Anda di halaman 1dari 61

Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik Mesin

37
Universitas Sebelas Maret Surakarta

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Memasuki era globalisasi memberikan dampak perubahan pada
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi pada masa sekarang ini sangat berperan penting
dalam pembangunan nasional. Segala sesuatunya menjadi lebih canggih,
lebih mudah, dan lebih cepat. Begitu pula dalam hal pemesinan, perubahan ke
arah zaman serba canggih, menjadikan mesin-mesin dapat diprogram oleh
komputer, dapat melakukan gerakan-gerakan yang kompleks, dan pembuatan
produk yang rumit.
Kegiatan observasi proses produksi merupakan sebuah mata kuliah
pada semester III di Jurusan Pendidikan Teknik Mesin, yang mempelajari
bagaimana mengoperasikan dan mengetahui komponen-komponen pada
mesin bubut, mesin bor, mesin gerinda, mesin coulter dan mesin las listrik.
Selain itu, tidak hanya mempelajari bagaimana mengoperasikan dan
mengetahui komponen-komponennya tetapi juga diharapkan mendapat
pengetahuan dan wawasan yang luas mengenai proses produksi. Hal tersebut
penting karena untuk dapat menghasilkan produk yang bermutu dan
memenuhi standar diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas.

B. Rumusan Masalah
Pada observasi identifikasi mesin perkakas, materi yang dibahas
adalah Mesin Bubut, Mesin bor, Mesin gerinda, Mesin Coulter dan Mesin Las
Listrik.

Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik Mesin

37
Universitas Sebelas Maret Surakarta

C. Tujuan Observasi
Tujuan diadakannya observasi identifikasi mesin perkakas adalah
sebagai berikut:
1. Dapat menerapkan teori dan menganalisa proses kerja dari mesin bubut,
mesin bor, mesin gerinda, mesin coulter, dan mesin las listrik
2. Dapat mengoperasikan dan mengetahui komponen-komponen dari mesin
bubut, mesin bor, mesin gerinda, mesin coulter, dan mesin las listrik
3. Menambah pengetahuan yang bermanfaat mengenai proses produksi
yang meliputi mesin bubut, mesin bor, mesin gerinda, mesin coulter, dan
mesin las listrik.
D. Metode Penulisan
Dalam penyusunan laporan ini, penulis melakukan observasi dan
pengambilan data yang diperlukan untuk menganalisa permasalahan yang
dibahas dalam penulisan laporan ini. Penulis melakukan penyusunan dengan
menggunakan beberapa metode, antara lain :
1. Studi Pustaka
Penulis mengumpulkan teori dan bahan dari buku-buku/ melalui internet
dan perangkat lainnya yang menjadi referensi mengenai permasalahan
yang akan dibahas dalam penulisan
2. Studi Lapangan
Data-data yang berkaitan dalam penulisan diambil langsung di lokasi
pada saat melakukan observasi proses produksi teknik mesin dasar
3. Metode Gabungan
Penulis menggunakan gabungan dari metode studi pustaka dan studi
lapangan dalam penyusunan laporan ini.

BAB II

Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik Mesin

37
Universitas Sebelas Maret Surakarta

LANDASAN TEORI
A. Mesin Bubut
1. Pengertian Mesin Bubut
Mesin Bubut adalah suatu Mesin perkakas yang digunakan untuk
memotong benda yang diputar. Bubut sendiri merupakan suatu proses
pemakanan benda kerja yang sayatannya dilakukan dengan cara memutar
benda kerja kemudian dikenakan pada pahat yang digerakkan secara
translasi sejajar dengan sumbu putar dari benda kerja. Gerakan putar dari
benda kerja disebut gerak potong relatif dan gerakkan translasi dari pahat
disebut gerak umpan. Dengan mengatur perbandingan kecepatan rotasi
benda kerja dan kecepatan translasi pahat maka akan diperoleh berbagai
macam ulir dengan ukuran kisar yang berbeda. Hal ini dapat dilakukan
dengan jalan menukar roda gigi translasi yang menghubungkan poros
spindel dengan poros ulir. Roda gigi penukar disediakan secara khusus
untuk memenuhi keperluan pembuatan ulir. Jumlah gigi pada masingmasing roda gigi penukar bervariasi besarnya mulai dari jumlah 15
sampai dengan jumlah gigi maksimum 127. Roda gigi penukar dengan
jumlah 127 mempunyai kekhususan karena digunakan untuk konversi
dari ulir metrik ke ulir inci.
2. Bagian-Bagian Mesin Bubut
Mesin bubut terdiri dari meja dan kepala tetap. Di dalam kepala
tetap terdapat roda-roda gigi transmisi penukar putaran yang akan
memutar poros spindel. Poros spindel akan menmutar benda kerja
melalui cekal. Eretan utama akan bergerak sepanjang meja sambil
membawa eretan lintang dan eretan atas dan dudukan pahat. Sumber
utama dari semua gerakkan tersebut berasal dari motor listrik untuk
memutar pulley melalui sabuk.

3. Prinsip Kerja Mesin Bubut

Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik Mesin

37
Universitas Sebelas Maret Surakarta

Poros spindel akan memutar benda kerja melalui piringan


pembawa sehingga memutar roda gigi pada poros spindel. Melalui roda
gigi penghubung, putaran akan disampaikan ke roda gigi poros ulir. Oleh
klem berulir, putaran poros ulir tersebut diubah menjadi gerak translasi
pada eretan yang membawa pahat. Akibatnya pada benda kerja akan
terjadi sayatan yang berbentuk ulir.
4. Jenis Pengerjaan pada Mesin Bubut
a) Membubut Lurus
Pada pembuatan memanjang gerak jalan pahat sejajar dengan poros
benda kerja, sedangkan untuk pembubutan yang datar ini pada benda
kerja. Dalam pembubutan yang otomatis pahat dapat digeserkan
maju dan mundur kearah melintang.
b) Membubut Tirus
Dapat dilakukan dengan 3 cara :

Dengan menggeser posisi kepala lepas kearah melintang


Denganmenggeser sekian derajat eretan atas (penjepit pahat)
Dengan memasang perkakas pembentuk.

c) Membubut Eksentris
Bila garis hati dari dua / lebih silinder dari sebuah benda kerja sejajar
maka benda kerja itu di sebut eksentris, jarak antara garis-garis hati
itu disebut eksentrisitas.
d) Membubut alur
Untuk pengerjaan membubut alur di pergunakan pahat bubut
pengalur dan jenisnya ada yang lurus, bengkok, berjenjang ke
kanan / ke kiri.
e) Memotong Benda Kerja
Pemotongan benda kerja berbentuk batang pada mesin bubut
digunakan sebuah pahat pengalur dengan penyayat yang sangat

Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik Mesin

37
Universitas Sebelas Maret Surakarta

ramping, sebuah benda kerja yang di jepit diantara senter-senter


tidak boleh putus karena dapat melentur dan menghimpit pahat.
f) Mengebor pada Mesin Bubut
Pembuatan lubang senter pada mesin bubut ada 2 cara, yakni benda
kerja yang berputar dan senter yang berputar.
g) Membubut Dalam
Untuk membesarkan lubang yang sudah ada dapat digunakan pahat
dalam, caranya tidak jauh berbeda dengan membubut lurus.
Pahatnya punya bentuk tersendiri.
h) Membubut Profil
Untuk membubut pembulatan pahatnya diasah menurut bentuk
profilnya, pahat profil terutama cocok untuk membubut profil pada
produk-produk yang pendek, pada umumnya pahat bubut tidak
terlalu tebal sehingga umur pemakaiannya pendek.
i) Mengkartel
Adalah membuat rigi-rigi pada benda kerja dengan gigi kartel yang
tersedia. Kartel dipasang pada rumah pahat dan kedudukannya harus
setinggi senter. Kerja kartel ini adalah menekan benda kerja bukan
menyayat seperti pahat bubut.
j) Membubut Ulir Sekrup
Untuk membuat ulir sekrap dengan mesin bubut digunakan pahat
khusus yang berbentuk seperti : pahat ulir, segitiga, segi empat,
trapesium, bulat dan jenis khusus lainnya. Untuk memeriksa pahat
ulir,digunakan mal ulir.
B. Mesin Bor
1. Pengertian Mesin Bor

Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik Mesin

37
Universitas Sebelas Maret Surakarta

Mesin bor adalah suatu jenis mesin gerakanya memutarkan alat


pemotong yang arah pemakanan mata bor hanya pada sumbu mesin
tersebut (pengerjaan pelubangan). Sedangkan Pengeboran adalah operasi
menghasilkan lubang berbentuk bulat dalam lembaran-kerja dengan
menggunakan pemotong berputar yang disebut BOR.
2. Bagian-Bagian Mesin Bor
a. Base (Dudukan)
Base ini merupakan penopang dari semua komponen mesin
bor. Base terletak paling bawah menempel pada lantai, biasanya
dibaut.Pemasangannya harus kua tkarena akan mempengaruhi
keakuratan pengeboran akibat dari getaran yang terjadi.
b. Column (Tiang)
Bagian dari mesin bor yang digunakan untuk menyangga
bagian-bagian yang digunakan untuk proses pengeboran. Kolom
berbentuk silinder yang mempunyai alur atau reluntuk jalur gerak
vertical dari meja kerja.
c. Table (Meja)
Bagian yang digunakan untuk meletakkan benda kerja yang
akan di bor. Meja kerja dapat disesuaikan secara vertical untuk
mengakomodasi ketinggian pekerjaan yang berbeda atau bias
berputar ke kiri dan ke kanan dengan sumbu poros pada ujung yang
melekat pada tiang (column). Untuk meja yang berbentuk lingkaran
bias diputar 3600 dengan poros ditengah-tengah meja. Kesemuanya
itu dilengkapi pengunci (table clamp) untuk menjaga agar posisi
meja sesuai dengan yang dibutuhkan. Untuk menjepit benda kerja
agar diam menggunakan ragum yang diletakkan di atasmeja.
d. Drill Chuck (Mata Bor)

Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik Mesin

37
Universitas Sebelas Maret Surakarta

Adalah suatu alat pembuat lubang atau alur yang efisien.


