Anda di halaman 1dari 24

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Sektor Unggulan

Pengertian

sektor

unggulan

biasanya

berkaitan

dengan

suatu

perbandingan,

baik

itu

perbandingan

berskala

regional,

nasional

maupun

internasional. Pada lingkup internasional, suatu sektor dikatakan unggulan jika

sektor tersebut mampu bersaing dengan sektor yang sama dengan negara lain.

Sedangkan pada lingkup nasional, suatu sektor dapat dikategorikan sebagai sektor

unggulan apabila sektor di wilayah tertentu mampu bersaing dengan sektor yang

sama yang dihasilkan oleh wilayah lain, baik di pasar nasional ataupun domestik

(Tambunan, 2001). Suatu daerah akan mempunyai sektor unggulan apabila daerah

tersebut dapat memenangkan persaingan pada sektor yang sama dengan daerah

lain sehingga dapat menghasilkan ekspor (Suyatno, 2000).

Sektor

unggulan

menurut

Tumenggung

(1996)

adalah

sektor

yang

memiliki keunggulan komperatif dan keunggulan kompetitif dengan produk

sektor sejenis dari daerah lain serta memberikan nilai manfaat yang besar. Sektor

unggulan juga memberikan nilai tambah dan produksi yang besar, memiliki

multiplier

effect

yang

besar

terhadap

perekonomian

lain,

serta

memiliki

permintaan yang tinggi baik pasar lokal maupun pasar ekspor (Mawardi, 1997).

Sektor unggulan dipastikan memiliki potensi lebih besar untuk tumbuh

lebih cepat dibandingkan sektor lainnya dalam suatu daerah terutama adanya

faktor pendukung terhadap sektor unggulan tersebut yaitu akumulasi modal,

pertumbuhan tenaga kerja yang terserap, dan kemajuan teknologi (technological

progress).

Penciptaan

peluang

investasi

juga

dapat

dilakukan

dengan

11

Universitas Sumatera Utara

memberdayakan

potensi

sektor

unggulan

yang

bersangkutan (Rachbini, 2001).

dimiliki

oleh

daerah

yang

Sektor unggulan di suatu daerah (wilayah) berhubungan erat dengan data

PDRB dari daerah bersangkutan. Karena di dalam PDRB terkandung informasi

yang sangat penting diantarnya untuk melihat output sektor ekonomi (kontribusi

masing-masing sektor) dan tingkat pertumbuhan dalam suatu daerah baik daerah

provinsi maupun kabupaten/kota.

2.2. Kriteria Penentuan Sektor Unggulan

Penentuan

sektor

unggulan

menjadi

hal

yang

penting

sebagai

dasar

perencanaan pembangunan daerah sesuai era otonomi daerah saat ini, dimama

daerah memiliki kesempatan serta kewenangan untuk membuat kebijakan yang

sesuai dengan potensi daerah demi mempercepat pembangunan ekonomi daerah.

Adapun kriteria sektor unggulan menurut Sambodo dalam Usya (2006) yaitu:

pertama sektor unggulan memiliki laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi, kedua

sektor unggulan memiliki angka penyerapan tenaga kerja yang relatif besar, ketiga

sektor unggulan memiliki keterkaitan antara sektor yang tinggi baik ke depan

maupun ke belakang, dan keempat sektor yang mampu menciptakan nilai tambah

yang tinggi.

Menurut Rachbini (2001) ada empat syarat agar suatu sektor tertentu menjadi

sektor prioritas, yaitu :

1. Sektor tersebut harus menghasilkan produk yang mempunyai permintaan

yang cukup besar sehingga laju pertumbuhan berkembang cepat akibat

dari efek permintaan tersebut.

Universitas Sumatera Utara

2.

Karena ada perubahan teknologi yang teradopsi secara kreatif maka fungsi

produksi baru bergeser dengan pengembangan kapasitas yang lebih luas.

3. Harus terjadi peningkatan investasi kembali dari hasil-hasil produksi

sektor yang menjadi prioritas tersebut, baik swasta maupun pemerintah.

4. Sektor tersebut harus berkembang sehingga mampu memberi pengaruh

terhadap sektor-sektor lainnya.

Menurut Ambardi dan Socia (2002), kriteria komoditas unggulan suatu daerah,

diantaranya:

1. Komoditas unggulan harus mampu menjadi penggerak utama pembangunan

perekonomian. Artinya, komoditas unggulan dapat memberikan kontribusi

yang signifikan pada peningkatan produksi, pendapatan, maupun pengeluaran.

2. Komoditas unggulan mempunyai keterkaitan ke depan dan ke belakang yang

kuat, baik sesama komoditas unggulan maupun komoditas lainnya.

3. Komoditas unggulan mampu bersaing dengan produk sejenis dari wilayah lain

di pasar nasional dan pasar internasional, baik dalam harga produk, biaya

produksi, kualitas pelayanan, maupun aspek-aspek lainnya.

4. Komoditas unggulan daerah memiliki keterkaitan dengan daerah lain, baik

dalam hal pasar (konsumen) maupun pemasokan bahan baku (jika bahan baku

di daerah sendiri tidak mencukupi atau tidak tersedia sama sekali).

5. Komoditas

unggulan

memiliki

status

teknologi

yang

terus

meningkat,

terutama melalui inovasi teknologi.

 

6. Komoditas

unggulan

mampu

menyerap

tenaga

kerja

berkualitas

secara

optimal sesuai dengan skala produksinya.

Universitas Sumatera Utara

7.

Komoditas unggulan bisa bertahan dalam jangka waktu tertentu, mulai dari

fase kelahiran, pertumbuhan, puncak hingga penurunan. Di saat komoditas

unggulan yang satu memasuki tahap penurunan, maka komoditas unggulan

lainnya harus mampu menggantikannya.

8. Komoditas unggulan tidak rentan terhadap gejolak eksternal dan internal.

9. Pengembangan komoditas unggulan harus mendapatkan berbagai bentuk

dukungan. Misalnya, dukungan keamanan, sosial, budaya, informasi dan

peluang pasar, kelembagaan, fasilitas insentif/disinsentif, dan lain-lain.

10. Pengembangan komoditas unggulan berorientasi pada kelestarian sumber

daya dan lingkungan.

