Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Umum
Menurut UU RI no 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, yang
dimaksud dengan air adalah semua air yang terdapat pada, di atas, ataupun di
bawah permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah,
air hujan dan air laut yang berada di darat. Air merupakan sumber kehidupan
terpenting untuk semua makhluk di bumi. Tubuh manusia sebagian besar terdiri
dari air, sehingga keperluan utama adalah untuk air minum, disamping mandi dan
cuci.Selain itu air berfungsi untuk irigasi, perikanan, pembangkit listrik, rekreasi,
produksi industri dan sebagai badan air penerima air buangan.
Kebutuhan air semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah
penduduk, sedangkan persediaan air bersih di bumi semakin berkurang.
Kenyataan ini terlihat jelas bahwa pada tahun 2012 ini semakin meluas daerah
yang mengalami kekeringan dan krisis air bersih. Hal ini disebabkan oleh
pergantian musim yang tidak menentu dan semakin panjangnya musim kemarau
pada tahun ini. Dalam siklus hidrologi perubahan air hanya terjadi pada wujudnya
saja. Fakta menunjukkan bahwa sirkulasi air tidak merata karena dipengaruhi oleh
kondisi meteorologi, sehingga ada perbedaan dari tahun ke tahun dan dari musim
ke musim.
Hal terpenting yang mempengaruhi ketersediaan air di Indonesia adalah
adanya dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim kemarau
menyebabkan ketersediaan air semakin berkurang jumlahnya sedangkan musim
hujan akan menambah ketersediaan air di bumi. Namun distribusi air dalam
musim hujan tidak merata pada setiap waktu dan tempat, sehingga dapat
dikatakan bahwa ada masalah dalam pemanfaatan air yaitu waktu, tempat,
kuantitas dan kualitas. Dalam pemanfaatan air diperlukan pengaturan yang cermat
agar diperoleh hasil yang maksimum, untuk itu sangat diperlukan rencana
pendistribusian air. Salah satu usaha untuk mengatasi masalah-masalah tersebut
adalah dengan membangun waduk. Waduk direncanakan untuk berbagai fungsi,
antara lain untuk keperluan air minum, air baku, air irigasi, PLTA, perikanan,
wisata dan lain-lain. Sedangkan banyak masalah muncul sehingga menyebabkan

pengelolaan waduk tidak berfungsi dengan baik. Salah satu masalah yang
dihadapi dalam pengelolaan waduk adalah masalah sedimentasi.
1.2. Latar Belakang
Manusia melakukan intervensi pada pola ketersediaan air melalui
pembuatan tampungan air melaluipembangunan bendungan (Azdan, 2008).Dalam
perencanaan bendungan, telah diperhitungkan volume tertentu untuk menampung
sedimenyang masuk ke waduk sepanjang usia gunanya. Namun, beban
sedimentasi yang tinggi menyebabkanwaduk seringkali tidak dapat bertahan
sesuai usiagunanya.
Waduk Sengguruh, Sutami, dan Wlingi merupakan tiga waduk di hulu
Sungai Brantas yang memegang peranan penting dalam hal pengendalian
banjir,penyediaan air untuk irigasi dan membangkitkan sebagian besar energi
listrik PLTA di Jawa Timur. Namun ketiganya juga menerima beban
sedimentasiyang begitu tinggi sejak awal operasinya.
Selama waktu operasional ketiga waduk tersebut telah mengalami
pengendapan sedimen dalam jumlah yang sangat besar. Akibat pengendapan
sedimen tersebut dasar waduk mengalami pendangkalan. Dengan kondisi seperti
ini ketiga waduk tersebut telah mengalami penyusutan kapasitas waduk. Akibat
berkurangnya