Mata bor yang paling sering digunakan adalah bor spiral, karena
daya hantarnya yang baik, penyaluran serpih (geram) yang baik
karena alur-alurnya yang berbentuk sekrup, sudut-sudut sayat yang
menguntungkan dan bidang potong dapat diasah tanpa mengubah
diameter bor. Bidangbidang potong bor spiral tidak radial tetapi
digeser sehingga membentuk garis-garis singgung pada lingkaran
kecil yang merupakan hati bor.
e. Spindle
Bagian yang menggerakkan chuck atau pencekam, yang
memegang/ mencekam mata bor.
f. Spindle head
Merupakan rumah dari konstruksi spindle yang digerakkan
oleh motor dengan sambungan berupa belt dan diatur oleh drill feed
handle untuk proses pemakananya.
g. Drill Feed Handle
Handel untuk menurunkan atau menekankan spindle dan
mata bor ke benda kerja (memakankan).
h. Table Clamp
Table Clamp digunakan untuk mengunci kedudukan table.

3. Prinsip Pengeboran
Berdasarkan pekerjaan yang dilakukan, maka mesin bor dapat
berfungsi untuk membuat lobang silindris dan bertingkat, membesarkan
lobang, memcemper lobang dan mengetap.Pekerjaan yang banyak

Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik Mesin

37
Universitas Sebelas Maret Surakarta

menuntut ketelitian yang tinggi pada pengeboran adalah pada saat


menempatkan mata bor pada posisi yang tepat di titik senter.
4. Pengerjaan pada Mesin Bor
Untuk Mekanisme Proses pengerjaan pengeboran adalah sebagai berikut:
a. Pemasangan Benda Kerja
1) Jika menggunakan ragum, untuk benda kerja rata dan mendatar
dengan ukuran benda tebalnya lebih pendek dari ukuran tinggi
mulut ragum, dibagian bawah benda kerja ditahan denagan
bantalan yang rata dan sejajar (paralel). Agar ragum tidak turut
bergerak, ragum diikat denagan menggunakan mur baut pada
meja bor.
2) Jika tidak menggunakan ragum, benda kerja diikat pada meja
bor dengan menggunakan dua buah mur baut, dua buah penjepit
bentuk U dengan dua balok penahan yang sesuai.
3) Untuk mengebor logam batang berbentuk bulat, benda kerja
diletakan pada sebuah balok V dan dijepit dengan batang
pengikat khusus, kemudian ditahan dengan menggunakan balok
yang sesuai dan diikat oleh mur baut pada meja mesin bor.
4) Untuk benda kerja yang akan dibor tembus, benda kerja dijepit
dengan menggunakan batang, penjepit khusus, balok penahan
yang sesuai tingginya dan diikat dengan mur baut pengikat agar
tidak merusak ragum.
b. Pemasangan Mata Bor pada chuck
1) Bor dengan tangkai lurus (taper) langsung dimasukan pada
lubang sumbu mesin bor, tidak boleh menggunakan pemegang
bor. Dengan demikian, lubang alur menerima ujung taper dan
lubang taper diimbangi oleh selubang yang distandarisasi
(dinormalisasikan).

Ujung

taper

tidak

digunakan

untuk

memegang tapi untuk mempermudah dilepas dari selumbung


dengan menggunakan soket. Sebelum melepas bor, sepotong

Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik Mesin

37
Universitas Sebelas Maret Surakarta

kayu harus diletakan dibawahnya, sehingga mata bor tidak akan


rusak pada saat jatuh.
2) Bor dengan tangkai selinder diguanakan Pemegang bor
berkonsentrasi sendiri dengan dua atau tiga rahang. Bor harus
dimasukan sedalam mungkin sehinggan tidak selip pada saat
berputar. Permukaan bagiaan dalam pemegang berhubungan
dengan tangakai mata bor, sehingga menghasilkan putaran bor.
3) Bor dengan kepala bulat lurus diperguanakan pemegang/
penjepit bor otomatis (universal), dimana bila diputar kuncinya,
maka mulutnya akan membuka atau menjepit dengan sendirinya
(otomatis).
4) Bor dengan kepala tirus dipergunakan taper atau sarung
pangurang yang dibuat sesuai dengan tingkatan dan kebutuhan,
sehingga terdapat bermacam-macam ukuran.
5) Mata bor yang baik asahan mata potongnya akan mengebor
dengan baik dan akan menghasilkan tatal yang sama tebal
dengan yang keluar melalui kedua belah alur spiral bor. Untuk
bahan memerlukan pendinginan, dipergunakan cerek khusus
tempat bahan pendingin.
c. Atur posisi benda kerja dengan menggerakkan meja, untuk arah
vertical cukup memutar handle, untuk gerak putar mejanya cukup
membuka pengunci di bawah meja dan di sesuaikan, setelah itu
jangan lupa mengunci semua pengunci.
d. Tancapkan steker mesin ke stop kontak sumber listrik, kemudian
tekan sakelar on (pada saat ini spindle sudah berputar). Atur
kecepatan yang sesuai dengan benda kerja.
e. Untuk pemakanan ke benda kerja, putar Drill feed Handle sehingga
mata bor turun dan memakan benda kerja.
f. Gunakan cairan pendingin bila perlu.
g. Setelah selesai, tekan sakelar off untuk mematikan mesin
h. Untuk Mesin bor tangan / pistol sakelar khusus untuk pilhan putaran
ke kanan dan ke kiri.

Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik Mesin

37
Universitas Sebelas Maret Surakarta

C. Mesin Gerinda
1. Pengertian Mesin Gerinda
Mesin gerinda adalah suatu alat yang ekonomis untuk
menghasilkan permukaan yang halus dan dapat mencapai ketelitian yang
tinggi.Mesin Gerinda merupakan salah satu jenis mesin perkakas dengan
mata potong jamak, dimana mata potongnya berjumlah sangat banyak
yang digunakan untuk mengasah/memotong benda kerja dengan tujuan
tertentu.Prinsip kerja mesin gerinda adalah batu gerinda berputar
bersentuhan dengan benda kerja sehingga terjadi pengikisan, penajaman,
pengasahan, atau pemotongan.
2. Fungsi Utama Mesin Gerinda
a. Memotong benda kerja yang ketebalanya yang tidak relatif tebal
b. Menghaluskan dan meratakan permukaan benda kerja
c. Sebagai proses jadi akhir ( finishing ) pada benda kerja
d. Mengasah alat potong agar tajam
e. Menghilangkan sisi tajam pada benda kerja
f. Membentuk suatu profil pada benda kerja ( baik itu elips, siku, dan
lain-lain ).
3. Kelebihan dan Kekurangan Mesin Gerinda
a. Kelebihan
1) Dapat mengerjakan benda kerja yang telah dikeraskan
2) Dapat menghasilkan permukaan yang sangat halus hingga N6
3) Dapat mengerjakan benda kerja dengan tuntutan ukuran yang
sangat presisi.
b. Kekurangan
1) Skala pemakanan( depth of cut ) harus kecil
2) Waktu yang diperlukan untuk mengerjakan cukup lama
3) Biaya yang diperlukan untuk pengerjaan cukup mahal.
4. Macam-Macam Bentuk Batu Gerinda
a. Flat wheels, untuk melakukan penggerindaan alat-alat potong seperti
handtap, countersink, mata bor, dan sebagainya

Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik Mesin

37
Universitas Sebelas Maret Surakarta

b. Cup

wheels,

untuk

melakukan

penggerindaan alat-alat potong seperti cutter, pahat bubut, dan


sebagainya

c. Dish grinding wheels, untuk melakukan penggerindaan profil pada


cutter

d. Shaped grinding wheels, untuk memotong alat potong ataupun


material yang sangat keras, seperti HSS, material yang sudah
mengalami proses heat treatment.

Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik Mesin

37
Universitas Sebelas Maret Surakarta

e.

Cylindrical
grinding wheels, untuk melakukan penggerindaan diameter dalam
suatu jenis produk.

f. Saucer Grinding Wheels, Gerinda ini biasa digunakan untuk


mengerinda bergelombang dan gerinda pemotong. Ini menemukan
penggunaan yang luas di non-mesin daerah, karena hal ini filers
bertemu digunakan oleh roda piring untuk menjaga bilah gergaji.

Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik Mesin

37
Universitas Sebelas Maret Surakarta

g. Diamond Grinding Wheels, Dalam roda berlian berlian industri tetap


terikat ke tepi. Digunakan untuk mengerinda bahan-bahan keras
seperti beton, batu permata dll. Sebuah melihat menggorok dirancang
untuk mengiris batu permata seperti bahan keras

D. Mesin Coulter
1. Pengertian Mesin Coulter
Korter adalah peranti untuk membulatkan dan membesarkan blok
silinder. Biasanya para bikers melakukan prosesi ini untuk meningkatkan
tenaga dari kuda besi miliknya.
2. Cara untuk Mengkorter Blok Silinder
a. Pasang mesin pada blok silinder dengan menggunakan klem
pengikat. Pisau pemotongnya dipasang pada poros yang dapat
digerakkan naik-turun di dalam silinder
b. Poros ini memiliki 3 buah cakra poros, tempat pisau ada ditengahtengah silinder yang akan dibor dan dapat disetel keluar masuk pada
porosnya terhadap silinder
c. Ukur panjang pemegang dan pisau dengan mikrometer khusus, yang
merupakan kelengkapan mesin untuk menentukan besarnya diameter
yang kaan dibor. Cakra tersebut dapat disetel keluar masuk pada
porosnya terhadap silinder
d. Pemboran yang tebal harus dilakukan berulang kali. Ukuran
diameter silinder yang akan dibor adalah atas dasar ukuran diameter
torak yang akan dipakai dan dikurangi lebih kurang 0.002 inchi
untuk menghaluskan

Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik Mesin

37
Universitas Sebelas Maret Surakarta

e. Cakra dipasang sesuai dengna ukuran silinder sehingga poros


pemotong terletak ditengah-tengah lubang silinder. Periksa lubang
mesin bor, setelah itu keraskan pengikat bor pada blok motor,
kendorkan cakramnya dan poros pemegang pisau ditarik keatas
f. Hidupkan mesin, pisau diturunkan sehingga memotong sedikit,
kemudian pisau ditarik keatas dan matikan meisn untuk melihat
keadaan pemotongan dengna ukuran silinder. Setelah di periksa
menurut ketentuan, maka dapat diteruskan pemboran dan dengan
sebuah pengatur otomatik, pisau akan memotong sendiri
g. Setelah selesai pengeboran pertama, untuk berikutnya sisakan
ukuran 0.0015 inchi ukuran sebenarnya guna memperhalus
pekerjaan.

E. Mesin Las Listrik


1. Pengertian Mesin Las Listrik
Las busur listrik atau pada umumnya disebut las listrik termasuk
suatu proses penyambungan logam dengan menggunakan tenaga listrik
sebagai sumber panas. Jadi surnber panas pada las listrik ditimbulkan
oleh busur api arus listrik, antara elektroda las dan benda kerja. Benda
kerja merupakan bagian dari rangkaian aliran arus listrik las. Elektroda
mencair bersama-sama dengan benda kerja akibat dari busur api arus
listriik. Gerakan busur api diatur sedemikian rupa, sehingga benda kerja
dan elektroda yang mencair, setelah dingin dapat menjadi satu bagian
yang sukar dipisahkan.
Mesin las adalah alat yang digunakan untuk menyambung logam.
Pengelasan (wedding) adalah tenik penyambungan logam dengan cara
mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa
penekanan dan menghasilkan sambungan yang kontinyu. Lingkup
penggunaan teknik pengelasan dalam kontruksi sangat luas, meliputi

Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik Mesin

37
Universitas Sebelas Maret Surakarta

perkapalan, jembatan, rangka baja, bejana tekan, pipa pesat, pipa saluran
dan sebagainya.
2. Klasifikasi Cara Pengelasan dan Pemotongan
Sampai pada waktu ini banyak sekali cara-cara pengklasifikasian
yang digunakan dalam bidang las, ini disebabkan karena perlu adanya
kesepakatan dalam hal-hal tersebut.Secara konvensional cara-cara
pengklasifikasi tersebut vpada waktu ini dapat dibagi dua golongan, yaitu
klasifikasi berdasarkan kerja dan klasifikasi berdasarkan energi yang
digunakan.
Klasifikasi pertama membagi las dalam kelompok las cair, las
tekan, las patri dan lain-lainnya.Sedangkan klasifikasi yang kedua
membedakan adanya kelompok-kelompok seperti las listrik, las kimia,
las mekanik dan seterusnya.
Berdasarkan klasifikasi ini pengelasan dapat dibagi dalam tiga
kelas utama yaitu : pengelasan cair, pengelasan tekan dan pematrian.
a. Pengelasan cair adalah cara pengelasan dimana sambungan
dipanaskan sampai mencair dengan sumber panas dari busur listrik
atau sumber api gas yang terbakar
b. Pengelasan tekan adalah pcara pengelasan dimana sambungan
dipanaskan dan kemudian ditekan hingga menjadi satu
c. Pematrian adalah cara pengelasan diman sambungan diikat dan
disatukan denngan menggunakan paduan logam yang mempunyai
titik cair rendah. Dalam hal ini logam induk tidak turut mencair.
Cara yang banyak digunakan dalam pengelasan adalah pemotongan
dengan gas oksigen dan pemotongan dengan busur listrik.Dibawah ini klasifikasi
dari cara pengelasan :
a. Pengelasan cair
1) Las gas
2) Las listrik terak
3) Las listrik gas

4) Las listrik termis


5) Las listrik elektron
6) Las busur plasma

Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik Mesin

37
Universitas Sebelas Maret Surakarta

7)
b. Pengelasan tekan
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Las resistensi listrik


Las titik
Las penampang
Las busur tekan
Las tekan
Las tumpul tekan

7) Las tekan gas


8) Las tempa
9) Las gesek
10) Las ledakan
11) Las induksi
12) Las ultrasonic

13)
c. Las busur: Elektroda terumpan
d. Las busur gas
1) Las m16
2) Las busur CO2
e. Las busur gas dan fluks
1) Las
2)
3)
4)
5)

busur

CO2

dengan

elektroda berisi fluks


Las busur fluks
Las elektroda berisi fluks
Las busur fluks
Las elektroda tertutup

6) Las busur dengan elektroda


berisi fluks
7) Las busur terendam
8) Las busur tanpa pelindung
9) Elektroda tanpa terumpan
10) Las TIG atau las wolfram
gas

11)
3. Klasifikasi Mesin Las
a. Berdasarkan Panas Listrik
1) SMAW (Shield Metal Arch Welding) adalah las busur nyala api
listrik terlindung dengan mempergunagakan busur nyala listrik
sebagai sumber panas pencair logam. Jenis ini paling banyak
dipakai dimanamana untuk hampir semua keperluan pekerjaan
pengelasaan. Tegangan yang dipakai hanya 23 sampai dengan 45
Volt AC atau DC, sedangkan untuk pencairan pengelasan
dibutuhkan arus hingga 500 Ampere. Namun secara umum yang
dipakai berkisar 80 200 Ampere
2) SAW (Submerged Arch Welding) adalah las busur terbenam atau
pengelasan dengan busur nyala api listrik. Untuk mecegah
oksidasi

cairan

metal

induk

dan

material

tambahan,

dipergunakan butiranbutiran fluks / slag sehingga bususr nyala


terpendam di dalam ukuranukuran fluks tersebut
3) ESW (Electro Slag Welding) adalah pengelasan busur terhenti,
pengelasan sejenis SAW namun bedanya pada jenis ESW
busurnya nyala mencairkan fluks, busur terhenti dan proses
pencairan fluk berjalan terus dam menjadi bahan pengantar arus
listrik (konduktif). Sehingga elektroda terhubungkan dengan
benda yang dilas melalui konduktor tersebut. Panas yang
dihasilkan dari tahanan terhadap arus listrik melalui cairan fluk /
slag cukup tinggi untuk mencairkan bahan tambahan las dan
bahan induk yang dilas tempraturnya mencapai 3500 F atau
setara dengan 1925 C
4) SW (Stud Welding) adalah las baut pondasi, gunanya untuk
menyambung bagian satu konstruksi baja dengan bagian yang
terdapat di dalam beton (baut angker) atau Shear Connector
5) ERW (Electric Resistant Welding) adalah las tahanan listrik
yaitu dengan tahanan yang besar panas yang dihasilkan oleh
aliran listrik menjadi semakin tinggi sehingga mencairkan logam

