Anda di halaman 1dari 16
KAJIAN STATUS KEILMUAN(STATE OF THE ART) DAN PEMANFAATAN MODEL DINAMIKA EUTROFIKASI WADUK Eko Winar Irianto®, R. Wahyudi Triweko”), Doddi Yudianto®) "Peneliti Madya Bidang Teknik Lingkungan SDA Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air JI, H, Juanda no. 193, Bandung, *'*! pengajar Program Pascasarjana Universitas Katolik Parahyangan JI. Ciumbuleuit Bandung E-Mail: ekowinar@yahoo.com Diterima: 10 Maret 2011; Disetujui: 16 Mei 2011 ABSTRAK Waduk merupakan infrastruktur sumber daya air yar berfungsi multiguna. Namun demikian, waduk- waduk yang telah dibangun di Indonesia telah _mengi.iami permasalahan eutrofikasi dan telah menjadi perhatian serius secara global. Karena itu, diperlukan upaya pengendalian yang tepat dengan mengetahui proses dan parameter kunci yang menyebabkan timbulnya eutrofikesi. Model matematis merupakan salahsatu alat yang dapat digunakan untuk menyimulasikan fenomena dan pengendalian eutrofikasi. Untuk mengkaji secara teoritis model-model eutrofikasi secara lebih rinci, termasuk yang telah diaplikasikan di Indonesia, maka kajian dilakukan menggunakan metode deskriptif. Kajian model mencakup relasi antarparameter kualitas air dan dinamika proses eutrofikasi. Model yang dikaji menggunakan asumsi tercampur sempurna dan multidimensi.Dengan demikian, output dari kajian ini adalah perbandingan dan perkembangan model eutrofikasi, usulan modelkonseptual serta piranti lunak yang dapat diterapkan untuk pengelolaan waduk tercemar di daerah tropis, khususnya di Indonesia Hasil kajian menunjukkan bahwa model konsep yang diterapkan pada waduk-waduk tercemar di Indonesia sehaiknya merupakan gabungan dari konsep model ekologi, perhitungan berdasarkan volume kendali, memerhatikan kemampuan pengukuran variabel kualitas air pemicu eutrofikasi dan pengaruh sedimen dasar waduk. Kata Kunci: Eutrofikasi, model dinamik, parameter kualitas air, reactor tercampur sempurna, model konseptual. ABSTRACT Reservoir is the multipurposes water resources infrastructure. Unfortunately, many reservoirs, built in Indonesia, have eutrophication problems and have serious global attention, So that, suitable control method is needed to overcome the eutrophication problems in reservoir. Mathematical model is one of the tools to simulate the phenomenon and dinamics of eutrophication process. With intention that, the theoritical assessment of eutrophication models uses descriptive method to evaluate more details including relation of water quality parameter and eutrophication dinamics. The asumptions of completely mixed reactor and multidimension are used in this assessment. So, outputs of this review are models comparison, conceptual modelwhich can be applied to simulate eutrophication process on tropical areas mainly in Indonesia Assessment results show that conceptual model applied in polluted reservoirs in Indonesia should combine among ecological concept, calculation based on control volume, measurement capability for water quality variables initiated to eutrophication process and the affect of botom sediments. Keywords: Reservoir, dynamics modi model, water quality parameter, completely mixed reactor, conceptual PENDAHULUAN eutrofikasi pada waduk telah menjadi perhatian : : serius secara global sejak tahun 1980 (Lingdkk, Waduk | merupakan infrastruktur sumber 2997), waduk di Indonesia, sebagian besar dalam daya air yang bersifat multiguna yang diantaranvajondisi tercemar dengan status penyuburan sebagai penyedia air baku, pengendali banjir, dan berlebihan, sebagaimana dinyatakan__ oleh konservasi lingkungan. Namun demikian, waduk- yyachbub, dkk (1982) dan Lehmusluoto, dkk waduk yang telah dibangun saat ini, mengalami (1995) permasalahan eutrofikasi, Permasalahan Z Jurnal Teknik Hidraulik, Vol. 2 No. 1, Juni 2011: 1-96 W Eutrofikasi pada waduk —menyebabkan berbagai_permasalahan, antara lain gangguan estetika terutama bau yang menyengat, gangguan tansportasi, rendahnya transparansi, berkurangnya kadar oksigen _ terlarut, munculnya zat-zat beracun, Bau yang menyengat tersebut berasal dari gas-gas hasil fiksasi Nitrogen dari_udara oleh Alga Biru-Hijau yang tumbuh berlebihan, Alga-Biru hijau tersebut memiliki laju kematian yang rendah dan kemampuan. fiksasi nitrogen dari udara, meskipun tidak ada nitrogen dan amonium dalam air waduk (Ling, dkk, 2007). serta Sebagaimana dijelaskan oleh Thoman dan Mueler (1997), proses eutrofikasi_ umumnya disebabkan adanya kandungan senyawa hara yang berlebihan dalam waduk yang dikonversi menjadi hutrien anorganik melalui proses fotosintesisyang digunakan untukpertumbuhan, biomassa fitoplankton, Thoman dan Mueler (1997) juga menjelaskan adanya faktor-faktor penting lain yang berpengaruh pada proses eutrofikasi, yaitu: (a) cahaya matahari; (b) pengaruh geometri waduk; (c) hids odinamika aliran; dan (d) sub air. Untuk kemudahan analisis eutrofikasi, relasi antarparameter variabel tersebut lebih tepat disajikan dalam bentuk model, khususnya model matematis. Henderson dan Seler (2000) menjelaskan bahwa model eutrofikasi_ waduk digunakan untuk memprediksi dinamika kualitas ait -dan untuk merancang kebijakan pengelolaan kualitas air waduk, —termasuk — mengurangi turbulaya proses eutrofikasi pada waduk. Berdasarkan pendekatan temporal, model kualitas air pertumbuhan alga terdiri dari dua model utama, yaitu model aliran tunak atau steady stafe dan "model _—dinamis.Chapra (1997) mengasunisikan bahwa pada model aliran tunak variabel-variabel dalam persamaan model cenderung tidak berubah terhadap — waleu, sedngkan model dinamis memodelkan terjadu ya perubahan variabel-variabel terhadap waktu. Dalam rangka pelaksanaan — kebijakan pengendalian eutrofikasi waduk, maka model, eutrofikasi sederhana digunakan melalui tahapan, sebagai berikut: 1) menentukan beban senyawa nutrien: 2) mengestimasi kandungan senyawa