Anda di halaman 1dari 9

EVALUASI FAKTOR LINGKUNGAN KERJA FISIK DAN K3 DENGAN

ERGONOMIC ASSESSMENT PADA PEMBUATAN WATERWALL PANEL


(Studi Kasus : PT.Alstom Power ESI)
Larasati Meyta Devi dan Ir. Sritomo Wignjosoebroto, M.Sc.
Jurusan Teknik Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya
Kampus ITS Sukolilo Surabaya 60111
Email: larasati.meyta@gmail.com ; m_sritomo@ie.its.ac.id

ABSTRAK
Salah satu komponen boiler yang diproduksi oleh PT.Alstom adalah waterwall panel atau dinding
boiler. Pada kondisi eksisting, output aktual waterwall panel tidak mencapai target sehingga
perusahaan mengambil kebijakan untuk meningkatkan intensitas kerja operator. Peningkatan
intensitas kerja berarti peningkatan resiko bahaya sehingga perlu dilakukan evaluasi untuk
mengetahui kemampuan operator dalam mencapai target output. Evaluasi yang dilakukan adalah
ergonomic assesment terhadap faktor lingkungan fisik kerja dan K3, yaitu risk analysis, beban
kerja fisik, beban kerja mental, postur kerja, dan keluhan kerja. Berdasarkan hasil ergonomic
assessment, diketahui bahwa sebagian besar operator tidak mampu mencapai target output.
Rekomendasi perbaikan yang diberikan berupa waktu istirahat selama 5.2 menit setelah
melakukan pekerjaan selama 19.23 menit dan perubahan jumlah shift dari 2 shift menjadi 3 shift
per hari. Hasil worksampling menunjukkan bahwa operator lebih banyak bekerja daripada idle.
Kata kunci : Ergonomic Assessment, Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Waterwall Panel,
Worksampling
ABSTRACT
One of boilers components in which PT.Alstom produces is waterwall panel. In the existing
condition, waterwall panels output target cant be achieved hence the company adopted a policy
to increase the work intensities of workers. Increasing work intensities equal to increasing risk of
danger at the workplace hence an evaluation should be conducted in order to measure workers
capability. Ergonomic assessment is conducted toward physical work environment and health-work
safety factors, while worksampling is conducted in order to determine the workers idle time. Risk
assessment, energy consumption, quick exposure cheklist, NASA TLX, dan nordic body map are
used to evaluate the factors above. Afterward, score from each methods is integrated using centroid
method in order to determine workers final category.
Based on the results of ergonomic assessment, it is known that most of workers are not able to
achieve the target output. Improvement recommendations are given in the form of resting time for
5.3 minutes after done a half of cycle time and the number of shifts from 2 shifts to 3 shifts each
day. Based on the result of worksampling, it is showed that the workers work more than idle..
Keywords: Ergonomic Assessment, Health and Work Safety, Waterwall Panel, Worksampling

1.

Pendahuluan
Produktivitas
merupakan
besarnya
kemampuan proses yang dimiliki perusahaan
untuk mengubah input menjadi output. Input
dapat berupa raw material, sumber energi, dan
pekerja/operator sedangkan output dapat berupa
produk atau jasa. Operator yang melakukan
kerja berlebihan akan mengakibatkan penurunan
kinerja yang berimbas pada penurunan
produktivitas. PT. Alstom memproduksi
komponen boiler pembangkit energi seperti
waterwall panel, header, dan element.
Permasalahan yang ada yaitu waterwall panel

tidak mampu mencapai output sesuai target.


Maka dari itu perusahaan berupaya untuk
mencapai target dengan meningkatkan intensitas
kerja operator. Dengan peningkatan intensitas
kerja berarti durasi operator terpapar bahaya di
area kerja juga makin besar. Setelah
membandingkan peningkatan intensitas kerja,
target output yang dicapai, dan resiko bahaya
yang ada, maka perlu dilakukan evaluasi yang
berkaitan dengan aspek ergonomi. Evaluasi
yang dilakukan adalah ergonomic assessment,
yaitu evaluasi terhadap faktor-faktor yang telah
dijadikan parameter, dimana parameter tersebut

disesuaikan dengan standar yang ada dan


dibandingkan dengan kondisi di lapangan
sehingga akan muncul gap yang menjadi acuan
rancangan perbaikan untuk menghasilkan
kondisi yang lebih baik.
2.

