Anda di halaman 1dari 24

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan kemudahan
untuk dapat menyelesaikan tugas ini tepat pada waktunya. Makalah ini merupakan tugas dari
mata kuliah KMB I, yang mana dengan tugas ini kami sebagai mahasiswa dapat mengetahui
lebih jauh dari materi yang diberikan.
Makalah yang berjudul tentang PENGATURAN POSISI. Mengenai penjelasan
lebih lanjut Kami memaparkannya dalam bagian pembahasan makalah ini.
Dengan harapan makalah ini dapat bermanfaat, maka saya sebagai penulis
mengucapakan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan
makalah ini.
Akhir kata saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyelesaian makalah ini. Saran dan kritik yang membangun dengan terbuka saya
terima untuk meningkatkan kualitas makalah ini.

Mataram,

maret 2015

penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah...........................................................................................................1
C. Tujuan.............................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar
1. pengertian
appendicitis.............................................................................................3
2. klasifikasi apendicitis...............................................................................................3
3. Etiologi
4.
5.
6.
7.

appendicitis.................................................................................................5
pathway apendicitis..................................................................................................6
patofisiologi appendicitis.........................................................................................7
manifestasi klinis appendicitis.................................................................................7
komplikasi

apendicitis..............................................................................................9
8. pemeriksaan penunjang ...........................................................................................9
9. penatalaksanaan
medis
apendicitis ........................................................................11
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan....................................................................................................................1
9
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................20

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Banyak kondisi patologi yang mempengaruhi kesejajaran dan mobilitas tuibuh.


Abnormalitas postur kongenital atau didapat memengaruhi efisiensi sistem muskulus skeletal,
serta kesejajaran, keseimbangan, dan penampilan tubuh. Abnormalitas

postur dapat

menghambat kesejajaran, mobilitas, atau keduanya sehingga membatasi rentang gerak pada
beberapa sendi,
Untuk mencegah abnormalitas postur tersebut dapat dilakukan dengan pengaturan posisi
pasien, selain itu persiapan seperti mengkaji kekuatan otot, mobilitas sendi pasien, adanya
paralisis atau paresis, hipotensi ortostastik, toleransi aktivitas, tingkat kesadaran, tingkat
kenyamanan, dan kemampuan untuk mengikuti instruksi juga penting dilakukan.

Mobilitas dalam kamus kedokteran dapat di artikan sebagai daya gerak. Atau suatu
kondisi dimana tubuh dapat melakukan tindak bergerak dengan bebas (Kasier, 1989).
Mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak bebas, mudah, teratur,
mempunyai tujuan memenuhi kebutuhan hidup sehat, dan penting untuk kemandirian
(Barbara Kozier, 1995). Sebaliknya keadaan imobilisasi adalah suatu pembatasan gerak atau
keterbatasan fisik dari anggota badan dan tubuh itu sendiri dalam berputar, duduk dan
berjalan, hal ini salah satunya disebabkan oleh berada pada posisi tetap dengan gravitasi
berkurang seperti saat duduk atau berbaring (Susan J. Garrison, 2004).
Merupakan keadaan dimana Immobilisasi / tirah baring adalah keadaan dimana seseorang
tidak dapat bergerak secara aktif / bebas karena kondisi yang mengganggu pergerakan
(aktivitas ). Imobilisasi secara fisik, merupakan pembatasan untuk bergerak secara fisik
dengan

tujuan

mencegah

terjadinya

gangguan

komplikasi

pergerakan.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penulisan
makalah ini sebagai berikut :
1. Apa pengertian pengertian mobilitas dan immobilitas ?
2. Apa sajakah jenis mobilisasi?

3. Apa saja faktor yang mempengaruhi mobilisasi?


4. Apa pengertian pengaturan posisi?
5. Apa sajakah macam-macam pengaturan posisi tubuh sesuai kebutuhan pasien?
6. Bagaimanakah prosedur pelaksanaan tiap pengaturan posisi pasien ?

