Anda di halaman 1dari 17

MINGGU, 18 NOVEMBER 2012

Pekerjaan Memperbaiki Kapal

1. Pembersihan dan Pengecatan Badan Kapal


a. Pembersihan Badan Kapal
Sebelum dilakukan reparasi badan kapal dibersihkan dulu dari binatang dan tumbuhan laut yang
menempel pada pelat badan kapal. Peralatan yang digunakan antara lain : sekrap besar dan kecil, tangga
kayu, unit blasting, pasir blasting, air tawar. Pembersihan dimulai dengan mensekrap sampai binatang dan
tumbuhan laut terlepas dari pelat badan kapal. Dilanjutkan dengan sandblasting kemudian dibersihkan
dengan menyemprotkan air tawar dan dikeringkan.
Blasting
Blasting merupakan suatu metode pembersihan permukaan benda kerja dengan menyemprotkan
pasir (steel grade) bertekanan tinggi ke benda kerja.
Jenis-jenis pasir yang digunakan adalah:
- Pasir silika / kwarsa: Satu kali pakai
- Steel great: Bisa dipakai berulang-ulang
- Overslag: bisa dipakai 2 kali, yang pertama untuk menghilangkan cat sedangkan yang kedua untuk
meratakan.
- Streal plate
Alat-alat utama yang digunakan untuk blasting adalah:
1. Compressor sebagai media utama untuk penekanan udara.
2. Tandon angin sebagai tempat untuk penyimpanan angin.
3. Separator sebagai alat untuk menyaring udara dari minyak dan air
4. Pot Blast sebagai tangki untuk menyimpan pasir (steel grade)
5. Selang Blasting (blast hawse)
6. Nozle.
Sedangkan tools pendukung lain yakni:
1. Valve (katub-katub)
2. Holder (Ditempatkan antara nozzle dan blast hose)
3. T - Pipe (pencampuran angin dengan pasir)
4. Kopling (sambungan selang)
Alat keselamatan kerja untuk proses blasting adalah
1. APD (Alat Pelindung Diri) standart
2. Respirator (alat Bantu pernafasan)
3. Depment valve (katub yang dioperasikan langsung oleh blaster)

Gambar 1. Proses Blasting


b. Pengecatan Badan Kapal.
Pengecatan badan kapal dapat dilakukan dengan kuas cat, roller maupun unit semprot cat sesuai
dengan tingkat daerah kesulitan pengecatan. Jenis cat yang digunakan adalah: cat dasar, cat AC ( anti
corrosive/anti karat ) dan cat AF ( anti folling/anti binatang atau tumbuhan laut ). Pengecatan dilakukan
setelah badan kapal selesai di blasting. Sebelum di cat, badan kapal harus benar-benar bersih dari debu
atau sejenisnya. Karena apabila masih ada debu yang menempel kemudian dicat akan menimbulkan
kondensasi yang lama kelamaan akan menyebabkan munculnya blistering (lubang-lubang kecil karena
catnya terkelupas) Badan kapal dibagi menjadi 3 bagian, yaitu bagian bottom ( bagian yang tercelup air),
bottop, dan bagian top side. Urutan pengerjaan coating pada masing masing bagian berbeda-beda.
* Untuk bagian bottom urutannya, yaitu :
- Pembersihan binatang laut yang menempel pada badan kapal dengan cara di scrub.
- Setelah itu badan kapal dicuci menggunakan air tawar dengan tujuan untuk mengurangi kadar garam.
- Kemudian dilakukan sand blasting.
Sandblasting ini dibedakan menjadi 2 yaitu: full blast dan sweep spot.
Full blast semua pelat di blasting sampai cat pada pelat terkelupas, sedangkan sweep spot di blasting hanya
pada bagian yang berkarat dan bagian yang tidak berkarat cukup di sweep saja. Untuk proses sweep spot
lapisan AC (Anti Corrosion) pada cat sebelumnya harus terkelupas agar cat primer bisa menempel pada
pelat.
-Setelah dilakukan blasting langkah selanjutnya adalah pengecetan pada badan kapal dengan cat primer atau
disebut lapisan AC (Anti corrosion) lapis pertama dengan ketebalan kurang lebih 150 mikron.
- Setelah itu dicat dengan menggunakan sealer atau disebut lapisan AC lapis ke dua dengan ketebalan 100
mikron.
- Kemudian di cat dengan AF (Anti Foulling) lapis pertama
- Langkah terakhir adalah pemberian AF (Anti Foulling) lapis kedua. Pemberian Anti foulling ini bertujuan
untuk mengurangi binatang laut yang menempel pada badan kapal.