Metodologi Penelitian
Tahap ergonomic assessment ini diawali
dengan
tahap
pendahuluan,
yaitu
mengidentifikasi
dan
merumuskan
permasalahan dalam fabrikasi waterwall panel,
serta menetapkan tujuan penelitian. Studi
literatur dan studi lapangan dilakukan untuk
mendapatkan gambaran mengenai permasalahan
yang ada.
Tahap kedua adalah pengumpulan data
primer dan data sekunder yang mendukung
penelitian. Data primer yang diambil antara lain
lingkungan kerja, postur kerja, keluhan kerja,
dan denyut jantung operator. Data sekunder
yang diambil antara lain deskripsi perusahaan,
resiko bahaya kerja, dan job desciption operator.
Data-data yang diperoleh kemudian diolah
untuk mendapatkan peta bahaya kerja, nilai
konsumsi energi, beban kerja mental, skor QEC,
skor nordic body map, skor lingkungan fisik,
dan worksampling. Skor yang didapatkan dari
tiap faktor diintegrasikan dengan centroid
method untuk mengetahui kategori akhir
operator.
Interface
skoring
ergonomic
assessment juga dibuat untuk memudahkan
pengategorian operator. Selanjutnya dibuat
rekomendasi
perbaikan
dengan
tujuan
meningkatkan performansi operator agar target
output dapat tercapai.
Tahap
analisa
dilakukan
untuk
menguraikan hasil yang diperoleh dari tahap
sebelumnya. Hasil dari analisa kemudian
dimasukkan dalam simpulan penelitian dan
saran untuk penelitian lanjutan.
Hasil dan Pembahasan
PT.ALSTOM Power ESI merupakan
merupakan joint venture dengan PT.PAL dan
PT.Barata Indonesia. PT ALSTOM Power ESI
mempunyai kapabilitas di bidang pembangkitan
energi, meliputi produksi dan penjualan
komponen-komponen pembangkit energi serta
pelayanan jasa perawatannya. Visi dari
PT.Alstom Power ESI adalah Menjadi
organisasi yang menjadi pilihan, terbaik, dan
bermutu
kelas
dunia,
dengan
selalu
berkomitmen pada kinerja dan perbaikan yang
berkesinambungan, serta peduli pada komunitas,
lingkungan, dan karyawan. Misi dari

PT.Alstom Power Esi adalah Mempertahankan


keuntungan yang langgeng melalui keandalan
operasional yang baik dan pertumbuhan bisnis
yang maksimal.
3.1 Proses Kerja
Proses kerja pada penelitian ini dibatasi
pada proses kerja subpanel 1, subpanel 2, dan
subpanel 3. Berikut merupakan operation
process chart dari pembuatan waterwall panel :

3.

Gambar 3.1 OPC Waterwall Panel

3.2 Risk Analysis

Risk
analysis
dilakukan
untuk
mengidentifikasi dan menganalisa resiko yang
mungkin muncul dalam suatu pekerjaan. Tahap
pertama yang dilakukan adalah identifikasi
bahaya yang ada, tahap kedua adalah
menentukan seberapa parah bahaya yang terjadi
dan seberapa sering bahaya tersebut terjadi,
tahap ketiga adalah memetakan bahaya yang

ada. Hasil risk analysis panel welding area


adalah sebagai berikut :
Tabel 3.1 Kelompok Bahaya

Jenis Bahaya
RAC
kebisingan
2
Bahaya fisik panas
2
tersengat listrik
4
debu flux
2
Bahaya kimia
serpihan gram
3
tergelincir roll
3
terpercik api gerinda
4
Bahaya mekanis
terjepit panel dengan roll
3
conveyor
sakit pada bagian tubuh
Bahaya ergonomi
2
tertentu

Kategori Bahaya
High/serious danger
High/serious danger
Low/minor danger
High/serious danger
Medium/moderate danger
Medium/moderate danger
Low/minor danger

Mengancam
Mengancam
Sedang
Mengancam
Sedang
Sedang
Sedang

Medium/moderate danger Sedang


High/serious danger Mengancam

3.3 Konsumsi Energi


Untuk menentukan besarnya konsumsi
energi yang diperlukan oleh operator dalam
melakukan pekerjaan, digunakan persamaan
berikut :
Y = 0.014 HR + 0.017 BB + 1.706...(1)
Dimana Y = Konsumsi oksigen (liter/menit)
HR = Denyut Jantung (denyut/menit)
BB = Berat badan (kg)
Sehingga didapatkan rekap perhitungan
konsumsi energi dan kategori operator sebagai
berikut :
Tabel 3.2 Kategori Beban Kerja
Skor

Kategori
Beban Kerja

Konsumsi
Oksigen
(L/menit)

Denyut
jantung
(denyut/menit)

1
2
3
4
5

Ringan
Sedang
Berat
Sangat Berat
Ekstrim

0.5-1.0
1.1-1.5
1.6-2.0
2.1-2.5
2.6-4.0

75-100
101-125
125-150
150-175
>175

3.4 Nordic Body Map


Nordic body map merupakan kuesioner
yang digunakan untuk mengetahui bagian tubuh
operator yang sakit saat melakukan proses kerja.
Bagian tubuh yang memiliki skor tertinggi akan
diolah dengan standardize nordic questionaire
untuk mengetahui lama waktu keluhan,
konsekuensi, serta lama waktu kerja hilang.

