Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kehilangan gigi dapat disebabkan oleh karies, penyakit periodontal, trauma dan atrisi
yang berat. Kehilangan gigi geligi dapat menimbulkan berbagai dampak, yaitu dampak
fungsional, sistemik dan emosional. Dampak fungsional yaitu berkurangnya kemampuan
mengunyah, menggigit serta berbicara. Dampak sistemik berupa penyakit sistemik seperti
defisiensi nutrisi, osteoporosis dan penyakit kardiovaskular, akibat status kesehatan gigi
geligi yang buruk dan perubahan pola konsumsi. Dampak emosional kehilangan gigi geligi
menyebabkan berkurangnya rasa percaya diri sehingga dapat mengakibatkan keterbatasan
aktivitas.
Frakturnya gigi terutama bagian anterior dapat menyebabkan gigi tidak estetis sehingga
mengurangi kepercayaan diri dalam berpenampilan dan fungsi pengunyahan. Fraktur gigi
kadang-kadang dikenal sebagai gigi retak adalah kondisi gigi memperlihatkan adanya
keretakan gigi dimana kondisi disebabkan oleh trauma pada bagian wajah. Umumnya fraktur
gigi yang kecil tidak sampai menyebabkan pergeseran gigi maupun perdarahan pada gusi.
Fraktur gigi dapat terjadi gigi manapun tetapi cenderung mengenai gigi depan/anterior yang
telah permanen. Untuk mengatasi hal tersebut, maka diperlukan pemakaian gigi tiruan untuk
mengembalikan estetis yang baik dan fungsi pengunyahan.
Gigi tiruan berfungsi untuk meningkatkan kemampuan dalam mengunyah, berbicara dan
memberikan dukungan untuk otot wajah. Meningkatkan penampilan wajah dan senyum. Gigi
tiruan secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu gigi tiruan penuh ( Full
Crown) dan gigi tiruan sebagian (Partial Crown). Gigi tiruan sebagian dapat dibagi lagi

menjadi gigi tiruan lepasan /Removable (yang dapat dilepas pasang sendiri oleh pasien) dan
gigi tiruan cekat/ Fixed/ GTC (yang disemenkan ke gigi pasien secara permanen). Gigi tiruan
cekat atau disingkat dengan GTC diklasifikasikan menjadi dua yaitu crown dan bridge.
Secara keseluruhan gigi tiruan cekat dapat bertujuan untuk mencapai pemulihan kembali
keadaan-keadaan yang abnormal pada pengunyahan, pemugaran dari sebagian atau seluruh
alat pengunyahan termasuk bagian yang mengalami kerusakan, pencegahan terjadinya
kerusakan selanjutnya pada gigi-gigi lainnya dan jaringan lunak sekitarnya, keadaan yang
menjamin keutuhan alat pengunyahan untuk waktu yang selama mungkin.
1.2 Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Apakah diagnosa pada kasus gigi di atas ?


Apakah rencana perawatan yang dilakukan ?
Apakah indikasi dan kontraindikasi dari bridge?
Bagaimana cara memilih komponen bridge yang baik?
Apakah jenis bridge yang dibuatkan?
Apakah bahan yang akan digunakan?
Apakah faktor yang mempengaruhi kegagalan dan keberhasilan pembuatan bridge?
1.3 Tujuan

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Mampu mendiagnosa pada kasus gigi di atas


Mampu menentukan rencana perawatan yang dilakukan
Untuk mengetahui indikasi dan kontraindikasi dari bridge
Mampu memilih komponen bridge yang baik
Mampu mengetahui jenis-jenis bridge
Mampu mengetahui jenis-jenis bahan yang akan digunakan
Mampu menjelaskan faktor yang mempengaruhi kegagalan dan keberhasilan
pembuatan bridge
1.4 Manfaat
Agar mahasiswa mampu memahami dan mengerti penggunaan gigi tiruan sesuai

dengan bahan ajar kuliah prosthodonti dan mengkaitkannya dengan kasus.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi bridge
Gigi tiruan jembatan adalah gigi tiruan yang menggantikan kehilangan satu atau lebih
gigi-geligi asli yang dilekatkan secara permanen dengan semen serta didukung sepenuhnya
oleh satu atau beberapa gigi, akar gigi atau implan yang telah dipersiapkan.

