Anda di halaman 1dari 16

BAGIAN ILMU TELINGA HIDUNG

TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

REFERAT
APRIL 2015

OTITIS MEDIA PADA ANAK

OLEH :
Dewi Yulistiawati Arib
110 207 088
KONSULEN PEMBIMBING :
dr. Widyana Mulyamin, Sp.THT-KL
KONSULEN BACA :
dr. Robert Widiantono, Sp.THT-KL
DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK PADA
BAGIAN ILMU TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2015

HALAMAN PENGESAHAN
Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa :
Nama
: Dewi Yulistiawati Arib
Stambuk
: 110 207 088
Judul Referat : Otitis Media pada Anak
Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian Ilmu
Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher Fakultas Kedokteran Universitas Muslim
Indonesia Makassar.
Makassar, April 2015
Mengetahui,
Konsulen Baca

Konsumen Pembimbing

dr. Robert Widiantono, Sp.THT-KL

dr. Widyana Mulyamin, Sp.THT-KL

MEDIA PADA ANAK


1. Pendahuluan

Otitis media adalah salah satu infeksi tersering pada anak-anak. Pada beberapa
penelitian infeksi ini diperkirakan terjadi pada 25% anak. Infeksi umumnya terjadi pada dua
tahun pertama masa sekolah.1
Diperkirakan bahwa 70% dari anak-anak akan mengalami satu atau lebih episode
otitis media pada usia di bawah 3 tahun pertama. Penyakit ini tidak mengenal usia, terutama
terjadi pada bayi baru lahir sampai usia 7 tahun, dimana angka kejadiannya mulai menurun.1
Prevalensi terjadinya otitis media lebih tinggi pada penduduk asli Amerika, Alaska
dan penduduk pribumi Kanada. Faktor epidemiologi yang paling penting yang merupakan
insiden tertinggi terjadinya otitis media pada anak yaitu anak-anak yang berada di tempat
penitipan anak, lebih sering pada musim gugur dan musim dingin dibandingkan musim semi
dan musim panas, faktor genetik juga merupakan faktor predisposisi terjadinya infeksi pada
telinga tengah.1
2. Defenisi dan Klasifikasi
Otitis Media adalah peradangan pada sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah,
tuba Eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid.2
Otitis media akut (OMA) adalah peradangan telinga tengah dengan gejala dan tandatanda yang bersifat cepat dan singkat. Gejala dan tanda klinik lokal atau sistemik dapat terjadi
secara lengkap atau sebagian, baik berupa otalgia, demam, gelisah, mual, muntah, diare, serta
otore, apabila telah terjadi perforasi membran timpani. Pada pemeriksaan otoskopik juga
dijumpai efusi telinga tengah. Terjadinya efusi telinga tengah atau inflamasi telinga tengah
ditandai dengan membengkak pada membran timpani atau bulging, terdapat cairan di
belakang membran timpani, dan otore.2
Banyak ahli yang membuat pembagian dan klasifikasi otitis media. Otitis media
berdasarkan gejalanya dibagi atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif (=
otitis media serosa, otitis media musinosa, otitis media efusi), di mana masing-masing
memiliki bentuk yang akut dan kronis. Selain itu, juga terdapat jenis otitis media spesifik,
seperti otitis media tuberkulosa, otitis media sifilitika. Otitis media yang lain adalah otitis
media adhesiva.2

3. Etiologi
Penyebab dari otitis media multifaktorial, yaitu :2,3

a. Mikroorganisme sebagai agen infeksius. Tipe-tipe bakteri yang sering menyebabkan