nutrien, terutama fosfor yang berfungsi sebagai faktor pembatas; 3) memprediksi terjadinya euttofikasi berdasarkan rasio nitrogen dan fosfor; dan 4) menentukan kedalaman transparansi berdasarkan rasio N/P yang telah diketahui (Potocnik, 1996 pada Vezjak, dk. 1998). Bowie (1985) juga menganjurkan bahwa model kualitas air yang digunakan untuk _ pengelolaan wadukhendaknya memenuhi kriteria temporal dan spasial dengan mempertimbangkan pola sirkulasi, 18. pencampuran, dispersi, suhu air, dan distribusi densitas. Berdasarkan _ pertimbangan-pertimbangan tersebut, maka kajian_ teoritis perkembangan, model-nodel eutrofikasi yang teiah dikembangkan dan diaplikasikan pada berbagai waduk sangat diperlukan. Karena itu, tujuan_ penulisan_ ini adalahmengkaji teoritis _perkembangan pemodelan dinamisuntuk pengendalian eutrofikasi waduk di dalam maupun luar negeri, secara METODOLOGI KAJIAN Untuk memberikan penjelasan informasi yang lengkap serta runut tentang perkembangan serta pemanfatan model-model entrofikasi waduk, maka metode deskriptif digunakan dalam mengkaji perkembangan model eutrofikasi di lingkup internasional, moupun yang telah diaplikasikan di Indonesia. Hasil dari kajian teoritis ini adalah perbandingan, —perkembangan —serta_—_usulan diagrammodel konseptualeutrofikasi__yang menggambarkan — keterkaitan — variabel-variabel kualitas air yang menunjang terjadinya eutrofikasi pada waduk-waduk di Indonesia. KAJIAN PUSTAKA 1 Pembentukan Model Eutrofikasi Waduk Pembentukan model kualitas air, khususnya pemodelan untuk pengendalian eutrofikasi_ pada waduk, terdapat tiga pendekatan yaitu: (1) pendekatan geometri; (2) pendekatan secara kinetika reaksi; dan (3) pendekatan kendali volume. Sedangkan pendekatan geometri yaitu model nol dimensi, made! satu slimensi, model dua dimensi, dan model tiga dimensi (Henderson dan French, 2000} Model nol dimensi atau model Completely Mixed Reactor sesuai untuk waduk dangkal dengan volume yang kecil, Karena itu, model ini tidak memerlukan parameter hidrodinamik yang rinci termasuk arah aliran {1.eon, dkk 2006). Penentuan daya tampung beban pencen waduk di Indonesia winumnya masih_ menggunakan model nol dimensi (Machbub 2007) secara an ail Model kualitas air “Nitrogen-BOD” menggunakan model satu dimensi__untuk pengelolaan kualitas air termasuk cutrofikasi pada sungai atau waduk dengan celah yang sempit dan dangkal sebagaimana persamaan “Streeter and Phelps’ sebagai herikut (Chapra1997) z a @) Ly = hyn D =D, Jurnal Teknik Hidraulik, Vol. 2 No. 1, Juni 2011; 1-96 dimana: ky adalah laju oksidasi N-BOD (0.1 hari); Uno: Konsentrasi N-ROD pada tu; Ly! Konsentrasi N-BOD pada t:D,° Oksigen (erlarut pada to D:Oksigen terlarut pada GU; kecepatan aliran Leon dkk (2006) menyatakan bahwa model sederhana, yaitu. model nol, dan satu dimensi, mengasumsikan bahwa pengaruh suhu pada permukaan air seragam, sehinggs hanya cocok untuk waduk atav danau yang sempit dan dangkal. Sedangkan, model dua dimensi adalah model kualitas air yang mengasumsikan transpot parameter kualitas air terjadi secara vertikal manpun horizontal, yaitu. arah sumbu x dan y ataupun dari arah x dan z akihat arus maupun sirfeilasi angin seperti Persamaan 2 (Chapral 997: a x ke (3) dimana: 9C adalah perubahan_ konsentrasijtyy: vektor kecepatan aliran arah a dan viB den By dispersitas arah x dan y; I: koefisien peluruhan pada ¢; ¢: source atau sink: Jika diasumsikan bahwa ¢ konstan untuk kaordinat polar, maka O'Conor (1962) memberikan solusi analitis sebagai berikut: madel w kr? Ke a) Tied Boice dan Hambling (1975) pada Chapra (1997) memberikan solusi analitis dua dimensi untuk koordinat kartesian pada perairan tertuta kondisi tunak pada waduk sebagaimana t pada Persamaan (5) yaitwr dan iat : ie Ko. oe f v2) [t +(4) | (5) H, kedalaman air:E, dispersitas;r, jarak vadial;Ko, modifikasi fungsi Bessel; Model aplikatif kualitas air yang telah dikembangkan dalam arab sumbu x dan y adalah model SWMM (Surface Water Management Mode?) Sedangkan model transport kualitas air searah sumbu x dan z atau secara horizontal dan vertikal adalah C-QUAL-2E, yang dikembangkan olehUnited States of Geological Services (USGS). Adapunr model tiga dimensi adalah model kualitas air yang mengasumsikan transpot parameter kualitas air terjadi, baik secara vertikal atau kedalaman dan horizontal dalam arah sumbu x dan y kualitas air tiga dimensi ini banyak dikembangkan sekarang iniHenderson dan Sellers (2000) menyatakan bahwa berdasarkan — persamaan transpot massa, terdapat kaitan yang sangat erat antara kondisi hidrodinamika air dengan kualitas air, terutama pada model persamaan tiga dimepsi pada waduk yang digamharkan dalam Persamaan Madel dimana: Jurnal Teknik Hidraulik, Vol. 2No. 1, Juni 2011: 1~ 96 xy, koordinat arab horizontal; 2, koordinat arab vertikal; t waktu; uvaw, Komponen kecepatan aliran arah sumbu xy dan z; e, koefisien difusi turhulen arah subskrip; dans, laju pernbahan netto massa per unit valume akibat perubahan internal, pada atau sink, termasuk didalamnya perubaban reaksi_ secara fisika, kimia maupun biologi suatu zat yang ditinjau. sesiial suurce Leondkk (2006) menyatakan bahwa model tiga dimensi lebih sesuai digunakan pada waduk yang Iuas dan dalam Hal tersebut disebabkan adanya pengaruh hidrodinamika dan suhu pada permukaan air yang tidak seragam. lam dkk (1987) pada Henderson dan Seler (2000) menyatakan bahwa pada waduk dengan volume hes dan dalam terdapat efek sirkulasi aliran yang dip ugeruhi oleh angin, aliran hidrolik, perubahan taraf muka air dan difusi turbulen, sebagaimsana terlihat pada Gambar 1. Kondisi tersebut, berpengaruh pada transpot zat pencemar, sehingga mempengaruhi timbulnya proses cutrofikasi (Gamnbar 2), Model —matematis yang dibentuk berdasarkanpendekatan kinetika atau niu petubshan pada satu reaksi diformulasikan berdasarkan hukum aksi massa, yang menyatakan bahwa laju