2.2 komponen-komponen bridge


3

Gigi tiruan jembatan terdiri dari dari beberapa komponen, yakni sebagai berikut.
1.
2.
3.
4.

Retainer
Konektor
Pontik
Penyangga (abutment)

Gambar 1. Komponen-komponen Gigi Tiruan.

Gambar 2. Gigi Tiruan Jembatan (Bridge).


1. Retainer
Merupakan bagian dari gigi tiruan jembatan yg menghubungkan gigi tiruan tersebut
dengan gigi penyangga. Fungsinya:
a. Memegang/menahan (to retain) supaya gigi tiruan tetap stabil di tempatnya.
b. Menyalurkan beban kunyah (dari gigi yang diganti) ke gigi penyangga.
Macam-macam retainer:
a. Extra Coronal Retainer
Yaitu retainer yang meliputi bagian luar mahkota gigi, dapat berupa:
4

1) Full Veneer Crown Retainer


Indikasi:
Tekanan kunyah normal/besar
Gigi-gigi penyangga yang pendek
Intermediate abutment pasca perawatan periodontal
Untuk gigi tiruan jembatan yang pendek maupun panjang
Keuntungan
Indikasi luas
Memberikan retensi dan resistensi yg terbaik
Memberikan efek splinting yg terbaik
Kerugian:

Jaringan gigi yg diasah lebih banyak


Estetis kurang optimal (terutama bila terbuat dari all metal)

Gambar 3. Extra Coronal Retainer


1) Partial Veneer Crown Retainer
Indikasi :
Gigi tiruan jembatan yang pendek
Tekanan kunyah ringan/normal
Bentuk dan besar gigi penyangga harus normal
5

Salah satu gigi penyangga miring

Gambar 4. Partial Veneer Crown Retainer


Keuntungan
Pengambilan jaringan gigi lebih sedikit
Estetis lebih baik daripada FVC retainer
Kerugian:
Indikasi terbatas
Kesejajaran preparasi antar gigi penyangga sulit
Kemampuan dalam hal retensi dan resistensi kurang
Pembuatannya sulit (dlm hal ketepatan).
b. Intra Coronal Retainer
Yaitu retainer yang meliputi bagian dalam mahkota gigi penyangga.
Bentuk:
Onlay
Inlay MO/DO/MOD
Indikasi:
Gigi tiruan jembatan yang pendek
Tekanan kunyah ringan atau normal

Gigi penyangga dengan karies kelas II yang besar


Gigi penyangga mempunyai bentuk/besar yang normal
Keuntungan:
Jaringan gigi yang diasah sedikit
Preparasi lebih mudah
Estetis cukup baik
Kerugian:
Indikasi terbatas
Kemampuan dlm hal retensi resistensi kurang
Mudah lepas/patah

Gambar 5. Intra Coronal Retainer Bentuk Onlay.


c. Intra radikuler retainer (Dowel retainer)
Adalah retainer yang meliputi saluran akar gigi, dengan sedikit atau tanpa
jaringan mahkota gigi dengan syarat tidak sebagai retainer yang berdiri sendiri.
Indikasi:
a. Gigi penyangga yang telah mengalami perawatan syaraf
b. Gigi tiruan pendek
c. Tekanan kunyah ringan
d. Gigi penyangga perlu perbaikan posisi/inklinasi
7

Keuntungan:
Estetis baik
Posisi dapat disesuaikan
Kerugian:
Sering terjadi fraktur akar

Gambar 6. Dowel Retainer.

Cara menentukan retainer :

Panjang rentang ( span GTC )

Tipe GTC

Kekuatan gigit

Gigi yang diganti

Tipe oklusi

Kebiasaan pasien
2. Pontik
Merupakan bagian dari gigi tiruan jembatan yang menggantikan gigi asli yang hilang

dan berfungsi untuk mengembalikan:

Fungsi kunyah dan bicara


Estetis
Comfort (rasa nyaman)
Mempertahankan hubungan antar gigi tetangga mencegah migrasi / hubungan
8

dengan gigi lawan ektrusi


Berikut adalah klasifikasi pontik, antara lain:
a. Berdasarkan bahan
Berdasarkan bahan pembuatan pontik dapat diklasifikasikan atas 3:
1) Pontik logam
Logam yang digunakan untuk membuat pontik pada umumnya terdiri
dari alloy, yang setara dengan alloy emas tipe III. Alloy ini memiliki kekuatan
dan kelenturan yang cukup sehingga tidak mudah menjadi patah atau berubah
bentuk (deformasi) akibat tekanan pengunyahan. Pontik logam biasanya
dibuat untuk daerah-daerah yang kurang mementingkan faktor estetis, namun
lebih mementingkan faktor fungsi dan kekuatan seperti pada jembatan
posterior.
2) Pontik porselen
Pontik jenis ini merupakan pontik dengan kerangka dari logam
sedangkan seluruh permukaannya dilapisi dengan porselen. Pontik ini
biasanya diindikasikan untuk jembatan anterior dimana faktor estetis menjadi
hal yang utama. Pontik porselen mudah beradaptasi dengan gingival dan
memberikan nilai estetik yang baik untuk jangka waktu yang lama.
3) Pontik akrilik
Pontik akrilik adalah pontik yang dibuat dengan memakai bahan resin
krilik. Dibandingkan dengan pontik lainnya, pontik akrilik lebih lunak dan
tidak kaku sehingga membutuhkan bahan logam untuk kerangkanya agar
mampu menahan daya kunyah / gigit. Pontik ini biasanya diindikasikan untuk
jembatan anterior dan berfungsi hanya sebagai bahan pelapis estetis saja.
4) Kombinasi Logam dan Porselen

Pontik ini merupakan kombinasi logam dan porselen dimana logam


akan memberikan kekuatan sedangkan porselen pada jenis pontik ini
memberikan estetis. Porselen pada bagian labial/bukal dapat dikombinasikan
dengan logam yang bertitik lebur tinggi (lebih tinggi dari temperature
porselen). Tidak berubah warna jika dikombinasikan dengan logam, sangat
keras, kuat dan kaku dan mempunyai pemuaian yang sama dengan porselen.
Porselen ditempatkan pada bagian labial/bukal dan daerah yang menghadap
linggir, sedangkan logam ditempatkan pada oklusal dan lingual. Pontik ini
dapat digunakan pada jembatan anterior maupun posterior.
5) Kombinasi Logam dan Akrilik
Pada kombinasi logam dan akrilik ini, akrilik hanya berfungsi sebagai
bahan estetika sedangkan logam yang memberi kekuatan dan dianggap lebih
dapat diterima oleh gingival sehingga permukaan lingual/palatal dan daerah
yang menghadap gusi dibuat dari logam sedangkan daerah labial/bukal dilapisi
dengan akrilik.
b. Berdasarkan hubungan dengan Jaringan Lunak
1) Pontik Sanitary
Pada pontik ini, dasar pontik tidak berkontak sama sekali dengan
linggir alveolus sehingga terdapat ruangan/jarak antara dasar pontik dengan
linggir alveolus (1-3 mm), dan permukaan dasar pontik cembung dalam segala
aspek. Tujuan pembuatan dasar pontik ini adalah agar sisa-sisa makanan dapat
dengan

mudah

dibersihkan. Adanya

bentuk

pontik

yang

demikian

mengakibatkan kekurangan dalam hal estetis sehingga hanya diindikasikan


untuk pontik posterior rahang bawah.
2) Pontik Ridge Lap

10

Bagian labial/bukal dari dasar pontik berkontak dengan linggir


alveolus sedangkan bagian palatal menjauhi linggir ataupun sedikit menyentuh
mukosa dari linggir. Hal ini mengakibatkan estetis pada bagian labial/bukal
lebih baik, dan mudah dibersihkan pada bagian palatal. Walaupun demikian
menurut beberapa hasil penelitian, sisa makanan masih mudah masuk ke
bawah dasar pontik dan sulit untuk dibersihkan. Pontik jenis ini biasanya
diindikasikan untuk jembatan anterior dan posterior.
3) Pontik Conical Root
Pontik conical root biasanya diindikasikan untuk jembatan imediat
yang dibuatkan atas permintaan pasien yang sangat mengutamakan estetis
dalam kegiatan sehari-hari. Pontik ini dibuat dengan cara bagian dasar pontik
masuk ke dalam soket gigi yang baru dicabut kira-kira 2 mm. pontik ini
dipasang segera setelah dilakukannya pencabutan dan pada pembuatan ini
tidak menggunakan restorasi provisional.
4) Saddle pontic
Disain menyerupai gigi asli menggantikan seluruh gigi yg hilang tanpa
mengubah bentuk anatomi .Permukaan lingual &bukal menempel/kontak
Indikasi : semua bentuk & lokasi residual ridge