2.3. Konsep Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi

Pembangunan merupakan suatu proses perubahan yang terus menerus

menuju perbaikan di segala bidang kehidupan masyarakat dengan berstandar pada

seperangkat nilai-nilai yang dianutnya yang mengarahkan mereka untuk mencapai

keadaan dan tingkat kehidupan yang didambakan. Pembangunan hendaknya

diarahkan pada pengembangan potensi sumber daya, inisiatif, daya kreasi dan

kepribadian dari setiap warga masyarakat.

Kartasamita (1996) dalam Safi’i (2007) mengatakan pembangunan adalah

usaha meningkatkan harkat martabat masyarakat yang dalam kondisi tidak mampu

melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Membangun

masyarakat berarti memampukan atau memandirikan mereka. Dimulainya proses

pembangunan dengan berpijak pada pembangunan masyarakat, diharapkan akan

dapat memacu partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan itu sendiri.

Universitas Sumatera Utara

Pembangunan

ekonomi

adalah

suatu

proses

yang

bersifat

multidimensional

yang

melibatkan

kepada

perubahan

besar

baik

terhadap

perubahan struktur ekonomi, perubahan sosial, mengurangi atau menghapuskan

kemiskinan,

mengurangi

ketimpangan

dan

pengangguran

dalam

konteks

pertumbuhan ekonomi, Todaro (2003) dalam Sirojuzilam (2010).

Sadono Sukirno (1985) mendefinisikan pembangunan ekonomi sebagai

suatu

proses

yang

menyebabkan

pendapatan

per

kapita

penduduk

suatu

masyarakat meningkat dalam jangka panjang. Definisi tersebut mengandung

pengertian bahwa

pembangunan

ekonomi

merupakan

suatu

perubahan

yang

terjadi secara terus-menerus melalui serangkaian kombinasi proses demi mencapai

sesuatu yang lebih baik yaitu adanya peningkatan pendapatan per kapita yang

terus menerus berlangsung dalam jangka panjang.

Menurut Schumpeter dalam Adisasmita Rahardjo (2005) pembangunan

adalah perubahan spontan dan terputus-putus dalam keadaan stasioner yang

senantiasa mengubah dan mengganti situasi keseimbangan yang ada sebelumnya.

Dalam konteks pembangunan, Rodinelli (1961) menyatakan bahwa kebijaksanaan

pemerintah ditujukan untuk mengubah cara berpikir, selalu memikirkan perlunya

investasi

pembangunan.

Dengan

adanya

pembangunan

peningkatan nilai-nilai budaya bangsa, yaitu terciptanya taraf

akan

terjadilah

hidup yang lebih

baik, saling harga menghargai sesamanya, serta terhindar dari tindakan sewenang-

wenang.

Adapun tujuan pembangunan menurut Gant (1971) dalam Sirojuzilam

(2010), ada dua tahap. Tahap pertama, pada hakikatnya pembangunan bertujuan

untuk menghapuskan kemiskinan. Apabila tujuan ini sudah mulai dirasakan

Universitas Sumatera Utara

hasilnya maka tahap kedua adalah menciptakan kesempatan-kesempatan bagi

warganya untuk dapat hidup bahagia dan terpenuhi segala kebutuhannya.

Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu gambaran mengenai dampak

kebijaksanaan pemerintah yang dilaksanankan khususnya dalam bidang ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi merupakan laju pertumbuhan yang dibentuk dari berbagai

macam sektor ekonomi yang secara tidak langsung menggambarkan tingkat

pertumbuhan ekonomi yang terjadi. Bagi daerah, indikator ini penting untuk

mengetahui keberhasilan pembangunan di masa yang akan datang.

Pertumbuhan ekonomi harus berjalan secara beriringan dan terencana,

mengupayakan terciptanya pemerataan kesempatan dan pembagian hasil-hasil

pembangunan

dengan

lebih

merata.

Pertumbuhan

merupakan

ukuran

utama

keberhasilan pembangunan, dan hasil pertumbuhan ekonomi akan dapat pula

dinikmati masyarakat sampai di lapisan paling bawah, baik dengan sendirinya

maupun karna campur tangan pemerintah. Untuk melihat fluktuasi pertumbuhan

ekonomi secara riil dari tahun ke tahun tergambar melalui penyajian Produk

Domestik

Regional

Bruto

(PDRB)

atas

harga

konsumen

secara

berkala.

Pertumbuhan

yang

positif

menunjukkan

adanya

peningkatan

perekonomian,

sebaliknya apabila negatif menunjukkan terjadinya penurunan pertumbuhan.

Kuznets (1996) dalam Sirojuzilam (2008) mendefenisikan pertumbuhan

ekonomi sebagai kenaikan jangka panjang dalam kemampuan suatu negara untuk

menyediakan semakin banyak barang kepada penduduknya, kemampuan ini

bertambah sesuai dengan kemajuan teknologi dan penyesuaian kelembagaan dan

ideologis yang diperlukan. Sedangkan menurut Boediono (1985) dalam Tarigan

(2003), pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output per kapita dalam

Universitas Sumatera Utara

jangka panjang. Menurut Adisasmita Rahardjo (2005) pertumbuhan ekonomi

adalah

peningkatan

dalam

kapasitas

suatu

bangsa

jangka

panjang

untuk

memproduksi aneka barang dan jasa bagi rakyatnya.

2.4. Pembangunan Ekonomi Daerah

Secara umum, pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana

pemerintah daerah dan seluruh komponen masyarakat mengelola berbagai sumber

daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan untuk menciptakan suatu

lapangan kerja baru dan merangsang pengembangan kegiatan ekonomi dalam

daerah tersebut, amat tergantung dari masalah fundamental yang dihadapi oleh

daerah itu. Bagaimana daerah mengatasi masalah fundamental yang dihadapi

ditentukan

oleh

strategi

pembangunan

yang

dipilih.

Dalam

konteks

inilah

pentingnya merumuskan visi dan misi dan kemudian memilih strategi yang tepat

(Kuncoro, 2004).

Masalah

pokok

dalam

pembangunan

daerah

adalah

terletak

pada

penekanan-penekanan

terhadap

kebijakan-kebijakan

pembangunan

yang

didasarkan pada kekhasan daerah yang bersangkutan (endogenous development)

dengan menggunakan potensi sumber daya manusia, sumber daya alam serta

sumber daya buatan yang dimiliki oleh daerah yang bersangkutan (Khusaini,

2006).