Tabel 3.3 Rekap Nordic Body Map


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27

Lokas i tubuh
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit

pada
pada
pada
pada
pada
pada
pada
pada
pada
pada
pada
pada
pada
pada
pada
pada
pada
pada
pada
pada
pada
pada
pada
pada
pada
pada
pada

leher
bahu kiri
bahu kanan
lengan atas kiri
punggung
lengan atas kanan
pinggang
pinggul
pantat
siku kiri
siku kanan
lengan bawah kiri
lengan bawah kanan
pergelangan tangan kiri
pergelangan tangan kanan
tangan kiri
tangan kanan
paha kiri
paha kanan
lutut kiri
lutut kanan
betis kiri
betis kanan
pergelangan kaki kiri
pergelangan kaki kanan
kaki kiri
kaki kanan

Total

Rata-rata

10
17
16
16
22
24
25
29
24
20
18
16
14
14
15
15
15
16
16
17
18
22
26
25
24
26
28

1
1
1
1
2
1
2
2
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
2
2
2
2
2

Tabel 3.4 Rekap Standardize Nordic Questionnaire


Waktu Kerja
Lama Waktu
Operator
Konsekuensi
Sakit
Hilang
SP 1
5
3
2
SP 1
1
1
1
SP 1
4
3
2
SP 2
2
2
1
SP 2
4
2
1
SP 3
3
2
2
SP 3
5
2
2

3.5 Quick Exposure Checklist


Perhitungan postur tubuh merupakan suatu
cara untuk mengetahui segmen tubuh yang perlu
mendapat perhatian khusus dan perlu mendapat
perbaikan. Pada penelitian ini, perhitungan
postur tubuh dilakukan dengan menggunakan
metode Quick Exposure Checklist dan software
QEC 2003, dimana metode ini menganalisa 4
segmen tubuh yang berpengaruh terhadap
operator, yaitu punggung, bahu, pergelangan
tangan, dan leher. Penilaian dilakukan oleh
observer (leader group/foreman) dan worker
(operator) untuk meminimalisasi subjektivitas.
Berikut hasil perhitungan postur kerja operator
panel welding :

Operator QEC Skor


SP 1
128
SP 1
66
SP 1
104
SP 2
128
SP 2
128
SP 3
112
SP 3
118

Scale Skor Risk Level


7+
4
3-4
2
5-6
3
7+
4
7+
4
5-6
3
7+
4

Action
Investigate and change immediately
Investigate further
Investigate further and change soon
Investigate and change immediately
Investigate and change immediately
Investigate further and change soon
Investigate and change immediately

3.6 NASA Task Load Index


Pengolahan beban kerja mental dilakukan
untuk mengetahui pengaruh mental terhadap
kebutuhan yang menjadi prioritas operator dan
mempengaruhi performa operator saat bekerja.
Perhitungan beban kerja mental ini dilakukan
dengan metode NASA Task Load Index (NASA
TLX). Metode ini terdiri dari dua tahap, yang
pertama adalah perbandingan berpasangan dan
yang kedua adalah pemberian bobot. Berikut
adalah contoh perhitungan beban kerja mental
operator panel welding :

Setelah dilakukan perhitungan per operator,


selanjutnya adalah menghitung rata-rata rating
scale dari ketujuh operator. Rata-rata rating
scale didapatkan dari menjumlahkan nilai total
product deskriptor kemudian dibagi dengan
jumlah operator. Berikut merupakan rekapan
hasil perhitungan rating scale :
Tabel 3.9 Rekap Perhitungan Rating Scale
Tingkat Kebutuhan Total Product Rata-rata
Kebutuhan fisik
2391
341.5714
Kebutuhan mental
830
118.5714
Kebutuhan waktu
1350
192.8571
Performansi
1180
168.5714
Usaha
2158
308.2857
Tingkat stres
1070
152.8571
Diagram Perbandingan Tingkat
Kebutuhan
350
300
250
Score

