Anda di halaman 1dari 7

PEMANFAATAN TANAH PASIR KELANAUAN YANG DIPADATKAN

DENGAN CAMPURAN BENTONITE SEBAGAI ALTERNATIF


MATERIAL COMPACTED SOIL LINER
Qonit Ayu Pranita1, Runi Asmaranto2, Andre Primantyo Hendrawan2
Anggara Wiyono Wit Saputra2, Dian Chandrasasi, Zaenal Abidin3
1Mahasiswa

Sarjana Teknik Jurusan Pengairan Universitas Brawijaya


Jurusan Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
3Pembimbing Lapangan Laboratorium Geoteknik PT Indra Karya Malang
Email: qonitwreftub@gmail.com
2Dosen

ABSTRAK
Compacted Soil Liner adalah suatu lapisan tanah pada sanitary landfill yang dipadatkan
dan digunakan untuk menghalangi lindi masuk dan mencemari air tanah. Karena itu, sangat
penting untuk mencapai standar parameter tertentu untuk memenuhi harga permeabilitas yang
diijinkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi sifat fisik dan mekanik
campuran tanah asli dan bentonite yang dapat digunakan sebagai material compacted soil liner.
Benda uji berupa campuran tanah asli pasir kelanauan dan bentonite dengan tiga
komposisi berbeda. Setiap campuran dipadatkan dengan Standard Proctor untuk menentukan
kurva pemadatan. Kondisi kepadatan tertentu yang mewakili kondisi dry side, optimum dan wet
side dimodelkan kembali dan uji falling head permeability diterapkan pada seluruh benda uji
untuk mengukur harga konduktivitas hidraulik (k).
Terlihat konduktivitas hidraulik (k) dari campuran akan menurun dengan bertambahnya
kadar bentonite. Permeabilitas terkecil didapat pada kondisi optimum yang memiliki kepadatan
tertinggi. Campuran 70% Bentonite dan 30% tanah pasir kelanauan memiliki nilai permeabilitas
terkecil yang memenuhi syarat EPA untuk compacted soil liner dengan nilai k lebih kecil dari 1
x 10-9 cm/detik.
Kata kunci: Compacted Soil Liner, campuran pasir kelanauan - bentonite, sifat fisik dan
mekanis tanah, permeabilitas, Standard Proctor

ABSTRACT
Compacted Soil Liner is a soil layer of sanitary landfill which is compacted and used to
block leachate that can enter and contaminate groundwater. Thus, it is important to reach
specific standard parameters to satisfy the value of required permeability. The purpose of this
study is to evaluate the characteristics of physical and mechanical properties of natural soil and
bentonite mixtures that can be used as compacted soil liner materials.
The specimens were mixtures of natural silty sand soil and commercial Bentonite under
three different compositions. Each of mixture has been compacted under Standard Proctor to
determine its compaction curve. The representation of dry side, optimum and wet side condition
will be remodeled again and the falling head permeability tests have been applied to measure
the hydraulic conductivity (k) of the specimens.
It can be observed that the hydraulic conductivity (k) of the mixtures decreases with the
increasing of bentonite content. The smallest permeability had been reached for the optimum
samples that had a highest density condition. A mixture of 70% bentonite+30% natural silty
sand had a smallest value of permeability that fulfill the requirement of EPA for compacted soil
liner with a value of k less than 1 x 10-9 cm/s.
Keywords: Compacted soil liner, silty sand bentonite mixtures, physical and mechanical
properties, permeability, Standard Proctor

1. PENDAHULUAN
Sampah yang terkumpul di TPA
adalah suatu hal yang umum diIndonesia.
Hal ini dapat menjadi masalah apabila
sampah telah menggunung melebihi
batas wajar dan menimbulkan masalah

seperti pencemaran air tanah dan udara


di sekitar lokasi TPA. Kasus inilah yang
sedang marak terjadi pada beberapa TPA
di Indonesia, semakin bertambahnya
TPA yang ditutup oleh protes warga