Dalam pembangunan ekonomi daerah peran pemerintah dapat mencakup

peran wirausaha (enterprenuer), koordinator, fasilitator dan stimulator (Blakely,

1989)

dan

(Kuncoro,

2004).

Sebagai

wirausaha,

pemerintah

daerah

bertanggungjawab untuk menjalankan suatu usaha bisnis dengan memanfaatkan

potensi tanah, bangunan, untuk tujuan konservasi atau alasan lingkungan lainnya,

Universitas Sumatera Utara

dapat

juga

untuk

tujuan

perencanaan

pembangunan.

Sebagai

koordinator,

pemerintah

daerah

dapat

menetapkan

kebijakan

dan

mengusulkan

strategi

pembangunan didaerahnya, bekerjasama dengan badan usaha dan kelompok

masyarakat lainnya. Sebagai fasilitator, pemerintah daerah dapat mempercepat

pembangunan melalui perbaikan lingkungan perilaku didaerahnya. Peran ini dapat

meliputi pengefisienan proses pembangunan, perbaikan prosedur perencanaan dan

penetapan peraturan. Sebagai stimulator, pemerintah daerah dapat menstimulasi

penciptaan dan pengembangan usaha melalui tindakan-tindakan khusus yang akan

mempengaruhi perusahaan-perusahaan yang ada tetap berada didaerah tersebut,

demikian juga berbagai macam fasilitas untuk menarik pengusaha masuk ke

daerah.

Setiap upaya pembangunan ekonomi daerah mempunyai tujuan utama

untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah.

Dalam upaya mencapai tujuan tersebut, pemerintah daerah dan masyarakat harus

secara bersama – sama mengambil inisiatif pembangunan daerah. Oleh sebab itu,

pemerintah daerah beserta partisipasi masyarakatnya dan dengan menggunakan

sumber

daya

yang

ada

harus

mampu

menaksir

potensi sumber

daya

yang

diperlukan untuk merancang dan membangun perekonomian daerah, Arsyad

(2004) dalam Sinaga (2012).

Dalam

pembangunan

ekonomi

daerah,

pengembangan

tidak

dapat

dilakukan serentak pada semua sektor perekonomian akan tetapi diprioritaskan

pada pengembangan sektor-sektor perekonomian yang potensi berkembangnya

cukup besar. Karena sektor ini diharapkan dapat tumbuh dan berkembang pesat

serta

akan

merangsang

sektor-sektor

lain

yang

terkait

untuk

berkembang

Universitas Sumatera Utara

mengimbangi perkembangan sektor potensial tersebut. Pertumbuhan yang cepat

dari sektor potensial tersebut akan mendorong polarisasi dari unit-unit ekonomi

lainnya yang pada akhirnya secara tidak langsung sektor perekonomian lainnya

akan mengalami perkembangan.

2.5. Perubahan Struktur Ekonomi Daerah

Pertumbuhan ekonomi yang berlangsung secara berkesinambungan dalam

suatu kurun waktu tertentu dapat mengubah struktur ekonomi. Keadaan ekonomi

di negara manapun umumnya mengalami pertumbuhan baik secara alamiah

maupun pengaruh dari kebijakan ekonomi. Perubahan struktur (transformasi

struktural) perekonomian suatu daerah adalah perubahan dari sistem ekonomi

tradisional ke sistem ekonomi modern. Ini berarti juga terjadi perubahan struktur

ekonomi dari sektor pertanian ke sektor industri kemudian dari sektor industri

berubah ke sektor jasa-jasa (Sirojuzilam dan Mahalli, 2010).

Menurut

Kuznets

(1966),

transformasi

struktural

dapat

didefenisikan

sebagai perubahan dalam komposisi permintaan, perdagangan, produksi dan

penggunaan

faktor-faktor

produksi

pertumbuhan ekonomi.

yang

diperlukan

untuk

mempertahankan

Isard (1960) memberikan suatu pola pergeseran struktur ekonomi daerah dalam

penyerapan tenaga kerja. Sedangkan menurut Chennery dan Syrquin mengatakan

bahwa

corak

dari

perubahan

struktur

ekonomi

dibedakan

menjadi

3

(tiga)

golongan, yaitu: perubahan struktur ekonomi dalam proses akumulasi modal,

alokasi

sumber-sumber

distribusi.

daya

dan

perubahan

dalam

proses

demografis

dan

Universitas Sumatera Utara

Dalam

proses

pembangunan

daerah

selain

mempertimbangkan

pertumbuhan dan pemerataan, juga dampak aktivitas ekonomi terhadap kehidupan

sosial masyarakat. Lebih dari itu, dalam proses pembangunan dilakukan upaya

yang bertujuan untuk mengubah struktur perekonomian ke arah yang lebih baik

(Kuncoro, 2003).

2.6.Teori Basis Ekonomi

Teori

basis

ekonomi

ini

dikemukakan

oleh Richardson (1973)

yang

menyatakan bahwa faktor penentu utama pertumbuhan ekonomi suatu daerah

adalah berhubungan langsung dengan permintaan akan barang dan jasa dari luar

daerah

(Arsyad,

1999).

Pertumbuhan

industri-industri

yang

menggunakan

sumberdaya lokal, termasuk tenaga kerja dan bahan baku untuk diekspor, akan

menghasilkan

kekayaan

daerah

dan

penciptaan

peluang

kerja.

Asumsi

ini

memberikan pengertian bahwa suatu daerah akan mempunyai sektor unggulan

apabila daerah tersebut dapat memenangkan persaingan pada sektor yang sama

dengan daerah lain sehingga dapat menghasilkan ekspor (Suyatno, 2000).

Hoover dan Giarratani (1984) dalam Sirojuzilam (2010) mengatakan

beberapa aktivitas ekonomi di dalam suatu wilayah secara khusus merupakan

aktivitas-aktivitas basis ekonomi, yaitu dalam arti pertumbuhannya memimpin

dan menentukan perkembangan wilayah secara keseluruhan, sementara aktivitas-

aktivitas lainnya yang non basis adalah secara sederhana merupakan konsekuensi

dari keseluruhan perkembangan wilayah tersebut. Teori ini merupakan salah satu

pendekatan yang bertujuan untuk menjelaskan perkembangan dan pertumbuhan

wilayah.