kapasitas

waduk,

tampungan

efektif

waduk

yang

dapat

dimanfaatkan untuk operasional waduk juga akan berkurang sehingga usia


manfaat waduk akan mengalami percepatan pengurangan.
Oleh karena itu diperlukan upaya penanganan masalah sedimentasi pada
waduk untuk menentukan metode penanganan sedimen yang tepat, sehingga dapat
mempertahankan fungsi manfaat waduk sekaligus layak dari sudut pandang
ekonomi.
Akibat sedimentasi pada Waduk Sengguruh, Sutami, dan Wlingi
tampungan efektif ketiga waduk tersebut dapat semakin berkurang. Bila berlarut
larut, fungsi ketiga Waduk sebagai pengendali pasokan air DAS Brantas untuk
pengendalian banjir, pembangkitan energi, irigasi, air baku industri/domestik dan
lain-lain akan terganggu. Hal ini dapat mengancam pertumbuhan ekonomi di DAS
Brantas, bahkan Propinsi Jawa Timur.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sedimentasi
Selain disebabkan oleh abu vulkanik dari letusan gunung berapi, penyebab
utama sedimentasi waduk adalah akibat aktifitas dan ulah manusia sendiri. Di
berbagai penjuru dunia, perilaku manusia pada alam telah menyebabkan banyak
waduk kehilangan fungsi teknis dan ekonomis dari tampungannya dalam waktu
tak terlalu lama (Palmieri, 2001). Sedimentasi adalah pengendapan materialmaterial lepas hasil pengikisan yang berupa tanah, pasir, kerikil, dan batu.
Pengikisan yang dimaksud di sini adalah pengikisan oleh air mengalir. Pengikisan
oleh air mengalir sering disebut erosi. Sedimentasi yang terjadi pada waduk dapat
disebabkan akibat erosi yang terjadi pada lahan-lahan kritis yang terdapat pada
daerah tangkapan waduk. Jika material sedimen yang terbentuk akibat erosi lahan
tersebut masuk ke dalam aliran sungai dalam jumlah yang besar maka akan
menyebabkan laju sedimen yang masuk ke dalam waduk menjadi besar bahkan
akan melampaui laju sedimen rencana. Akibat sedimen yang mengendap di dasar
waduk, kapasitas tampungan dan kapasitas tampungan efektif waduk akan
mengalami penyusutan. Demikian juga dengan usia rencana waduk, usia rencana
waduk akan mengalami percepatan pengurangan.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap erosi lahan adalah faktor
erosivitas hujan, faktor erodibilitas tanah, faktor panjang dan kemiringan lereng
serta faktor pengelolaan dan pengawetan tanah. Besar sedimen yang terakumulasi
di dasar waduk dapat diketahui dengan menggunakan Sediment Delivery Ratio.
Sediment Delivery Ratio (SDR) didapat dengan membandingkan antara laju
sedimen yang masuk ke waduk dengan erosi lahan yang terjadi. Nilai SDR
tersebut memberikan indikasi bahwa erosi lahan yang terjadi memberikan
pengaruh terhadap akumulasi sedimen yang terjadi di dasar waduk. Setelah
mengetahui adanya pengaruh erosi lahan terhadap akumulasi sedimen yang terjadi
di dasar waduk diharapkan dapat ditingkatkan lagi perbaikan tata guna lahan di
daerah tangkapan waduk. Perbaikan tata guna lahan dapat menggunakan acuan
tata guna lahan pada periode tahun-tahun sebelumnya dimana pada periode tahun

tersebut laju sedimen yang terjadi lebih kecil atau hampir mendekati laju sedimen
rencana.
2.2. Trap Eficiency
Sedimen yang masuk ke waduk tidak seluruhnya terendap, ada sebagian
yang diteruskan keluar. Sedimen yang berhenti di waduk dapat dihitung
berdasarkan perhitungan

trapefficiency. Trap Efficiency

dari waduk dapat

didefinisikan sebagai rasio dari jumlah sedimen terendap terhadap total masukan
sedimen. Efisiensi tangkapan waduk (trap efficiency) ini terutama sekali
tergantung dari kecepatan jatuh partikel sedimen rata-rata aliran yang masuk pada
waduk.
Suatu perkiraan dan efisiensi tampungan waduk dalam menangkap
sedimen telah dibuat oleh Brune (1953) yang menghubungkan prosentase sedimen
yang

tertangkap

terhadap

rasio

kapasitas

waduk

dan

aliran

masuk

tahunan.Hubungan tersebut terlihat pada grafik di bawah ini : (Sumber : Linsley


dkk, 1986 : 355).

Gambar 2.1. Grafik efisiensi tangkapan


Apabila kapasitas tampungan waduk lebih kecil daripada debit inflow
tahunan, maka air akan tertampung pada waduk dalam waktu relatif pendek,
sehingga sedimen yang melayang akan lebih banyak melimpas pada pelimpah
tanpa sempat mengendap. Sebaliknya, apabila kapasitas tampungan waduk lebih

besar daripada debit inflow tahunan, air akan cenderung tertampung lebih lama,
sehingga praktis hampir semua sedimen akan mengendap pada tampungan waduk
tersebut. Hubungan antara efisiensi tampungan dan perbandingan antara kapasitas
tampungan waduk dan debit tahunan yang masuk waduk dirumuskan sebagai
berikut (Brune, 1953 pada Soewarno, 1991):
Y = 100 (1 1/(1+x))n
Dimana :

(1)

= Efisiensi tampungan

= konstanta, dimana n=100 untuk kurva rata-rata

= Perbandingan kapasitas tampungan dengan inflow tahunan

= konstanta, dimana n=1,5 untuk kurva rata-rata

Apabila kapasitas tampungan waduk lebih kecil daripada debit inflow


tahunan, maka air akan tertam-pung pada waduk dalam waktu relatif pendek,
sehingga sedimen yang melayang akan lebih banyakmelimpas pada pelimpah
tanpa sempat mengendap.Sebaliknya, apabila kapasitas tampungan waduk
lebihbesar daripada debit inflow tahunan, air akan cenderung tertampung lebih
lama, sehingga praktis ham-pir semua sedimen akan mengendap pada tampungan
waduk

tersebut.Hasil

perhitungan

sedimentasi

waduk

dan

perubahan

trapefficiency dapat dilihat pada tabel 2 dan 3 berikut ini.


