Anda di halaman 1dari 16

ANALISA PENGGUNAAN BIAYA ALAT BERAT PADA PROYEK PEMBANGUNAN

JALAN STRATEGIS RUAS LANNA PATTALASSANG


1)
A.Muh.Subchan Wahid, Ibnu Hisyam,2)Mardiana Amir, S.T., M.T , Dr.Ir. Akhmad Azis,
M.T.
Abstrak. Analisa penggunaan biaya alat berat pada proyek pembangunan jalan strategis ruas
lanna pattalassang bertujuan untuk memilih dan menghitung alat berat yang dipakai secara
efektif dan efisien. salah satu faktor penting dalam keberhasilan proyek sehingga diperlukan
analisa penggunaan biaya alat berat yang dapat menghasilkan efektifitas serta efisiensi
terhadap proyek, serta mengetahui kemampuan dan kinerja suatu alat berat dalam satu siklus
pekerjaan serta dapat menjadikan pekerjaan menjadi lebih ekonomis dan tepat sasaran.
Alat Berat atau Heavy Equipment, adalah alat bantu yang di gunakan oleh manusia
untuk meringankan pekerjaan yang berat / susah di kerjakan dengan tenaga manusia agar
tercapai efektifitas dan efisiensi kerja. Pemilihan alat berat juga sangat penting dalam
menngerjakan proyek, harus sesuai serta penggunaan alat-alat berat yang kurang tepat dan
tidak sesuai dengan kondisi dan situasi lapangan akan berpengaruh pada proses pengerjaan
dan menyebabkan kerugian, antara lain menurunnya produktivitas alat, tidak tercapainya
jadwal/target yang telah ditentukan, atau kerugian biaya repair yang tidak semestinya.
Pada penelitian ini dilakukan perhitungan kapasitas aktual alat berat, harga satuan
pekerjaan, daftar kuantitas harga, dan rekapitulasi pekerjaan untuk dianalisa dengan benar
sehingga menghasilkan nilai yang berguna dan dapat di pertanggung jawabkan. Manfaat dari
penilitian ini mahasiswa dapat mengetahui dan dapat menghitung penggunaan biaya alat berat
yang menghasilkan efektifitas dan efisiensi, serta memberikan informasi yang berguna bagi
pelaksanaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan biaya alat berat yang dianalisis oleh
penulis secara keseluruhan lebih sedikit dibandingkan dengan penggunaan biaya alat berat
biaya proyek. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan dalam penggunaan alat, harga alat,
waktu siklus, metode kerja, serta faktor koreksi yang digunakan.

I.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Jalan merupakan salah satu jenis transportasi darat yang memegang peranan
penting bagi kelancaran pembangunan serta pemerataannya. Pembangunan sarana
transportasi mempunyai peranan penting, sebab itu disadari makin meningkatnya
jumlah pemakai jalan yang akan menggunakan sarana tersebut. Lancar atau tidaknya
transportasi akan membawa dampak yang cukup besar terhadap kehidupan masyarakat,
terutama di bidang ekonomi.
Proyek pembangunan jalan ruas Lanna-Pattallassang, merupakan ruas trans daerah
yang sangat vital untuk menghubungkan antar kabupaten, sehingga sekiranya
pemerintah perlu meningkatkan kualitas pada ruas jalan tersebut. Karena itu, di
perlukan langkah-langkah yang tepat baik perencanaan maupun dalam pelaksanaan.
Perlunya pengetahuan lebih lanjut mengenai produktivitas masing-masing alat
sebagai upaya yang tepat agar menghasilkan pekerjaan yang efektif dan efisien.
Rumusan Masalah
1. Berapakah biaya alat berat berdasarkan data lapangan pada proyek pembangunan
Jalan Strategis Ruas Lanna-Pattallassang ?
2. Apakah penyebab sehingga terjadinya perbedaan antara analisa berdasarkan data
lapangan dengan kontrak ?
Tujuan Penelitian
1. Untuk menghitung biaya alat berat dengan berdasarkan data lapangan.

1)

Alumni Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang


Dosen Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang

2)