Tabel 3.5 Rekap Skor dan Action

200
150

Tabel 3.6 Pairwise Comparison

100

Pilih dari setiap pasangan yang menurut anda


paling signifikan dalam mempengaruhi beban
kerja

1
1
1
1

1
1
1
1
1
1

KF
KW
P
U
TS
KW
P
U
TS
P
U
TS
U
TS
U

KM
KM
KM
KM
KM
KF
KF
KF
KF
KW
KW
KW
P
P
TS

rendah
rendah
rendah
buruk
rendah
rendah

Kebutuhan
mental

Kebutuhan Performansi
waktu

Usaha

Tingkat stres

Tingkat Kebutuhan

Gambar 3.2 Perbandingan Tingkat Kebutuhan


1
1

2
1
2
1
4
5

Tabel 3.8 Pembobotan (Rating Scale)


Tingkatan kebutuhan
Kebutuhan fisik
tinggi
Kebutuhan mental
tinggi
Kebutuhan waktu
tinggi
Performansi
excelence
Usaha
tinggi
Tingkat stres
tinggi

Kebutuhan
fisik

Tabel 3.7 Rekap Tally Pairwise Comparison


Tally of importance selection
Kebutuhan fisik
(KF)
Kebutuhan mental
(KM)
Kebutuhan waktu
(KW)
Performansi
(P)
Usaha
(U)
Tingkat stres
(TS)

50

Rating Weight Product


70
2
140
50
1
50
70
2
140
95
1
95
80
4
320
80
5
400
Sum
1145
Weight (total)
15
Mean WWL Score 76.33333

3.7 Lingkungan Kerja Fisik


Aspek lingkungan fisik kerja di bay 2.1
memungkinkan terjadinya keluhan dari operator.
Untuk mengetahui apakah lingkungan fisik kerja
menimbulkan gangguan terhadap operator maka
dilakukan penyebaran kuesioner mengenai
faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan
kerja. Berikut merupakan rekap kuesioner yang
diambil :
Tabel 3.10 Rekap Skor Lingkungan Kerja Fisik

Operator
RataSP 1 SP 1 SP 1 SP 2 SP 2 SP 3 SP 3 Rata
1 Temperatur
4
4
5
5
4
4
5
4
2 Pencahayaan 2
2
3
5
2
2
5
3
3 Kebisingan
5
4
3
3
4
2
5
4
4 Sirkulasi udara 4
3
3
4
4
3
4
4
5 Getaran
2
2
3
2
2
2
1
2
Rata-rata
3
3
3
4
3
3
4
Dari hasil rekap data diketahui bahwa sebagian
besar operator merasa terganggu dengan kondisi
lingkungan fisik kerja. Rata-rata yang
didapatkan akan dijadikan salah satu elemen
skoring assesssment dan dasar dibuatnya saran
perbaikan.
No

Atribut

3.8 Skoring Ergonomic Assessment


Berdasar pengolahan data yang telah
dilakukan pada subbab sebelumnya, maka skor
awal ergonomic assessment adalah sebagai
berikut :
Tabel 3.11 Rekap Skor Awal untuk Ergonomic
Assessment
Operator

QEC

SP 1
SP 1
SP 1
SP 2
SP 2
SP3
SP 3

4
2
3
4
4
3
4

Konsumsi
Energi
2
2
2
4
4
3
3

Lingkungan
Fisik
3
3
3
4
3
3
4

Nordic
Body Map
5
1
4
2
4
3
5

3.8.1 Pembobotan Skor


Tahapan pembobotan skor dilakukan untuk
mengetahui faktor apa yang paling penting dari
keempat faktor yang dijadikan dasar skoring.
Perhitungan
pembobotan
menggunakan
software expert choice, dimana terlebih dahulu
kuesioner pembobotan diisi oleh expert yang
ditunjuk oleh perusahaan.

Gambar 3.3 Pairwise Comparison

Gambar 3.4 Pembobotan Kriteria


Tabel 3.12 Rekap Bobot Faktor
Faktor
Quick exposure check list
Konsumsi energi
Lingkungan fisik
Nordic body map

Bobot
0.129
0.549
0.248
0.074

Tabel 3.13 Pengategorian Batas Awal


Kategori

QEC

Skor minimal
Batas sangat mampu dengan mampu
Batas mampu dengan kurang mampu
Batas kursng mampu dengan sangat kurang
Skor maksimal

1
1
2
3
4

Konsumsi Lingkungan Nordic


Energi
Fisik Body Map
1
1
1
2
2
2
3
3
3
4
4
4
5
5
5

Tabel 3.14 Nilai Centroid Batas


Kategori
Skor minimal
Batas sangat mampu dengan mampu
Batas mampu dengan kurang mampu
Batas kursng mampu dengan sangat kurang
Skor maksimal
Bobot

