampai serumit itu untuk mencari suatu
konstanta / jawaban atas yang ingin kita cari. karena saya tak mampu untuk memahami
rumus-rumus diatas secara bawah sadar tanpa aplikasi nyata yang akan menguntungkan
manusia. jelas, bahwa semua perhitungan ditujukan untuk mencari kemudahan. ada
yang bisa jelaskan ke saya secara mudah begitu.. trimakasih sebelumnya.
Balas