2. Untuk mengetahui penyebab terjadinya perbedaan antara analisa berdasarkan data


lapangan dan kontrak.
Manfaat Penelitian
Dengan adanya penulisan proyek akhir ini diharapkan dapat memberi masukan
atau manfaat kepada mahasiswa tentang proses penggunaan alat berat yang efektif dan
efisien. Sedangkan bagi pengembangan atau aplikasi keilmuan adalah memberikan
gambaran penggunaan alat berat yang baik sehingga dalam pemilihan peralatan,
menghitung jumlah kebutuhan alat, dan mengestimasi biaya penggunaan peralatan berat
dapat memberikan hasil yang optimal.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Dasar Teori
Alat Berat atau Heavy Equipment, adalah alat bantu yang di gunakan oleh
manusia untuk mengerjakan pekerjaan yang berat / susah untuk di kerjakan dengan
tenaga manusia / membantu manusia dalam mengerjakan pekerjaan yang berat. misal
untuk membuat sebuah danau, manusia menggunakan alat berat untuk mengerjakannya.
Penggunaan alat-alat berat yang kurang tepat dengan kondisi dan situasi lapangan
pekerjaan akan berpengaruh berupa kerugian antara lain rendahnya produksi, tidak
tercapainya jadwal/target yang telah ditentukan, atau kerugian biaya repair yang tidak
semestinya.
Oleh karena itu sebelum menentukan type dan jumlah peralatan dan attachmetnya,
sebaiknya kita fahami lebih dahulu fungsi dan aplikasinya.
Selain Faktor ini biasanya pihak executive di sebuah perusahaan alat berat, sangat
memikirkan mengenai spare part dan kecepatan dalam perbaikan unit untuk mereduce
down time unit saat sedang rusak. namun hal - hal seperti ini biasanya di pikirkan sejak
awal oleh si pembeli dan si penyuply saat investasi unit di awal.
1. Macam-macam Alat berat dan Fungsinya :
Eksistensi alat berat dalam proyek-proyek dewasa ini baik proyek konstruksi
maupun proyek manufaktur sangatlah penting guna menunjang Pemerintah baik dalam
pembangunan infastruktur maupun dalam eksplore hasil-hasil tambang, misalnya semen
dan batubara. Keuntungan-keuntungan dengan menggunakan alat-alat berat antara lain
waktu yang sangat cepat, tenaga yang besar dan nilai-nilai ekonomis. Penggunaan alat
berat yang kurang tepat dengan kondisi dan situasi lapangan pekerjaan akan
berpengaruh berupa kerugian antara lain rendahnya produksi, tidak tercapainya jadwal
atau target yang telah ditentukan atau kerugian biaya perbaikan yang tidak semestinya.
Oleh karena itu, sebelum menentukan tipe dan jumlah peralatan dan attachmentnya
sebaiknya dipahami terlebih dahulu fungsi dan aplikasinya.
Berikut macam-macam alat berat beserta fungsinya, agar dapat di pahami dalam
penggunaannya.
1.1. Pengertian Alat-alat berat
Alat-alat berat merupakan alat yang digunakan untuk membantu manusia dalam
melakukan pekerjaan pembangunan suatu struktur bangunan. Alat berat merupakan
faktor penting didalam proyek, terutama proyek proyek konstruksi maupun
pertambangan dan kegiatan lainnya dengan skala yang besar Tujuan dari penggunaan
alat alat berat tersebut adalah untuk memudahkan manusia dalam mengerjakan
pekerjaannya, sehingga hasil yang diharapkan dapat tercapai dengan lebih mudah
dengan waktu yang relatif lebih singkat.
a.
Alat Pengolah Lahan
Kondisi lahan proyek kadang-kadang masih merupakan lahan asli yang harus
dipersiapkan sebelum lahan tersebut mulai diolah. Jika pada lahan masih terdapat
semak atau pepohonan maka pembukaan lahan dapat
dilakukan dengan
menggunakan dozer. Untuk pengangkatan lapisan tanah
paling atas dapat
digunakan scraper. Sedangkan untuk pembentukan permukaan supaya rata selain
dozer dapat digunakan juga motor grader.
1)

Alumni Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang


Dosen Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang

2)

Bulldozer dapat dibedakan menjadi dua yakni menggunakan roda


kelabang (Crawler Tractor Dozer) dan Buldoser yang menggunakan roda karet (Wheel
Tractor Dozer). Pada dasarnya Buldoser menggunakan traktor sebagai tempat dudukan
penggerak utama, tetapi lazimnya traktor tersebut
dilengkapi
dengan
sudut
sehingga dapat berfungsi sebagai Buldozer yang bisa untuk menggusur tanah.
Buldoser digunakan sebagai alat pendorong tanah lurus ke dapan maupun
ke samping, tergantung ada sumbu kendaraannya. Untuk
pekerjaan di rawa
digunakan jenis Buldoser khusus yang disebut Swamp Bulldozer.
b. Alat Penggali
Jenis alat ini dikenal jga dengan istilah excavator. Beberapa alat
berat digunakan untuk menggali tanah dan batuan. Yang termasuk didalam
kategori ini adalah front shovel, backhoe, dragline, dan clamshell.
c.
Alat Pengangkut Material
Crane termasuk di dalam kategori alat pengangkut material, karena alat
ini
dapat
mengangkut
material
secara
vertical dan kemudian
memindahkannya secara horizontal pada jara jangkau yang relatif kecil. Untuk
pengangkutan material lepas (loose material) dengan jarak tempuh yang relatif
jauh, alat yang digunakan dapat berupa belt, truck dan wagon.
Alat-alat ini memerlukan alat lain yang membantu memuat material ke
dalamnya.
d.
Alat Pemindahan Material
Yang termasuk
dalam kategori ini adalah alat yang biasanya tidak
digunakan sebagai alat transportasi tetapi digunakan untuk memindahkan material dari
satu alat ke alat yang lain. Loader dan dozer adalah alat pemindahan material.
e. Alat Pemadat
Pemadatan tanah secara mekanis umumnya dilakukan dengan menggunakan
mesin penggilas (Roller); klasifikasi Roller yang dikenal antara lain adalah
1). Berdasarkan cara geraknya ; ada yang bergerak sendiri, tapi ada
juga yang di tarik dengan traktor.
2). Berdasarkan bahan roda penggilasnya, ada yang terbuat dari baja
(SteelWheel) dan ada yang terbuat dari karet (pneumatic).
3). Dilihat dari bentuk permukaan roda; ada yang punya permukaan halus (plain),
bersegmen, berbentuk grid, berbentuk kaki domba, dan sebagainya.
4). Dilihat dari susunan roda gilasnya ; ada yang dengan roda tiga(Three Wheel), roda
dua (Tandem Roller), dan Three Axle TandemRoller. Alat pemadat yang menggunakan
penggetar (vibrator).
f. Alat Pemroses Material
Alat ini dipakai untuk mengubah batuan dan mineral alam menjadi suatu
bentuk dan ukuran yang diinginkan. Hasil dari alat ini misalnya adalah batuan
bergradasi, semen, beton, dan aspal. Yang termasuk didalam alat ini adalah crusher
dan concrete mixer truck. Alat yang dapat mencampur material-material di atas
juga dikategorikan ke dalam alat pemroses material seperti concretebatch plant dan
asphalt mixing plant.
g. Alat Penempatan Akhir Material
Alat
digolongkan
pada
kategori ini karena fungsinya yaitu untuk
menempatkan material pada tempat yang telah ditentukan. Ditempat atau lokasi ini
material disebarkan secara merata dan dipadatkan sesuai dengan spesifikasi yang telah
ditentukan. Yang termasuk di dalam kategori ini adalah concrete spreader, asphalt paver,
motor grader, dan alat pemadat.
1.2.2. Klasifikasi operasional Alat Berat
Alat-alat berat dalam pengoperasiannya dapat dipindahkan dari satu tempat
ke tempat lain atau tidak dapat digerakan atau statis. Jadi klasifikasi alat berdasarkan
pergerakannya dapat dibagi atas berikut ini :
1)