Universitas Sumatera Utara

Glason (1978) dalam Sirojuzilam (2010) menyatakan bahwa

aktivitas-

aktivitas basis adalah aktivitas-aktivitas yang mengekspor barang-barang dan jasa-

jasa

ke

tempat

–tempat

di

luar

batas-batas

perekonomian

wilayah

yang

bersangkutan atau yang memasarkan barang-barang dan jasa-jasa mereka kepada

orang-orang dari luar perbatasan perekonomian masyarakat yang bersangkutan.

Sedangkan

aktivitas-aktivitas

non

basis

adalah

aktivitas-aktivitas

yang

menyediakan barang-barang yang dibutuhkan oleh orang-orang yang bertempat

tinggal didalam batas-batas perekonomian masyarakat yang bersangkutan.

Aktivitas basis memiliki peranan sebagai penggerak utama (primer mover)

dalam pertumbuhan suatu wilayah. Semakin besar ekspor suatu wilayah ke

wilayah

lain

akan

semakin

maju

pertumbuhan

wilayah

tersebut,

demikian

sebaliknya. Setiap perubahan yang terjadi pada sektor basis akan menimbulkan

efek ganda (multiplier effect) dalam perekonomian regional (Adisasmita, 2005).

Teori basis ekonomi berupaya untuk menemukan dan mengenali aktivitas

basis dari suatu wilayah, kemudian meramalkan aktivitas itu dan menganalisis

dampak tambahan dari aktivitas ekspor tersebut. Konsep kunci dari teori basis

ekonomi adalah bahwa kegiatan ekspor merupakan mesin pertumbuhan. Tumbuh

tidaknya suatu wilayah ditentukan oleh bagaimana kinerja wilayah itu terhadap

permintaan akan barang dan jasa dari luar.

Salah satu cara dalam menentukan suatu sektor sebagai sektor basis atau

non-basis adalah analisis Location Quotient (LQ). Arsyad (1999) menjelaskan

bahwa teknik Location Quotient dapat membagi kegiatan ekonomi suatu daerah

menjadi dua golongan yaitu:

Universitas Sumatera Utara

1.

Kegiatan sektor ekonomi yang melayani pasar di daerah itu sendiri

maupun di luar daerah yang bersangkutan. Sektor ekonomi seperti ini

dinamakan sektor ekonomi potensial (basis).

2. Kegiatan sektor ekonomi yang melayani pasar di daerah tersebut

dinamakan sektor tidak potensial (non basis).

2.7. Produk Domestik Regional Bruto

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan produksi yang

dihasilkan oleh suatu masyarakat dalam kurun waktu satu tahun yang berada di

daerah atau regional tertentu. Angka Produk Domestik Regional Bruto sangat

dibutuhkan dan perlu disajikan, karena selain dapat dipakai sebagai bahan analisa

perencanaan pembangunan juga merupakan barometer untuk mengukur hasil-hasil

pembangunan yang telah dilaksanakan.

Produk

domestik

regional

bruto

(PDRB)

merupakan

satu

indikator

ekonomi untuk mengukur kemajuan pembangunan di suatu wilayah. Selain nilai

dari semua barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor-sektor ekonomi, PDRB

bermanfaat untuk mengetahui tingkat produk netto atau nilai tambah yang

dihasilkan oleh seluruh faktor produksi, besarnya laju pertumbuhan ekonomi, dan

pola (struktur) perekonomian pada satu tahun periode tertentu di suatu negara atau

wilayah tertentu, Prihatin (1999) dalam Azis (2012).

Penyajian PDRB

terdapat dua cara, yaitu PDRB

Atas Dasar Harga

Konstan (ADHK), artinya semua agregat pendapatan dinilai atas dasar harga

tetap, sehingga perkembangan agregat pendapatan dari tahun ke tahun semata-

mata karena perkembangan produksi riil bukan karena kenaikan harga atau inflasi.

Atau dengan kata lain PDRB atas dasar harga konstan adalah jumlah nilai

Universitas Sumatera Utara

produksi atau pendapatan atau pengeluaran yang dinilai atas dasar harga tetap

(harga pada tahun dasar) yang digunakan selama satu tahun. Sedangkan PDRB

Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) adalah jumlah nilai produksi atau pendapatan

(pengeluaran) yang dinilai sesuai dengan harga yang berlaku pada tahun yang

bersangkutan.

Penghitungan

PDRB

atas

dasar

harga

konstan

berguna

untuk

menggambarkan tingkat pertumbuhan perekonomian suatu daerah baik secara

agregat (keseluruhan)

maupun sektor. Selain itu juga bermanfaat untuk melihat

perubahan struktur perekonomian suatu daerah berdasarkan distribusi masing-

masing sektor ekonomi terhadap nilai total PDRB. Selain itu, pendapatan per

kapita yang diperoleh dari perbandingan PDRB atas dasar harga berlaku dengan

jumlah

penduduk

pada

tahun

bersangkutan

dapat

digunakan

untuk

membandingkan

tingkat

kemakmuran

suatu

daerah

dengan

daerah

lainnya.

Perbandingan PDRB atas dasar harga berlaku terhadap PDRB atas dasar harga

konstan dapat juga digunakan untuk melihat inflasi atau deflasi yang terjadi.

Menurut Widodo (2006), untuk menghitung PDRB ada tiga pendekatan

yang dapat digunakan, yaitu:

a.

Pendekatan produksi, maksudnya PDRB adalah jumlai nilai tambah atas

barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu

daerah dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Nilai tambah

merupakan hasil pengurangan output dengan input antara. Unit-unit produksi

tersebut

dikelompokkan

1.Pertanian, Peternakan,

menjadi

9

lapangan

usaha

(sektor),

yaitu

:

Kehutanan dan Perikanan, 2. Pertambangan dan

Penggalian, 3. Industri Pengolahan, 4. Listrik, Gas dan Air Bersih, 5.

Universitas Sumatera Utara

Bangunan,

6.

Perdagangan,

Hotel

dan

Restoran,

7.

Pengangkutan

dan

Komunikasi, 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan, 9. Jasa-jasa

termasuk jasa pelayanan pemerintah.

b.