2.3. Laju Sedimentasi
Morris (1997) menyatakan, bahwa laju sedimen-tasi diartikan sebagai
jumlah sedimen dari sungai yang masuk ke tampungan dalam satu periode waktu
tertentu. Proses estimasi laju sedimentasi sudah di-lakukan selama beberapa
dekade untuk menghitung volume tampungan sedimen pada perencanaan bendungan dan waduk, namun hasil estimasi ini seringkali tidak cukup akurat untuk
memproyeksikan laju sedi-mentasi pada suatu waduk, sehingga sering didapati
waduk yang mengalami sedimentasi jauh lebih cepat dibandingkan rencana awal.
Laju sedimentasi pada waduk dapat dihitung de-ngan melakukan survey
pada waduk maupun dengan melakukan survey sedimen pada aliran sungai. Walaupun kedua metode ini sama-sama memiliki potensi faktor kesalahan yang
penting, namun secara umum survey dan pengukuran di waduk dapat
menampilkan data yang lebih dapat dipercaya untuk menentukan laju sedimentasi
terutama pada periode waktu yang cukup panjang (Morris, 1997).

2.4. Metode Penanganan Sedimen


Strategi penanganan sedimen menurut Sumi (2011) adalah dengan upaya
sbb:
a.

Mencegah dan mengurangi terjadinya penggerusan permukaan tanah


(degradation)di DAS bagian hulu dan sungai yang mengalir ke waduk.Metode
ini dilaksanakan dengan upaya konservasi dan pembuatan bangunan penahan
sedimendi hulu sungai.

b. Mengalirkan
menggunakan

sedimen
gaya

keluar

dari

gravitasi.

waduk
Upaya

pembuatandiversion weir, pembuatan

(sedimentrouting)
yang

dilakukan

dengan
berupa

sedimen bypass tunnel, maupun

melakukan density current venting.


c. Mengeluarkan

sedimen

dari

waduk

denganmenggunakan

alat

berat

(dredging)maupun dengan flushing(penggelontoran).


Berdasarkan parameter waktu, penanganansedimentasi waduk dapat
dikelompokkan menjadi:
a. Penanganan jangka pendek, merupakan pena-nganan darurat yang dilakukan
untuk memper-tahankan fungsi operasional waduk terutama di-kaitkan dengan
bangunan pengambilan air yangada di waduk. Idealnya penanganan jangka
pen-dek dilakukan dalam kurun waktu maksimal se-puluh tahun.
b. Penanganan jangka menengah adalah upaya un-tuk mengurangi jumlah
sedimen yang masuk kewaduk dengan melakukan pembangunan ba-ngunan
struktural yang berfungsi untuk menahansedimen berupa cek dam dan sabo
dam. Pena-nganan jangka menengah biasanya dilakukan da-lam kurun waktu
sepuluh sampai dua puluh tahun.
c. Sedangkan penanganan jangka panjang berupa upaya konservasi lahan di
daerah hulu dengan cara vegetatif maupun teknis, yang biasanya barudapat
dirasakan dampaknya dalam jangka waktupanjang (lebih dari 20 tahun).
2.5. Analisa Ekonomi
Menurut Suyanto, dkk (2001), benefit cost ratio(BCR) merupakan
perbandingan antara benefit dengan cost.

B (pV)B

C (pV)C

(2)
Apabila nilai B/C < 1, proyek tersebut tidak layak, sedangkan bila nilai
B/C > 1, maka proyek ter-sebut layak.Pada analisis ini, benefit adalah nilai pendapatan yang diperoleh dari produksi listrik, sedangkan biaya adalah biaya yang
dibutuhkan untuk pena-nganan sedimen waduk.
Nilai sekarang(Present Value)perlu dihitung untuk mengetahui nilai waktu
dari uang (time value of money). Menurut Kodoatie (1995), dari nilai Manfaat
(Benefit)dan Biaya (Cost)yang sudah dihitung terlebih dahulu, dapat dilakukan
analisis dengan rumus sebagai berikut:
Pn