Alumni Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang


Dosen Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang

2)

a. Alat dengan Penggerak


Alat penggerak merupakan bagian dari alat berat yang menerjemahkan
hasil dari mesin menjadi kerja. Bentuk dari alat penggerak adalah crawler atau
roda
kelabang dan ban karet. Sedangkan belt merupakan alat penggerak pada
conveyor belt.
b. Alat Statis
Yang termasuk dalam kategori ini adalah towercrane, batching plant,
baik untuk beton maupun untuk aspal serta crusher plant. Crane (alat pengangkat)
jenisnya ada bermacam-macam : Crane gelegar, crane kolom putar, crane putar,
crane portal, crane menara, crane kabel, dan mobil crane. Beberapa jenis Crane
banyak digunakan dalam proyek-proyek bangunan sipil yang berkaitan dengan
pemindahan tanah adalah mobile crane, sebab craneini dapat dengan mudah dipindahpindahkan, karena pekerjaan pemindahan tanah secara mekanis membutuhkan
mobilitas alat yang relatif tinggi
2. Fungsi alat berat
Dirancang untuk
melakukan berbagai aplikasi kehutanan dengan
konfigurasi Log Loader, Harvester /Processor, dan Road Builder.Backhoe Loader
merupakan gabungan dari dua alat berat yang berbeda fungsinya.Bagian depan
dilengkapi dengan bucket dan berfungsi sebagaimana loader dan bagian belakang
dilengkapi dengan perlengkapan yang sama dengan yang digunakan pada excavator.
Alat penggali sering juga disebut Excavator; ada dua tipe Excavator yaitu:
(1) Excavator yang berjalan menggunakan roda kelabang / track shoe (Crawler
Excavator) dan,
(2) Excavator yang menggunakan ban (Wheel Excavator). Excavator digunakan
untuk pekerjaan-pekerjaan.
Sifat Kembang Susut Tanah
Volume dan kerapatan tanah secara umum mengalami perubahan yang cukup
besar apabila tanah itu digali, diangkut, diletakkan dan dipadatkan. Karena adanya
perubahan volume pada kondisi tersebut, maka perlu diketahui dan ditetapkan adanya
volume di tempat aslinya, dalam keadaan lepas dan setelah dipadatkan.
Yang dimaksud kembang susut tanah adalah perubahan baik berupa penambahan atau
pengurangan volume tanah setelah diolah atau diubah dari bentuk asalnya. Volume
pekerjaan tanah umumnya diukur dalam tiga kondisi seperti terlihat pada gambar
berikut:
a. Kondisi asli (Bank Cubic Meter/BCM), u`kuran alam yaitu keadaan tanah yang
masih sesuai dengan kondisi asli alamnya. Dalam keadaan ini butiran-butiran tanah
masih terkonsolidasi dengan baik.
b.Kondisi lepas (Loose Cubic Meter/LCM), yaitu kondisi tanah sesudah mengalami
gangguan atau telah digali, misalnya keadaan tanah di depan Doser Blade, di atas
Dump Truck dan dalam Bucket. Tanah yang telah tergali dari tempat asalnya ini akan
mengalami perubahan volume, yaitu mengalami pengembangan. Hal ini diakibatkan
oleh adanya perubahan rongga udara butir-butir tanah, sehingga volumenya menjadi
besar. Besarnya penambahan volume tergantung dari factor kembang tanah (swelling
factor) yang besarnya dipengaruhi oleh jenis tanah.
c.Kondisi padat (solid measure / SM) yaitu keadaan tanah setelah ditimbun kembali dan
diadakan pemadatan. Pada keadaan ini tanah mengalami proses pemadatan sehingga
volumenya menyusut tanpa mengalami perubahan berat. Perubahan volume pada
keadaan ini terjadi karena adanya penyusutan rongga udara di antara partikel-partikel
tanah tersebut. Besarnya volume dalam keadaan padat ini tergantung dari jenis tanah,
kadar air tanag dan usaha pemadatan.
Kapasitas Produksi masing masing Alat
1. Kapasitas Produksi Excavator
Prosedur kerja / Panduan Excavator
1)

Alumni Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang


Dosen Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang

2)

Posisi excavator dalam keadaan datar.


Mengendalikan attachment dengan benar, misalnya untuk gerakan menggali,
mengangkat, dan sebagainya.
Untuk membalik arah dapat memutar revolving unit.
Rumus umum perhitungan kapasitas produksi Excavator adalah sebagai berikut :

Q =

V x 60 x FK
Ts1 x Fk

Faktor Koreksi (FK) :

fB+ fa +fo+ fd + ft
5

Dimana :
V = Kapasitas bucket
Fo = Faktor koreksi akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Hal.181)
Fd = Faktor koreksi akibat kedalaman (Lampiran 7 Hal.181)
Ft = Faktor Koreksi akibat efisiensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
FB = Faktor bucket (Lampiran 7 Hal.182 dan Tabel 2.1)
Fa = Faktor efisiensi alat (Lampiran 7 Hal.180)
Ts1 = t1 + t2 = waktu menggali atau memuat + lain-lain
Fk = Faktor pengembangan bahan (Kondisi Lepas)
Tabel 2.1 Faktor bucket (bucket fill factor) (FB)
Kondisi Material
Excavator
Tanah Liat
1,0 1,10
Pasir dan Batu Pecah
0,95 1,00
Tanah Cadas dan Keras
0,80 0,90
Batuan Hasil Ledakan
0,60 0,75
Batuan Hasil Ledakan Besar
0,40 -0,50
Sumber : Pedoman Pokok Pelaksanaan Pekerjaan dengan Menggunakan
Peralatan ( P5 ). Edisi I Direktorat Jenderal Pengairan. Hal. 81.
2. Kapasitas Produksi Loader
Prosedur kerja / Panduan Wheel loader
- Menurunkan bucket diatas permukaan tanah, mendorong ke depan
(memuat/menggusur), mengangkat bucket, membawa dan membuang muatan.
- Apabila material harus dimuatkan ke alat angkutan, misalnya truk. Cara
pemuatannya dengan lintasan V atau L.
Rumus perhitungan kapasitas produksi Loader adalah sebagai berikut :
Q = (V x 60 x FK)/ (Ts1 x Fk)