otitis media akut adalah Streptococcus pneumonie, Haemophilus influenza sering
ditemukan pada anak berusia di bawah 5 tahun , Branhamella catarrhalis,
Streptococcus pyogenes, Staphylococcus epidermidis dam Staphylococcus aureus.
Pada bayi yaitu Chlamydia trachomatis, Escherechia coli, spesies Klebsiella.
b. Faktor anatomi dan fisiologi seperti disfungsi tuba Eustachius, hipertrofi adenoid dan
cleft palate. Anak dengan adanya abnormalitas kraniofasialis kongenital mudah
terkena OMA karena fungsi tuba Eustachius turut terganggu, anak mudah menderita
penyakit telinga tengah.
c. Anak laki-laki lebih berisiko mengalami infeksi telinga daripada anak perempuan.
d. Faktor terkait lainnya seperti pada anak dengan usia kurang dari 2 tahun, infeksi
berulang pada saluran pernafasan atas, anak-anak yang kurang mendapatkan asupan
ASI banyak menderita OMA karena ASI membantu dalam pertahanan tubuh, ras,
kurangnya asupan vitamin c dan penyakit imunodefisiensi.
e. Alergi
f. Faktor lingkungan seperti musim (musim dingin atau musim hujan), berenang, anakanak batuk pilek sering mengakibatkan komplikasi infeksi telinga. Anak yang berada
di tempat penitipan anak akan lebih besar risiko terkena infeksi telinga akibat
seringnya terpapar virus dari anak lain di tempat penitipan serta orangtua perokok
(perokok pasif) adalah faktor penting yang meningkatkan angka kejadian otitis media.
Disfungsi dari tuba Eustachius merupakan faktor utama dalam patogenesis dari otitis
media. Hanya tuba Eustachius yang berfungsi dengan baik yang memproteksi telinga tengah
dari invasi bakteri yang berasal dari nasofaring.3
Pada dasarnya ada dua jenis obstruksi tuba eustachius yang dapat menyebabkan efusi
pada telinga tengah, yaitu obstruksi mekanik dan fungsional. Obstruksi mekanik terdiri dari
intrinsik dan ekstrinsik. Obstruksi mekanik intrinsik biasanya disebabkan oleh peradangan
selaput lendir pada tuba Eustachius ataupun adanya alergi yang menyebabkan edema pada
mukosa tuba Eustachius. Sedangkan obstruksi mekanik ekstrinsik disebabkan oleh adanya
massa seperti jaringan adenoid ataupun neoplasma nasofaring.1
Tuba Eustachius memiliki tiga fungsi yaitu :1
- ventilasi pada telinga tengah untuk menyamakan tekanan udara pada telinga tengah
dengan tekanan atmosfer.
- perlindungan telinga tengah dari suara bising dan sekret.

- drainase sekret dari telinga tengah ke nasofaring dengan bantuan mukosiliar dari
tuba Eustachius dan membran mukosa telinga tengah.
Pada anak, makin sering anak terserang infeksi saluran nafas, makin besar
kemungkinan terjadinya OMA. Pada bayi terjadinya OMA dipermudah oleh karena tuba
Eustachiusnya pendek, lebar dan letaknya agak horizontal. 2

Gambar 1. Perbedaan anatomi tuba Eustachius pada anak-anak dan orang dewasa

4. Patogenesis
Telinga tengah biasanya steril dimana terdapat flora organisme yang ada dalam
nasofaring dan faring. Gabungan aksi fisiologis silia, enzim penghasil mukosa dan antibodi
berfungsi sebagai mekanisme pertahanan bila telinga terpapar dengan mikroba kontaminan
ini pada saat menelan. Otitis media akut terjadi bila mekanisme fisiologis ini terganggu.
Sebagai pelengkap mekanisme pertahanan di permukaan, suatu anyaman kapiler sub epitel
yang penting menyediakan pula faktor-faktor humoral, leukosit polimorfonuklear dan sel
fagosit lainnya. Obstruksi tuba Eustachius merupakan suatu faktor penyebab dasar pada otitis
media akut. Dengan demikian hilanglah sawar utama terhadap invasi bakteri, dan spesies
bakteri yang tidak biasanya patogenik, dapat berkolonisasi dalam telinga tengah, menyerang
jaringan dan menimbulkan infeksi. Kendatipun infeksi saluran nafas terutama disebabkan
oleh virus, namun sebagian besar infeksi otitis media akut disebabkan oleh bakteri piogenik.
Bakteri yang sering kali ditemukan antara lain Streptococcus pneumoniae, Haemophilus
influenzae, dan Streptococcus beta-hemoliticus. Sejauh ini Streptococcus pneumonia

