Anda di halaman 1dari 26

WALK THROUGH SURVEY DI PERUSAHAAN

PT. MARTINA BERTO TBK


7 MEI 2015
ERGONOMI DAN KESEHATAN KERJA

Kelompok II
dr. Muhammad Taufiq H
dr. Ridho M. Dianto
dr. I Made Surya Dinajaya
dr. Laksmi Putri Ayukinanti
dr. Najua Saleh
dr. Nesya Glenda Preciosa
dr. Puteri Rahmia Ratnasari
dr. Raufina Yunica
dr. Reza Gharba A
PELATIHAN HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA
KEMENTRIAN KETENAGAKERJAAN INDONESIA
PERIODE 4 MEI 11 MEI 2015
JAKARTA

BAB 1

PENDAHULUAN
I. LATAR BELAKANG
Perkembangan perusahaan di dunia baik di negara maju maupun berkembang semakin
pesat. Banyak sekali sektor industri yang bermunculan dan tumbuh dengan pesat.
Bertambahnya jumlah industri atau perusahaan diikuti dengan meningkatnya pula
penggunaan alat-alat industri mulai dari paling sederhana sampai yang sangat canggih.
Pergeseran teknologi dari tenaga manusia ketenaga mesin sudah cukup dirasakan dampak
positifnya, yaitu kemudahan-kemudahan didalamnya. Akan tetapi, apabila dalam
penggunaan teknologi tersebut tidak memperhatikan aspek keselamatan dan kesehatan
kerja, maka yang sering terjadi adalah dampak buruk yang mengakibatkan kerugian, baik
terhadap manusia, kerusakan harta benda, atau terganggunya proses produksi di dalam
kelangsungan operasional perusahaan. Aspek keselamatan dan kesehatan kerja menjadi
solusi mutlak untuk melindungi aset-aset perusahaan yang sangat berharga dalam
kelangsungan dan kesinambungan proses produksi. Dimana sudah kita ketahui banyak
sekali usaha yang terpuruk karena ketidakmampuannya dalam mengelola sumber daya
manusia termasuk di dalamnya melindungi keselamatan tenaga kerja dan memberikan
kesehatan yang memadai.
Pelaksanaan K3 adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan lingkungan kerja
yang aman, sehat dan sejahtera, bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja
(PAK), serta bebas pencemaran lingkungan menuju peningkatan produktivitas
sebagaimana telah diamanatkan dalam UU no. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
Seperti yang telah diketahui, kecelakaan kerja tidak hanya menimbulkan korban jiwa,
tetapi juga menimbulkan kerugian bagi pekerja dan pengusaha, mengganggu proses
produksi perusahaan, dan merusak lingkungan yang akhirnya dapat berpengaruh terhadap
masyarakat luas. Oleh karena itu, upaya yang nyata untuk mencegah terjadinya
kecelakaan kerja dan PAK harus dilakukan secara maksimal. Apabila analisis dilakukan
secara mendalam, maka kecelakaan kerja (seperti peledakan, kebakaran) dan PAK
umumnya disebabkan oleh ketidakpedulian akan sistem manajemen K3 (SMK3) yang
baik dan benar.
Sejak diberlakukannya UU no. 22 tahun 1999 yang kemudian diamandemen dengan
UU no. 32 tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah no. 25 tahun 2000 yang memberikan
wewenang operasional sepenuhnya kepada daerah, maka dalam implementasinya di
lapangan muncul berbagai macam penafsiran yang mengakibatkan terganggunya

pelaksanaan pengawasan K3 sebagaimana yang telah dimaksud dalam UU no. 1 tahun


1970 tentang Keselamatan Kerja.
Kesehatan Kerja sendiri mempunyai pengertian spesialisasi dalam ilmu kesehatan
atau kedokteran berserta praktiknya, yang bertujuan agar tenaga kerja memperoleh derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik, mental, maupun sosial dengan usaha-usaha
promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif terhadap penyakit yang diakibatkan faktorfaktor pekerjaan dan lingkungan kerja serta terhadap penyakit umum.
Setiap perusahaan diharapkan mampu menerapkan Sistem Manajemen Kesehatan
dan Keselamatan Kerja (SMK3) dalam perusahaannya masing-masing, di mana sistem
tersebut menjadi suatu siklus yang tidak terputus dan berkesinambungan. SMK3 dimulai
dengan penerapan K3, evaluasi dan peninjauan ulang hingga pada akhirnya peningkatan
berkelanjutan. Melihat pentingnya penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (SMK3) dan higiene perusahaan sebagai bentuk upaya pencegahan
timbulnya penyakit akibat kerja dan pencemaran lingkungan proses produksi perusahaan,
maka pada hari Kamis, 07 Mei 2015 telah dilakukan kunjungan ke sebuah perusahaan
yang terletak di daerah Jakarta Timur, yaitu PT. Martina Berto Tbk. Kunjungan
perusahaan bagi tim penyusun ini lebih difokuskan untuk :
1. Mengetahui pelaksanaan sistem manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di PT.
Martina Berto Tbk
2. Mengidentifikasi potensi bahaya faktor fisik, kima, dan biologis di PT. Martina Berto
Tbk
3. Mengetahui pengelolaan limbah industri di PT. Martina Berto Tbk.
Selanjutnya, dilakukan analisis masalah terhadap data-data yang diperoleh di
lapangan dan kemudian dilakukan upaya alternatif pemecahan masalah yang ada di PT.
Martina Berto Tbk. Diharapkan alternatif pemecahan masalah yang ditawarkan dalam
proses tersebut dapat diterapkan kepada seluruh karyawan yang terlibat sehingga dapat
mengurangi potensi adanya kecelakaan dan penyakit akibat kerja guna memaksimalkan
kinerja para karyawan.

II.
DASAR HUKUM
1. UU No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja.
2. UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.