Faktor Koreksi (FK) :

fB+ fa+fo+ ft
4

Dimana :
V = Kapasitas bucket
FB = Faktor bucket (Tabel 2.2)
Ft = Faktor koreksi akibat efisiensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
Fo = Faktor koreksi akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Hal.181)
Fa = Faktor efisiensi alat (Lampiran 7 Hal.180)
Ts1 = t1 + t2 = waktu menggali atau memuat + lain-lain
Fk = Faktor pengembangan bahan (Kondisi Lepas)
Tabel 2.2 Faktor bucket (bucket fill factor) (FB)
Kondisi Penumpahan
Wheel Loader
Mudah
0,8 1,0
1)
Alumni Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang
2)
Dosen Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang
5

Sedang
0,6 0,8
Agak Sukar
0,5 0,6
Sukar
0,4 0,5
Sumber:
Pedoman
Pokok
Pelaksanaan
Pekerjaan
dengan
MenggunakanPeralatan(P5 ). Edisi I Direktorat Jenderal
Pengairan. Hal. 81.
Tabel 2.3 Waktu siklus standar
Kapasitas Bucket
s/d 3 m3 3,1 m3 s/d 5 m3
5,1 m3
Kondisi Kerja
Mudah
0,40
0,50
0,60
Sedang
0,50
0,60
0,65
Agak Sukar
0,65
0,65
0,70
Sukar
0,70
0,75
0,75
Sumber : Pedoman Pokok Pelaksanaan Pekerjaan dengan Menggunakan
Peralatan (P5 ). Edisi I Direktorat Jenderal Pengairan. Hal. 81.
3. Kapasitas Produksi Dump Truck
Prosedur Kerja / Panduan Dump truck
- Posisi truck harus stabil dan rata ketika proses pemuatan material.
- Saat penumpahan muatan (dumping) dilakukan secara hidrolis yang
menyebabkan bak terangkat pada satu sisi, sedang sisi lain yang berhadapan
berputar sebagai engsel.
Kapasitas produksi Dump Truck dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :
Q=

( V x 60 x FK )
Ts 2 x Fk x D

Faktor Koreksi (FK) :

fa+ fo+ ft
3

Dimana :
V = Kapasitas bak
Fk = Faktor pengembangan bahan (Kondisi Lepas)
Ft = Faktor koreksi akibat efisiensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
Fo = Faktor koreksi akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Hal.181)
Ts2 = waktu siklus (waktu tempuh isi + kosong + lain-lain)
Fa = Faktor efisiensi alat (Tabel 2.4)
Tabel 2.4Efisiensi Kerja Dump Truck (Fa)
Kondisi Kerja
Efisiensi Kerja
Baik
0,83
Sedang
0,80
Kurang Baik
0,75
Buruk

0,70

Sumber: Seminar Application of Heavy Equipment for IrigationProjects PT.


United Tractors. Hal 110.
Tabel 2.5Kecepatan rata-rata maksimum Dump Truck
Kecepatan Maksimum
Datar

Bermuatan

40 km/jam

Kosong

60 km/jam

1)

Alumni Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang


Dosen Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang

2)

Naik
Menurun

Bermuatan

20 km/jam

Kosong

40 km/jam

Bermuatan

20 km/jam

Kosong
40 km/jam
Sumber : Pedoman Pokok Pelaksanaan Pekerjaan dengan Menggunakan
Peralatan ( P5 ). Edisi I Direktorat Jenderal Pengairan. Hal. 80
4. Kapasitas Produksi Vibrator Roller
Prosedur Kerja / Panduan Vibrator roller
- Pada pekerjan tanah setelah tanah dihamparkan dapat dilakukan pemadatan.
- Roller pada alat menggilas tanah serta vibrator pada alat yang membantu
menyusutkan tanah.
- Diperluakan lintasan yang sesuai untuk mengefektifkan pemadatan, dengan cara
maju dan memundurkan alat.
Kapasitas produksi Vibrator Roller dihitung dengan menggunakan rumus
sebagai berikut :
Q = (V x 1000)x(N(b-bo)+bo) x t x FK / n
Faktor Koreksi (FK) :

fa+ fk +fo+ ft
4

Dimana :
V = Kecepatan operasi alat
Ft = Faktor koreksi akibat efisiensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
Fo = Faktor koreksi akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Hal.181)
b = Lebar efektif pemadatan
n = Jumlah lintasan
t = Tebal pemadatan
Fk = Faktor pengembangan bahan (Kondisi Lepas)
Fa = Faktor efisiensi alat (Lampiran 7 Hal.180)

5. Kapasitas Produksi AMP ( Aspal Mixing Plant )


Kapasitas produksi AMP (Aspal Mixing Plant) dihitung dengan menggunakan
rumus sebagai berikut :
Q = (v x FK) / d1 x t
Faktor Koreksi (FK) :

6.

fa+ fo+ ft
3

Dimana :
V = Kapasitas alat
D1 = Berat Jenis Aspal
Fa = Faktor efisiensi kerja (Lampiran 7 Hal.180)
Ft = Faktor koreksi akibat efisiensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
Fo = Faktor koreksi akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Hal.181)
Kapasitas Produksi Asphalt Finisher
Kapasitas produksi Asphalt Finisher dapat dihitung dengan menggunakan rumus
sebagai berikut :
Q = (v x b x FKx 60)
Faktor Koreksi (FK) :

fa+ fo+ft
3

Dimana :
1)