F
(1 i) n

(3)
Dimana:
Pn

= Jumlah uang pada akhir n periode saat sekarang

= Jumlah uang pada saat yang akan datang

= jumlah tahun yang ditinjau

= tingkat suku bunga yang berlaku

Suyanto, dkk (2001) mendefinisikan Internal Rate of Return(IRR) sebagai


bunga bank, dimana total costsama dengan total benefit. Jika benefit dan cost
konstan maka IRR adalah bunga bank di-mana biaya tahunan sama dengan benefit
tahunan. Parameter kelayakan proyek berdasarkan nilai IRR adalah sebagai
berikut:
a. Bila nilai IRR > bunga bank yang diinginkan,proyek dianggap layak,
b. Bila nilai IRR < suku bunga bank yang diingin-kan, maka proyek dianggap
tidak layak.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Lokasi Penelitian
Daerah Aliran Sungai Brantas terletak pada 110o 30-112o 55 BT dan 7o
01-8o 15 LS, membentang seluas+11.800 km2dan mengalir melingkar sepanjang
320 km dari sumbernya di Kota Batu hingga muara-nya di Kali Mas dan Kali
Porong. Waduk Sengguruh berada di Kabupaten Malang, 25 km di selatan Kota
Malang, dan berjarak sekitar 14 km di hulu Bendungan Sutami tepat pada pertemuan Kali Lesti dan Kali Brantas. Waduk Wlingi berada di Kabupaten Blitar,
berjarak 25 km di Hilir Waduk Sutami. Peta lokasi ketigawadukdapat dilihat pada
gambar berikut:

Gambar 1. Peta Waduk Senggurh, Sutami dan Wlingi

Ilustrasi sistem waduk di Sungai Brantas Huludapat dilihat pada gambar


berikut.

Gambar 2. Sistem Waduk di Brantas Hulu


3.2. Tahapan Penelitian
Penelitian ini secara umum dibagi menjadi tiga(3) tahapan, yaitu (i)
analisis kondisi sedimentasi waduk, (ii) analisis dampak sedimentasi waduk
beserta penanganan yang dapat dilakukan dengan berbagai alternatif, dan (iii)
analisis ekonomi dari penanganan sedimen berdasarkan perhitungan biaya dan
manfaat yang diperoleh. Peninjauan tiap tahap dilakukan pada kondisi saat ini dan
kondisi setelah dilakukan alternatif penanganan sedimen.
Perhitungan biaya dilakukan berdasar biaya pelaksanaan pengerukan dan
flushing.Manfaat yangdihitung hanya manfaat dari produksi listrik mengingat
pemanfaatan air pada sektor pertanian dan pengen-dalian banjir bersifat pelayanan
umum, sehingga tidak memiliki nilai tarif yang harus dibayarkan oleh pengguna
air waduk. Analisis ekonomi yang dilakukan adalah analisa BCR, IRR dan NPV.
3.3. Kondisi Sedimentasi Waduk

Analisa dilakukan dengan menggunakan data pengukuran kapasitas waduk


yang secara rutin dila-kukan oleh Perum Jasa Tirta I dan hasil penelitianterdahulu.
Dari analisa ini diperoleh kondisi tampung-an waduk,trap efficiencywaduk serta
laju sedimentasi yang terjadi pada ketiga waduk, yang selanjutnyadipakai sebagai
dasar penentuan volume penanganan sedimen yang akan dilakukan.
3.4. Penanganan Sedimentasi Waduk
Dalam tahapan ini dilakukan analisis penanganan sedimen waduk pada
dua kondisi, yaitu (1) kondisisaat ini dan (2) kondisi setelah dilakukan
alternatifpenanganan sedimen. Tinjauan dilakukan pada nilai biaya dan manfaat
pada setiap kondisi.
Alternatif penanganan sedimen yang direnca-nakan adalah:
1) Alternatif 1 (A1)
Penanganan sedimen yang dilakukan oleh Perum Jasa Tirta I pada tahun
2011,

yaitu

pengerukan

menggunakanCutter

Suction

Dredger

di

WadukSengguruh, Sutami dan Wlingi serta flushing di Waduk Wlingi. Kondisi


umum dari alternatif ini adalah:
a. Volume penanganan sedimen pada ketiga waduk adalah sebesar 1 juta m3, yaitu:
pengerukan Waduk Sengguruh sebesar 200.000 m3, Waduk Sutami 300.000 m3
dan Waduk Wlingi 100.000 m3. Volume flushingdi Waduk Wlingi sebesar
400.000 m3.
b. Material sedimen hasil pengerukan dibuang di lokasi spoil bankterdekat dari
lokasi pengerukan.
c. Estimasi produksi satu (1) unit dredger sebesar 30.000 m3/bulan.
2) Alternatif 2 (A2)
Volume penanganan sedimen sama dengan volume sedimen yang masuk di
ketiga waduk. Penambahan volume pengerukan dibandingkan alternatif 1 disiasati
dengan pembuatan spoil bankbaru yang memungkinkan di sekitar waduk. Biaya
pembebasan lahan dan pembuatanspoil bankbaru akan diperhitungkan sebagai
biaya tambahan.
3) Alternatif 3 (A3)
Volume penanganan sedimen sama dengan alternatif 2, namun
penambahan volume pengerukan selain disiasati dengan pembuatan spoil bank di