yang akan dilas. Contohnya adalah pada pembuatan pipa ERW,


pengelasan platplat dinding pesawat, atau pada pagar kawat
6) EBW (Electron Beam Welding) adalah las dengan proses
pemboman elektron, suatu pengelasan uang pencairannya
disebabkan oleh panas yang dihasilkan dari suatu berkas
loncatan elektron yang dimamapatkan dan diarahkan pada benda
yang akan dilas. Penelasan ini dilaksanakan di dalam ruang
hampa, sehingga menghapus kemungkinan terjadinya oksidasi
atau kontaminasi.
12)
b. Berdasarkan Panas Listrik dan Gas
1) GMAW (Gas Metal Arch Welding) terdiri dari ; MIG (Metal
Active Gas) dan MAG (Metal Inert Gas) adalah pengelasan
dengan gas nyala yang dihasilkan berasal dari busur nyala
listrik, yang dipakai sebagai pencair metal yang dilas dan metal
penambah. Sebagai pelindung oksidasi dipakai gas pelindung
yang berupa gas kekal (inert) atau CO2. MIG digunakan untuk
mengelas besi atau baja, sedangkan gas pelindungnya adalah
mengunakan Karbon dioxida CO2. TIG digunakan untuk
mengelas logam non besi dan gas pelindungnya menggunakan
Helium (He) dan/atau Argon (Ar)
2) GTAW (Gas Tungsten Arch Welding) atau TIG (Tungsten Inert
Gas) adalah pengelasn dengan memakai busur nyala dengan
tungsten/elektroda yang terbuat dari wolfram, sedangkan bahan
penambahnyyadigunakan bahan yang sama atau sejenis dengan
material induknya. Untuk mencegah oksidasi, dipakai gas kekal
(inert) 99 % Argon (Ar) murni
3) FCAW (Flux Cored Arch Welding) pada hakikatnya hampir
sama dengan proses pengelasan GMAW. Gas pelindungnya juga
sama-sama menggunakan Karbon dioxida CO2. Biasanya, pada
mesin las FCAW ditambah robot yang bertugas untuk
menjalankan pengelasan biasa disebut dengan super anemo

4) PAW (Plasma Arch Welding) adalah las listrik dengan plasma


yang sejenis dengan GTAW hanya pada proses ini gas pelindung
menggunakan bahan campuran antara Argon (Ar), Nitrogen (N)
dan Hidrogen (H) yang lazim disebut dengan plasma. Plasma
adalah gas yang luminous dengan derajat pengantar arus dan
kapasitas termis / panas yang tinggi dapat menampung
tempratur diatas 5000C.
13)
c. Berdasarkan Panas yang Dihasilkan Campuran Gas
14)

OAW (Oxigen Acetylene Welding) adalah sejenis

dengan las karbid / las otogen. Panas yang didapat dari hasil
pembakaran gas acetylene (C2H2) dengan zat asam atau Oksigen
(O2). Ada juga yang sejenis las ini dan memakai gas propane
(C3H8) sebagai ganti acetylene. Ada pula yang memakai bahan
pemanas yang terdiri dari campuran gas hidrogen (H) dan zat asam
(O2) yang disebit OHW (Oxy Hidrogen Welding)
15)
d. Berdasarkan Ledakan dan Reaksi Isotermis
16)
EXW (Explosion Welding) adalah las yang sumber
panasnya didapatkan dengan meledakkan amunisi yang dipasang
pada suatu mold/cetakan pada bagian tersebut dan mengisi cetakan
yang tersedia. Cara ini sangat praktis untuk menyambung kawat baja
/ wire rope, slenk. Cara pelaksanaannya adalah ujung-ujung tambang
kawat dimasukkan ke dalam mold yang telah terisi amunisi
selanjutnya serbuk ledak tersebut dinyalakan dengan pemantik api,
maka terjadilah reaksi kimia eksotermis yang sangat cepat sehingga
menghasilkan suhu yang sangat tinggi sehingga terjadilah ledakan.
Ledakan tersebut mencairkan kedua ujung kawat baja yang terdapat
didalam mold tadi, sehingga cairan metal terpadu dan mengisi
ruangan yang tersedia didalam mold.
17)
4. Jenis Jenis Mesin Las Listrik

18)

Jenis jenis mesin las berdasarkan panas listrik adalah

sebagai berikut :
a. Las listrik dengan Elektroda Karbon
1) Las listrik dengan elektroda karbon tunggal
2) Las listrik dengan elektroda karbon ganda
19)

20)

Pada las listrik dengan elektroda karbon, maka busur listrik

yang terjadi diantara ujung elektroda karbon dan logam atau diantara dua
ujung elektroda karbon akan memanaskan dan mencairkan logam yang
akan dilas.
b. Las listrik dengan elektroda logam
1) SMAW (Shield Metal Arch Welding)
21) Las busur nyala api listrik terlindung dengan
mempergunaakan busur nyala listrik sebagai sumber panas
pencair logam. Jenis ini paling banyak dipakai dimanamana
untuk hampir semua keperluan pekerjaan pengelasaan.Tegangan
yang dipakai hanya 23 sampai dengan 45 Volt AC atau DC,
sedangkan untuk pencairan pengelasan dibutuhkan arus hingga

500 Ampere.Namun secara umum yang dipakai berkisar 80


200 Ampere.
22) Untuk arus AC (Alternating Current), pada voltage
drop panjang kabel tidak banyak pengaruhnya, kurang cocok
untuk arus yang lemah, tidak semua jenis elektroda dapat
dipakai, arc starting lebih sulit terutama untuk diameter
elektrode kecil, pole tidak dapat dipertukarkan, arc bow bukan
merupakan masalah.
23) Sedangkan pada arus DC (Direct Current), voltage
drop sensitif terhadap panjang kabel sependek mungkin, dapat
dipakai untuk arus kecil dengan diameter electroda kecil, semua
jenis elektrode dapat dipakai, arc starting lebih mudah terutama
untuk arus kecil, pole dapat dipertukarkan, arc bow sensitif pada
bagian ujung, sudut atau bagian yang banyak lekukanya.
24)
25)
26)
27)
28)
29)
30)
31)
32)
33)
34)
35)
36)
37)
38)
39)
40)
41)
42)
2) SAW (Submerged Arch Welding)
43) Las busur terbenam atau pengelasan dengan busur
nyala api listrik. Untuk mecegah oksidasi cairan metal induk dan
material tambahan, dipergunakan butiranbutiran fluks / slag
sehingga bususr nyala terpendam di dalam ukuranukuran fluks

tersebut. Las Busur terpendam banyak digunakan untuk


penyambungan

tabung-tabung

penyambungan

benda-benda

gas,
yang

pipa
sama

besar,
serta

dan

banyak.

Pengelasan dilakukan secara otomatis dan fluksnya berupa


butiran.Satu unit mesin las SAW terdiri dari sebuah travo,
kontrol, elektroda gulungan, nosel, dan perlengkapan untuk
menaburkan fluks. Pengelasan dimulai dengan mengalirkan arus
listrik pada rangkaian listrik SAW. Elektroda berjalan dan
menyentuh benda kerja.Loncatan busur listrik dari elektroda ke
benda kerja mencairkan keduanya.Pada saat bersamaan butiran
fluks ditaburkan agar deposit lasan yang terbentuk terlindung
dari udara luar.
44)
45)
46)
47)
48)
3) TIG (tungsten inert gas)
49) Las listrik TIG merupakan pengelasn dengan
memakai busur nyala dengan tungsten/elektroda yang terbuat
dari wolfram.Busur listrik yang terjadi antara ujung elektroda
wolfrm dan bahan dasar adalah merupakan sumber panas untuk
pengelasa.Titik cair dari eletroda wolfram sedemikan tingginya
samapai 3410o sehingga tidak ikut mencair pada saat terjadi
busur listrik.Tangkai las dilengkapi dengan nosel keramik untuk
penyembur gas pelindung yang melindungi daerah las dari
pengaruh luar pada saat pengelasan.Sebagai bahan tambah
dipakaielektroda tanpa selaput yang digerakkan dan didekatkan
ke buur listrik yang terjadi antara elektroda wolfram dengan
bahan dasar.
50)
51)
52)
53)
54)

55)
56)
57)
58)
59)
5. Arus Las Listrik
a. Mesin Las listrik arah searah (DC)
60)
Mesin ini mengubah arus listrik bolak-balik (AC)
yang masuk, menjadi arus listrik searah (DC) yang keluar.
Keuntungan dari mesil las DC adalah sebagai berikut :
1) Busur nyala stabil
2) Dapat menggunakan elektroda berselaput dan tidak berselaput
3) Dapat mengelas pelat tipis
4) Dapat dipakai untuk mengelas pada tempat lembab
61)
b. Mesin las litrik arah bolak balik (AC)
62)
Mesin ini memerlukan sumber arus bolak-balik
denganteganganyang lebihrendahpadalengkung listrik.Keuntungan
dari mesin AC adalah:
1) Busur nyala kecil, sehingga memperkecil kemungkinan
timbulnya keropos pada rigi rigi las
2) Perlengkapan dan perawatan lebih mudah.
63)
6. Perlengkapan Las Listrik
a. Kabel Las
64)
Kabel las biasanya dibuat dari tembaga yang dipilin
dan dibungkus dengan karet isolasi. Yang disebut kabel las ada tiga
macam, yaitu :
1) Kabel elektroda , yaitu kabel yang menghubungkan pesawat las
dengan elektroda.
2) Kabel masa, yaitu yang menghubungkan pesawat las dengan
benda kerja.
3) Kabel tenaga, yaitu kabel yang menghubungkan sumber tenaga
atau jaringan lisrtik dengan pesawat las.
65)
b. Pemegang Elektroda
66)
Ujung yang berselaput
dari

elektroda

dijepit

dengan

pemegang elektroda.Ini terdiri dari

mulut penjepit dan pemegang yang


dibungkus

oleh

bahan

penyekat

(biasanya dari embonit).