Pendekatan pendapatan, maksudnya PDRB merupakan jumlah balas jasa

yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses

produksi di suatu daerah dalam jangka waktu tertentu. Balas jasa faktor

produksi yang dimaksud adalah upah dan gaji (balas jasa tenaga kerja), sewa

tanah (balas jasa tanah), bunga modal (balas jasa modal) dan keuntungan

(balas jasa kewiraswataan), semuanya sebelum dipotong pajak penghasilan

dan pajak langsung lainnya.

 

c.

Pendekatan

Pengeluaran,

maksudnya

PDRB

adalah

semua

komponen

permintaan akhir yang terdiri dari: (1) pengeluaran konsumsi rumah tangga

dan lembaga swasta nirlaba, (2) konsumsi pemerintah, (3) pembentukkan

modal tetap domestik bruto, (4) perubahan stok, dan (5) ekspor netto (ekspor

dikurangi impor).

Berdasarkan lapangan usaha, PDRB dibagi dalam sembilan sektor, yaitu : 1.

Pertanian,

Peternakan,

Kehutanan

dan

Perikanan,

2.

Pertambangan

dan

Penggalian, 3. Industri Pengolahan, 4. Listrik, Gas dan Air Bersih, 5. Bangunan,

6. Perdagangan, Hotel dan Restoran, 7. Pengangkutan dan Komunikasi, 8.

Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan, 9. Jasa-jasa termasuk jasa pelayanan

pemerintah. Sedangkan secara makroekonomi dibagi menjadi tiga kelompok besar

yang disebut sebagai sektor primer terdiri dari sektor pertanian, pertambangan dan

penggalian, sektor sekunder terdiri dari sektor industri pengolahan,

listrik, gas

dan air minum serta bangunan dan sektor tersier terdiri atas sektor perdagangan,

Universitas Sumatera Utara

hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, bank dan lembaga keuangan

lainnya serta jasa-jasa (Prihatin, 1999) dalam (Azis, 2012).

2.8. Pengembangan Sektor Tertinggal dan Sektor Potensial Menjadi Sektor Unggulan Sebagai Strategi Pembangunan Daerah

Permasalahan pokok dalam pembangunan daerah adalah terletak pada

penekanan kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan pada kekhasan

daerah

yang

bersangkutan

(endogenous

development)

dengan

menggunakan

potensi sumber daya manusia. Orientasi ini mengarahkan pada pengambilan

inisiatif-inisiatif yang berasal dari daerah tersebut dalam proses pembangunan

untuk menciptakan kesempatan kerja baru dan merangsang peningkatan ekonomi

Arsyad (1999).

Menurut Safi’i (2007) paradigma baru strategi pembangunan ekonomi

daerah mencakup beberapa hal berikut, yaitu:

1.

Pembangunan

dilakukan

dengan

mempertimbangkan

potensi

daerah

bersangkutan,

serta

kebutuhan

dan

kemampuan

daerah

menjalankan

pembangunan.

2.

Pembangunan daerah tidak hanya terkait dengan sektor ekonomi semata

melainkan keberhasilannya juga terkait dengan faktor lainnya seperti

sosial, politik, hukum, budaya, birokrasi dan lainnya.

 

3.

Pembangunan dilakukan secara bertahap sesuai dengan skala prioritas dan

yang memiliki pengaruh untuk menggerakkan sektor lainnya secara lebih

cepat.

Dengan mengetahui tujuan dan sasaran pembangunan, serta kekuatan dan

kelemahan yang dimiliki suatu daerah, maka strategi pengembangan potensi yang

Universitas Sumatera Utara

ada

akan

lebih

terarah

dan

strategi

tersebut

akan

menjadi

pedoman

bagi

pemerintah daerah atau siapa saja yang akan melaksanakan usaha di daerah

tersebut. Oleh karena itu, menurut Mangun (2007) langkah-langkah berikut dapat

dijadikan acuan dalam mempersiapkan strategi pengembangan potensi yang ada

didaerah, yaitu:

1. Mengidentifikasi sektor-sektor kegiatan mana yang mempunyai potensi untuk

dikembangkan dengan memperhatikan kekuatan dan kelemahan masing-masing

sektor.

2. Mengidentifikasi sektor-sektor yang potensinya rendah untuk dikembangkan

serta mencari faktor-faktor penyebab rendahnya potensi sektor tersebut untuk

dikembangkan.

3. Mengidentifikasi sumberdaya (faktor-faktor produksi) yang ada termasuk

sumberdaya manusianya yang siap digunakan untuk mendukung perkembangan

setiap sektor yang bersangkutan.

4. Dengan

model

pembobotan

terhadap

variabel

-

variabel

kekuatan

dan

kelemahan untuk setiap sektor dan sub-sektor, maka akan ditemukan sektor-sektor

andalan

yang

selanjutnya

dianggap

sebagai

potensi

dikembangkan di daerah yang bersangkutan.

ekonomi

yang

patut

5. Menentukan strategi yang akan ditempuh untuk pengembangan sektor-sektor

andalan yang diharapkan dapat menarik sektor-sektor lain untuk tumbuh sehingga

perekonomian akan dapat berkembang dengan sendirinya secara berkelanjutan.

Perbedaan kondisi daerah membawa implikasi bahwa corak pembangunan

ekonomi yang diterapkan di setiap daerah akan berbeda pula. Peniruan mentah-

mentah terhadap pola kebijaksanaan yang pernah diterapkan dan berhasil pada

Universitas Sumatera Utara

suatu daerah, belum tentu memberi manfaat yang sama bagi daerah yang lain,

Munir (2002) dalam Aziz (2012).

Sektor ekonomi potensial yang ada di suatu daerah merupakan sektor yang

memiliki

kemampuan

produksi

yang

lebih

tinggi

dibandingkan

dengan

kemampuan sektor yang sama di daerah lain, dengan demikian produk dan jasa

dari sektor ekonomi potensial tersebut di samping dapat mencukupi kebutuhan

sendiri, selebihnya dapat dijual ke luar daerah sehingga daerah memperoleh

pendapatan masuk. Pendapatan masuk tersebut akan mendorong pemanfaatan

sumber daya lokal dan menggerakkan sektor ekonomi potensial yang sekaligus

meningkatkan pemanfaatan sumber daya sektor ekonomi yang tidak potensial,

sehingga perekonomian secara keseluruhan akan berkembang yang pada akhirnya

masing-masing

sektor

ekonomi

merupakan

pasar

bagi

sektor

lain.