C. TUJUAN
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mendefinisikan pengaturan posisi pasien.
2. Untuk mendiskripsikan macam-macam pengaturan posisi tubuh sesuai kebutuhan pasien.
3. Untuk mendiskripsikan prosedur pelaksanaan tiap pengaturan posisi pasien.

BAB II
ISI
A. MOBILITAS
Mobilitas dalam kamus kedokteran dapat di artikan sebagai daya gerak. Atau suatu
kondisi dimana tubuh dapat melakukan tindak bergerak dengan bebas (Kasier, 1989).
Sedangkan imobilitas keadaan individu mengalami ketidakmampuan / keterbatasan gerak

fisik secara aktif akibat berbagai penyakit / impairment. Atau dapat di artika sebagai suatu
keadaan tidak bergerak / tirah baring yang terus-menerus selama 5 hari / lebih akibat
perubahan

sindrom

degenerasi

fisiologis

akibat

menurunya

aktivitas

dan

ketidakberdayaan.

Mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak bebas, mudah, teratur,


mempunyai tujuan memenuhi kebutuhan hidup sehat, dan penting untuk kemandirian
(Barbara Kozier, 1995). Sebaliknya keadaan imobilisasi adalah suatu pembatasan gerak atau
keterbatasan fisik dari anggota badan dan tubuh itu sendiri dalam berputar, duduk dan
berjalan, hal ini salah satunya disebabkan oleh berada pada posisi tetap dengan gravitasi
berkurang seperti saat duduk atau berbaring (Susan J. Garrison, 2004).
Mobilisasi secara garis besar dibagi menjadi 2, yaitu mobilisasi secara pasif dan
mobilisasi secara aktif.
1. Mobilisasim secara pasif
Yaitu mobilisasi dimana pasien dalam menggerakkan tubuhnya dengan cara dibantu
dengan orang lain secara total atau keseluruhan.
2. Mobilisasi aktif
Yaitu dimana pasien dalam menggerakkan tubuh dilakukan secara mandiri tanpa bantuan
dari orang lain (Priharjo, 1997).
1. JENIS MOBILISASI
a.

Mobilitas penuh, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara penuh dan
bebas sehingga dapat melakukan interaksi social dan menjalankan peran sehari-hari

b.

Mobilisasi sebagian, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas


karena dipengaruhi oleh gangguan syaraf motorik dan sensorik pada area tubuhnya.

2.FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOBILISASI


1. Gaya hidup
Gaya hidup seseorang sangat tergantung dari tingkat pendidikannya. Pengetahuan
kesehatan tentang mobilitas akan menyebabkan seseorang melakukan mobilisasi dengan
cara yang sehat. Contoh: gaya berjalan seorang ABRI akan berbeda dengan gaya berjalan
seorang perawat.

2. Proses

penyakit danInjuri

Adanya penyakit tertentu yang diderita seseorang akan mempengaruhi mobilitasnya.


Contoh : sesereorang yang patah tulang akan kesulitan untuk mobilisasi dengan bebas.
3. Kebudayaan
Kebudayaan dapat mempengaruhi pola dan sikap dalam melakukan aktivitas.
Contoh : seorang anak desa yang biasa berjalan kaki setiap hari akan berbeda
mobilitasnya dengan anak kota yang biasa memakai motor dalam segala keperluannya.
4. Tingkat Energi
Untuk bermobilisasi diperlukan tenaga atau energi.
Contoh : seseorang yang sedang sakit berbeda mobilitasnya dengan orang yang sehat.
5. Usia danStatus Perkembangan
Seorang anak akan berbeda tingkat kemampuan mobilitasnya dibandingkan dengan
seorang remaja. Anak yang selalu sakit dalam masa pertumbuhannya akan berbeda
dengan kelincahannya dibandingkan dengan anak yang jarang sakit.