Nilai Normalisasi
Nilai
Konsumsi Lingkungan Nordic
Centroid
Energi
Fisik Body Map
0
0
0
0
0.25
0.25
0.25 0.21775
0.5
0.5
0.5
0.4785
0.75
0.75
0.75 0.73925
1
1
1
1
0.549
0.248
0.074

QEC
0
0
0.33
0.67
1
0.129

Berdasarkan perhitungan dan tabel diatas,


maka batasan kategori akhir adalah sebagai
berikut :
1. Kategori sangat mampu (SM) : batas nilai
centroid 0 - 0.21.
2. Kategori mampu (M) : batas nilai centroid
0.22 0.47.
3. Kategori kurang mampu (KM) : batas nilai
centroid 0.48 0.73.
4. Kategori sangat kurang (SK) : batas nilai
centroid 0.74 1.
3.8.3 Pembuatan Alat Bantu Hitung Skoring
Alat bantu hitung skoring dibuat untuk
memudahkan assessor dalam melakukan
assessment di kemudian hari. Assessor cukup
memasukkan nama, departemen, skor awal, dan
bobot tiap faktor. Setelah memasukkan input
selanjutnya akan langsung didapat nilai
normalisasi, nilai centroid assessment, dan
kategori.
Normalisasi
nilai
dilakukan
untuk
menyamakan batas atas dan batas bawah faktor
skoring yang berbeda. Nilai centroid didapat
dari perhitungan dengan menggunakan rumus :
 
  ..(2)


3.8.2 Pengategorian Skor


Pada penelitian ini, digunakan 4 jenis
kategori, yaitu sangat mampu (SM), mampu
(M), kurang mampu (KM). dan sangat kurang
(SK). Batas kategori awal dijelaskan dalam tabel
berikut :

Gambar 4.16 Proporsi Working-Not Working


Operator SP 2

Gambar 3.5 Tampilan Alat Bantu Hitung Skoring

Berikut merupakan rekapan skoring akhir


ketujuh operator :
Tabel 3.15 Kategori Akhir Operator
Operator
SP 1
SP 1
SP 1
SP 2
SP 2
SP 3
SP 3

Nilai Centroid
0.47
0.31
0.41
0.75
0.73
0.53
0.67

Kategori
Mampu (M)
Mampu (M)
Mampu (M)
Sangat Kurang (SK)
Kurang Mampu (KM)
Kurang Mampu (KM)
Kurang Mampu (KM)

3.9 Worksampling
Metode worksampling dilakukan untuk
mengukur ratio delay dari operator sub panel.
Elemen
kerja
operator
secara
umum
diklasifikasikan menjadi elemen not working
dan elemen working. Elemen not working
adalah kondisi dimana operator tidak bekerja
atau tidak produktif (personal time, waiting,
fatigue, not available). Elemen working adalah
kondisi ketika operator mengerjakan tugas
sesuai job description masing-masing (pre heat,
cek temperatur, welding, record output).
Didapatkan hasil prosentasi working-not
working operator sebagai berikut :

Gambar 4.15 Proporsi Working-Not Working


Operator SP 1

Gambar 4.17 Proporsi Working-Not Working


Operator SP 3

3.10 Rekomendasi Perbaikan


Rekomendasi yang diberikan ditinjau dari
faktor yang memiliki bobot tertinggi, yaitu
konsumsi energi dan lingkungan fisik serta
dilihat dari hasil NASA-TLX dimana kebutuhan
fisik memiliki pengaruh terbesar terhadap
mental operator.
3.10.1 Perbaikan Waktu Istirahat
Tarwaka (2006) menyatakan bahwa
beban kerja dapat digolongkan berdasar
konsumsi energi dan denyut jantung.
Berdasarkan data yang didapat, denyut jantung
rata-rata operator pagi sebesar 109.7 (masuk
kategori sedang) dan siang sebesar 132 (masuk
kategori berat). Pada kondisi ini, sebaiknya
operator diberi waktu istirahat bertahap agar
tidak terjadi kelelahan dan penurunan
konsentrasi. Waktu istirahat dihitung dengan
rumus berikut (Wignjosoebroto, 2008) :
25
. 3
T
K 5
R

TK S
4
K 1.5

Dimana
T = Total waktu yang digunakan untuk bekerja
(menit)
K = Rata-rata konsumsi energi untuk bekerja
(kcal/mnt)
R = Waktu istirahat yang disarankan (menit)
S = Standar beban kerja normal (kcal/mnt)
Sehingga perhitungan waktu kerja dan waktu
istirahat adalah sebagai berikut :
T