Alumni Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang


Dosen Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang

2)

V = Kapasitas alat
b = lebar hamparan
Fa = Faktor efisiensi kerja (Lampiran 7 Hal.180)
Ft = Faktor koreksi akibat efisiensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
Fo = Faktor koreksi akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Hal.181)
7. Kapasitas Produksi Asphalt Sprayer(Hand Sprayer)
Kapasitas produksi Asphalt Finisher Asphalt Sprayer(Hand Sprayer)
dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Q = (pas x FK x 60)
Faktor Koreksi (FK) :

fa+ fo+ ft
3

Dimana :
V = Kapasitas alat
Pas = kapasitas pompa aspal
Fa = Faktor efisiensi kerja (Lampiran 7 Hal.180)
Ft = Faktor koreksi efisiensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
Fo = Faktor koreksi akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Ha.181)
8. Kapasitas Produksi Air Compressor
Rumus air compressor berikut adalah sebagai pembersih area proyek (permukaan
jalan) yang akan dilabur aspal.
Kapasitas produksi (luas permukaan) / jam = Q
Q = V x Ap
Dimana :
V = Kapasitas alat
Ap = Aplikasi lapisan (liter)
9. Kapasitas Produksi Motor Grader
Kapasitas produksi Motor Grader dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :
Q = (Lh x (N(b-bo)+bo) x t x FK x 60 /Ts3 x n
Faktor Koreksi (FK) :

fa+ fk +fo + ft
4

Dimana :
Lh = panjang hamparan
b = lebar efektif blade
t = tebal lapis aggregate
Fa= faktor efisiensi alat (Tabel 2.6)
Ft = Faktor koreksi akibat efisiensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
Fo = Faktor koreksi akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Hal.181)
n = jumlah lintasan
Ts3= waktu siklus
Tabel 2.6Lebar (panjang) pisau efektif, lebar overlap
Panjang
Panjang / Lebar / Pisau Efektif (m)
Pisau (m)
Sudut Pisau 60
Sudut Pisau 45
2,2
1,9
1,6
2,5
2,2
1,8
2,8
2,4
2,0
3,05
2,6
2,2
3,1
2,7
2,2
1)

Alumni Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang


Dosen Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang

2)

3,4
2,9
2,4
3,7
3,2
2,6
4,0
3,5
2,8
4,3
3,7
3,0
Sumber : Pedoman Praktis Penggunaan Peralatan Mekanis PT. Hutama Karya
1982.
Tabel 2.7Faktor efisiensi kerja (Fa)
Kondisi Kerja
Efisiensi Kerja
Road repair, leveling
0,8
Snow removal (V-type plow)
0,7
Spreading, grading
0,6
Treaching, snow-removal
0,5
Sumber : P4edoman Praktis Penggunaan Peralatan
MekanisPT.HutamaKarya1982.
10. Kapasitas Produksi Tandem Roller
Kapasitas produksi Tandem Roller dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :
Q = (Vx 1000) x (N(b-bo) + bo) x t x FK / n
Faktor Koreksi (FK) :

fa+ fk +fo+ ft
4

Dimana :
b=Lebar efektif pemadatan
V = Kecepatan alat
Fa = Faktor efisiensi kerja (Lampiran 7 Hal.180)
Ft = Faktor koreksi akibat efisiensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
Fo = Faktor koreksi akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Hal.181)
t = Tebal pemadatan
bo = lebar overlap
n = Jumlah lintasan
11. Kapasitas Produksi Pneumatic Tire Roller
Kapasitas produksi Pneumatic Tire Roller dihitung dengan menggunakan rumus
sebagai berikut :
Q=

( v x 1000 ) x bx FK
n

Faktor Koreksi (FK) :

fa+ fo+ ft
3

Dimana :
b=Lebar efektif pemadatan
V = Kecepatan alat
Fa = Faktor efisiensi kerja (Lampiran 7 Hal.180)
Ft = Faktor koreksi efisiensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
Fo = Faktor koreksi akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Hal.181)
t = Tebal pemadatan
n = Jumlah lintasan
12. Kapasitas Produksi Water Tank Truck
Kapasitas produksi Water Tank Truck dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :
Q = (pa x FK x 60)/Wc x 1000
1)

Alumni Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang


Dosen Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang

2)

Faktor Koreksi (FK) :

fa+ fk +fo + ft
4

Dimana :
V = Kapasitas tangki air
Wc = Kebutuhan air/ m3
Pa = kapasitas pompa air
Fa = Faktor efisiensi kerja (Lampiran 7 Hal.180)
Ft = Faktor efisensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
Fo = Faktor akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Hal.181)
n = Pengisian tangki / jam
13. Kapasitas Produksi Truck Mixer
Kapasitas produksi Truck Mixer dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :
Kapasitas Produksi (Q) =
Faktor Koreksi (FK) :

V x 60 x FK
ts

fa+ fo+ ft
3

Dimana :
V = Kapasitas alat
Fa = Faktor efisiensi kerja ( Lampiran 7 Hal.180)
Ft = Faktor efisiensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
Fo = Faktor akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Hal.181)
Ts = Waktu siklus
14. Kapasitas Produksi Batchin Plant
Kapasitas produksi Batchin Plant dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :
Q=