lokasi baru dan dengan hauling. Biaya haulingdan pembuatan spoil bankbaru
akan diperhitungkan sebagaibiaya tambahan.
4) Alternatif 4 (A4)
Volume penanganan sedimen sama dengan alternatif 2, namun
penambahan volume pengerukan dilakukan dengan merubah metode pembuangan
material. Pada pengerukan Waduk Sutami material hasilpengerukan selain
ditampung di spoil bank, juga dibuang ke

downstreambendungan. Biaya

investasiperalatan Cutter Suction Dredgerdengan spesifikasi yang berbeda dan


perlengkapan lain untuk pelaksanaan alternatif ini dimasukkan sebagai
biayatambahan.

BAB IV
ANALISA PEMBAHASAN

2.1. Karakteristik Waduk


Waduk Sengguruh, Sutami dan Wlingi adalah tiga waduk penting yang
menghasilkan 67.43% produksi listrik PLTA di Jawa Timur. Berbeda dari Waduk
Sutami, Waduk Sengguruh dan Wlingi adalah wadukyang dibangun untuk
menampung sedimen, selain difungsikan sebagai pembangkit listrik dan
penyediaair untuk irigasi. Hal ini ditunjukkan dengan rasio tampungan mati
dibanding tampungan efektif WadukSengguruh dan Wlingi yang sebesar 88.3%
dan 78.3%sedangkan Waduk Sutami hanya 26% saja.Tabel berikut menunjukkan
kapasitas tampungan awal ketiga waduk.
Tabel 1. Tampungan Awal Waduk
Waduk

Tinggi M.A.

Kapasitas Tampungan Awal

Waduk (m)
HWL LWL

(Juta m3)
Efektif

Kotor

Mati

Sengguru

292,5 291,4
21,5
2,5
19,0
h
Sutami
272,5 246,0
343,0
253,0
90,0
Wlingi
163,5 162,0
24,0
5,2
18,8
Dengan menggunakan data tampungan waduk dan data debit inflow,
dilakukan perhitungan laju sedimentasi dan perubahan kapasitas tampungan yang
terjadi serta perubahan trap efficiency waduk.
2.2. Sedimentasi pada Masing-masing Waduk
Sejak selesai dibangun tahun 1988, WadukSengguruh yang dibangun
untuk menahansedimentasi pada Waduk Sutami telah menerima sedimentasi yang
tinggi, dimana di tahun 2011 kapasitas tampungan kotorWaduk Sengguruh hanya
tinggal 1.04 juta m3,tampungan efektif dan tampungan matinya, masing-masing
hanya tinggal 0.58 dan 0.46 juta m3.
Dengan menggunakan data tampungan wadukdan data debit inflow,
dilakukan perhitungan lajusedimentasi dan perubahan kapasitas tampunganyang

terjadi serta perubahan trap efficiency waduk.Hasil perhitungan sedimentasi


Waduk Sengguruhdapat dilihat pada tabel 2, sementara perubahan trapefficiency
dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 2. Sedimentasi tiap Waduk


1988-1993

Periode
3

Volume Sedimentasi (juta m )

1972-1989

Sutami
1989-2002

2002-2011

1977-1990

Wlingi
1990-1995

1995-2011

2,16

2,17

150,61

16,39

17,08

19,26

0,12

0,13

1,29

0,08

0,55

100,37

7,2

9,69

0,1

0,12

14,85

2,08

1,62

50,24

9,19

7,4

16,26

0,02

0,02

3,23

0,24

0,24

8,86

1,26

1,9

1,48

0,02

0,01

Perubahan Tampungan Efektif(juta m )


Perubahan Tampungan Mati(juta m )

2002-2011

16,14
3

Sengguruh
1993-2002

Rerata Sedimentasi(juta m )

Tabel 3. Trap Efficiency tiap Waduk


Tahun
Tampungan
Waduk(juta m3)
Inflow
Tahunan(juta m3)
Trap Eficiency (%)