3. UU No. 3 Tahun 1969 Tentang Persetujuan Konvensi ILO No. 120 Mengetahui
Higiene
dalam Perniagaan dan Kantor-Kantor.
4. Surat Edaran Dirjen Binawas No. SE. 07/BW/1997 tentang Pengujian Hepatitis B
dalam Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja.
5. Permenaker No. 02/MEN/1980 tentang Pemeriksakan Kesehatan Tenaga Kerja dalam
Penyelenggaraan Keselamatan Kerja.
6. Kepmen No. 187/MEN/1999 tentang Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya.
7. PP No. 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(SMK3)
8. Permenakertrans No. 03/MEN/1982 tentang Pelayanan Kesehatan Kerja
9. Permenakertrans No. 11/MEN/VI/2005 tentang Pencegahan dan Penanggulangan
Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif
Lainnya di Tempat Kerja.
10. Kepmenakertrans No. 68/MEN/2004 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/
AIDS di Tempat Kerja.
11. Kepres No. 22 Tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul karena Hubungan Kerja.
III.

PROFIL PERUSAHAAN

1. Nama Perusahaan: PT. Martina Berto Tbk.


2. Alamat: Jln. Pulokambing II No.1, Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta 13930,
Indonesia.
3. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1977 oleh Dr HC.Martha Tilaar, (Alm) Pranata
Bernard, dan Theresa Harsini Setiady. Pada tahun 1981, perusahaan mendirikan
pabrik modern pertama di Jl. Pulo Ayang No 3, Pulogadung Industrial Estate, yang
memproduksi kosmetik dan jamu dengan merek "Sariayu Martha Tilaar" untuk
pertama kalinya. Pada tahun 1986, Perusahaan mendirikan pabrik modern kedua di
Jl. Pulo Kambing, Kawasan Industri Pulogadung ("Pabrik Pulo Kambing"). Karena
pertumbuhan penjualan yang pesat, pada tahun 1995, perusahaan mengalihkan
produksi herbal untuk Gunung Putri, Bogor.Sementara factrory Pulo Ayang ditransfer
ke anak perusahaan, yaitu PT Cempaka Belkosindo Indah. Ini memproduksi kosmetik
dengan merek "Mirabella" dan "Cempaka". Pada tahun 2005, PT Cempaka Indah
Belkosindo digabung dengan perusahaan sehingga merek "Mirabella" dan "Cempaka"
juga dikombinasikan dengan produksi di pabrik Pulo Kambing. Selanjutnya, Pulo
Ayang pabrik dialihkan dan memungkinkan sebagai kantor penjualan samping untuk
perusahaan Distribution Center, yang terletak di Jl. Pulo Ayang no 24-25, Kawasan
Industri

Pulo

Gadung.

Pada tahun 1993, Perusahaan mengakuisisi PT Cedefindo, mana bidang usaha utama
adalah Kontrak Manufaktur (Makloon) dalam produk kosmetik, sebagai perluasan
bisnis perusahaan untuk hulu. Selanjutnya, perusahaan menjual aset pabrik di Gunung
Putri dan kemudian terus menjalankan pabrik jamu dengan perjanjian sewa sampai
akhir 2011. Perkembangan dari masa ke masa :

Tahun 1977 : PT Martina Berto mulai beroperasi dengan peluncuran merek Sariayu
di salon sendiri sebagai produk kecantikan.

Tahun 1981 : Dalam patnership dengan keluarga Grup Kalbe untuk mendirikan
pabrik dikawasan Industri Pulogadung.

Tahun 1983 : PT Sari Ayu Indonesia mendirikan untuk mendukung distribusi


kosmetik, juga membuka pabrik kedua dikawasan Industri Pulogadung.

Tahun 1988-1995 : Konsolidasi dari beberapa bisnis diakui oleh Martha Tilaar
Grup ke PT Martina Berto.

Tahun 1994 : Mulai beroperasi di Gunung Putri Jamu Pabrik.

Tahun 1996 Menjadi pabrik kosmetik pertama di Indonesia yang mendapatkan


sertifikat ISO 9001.

Tahun 1999 : PT. Martino Berto resmi menjadi perusahaan keluarga Martha Tilaar.

Tahun 2000 : Menjadi satusatunya pendiri UN Global Compact dari Asia,


mendapatkan sertifikat ISO 14001 dan sertifikat GMP: CPKB (Cara Produksi
Kosmetika yang Baik) dan CPOTB (Cara Produksi Obat Tradisional yang Baik).

Tahun 2006-2008 : Meluncurkan produk dalam keindahan dan segmen perawatan


pribadi. Jaringan ekspornya semakin meluas ke pasar Eropa (Yunani dan Ukraina)
dan Asia (Jepang, Hongkong, dan Taiwan) serta mendapatkan penghargaan Most
Admired Enterprise in ASEAN dari ASEAN Business Forum di bidang
Inovation.

Tahun 2008-2009 : Produk Kecantikan mulai di ekspor ke pasar Eropa(Yunani dan


Ukraina) dan Asia (Jepang, Hongkong dan Taiwan).

Tahun 2009 : Menjual Tanaman jamu Manufaktur Gunung Putri kepada PT


Indonesia Essaroma.

Tahun 2010 : Diluncurkan toko ritel baru, Martha Tilaar Shoop (MTS), di luar
Indonesia untuk pangsa pasar internasional

Tahun 2011 :
Pencatatan Saham Perdana.
Perseroan mendirikan anak perusahaan Eastern Beautypelago Pte Ltd di
Singapore untuk mengoperasikan Martha Tilaar Shop (MTS) di Singapore dan
luar Indonesia.

Tahun 2012 : Peletakan batu pertama Pabrik baru obat tradisitikaonal/jamu yang
berlokasi di Kampoeng Djamoe Organik (KaDO), Cikarang.