Gambar 2. Proses Pengecatan

Gambar 3. Hasil Pengecatan


Untuk pengecatan pada bagian boottop, langkah-langkahnya sama dengan pengecatan pada
bagian bottom. Dalam pengecatan, daerah ini merupakan daerah yang kritis karena pada daerah ini kadang
tercelup air ( saat muatan penuh ) dan kadang tidak tercelup air ( saat muatan kosong ), jadi pemberian
AFnya tidak konvensional melainkan menggunakan self polishing. Sedangkan pada bagian top side
langkah-langkahnya juga sama, namun pada daerah ini tidak perlu di cat AF karena pada bagian ini tidak
tercelup air.
Hal hal yang perlu diperhatikan dalam coating:
- Campuran cat.
Campuran cat menggunakan 2 komponen yaitu base (cat itu sendiri) dan pengeras, namun ada
juga yang menggunakan satu komponen ( rubber )
- Interval antara langkah satu dengan langkah berikutnya antara 4 jam 3 hari.
- Kelembaban.
Batas maksimal kelembaban kurang lebih 85%
- Dry wet
- Suhu pelat
- Suhu udara
- Dew point ( selisih antara suhu pelat dengan suhu udara ) maksimal 3 o C
- Tekanan ideal yang digunakan kurang lebih 7,5 kg/cm 3
- Tebal pengecatan minimal 400 mikron (dengan alat ukur elcometer)

Gambar 4.6.3 Elcometer


2. Pemeriksaan dan Pemotongan Pelat Badan Kapal.
a. Pemeriksaan Tebal Pelat
Sebelum dilakukan pengetesan tebal kulit, ditentukan terlebih dahulu titik-titk yang dicurigai mengalami
pengurangan ketebalan dengan menggunakan palu ketok. Kemudian disediakan alat yang akan digunakan
antara lain:
Unit Ultrasonic Test, gerinda, paselin, palu dan tangga. Untuk mempermudah pekerjaan dibantu dengan
gambar rencana umum dan gambar kerja (Bukaan kulit lambung) untuk meletakkan titik-titik yang akan
diuji ketebalannya. Titik- titik uji yang telah ditentukan digerinda sampai terlihat warna pelat aslinya.
Kemudian di paselin untuk mencegah karat. Pekerjaan selanjutnya dengan bantuan unit ultrasonic test,
tester pada bagian yang telah digerinda dengan cara menempelkan kabel dari alat tersebut pada titik uji.
Maka jarum skala akan menunjukkan skala ketebalan pelat dalam satuan milimeter. Setelah di ketahui
ketebalannya kita bandingkan dengan tebal pelat semula. Apabila tebal pelat setelah diuji ketebalannya
berkurang >20% dari tebal pelat semula, maka perlu dilakukan replating.

Gambar 4.6.4 Pemeriksaan tebal pelat

Kapal
Kulit lambung dipotong untuk diganti dengan pelat baru karena dideteksi pelat lama terdapat
pengurangan ketebalan sehingga melebihi batas toleransi class. Peralatan yang digunakan antara lain :
mesin las listrik, palu ketok, kapur tulis, tackle, mesin brander potong, dan material pelat pengganti. Proses
pengerjaannya dengan bagian kulit yang akan dipotong diberi tanda (digambar pada pelat yang akan

dipotong) dengan kapur tulis sebagai batas penanda untuk alur pemotongan pelat. Masing-masing bagian
dilakukan pemotongan sesuai alur dari frame/gading tempat pemotongan.
Pemotongan pelat yang akan diganti dilakukan dengan menggunakan alat yang dihubungkan pada
sebuah regulator dan terhubung ke tabung yang berisi gas elpiji.Jadi pada alat tersebut terdapat 2 buah
kabel berwarna merah dan hijau, kabel berwarna merah mengalirkan gas elpiji sedangkan yang berwarna
hijau mengalirkan gas oksigen. Cara kerjanya memanfaatkan tekanan gas elpiji yang keluar dengan
campuran gas oksigen
Perlu diperhatikan pada saat pemotongan pelat sekitar frame. Karena panas dari brander potong
dapat mengakibatkan kerusakan pada frame. Setelah pelat dipotong bagian permukaan sisa-sisa yang kasar
dihaluskan dengan gerinda.