25
25

 19.23 menit
6.3 5
K 5

R

TK S
19.23 6.3 5

 5.2 menit
K 1.5
6.3 1.5

Berdasarkan hasil perhitungan diatas dapat


dilihat bahwa waktu istirahat yang disarankan
oleh operator adalah 5.2 menit setelah operator
melakukan pekerjaan selama 19.23 menit.
Waktu kerja tersebut masih setengah siklus dari
1 siklus kerja yang membutuhkan waktu sekitar
35-45 menit.
3.10.2 Perbaikan Perubahan Shift
Pada keadaan awal terdapat 2 shift
dimana masing-masing shift berdurasi 12 jam
selama 6 hari kerja. Hal tersebut berarti operator
bekerja diatas 8 jam yang memungkinkan untuk
terjadi kelelahan dan turunnya konsentrasi.
Rekomendasi perbaikan kedua yang diberikan
adalah merubah 2 shift per hari dengan 12 jam
kerja menjadi 3 shift per hari dengan 8 jam
kerja. Dengan menerapkan 2 shift per hari maka
perusahaan mengeluarkan biaya lembur sesuai
kebijakan perusahaan yang jumlahnya bisa
sangat besar tiap bulannya. Apabila menerapkan
2 shift, perusahaan mengeluarkan 22.78 kali gaji
pokok untuk biaya lembur, sedangkan apabila
menerapkan 3 shift, perusahaan hanya
mengeluarkan 8.23 kali gaji pokok untuk biaya
lembur.
3.11 Analisa Faktor Skoring Ergonomic
Assessment
Berdasar perhitungan konsumsi energi,
operator SP 2 masuk dalam kategori sangat
berat (skor 4), operator SP 3 masuk dalam
kategori berat (skor 3), dan operator SP 1 masuk
dalam kategori sedang (skor 2). Faktor
lingkungan fisik seperti temperatur dan
kebisingan mempengaruhi kinerja operator.
Suhu pada panel welding area mencapai 50C
saat ketiga mesin menyala sedangkan suhu
optimum
untuk
bekerja
menurut
Wignjosoebroto (2008) adalah 24C.
Kebisingan pada panel welding area mencapai
94 dBA saat ketiga mesin menyala sedangkan
batas bising yang dianjurkan adalah 85 dBA
untuk pekerjaan selama 8 jam.
Berdasarkan hasil nordic body map,
didapatkan bahwa 10 bagian tubuh yang sakit
saat bekerja antara lain punggung, pinggang,
pinggul, pantat, betis kiri dan kanan,
pergelangan kaki kiri dan kanan, serta kaki kiri
dan kanan. Keluhan pada bagian tersebut
disebabkan oleh posisi kerja yang sering
membungkuk dan duduk dalam waktu lama.

Meski mengeluh sakit, namun rata-rata operator


berada pada skala 2 atau agak sakit. Hal ini
dikarenakan operator sudah terbiasa dengan
posisi kerja serta mengabaikan nyeri yang
dirasakan.
Berdasarkan hasil kuesioner lingkungan
kerja fisik yang ada di panel welding area,
diketahui bahwa sebagian besar operator merasa
agak terganggu dengan lingkungan kerja yang
ada. Hasil tersebut dilihat dari 5 faktor
lingkungan fisik yaitu temperatur, pencahayaan,
kebisingan, sirkulasi udara, dan getaran. Apabila
dikaitkan dengan hasil risk assessment,
temperatur dan kebisingan menempati bahaya
dengan
kategori
high/serious
danger.
Kebisingan berakibat sulit berkomunikasi,
berkurangnya performansi kerja, dan gangguan
pendengaran permanen. Temperatur berakibat
berkurangnya konsentrasi, dehidrasi, dan heat
strokes. Oleh karena itu, faktor lingkungan fisik
perlu menjadi salah satu dasar dibuatnya
rekomendasi perbaikan, sehingga resiko
operator terpapar bahaya tersebut dapat
dikurangi.
3.12 Analisa Worksampling
penelitian
ini,
worksampling
Pada
bertujuan untuk mengetahui apakah operator
lebih banyak bekerja atau menganggur dalam
kaitannya dengan target output yang belum
tercapai. Dari perhitungan proporsi working dan
not working diketahui untuk working mesin SP
1 sebesar 80.66%, mesin SP 2 sebesar 77.17%,
dan mesin SP 3 sebesar 75.93%. Dapat
disimpulkan bahwa operator lebih banyak
bekerja daripada menganggur sehingga tidak
tercapainya target bukan dikarenakan oleh
lamanya operator menganggur.
3.13 Analisa Rekomendasi Perbaikan
Rekomendasi perbaikan yang diberikan
didasarkan pada 2 faktor assessment yang
memiliki bobot tertinggi. Bobot faktor tertinggi
adalah beban kerja fisik (konsumsi energi) dan
lingkungan fisik kerja. Perbaikan beban kerja
fisik dilakukan dengan perhitungan waktu
istirahat
operator.
Setelah
dilakukan
perhitungan,
waktu
istirahat
yang
direkomendasikan kepada operator adalah 5.2
menit setelah melakukan pekerjaan selama
19.23 menit. Penggunaan waktu istirahat bisa
dilakukan dengan bertukar pekerjaan atau
switching antar operator yang bertugas. Keadaan
sebenarnya yang ada di lapangan, operator