3. RENTANG GERAK
Rentang gerak merupakan jumlah maksimum gerakan yang mungkin dilakukan sendi
dari alah satu tiga potongan tubuh : sagital, frontal, dan transversal.
Potongan sagital adalah garis yang melewati tubuh dari depan kebelakang, membagi tubuh
menjadi bagian kiri dan kanan. Potongan frontal melewati tubuh dari sisi ke sisi dan membagi
tubuh menjadi bagian dari depan dan belakang. Potongan transversal adalah garis horisontal
yang membagi tubuh membagi tubuh menjadi bagian atas dan bawah.
Mobilisasi sendi disetiap potongan di batasi oleh ligamen, otot, dan konstruksi sendi.
Beberapa gerakan sendi adalah spesifik untuk setiap potongan. Pada potongan sagital,
gerakannya adalah fleksi dan ekstensi (jari-jari dan siku) dan hiperekstensi (pinggul). Pada
potongan frontal, gerakannya adalah abduksi dan adduksi (lengan dan tungkai) dan eversi dan
inversi (kaki). Pada potongan transversal pronasi dan supinasi (tangan), rotasi internal dan
eksternal, dan dosifleksi dan plantarfleksi (kaki).
Istilah gaya berjalan digunakan untuk menggambarkan cara utama atau gaya ketika berjalan
(Fish & Nielsen, 1993). Siklus gaya berjalan dimulai dengan tumit mengangkat satu tungkai
dan berlanjut dengan tumit mengangkat tungkai yang sama. Interval ini sama dengan 100%
siklus gaya berjalan dan berlangsung 1 detik untuk kenyamanan berjalan (lehmann et al,
1992).

Dengan mengkaji gaya berjalan klien kemungkinan perawat membuat kesimpulan


tentang keseimbangan, postur, keamanan, dan kemampuan berjalan tanpa bantuan. Mekanika
gaya berjalan manusia mengikuti kesesuain sistem skeletal, saraf, dan otot dari tubuh manusia
(Fish & Nielsen, 1993).
4. EFEK FISIOLOGI DARI PERUBAHAN MOBILITAS
Apabila ada perubahan mobilisasi, setiap system tubuh beresiko terjadi gangguan. Tingkat
keparahan tergantung pada umur klien dan kondisi kesehatan secara keseluruhan, serta tingkat
imobilisasi yang di alami.
Perubahan Metabolik.
a. Sistem endokrin merupakan produksi hormon sekresi kelenjar, mempertahankan dan
mengatur fungsi vital seperti
1. respon terhadap stress dan cedera
2. pertumbuhan dan perkembangan
3. reproduksi
4. metabolisme energi
b. Perubahan sistem respirator.
Klien pasca operasi berisiko tinggi mengalami koplikasi paru-paru. Komplikasi paruparu yang paling umum adalah atelektasis dan pneumonia hipostatik. Pada atelektasis
bronkiolus menjadi tertutup oleh adanya sekresi.
c. Perubahan SistemKardiovaskuler.
Sietem kardiovaskuler juga dipengaruhi oleh imobilisasi. Ada tiga perubahan utama
yaitu hipotensi ortostatik, peningkatan kerja jantung dan pembentukan trombus.
d. PerubahanSistem muskuloskeletal.
Pada sistem muskuloskeletal meliputi gangguan mobilisasi permanen. Keterbatasan
mobilisasi mempengruhi otot klien melalui kehilangan daya tahan penurunan masa
otot, atrofi, dan penurunan stabilitas. Pengaruh lain dari keterbatasan mobilisasi yang
mempengaruhi sistem skeletal adalah gangguan metabolisme kalsium danj gangguan
metabolisme sendi.
e. Perubahan Eliminasi Urine.
Eliminasi urine klien berubah oleh karena adanya imobilisasi pada posisi tegak lurus,
urine mengalir keluar dari pelvis ginjal lalu masuk kedalam ureter dan kandung kemih
akibat gaya gravitasi. Jika klien dalam recumbent atau datar, ginjal dan ureter