Visi, Misi dan Nilai Utama Perusahaan


Visi:
Untuk menjadi salah satu perusahaan terkemuka dunia dalam perawatan kecantikan
dan industri spa dengan nuansa alam dan nilai timur, melalui teknologi modern,
penelitian dan pengembangan untuk mengoptimalkan nilai tambah kepada konsumen
dan stakeholder lainnya.
Misi :
Untuk mengembangkan, memproduksi, dan memasarkan produk-produk perawatan
kecantikan dan spa dengan nuansa alam & timur dan standar kualitas internasional
untuk memenuhi kebutuhan konsumen di berbagai segmen pasar dengan portofolio

yang sehat mampu mencapai peringkat tiga besar di setiap segmen di Indonesia
Untuk menyediakan layanan pelanggan yang sangat baik untuk semua pelanggan

dalam proporsi seimbang, termasuk pelanggan konsumen dan perdagangan


Untuk menjaga kondisi keuangan yang sehat dan pertumbuhan yang berkelanjutan
Untuk merekrut, melatih, dan mempertahankan tenaga kerja yang kompeten dan

produktif sebagai bagian dari aktiva Perusahaan


Untuk mempertahankan metode yang efisien dan efektif operasi, sistem, dan

teknologi di seluruh organisasi dan unit bisnis


Untuk menerapkan Good Corporate Governance secara konsisten untuk

kepentingan semua stakeholder


Untuk memberikan return atas investasi yang adil untuk pemegang saham
Untuk memperluas pasar internasional pada kosmetik dan produk herbal dengan
fokus jangka menengah pada kawasan Asia Pasifik dan fokus jangka panjang di
pasar global dengan produk yang dipilih dan merek
Saat ini PT. Martina Berto Tbk. merupakan perusahaan kosmetik yang

menguasai pangsa pasar 95% di Indonesia dan 4-5% pangsa pasar luar negeri.
Nilai Utama :
DISIPLIN, yaitu patuh terhadap peraturan dan standard kerja perusahaan;

JUJUR, yaitu tidak berbohong dalam menyampaikan informasi untuk kepentingan


perusahaan sesuai dengan fakta, dan tidak menyalahgunakan wewenang/ jabatan/

pekerjaan dalam mengelola hak milik perusahaan untuk kepentingan pribadi;


INOVATIF, yaitu proaktif untuk menciptakan/ mengembangkan dan melakukan

perbaikan yang berkesinambungan pada proses dan hasil kerja;


TEKUN, yaitu bekerja dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh untuk

menyelesaikan pekerjaan secara tuntas;


ULET, yaitu bekerja keras dan pantang menyerah dalam menghadapi tantangan
pekerjaan.

Kegiatan Usaha

Kegiatan usaha utama Perseroan, yaitu:


1) Memproduksi barang-barang kosmetika dan obat tradisional (jamu);
2) Pemasaran dan perdagangan barang-barang kosmetika, perawatan kecantikan
dan obat tradisional.

Kegiatan usaha penunjang (dilakukan oleh anak perusahaan), yaitu:


1) PT. Cedefindo, yaitu jasa produksi atau makloon dalam produk kosmetika
kering, semi padat, cair dan aerosol, termasuk jasa formulasi, registrasi,
pengadaan bahan baku/kemas, proses produksi, pengemasan sampai logistik
secara one stop service bagi internal Martha Tilaar Group maupun ekstenal
dari perusahaan-perusahaan lainnya. Cedefindo berdomisili di Bekasi dan
berkedudukan di Graha Cedefindo, Jl, Raya Narogong km.4, Bekasi Timur
17116.
2) Eastern Beautypelago Pte Limited (EB), yaitu anak perusahaan yang
berkedudukan di Singapore yang dibentuk untuk mengembangkan pasar
ekspor Perseroan, serta mengelola dan mengembangkan Martha Tilaar Shop
(MTS), yaitu unit retail milik Perseroan di luar negeri. EB berdomisili di
Singapore dan beralamat di 1 RafflesPlace #44-02, Singapore 048616.

Hasil Usaha
1. Segment A Plus
Dewi Sri Spa Martha Tilaar, PAC Martha Tilaar, Martha Tilaar Solutions, Jamu
Garden Martha Tilaar.
2. Segment A
Biokos Martha Tilaar, Rudi Hadisuwarno Martha Tilaar.
3. Segment B
Sariayu Tilaar Martha, Martha Tilaar Caring Colours, Belia Martha Tilaar.

4. Segment C
Mirabella, Cempaka,Pesona, Martina. Currently, Pesona Martina.
Jenis Produksi Kosmetik
Perseroan dan anak perusahaan memiliki fasilitas produksi yang terbagi ke
dalam empat kategori, yaitu:
1) Kosmetika cair, termasuk di dalamnya cairan pembersih muka, pelembab,
toner, alas bedak, body splash cologne, hair spray, dan produk cair lainnya;
2) Kosmetika kering, termasuk di dalamnya eye shadow, blush on, loose powder
dan compact powder dan produk kering lainnya;
3) Kosmetika semi padat, termasuk didalamnya lipstik, creamy foundation, dan
lain-lain;
4) Obat Tradisional, termasuk di dalamnya masker, mangir, lulur, dan teh herbal.
Selain pembagian kategori produk berdasarkan proses produksi, Perseroan
membagi produk-produk yang dimilikinya berdasarkan kategori produk, yaitu: colour
cosmetic, skin care, body care, hair care, jamu (obat tradisional), dan lain-lain. Brand
produk PT. Martina Berto Tbk antara lain:
1) PAC (Professional Artist Cosmetics) Martha Tilaar
2) Dewi Sri Spa Martha Tilaar
3) Sariayu Martha Tilaar
4) Caring Colours Martha Tilaar
5) Belia Martha Tilaar
6) Rudy Hadisuwarno Cosmetics
7) Biokos Martha Tilaar
8) Mirabella
9) Cempaka
10) Solusi
Jumlah Tenaga Kerja
Jumlah pekerja dibagian manufacturing sebanyak 1.100 orang pekerja.
Perusahaan ini telah berhasil memperoleh beberapa sertifikat di bidang K3 antara lain,
ISO 9001, ISO 14001 dan sertifikat GMP (Good Manufacturing Processing): CPKB
(Cara Produksi Kosmetika yang Baik) dan CPOTB (Cara Produksi Obat Tradisional
yang Baik).
Jam kerja pegawai dibagi menjadi 2 shift, Shfit I 07.30 14.30 dan Shift II
15.30 22.00. Tenaga kerja di PT. Martina Berto Tbk. dilindungi oleh asuransi
AVIVA dan BPJS. Dalam menangani kasus emergensi perusahaan bekerjasama
dengan RS Antam dan RS Jayakarta.
Jaminan Asuransi Kesehatan

Karyawan tetap : Provider Asuransi AVIVA sesuai plafon karyawan yang

direncanakan akan dialihkan ke BPJS Kesehatan pertengahan tahun 2015.