akibat pencemaran serta ketidakmampuan TPA untuk menampung sampah yang


datang.
Pencemaran sumber air oleh
sampah terjadi karena sampah yang
dibuang dengan caraopen dumping dan
tertimbun di TPA mengalami dekomposisi yang bersama air hujan menghasilkan cairan lindi (leachate). Lindi adalah
air hasil degradasi dari sampah dan dapat
menimbulkan pencemaran apabila tidak
diolah terlebih dahulu sebelum dibuang
ke lingkungan. Air lindi selalu menyertai
pembuangan akhir sampah padat. Air
lindi yang mengandung senyawasenyawa organik dan anorganik dengan
konsentrasi 5000 kali lebih tinggi dari
pada air tanah, masuk dan mencemari air
tanah atau air sungai (Maramis, 2008).
Untuk memenuhi kebutuhan
penutup bagi landfill, biasanya dipakai
tanah yang berasal dari daerah luar
wilayah TPA. Hal ini tentunya akan
membutuhkan biaya tambahan guna
mobilisasi material tanah penutup
tersebut. Selain itu juga dibutuhkan
material penutup yang memiliki kualitas
lebih baik dalam menahan rembesan air
hujan dibandingkan dengan tanah. Oleh
karena itu, dibutuhkan alternatif lain
guna mengatasi masalah ini. Saat ini
alternatif yang dapat dipertimbangkan
sebagai material tanah penutup adalah
campuran antara tanah asli dengan
bentonite, sehingga dibutuhkan suatu
metode untuk menentukan karakteristik
permeabilitas yang paling efektif
digunakan sebagai tanah penutup.
2. KONSEP DASAR
Compacted Soil Liner (CSL)
telah digunakan selama bertahun-tahun
sebagai penghalang merembesnya air
untuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Beberapa pelapis dasar dan sistem
penutup yang umum digunakan adalah
CSL tunggal. CSL sering digunakan bersama dengan lapisan geomembran untuk
membentuk pelapis komposit, dimana
geomembran ditempatkan langsung pada
permukaan CSL. Gambar 1. Menun-

jukkan perbandingan metode pembuangan limbah open dumping pada TPA yang
digunakan oleh kebanyakan kota-kota
berkembang dan sistem modern landfill
yang masih belum banyak diaplikasikan.
Gambar 1. TPA dengan metode open
dumping (kiri) dibandingkan

dengan modern landfill (kanan)


yang memiliki landfill liner.

Campuran bentonite dengan


tanah pasir secara luas digunakan
sebagai penghalang untuk mengendalikan perpindahan cairan dari TPA karena
campuran bentonite dapat berkombinasi
dengan kekuatan yang relatif tinggi dan
kemampatan rendah dengan daya
konduktivitas hidrolik yang sangat
rendah. Hal ini dapat dicapai dengan
penggunaan suatu campuran yang berisi
cukup tanah pasir untuk memastikan
stabilitas campuran yang padat dan
cukup
bentonite
untuk
mengisi
kekosongan antar butiran pasir. Manfaat
lainnya adalah campuran bentonite
dengan tanah pasir yang dipadatkan
mengandung sejumlah kadar bentonite
rendah yang bersifat melawan pengeringan (Tay et.al. 2001), dan campuran
bentonite dengan tanah pasir mempunyai suatu bahan kapasitas penyangga
kimia yang tinggi (Yong, 1999B).
Berdasarkan EPA (1993) koefisien permeabilitas tanah pelapis tidak
diperbolehkan melebihi 1x10-9 cm/s, hal
ini tergantung pada material yang
dikandung tanah.
Sedangkan, menurut Pedoman
The European Union Landfill (1999/31/European Communities) menentukan
parameter permeabilitas berdasarkan
jenis limbah yang dibuang di TPA.
Pedoman ini merujuk bahwa TPA harus
dikondisikan dan dirancang untuk