membentuk garis datar seperti pesawat. Ginjal yang membentuk urine harus masuk
kedalam kandung kemih melawan gaya gravitasi.
5. EFEK PSIKOLOGIS PERUBAHAN MOBILISASI
Mobilisasi menyebabkan respons emosional, intelektual, sensorik, dan sosiokultural.
Perubahan status emosional biasa terjadi bertahap. Bagaimana pun juga lansia lebih rentan
terhadap perubahan-perubahan tersebut, sehingga perawat harus mengopserfasi lebih dini.
Perubahan emosional paling umum adalah deperesi, perubahan perilaku, perubahan siklus
tidur bangun dan gangguan koping.

B. IMMOBILITAS
Merupakan keadaan dimana Immobilisasi / tirah baring adalah keadaan dimana
seseorang tidak dapat bergerak secara aktif / bebas karena kondisi yang mengganggu
pergerakan (aktivitas ). Imobilisasi secara fisik, merupakan pembatasan untuk bergerak secara
fisik

dengan

seseorang

tujuan

tidak

dapat

mencegah
bergerak

terjadinya
secara

bebas

gangguan

komplikasi

karenakondisi

yang

pergerakan.
mengganggu

pergerakan/aktifitas.
Contoh : mengalami trauma tulang belakang, fraktur pada ekstremitas.

1.JENIS-JENIS IMMOBILITASMOBILITAS
1. Imobilitas fisik
pembatasan untuk bergerak secara fisik dengan tujuan mencegah terjadi gangguan
komplikasi pergerakan.Contoh : pada pasien hemiplegi yg tdkmampu mempertahankan
tekanan pddaerah paralisis sehingga tdk dpt mengubah posisi tubuhnya untuk
mengurangi tekanan

2. Imobilitas intelektual
mengalami keterbatasan daya pikir.Contoh : pasien yang mengalami kerusakan otak
akibat suatu penyakit.
3. Imobilitas emosional
mengalami pembatasan secara emosional karena adanya perubahan secara tiba-tiba
dalam menyesuaikan diri Contoh : stres berat karena bedah amputasiketika mengalami
kehilangan bagian anggota tubuh
4. Imobilitas sosial
Keadaan individu yang mengalami hambatan dalam melakukan interaksi sosial karena
keadaan penyakitnya sehinga dapat mempengaruhi perannya dalam kehidupan sosial.

2. DAMPAK PERUBAHAN TUBUH AKIBAT IMOBILITAS


Dampak dari immobilisasi dalam tubuh dapat mempengaruhi sistem tubuh, seperti
perubahan pada metabolisme tubuh, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, gangguan
dalam kebutuhan nutrisi, gangguan fungsi gastrointestinal, perubahan sistem pernafasan,
perubahan krdiovaskular, perubahan sistem muskuloskeletal, perubahan kulit, perubahan
eliminasi (buang air

besar

dan kecil), vertigo (pusing tujuh keliling).

Respon Fisiologis Terhadap Imobilitas


1.

Muskuloskeletal

a. Gangguan Muskular : Menurunnya massa otot sebagai dampak immobilisasi dapat


menyebabkan turunnya kekuatan otot secara langsung
b. Gangguan Skeletal : Akan mudah terjadi kontraktur sendi dan osteoporosis.
Paling sering muncul pada klien imobil,Kekuatan otot menurun,Penurunan masa
otot/atropi . Osteoporosis : akibat menurunnya aktivitas otot gangguan endokrin dan
metabolisme .Kontraktur (panggul, tumit dan punggung kaki)
2. Cardiovaskular
Perubahan sistem kardiovaskuler akibat immobilisasi antara lain dapat berupa hipotensi
ortostatik, meningkatnya kerja jantung, dan terjadinya pembentukan trombus.
Reflek neurovaskular menurun vasokonstriksi darah terkumpul pada vena bagian bawah
tubuh aliran darah ke system sirkulasi pusat terhambat perfusi serebral menurun
pusing/sakit kepala hebat, pingsan