perubahan konsentrasi suatu zat adalah proporsional terhadap _ konsentrasi sebagaimana terlihat pada Persamaan (7) yaitu: SKA CAC od © dimana perubahan konsentrasi A (Ca) terhadap reaktan acy perubahan waktu (“4) merupakan fungsi dari konsentrasi senyawa A,B, dan seterusnya, Pada umumnya terdapat tiga model matematika berdasarkan pendekatan model Kinetika yaitu Model orde nol, orde satu, dan orde dua scbagaimana terlihat pada Persamaan (8) sampai (11), yaitu a =-kop.ce (a) Orde nol a kG ey Orde satu: 28S REINO) INC) fats © Ge (10) Orde dua Vecgt (11)dimana: model orde nol adalah konsentrasi pada t tergantung pada Co,k (koefisien, perubahan) dan waktu (t) secara linear; pada model orde 1 perubahan konsentrasi pada t tergantung pada Cok (koefisien perubahan) dan waktu (t) secara eksponensial: pada model order 2 konsentrasi pada t tergantung pada konsentrasi awal (Co), Koefisien pernbahan (k) dan waktu (1) secara linear Shanahan dan Harleman (1984) menyarankan pembentukan model kualitas. air waduk berdasarkan pendekatan volume kendali, Elemen-elemen volume tersebut — merupakan formnlasi. model nol dimensi, dengan asumsi tercampur sempurna dan berlangsung seca (2) AURANMIDRAUILIK ANGIN (6) TRANSPORT ANTAR SEGMEN Gambar 1 Diagram pengaruh Lam,dkk pada Hende Aixam don Behan Suhu External can 0) « Fioplankion eon a) Petvitus _ Alga eee Bentos berkesinambungan, sehingga disebut juga dengan muitiple-box model, seperti terlihat Gambar 3 Chapra (1997) menyarankan_ penentuan nilai_dispersi_ melalui multiple-box model tidak hanya ditentukan dengan proses kalibrasi, tetapi juga menggunakan solusi numerik implisit untuk meningkatkan akurasi. patuM (b) FLUKTUASI MUKA AIR eI Meso Hiro (3) prrust TURBULEN rkwlasi aliran tethadap proses transpot zat pencemar (adaptasi dari ni dan Seller, 2000) Intensitas cahaya . Amonia Nitrogen Organik Oksizen Terlavvt a Fosfor Organik Ontofostat Salinitas Diagenesis Sedimen Gambar 2 Relast antar parameter kualites ait poda model WASP (IISEPA, 2010) 2 Jumnal feknik Hidraulik, Vol, 2 No. 1, Juni 2011: 1-96 ed be gad es) Boban advekst advekst Dispersi Oispersi Reaks! Gambar 3° Segmentasi model kendali volume (Chapra, 1997) sebagaimana Gambar 3 dan Persanaan 42) sebagai berikut O = Wt Quer = Quid + Bia - Gt + ErealGin ~ G) WG = (Oi 4 Bata (Quer # Bits + Bier + iMG + (Lin ~ =W iat Cpr + ays Cy + air Cor = Wi (2) Karena itu, bila terdapat n volume, maka terdapat n persamaan dengan 42 variabel yang tidak diketahui.Dua tipe kondisi batas yang sering digunakan untuk solust- persamaan tersebut adalah: (1) kondisi batas Diriclet, menyatakan batas konsentrasi; dan (2) kondisi batas Neuss, menyatakan turban konsentrast 2. Rentuk Model Eutrofikasi Wadus: 1) Model Sederhana Eutrotikasi Thoman dan Mueler (1987) menjetaskan bahwa model sederhana stan tercampur serxpnraa biasa digunakan untuk penentuan status trotk waduk, merupakan korelasi antara parameter kualitas air pemicu eutrofikasi seperti terlitiat pada Persamaan (13) sampai (17) sebagai berilut (Thoman dan Mueler 1297) Persamaan Dillon dan Rigler (1974): Log ofklorofil a)=1,449.log nlp) ~ 13% 3) Persamaan Rast dan Lee (1978) Logio(Mlor fil a)=0.76.log ofp} ~ 0.259 aay Lagio(transpransi)=-0,473.iog o(klervill a) + @.80% (as) Persamaan Bartseb dan Gasktatter (1978 Logrolklerojil a}=-O,R0 7 logio(p) 0.256 i196) Persamaan Smith dan Saphire (1981) Log o(klorofil a)=1,55.log io(p} ~ B, B=1,55. a7 : prtotal fosfor (ug/l) dan TA TP = rasiv rogen dan total fosfor Persamaatr —_korelasi memperhatikan — kondisi umumnya mengikuti py Logio(klorofil a)= «fog sa(p} ~ & tersebrt bidroulih samaan s tanpa Jurnal Teknik Hidraulik, Vol. 2 No. 1, luni 2011 1-96. dimana: p.total fostor adan b merupakan konstanta; Namun demikian, Bast dan Lee (1978) pada Thoman dan Mueler (1927), juga telah mengaitkan pengaruh Karokteristik hidraulis. waduk, yaitu waktu detensi waduk dengan laju penurunan oksigen pada lapisan hipelimnion yang disebabkan oleh kebutuhan respirasi fitopkinkton, penguraian zal organik yang diukur sebagai Sediment Oksigan Demand (SOD) sebagaimana Persamaan (1) sebagai her ikut: Jogos 14007. legu) |-107 y) dimiana 8, laju peauunan oksigen pada lapisan Wrolimnion (gram O./m2 per hari); W', bebar p ncemetan fosfor (mg Tota! P/m:.tabun) 2) Model Komplek Lutrofikasi Kuodkk (2007) menjelaskan bahwa model eutrofikusi komplek umunnya adalah model dinamis yang berkaitan dengan verubahan waktuSebagai —contoh, — model dinasuita pertumbuhan alga yang dipengaruhi oleh karakteristik fisiologis dari alga, serta pengarvh eksternal, yaitu cahaya, sulw dan senyawa hata Ling, dkk. (2007) menjelaskan bahwa_partike! tersuspensi dari sedimen juga _berpengaruh tevhadap terjadinya proses eutrefikasi waduk, korena lepasnya senyawa ara akibat’ gay hidrodinomika. 3. Perkembangan Model Dinamika Eutrofikasi Pada akhir tahun 1970 model ekosistem waduk mulai dikembangkan oleh DiToro, Thoman dan Q, Conor (Schnoor,1998), yang terdiri dari parameter nitrogen, silika dan fosfor sebagai faktor pembatas dan parameter zooplankton, Parameter KMorotil a digunakan sebagai indikator eutrefikasi, Karena dapat diukur relatif mudah untuk estimasi biomassa fitoplenl:ion, 1) Model Dinamike Eutrofikasi Vesjak (1998) Model cinamika Vesjak (1998) mengasuinsikan ada dua parameter utama penyebab eutrofikasi, yaitw senyawa fosfor (i) Model Nitrogen Vesiak, dkk (1998) menyatakan — bahwa senyawa nitrogen peajadi penyebab utama timbulnya proses eutrofikasi, Variabel pemicu lainnya jada motel ini adalah subw air (ztp) dalam derajat Celeius; laju aliran inflow dan outflow tiap segmen (zflow) dalam liter /hari; dan radiasi matahari secara harian pada permukson air (2rusol) dalam mode} seayawa nitrogen dan model pada Langley/hari, yang digambarkan pada Persamaan (20) sampai (23) sebagai berileut ROM = (ghpt - grsp).xbiop ~ gfd.xbi-~ GEN (kflowp ~ xbiop) (20) ane = (gfd.kassim — grspz ~ gmnrt).xbior ~ ee (kflowz ~ xhioz) (2) AM = knit. ghpt.xbiop + uae (kflownit — xnit) (22) vol dimana: ghpt, laju fotosintesis harian (1/hari); grsp. laju respirasi fitoplanton (1/hari); gf, laju input (1/hari); zflow, laju aliran input dan output pada segmen (1/hari); kvol, volume air model segmen (liter); kflowp, fitoplankton pada segmen di hulu (mg C/Ij;grspz, laju respirasi zooplankton harian (/hari); grme, laju kematian zooplankton harian (1/hari); kflowz, kerapatan zooplankton pada bulu segmen (mg C/I); -knitCrt adalah rasio nitvogen/carbon fitoplankton (mg N/mg C Kdisnit, laju aliran nitrogen (mgN/hari); kflownit, kerapatan nitrogen pada hulu segmen (mgN/I); assim, efisiensi asimilasi zooplankton; zflowlkvol, lajualiran per unit volume (1/hari). Laju fotosintesis, ghpt, merupakan fungsi dari cahaya matahari (gphtnitn), suhu (gphttp), dan nitrogen (yphtnit). Senyawa nitrogen diasumsikan herpengaruh terhadap fotosintesis (gphtnit) sesuai model Michelis-Menten sebagai berikut: gphenit = (23) dimana: Aphtniths, nilai tengah jenuh fotosintesis untuk nitrogen (mgN/L) secara_eksternal atau konsentrasi nutrien yang terukur (ii) Mode! Fosfor: Pengaruh parameter fosfor terhadap dinanika cutrofikasi waduk terlihat pada model Persan ian (24) berikut: GEIS = —kphosC. gphtp1.xbiop + § cae (kflowphos ~- xphos) (24) dimana: xphos, konsentrasi fosfor dalam air (mg P/L): kphosC, rasio fosfor/carbon dari fitoplankton (mgP/mgC); ghtpl, laju fotosintesis harian sebagai fungsi dari suhu, cahaya dan konsentrasi fosfor (1/bari); kdinphos, konsentrasi fosfor pada alirai masuk (mg P/L); kflowphos: konsentiasi fostor da sumber lain (mg P/L). 2) Model dinamika Simon dan Lam (1980) Simon dan Lam (1980) memberikan asumsi bahwa pada suatu kolom air terjadi dinamika proses biologi dan kimia, terutaina parameter 22 fostor reaktif terlarut (SRP) atau diukur sebagai ortho-fosfat, fostat organik (OP), dan oksigen terlarut (100), sebagaimana terlihat pada Gambar 4. Sedangkan pada lapisanmesolimnion dan hipolimion, oksigen terlarut dapat dihasitkan oleh fotosintesis fitoplankton, Namun, kadar Sediment Oxygen Demand (SOD) dapat mengurangi kadar oksigen terlarut dan meningkatkan status trofik (Vollenwieder, dkk 1980 pada Henderson 2000). 3) Model Konservasi Jorgensen (1988) Model dinamik —konservasi__lingkungan waduk yang diusulkan oleh Jorgensen (1988) terdiri dati fosfor terlarut (PS), fitoplankton (Phyt) dan festor pada detritus (Pdet), yang dapat digambarkan pada Persamaan (25) sampai (29) dan Gambar 5 sebagai berikut:Pste +1) = PS(A + [(esexoc ~ rs 22) + Decorny x PDECEYO Mywax v LightLina(1) Plom (2) x kL» Phyect)) ae Lingkungan Waduk @s) Phyt(t +1) = Phyt(t) + (Mymax x LightLim(t)x PLim(t) = Mortphyt ~ 0 at (26) Pett +1) = PDet(t) + (MortPhyt x kl x Phye(t) — (decomp + 282.) vpdet(t)) .at fern Sa Gambar 4 Model dinamika proses biologi dan kimia Fosfor-Oksigen pada suatu kolom air (Simon dan Lam,1980); SRP= Fosfor reaktif terlarut; OP =Fostar organi DO Oksigen terlarut Jurnal Teknik Hidraulik, Vol, 2 No. 1, Juni 2011; 1-96 dimana: Q(t), inflow pada tiap periode t; Q(t), outflow (Q=Suply+spill); Qs(t), net flow atau Qs=Q-Q' Slake(t), volume tampungan dari waduk ; PS(0), fosfor terlarut; Phyt(t), fitoplankton; Pdet, fosfor pada detritus; D(t), kedalaman; Decomp, laju dekomposisi detritus; 1, rasio fosfor/biomasa pada fitoplankton; MortPhyt, laju kematian dari fitoplankton; MyMax, laju pertumbuhan dari fitoplankton; dan Psi, konsentrasi fosfor dari inflow; LightLim, batas pertumbuhan akibat kekurangan cahaya; Plim, batas pertumbuhan akibat kekurangan fosfor. Laju pertumbuhan fitoplankton diperoleh dari kombinasi_laju pertumbuhan maksimum dan merupakan fungsi yang diformulasikan oleh persamaan Michelis- Menten untuk batas cahaya matahari dan batas nutrien. sebagaimana terlihat pada Gambar 5 dan Persamaan (28) dan (29) sebagai berikut: im = Me Cap haste EDI LightLim pha Betax? hytheD (28) dimana; KL adalah konstanta tengah-jenuh Michelis-Menten untuk penggunaan cahaya; Alpha adalah koefisien pemadaman cahaya dari air; Beta adalah koefisien pemadaman cahaya dari fitoplankton. Batas nutrien: Ps. Phim = FoeRp dimana PLim adalah batas nutrien dari fitoplankton; PS adalah nutrien terlarut dan KP adalah konstanta tengah-jenuh. 4) Model Dinamika Alga Laboratorium Ekologi (2007): Ling, dkk (2007) menentukan model dinamik pertumbuhan alga melalui suatu uji laboratorium ekologi. Adapun kalibrasi__ dan verifikasi_ model dilakukan melalui pengukuran parameter-parameter fisika dan kimia serta faktor- faktor yang = mempengaruhi —_pertumbuhan algaHasil pengujian menunjukkan bahwa proses ekologi dari pertumbuhan alga terkait erat dengan suhu, cahaya matahari, senyawa hara serta faktor fisiologis dari alga sendiri. Gambar 6 memperlihatkan enam parameter utama dalam model eutrofikasi, yaitu biomassa alga, amonium, nitrogen organik, fosfor anorganik dan fosfor organik. (29) Relasi antar variabel-variabel dalam model tersebut adalah amonium, nitrat, dan fosfor anorganik adalah diserap untuk pertumbuhan alga, sedangkan sebagian dari nitrogen atau fosfor yang terdapat pada alga masing-masing dikonversi menjadi amonium dan fosfor anorganik. Amonium dikonversi menjadi nitrat melalui proses nitrifikasi Aliran masuk pada bagian dasar memungkinkan Jurnal Teknik Hidraulik, Vol, 2 No. 1, Juni 2011: 1-96 lepasnya senyawa hara yang terikat pada sedimen dasar, sehingga konsentrasi nitrogen dan fosfor dari dasar lepas dan masuk ke siklus nitrogen dan fosfor yang memicu timbulnya eutrofikasi.Siklus nitrogen dan fosfor pada model eutrofikasi laboratorium ekologi terlihat pada Persamaan (30) sampai (41). ae 15 (G1 - Dp - (G0) an : 22 Dyn. ote ~ 20 for). Co + Sz Cr ae : Ysa Soo Kaa OB. C2 ~ Cy. Cy. Aye ~ (1 ~ fos).C3 +s 62) fi : i ¥ss Ss Dp Ch dye ~ Kys. 09579. Cy — (1 ia) Ca + Sy G3) deg : 8 = Kys. 095 7°.Cy ~ Gyi Ch. Aye- Pans = Kso-035°. C5 + Ss By Fe = hg, O82. — Gyr yesCs-(1 ~ Pus) + Se (35) Gyr = Homa fT). f DFM). FP) (36) F(T) = Kye. Fe 67) fO-ma (38) fy =—Ay (39) FM) = (40) Dor = Kin Ola? + Kyo (ay dimana: C,, biomasa alga; Cys, laju pertumbuhan alga yang dibatasi oleh faktor suhu (T), intensitas cahaya matahri_ (J); N dan P, konsentrasi nitrogen dan fosfor; Dp1, laju kematian alga;Vu/D, sedimentasi dari alga; D, kedalaman air; C2, konsentrasi fosfor organik; Dp:Ciarc, konversi dari fosfor alga menjadi fosfor organik; Kp3.0f;2°.Cy proses mineralisasi untuk konversi fosfor organik menjadi fosfor anorganik; "3.