Anda di halaman 1dari 6

NAMA

: GANESVARA JUSA KATUUK

KELAS

: 3 PJJ

NIM

; 4112010013

PAVING BLOCK

1.) Sejarah
Menurut sejarah, sejak Jaman Romawi kuno sekitar 500 Sebelum Masehi dan
Mesir Kuno 4600 tahun yang lalu telah dikenal perkerasan jalan dengan metode
mirip paving block. Bedanya mereka menyusun block yang terbuat dari batu
untuk perkerasan jalan.Pada waktu itu menggunakan baru yang dibentuk, lebih
tepatnya disebut Paving Stone. Untuk kelangsungan perawatannya perkerasan
dengan Paving Block lebih baik dari pada dengan aspal.Paving Block merupakan
versi teknologi modern dari paving stone. Tahun 1848, ditemukan perkerasan
dengan block kayu (wood block pavement) oleh Samuel Nicolson.
Tahun 1900an concrete paving block atau conblock mulai diproduksi secara
industri dan berkembang cepat.

2.) Pemakaian
Bata beton (paving block) merupakan salah satu jenis beton non struktural yang
dapat dimanfaatkan untuk keperluan jalan, pelataran parkir, trotoar, taman, dan
keperluan lainnya. Bata beton terbuat dari campuran semen portland tipe I dan
air serta agregat sebagai bahan pengisi. Paving block dapat berwarna seperti
warna aslinya atau diberi zat warna pada komposisinya dan digunakan untuk
lantai baik didalam maupun diluar bangunan.
Cara pemasangan:
Penggelaran abu batu/pasir alas tidak melebihi jarak 1 meter didepan
paving terpasang dengan tebal screeding
Pemasangan paving harus kita mulai dari satu titik/garis (starting point)
diatas lapisan abu batu/pasir alas (laying course).

Tentukan kemiringan dengan menggunakan benang yang kita tarik tegang


dan kita arahkan melintang sebagai pedoman garis A dan memanjang
sebagai garis B, kemudian kita buat pasangan kepala masing-masing
diujung benang tersebut.
Pemasangaan paving harus segera kita lakukan setelah penggelaran abu
batu/pasir alas. Hindari terjadinya kontak langsung antar block dengan
membuat jarak celah/naat dengaan spasi 2-3 mm untuk pengisian joint
filler.
Memasang paving harus maju, dengan posisi sipekerja diatas block yang
sudah terpasang.
Apabila tidak disebutkan dalam spesifikasi teknis, maka profil melintang
permukaan paving minimal mencapai 2 % dan maksimal 4 % denga
toleransi cross fall 10 mm untuk setiap jarak 3 meter dan 20 mm utnuk
jarak 10 meter garis lurus. Pembedaan maksimum kerataaan antaar block
tidak boleh melebihi 3 mm.
Pengisian joint filler harus segera kita lakukan setelah pamasangan
paving dan seera dilanjutkan dengan pemadatan paving.
Pemadatan paving dilakukan dengan menggunakan alat plat compactor
yang mempunyai plat area 0,35 s/d 0,50 m2 dengan gaya sentrifugal
sebesar 16 s/d 20 kN dan getaran dengan frekwensi 75 s/d 100 MHz.
Pemadatan hendaknya dilakukan secara simultan bersamaan dengan
pemasangan paving dengan minimal akhir pemadatan meter dibelakang
akhir pasangan. Jangan meninggalkan pasangan paving tanpa adanya
pemadatan, karena hal tersebut dapat memudahkan terjadinya deformasi
dan pergeseran garis joint akibat adanya sesuatu yang melintas melewati
pasangan paving tersebut. Pemadatan sebaiknya kita lakukan dua
putaran, putaran yang pertama ditujukan untuk memadatkan abu
batu/pasir alas dengan penurunan 5 15 mm (tergantung abu batu/pasir
yang dipakai).Pemadatan putaran kedua, disertai dengan menyapu abu
batu/pasir pengisi celah/naat block, dan masing-masing putaran dilakukan
paling sedikit 2 lintasan.

3.) Motif
Bentuk paving block secara garis besar terbagi atas dua macam, yaitu :

a. Paving block bentuk segi empat


b. Paving block bentuk segi banyak

Pola pemasangan sebaiknya disesuaikan dengan tujuan penggunaannya. Pola


yang umum dipergunakan ialah susun bata (strecher), anyaman tikar (basket
weave), dan tulang ikan (herring bone). Untuk perkerasan jalan diutamakan pola
tulang ikan karena mempunyai
kuncian yang baik. Dalam proses pemasangannya, paving block harus
berpinggul dan ada tepi susunan paving block biasanya ditutup dengan pasak
yang berbentuk topi uskup.