V x FK x 60
1000 x ts

Faktor Koreksi (FK) :

fa+ fo+ ft
3

Dimana :
V = Kapasitas alat / jam
Fa = Faktor efisiensi kerja (Lampiran 7 Hal.180)
Ft = Faktor efisiensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
Fo = Faktor koreksi akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Hal.181)
Ts = waktu siklus
III. METODE PENELITIAN
Langkah Penelitian
Langkah penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah panduan
observasi, dan panduan wawancara.
Observasi atau survey lapangan dilakukan dengan mengamati secara visual,
pengukuran dan perhitungan di lapangan untuk memperoleh gambaran dan informasi
yang sebenarnya tentang kondisi yang terjadi di lapangan.
Panduan wawancara yang dilakukan adalah wawancara tidak berstruktur yaitu
wawancara yang dilakukan tanpa ada batasan waktu dan daftar urutan pertanyaan, tapi
berpegang pada pokok penting permasalahan yang sesuai dengan tujuan wawancara.
Data dan Sumber Data
1)
Alumni Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang
2)
Dosen Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang
10

Data penelitian ini berupa tabel, grafik, dan teks,. Data ini bersumber dari
pengamatan dan pencatatan langsung dilapangan serta studi pustka yang dilakukan
pada time schedule proyek. Selain itu,data penelitian ini bersumber pula dari hasil
wawancara dengan Site Manager, Pengawas dari pihak kontraktordan pihak- pihak
lainnya yang terkait di proyek tersebut.
Metode dan Teknik Pengumulan Data
Metode penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah
penelitian lapangan yaitu dengan teknik observasi yaitu pengamatan yang dilakukan di
lapangan dan wawancara.
Observasi menyaratkan pencatatan dan perekamansistematis mengenai
sebuah peristiwa, danperilaku-perilaku informan dalam situasi tertentu,bukan seperti
yang belakangan diingat, diceritakan kembali dandigeneralisasikan oleh peneliti itu
sendiri. Metode observasi seringdikaitkan dengan wawancara.
Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif.
Metode penelitian kuantitatif yaitu penelitian yang dirancang untuk mengetahui objek
tertentu atau benar-benar fokus pada sautu permasalahan saja. Tujuan dari penelitian
kuantitatif adalah untuk melakukan tes terhadap teori yang sudah ada sebelumnya,
hanya saja ingin membuktikan kebenaran teori yang sudah ada tersebut.
Prosedur Penelitian
1. Tahap Persiapan
Pada tahap ini meliputi kegiatan kajian kepustakaan, dan perencanaan teknik-teknik
yang dapat memudahkan proses pengambilan data dan mobilisasi tenaga.
2. Tahap Pengumpulan Data
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan yaitu dengan teknik
observasi yaitu pengamatan yang dilakukan di lapangan dan wawancara.
a. Observasi atau survey lapangan dilakukan dengan mengamati secara visual,
pengukuran dan perhitungan di lapangan untuk memperoleh gambaran dan
informasi yang sebenarnya tentang kondisi yang terjadi di lapangan. Melihat dan
membandingkan time schedule dengan realisasi yang telah terlaksana di lapangan.
b. Tipe wawancara yang dilakukan adalah wawancara tidak berstruktur yaitu
wawancara yang dilakukan tanpa ada batasan waktu dan daftar urutan pertanyaan,
tapi berpegang pada pokok penting permasalahan yang sesuai dengan tujuan
wawancara. Narasumber dipilih pihak-pihak yang terlibat dalam proyek
diantaranya adalah Site Manager dan pengawas dilapangan.
c. Data-data yang dibutuhkan
Data-data yang dibutuhkan untuk penelitian ini antara lain:
1) Daftar jumlah alat
2) Jam kerja alat
3) Laporan Mingguan Proyek
Merupakan prestasi proyek yang telah dicapai dalam 1 minggu. Dalam
laporan ini, terdapat volume dan bobot (%) kemajuan pekerjaan dalam periode
minggu tersebut.
3. Tahap Analisa Data Hasil Survey
Data yang diperoleh akan diolah dengan menggunakan Microsoft Excel.
4. Perencaan dari Hasil Analisa Data
Dari hasil analisa maka dapat diketahui faktor-faktor yang menyebabkan
keterlambatan pada proyek tersebut sehingga dapat pula diketahui cara
pengendalian alat berat pada proyek pembangunan jalan lanna-pattallassang.
Selain itu dengan pengolahan data yang baik maka perbandingan waktu yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek sesuai dengan rencana awal dengan
perencanaan dengan menggunakan Microsoft Excel dapat diketahui.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
1)

Alumni Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang


Dosen Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang

2)

11

Rekapitulasi Analisa Alat Berat pada Item Pekerjaan


Pembahasan

1. Berdasarkan hasil perhitungan rencana anggaran biaya yang dibuat diperoleh


kapasitas produksi alat tiap pekerjaan :
1.1. Pekerjaan galian biasa dengan volume 3.844,80 m 3dengan alat berat yang
bekerja pada pekerjaan ini sebagai berikut :
(a). Excavator : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini sebesar
82,70 m3/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas produksi
alat ini sebesar 98,14m3/jam.
(b) Dump truk : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini sebesar
20,07 m3/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas produksi
alat ini sebesar 26,13m3/jam.
Hal ini terjadi dikarenakan jam kerja efektif per-hari dari data lapangan sebanyak 8
jam sedangkan kontrak sebanyak 7 jam, kapasitas alat yang berbeda, waktu siklus
dumptruck yang lebih cepatdari data lapangan 4,21 menit sedangkan dari kontrak 4,52
menit dan penambahan faktor koreksi yaitu faktor bucket (FB), faktor efesiensi alat
(Fa), faktor akibat kecakapan operator (Fo), Faktor kedalaman (Fd), faktor
pengembangan bahan (Fk), dan faktor efesiensi waktu (Ft).
1.2. Pekerjaan timbunan biasa dengan volume 4.005 m 3dengan alat berat yang
bekerja pada pekerjaan ini sebagai berikut :
(a). Excavator : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini sebesar
91,89 m3/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas produksi
alat ini sebesar 100,29 m3/jam.
(b). Dump truck : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini sebesar
28,46 m3/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas produksi
alat ini sebesar 34,40 m3/jam.
(c). Motor grader : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini
sebesar 374,40 m3/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas
produksi alat ini sebesar 413,40 m3/jam.
1.3. Pekerjaan timbunan pilihan dengan volume 2.008,80 m3dengan alat berat yang
bekerja pada pekerjaan ini sebagai berikut :
(a). Wheel loader : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini
sebesar 264,56 m3/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas
produksi alat ini sebesar 330,94 m3/jam.
1)