Gambar 4. kerusakan

Gambar 5. Pemotongan pelat badan kapal


c. Penggantian Pelat Badan Kapal
Pelat yang diganti adalah pelat dengan tebal dibawah 80% dari tebal semula. Proses pengerjaannya
adalah :
1. Pelat dibersihkan dengan sand blasting.
2. Untuk pelat yang tipis dan tidak merata dilas dan digerinda sampai permukaannya rata dengan
permukaan sekitarnya.

3. Untuk pelat yang tipis dan merata dipotong pada bagian tersebut dengan menggunakan las potong sesuai
gambar bukaan kulit.
4. Untuk menggantinya dipasang pelat dengan ketebalan yang sama dengan tebal pelat asal dengan
mengelaskan pada bagian pelat yang dipotong.

Gambar 6. Penggantian pelat badan kapal


3. Pemeriksaan dan Pemeliharaan Peralatan di Bawah Garis Air.
a. Propeler
Melepas Propeler
Peralatan yang dipakai: Mesin brander besar, Hammer besar, kunci pas besar, bul-bul, tackle, paju dari
kayu, pelat tebal dengan ukuran tertentu.
Proses pengerjaan:
1. Membuat paju dan memasang pelat tebal, tackle dan baut pada propeler.
2. Memasang paju pada pelat tebal.
3. Pelat tebal ditekan sekeras mungkin dengan mengeraskan baut.
4. Paju dipukul sampai masuk.
5. Propeler akan lepas dengan sendirinya dan diangkat dengan tackle.
6. Jika diperlukan dilakukan pemanasan setempat di sela daun propeler.
Pelepasan Poros Propeler

Poros yang telah lama digunakan harus dirawat, untuk itu poros tersebut harus dilepas dulu dari
dudukannya untuk dibawa ke bengkel mekanik dan dilakukan perawatan. Sebelum dilepas gap antara
poros dengan liner diukur terlebih dahulu dengan menggunakan alat yang dinamakan wear down gap.
Selisih antara gap awal dengan gap setelah pengukuran maksimal 3 mm. Apabila lebih dari 3 mm, maka
perlu direpair atau diganti. Peralatan yang digunakan untuk melepas propeler antara lain : Majun kaos,
hoist/tackle crane 5 ton, gantry crane 25 ton, kawat
baja diameter 35 mm, tangga bantu.
Proses pengerjaan:
1. Hoist dipasang pada bul-bul/kupingan di buritan dengan posisi di sebelah belakang, kanan dan kiri.
2. Tali baja diikat simpul pada poros propeler yang terlihat, dihubungkan dengan masing-masing rantai
hoist.
3. Hoist di belakang dikeraskan sehingga secara perlahan poros tertarik keluar dari stern tube-nya.
4. Poros diangkat perlahan ke lantai dok dengan diberi bantalan balok kayu, lalu diangkat dengan gantry
crane ke bengkel mekanik.
Selain perawatan pada poros biasanya juga dilakukan pengecekan seal. Apabila seal telah aus,
maka seal tersebut akan diganti.

Gambar .7 Pelepasan propeller dan poros propeller

Gambar .8 Wear down gap


Pemeriksaan Kelurusan Poros Propeler
Untuk pemeriksaan poros propeler digunakan mesin bubut yang telah dirangkai dengan batang
penunjuk pada eretan memanjang. Poros propeler dipasang pada mesin bubut. Saat mesin dihidupkan
eretan memanjang beserta batang penunjuk bergerak sepanjang poros. Batang penunjuk yang ujungnya
dipasang dengan permukaan poros akan menyentuh poros jika poros tidak rata permukaannya atau
melengkung pada diameter yang tetap.
Untuk meluruskan kembali poros propeler yang bengkok dilakukan dengan mengepress dengan
mesin press pada bagian yang melengkung cembung sampai lurus kembali. Dapat juga dilakukan dengan
pengelasan setempat kemudian dibubut sampai permukaannya rata kembali dengan permukaan yang tidak
bengkok, halus dan diameternya sesuai dengan yang diharapkan.
Pengujian Colour Check/ MPT
Dilakukan untuk mengetahui keretakan yang mungkin terjadi pada shaft / poros propeler.
Proses pengerjaan:
1. Poros propeler dibersihkan dari oli dan kotoran dengan memakai cleaner dan dibiarkan sampai kering.
2. Poros yang telah bersih disemprot dengan cat penetrant berwarna merah dan didiamkan beberapa saat
agart bila ada kemungkinan terjadi keretakan, penetrant dapat meresap. Kemudian dilap sampai
bersih/tidak berbekas.
3.Disemprot developer berwarna putih, setelah kering kemudian diperiksa. Jika terdapat bekas
bercak/garis berwarna merah berarti ada keretakan pada poros propeler.
Balancing Propeler
Dilakukan untuk memastikan bahwa masing-masing daun propeler sama agar gayayang dihasilkan
oleh propeler dapat optimal.
Proses pengerjaan:
1. Membuat poros sesuai dengan poros sebenarnya (diameternya sama).
2. Menandai masing-masing daun propeler (dengan nomor atau angka).
3. Memasang propeler pada poros propeler.
4. Memasang poros dan propelernya pada mesin balancing.
5. Memutar dan mengamati poros dan propeler.