Karyawan kontrak : BPJS Kesehatan.
Rumah sakit rujukan PT. Martindo adalah Rumah Sakit Jayakarta untuk
pemeriksaan awal dan berkala serta rujukan jika terjadi kecelakaan kerja.

Lain-lain :

Untuk menjaga kesehatan dan keselamatan kerja karyawan, Perseroan


mengadakan aktivitas rutin, antara lain melakukan medical check-up bagi seluruh
karyawan saat awal masuk, pemeriksaan kesehatan berkala per 6 bulan, termasuk
di dalamnya pemeriksaan fisik, laboratorium, dan pemeriksaan penunjang lainnya
seperti rontgen thorax. Sedangkan untuk tenaga kerja wanita, Perseroan
menyediakan fasilitas ruang laktasi untuk ibu menyusui. Terdapat juga poliklinik
khusus untuk karyawan dengan jam praktek Senin Jumat, pagi jam 09 12 dan
sore jam 14 16.

Pihak manajemen PT. Martina Berto Tbk terus berfokus pada pengembangan
karyawan yang secara berkesinambungan, dilaksanakan untuk memperluas
wawasan dan meningkatkan kapasitas karyawan. Personal Effectiveness Program
dilakukan untuk karyawan PT Martina Berto Tbk, dimana penekanan dari
program tersebut disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing departemen.
Konten pelatihan difokuskan untuk penguatan karakter individu dan memasukkan
kembali nilai-nilai personal dan profesional yang efektif. Pelatihan ini tetap
dilakukan mengingat adanya dampak yang signifikan dalam memperkuat karakter
individu dan meningkatkan kinerja. Di tahun 2012, Sejumlah 26 Karyawan telah
mendapatkan sertifikasi untuk menunjang pekerjaan sesuai yang dipersyaratkan,
antara lain Ahli Kesehatan dan Keselamatan Kerja Umum, Water Waste Treatment
Process, Certified Safety Assessment of Cosmetics Assessor, Certified
Professional Marketer, Competence Make-Up, Certified Assessment Center
Assessor, dan beberapa sertifikasi lain.

Di samping itu, PT. Martina Berto Tbk juga menyediakan fasilitas lain untuk
karyawannya, yakni bidang olah raga (bulutangkis, tenis meja, futsal, dan band
karyawan), kerohanian, dan koperasi. Disediakan juga kantin karyawan dan
pelayanan catering prasmanan yang menyediakan minimal 1400 kalori selama jam

kerja melalui makanan utama dan extra fooding seperti susu, teh, kopi susu, dan
indomie telor.
P2K3 di PT. Martina Berto Tbk. :

Implementasi P2K3:
1) No accidents/ tidak ada kecelakaan
2) No harm to people/ tidak ada yang membahayakan orang
3) No damage to the environment/ tidak ada kerusakan lingkungan

Struktur Organisasi:

Total personnel P2K3 ialah sebanyak 56 orang. Total petugas K3 ialah sebanyak 20 orang.

Program Kerja 2015 :

10

IV.

ALUR PRODUKSI

V. LANDASAN TEORI
Definisi
Ergonomi menurut Badan Buruh Internasional (International Labor Organization/ILO)
adalah penerapan ilmu biologi manusia sejalan dengan ilmu rekayasa untuk mencapai
penyesuaian bersama antara pekerjaan dan manusia secara optimum agar bermanfaat demi

11

efisiensi dan kesejahteraan. Pada prosesnya dibutuhkan kerjasama antara lingkungan kerja
(ahli hiperkes), manusia (dokter dan paramedik), serta mesin perusahaan (ahli tehnik).
Kerjasama ini disebut segitiga ergonomi. Tujuan dari ergonomi adalah efisiensi dan
kesejahteraan yang berkaitan erat dengan produktivitas dan kepuasan kerja. Adapun sasaran
dari ergonomi adalah seluruh tenaga kerja baik sektor formal, informal, maupun tradisional.
Pendekatan ergonomi mengacu pada konsep total manusia, mesin, dan lingkungan yang
bertujuan agar pekerjaan dalam industri dapat berjalan secara efisien, selamat, dan nyaman.
Dengan demikian, dalam penerapannya harus memperhatikan beberapa hal yaitu: tempat
kerja, posisi kerja, dan proses kerja. Adapun tujuan penerapan ergonomi adalah sebagai
berikut:
(1) meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental, dengan meniadakan beban kerja
tambahan (fisik dan mental), mencegah penyakit akibat kerja, dan meningkatkan kepuasan
kerja;
(2) meningkatkan kesejahteraan sosial dengan jalan meningkatkan kualitas kerjasama
sesama pekerja, pengorganisasian yang lebih baik dan menghidupkan sistem kebersamaan
dalam tempat kerja;
(3) berkontribusi di dalam keseimbangan rasional antara aspek-aspek teknik, ekonomi,
antropologi, dan budaya dari sistem manusia-mesin untuk tujuan meningkatkan efisiensi
sistem manusia-mesin.
Adapun manfaat pelaksanaan ergonomi adalah menurunnya angka kesakitan akibat
kerja, menurunnya kecelakaan kerja, biaya pengobatan dan kompensasi berkurang, stress
akibat kerja berkurang, produktivitas membaik, alur kerja bertambah baik, rasa aman karena
bebas dari gangguan cidera, kepuasan kerja meningkat.
Ruang lingkup ergonomi sangat luas aspeknya, antara lain meliputi: (1) tekhnik; (2)
fisik; (3) pengalaman psikis; (4) anatomi, utamanya yang berhubungan dengan kekuatan dan
gerakan otot dan persendian; (5) anthropometri; (6) sosiologi; (7) fisiologi, terutama
berhubungan dengan temperatur tubuh, oxygen up take dan aktivitas otot; (8) disain; dan
sebagainya.
Aplikasi Ergonomi pada Tenaga Kerja
a. Posisi kerja
Terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana kaki tidak terbebani
dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja namun dengan kursi yang tidak
memiliki sandaran. Sedangkan posisi berdiri dimana posisi tulang belakang vertikal dan
berat badan tertumpu secara seimbang pada dua kaki.
b. Proses kerja
Banyak rak rak tinggi dan sulit dijangkau dan tidak adanya tangga untuk membantu.
Harus dibedakan ukuran antropometri barat dan timur.