(1 = fz). Cz, sedimentasi fosfor organik; Sz laju pelepasan fosfor organik dari sedimen; Cy konsentrasi fosfor anorganik; GpiCidye, menyatakan pengambilan fosfor oleh alga; (Vss/D}(1-fos).Ca, sedimentasi dari fosfor anorganik; S;, laju pelepasan fosfor anorganikdari sedimen; Cy, Konsentrasi nitrogen organik; Dp:Cianc konversi dari nitrogen alga menjadi organik nitrogen; Ks. 042°. Cy, proses mineralisasi yaitu konversi dari nitrogen organik menjadi ammonium; (Vs/D)(1-fos).Cs, sedimentasi nitrogen organik; Sy adalah laju pelepasan nitrogen organik dari sedimentasi; C5, konsentrasi ammonium; — Gpr ave CiPxus, penggunaan ammonium oleh alga; Keo. 056°". Cs, proses nitrifkasi yaitu konversi dari 23 ammonium menjadi nitrat; Ss, laju_ pelepasan ammonium dari sedimen; Co, konsentrasi dari nitrat; Gp1ayc-Cy-(1 — Pyy3).proses pengambilan nitrat oleh alga; dan Se : laju pelepasan nitrat dari sedimen tersuspensi akibat gaya hidrodinamika yang berkaitan dengan laju aliran. 5) Model Dinamika Eutrofikasi Kuo (2007): Thoman dan Mueller (1997) pada Kuo, dkk (2007) menyatakan bahwa secara umum interaksi antarparameter penyebab timbulnya eutrofikasi adalah berbentuk persamaan nonlinear dengan variasi waktu yang komplek. Suhu pada waduk tidak dalam kondisi uniform, maka Kuo, dkk (2007) mengembangkan kembali dari model persamaan waduk yang telah mengalami eutrofikasi dengan dimensi nol menjadi model persamaan dinamis pertumbuhan fitoplankton sebagai model dinamika eutrofikasiModel dinamis hubungan antara fitoplankton dan senyawa nutrien diperlihatkan pada Gambar 7 dan Persamaan (42) sampai (48) Adapun model kinetika hubungan dari antara fitoplankton, senyawa organik sebagai BOD dan Oksigen terlarut (DO) terdapat pada Persamaan (50) sampai (53). atin Warts = Las Waduic Lightnin Lehi Kt Paes - cannya 95 atin Go aw Tent mn TB te ae fe | bee por ‘ > + My nes eeiikteel ut Rare Worth KP Dekomposis o-—— Ps | : me at Es «> « i Rennie rate wa aa ay sy Waterbed Are oN Gambar 5 Model dinamika Jorgensen untuk Konservasi Tingkungan waduk [adaptasi dari Chu, dkk 2007) Amonium, Pembebasan Cahayatatahari suhu ae] ineralisasi { trogen Organih | Pembebasan sedimentasi Fosfor organih Pembebasan Sedimentasi Mineralisasi ‘Mati. sedimentasi Gambar 6 Model hubungan senyawa hara dengan alga berdasarkan Uji Fosfor anorgani /Pembebasan laboratorium ekologi (Ling, dkk. 2007) 24 Jurnal Teknik Hidraulik, Vol. 2 No. 1, Juni 2011: 1 - 96 a. Alga fotosintesis Delomposis| hidrolisss — Festoroeicon J bo,F reameblan|_—* iematian He €. 3k Neogen Pengenniotla | kematian _ joer garnbilan wih i ee “syn a paiement 50 mneogendap Gambar 7 Model kinetika interaksi pada siklus alga, senyawa Nitrogen (N), dan Fosfor (P) pada model aliran tunak waduk dan danau (sumber:Kuo dkk, i. Kinetika pertumbuhan Klorofil-a Laju pertumbuhan fitoplankton (G) dapat ditulis sebagal: G= OU, T)x min Ge (42) dimana: G#(1,7), laju pertumbuhan maksimum (1/hari) pada radiasi matahari I dan suhu 7; IP, konsentrasi dari Fosfor Anorganik (P2); IN, konsentrasi Nitrogen Anorganik (No+N3); dan Kmp,Kn, koefisien Tengah- Jenuh dari Michelis Menten masing-masing untuk Fosfor Anorganik dan Nitrogen Anorganik; Sedangkan konsentrasi_ klorofil-a_ (P) dapat digambarkan pada persamaan berikut: VE = VG = D)P VK oP + QunPan ~ Om Powe = F(P,Py Pa, Np.) (43) dimana V, volume waduk; G, laju pertumbuhan dari Klorofil-a; D, laju kematian Klor a; Kya laju pengendapan Klorofil-a; Qi, laju debit aliran masuk waduk (inflow); Pn, Konsentrasi Klorofil-a pada Jurnal Teknik Hidraulik, Vol. 2 No. 1, Juni 2011: 1~96 2007) inflow; Qow laju debit aliran keluar waduk (outflow); Pu, konsentrasi Klorofil-a pada outflow. G, fungsi radiasi (1), suhu (T) dan nutrien, F, fungsi konsentrasi_ Klorofil-a dan semua konsentrasi komponen senyawa nutrien. ji. Siklus Senyawa Fosfor VDCpP —VKp, —VKspy = Qour Py + Qin Phin = G(P,P,, Pz, Ny, Nos N3) (44) VEE = VK pC, = VGCpP — QuurPs + QixPin = HOP, Py, Poy Ny NayN3) (45) dimana: P; dan Pz, masing-masing adalah konsentrasi Fosfor-organik dan anorganik; volume dari danau/waduk; Ky:, laju pengendapan Fosfor- organik pada danau/waduk; Ky:, laju peluruhan dari Fosfor-organik yang diubah menjadi Fostor- anorganik; C,, rasio stokiometris dari Fosfor sel menjadi Karbon dalam Klorofil-a; Pym, konsentrasi Fosfor-organik pada inflow; Pn, konsentrasi Fosfor-anorganik pada inflow; 6 dan H, merepresentasikan fungsi dari komponen- komponen Klorofil-a dan nutrien pada konsentrasi Fosfor organik dan anorganik. ili, Siklus Senyawa Nitrogen SE = VDGyP =~ VKyiMy ~V Kyi My — On Main + Qous Ny = ICP, Py, Pp, Ny, Nz,N3) (46) V2 = VKyiM ~ VGCyP mae =VKy2Ny — Qour No + Qin Nan = JCP, Pt» P2,NisNovNs) (47) Vi yaNo — VOC PS — Qouc Ny + Qin Nain = K(P, Pt, Po, Ni» Now Ns) (48) dimana: Mp, No dan Na masing-masing adalah konsentrasi Nitrogen-organik, Amonia-nitrogen dan Nitrat- nitrogen; Ky, laju pengendapan Nitrogen-organik pada waduk; Ky, laju peluruhan Nitrogen-organik yang diubah menjadi —amonia-nitrogen pada waduk; Kyz, laju nitrifikasi amonia-nitrogen yang diubah menjadi nitrat pada waduk; Cy: rasio stokiometris dari Nitrogen sel menjadi Karbon dalam Klorofil-a; Nin Nem aan Noi, Konsentrasi Nitrogen-organik, Amonia-nitrogen dan