3. Konektor (Connector)
Merupakan bagian dari gigi tiruan jembatan yang menghubungkan pontik
dengan retainer, pontik dengan pontik atau retainer dengan retainer sehingga
menyatukan bagian-bagian tersebut untuk dapat berfungsi sebagai splinting dan
penyalur beban kunyah.
11

Terdapat 2 macam konektor, yakni:


1. Rigid connector
2. Non Rigid Connnector
4. Penyangga (Abutment)
Sesuai dgn jumlah, letak dan fungsinya dikenal istilah:
1. Single abutment hanya mempergunakan satu gigi penyangga
2. Double abutment bila memakai dua gigi penyangga
3. Multiple abutment bila memakai lebih dari dua gigi penyangga
4. Terminal abutment
5. Intermediate/pier abutment
6. Splinted abutment
7. Double splinted

Gambar 10. Double Abutment dan Terminal Abutment.

Gambar 11. Intermediet/ Pier Abutment


12

2.3 Cara menentukan jumlah gigi penyangga:


1. Hukum ante

luas ligament periodontal gigi penyangga besar atau sama

dibandingkan gigi yg hilang.


2. Gunakan gigi penyangga pd ke 2 sisi diastema
3. Perbandingan mahkota & akar
4. Span ukuran panjang diastema
5. Lengkung rahang
6. Tek. Kunyah
7. Anatomi gigi & posisi gigi
8. Vitalitas gigi
2.4 Jenis desain bridge
1. Fixed-fixed bridge: bridge yang konektornya bersifat rigid/kaku. Bisa digunakan
pada gigi anterior/posterior
2. Fixed moveble ridge: bridge yang satu konektornya bersifat rigid/kaku dan yang
satu bersifat elastis/lentur. Digunakan pada gigi yang menggunakan tekanan mastikasi
besar.
3. Spring bridge : bridge yang mempunyai pontik jauh dari retainer dan dihubungkan
dengan palatal bar.
Indikasi: pada kasus dimana gigi anterior terdapat diastema (kasus yang
mengutamakan estetis).

13

4. Cantilever bridge: satu ujung bridge melekat secara rigid/kaku oada retainer
sedang ujung yang lain bebas/menggantung. Biasanya dibuat pada pasien yang
menghendaki sedikit jaringan gigi asli yang dikurangi tetapi tetap tidak lepas dari
kriteria retensi dan stabilitasi.
5. Compound bridge: kombinasi dari dua tipe bridge
6. Complex bridge: jembatan bilateral meliputi dua sisi rahang yang menggantikan
sejumlah gigi dengan kegiatan fungsi yang berbeda.

2.5 Indikasi dan kontra indikasi pembuatan GTC


Menurut Ewing (1959), indikasi pembuatan GTC yakni antara lain :
1.

Gigi sudah erupsi penuh, usia pasien 20-55 tahun.

2.

Mempunyai struktur jaringan gigi yang sehat.

3.

Oral hygiene baik.

4.

Mengganti hanya beberapa gigi yang hilang (1-4 gigi).

5.

Kondisi ridge dalam batas normal.

6.

Processus alveolaris yang mendukung baik.

7.

Gigi abutment tidak malposisi dan mampu menerima tekanan pontic, sedapat
mungkin paralel dan vital.

8.

Mempunyai hubungan oklusi dan jaringan periodonsium yang baik.

9.

Gigi abutment posisinya sedapat mungkin sejajar dan masih vital.

14

10.

Pasien tidak mempunyai kebiasaan jelek.

11.

Kesehatan umum dan sosial indikasi pasien baik.

12.

Merupakan suatu treatment dari kasus-kasus penyakit periodontal.