3. Respiratory
Akibat immobilisasi, kadar heamoglobin menurun, ekspansi paru menurun, dan
terjadinya lemah otot yang dapat menyebabkan proses metabolisme terganggu.
Ventilasi paru terganggu pergerakan dada dan ekspansi paru terbatas pernafasan dangkal
Aliran darah ke paru-paru terganggu : pertukaran gas menurun
Lemahnya oksigenasi dan retensi CO2 dalam darah Asidosis respiratory
Sekresi mucus lebih kental dan menempel sepanjang trac.respiratorius
kelemahan otot thorax ketidakmampuan inhalasi maximal, gerakan menurun
mekanisme batuk terganggu, mucus jadi statis, media berkembang bakteri : infeksi
Trat.respiratory bagian bawah.
4. Metabolik dan nutrisi
a.

BMR turun

b.

kebutuhan energi tubuh, motilitas gastrointestinal dan sekresi kelenjar digestive

menurun.
c.

Proses katabolisme lebih besar daripada anabolisme nitrogen balance negatif

d. Anorexia malnutrisi
e.

5.

Hipoproteinemia edema

Urinary
Kurangnya asupan dan penurunan curah jantung sehingga aliran darah renal dan urine
berkurang. pengaruh gaya gravitasi menghambat pengosongan urine di ginjal dan
kandung kemih secara komplit urine statis media berkembangnya bakteri infeksi Resiko
terjadi Renal Calculi karena kenaikan Ca dalam urine. Batu ginjal nyeri hebat,
perdarahan dan obstruksi

6. Eliminasi Fecal
a. Motilitas kolon dan perstaltic menurun, sphincter konstriksi konstipasi
b. Kelemahan otot skeletal akan mempengaruhi otot abdominal dan perineal yang
digunakan untuk defekasi
7. Integumen
a. Elastisitas kulit menurun
b. Ischemia dan nekrosis jaringan supervisial : luka dekubitus
8. Vertigo
Terjadi Vertigo, karena seseorang terlalu lama berbaring, sehingga aliran darah ke otak
berkurang dan menyebabkan pusing tujuh keliling, serta mempengaruhi nervus
vestibularis.

C. PENGATURAN POSISI TUBUH SESUAI KEBUTUHAN PASIEN


Posturing / mengatur dan merubah posisi adalah mengatur pasien dalam posisi yang baik dan
mengubah secara teratur dan sistematik. Hal ini merupakan salah satu aspek keperawatan
yang penting. Posisi tubuh apapun baik atau tidak akan mengganggu apabila dilakukan dalam
waktu yang lama. (potter dan perry,2005)
Tujuan merubah posisi :
1. Mencegah nyeri otot
2. Mengurangi tekanan

3. Mencegah kerusakan syaraf dan pembuluh darah superficial


4. Mencegah kontraktur otot
5. Mempertahankan tonus otot dan reflek
6. Memudahkan suatu tindakan baik medic maupun keperawatan
Dalam mempertahankan kesejajaran tubuh yang tepat, perwat mengangkat klien dengan
benar, menggunakan teknik posisi yang tepat, dan memindahkan klien dengan aman dari
tempat tidur ke kursi ataundari tempat tidur ke brankar. Prosedur-prosedur itu digambarkakan
dalam bagian ini sebagai prinsip mekanika tubuh untuk menjada atau memperbaiki
kesejajaran tubuh.
Teknik mengangkat. Angka cedera dalam pekerjaan meningkat pada tahun-tahun terakhir,
dan lebih dari setengahnya adalah cedera punggung yang langsung akibatnya teknik
mengangkat dan membungkuk yang tidak tepat (owen dan Garg, 1991). Kebanyakan cedera
punggung yang terjadi adalah ketegangan pada kelompok otot lumbal, termasuk otot disekitar
vertebra lumbal (Owen dan Gerg, 1991).
Sebelum mengangkat, perawat harus mengkaji kemampuan mengangkat klien atau objek
yang akan di angkat dengan menggunakan kriteria dasar cara mengangkat sebagai berikut ini:
1.