1988

Sengguruh
1993
2002

2011

1972

Sutami
1989
2002

21,5

5,36

3,2

1,04

343

192,39

1740,78
7
41,08

1469,55
2
13,82

1588,22
7
6,87

1701,86
3
1,37

2129,45
2
91,36

1842,13
2
87,18

Wlingi
2011

1977

1990

1995

2011

176

158,92

24

4,74

4,62

4,49

2289,54
8
83,24

2644,13
3
79,38

3525,898
25,77

3290,29
1
4,47

3103,422
4,66

3576,07
8
3,73

Tampak bahwa sedimentasi yang terjadi padamasa awal beroperasinya


waduk (1988-1993) sangattinggi, hingga mencapai 3.23 juta m 3/tahun. Kondisiini
menyebabkan terjadinya penurunan trap efficiencywaduk secara signifikan,
dimana pada tahun 2011,trap efficiency Waduk Sengguruh hanya tinggal1.37%,
jauh berkurang dibandingkan saat awal operasinya yang mencapai 41.08
%.Kondisi ini menyebabkan sedimentasi tinggi di sekitar intake PLTA, hingga
elevasi sedimen sudahberada di atas elevasi sedimen referensi yang disyaratkan
untuk operasional PLTA. Hal ini mengakibatkan seringnya operasi PLTA
terganggu karenaPLTA terpaksa dihentikan saat terjadi debit inflowcukup besar
(bukan kondisi banjir) agar tidak terjadigangguan yang lebih parah pada turbin
dan generator PLTA akibat sedimen masuk ke dalam turbin dan generator.
Pada tahun 1988 setelah dibangunnya Waduk Sengguruh, terjadi tren
penurunan sedimentasi yang signifikan. Pada tahun 1989, laju sedimentasi yang
terjadi mencapai 8.86 juta m3/tahun, sehingga volume tampungan kotor Waduk
Sutami tereduksi sekitar 44%, atau rata-rata mendekati 2.5 % per tahun. Besarnya
laju sedimentasi ini dapat diredam selama periode awal operasi Waduk Sengguruh
(1989 sd 1993), namun seiring dengan makin menurunnya trap efficiencyWaduk
Sengguruh, tren kenaikan sedimentasi di Waduk Sutami kembali meningkat sejak
tahun 1994. Sejak tahun 2002, saat trap efficiency Waduk Sengguruh hanya tersisa
kurang dari 7 %, laju sedimentasi yang terjadi di Waduk Sutami mengalami
peningkatan tren kembali.
Pada pengukuran bulan Januari 1990 (sebelum G. Kelud meletus)
diketahui bahwa tampungan kotor Waduk Wlingi berkurang hingga 19.2% dari
volume awalnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa walaupun belum terjadi
letusan G. Kelud, secara alamiah Waduk Wlingi sudah menerima beban
sedimentasi yang cukup tinggi. Gunung Kelud meletus pada Februari 1990 dan
sejak itu Waduk Wlingi praktis terpenuhi oleh sedimen.
Untuk menjaga agar elevasi muka air waduktetap terkendali sebelum
terjadi overtopping, makadebit outflowharus dialirkan melalui spillway. Kondisi
ini menyebabkan sebagian besar sedimen tidaksempat mengendap, melainkan
langsung masuk ketampungan Waduk Sutami dan menambah beban sedimentasi
waduk.Untuk mempertahankan tampungan waduk, sejak tahun 1995 upaya teknis

berupa pengerukan sedimen dilaksanakan di Waduk Sengguruh, dengantotal


volume sampai tahun 2011 sebesar 3.34 jutam3, setara dengan 185.8 ribu m3/th.
Sedangkan di Waduk Sutami sejak tahun 2004 dilakukan penanganan teknis
dengan pengerukan sedimen. Hinggatahun 2011, volume sedimen yang telah
dikeruk mencapai 2.74 juta m3, setara dengan 124.6 ribu m3/tahun.Sejak tahun
1990 hingga kini dilakukan penanganan sedimen secara rutin di Waduk Wlingi
berupapengerukan dan

flushing. Kegiatan ini dapat mempertahankan kondisi

waduk mendekati kondisi sebelum Gunung Kelud meletus, dimana pada tahun
2010 volume tampungan kotor sebesar 4.49 juta m 3 dan tampungan efektif sebesar
1.99 juta m3.
2.3. Kondisi Penanganan Masing-masing Waduk
Metode penanganan yang telah dilakukan terhadap ketiga waduk saat ini
adalah melalui pengerukan dan penggelontoran (flushing) hingga tahun 2011.
Analisa penanganan sedimen saat ini meliputi jumlah sedimentasi per tahun yang
terjadi dan rerata sedimentasi tahunan pada periode waktu tertentu seperti dapat
dilihat pada tabel 4 dan 5 berikut ini.
Tabel 4. Laju Sedimentasi Waduk
Waduk
Sengguru
h
Sutami
Wlingi

Periode

Jumlah
Tahun

Volume
Sedimentasi
(juta m3)

Rerata
Sedimentasi
(juta m3/th)

1993-2011

18

4,325

0,240

33,472
0,25

1,455
0,012
1,707

1988-2011
23
1990-2011
21
Total Laju Sedimentasi

Tabel 5. Penanganan Sedimen saat ini


Rerata
Rerata
Volume
Pengerukan(juta
Flushing(juta
Penanganan(juta
m3/th)
m3/th)
m3/th)
0,186
0
0,186
Sengguruh
0,125
0
0,125
Sutami
0,324
0,264
0,588
Wlingi
Total Penanganan Sedimentasi
0,899
Total laju sedimentasi yang terjadi pada ketigawaduk mencapai 1.707 juta
Waduk

m3/tahun sedangkan total volume penanganan sedimen pada ketiga waduksaat ini
adalah sebesar 0.898 juta m3/ tahun.

Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan sedimen yang telah


dilakukan belum dapat mengimbangilaju sedimentasi yang terjadi pada ketiga
waduk.
2.4. Alternatif Penanganan Sedimen
Metode penanganan sedimen yang dilakukanberupa penanganan teknis
dengan pengerukan(dredging)dan penggelontoran

(flushing)yang dibedakan

menjadi 4 (empat) alternatif skenario dengan perbedaan pada volume penanganan


sedimen,metode pengerukan, dan lokasi pembuangan material.
Volume total penanganan sedimen pada alternatif 1 adalah volume
pekerjaan yang dilaksanakanoleh Perum Jasa Tirta I di tahun 2011 yaitu sebesar1
juta m3untuk ketiga waduk. Sedangkan total volume pekerjaan pada alternatif 2,
alternatif 3 dan alternatif 4 dihitung dari rerata laju sedimentasi tahunanyang
terjadi pada ketiga waduk, yaitusebesar 1.7 juta m3/tahun.
Rincian dari alternatif penanganan sedimen yangdirencanakan adalah
sebagai berikut:
1) Alternatif 1 (A1): kondisi penanganan sedimenpada ketiga waduk di tahun
2011. Parameteryang digunakan pada alternatif ini adalah:
Material hasil pengerukan dibuang ke lokasispoil bankyang telah tersedia.
Volume penanganan sedimen sebesar 1 jutam3, mencakup volume pengerukan
sebesar0.6 juta m3(Waduk Sengguruh 0.2 juta m3,Waduk Sutami 0.3 juta m3dan
WadukWlingi 0.1 juta m3).
Volume flushingdi Waduk Wlingi sebesar400.000 m3.
Peralatan pengerukan yang digunakan adalah

Cutter Suction Dredgeryang

tersedia,dengan estimasi kapasitas produksi sebesar30.000 m3/ bulan.


2) Alternatif 2 (A2):
Fokus pengerukan dilaksanakan pada Wa-duk Sengguruh dan Sutami, material
hasilpengerukan dibuang ke

spoil bankyangtersedia. Penambahan volume

pengerukandibuang pada lokasi spoil bankbaru.


Volume penanganan sedimen sebesar 1.7juta m3, mencakup volume pengerukan
sebesar 1.3 juta m3, (Waduk Sengguruh 0.7juta m3, Waduk Sutami 0.5 juta
m3danWaduk Wlingi 0.1 juta m3).
Volume flushingdi Waduk Wlingi sebesar400.000 m3.

3) Alternatif 3 (A3)
Fokus pengerukan pada Waduk Sengguruhdan Sutami, material hasil
pengerukan dibuang ke lokasi spoil bankyang tersedia,penambahan volume
pengerukan di Seng-guruh ditampung dalam spoil bankbaruserta pekerjaan
hauling.
Volume penanganan sedimen sebesar 1.7juta m3, mencakup volume pengerukan
sebesar 1.3 juta m3(Waduk Sengguruh sebesar 0.7 juta m3, Waduk Sutami 0.5
juta m3dan Waduk Wlingi 0.1 juta m3).
Volume flushingdi Waduk Wlingi sebesar400.000 m3.
4) Alternatif 4 (A4)
Fokus pengerukan pada Waduk Sutami,material dibuang ke spoil bankyang tersedia, penambahan volume pengerukan di-buang ke downstreamwaduk
menggunakan dredger spesifikasi khusus.
Dampak pembuangan material pengerukanke downstream Waduk Sutami
tentunyamenambah beban sedimentasi Waduk Wlingi, sehingga dilakukan
penambahan volumepengerukan Waduk Wlingi.
Volume penanganan sedimen sebesar 1.7juta m3, mencakup volume pengerukan
sebesar 1.7 juta m3(Waduk Sengguruh sebesar 0.2 juta m3, Waduk Sutami 0.8
juta m3dan Waduk Wlingi 0.3 juta m3).
Volume flushingdi Waduk Wlingi sebesar400.000 m3.
2.5. Analisis Biaya Penanganan Sedimen
Biaya penanganan sedimen dengan alternatif diatas merupakan data harga
satuan pekerjaan denganrincian sebagai berikut:
1. Biaya Pengerukan, dikelompokkan menjadi dua,yaitu sebesar Rp. 30.000,-/m3
untuk pengerukandengan

dredger existingdan Rp. 55.000,-/m3 untuk

dredgerinvestasi baru.
2. Biaya Spoil Bank, dikelompokkan menjadi dua,yaitu penyiapan

spoil

bankexisting sebesar Rp. 10.000,-/m3dan pembuatan spoil bank baru se-besar


Rp. 13.000,-/m3sedimen ditampung.
3.