6. Daun propeler yang beratnya tidak sama saat berputar daun propeler yang terberat akan selau berhenti
di bawah. Jika terjadi hal demikian daun propeler yang terberat digerinda merata dan balancing lagi
sampai didapat berat masing-masing daun propeler sama.
7. Hal yang sama untuk daun propeler yang dominan paling ringan, dilas dulu kemudian digerinda sampai
beratnya sama.
Pemasangan Propeler
Peralatan yang digunakan : hoist, tali baja, hammer, kunci L, kunci pas baut propeler, brander potong,
kunci ring.
Proses pengerjaan :
1. Tali baja diikat pada propeler dan ditarik menuju poros propeler.
2. Dengan hoist, propeler diletakkan pada tepat pada lubang dengan poros.
3. Propeler ditarik sampai terpasang dengan baik pada porosnya, demikian juga dengan pasek/spee-nya.
4. Poros didorong sampai ujung poros masuk ke dalam boss propeler.
5. Propeler di tarik masuk dengan menggunakan crane tackle selain dengan dorongan para pekerja sampai
propeler terpasang secara keseluruhan.
6. Dipasang ring shield dan rubber gasket di luar dan di dalam badan kapal untuk menjaga kekedapan
sambungan boss poros dengan ujung poros.
7. Baut dipasang dan dikuatkan dengan memasang baut-baut penguatnya dan dikuatkan lagi dengan
mengikat
bonet penutup propeller dengan baut pengikatnya sebanyak 10 buah.
b. Daun Kemudi
Melepas Daun Kemudi
Proses pengerjaan :
1. Memasang bul-bul pada sisi-sisi daun kemudi dengan dilas.
2. Memecah seman penutup baut dengan palu.
3. Melepas baut-baut baik yang di luar maupun yang ada didalam badan kapal, jika perlu, dilakukan
pemanasan terlebih dahulu dengan brander potong untuk memudahkannya.
4. Daun kemudi diangkat sedikit untuk melepaskan sole piece.
5. Daun kemudi digeser dan diturunkan dengan perlahan-lahan.
6. Daun kemudi di bawa ke bengkel mekanik untuk mendapatkan perawatan dan pemeliharaan.
Memasang Daun Kemudi
Sebelum dipasang pada tempatnya, daun kemudi terlebih dahulu di periksa apakah masih layak pakai
atau tidak, jika sudah tidak layak apakah harus diganti atau hanya perlu diperbaiki saja.
Proses pengerjaan :
1. Memasang 2 kupingan (bul-bul) pada buritan kapal dan 2 buah lagi pada sisi kanan dan kiri daun
kemudi.
2. Memasang hoist pada masing-masing kupingan.
3. Menempatkan poros kemudi pada lubang sole piece dan menjaga posisi daun kemudi tetap tegak.
4. Memasang baut-baut pada flens poros dan menguatkannya dengan mengelaskan pelat pada masingmasing barisan baut flens kemudi kiri dan kanan.

Gambar .9 Pemasangan daun kemudi


c. Pemasangan Zinc Anode
Peralatan yang dipakai anatar lain : alat ukur/meteran, kapur tulis, zinc anode, dan mesin las.
Pemasangan zinc anode pada bagian kapal yang tercelup didalam air laut dimaksudkan untuk mengurangi
korosi yang terjadi di sekitar daerah yang dipasangi zinc anode. Hal ini disebabkan zinc anode mampu
mengelektrolisis air laut. Sehingga proses pengkaratan badan kapal dapat diperlambat. Jarak pemasangan
zinc anode pada arah memanjang kapal disekitar lambung 6,5 meter dan arah vertikal 4 meter. Untuk
pemasangan pada daun kemudi dipasang secukupnya ( 4 buah ).