beristirahat selama 1 jam, 30 menit, dan 30


menit. Oleh karena itu dengan adanya
rekomendasi waktu istirahat diharapkan
operator merasa lebih nyaman saat bekerja
sehingga target output dapat tercapai.
Rekomendasi kedua yaitu perubahan
jumlah shift kerja dari 2 shift dengan 12 jam
kerja menjadi 3 shift dengan 8 jam kerja.
Rekomendasi ini berdasar pada lingkungan fisik
dimana lamanya operator berada dalam
lingkungan yang panas dan bising. Dari
perhitungan dapat dilihat bahwa perusahaan
dapat menghemat pengeluaran lembur sampai
14.5516 gaji pokok setiap bulannya. Selain itu,
dengan dijalankannya 3 shift berarti lamanya
operator terpapar panas dan bising juga
berkurang menjadi 8 jam per hari, dimana
rentang tersebut adalah jumlah waktu ideal
untuk bekerja.
4.

Kesimpulan
Berdasarkan
hasil
pengumpulan,
pengolahan, analisis, dan interpretasi data yang
telah dilakukan maka dapat disimpulkan sebagai
berikut :
1. Peningkatan intensitas kerja yang ada
membuat
kinerja
operator
menurun
sehingga operator belum mampu mencapai
output yang ditargetkan.
2. Berdasarkan hasil ergonomic assessment
untuk faktor keselamatan kerja, diketahui
bahwa bahaya yang masuk kategori
high/serious danger adalah kebisingan,
panas, debu flux, dan sakit pada bagian
tubuh tertentu. Bahaya yang masuk kategori
medium/moderate danger antara lain
serpihan gram, tergelincir roll, dan terjepit
panel dengan roll conveyor. Sedangkan
bahaya yang masuk kategori low/minor
adalah tersengat listrik dan terpercik api
gerinda.
3. Berdasar hasil ergonomic assessment faktor
kesehatan kerja yaitu beban kerja fisik,
postur kerja, keluhan kerja, dan lingkungan
kerja didapatkan bahwa operator SP 2
masuk dalam kategori sangat kurang serta
operator SP 3 masuk dalam kategori kurang
mampu.
4. Rekomendasi perbaikan dibuat berdasarkan
2 faktor keselamatan kerja yang dianggap
paling penting, yaitu beban kerja fisik dan
lingkungan kerja fisik. Untuk beban kerja
fisik,
perbaikan
dilakukan
dengan
perhitungan waktu istirahat dan didapat

waktu istirahat 5.2 menit setiap melakukan


pekerjaan selama 19.23 menit.
5. Rekomendasi perbaikan terkait lingkungan
kerja yaitu merubah jumlah shift kerja dari 2
shift dengan 12 jam kerja menjadi 3 shift
dengan 8 jam kerja. Dengan perubahan
tersebut berarti lamanya operator terpapar
bahaya panas dan bising juga berkurang.
Selain itu, dengan 3 shift kerja perusahaan
dapat mengurangi biaya lembur yang
dikeluarkan.
5.