67)
68)
c. Palu Las
69)

Palu

ini

digunakan

untuk melepaskan dan mngeluarkan


terak las pada jalur las dengan jalan
memukulkan

atau

menggoreskan

pada daerah las.Gunakanlah kaca


mata

pada

waktu

poembersihan

terak, sebeb dapat memercikan pada


mata.
70)
d. Sikat Kawat
71) Sikat kawat digunakan untuk :
1) Membersihkan benda kerja yang
akan dilas,
2) Membersihkan terak las yang sudah
dilepas dari jalur las oleh pukulan
palu las.
72)
e. Klem Massa
73)
kerja.

Terbuat

Alat untuk menghubungkan kabel masa ke benda


dari

bahan

yang

menghantar

dengan

baik

(tembaga).Klem masa dilengkapi dengan pegas yang kuat, yang


dapat menjepit benda kerja dengan baik.Tempat yang dijepit harus
bersih dari kotoran (karet, cat, minyak dan sebagainya).
74)
f. Tang penjepit
75)

Digunakan untuk memegang atau memindahkan

benda kerja yang masih panas sehabis pengelasan.


76)

77)
78)
79) BAB III
80) HASIL DAN PEMBAHASAN
81)
A. Identifikasi Mesin Perkakas
1. Mesin Bubut
a. Merk Mesin : Sanyuen GF 2000 A
b. Jenis Mesin
: Mesin Bubut Konvensional semi otomatis.
c. Gambar Mesin :
82)

83)
84)
85)
86)
87)
88)
89)
90)
91)

92)
93)
2. Mesin Bor
a. Merk Mesin : West Lake Drilling
b. Jenis Mesin
: Mesin Bor Konvensional
c. Gambar Mesin :
94)

95)
96)
97)
98)
99)
100)
101)
102)
103)
104)
105)

106)
107)
108)
109)
3. Mesin Gerinda
a. Merk Mesin : Wipro Grind Force 6000
b. Jenis Mesin
: Mesin Gerinda Konvensional
c. Gambar Mesin :
110)

111)
112)
113)
114)
115)
116)
117)
118)
119)
120)

121)
122)
123)
124)
125)
4. Mesin Coulter
a. Merk Mesin : Coulter Waida
b. Jenis Mesin
: Mesin Coulter Konvensional semi otomatis
c. Gambar Mesin :

126)
127)
128)
129)
130)
131)
5. Mesin Las Listrik
a. Merk Mesin : Modern Welding
b. Jenis Mesin
: Mesin Las Konvensional
c. Gambar Mesin :
132)

133)
B. Bagian-Bagian Mesin Perkakas beserta Fungsinya
a. Mesin Bubut
( Sanyuen GF 2000 A)

134)
135) Gambar 1. Kepala Lepas (Tail Stock)
136) Keterangan :
137) Kepala lepas atau Tail Stock adalah bagian dari mesin bubut yang
letaknya di sebelah kanan dan dipasang di atas alas atau meja mesin.
Bagian ini berfungsi untuk tempat pemasangan senter yang digunakan
sebagai penumpu ujung benda kerja dan sebagai dudukan penjepit mata
bor pada saat melakukan pengeboran. Tail Stock ini dapat digerakkan
atau digeser sepanjang meja mesin, dan dikencangkan dengan perantara
mur dan baut atau dengan tuas pengencang. Selain digeser sepanjang alas
atau meja mesin, tail stock juga dapat digerakkan maju atau mundur atau
arah melintang saat digunakan untuk keperluan pembubutan benda yang
konis.

B
C
138)
A
139) Gambar 2. Eretan memanjang, Tuas otomatis arah melintang,
140) Keterangan
141)

Tuas pompa oli, Eretan mlintang


:
A (Eretan memanjang) :

142) Sebagai penggerak sumbu Y pada pahat saat menyayat benda kerja
atau arah kanan-kiri.
143)
144)

B (Tuas otomatis arah melintang) :


Sebagai saklar penggerak otomatis pada

eretan arah melintang.


145)
C (Tuas pompa oli) :
146) Sebagai penyalur oli kebagian eretan.
147) D (Eretan melintang) :
148) Sebagai penggerak sumbu X pada pahat saat menyayat benda kerja
atau arah maju-mudur.

F
E
149)

150)
151) Keterangan

Gambar 3. Eretan atas, Tool Post, Lampu


:

152) E (Eretan atas) :

153) Sebagai pengatur sudut putar pahat untuk proses pembubutan tirus.
154) F (Tool Post) :
155) Sebagai rumah pahat atau tempat pencekaman pahat bubut.
156) G (Lampu) :
157) Sebagai penerang saat mengukur bagian dalam atau tersulit saat
benda kerja dicekam di chuck.
158)
159)
160)
161)
162)
163)

164)
165)

Gambar 4. Head Stock, Spindle mesin, Chuck

166) Keterangan :
167) H (Head Stock) :
168) Sebagai bagian utama dari mesin bubut yang digunakan untuk
menyangga

poros

utama,

yaitu

poros

yang

digunakan

untuk

menggerakkan spindle.
169) I (Spindle mesin) :
170) Sebagai penggerak chuck ( penjepit benda kerja ) saat diputar.
171) J (Chuck) :
172) Sebagai tempat untuk memegang benda kerja.
173)
174)
175)
176)

L
M
K

N
177)
178)

Gambar 5. Coolant pump switch, Main switch, Gear levers, Tuas

179)
180)
181)
182)
183)
184)
185)

rem
Keterangan :
K (Coolant Pump Switch) :
Untuk menghidupkan pompa cooling oil.
L (Main Switch) :
Untuk mematikan dan menghidupkan mesin.
M (Gear Levers) :
Sebagai pengatur putaran gear sebelum diteruskan ke spindle pada

mesin.
186) N (Tuas rem) :

187) Untuk mengerem atau memperlambat gerakan pada mesin.


188)
189)
190)
191)
192)
193)
194)
195)

196)
197)

Gambar 6. Spindle Handle

198) Keterangan :
199) O (Spindle Change Lever):
200) Digunakan untuk merubah kecepatan putar pada Speed Gear Box
dengan merubah posisi handle.
201) P (Left and Right Hand Thread Change Lever) :
202) Digunakan untuk proses pembuatan ulir kanan maupun kiri.
203)

204)
205)
206) Keterangan

Gambar 7. Motor listrik

207) Motor listrik berfungsi sebagai sumber daya untuk menjalankan


mesin.
b. Mesin Bor

(West Lake Drilling)

A
B

E
208)
209) Gambar 8. Head, Quill feed, on/ off switch, motor listrik, column
210) Keterangan :
211) A (Head) :

212) Kepala dari mesin bor yang berisi tali pemutar dan spindle head
yang diteruskan pada mata bor.
213) B (Quill Feed) :
214) Untuk menurunkan atau menekankan spindle dan mata bor ke
benda kerja (memakankan).
215)
216)
217)
218)
219)
220)

C (On/ Off Switch) :


Untuk menghidupkan/ mematikan mesin.
D (Motor listrik) :
Sebagai sumber daya penghidupan pada mesin.
E (Column/ tiang) :
Bagian dari mesin bor yang digunakan untuk menyangga bagian-

bagian yang digunakan untuk proses pengeboran. Kolom berbentuk


silinder yang mempunyai alur atau reluntuk jalur gerak vertical dari meja
kerja.

H
221)
222) Gambar 9. Drill Chuck, Table, Base
223) Keterangan :
224) F (Drill Chuck) :
225) Adalah suatu alat pembua lubang atau alur yang efisien. Mata bor
yang paling sering digunakan adalah bor spiral, karena daya hantarnya
yang baik, penyaluran serpih (geram) yang baik karena alur-alurnya yang
berbentuk sekrup, sudut-sudut sayat yang menguntungkan dan bidang
potong dapat diasah tanpa mengubah diameter bor. Bidangbidang
potong bor spiral tidak radial tetapi digeser sehingga membentuk garisgaris singgung pada lingkaran kecil yang merupakan hati bor.
226) G (Table) :

227) Bagian yang digunakan untuk meletakkan benda kerja yang akan
di

bor.