memastikan pencegahan polusi terhadap


atmosfer, air tanah, air permukaan dan
tanah. Parameter permeabilitas TPA
dibedakan berdasarkan persyaratan:
TPA untuk limbah berbahaya, K < 1 x
10-9 cm/s dan ketebalan > 5 m
TPA untuk limbah tidak berbahaya, K
< 1 x 10-9 cm/s dan ketebalan > 1 m
TPA untuk innert waste, K < 1 x 10-7
cm/s dan ketebalan > 1 m
Mineral yang terkandung di
dalam tanah dapat mempengaruhi
koefisien permeabilitas secara signifikan.
Tanah dengan kandungan mineral
lempung aktif yang lebih tinggi dan butir
tanah yang baik pada umumnya
menghasilkan koefisien permeabilitas
yang lebih rendah, sebagai akibat dari
ketebalan pori-pori tanah yang semakin
besar.
Pada
umumnya,
nilai
permeabilitas
menurun
dengan
meningkatnya nilai Liquid limit dan
Plasticity index, karena indikator ini
berhubungan
langsung
dengan
mineralogi dan kandungan lempung
dalam tanah (Benson.,et. al, 1994;.
Mitchell and Soga, 2005).
Pengujian SEM diatur pada
ASTM E986-97. Scanning electron
microscope (SEM) adalah suatu jenis
mikroskop elektron yang menciptakan
berbagai gambaran dengan memusatkan
suatu berkas cahaya energi elektron
tinggi ke permukaan suatu sampel dan
sinyal pendeteksian dari interaksi
elektron dengan permukaan sampel.
Dalam uji SEM output yang dihasilkan
adalah
gambar
perbesaran
dari
pembangkitan sinyal elektron, sehingga
terdapat suatu perbedaan antara bendabenda yang materialnya berbeda karena
susunan elekronnya yang berbeda-beda
pula. Jenis sinyal terkumpul dalam suatu
SEM bervariasi dan dapat meliputi
elektron sekunder, karakteristik sinar
ront-gen,serta hamburan balik elektron.
Pada penggunaan mikroskop elektron,
me-rupakan berkas cahaya elektron yang
dipusatkan untuk memperoleh perbesaran jauh lebih tinggi dibanding suatu

mikroskop cahaya konvensional. Contoh


hasil uji SEM pada tanah lempung
Bentonite dan tanah asli dapat dilihat
pada Gambar 2. berikut.

(a)

(b)

Gambar 2. (a) Gambar uji SEM lempung


Bentonite perbesaran 2000x dan (b)
Gambar uji SEM Tanah Asli
perbesaran 5000x.

1.

2.

1.

2.

3. METODE PENELITIAN
Lokasi penelitian ini dilakukan di
Laboratorium Geoteknik PT. Indra
Karya (untuk pengujian specific gravity,
analisis saringan dan hydrometer,
konsistensi tanah, pemadatan standart
proctor, serta falling head).
Penelitian ini didasarkan pada
pengujian di laboratorium dan dilakukan
dengan cara membuat serangkaian benda
uji dari material tanah timbunan berjenis
tanah pasir kelanauan (silty sand) yang
dipadatkan dengan campuran bentonite
komersil.
Adapun
peralatan
yang
digunakan pada penelitian ini adalah:
Untuk
pengujian
pemadatan
di
laboratorium, material tanah ini direncanakan dipadatkan dengan energi
Standart Proctor.
Untuk menentukan harga koefisien
permeabilitas digunakan metode Falling
Head Test.
Pada pemodelan benda uji tanah
ini, dibuat 3 (tiga) buah sampel dengan
variasi atau komposisi antara tanah asli
dan bentonite sebagai berikut :
Tanah A (70 % TA + 30 % B), artinya
komposisi sampel dengan jumlah tanah
asli sebanyak 70 % dan bentonite
sebanyak 30 %.
Tanah B (50 % TA + 50 % B), artinya
komposisi sampel dengan jumlah tanah

asli sebanyak 50% dan bentonite sebanyak 50%.


3. Tanah C (30 % TA + 70 % B), artinya
komposisi sampel dengan jumlah tanah
asli sebanyak 30% dan bentonite
sebanyak 70%.
Adapun tujuan dari variasi
tersebut adalah untuk memodelkan
plastisitas tanah asli yang mewakili
kondisi tanah pada Tempat Pembuangan
Akhir (TPA)
yang akan diuji
permeabilitasnya.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam penelitian ini, analisis
pembagian butiran tanah menggunakan
dua metode analisis yaitu: analisis
ayakan (sieve analysis) dan analisis
hydrometer. Berikut adalah hasil analisis
pembagian butiran tanah dapat dilihat
pada Tabel 1 di bawah ini :
Tabel 1. Hasil analisis pembagian butiran tanah

1
2
3
4
5

Kerikil
(Gravel)
(%)
6.21
4.89
5.45
4.62
0.02

Pasir
(Sand)
(%)
46.73
41.49
26.13
14.75
1.13

Lanau
(Silt)
(%)
29.51
16.20
18.76
24.05
28.62

Lempung
(Clay)
(%)
17.56
37.41
49.65
56.58
70.23

Sumber: Hasil Perhitungan

Dari data yang diperoleh pada


Tabel 1 dapat pula digambarkan grafik
gabungan analisis pembagian butiran
tanah seperti Gambar 3 berikut ini.
GRAFIK ANALISA DISTRIBUSI BUTIRAN TANAH

100
90
80
70
60
Passing (%)

No.