Posisi beban. Beban yang akan diangkat sedekatmungkin dengan pengangkat. Posisikan
objek pada keadaan seperti diatas ketika perawat menggunakan gaya mengangkat
dikarenakan objek berada dalam potongan sama (Stamps,1989).

2.

Tinggi objek. Tinggi yang paling baik untuk mengangkat vertikal adalah sedikit diatas
jari tengah seseorang dengan lengan tergantung disamping (Owen dan Greg, 1991).

3.

Posisi tubuh. Ketika posisi tubuh mengangkat yang berbeda, maka petunjuk umum
berikut mampu dipakai sebagian besar keadaan. Tubuh diposisikan dengan batang tubuh
tegak sehingga kelompok otot-otot multipel bekerja sama dengan cara yang sinkron.

4.

Berat maksimum. Setiap perawat harus mengetahui berat maksimum yang aman untuk
diangkat aman bagi perawat dan klien. Objek yang terlalu berat adalah jika beratnya
sama dengan atau lebih dari 35% berat badan orang yang mengangkat. Oleh karena itu,
perawat yang beratnya 59,1 kg tidak mencoba mengangkat klien imobilisasi yang
beratnya 45,5 kg. Meskipun nampaknya perawat mungkin mampu melakukannya, hal ini
akan beresiko jatuh atau menyebabkan cedera punggung perawat.

Pengaturan posisi yang dapat dilakukan pada pasien ketika mendapatkan


perawatan, dengan tujuan untuk kenyamanan pasien, pemudahan perawatan dan
pemberian obat, menghindari terjadinya pressure area akibat tekanan yang menetap pada
bagian tubuh tertentu.
1. Posisi Fowler

Posisi setengah duduk atau duduk, bagian kepala tempat tidur lebih tinggi atau dinaikkan.
Untuk fowler (45-90) dan semifowler(15-45). Dilakukan untuk mempertahankan
kenyamanan, memfasilitasi fungsi pernapasan, dan untuk pasien pasca bedah.

Cara Pelaksanaan :
a. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
b. Dudukkan pasien
c. Berikan sandaran pada tempat tidur pasien atau atur tempat tidur, untuk
posisi untuk fowler ( 900) dan Semi fowler ( 30 450 ).
d. Anjurkan pasien untuk tetap berbaring setengah duduk.

2. Posisi Sim

Posisi miring ke kanan atau ke kiri. Dilakukan untuk memberi kenyamanan dan untuk
mempermudah tindakan pemeriksaan rectum atau pemberian huknah atau obat-obatan lain
melalui anus.
Cara Pelaksanaan :
a.

Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan

b.

Pasien dalam keadaan berbaring. Kemudian apabila dimiringkan kekiri dengan posisi
badan setengah telungkup, maka lutut kaki kiri diluruskan serta paha kanan ditekuk
diarahkan ke dada. Tangan kiri di belakang punggung dan tangan kanan didepan kepala.

c.

Bila pasien miring kekanan, posisi bdan setengah telungkup dan kaki kanan lurus,
sedangkan lutut dan paha kiri ditekuk dan diarahkan ke dada. Tangan kanan dibelakang
punggung dan tangan kiri didepan kepala.

3. Posisi Trendelenburg

Posisi pasien berbaring di tempat tidur dengan bagian kepala lebih rendah daripada bagian
kaki. Dilakukan untuk melancarkan peredaran darah ke otak, dan pada pasien shock dan pada
pasien yang dipasang skintraksi pada kakinya.
Cara Pelaksanaan :

a.

Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan

b. Pasien dalam keadaan berbaring terlentang. Letakkan bantal di antara kepala


dan ujung tempat tidur pasien, serta berikan bantal dibawah lipatan lutut
c.