Nitrat- Nitrogen pada inflow; /, J dan H, fungsi dari Klorofil-a, komponen-komponen Nitrogen dan komponen-komponen Fosfor untuk N;, Nz dan Ns, Persamaan (42) sampai (48) adalah sekumpulan persamaan non linear, yang dalam penyelesaiannya harus dilakukan secara iterasi dengan menentukan Po, Pio dan P2y dan Nyo, Nzo dan Nz sebagaikonsentrasi awal. Sedangkan Fo, Golo, Jo dan Ho adalah asumsi nilai awal pada sisi kanan dari Persamaan (42) sampai (48), Persamaan tersebut dapat _—_dselesaikan menggunakan teknik numerik iterasi Newton (Denis dan Schnabel,1983 pada Kuo,dkk,2007). Selain itu, sekumpulan Persamaan (40) sampai (48) tersebut juga dapat dituliskan kembali menjadi persamaan umum dari model Fitoplankton waduk seperti Persamaan { ‘9) sebagai berikut: ao aX + Bap + Ma, ao + Map,» ory aPz AP, AN, (49) iv. Senyawa Organik (BOD) dan Oksigen Terlarut (Do) 60) Do kg. B + Kq(Dos ~ Do) ~ yg: Kyr (; Do po: Kos (g-"2=) + OP — R Ku2¥bo (1) dimana: 26 aso dan apo masing-masing adalah rasio dari Nitrogen dan Fosfor terhadap Oksigen; OP dan R masing-masing adalah nilai rata-rata laju produksi oksigen dan laju respirasi Fitoplankton. Oleh Thoman dan Mueller (1987) pada Kuo (2007) menyatakan bahwa nilai OP dan R_ dapat diperkirakan dengan persamaan berikut: OP = 0.25C, .025C, (52) (53) HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Model Eutrofikasi Waduk di Indonesia Berdasarkan kajian pustaka tersebut, maka perlu diketahui perbandingan model dinamis eutrofikasi yang telah diterapkan di Indonesia, terutama variabel kualitas air yang memicu terjadinya proses cutrofikasi. Sebagai_contoh adalah model Waduk Cirata dan Model Empiris Indikator Kualitas Air. Sedangkan aplikasi model eutrofikasi pada Waduk —Jatiluhur telah mengakomodasi 2 lapisan, yaitu lapisan eilimnion dan hipolimnion. Pada Waduk Jatiluhur telah dikembangkan model eutrofikasi_—berdasarkan _prinsip kesetimbangan masa dan prinsip korelasi empirik parameter kualitas air yang memicu terjadinya proses eutrofikasi. waduk. Model eutrofikasi Waduk Cirata_ menggunakan prinsip sistem dinamis untuk mengkaji_pengaruh — berbagai kebijakan terhadap pengelolaan waduk, khususnya akibat dari eutrofikasi (Wawan,2008). Adapun perincian selengkapnya model-model_ tersebut tercakup pada penjelasan berikut. 1) Model Waduk Cirata (2007) Model yang diaplikasikan pada Waduk Cirata ini ditujukan untuk menentukan kebijakan- kebijakan yang diperlukan agar produktifitas ikan menjadi maksimum tanpa mendegradasi kualitas air waduk. Gambar 8menunjukkan bahwa meningkatnya Komponen unsur hara, senyawa nitrogen dan fosfor, dan karbon menyebabkan turunnya kandungan oksigen terlarut serta meningkatnya kadar zat organik, yang diukur sebagai BOD. 2) Model Empiris Indikator Eutrofikasi Waduk Jatiluhur (1982) Model empirik indikator eutrofikasi_ pada Waduk Jatiluhur dibuat menggunakan metoda statistik regresi berganda antara parameter kualitas air, sebagai variabel independen, dengan indikator eutrofikasi yaitu klorofil-a dan Indek Keanekaragaman Plankton (IKP), sebagai variabel dependen seperti terlihat pada Persamaan (54). Model ini dibentuk dengan asuinsi waduk dalam kondisi tercampur sempurna. Jurnal Teknik Hidraulik, Vol. 2 No. 1, Juni 2011: 1~ 96 Teknolog Jaring Volume Keluar Nuticnc Re keluar Volume . Masuk Nutrien C_-——~» peratrann: | Masuk + Susiaen «i udara dan aC ayy je Va tkan Nutrien as | Ruttien 4 [Suplal pakan (Sub model saha tani KJA) nan os ae al. Pnestic) Ree — Onzigen ai SS Hipolimnion itus Kematian plankton O_ Kemati tkan Sub model Usaha tani KJA| sail aR , Detritus! BOD Gambar 8 Diagram model dinamis p Model empirik tersebut merupakan_hasil pengamatan kualitas air pada 11 lokasi di Waduk Jatiluhur selama tiga tahun (1979-1982) yang terdiri dari: (1) parameter fisik yaitu suhu, daya hantar listrik, pH, dan partikel tersuspensi; (2) parameter kimia yaitu senyawa organik, anorganik dan nutrient; (3) parameter logam berat yaitu Fe, Mn, Zn, Cu, Cd, Hg. Model empirik indikator eutrofikasi tersebut adalah sebagai berikut (Machbub, 1982) Y,atau¥, = ay.Suhu + a;.DHL + 43.85 + ay. Transp + ds. pH+agHCO3 + dy. CO2 + a9.DO + ag..Na + ay9.K + ay;.Cat ay).Mg + ays. Cl + 044.504 + ays Fe + yg. Mn+ yy. Cd + yg. Cr + yy. Cu + ang. Hg + dp,.Ni + yz. Pb + dyg.Zn + ayy. BOD + @y5.COD + dag. NH4—N + dy7.NO2~N + a79.NO3 + ayy. Organik ~ N + ayy. Ortho = 31. P + az2.Total — + 03. Fenol + a4, Flourida + ays. Pestisida + Konstanta (54) dimana: Jurnal Teknik Hidraulik, Vol. 2 No. 1, Juni 2031: 1-96 Taraet engelolaan waduk (Wawan, 2008) Y, Klorofil-a (mg/L); Y2, Indek keanekaragaman Plankton;a, sampai azsadalah koefisien regresi Koefisien korelasi (r) antara__ parameter kualitas air dan klorofil-a adalah 0,772, sedangkan korelasi (r) antara parameter kualitas air dengan indek diversitas plankton adalah 0,809. 3) Model dinamika Eutrofikasi Waduk Jatiluhur (2010) Konsep model neraca massa yang digunakan adalah: (1) loading terjadi pada lapisan epilimnion; (2) outflow terjadi_pada lapisan hipolimnion, sebagaimana terlihat pada Gambar 9. Inflow Epilimnion 8 | Settl Hipolimnion Outflow Gambar 9 Asumsi model neraca massa di Waduk Jatiluhur (Gunadi,2010). 27 Gunadi (2010) hasil simulasi model Waduk Jatilubur menyatakan bahwa bila beban limbah perikanan dari Kolam Jaring Apung (KJA) dikendalikan maksimum 0,2% dari luas waduk akan dapat meningkatkan kadar Oksigen terlarut pada Waduk Jatiluhur yang mengalami eutrofikasi Simarmata (2007) pada Gunadi_ (2010) menyatakan bahwa Waduk Juanda adalah waduk yang terstratifikasi kuat, namun tidak terbentuk Japisan termoklin.Dengan demikian, Waduk Juanda dapat diasumsikan terbagi dalam dua lapisan, Model umum neraca massa di waduk Jatiluhur (Gunadi, 2010) adalah: ve 1G = WU) + vt At.