12

c. Tata letak tempat kerja


Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja. Sedangkan simbol
yang berlaku secara internasional lebih banyak digunakan daripada kata-kata.
d. Mengangkat beban
Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kepala, bahu, tangan,
punggung, dan lain-lain. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan cedera tulang
punggung, jaringan otot, dan persendian akibat gerakan yang berlebihan.

Supervisi Tenaga Kerja


Semua pekerja secara kontinyu mendapat supervisi medis teratur. Supervisi medis yang
biasanya dilakukan terhadap pekerja antara lain:
a. Pemeriksaan awal, bertujuan untuk menyesuaikan pekerja baru terhadap beban
kerjanya
b. Pemeriksaan berkala, bertujuan untuk memastikan pekerja sesuai dengan pekerjaannya
dan mendeteksi bila ada kelainan
c. Pemeriksaan khusus
d. Nasihat harus diberikan tentang higiene dan kesehatan
Kesehatan Kerja
Kesehatan kerja adalah upaya penyeserasian antara kapasitas kerja, beban kerja, dan
lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya
sendiri maupun masyarakat di sekelilingnya, agar diperoleh produktivitas kerja yang optimal
(UU Kesehatan 1992 Pasal 23). Kesehatan kerja bertujuan untuk memperoleh derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik, mental dan sosial bagi masyarakat pekerja dan
masyarakat yang berada di lingkungan perusahaan. Aplikasi kesehatan kerja berupa upaya
promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Promosi kesehatan merupakan ilmu pengetahuan dan seni yang membantu seseorang
untuk mengubah gaya hidup menuju kesehatan yang optimal, yaitu terjadinya keseimbangan
kesehatan fisik, emosi, spiritual dan intelektual. Tujuan promosi kesehatan di tempat kerja
adalah terciptanya perilaku dan lingkungan kerja sehat juga produktivitas yang tinggi.
Tujuan dari promosi kesehatan adalah:
Mengembangkan perilaku kerja sehat
Menumbuhkan lingkungan kerja sehat
Menurunkan angka absensi sakit
Meningkatkan produktivitas kerja
Menurunnya biaya kesehatan
Meningkatnya semangat kerja
Upaya preventif dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit akibat kerja yang
disebabkan oleh alat/mesin dan masyarakat yang berada di sekitar lingkungan kerja ataupun

13

penyakit menular umumnya yang bisa terjangkit pada saat melakukan pekerjaan yang
diakibatkan oleh pekerja. Upaya preventif diperlukan untuk menunjang kesehatan optimal
pekerja agar didapat kepuasan antara pihak pekerja dan perusahaan sehingga menimbulkan
keuntungan bagi kedua belah pihak. Aplikasi upaya preventif diantaranya pemakaian alat
pelindung diri dan pemberian gizi makanan bagi pekerja.
Gizi Kerja
Gizi kerja adalah gizi/nutrisi yang diperlukan oleh tenaga kerja untuk memenuhi
kebutuhan sesuai dengan jenis pekerjaan dan beban kerja tambahan. Gizi kerja menjadi
masalah disebabkan beberapa hal yaitu rendahnya kebiasaan makan pagi, kurangnya
perhatian pengusaha, kurangnya pengetahuan tenaga kerja tentang gizi, tidak mendapat uang
makan, serta jumlah, kapan dan apa dimakan tidak diketahui. Efek dari gizi kerja yang
kurang bagi pekerja adalah:
Pekerja tidak bekerja dengan maksimal
Pertahanan tubuh terhadap penyakit berkurang
Kemampuan fisik pekerja yang berkurang
Berat badan pekerja yang berkurang atau berlebihan
Reaksi pekerja yang lamban dan apatis,
Pekerja tidak teliti
Efisiensi dan produktivitas kerja berkurang
Jenis pekerjaan dan gizi yang tidak sesuai akan menyebabkan timbulnya berbagai
penyakit seperti obesitas, penyakit jantung koroner, stroke, penyakit degenerative,
arteriosklerotik, hipertensi, kurang gizi dan mudah terserang infeksi akut seperti gangguan
saluran nafas. Ketersediaan makanan bergizi dan peran perusahaan untuk memberikan
informasi

gizi makanan atau pelaksanaan pemberian gizi kerja yang optimal akan

meningkatkan kesehatan dan produktivitas yang setinggi-tingginya.