Kondisi

tersebut

dapat

menciptakan

peluang

usaha

dan

lapangan

kerja

baru

bagi

masyarakat.

Strategi

pengembangan

potensi

ekonomi

daerah

ini

harus

dibuat

berdasarkan

peluang

serta

potensi

yang

dimiliki

oleh

suatu

daerah

dengan

menonjolkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh suatu daerah dan kebijakan-

kebijakan pemerintah setempat yang ramah terhadap dunia usaha.

2.9.Penelitian Terdahulu

Penelitian

mengenai

sektor

unggulan

ekonomi

telah

dilakukan

oleh

beberapa peneliti sebelumnya, namun walaupun demikian antara penelitian yang

satu dengan yang lain selalu berbeda baik dari segi alat analisis yang digunakan

maupun objek dan lokasi penelitian, penelitian yang dimaksud diantaranya dapat

dilihat dalam tabel berikut:

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.1. Penelitian-Penelitian Terdahulu dari Tahun 2007-2013

No

Nama/Thn/Judul

Alat Analisis

Hasil Penelitian

(1)

(2)

 

(3)

(4)

1.

Nudiatulhuda

 

- Location Quotient/ LQ

- Hasil analisis LQ menunjukkan sektor pertanian merupakan sektor basis yang

Mangun (2007)

Analisis

Potensi

- Model

Rasio

dominan di Prop. Sulawesi Tengah.

Ekonomi

Kab.

Dan

Pertumbuhan / MRP

- Hasil analisis MRP menunjukkan tak satupun kab/kota di Prop. SulTeng,

Kota

di

Propinsi

Sulawesi Tengah

- Shift Share/ SS

mempunyai potensi daya saing

- Metode SIG

kompetitif dan komparatif.

 

- Hasil analisis SS menunjukkan tidak terdapat satupun kab/kota memiliki keunggulan/daya saing.

2.

Muhammad Ghufron

- Quotient/

Location

- Terdapat tiga sektor unggulan Kab. Lamongan yang menjadi basis ekonomi

(2008)

LQ

Analisis

- Multiplier Pendapatan

 

daerah, yaitu sektor pertanian, sektor jasa-jasa dan sektor perdagangan, hotel

Pembangunan

 

Wilayah

Berbasis

- Shift Share/ SS

dan restoran. Sedangkan enam sektor

Sektor

Unggulan

- Analisis SWOT

lainnya termasuk ke dalam sektor non basis yaitu sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor kontruksi, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan.

- Pada efek pengganda pendapatan sektor basis yang dihasilkan menujukkan bahwa koefisien pengganda pendapatan selama tahun 2002-2006 lebih besar dari pada efek pengganda pendapatan di sektor non basis. Hal ini menunjukkan minat msyarakan terhadap aktifitas ekonomi di sektor basis lebih besar.

Kabupaten

 

Lamongan

 

Prop.

Jawa Timur.

 

- Hasil analisis Shift Share menunjukkan sektor pertanian memiliki pertumbuhan yang cepat dan daya saing yang baik begitu juga pada sektor jasa-jasa, sektor perdagangan, hotel dan restoran.

3.

Fachrurrazy (2009)

- Tipologi Klassen

- Hasil analisis menurut Klassen

Analisis

penentuan

- Location Quotient/LQ

 

Typology menunjukkan bahwa sektor yang maju dan tumbuh dengan pesat,

sektor

unggulan

perekonomian

wilayah

Kab.

Aceh

- Shift Share/ SS

yaitu sektor pertanian dan sektor pengangkutan dan komunikasi.

- Hasil perhitungan indeks Location Quotient sektor yang merupakan sektor basis (LQ>1), yaitu sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan, dan sektor pengangkutan dan komunikasi.

- Hasil analisis shift share menunjukkan bahwa sektor yang merupakan sektor kompetitif, yaitu sektor pertanian, sektor bangunan dan konstruksi, sektor lembaga keuangan lainnya.

Utara

dengan

pendekatan

 

sektor

pembentuk PDRB

 
 

Universitas Sumatera Utara

Lanjutan Tabel 2.1.

4. Tri Kurniawati R.

- Tipologi Klassen

- Hasil Tipologi Klassen : Sebagian besar

 

(2009)

 

- Location Quotient/ LQ

daerah di Kalimantah Tengah berada pada kuadran kedua, yaitu Kota Waringin

Analisis potensi

ekonomi

 

di

- Shift Share/ SS

Timur, Kapuas, Pulang Pisau serta Gunung Mas.

Kalimantan

 
 

2000

- Hasil LQ dari 14 Kabupaten, Sebanyak 13

 

Tengah

2007.

 
 

Kab. Memiliki sektor unggulan yang sama, yaitu sektor bangunan.

- Hasil Shift Share, hampir semua Kabupaten di Kalimantan Tengah, memiliki keunggulan dalam sektor bangunan, namun secara kompetitif sektor-sektor di kalimantan Tengah belum mampu bersaing pada tingkat Propinsi.

5. Agus Tri Basuki

 

- Model Rasio Pertumbuhan / MRP

- Hasil analisis MRP: menunjukkan bahwa sektor listrik, gas danair bersih dan sector

 

(2009)

 

Analisis

Potensi

- Shift Share/ SS

perdagangan, restorandan hotel merupakan

Unggulan

- Location Quotient/ LQ

sektor yang dominan pertumbuhannya. Selain itu, sektor tersebut juga

Kabupaten Yapen

dalam Menopang

- Overlay

menunjukkan peningkatan terhadap

Pembangunan

 

- Tipologi Klassen

struktur pertumbuhan ekonomi.

Provinsi

Papua

- Hasil analisis shift-share pada tahun 2008 secara keseluruhan dengan melihat pengaruh keunggulan kompetitif pada PDRB mengalami perbaikan dibandingkan dengan tahun 2006 dalam wilayah Kab. Kepulauan Yapen.

- Hasil perhitungan LQ disimpulkan bahwa Kab. Kepulauan Yapen memiliki keunggulan dalam semua sektor sektor, kecuali sektor pertambangan dan penggalian, dan sektor industri pengolahan. Sektor yang paling besar memiliki sektor unggulan adalah sektor jasa (rerata 4,9), sektor keuangan dan jasa perusahaan (rerata 3,9) serta sektor bangunan (rerata 2,9).

Tahun 2004-2008.

 

6. Wali

I.