Pada bagian kaki tempat tidur, berikan balok penopang atau atur tempat tidur
secara khusus dengan meninggikan bagian kaki pasien

4. Posisi Dorsal Recumben

a. Pengertian
Pada posisi ini pasien berbaring telentang dengan kedua lutut fleksi (ditarik atau
direnggangkan) di atas tempat tidur. Posisi ini dilakukan untuk merawat dan memeriksa
serta pada proses persalinan.
b. Tujuan
c.

Meningkatkan kenyamanan pasien, terutama dengan ketegangan punggung belakang.


Indikasi
1) Pasien dengan pemeriksaan pada bagian pelvic, vagina dan anus
2) Pasien dengan ketegangan punggung belakang.

5. Posisi Lithotomi

a. Pengertian
Pada posisi ini pasien berbaring telentang dengan mengangkat kedua kaki dan
menariknya ke atas bagian perut. Posisi ini dilakukan untuk memeriksa genitalia pada
proses persalinan, dan memasang alat kontrasepsi.
b. Tujuan
1) Memudahkan pemeriksaan daerah rongga panggul, misal vagina taucher,
2)
c.

pemeriksaan rektum, dan sistoscopy


Memudahkan pelaksanaan proses persalinan, operasi ambeien, pemasangan alat

intra uterine devices (IUD), dan lain-lain.


Indikasi
1) Pada pemeriksaan genekologis
2) Untuk menegakkan diagnosa atau memberikan pengobatan terhadap penyakit
pada uretra, rektum, vagina dan kandung kemih.

6. Posisi Genu Pectrocal

a. Pengertian
Pada posisi ini pasien menungging dengan kedua kaki di tekuk dan dada menempel
pada bagian alas tempat tidur. Posisi ini dilakukan untuk memeriksa daerah rektum dan
sigmoid.
b. Tujuan
Memudahkan pemeriksaan daerah rektum, sigmoid, dan vagina.
c. Indikasi
1) Pasien hemorrhoid
2) Pemeriksaan dan pengobatan daerah rectum, sigmoid dan vagina.

7. Posisi Orthopnea

a. Pengertian
Posisi pasien duduk dengan menyandarkan kepala pada penampang yang sejajar
dada, seperti pada meja.
b. Tujuan
Memudahkan ekspansi paru untuk pasien dengan kesulitan bernafas yang ekstrim dan
tidak bisa tidur terlentang atau posisi kepala hanya bisa pada elevasi sedang.
c. Indikasi
Pasien dengan sesak berat dan tidak bisa tidur terlentang.

8. Posisi Supinasi

a. Pengertian
Posisi telentang dengan pasien menyandarkan punggungnya agar dasar tubuh sama
dengan kesejajaran berdiri yang baik.
b. Tujuan
Meningkatkan kenyamanan pasien dan memfasilitasi penyembuhan terutama pada
c.

pasien pembedahan atau dalam proses anestesi tertentu.


Indikasi
1) Pasien dengan tindakan post anestesi atau pembedahan tertentu
2) Pasien dengan kondisi sangat lemah atau koma.

9. Posisi pronasi

a. Pengertian
Pasien tidur dalam posisi telungkup Berbaring dengan wajah menghadap ke bantal.
b. Tujuan
1) Memberikan ekstensi maksimal pada sendi lutut dan pinggang
2) Mencegah fleksi dan kontraktur pada pinggang dan lutut.
c. Indikasi
1) Pasien yang menjalani bedah mulut dan kerongkongan
2) Pasien dengan pemeriksaan pada daerah bokong atau punggung.

10. Posisi lateral

a. Pengertian
Posisi miring dimana pasien bersandar kesamping dengan sebagian besar berat tubuh
berada pada pinggul dan bahu.
b. Tujuan
1) Mempertahankan body aligement
2) Mengurangi komplikasi akibat immobilisasi
3) Meningkankan rasa nyaman
4) Mengurangi kemungkinan tekanan yang menetap pada tubuh akibat posisi yang
c.

menetap.
Indikasi
1) Pasien yang ingin beristirahat
2) Pasien yang ingin tidur

3) Pasien yang posisi fowler atau dorsal recumbent dalam posisi lama
4) Penderita yang mengalami kelemahan dan pasca operasi.