14

Upaya kuratif merupakan langkah pemeliharaan dan peningkatan kesehatan bagi


pekerja. Upaya penatalaksanaan penyakit yang timbul pada saat bekerja merupakan langkah
untuk meningkatkan kepuasan pekerja dalam bekerja, sekaligus memberi motivasi untuk
pekerja supaya memiliki kesehatan yang optimal. Penyakit yang sering timbul dalam suatu
lokasi pekerjaan dapat menjadi tolak ukur dalam mengambil langkah promosi dan
pencegahan, sehingga tujuan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan kerja optimal
dilaksanakan.BAB II
TINJAUAN TEORITIK
2.1 TANGGAL DAN WAKTU PENGAMATAN
Dilakukan pengamatan pada hari Kamis, 07 Mei 2015, pukul 13.45 17.45 WIB oleh
kelompok II (Kesehatan Kerja dan Ergonomi).
2.2 LOKASI PENGAMATAN
Lokasi pengamatan adalah di PT. Martina Berto, Tbk yang bertempat di Jalan
Pulokambing II No.1, Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta 13930, Indonesia.
2.3 DOKUMEN PENGAMATAN

15

BAB III
HASIL PENGAMATAN
Pengamatan dilakukan di PT. Martina Berto, Tbk tepatnya di lantai II dari perusahaan
tersebut dengan denah sebagai berikut:
Liquid

Quality

Research and

Processing

control

development

Decorative
package area

tempat research

Museum/ galery

kimia

Tempat
Cuci
tangan

Tangga

ta

lantai 1
Gudang / box

Lipstick

Lipstick

lipstick

Processing area

moulding area

packing area

Powder
pressing
area

16

Di tempat produksi dari perusahaan tampak banner bertuliskan Identifikasi Sumber


Potensi Bahaya di Lingkungan Kerja menunjukkan komitmen perusahaan dalam
mengidentifikasi sumber hazard yang dapat membahayakan kesehatan tenaga kerjanya.
1. Program Kesehatan
Promotif
Pada saat kunjungan dijelaskan bahwa sebagai tindakan promotif dalam program
kesehatan, PT. Martina Berto Tbk rutin melakukan penyuluhan, pelatihan, serta
seminar beberapa kali dalam setahun berkaitan dengan penyakit yang dapat
ditimbulkan pada saat kerja. Selain itu perusahaan juga tidak jarang memberikan
penyuluhan mengenai penyakit-penyakit secara umum yang lain seperti kanker
servix dan manfaat program KB dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan
para pekerja mengenai kesehatan. Mengenai poster kesehatan, kami melihat
beberapa poster mengenai pola hidup bersih dan sehat seperti cara mencuci tangan

yang baik.
Preventif
PT. Matrina Berto Tbk mengatakan bahwa perusahaan nya telah melakukan
kegiatan preventif sesuai dengan kewajiban dokter untuk mencegah penyakit pada
Permenaker no.3 tahun 1982. PT.

Martina

Berto Tbk. mengharuskan

dilakukannya pemeriksaan kesehatan awal untuk mengetahui status kesehatan


bagi calon tenaga kerja baik yang baru, serta dilakukannya pemeriksaan berkala
setiap 6 bulan sekali. Selain itu, perusahaan ini rutin melakukan patroli infeksi

setiap bulan.
Kuratif
Perusahaan menyediakan poliklinik bagi karyawan yang ingin memeriksakan
kesehatan serta kerja sama apotik untuk penyediaan obat bagi karyawan. Semua
biayakesehatan karyawan ditanggung oleh perusahaan asuransi AVIVA. Selain itu
untuk karyawan kontrak digunakan jaminan kesehatan berupa BPJS kesehatan.
Adapun penanggulangan apabila terjadi kecelakaan dalam kerja, PT. Martina
Berto memiliki sekitar total 42 orang tenaga medis dan paramedis yang

bersertifikasi P3K.
Rehabilitatif

17

Apabila terjadi kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja maka karyawan
tesebutakan diberikan kompensasi oleh perusahaan sesuai dengan peraturan yang
berlaku.
2

Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Personil Kesehatan dan Sarana P3K


Berdasarkan hasil pengamatan serta wawancara kami dengan pihak HSE (health

safety environment) diketahui bahwa PT. Martina Berto Tbk. memiliki fasilitas pelayanan
kesehatan berupa poliklinik yang beroperasi khusus untuk karyawan setiap Senin
Jumat dengan jam operasional poliklinik adalah siang pukul 09.00 12.00 WIB dan sore
pukul 14.00 16.00 WIB dengan tenaga kerja 3 orang dokter perusahaan yang
merupakan dokter umum dan sudah bersertifikat hiperkes, 5 orang paramedis yang juga
bersertifikasi hiperkes dan telah terlatih oleh PMI dan 42 orang karyawan yang pernah
dilatih atau pernah ikut pelatihan kesehatan dari PMI namun belum mempunyai
sertifikat. Dokter perusahaan terbagi atas 3 jadwal kerja bergantian. Poliklinik juga
dilengkapi dengan ruang laktasi dan pelayanan KB. Bila ada karyawan yang sakit atau
mengalami kecelakaan kerja yang ringan, selain telah tersedianya poliklinik, pihak
manajemen juga menyediakan sarana P3K yang terdapat di setiap tempat kerja dan
berada ditempat- tempat yang mudah dijangkau. Untuk memenuhi kebutuhan obatobatan, perusahaan bekerja sama dengan apotek yang beroperasi setiap hari kerja.
Apabila terdapat kasus yang tidak dapat ditangani oleh dokter di poliklinik maka akan
dirujuk ke rumah sakit terdekat yang bekerja sama dengan perusahaan seperti RS
Jayakarta dan RS Antam.
3

Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba


Dari hasil kunjungan perusahaan di PT. Martina Berto Tbk didapatkan bahwa

sudah terlaksananya upaya terkait pencegahan HIV/AIDS dan narkoba. Upaya tersebut
terlihat dari sudah adanya kampanye poster mengenai bahaya HIV/ AIDS, cara
pencegahan HIV/AIDS, dan bahaya penggunaan narkoba. Selain itu PT. Martina Berto
Tbk juga memasukkan pemeriksaan HIV/AIDS dan narkoba pada pemeriksaan fisik
awal. PT. Martina Berto Tbk pernah melakukan kegiatan penyuluhan berkenaan dengan
HIV/AIDS dan narkoba, namun penyelenggaraan penyuluhan ini belum mempunyai
jadwal rutin sehingga seharusnya upaya pencegahan tersebut dapat disuarakan kepada
pembuatan kebijakan sebagai komitmen untuk melaksanakan upaya pencegahan
HIV/AIDS dan narkoba.
4

Pemeriksaan kesehatan kerja (awal, berkala, dan khusus)

18

a. Pemeriksaan Kesehatan Awal (Pre-Employment)


-

PT. Martina Berto Tbk. melakukan pemeriksaan kesehatan awal pada setiap calon
tenaga kerja yang melamar pekerjaan ke perusahaan tersebut.