Gambar .10 Pemasangan zinc anode


4. Pemeriksaan Hasil Las-lasan ( tes kekedapan )
Menggunakan Kapur dan Solar.

Sepanjang hasil lasan bagian luar diolesi dengan kapur dan bagian dalam diolesi solar. Setelah
ditunggu beberapa saat jika kapur tetap kering dan berwarna putih, berarti hasil lasan baik. Tetapi jika
kapur terdapat bercak-bercak solar, berarti hasil lasan terdapat retak/penetrasinya kurang baik. Jika
terjadi hal yang demikian maka hasil lasan harus digouging dan dilakukan pengelasan kembali.
Menggunakan Air Bertekanan.
Sambungan las/alur las bagian luar disemprot dengan air bertekanan 7 kg/cm dan pengecekan
dilakukan pada bagian dalam. Jika sambuangan las baik, maka tidak akan terjadi perembesan dibalik
lasan. Test ini biasanya dilakukan pada bangunan baru.
Menggunakan Udara Bertekanan.
Tangki dikosongkan, ditutup dan dialirkan udara bertekanan kedalamnya sampai tekanan tertentu
( 2 kg/cm ). Memasang manometer agar diketahui tekanan udara didalamnya dan untuk
mempertahankan tekanan udara tersebut sampai pengujian selesai. Pada bagian luar tangki, pada alur
lasan diolesi dengan cairan detergen/sabun. Jika terjadi gelembung-gelembung sabun pada permukaan
lasan, berarti hasil lasan tidak baik ( tidak kedap ). Sehingga harus digouging untuk selanjutnya dilas
kembali. Jika tidak terdapat gelembung, maka hasil lasan baik ( kedap air ).

Tes dengan Tekanan Udara Tangki

Gambar .11 Tes Hasil Las-lasan


5. Pemasangan rantai jangkar
Mula-mula rantai jangkar diturunkan ke graving dock dengan crane, setelah itu jangkar dipasangkan
dengan cara melepas keling yang digunakan untuk menyambungkan rantai. Setelah jangkar terpasang
keling tersebut dipasang lagi disusul dengan pemberian material timah yang bertujuan untuk mencegah
karat pada keeling. Setelah semuanya selesai jangkar kemudian dinaikkan.

Gambar 12. Pemasangan rantai jangkar


6. Pemeriksaan Kelistrikan Kapal
Pemeriksaan kelistrikan kapal dilakukan agar penyuplaian listrik pada kapal selalu tersedia saat
kapal berlabuh, bongkar muat, manuvering dan yang lainnya. Untuk memastikan agar tetap berfungsi dan
mencukupi dalam penyediaan listrik pada saat kegiatan tersebut dilakukan memeriksa peralatan
kelistrikan pada kapal dan instalasinya baik generator, emergency generator, motor listrik, dan saluran
kabel-kabel pada kapal atau yang lainnya dengan memperbaiki atau mengganti bagian-bagian yang rusak.
7. Pemeriksaan Perpipaan Pada Kapal
Pemeriksaan pipa dilakukan untuk menjaga agar pipa saat menyalurkan cairan berfungsi dengan
baik. Pemeriksaan pipa kebanyakan dilakukan secara visual, pemeriksaan visual dilakukan dengan
memastikan apakah pipa itu tidak terjadi kebocoran saat menyalurkan cairan tersebut, dan bila terjadi
kebocoran bisa diperbaiki atau diganti baru. Dan pemeriksaan berikutnya bisa dilakukan dengan
menggoreskan kertas lakmus atau yang lainnya yang digunakan untuk pengecekan saluran cairan yang
mudah terbakar seperti saluran bahan bakar kapal.