Prosentase
Bentonite
(%)
0
30
50
70
100

50
40

30
20
10
0
TANAH ASLI

Clay

S ilt

70% B + 30% TA

50% B + 50% TA
Particle diameter (mm)

S and

30% B + 70% TA

Gravel
Cobble
Fine
Coarse

BENTONITE

Boulder

Gambar 3. Grafik analisa distribusi butiran


tanah.

Dari Gambar 3 dapat ditarik


kesimpulan bahwa yang memiliki nilai
D10 hanya tanah asli 0,0017 mm,

sedangkan pada tanah bentonite dan


campuran tanah asli dengan bentonite
tidak memiliki nilai D10.
Untuk hubungan antara nilai
Atterberg Limit dan penambahan
Bentonite dapat dilihat pada Gambar 4.
berikut ini.

Gambar 4. Grafik Pengaruh Penambahan


Bentonite
terhadap
nilai
Atterberg Limit

Dari Gambar 4., dapat diketahui


bahwa Bentonite memiliki nilai Liquid
Limit dan Plasticity Index yang jauh
lebih besar dibandingkan dengan Tanah
Asli, sehingga Bentonite memiliki
plastisitas yang lebih tinggi. Tingginya
nilai
plastisitas
pada
bentonite
disebabkan oleh kandungan mineral
montmorillonite yang sangat tinggi,
montmorillonite sehingga dapat menyerap air dengan sangat kuat, dan mudah
mengalami
proses
pengembangan
sehingga mempengaruhi nilai LL dan PI.
Penambahan
prosentase
Bentonite
menyebabkan nilai Liquid Limit dan
Plasticity Index semakin meningkat.
Ben-tonite meningkatkan plastisitas
tanah lempung dengan mengikat lebih
banyak partikel air untuk mengisi
rongga-rongga tanah dalam membentuk
campuran yang kedap air.
Tanah dengan nilaiplasticity
index yang tinggi (>30% - 40%) cenderung membentuk gumpalan yang keras
ketika kondisi kering dangumpalan yang
sangat lengket ketika kondisi basah.
Tanah dengan plastisitas tinggi juga
cenderung cepat dalam hal penyusutan
dan pengembangan ketika dikeringkan
atau dibasahi.

Untuk
pengaruh
dari
penambahan Bentonite terhadap nilai
specific gravity dapat dilihat pada
Gambar 5. berikut ini.

merupakan jenis tanah pasir berlanau


(campuran antara kerikil-pasir dan lanau
lempung) dengan plastisitas tinggi yang
memiliki daya dukung juga kurang baik.
Berdasarkan data-data Atterberg
Limit yang diperoleh dapat ditentukan
potensial mengembang (swelling potential) dari kedua campuran tanah seperti
Gambar 6. berikut ini.

Gambar 5. Pengaruh Bentonite terhadap


Spesific Gravity

Sistem klasifikasi tanah yang


digunakan pada pengujian ini adalah
sistem klasifikasi tanah AASHTO
(American Association Of State Highway
and
Transporting
Official)
dan
UnifiedSoil Clasification System (USCS).
Kedua sistem ini sama-sama memperhitungkan distribusi ukuran butir dan
batas-batas Atterberg. Berikut ini
merupakan klasifikasi kedua tanah yang
digunakan seperti Tabel 2. dan Tabel 3.
berikut ini :
Tabel 2. Klasifikasi tanah menurut standart
USCS
Tanah
Bentonite

LL

PI

Simbol
Jenis Tanah
CH
Lempung anorganik dengan plastisitas tinggi
Kerikil berlanau, campuran kerikil-pasirTanah Asli
GM
56,98 18,15
lanau
30%B+70%TA 195,73 156,99
CH
Lempung anorganik dengan plastisitas tinggi
50%B+50%TA 289,40 250,96
CH
Lempung anorganik dengan plastisitas tinggi
70%B+30%TA 381,04 343,23
CH
Lempung anorganik dengan plastisitas tinggi
520,79 483,22