Pemeriksaan kesehatan ini juga dilakukan pada pekerja yang hendak dipindahkan
ke lokasi kerja yang lain dengan risiko yang berbeda.

Pada pemeriksaan kesehatan awal ini dilakukan pemeriksaan berupa wawancara


tentang riwayat kesehatan pekerja, pemeriksaan fisik umum, pemeriksaan status
mental, rontgen toraks, laboratorium rutin, dan pemeriksaan lain yang dianggap
perlu.

b. Pemeriksaan Kesehatan Berkala


-

PT. Martina Berto Tbk. melakukan pemeriksaan kesehatan berkala setiap 6 bulan
sekali. Prinsip pemeriksaan kesehatan berkala sama dengan pemeriksaan
kesehatan awal.

Apabila ditemukan kelainan atau gangguan kesehatan pada para pekerja, pihak
manajemen akan menindak lanjut sesuai kebijakannya.

c. Pemeriksaan Kesehatan Khusus


PT. Martina Berto Tbk. akan melakukan pemeriksaan kesehatan khusus terhadap
tenaga kerja tertentu apabila dinilai membawa pengaruh dari pekerjaan tertentu.
5

Kesesuaian pekerja dengan alat

Sikap Kerja
Hasil pengamatan mengenai sikap kerja dari tenaga kerja menunjukkan sudah
sesuai dengan aspek ergonomis, terbukti dengan adanya:
Pada karyawan di bidang laboratorium, didapatkan adanya kursi yang dapat
dinaik-turunkan.
Tidak ditemukan tenaga kerja yang mengangkat beban berat.
Bagian produksi, ditemukan mesin yang sesuai dengan ukuran tubuh rata rata karyawan dan masih dalam jangkauan karyawan.

Cara Kerja
Hasil pengamatan mengenai cara kerja, tenaga kerja lebih banyak duduk, berdiri,
berjalan, membungkuk saat memindahkan bahan-bahan setengah jadi dan
packing. Cara kerja diamati dari 2 sisi, yaitu:
Posisi kerja di bagian laboratorium, sudah sesuai namun masih sedikit
ditemukan adanya karyawan yang duduk kurang tegak dan rileks.

19

Proses kerja didapatkan adanya tangga pijakan untuk meletakkan bahan dasar
di mesin pengaduk.

Beban Kerja
Hasil pengamatan didapatkan, karyawan pabrik bekerja dari hari Senin sampai
Jumat dengan jam kerja: bagian office 08.00-16.30 dan bagian factory dibagi 2,
shift 1 07.30-14.30 WIB ; shift 2 15.30 22.00 WIB, break: 2x 15 pagi dan
sore, serta istirahat makan siang 1x (45). Aktivitas ini termasuk sedang karena
aktivitas dilakukan 60% duduk dan 40% berdiri.

Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja karyawan cukup luas sehingga karyawan dapat bergerak
leluasa dan efisien. Penempatan tempat duduk juga sudah diatur dan sudah
disediakan pendingin ruangan.

Program pemenuhan gizi pekerja, kantin atau ruang makan


Hasil penemuan kami di lapangan menunjukkan bahwa pemenuhan gizi pekerja
dilakukan oleh perusahaan, dimana perusahaan menyediakan makanan dan tempat
makan di dalam gedung yaitu di lantai dasar. Penyelenggaraan gizi kerja di PT.
Martina Berto Tbk., meliputi:

Pekerja sehari-hari diberi makan dari supplier catering dengan menu utama dan
extra fooding minimal 1400 kkal dengan diberikan extra puding, susu, dan teh
manis.

Disediakan tempat makan yaitu ruang makan karyawan PT. Martina Berto Tbk.
yang terletak di lantai dasar.

Pekerja diberikan air minum dalam bentuk galon yang terletak di ruangan kerja
yang dapat diambil secara bebas.

Untuk mencuci tangan menggunakan tempat cuci tangan yang disediakan di setiap
lantai.

Sepuluh besar penyakit pada pelayanan kesehatan


Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber, didapatkan bahwa penyakit
terbanyak yang diderita oleh tenaga kerja di perusahaan PT. Martina Berto Tbk.,
yaitu:

20

Dari hasil wawancara dengan narasumber juga didapatkan bahwa penyakit yang
ditemukan setiap bulannya terkadang tidak sama dan hal itu didapatkan menurut
catatan asuransi yang bekerja sama dengan perusahaan. Apabila karyawan tersebut
mengalami penyakit umum atau penyakit akibat kerja maka karyawan dianjurkan
untuk ke poliklinik di perusahaan. Dan apabila karyawan tersebut ternyata perlu di
mutasi / rotasi maka harus melalui rekomendasi dari dokter di perusahaan tersebut.