Dilakukan juga pemeriksaan pada valve pipa jika sudah tidak berfungsi bisa diganti baru.
Maintenance Kapal
Perlu diketahui bahwa perawatan dan reparasi suatu kapal adalah suatu hal yang penting karena
berpengaruh dalam umur kapal itu sendiri, oleh karena itu kita harus mengetahui faktor faktor apa saja
yang menyebabkan kerusakan pada kapal
Dalam laporan ini telah diberitahu bahwa faktor kerusakan disebabkan 3 hal yaitu:
1. Kondisi kapal baru
2. Pengoperasian kapal (eksploitasi kapal)
3. Desain konstruksi yang rasional
Ketiga hal tersebut merupakan faktor penting yang mempengaruhi umur sebuah kapal.Oleh
karena itu dalam laporan ini akan dijelaskan deskripsi beserta gambar gambar yang menerangkan tentang
faktor faktor yang menyebabkan suatu kapal mengalami kerusakan.
1. KONDISI KAPAL BARU
Salah satu faktor yang penting dalam kerusakan suatu kapal adalah kondisi kapal pada saat
dibangun oleh karena itu pada bab ini akan kami jelaskan bagaimana kondisi kapal baru mempengaruhi
kerusakan pada kapal.
Kondisi kapal baru dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu :
a. Kondisi Material
Material yang diperlukan dalam membangun sebuah kapal sangat menentukan akan kualitas dari kapal
tersebut, oleh karena itu material dalam membangun sebuah kapal dibedakan menjadi empat kelompok
material yaitu ;
- Material mentah adalah bahan yang belum mengalami proses produksi sehingga harus diolah lebih lanjut
agar bisa menjadi barang. Contoh pelat, profil dll.
- Material setengah jadi adalah bahan yang sudah mengalami proses produksi namun harus diolah lebih
lanjut agar didapatkan fungsinya
- Material jadi adalah bahan yang sudah jadi sehingga tidak mengalami proses produksi. Contoh :mesin
- Material pembantu adalah material yang digunakan untuk memproses material pokok untuk mewujudkan
suatu hasil produksi, seperti :kawat las, gas oksigen, acetylene cair, karbid, LPG cair, cat/kapur untuk
penera
b. Proses produksi kapal
Dalam memproduksi sebuah kapal harus diperhatikan proses produksi kapal, adapun proses
dalam pembangunan sebuah kapal adalah:
- Proses desain:terdiri dari pembuatan lines plan dan general arrangement proses ini diakhiri dengan
mould loft, jika ada kesalahan dalam proses ini akan mengakibatkan pemasangan profil plat tidak pas
sehingga cepat terjadi kerusakan dan ketika repair mempersulit pengerjaan
- Desain adalah proses awal dalam pembuatan suatu kapal, pada tahap ini adalah tahap penerjemahan dari
owner ke dalam gambar. Jadi pada tahap ini jika perancangan menyebabkan kesulitan ketika pada saat
perawatan dan reparasi maka sebaiknya desain dari kapal tersebut diganti.
- Yang berpengaruh dalam proses produksi juga adalah cara penyimpanan, type dan jenis pelat, cat-cat
khusus yang digunakan,
- Proses fabrikasi semua pekerjaan pembuatan kapal yang dikerjakan diluar tempat peluncuran seperti
pembuatan blok di bengkel fabrikasi. Kerusakan yang bisa terjadi pada saat proses fabrikasi adalah
kesalahann teknik pemasangan antar pelat, pelat dengan profil. Hal lain ynag berpengaruh adalah prose
penyambungan antar blok yang dibangun di tempat yang berbeda-beda, jika blok tersebut dibangun tidak
dengan perhitungan yang teliti maka ketika dipasangkan satu dengan yang lain akan terjadi overlap antara
satu blok dengan blok yang lain. Penentuan jumlah blok juga berpengaruh pada saat reparasi dengan
perawatan. Penentuan jumlah blok yang digunakan juga berbenmgaruh pada kualitas saat pembangunan
kapam.dengan blok yang kecil memiliki kelebihan pekerjaan dapat dikerjakan dengan presisi yang tinggi
tapi akan menghabiskan banyak waktu dan menghabiskan biaya. Kekurangan dari pembagian blok kecil-