merupakan organisme penyebab tersering pada semua kelompok umur. H. Influenzae adalah
patogen yang sering ditemukan pada anak di bawah usia lima tahun, meskipun juga
merupakan patogen pada orang dewasa.4
Karena sulitnya mendapatkan kultur virus, sehingga data yang tersedia kurang
spesifik terhadap pasien dengan otitis media. Namun, virus pada infeksi saluran nafas
merupakan penyebab utama terhadap terjadinya infeksi virus di ruang telinga tengah. Otitis
media dapat pula disertai infeksi virus exanthematous seperti infeksi mononukleosis dan
campak.1
5. Stadium Ototis Media Akut
Otitis media akut dalam perjalanan penyakitnya dibagi menjadi lima stadium,
bergantung pada perubahan pada mukosa telinga tengah akibat infeksi, yaitu stadium oklusi
tuba Eustachius, stadium hiperemis atau stadium pre-supurasi, stadium supurasi, stadium
perforasi dan stadium resolusi. Keadaan ini berdasarkan pada gambaran membran timpani
yang diamati melalui liang telinga luar.2
a. Stadium Oklusi Tuba Eustachius
Pada stadium ini, terdapat sumbatan tuba Eustachius yang ditandai oleh retraksi
membran timpani akibat terjadinya tekanan intratimpani negatif di dalam telinga tengah,
dengan adanya absorpsi udara. Retraksi membran timpani terjadi dan posisi malleus menjadi
lebih horizontal, refleks cahaya juga berkurang. Edema yang terjadi pada tuba Eustachius
juga menyebabkannya tersumbat. Selain retraksi, membran timpani kadang-kadang tetap
normal dan tidak ada kelainan, atau hanya berwarna keruh pucat. Efusi mungkin telah terjadi
tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium ini sulit dibedakan dengan tanda dari otitis media serosa
yang disebabkan oleh virus dan alergi. Tidak terjadi demam pada stadium ini.2,3

Gambar 2. Retraksi membran timpani

b. Stadium Hiperemis atau Stadium Pre-supurasi


Pada stadium ini, terjadi pelebaran pembuluh darah di membran timpani, yang
ditandai oleh membran timpani mengalami hiperemis, edema mukosa dan adanya sekret
eksudat serosa yang sulit terlihat. Hiperemis disebabkan oleh oklusi tuba yang berpanjangan
sehingga terjadinya invasi oleh mikroorganisme piogenik. Proses inflamasi berlaku di telinga
tengah dan membran timpani menjadi kongesti. Stadium ini merupakan tanda infeksi bakteri
yang menyebabkan pasien mengeluhkan otalgia, telinga rasa penuh dan demam. Pendengaran
mungkin masih normal atau terjadi gangguan ringan, tergantung dari cepatnya proses
hiperemis. Hal ini terjadi karena terdapat tekanan udara yang meningkat di kavum timpani.
Gejala-gejala berkisar antara dua belas jam sampai dengan satu hari.2

Gambar 3. Pelebaran pembuluh darah pada membran timpani

c. Stadium Supurasi
Stadium supurasi ditandai oleh terbentuknya sekret eksudat purulen atau bernanah di
telinga tengah dan juga di sel-sel mastoid. Selain itu edema pada mukosa telinga tengah
menjadi makin hebat dan sel epitel superfisial terhancur. Terbentuknya eksudat yang purulen
di kavum timpani menyebabkan membran timpani menonjol atau bulging ke arah liang
telinga luar. Pada keadaan ini, pasien akan tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat
serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Pasien selalu gelisah dan tidak dapat tidur
nyenyak. Dapat disertai dengan gangguan pendengaran konduktif. Pada bayi demam tinggi
dapat disertai muntah dan kejang. Stadium supurasi yang berlanjut dan tidak ditangani
dengan baik akan menimbulkan iskemia membran timpani, akibat timbulnya nekrosis
mukosa dan submukosa membran timpani. Terjadi penumpukan nanah yang terus
berlangsung di kavum timpani dan akibat tromboflebitis vena-vena kecil, sehingga tekanan
kapiler membran timpani meningkat, lalu menimbulkan nekrosis. Daerah nekrosis terasa
lebih lembek dan berwarna kekuningan atau yellow spot. Keadaan stadium supurasi dapat
ditangani dengan melakukan miringotomi. Bedah kecil ini kita lakukan dengan menjalankan
insisi pada membran timpani sehingga nanah akan keluar dari telinga tengah menuju liang
telinga luar. Luka insisi pada membran timpani akan menutup kembali, sedangkan apabila
terjadi ruptur, lubang tempat perforasi lebih sulit menutup kembali. Membran timpani
mungkin tidak menutup kembali jikanya tidak utuh lagi.2

Gambar 4. Membran timpani yang menonjol (bulging)

d. Stadium Perforasi
Stadium perforasi ditandai oleh ruptur membran timpani sehingga sekret berupa
nanah yang jumlahnya banyak akan mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar.