Sedangkan untuk kontra indikasi GTC adalah :


Pasien terlalu muda atau tua
Struktur gigi terlalu lunak
Hygiene mulut jelek
Gigi yang harus diganti banyak
Kondisi daerah tak bergigi mengalami resorbsi eksisi.
Alveolus pendukung gigi kurang dari 2/3 akar gigi.
Gigi abutment abnormal dan jaringan periodonsium tidak sehat.
Oklusi abnormal.
Kesehatan umum jelek.
Tidak terjalin kooperatif dari pasien dan operator.
Mempunyai bad habit (kebiasaan buruk).
Gigi hipersensitif walaupun sudah dianestesi.

2.6 Faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan


Faktor yang mempengaruhi keberhasilan :
Pengetahuan yang cukup dari operator
Operator mempunyai keahlian, kemahiran, dan keterampilan
Kesediaan penderita menerima perawatan
Sikap/watak penderita
Bahan yang tepat
Faktor yang mempengaruhi kegagalan :

Ketidakmampuan dari operatornya


Kurangnya keahlian, kemahiran serta keterampilan dari operator
Penyampaian informasi yang tidak bisa di terima pasien
15

Sikap pasien yang tidak kooperati

2.7 Skema
Pasien 17thn
membuat GTC

DIAGNOSIS:
Missing : 11,46
Radik : 36

Rencana
perawatan

akhir

awal

Restorasi
gigi 16,26.

Ektraksi gigi
36

Bridge gigi
11 :
cantilever
Bridge gigi
36 dan 46:

16

Komponenkomponen
Bridge

Bahan

PFM

porcele
n

penyangg
a

Hukum ante

Perbandingan

retain
er
Ekstra
corona
retainer

ponti
k

Akril
ik

Loga
m

konekto
r

Pontik
sanitary

Rigid
connector

Intra
radikuler
retainer

Pontik
ridge lab

Non rigid
connector

Intra
corona
retainer

Pontik
conical
root

mahkota & akar

Span

Lengkung rahang

Tek. Kunyah

Fixed-fixed
bridge
cantilever

Fixed
movable
bridge
Compound
bridge

Pontik
sadle

17

Semi fixed
bridge
Spring
bridge

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Kasus
Kasus : Nidia 17 tahun, Dari pemeriksaan pada model gigi terdapat gigi 11 missing, gigi 16
dan 26 karies, gigi 46 missing, dan gigi 36 sisa radik.
18

3.2 Analisis Masalah


1. Diagnosa kasus
Diagnosa kasus didapatkan dari pemeriksaan model anatomis pasien:

Dari kasus di atas diagnosanya adalah :


Pada gigi 11
: missing, didapatkan dengan pemeriksaan pada model anatomis
Pada gigi 16 : karies, didapatkan dengan pemeriksaan pada model anatomis
Pada gigi 26
: karies, didapatkan dengan pemeriksaan model anatomis
Pada gigi 36
: radik, didapatkan dari pemeriksaan model anatomis
Pada gigi 46
: missing, didapatkan dari pemeriksaan model anatomis
2. Rencana perawatan
Rencana Perawatan : Tahap yang berikutnya dalam proses merawat sesudah
pengkajian dikerjakan dan masalah kesehatan

telah diidentifikasi dan disusun

menurut prioritasnya. Rencana perawatan dapat di bagi dua yaitu :


A. Rencana perawatan awal
Adalah perencanaan tindakan yang lebih awal dilakukan pada kasus sebelum
di lanjutkan ke rencana akhir untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
Gigi 11 : ekstraksi
Gigi 26 : restorasi
Gigi 16 : restorasi
B. Rencana perawatan akhir
Kelanjutan dari rencana perawatan awal untuk mendapatkan hasil sesuai yang
di inginkan. Dari kasus dapat diketahui rencana perawatan akhirnya adalah :
Pada gigi 11 : Cantilever
Pada gigi 36 : fixed fixed bridge
Pada gigi 46 : fixed fixed bridge
3. Indikasi dan kontraindikasi dari bridge
Indikasi pembuatan bridge adalah sebagai berikut.
1. Kehilangan satu atau lebih gigi geligi asli
2.Gigitan dalam (deep bite)