Alumni Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang


Dosen Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang

2)

12

(b). Dump truck : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini sebesar
99,39 m3/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas produksi
alat ini sebesar 127,22 m3/jam.
(c). Motor Grader : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini
sebesar 400,91 m3/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas
produksi alat ini sebesar 442,67 m3/jam.
Hal ini terjadi dikarenakan jam kerja efektif per-hari dari data lapangan sebanyak 8
jam sedangkan kontrak sebanyak 7 jam, kapasitas alat yang berbeda, waktu siklus
dumptruck yang lebih cepat dari data lapangan 0,85 menit sedangkan dari kontrak 0,91
menit dan penambahan faktor koreksi yaitu faktor bucket (FB), faktor efesiensi alat
(Fa), faktor akibat kecakapan operator (Fo), faktor pengembangan bahan (Fk), dan
faktor efesiensi waktu (Ft).
1.4. Penyiapan badan jalan dengan volume 8.544 m3dengan alat berat yang bekerja
pada pekerjaan ini sebagai berikut :
(a). Motor grader : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini
sebesar 3257,14 m2, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas
produksi alat ini sebesar 3596,43 m2.
(b). Vibrator Roller : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini
sebesar 614,20 m2, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas
produksi alat ini sebesar 661,07 m2.
Hal ini terjadi dikarenakan jam kerja efektif per-hari dari data lapangan sebanyak 8
jam sedangkan kontrak sebanyak 7 jam, kapasitas alat yang berbeda, dan penambahan
faktor efesiensi alat (Fa), faktor akibat kecakapan operator (Fo), dan faktor efesiensi
waktu (Ft).
1.5. Pekerjaan urugan pilihan dengan volume 2.403 m3dengan alat berat yang
bekerja pada pekerjaan ini sebagai berikut :
(a). Wheel loader : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini
sebesar 264,56 m3/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas
produksi alat ini sebesar 330,94 m3/jam.
(b). Dump truck : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini sebesar
99,39 m3/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas produksi
alat ini sebesar 127,22 m3/jam.
(c). Motor grader: berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini sebesar
400,91 m3/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas produksi
alat ini sebesar 442,67 m3/jam.
(d). Tandem roller : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini
sebesar 82,79 m3/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas
produksi alat ini sebesar 89,11 m3/jam.
1.6. Pekerjaan Lapis pondasi Agregat kelas A dengan volume 3.738 m3 dengan
alat berat yang bekerja pada pekerjaan ini sebagai berikut :
(a). Wheel loader : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini
sebesar 211,65 m3/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas
produksi alat ini sebesar 264,75 m3/jam.
(b). Dump truck : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini sebesar
8,98 m3/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas produksi
alat ini sebesar 30,63 m3/jam.
(c). Motor grader : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini
sebesar 256,78 m3/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas
produksi alat ini sebesar 276,38 m3/jam.
Hal ini terjadi dikarenakan jam kerja efektif per-hari dari data lapangan sebanyak 8
jam sedangkan kontrak sebanyak 7 jam, kapasitas alat yang berbeda, waktu siklus
dumptruck yang lebih cepat dari data lapangan 11,35 menit sedangkan dari kontrak
11,41 menit, proporsi campuran agregat yang berbeda dan penambahan faktor koreksi
1)

Alumni Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang


Dosen Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang

2)

13

yaitu faktor bucket (FB), faktor efesiensi alat (Fa), faktor akibat kecakapan operator
(Fo), dan faktor efesiensi waktu (Ft).
1.7. Pekerjaan Lapis pondasi Agregat kelas B dengan volume 1.708,80 m3 dengan
alat berat yang bekerja pada pekerjaan ini sebagai berikut :
(a). Wheel loader : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini
sebesar 211,65 m3/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas
produksi alat ini sebesar 264,75 m3/jam.
(b). Dump truck : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini sebesar
9,32 m3/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas produksi
alat ini sebesar 11,52 m3/jam.
(c). Motor grader : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini
sebesar 256,78 m3/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas
produksi alat ini sebesar 276,38m3/jam.
Hal ini terjadi dikarenakan jam kerja efektif per-hari dari data lapangan sebanyak 8
jam sedangkan kontrak sebanyak 7 jam, kapasitas alat yang berbeda, waktu siklus
dumptruck yang lebih cepat dari data lapangan 11,35 menit sedangkan dari kontrak
11,41 menit, proporsi campuran agregat yang berbeda dan penambahan faktor koreksi
yaitu faktor bucket (FB), faktor efesiensi alat (Fa), faktor akibat kecakapan operator
(Fo), dan faktor efesiensi waktu (Ft).
1.8. Pekerjaan lapis resap pengikat dengan volume 15.886,5liter dengan alat berat
yang bekerja pada pekerjaan ini sebagai berikut :
(a). Aspalt Distributor : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini
sebesar 4800 liter/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas
produksi alat ini sebesar 5.300 liter/jam.
(b). Air compressor : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini
sebesar 4800 liter/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas
produksi alat ini sebesar 5.300 liter/jam.
Hal ini terjadi dikarenakan jam kerja efektif per-hari dari data lapangan sebanyak 8
jam sedangkan kontrak sebanyak 7 jam, kapasitas alat yang berbeda, dan penambahan
faktor koreksi yaitu faktor efesiensi alat (Fa), faktor akibat kecakapan operator (Fo),
dan faktor efesiensi waktu (Ft).
1.9. Pekerjaan lapis perekat dengan volume 2.803,5 liter dengan alat berat yang
bekerja pada pekerjaan ini sebagai berikut :
(a). Aspalt distributor : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini
sebesar 4800 liter/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas
produksi alat ini sebesar 5.300 liter/jam.
(b). Air compressor : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini
sebesar 4800 liter/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas
produksi alat ini sebesar 5.300 liter/jam.
Hal ini terjadi dikarenakan jam kerja efektif per-hari dari data lapangan sebanyak 8
jam sedangkan kontrak sebanyak 7 jam, kapasitas alat yang berbeda, dan penambahan
faktor koreksi yaitu faktor efesiensi alat (Fa), faktor akibat kecakapan operator (Fo),
dan faktor efesiensi waktu (Ft).
1.10.
Pekerjaan Laston lapis Aus (AC-WC) dengan volume 18.690 m3
dengan alat berat yang bekerja pada pekerjaan ini sebagai berikut :
(a). Wheelloader: berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini sebesar
1.146,56 m2, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas produksi alat
ini sebesar 1.434,21m2.
(b). Dump truck : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini sebesar
48,05m2, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas produksi alat ini
sebesar 66,64 m2.