Meja

kerja

dapat

disesuaikan

secara

vertikal

untuk

mengakomodasi ketinggian pekerjaan yang berbeda atau bias berputar ke


kiri dan ke kanan dengan sumbu poros pada ujung yang melekat pada
tiang (column). Untuk meja yang berbentuk lingkaran bias diputar 3600
dengan poros ditengah-tengah meja. Kesemuanya itu dilengkapi
pengunci (table clamp) untuk menjaga agar posisi meja sesuai dengan
yang dibutuhkan. Untuk menjepit benda kerja agar diam menggunakan
ragum yang diletakkan di atas meja.
228)
229) H (Base) :
230) Base ini merupakan penopang dari semua komponen mesin bor.
Base terletak paling bawah menempel pada lantai, biasanya dibaut.
Pemasangannya harus kuat karena akan mempengaruhi keakuratan
pengeboran akibat dari getaran yang terjadi.
231)
c. Mesin Gerinda

(Wipro Grind Force 6000)

232)
233) Gambar 10. Bagian lengkap mesin gerinda
234) Keterangan :
235) A (Tutup roda gerinda) :
236) Untuk menutupi roda gerinda

237)
238)
239)
240)
241)
242)
243)
244)
245)
246)
247)

B (Saklar) :
Untuk menyalakan dan mematikan mesin
C (Pengatur sudut) :
Untuk mengatur kemiringan sudut meja pengasah
D (Tempat air pendingin) :
Sebagai tempat air pendingin
E (Motor listrik) :
Sebagai penggerak mesin
F (Meja pengasah) :
Untuk menyangga benda kerja
G (Batu gerinda) :

248) Untuk menggerinda


249) H (Badan mesin gerinda) :
250) Sebagai dudukan mesin gerinda
251)
d. Mesin Coulter

(Coulter Waida)

252)
254)
255)
256)
257)
258)
259)
260)

253) Gambar 11. Column, Box, Pengunci box


Keterangan :
A (Column/ tiang) :
Untuk menyangga bagian dari mesin
B (Box) :
Tempat untuk menempatkan bahan-bahan yang berbentuk silinder.
C (Pengunci Box) :
Untuk mengunci bahan agar tidak bergetar atau bergerak saat

pengerjaan.
261)

262)
263)

F
E
D

266)
267)
268)
269)
270)
271)
272)
273)
274)

264)
265) Gambar 12. Bagian lengkap mesin coulter
Keterangan :
D (Coulter chuck) :
Untuk mengkolter bahan yang di tempatkan pada box
E (Eretan) :
Untuk menggerekkan coulter chuck dari atas ke bawah
F (Table) :
Untuk menempatkan benda kerja pada box
G (Coulter Quill Feed) :
Sebagai sumber putaran untuk pemakanan bersamaan dengan

coulter chuck.
275) H (Motor listrik) :
276) Sebagai sumber daya penghidupan pada mesin.
277)
278)
279) I (Coulter feed) :
280) Sebagai pembantu untuk mengkolter bahan sebelum pada Coulter
Quill Feed.
281) J (Head) :

282) Sebagai pusat dari putaran yang berisi spindle coulter yang
diikatkan pada belt, kemudian di teruskan pada coulter chuck.
283)
e. Mesin Las Listrik (Modern Welding)

284)

C
A

285)
286)
287)
288)

Gambar 13. Mesin las, elektroda, klem massa, pemegang elektroda


Keterangan :
A (Mesin las) :
Sumber untuk melalukan las dari arus listrik di alirkan pada handle

yang dijepitkan pada elektroda.

289)
290)
291)
292)

B (Elektroda) :
Bahan untuk mengelas
C (Klem massa) :
Sebuah penjepit yang dialiri arus listrik apabila elektroda

mengenainya atau saling menguatkan antara bersifat negatif dan positif.


293) D (Pemegang elektroda) :
294) Alat untuk menjepit elektroda
C. Perlegkapan-Perlengkapan Mesin Perkakas
a. Drill bits

295)
296) Gambar 14. Drill bits
297) Keterangan :
298) Drill Bits fungsinya sebagai berikut:
1) Pembuatan Lubang
299)
Mengumpan mata bor pada suatu benda kerja untuk
membuat lubang
2) Pembesaran Lubang
300)
Mengumpan mata bor pada benda kerja yang telah
memiliki lubang sebelumnya guna untuk memperbesar diameter
lubang pada benda kerja.
3) Chamfer
301)
Chamfer adalah suatu proses untuk menghilangkan sisi
tajam dari sebuah bentuk slindris. Chamfer pada proses counter sink
yang dimaksudkan ada beberapa macam penggunaan, antara lain :
Chamfer untuk membersihkan chip / bram

Chamfer untuk pembuatan ulir


Chamfer untuk dudukan kepala baut konus
Chamfer untuk dudukan paku keling.
b. Ragum

302)
303)

Gambar 15. Ragum

304) Keterangan :
305) Berdasarkan kapasitasnya untuk mencekam dengan kuat
atau memberikan tekanan tetap, ragum dapat digunakan untuk
menyelesaikan berbagai masalah dalam produksi di bengkel-bengkel
kecil dimana umumnya memerlukan penyesuaian peralatan dan
teknik/metode untuk pekerjaan-pekerjaan secara manual dengan tangan.
Operasi-operasi di bengkel besar akan memerlukan jig atau alat tekan
yang dapat digabung dengan ragum tertentu atau alat lain dari ragum
biasa.
306) Satu masalah yang timbul adalah bagaimana mencekam
benda kerja dengan kuat tanpa meninggalkan bekas kasar dari ragum;
masalah lain yaitu bagaimana memegang part kecil dengan ragum yang
relatif besar. Ada solusi mudah untuk masalah-masalah tersebut.
307) Terlepas dari alas penyelip atau jepitan lunak yang dapat
digunakan untuk melindungi benda kerja, seringkali hal ini cukup untuk

memegang benda kerja dengan kardus seperti pada kardus rokok. Karena
ketipisannya dan disokong dengan jepitan logam, hal ini akan
memberikan cekaman yang lebih kuat pada benda kerja daripada jepitan
fiber yang tebal. Lembaran logam seperti alumunium dan kuningan, serta
semua material logam lunak juga dapat digunakan.
308) Jika bagian utama dari benda kerja mengalami permesinan
atau akan mengalami kerusakan akibat dari jepitan ragum standar,
sepasang permukaan halus dari baja lunak akan mengubah bangku
ragum, untuk fungsi ini, menjadi sebuah mesin ragum tetap.
309) Saat ini, memegang sebuah mesin ragum lebih nyaman
dilakukan pada bagian dasar/kaki bangku ragum, dengan menggunakan
mesin ragum untuk memasang benda kerja, dan berdasar prinsipnya,
ragum kecil tertentu, atau penjepit ragum, dan bahkan tempa pembuat
perkakas dapat dipasang untuk benda kerja kecil.
310)
c. Kunci Pas

311)
312) Gambar 16. Kunci pas
313) Keterangan :
314) Kunci pas digunakan untuk mengencangkan dan melepas
baut dan mur yang tidak terlalu kuat momen pengencangannya atau
kepala baut dan mur yang telah dilonggarkan dengan kunci ring.
315) Kontruksi kunci Pas, kunci pas dibuat dari bahan baja tensil
tinggi yaitu logam paduan chrome vanadium, kunci ini mepunyai tangkai

(shank) dengan kepala di masing masing ujung yang membuat sudut 15


derajat terhadap tangkainya.
316) Spesifikasi kunci Pas, Satuan ukuran kunci pas terdiri dari
mm (metrik) dan inch (imperial). Untuk satuan metric ukuran a mm
hingga 80 mm. Tetapi yang umum digunakan di otomotif adalah 6 mm
dengan kenaikan setiap 1 mm hingga ukuran 36 mm, kecuali ukuran
31,33,34 dan 35 mm tidak disediakan.
317)
d. Tang

318)
319) Gambar 17. Tang
320) Keterangan :
321) Tang adalah alat yang digunakan untuk mencengkram atau
memegang komponen yang akan di buka dengan cara diputarkan
bagiannya. Tang ini juga dapat digunakan untuk mengencangkan atau
melonggarkan mur dan baut tetapi tidak dianjurkan untuk penggunaan
tersebut karena kekuatan cengkraman Tang tidak sekuat cengkrama
Kunci Pas dan kunci kunci yang lainnya.
322) Kontruksi Tang Tang terbuat dari baja tensil tinggi sehingga
Tang sangat kuat ketika dipukulkan pada benda kerja seperti mur dan

baut. Dan jika terpaksa Tang juga bisa digunakan untuk memukul benda
benda yang keras seperti paku yang melengkung dan lain lain.
323)
e. Mikrometer Sekrup

324)
325) Gambar 18. Mikrometer sekrup
326) Keterangan :
327) Adapun kegunaan dari mikrometer sekrup adalah sebagai
alat ukur panjang dengan tingkat ketelitian tinggi. Dengan ketelitiannya
yang sangat tinggi, mikrometersekrup dapat digunakan untuk mengukur
dimensi luar dari benda yang sangat kecil maupun tipis seperti kertas,
pisau silet, maupun kawat. Alat ini biasanya difungsikan untuk mengukur
diameter benda-benda berukuran milimeter atau beberapa centimeter
saja.
328)
329)
330)
331)
332)
333)
f. Kunci L

334)
335) Gambar 19. Kunci L
336) Keterangan :
337) Kunci L merupakan alat bantu yang digunakan untuk
pengunci atau mengendorkan baut yang ada pada chuck.
338)
g. Kunci Tool Post