19

3.Gigi penyangga memerlukan restorasi


4.Diastema abnormal, besarnya ruangan protesa kurang dari normal
5.Gigi penyangga memerlukan penanggulangan berupa stabilisasi atau splint
6.Terdapat diastema pasca perawatan.
Kontraindikasi untuk pembuatan bridge adalah:
1. OH yg tdk terpelihara
2. Physical handicap
3. Indeks karies yang tingi
4. Cross bite
5. Malposisi
6. Migrasi atau ekstrusi yang parah

4. Komponen bridge
Komponen Bridge pada gigi anterior:

Gigi 11
Retainer
Konektor
Abutment
Pontik

: ekstra korona retainer


: rigid konektor
: single abutment
: ridge lap pontik

20

Komponen Bridge pada gigi posterior: gigi 36


Retainer
: ekstra korona retainer
Konektor
: rigid konektor
Abutment : double abutment
Pontik
: ridge lap pontik
Gigi 46
Retainer
: ekstra korona retainer
Konektor
: rigid konektor
Abutment : double abutment
Pontik
: ridge lap pontik
5. Jenis bridge yang dibuatkan
Anterior gigi 11: cantilever, karena luas ligament periodontal gigi 21 sama
dengan 11 sehingga gigi 21 saja sudah cukup untuk dijadikan retainer.
Biasanya untuk pasien yang mengkehendaki pengambilan jaringan gigi asli

sedikit karena akan mempengaruhi estetis


Posterior gigi 36 dan 46 : fixed fixed bridge karena adanya tilting pada gigi

37, 45, 47.


6. Bahan yang akan digunakan
Bahan yang digunakan untuk pembuatan bridge :
gigi 11 : porselen fused metal, karena adanya deep bite anterior akan

menyebabkan bahan porselen mudah pecah.


gigi 36 : porselen fused metal, karena beban kunyah pada gigi

posterior lebih besar


gigi 46 : porselen fused metal, karena beban kunyah pada gigi

posterior lebih besar


7. faktor yang mempengaruhi kegagalan dan keberhasilan pembuatan bridge?
Faktor yang mempengaruhi keberhasilan dari pembuatan mahkota tiruan adalah
Pengetahuan yang cukup dari operator. Jadi operator dapat mendiagnosa dengan tepat
sehingga memperkecil terjadinya kesalahan.
Operator mempunyai keahlian, kemahiran, dan keterampilan juga mempengaruhi
keberhasilan. Keterampilan operator untuk membuat mahkota tiruan sangat diperlukan
karena mempengaruhi kedetailan pembuatan sehingga keestetisan yang baik dapat dicapai.

21

Selain itu, kesediaan dan keinginan

pasien untuk melakukan perawatan juga

berpengaruh terhadap keberhasilan tindakan.


Faktor yang mempengaruhi kegagalan :
Ketidakmampuan dari operatornya
Kurangnya keahlian, kemahiran serta keterampilan dari operator
Miss communication antara operator dan pasien
Sikap pasien yang tidak kooperatif
8. Desain

9. Prognosis
22

Prognosis baik karena rencana perawatan sudah dibuat sesuai dengan sesuai indikasi
pada kasus.
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN

Dari model anatomis dapat dilakukan pemeriksaan objektif . Setelah didapatkan


diagnosa kita dapat melakukan rencana perawatan sehingga didapatkan jenis gigi tiruan cekat
yang ideal dibuatkan pada pasien yaitu bridge dengan bahan yang digunakan PFM.

DAFTAR PUSTAKA

23

1. Barclay, C.W; Walmsley, A.D. 1998. Fixed and Removable


Prosthodontics.Birmingham: Churcill Livingstone, hal 115.
2. Smith,Bernard G N;Howe, Leslie C. 2007. Planning and Making Crown and Bridges,
4th ed. New York: Informa Healthcare.
3. Ewing JE. Fixed Partial Prosthesis. 2nd ed. Philadelphia: Lea & Febinger, 1959: 16977.
4. Tylman SD. Construction of Pontics For Fixed Partial Dentures: Indications, Types,
and Materials. In Theory and Practice of Crown and Fixed Partial Prosthodontics.
6th ed. Saint Louis: CV Mosby 1970: 26, 165, 650-81.
5. Prajitno, H.R. 1994. Ilmu Geligi Tiruan Jembatan: Pengetahuan Dasar dan
Rancangan Pembuatan. Jakarta : EGC.s
6. http://www.scribd.com/doc/37709753/GIGI-TIRUANs

24