Penyakit akibat kerja yang terjadi


Pada hasil kunjungan perusahaan PT. Martina Berto Tbk. Didapatkan bahwa
tidak ada kejadian Penyakit Akibat Kerja (PAK) yang terjadi. Hal ini dinyatakan oleh
pihak perusahaan dan dokter perusahaan bahwa selama ini belum ada kejadian PAK
pada seluruh karyawan perusahaan. Kebanyakan penyakit yang sering terjadi adalah
penyakit umum seperti ISPA, diare, demam, dsb. Pada beberapa kasus terjadi penyakit
yang berhubungan dengan pekerjaan, yang paling sering terjadi adalah alergi. Namum
menurut pernyataan perusahaan apabila didapatkan penyakit-penyakit yang dicurigai
akibat pekerjaan pihak perusahaan akan melakukan pemeriksaan khusus yang hingga

21

saat ini menunjukkan bahwa tidak adanya PAK. Pihak perusahaan tetap menerapkan
pemeriksaan rutin/berkala setiap 6 bulan untuk mendeteksi adanya kejadian-kejadian
PAK.

22

BAB IV
PEMECAHAN MASALAH
N
o
1

Unit Kerja

Permasalahan

Fasilitas
pelayanan
kesehatan,
personil
kesehatan
dan sarana
P3K

Tidak tersedianya
ruang P3K

Upaya
Pencegahan
HIV/AIDS
dan Narkoba

Belum
terlaksananya
upaya pencegahan
terhadap seluruh
tenaga kerja

Pemeriksaan
Kesehatan
Kerja

Cara kerja
(posisi kerja)

Pemenuhan
gizi
karyawan

Peraturan dan
Perundang - Undangan
Permenaker No.15
tahun 2008 tentang
pengurus P3K wajib
menyediakan petugas
P3K yang bersertifikat
dan menyediakan
fasilitas P3K

Keputusan Menteri
tenaga kerja dan
transmigrasi Republik
Indonesia No.
Kep.68/Men/2004
tentang pencegahan dan
penanggulangan
HIV/AIDS di tempat
kerja
Manajemen tidak
UU No. 1 tahun 1970
menerima calon
mengenai keselamatan
tenaga kerja yang
kerja, pasal 8 mengenai
diketahui
kewajiban pengurus
menderita hepatitis memeriksakan
dan HIV pada
kesehatan tenaga kerja
pemeriksaan awal.
Tidak adanya
pemeriksaan
spirometri pada
pemeriksaan awal
penerimaan
karyawan.
Posisi kerja duduk
dengan kursi yang
tidak memiliki
sandaran
Tidak didapati
masalah,
perusahaan
memberikan
makanan kepada
karyawan dengan
konten gizi yang

Saran dan Penanganan


Disediakan ruang khusus
P3K sesuai dengan
perbandingan jumlah
karyawan yang bekerja dan
disarankan agar terdapat di
setiap lantai agar dapat
menangani kondisi gawat
darurat pada saat terjadinya
kecelakaan kerja.
Dapat dilakukan pemberian
informasi dan pendidikan
terhadap tenaga kerja, seperti
penyuluhan ataupun
pemasangan poster untuk
dibagikan ke semua tenaga
kerja.
Pengujian Hepatitis B dan
HIV boleh dilakukan pada
saat pemeriksaan awal,
namun tidak boleh
digunakan untuk
menentukan fit atau unfit
terhadap tenaga kerja.
Pemeriksaan tersebut
dilakukan hanya untuk
membantu memilih
penempatan tenaga kerja
sesuai dengan kondisi dan
kemampuan tenaga kerja.

PMP no.7 tahun 1994


tentang kesesuaian alat
kerja

Dilakukan penggantian kursi


dengan kursi yang memiliki
sandaran

Surat ederan Menteri


teaga kerja dan
transmigrasi
01/Men/1979 tentang
pengadaan kantin dan
ruang makan

Melakukan audit rutin


kepada vendor catering yang
melakukan kerjasama.
Menyediakan ruang makan
dan sarana cuci tangan.

23

telah ditakar

PAK

Tidak adanya data


rinci mengenai
epidemiologi 10
besar penyakit

Permenkes No.
715/Menkes/SK/V/200
3 tentang persyaratan
Hygiene Sanitasi Jasa
Boga
Permenakertrans No.
Per. 01/Men/1981
tentang keawjiban lapor
penyakit akibat kerja

Dilakukan pendataan lebih


rinci

Keputusan menteri
tenaga kerja No. 333
tahun 1989 tentang
diagnose dan laporan
penyakit akibat kerja
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
I.

KESIMPULAN
a. Aspek ergonomi dan kesehatan kerja dalam sikap kerja, cara kerja, dan beban kerja
yang ada di PT. Martina Berto Indonesia Tbk telah terpenuhi dengan baik.
b. Kesehatan kerja PT. Martina Berto Indonesia Tbk telah berjalan dengan baik
karena telah memiliki kantin kerja yang mengatur gizi tenaga kerja serta klinik
perusahaan yang berperan sebagai pusat pengobatan primer para tenaga kerja.

II.

SARAN
a. Untuk pengolahan, sebaiknya tempat menaruh mesin ditinggikan sehingga para
pekerja tidak perlu membungkuk.
b. Para pekerja diberikan pengarahan untuk memasang masker dengan cara yang baik
(menutupi hidung) sehingga serbuk-serbuk bedak dapat dicegah masuk ke dalam
saluran pernapasan.
c. Penggunaan sarung tangan yang sesuai dengan hazard.
d. Penggunaan tangga untuk mecapai barang-barang yang berada di rak-rak yang
tinggi

24

25

BAB VI
PENUTUP
Hasil Walk Through Survey yang dilakukan pada PT. Martina Berto Tbk., dapat
disimpulkan bahwa PT. Martina Berto Tbk. merupakan perusahaan yang bergerak penuh
dalam bidang kosmetik dengan sistem semi otomatis yaitu tenaga mesin dan tenaga
manusia. Secara keseluruhan PT. Martina Berto Tbk. sudah cukup baik dalam bidang
kesehatan dan keselamatan kerja, tetapi masih ada beberapa kekurangan. Semoga dari hasil
pengamatan ini dapat membantu menyelesaikan dan melengkapi kekurangan dari
perusahaan jika ditinjau dari K3.

26