Biaya

Hauling,

sebesarRp.

haulingmaksimal adalah6 km.

28.000,-/m3material

dipindahkan.

Jarak

4. Biaya pembebasan lahan untuk lokasi spoilbank baru, asumsi tinggi tanggul 6
m, materialterisi 5 m, maka diperlukan lahan seluas 20.000m2untuk
menampung setiap 100.000 m3sedimen. Berdasar data nilai jual obyek pajak di
sengguruh, nilai jual tanah pertanian (sawah) senilaiRp. 50.000,-/m2.
5. Biaya investasi peralatan, termasuk peralatanpendukung (floating pipe, booster
dan pipa darat) dengan kedalaman pengerukan > 20 m danjarak buang>2 km.
Nilai investasi diperkirakan+Rp. 80.000.000.000,-6. Biaya flushing,sebesar
Rp.150.000.000,- untuksetiap kali flushing.
Jumlah seluruh biaya dalam satu tahun lalu diproyeksikan setiap tahun,
selama 10 tahun ke depan,dengan asumsi kenaikan biaya per tahun sebesar 5%.
2.6. Analisis Manfaat Ekonomi
Manfaat ekonomi air waduk dihitung berdasarkan pendapatan yang
diperoleh pengelola waduk (Perum Jasa Tirta I) dari energi yang dibangkitkan
olehPLTA pada ketiga waduk. Perhitungan manfaat dilakukan dengan mengalikan
jumlah produksi energilistrik dari ketiga waduk dengan tarif biaya Jasa
Pengelolaan Sumber Daya Air (BJPSDA) tahun 2011sesuai dengan peraturan
yang berlaku dalam KepmenPU.No.182/KPTS/M/2011, yaitu sebesar Rp
130,92/kWh. Untuk kondisi tanpa alternatif penanganan, volume produksi listrik
diambil dari data produksi listrikdi ketiga waduk dengan tingkat keandalan 70%.
Produksi listrik Sengguruh sebesar 71.277 GWh/th, Sutami sebesar 439.12
GWh/th dan Wlingi sebesar143.66 GWh/th.
Analisis manfaat listrik pada kondisi dengan alternatif penanganan
menggunakan produksi listrik rata-rata Sengguruh, Sutami dan Wlingi periode 10
tahun terakhir, dimana tingkat keandalan rata-rata produksi listrik pada ketiga
waduk adalah 55.89%. Hasil perhitungan volume listrik untuk kondisi setelah
penanganan sedimen, pada Waduk Sengguruh sebesar76,375 GWh/th, Sutami
sebesar 448,778 GWh/th danWlingi sebesar 149,876 GWh/th.
2.7. Analisis Ekonomi
Pada tahapan analisis ekonomi komponen biayapenanganan sedimen
sebelum penanganan dan pada keempat alternatif penanganan disimulasikan

denganmanfaat yang bisa diperoleh, sehingga dapat ditentukan parameter Benefit


Cost (B/C) Ratio, IRR (In-ternal Rate of Return) dan NPV (Net PresentValue).
Dari hasil analisis ekonomi yang dilakukan, diperoleh nilai parameter B/C,
IRR dan NPV yangberbeda dari masing-masing alternatif. Hasil perhitungan
Benefit Cost (B/C) Ratio, IRR (InternalRate of Return) dan NPV (Net Present
Value) darisetiap alternatif dapat dilihat pada Tabel berikut.
Tabel 6. Hasil Analisis Ekonomi Alternatif Penanganan Sedimen

Metode penanganan ketiga waduk tersebut dibedakan menjadi 4 alternatif


dengan perbedaan pada volume penanganan sedimen, metode pengerukan, dan
lokasi pembuangan material. Dari 4 macam alternatif yang disebutkan untuk
penanganan sedimen ketiga waduk tersebut, alternatif yang paling layak
dilaksanakan adalah alternatif 3, karena secara sistematis dapat mengimbangi laju
sedimentasi yang terjadi dan secara ekonomis memiliki parameter paling
menguntungkan, dimana alternatif 3 memiliki nilai B/C=1,03, IRR=17,35%, dan
NPV=Rp6,37 milyar.