Sumber: Hasil analisa dan data

Tabel 3. Klasifikasi tanah menurut standart


AASHTO
Tanah
Bentonite
Tanah Asli
30%B+70%TA
50%B+50%TA
70%B+30%TA

LL
520.79
56.98
195,73
289,40
381,04

Gambar

6. Grafik klasifikasi potensi


mengembang Tanah asli dan
Bentonite

Dari Gambar 6. dapat diketahui


bahwa untuk kedua tanah yang
digunakan dalam penelitian ini memiliki
potensi mengembang (swelling potential)
yang berbeda-beda. Untuk tanah
Bentonite dan ketiga campuran tanah
termasuk dalam kategori sangat tinggi
(very high) dan tergolong aktif dan
ekspansif (A > 1,25), sedangkan tanah
asli termasuk dalam kategori sedang
(medium) dan tergolong aktif dan
ekspansif (A > 1,25).
Berdasarkan
hasil
pengujian
standart proctor pada masing-masing
komposisi campuran tanah dapat dilihat
pada kurva pemadatan berikut ini.

PI
Simbol
Jenis Tanah
483.22 A-7-5 Lanau sampai Lempung dengan PI < LL - 30
18.15 A-7-5 Lanau sampai Lempung dengan PI < LL - 30
156,99 A-7-5 Lanau sampai Lempung dengan PI < LL - 30
250,96 A-7-5 Lanau sampai Lempung dengan PI < LL - 30
343,23 A-7-5 Lanau sampai Lempung dengan PI < LL - 30

Sumber: Hasil analisa dan data

Dari Tabel 2.dan Tabel 3.dapat


disimpulkan bahwa : Bentonite merupakan jenis tanah lempung dengan plastisitas tinggi yang memiliki daya dukung
kurang baik sedangkan untuk tanah asli

Gambar 7. Kurva pemadatan tanah

Dari kadar air yang didapatkan


dari kurva pemadatan pada Gambar 7.
dapat ditentukan kondisi dry side,
kondisi optimum dan kondisi wet side
yaitu kondisi dimana kadar air 3%
kurang dari kadar air optimum (kondisi
dry side) dan kadar air 3% di atas kadar
air optimum (kondisi wet side). Ketiga
kondisi inilah yang akan ditentukan nilai
permeabilitasnya masing-masing.
Dari hasil pengujian permeabilitas pada penelitian, didapatkan hasil
rekapitulasi perhitungan yang dapat dilihat pada Tabel 4. berikut ini.
Tabel 4. Rekapitulasi hasil pengujian
permeabilitas
No
1
2
3

Prosentase
Bentonite
(%)
30
50
70

k
(-3% OMC)
cm/s
3.208E-07
2.434E-08
2.122E-08

k
(kondisi OMC)
cm/s
1.050E-08
4.120E-09
2.600E-09

k
(+3% OMC)
cm/s
2.565E-07
1.512E-08
1.384E-08

Sumber: Hasil perhitungan

Dari data yang diperoleh pada


Tabel 4. dapat ditarik hubungan antara
prosentase bentonite dengan nilai k pada
ketiga kondisi tersebut, seperti pada
Gambar 7. berikut ini.

Gambar 7. Hubungan antara penambahan


Bentonite terhadap nilai k.

Dari gambar di atas dapat


disimpulkan bahwa dengan meningkatnya kadar Bentonite dalam tanah
menyebabkan nilai koefisien permeabilitas menurun. Bentonite mengisi
rongga-rongga halus dalam tanah serta
membuatnya kedap dengan menurunkan
angka pori dan konduktivitas hidraulik
hingga mencapai 10-9 cm/s. Nilai permeabilitas juga menurun saat kadar air
mendekati optimum, baik dalam kondisi
dry side maupun wet side dimana nilai