Daftar Pustaka
Ashfal, Ray C. (1999). Industrial Safety and
Health Management 4th Edition. New
Jersey : Prentice Hall
Buchholz, B. (1996) PATH : A Worksamplingbased Approach to Ergonomic Job
Analysis for Construction and Other
Non-repetitive Work. UK : Applied
Ergonomics Vol 27 : 177-187
Canadian Centre of OSH. (2008) Heat
Exposure and Effects <URL :
last
accesed
8
www.ccohs.ca>
November 2010 pukul 20.48
David, G., Woods,V., Guangyan Li, Bukle, P.
(2007). The Development of The Quick
Exposure Checklist (QEC) for Assesing
Exposure to Risk Factors for WorkRelated Musculoskeletal Disorders. UK :
Applied Ergonomics Vol 39 : 57-69
Dewayana, T., Hetharia, D., Lanni (2007).
Perbaikan Kondisi Lingkungan Kerja
untuk
Menigkatkan
Produktivitas.
Prosiding Seminar Nasional Ergonomi
dan K3 2007; Semarang, 15-16
November 2007
Guangyan Li, Bukle, P. (2005). QEC for
Assessment
of
Work-Related
Musculoskeletal Disorders (WMSDs),
Handbook of Human Factors and
Ergonomics Methods. CRC Press LLC
Hammer, Willie (1989). Occupational Safety
Management and Engineering 4th
Edition. New Jersey : Prentice-Hall Inc.
Hart, S., Staveland, L. (1988). Development of
NASA-TLX
(Task
Load
Index).
California : San Jose State University
Hertanti, N.N., Indriastadi, H. (2007). Evaluasi
Persamaan Penentuan Pengeluaran
Energi bagi Wanita pada Aktivitas
Penanganan Material Secara Manual.
Prosiding Seminar Nasional Ergonomi
dan K3 2007; Semarang, 15-16
November 2007

Kaewbooncho, Yamamoto, H. (1998). The


Standardize
Nordic
Questionnaire
Applied to Workers Exposed to HandArm Vibration. Journal of Occupational
Health Vol 40 : 218-222
Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia
Nomor
1405/Menkes/SK/XI/2002
tentang
Persyaratan Kesehatan Lingkungan
Kerja Perkantoran dan Industri
Laksmiwati, P.(2008). Penerapan Ergonomi
dan Keselamatan Kesehatan Kerja untuk
Desain Stasiun Kerja dan Perilaku
Pekerja. Tugas Akhir Jurusan Teknik
Industri ITS, Surabaya
Mukhlisani, N. (2008). Pendekatan Metode
Structural Equation Modelling untuk
Analisa Faktor yang Mempengaruhi
Produktivitas
dari
Tinjauan
Keselamatan,
Kesehatan,
dan
Lingkungan
Kerja
di
PT.Barata
Indonesia Persero Gresik. Laporan
Thesis Teknik Industri ITS, Surabaya

Equipment I PT.Otsuka Indonesia,


Lawang. Prosiding Seminar Nasional
Ergonomi dan K3 2006; Surabaya, 29
Juli 2006
Susanto, R. (2008). Analisis Konsep Ergonomi
Total pada Perancangan Sistem Kerja
dalam Usaha Peningkatan Produktivitas
Perusahaan (Studi Kasus : PT.Barata
Indonesia Persero). Tugas Akhir Jurusan
Teknik Industri ITS, Surabaya
Tarwaka, et. al. (2004). Ergonomi untuk
Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan
Produktivitas. Surakarta : Uniba Press
Tirtayasa, K., et. al. (2003). The Change of
Working Posture in Manggur Decreases
Cardiovascular
Load
and
Musculoskeletal Complains among
Balinese Gamelan Craftsmen. Journal of
Human Ergology Vol 32 : 71-76
Wignjosoebroto, S. (2008). Ergonomi Studi
Gerak dan Waktu. Surabaya : Guna
Widya

Nery, D. (2006). Audit Tool User Guide for The


Meat Industry in South Australia.
Adelaide : SAFER Industries
Purnomo, S. (2009). Perbaikan Sistem Kerja
dengan Pendekatan Workload dan
Human Reliability Assessment (Studi
Kasus : PT.Djitoe Indonesian Tobacco
Coy). Tugas Akhir Jurusan Teknik
Industri ITS, Surabaya
Purwaningrum, N. (2007). Aplikasi Fuzzy Logic
untuk Pengendali Penerangan Ruangan
Berbasis
Mikrokontroller
ATMEGA8535. Skripsi Jurusan teknik
Elektro Universitas Negeri Semarang
Purwaningsih, R., Adi, W., Fitriastuty, E.
(2007). Pengembangan Metode Quick
Exposure Checklist (QEC) untuk Menilai
Postur Operator Departemen Produksi
(Studi Kasus pada Departemen Produksi
Final
Assy
Car
Line
Holden
PT.Semarang Autocomp Manufacturing
Indonesia). Prosiding Seminar Nasional
Ergonomi dan K3 2007; Semarang, 1516 November 2007
Rufaida, W. (2009). Ergonomic Assessment
untuk Meningkatkan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja pada PT.Alstom Power
Energy Systems Indonesia. Tugas Akhir
Jurusan Teknik Industri ITS, Surabaya
Saaty, R.W. (2003). Decision Making in
Complex Environment. Pittsburgh :
Creative Decision Foundation
Sophiana, T. (2006). Pengukuran Standar
Waktu Pengerjaan dan Penentuan
Jumlah Optimal Operator pada Medical