1)

Alumni Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang


Dosen Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang

2)

14

(c). AMP : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini sebesar 451,09
m2, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas produksi alat ini
sebesar 485,51 m2.
1.11.
Pekerjaan Laston lapis Aus (AC-BC) dengan volume 1.121,40 m3
dengan alat berat yang bekerja pada pekerjaan ini sebagai berikut :
(a). Wheelloader: berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini sebesar
45,86 m3/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas produksi
alat ini sebesar 80,89m3/jam.
(b). Dump truck : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini sebesar
1,41m3/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas produksi alat
ini sebesar 1,90 m3/jam.
(c). AMP : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini sebesar 43,30
m3/jam, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas produksi alat ini
sebesar 19,42 m3/jam.
Hal ini terjadi dikarenakan jam kerja efektif per-hari dari data lapangan sebanyak 8
jam sedangkan kontrak sebanyak 7 jam, kapasitas alat yang berbeda, waktu siklus
dumptruck yang lebih cepat dari data lapangan 48,53 menit sedangkan dari kontrak
51,95 menit, komposisi campuran agregat yang berbeda dan penambahan faktor
koreksi yaitu faktor bucket (FB), faktor efesiensi alat (Fa), faktor akibat kecakapan
operator (Fo), dan faktor efesiensi waktu (Ft).
1.12.
Pekerjaan perkerasan semen beton k-250 dengan volume 83,40 m3
dengan alat berat yang bekerja pada pekerjaan ini sebagai berikut :
(a). Concrete Pan Mixer: berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini
sebesar 4,597 m3, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas
produksi alat ini sebesar 4.948m3.
(b). Truck mixer : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini sebesar
2,18 m3, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas produksi alat ini
sebesar 2,44m3.
(c). Water tank : berdasarkan harga satuan kontrak, kapasitas produksi alat ini sebesar
17,66 m3, sedangkan berdasarkan harga satuan analisa kami, kapasitas produksi alat ini
sebesar 19,01m3.
Hal ini terjadi dikarenakan jam kerja efektif per-hari dari data lapangan sebanyak 8
jam sedangkan kontrak sebanyak 7 jam, kapasitas alat yang berbeda, waktu siklus
truck mixer yang lebih cepat dari data lapangan 109,63 menit sedangkan dari kontrak
114,26 menit dan penambahan faktor koreksi yaitu faktor efesiensi alat (Fa), faktor
akibat kecakapan operator (Fo), dan faktor efesiensi waktu (Ft).
V. KESIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan antara lain :
1. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh total biaya penggunaan alat berat pada proyek
pembangunan jalan strategis ruas lanna pattalassang sebesar Rp. 675.394.563. Hal
ini dikarenakan biaya berdasarkan data lapangan merupakan real cost.
2. Biaya penggunaan alat yang diperoleh dari hasil analisis menunjukkan bahwa banyak
item pekerjaan yang memiliki biaya penggunaan alat yang lebih rendah daripada yang
terdapat pada kontrak. Hal ini karena adanya perbedaan dalam penggunaan alat, harga
alat dan material, metode kerja, serta faktor koreksi yang digunakan padakontrak
dengan biaya penggunaan alat yang dianalisis penulis.
Sebagai hasil akhir penulisan ini, kami menyampaikan beberapa saran sebagai berikut:
Sebaiknya dalam pelaksanaan suatu proyek agar dihindari hal hal yang
dapat memicu terganggunya pelaksanaan proyek serta kerugian bagi pelaksana seperti
teknik pelaksanaan yang tidak efektif, penggunaan alat yang tidak tepat, serta
penggunaan alat lama yang berlebihan sehingga akan mempengaruhi produksi
pekerjaan, biaya, serta waktu pelaksanaan yang lama.
DAFTAR PUSTAKA
1)

Alumni Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang


Dosen Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang

2)

15

Asiyanto, 2005. Construction Project Cost Management, Jakarta : PT. Pradnaya Paramita.
Azhari Ryans dan Muh. Rifky N. Manangin, 2012. Tinjauan rencana anggaran pelaksanaan
proyek jalan centrepoint of indonesia (CPI) paket I. Makassar.
Ervianto Wuldfram I, 2004.Teori Aplikasi Manajemen Proyek Konstruksi, Yogyakarta : Andi.
Rochmanhadi. 1992.Alat Alat Berat dan Penggunaannya. Jakarta : Y B P P U
Rostianty, Susi Fatena. 2008. Alat Berat Untuk Proyek Konstruksi. Bandung : PT. Rineka Cipta.
Rukman Riswanda dan Nurhadi, 2012. Tinjauan terhadap rencana anggaran biaya pada proyek
peningkatan jalan sengkang impa impa tarumpakkae. Makassar.
Soeharto Imam, 2001. Manajemen Proyek : Teori Conseptual Sampai Oprasional, Jakarta :
Erlangga.

1)

Alumni Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang


Dosen Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang

2)

16