Kadang-kadang pengeluaran sekret bersifat pulsasi (berdenyut). Stadium ini sering


disebabkan oleh terlambatnya pemberian antibiotik dan tingginya virulensi kuman. Setelah
nanah keluar, anak berubah menjadi lebih tenang, suhu tubuh menurun dan dapat tertidur
nyenyak.2
Jika mebran timpani tetap perforasi dan pengeluaran sekret atau nanah tetap
berlangsung melebihi tiga minggu, maka keadaan ini disebut otitis media supuratif subakut.
Jika kedua keadaan tersebut tetap berlangsung selama lebih satu setengah sampai dengan dua
bulan, maka keadaan itu disebut otitis media supuratif kronik.3

Gambar 5. Perforasi membran timpani

e. Stadium Resolusi
Keadaan ini merupakan stadium akhir OMA yang diawali dengan berkurangnya dan
berhentinya otore. Stadium resolusi ditandai oleh membran timpani berangsur normal hingga
perforasi membran timpani menutup kembali dan sekret purulen akan berkurang dan
akhirnya kering. Pendengaran kembali normal. Stadium ini berlangsung walaupun tanpa
pengobatan, jika membran timpani masih utuh, daya tahan tubuh baik, dan virulensi kuman
rendah. Apabila stadium resolusi gagal terjadi, maka akan berlanjut menjadi otitis media
supuratif kronik. Kegagalan stadium ini berupa perforasi membran timpani menetap, dengan
sekret yang keluar secara terus-menerus atau hilang timbul. 2
Otitis media supuratif akut dapat menimbulkan gejala sisa berupa otitis media serosa.
Otitis media serosa terjadi jika sekret menetap di kavum timpani tanpa mengalami perforasi
membran timpani.

6. Gejala Klinis
Gejala klinis OMA bergantung pada stadium penyakit serta umur pasien. Pada anak
yang sudah dapat berbicara keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga, keluhan di
samping suhu tubuh yang tinggi. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya. Pada
anak yang lebih besar atau pada orang dewasa, selain rasa nyeri terdapat pula gangguan
pendengaran berupa rasa penuh di telinga atau rasa kurang dengar. Pada bayi dan anak kecil
gejala khas OMA ialah suhu tubuh tinggi dapat sampei 39,5 (pada stafium supurasi), anak
gelisah dan sukar tidur, tiba-tiba anak menjerit waktu tidur, diare, kejang-kejang dan kadangkadang anak memegang telinga yang sakit. Bila terjadi ruptur membran timpani, maka sekret
mengalir ke liang telinga tengah, suhu tubuh turun dan anak tertidur tenang.2
Gejala klasik otitis media akut antara lain berupa nyeri, demam, malaise dan kadangkadang nyeri kepala di samping nyeri telinga, khususnya pada anak dapat terjadi anoreksia
dan kadang-kadang mual dan muntah. Demam dapat tinggi pada anak kecil namun dapat pula
tidak ditemukan pada 30% kasus. Seluruh atau sebagian membran timpani secara khas
menjadi merah dan menonjol, dan pembuluh-pembuluh darah di atas membran timpani dan
tangkai maleus berdilatasi dan menjadi menonjol akibat terdapat abses di dalam telinga
tengah.4
Tingkat keparahan gejala bervariasi tergantung pada virulensi dari bakteri dan fase
infeksi. Terdapat 3 fase pada otitis media yang dapat dilihat dari pemeriksaan otoskopi dan
otoskopi pneumatik.3
a. Fase Inisial
Biasanya terjadi 1-2 hari, gejala yang timbul berupa demam dan otalgia. Adanya
infeksi menyebabkan hiperemis dari mukosa membran telinga tengah dan mastoid.
Membran timpani juga menunjukkan gambaran hiperemis.
b. Fase Eksudasi
Pada fase ini terjadi antara 2-3 hari. Otalgia dan demam lebih sering muncul. Kavum
timpani pada fase ini berisi cairan. Membran timpani pada pemeriksaan otoskopi
tampak bulging dan agak pucat, malleus memendek. Pada fase supurasi terjadi
perforasi secara spontan pada membran timpani dengan mukopurulen serosa sehingga
pasien terbebas dari demam dan otalgia. Perforasi dari membran timpani dengan
pelepasan pulsasi dapat dilihat melalui otoskopi setelah membersihkan liang telinga.
Fase ini berlansung selama 4-8 hari.