4.) Struktur

Ketebalan paving block ada tiga macam, yaitu :


a. Paving block dengan ketebalan 60 mm

b. Paving block dengan ketebalan 80 mm


c. Paving block dengan ketebalan 100 mm
Pembagian kelas paving block berdasarkan mutu betonnya adalah :
a. Paving block dengan mutu beton fc 37,35 MPA
b. Paving block dengan mutu beton fc 27,0 MPA

Standar Mutu Paving Block


Standar mutu yang harus dipenuhi paving block untuk lantai menurut SNI 030691-1996 adalah sebagai berikut :
1. Sifat tampak paving block untuk lantai harus mempunyai bentuk yang
sempurna, tidak terdapat retak-retak dan cacat, bagian sudut dan rusuknya
tidak mudah direpihkan dengan kekuatan jari tangan.
2. Bentuk dan ukuran paving block untuk lantai tergantung dari persetujuan
antara
pemakai dan produsen. Setiap produsen memberikan penjelasan tertulis
dalam leaflet
mengenai bentuk, ukuran, dan konstruksi pemasangan paving block untuk
lantai.
3. Penyimpangan tebal paving block untuk lantai diperkenankan kurang lebih 3
mm.
4. Paving block untuk lantai harus mempunyai kekuatan fisik sebagai berikut :

5. Paving block untuk lantai apabila diuji dengan natrium sulfat tidak
boleh cacat, dan kehilangan berat yang diperbolehkan maksimum 1%.
Menurut British Standard Institution, standar mutu yang harus dipenuhi oleh

paving block adalah sebagai berikut :


1. Untuk mendapatkan nilai kuat tekan yang maksimal, ketebalan Paving block
bentuk persegi minimal 6 cm
2. Untuk paving block yang menggunakan profil tali air pada sisi permukaan
atas, tebal tali air maksimal 7 mm dari sisi dalam dan sisi luar paving block
3. Penyimpangan dimensi paving block yang diijinkan adalah sebagai berikut :
a. Panjang 2 mm
b. Lebar 2 mm
c. Tebal 3 mm
4. Untuk perhitungan kuat tekan digunakan faktor koreksi terhadap ketebalan
dengan nilai sebagai berikut :

Material Paving Block


Material yang digunakan dalam pembuatan paving block adalah semen portland
(PC), pasir, air, dan endapan sampah sebagai substitusi dari pasir. Berikut ini
adalah penjelasan dari masing-masing material :
1. Semen portland ( PC )
Jenis semen yang umumnya dapat dipakai harus memenuhi ketentuan dan
syarat yang ditentukan dalam PBI 1971 NI 8.
2. Agregat Halus ( Pasir )
Agregat halus dapat berupa pasir alam sebagai hasil desintegrasi alami dari
batuan batuan atau berupa pasir buatan yang dihasikan oleh alat alat
pemecah batu (PBI 1971 NI 2). Agregat halus harus memenuhi syarat
syarat sesuai PBI 1971 NI 2.
3. Air
Air diperlukan dalam proses pembuatan paving block untuk memicu proses
kimiawi semen, membasahi agregat dan memberikan kemudahan dalam

pelaksanaan pekerjaan. Air yang digunakan harus memenuhi persyaratan


sesuai PBI 1971 NI 2.

5.) Kelebihan dan Kekurangan


Kelebihan :
Keuntungan dari paving block yaitu material ini mudah dipasang dan tidak
memerlukan alat berat serta dapat diproduksi secara masal. Pemeliharaannya
pun mudah dan dapat dibongkar dan dipasang kembali. Paving block umumnya
tahan terhadap beban statis atau tumpahan bahan pelumas dan pemanasan
oleh mesin kendaraan.
Kekurangan dibanding aspal :
Namun paving block juga memiliki kelemahan, yaitu ia mudah bergelombang bila
pondasinya tidak dipasang dengan kuat. Material ini juga kurang cocok untuk
dipasang di lahan yang dilalui kendaraan berkecepatan tinggi. Sehingga paving
block hanya cocok untuk dipasang di lahan yang dilalui kendaraan berkecepatan
rendah saja misalnya lingkungan permukiman dan perkotaan yang padat.