(e, =e) +5, (55) 2 = vt. At. (cr ~ 2) +S) — Oc (56) Usulan Model Konsep dinamika Waduk di Indonesia Dari berbagai perbandingan di atas yang tercantum pada Tabel 1, selanjutnya disusun konsep model eutrofikasi yang dapat diukur, dipantau, dan dikalibrasi. dengan standar pengukuran laboratorium kualitas air di Indonesia. Parameter standar yang dapat diukur di lapangan adalah oksigen terlarut, pH, suhu, dan transparansi. Adapun parameter yang diukur_—secara laboratorium melalui pengambilan contoh air adalah Khlorofil-a; partikel tersuspensi; senyawa nitrogen, yaitu amonium, nitrit, dan nitrat; senyawa fosfor yaitu fosfat terlarut atau orto-fosfat dan total fosfat dan parameter organik sebagai BOD, seperti diperlihatkan pada Gambar 9 dan 10, Model Konseptual yang diusulkan untuk pengelolaan kualitas air waduk Khususnya untuk pengendalian eutrofikasi di Indonesia yaitu dengan menggabungkan konsep volume kendali, model lapisan Simon dan Lam (1980), _ model laboratorium ekologi Taihu (2007) dan model Kuo (2007), seperti diperlihatkan pada Gambar 10 dengan penambahan beban pencemar internal pada waduk, misalnya kolam jaring apung. 8 é - : 3 | No, 1 2 co, u ca j NH, Fitoplankton se : : 7 5 2 8 > CBOD 6 Orto-PO,~ 5 Organik-PO, 11 11 4 aL 11 co, Do. 9 10>. atmosfer Sedimen 0, 1. Nitrifikasi 5. Fotosintesis 9. Oksidasi karbon sedimen 2. Penyerapan 3. Mineralisasi 4. Deoksigenasi karbon 6. Respirasi Gambar 9 10. Interaksi udara 7. Oksidasi karbon detritus 11. Pengendapan 8. Fraksinasi organik C,N,P Siklus senyawa nutrien dan kesetimbangan oksigen terhadap pertumbuhan fitoplankton diukur sehagai Klorofil-a (adaptasi dari Wool, dkk, 2003). 28 Jurnal Teknik Hidraulik, Vol. 2 No. 1, Juni 2011: 1-96 Intenstas Pan Evaporash Beban Intemal —ni trom) (BOD NF tema Antanas ahaya matahari Satan abaya fotowness amas esi Otsigesterant citing Fes ObsigenTertarot vote sg ° 3 outtow seominow GE eee : ce a FoumMNON woonrremwnd £ Eco, 3 : foster Total Pematain OrgerkCathon Amorim ita Fofat Tear Nitrogen Organi 00 ano, NO, 070 90, rank HSC) — ops a om Fest foal cee eves panes foie aes Fesfat Teron Nitrogen organi METAUMNION os 200 RIND, SHO enor, orgenk ey | . _\ Moeratsas es inertia Organi erbon -Amoniom Nig Aatrat fost tern ieogen Oren Hae 8 ing Nitrogen Oran woo ANNO, NNO A onoP08 oven ots : ; : i i Bg Fett 3 5 see a oo 2 2 € Poumon Beciise: 2 € ze 2 ce E Fwsmeg 2 # & 7 oe Detritus + CH,O+#, 80, 0, atav NO, NHe+PO! +H,S+C0, DIRGENESIS SEMEN (S00) Gambar 10 Usulan model konseptual interaksi antar parameter pemicu eutrofikasi pada kolom air waduk KESIMPULAN Hasil kajian perkembangan _pemodelan dinamika eutrofikasi pada waduk mendapatkan hasil-hasil sebagai berikut: Model eutrofikasi dikembangkan_ melalui berbagai_pendekatan yaitu. pendekatan_ secara geometri, pendekatan kinetika reaksi dan pendekatan kendali volume. Melalui berbagai pendekatan tersebut terbentuk model sederhana dan model komplek. Model sederhana eutrofikasi menggunakan asumsi tercampur — sempurna, berupa kKorelasi antara’ parameter pemicu. eutrofikasi dengan kadar Klorofil-a sebagai indikator pertumbuhan fitoplankton. Sedangkan model komplek eutrofikasi. merupakan model dengan banyak variabel yang saling berkaitan dan memicu terjadinya eutrofikasi. Termasuk dalam model komplek adalah model dinamis yang. berkaitan dengan perubahan waktu. Jurnal Teknik Hidraulik, Vol. 2No. 1, Juni 2031: 1~96 Model dinamis_—eutrofikasi__ telah dikembangkan sejak tahun 1978, umumnya berkaitan dengan siklus senyawa nutrien yaitu siklus nitrogen dan siklus fosfor, keseimbangan antara oksigen terlarut dan zat organik, serta pengaruhnya terhadap kinetika pertumbuhan Klorofil, Model dinamika eutrofikasi juga telah dikembangkan di Indonesia diantaranya adalah model kebijakan pengelolaan waduk di Waduk Cirata, model empirik kualitas air pada waduk- waduk di Citarum dan model dinamika neraca massa di Waduk Jatiluhur. Model Konseptual yang diusulkan untuk pengelolaan kualitas air waduk khususnya untuk pengendalian eutrofikasi di Indonesia yaitu dengan menggabungkan konsep model __eutrofikasi, pethitungan volume —kendali,__-kemampuan pengukuran variabel kualitas air yang memicu 29 proses eutrofikasi dan memperhatikan pengaruh sedimen dasar waduk. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada rekan-rekan dari Balai Lingkungan Keairan, Pusat Litbang Sumber Daya Air atas dukungan bahan dan data, DAFTAR PUSTAKA Bella, D. & Grenney, W.1970. Finite Difference Convection Errors. Journal Sanitary Engineering, 96 (1361). Chapra, S. 1997. Surface Water-Quality Modelling, New York, USA: McGraw-Hill Companies,inc Chu, H.J., Chang, LC, dan Lin, ¥.P., eds.2008 Application of System Dynamics on Shalow Multipurpose Artificial Lakes: A Case Study of Detention Pond. Environmental Model Asses, 4, Springer Science. J.D., Hauck,L.M, dan KieslingL.R. 2001. Water Quality Modelling of Lake Waco Using CE-Qual-w2 for Assesment of Phosphorous Control Strategies. USDA: Lake Waco-Bosque River Initiative, Texas Institute for Applied Environmental Research, Texas. Gunadi,R. 2010.Kajian Model Eutrofikasi. Waduk Juanda. Thesis Magister Teknik, Program Pasca Sarjana Sumber Daya Air, ITB, Bandung Henderson, B., & French, R. 2000.Water Quality Modelling:Desicion Support Techniques for Lakes and Reservoirs (Vol. I). Boca Raton, Florida: CRC Press,Inc. Jorgensen,S dan Vollenweider.1988. Principals of Loke Management, ILEC. Flowers, Jorgensen,S.1988. Fundamentals of ‘Modeling , Elsevier, Amsterdam. Kuo, J.T, Hsieh, P.H., & Jou, WS. 2007. Lake Eutrophication Management Modeling Using Dynamic Progrraming. Journal of Environmental Management, 8. Elsevier. Lehmusluto,P., B-Machbub, dan Bukit.N.T., eds. 1995. National Inventory of The Major Lakes and Reservoir in Indonesia, Expedition Indodanau —Technical_—-Report, In Cooperation RIWRD and University of Helsinky (direvisi 1997). Leon, L., Lam, D., dan Schecherter, W., eds. (2006). Towards Coupling a 3D Hydrodynamic Lake Model With Canadian Regional