permeabilitas pada kondisi wet side lebih


kecil dibandingkan kondisi dry side.Hal
ini disebabkan oleh rongga-rongga yang
timbul akibat pemadatan.
5. KESIMPULAN
Kesimpulan dari penelitian ini
adalah :
1. Penambahan bentonite berpengaruh
terhadap sifat fisik dan mekanis tanah
pasir kelanauan, antara lain:
a. Nilai Liquid Limit dan Plasticity
Index meningkat dan sebaliknya nilai
Plastic Limit serta Shrinkage Limit
menurun.
b. Potensi
mengembang
(swelling
potential) semakin tinggi dengan nilai
A > 1,25 dan prosentase swelling
potential > 25%. Bentonite memiliki
potensi mengembang sangat tinggi,
karena
mengandung
mineral
montmorillonite dengan daya ikat
terhadap air yang besar. Hal ini
disebabkan oleh nilai PI Bentonite
yang besar sehingga meningkatkan
nilai Aktivitas (A), Nilai A
berbanding lurus dengan nilai PI.
c. Nilai OMC dan MDD menurun.
2. Tanah pasir kelanauan yang dipadatkan dengan campuran bentonite
memiliki karakteristik permeabilitas
sebagai berikut:
a. Tanah
pasir
kelanauan
yang
dipadatkan dengan campuran Bentonite pada masing-masing kompsisi
menyebabkan nilai k semakin rendah
karena tingginya nilai PI.
b. Semakin tinggi prosentase Bentonite
yang ditambahkan pada tanah pasir
kelanauan, menyebabkan turunnya
harga k. Bentonite mengisi ronggarongga halus dalam tanah serta
membuatnya kedap dengan menurunkan konduktivitas hidraulik, dimana
pada kondisi optimum nilai k akan
turun pada masing-masing komposisi
sebagai berikut:
30% B + 70% TA = 1,050 x 10-8 cm/s
50% B + 50% TA = 4,120 x 10-9 cm/s
70% B + 30% TA = 2,600 x 10-9 cm/s

c. Nilai permeabilitas terkecil diperoleh


dari kondisi optimum, dimana nilai k
menurun saat kadar air mendekati
optimum, baik dalam kondisi dry side
maupun wet side, nilai k pada kondisi
wet side lebih kecil dibandingkan
kondisi dry side.
3. Dari hasil analisa pengujian dapat
disimpulkan bahwa campuran 70% B
+ 30% TA memiliki konduktivitas
hidraulik paling kecil dan memenuhi
standart parameter untuk Compacted
Soil Liner dari EPA bahwa nilai
konduktivitas
hidraulik
yang
memenuhi standart parameter untuk
CSL adalah mencapai 1 x 10-9 cm/s
atau lebih kecil dengan nilai k
masing-masing
kondisi
sebagai
berikut:
a. Kondisi dry side = 2,122 x 10-8 cm/s
b. Kondisi optimum = 2,600 x 10-9 cm/s
c. Kondisi wet side = 1,384 x 10-8 cm/s
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima
kasih
kepada
Fakultas
Teknik
Universitas Brawijaya karena atas biaya
DIPA tahun anggaran 2014 berdasarkan
kontrak nomor. 27/ UN 10. 6/ PG/ 2014
tanggal 21 April 2014 penelitian ini
dapat
dilaksanakan;
Laboratorium
Geoteknik PT. Indra Karya Malang,
khususnya Bapak Zaenal Abidin dan Bapak
Didik yang telah memberikan izin dan
bantuan selama berlangsungnya penelitian di
laboratorium dari awal hingga akhir; Bapak

Prasetyo Rubiantoro selaku Laboran di


Laboratorium Tanah dan Air Tanah
Jurusan Teknik Pengairan Universitas
Brawijaya
Malang
yang
banyak
membantu
selama
berlangsungnya
penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Benson, C.H.; Zhai, H. and Wang, X.
(1994). Estimating hydraulic
condu-ctivity of compacted clay
liners. Jour-nal of Geotechnical
Engineering, ASCE, 120(2),
366-387.

Das,B. 1985. Mekanika Tanah ( PrinsipPrinsip Rekayasa Geoteknik)


Jilid 1. Erlangga. Surabaya.
EPA. 1993. Solid waste disposal facility
criteria. U.S: Environmental
Protection Agency, Technical
Manual. EPA/530-R-93-017.
Koerner, R. M. 1984. Construction and
Geotechnical Methods in Foundation Engineering. Mc GrawHill. United States of America.
Maramis, A, 2008. Pengelolaan Sampah
dan Turunannya di TPA,
Alumni ProgramPasca Sarjana
Ma-gister Biologi Terapan,
Universitas
Satyawacana,
Salatiga.
Tay, Y.Y., Stewart, D.I. and Cousens,
T.W. (2001). Shrinkage and
Desic-cation
Cracking
in
Bentonite-Sand Landfill Liners.
Engineering Geology, 60, 263274.
Yong, R.N. (1999b). Overview of
modelling
of
clay
microstructure and interactions
for prediction of waste isolation
barrier
performance.
Engineering Geology, 54, 8391.
http://oceanworld.tamu.edu/resources/en
virontmentbook/groundwaterco
ntamination.html (diakses 23
Februari 2014)