c. Fase Resolusi
Sebagian besar kasus otitis media akut menunjukkan penyembuhan secara spontan.
Dalam beberapa minggu kemudian membran timpani menjadi normal kembali.
7. Diagnosis
Diagnosis definitif dari otitis media akut ditegakkan jika :3
a. Terdapat tanda atau gejala peradangan telinga tengah yang muncul secara mendadak
dan bersifat akut, baik lokal ataupun sistemik yang dibuktikan dengan adanya salah
satu di antara tanda berikut, seperti kemerahan atau erythema pada membran timpani,
nyeri telinga atau otalgia yang mengganggu tidur dan aktivitas normal.
b. Ditemukan adanya tanda efusi. Efusi merupakan pengumpulan cairan di telinga
tengah. Efusi dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut, seperti
menggembungnya membran timpani atau bulging, terbatas atau tidak ada gerakan
pada membran timpani, terdapat bayangan cairan di belakang membran timpani, dan
terdapat cairan yang keluar dari telinga.
Pada kebanyakan kasus, dari anamnesis dan pemeriksaan fisis dapat menentukan
adanya otitis media. Anamnesis harus menyangkut gejala klasik otitis media. Pada pasien
dengan infeksi akut dapat ditemukan adanya otalgia, demam, iritabilitas, muntah dan diare.
Kadang ditemukan adanya otore, vertigo dan kelumpuhan wajah mungkin berhubungan
dengan infeksi akut di ruang telinga tengah. Pada pasien yang infeksinya menyebar ke dalam
ataupun di luar mastoid, dapat ditemukan adanya pembengkakan daerah postaurikuler.1
Pada pasien dengan infeksi kronik, gejala utamanya berupa gangguan pendengaran.
Penegakan diagnosis disertai pemeriksaan fisik yang sesuai untuk mengkonfirmasi ada
tidaknya kelainan pada telinga tengah. Yang pertama dilakukan adalah pemeriksaan lengkap
dari kepala dan leher untuk mengidentifikasi kemungkinan predisposisi yang lain seperti
anomali kraniofasial, obstruksi hidung, cleft palate, atau hipertrofi adenoid. Pada pasien
dengan otitis media unilateral harus dilakukan pemeriksaan nasofaring untuk menyingkirkan
kemungkinan neoplasma.1
Otoskopi merupakan pemeriksaan penting untuk menegakkan diagnosis otitis media.
Penggunaan pneumatik otoskopi sangat penting. Adanya efusi telinga tengah kronik paling
mudah dikonfirmasi dengan adanya air fluida level atau adanya gelembung yang terlihat jelas
di dalam ruang telinga tengah. Namun, umumnya ditemukan retraksi membran timpani dan
pemendekan maleus dan kurangnya mobilitas dari membran timpani. Kadang-kadang
membran timpani tampak kusam atau menebal dan berwarna kekuningan.1

Pada kasus yang berat, cairan yang keluar dari telinga tengah dapat berwarna
keunguan atau biru, hal ini menunjukkan perdarahan dalam rongga timpani. Warna membran
timpani penting tapi tidak bisa digunakan untuk menegakkan diagnosis karena membran
timpani yang kemerahan saja mungkin tidak menunjukkan keadaan patologik karena
pembuluh darah pada membran timpani dapat melebar ketika pasien menangis atau demam.
Penggunaan timpanometri mengkonfirmasi temuan-temuan pada pneumatik otoskopi.
Modalitas ini memberikan penilaian objektif dari mobilitas membran timpani serta rantai
tulang pendengaran. Dengan mengukur membran timpani impedansi, dapat menggambarkan
kondisi ruang telinga tengah.1
8. Penatalaksanaan
a. Pengobatan
Penatalaksanaan OMA tergantung pada stadium penyakitnya. Pengobatan pada
stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas, dengan pemberian antibiotik,
dekongestan lokal atau sistemik, dan antipiretik. Tujuan pengobatan pada otitis media adalah
untuk menghindari komplikasi intrakrania dan ekstrakrania yang mungkin terjadi, mengobati
gejala, memperbaiki fungsi tuba Eustachius, menghindari perforasi membran timpani, dan
memperbaiki sistem imum lokal dan sistemik. Pada stadium oklusi tuba, pengobatan
bertujuan untuk membuka kembali tuba Eustachius sehingga tekanan negatif di telinga
tengah hilang. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0,5 % dalam larutan fisiologik untuk
anak kurang dari 12 tahun atau HCl efedrin 1 % dalam larutan fisiologis untuk anak yang
berumur di atas 12 tahun atau pada orang dewasa. Sumber infeksi harus diobati dengan
pemberian antibiotik. Pada stadium hiperemis dapat diberikan antibiotik, obat tetes hidung
dan analgesik. Dianjurkan pemberian antibiotik golongan penisilin atau eritromisin. Jika
terjadi resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam klavulanat atau sefalosporin. Untuk
terapi awal diberikan penisilin intramuskular agar konsentrasinya adekuat di dalam darah
sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan
kekambuhan. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Bila pasien alergi tehadap
penisilin, diberikan eritromisin. Pada anak, diberikan ampisilin 50-100 mg/kgBB/hari yang
terbagi dalam empat dosis, amoksisilin atau eritromisin masing-masing 50 mg/kgBB/hari
yang terbagi dalam 3 dosis. Pada stadium supurasi, selain diberikan antibiotik, pasien harus
dirujuk untuk melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga gejala
cepat hilang dan tidak terjadi ruptur. Pada stadium perforasi, sering terlihat sekret banyak