kecil adalah kesalahan pemasangan antar blok menjadi lebih besar. Jika penentuan blok dilakukan besarbesar maka kelebihan yang didapat adalah pekerjaan menjadi cepat selesai dan baya yang dikeluarkan
menjadi lebih sedikit
- Block joint semua pekerjaan pembuatan kapal yang dikerjakan di tempat dimana kapal akan diluncurkan.
Dalam hal ini pembuatan baik berupa seksi, block seksi, dan penyambungan block yang dibangun di luar
bulding bate atau di bengkel semuanya dilakukan/dikerjakan di tempat ini. Kesalahan dalam proses ini
mengakibatkan kegagalan dalam proses peluncuran (hal 4-13).
- Launching atau peluncuran adalah proses pelepasan kapal ke air / laut . kegagalan dalam proses ini
menghancurkan semua proses diatas. Dan akan menyebabkan deformasi sehingga dapat menyebabklan
pembangunan kapal diulang lagi dari awal
- Outfitting adalah proses pemasangan peralatan dan perlengkapan kapal, kesalahan dalam proses ini
mengakibatkan kerusakan pada peralatan dan perlengkapan pada kapal sehingga kemungkinan peralatan
menjadi rusak atau bagian kapal yang dipasangi peralatan tersebut yang menjadi rusak
Ketika dilakukan proses produksi diatas dengan prosedur yang tepat maka kondisi kapal dalam
keadaan baik dan tidak banyak mengalami reject oleh class, dan ketika dilakukan perawatan dan reparasi
tidak terlalu sului sehingga tidak memakan waktu yang lama dan menghabiskan uang
2. KERUSAKAN AKIBAT EKSPLOITASI KAPAL
Kerusakan akibat penggunaan operasional kapal adalah kerusakan akibat eksploitasi kapal yang
menyebabkan kerusakan dibeberapa tempat di kapal antara lain:
1. Steel (baja kapal)
2. Machinery atau permesinan
3. Peralatan dan perlengkapan
1. Kerusakan pada Hull
Kerusakan pada hull biasanya adalah berupa:
- Pengurangan ketebalan pelat
- Mengalami lekuk dan gelombang pada plat
- Terjadi keretakan plat
- Kerusakan pada sambungan las
Tingkat pemeliharaan dan perawatan suatu kapal ditentukan juga oleh penggunaan dari kapal
tersebut oleh nahkodanya. Ketika kapal dijalankan bagian badan kapal atau hull kapal yang terbuat dari
pelat akan mengalami kerusakan atau berkurangnya lapisan pada pelat kapal tersebut. Pada bagian hull
tersebut akan mengalami folling atau berkumpulnya binatang laut di batang kapal karena hewan laut
tersebut akan memakan pelat pada badan kapal. Kerusakan lain yang mungkin terjadi pada badan kapal
adalah karena korosi, karena kapal setiap hari bagian badan kapalnya terendam di dalam laut sehingga
akan mengalami oksidasi. Untuk mengatsi kedua hal di atas dilakukan langkah seperti mengecat badan
kapal dengan cat anti folling. Cat ini memungkinkan hewan laut tidak akan memakan apalagi mendekat ke
badan kapal, tapi hewan lautpun pintar mereka menggunakan strategi kamikaze yaitu mengkorbankan
salah satu dari mereka dengan menepel terlebih dahulu di badan kapal tersebut baru setelah itu temantemanya menempel di belakang hewan yang telah menempal terlebih dahulu tersebut. Untuk masalah yang
kedua yaitu korosi juga dapat diatasi dengan menempelkan elektroda ke nagia badan kapal, dengan alat ini
memungkinkan korosi dapat terpusat dan ketika nanti direparsi yang diganti hanya bagian elektroda
tersebut saja
Pada bagian permesinan juga harus diperhatikan bagaimana penggunaan mesin pada daerah itu,
karena disitu merupakan daerah yang cukup penting dalam kapal, jika pada bagian permesinan terjadi
kerusakan ketika pengoperasian maka akan terjadi kejadian yang tidak diinginkan. Keadaan permesinan
pada kapal dipengaruhi oleh bagaimana cara kita menjalankan kapal tersebut,karena bagian ini sangatlah
penting, jika rusak di tengahj perjalanan maka perjalanan kita menjadi terganggugu. Bagian permesinan
meliputi bagian perpipaan, bagian kelistrikan, stern cube,dan lain sebagainya