Climate Model: Simulation on Great Slave Lake. E.ological 30 Environmental Modelling and Software, 22, 787-796. Ling., Wu, J. Q, Pang, Y., dan Li, L., Gao, eds. (2007). Simulation study on algal dynamics based fon ecological flume experiment in Taihu Lake,China. Ecological Engineering, 31, 200-206. Elsevier.200-206. Machbubh, B. (1982). The Corelation of Biotic and Abiotic Indicators of Polluted Water in Citarum and Jatiluhur Reservoir, Presented in International Symposium on Agrochemicals : Fote in Food and The Environment Using Istop Technique, 7-11 Juni 1982, Rome,ttaly. Schnoor, J. (1998). Environmental Modelling: Fate and Tranport of Pollutants in Water, Ar and Soil. Wiley Interscience. Shanahan, P., & Harlemen, D. (1984). Transport Water Quality Modelling. Journal Environmental Engineering , 110 (42). Simons, TJ. and Lam, D.C. 1880. Some limitations of water quality models for large lakes: a case of Lake Ontario. Water Resources Res. 16: 105-116. dan Mayasari. 2010.Pengelolaan Dan Pemanfaatan Waduk ir. H. Djuanda Untuk Perikanan Budidaya KIA, Dipresentasikan pada Round Table Discussion “Optimalisasi Pemanfaatan dan Pelestarian Waduk Kaskade S. Citarum”, SEAMEO BIOTROP, Bogor 4 Februari 2010. Thoman dan Mueller.1997. Principles of surface water quality modeling and control Prentice hall, England. US-EPA 2010. Water Quality Analisis Simulation Program . www. epa.gov/athens / wwatsc/ wasp.html (diakses, september 2010). Verjak, M., Savsek, T., & Stuhler, E. 1998, System Dynamics of Eutrophication Processes in Lakes. European Journal of Operational Research, 109, 442-451. Elsevier Wool, T.,Ambrose,B., dan Martin,J.L., eds. 2007. Water Quality Analysis Simulation Program (WASP). Atlanta, USA: US EPA and Tetra Tech Inc. Wawan, Gunawan. (2008). Model Eutrofikasi untuk Merancang Kebijakan Pengelolaan Waduk yang Berkelanjutan melalui Pendekatan Siregar,e Sistem Dinamik, Disertasi DoktorUniversitas Padjadjaran, Fakultas Pasca Sarjana, Bandung. Jurnal Teknik Hidraulik, Vol. 2 No. 1, Juni 2011: 1-96 | eo vaso uep wsesty ysey evas ‘uorfuejdooz | uep uorue|doay | uafopua seuidsas aeqye H wisnw. | sores yao naidip euas (uopuejdooz | vep — uorquejdory) e@nf jdeqa% ‘Jewarsye soe) \ uopueld yep eAUeY yep usLANU eoeno sayowiered | yoo wyruesusdip (eset) | emetuas aio yrueBuadip | elias siweuig ‘vorueld ewndwos \seyyonna yelsan | iseyyonna ———eduinquy | epoW worjuejdouy | ‘4 tee, ‘N fever | ewindweoso, | sasosd ehunquiy | (R66r) ¥ef59A | i | ‘ueYIqeTIAG ese3—5 e8je ueynguimad yapem ueBunys depewsor Isensasuoy wejep ueiadsoq een ynseduadiaq (e96t) | muesio Isisodwoyap | eiagsiweuia | eqyorouep | saiaweied ‘40}s0g | =—ewindwias, ueBunyu (e360) vasuaBior | uep eoena __se1ouieleg repow | _uonjueldous | ‘mojano ‘mou ndweoio,_| evounieg | —_uosuafuor uauipasuep ‘votuujodiy ‘uowuusjerou | | ‘voruusids wesidey | | { | (o8er) puoy ueysesepiag | a0s‘oa) >yueaso ueside) Bojo1q sasoud wey | nefuaip ekuyepuoy, ynueaa | aejsog eB ymuaqier | exueup —ypetan | (oser) | uepuowis | ¥npem ueejojaived | siweup jepow watisy | 1ez —_“e150}0U0_| Anpem _eped | Je _wiojoy_eped | were vows “= 7 ‘BHIUEUIG [aPOW =e ‘sueuporpiy | exe Spem iseqyouna | | wep assy jesiw eduure| ynpem | — (epuedieq | (ae10q weBo) eAujnqua | (ze6t | saiawered yedepiay unwew | vsau201) ‘jjueBioue'y1ue810) éepeyer BunsBue| ‘qnayew) ‘ye seyjeny — sajawered areveaginu: (gan) vowels eiwuny ymeBuadiag | wie seajeny (eget) | aeqne —eduey = yep yusuers | seusianig yapul | “(eAeyer‘nyns‘Hd) euindwas | ste seyjeny | yuidwa | anquzew | 'sexyonna sasoid ekuipelsoy sisjeuy | uep eyouom | ewsy —_saiawiereg andweaia, | seawered deus prow | z (c66t! EE t i esdeyy equa depeyay ynpem ‘(eg6t) | Sundwey eAep —isewinsa g-(d)80)=(e | | uorueldory | wajenW | UEP Seyyonna —smers_ | -jyouoDy)80 ueynqunued | (rg6t-rc6t) | aw | wsuaiajoy | __isepuawoyoy sorempuy | in sevewesea uepeg isunsy | seseq api | powewen | on ynpeM ISHAJONNS japou ueFuequiaxid ouMSOY TTqeL 31 Jurnal Teknik Hidraulik, Vol. 2 No. 1, Juni 2011: 1-96 Tabel 1 (Lanjutan) Ide Dasar ‘Asumsi Badan Ai Parameter Uji | __Indikator_|_PirantiBantu | Rekomendasi Referens! No | Nama Mode! I n Dinamika | Tercampur NH, NO, , Ne [Alga dengan | | @-| Laboratorium Model Dinamis | Kecepatan aliran sangat | _ Ling,dkk Ekologi Taihu | eutrofikasi sempurna dan | Organik, P- indikator berpengaruh terhadap | (2007) | (2007) aipengaruhi oleh | terbagi menjadi | Organik, Klorofira oo i fsologs alg, | sus nitrogen | anorgank,Suhu | dari sedimen, sehingga | | faktor—cuaca, | danfostor | dan Cahaye | _ merricntimbulnya eutrofkast i a i | ecu / sedimen It . L @ | Kuo 007) Tateraksi | Suhu pada badan | WH, NO, W1 Ags sebagai | Model Dinamis | Teradinya “proves —eutvafias {uo 2007 | antarparameter | air tidak seragam | Organik. PLOrganik, | Korot | diakbatwan oleh senyawe | 1 nutrien berpengaruh | dan membentuk | BOD, DO, Suhu dan. | nutrien: yang berakibat / i | terhadap —kinetika | lapisan. Cahaye | | | mempengaruhi keseimbangan | | pertumbuhan i ‘ | oksigen teriarut | itoplanitor | | i i Wawan (2008) Meningkatnya i Tereampur Senyawa —nutien, -Oksigen’ teriarut | Model dinamis | Peringkatan Kedar aeras! dan | Wawan, dkk | komponen Karbon, | Sempurna | paniton (00), ae Seaimen | (2008! i | Nitrogen dan Fosfor BOD,Oksigen HE memperbaiki ekosistem waauk | j menyebabiar i telat | i | tununnysObsg | | oe ' | i | meningkatnya za! | | { | | | organik pada, Wat / ! ad Crate : : : € | Gunadi (2010) Senyawe nutrien | Terbagt dalam | inflow, outflow, | Fitoplankton dar | Mode! Dinamis | Pengeloiaan _jaring apung | Gunaai berpengaruh | lapisan epilimnion | Nitrogen, Fosfor, | klorofii-a | dengan Matlab | maksimum 0,2 % dari luas | (2010) | temadaptimbuinya | dan hipolimnion | dan beban internal a ' | | eutrofikas: — Waduk ' i | pakan ikar, l |Jatiluner Jurnal Teknik Hidraulik, Vol. 2 No. 1, Juni 2011: 1- 96 32