D. UPAYA PENCEGAHAN AKIBAT IMMOBILITAS


Beberapa upaya dapat dilakukan pengasuh pasien untuk mencegah timbulnya penyakit
akibat immobilisasi. Bila memungkinkan berkonsultasilah selalu dengan dokter atau perawat.
Hal-hal yang dapat dilakukan olehpengasuh,sebagai berikut
a) Infeksisaluran kemih

Pada keadaan tersebut pasien harus dimotivasi untuk minum cukup banyak cairan.
b)

Sembelit
Mengkonsumsi makanan tinggi serat seperti sayur dan buah, serta minum cukup dapat

membantu mencegah atau paling tidak mengurangi kemungkinan timbulnya masalah


sembelit akibat immobilisasi.
c.) InfeksiParu
Perubahan posisi dan tepuk-tepuk dada atau punggung secara teratur dapat membantu
memindahkan sputum tersebut sehingga mudah dikeluarkan.
d.) Masalah Sirkulasi atau Aliran Darah.
Diperlukan fisioterapi dan mungkin kaos kaki khusus.
e.) Luka Tekan
Untuk mencegah terjadinya luka tekan ini pasien yang mengalami immobilisasi harus
diubah- ubahposisinya(miringkanan-kiri)sekitarsetiapduajam.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Mobilitas dalam kamus kedokteran dapat di artikan sebagai daya gerak. Atau suatu
kondisi dimana tubuh dapat melakukan tindak bergerak dengan bebas (Kasier, 1989).

Mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak bebas, mudah, teratur,


mempunyai tujuan memenuhi kebutuhan hidup sehat, dan penting untuk kemandirian
(Barbara Kozier, 1995). Sebaliknya keadaan imobilisasi adalah suatu pembatasan gerak atau
keterbatasan fisik dari anggota badan dan tubuh itu sendiri dalam berputar, duduk dan
berjalan, hal ini salah satunya disebabkan oleh berada pada posisi tetap dengan gravitasi
berkurang seperti saat duduk atau berbaring (Susan J. Garrison, 2004)
Posturing / mengatur dan merubah posisi adalah mengatur pasien dalam posisi yang baik dan
mengubah secara teratur dan sistematik. Hal ini merupakan salah satu aspek keperawatan
yang penting. Posisi tubuh apapun baik atau tidak akan mengganggu apabila dilakukan dalam
waktu yang lama. (potter dan perry,2005)
Tujuan merubah posisi :
1. Mencegah nyeri otot
2. Mengurangi tekanan
3. Mencegah kerusakan syaraf dan pembuluh darah superficial
4. Mencegah kontraktur otot
5. Mempertahankan tonus otot dan reflek
6. Memudahkan suatu tindakan baik medic maupun keperawatan
Dalam mempertahankan kesejajaran tubuh yang tepat, perwat mengangkat klien dengan
benar, menggunakan teknik posisi yang tepat, dan memindahkan klien dengan aman dari
tempat tidur ke kursi ataundari tempat tidur ke brankar. Prosedur-prosedur itu digambarkakan
dalam bagian ini sebagai prinsip mekanika tubuh untuk menjada atau memperbaiki
kesejajaran tubuh.

DAFTAR PUSTAKA
Potter & Perry.2005.Fundamental Keperawatan,Jakarta.PenerbitBuku Kedokteran EGC.
Retna Ambarwati Eny, S.Si.Ti,dkk.2009.KDPK Kebidanan.Jogjakarta.Numed
Alimul Hidayat, A. Aziz dan Uliyah, Musrifatul. 2004. Buku Saku Praktikum Kebutuhan
Dasar Manusia. Jakarta : EGC.