Mondal

- Shift Share/ SS Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa malaysia mempunyai sektor basis di wilayah Klantan, Terengannu, Pahong dan Johar Utara dimana ke empat wilayah tersebut mempunyai mix industri yang unik dibandingkan wilayah lainya di Malaysia, hal tersebut didukung dengan sumberdaya alam yang berlimpah. Pada Semenanjung Malaysia kaya akan sektor pertanian dan sektor perikanan, selain itu konstribusi sektor pariwisata memiliki peranan penting dalam perekonomian Malaysia.

 

(2009)

An

Analysis

of

The Industrial

Development

 

Potential

 

of

Malaysia: A shift-

Share Approach.

 

Universitas Sumatera Utara

Lanjutan Tabel 2.1.

7. Janaranjana Herath, Tesfa G.Gebremedhin and Blessing M Maumbe (2010) A Dynamic Shift Share Analysis of Economic Growth in West Virginia.

- Shift Share Analysis Sektor pertanian, pertambangan dan manufaktur tidak lagi menjadi tulang punggung perekonomian Virginia Barat. Tiga sektor menunjukkan kinerja yang menurun dalam periode 38-tahun. Layanan, keuangan asuransi dan real estate adalah sektor yang paling kuat berkontribusi 91 persen dari pertumbuhan pekerjaan sejak 1970 hingga 2007. Terlepas dari dua sektor, sektor grosir dan ritel dan konstruksi menunjukkan positif pertumbuhan ekonomi. Identifikasi investasi prioritas dalam sektor ini potensi dan pelaksanaan rencana kebijakan pembangunan daerah komprehensif pasti akan mempercepat pertumbuhan ekonomi di Virginia Barat.

8. Teguh Pamuji Tri

- Quotient/

Location

Dari analisis LQ menunjukkan bahwa Kecamatan di Kab. Jepara yang memiliki

 

(2011)

LQ

Analisis potensi

- Tipologi Klassen

sektor basis terbanyak adalah Kecamatan Kedung dan Kecamatan Bangsri (6 sektor basis) disusul Kecamatan Kalinyamatan, Kecamatan Mayong, Kecamatan Jepara, dan Kecamatan Kembang (5 sektor basis). Kecamatan Pecangaan, Kecamatan Mlonggo (4 sektor basis), dan Kecamatan Welahan, Kecamatan Nalumsari, Kecamatan batealit, Kecamatan Tahunan, Kecamatan Pakis Aji, Kecamatan Donorojo, Kecamatan Keling dan Kecamatan Karimunjawa (3 sektor basis).

ekonomi Jepara

tahun 2011

9. Purushottam

Shift Share Analysis :

Hasil National Share (NS), Industri Mix (IM) dan Pergeseran Regional (RS), kita mendapatkan campuran industri yang paling cocok untuk daerah India. Industri-industri ini akan mampu memanfaatkan potensi maksimum dari daerah dalam hal daya saingnya. Sektor umum di wilayah India yang memuaskan adalah sektor ritel, keuangan dan real estate, dan jasa telekomunikasi. Daerah ini juga memiliki sebagian besar sektor yang tidak memuaskan seperti manufaktur dan jasa, listrik dan barang.

 

Kesar

and

-National Share -Industri Mix -Pergeseran Regional

S.Chattopadhyay

(2011)

Forecasting

 

Regional

Economic

Potentials

for

Economic

Regions - Special

Economic

Zones

and

Investment

Regions.

 

Universitas Sumatera Utara

Lanjutan Tabel 2.1.

10. Valente

J.

- Classic

Shift

Share

Pertama, dari metode shift-share klasik disimpulkan bahwa tingkat pertumbuhan

 

Matlaba (2012)

Analysis

Classic

and

- Spatial

Shift

Share

lapangan kerja yang lebih tinggi dari daerah maju disebabkan keunggulan komparatif daerah ini terkait dengan tingginya kinerja industri - mix dan efek kompetitif komponen terlepas dari perubahan struktural nasional. Bukti ini menegaskan penelitian sebelumnya yang menemukan daerah konvergensi di Brasil (Rolim, 2008; Daumal dan Zignago 2010) . Kedua, pemeriksaan industrymix dan komponen efek kompetitif menggunakan eksplorasi analisis data spasial ( ESDA ) memberikan bukti dari asosiasi spasial positif untuk kedua komponen . Hasil ini mendukung ekonomi aglomerasi dan teori konvergensi beta, seperti yang sebelumnya ditemukan (Resende, 2011, dan referensi di dalamnya), karena dibandingkan dengan tahun 1960-an, saat ini kegiatan ekonomi sedikit kurang terkonsentrasi di daerah selatan dan lebih maju dari Brazil .

Spatial Shift- Share Analysis of State-Level Employment Change in Brazil.

Analysis.

11. Asrul Azis (2012) Analisis Sektor Perekonomian Unggulan Daerah Kab. Batu Bara

- Tipologi Klassen

- Hasil analisis menurut Tipologi Klassen

- Shift Share/ SS

 

menunjukkan bahwa hanya terdapat satu

- Location Quotient/ LQ

sektor yang maju dan tumbuh dengan pesat, yaitu sektor industri pengolahan. Sedangkan sektor perdagangan, hotel dan restoran merupakan sektor maju tapi tertekan. - Hasil analisis LQ yang merupakan sektor basis adalah sektor industri pengolahan, perdagangan, hotel dan restoran. - Hasil analisis shift share menunjukkan sektor potensial adalah sektor industri pengolahan.

12. Sinaga

Purnama

- Tipologi Sektoral

- Hasil analisis Tipologi Klassen

 

(2012)

- Location Quotient/ LQ

menunjukkan bahwa sektor pertanian dan sektor industri pengolahan adalah sektor

Analisis

Pertumbuhan

- Shift Share/ SS

 

maju dan cepat tumbuh (sektor prima). - Hasil analisis LQ (sektor basis/sektor unggulan) Kab. Labuhan batu Utara adalah sektor pertanian, pertambangan dan penggalian serta sektor industri pengolahan. - Hasil analisis Shift Share menunjukkan bahwa sektor yang memiliki daya saing yang tinggi adalah sektor pertanian di Kec. Marbau dan sektor industri pengolahan di Kec. Aek Kuo, Marbau, Kualuh Hulu. - Dari ketiga analisis di atas, menunjukkan sektor unggulan yang maju dan cepat tumbuh di Kab. Lab.Batu Utara adalah sektor pertanian dan sektor industri pengolahan.

