Anda di halaman 1dari 14

EFEKTIFITAS ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PASCA OPERASI

BEDAH ORTOGNATIK : STUDI PROSPEKTIF PADA LE FORT I


OSTEOTOMY & BILATERAL INTRAORAL VERTICAL RAMUS
OSTEOTOMY
(Departemen Bedah Mulut & Maksilofasial. Fakultas Kedokteran Gigi,
Universitas Yonsei, Seoul; National Health Insurance Corporation Ilsan Hospital,
Gyeonggi; Wonju Christian Hospital, Kangwon, Korea)

Pendahuluan
Antibiotik profilaksis : digunakan
untuk merawat dan mencegah
infeksi pasca operasi
Tahun 1960, meskipun telah
dilakukan prinsip asepsis tetap
terdapat pathogen
Oleh karena itu, antibiotik profilaksis
sekarang digunakan pada hampir
semua prosedur pembedahan

Pendahuluan(2)
Metode penggunaan antibiotik
profilaksis paling efektif diberikan
sebelum operasi
antibiotik tersebut bekerja pada saat
luka operasi berpotensi
terkontaminasi bakteri.
Saat ini masih digunakan antibiotik
profilaksis pasca operasi, akan tetapi
efeknya masih belum jelas

Pendahuluan(3)
Penggunaan antibiotik profilaksis pasca operasi
masih kontroversial
Tujuan :
1. mengevaluasi prevalensi infeksi luka pasca
operasi
dengan
atau
tanpa
pemberian
antibiotik profilaksis setelah bedah ortognatik
pada pasien muda tanpa riwayat medik
spesifik
2. untuk mengidentifikasi kriteria penggunaan
antibiotik profilaksis yang tepat untuk bedah
ortognatik.

Pasien dan Metode

56 Pasien dibagi menjadi 2 kelompok


Usia 20an tahun
Tanpa riwayat medik spesifik
Prosedur yang dilakukan : Horizontal
Maxillary Osteotomy dan Vertical
Ramus Mandibular Osteotomy
Durasi operasi kurang dari 5 jam

Pasien dan Metode


Kelompok Eksperimen : 1 gr
Cefpiramide IV, 30 menit sebelum
operasi
Kelompok Kontrol : 1 gr Cefpiramide
IV 30 menit sebelum operasi dan
2dd1 sampai hari ketiga pasca
operasi
Evaluasi setiap hari selama 3 hari
pertama, dan akhir minggu pertama
dan kedua

Hasil

Hasil
Ditemukan 3 infeksi pada kelompok eksperimen dan 2
infeksi pada 2 grup kontrol, pada minggu kedua setelah
operasi
1 pasien pada kelompok eksperimen didiagnosa terkena
infeksi dengan adanya pembengkakan daerah fasial,
kemerahan, dan terdapat gambaran samar pada sinus
apabila dilihat dengan radiografi waters view
4 pasien yang lain didiagnosa terkena infeksi pasca
operasi dengan pembengkakan dan kemerahan, serta
nyeri pada area mandibula.
Hanya 1 pasien pada kelompok kontrol yang mengalami
luka terbuka tanpa drainase, demam, atau
pembengkakan di area maksila.

Hasil
Berdasarkan 2 test, tidak terdapat perbedaan
prevalensi infeksi pasca operasi yang signifikan
diantara pasien yang menerima antibiotik
profilaksis pasca operasi dan yang tidak
menerima antibiotic profilaksis pasca operasi. (p=
0,639).

Diskusi
Pemberian antibiotic pre operasi dan
sesegera
mungkin
setelah
operasi
merupakan metode yang umum digunakan
pada
hampir
semua
prosedur
pembedahan.
Bedah ortognatik seringnya dilakukan
pada pasien berusia muda dan tanpa
penyakit penyerta
Jumlah faktor yang mempengaruhi infeksi
luka pasca operasi semakin berkurang

Peterson : antibiotik profilaksis pasca


operasi dosis tinggi, periode yang singkat
Bedah Ortognatik Clean Contaminated
Zijderveld insidensi infeksi pasca operasi
meningkat apabila tanpa menggunakan AB
profilaksis
Rentang umur pasien yang jauh, jumlah
sampel yang kecil, dan berbagai macam
prosedur osteotomy yg dilakukan sulit
evaluasi efektifitas

Pada penelitian ini digunakan


Cefpiramide diyakini mampu
menjadi AB yang tepat utk bedah
ortognatik
AB profilaksis mengurangi resiko
infeksi pasca operasi, pasien tidak
perlu terlalu lama di RS, mengurangi
biaya, dan meningkatkan kualitas
hidup pasien
Diperlukan penelitian lebih lanjut.

Kesimpulan
Penggunaan AB profilaksis yg diperpanjang
setelah bedah ortognatik tidak diperlukan,
dibuktikan dengan tidak adanya faktor yang
signifikan untuk memicu terjadinya infeksi luka
pasca operasi

sekian