Kerusakan yang lain pada saat penggunaan peralatan yang tersedia di kapal juga berpengaruh
pada saat perawatan dan reparasi kapal. Alat yang memiliki harga yang tinggi akan lebih dijaga
penggunaannya dikarenakan harga yang mahal dan seringkali alat seperti ini jika rusak tidak bias
diperbaiki lagi. Alat-alat yang sering digunakan di kapal antara lain adalah alat navigasi, alat bongkar muat,
alat kemudi alat peralatan yang lain.
a. Pengurangan ketebalan plat
Pengurangan ketebalan plat biasanya disebabkan oleh korosi dan gesekan
Cara mengetahui kerusakan akibat pengurangan tebal plat adalah :
1. Ultrasonic test
Test ini dapat mengukur ketebalan plat kulit hanya dari satu sisi saja. Plat yang diukur digerinda
terlebih dahulu, setelah itu diberi lemak atau vet. SE-probe dari alat ukur ultrasonic dilekatkan pada
permukaan plat kulit yang mengeluarkan getaran ultrasonic dan menembus ketebalan plat kulit sampai sisi
yang lain dan dipantulkan kembali menuju SE-probe sebagai gema
Dengan diketahui kecepatan getaran, maka waktu getaran ultrasonic yang diterima kembali oleh SE-probe
tersebut akan menunjukkan ketebalan plat kulit konstruksi yang diukur. Keuntungannya adalah tidak
menimbulkan cacat dan tonjolan pada plat kulit serta mudah dan cepat dilakukan.
2. Palu percobaan dan test hammering
Cara paling sederhana untuk menentukan ketebalan plat kulit atau balok konstruksi badan kapal
adalah dengan palu percobaan yang terdiri dari dua ujung. Ujung yang runcing digunakan untuk
menghilangkan karat, kotoran, cat yang melekat pada pelat kulit atau balok konstruksi, yang tumpul
digunakan untuk memilih tempat yang paling tipis akibat pengkaratan atau keausan. Tinggi rendahnya
nada getaran yang ditimbulkan oleh plat kulit akibat dipukul oleh palu percobaan menunjukkan tingkat
ketebalan plat, makin tinggi nada getaran makin tipis plat tersebut
3. Lubang percobaan atau test hole
Caranya dengan melubangi untuk menunjukkan ketebalan plat kulit. Dengan pertolongan las
potong asitilene atau dengan dibor yang dinamakan lubang percobaan atau test hole
Setelah dilubangi barulah diukur ketebalannya dengan alat pengukur khusus yang terdiri atas 2 mistar
yang dapat bergeser satu sama lain. Kekedapan air dari plat kulit dilakukan dengan menuntup kembali
lubang percobaan dengan baut tap kemudian dilas dengan las listrik. Kekurangannya terdapat cacat
permukaan yang terdiri dari tonjolan baut tap.
4. Linier dial gauges
Caranya socket yang digunakan untuk menentukan kedalaman keausan, tumpuan dengan baut
penahan geser batang penunjuk digunakan untuk mengukur ketebalan. Prnunujuk indicator ditempatkan
sesuai dengan jarum penunujuk dan socket ditempatkan sesuai dengan ujung atas dari indicator penunjuk
sehingga titik tersebut bertepatan dengan titik penunjuk
Solusi kerusakan pada pengurangan tebal plat adalah penggantian setempat atau satu lajur plat
4. PENGARUH DESAIN KONSTRUKSI YANG RASIONAL
1. Hubungan antara frame ( pada lambung) dan deck beam (pada geladak)
Banyak di lakukan dengan overlapp joint (sambungan bertumpang), dengan alasan :
Kelebihan :
a. Bahwa dengan sambungan bertumpang tersebut maka lebih mudah dalam pemasangan dan pengelasan
antara frame dan deck beam pada berbagai posisi konstruksi.
b. Dalam pemeliharaan dan reparasi akan lebih mudah
Kekurangan :
- Penyaluran gaya-gaya lebih jelek di bandingkan butt joint karena adanya beban geser.

2. Hubungan konstruksi antara gading alas dan gading balik dengan pelat penunjang
a. Frame dan deck beam
di mana penyambungan frame dan deck beam dengan overlapp joint lebih menguntungkan.
Penyambungan frame dengan deck beam ini menggunakan over lap join, dimana penyambungan ini
memiliki kelemahan dan kelebihan yaitu :
Kelebihan :
1. Lebih mudah dalam pemasangan antara frame dengan deck beam pada berbagai posisi konstruksi,
2. Dalam pemeliharaan dan reparasi akan lebih mudah.
Kekurangan :
3. Penyaluran gaya-gaya lebih jelek dibandingkan but join.
c. balok konstruksi ( gading alas, gading balik) dan plat (plat penunjang)
penyambungan terjadi pada open floor atau bracket floor
d. hubungan konstruksi antara margin plate dan inner bottom plate
di mana terdapat ketentuan lubang peringan ( man hole ) untuk plate floor
1. tinggi lubang (h1,h2) <=0,5h
2. panjang lubang (l1,l2) <=0,75h
3. jumlah panjang lubang peringan (l1+l2) <=0.5x
4. jarak h3,h4 >= 0.4h
5. margin plate dan inner bottom plate
Mengatur plat dari tengah ke samping, dari bawah ke atas
1. sambungan pipa yang menembus geladak atau floor
sambungan pipa yang menembus pada suatu konstruksi (bisa floor, deck)
2. Desain Konstruksi yang Rasional