keluar, kadang secara berdenyut atau pulsasi. Diberikan obat cuci telinga (ear toilet) H2O2
3% selama 3 sampai dengan 5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu. Biasanya
sekret akan hilang dan perforasi akan menutup kembali dalam 7 sampai dengan 10 hari. Pada
stadium resolusi, membran timpani berangsur normal kembali, sekret tidak ada lagi, dan
perforasi menutup. Bila tidak terjadi resolusi biasanya sekret mengalir di liang telinga luar
melalui perforasi di membran timpani. Keadaan ini dapat disebabkan karena berlanjutnya
edema mukosa telinga tengah. Antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila keadaan
ini berterusan, mungkin telah terjadi mastoiditis.2
Bila otitis media akut berlanjut dengan keluarnya sekret dari telinga tengah lebih dari
3 minggu, maka keadaan ini disebut otitis media supuratif subakut.2
Bila perforasi menetap dan sekret tetap keluar lebih dari satu setengah bulan atau dua
bulan, maka keadaan ini disebut otitis media supuratif kronik.2
Otitis media berulang menunjukkan adanya 3 atau lebih episode otitis media akut
dalam periode 6 bulan. Gejalanya berupa frekuensi berulang dari otitis media.
Episode berulang pada otitis media kronik yang mewabah pada anak-anak terutama
pada usia 3-4 tahun. Harus dicari sumber penyebab infeksi saluran nafas misalnya adenoiditis
kronis atau sinusitis kronis. Adanya imatur ringan dari sistem kekebalan tubuh terutama IgG,
mungkin bertanggung jawab terhadap proses yang berulang ini. Pengujian munoglobulin
harus dipertimbangkan dalam kasus episode berulang.1,6
Pengobatan anak-anak dengan kecenderungan mengalami otitis media dapat bersifat
medis ataupun pembedahan. Penatalaksanaan medis termasuk pemberian antibiotik dosis
rendah dalam jangka waktu hingga 3 bulan di musim dingin. Antibiotik profilaksis lebih baik
diberikan pada pasien dengan resiko tinggi untuk menjadi kronik dan infeksi berulang yaitu
anak di bawah usia 2 tahun, anak yang berasal dari keluarga sosial ekonomi rendah, pasien
dengan otitis media berulang yang berasal dari infeksi saluran nafas atas berulang. Diberikan
amoxicillin 20mg/kg/hari, atau sulfisoxazole 50mg/kg diberikan satu kali dalam sehari
sebelum tidur. Selain itu dapat diberikan pencegahan imunologi dengan vaksinasi yang
direkomendasikan untuk anak usia di bawah 2 tahun yang beresiko terkena infeksi
pneumococcal. Alternatif lain adalah pemasangan tuba ventilasiq. Keputusan untuk
melakukan miringotomi umumnya berdasarkan kegagalan profilaksis secara medis, atau
timbul reaksi alergi terhadap antimikroba yang lazim dipakai, baik golongan sulfa maupun
penisilin.3,4