339)
340) Gambar 20. Kunci tool post
341) Keterangan :
342) Kunci tool post merupakan salah satu alat bantu yang
digunakan untuk mengencangkan atau mengendorkan baut yang
berbentuk eksentrik yang berada pada kepala tool post.
D. Cara Kerja Mesin Perkakas secara Umum
1. Mesin Bubut
343) Poros spindel akan memutar benda kerja melalui piringan
pembawa sehingga memutar roda gigi pada poros spindel. Melalui roda

gigi penghubung, putaran akan disampaikan ke roda gigi poros ulir. Oleh
klem berulir, putaran poros ulir tersebut diubah menjadi gerak translasi
pada eretan yang membawa pahat. Akibatnya pada benda kerja akan
terjadi sayatan yang berbentuk ulir.
344)
2. Mesin Bor
345) Prinsip kerja alat atau perkakas bor ini adalah memutar mata bor
yang
memiliki alur puntir (Twist) yang digenggam oleh cak (Chuck) yang
terpasang pada poros spindel yang dapat digerakkan naik atau turun
untuk mengupankan mata bor ke bahan yang akan dibuat lubang. Dengan
menggunakan

daya

motor

listrik

dan

ditransmisikan

dengan

menggunakan hubungan puli dan sabuk, maka daya dapat diteruskan


kecak yang menggengam mata bor. Mata bor yang berputar dan ditekan
ke bawah dengan menggunakan tuas tekannya, maka bahan atau objek
yang berada di bawah mata bor terlubangi.
346)
3. Mesin Gerinda
347) Menggerinda sejatinya merupakan suatu proses pengerjaan
mekanik yang pengerjaanya dengan menggesekkan atau menyentuhkan
benda kerja ke batu gerinda yang sedang berputar secara perlahan dan
kontinyu terus-menerus hingga sesuai hasil akhir yang diinginkan dengan
depth of cut sangat kecil.
348)
349)
350)
351)
352)
4. Mesin Coulter
353) Sebagai contoh mengkolter box silinder yaitu:
a. Pasang mesin pada blok silinder dengan menggunakan klem
pengikat. Pisau pemotongnya dipasang pada poros yang dapat
digerakkan naik-turun di dalam silinder

b. Poros ini memiliki 3 buah cakra poros, tempat pisau ada ditengahtengah silinder yang akan dibor dan dapat disetel keluar masuk pada
porosnya terhadap silinder
c. Ukur panjang pemegang dan pisau dengan mikrometer khusus, yang
merupakan kelengkapan mesin untuk menentukan besarnya diameter
yang kaan dibor. Cakra tersebut dapat disetel keluar masuk pada
porosnya terhadap silinder
d. Pemboran yang tebal harus dilakukan berulang kali. Ukuran
diameter silinder yang akan dibor adalah atas dasar ukuran diameter
torak yang akan dipakai dan dikurangi lebih kurang 0.002 inchi
untuk menghaluskan
e. Cakra dipasang sesuai dengna ukuran silinder sehingga poros
pemotong terletak ditengah-tengah lubang silinder. Periksa lubang
mesin bor, setelah itu keraskan pengikat bor pada blok motor,
kendorkan cakramnya dan poros pemegang pisau ditarik keatas
f. Hidupkan mesin, pisau diturunkan sehingga memotong sedikit,
kemudian pisau ditarik keatas dan matikan meisn untuk melihat
keadaan pemotongan dengna ukuran silinder. Setelah di periksa
menurut ketentuan, maka dapat diteruskan pemboran dan dengan
sebuah pengatur otomatik, pisau akan memotong sendiri
g. Setelah selesai pengeboran pertama, untuk berikutnya sisakan
ukuran 0.0015 inchi ukuran sebenarnya guna memperhalus
pekerjaan.
354)
355)
356)
5. Mesin Las Listrik
357) Sebenarnya sebuah mesin las sejatinya adalah sebuah adaptor
penurun tegangan. Sebuah mesin las umumnya mengeluarkan output
sekitar 40 volt dengan daya yang besar hingga mampu mengeluarkan
ratusan ampere. Dengan kemampuan daya besar ini las listrik bisa
melelehkan kawat las. Saat kawat las bekerja, sebenarnya saat itu kita
mengkonsletkan atau membuat arus pendek antara positiv dan negativ
(biasanya negativ kita sambungkan ke benda yang akan dilas, dan positiv

kita sambungkan pada kawat las). Kawat las sendiri adalah sebuab kawat
besi yang dibungkus bahan sejenis kembang api kawat dengan
kemampuan melelehkan kawat. Lapisan inilah yang menyala terang saat
kita melakukan pengelasan. Saat ini sudah ada mesin las dengan sistem
adaptor switching atau mesin las inverter. Inverter ini sangat ringan
dibanding mesin las dengan menggunakan trafo besar, karena inverter
menggunakan rangkaian yang sistem kerjanya sama dengan regulator
elektronik yang banyak digunakan sekarang (Misalnya adaptor ps2, cas
hp, cas laptop dll), dimana hanya menggunakan rangkaian sistem
switching.
358)
E. Benda Kerja yang Diproduksi
a. Macam Benda Kerja yang Diproduksi
1) Kop mesin
: 6 buah per hari

359)
2) Bearing

: 10 buah per hari

360)
361)
3) Noken As

: 10 buah per hari

362)
363) Selain itu juga masih banyak lagi benda yang diproduksi
dan juga tergantung pesanan pada bengkel tersebut.
364)
365)
366)
367)
368)
369)
370)
b. Cara Membuat Benda Kerja
371)
34

26

373)

30

372)

374)
375)
376)
377)
378)
379)
380) Gambar 21. Gambar benda kerja yang akan dibuat
381) Perencanaan proses bubut :
1) Material benda kerja

: Mild Steel ( ST 37), diameter 34 mm x


382)

2) Material Pahat

75 mm

: HSS atau Pahat Karbida jenis P10 ,

pahat kanan. Dengan geometri pahat dan kondisi pemotongan dipilih


dari Tabel 2.3. ( Tabel yang direkomendasikan oleh produsen mesin
bubut) :
=8o, =14o, v = 34 m/menit (HSS)
o
o
=5 , =0 , v = 170 m/menit (Pahat karbida sisipan)
3) Mesin yang digunakan
: Mesin Bubut dengan

Kapasitas

diameter lebih dari 1 inchi


4) Pencekam benda kerja : Cekam rahang tiga. Benda kerja dikerjakan
Bagian I terlebih dulu, kemudian dibalik untuk mengerjakan Bagian
II ( Gambar 22)
383)
384)
385)
386)
387)
388) Tabel 1. Penentuan jenis pahat, geometri pahat, v, dan f ( EMCO)

389)

5) Pemasangan pahat

: menggunakan tool post (tempat pahat

tunggal) yang tersedia di mesin, panjang ujung pahat dari tool post
o

sekitar 10 sampai dengan 15 mm, r = 93 .


6) Data untuk elemen dasar :
a. Untuk pahat HSS : v = 34 m/menit; f = 0,1 mm/putaran, a = 2
mm.
b. Untuk pahat karbida : v = 170 m/menit; f = 0,1 mm/putaran; a =
2 mm.
7) Bahan benda kerja telah disiapkan (panjang bahan sudah sesuai
dengan gambar), kedua permukaan telah dihaluskan.
8) Perhitungan elemen dasar berdasarkan rumus dan gambar rencana
jalannya pahat adalah sebagai berikut
390)
391)
392)
393)
394)
395)
II
I
396)
397)
398)
399)
400)
50
5
401)
402)
403) Gambar 22. Rencana pencekaman, penya yatan, dan lintasan pahat
404) Keterangan :
1) Benda kerja dicekam pada Bagian II, sehingga bagian yang menonjol
sekitar 50 mm
2) Penyayatan dilakukan 2 kali dengan kedalaman potong a1 = 2 mm dan a2
= 2 mm. Pemotongan pertama sebagai pemotongan pengasaran
(roughing) dan pemotongan kedua sebagai pemotongan finishing
3) Panjang pemotongan total adalah panjang benda kerja yang dipotong
ditambah panjang awalan (sekitar 5 mm) dan panjang lintasan keluar
pahat ( sama dengan kedalaman potong) . Gerakan pahat dijelaskan
seperti Gambar 23
4) Gerakan pahat dari titik 4 ke titik 1 adalah gerak maju dengan cepat
(rapid)

1)
5)
9)
13)
=
17)
=
21)
=
25)
=
29)
1=
33)
2=
37)

v=
f=
a=
a1
a2
a3
do
dm
dm
lt=

2)3) 4)
mm/
7)
8)
mm/
6)
0,1
putaran
11)
12)
mm
10)
4
15)
16)
mm
14)
2
18) 19)20) mm
22) 2 23)
24) mm
.. 26)27) 28) mm
34 32) mm
30)31)
30 36) mm
34)35)
39) 40) mm
38)26
42

a. Gerakan pahat dari titik 1 ke titik 2


adalah gerakan penyayatan dengan f
= 0,1 mm/putaran
b. Gerakan pahat dari titik 2 ke titik 3
adalah gerakan penyayatan dengan f

= 0,1 mm/putaran
c. Gerakan pahat dari titik 3 ke titik 4 adalah gerakan cepat
( dikerjakan dengan memutar eretan memanjang)

405)
406)
407)
408)
409)
410)