Ekonomi

dan

Sektor

Unggulan

di Kab. Labuhan

Batu

Utara

Setelah

Pemekaran

Universitas Sumatera Utara

Lanjutan Tabel 2.1.

13. Zulfi Haris (2012) Analisis Penentuan Sektor/Subsektor

- Location Quotient/ LQ

- Hasil analisis LQ : Yang menjadi sektor basis adalah sektor industri pengolahan,

- Multiplier Sektor

sektor listrik, gas dan air bersih, sektor

- Shift Share/ SS

perdagangan, hotel dan restoran, serta

 

Unggulan

dan

- Overlay

sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan real estate dan jasa perusahaan, dan sektor jasa-jasa lainnya. Selain itu, 16 dari 30 sub sektor juga menjadi sektor basis.

Kaitannya dengan

Perencanaan

Pembangunan

Ekonomi

 

Kabupaten

- Angka multiplier sub sektor basis sebesar 6,38 yang berarti jika ada injeksi yang berakibat kenaikan sektor/sub sektor maka kenaikan PDRB sebesar 6,38 kali dari kenaikan sektor basis dan menjadi penyumbang multiplier terbesar di sub sektor perkebunan.

- Hasil Shift Share : terjadi pertambahan tingkat output ekonomi selama tahun 2000-2010 sebesar 1.353.076 juta rupiah, namun secara keseluruhan perekonomian Kab. Lampung Utara tidak memiliki daya saing atau kemandirian daerah ditandai dengan nilai different shift negatif.

Lampung Utara.

 
 

14. Aditya

Nugraha

- Location Quotient/ LQ

- Hasil analisis LQ menunjukkan bahwa sektor pertanian, sektor pertambangan dan

 

Putra (2013)

Analisis

Potensi

- Model Rasio Pertumbuhan / MRP

penggalian, sektor industri pengolahan serta sektor jasa-jasa merupakan sektor

Ekonomi

Kab/

Kota

di

Prov.

- Overlay

basis yang dominan di Provinsi Daerah

Daerah

Istimewa

- Shift Share/ SS

Istimewa Yogyakarta karena terdapat di

Yogyakarta

 

tiga kabupaten/kota dari lima kabupaten/kota.

 

- Hasil analisis MRP yang di overlay menunjukkan bahwa terdapat beberapa kabupaten/kota di Provinsi DIY yang memiliki potensi daya saing kompetitif dan komperatif terhadap sektor ekonominya. Sektor tersebut adalah sektor bangunan di Kabupaten Bantul, kemudian sektor bangunan serta sektor perdagangan, hotel dan restoran di Kabupaten Sleman begitu juga untuk sektor perdagangan, hotel dan resetoran serta sektor pengangkutan dan komunikasi di Kota Yogyakarta.

- Hasil analisis Shift-Share di Provinsi DIY menunjukkan bahwa Sektor pertanian mempunyai keunggulan kompetitif dan spesialisasi di 3 kabupaten yaitu Kulon Progo, Bantul dan Sleman.

- Sektor bangunan mempunyai keunggulan kompetitif dan Spesialisasi di Kabupaten Bantul. Sektor perdagangan, hotel dan restoran mempunyai keunggulan kompetitif dan spesialisasi di Kabupaten Sleman.

Universitas Sumatera Utara

2.10.

Kerangka Pemikiran Penelitian

Kerangka

penelitian

merupakan

suatu

pedoman

dan

metode

dalam

tahapan-tahapan

pendekatan

penelitian

yang

bertujuan

untuk

mempermudah

mengkaji dan menganalisa hal-hal yang berkaitan dengan Analisis Penentuan

Sektor

Unggulan

Kabupaten/Kota

di

Kepulauan

Nias.

Tipologi

Klassen

digunakan untuk mengetahui gambaran tentang pola dan struktur pertumbuhan

sektor daerah. Analisis ini mendasarkan pengelompokan suatu sektor dengan

melihat pertumbuhan dan kontribusi sektor tertentu terhadap total PDRB suatu

daerah. Dalam analisis Location Quotient, kegiatan ekonomi suatu daerah di

Kabupaten dan Kota dibagi menjadi 2 golongan , yaitu:

a. Kegiatan sektor yang melayani pasar di daerah itu sendiri maupun di

luar daerah yang bersangkutan, disebut sektor basis.

b. Kegiatan sektor yang hanya melayani pasar di daerah tersebut, disebut

sektor non basis.

Sektor basis dapat menaikkan pendapatan dan menciptakan kesempatan kerja baru

yang juga berarti menaikkan permintaan

yang akhirnya mendorong kenaikan

investasi pada sektor tertentu dan juga sektor lainnya. Dengan alasan tersebut,

maka sektor basis harus dikembangkan terlebih dahulu. Analisis Model Rasio

Pertumbuhan (MRP) dan analisis Overlay bermanfaat dalam menentukan sektor

unggulan di kabupaten/kota di kepulauan Nias dengan menekankan pada kriteria

pertumbuhan baik eksternal terlebih lagi dengan faktor internal.

Adapun kerangka pemikiran yang dijadikan dasar dalam penelitian ini

dapat dilihat pada gambar 2.1.

Universitas Sumatera Utara

Perubahan Struktur Perekonomian Kabupaten/Kota di Kepulauan Nias PDRB Kabupaten/Kota di Kepulauan Nias Analisis Model
Perubahan Struktur Perekonomian
Kabupaten/Kota di Kepulauan Nias
PDRB Kabupaten/Kota di
Kepulauan Nias
Analisis Model
Analisis Tipology
Klassen
Analisis Location
Quotient
Rasio
Pertumbuhan
Rasio
Pertumbuhan
Klasifikasi Laju
referensi (RPr)
Pertumbuhan
dan
Sektor
Sektor Basis dan
Non Basis
Rasio
Pertumbuhan
studi (RPs)
Analisis Overlay
Arah Kebijakan dan
Pengembangan Perekonomian
Kabupaten/Kota di Kepulauan
Nias
Rencana
Rencana
Pembangunan
Pembangunan
Jangka Pendek
Rencana
Pembangunan
Jangka Menengah
Jangka Panjang

Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran Penelitian

Universitas Sumatera Utara