Anak-anak usia antara 6-23 bulan dengan otitis media akut, pengobatan dengan
amoksisilin-klavulanat selama 10 hari bermanfaat untuk jangka pendek, terlepas dari tingkat
keparahan penyakit. Harus dipertimbangkan adanya efek samping obat dan adanya resistensi
bakteri. Pertimbangan ini untuk membatasi pengobatan bagi anak-anak yang telah
didiagnosis dengan otitis media.6
Setiap 5 anak yang diterapi dengan amoksisilin, satu diantaranya akan mendapatkan
episode berulang dari otitis media. Hal ini merupakan pendapat lain tentang penggunaan
antibiotik pada otitis media pada anak.7
b. Pembedahan
Terdapat beberapa tindakan pembedahan yang dapat menangani OMA rekuren, seperti
miringotomi dengan insersi tuba timpanosintesi
1. Miringotomi
Miringotomi ialah tindakan insisi pada pars tensa membran timpani, supaya terjadi drainase
sekret dari telinga tengah ke liang telinga luar. Miringotomi merupakan tindakan pembedahan
kecil yang dilakukan dengan syarat tindakan ini harus dilakukan secara a-vue (dilihat
langsung), anak harus tenang dan dapat dikuasai, sehingga membran timpani dapat dilihat
dengan baik. Lokasi miringotomi ialah di kuadran posterior-inferior. Untuk tindakan ini
haruslah memakai lampu kepala yang mempunyai sinar yang cukup terang, memakai corong
telinga yang sesuai dengan liang telinga, dan pisau khusus (miringotom) yang digunakan
berukuran kecil dan steril. Bila terapi yang diberikan sudah adekuat, miringotomi tidak perlu
dilakukan, kecuali jika terdapat pus di telinga tengah. Indikasi miringotomi pada anak dengan
OMA adalah nyeri berat, demam, komplikasi OMA seperti paresis nervus fasialis,
mastoiditis, labirinitis, dan infeksi sistem saraf pusat. Miringotomi merupakan terapi thirdline pada pasien yang mengalami kegagalan terhadap dua kali terapi antibiotik pada satu
episode OMA. Salah satu tindakan miringotomi atau timpanosintesis dijalankan terhadap
anak OMA yang respon kurang memuaskan terhadap terapi second-line, untuk
mengidentifikasi mikroorganisme melalui kultur.2
2. Timpanosintesis
Timpanosintesis merupakan pungsi pada membran timpani, dengan analgesia lokal
supaya mendapatkan sekret untuk tujuan pemeriksaan. Indikasi timpanosintesis adalah terapi
antibiotik tidak memuaskan, terdapat komplikasi supuratif, pada bayi baru lahir atau pasien

yang sistem imun tubuh rendah. Pipa timpanostomi dapat menurunkan morbiditas OMA
seperti otalgia, efusi telinga tengah, gangguan pendengaran secara signifikan dibanding
dengan plasebo dalam tiga penelitian prospektif, randomized trial yang telah dijalankan.2
9. Pencegahan
Terdapat beberapa hal yang dapat mencegah terjadinya OMA. Mengidentifikasi faktor
resiko dalam keluarga, menghindari faktor lingkungan misalnya pajanan terhadap lingkungan
merokok, memberikan antibiotik profilaksis, menganjurkan pemberian ASI minimal enam
bulan, pencegahan dengan imunoprofilaksis dengan vaksinasi dan lain-lain.3

DAFTAR PUSTAKA
1. Healy, B Gerald MD, Dosbe, Kristna W MD. Otitis Media and Middle Ear Efussions
in: Ballengers Manual of Otorhinolaryngology Head and Nick Surgery. 34-45.
London. 2002.
2. Djaafar Zainul A, dkk. Kelainan Telinga Tengah in: Buku Ajar I Kepala dan Leher
edisi keenam. Hal. 64-69. FKUI. 2007.
3. Lethe AL Margaretha. Acute Otitis Media in Primary Ear Care Community Health
Center-Based in Developing Country. 77-85. FKUI. 2003
4. Adams L George ect. Otitis Media Supuratif Akut in BOIES Buku Ajar Penyakit THT
edisi 6. Hal. 95-97.ECC. 2007
5. Weber M Stephen ect. Modern Management on Acute Otitis Media. The Pediatri
Clinic of North Amerika. 399-411. 2003.
6. Hoberman Alexandra MD. Treatment of Acute Otitis Media in Children undur 2 years
of Age.The New England Journal of Medicine.2011.
7. Frohna G John. Amoxicillin Treatment Increases Rate of Late Recurrence of Acute
Otitis Media in Young Children. The Journal of Pediaric. 2009.