2
3

1
4

411) Gambar 23. Rencana gerakan dan lintasan pahat


412) Setelah rencana jalannya pahat tersebut di atas kemudian
dilakukan perhitungan elemen dasar pemesinannya. Hasil perhitungan
dapat dilihat pada Tabel 2.
a. Perhitungan elemen dasar proses bubut ( untuk pahat HSS)
413)
417)
421)
425)
429)
433)
437)
441)
1=
445)
449)

v=
f=
a=
a1
a2
a3
do
dm
dm
lt=

453)
454) Proses
459) Bubut
rata
464) a1Bubut
rata a2469)

414)
415)416)
418)
419) 420)
422)423)424)
426)427)428)
430)431)432)
435)
434)
436)
438)
439)440)
443)444)
442)
30
446)
447)448)
450)
451)452)
42
455)
(rpm)
460)
8,38
465)
6,72

mm/
mm/
mm
mm
mm
mm
mm
mm
mm
mm

457) tc( 458)


n 456) Vf
33 (mm/menit)
461) 3 menit)
462) nit)
3,84
1,24
38
466) 3
467)
8,67
1,09
470)
471)
472)

Z(cm /me
463)
6
,80
468)
6
473),80

474)
475)
476)
477)
478)
b. Perhitungan elemen dasar proses bubut ( untuk pahat Karbida P10)
479)

480)
481)
482)
483)
484)
485)
486)

487)
488)
489)Bagian II :

490)

491)Benda kerja dibalik, sehingga bagian I menjadi bagian


yang dicekam seperti terlihat pada Gambar 24. Lintasan pahat sama
3
pada Gambartc(menit)
23 hanyaZ(cm
panjang
penyayatan- nya
Vf (mm/menit)
Prosesdengan lintasan
n (rpm)pahat
/menit)
berbeda,
yaitu
(50+5+2)
mm.
Bubut rata a1 1691,88 169,19
0,25
34,00
Bubut rata a2 492)
1933,58 193,36
0,22
34,00
493)
494)
495)
496)
497)
498)
499)
I
II
500)
501)
502)
503)
60
5
504)
505)
506) Gambar 24. Rencana pencekaman, penyayatan, dan lintasan pahat
507)
508)
509)
510)
511) Hasil perhitungan elemen dasar pemesinan dapat dilihat
pada Tabel 3 di bawah :
512) Tabel 3. Hasil perhitungan eleman dasar pemesinan Bagian II
a. Perhitungan elemen dasar proses bubut ( untuk pahat HSS)
513)
517)
521)
525)
529)

v=
f=
a=
a1
a2

514)
515)516)
518)
519) 520)
522)523)524)
526)
527)
528)
531)
530)
532)

mm/
mm/
mm
mm
mm

533)
537)
541)
1=
545)
549)

534)535)536)
538)
539)540)
543)544)
542)
546) 30 547)
548)
550)
551)552)
57

a3
do
dm
dm
lt=

553)
554) Proses
559) Bubut
rata a3564)

mm
mm
mm
mm
mm

557) tc( 558)


555) n 556) Vf
(rpm)
(mm/menit)
560) 33
561) 3 menit)
562) enit)
8,38 565)
3,84
1,68
566)
567)

Z(cm /m
563)
6
568),80

569)
b. Perhitungan elemen dasar proses bubut ( untuk pahat Karbida)
571)
570) v=
572) 573) mm/
574) f=
576) 577) mm/
575)
0,1
putaranmm
578) a=
580)581)
579)
582) a1
583) 2 584)
585) mm
=
..
586)
a2
587)
589) mm
588)
=
..
590) a3
591)592)593) mm
=
2 597) mm
594) do
596)
595)
=
34 601) mm
598)
dm
600)
599)
1=
602)
dm
603) 30 604)
605) mm
2=
.. 607)
608)609) mm
606)
lt=
57
610)
611) Proses
616) Bubut
rata a3621)

614) tc( 615)


612) n 613) Vf
(rpm) 16 (mm/menit)
617)
618) 1 menit)
619) enit)
91,88 622)
69,19
0,34
623)
624)

Z(cm /m
620) 3
4,00
625)

626)
627) Catatan :
1) Pada prakteknya parameter pemotongan terutama putaran spindel
(n) dipilih dari putaran spindel yang tersedia di mesin bubut tidak
seperti hasil perhitungan dengan rumus di atas. Kalau putaran
spindel hasil perhitungan tidak ada yang sama (hampir sama)
dengan tabel putaran spindel di mesin sebaiknya dipilih putaran
spindel di bawah putaran spindel hasil perhitungan
2) Apabila parameter pemotongan n diubah, maka elemen dasar
pemesinan yang lain berubah juga
3) Waktu yang diperlukan untuk

membuat

benda

kerja jadi

bukanlah jumlah waktu pemotongan (tc) keseluruhan dari tabel


perhitungan di atas. Waktu pembuatan benda kerja harus ditambah
waktu non produktif yaitu :
a. waktu penyiapan mesin/ pahat

b. waktu penyiapan bahan benda kerja (dengan mesin gergaji, dan


mesin bubut yang disetel khusus untuk membuat bahan benda
kerja)
c. waktu pemasangan benda kerja
d. waktu pengecekan ukuran benda kerja
e. waktu
yang diperlukan
pahat untuk mundur
(retract)
f. waktu yang diperlukan untuk melepas benda kerja
g. waktu yang diperlukan untuk mengantarkan benda kerja (dari
bagian penyiapan benda kerja ke mesin).
4) Tidak ada rumus baku untuk menentukan waktu non produktif.
Waktu non produktif diperoleh dengan mencatat waktu yang
diperlukan untuk masing-masing waktu non produktif tersebut.
5) Untuk benda kerja tunggal waktu penyelesaian suatu benda kerja
lebih banyak dari pada pembuatan massal (ukuran benda kerja
sama

dalam

jumlah

banyak), karena waktu penyiapan mesin

tidak dilakukan untuk setiap benda kerja yang dikerjakan.


6) Untuk proses bubut rata dalam, perhitungan elemen dasar pada
prinsipnya sama dengan bubut luar , tetapi pada bubut dalam
diameter awal (do) lebih kecil dari pada diameter akhir (dm).
7) Apabila diinginkan pencekaman hanya sekali tanpa membalik benda
kerja, maka bahan benda kerja dibuat lebih panjang sekitar 30 mm.
Akan tetapi hal tersebut akan menyebabkan pemborosan bahan
benda kerja jika membuat benda kerja dalam jumlah banyak.
8) Apabila benda kerja dikerjakan dengan dua senter, maka benda kerja
harus diberi lubang senter pada kedua ujungnya. Dengan demikian
waktu ditambah dengan waktu pembuatan lubang senter.
9) Pahat karbida lebih produktif dari pada pahat HSS.
628)
c. Hasil Pengerjaan
629)

630)
631)
632)
633)
634)
635)
636)
637)
638)
639)
640)
641)
642)
643)
644) BAB IV
645) PENUTUP
646)
A. Kesimpulan
647)

Observasi proses produksi menghasilkan produk seperti

membubut tirus, membuat huruf M pada permukaan plat, dan menyambung


plat dengan las listrik. Dari seluruh observasi proses produksi dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut :
1. Mahasiswa jurusan pendidikan teknik mesin harus dapat membaca,
menganalisa, dan membuat gambar teknik. Karena gambar teknik adalah
awal dari perancangan sebuah produk yang divisualisasikan melalui

media gambar yang memiliki standar. Dari gambar kita dapat mengetahui
bentuk dan berapa ukuran dari produk yang akan dibuat
2. Mesin-mesin yang diobservasi proses produksi adalah mesin las listrik
dan mesin konvensional seperti mesin bubut,mesin gerinda, mesin
coulter dan mesin bor. Cara mengoperasikan mesin-mesin tersebut
tidaklah sulit bila kita dapat memahami komponen mesin beserta
fungsinya. Tidak hanya itu, kita juga harus mengenal jenis-jenis mata
pahat pada mesin bubut, mata bor, dan elektroda pada las listrik, serta
batu gerinda yang dibutuhkan
3. Untuk membuat produk yang baik dan berkualitas, maka harus memiliki
kesungguhan, ketelitian, dan daya analisa yang tinggi pada saat
pengerjaannya. Tingkat kepresisian dari suatu produk merupakan kunci
utama keberhasilan pada proses produksi.
648)
B. Saran
649)

Untuk dapat meningkatkan efektifitas pada proses produksi,

maka diperlukan suatu saran/usulan. Kami selaku penyurvey atau pengamat


akan memberikan saran yang bersifat membangun sebagai berikut :
1. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah aspek yang sangat penting
dalam proses produksi. Pada proses produksi masih terdapat kekurangan
dalam hal penyediaan alat keselamatan kerja. Misalnya, kacamata
pelindung dan sarung tangan las
2. Sebelum memulai proses produksi, penjelasan tentang mesin beserta
komponen

dan

fungsinya

harus

secara

mendetail.

Sehinngga

kemungkinan-kemungkinan yang terburuk dapat terhindari. Hal-hal apa


saja yang tidak boleh dilakukan, tidak dijelaskan
3. Kurangnya perawatan pada mesin-mesin di bengkel, maka mesin-mesin
tersebut harus dirawat agar kinerja dan produktivitas tetap terjaga
650)
651)
652)
653)
654)

655)
656)
657)
658)

659)